07 August 2006

D'Lloyd Hidup di Bui Bagaikan Burung

Saya mulai mengenal D’Lloyd waktu masih tinggal di kampung, Pulau Lembata, Nusatenggara Timur, dari beberapa lagu hitnya. Karena tak punya tape, saya hanya bisa nguping lagu-lagu D’Lloyd dari tape recorder tetangga atau warga lain.

Oh ya, di desa ada kebiasaan warga yang punya tape memutar lagu keras-keras, pasang pengeras suara (merek TOA), agar bisa dinikmati orang lain. Bagi-bagilah kenikmatan musik!

Nah, hit D’Lloyd yang saya ingat betul antara lain Semalam di Malaysia, Cinta Hampa, Hidup di Bui, O Tak Mungkin, Tolonglah Tolong… Lagu-lagu kumpulan ini enak didengar, chord-nya sederhana (mirip Koes Plus), lirik tidak muluk-muluk. Cocok untuk orang desa sederhana macam saya.

“Hidup di bui bagaikan burung. Bangun pagi makan nasi jagung. Tidur di ubin pikiran bingung. Apa daya badanku terkurung….,” begitu antara lain lirik lagu Hidup di Bui.

Kami di kampung biasa makan nasi jagung. Tapi tentu orang Jawa tidak. Makanya, makan nasi jagung dianggap siksaan tersendiri bagi narapidana yang hidup di bui. Saya terlalu naif untuk bisa membuat analisa soal ini di kampung, Lembata.

Di Surabaya, setelah jadi wartawan, saya beroleh kesempatan bertemu dengan artis-artis yang dulu hanya di angan-angan. Salah satunya D’Lloyd. Kebetulan beberapa teman saya jadi panitia konser kenangan D’Lloyd di Balai Pemuda Surabaya. Pertama pada 30 April 2005, kemudian 23 Juli 2006.

Di Surabaya penggemar D’Lloyd masih banyak, karcis selalu ludes. Saya sendiri seperti biasa bertugas sebagai penulis reportase konser tersebut.

D’Lloyd ini terdiri dari Bartje van Houten (gitar), SJAMSUAR  (vokal), Chairul (drum), Totok (bas), Budi (kibor), dan Yuyun (saksofon/flute). Berdiri pada 1969, kemudian rekaman 1972, D’Lloyd (berasal dari kata Djakarta Llyod) tetap awet sampai sekarang.

Tak ada pergantian persnel, kecuali Juhanny Fatmarida Susilo alias Yuyun, yang bergabung pada 1995 menggantikan Andre Gultom yang meninggal dunia. “Kami ini sudah jadi satu keluarga besar. Sulit berpisah,” kata Bartje van Houten, pimpinan D’Lloyd kepada saya.

Pak Bartje yang orang Ambon ini mengatakan, D’Lloyd merupakan band yang personelnya berasal dari berbagai etnis di Tanah Air. Bartje orang Ambon, Sjam Aceh, Yuyun Jawa (Surabaya), kemudian Batak dan Manado.

“Anda sendiri berasal dari mana? Kayaknya Maluku juga?” tanya Pak Bartje.

“Flores. Yah, mirip-mirip Ambonlah,” jawab saya disambut tawa pencipta lagu produktif pada 1970-an hingga 1980-an itu.

Salah satu karya Pak Bartje pernah dibawakan Vina Panduwinata di festival internasional dan… menang. Liriknya kira-kira demikian: “Sambutlah tanganku ini dan peluklah daku sekali lagi…”

“Kenapa lirik lagu-lagu D’Lloyd itu cenderung sedih, nelangsa?”

“Mungkin Anda juga alami. Kita ini kan perantau, hidup di negeri orang. Cari uang susah, makan susah… ya, main gitar, bikin lagu, mengeluh kepada Tuhan. Kepada siapa lagi kita mengeluh kalau bukan Dia?” urai Pak Bartje dengan ramah.

Karena itulah, di bagian refrein atau chorus-nya, D’Lloyd selalu merintih dan memohon kepada Tuhan. “Oh Tuhan yang kuasa, berikan petunjuk-Mu. Betapa pedih kurasakan kasihku tak sampai.”

Pola lirik karya Bartje van Houten serta penulis-penulis lagu berlatar perantau memang cenderung begitu. Ungkap kesedihan, gagal cinta, cita-cita… lantas mengeluh atau minta petunjuk Tuhan.

“Kalau ada konser seperti ini, apa masih latihan?”

“Wah, nggak perlu lagi karena lagu yang diminta sama terus. Dari dulu, ya, lagu-lagunya sama. Orang kan ingin nostalgia, mengenang masa lalu. Kami sudah hafal di luar kepala hehehe…”

“Apa tidak kalah bersaing dengan artis-artis atau band baru?”

“Oh, pasar musik itu berbeda-beda. Kami punya pasar sendiri. Dan sampai sekarang orang suka. Jadwal show kami selalu penuh dan ramai terus. Kami jalani saja hidup ini.”

“Ada rencana buat album baru?”

“Rencana sih ada. Materi lagu sudah banyak. Tapi terus terang saja pembajakan di Indonesia sudah terlalu parah, sehingga orang berpikir tujuh kali untuk membuat album. Nanti yang untung justru pembajak-pembajak itu. Supaya Anda tahu, banyak artis kita yang stres gara-gara pembajakan.”

“Sampai kapan D’Lloyd dan Anda terus bermusik?”

“Yah, selama masih mampu, fisik memungkinkan, kami akan terus main. Tentu saja, selama masyarakat masih membutuhkan kehadiran kami,” kata pentolan D’Lloyd, grup yang pada 25 Januari 2004 menerima penghargaan Golden VCD di Singapura.

Di Malaysia pun D’Lloyd sangat populer.

Saat berbincang dengan Pak Bartje van Houten, saya lihat Syam (vokalis) tengah mengelap keringatnya dengan tisu. Dia capek sekali karena habis jingkrak-jingkrak di panggung selama dua jam lebih. Saya pun teringat teriakan Syam yang khas:

“Tolonglah, tolong, carikan aku kekasih!”

Asal tahu saja, Syam yang berusia 60 tahun ini (pada 2006) belum punya kekasih. Hehehe….


CATATAN AKHIR

Syam D’Lloyd, vokalis D’Lloyd meninggal dunia, Sabtu (9/6/2012) sekitar pukul 07.15. Syamsuar Hasyim, nama lengkap  Syam,  meninggal akibat penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, pada usianya yang ke-64. Bartje Van Houten, pimpinan band, menjelaskan bahwa Syam dirawat sejak 6 Juni 2012  di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat.


Pada 12 Mei 2012 bersama D’LLoyd, Syam  masih manggung di Johor, Malaysia. Bahkan, D’Lloyd masih punya jadwal konser di Palembang, Jakarta, Kuching (Malaysia), dan Cirebon.
 

Selamat jalan Bang Syam, seniman sejati, semoga beristirahat dalam damai di sisi Tuhan!

10 comments:

  1. bagus. cukup informatif...

    ReplyDelete
  2. Aku dari Perak Malaysia peminat setia D'lloyd. Terima kasih atas maklumat yg saudara tulis...

    ReplyDelete
  3. Artikel yang menarik sob, terima kasih untuk infonya.

    ReplyDelete
  4. keindahan musik D'lloyd dpt di rasakan sbg nuansa harmoni & kesempurnaan musik indonesia yg slalu di kenang spanjang masa

    ReplyDelete
  5. semoga stasiun tv swasta kita mw membuat acra TRIBUTE to D'LLOYD lagu ny gk akn lekang olh zaman...LEGEND ..dan jg bwt om sam,vokalistny smoga d terima d sisi Nya...jd menetaskn air mata tiap dngar lagu semalam d malaysia...jd ingat kampung halaman...

    ReplyDelete
  6. sebenarnya vokalisnya dari aceh atau dari minang sih? semoga mendapat tempat yang layak disisiNya,suara merdu tak ada duanya.Al Fatihah khusus Bang Syam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sam D'Lloyd dilahirkan di Aceh, namun orang tuanya berasal dari keturunan Minangkabau yang sudah menetap di Aceh.

      Delete
  7. Salam dari malaysia.
    Pengagum D'Lloyd sejak dekad 70-an.
    Terima kasih atas catatan yang cukup informatif.
    sayu mengenang Sam - panggilan kami di malaysia - yang telah meninggalkan kita....

    ReplyDelete
  8. maaf koreksi dikit Bang,bukan Syamsuddin tapi Syamsuar.tx

    ReplyDelete