07 June 2006

Dukun Main Bola

Agama Katolik sudah ratusan tahun masuk Flores Timur, ksususnya di Kota Larantuka. Tapi kepercayaan lama terhadap dukun, suanggi, tukang sihir, NAKAW/MENAKA, pemali… masih sangat terasa sampai sekarang. Paham-paham gereja masih belum diterima 100 persen.

Karena itu, setiap menjelang pertandingan sepak bola antarkampung para dukun kampung ini dimintai bantuan untuk membacakan mantra dan doa-doa agar timnya menang. Tim lain pun melakukan hal yang sama: minta restu dukun-dukun dan tuan-tua adat kampung.

“Kalau tidak minta, saya kurang mantap,” ujar Petrus, teman saya, bekas pemain bola jempolan.

Ironis, karena turnamen antarkampung biasanya digelar bersamaan dengan Paskah atau Natal, hari raya umat kristiani. Kenapa tidak berdoa saja secara Katolik (atau Islam untuk yang muslim)? Memang dilakukan juga, tapi jasa dukun tidak bisa dicampakkan begitu saja.

Setelah si dukun membaca mantra, para pemain diberi minum air putih. Katanya, sudah diberi ‘isi’ sehingga mereka nanti bisa bermain bagus, penuh semangat, tidak lekas loyo. Bola yang akan dipakai dalam pertandingan pun disirami air putih. Untuk apa?

Katanya, agar menguntungkan tim kita, sebaliknya merugikan tim lawan. Kalau bisa diusahakan agar bola yang sudah disirami air sakti itu yang dipakai dalam pertandingan 2 x 45 menit.

Pernah gawang klub kampung kami kebobolan banyak sekali. Lebih dari lima gol, sementara kami hanya membalas satu gol. Kiper kami yang biasanya cekatan, tangkapannya lengket, waktu itu (1980-an) tampil sangat buruk. Bola yang tidak begitu berbahaya pun tak bisa ditangkap atau dihalau dengan baik.

Kami semua penasaran. Ada apa ini?

“Bagaimana bisa menangkap dengan baik? Saya melihat bola yang datang ke gawang itu bukan satu tapi tiga. Ternyata yang saya tangkap itu bayangannya bola. Bola aslinya masuk gawang,” ujar sang kiper.

Sulit dibuktikan karena hanya dia yang bisa menyaksikan dua bola palsu plus bola beneran masuk ke gawang. Jangan-jangan hanya dalih si kiper yang kebetulan waktu itu tidak konsentrasi. Bisa juga karena dukun tim lawan lebih tangguh ketimbang dukun kami. Dukun lawan dukun, ya, beginilah hasilnya.

Saya baca di koran, sejumlah tim nasional yang berlaga di Piala Dunia 2006 Jerman (7 Juni sampai 7 Juli) pun tidak lupa membawa dukun (alias tim spiritual) untuk memaksimalkan potensi timnya.

Di Jawa Timur tim-tim terkenal seperti Persebaya, Deltras, Arema, Persema, Persik, Persekabpas… tak pernah lupa sowan ke ‘kiai-kiai sepuh dan khos’ menjelang pertandingan-pertandingan besar.

Wualah… dukun main bola ternyata tidak hanya ada di Flores!

3 comments:

  1. riski pranopta4:33 PM, May 14, 2015

    hoi labu air mana mantra nya

    ReplyDelete
  2. Wow, nyaris 9 tahun berlalu baru ada yang komen.

    Karena ada "New Comment" bisa tahu ada artikel ini.

    Selalu semangat om Hurek :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak komen gapopo... iki kan cuma guyon maton wae. Jenenge wae demokrasi, wong bebas berpendapat. suwun mas wong cilik.

      Delete