07 July 2006

Sayur Merungge alias Kelor



Sayur apa yang paling terkenal di Lembata? Pertanyaan ini sering saya dapatkan selama tinggal di Jawa. Apa ya? Pikir sebentar, saya pun menukas, “Merungge!”

“Merungge iku jangan opo to? Kayake aku gak tau krungu?” (Merungge itu sayur apa to? Kayaknya saya belum pernah dengar.) Begitu kata teman-teman Jawa saya.

Memang, orang Jawa, termasuk intelektualnya, tak banyak yang periksa kamus bahasa Indonesia. Mereka lebih mengikuti kata-kata bahasa daerah, atau kata-kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Jawa. Indonesia-Jawa, begitulah.

Di kamus, MERUNGGE itu ditulis merunggai = semacam pohon yang daunnya biasa disayur (Kamus Sutan Mohammad Zain, terbit 1952). St. M. Zain ini seorang munsyi (ahli bahasa asal Sumatera, sehingga kamusnya dulu menjadi rujukan intelektual Indonesia. Kamus Baku Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Departemen Pendidikan Nasional, yang menjadi buku pintar kaum penyunting seperti saya, pun dengan jelas mencantumkan ‘merunggai’ di salah satu lemanya.

Dus, merungge (nama ilmiah: Moringa oleifera) sebetulnya bukan sayur yang ‘asing’, kecuali di tanah Jawa. Orang Jawa menyebut MERUNGGE dengan KELOR.

“Lha, kalau kelor sih banyak, tapi nggak ada yang makan. Daun kelor itu dipakai untuk menghilangkan ilmunya orang mati yang sakti,” jelas Gatot, sahabat saya.

Konotasi merungge di Jawa memang selalu ke peti mati. Arwah orang sakti (dukun), ilmu hitamnya banyak, diyakini tak akan lempang jalannya. Nah, agar ilmu itu hilang, daun-daun merungge dipukulkan ke jenazah. Ihhh… seram.



Di Pulau Lembata (FOTO pantai dan kampung) merungge alias merunggai alias kelor alias MOTONG (bahasa daerah) ini sayur yang sangat populer. Beda dengan kol atau sawi, merungge tumbuh di mana-mana. Tidak perlu budidaya.

Tanaman ‘liar’ ini mudah dijumpai di samping rumah, ladang, atau hutan. Saya heran, kenapa merungge yang selalu dinikmati (hampir) saban hari itu tidak dibudayakan seperti komoditas tanaman lain. “Buat apa capek-capek, merungge kan bisa tumbuh sendiri,” begitu kata orang-orang di kampung.

Daun merungge yang kecil-kecil itu melekat di tangkainya. Dan itu harus dipisahkan. Caranya gampang-gampang sulit. Mama-mama dan kaum wanita di kampung, karena sudah biasa, cepat sekali memisahkan daun si kelor ini dari tangkainya.
Sementara itu, air dipanaskan (bahasa lokal: dijerang) hingga mendidih. Setelah mendidih, masukkan MOTONG LOLON (daun merungge) tadi. Tutup panci, tunggu beberapa menit.

Bumbunya sederhana saja: garam (sudah pasti), bawang merah, bawang putih, penyedap rasa. Bisa bervariasi tergantung selera. Aduk dan segera diangkat! Daun merungge ini kalau dibiarkan terlalu lama di air panas, ya, cepat rusak.

Sayur merungge pun siap dinikmati. Saya biasa mencampur merungge ini dengan mi instan (orang kampung bilang supermi, apa pun merek dagangnya). Teman-teman Jawa yang mendengar cerita saya tentang merungge hanya geleng-eleng kepala.

“Wah, wuaaaaneh banget…. Godhong kelor kanggo nggebuk mayit kok dipangan. Hehehe….” (Aneh sekali. Daun kelor untuk memukul mayat kok dimakan.)

Lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain pula sayurnya.

Di Jawa, saya tidak pernah makan sayur merungge karena dijamin takkan pernah dijual di warung kali lima hingga restoran mewah. Biasanya, saya dan teman-teman Flores membuat sayur merungge secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang Jawa. Khawatir dikira sedang menggelar ritual menghilangkan kesaktian orang mati.

No comments:

Post a Comment