19 July 2006

Misa Dolo-Dolo ala Flores Timur



ORANGNYA kurus, berkacamata tebal, tegas. Pak Wari, sapaan akrab Mateus Wari Weruin, pada 1970-an hingga 1980-an merupakan kepala Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Podor, Larantuka, Flores Timur. Saya masih ingat ke mana-mana beliau naik sepeda motor bebek warna merah dari Podor ke Postoh, Weri, ke mana-manalah.

Pak Wari bukan sekadar kepala sekolah (dulu disebut direktur), tapi guru musik, pembina paduan suara, tokoh musik liturgi terkemuka dari Kabupaten Flores Timur. Kalau di Jakarta ada Pranadjaja, maka di Flores Timur siapa lagi kalau bukan Pak Wari.

Bedanya, Pranadjaja mendidik musik langsung ke anak-anak, Pak Wari menggembleng para calon guru di SPG. Lulusan SPG yang akan mengajar di berbagai SD di Flores Timur, bahkan seluruh NTT, itulah yang nantinya menggembleng anak-anak didiknya dengan musik dan nyanyian.

Maka, tak berlebihan kalau Pak Wari ini saya sebut sebagai Bapak Musik Flores Timur. Hitung saja, sudah berapa banyak warga Flores Timur (dan NTT) yang telah menikmati jasa-jasa beliau sejak 1960-an hingga 1990-an? Saya tidak pernah diajar langsung oleh Pak Wari, tapi saya tidak membantah bahwa guru-guru saya di SD dan SMP di Flores Timur jelas merupakan hasil didikan Pak Wari.

Sebagai anak kampung di Lembata (tahun 1980-an belum ada listrik), dulu saya tidak pernah menikmati kor (paduan suara) yang menyanyi dengan benar, indah, artistik. Di kampung kor-kor gereja hanya kor-koran yang belum bisa mengunakan teknik produksi suara, dinamika, tempo, yang benar.

Nah, setelah duduk di SMPK San Pankratio Larantuka (sore) kami pun wajib mengikuti upacara bendera hari-hari nasional di Stadion Postoh. Hampir pasti kornya dari SPG Podor dengan dirigen Mateus Wari Weruin. Lagu Indonesia Raya, Himne Guru, Nyiur Hijau…. Tanpa iringan alat musik apa pun, Pak Wari mengambil nada dengan garputala, lalu mulailah kor favorit Flores Timur itu menyanyi.

“Aih… suara malaikat. Saya tidak pernah dengan suara macam ini sebelumnya. Kok bisa ya kor begitu bagus, bisa membuat ribuan orang ketagihan di stadion yang panas,” begitu antara lain decak kagum saya.

Sejak itulah saya mulai mencoba menekuni kor seraya serius di sekolah. Pak Petrus Pedo Beke, yang menikah dengan putri Pak Wari, adalah guru musik dan seni suara kami. Waktu itu belum ada buku musik yang baik, sehingga Pak Wari menerbitkan buku stensilan musik untuk para pelajar SLTP di Kabupaten Flores Timur.

Namanya juga anak kampung, saya akui pelajaran musik versi Pak Wari ini sangat detail, kompleks, sudah sekelas akademi musik. Saya tidak paham, tapi selalu gembira karena musik itu indah.

“Suaramu tidak jelek, bisa baca not angka dan not balok, tapi kamu itu pemalu. Percaya dirilah,” begitu nasihat Pak Pedo Beke.

Dulu, setiap kali disuruh menyanyi di depan kelas, wah, rasanya langit mau runtuh saja. Apalagi kalau dipaksa jadi solis yang harus menyanyi seorang diri.

Jasa Pak Wari juga dirasakan umat Katolik di Indonesia. Sebab, beliaulah penggubah Misa Dolo-Dolo yang sangat terkenal itu. Lagu-lagu Misa Dolo-Dolo ini diadopsi dari lagu rakyat (folk song) Flores Timur, kemudian disesuaikan di sana-sini sesuai dengan kaidah musik liturgi gereja Katolik.

Kalau tidak salah, Pak Wari sendirilah yang mula pertama memperkenalkan Misa Dolo-Dolo pada upacara penahbisan Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD di Stadion Postoh, Larantuka, pada 1974. Ribuan warga Flores Timur menyambut misa jenis baru ini dengan sangat antusias.

Mereka seakan-akan menemukan kekayaan liturgi yang digali dari buminya sendiri, bukan hasil contekan liturgi Barat yang asing dan kering. Dalam tempo singkat Misa Dolo-Dolo pun menyebar ke seluruh Flores Timur, dinyanyikan di mana-mana, bukan saja di gereja, tapi di perjalanan, sambil mandi di laut, di halaman sekolah, dan sebagainya.

Misa Dolo-Dolo semakin populer setelah dimuat di MADAH BAKTI, yang sempat menjadi buku resmi liturgi Gereja Katolik di Indonesia pada awal 1980-an hingga 1992/93/94. Setelah MADAH BAKTI habis masa baktinya, diganti PUJI SYUKUR, Misa Dolo-Dolo ini tetap dimuat namun dengan sejumlah perubahan syair.

Perubahan ini memang sempat melahirkan ‘kebingunan massal’ di kalangan umat Katolik, termasuk saya. Untung saja, melodi asli Misa Dolo-Dolo tetap dipertahankan sehingga jejak Pak Wari tidak sampai hilang sama sekali.

13 comments:

  1. Saya sedang mencari tulisan ttg cara menyanyikan lagu misa dolo-dolo yang dulunya (tulisan aslinya) menyertai tulisan di atas "Misa Dolo-Dolo"

    Dapatkah anda memberikan alamat url dari tulisan asli tersebut?

    salam
    privida@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Gak ada URL karena setahu saya belum ada yang menulis di internet, kecuali corat-coret saya yang sederhana ini. Yang jelas, Misa Dolo-Dolo pernah direkam oleh Pusat Musik Liturgi Jogjakarta. Bisa didengar dari situ cara menyanyinya.

    Atau, minta orang yang berasal dari Flores Timur menyanyikan langsung. Selamat berjuang.

    ReplyDelete
  3. Saya yakin karena pernah baca dan pernah download (kira-kira 5 atau 6 tahun yang lalu), ditulis oleh salah seorang murid dari bp Wari Weruin.

    Pengantarnya persis sama (seingat saya) dengan tulisan anda di halaman ini ttg misa dolo-dolo.

    Terima kasih
    Salam
    Privida

    ReplyDelete
  4. Maaf, hingga sekarang 5 Desember 2014 Bapak Matheus Wari Weruin masih ada (hidup) dan sehat. Hanya penglihatan beliau saja yang berkurang.
    Terima kasih
    Salam
    Prabandari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Prabandari untuk koreksi informasi yang sangat penting itu. Semoga Pak Wari tetap sehat dan diberi umur yang panjang oleh Tuhan. salam damai!

      Delete
  5. dolo2 itu diangkat dari lagu daerah di flores timur, pakai bahasa lamaholot, kemudian dikembangkan pak wari sebagai musik liturgi ketika gerakan inkulturasi liturgi sedang hangat2nya di indonesia.

    ReplyDelete
  6. betulkah ordinarium misa dolo-dolo saat ini sudah tidak boleh dipakai lagi???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat tidak betul. misa dolo2 justru sangat bagus karena sederhana dan enak. Semua buku lagu liturgi yg beredar di Indonesia, yang ada NIHIL OBSTAT, sangat dianjurkan untuk dipakai dalam misa. Yang tidak boleh itu lagu2 karismatik, pop rohani, dan sejenisnya.

      Delete
    2. gini om hurek... sorry, saya Protestan... tapi sekolah SD sampe SMA di sekolah Katolik, dan ikut koor juga... waktu SD saya dan kawan2 koor di Paroki St Arnoldus Janssen, Bekasi... nah, waktu SMA sekitar tahun 2007, kami latihan koor untuk mengiringi misa, dan kami pakai ordinarium Misa Kita 2... teman2 saya pada protes, maunya pake Misa Dolo-Dolo... tapi kata guru agama di sekolah saya udah gak boleh dipake lagi karena kata2nya sudah tidak sesuai dgn teks aslinya... misalnya "Tuhan Kasihani Kami, Imam Agung Pengantara Dengar Doa Kami" aslinya kan gak ada yg begitu... di forum ekaristi.org saya dengar juga udah gak boleh lagi... mungkin ada kawan2 Katolik yg lebih paham... makasih, GBU...

      Delete
  7. Pada tanggal 27 Februari 2015 pada pukul 01.30 WIT (dini hari) Bapak Matheus Wari Weruin telah dipanggil oleh Bapa di Surga. Kami atas nama keluarga mohon maaf apabila ada kesalahan dari Papa, Mertua, Opa kami. Salam damai untuk semua.
    Salam
    Prabandari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga almarhum Pak Wari beristirahat dalam damai di sisi Tuhan. Dan semoga Tuhan memberi kekuatan iman dan ketabahan kepada keluarga yg beliau tinggalkan. Kita, warga Flores Timur dan Lembata, juga NTT umumnya, sangat kehilangan beliau. Almarhum seorang guru sejati, komposer yang berhasil mengangkat tradisi dolo-dolo Lamaholot menjadi musik liturgi inkulturasi yang sangat berbobot dan populer. Melodi2 khas Pak Wari niscaya tak akan hilang dari ingatan semua warga Lamaholot baik di Lewotanah maupun di rantau. Terima kasih banyak untuk pengabdian Pak Wari selama puluhan tahun. Resquescat in Pace!

      Delete
  8. Salam kenal dari saya pak Lambertus Hurek.
    Saya ingin mencari sejarah kesenian dolo-dolo, apakah bapak punya buku referensinya?
    Jika ada, dimana bisa saya membelinya?
    Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

    ReplyDelete
  9. Setahu saya referensi dolo2 belum ada. Mungkin juga sudah ada penelitian dan kajian di NTT tapi saya tidak tahu. Referensi yg ada selama ini ya lagu2 misa atau liturgi inkulturasi yang dikembangkan pak wari weruin dan pusat musik liturgi.

    ReplyDelete