07 August 2006

Sawung Jabo di Surabaya



Pemusik Sawung Jabo (55 tahun), menggelar konser ‘pulang kampung’ di Gedung Cak Durasim, Selasa (15/8/2006). Jabo menunjukkan kematangannya sebagai seniman musik yang tak pernah lepas dari akarnya: arek Suroboyo.

Oleh Lambertus L. Hurek


“YO, opo kabare Suroboyo?” sapa Sawung Jabo, santai. Duduk santai ala lesehan di warung kopi, pentas perjalanan karier Cak Jabo selama 30 tahun di belantika musik ini terasa gayeng. Tak ada jarak antara pemusik dan penonton.

Jabo membuka konser dengan memetik gitar, seorang diri. Pemusik lain diam, merenung.

“Lagune Dara Puspita,” kata Jabo seraya tersenyum. Penonton bertepuk tangan riuh.

“Surabaya… Surabaya… oh Surabaya… kota kenangan… kota kenangan takkan terlupa….”

Tembang kenangan ini dibawakan Jabo dengan suara lembut. Petikan gitar pun hanya sekali-sekali, ‘memaksa’ ratusan hadirin untuk menangkap makna syair lagu.

Konser Antologi Sawung Jabo, yang menghadirkan sedikitnya 15 tembang. Simak beberapa judulnya: Perjalanan Awan, Mengejar Bayangan Menangkap Angin, Bidadari Termangu, Satu Langkah Seribu Cakrawala, Kalau Batas Tak Lagi Jelas Mata Hati Harus Awas, Bisikan Langit Kemarin dan Esok, Lingkaran Aku Cinta Pada-Mu.

Lagu-lagu ini memang menggambarkan langkah Jabo yang cukup panjang di dunia musik, sejak album Anak Setan (1975), Fatamorgana (1994), Jula Juli Anak Negeri (2001), Musik dari Seberang Laut (1997), Ada Suara tanpa Bentuk (2001). Juga hit Bongkar saat Jabo bersama Swami dan Kantata Takwa.

Konser berlangsung sekitar dua jam, ibarat medley. Tak ada jeda antar lagu karena Jabo memberi peluang kepada masing-masing pemusik untuk ‘bermain-main’… lantas disambung dengan komposisi baru.

Yah, Jabo memang sengaja datang dari Sydney, Australia, tempat tinggalnya sekarang, untuk menyapa sahabat-sahabat lama di Surabaya. Ada Arif Afandi (bekas pemimpin redaksi Jawa Pos, yang kini wakil wali kota), Emha Ainun Nadjib, serta para seniman, penggiat, serta penikmat seni di Jawa Timur.

Sosok Jabo malam itu berbeda sekali dengan saat ia bermain bersama Sirkus Barock, Kantata Takwa, atau Swami. Teriakan-teriakan garang, liar, nyentrik, nyaris tidak terdengar. Yang muncul sekarang Jabo yang religius, menggali makna hidup, berusaha menggapai Sang Pencipta di usia 55 tahun.

“Kalau batas tak lagi jelas, mata hati harus awas,” sungguh dalam ungkapan Jabo ini.

“Kita diajak merenungi kehidupan,” kata Qudus, aktivis budaya yang dekat dengan Cak Jabo. “Lirik-lirik lagu Mas Jabo itu pada dasarnya puisi yang sarat makna. Cuma banyak orang hanya kenal Mas Jabo dari lagu Bento atau Bongkar,” tambah Dicky, juga teman dekat Jabo.

Ada empat kota yang disapa Jabo: Bandung, Jogja, Jakarta, Surabaya. Kenapa Surabaya jadi gongnya?

“Saya ini kan arek Suroboyo. Jadi, kota ini punya tempat khusus di hati saya,” ujar penyandang nama asli Mochamad Djohansyah, yang memang lahir di Surabaya, 4 Mei 1951 itu.

Dari Surabaya, arek Ampel ini mengembara ke Jogja pada awal 1970-an. Di situlah bakat seninya diasah bersama komunitas seniman Jogja. Jabo pun bergabung dengan Bengkel Teater asuhan Wahyu Suleman Rendra.

“Saya kemudian dipanggil Sawung Jabo ketika saya kuliah musik klasik di Jogja. Itu nama julukan dari kakak-kakak kelas saya,” kata Jabo.

“Tiap hari Cak Jabo ini main gitar, menekuni musik, jagongan sama teman-teman. Kita di Jogja itu ibarat satu keluarga besar,” kenang Win Hendrarso, sahabat Jabo, yang kini menjabat bupati Sidoarjo.

Pada 1978 Jabo mengenal Susan Piper, gadis Australia 26 tahun yang saat ini belajar di Bengkel Teater. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya menikah setahun kemudian. Singkat cerita, Jabo akhirnya berdomisili di negara kanguru itu sambil memperdalam kemampuan bermusiknya.

Tak heran, musik Jabo sangat kaya, menggabungkan musik Barat dan Timur, khususnya Jawa. “Bagaimanapun juga saya ini arek Suroboyo, orang Jawa,” tegas Jabo.

Ternyata, konsep musik Jabo didukung sejumlah sahabat-sahabatnya seperti Totok Tewel, Inisisri, Gondrong Gunarto, hingga Baruna. Para musisi di luar jalur industri itulah yang memungkinkan Jabo berhasil mengekspresikan ide-ide musiknya kepada masyarakat.

Setelah almarhum Gombloh, Leo Christie, dan beberapa nama lagi, Surabaya layak bangga punya Sawung Jabo. Sukses terus, Cak Jabo!

5 comments:

  1. Lagunya Kritis Namun tetap Puitis,

    Teriakanya harimau Kejujuran,

    langkahnya cakrawala membumi,

    jiwanya menembus Matahati...

    ReplyDelete
  2. saya keliling nyari kaset sirkus barock/sawung jabo kok susah ya apa ada yg bisa bantu,saya hanya punya album bukan debu jalanan,badut dan 25 musim tlg siapa yg bisa kasi info dimana saya bisa dapatkan album yg lain.thk

    ReplyDelete
  3. kapan ya? pakde jabo muncul lagi di tv?

    ReplyDelete
  4. Selamat berpuisi dan bersyair,
    "Ciptakanlah lagu yang kau anggap baik merdu dan indah..."

    ReplyDelete