02 July 2006

Anak Becak Flores Tembus Akpol


FOTO: Keluarga tukang becak: Pak Geba dan istrinya, Bu Heni, sama anaknya Hawa, di Sidoarjo.

Di Jawa Timur, sebagian besar orang Flores menjadi pekerja kasar: Kuli pelabuhan. Buruh pabrik. Kuli bangunan. Tukang kebun. Tukang sapu. Satpam. Penjaga tempat hiburan (klub) malam. Debt collector. Tukang pukul. Petinju atau atlet.

Pegawai negeri sangat sedikit. Dosen bisa dihitung dengan jari. Pengusaha hampir tidak ada. Pastor dan suster banyak. Penjual togel (kupon judi gelap) juga lumayan.
Tapi selama belasan tahun di Jawa, saya belum pernah ketemu tukang becak asal Flores.

Maka, saya sangat terkejut melihat berita di televisi tentang anak tukang becak Flores yang diterima di Akademi Kepolisian (Akpol). Ah, yang benar saja?

"Benar. Namanya khas Flores, tinggal di Sidoarjo," ujar seorang wartawan senior di Graha Pena, Surabaya, markas Grup Jawa Pos.

Saya pun mengecek. Ternyata benar. Tukang becak itu Geradus Geba (47 tahun), asal Bomba, Kecamatan Ende. Istrinya Felicitas Nugraini (46 tahun), asli Blitar, pesuruh di TK Santa Maria Sidoarjo. Mereka punya dua anak: Robertus Rujito (19 tahun) dan Maria Natalia Hawa (13 tahun). Rumah mereka sangat sederhana di kampung Magersari Gang VII Nomor 31-B RT 20 Kelurahan Magersari, Kabupaten Sidoarjo.

"Kamu tanya saja Pak Ambon, pasti semua kenal. Saya biasa mangkal di dekat kantor pos Sidoarjo," ujar Geradus Geba kepada saya. Menurut dia, di Sidoarjo ada dua abang becak asal Flores, sama-sama bernama Geradus. "Geradus yang satunya orang Maumere."

Sebelum menjadi tukang becak, Geradus mengaku 'kerja ikut orang' sebagai kuli bangunan. Buat bangunan megah di mana-mana, tapi mustahil bisa dimiliki orang kecil. Dia juga mengaku disuruh-suruh, dimarahi, didikte, dan seterusnya. Tidak bebas.

"Lha, daripada begitu saya memilih jadi tukang becak. Saya bebas, nggak ada yang merintah saya," ujarnya tegas. Saya senang mendengar ucapannya yang ceplas-ceplos, khas Ende. Ada semangat kemandirian yang besar.

BAGAIMANA Jito, sapaan Robertus Rujito, lolos ke Akpol? Geba mengaku tak tahu banyak. Sebab, si Jito ini mengurus pendaftaran dan wira-wiri seorang diri. Modal uang nol.

Berbekal nilai ujian nasional yang di atas rata-rata (nilai rata-rata STTB pun tinggi), Jito mendaftarkan diri ke Polda Jatim. Uang masuk Akpol nol rupiah. "Jito memang sejak lama ingin jadi polisi, tapi saya bilang uangnya dari mana? Teken polisi di mana-mana kan pakai uang," ujar Geba.

Ternyata, jalan hidup Rujito lain sekali. Pada 4 Juli 2006 Jito berangkat ke kampus Akpol di Semarang untuk testing. Pada 17 Juli 2006 Jito kirim kebar dari Semarang lewat telepon tetangga di Sidoarjo. "Tukang becak nggak kuat bayar telepon," kata Geba.

Jito bilang ia diterima bersama 14 peserta lain asal Jawa Timur. Maka, Robertus Rujito menjadi satu-satunya anak wong cilik yang bisa menikmati pendidikan di kampus elite tersebut. Geba alias Pak Ambon pun tiba-tiba menjadi terkenal di Sidoarjo karena masuk koran.

Kapan syukuran potong kambing? goda saya. "Gampang itu. Tunggu kalau Jito sudah pakai pangkat di bahu," ujar Geba.

Pria yang merantau sejak remaja itu percaya bahwa lolosnya Jito ke Akpol semata-mata berkat anugerah Tuhan. Dan itu membuatnya tak henti-hentinya mengucap syukur kepada-Nya. "Ini mukjizat dari Tuhan," katanya.

No comments:

Post a Comment