06 June 2006

Joel Salaka Empu Gitar




Seorang empu gitar telah lahir tak jauh dari Kota Surabaya. Namanya Julius Salaka, usia 38 tahun. Saat ini Julius diincar para gitaris yang ingin mendapatkan gitar unik dan eksklusif.

RUANGAN itu sederhana saja, kurang dari satu lapangan bola voli. Sekitar 10 calon bodi gitar tergantung tak rapi di sebelah timur. Sementara itu, dua pemuda 20-an tahun asyik memperhalus potongan kayu kering.

Tak ada yang istimewa, memang. Tapi, siapa sangka kalau di bengkel kerja sederhana di Desa Juwetkenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, inilah tercipta gitar-gitar berkelas untuk sejumlah seniman gitar di dalam dan luar negeri.

“Saya dari dulu memang tidak suka diekspos. Saya menggarap gitar-gitar ini karena saya memang suka gitar,” ujar Julius Salaka kepada saya. Ayah dua anak ini santai saja, tak banyak bicara, namun diam-diam berhasil merancang gitar unik untuk gitaris-gitaris elite tanah air.

Julius sendiri tadinya tidak pernah mau diekspos media apa pun, karena dia hanya ingin menjadi pembuat gitar sekaligus gitaris di gerejanya di samping Kali Porong. Namun, tiba-tiba saja nama Julius Salaka mencuat seiring melejitnya nama I Wayan Balawan, pemusik asal Bali yang baru saja merilis album ‘Magic Fingers’. Balawan dikenal sebagai gitaris paling unik di Indonesia, bahkan dunia. Desain gitarnya lain dari lain: dua leher (double neck), 13 senar. Itu semua tak lain berkat karya Julius Salaka.

“Dengan gitar seperti itu, gitar Balawan itu seperti dimainkan tiga orang sekaligus. Melodi, bas, chord bisa dimainkan serentak. Dan kebetulan Balawan ini punya talenta luar biasa,” ujar Julius yang juga gitaris khusus untuk gerejanya di pinggir Kali Porong, sekitar 500 meter dari rumahnya di kawasan Pasar Porong.

Model gitar Balawan yang unik, kontan saja, menjadi perhatian penggemar musik, khususnya seniman-seniman gitar yang tak puas dengan gitar-gitar mass product di toko-toko musik. Mereka kemudian mencari tahu siapa gerangan pembuat gitar Balawan yang aneh bin unik itu. Salah satunya, I Dewa Bujana, gitaris Gigi yang lebih dikenal sebagai gitaris jazz. Begitu juga Tohpati.

Maka, ketika trio yang tergabung dalam ‘Trisum’ itu melakukan tur ke Jawa Timur, Julius Salaka pun didatangi. Tak hanya bertamu, Dewa Bujana bahkan langsung minta dibuatkan gitar khusus. Tohpati memesan gitar yang mampu menghasilkan sound kendang. Kedengaran musykil, namun Julius melayani pesanan para gitaris itu.

“Nah, sekarang gitarnya Bujana sudah jadi. Saya mau kirim ke Bujana karena dia sudah tunggu-tunggu,” ujar Julius Salaka seraya memperlihatkan gitar pesanan Dewa Bujana kepada saya.

Sekilas gitar milik Bujana itu tak berbeda jauh dengan gitar-gitar yang biasa digunakan para pemusik profesional kita. Lain sekali dengan gitar si Balawan yang memang sangat unik. “Kekhasan gitar Bujana, dia punya tiga sound sekaligus. Satu gitar bisa menghasilkan sound gitar elektrik, akustik, dan sekaligus untuk MIDI,” tutur pria kelahiran 23 Juli 1968 ini.

Sama dengan proses pembuatan gitar Balawan, sebelum merancang gitar khusus untuk Bujana, Julius Salaka melakukan diskusi intensif dengan sang pemesan. Mulai dari bahan bentuk body, neck, hingga pemilihan sound. Menurut Julius, diskusi lebih banyak dilakukan via email serta telepon. Setelah dirancang sangat matang, barulah dimulai proses produksi.

“Kalau gitarnya Bujana ini tidak lama. Lain dengan punyanya Balawan yang harus melalui eksperimen yang cukup panjang,” kata Julius Salaka seraya tersenyum ramah.
Huda, pemuda asal Wunut, Porong, merupakan salah satu anak buah Julius Salaka.
Dialah yang menggarap fisik gitar pesanan Balawan dan Bujana.

“Gitar pesanan Bujana itu tidak terlalu sulit kok. Hanya satu minggu sudah kelar,” ujar Huda kepada saya.

Huda serta lima karyawan lain memang hanya menggarap fisik gitar, tugas yang dianggap tidak sulit bagi para perajin kawakan itu. Pekerjaan canggih seperti memasang sound serta berbagai perlengkapan elektronik lain sepenuhnya ditangani Julius Salaka. Sulit?

“Ah, saya rasa tidak. Semua itu bisa dipelajari kalau kita mau belajar. Saya sendiri awalnya, ya, hanya coba-coba saja, tapi akhirnya bisa,” katanya.

Belakangan, alumnus Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya, Malang, itu kebanjiran pesanan. Di antaranya dari gitaris asal Palembang, Makassar, Ambon, bahkan Inggris dan Australia. “Yang dari Australia ini malah pesan dua gitar,” tuturnya.

Julius Salaka mengaku bekerja atas dasar hobi dan cinta. Kendati punya bengker kerja (workshop), karyawan, dia tak ingin menjadi perajin yang hanya membuat gitar-gitar kodian dalam jumlah besar. Karena itu, dia tak pernah mematok target kapan sebuah pesanan selesai. “Bisa satu bulan, dua bulan, bahkan lebih. Tapi rata-rata satu sampai dua bulan sudah siap dikirim,” kata Julius.

Ngomong-ngomong berapa harga gitar ‘made in Porong’? Sudah tentu Julius mematok harga yang spesial pula. Rata-rata Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per unit gitar, tergantung tingkat kesulitan gitar.

Sulit dipercaya bahwa Julius Salaka, yang belatar pendidikan teknik sipil, mampu menghasilkan gitar-gitar eksklusif (custom guitar) untuk para seniman gitar terbaik negeri ini, bahkan mancanegara. Asal tahu saja, Julius baru terjun ke produksi gitar pesanan pada 1997. Masih sangat baru.


Krisis moneter, disusul krisis ekonomi dan krisis politik, pada 1997 ternyata membawa bekah bagi alumnus Universitas Brawijaya itu. Blessing in disguise! Julius kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan. Toh, ia tak lantas putus asa. “Saya tetap main gitar bersama teman-teman di gereja,” tuturnya.

Pria kelahiran 23 Juli 1968 ini memang dikenal sebagai gitaris jempolan kendati hanya dikenal di lingkungan gerejanya. Nah, di saat menganggur itulah Julius mendapat ide untuk menekuni hobi lamanya semasa remaja dan mahasiswa dulu: main gitar, mengotak-atik gitar, memodifikasi, merancang sound-sound khas. Caranya?

“Saya rajin main internet. Bahan-bahan semuanya saya pelajari dari situ,” kata Julius.

Rekayasa gitar yang dilakukannya tidak selalu mulus. Prosesnya panjang, uji coba, trial and error, senantiasa dialaminya. Dan semakin dicoba, ia semakin menemukan ‘rahasia’ instrumen gitar yang tak habis-habisnya. Julius, yang didukung penuh pihak keluarga, pun kian tenggelam dalam dunia gitarnya yang asyik. Proses kreatifnya berjalan lancar, sehingga ia mampu mendesain bebeapa gitar unik.

“Saya tidak mau meniru begitu saja gitar-gitar yang sudah ada. Harus selalu ada yang baru. Kalau sekadar meniru, ya, kreativitas kita di mana?” ujar pria yang juga bos ‘Apotek Jitu’ di Desa Mindi, Jalan Raya Porong, Sidoarjo, itu.

Saat bermusik di lingkungan intern gereja, gitar unik karya Julius Salaka mendapat perhatian sesama musikus. Banyak yang bertanya, dan Julius menceritakan apa yang selama ini ia tekuni di rumahnya. Dan, entah siapa yang mengawali, desain gitar ‘made in Porong’ pun lekas menyebar di kalangan komunitas gitar.

Akhirnya, seorang gitaris, sekaligus wartawan musik, bernama Andra ‘mencium’ keunikan Julius Salaka. Sejak itu Julius diwawancara panjang lebar, gitarnya dicoba, digauli... dan ternyata lulus. Nama Julius pun berkibar karena dibahas secara khusus di media khusus komunitas gitar Tanah Air.

“Sejak dipublikasikan itulah saya banyak mendapat telepon dan email dari teman-teman gitaris. Mereka pesan gitar ke saya,” cerita ayah dua anak ini. Julius pun melayani permintaan mereka dengan antusias. Semakin tinggi tingkat kesulitan gitar, Julius merasa semakin tertantang. Dengan begitu, ia dipaksa untuk berpikir keras, belajar dan belajar lagi.

Nah, di antara para penggila gitar kelas satu yang tertarik dengan Julius adalah I Wayan Balawan. Gitaris muda asal Bali ini sejak lama dikenal sebagai pemusik yang doyan eksperimen. Bakatnya yang luar biasa membuat Wayan Balawan tidak bisa lagi dipuaskan dengan gitar-gitar standar musisi profesional baik di dalam maupun luar negeri. Maka, Balawan pun menantang Julius Salaka untuk dibuatkan sebuah gitar unik, lain dari lain, belum pernah ada di dunia.

“Kami melakukan komunikasi sangat intensif lewat email. Kita bahas bagaimana sebaiknya,” tuturnya. Julius Salaka akhirnya menemukan ide membuat gitar dengan dua leher (double neck) seperti yang biasa dipakai Wayan Balawan sekarang.

“Atasnya enam senar, bawah tujuh senar. Jadi, seluruhnya 13 senar,” ungkap Julius. Gitar konvensional, kita tahu, hanya satu leher dengan enam senar.

Lalu, bagaimana cara mainnya? Jelas membutuhkan skill tinggi. Dan kebetulan Balawan dianugerahi talenta istimewa untuk menaklukkan gitar paling unik garapan Julius Salaka. “Balawan itu cepat sekali beradaptasi dengan gitar buatan saya,” puji Julius.

Tidak tertarik memproduksi gitar dalam jumlah besar?

“Wah, saya yang belum siap. Anak buah saya hanya enam orang. Sebelumnya malah hanya tiga orang,” akunya.

Tak salah, memang. Sebab, seorang ‘empu’ di mana pun hanya mau menghasilkan karya-karya eksklusif dengan cita rasa dan standar kualitas tingkat tinggi.

3 comments:

  1. wawwww... :cihuy:
    Mantap krina…
    blog kamu keren bangettt ni..
    artikel postingnya berbobot bangettt :-bd


    mampir ya..
    http://gitarkeren.blogspot.com

    tukeran link ya..

    ReplyDelete
  2. ijin ngelink gan.
    bagus tuh artikel.

    ReplyDelete
  3. mana contoh produk2 nya dn harganya boss..???

    ReplyDelete