07 August 2006

Nikah Beda Agama yang Bikin Pusing

Pemberkatan nikah adik sepupu saya, Roy Hurek, di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Kayutangan, Malang, akhir Juli 2006. Kalau yang ini sih sama-sama Katolik.



NAMANYA sebut saja Yohanes Fernandez, 27 tahun, asal Flores, tinggal di Surabaya. Pekerjaan cukup bagus, sejak kuliah sudah di tanah Jawa, dia berkenalan dengan Ambarwati. Pacaran, menjalin cinta, niat menikah.

“Saya dan dia banyak cocoknya. Ambar gak terlalu cantik, samalah dengan saya punya muka yang pas-pasan. Mana ada orang Flores ganteng? Hehehe,” ujar si John, sapaannya, kepada saya.

Tapi ada halangan besar. John beragama Katolik, aktivis gereja tulen, pernah aktif di beberapa organisasi gereja. Sebelum makan minum si John ini tak lupa membuat tanda salib. Saya sendiri buat tanda salib di dalam hati karena trauma pernah ditertawain orang. Hehehe.....

Ambar Islam tulen, bapa ibunya haji dan hajah. Salat wajib, salat sunah… tak pernah alpa. Bagaimana mau nikah? Hukum Indonesia menolak tegas nikah beda agama. Nikah ya sesama Islam, Katolik sama Katolik, Protestan sama Protestan, Hindu lawan Hindu, Buddha sama Buddha… dan seterusnya.

Mungkin, karena terlalu asyik pacaran, mereka lupa bahwa agama mereka berbeda. Bahkan, sejak awal pun John selalu ditolak orang tua Ambar tiap kali apel. “Pintu pagar selalu ditutup ayahnya. Saya dilihat dengan wajah angker, tak ada komunikasi,” cerita John.

Untung ada SMS. Mereka bisa bikin janji, pacaran di luar, lantas John mengantar Ambar ke rumahnya, di luar pagar. Mereka kucing-kucingan. Rencana nikah?

“Kami sudah bahas, tapi selalu buntu. Nggak ada solusi,” tegas John, yang cukup berwawasan itu.

Bagi keluarga Ambar, John ini manusia KUFUR alias KAFIR sehingga HARAM menikahi perempuan mukminah. Kalau Ambar nekat menikah juga, kendati tetap Islam, tidak pindah agama, maka dia tidak diakui lagi sebagai anak. Dan itu bukan perkara enteng.

“Mereka meminta saya mengalah, masuk Islam. Kan lebih enak jadi mayoritas, punya banyak teman, fasilitas ibadah buanyaak, tidak perlu repot urus izin bangun gereja, izin kebaktian, khawatir diteror dan sebagainya,” tutur John.

Bukankah itu enak? pancing saya.

“Tapi saya tolak. Saya minta jalan tengah: kita menikah tapi agama sendiri-sendiri, saling hormat. Toleransi lah.”

Bagaimana dengan anak? “Kami rencana dua anak. Anak pertama ikut ibunya, Islam; anak kedua Katolik, ikut ayahnya. Kalau Tuhan hanya kasih satu, ya, anaknya Islam saja.”

Ternyata, ‘proposal’ Yohanes ditolak mentah-mentah oleh keluarga Ambar. Lalu?

“Kami akhirnya putus baik-baik. Tetap saling menghormatis sebagai sahabat karib.

Mungkin Ambar bukan jodoh saya,” kata John yang sempat berpacaran dengan Ambar selama delapan bulan.

KASUS macam John Flores dan Ambar Jawa ini sudah sering terjadi di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, khususnya lagi di kota-kota besar. Sama-sama pegang prinsip, tak mau mengalah… akhirnya putus. Tapi setahu saya, di gereja banyak terjadi pernikahan campur di mana suami dan istri sama-sama mempertahankan agamanya.

Pertama, disparitas cultus, yakni orang Katolik nikah sama jemaat kristen bukan dari Gereja Katolik. Kedua, mixta religio: orang Katolik nikah sama orang bukan kristiani (nasrani) seperti Islam, Buddha, Hindu, dst. Secara acak saya periksa di gereja-gereja Katolik, persentasenya cukup tinggi: 40-60 persen. Luar biasa!

Solusi ala Gereja Katolik ini tetap ditolak kaum muslim seperti keluarga Ambar di atas. Sebab, umat Islam yang baik seharusnya menikah sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Nikah islami, ya, harus di penghulu, sama-sama muslim, ada saksi, wali nikah, mas kawin, dst. Islam tak mengenal nikah beda agama!!!

Memang, idealnya orang menikah dengan sesama agama sehingga tidak pusing kepala. Apalagi, diusir oleh keluarga wanita kayak Yohanes van Flores tadi.

Di kampung saya, Flores Timur, perbedaan agama tak pernah dianggap serius, apalagi masalah besar kayak di Jawa. Kakek nenek di kampung menganggap semua agama itu sama saja hakikatnya. Tujuannya: hidup baik, jujur, cinta kasih, adil… menuju Tuhan. Jalannya, caranya, tata ibadah saja yang beda. Lha, buat apa rame-rame? Buat apa saling bentrok?

Karena pandangan dasarnya seperti itu, ada ketentuan tidak tertulis (baca: adat) manakala menghadapi muda-mudi beda agama yang hendak melangsungkan pernikahan. Yakni, salah satunya HARUS ‘menyesuaikan’ agama alias pindah agama. Siapa yang harus pindah: laki-laki atau perempuan? Jawabannya jelas: PEREMPUAN.

Kenapa begitu?

Adat Flores Timur itu sangat patriarkis. Laki-laki itu dianggap lebih ‘tinggi’ status ketimbang wanita. Pria lah yang mewarisi hak-hak di suku (fam), bukan perempuan. Kepala keluarga itu pria, bukan wanita. Jadi, tidak peduli mana agama mayoritas atau minoritas, perempuan diminta ‘menyesuaikan’ agamanya dengan laki-laki.

Pada saat pemberkatan di gereja, keduanya sudah Katolik. Sebaliknya, saat akad nikah di penghulu, keduanya sudah sama-sama Islam. Tak ada yang merasa kalah atau menang, karena ketentuan adatnya memang sudah begitu.

Flores Timur memang kawasan Katolik, tapi bukan berarti si Katolik harus menang. Biarpun di kampung itu umat Islam hanya 10 keluarga, Katolik 200 keluarga, jika pemuda Islam hendak menikah dengan gadis beragama Katolik, maka gadis Katolik ini lebih dulu menjadi Islam.

Beberapa tahun lalu, putri seorang pejabat teras di Flores Timur pun harus masuk Islam karena akan menikah dengan pria beragama Islam. Itu biasa saja. Tak ada yang geger atau merasa ‘kalah’, hanya karena anak pejabat masuk Islam.

“Sejak dulu, ya, adatnya begitu. Perempuan itu mengikuti agama suami,” kata Om Benediktus, keluarga dekat saya.

ADAT Jawa tentu beda. Dalam pengamatan saya, yang sejak SMA sudah tinggal di Jawa Timur, adat Jawa sudah mengadopsi sebagian besar (bahkan, hampir semua) ketentuan hukum Islam. Ini karena proses islamisasi di Jawa sudah berjalan ratusan tahun sejak ambruknya Kerajaan Majapahit. Artinya, hukum adat Jawa itu ya sami mawon atau idem ditto dengan hukum Islam.

Nah, Ketentuannya jelas: calon pengantin yang bukan Islam (tak peduli pria atau wanita) HARUS masuk Islam lebih dulu agar bisa menikah secara sah dan diterima secara luas. Masyarakat akan geger manakala si Islam itu pindah agama mengikuti agama calon suami/istri. Bisa juga mereka akan dikucilkan dari masyarakat. Tak menutup kemungkinan, kelompok garis keras menangkap Yohanes (sebagai misal) karena dianggap membuat MURTAD anak orang.

Namanya juga adat, walaupun terkesan ‘menang sendiri’, ya harus kita hormati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! kata pepatah.

Saya pernah memberi wawasan ini kepada John. “Kalau anda bersedia dan ikhlas masuk Islam, maka semua persoalan beres. Orang tua Ambar akan menerima anda dengan senang hati, dikasih kopi kental manis hehe…. Selama pacaran mereka keberatan karena anda bukan muslim. Sebagai orang tua, tentu saja, mereka tak ingin punya mantu bukan Islam. Mereka khawatir anak gadisnya murtad dan kemudian masuk neraka. Wajar, bukan?” saya memberi kuliah gratis.

“Saya sudah tahu,” jawab John. “Tapi saya maunya agama masing-masing,” tambahnya.

“Ini Jawa, Bung, bukan Flores! Lain lubuk lain ikan, lain tanah lain adat,” saya langsung menukas.

Saya kasih usulan kompromi lagi–juga biasa saya usulkan kepada teman-teman Flores yang sudah lengket benar dengan gadis Jawa-Islam.

“Sekarang tergantung rencana masa depan. Anda mau berdomisili tetap di Jawa atau Flores. Kalau rencana buka usaha di kampung (Flores), punya anak cucu di Flores, sebaiknya calon istri mengalah, masuk Katolik. Tapi kalau anda akan tetap tinggal di Jawa, hanya sekali-sekali liburan di kampung, ya, anda saja yang masuk Islam. Itu win-win solution,” ujar saya.

John alias Yohanes menolak usulan kompromi ini. Ya, sudah. Kalau begitu, anda harus berkenalan, berpacaran… dengan gadis Katolik agar bisa menikah. Atau, kembali ke kampung, menikah sama gadis kampung, lalu bawa istri anda ke Jawa. Kalau anda tetap begini, ya, anda tidak pernah bisa menikah di tanah Jawa. Wong hukum adat dan hukum nasional (Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974) menganut ketentuan seperti itu.

“Hei, Bung, hukum itu dibuat untuk manusia atau manusia untuk hukum?” protes John, yang banyak makan buku itu.

Saya enggan menanggapi karena sudah capek membahas kasus kawin campur beda agama. Kasus pelik yang belum ada solusinya di Indonesia.

Di infotainmen saya melihat artis Cornelia Agatha (Kristen Protestan) dan Sonny (Islam) terpaksa jauh-jauh ke Hong Kong agar bisa menikah secara resmi. Hukum Indonesia belum mengatur kasus nikah beda agama macam ini.

51 comments:

  1. Salam kenal kaka, akhirnya ketemu juga blog NTT yg bermutu. Salut.
    Saya sudah liat blog anda, wah bagus sekali.
    Saya kagum dengan cara bung lambertus mengulas hal2 yg berbau agama secara faktual dan obyektif seperti di artikel 'vihara dibakar' dan 'nikah beda agama'.
    o ya, nama saya fedi sonbay, orang Kefa. Sekarang lagi sekolah di Amsterdam dan sudah 4 tahun tidak pulang, jad harap maklum kalau saya 'haus' dengan artikel2 menarik dari NTT. Saya sering baca Pos Kupang juga tp akhir2 ini isinya hanya sekedar pengumuman, e.g. bupati A ke desa B, gubernur ikut seminar, pejabat B dilantik, dst. Who cares ? boorrriiing.
    Terus menulis bung! Terima kasih banyak.

    Fedi Sonbay
    Amsterdam

    ReplyDelete
  2. bagus juga ceritanya. agama memang sangat penting di indonesia shg selalu jadi masalah ketika beda agama. pesan saya: cari jodoh yg seagama. tak hanya seagama, tapi kalau bisa sepaham.

    ReplyDelete
  3. beda agama memang repot banget. aq pernah ngalami, pacaran, tapi gak bisa terus. salah satu harus ngalah. itu yg susah.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas komentar teman2. Tulisan ini sekadar berbagai pengalaman saja. Berangkat dari tradisi budaya di kampung saya. Tidak sampai masuk ke doktrin agama-agama yang memang selalu ada perbedaan.
    Salam damai.

    ReplyDelete
  5. Salam kenal! Susah juga yo kalau beda agama, karena mungkin awalnya cintanya lebih kuat dari perbedaan agama itu sendiri. Ya, tapi kalo bisa, menggunakan hati dalam mendekati persoalan seperti itu, tidak menggunakan otot.

    ReplyDelete
  6. bung hurek, di novel ayat2 cinta maria (kristen koptik) masuk islam ikut fahri, suaminya. gimana komen sampean? salam kenal.

    johny, kupang

    ReplyDelete
  7. Hehehe... Aku dah baca Ayat2 Cinta, bahkan sempat nulis resensi segala. Novelnya bagus, tapi terlalu banyak ayat2 suci, kayak khotbah saja:

    1. Ayat2 Cinta itu novel dakwah Islam, jadi arah cerita, ending sudah jelas. Nasib Maria harus seperti itu. Ikut suami demi cintanya yang luar biasa.

    2. Polanya kayak adat di Flores. Pihak wanita ikut agamanya suami, bukan? Hehehe... Di semua budaya yang patrarkis perempuan memang "didesain" supaya selalu kalah dan mengalah.

    Salam kenal juga.

    ReplyDelete
  8. moga2 bisa diambil hikmah boleh teman2 yg belum nikah. jangan sekali-kali cari pasangan beda agama.

    ReplyDelete
  9. kasus perceraian henry siahaan yang kristen protestan dan yuni shara yg islam jadi bukti bahwa kawin beda agama itu pada akhirnya bubar. awalnya mereka sepakat beda. lalu setelah beberapa tahun yuni ingin henry masuk islam. mungkin henry pun ingin yuni jadi kristen.
    setelah jalan 13 tahun yuni sadar bahwa jalan yg dipilihnya keluar dari syariat islam. henry gak mau jadi mualaf. no way out! solusinya ya di pengadilan. bubar!!!
    henry menjadi manusia yg merugi. yuni pun saya rasa gak bahagia dengan jalan hidup kayak gini.

    ReplyDelete
  10. Salam kenal.
    Pengen tanya... Bagaimana dengan skenario kalau Katolik dengan Protestan? Apakah juga masih belum bisa diakui di Indonesia jika keduanya masih satu-satu?
    Jika pemberkatan nikahnya di gereja protestan, apakah otomatis yang katolik menjadi protestan atau bisa tetap katolik. Saya mengerti bahwa kalau pemberkatan di gereja Katolik, ada yang namanya dispensasi agar keduanya tetap satu katolik dan satunya lagi protestan.
    Makasih sebelumnya.

    ReplyDelete
  11. Kalau Katolik dengan Kristen Protestan [semua denominasi, tidak termasuk Saksi Yehuwa, Mormon, dan kultus-kultus lain] dalam hukum kanonik Katolik disebut perkawinan mixta religio. Dispensi jauh lebih mudah karena sama-sama pengikut Yesus. Syaratnya: pihak non-Katolik harus menghormati dan memberi kesempatan kepada pihak Katolik untuk beribadat dan menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Misal: suami non-Katolik tidak boleh melarang doa lingkungan atau doa rosario di rumah. Tidak boleh melarang yang Katolik pergi misa atau ikut kegiatan gerejawi. Pemberkatan bisa dilakukan oleh pastor [romo] atau bersama-sama pendeta. Tapi tetap dianggap BUKAN SAKRAMEN.

    Persoalannya, di Indonesia ini banyak sekte Kristen Protestan menganggap baptisan Katolik tidak sah, karena tidak pakai selam. Katolik malah sering dianggap non-Kristen. Pihak Katolik dipaksa untuk baptis ulang, pencurahan roh kudus, dan segala macam.

    Nah, kalau yang begini ini urusannya agak alot. Harus dialog dan pendekatan yang agak lama agar bisa saling memahami dan menerima. kira-kira ini dulu penjelasan saya. Yang jelas, kawin campur Katolik-Protestan di Jawa Timur sangat tinggi. Dan... no problem lah!

    ReplyDelete
  12. thanks for your article about mixed marrriage. this is a controversial issu in indonesia.

    ReplyDelete
  13. menurutku nikah beda agama, khususnya kristen sama islam, sangat sulit bahkan mustahil. jangankan nikah, mengucapkan selamat natal aja diharamkan oleh MUI. ini fakta!!!
    mudah2an teman2 muda berhati2 memilih pasangan hidup. cari yg agamanya sama. gitu aja kok repot.

    ReplyDelete
  14. Good Day.
    Mohon info nikah lain agama di Hong Kong & serta alamat catatan civil di HKG.pls email at wawan21@hotmail.com

    ReplyDelete
  15. mohon infonya dong untuk nikah beda agama diluar negeri, syarat2nya dan kantor catatan sipilnya kalau bisa tq banget : yosaphat_kote@yahoo.com

    ReplyDelete
  16. Waduh, Bung Yosaphat, kalau perkara tetek bengek nikah di luar negeri, saya benar-benar buta. Anda bisa tanya teman-teman Anda yang tahu atau perwakilan asing terdekat. Siapa tahu bisa membantu. Terima kasih.

    ReplyDelete
  17. hai bang...
    ikut nimbrung boleh yach?biar sedikit nyeleweng dari topik.

    saya lagi bingung nie bagaimana caranya mengatakan ke orang tua saya, klo saya mau nikah secara kristen (secara saya muslim). dari pihak calon suami udah ok.

    kira-kira ada solusi gak?

    makasih.

    ReplyDelete
  18. Hai Non yang anonim,

    Masalah kamu teramat sangat sensitif, sehingga tidak bisa dibahas secara terbuka di sini. Apalagi, kata teman-teman, blog ini dibaca banyak orang dari berbagai latar belakang. Kita harus bijaksana dan sangat hati-hati.

    Mungkin kita bisa berdiskusi via e-mail. Terima kasih.

    ReplyDelete
  19. ok dech klo begitu bang saya faham,

    ini emailku: lovelyfa85@yahoo.com

    di tunggu yach bang untuk solusinya.

    makasih.

    ReplyDelete
  20. nikah beda agama itu sulit, nyaris mustahil, khususnya islam sama kristen. kenapa? sekarang ini aja ada FATWA melarang umat islam mengucapkan selamat natal. apalagi nikah sama agama lain. so, pertimbangkan baek2 sebelum menjalin hubungan serius dg lawan jenis.

    alfred, jkt

    ReplyDelete
    Replies
    1. jgn jadikan perbedaan sbgai tembok besar dalam pernikahan . sy katolik dan istri sy islam .. sy hidup bahagia sampai skrng . :) . itu tergntung seberapa besar cinta kalian

      Delete
  21. pokoknya soal nikah itu entah sama agama atau beda agama sama sulitnya kalau"CINTA" bukan jadi dasarnya..CINTA yang tidak menganggap satu rendah dan yang lainnya tinggi..biar sama-sama agama tapi kalau tidak ikuti ajaran agama mengenai hidup keluarga ya berantakan...
    kalau kedua bela pihak tidak mengalah entah apa alasan...agama ke atau apa saja ..jangan harap hidup keluarga akan aman..
    Nikalah dengan calon yang terbuka...terbuka menerima apa adanya dan siap menghadapi segalah tantangan..banyak orang yang sukses hidup pernikahan karena keterbukaan dan menerima satu sama lain dan tidak memaksakan salah satunya...soal nikah terebih kawin campur itu tidak tergantuk siapa yang harus diikuti...tapi tergantung kepada rencana Tuhan bagi mereka --jadi AGAMA itu bukan melebihi Tuhan dan bukan saja Agama yang mewartakan tentang Tuhan tetapi setiap makluk ciptaanNya.
    Di beberapa negara ..lebih aman nikah Kenegaraan..Civil Marriage...(ya negara yang punya jaringan pemisahan yang jelas antara institusi agama dan negara)...fransujan

    ReplyDelete
  22. wah, diskusi ini menarik dan gak akan ada solusi. menurutku akar masalah adalah uu perkawinan no 1 thn 1974 (kalo gak salah). org indonesia hrs menikah sesuai dg agama dan keyakinannya. menjadi repot kalo agamanya beda. penyusun uu itu (dpr ri) memang sengaja menutup pintu nikah beda agama.
    maka dr itu, sebaiknya memang cari jodoh yg seagama.

    ReplyDelete
  23. Bagi yg ingin menikah di luar negeri, kebetulan saya tinggal di Taipei sekarang (meski belum menikah).
    Taiwan sama sekali tidak mengurus masalah agama, jadi pernikahan dilakukan atas sepengetahuan negara saja, tidak ada masalah dengan agama.
    Saya dan pasangan juga beda agama, dia Kristen dan saya Katolik. Sampai sekarang hubungan kami masih baik-baik saja. Tidak pernah ada pemaksaan untu mengikuti agama saya atau dia.
    Dispensasi gereja Katolik untuk pernikahan beda agama cukup jelas, dan diakui juga oleh negara. Jadi tidak ada masalah dengan melanggar aturan UU.

    Seagama atau tidak, itu terserah masing2 orang. Kita juga tidak berhak untuk menghakimi.

    Salam,
    C di Taipei

    ReplyDelete
  24. nikah beda agama haram?

    Mungkin kita sudah hapal ayat-ayat mana yang biasa dijadikan dalil untuk menolak pernikahan beda agama. Yaitu QS. al-Maidah [5] : 5; QS. al-Baqarah [2] : 221, QS. al-Mumtahianah [60] : 10. Ditambah Hadis riwayat muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a yang mengatakan, Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal : (i) karena hartanya; (ii) karena (asal-usul) keturunannya; (iii) karena kecantikannya; (iv) karena agama.

    Mari kita coba telaah,

    Surat al-Mâidah (5): 5 diklaim secara eksplisit (gamblang) membolehkan pria Muslim menikahi wanita ahli kitab. Tapi tidak eksplisit menjelaskan sebaliknya, pria ahli kitab menikahi wanita muslim. Karena posisi "abu-abu" ini ada ulama yang membolehkan. Toh ada aturan-aturan lain yang dibolehkan karena Alquran tidak menjelaskan secara eksplisit.

    Menurut Guru Besar Hukum UI, Prof. H. Mohammad Daud Ali, S. H., bahwa Khalifah II, Umar bin Khattab, yang memulai pemikiran tidak bolehnya pria Muslim menikahi wanita non muslim.

    Padahal Nabi Muhammad pernah menikahi Maria Qibtiyah, perempuan Kristen Mesir dan Sophia yang Yahudi. Nabi tidak mensyaratkan mereka untuk masuk Islam. Para sahabat dan tabiin juga melakukan hal serupa. Usman bin Affan kawin dengan Nailah binti Quraqashah al-Kalbiyah yang Nasrani, Thalhah bin Ubaidillah dengan perempuan Yahudi di Damaskus, Huzaifah kawin dengan perempuan Yahudi di Madian. Para sahabat lain, seperti Ibn Abbas, Jabir, Ka’ab bin Malik, dan Al-Mughirah bin Syu’bah kawin dengan perempuan-perempuan ahlul kitab.

    Dasar Umar bin Khattab tidak membolehkan adalah demi perlindungan wanita dan keamanan rahasia pada masa perkembangan Islam. Dikondisikan dengan masyarakat saat itu. Dan rasanya dasar Umar bin Khattab tidak relevan pada masa kini.

    Surat al baqarah 2: 221, sesuai dengan asbâb al-nuzulnya, wanita musyrik yang dimaksud adalah wanita musyrik dari bangsa Arab yang tidak memiliki kitab suci,penyembah berhala, penyembah api dan sebagainya meskipun meyakini Allah sebagai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi (Al Ankabut 29:61; Luqman 31:25, al Zumar 39:38; al Zukhruf 43:9 dan 87). Dan itu harus dibedakan dengan wanita ahli kitab yang jelas-jelas memiliki kitab suci. Pada masa itu pernikahan dengan wanita musyrik, yang jelas tidak punya acuan, dikhawatirkan akan menghancurkan harapan-harapan suci pernikahan yang biasa disebut sebagai mîtsâqan ghalîdzâ (penambat yang kokoh).

    (QS. al-Mumtahianah [60] : 10. Siapakah kafir? Yang disinggung dalam banyak ayat Alqur’an adalah orang-orang kafir Mekkah. Dan semata-mata tidak hanya mengacu pada soal keimanan, tapi lebih banyak mengacu pada soal tindakan mereka yang menindas dan zalim terhadap umat Islam dulu. Alquran tak pernah menetapkan ahli kitab sebagai kafir. Memang ada beberapa predikat kafir yang secara tidak langsung ditujukan kepada mereka, tetapi sebagaimana telah diperiksa Farid Esack, beberapa predikat ini selalu disertai dengan ungkapan-ungkapan pengecualian seperti ungkapan “sebagian”, “kecuali” dan sebagainya. Atau banyak kata kekafiran (kata benda/mashdar) yang dinisbatkan kepada mereka, tapi dibarengi dengan ungkapan eksepsional (pengecualian) seperti itu (lihat misalnya, Qs. 2:105; 12:109; 5:78&110; 59:2; 98:1&6; 3:69-71&110).

    Malah pada Qs 5: 44, 45 dan 47 predikat orang kafir disematkan kepada orang yang tidak mempraktekkan hukum Taurat dan Injil. Berarti orang yang mempraktekkan hukum Taurat dan Injil pada masa kini bukan kafir. Menurut Prof Dr M Quraish Shihab, ex Menteri Agama, Duta Besar RI untuk Mesir, dan Rektor IAIN Jakarta kini Universitas Islam Negeri (UIN), apabila kita kini mengkafirkan atau memusyrikan krn mengklaim kitab taurat dan injil itu sudah berubah, hal itu pun sudah sejak masa Nabi SAW. Jadi kurang tepat mengkafirkan atau memusyrikannya pemegang hukum Taurat dan Injil.

    Kata "kafir" itu dipakai dalam pelbagai konteks dan penggunaan. Pada masa sekarang saja, berbeda pendapat soal agama saja sudah dianggap kafir. Dalam sejarah Islam, banyak kelompok yang dianggap sesat, bahkan dituduh kafir. Contohnya bertebaran dalam sejarah Islam. Kelompok Qadariyyah (yang percaya akan kebebasan kehendak), dianggap kafir oleh kelompok Suni ortodoks. Kelompok Syiah juga dianggap kafir oleh sejumlah kelompok Islam. Kaum filsuf juga dikafirkan beberapa kelompok Islam. Cap kafir mudah didapatkan siapa saja, termasuk di dalam islam sendiri.

    Sementara (Hadis riwayat muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a), itu adalah pilihan. Dan dimaksud "agama" lebih mengacu kepada kualitas taqwanya (Q. S. al-Hujurat, 49:13, an-Nisa', 4:1, al-A`raf, 7:189, al-Zumar, 39:6, Fatir, 35:11, dan al-Mu'min, 40:67) bukan label formal agama.

    Apalagi beriman dalam kpd suatu agama merupakan wewenang Allah. Dalam surat Yunus ayat 99 ditegaskan: Jika Tuhanmu berkenan, tentulah mereka semua beriman, mereka yang ada di bumi seluruhnya. Apakah kau hendak memaksa manusia sampai beriman (semua)? Sedangkan iman dan tidaknya seseorang merupakan wewenang Allah, dilanjutkan pada ayat sesudahnya: Tiada seseorang akan beriman, kecuali dengan seizin Allah...

    Dan seperti kita ketahui, agama islam identik dengan rahmat. Kata “rahmat” berasal dari bahasa Arab yang berarti kasih. Tidak ada perbedaan antara cinta dan kasih. Islam diajarkan tidak bercinta kasih sebatas kepada segolongan, sesuku, seras, seagama, tapi kepada siapapun dan apapun (rahmatan lil `alamin).

    Pada pernikahan, agamalah yang akan melanggengkannya berdasarkan ajaran rahmat/ cinta kasih. Maka pernikahan beda agama tidak bertentangan dgn agama islam selama didasari cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah, Ar Rum 30:21), dan melengkapi dan melindungi (Al Baqarah 2:187).

    Saya rasa pelarangan selama ini terkait nuansa politis/ kepentingan, ketakutan ulama dan organisasi islam menghadapi kemajemukan yang sebenarnya tidak bisa ditampik sekarang ini (jauh berbeda dengan zaman nabi). Inilah yang memungkinkan islam secara perlahan malah akan ditinggalkan karena tidak berpihak kepada masyarakat. Toh MUI pusat baru melarang pernikahan beda agama tahun 1980, pada tahun 1986, MUI DKI, mengeluarkan fatwa sebaliknya, membolehkan pernikahan beda agama. Dan sekarang dilarang lagi.

    Muncul anekdot di masyarakat tentang haramnya nikah beda agama. Pastilah umat Islam sekarang akan menghindari pernikahan beda agama karena itu syarat untuk masuk surga. Namun, umat Islam Indonesia itu akan kaget jika di surga nanti bertemu saudara sesama umat islam indonesia, yang menikahnya (nikah beda agama) tahun 1950an. Akan muncul pertanyaan, “Kok dia masuk surga, bukankah pernikahan beda agama katanya haram?”. Lantas ada suara nyeletuk di sekitar mereka, "lain dulu lain sekarang! dan itu kan katanya!".

    Alqur’an harus dilihat konteksnya. Kalau kita tahu konteksnya maka kita tahu pesannya. Fanatisme beragama datangnya dari hal ini karena orang tak melihat konteksnya.

    Gunakan akalmu, (39:18, 5:58, 12:111, 7:115), tidak ada pertentangan antara akal dan agama. Toh, memang akal pada akhirnya menghukumi agama, maksudnya akal lah yang memilah prinsip-prinsip yang tetap dan tidak tetap dalam agama, dan hal-hal sahih dan tidak sahih dalam agama. Jangan takut menggunakannya. Selama ini banyak orang malas berpikir,padahal orang tersebut mampu bahkan berlimpahruah. Jangan melulu didikte atau menTuhankan ulama dan organisasi yang otoritatif/ mengoligarki penafsiran [QS At Taubah 9: 31, Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah].

    Wallahu a’lam bishawab

    ReplyDelete
  25. wow, diskusi yang sangat menarik rupanya sedang berlangsung disini.
    salut untuk semua org yg sudah mencoba menilai secara lebih obyektif tanpa mendiskreditkan agama/aliran tertentu.
    menurut sy, khusus pernikahan beda agama di Indonesia, memang benar dari salah satu post-er diatas yg pada intinya berkata "klo sudah tau dari awal beda agama, lebih baik jangan coba2 main adu cinta". atw klo menurut versi sy "kalo sudah tau kalau pada akhirnya nanti akan terbakar, jangan coba2 main api".
    dilain pihak, ada hal lain yg perlu dipertimbangkan sebelum 2 individu yg berbeda agama tersebut memadu kasih. Yaitu bagaimana tanggapan & respon nyata pihak keluarga atas rencana nikah beda agama tersebut. Karena setau sy, di Indonesia sendiri bisa dibilang hampir 99% keluarga pasti tidak akan setuju dengan nikah beda agama. Jangankan nikah beda AGAMA, bahkan masih cukup banyak orang yg berpendirian "Sebisa mungkin nikah dengan sesama Suku". Harus diingat, pernikahan itu bukan cuma sekedar 2 insan manusia menjalin hubungan keluarga, tapi juga mengenai suatu penyatuan hubungan 2 buah keluarga besar. I'm I right?

    Manusia bisa mudah berpendapat, tapi sulit untuk dilakukan. Manusia punya "hati" & "perasaan". Jadi gmana kalau memang dasarnya sudah suka atau cinta atau sayang?
    manusia jg cenderung lebih menyukai hal2 yang mengandung resiko. Sudah tau kalau bermain api itu bahaya, tapi tetap dilakukan. Baru stress & pusing kalo sudah terlanjur jadi bara api.
    heheheee.
    Inilah salah satu konsekuensi dari Pancasila & Indonesia Modern saat ini.
    Jadi semua hal & aturan baku yang tertulis tentang nikah beda agama saat ini, akan menjadi terkesan percuma. Lebih baik dikembalikan ke masing2 individunya, "SIAPKAH ANDA DENGAN KONSEKUENSINYA NANTI APABILA BERMAIN API..??"

    ReplyDelete
  26. Di dunia selebritis kita melihat ada yang terpaksa menikah di luar negeri karena masing masing mempertahankan akan keyakinan agamanya yang dianut keluarganya sejak turun temurun, kita juga melihat ada yang sudah lama menikah campur tapi kehidupan keluarganya jauh dari gosip apalagi pertikaian dan perceraian, juga kita sering melihat pernikahan selebrity yang seagama atau sekeyakinan tapi hanya berusia seumur jagung dan diahiri dengan saling memojokkan atau pertikaian tidak sedap, itu baru didunia selebritis belum masyarakat kelas atas yang mampu untuk menikah diluar negeri, sedangkan yang tidak mampu mungkin akan kumpul kebo atau terpaksa menikah dengan orang seagama atau sekeyakinannya tetapi tetap membina hubungan percintaan dengan orang yang dikasihinya (selingkuh).

    Jadi hendaknya negara melegalkan kawin campur antar agama atau keyakinan, karena masalah agama / keyakinan dan kebahagiaan adalah hak asasi individu, kita menjadi malu saat banyak pihak yang mensahkan perkawinan diluar negeri atau melakukan kumpul kebo hingga perselingkuhan hanya karena terbentur, terhalang pada perbedaan agama / keyakinan, mari kita dukung orang yang ingin mensahkan perkawinannya, mari kita bersuka cita akan kebahagiaan orang lain. Semoga.

    Labih Basar
    Jl. Griya Kebraon Barat VIII – BH 4
    Surabaya

    ReplyDelete
  27. te jawa kawen tong ata watenen jadi hala? puken aku? titi kan hama2 ata diken? salam.

    ansel

    ReplyDelete
  28. Ansel, ata diken pi jawa hama hala non titen. Ata watenen sot rong kiwanen, kiwanen di sot ron watanen. Ata kiwanan ne esi, tapi dianggap bahaya. Gemohing tula mesikit le kapela, di susah.

    Kalo ra anana kawen, dore agama amalaken, inan aman ne poro koli: weluro, hak-hak naen weteka. Pokoknya, gampang hala pi Jawa.

    ReplyDelete
  29. Saya wanita muslim, dan sekarang saya sedang menjalin hubungan dengan laki-laki kristen, dan merasa he's the one. Keluarga pasangan saya sudah mengetahui status hubungan kami, dan sempar geger juga, walaupun sekarang sudah mulai tenang.

    Sedangkan orangtua saya lebih memilih pura-pura tidak tau. Kakak dan adik saya sudah tahu, bahkan kakak ipar telah saya kenalkan pada pasangan saya.

    Saat ini kami hanya menikmati kebersamaan saja, jika memang kami berjodoh, kami pun sudah merancang dengan cara apa kami menikah.
    Saya pribadi tidak keberatan jika harus melaksanakan pemberkatan di gereja, sama saja, doa kan bisa dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Pastinya orangtua saya akan sangat keberatan, maka untuk menyenangkan mereka, akan dilakukan pernikahan didepan penghulu, biar semua senang.

    Nanti kalau punya anak, jika laki-laki maka ikut agama bapaknya (kristen), jika perempuan ikut saya (muslim). Kalau anaknya laki-laki semua, ya kristen semua, saya gak bakal protes kok.
    Tapi menghadapi keluarga yang bikin deg deg ser...

    dila

    ReplyDelete
  30. Dila, terima kasih sudah berbagi pendapat dan pengalaman di sini. Semoga Anda dan keluarga diberkati Tuhan.

    ReplyDelete
  31. saya wanita muslim yang menikahi laki-laki flores beragama katholik dan telah memiliki 1 orang putra. Kami jalani dengan berpegang agama masing-masing dan toleransi, tapi untuk anak saya sadari haknya dia untuk memilih agamanya nanti bukan berarti anak saya tidak dapat pendidikan agama, saya kenali dan ajarkan dia agama papanya dan agama mamanya, walau berat saya sadari itu konsekwensi menikah beda agama. Tidak usah anak hasil dari kawin beda agama, anak dari perkawinan seagama pun banyak yang setelah dewasa berpindah agama dari agama yang lebih dulu dianutnya.

    ReplyDelete
  32. Salam kenal Bung Lambertus, ulasan Anda tentang pernikahan beda agama sangat bagus dan 'kebetulan' membantu saya. Saat ini saya (katolik taat)sedang menjalin hubungan dengan tunangan saya yang seorang muslim taat. Dari awal kami menyadari perbedaan itu, dan berkomitmen untuk tetap masing2 menjalani agamanya. Yang menjadi persoalan, kami kesulitan untuk menikah secara legal di Indonesia. Saya juga mohon info lebih jauh tentang pernikahan beda agama yang dibolehkan Gereja Katolik walau bukan Sakramen. Bagaimana proses dan prosedurnya? Apakah setelah itu kami bisa mendapatkan legalitas hukum? Selain itu, apakah saya masih berhak untuk mendapatkan semua pelayanan (sakramen2) di gereja? Tunangan saya juga mendengar di sebuah daerah di Jabar catatan sipil bisa menikahkan kami walau beda agama. Ini info membingungkan karena bertentangan dengan hukum di Indonesia. Mohon info dan sarannya, termakasih untuk penjelasannya.

    Regards,
    Pascal

    ReplyDelete
  33. Pascal, anda segera konsultasi dengan rohaniwan terdekat. Romo paroki atau komisi keluarga, saya kira, bisa menolong. Tidak usah panik, tenang saja, selalu berpikir sederhana!

    Salam damai.

    ReplyDelete
  34. wuah... ini pengalamannya sama dengan saya dan pacar saya sekarang.. sampai sekarang kami masih gantung.. cuma terakhir sih uda sepakat, untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga..
    kita menikah katolik di gereja
    menikah islam di penghulu juga..
    nanti di catatan sipil baru pilih salah satu..
    tapi kita ga tau (scara blom pernah nikah) hal ini bisa dilaksanakan ga ya? ada saran/masukan/bantahan?
    thq

    ReplyDelete
  35. Apa yang menurut Indry dan calon suami baik, sudah dipertimbangkan matang2, ya, silakan jalan. Yang penting, jangan pernah ragu2. Tapi tidak umum pasangan menikah di dua tempat sekaligus karena akan ada komplikasi teologis yang berat.

    Sebaiknya Anda konsultasi dengan rohaniwan terdekat. Masalah ini sangat serius. Kita tidak bisa membahas secara sambil lalu di internet. Salam damai.

    ReplyDelete
  36. no way@@@ nikah beda agama itu haram

    ReplyDelete
  37. Wow keren Opu, artikel pi memang benar2 menarik, yang kasi komentar sa seperti buat artikel (panjang-panjang), memang nikah beda agama itu sangat berat untuk dilaksanakan tepi negara titen, sebenarnya semua kembali pada individu masig-masing, itu hak mereka, semoga komentar yg panjang2 di atas plus ayat2 kitab suci tuh benar, kalo benar jaman dulu seperti itu berarti.....?

    ReplyDelete
  38. sungguh suatu pencerahan..sangat membantu saya dalam menyelesaikan skripsi saya.. :D

    ReplyDelete
  39. yups aku juga alami hal yang sama, tergantung juga masing2 individu "prinsip pribadi saya" wanita yg ikut suami
    apapun yg terjadi, toh yg tahu hati kita & keimanan kita hanya Tuhan
    "sampai detik ini kami masih bersama berjuang demi cintta kami dalam perbedaan"

    ReplyDelete
  40. cari jodoh seagama aja, jangan coba2 beda agama. susah di dunia n akherat....

    ReplyDelete
  41. Teuku ikas,,,Hm,,,semuanya sudah pada teruraikan dengan jelas,n complit,jd gk ad lagi,yg bs di tambahin,,,yg jlasnya sy cwok aceh, yg pernah menjalin cinta dgn seorang wanita asli Flores beragama katolik,sy jg punya kasus yg sma...!! yg ad cma bikin pusig,,,,huff!!!

    ReplyDelete
  42. salam kenal teman2
    saya putra..mau berbagi cerita neh
    saya katholik dan pacar saya muslim..memang agama gak bisa dipaksakan..pada awalnya pacar saya menolak menikah katholik karena dia sholatnya rajin puasa pokoknya taat deh..terus saya bertanya sama pacar saya..(kalau kamu rajin sholat dan puasa kenapa Tuhan mempertemukan kita kok bkn yg seiman)..pasti kalian gk bs jawab kenapa?
    itu karena Tuhan kita satu dan kita anak cucu adam hawa..masalah agama ras dll..itu memang dibuat Tuhan beda dan bagaimana cara kita menyikapinya..yg penting kita hidup di dunia ini harus berbuat baik,menghargai,dan selalu bersyukur sama Tuhan itulah modal kita untuk masuk surga..bukan dari agama yg kita peluk..semua agama bs masuk surga asalkan kita taat sama aturan yg Tuhan buat dan menjahui larangan setan..saya meyakinkan pacar dan camer saya..bahwa kita menilai bkn dr segi agama aja..kata sapa gk bs nikah beda agama..ne saya udah ke catatan sipil surabaya dan bentar lagi kita akan nikah secara katholik..asyik Tuhan memang punya rencana indah..
    untuk menyikapi perempuan harus ikut suami dalam segala hal itu bkn dilihat dr agama,adat,ras dll..
    tapi secara logika mungkin teman2 tdk menyadari..bahwa perempuan diciptakan dr tulang rusuk pria..so secara otomatis kalo emang cewek itu jodoh kalian kan akhirnya bersatu jd satu daging tanpa melihat agama dll..gak ribet kok hubungan beda agama itu..hanya manusianya lah yg buat ribet..satu pesan saya bunuhlah ego dan doktrin2 yg gk jelas..penuntun kalian hanya satu yaitu Tuhan,Allah,Bapa..jadi kalian kalo mau nikah beda agama pakailah pikiran,logika dan kedewasaan kalian..biar Tuhan yg menentukan hidup kita,karena kita tidak bisa menolak takdir yg diberikan Tuhan.
    jadi intinya teman2ku..kita semua sama satu Tuhan meskipun berbeda agama ras dll.jgn dibuat ribet..akhirnya kalian sendiri yg pusing..yg penting berbuat baik dan amal serta bersyukur pasti kalian akan temukan jawabannya kenapa kita hidup di dunia ini..salam damai sejahtera Tuhan memberkati kalian semua.amin

    ReplyDelete
  43. tidak gampang menikah beda agama .
    sedangkan yang seiman saja masih ditentang , apalagi beda agama.
    didalam hukum islam menikah itu artinya menghalalkan hubungan sepasang anak manusia melalui akad nikad. dengan syarat sah nikah.untuk menghindarai zina .
    manfaatnya memberikan ketenangan batin , jika menikah beda agama sama halnya seperti seorang yang berzina terang terangan diketahui orang lain tetapi tidak punya malu dengan aib nya sendiri,dan dosanya tidak saja ditanggung oleh si pelaku nikah beda agama saja, tapi juga pada kedua orang tua nya yang islam akan diminta pertanggung jawaban , kenapa bisa membiarkan anak melakukan zina dng cara menikah beda agama.kelak di yaumul mahsyar maka dari itu sebagai umat muslim hendaknya ikutilah hukum agama yang berlaku. menikah dengan pasangan yang seiman.
    namun jika belum mendapatkan yang seiman, kiranya bisa diatasi dengan puasa atw saum n perbanyak doa memohon perlindungan pada allah swt agar terhindar dr fitnah dunia.
    mannfaat hukum agama dalam islam adalah untuk memberikan ketenangan bathin didunia n keselamatan diakherat. semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  44. apa manusia pernah tahu, kalau Tuhan yg menjodohkan seseorang yg berbeda keyakinan??apa pernah kita tahu kehendak Tuhan??jika Tuhan telah menjodohkan seseorang yang berbeda keyakinan apa bisa manusia menolaknya?? apakah selalu dengan hasil yang baik jika menikah dengan yang satu keyakinan??apakah doa dan puasa yang kita lakukan itu selalu berakhir dengan keinginan yang kita mau?? semuanya adalah teka-teki Tuhan yang manusia tidak dan tak akan pernah tahu.selama pernikahan menghasilkan hal-hal yang baik dan bukan dosa adalah sangat bijak untuk di fasilitasi. di negeri ini pernikahan hanya secarik kertas....bahkan maknanyapun seakan lenyap.

    ReplyDelete
  45. masalahnya, Tuhan dari tiap2 agama itu beda2 hehhe... aq sih cari yg aman aja deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau orang masih pada tahap pemula, seakan-akan Tuhan itu berbeda. Lho Tuhanmu kok dewa, lho Tuhanmu kok menjelma jadi manusia, lho Tuhanmu kok terlalu begini, terlalu begitu. Pada tahap pemula inilah orang mudah sekali diperalat oleh politikus atau pemimpin agama yang keji untuk mengedepankan identitas, dan terjadilah perang dan ketidakdamaian. Kalau orang sudah pada tahap pemahaman yang mendalam, dia akan menyadari, bahwa inti Tuhan itu sama.

      Delete
    2. Kalau orang pada tahap pemula, dia yang muslim akan terus bertanya-tanya begini, contohnya: sholat itu kalau pas sedang dalam perjalanan, wajib tidak? Kalau pas menstruasi, boleh nggak berhubungan intim? Kalau pas puasa, ketelan ludah sendiri, batal nggak? Coba dengarkan kuliah subuh pas bulan puasa, membosankan tidak? Karena tiap tahun ya itu itu saja pertanyaannya.

      Yang Kristen, akan bertanya, contohnya begini: kalau datang ke sembahyangan Orang Tionghoa, boleh gak ikut memberi penghormatan kepada yang mati? Boleh gak menyantap makanan sisa persembahan? Boleh gak pergi ke Gunung Kawi? Boleh gak memberi hormat kepada bendera merah putih? Kalau orang Pentekosta, boleh gak masuk gereja Katolik krn ada patung Bunda Maria? Dan lain lain yang remeh temeh. Kalau Yesus hidup di jaman kita ini, dia akan nyengir melihat kelaukan umat yang mengaku pengikutnya, krn Yesus sendiri tidak menghujat orang beragama dari sekte lain (Samaria) malah meninggikan mereka yang berlaku baik. Dia tidak merajam tetapi mengampuni pelacur. Dia mengobrak-abrik agama yang dikomersilkan (mengingatkan pada departemen agama).

      Dan banyak sekali umat beragama yang tidak lewat phase ini, karena mereka beragama hanya di bibir tetapi tidak di hati. Berapi-api dalam membela "kebenaran" aturan-aturan sampai menyalahkan umat beragama lain.

      Mereka yang beragama sudah di hati, akan mengerti, intinya, zatnya Tuhan itu apa: cinta kasih, kedamaian, kejujuran, pengampunan, dll. Orang Muslim mengenal 99 asma Allah ... itulah intinya Tuhan. Tanyakan kepada Orang Kristen atau Orang agama apapun, apakah inti Tuhanmu, berbedakah dengan yang diuraikan di dalam 99 Asma Allah itu? Sama!

      Jika kita bertanya kepada seorang sekuler yang tidak ke gereja atau ke mesjid atau ke kuil, tetapi dia hidup secara etis menurut prinsip-prinsip tertentu: kejujuran, kesabaran, pengampunan, kerendahan hati, dll. Apakah prinsip-prinsip itu sama dengan yang diajarkan di dalam kitab2 suci? Sama! Itulah intinya Tuhan, biarpun mereka tidak memuja-mujaNya secara khusus.

      Tetapi ya itu, manusia beragama itu kebanyakan untuk IDENTITAS, bukan untuk MENCARI TUHAN. Aku ini ISLAM yang benar, mazhabku ini, kalau yang lain itu salah, sini aku pentung!! Aku ini KRISTEN, gerejaku ini yang paling benar, kalau yang mereka itu masuk neraka!

      Carilah Tuhan di dalam hati kita, bukan hanya ikut agama sebagai identitas yang lantang saja.

      Delete
  46. Sekretaris Eskekutif Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Hibertus Hartono MSF, mengatakan, Gereja pada dasarnya tak dapat melarang perkawinan beda agama.

    Ia menanggapi uji materi Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan di Mahkamah Konstitusi. Pasal tersebut berbunyi, “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.” Ketentuan pasal ini dianggap tak memberikan kepastian hukum bagi warga yang akan melakukan perkawinan beda agama di Indonesia.

    “Gereja hanya mengimbau bahwa perkawinan tidak campur. Ada beberapa pertimbangan. Pertama bahaya iman akan lebih kentara, pernikahan juga rentan bermasalah. Misalnya, persetujuan keluarga masing-masing saat pernikahan, anak-anak yang lahir nanti akan ikut siapa dan sebagainya.,” ujar dia kepada Kompas.com, Jumat (5/9/2014) pagi.

    “Kami lebih melihat pada implikasi yang akan terjadi pada orang yang menikah beda agama. Maka itu, Gereja selalu mengimbau warganya untuk menghindari perkawinan berbeda agama.,” sambung dia.

    Namun, lanjut Romo Hibertus, di sisi lain ada hak-hak yang melekat pada manusia yang tak bisa diusik oleh Gereja. Pertama, masing-masing orang bebas menentukan agamanya. Kedua, Gereja memandang bahwa agama merupakan hak asasi manusia. Ketiga, cinta antar manusia datang tidak dapat diduga.

    “Akhirnya, Gereja berprinsip tidak memaksa pihak lain yang menikah dengan warga Katolik untuk masuk Katolik. Kedua, kita juga menyarankan orang Katolik yang nikah dengan umat lain untuk menikah dengan tata cara Katolik,” ujar dia.

    Dalam Gereja Katolik, Romo Hibertus menjelaskan, umat yang menikah berbeda agama, mendapatkan izin dispensasi ‘disparitas kultus’. Adapun, umat yang menikah berbeda Gereja (Katolik menikah dengan Protestan) mendapatkan izin ‘Mixta Religio’. Kedua izin itu bisa didapatkan melalui serangkaian proses.

    ReplyDelete