07 June 2006

Piala El Tari

Sudah banyak gubernur yang memimpin Nusa Tenggara Timur (NTT), tapi yang terkenal hanya sedikit. Menurut saya, hanya ada dua gubernur yang punya jejak besar di Bumi Flobamora: El Tari dan Ben Mboi.

Nama El Tari ini diabadikan sebagai nama bandara di Penfui, Kupang, serta turnamen sepak bola antarkabupaten. Piala El Tari atau juga disebut El Tari Memorial Cup selalu heboh, membangkitkan fanatisme kedaerahan, meskipun skopnya hanya di NTT.

Pemenangnya belum layak diangkat ke tingkat nasional karena kualitas yang masih jauh dari standar bola Indonesia. Biasanya, El Tari Cup digelar di Stadion Merdeka, Kupang, karena pertimbangan fasilitas lebih bagus, lebih ‘netral’, panitianya berpengalaman.

Yang tak kalah penting, orang-orang daerah umumnya senang sekali menikmati keramaian di ibukota NTT itu. Kalau harus digelar di daerah, katakanlah Kalabahi, akan sangat repot. Penginapan. Makan-minum. Transportasi.

Seingat saya, dari 12 kabupaten (sekarang mekar jadi 15), hanya beberapa kesebelasan/kabupaten yang termasuk unggulan. Yakni, Kupang, Flores Timur, PS Ngada, Sikka, Ende, Manggarai. Ini merupakan lumbung pemain-pemain ‘berbakat alam’ yang kemudian mencuat di kancah sepak bola regional dan nasional.

Beberapa nama layak disebut: Johanes Geohera, Herry Ratu, Cor Monteiro, Valens Fernandez, Sinyo Aliandu, Edward Mangilomi, Nimus Buyanaya.

Waktu saya remaja dulu, Perseftim (Flores Timur) senantiasa diperhitungkan di ajang El Tari Cup. Lawan abadinya adalah PSK (Kupang), PSN (Ngada), PS Sikka. Begitu serunya pertandingan, sehingga kerap kali dilakukan adu penalti untuk menentukan jawara. Saya yang dulu selalu mengikuti laporan pandangan mata pertandingan via RRI Kupang ikut hanyut bersama ribuan penonton yang melihat langsung di stadion.

Saya tidak tahu persis kelanjutan turnamen El Tari Cup ini. Dia ibarat ‘Piala Dunia’ mini khusus di NTT. Hasilnya, ya, kebanggaan daerah yang menang, tidak lebih. Tidak ada kelanjutan untuk peningkatan mutu bola kaki secara keseluruhan karena lingkupnya memang hanya di NTT.

Kalau sekadar ramai-ramai, okelah. Tapi di masa sekarang, ketika bola kaki menjadi industri yang luar biasa, seharusnya pemerintah daerah mengevaluasi lagi Piala El Tari: diubah, modifikasi, atau diteruskan seperti selama ini.

Sudah saatnya pemda berpikir makro. Memajukan bola kaki NTT agar diperhitungkan di tingkat nasional. Buat apa hanya main di NTT lantas buyar? Saya salut dengan kerja keras PS Ngada yang berusaha mencuat lewat kompetisi Divisi II PSSI meskipun masih terseok-seok.

No comments:

Post a Comment