07 June 2006

Musik Liturgi Flores




Setiap mengikuti misa di gereja-gereja Katolik di Jawa, saya selalu terharu. Juga teringat kampung halaman di Flores Timur sana. Kenapa? Jawabannya: misa dolo-dolo, misa senja, misa damai, misa syukur… serta lagu-lagu liturgi khas Flores sering sekali dinyanyikan kor dan umat.

Saya pernah aktif sebagai pembina kor mudika (muda-mudi Katolik), kor ibu-ibu, bahkan kor mahasiswa Katolik di Jember dan Malang. Dari situ saya sadari bahwa ternyata lagu-lagu liturgi yang berbau Flores sangat digemari umat.

“Kak, pakai gaya Flores aja deh, enak,” begitu permintaan sebagian besar anggota kor saat latihan.

Sebelum 1992, ketika umat Katolik di Jawa masih menggunakan buku nyanyian MADAH BAKTI, lagu-lagu liturgi inkulturasi sangat marak dipakai di gereja-gereja (konteks tulisan ini Gereja Katolik, bukan Protestan, Pentakosta, Karismatik, Advent, atau denominasi lain).

Di MADAH BAKTI terbitan Pusat Musik Liturgi (Jogja) itu selalu dicantumkan ‘gaya Flores’, ‘gaya Jawa’, ‘gaya Irian’, ‘gaya Manado’, ‘gaya Batak’… dan seterusnya. Ternyata, berdasarkan pantauan saya, sejak MADAH BAKTI dipakai pada awal 1980-an hingga 1992/93/94, lagu-lagu gaya Flores menjadi top hits di Indonesia.

Apa karena banyak pastor, suster, bruder, berasal dari Flores atau NTT? Aktivis kor orang Flores? Saya kira, belum ada penelitian resmi. Namun, berdasar omong-omong dengan umat, lagu gaya Flores itu sederhana, gampang diikuti, dan manis. Semanis orangnya hehehe….

Simak saja ordinarium misa senja, misa syukur, atau misa dolo-dolo. Pendek-pendek, melodius, mudah dipecah secara spontan menjadi suara satu, suara dua, suara tiga, dan seterusnya. Lagu-lagu berat karya JS Bach, Handel, Mozart, jelas tidak bisa ‘dipecah’ begitu saja oleh umat yang rata-rata awam pengetahuan musik tingkat tinggi.





KALAU mau jujur, lagu-lagu liturgi gaya Flores ini sangat sederhana. Begitu sederhananya, sehingga untuk menciptakannya tak perlu pengetahuan atau teori musik yang muluk-muluk. Saya masih ingat waktu SD di kampung Napasabok, Lembata, pada 1970-an (menjelang 1980), guru-guru SD memberi pelajaran sederhana tentang cara membuat lagu.

Karena orang Flores itu rata-rata miskin, tidak bisa beli alat musik mahal, ya, anak-anak di sana umumnya tidak mampu memainkan alat musik apa pun, termasuk gitar.
Lalu, bagaimana cara bikin lagu?

Pakai suara! Bukankah Tuhan memberi semua orang suara? Suara itu alat musik lho, begitu kata Pak Guru. Maka, saya dan teman-teman mulai bersenandung, mengarang melodi-melodi sederhana… untuk kemudian ditempeli kata-kata. Jadilah lagu! Tentu saja, ada yang berhasil, ada setengah berhasil, ada yang gagal. Mereka yang berhasil biasanya punya ‘bakat alam’.

Setelah diasah, mendapat teori yang benar, akhirnya muncul sebagai pemusik atau penggubah lagu-lagu liturgi. Dibandingkan daerah lain di Indonesia, saya jamin, penggubah lau-lagu liturgi Katolik paling produktif dan paling banyak berasal dari Flores. Karya mereka saat ini telah mewarnai liturgi di lingkungan Gereja Katolik Indonesia.

Sekali lagi, lagu-lagu rakyat maupun liturgi ala Flores itu sederhana sekali. Karena diniati sebagai nyanyian jemaat (community singing), rentang nada alias ambitusnya sedang-sedang saja. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Sehingga, tidak perlu ngoyo kalau dinyanyikan. Nada atas paling tinggi sekitar d (re tinggi), nada bawah G/A (sol/la). Tidak percaya?

Coba nyanyikan ‘Bergemarlah dan Bersukaria’ di PUJI SYUKUR nomor 323 gubahan Mateus Wari Weruin pada 1974. Melodinya diadopsi dari lagu rakyat Flores Timur, Ina Peni Bote Ade.

Syarat lain, harus ada refrein atau ulangan atau chorus.

Bagian ini dibawakan secara bersama-sama, langsung disambar oleh solis. Di Flores Timur solis perempuan bersuara bening, bersih, tajam (sopran) jauh lebih disukai ketimbang suara laki-laki atau perempuan bersuara berat dan tidak bersih. Bagian solo ini bisa dibawakan satu atau dua perempuan dengan pembagian suara.

Tidak afdal kalau solo dibawakan dua orang dengan satu suara (unisono). Lebih tidak afdal lagi, bagian solo dinyanyikan ramai-ramai seperti di kebanyakan gereja di Pulau Jawa.

(Teman-teman di Jawa mengaku sulit mencari solis yang berani pamer suara sendiri. Padahal, pamer suara solis menjadi salah satu tuntutan lau-lagu rakyat Flores).

Masih ada lagi beberapa ciri khas komposisi musik liturgi khas Flores, tapi terlalu teknis untuk dibeberkan di blog sederhana ini.

Saya ingin mengutip catatan Pater Karl Edmund Prier SJ, pakar musik liturgi sekaligus Direktur PML Jogjakarta, yang menerbitkan buku-buku nyanyian liturgi, termasuk MADAH BAKTI tentang kekhasan musik liturgi di Flores dan Nusa Tenggara Timur umumnya:

“Pulau Flores sejak dulu terkenal karena yang merdu. Mungkin hal ini pun mempengaruhi penjajah Portugis pada abad 15 untuk memberi nama ‘Flores’ berarti ‘bunga’ kepada pulau ini. Habis Konsili Vatikan II (tahun 1965) dalam musik Gereja Katolik terjadi suatu vakum. Belum ada lagu liturgi dalam bahasa Indonesia seperti yang diinginkan oleh Konsili.

“Maka tidak mengherankan bahwa umat Katolik di Flores bersama para tokoh musik gereja di Pulau Timor termasuk di antara pelopor musik liturgi postkonsiliar. Misa Dolo-Dolo ciptaan Mateus Weruin dari Flores Timur, Misa Damai ciptaan Theo Mukin dari Ndona (Ende), dan Misa Cinta Kasih ciptaan Apoly Bala dari Kupang (Timor) merupakan beberapa contoh yang dengan cepat digemari pula oleh umat Katolik di lain tempat.
Inkulturasi musik liturgi selalu berkaitan erat dengan tradisi musik, dengan lagu-lagu yang dipakai orang dalam upacara dan perayaan hingga zaman sekarang.

“Di Flores pun terdapat lagu tradisional yang merupakan suatu ungkapan hidup masyarakat dan mampu menjadi sumber inspirasi bagi lagu gereja baru.”


PRAKTIS lagu-lagu liturgi ala Flores pendek-pendek, sederhana, melodius, sehingga bisa dinyanyikan oleh jemaat dengan mudah. Tanpa perlu latihan pun kita sudah bisa menyanyi. Harmoninya sederhana. Siapa pun bisa membuat suara dua, suara tiga, suara empat.

Tapi di sinilah persoalannya. Karena senang membuat suara dua dan suara tiga, teman-teman Flores ini sering kali ‘merusak’ aransemen paduan suara. Dia membuat improvisasi sendiri, kurang mengindahkan partitur asli dari sang komponis. Jangan heran, orang Flores (umumnya) kesulitan membawakan lagu-lagu liturgi serius klasik ala Johan Sebastian Bach (Kepala yang Berdarah), WA Mozart (Ave Verum Corpus), dan seterusnya.

“Orang Flores juga agak sulit membunyikan nada-nada kromatis. Harusnya FI dinyanyikan FA, SEL dibunyikan SOL, SA jadi SI…. Kalau dirigen tidak awas, aransemen paduan suara jadi rusak,” kritik Pak Ferdy Levi, penggubah lagu-lagu liturgi khas Flores yang tinggal di Ende.

Pak Ferdy ini boleh dikata merupakan penggubah musik liturgi Katolik paling produktif di Flores, bahkan Indonesia.

‘Penyakit’ orang Flores kalau menyanyi di paduan suara adalah sektor TENOR, atau biasa disebut suara tiga. Para pria bersuara tinggi ini senang sekali pamer suara dengan bernyanyi keras-keras, sehingga menutupi suara SOPRAN. Ini bahaya karena melodi pokok atau cantus firmus hampir selalu di SOPRAN.

Kalau sudah bisa menutupi tiga suara lain (sopran, alto, bas), para tenor ini merasa sangat bangga. “Kita menang hehe…”

Namanya juga manusia, ada kelebihan, tapi juga banyak kelemahan.

Misa Dolo-Dolo di Flores Timur

3 comments:

  1. hmm menarik bung. musik liturgi inkulturasi memang selalu berasal dari khasanah budaya lokal.

    ReplyDelete
  2. Bung Lambertus, memang patut diakui kalau lagu-lagu liturgi asal flores lebih banyak digemari karena kesederhanaannya. Sebagai orang flores, saya bangga dengan "kekayaan" yang telah dipersembahkan untuk gereja (Tuhan). Namun sebagai orang muda saya sedikit memiliki kecemasan terhadap kecenderungan yang dimiliki oleh kaum muda sekarang ini. Kebanyakan dari kalang muda lebih gampang hafal lagu pop/cinta. Mungkin ini suatu kecemasan yang berlebihan, tapi tidak terlalu salah untuk orang tua (yang memiliki peran penting dalam perkembangan anak) hal ini perlu dipikirkan dalam rangka pengembangan iman anak yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.
    ferdinandusflotamar@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas tanggapan anda. Musik memang selalu berubah sesuai zaman. Cuma, sebagai orang Flores, NTT, kita perlu berusaha merawat tradisi dan kontribusi terhadap musik liturgi yang luar biasa itu. Ketika berada di luar NTT, kita pasti bangga dengan "dominasi" lagu-lagu liturgi bercorak Flores/NTT.

    Salam untuk semua

    ReplyDelete