20 June 2006

Noordin Mat Top Haram ke Malaysia

Kabar penggerebekan markas anak buah Noordin Mat Top di Wonosobo, Jawa Tengah, 30 April 2006, mendapat perhatian luas di Malaysia. Kabar seputar teroris Melayu itu mendapat porsi besar di koran-koran Malaysia.


Secara umum warga Malaysia ingin agar Noordin Mat Top [begitu nama Noordin M Top di koran-koran Malaysia] sesegera mungkin diringkus polisi Indonesia. Ditangkap hidup-hidup atau ditembak mati, seperti Dr. Azhari Husin, tak jadi soal. Sebab, sepak terjang Noordin Mat Top ini dinilai sudah keterlaluan, sehingga merusak citra Malaysia di forum antarabangsa.

“Noordin Mat Top terus diburu,” begitu judul besar di koran Utusan Malaysia edisi 1 Mei 2006.

Koran Berita Harian, juga terbitan Kuala Lumpur, pun membahas cukup panjang peristiwa penggerebekan markas anak buah Noordin di Wonosobo akhir pekan lalu.

Sejumlah warga Malaysia yang saya temui di Kuala Lumpur dan Putrajaya rata-rata ‘kecewa’ karena si Noordin ini belum berhasil diringkus polisi.

“Lebih cepat ditangkap, lebih baik. Kita tak ingin keamaan di kawasan Asia Tenggara terus diganggu oleh ulah Noordin Mat Top dan kaki tangannya,” kata Nasaruddin Ibrahim, pemandu wisata di negara jiran itu.

Semenjak Dr. Azahari, pasangan Noordin Mat Top, tewas di tangan Densus 88 Polri di rumah kontrakan, Vila Flamboyan Blok A1/7, Batu, Malang, pada 9 November 2005, warga Malaysia sangat antusias mengikuti kabar seputar penggerebekan teroris di Indonesia. Televisi dan koran tempatan selalu mengikuti perkembangan operasi antiteror di Indonesia.

“Rakyat Malaysia tidak suka dengan cara-cara seperti dilakukan Noordin Mat Top dan Dr. Azahari. Itu jihad yang tidak islami. Jihad yang benar harus dilakukan dengan cara yang positif, bukan dengan terorisme,” kata Nasaruddin Ibrahim, ayah enam anak ini, serius.

Ibrahim berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah Malaysia tidak pernah berkompromi dengan para terorisme dalam bentuk apa pun. Jangankan teroris, yang sudah jelas-jelas melakukan aksi pengeboman, bibit-bibit terorisme pun sejak dini mendapat perlawanan serius dari aparat negara.

Karena itulah, menurut Nasaruddin, orang-orang Malaysia yang ‘nyeleneh’ macam Noordin Mat Top atau Dr Azhari meninggalkan Malaysia dan membentuk jaringan di luar negeri.

“Di sini ada intel-intel yang bekerja 24 jam untuk memantau jaringan mereka. Mereka akan langsung dipegang kalau bikin ulah macam-macam,” kata Nasaruddin Ibrahim.

Tak heran, sejak awal 2000-an, pemerintahan Mahathir Muhammad gencar merazia rumah-rumah dan lembaga-lembaga pendidikan yang diyakini menjadi tempat pendidikan dan latihan para calon teroris.

Bukan itu saja. Kampanye antiterorisme dilakukan secara gencar lewat berbagai cara, di antaranya media massa. Kebetulan sekali, hampir semua media massa cetak dan elektronik di Malaysia punya kebijakan redaksional yang sejalan dengan pemerintah. Ini memudahkan pemerintah Malaysia menyebarkan pandangan-pandanannya soal keselamatan dan keamanan negara kepada warganya.

Dan, jangan lupa, di sana ada Internal Security Act, sejenis Undang-Undang subversi di Indonesia pada era Orde Baru, di mana aparat keamanan berhak menahan siapa pun yang dianggap berpotensi mengganggu keamanan negara tanpa proses hukum normal.

Dalam rangka kampanye antiterorisme itu, papar Nasaruddin, pemerintah Malaysia memberikan iming-iming hadiah besar bagi warga yang mengetahui keberadaan teroris atau calon teroris.
“Masyarakat bisa menelepon atau mengirim SMS kepada polis,” papar Nasaruddin.

"Jangan-jangan Noordin Mat Top sering berkomunikasi dengan keluarga di Malaysia, bahkan pulang kampung?" tanya saya.

“Oh, tak mungkin. Kalau pulang, pasti sudah dipegang intel polis. Noordin pun tak boleh bicara di telepon karena pasti sudah disadap. Tak ada tempat untuk Noordin Mat Top di Malaysia,” tegas Nasaruddin.

Menurut pria yang murah senyum ini, sejak beberapa tahun terakhir rumah Noordin Mat Top, Dr Azhari, serta kaki tangannya di Malaysia telah dikepung oleh intel sehingga sulit bagi mereka untuk pulang ke Malaysia.

Jangan heran, Noordin memilih 'mengamankan' diri di Indonesia, negara yang dianggapnya aman. Apalagi, banyak kaki tangan teroris yang melindunginya. Juga banyak pengacara yang pintar bersilat lidah untuk membenarkan berbagai aksi terorisme yang mencelakakan banyak orang itu.

1 comment:

  1. Noordin M Top dan Dr Azhari merupakan 2 bajiangan teroris asal Malaysia. Kenapa keduanya gak ngebom di Malaysia, tapi di Indonesia? Ini harus dikaji lebih jauh. Kita harus hati2 sama negara tetangga itu. Bahaya!!!!!

    ReplyDelete