18 August 2006

Susan Piper Sawung Jabo


Susan Piper berpose bersama saya di Taman Budaya Jatim di sela-sela latihan menjelang konser Sawung Jabo di Surabaya, 15 Agustus 2006.


Dia satu-satunya orang kulit putih yang berada di atas panggung. Juga satu-satunya perempuan di antara 13 musisi pendukung konser ‘Antologi Sawung Jabo: Satu Langkah Sejuta Cakrawala’ di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Selasa (15/8/2006) malam.

Rambut pirang, perawakan tinggi, membuatnya mudah dilacak mata ratusan penonton. Bukan itu saja. Suara soprannya yang lembut, sekali-sekali membawakan nyanyian ala tembang jawa, membuat konser Sawung Jabo di kampung halamannya ini terasa lebih lezat.

Tak salah lagi, perempuan itu Susan Piper (54). Dia istri pemusik Sawung Jabo yang setia mendampingi perjalanan karier dan hidup Sawung Jabo hampir selama 30 tahun terakhir. "Saya mengenal Sawung Jabo sejak 1978, waktu di Bengkel Teater, Jogja. Kami menikah satu tahun kemudian," ujar Susan Piper dalam percakapan khusus dengan saya.

Bengkel Teater yang dibina WS Rendra merupakan teater paling top di Jogja pada awal 1970-an, dan telah menelurkan seniman-seniman besar di Tanah Air. Sawung Jabo salah satunya.

Sambil bercerita tentang masa lalu, karier, pandangan musikal, Susan terus menikmati nasi kotak, lauknya ayam goreng. Perempuan kelahiran Romford, Inggris, 19 Juni 1952, ini menikmati makanan itu dengan lahap.

"Kebetulan saya sedang lapar hehehe…"

Sebelum mengenal, kemudian menikah dengan Sawung Jabo, Susan mengaku sudah tertarik dengan kebudayaan Asia Tenggara, khususnya bahasa. Maka, saat skripsi dia secara khusus melakukan studi di Jogja. Tak hanya belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, Susan pun belajar wayang kulit, tembang jawa, tarian… langsung di keraton.

"Cukup lama saya bergabung dengan kelompok wayang kulit di keraton (Jogja)," ceritanya.

Nah, kebolehan Susan bernyanyi ala sinden merupakan hasil kerja kerasnya saat berlatih pada pertengahan 1970-an itu. Kembali ke Australia, Susan makin mantap memilih profesi sebagai penerjemah sekaligus dosen bahasa Indonesia di beberapa universitas. "Jadi, saya ini juru bahasa," tutur Susan seraya tersenyum.

Terus terang saja, kemampuan berbahasa Indonesia Susan Piper sunggguh membuat kita -– yang katanya orang Indonesia asli, pribumi -– layak iri. Bicaranya mengalir, lancar, jelas, dengan pilihan kata yang sangat tepat. Berbeda dengan gaya bahasa remaja sekarang yang suka mencampur frase bahasa Inggris, Susan yang lahir di Inggris justru mampu ‘menemukan’ kata atau kalimat yang pas untuk mengungkapkan gagasannya.

"Tapi dalam beberapa tahun terakhir, jumlah mahasiswa yang berminat belajar bahasa Indonesia sangat berkurang. Kenapa? Saya rasa, karena pilihan ini dipandang tidak menjanjikan," kata Susan seraya mengangkat bahu.

Dampaknya jelas. Susan Piper tak bisa lagi mengajar sebagai dosen. "Bagaimana mau mengajar? Mahasiswa tidak ada. Anak-anak muda sekarang lebih suka ambil (fakultas) hukum karena dinilai lebih menjanjikan. Zamannya memang lain," kata ibu dua anak ini.

Toh, profesi sebagai penerjemah (istilah Susan: juru bahasa) masih dilakoni sampai sekarang. Hubungan antara Australia dan Indonesia, yang nota bene negara tetangga, kita tahu, selalu pasang surut. Tragedi bom di Bali, yang banyak menewaskan orang Australia. Kemudian penangkapan beberapa warga Australia yang terlibat narkotika, disusul kasus pemberian visa tinggal sementara untuk sejumlah separatis asal Papua, menambah runyam hubungan Indonesia-Australia.

Ini semua, kata Susan, ternyata sangat memengaruhi kehidupan komunitas Indonesia di negara kanguru itu. "Sampai sekarang dampak itu masih terasa," tuturnya.

Penurunan minat mahasiswa Australia untuk studi bahasa Indonesia pun sedikit banyak disebabkan oleh ketegangan politik antara kedua negara. Omong-omong bagaimana pandangan Susan terhadap musik Sawung Jabo?

"Wah, saya terlalu dekat dengan dia. Saya istrinya sehingga tidak bisa menilai secara objektif," kata Susan yang mengaku tidak pernah belajar musik secara akademis.

Namun, beberapa saat kemudian, dia mengatakan, Sawung Jabo sejak 1970-an sampai sekarang tetap konsisten dengan warna dan karakter kuat.

Zaman boleh berubah, tapi warna dan kedalaman musik Sawung Jabo tetap konsisten. "Syair-syairnya sangat kuat," puji perempuan yang selalu terlibat dalam konser-konser maupun album suaminya itu.

Yang jelas, kendati sudah lama berkecimpung di musik, Susan Piper mengaku tak bisa menjadi pemusik 100 persen alias bekerja penuh waktu di bidang musik. Katanya, cukup Sawung Jabo saja yang begitu.

Kenapa? "Profesi ini tidak menjanjikan untuk hidup. Saya harus bekerja (di bidang lain), apalagi anak saya dua orang," tegas Susan.

Rupanya, pandangan Susan ini ‘diadopsi’ dua anaknya (Johan Sanjaya dan Shanti Rosina). Berbeda dengan ayah ibunya, keduanya enggan menekuni musik meskipun punya apresiasi tinggi terhadap budaya Indonesia.

"Mungkin, karena mereka lahir di zaman yang berbeda," kata Susan.

Matur nuwun, Mbak Susan!

4 comments:

  1. Wah, thanks Lambertus...

    Baca artikel lama ini jadi ingat masa kuliah tahun 80an tongkrongan di Joglo Djago punya Mas Djabo sama Mas Gono.

    ReplyDelete
  2. kalau gak salah mas penulis blog ini yang kemarin nonton konser Pakdhe Jabo kemarin d Green Art Festival d Gedung Cak Durasim ya? slaam kenal... add FBku ya mas, Fani Terangi Mimpi

    ReplyDelete
  3. susan memang pernah terkenal di indonesia thn 1990an. tapi kayaknya sekarang gak dikenal anak2 muda. jamannya memang lain. salut banget krn beliau mau belajar bhs indonesia, jadi guru bahasa indonesia, belajar seni budaya jawa....
    moga2 bisa mendorong kita utk mau mencintai bahasa dan budaya sendiri. masa sih org luar aja mau belajar, kita kok nggak?

    ReplyDelete
  4. Betul 100 persen. Saya sejak mahasiswa memang selalu berusaha menonton dan menyaksikan latihan Cak Jabo di mana pun, kalau ada kesempatan. Saya suka banget lagu-lagu dan ungkapan-ungkapannya yang khas. Semua lirik lagu yang dibuat Jabo sangat kuat, khas, dan menyodok. Belum lagi suaranya yang lantang dan celetukannya yang enteng-entengan tapi menyengat.

    Salam kenal juga. Oh, ya, kebetulan saya belum punya FB. Aku ini gaptek. Hehehe...

    rek

    ReplyDelete