15 August 2006

Lapindo: Banyak Bicara Aksi Kurang



Sejak awal saya sudah melihat bahwa semburan lumpur panas Lapindo akan sulit diatasi dengan tiga skenario versi pemerintah/Lapindo. Karena itu, jalan membuang air lumpur ke laut menjadi pilihan objektif kendati ditentang penggiat lingkungan. Minus malum lah.

Maka, saya menulis opini di Radar Surabaya edisi 14 Agustus 2006. Kini, setelah pemerintah kewalahan, akhirnya pemerintah memutuskan membuang air lumpur ke laut dan sungai pada pertengahan September 2006. Terlambat! Delapan desa di Kecamatan Porong, sudah tenggelam.




Semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc di Porong, Sidoarjo, sudah berlangsung dua bulan lebih. Alih-alih bisa dijinakkan, semburan malah semakin besar. Beberapa pakar mengaku sudah kehabisan ‘ilmu’ untuk mengatasi semburan itu. Game over, katanya.

“Ilmu opo maneh? Sekarang kita berhadapan dengan amarah alam. Makanya, ya, ilmunya insinyur-insinyur itu nggak mempan. Harus ada cara-cara lain yang boleh jadi dianggap irasional,” kata Totok Widhiarto, tokoh kebatinan asal Siring, Porong. Saat ini rumah Totok yang bersebelahan dengan tanggul praktis sudah tenggelam.

Beberapa politikus, wakil rakyat, aktivis, pun beberapa kali mendatangi dukun atau paranormal. Minta resep untuk ampuh untuk menyumbat semburan lumpur. “Namanya juga usaha. Orang ke Jakarta itu kan bisa naik pesawat, bisa naik bis, bisa naik kapal laut. Lha, kalau nggak bisa pesawat, kita coba jalan darat lah,” ujar seorang tokoh penting di Sidoarjo kepada saya.

Begitulah. Kasus Lapindo Brantas yang berlarut-larut membuat sebagian orang kehilangan akal. Tak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Sebab, ratusan insinyur hebat dari dalam dan luar negeri terbukti belum mampu. Sementara itu, ribuan bangunan, sawah, harta benda, sudah tenggelam, sedang tenggelam, dan akan tenggelam.
Tol Surabaya-Gempol saat ini masuk kategori sedang dalam proses tenggelam.

Sesuatu yang niscaya mengingat kapasitas kolam lumpur sangat terbatas, sementara semburan makin dahsyat dan nonstop. Sampai kapan tanggul ditinggikan? Berapa ratus hektare sawah lagi yang disewa untuk kolam lumpur? Jawabnya serba tidak jelas.

Ironisnya, selama 70 hari lebih kita hanya menghabiskan waktu dengan wacana. Wacana A dibantah wacana B, wacana C ditepis waana D, dan seterusnya. Bahkan, pejabat sekelas menteri pun ikut larut dalam perang wacana.

Aneh! Menteri yang seharusnya membuat keputusan konkret justru datang ke Sidoarjo tanpa solusi. Jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk meresmikan proyek batubata uji coba. Bukannya membuat keputusan tegas mau diapakan sekian juta meter kubik air lumpur di pond-pond itu.

“Airnya boleh dibuang ke sungai asal diolah dulu,” kata Sang Menteri, itu pun karena ditanya wartawan. Padahal, yang ditunggu-tunggu Lapindo Brantas, sebagai terdakwa utama, adalah bagaimana mengalirkan air lumpur itu.

Adu wacana pun melebar ke ranah hukum. Muncul polemik perlu tidaknya polisi memeriksa, apalagi menahan, beberapa orang Lapindo. Ketua Mahkamah Agung Prof. Bagir Manan menggulirkan pernyataan yang dianggap kontroversial.

“Tidak perlu capek-capek mencari tersangka. Cukup bayar ganti rugi, urusan selesai,” kata Bagir Manan.

Nah, di saat kita asyik berwacana ria, semburan lumpur semakin mengganas. Kolam-kolam sudah hampir penuh. Tanggul yang terbuat dari sirtu pun tampaknya kian rapuh. Dan... pekan lalu sempat jebol. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya datang langsung ke lokasi, Jumat (11/8/2006). Eh, ternyata muncul wacana baru: bikin tanggul permanen yang lebih kuat.

Sebuah kartun di salah satu koran nasional, Minggu (13/8/2006),cukup jitu mengambarkan betapa para pemimpin kita tak mampu membuat keputusan. Waktu dua bulan habis hanya untuk berwacana. Pejabat-pejabat kita tampaknya lupa bahwa saat ini ribuan orang bukan saja terancam kehilangan rumah, sawah ladang, harta benda, tapi juga... NYAWA. Bayangkan kalau hujan lebat selama dua jam saja?

Benar kaya Wakil Presiden Jusuf Kalla, pekan lalu.

“Masalah bangsa ini tidak kunjung diatasi karena waktu kita habis dipakai berwacana. Masalah bangsa dapat diatasi jika otak dipakai dengan tangan untuk bekerja,” kata Kalla.

Nah, di Porong, musuh kita adalah semburan lumpur panas yang ganas, konsisten, serta tak mengenal wacana.

No comments:

Post a Comment