07 June 2006

Islam di Flores Timur

Masjid Nurul Jannah di Mawa, Ileape, Lembata, kampung saya.

Flores is a Catholic island! Julukan ini tidak berlebihan. Maklum, sejak abad ke-15, daerah ini menjadi salah satu basis utama penyebaran agama Katolik di Nusantara.

“Seperti Maluku, Flores juga menjadi tempat berpijak yang paling penting bagi pedagang-pedagang Portugis dan kegiatan misionaris selama kehadiran mereka di Indonesia hingga 1512 hingga 1605,” tulis Kapten Tasuku Sato dan Mark Tennien dalam bukunya I Remember Flores, New York, 1957.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Thom Wignyanta, wartawan senior, surat kabar mingguan DIAN yang terbit di Ende.

“Yang pertama-tama berkarya di Flores ialah para padri Dominikan yang berasal dari Portugis. Mereka membuka misi pertama di Pulau Solor, kira-kira 350 tahun lalu. Dari Solor mereka berpindah ke Larantuka dan Maumere yang terletak di pantai utara Flores. Karya mereka pada abad ke-17 itu boleh dikatakan berhasil baik. Meskipun jumlah imam sedikit, toh berhasil menobatkan beberapa ribu orang dari pulau itu,” tulis Tasuku Sato, komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943.

Pada 1914-1920 ada dua kongregasi yang bekerja di Flores, yakni Serikat Yesus alias Societas Jesu (SJ) dan Societas Verbi Divini (SVD). Pada 1920 Serikat Yesus meninggalkan Flores, dan menyerahkan tongkat penggembalaan umat Katolik kepada SVD. Sampai sekarang Flores umumnya dikenal sebagai basis SVD paling besar di dunia.

Yang menarik, seperti dikutip Frans M. Parera (2002), sebelum misi Katolik ini masuk sudah ada penduduk Flores yang menganut agama Islam. Selain itu, tentu saja ‘agama asli’, yang masih mayoritas mutlak. Tidak disebutkan kapan persisnya Islam masuk ke Flores. Di sekolah-sekolah di Flores Timur, sejarah masuknya Islam ke Flores Timur praktis tak pernah diajarkan.

“Biara SVD berkompetisi dengan juru dakwah agama Islam di Flores untuk mengembangkan agama masing-masing…. Ternyata, Biara SVD lebih unggul dalam strategi marketing mereka daripada juru dakwah dari lingkungan agama Islam untuk berpengaruh di tengah-tengah suku-suku Flores Tengah dan Flores Barat. Suku-suku etnis itu mayoritas memeluk agama Katolik sepanjang abad ke-20,” tulis Frans Parera dalam buku yang sama.

Dari sini, saya berkesimpulan bahwa agama Islam sudah hadir di Flores sebelum tahun 1512. Jadi, bukan agama baru. Penyebaran Islam tak lepas dari aktivitas nelayan atau pelaut asal Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau daerah-daerah lain di Nusantara. Ingat, Flores Timur adalah daerah pesisir yang sangat mudah dijangkau perahu atau kapal laut.

Bung Karno (Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia) pada 1934-1938 diasingkan oleh rezim Hindia Belanda di Pulau Flores, tepatnya Ende. Di Flores inilah Bung Karno banyak memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam, berkorespondensi dengan ulama-ulama terkenal di Jawa, menulis artikel-artikel menarik seputar Islam, dialog dengan kiai di Flores, serta tak lupa berdiskusi dengan pastor-pastor SVD.

Bung Karno punya sahabat karib Pater Huyting SVD, misionaris di Biara Santo Yosef, Ende. Dari sinilah Bung Karno menulis ’surat-surat Islam’ dari Flores, yang bisa kita baca di buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’.

Saya kutip tulisan Bung Karno di ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ Jilid I halaman 330-331:

“… saja sendiri banjak bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. Tuan tahu bahwa Pulau Flores itu ada ‘pulau missi’ jang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan mereka punja pekerdjaan di Flores itu. Saja sendiri melihat bagaimana mereka bekerja mati-matian buat mengembangkan mereka punja agama di Flores. Saya ada respect buat mereka punja kesukaan bekerdja itu.

“Kita banjak mentjela missi, tapi apakah jang kita kerdjakan bagi menjebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punja hak yang kita tak boleh tjela atau gerutu. Tapi kita, kenapa kita malas? Kenapa kita teledor? Kenapa kita tak mau kerdja? Kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnja di Flores tiada seorang pun muballigh Islam dari sesuatu perhimpunan Islam jang ternama (misalnja Muhammadijah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir?

“Missi di dalam beberapa tahun sahadja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores. Tapi berapa orang kafir yang bisa ‘dihela’ oleh Islam di Flores itu? Kalau difikirkan, memang semua itu salah kita sendiri, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanja diperhinakan orang!”

Agama Islam memang bukan agama baru di daerah saya, Flores Timur. Kita sangat mudah menemukan masjid, langgar, surau di kampung-kampung. Jauh lebih sulit menemukan kapela, apalagi gereja, di Jawa ketimbang menemukan masjid.

Di desa saya, Napasabok, Kecamatan Ile Ape, Lembata, ada Masjid Nurul Jannah yang megah, dibangun secara gotong-royong oleh penduduk (mayoritas Katolik), padahal umat Islam hanya segelintir. Justru tak ada gereja meskipun 97 persen penduduk beragama Katolik (plus agama asli). Kami bangga dengan masjid itu. Itulah simbol toleransi, Bhinneka Tunggal Ika.

Ini jarang saya jumpai selama belasan tahun tinggal di Pulau Jawa. Di Jawa, jangankan bekerja bahu-membahu bikin rumah ibadah agama lain, sekadar memberi restu atau izin saja susahnya minta ampuuuuun! Gereja yang sudah berdiri pun masih dipertanyakan izin-izinnya.

Saya bisa membagi pemeluk Islam di Flores Timur dalam tiga kategori. Pembagian ini hanya garis besar, tidak ilmiah, hanya untuk memudahkan pemahaman kita tentang komunitas Islam di Flores Timur, Provinsi Nusatenggara Timur.

Mama Siti Manuk (adik kandung mama saya) dan Mama Masita Hurek (kanan).

1. Komunitas Islam Lamaholot atau WATAN LEWO.

Latar belakang mereka sama-sama penduduk bumiputra yang mula-mula menganut ‘agama asli’ atau meminjam istilah Bung Karno ‘orang kafir’. Dalam buku sejarah, agama asli biasa disebut animisme-dinamisme. Ketika datang agama baru, entah Katolik atau Islam, penduduk mulai konversi alias pindah agama. Agama asli identik dengan kekolotan atau primitivisme karena terkait erat dengan dukun-dukun serta kepercayaan alam gaib yang sulit berterima di alam moderen.

Karena sama-sama asli Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan, jemaat Islam ini benar-benar menyatu dengan umat Katolik atau penganut agama asli. Sama-sama diikat oleh adat, budaya, serta keturunan yang sama. Kalau diusut-usut, golongan ini punya hubungan darah yang sangat erat.

Fam atau marga saya, Hurek Making, misalnya, banyak yang menganut Islam. Bapak Muhammad Kotak Hurek bahkan jadi takmir Masjid Nurul Jannah di kampung. Muhammad Anshar Paokuma, keluarga dekat dari pihak ibu saya, malah imam masjid tersebut. Hubungan persaudaraan erat luar biasa.

Bedanya: umat Islam tidak makan daging babi dan anjing, sementara saudara-saudaranya non-Islam sangat doyan. Kalau ada pesta, saudara-saudara muslim ini ‘wajib’ menyiapkan daging khusus untuk kaum muslim, mulai dari menyembelih kambing, memasak, hingga siap saji di meja makan. Tradisi lokal ini untuk menjaga agar makanan itu terjamin kehalalannya.

Pak Hamid Lodan, juga masih kerabat saya, dikenal sebagai tukang jagal kambing dan sapi paling top. Begitu tahu bahwa daging kambing itu disembelih oleh Pak Hamid, saudara-saudara muslim itu pun menyantap dengan nikmat.

Rombongan haji asal Lembata, paling kanan Haji Anwar Tadong, paman saya.

2. Komunitas Islam pesisir (bahasa Lamaholot: WATAN). Biasa dikenal dengan SOLOR WATAN LEMA atau Solor Lima Pantai.

Saudara-saudari kami ini, ama kaka air, opu wae... ini campuran antara pendatang dan penduduk asli yang sudah bercampur-baur secara turun-temurun. Disebut pesisir–ini istilah saya saja–karena tinggalnya di pesisir, bekerja sebagai nelayan ulung. Selain itu, mereka pedagang ‘papalele’ hingga pedagang besar.

Mereka ini menganut Islam berkat dakwah para pedagang atau pelaut Sulawesi, Sumatera, Jawa, Sumbawa. Ada juga nelayan Sulawesi yang akhirnya menetap di Flores karena kerap bertualang di laut. Ada tanah kosong di pinggir laut, lantas mereka mendirikan rumah di situ. Akhirnya, muncul banyak kampung-kampung khusus Islam di beberapa pesisir Flores Timur.

Berbeda dengan Islam jenis pertama (asli Flores), golongan kedua ini benar-benar pelaut sejati. Di beberapa tempat, rumah mereka bahkan dibuat di atas laut. Karena tak punya tanah, namanya juga pendatang, mereka tidak bisa bertani. Kerjanya hanya mengandalkan hasil laut, tangkap ikan, serta berdagang.

Maka, komunitas Islam pesisir ini sangat solid dan homogen di pesisir. Kampung Lamahala di Adonara Timur dan Lamakera di Solor Timur merupakan contoh kampung Islam pesisir khas Flores Timur. Di Kampung Baru serta sebagian Postoh (Kota Larantuka) pun ada kampung khusus Islam pesisir.

Mereka ini menggunakan bahasa daerah Flores Timur, namanya Bahasa LAMAHOLOT, dengan dialek sangat khas. Perempuannya cantik-cantik, rambut lurus… karena itu tadi, nenek moyangnya dari Sulawesi, Sumatera, Jawa. Tapi ada juga yang agak hitam, sedikit keriting, karena menikah dengan penduduk asli yang masuk Islam.

Karena tinggal di pantai (bahasa daerahnya: WATAN), di Flores Timur umat Islam disebut WATANEN alias orang pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN, dari kata KIWAN alias gunung. WATANEN mencari ikan, KIWANEN bertani, hasilnya bisa barter untuk mencukupi kebutuhan orang Flores Timur. Jadi, kedua kelompok ini, WATANEN-KIWANEN tak bisa dipisahkan meskipun berbeda agama.

Oh, ya, karena tak bisa bertani (wong, nggak punya tanah), mereka tumbuh sebagai pedagang-pedagang yang tekun dan berhasil. Saya bisa pastikan, pasar-pasar Inpres di Flores Timur hampir dikuasai secara mutlak oleh muslim pesisir. Mereka juga punya banyak armada kapal laut antarpulau yang menghubungkan pulau-pulau di Flores Timur, Nusatenggara Timur, bahkan Indonesia.

Saat berada di Jawa, saya senang dengan teman-teman Islam pesisir, khususnya Lamahala, kalau diminta main bola memperkuat tim mahasiswa Flores Timur. Militansinya tinggi, nekat, pantang menyerah… dan sedikit ‘nakal’. Saking getol membela Flores Timur, teman-teman muslim ini tak segan-segan berkelahi manakala dicurangi wasit atau pemain lawan.

Pemain-pemain bola muslim Flores ini juga sejak dulu menjadi andalan PS Flores Timur, khususnya penjaga gawang. “Mungkin karena sering menangkap ikan, jadi pandai menangkap bola juga,” begitu saya menggoda Taslim Atanggae, teman asal Lamahala, yang jago kiper.

“Jangan lupa main-main ke rumah ya? Biar saya bisa omong bahasa daerah dengan kamu. Di sini semuanya orang Jawa,” kata Ahmad Wahab, asli Lamahala, yang kini tinggal di pelosok Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.

Orang Lamahala memang bangga dengan bahasa daerahnya, Lamaholot, dengan dialek khas dan keras. Teman-teman muslim pesisir yang sangat taat beragama ini selalu membuat saya, orang KIWAN alias Katolik, bahagia.

Masjid di Desa Lewotolok, Ile Ape, Lembata. Imam dan takmir masjidnya Haji Anwar Tadong.

3. Komunitas Islam pendatang baru.

Berbeda dengan komunitas pertama dan kedua, komunitas ketiga ini pendatang baru dalam arti sebenarnya. Mereka datang, bekerja, dan menetap di Flores Timur daratan, Adonara, Lembata, Solor, Alor. Ada juga yang pegawai negeri sipil, pegawai swasta, profesional yang bekerja di Flores.

Mereka tak punya kampung seperti muslim asli dan muslim pesisir. Kampungnya ya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Kalau Lebaran, mereka ramai-ramai pulang ke kampung untuk silaturahmi dengan keluarganya. Sebaliknya, orang Islam jenis satu dan dua ramai-ramai pulang ke Flores Timur karena orang tua, keluarga besar, memang di Flores Timur.

Komunitas ketiga ini juga tak bisa berbahasa daerah seperti orang Lamahala atau Lamakera. Bahasanya, ya, bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Padang, dan seterusnya. Komunikasi dengan penduduk lokal, tentu saja, dengan bahasa Indonesia. “Terima kasih untuk bahasa Indonesia,” mengutip pujangga favorit saya, Pramoedya Ananta Tour.

Namun, berbeda dengan Islam pesisir (WATAN LEMA) yang hanya tinggal di kampung-kampung khusus Islam, muslim pendatang baru ini sangat fleksibel. Mereka bisa tinggal di mana saja: kampung Islam, kampung Katolik, pantai, pegunungan, pelosok, kota. Luar biasa luwes!

Dokter Puskesmas (PTT), guru-guru SMA/SMP negeri, tentara, polisi, asal Jawa dikenal sebagai muslim pendatang yang sangat luwes. Saking luwesnya, kerap kali mereka kecantol dengan gadis lokal (Flores Timur, non-Islam) lalu menikah. Pernikahan semacam ini hampir ‘mustahil’ dilakukan oleh komunitas muslim pesisir alias jenis kedua.

Teman-teman Islam jenis ketiga (muslim pendatang baru), bagi saya, punya nilai tersendiri bagi kami di Flores Timur. Kenapa? Mereka membuktikan bahwa masyarakat itu bisa tinggal berbaur di mana saja, bertetangga dengan siapa saja, apa pun agamanya. Segregasi alias pemisahan permukiman penduduk atas dasar agama berhasil ‘diterobos’ oleh muslim pendatang baru.

Nah, komunitas Islam pendatang baru ini mirip Islam jenis pertama, hanya saja tak punya kampung di Flores Timur.

Zaman makin maju. Orang Flores merantau ke mana-mana. Sehingga, tentu saja, komposisi masyarakat akan terus berubah, termasuk tiga jenis Islam ala Flores Timur ini. Tak ada yang abadi di dunia, bukan?

54 comments:

  1. Tiap kali membaca tulisan Anda, saya semakin sadar betapa kayanya tanah Inodnesia bagian timur, yang bahkan lebih 'Indonesia' daripada ibukotanya yang semakin 'Barat'.

    Plus, saya sebagai muslim Jawa jadi semakin 'malu' karena perlakuan kami kepada umat non-Islam tidak sefleksibel perlakuan umat Katholik terhadap Muslim di desa Anda.

    ReplyDelete
  2. Mas Priyo, terima kasih sudah mampir ke blog saya dan kasih komentar. Tulisan tentang agama Islam di Flores Timur agak garis besar, disederhanakan, agar bisa dipahami dengan mudah. Tapi umumnya demikian.

    Evangelisasi atau penginjilan di Flores, Nusa Tenggara Timur, memang lain dengan Jawa. Ketika Belanda datang, 1600-an, hampir seluruh Jawa sudah Islam. Dus, penduduk pribumi menganggap Protestan/Katolik sebagai agama londo -- dan benar dalam konteks dulu. Kasarnya, Belanda yang Protestan [Kristen] sebagai penjajah, pengisap rakyat, dan citra itu terus melekat sampai kita merdeka. Akibatnya, persepsi orang Jawa terhadap Kristen pun tak bisa tidak terpengaruh citra masa kolonial tempo doeloe.

    Celakanya lagi, di Jawa tidak ada gereja dominan macam di NTT atau Batak. Aliran gereja Protestan di Jawa terlalu banyak [ratusan, dan terus memecah diri], sehingga dibuatlah gereja yang banyak. Umat sedikit bikin gereja dan itu membuat orang Islam di Jawa heran. Ah, kristenisasi ini! Ah, bahaya! Ah, kita harus hambat! Itulah yang membuat resistensi di mana-mana.

    Kapan-kapan saya akan menulis soal ini agar kita bisa lebih saling memahami. Oh ya, di Jawa ada masalah SARA lainnya, yakni dominasi ekonomi Tionghoa. Orang Tionghoa itu kan mayoritas kristiani. Lha, sentimen SARA pun bertambah-tambah. Dan itu tidak terjadi di Flores.

    Good luck, Mas Priyo!

    ReplyDelete
  3. wow, artikel menarik mas. bagus buat referensi. salam.

    ReplyDelete
  4. halo bung, apakabar. saya blogwalking dan membaca tulisan ini. menarik, karena saya jg punya banyak temen2 kampus di jogja yg berasal dari flores.saya pengen jalan-jalan kesana, tp blm tau kapan :)

    ReplyDelete
  5. wah, jarang ada org NTT yg punya blog selengkap ini. pantas aja wkt aq nyari di google, blog sampean yg keluar. sukses bung!

    arif, malang

    ReplyDelete
  6. tulisan anda patut di beri sambutan dari berbagai pihak...terima kasih banyak atas artikelnya..ini sebagai contoh bahwa setiap agama harus saling menghormati...meski beda keyakinan...suksess buatmu

    ReplyDelete
  7. halo pa kabar, selamat untuk bung, saya tertarik membaca blog saudara kebetulan kita satu wilayah flores timur, berharap info2 tentang profil kampung kita bisa membumi. Jika dimungkinkan aku juga berpartisipasi akan info profil kampung kita.
    terima kasih.

    ReplyDelete
  8. Bang saya salut dengan tulisan anda

    ReplyDelete
  9. Dear Sir;

    Still looking for info about the present situation of the dynasty of the rajas of Labala.
    Thank you for your help.

    Yours sincerelly:
    D.P. Tick gRMK
    pusaka.tick@tiscali.nl

    ReplyDelete
  10. Itulah gambaran toleransi yang ada di Pulau flores pada umumnya. seperti yang saudara katakan di daerah saya Nagekeo kultur budaya dan toleransi sama seperti yang anda paparkan, saya sangat berterima kasih atas begitu besarnya nilai toleransi yang ada di flores umum nya dan daerah nagekeo khususnya. saya adalah putra asli Nagekeo beragama Islam. semoga toleransi yang telah dibangun dengan nilai kekeluargaan tetap terjaga. dan saya sebagai putra flores asli merasa bangga dengan Hal tersebut.

    ReplyDelete
  11. terima kasih bung atas blognya, saya menjadi teringat akan kampung halaman. saya putra asli lamahala yang penduduk asliya muslim.dan memang toleransi beragama yang ada di flores tidak akan bisa dikacaukan.

    ReplyDelete
  12. Ama Syam, terima kasih aya2 mo mala pi oring goen. Salam untuk teman2 Lamahala.

    ReplyDelete
  13. moga2 semangat kebersamaan dan toleransi tetap dipertahankan di flores dan indonesia umumnya. damai itu indah....

    ReplyDelete
  14. Halo bung pa kabar? Saya terkesan dengan tulisan anda sungguh inspiratif, semoga suasana ini terus terpelihara. Saya sendiri pernah tinggal di flotim selama hampir setengah tahun untuk urusan proyek. Sungguh damai rasanya tinggal disana, waktu itu saya tinggal di desa Nuri lewotobi, walaupun agak panas tapi saya senang disana.
    Wasalam
    Made

    ReplyDelete
  15. Pion Ratulolly. Salam kenal ama. goe mahasiswa bahasa dan sastra undana kupang asal Lamahala. goe juga nulis lepas di koran. saat mampir di ama punya "oring" goe seakan menemukan wajah lugu pemuda katolik Lembata (baca: Lamaholot) yang mengeluhkan keresahannya dengan amat jujur. lebih jauh, goe jadi "miak" sendiri karena mengapa kame sebagai orang islam (watane) yang bukannya berteriak tentang nasib kame di NTT tetapi harus orang katolik. goe mencoba sangat apresiatif dengan tulisan sodara. Inga' filosofi Lamaholot "tite Lamaholot dari Ile noo wolo, dari wato noo kajo, taan kakan taan arin. salam!

    ReplyDelete
  16. kosim sulaiman1:25 PM, May 27, 2010

    kosim sul

    ReplyDelete
  17. Ok benar w Abang. Goe Salut.... Salam Lewotana

    ReplyDelete
  18. Ingat setelah jadi pemimpin untuk daerah FLORES TIMUR jangan lupa kepada masyarakat yang sudah percaya kepada anda untuk memimpin Daerah FLORES TIMUR agar maju dan tidak ketinggalan seperti kab.lain.dan kami harap perekonomian FLORES TIMUR bisa pulih kembali seperti semula.FAIZ CELL_LARANTUKA -KAMPUNG BARU

    ReplyDelete
  19. Kalau berpeluang, saya ingin ke NTT, merasai sendiri secebis kehidupan desa di Lembata atau Alor.
    Satu catatan yang mengguris hati saya.
    Tahniah saudara!
    Saya abadikan coretan saudara di sini http://www.selatanonline.net/v1/modules.php?name=Forums&file=viewtopic&p=24366#24366

    ayra_j

    ReplyDelete
  20. halo mas, saya terkesan dengan tulisan anda. saya berencana akan mengadakan penelitian tentang komunitas Islam di sana, tapi belum begitu yakin awalnya. setelah saya membaca tulisan anda, saya semakin yakin bahwa umat Islam di sana hidup secara harmonis dengan umat katholik. saya merasa ada banya hal yang perlu diangkat dari keharmonisan yang terjaln sangat indah di sana. boleh kah sya menghubungi anda untuk berdiskusi rencana topik penelitian saya ini?


    neli
    Sejarah UNDIP
    Semarang

    ReplyDelete
  21. Salam kenal Lambertus, Saya Agustinus Apollo Daton, wartawan Fajar Bali, di Denpasar. baru tadi malam (10/12) saya berwisata dan menemukan blog orang Nagi-Lembata yang membuat saya sangat terkesan dan teringat nagi tanah, Larantuka. Omong2 Lamber SMP Pankrasio Tahun berapa? dan SMAN 468 tahun berapa? Saya SMA PGRI angkatan tahun 1989. Sudah lama di Radar ka? Saya berharap komunikasi kita bisa terjalin terus karena saya mau diskusi dengan Lamber beberapa hal, termasuk Bale Gelekat Lewo Tanah. Saya sering bolak-balik Kediri-Surabaya-Denpasar PP
    Ternyata ada orang Nagi yang punya Blog yang sangat dikagumi artis-artis Surabaya seperti ME dan yang lain.

    Salam No

    ReplyDelete
  22. Salut buat yg punya blog. Aku arif kapitan lahir dan tinggal di palembang. Ibu asli palembang Ayah asli Flotim adonara timur kampung Terong. Sangat senang dgn info tentang tanah kelahiran ayah ku. Dua jempol..

    ReplyDelete
  23. Mau tanya pak,
    Di pulau Babi ada dua kampung, kampung muslim dan kampung kristen yang berdampingan,apakah dua kampung ini punya nama? atau memang namanya 'kampung muslim' dan 'kampung kristen'?
    Trimakasih

    ReplyDelete
  24. saya juga punya kakek dari flores tapi saya ga tau nama kampungnya? mukanya sih keturunan arab.. kira2 flores bagian mana yah? oiya, kakek saya juga bisa maen gambuss. tolong pencerahannya mas.. flores ndaerah mana yah kira2?

    ReplyDelete
  25. soselawati arsad8:32 PM, June 06, 2011

    assalamualaikum...
    saya berketurunan timur dari lamahala,ibu-bapa saya memang berasal dari lamahala..tapi kami sekeluarga telah menjadi warga negara malaysia.kami menetap di lahad datu sabah..saya memang teringin sangat bila suatu hari nanti dapat pulang ke kanmpung halaman...saya selalu bertanyakan tentang susur galur keturunan kami kepada kedua ibu bapa saya..entah kenapa bila orang tua saya menceritakan tentang kehidupan islam di sana,hati saya begitu teruja dan sayu mendengarnya...apatah lagi dengan apa yang saudara katakan tentang asal-usul keturunan orang lamhala yang hidup di persisiran pantai,memang sama dengan apa yang d ceritakan oleh bapa saya..jika suatu hari nanti saya berpeluang menginjakkan kaki ke sana,saya teringin sangat nak melawat makam nenek moyang kami iaitu nenek 'kapitang lingga' insya'Allah..amin...terima kasih saudara atas tulisan saudara di laman blog ni...

    ReplyDelete
  26. Salam kenal, Om Lambertus Hurek.

    Nama saya Mius dan saya sangat tertarik membaca artikel anda, enak dibaca dan perlu! - pinjam istilahnya T*MPO :)

    Saya jadi teringat pengalaman saya saat berkunjung ke Lembata (tahun 2009), alangkah kagetnya saya saat melihat ada seorang ibu penduduk asli Flores yang memakai jilbab – kalau tidak salah di daerah Ile Ape juga. Selama ini, jika bicara mengenai Flores dan sekitarnya, maka yang tersangkut di kepala saya adalah nuansa Katolik yang kental. Kekagetan saya tersebut mungkin didasari pengetahuan dan wawasan saya yang kurang – selain tentunya mungkin kurang jalan-jalan ke wilayah Indonesia Timur :)

    Barulah setelah kunjungan itu saya “ngeh” bagaimana kehidupan beragama di daerah Flores yang sangat toleran. Saking kentalnya image Katolik mengenai Flores, saya pernah “menuduh” seorang teman Flores saya sebagai “muallaf” (orang yang baru memeluk agama Islam) karena melihat dirinya melakukan ibadah sholat. Padahal, ia memeluk agama Islam sejak ia dilahirkan di Adonara :)
    O iya, Om Lambertus berikut ada informasinya yang mungkin menarik bagi anda sehubungan dengan tulisan anda mengenai toleransi beragama di Flores, yaitu informasi beasiswa untuk studi/peneitian yang berhubungan dengan Muslim and Non-Muslim Understanding.


    Sementara itu dulu, senang bisa membaca tulisan anda :) Selamat berkarya!

    Salam,
    Mius (mius666@yahoo.com)

    ReplyDelete
  27. saudaraku saya sangat salut dan sepakat atas tulisan anda,untuk itu mari kita sama menjaga kerukunan dan kedamaian ini menjadi bagian dari hidup kita,kalau semua memahami konsep lamaholot yang sebenarnya maka kita tetap akan satu dalam lewo tana suku ekan.

    salam Abdullah yusuf batam.[yabdullah87@yahoo.com

    ReplyDelete
  28. salam kenal buat saudaraku saya tinggal di batam putra asli lamaholot,
    yabdullah87@yahoo.com

    ReplyDelete
  29. tulisan yg menggugah dan saya merasa "malu" dengan tulisan ini...semestinya kekerabatan yg dibina slama ini terus di eratkan...perbedaan itu wajar tp "banyak" yg menghancurkan...biar di tmp lain bermusuhan satu dgn yg lain tp totang orang nagi hrus tmbh kuat dan erat persaudaraan...thanks bro

    ReplyDelete
  30. cerita inspiratif ttg pentingnya toleransi dan persaudaraan. perbedaan agama/keyakinan jangn membuat kita pecah. inspirasi dari kampung di NTT. bravo!!!!

    ReplyDelete
  31. salut abang...dua jempol buat abang...saya jg waktu kuliah d malang pernah di tanya sy berasal dari mana...ketika saya jwb dr lamahala (flores timur) mereka heran...kok ada ya orang islam d sana...smoga dgn tulisan abang ini mereka bs mengenal lbh bnyak indonesia bagian timur (khususnya flores)

    ReplyDelete
  32. very good story about flores culture n religion... it's the best axample for tolerance and living together in harmony...

    ReplyDelete
  33. watanen kiwanen tite hama2 koli lolon hena... ama!!!

    ReplyDelete
  34. Salam lewotanah ama. Boleh nambahin islam di flores timur dgn sebutan solor watan lema.....

    ReplyDelete
  35. baca tulisan anda jadi inget 22 tahu yang lalu, aku pernah jadi islam kelompok ketiga, versi anda dan aku tinggal di daerah lebao, kel. pukantobi wangibao yang bukan kampung muslim.....dan inget saya sdh smp ileape dan desa2 di atadei hehehe....

    dan kalau nggak salah ada tokoh islam dan intelektual muslim jawa timur yang bearasal dari lamakera solor timur Prof, DR Thohir Luth yg sekarang menjadi ketua umum PW Muhammadiyah Jawa Timur....
    Semoga hidup saling toleransi di Flores Timur dan Lembata terjaga selalu amiiinnn....

    ReplyDelete
  36. Benar sekali Mas, Bapak Prof Thohir memang berasal dari Solor, kalau tak salah kampung beliau Lohayong. Salah satu kampung muslim atau WATAN PUKEN alias pusat Islam di Flores Timur. Orang2 dari Solor biasanya bekerja sangat keras untuk hidup karena alamnya menantang, tidak punya jalan raya yag bagus. Tapi justru dari kampung sederhana macam inilah muncul orang hebat seperti Prof Thohir Luth.

    Terima kasih, anda mengingatkan saya akan salah satu pusat agama Islam yang cukup tua di NTT, yakni Pulau Solor. Salam kenal ya!!!

    ReplyDelete
  37. Istilah Kafir sepatutnya tidak digunakan di Indonesia. Apakah orang2 yang tidak menganut ajaran Abraham boleh dinista dengan sebutan Kafir yang sangat merendahkan. Airlangga, Gajahmada, Hayamwuruk, Mahatma Gandhi, Mulawarman, Ho Chi-minh, Suzuki, Honda...dll,
    apakah mereka Kafir ( orang tak memiliki agama ) ?

    ReplyDelete
  38. Saya setuju. Airlangga, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dsb itu justru dianggap sebagai dewa atau orang suci oleh rakyat pada zaman itu. Mereka bukan kafir karena dikirim ke dunia untuk menjadi raja atau ratu. Orang dulu percaya bahwa hanya orang yg dapat pulung yang bisa jadi raja.

    Maka, setelah raja2 macam Hayam Wuruk, Arlangga, dsb meninggal dunia rakyat membuat candi atau bangunan istimewa untuk menghormati beliau2 itu. Sekarang pun kita masih bisa menikmati benda2 cagar budaya yang dibuat untuk menghormati para dewa yang menitis menjadi raja di tanah Jawa atau Nusantara itu.

    Masa sih Airlangga yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu itu KAFIR? Gajah Mada kafir? Kerajaan Majapahit kafir? Terus, ratusan candi religius itu apa? Yah... akhirnya kembali ke sudut pandang dan doktrin pribadi masing2. Kita perlu sangat arif dan bijaksana!

    ReplyDelete
  39. Bung Hurek yang budiman, kearifan- dan kebijaksanaan-anda tidak akan pernah saya ragukan. Namun lacurnya kiblat budaya dan kepercayaan masyarakat Indonesia sekarang mengarah ke Timur Tengah dan Amerika Serikat.
    Dalam hal kepercayaan kedua wilayah tsb sangat kolot, puritan dan intoleran.

    ReplyDelete
  40. bapak Hurek yang terhormat.saya ingin bertanya, apakah perkembangannya sampai ke Flores bagian tengah (daerah Nagekeo)?.karena disitu ada sebuah suku besar (suku Mbay)yang mendiami daerah tersebut,tepatnya di ibukota kabupaten Nagekeo,yang mayoritas orangnya beragama Islam.
    saya agak kesulitan mencari tahu karena banyak pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Flores, terutama bagian tengah dan barat (Nagekeo dan Manggarai)dibawa oleh para ulama dari Bima dan sebagian lagi mengatakan dibawa oleh para pedagang dan utusan kerajaan Gowa.
    apakah bapak mempunyai sumbernya?
    terima kasih.

    by : Mukhsin Kota dari Mbay,Nagekeo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, kalau Flores bagian barat seperti Ngada atau Manggarai saya kurang paham karena memang belum pernah ke sana. Saya juga baca beberapa buku yang bahas masalah ini tapi kurang mantap karena tidak mengalami sendiri.

      Saya hanya bahas Flores Timur alias etnis Lamaholot (Lembata, Adonara, Solor, Flotim daratan) karena saya asli Lamaholot dan punya pengalaman sebagai putra daerah. Mungkin ada teman-teman dari Flores barat yang bisa membantu Anda.

      Terima kasih sudah mampir ke blog ini.

      Delete
  41. Terlalu ere n berbobot tulisn moen tou pi ama...
    Kalo bisa goe minta izin posting ulang di blog goen e ama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan... moe posting ulang.. tutu Lewotanah titen. Semoga Cak Ancis selalu sukses dan diberkati Tuhan Allah.

      Delete
  42. Berbicara soal toleransi umat beragama, bukan hal baru buat kami Masyarakat Lamaholot (Solor Watan Lema) : Solor, Adonara, Lembata (Lomblen & Alor. Nilai utama perekat bagi kami adalah adat istiadat, maka jangan heran di dalam satu Keluarga yang menganut Agama Islam, ada pula yang Katholik. Bapak Ir. Sarwono Kusumaatmaja (Menteri Kelautan saat itu) ketika kunjungan kerja ke Lembata dan diminta oleh Paman Saya H. Sulaeman L. Hamzah putra asli Lewotolok, Ile Ape, Lembata (sahabat beliau) untuk mampir meresmikan Masjid Babul Janah (seperti foto diatas), dalam sambutannya beliau mengatakan : Sebagai Sekjen. Golkar saya telah berkeliling Indonesia, sebagai pejabat Negara pernah ke Luar Negeri, tapi Nilai2 luhur Pancasila baru saya temukan di Desa Lewotolok, Kec. Ile Ape, Lembata. Thanks Ama Lambert "Salam Sukses Selalu"

    ReplyDelete
  43. Dari artikel ini terlihat jelas adanya "Toleransi Agama" dan "kerukunan warga".

    Sepanjang kerukunan warga ditaruh sebagai prioritas yg paling utama maka toleransi beragama akan bisa tercipta, karena warga lebih mengutamakan kerukunan keluarga, kerukunan krabat dll.

    Kalaupun ada di suatu daerah ada kerukunan warga yg berlainan agamanya, kita suka melabeli dg kerukunan umat beragama, yg arti sebetulnya adalah kerukunan warga bukan kerukunan agama.

    Tetapi bila masalah agama dipandang sebagai prioritas yang utama, dalam arti agama adalah segala galanya, maka kerukunan warga, kerukunan kerabat, kerukunan umat beragama bisa tergoyahkan, karena hampir mustahil ada yang namanya "kerukunan agama", karena ajaran ajaran agama agama yg ada itu sering kali kurang bisa dirukunkan, karena ajaran agama agama itu punya kebenarannya masing masing.

    Contohnya adalah apa yg pernah terjadi di Ambon juga di Madura, pihak pihak yg saling bertikai sering ada yang sesungguhnya masih bersaudara, masih saudara sepupu dsb, sungguh disayangkan, dan sangat menyedihkan.

    Kerukunan agama itu hampir mustahil bisa terwujudkan, yg bisa masing masing orang beragama bisa lakukan adalah menjaga kerukunan umat beragama, kerukunan kerabat, kerukunan warga, kerukunan rakyat, dan kerukunan bangsa, bangsa Indonesia.

    Para bapak pendiri republik ini juga mestinya sudah menyadari itu maka ada Bhinneka Tunggal Ika.

    Semoga bangsa Indonesia bisa rukun selalu, walau dengan beragama yg berlain lainan.

    ReplyDelete
  44. Tulisan ama Lambert Sangat menarik..banyak kearifan lokal lamaholot yang kental dgn kekeluargan dan kebersaamaan...go sendiri pernah hidup 4 tahun di pedalaman adonara di desa Hinga kec.Klubagolit..sbg seorng marketing (pemasar) Bank BUMN go sdh banyak keluar masuk kampung di adonara...dan go menemukan ragam kearifan budaya dn adat yang sagat menjunjung tinggi nilai nilai kebersamaan,kekeluargaan dan gotong royong apapun latar belakang agamanya..semoga persoalan2 yg blm diselesaikan di adonara bs menggunakan nilai2 luhur kebaikan kearifan lokal lamaholot...sukses selalu untuk ama Lambert...!

    ReplyDelete
  45. Salam Ama, Goe Sangat senang dan semakin mengerti dan memahami karakteristik Agama yang ada di daratan Folore khususnya Flores Timur dam Lembata sekarang, tulisan Ama sangat bagus sekali sebagai perbendaharaan sejarah tentang Islam dan Katolik di Flores Timur, tingkatkan terus dan mengkaji lebih jauh dan lebih detail sehingga perbendaharaan ini menjadi tolak ukur kerukunan beragama untuk daerah-daerah lain. Salam sukses terus dan teruslah berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih aya2 ama Mansyur, mo basa tulisan goen pi. Goe cuma tutu pengalaman teti Lewotanah titen, ata kiwan ata watan, tite hama2 koli lolon hena, hama2 tekan tenu wata kenaen, motong lolon, tang oha hamang, dolo, gambus. salam juga untuk ama Mansyur sekeluarga.

      Delete
  46. Saya juga asli NTT yg sudah belasan tahun tinggal di Jawa. Saya merasakan ada kecenderungan hubungan Islam vs Kristen yang kurang kondusif ke depan karena makin lama makin gencar sosialisasi pengharaman mengucapkan selamat Natal kepada umat nasrani. Orang2 yg berbeda agama juga semakin menutup diri. agak aneh di era globalisasi yg makin terbuka ini.

    ReplyDelete
  47. Numpang Lewat Bang Lambert...
    Go Ahmad Dahlan ( Aba Mad/Bang Alan) Putra Asli Lembata - Baopukang-Nagawautung (Ketua Paguyuban Masyarakat Lembata di Alor).. Bapak Saya Orang Ile Ape (Tanjung) Ibu Saya Orang Solor ( Lamakera)
    Membaca Tulisan Abang tentang Model kerukunan Beragama khususnya pada Etnis Lamahalot, (lembata,flores timur,solor, adonara dan Alor, seolah membuka mata hati semua kita tentang indahnya kebersamaan.. indahnya persaudaraan. bawha tidak ada seseorangpun yang pantas meng-klaim diri dan kyakinannya adalah yang paling benar..
    dan orang lamaholot telah membuktikan kepada banyak orang tentang betapa perbedaan yang ada merupakan rahmat ketika dikemas dalam bingkai persaudaraan dan kebersamaan untuk membangun lewotana tercinta...

    salut 1000% buat Abang.. saya tunggu tulisan-tulisan abang berikutnya...
    oh iya.. abang kenal kk Teus Hurek Making le take??. (guru di SMP St. Jibrael Kalabahi-Alor) Beliau sudah sperti Kaka kandung saya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih aba mad. Guru teus pasti go koiro. Na nepe go amak kenen (paman). Saya baru kembali dari kampung waktu libur akhir tahun. Sempat mampir setengah hari di palilolon di rumah mama kecil, kampung muslim di lewulun. Sempat seba ikan lau tuak duyun to dapat esi hena. Ojek senang ireket lau tanjung ketemu ina ama kala ari titen. salam wata nengen. semoga aba mad sekeluarga selalu diberkati Tuhan.

      Delete
  48. Hallo, go'e Puken. Go'e cucu dari Aba Raja Puken, Raja Terong di Adonara. Go'e teik di jogja sekarang. Mungkin kalau ke jogja mo'e bisa hubungi go'e. Tite bisa tutu nawak. Ni nomor go'e ;085729047234. Go'e kiang sodara.

    ReplyDelete