18 August 2006

Susan Piper Sawung Jabo


Susan Piper berpose bersama saya di Taman Budaya Jatim di sela-sela latihan menjelang konser Sawung Jabo di Surabaya, 15 Agustus 2006.


Dia satu-satunya orang kulit putih yang berada di atas panggung. Juga satu-satunya perempuan di antara 13 musisi pendukung konser ‘Antologi Sawung Jabo: Satu Langkah Sejuta Cakrawala’ di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Selasa (15/8/2006) malam.

Rambut pirang, perawakan tinggi, membuatnya mudah dilacak mata ratusan penonton. Bukan itu saja. Suara soprannya yang lembut, sekali-sekali membawakan nyanyian ala tembang jawa, membuat konser Sawung Jabo di kampung halamannya ini terasa lebih lezat.

Tak salah lagi, perempuan itu Susan Piper (54). Dia istri pemusik Sawung Jabo yang setia mendampingi perjalanan karier dan hidup Sawung Jabo hampir selama 30 tahun terakhir. "Saya mengenal Sawung Jabo sejak 1978, waktu di Bengkel Teater, Jogja. Kami menikah satu tahun kemudian," ujar Susan Piper dalam percakapan khusus dengan saya.

Bengkel Teater yang dibina WS Rendra merupakan teater paling top di Jogja pada awal 1970-an, dan telah menelurkan seniman-seniman besar di Tanah Air. Sawung Jabo salah satunya.

Sambil bercerita tentang masa lalu, karier, pandangan musikal, Susan terus menikmati nasi kotak, lauknya ayam goreng. Perempuan kelahiran Romford, Inggris, 19 Juni 1952, ini menikmati makanan itu dengan lahap.

"Kebetulan saya sedang lapar hehehe…"

Sebelum mengenal, kemudian menikah dengan Sawung Jabo, Susan mengaku sudah tertarik dengan kebudayaan Asia Tenggara, khususnya bahasa. Maka, saat skripsi dia secara khusus melakukan studi di Jogja. Tak hanya belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, Susan pun belajar wayang kulit, tembang jawa, tarian… langsung di keraton.

"Cukup lama saya bergabung dengan kelompok wayang kulit di keraton (Jogja)," ceritanya.

Nah, kebolehan Susan bernyanyi ala sinden merupakan hasil kerja kerasnya saat berlatih pada pertengahan 1970-an itu. Kembali ke Australia, Susan makin mantap memilih profesi sebagai penerjemah sekaligus dosen bahasa Indonesia di beberapa universitas. "Jadi, saya ini juru bahasa," tutur Susan seraya tersenyum.

Terus terang saja, kemampuan berbahasa Indonesia Susan Piper sunggguh membuat kita -– yang katanya orang Indonesia asli, pribumi -– layak iri. Bicaranya mengalir, lancar, jelas, dengan pilihan kata yang sangat tepat. Berbeda dengan gaya bahasa remaja sekarang yang suka mencampur frase bahasa Inggris, Susan yang lahir di Inggris justru mampu ‘menemukan’ kata atau kalimat yang pas untuk mengungkapkan gagasannya.

"Tapi dalam beberapa tahun terakhir, jumlah mahasiswa yang berminat belajar bahasa Indonesia sangat berkurang. Kenapa? Saya rasa, karena pilihan ini dipandang tidak menjanjikan," kata Susan seraya mengangkat bahu.

Dampaknya jelas. Susan Piper tak bisa lagi mengajar sebagai dosen. "Bagaimana mau mengajar? Mahasiswa tidak ada. Anak-anak muda sekarang lebih suka ambil (fakultas) hukum karena dinilai lebih menjanjikan. Zamannya memang lain," kata ibu dua anak ini.

Toh, profesi sebagai penerjemah (istilah Susan: juru bahasa) masih dilakoni sampai sekarang. Hubungan antara Australia dan Indonesia, yang nota bene negara tetangga, kita tahu, selalu pasang surut. Tragedi bom di Bali, yang banyak menewaskan orang Australia. Kemudian penangkapan beberapa warga Australia yang terlibat narkotika, disusul kasus pemberian visa tinggal sementara untuk sejumlah separatis asal Papua, menambah runyam hubungan Indonesia-Australia.

Ini semua, kata Susan, ternyata sangat memengaruhi kehidupan komunitas Indonesia di negara kanguru itu. "Sampai sekarang dampak itu masih terasa," tuturnya.

Penurunan minat mahasiswa Australia untuk studi bahasa Indonesia pun sedikit banyak disebabkan oleh ketegangan politik antara kedua negara. Omong-omong bagaimana pandangan Susan terhadap musik Sawung Jabo?

"Wah, saya terlalu dekat dengan dia. Saya istrinya sehingga tidak bisa menilai secara objektif," kata Susan yang mengaku tidak pernah belajar musik secara akademis.

Namun, beberapa saat kemudian, dia mengatakan, Sawung Jabo sejak 1970-an sampai sekarang tetap konsisten dengan warna dan karakter kuat.

Zaman boleh berubah, tapi warna dan kedalaman musik Sawung Jabo tetap konsisten. "Syair-syairnya sangat kuat," puji perempuan yang selalu terlibat dalam konser-konser maupun album suaminya itu.

Yang jelas, kendati sudah lama berkecimpung di musik, Susan Piper mengaku tak bisa menjadi pemusik 100 persen alias bekerja penuh waktu di bidang musik. Katanya, cukup Sawung Jabo saja yang begitu.

Kenapa? "Profesi ini tidak menjanjikan untuk hidup. Saya harus bekerja (di bidang lain), apalagi anak saya dua orang," tegas Susan.

Rupanya, pandangan Susan ini ‘diadopsi’ dua anaknya (Johan Sanjaya dan Shanti Rosina). Berbeda dengan ayah ibunya, keduanya enggan menekuni musik meskipun punya apresiasi tinggi terhadap budaya Indonesia.

"Mungkin, karena mereka lahir di zaman yang berbeda," kata Susan.

Matur nuwun, Mbak Susan!

15 August 2006

Lapindo: Banyak Bicara Aksi Kurang



Sejak awal saya sudah melihat bahwa semburan lumpur panas Lapindo akan sulit diatasi dengan tiga skenario versi pemerintah/Lapindo. Karena itu, jalan membuang air lumpur ke laut menjadi pilihan objektif kendati ditentang penggiat lingkungan. Minus malum lah.

Maka, saya menulis opini di Radar Surabaya edisi 14 Agustus 2006. Kini, setelah pemerintah kewalahan, akhirnya pemerintah memutuskan membuang air lumpur ke laut dan sungai pada pertengahan September 2006. Terlambat! Delapan desa di Kecamatan Porong, sudah tenggelam.




Semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc di Porong, Sidoarjo, sudah berlangsung dua bulan lebih. Alih-alih bisa dijinakkan, semburan malah semakin besar. Beberapa pakar mengaku sudah kehabisan ‘ilmu’ untuk mengatasi semburan itu. Game over, katanya.

“Ilmu opo maneh? Sekarang kita berhadapan dengan amarah alam. Makanya, ya, ilmunya insinyur-insinyur itu nggak mempan. Harus ada cara-cara lain yang boleh jadi dianggap irasional,” kata Totok Widhiarto, tokoh kebatinan asal Siring, Porong. Saat ini rumah Totok yang bersebelahan dengan tanggul praktis sudah tenggelam.

Beberapa politikus, wakil rakyat, aktivis, pun beberapa kali mendatangi dukun atau paranormal. Minta resep untuk ampuh untuk menyumbat semburan lumpur. “Namanya juga usaha. Orang ke Jakarta itu kan bisa naik pesawat, bisa naik bis, bisa naik kapal laut. Lha, kalau nggak bisa pesawat, kita coba jalan darat lah,” ujar seorang tokoh penting di Sidoarjo kepada saya.

Begitulah. Kasus Lapindo Brantas yang berlarut-larut membuat sebagian orang kehilangan akal. Tak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Sebab, ratusan insinyur hebat dari dalam dan luar negeri terbukti belum mampu. Sementara itu, ribuan bangunan, sawah, harta benda, sudah tenggelam, sedang tenggelam, dan akan tenggelam.
Tol Surabaya-Gempol saat ini masuk kategori sedang dalam proses tenggelam.

Sesuatu yang niscaya mengingat kapasitas kolam lumpur sangat terbatas, sementara semburan makin dahsyat dan nonstop. Sampai kapan tanggul ditinggikan? Berapa ratus hektare sawah lagi yang disewa untuk kolam lumpur? Jawabnya serba tidak jelas.

Ironisnya, selama 70 hari lebih kita hanya menghabiskan waktu dengan wacana. Wacana A dibantah wacana B, wacana C ditepis waana D, dan seterusnya. Bahkan, pejabat sekelas menteri pun ikut larut dalam perang wacana.

Aneh! Menteri yang seharusnya membuat keputusan konkret justru datang ke Sidoarjo tanpa solusi. Jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk meresmikan proyek batubata uji coba. Bukannya membuat keputusan tegas mau diapakan sekian juta meter kubik air lumpur di pond-pond itu.

“Airnya boleh dibuang ke sungai asal diolah dulu,” kata Sang Menteri, itu pun karena ditanya wartawan. Padahal, yang ditunggu-tunggu Lapindo Brantas, sebagai terdakwa utama, adalah bagaimana mengalirkan air lumpur itu.

Adu wacana pun melebar ke ranah hukum. Muncul polemik perlu tidaknya polisi memeriksa, apalagi menahan, beberapa orang Lapindo. Ketua Mahkamah Agung Prof. Bagir Manan menggulirkan pernyataan yang dianggap kontroversial.

“Tidak perlu capek-capek mencari tersangka. Cukup bayar ganti rugi, urusan selesai,” kata Bagir Manan.

Nah, di saat kita asyik berwacana ria, semburan lumpur semakin mengganas. Kolam-kolam sudah hampir penuh. Tanggul yang terbuat dari sirtu pun tampaknya kian rapuh. Dan... pekan lalu sempat jebol. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya datang langsung ke lokasi, Jumat (11/8/2006). Eh, ternyata muncul wacana baru: bikin tanggul permanen yang lebih kuat.

Sebuah kartun di salah satu koran nasional, Minggu (13/8/2006),cukup jitu mengambarkan betapa para pemimpin kita tak mampu membuat keputusan. Waktu dua bulan habis hanya untuk berwacana. Pejabat-pejabat kita tampaknya lupa bahwa saat ini ribuan orang bukan saja terancam kehilangan rumah, sawah ladang, harta benda, tapi juga... NYAWA. Bayangkan kalau hujan lebat selama dua jam saja?

Benar kaya Wakil Presiden Jusuf Kalla, pekan lalu.

“Masalah bangsa ini tidak kunjung diatasi karena waktu kita habis dipakai berwacana. Masalah bangsa dapat diatasi jika otak dipakai dengan tangan untuk bekerja,” kata Kalla.

Nah, di Porong, musuh kita adalah semburan lumpur panas yang ganas, konsisten, serta tak mengenal wacana.

07 August 2006

Sawung Jabo di Surabaya



Pemusik Sawung Jabo (55 tahun), menggelar konser ‘pulang kampung’ di Gedung Cak Durasim, Selasa (15/8/2006). Jabo menunjukkan kematangannya sebagai seniman musik yang tak pernah lepas dari akarnya: arek Suroboyo.

Oleh Lambertus L. Hurek


“YO, opo kabare Suroboyo?” sapa Sawung Jabo, santai. Duduk santai ala lesehan di warung kopi, pentas perjalanan karier Cak Jabo selama 30 tahun di belantika musik ini terasa gayeng. Tak ada jarak antara pemusik dan penonton.

Jabo membuka konser dengan memetik gitar, seorang diri. Pemusik lain diam, merenung.

“Lagune Dara Puspita,” kata Jabo seraya tersenyum. Penonton bertepuk tangan riuh.

“Surabaya… Surabaya… oh Surabaya… kota kenangan… kota kenangan takkan terlupa….”

Tembang kenangan ini dibawakan Jabo dengan suara lembut. Petikan gitar pun hanya sekali-sekali, ‘memaksa’ ratusan hadirin untuk menangkap makna syair lagu.

Konser Antologi Sawung Jabo, yang menghadirkan sedikitnya 15 tembang. Simak beberapa judulnya: Perjalanan Awan, Mengejar Bayangan Menangkap Angin, Bidadari Termangu, Satu Langkah Seribu Cakrawala, Kalau Batas Tak Lagi Jelas Mata Hati Harus Awas, Bisikan Langit Kemarin dan Esok, Lingkaran Aku Cinta Pada-Mu.

Lagu-lagu ini memang menggambarkan langkah Jabo yang cukup panjang di dunia musik, sejak album Anak Setan (1975), Fatamorgana (1994), Jula Juli Anak Negeri (2001), Musik dari Seberang Laut (1997), Ada Suara tanpa Bentuk (2001). Juga hit Bongkar saat Jabo bersama Swami dan Kantata Takwa.

Konser berlangsung sekitar dua jam, ibarat medley. Tak ada jeda antar lagu karena Jabo memberi peluang kepada masing-masing pemusik untuk ‘bermain-main’… lantas disambung dengan komposisi baru.

Yah, Jabo memang sengaja datang dari Sydney, Australia, tempat tinggalnya sekarang, untuk menyapa sahabat-sahabat lama di Surabaya. Ada Arif Afandi (bekas pemimpin redaksi Jawa Pos, yang kini wakil wali kota), Emha Ainun Nadjib, serta para seniman, penggiat, serta penikmat seni di Jawa Timur.

Sosok Jabo malam itu berbeda sekali dengan saat ia bermain bersama Sirkus Barock, Kantata Takwa, atau Swami. Teriakan-teriakan garang, liar, nyentrik, nyaris tidak terdengar. Yang muncul sekarang Jabo yang religius, menggali makna hidup, berusaha menggapai Sang Pencipta di usia 55 tahun.

“Kalau batas tak lagi jelas, mata hati harus awas,” sungguh dalam ungkapan Jabo ini.

“Kita diajak merenungi kehidupan,” kata Qudus, aktivis budaya yang dekat dengan Cak Jabo. “Lirik-lirik lagu Mas Jabo itu pada dasarnya puisi yang sarat makna. Cuma banyak orang hanya kenal Mas Jabo dari lagu Bento atau Bongkar,” tambah Dicky, juga teman dekat Jabo.

Ada empat kota yang disapa Jabo: Bandung, Jogja, Jakarta, Surabaya. Kenapa Surabaya jadi gongnya?

“Saya ini kan arek Suroboyo. Jadi, kota ini punya tempat khusus di hati saya,” ujar penyandang nama asli Mochamad Djohansyah, yang memang lahir di Surabaya, 4 Mei 1951 itu.

Dari Surabaya, arek Ampel ini mengembara ke Jogja pada awal 1970-an. Di situlah bakat seninya diasah bersama komunitas seniman Jogja. Jabo pun bergabung dengan Bengkel Teater asuhan Wahyu Suleman Rendra.

“Saya kemudian dipanggil Sawung Jabo ketika saya kuliah musik klasik di Jogja. Itu nama julukan dari kakak-kakak kelas saya,” kata Jabo.

“Tiap hari Cak Jabo ini main gitar, menekuni musik, jagongan sama teman-teman. Kita di Jogja itu ibarat satu keluarga besar,” kenang Win Hendrarso, sahabat Jabo, yang kini menjabat bupati Sidoarjo.

Pada 1978 Jabo mengenal Susan Piper, gadis Australia 26 tahun yang saat ini belajar di Bengkel Teater. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya menikah setahun kemudian. Singkat cerita, Jabo akhirnya berdomisili di negara kanguru itu sambil memperdalam kemampuan bermusiknya.

Tak heran, musik Jabo sangat kaya, menggabungkan musik Barat dan Timur, khususnya Jawa. “Bagaimanapun juga saya ini arek Suroboyo, orang Jawa,” tegas Jabo.

Ternyata, konsep musik Jabo didukung sejumlah sahabat-sahabatnya seperti Totok Tewel, Inisisri, Gondrong Gunarto, hingga Baruna. Para musisi di luar jalur industri itulah yang memungkinkan Jabo berhasil mengekspresikan ide-ide musiknya kepada masyarakat.

Setelah almarhum Gombloh, Leo Christie, dan beberapa nama lagi, Surabaya layak bangga punya Sawung Jabo. Sukses terus, Cak Jabo!

Vihara Dibakar



KAMIS, 17 Agustus 2006.

Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya jalan-jalan ke kawasan pegunungan. Tepatnya di Trawas, Mojokerto. Mampir di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup, sebuah pusat studi sekaligus tempat ekowisata terindah di Jawa Timur.

Kemudian main-main ke Candi sekaligus Sumur Jolotundo, sekitar 1,5 km dari PPLH.
Jolotundo ini punya mata air alami yang sejuk dan bersih. “Kalau tidak salah nomor dua di dunia air terbersih di dunia,” kata Bambang Haryadjie, pelukis sekaligus pekelana kelas wahid dari Sidoarjo. Omongan Pak Bambang ini sering kali bombastis tanpa ada data penelitian tertulis.

Sejak bertugas sebagai wartawan RADAR SURABAYA Biro Sidoarjo, saya memang kerap diajak Pak Bambang dkk ke situs peninggalan Majapahit ini. Saya betah menikmati alam, juga bercakap dengan warga pegunungan yang ramah. Mereka masih memasak pakai kayu bakar, mirip ibu-ibu di kampung saya, Nusatenggara Timur, saat saya kecil dulu.

Di tanjakan, sekitar 500 meter dari Sumur Jolotundo, saya melihat bekas reruntuhan bangunan yang baru terbakar. Abu di mana-mana. Batubata bergelimpangan. Sisa-sisa bambu tergeletak. Kompleks itu dipagari tanpa garis polisi (police line) berwarna kuning.

Ada warung sederhana di sampingnya. Saya pun bertanya ke sana ke mari. Rupanya, warga tak bebas bicara. “Oh, itu bangunan tempat meditasi milik Banthe. Sejenis vihara,” jelas seorang bapak kepada saya.

Kenapa dibakar? Ada apa? Bagaimana respons polisi? Warga? Saya berusaha mengali apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini pembakaran yang ketiga. Dibangun pertama kali, dibakar…. Bangun lagi, dibakar. Sekarang pun dibakar lagi,” jelas sang bapak.

Pembakaran terakhir, kata sumber saya, dilakukan puluhan anak muda tengah malam ketika sebagian warga sudah terlelap tidur. “Kejadiannya cepat sekali, wong bangunannya kebanyakan dari bambu,” tambah warga lain.

Sengaja nama-nama mereka tidak disebut mengingat kasus ini sensitif. Istilah rezim Orde Baru dulu SARA: suku, agama, ras, antargolongan.

BANTHE Sutedja seorang rohaniwan Budha yang tulus dan sabar. Ia ingin membuat tempat meditasi pribadi, ukurannya sedikit lebih besar dari lapangan voli, untuk proses olah rohani. Bukankah Sumur Jolotundo sejatinya merupakan tempat ibadah umat Hindu?

Nah, rupanya rohaniwan Budhis ini ingin membuat tempat khusus untuk menyapa Sang Pencipta di dekat Jolotundo.

Tapi… ya, inilah Indonesia. Membuat tempat meditasi atau semacam vihara macam ini bukan perkara mudah. Harus urus izin macam-macam. Bayar sana sini. Dan hasilnya pun belum tentu disetujui. Banthe hanya ingin tempat meditasi pribadi, bukan rumah ibadah seperti vihara, pura, gereja, kelenteng, dan sejenisnya.

“Yah, nggak apa-apa. Kalau dibakar ya sudah. Buat apa digugat segala macam,” kata seorang bapak, 60-an tahun, mengutip kata-kata Banthe.

“Saya kagum sama Banthe. Dia itu orang suci, nggak punya musuh,” tambah seorang wanita sepuh.

“Mestinya nggak apa-apa, wong cuma tempat meditasi pribadi,” kata seorang pertapa asal Blitar yang mangkal di kawasan Jolotundo.

Seorang warga Wunut, Sidoarjo, yang berada di warung samping bekas bangunan terbakar, punya komentar berbeda.

“Wong Cino iku duite akeh. Jadi, dibakar pun nggak apa-apa. Biar saja. Uangnya kan banyak,” katanya dalam bahasa Jawa khas Sidoarjo.

“Nggak usah diuruslah. Itu kan bukan milik kami. Biar sajalah dibakar atau diapakan… terserah,” tambah wanita penjaga warung.

BEGINILAH wajah bangsaku, bangsa Indonesia, di Hari Jadi ke-61 Proklamasi Kemerdekaan. Ternyata, hidup bersama sebagai sesama anak bangsa–apa pun agama dan latar belakangnya–masih butuh perjuangan keras. Sekeras perjuangan para pahlawan yang merebut kemerdekaan dari kaum penjajah.

Banthe dan umat minoritas tampaknya masih dianggap ‘anak kos’ yang belum diakui hak-haknya, termasuk hak beribadah dan mendirikan tempat ibadah. Batasan KAMI dan MEREKA akhir-akhir ini terasa semakin tegas. Hanya KAMI yang boleh menikmati kebebasan, MEREKA silakan merana dan terjepit.

Saya kira, nasib Bhante Sutedja masih lebih beruntung.

Sahabat-sahabat kita penganut Ahmadiyah–yang nota bene masih sealiran dengan agama mayoritas–mendapat perlakuan sangat kejam. Rumah-rumah mereka dibakar. Diusir dari kampung. Saat aset-asetnya dibakar, polisi malah terkesan ‘melindungi’ perusuh, bukan mengamankan rumah dan aset Ahmadiyah.

SETELAH kejadian, menteri-menteri justru menyalahkah orang Ahmadiyah. Gubernur, Bupati, Kapolres, Dandim… semua diam saja. Sampai sekarang nasib umat Ahmadiyah tidak jelas. Katanya, mereka mau minta suaka ke luar negeri karena pemerintah Indonesia gagal menjalankan tugasnya ‘melindungi bangsa dan rakyatnya sendiri’.

Dalam kasus pembakaran aset milik Banthe Sutedja, polisi dan pemerintah daerah pun diam. Seakan tak pernah ada kasus serius di daerahnya. Membakar rumah ibadah ibarat membakar sampah rumah tangga, sehingga tidak perlu ditangani serius. Gila!!!!

OH, Indonesia….
Republik macam apa ini?

Nikah Beda Agama yang Bikin Pusing

Pemberkatan nikah adik sepupu saya, Roy Hurek, di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Kayutangan, Malang, akhir Juli 2006. Kalau yang ini sih sama-sama Katolik.



NAMANYA sebut saja Yohanes Fernandez, 27 tahun, asal Flores, tinggal di Surabaya. Pekerjaan cukup bagus, sejak kuliah sudah di tanah Jawa, dia berkenalan dengan Ambarwati. Pacaran, menjalin cinta, niat menikah.

“Saya dan dia banyak cocoknya. Ambar gak terlalu cantik, samalah dengan saya punya muka yang pas-pasan. Mana ada orang Flores ganteng? Hehehe,” ujar si John, sapaannya, kepada saya.

Tapi ada halangan besar. John beragama Katolik, aktivis gereja tulen, pernah aktif di beberapa organisasi gereja. Sebelum makan minum si John ini tak lupa membuat tanda salib. Saya sendiri buat tanda salib di dalam hati karena trauma pernah ditertawain orang. Hehehe.....

Ambar Islam tulen, bapa ibunya haji dan hajah. Salat wajib, salat sunah… tak pernah alpa. Bagaimana mau nikah? Hukum Indonesia menolak tegas nikah beda agama. Nikah ya sesama Islam, Katolik sama Katolik, Protestan sama Protestan, Hindu lawan Hindu, Buddha sama Buddha… dan seterusnya.

Mungkin, karena terlalu asyik pacaran, mereka lupa bahwa agama mereka berbeda. Bahkan, sejak awal pun John selalu ditolak orang tua Ambar tiap kali apel. “Pintu pagar selalu ditutup ayahnya. Saya dilihat dengan wajah angker, tak ada komunikasi,” cerita John.

Untung ada SMS. Mereka bisa bikin janji, pacaran di luar, lantas John mengantar Ambar ke rumahnya, di luar pagar. Mereka kucing-kucingan. Rencana nikah?

“Kami sudah bahas, tapi selalu buntu. Nggak ada solusi,” tegas John, yang cukup berwawasan itu.

Bagi keluarga Ambar, John ini manusia KUFUR alias KAFIR sehingga HARAM menikahi perempuan mukminah. Kalau Ambar nekat menikah juga, kendati tetap Islam, tidak pindah agama, maka dia tidak diakui lagi sebagai anak. Dan itu bukan perkara enteng.

“Mereka meminta saya mengalah, masuk Islam. Kan lebih enak jadi mayoritas, punya banyak teman, fasilitas ibadah buanyaak, tidak perlu repot urus izin bangun gereja, izin kebaktian, khawatir diteror dan sebagainya,” tutur John.

Bukankah itu enak? pancing saya.

“Tapi saya tolak. Saya minta jalan tengah: kita menikah tapi agama sendiri-sendiri, saling hormat. Toleransi lah.”

Bagaimana dengan anak? “Kami rencana dua anak. Anak pertama ikut ibunya, Islam; anak kedua Katolik, ikut ayahnya. Kalau Tuhan hanya kasih satu, ya, anaknya Islam saja.”

Ternyata, ‘proposal’ Yohanes ditolak mentah-mentah oleh keluarga Ambar. Lalu?

“Kami akhirnya putus baik-baik. Tetap saling menghormatis sebagai sahabat karib.

Mungkin Ambar bukan jodoh saya,” kata John yang sempat berpacaran dengan Ambar selama delapan bulan.

KASUS macam John Flores dan Ambar Jawa ini sudah sering terjadi di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, khususnya lagi di kota-kota besar. Sama-sama pegang prinsip, tak mau mengalah… akhirnya putus. Tapi setahu saya, di gereja banyak terjadi pernikahan campur di mana suami dan istri sama-sama mempertahankan agamanya.

Pertama, disparitas cultus, yakni orang Katolik nikah sama jemaat kristen bukan dari Gereja Katolik. Kedua, mixta religio: orang Katolik nikah sama orang bukan kristiani (nasrani) seperti Islam, Buddha, Hindu, dst. Secara acak saya periksa di gereja-gereja Katolik, persentasenya cukup tinggi: 40-60 persen. Luar biasa!

Solusi ala Gereja Katolik ini tetap ditolak kaum muslim seperti keluarga Ambar di atas. Sebab, umat Islam yang baik seharusnya menikah sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Nikah islami, ya, harus di penghulu, sama-sama muslim, ada saksi, wali nikah, mas kawin, dst. Islam tak mengenal nikah beda agama!!!

Memang, idealnya orang menikah dengan sesama agama sehingga tidak pusing kepala. Apalagi, diusir oleh keluarga wanita kayak Yohanes van Flores tadi.

Di kampung saya, Flores Timur, perbedaan agama tak pernah dianggap serius, apalagi masalah besar kayak di Jawa. Kakek nenek di kampung menganggap semua agama itu sama saja hakikatnya. Tujuannya: hidup baik, jujur, cinta kasih, adil… menuju Tuhan. Jalannya, caranya, tata ibadah saja yang beda. Lha, buat apa rame-rame? Buat apa saling bentrok?

Karena pandangan dasarnya seperti itu, ada ketentuan tidak tertulis (baca: adat) manakala menghadapi muda-mudi beda agama yang hendak melangsungkan pernikahan. Yakni, salah satunya HARUS ‘menyesuaikan’ agama alias pindah agama. Siapa yang harus pindah: laki-laki atau perempuan? Jawabannya jelas: PEREMPUAN.

Kenapa begitu?

Adat Flores Timur itu sangat patriarkis. Laki-laki itu dianggap lebih ‘tinggi’ status ketimbang wanita. Pria lah yang mewarisi hak-hak di suku (fam), bukan perempuan. Kepala keluarga itu pria, bukan wanita. Jadi, tidak peduli mana agama mayoritas atau minoritas, perempuan diminta ‘menyesuaikan’ agamanya dengan laki-laki.

Pada saat pemberkatan di gereja, keduanya sudah Katolik. Sebaliknya, saat akad nikah di penghulu, keduanya sudah sama-sama Islam. Tak ada yang merasa kalah atau menang, karena ketentuan adatnya memang sudah begitu.

Flores Timur memang kawasan Katolik, tapi bukan berarti si Katolik harus menang. Biarpun di kampung itu umat Islam hanya 10 keluarga, Katolik 200 keluarga, jika pemuda Islam hendak menikah dengan gadis beragama Katolik, maka gadis Katolik ini lebih dulu menjadi Islam.

Beberapa tahun lalu, putri seorang pejabat teras di Flores Timur pun harus masuk Islam karena akan menikah dengan pria beragama Islam. Itu biasa saja. Tak ada yang geger atau merasa ‘kalah’, hanya karena anak pejabat masuk Islam.

“Sejak dulu, ya, adatnya begitu. Perempuan itu mengikuti agama suami,” kata Om Benediktus, keluarga dekat saya.

ADAT Jawa tentu beda. Dalam pengamatan saya, yang sejak SMA sudah tinggal di Jawa Timur, adat Jawa sudah mengadopsi sebagian besar (bahkan, hampir semua) ketentuan hukum Islam. Ini karena proses islamisasi di Jawa sudah berjalan ratusan tahun sejak ambruknya Kerajaan Majapahit. Artinya, hukum adat Jawa itu ya sami mawon atau idem ditto dengan hukum Islam.

Nah, Ketentuannya jelas: calon pengantin yang bukan Islam (tak peduli pria atau wanita) HARUS masuk Islam lebih dulu agar bisa menikah secara sah dan diterima secara luas. Masyarakat akan geger manakala si Islam itu pindah agama mengikuti agama calon suami/istri. Bisa juga mereka akan dikucilkan dari masyarakat. Tak menutup kemungkinan, kelompok garis keras menangkap Yohanes (sebagai misal) karena dianggap membuat MURTAD anak orang.

Namanya juga adat, walaupun terkesan ‘menang sendiri’, ya harus kita hormati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! kata pepatah.

Saya pernah memberi wawasan ini kepada John. “Kalau anda bersedia dan ikhlas masuk Islam, maka semua persoalan beres. Orang tua Ambar akan menerima anda dengan senang hati, dikasih kopi kental manis hehe…. Selama pacaran mereka keberatan karena anda bukan muslim. Sebagai orang tua, tentu saja, mereka tak ingin punya mantu bukan Islam. Mereka khawatir anak gadisnya murtad dan kemudian masuk neraka. Wajar, bukan?” saya memberi kuliah gratis.

“Saya sudah tahu,” jawab John. “Tapi saya maunya agama masing-masing,” tambahnya.

“Ini Jawa, Bung, bukan Flores! Lain lubuk lain ikan, lain tanah lain adat,” saya langsung menukas.

Saya kasih usulan kompromi lagi–juga biasa saya usulkan kepada teman-teman Flores yang sudah lengket benar dengan gadis Jawa-Islam.

“Sekarang tergantung rencana masa depan. Anda mau berdomisili tetap di Jawa atau Flores. Kalau rencana buka usaha di kampung (Flores), punya anak cucu di Flores, sebaiknya calon istri mengalah, masuk Katolik. Tapi kalau anda akan tetap tinggal di Jawa, hanya sekali-sekali liburan di kampung, ya, anda saja yang masuk Islam. Itu win-win solution,” ujar saya.

John alias Yohanes menolak usulan kompromi ini. Ya, sudah. Kalau begitu, anda harus berkenalan, berpacaran… dengan gadis Katolik agar bisa menikah. Atau, kembali ke kampung, menikah sama gadis kampung, lalu bawa istri anda ke Jawa. Kalau anda tetap begini, ya, anda tidak pernah bisa menikah di tanah Jawa. Wong hukum adat dan hukum nasional (Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974) menganut ketentuan seperti itu.

“Hei, Bung, hukum itu dibuat untuk manusia atau manusia untuk hukum?” protes John, yang banyak makan buku itu.

Saya enggan menanggapi karena sudah capek membahas kasus kawin campur beda agama. Kasus pelik yang belum ada solusinya di Indonesia.

Di infotainmen saya melihat artis Cornelia Agatha (Kristen Protestan) dan Sonny (Islam) terpaksa jauh-jauh ke Hong Kong agar bisa menikah secara resmi. Hukum Indonesia belum mengatur kasus nikah beda agama macam ini.

D'Lloyd Hidup di Bui Bagaikan Burung

Saya mulai mengenal D’Lloyd waktu masih tinggal di kampung, Pulau Lembata, Nusatenggara Timur, dari beberapa lagu hitnya. Karena tak punya tape, saya hanya bisa nguping lagu-lagu D’Lloyd dari tape recorder tetangga atau warga lain.

Oh ya, di desa ada kebiasaan warga yang punya tape memutar lagu keras-keras, pasang pengeras suara (merek TOA), agar bisa dinikmati orang lain. Bagi-bagilah kenikmatan musik!

Nah, hit D’Lloyd yang saya ingat betul antara lain Semalam di Malaysia, Cinta Hampa, Hidup di Bui, O Tak Mungkin, Tolonglah Tolong… Lagu-lagu kumpulan ini enak didengar, chord-nya sederhana (mirip Koes Plus), lirik tidak muluk-muluk. Cocok untuk orang desa sederhana macam saya.

“Hidup di bui bagaikan burung. Bangun pagi makan nasi jagung. Tidur di ubin pikiran bingung. Apa daya badanku terkurung….,” begitu antara lain lirik lagu Hidup di Bui.

Kami di kampung biasa makan nasi jagung. Tapi tentu orang Jawa tidak. Makanya, makan nasi jagung dianggap siksaan tersendiri bagi narapidana yang hidup di bui. Saya terlalu naif untuk bisa membuat analisa soal ini di kampung, Lembata.

Di Surabaya, setelah jadi wartawan, saya beroleh kesempatan bertemu dengan artis-artis yang dulu hanya di angan-angan. Salah satunya D’Lloyd. Kebetulan beberapa teman saya jadi panitia konser kenangan D’Lloyd di Balai Pemuda Surabaya. Pertama pada 30 April 2005, kemudian 23 Juli 2006.

Di Surabaya penggemar D’Lloyd masih banyak, karcis selalu ludes. Saya sendiri seperti biasa bertugas sebagai penulis reportase konser tersebut.

D’Lloyd ini terdiri dari Bartje van Houten (gitar), SJAMSUAR  (vokal), Chairul (drum), Totok (bas), Budi (kibor), dan Yuyun (saksofon/flute). Berdiri pada 1969, kemudian rekaman 1972, D’Lloyd (berasal dari kata Djakarta Llyod) tetap awet sampai sekarang.

Tak ada pergantian persnel, kecuali Juhanny Fatmarida Susilo alias Yuyun, yang bergabung pada 1995 menggantikan Andre Gultom yang meninggal dunia. “Kami ini sudah jadi satu keluarga besar. Sulit berpisah,” kata Bartje van Houten, pimpinan D’Lloyd kepada saya.

Pak Bartje yang orang Ambon ini mengatakan, D’Lloyd merupakan band yang personelnya berasal dari berbagai etnis di Tanah Air. Bartje orang Ambon, Sjam Aceh, Yuyun Jawa (Surabaya), kemudian Batak dan Manado.

“Anda sendiri berasal dari mana? Kayaknya Maluku juga?” tanya Pak Bartje.

“Flores. Yah, mirip-mirip Ambonlah,” jawab saya disambut tawa pencipta lagu produktif pada 1970-an hingga 1980-an itu.

Salah satu karya Pak Bartje pernah dibawakan Vina Panduwinata di festival internasional dan… menang. Liriknya kira-kira demikian: “Sambutlah tanganku ini dan peluklah daku sekali lagi…”

“Kenapa lirik lagu-lagu D’Lloyd itu cenderung sedih, nelangsa?”

“Mungkin Anda juga alami. Kita ini kan perantau, hidup di negeri orang. Cari uang susah, makan susah… ya, main gitar, bikin lagu, mengeluh kepada Tuhan. Kepada siapa lagi kita mengeluh kalau bukan Dia?” urai Pak Bartje dengan ramah.

Karena itulah, di bagian refrein atau chorus-nya, D’Lloyd selalu merintih dan memohon kepada Tuhan. “Oh Tuhan yang kuasa, berikan petunjuk-Mu. Betapa pedih kurasakan kasihku tak sampai.”

Pola lirik karya Bartje van Houten serta penulis-penulis lagu berlatar perantau memang cenderung begitu. Ungkap kesedihan, gagal cinta, cita-cita… lantas mengeluh atau minta petunjuk Tuhan.

“Kalau ada konser seperti ini, apa masih latihan?”

“Wah, nggak perlu lagi karena lagu yang diminta sama terus. Dari dulu, ya, lagu-lagunya sama. Orang kan ingin nostalgia, mengenang masa lalu. Kami sudah hafal di luar kepala hehehe…”

“Apa tidak kalah bersaing dengan artis-artis atau band baru?”

“Oh, pasar musik itu berbeda-beda. Kami punya pasar sendiri. Dan sampai sekarang orang suka. Jadwal show kami selalu penuh dan ramai terus. Kami jalani saja hidup ini.”

“Ada rencana buat album baru?”

“Rencana sih ada. Materi lagu sudah banyak. Tapi terus terang saja pembajakan di Indonesia sudah terlalu parah, sehingga orang berpikir tujuh kali untuk membuat album. Nanti yang untung justru pembajak-pembajak itu. Supaya Anda tahu, banyak artis kita yang stres gara-gara pembajakan.”

“Sampai kapan D’Lloyd dan Anda terus bermusik?”

“Yah, selama masih mampu, fisik memungkinkan, kami akan terus main. Tentu saja, selama masyarakat masih membutuhkan kehadiran kami,” kata pentolan D’Lloyd, grup yang pada 25 Januari 2004 menerima penghargaan Golden VCD di Singapura.

Di Malaysia pun D’Lloyd sangat populer.

Saat berbincang dengan Pak Bartje van Houten, saya lihat Syam (vokalis) tengah mengelap keringatnya dengan tisu. Dia capek sekali karena habis jingkrak-jingkrak di panggung selama dua jam lebih. Saya pun teringat teriakan Syam yang khas:

“Tolonglah, tolong, carikan aku kekasih!”

Asal tahu saja, Syam yang berusia 60 tahun ini (pada 2006) belum punya kekasih. Hehehe….


CATATAN AKHIR

Syam D’Lloyd, vokalis D’Lloyd meninggal dunia, Sabtu (9/6/2012) sekitar pukul 07.15. Syamsuar Hasyim, nama lengkap  Syam,  meninggal akibat penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, pada usianya yang ke-64. Bartje Van Houten, pimpinan band, menjelaskan bahwa Syam dirawat sejak 6 Juni 2012  di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat.


Pada 12 Mei 2012 bersama D’LLoyd, Syam  masih manggung di Johor, Malaysia. Bahkan, D’Lloyd masih punya jadwal konser di Palembang, Jakarta, Kuching (Malaysia), dan Cirebon.
 

Selamat jalan Bang Syam, seniman sejati, semoga beristirahat dalam damai di sisi Tuhan!