07 June 2006

Budaya Minum Tuak


Daerah Flores Timur–Nusa Tenggara Timur, umumnya–punya tradisi minum tuak. Kenapa tuak? Tanah Flores Timur yang kering dan tandus memang sangat kondusif bagi tumbuhnya pohon lontar atau siwalan. Di mana-mana ada lontar yang tumbuh liar. Pohonnya sangat kekar, keras, tangguh.

Pohon lontar atau siwalan atau Borassus flabellifer (nama Latin) adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering.

Dari malai pohon lontar inilah penduduk laki-laki mendapatkan nira serbaguna. Pada dasarnya nira lontar berasa manis, sangat nikmat kalau langsung diminum sesaat setelah disadap. ‘Gula lempe’ khas Rote dan Sabu dibuat dari nira awal yang berasa manis alamiah itu.

Untuk minuman tradisional (adat), nira ini dicampur dengan ramuan tertentu sehingga terjadi reaksi kimia fermentasi. Jadilah minuman yang mengandung alkohol kadar rendah hingga sedang, yang dikenal dengan tuak.

Tuak ini macam-macam. Ada yang keras (alkohol tinggi), sedang, hingga enteng. Kaum perempuan biasanya senang melahap tuak manis, alias nira lontar yang belum mengalami proses fermentasi. Kalaupun sudah terfermentasi, prosesnya belum apa-apa, sehingga kadar alkohol amat sangat rendah.

Tuak dalam konteks cerita ini tentu yang fermented sehingga beralkohol. Minum tuak itu bikin sekian banyak penduduk laki-laki ketagihan, khususnya sebelum 1980-an. Ibarat rokok, bagi para pecandu, hidup tanpa tuak, bagi sejumlah kerabat saya di kampung, ibarat kehilangan separuh napas. Bukan main!

Bapak-bapak, kakek-nenek, bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk minum tuak sembari ngomong ngalor-ngidul alias bicara ke sana ke mari. Semakin banyak minum tentu kadar alkohol di dalam tubuh makin tinggi, sehingga bicaranya semakin ngelantur. Lama kelamaan, kalau lepas kontrol, mabuklah dia.

Karena tuak itu social drink, minuman sosial, maka lazimnya air tuak berwarna keputihan (macam susu) itu lebih enak kalau diminum ramai-ramai. Dulu, saya tak tahu sekarang, jarang sekali orang minum tuak seorang diri di kamar atau rumahnya. Maka, para peminum tuak ini punya semacam grup-grup yang cukup solid.

Setelah menyadap nira petang hari–biasanya disadap pagi dan sore, atau hanya sore–orang membawa tuak di ‘nahwing’, wadah dari bambu ke lokasi pertemuan grup itu tadi. Tempatnya bisa berpindah-pindah atau di lokasi yang tetap, sesuai kesepakatan. Teman lain pun membawa tuaknya. Ada yang bawa makanan, jagung titi, rumpu rampe, ikan bakar, ikan lawar (ikan mentah dicacah kemudian dicampur cuka)… ke tempat pesta tuak.

Acara ini namanya ‘moting’: tempat kumpul-kumpul, minum tuak, bicara bersama, sering diisi dengan berbalas pantun atau dolo-dolo tradisional. Biasanya, penerangannya cukup mengandalkan cahaya bulan yang temaram.

Bagaimana kalau bulan gelap? Ya, tetap saja acara minum tuak bersama, plus makan-makan, ini jalan terus. Sebab, setiap hari tuak itu disadap dan harus dikonsumsi. Sayang kalau ‘air ajaib’ itu disia-siakan begitu saja.

Terlepas dari efek buruknya, yakni mabuk, bagi mereka yang tidak tahan alkohol, acara minum tuak ini menunjukkan semangat gotong-royong yang luar biasa. Ada saja ide-ide bagus keluar saat berkumpul di acara moting. Informasi tentang kondisi desa pun akan cepat sekali disosialisasikan di forum khas Flores Timur itu.

Tak hanya mendengar, bapak-bapak langsung menyusun rencana aksi. Misalnya, ada warga yang rumahnya rusak, perlu perbaikan, maka peserta moting tadi bersepakat untuk membantu menggarapnya ramai-ramai.


PESTA di kampung tak akan lengkap tanpa kehadiran tuak. Ibarat sayur tanpa garam. Jika tuak ini tak ada, saya pastikan pesta akan segera bubar atau hambar sama sekali.
Lalu, bagaimana menyediakan tuak sekian ratus liter untuk manusia sebanyak itu?

Beli di pasar, jelas tidak mungkin. Jangan khawatir, ada hukum adat di kampung saya–kawasan Ile Ape, Lembata–yang tidak tertulis, tapi sangat dipahami masyarakat dari masa ke masa. Yakni, masyarakat bebas mengambil tuak langsung di atas pohonnya, milik siapa saja, kapan saja, selama pesta dilangsungkan.

Dulu, waktu kecil, saya sering ikut anggota ‘pasukan pencari tuak’ untuk kebutuhan pesta pernikahan, pertunangan, kematian, dan sebagainya. Kita tinggal membawa wadah untuk menampung tuak segar langsung di pohonnya. Namun, tetap ada syarat penting: kita harus memperlakukannya dengan sangat hormat. Tidak boleh merusak wadah, memasang kembali wadah bambu penampung tira yang dipasang persis di bekas irisan pada malai lontar.

Setelah dipasang kembali, kita beralih ke pohon lontar lain–milik siapa saja, baik suku yang terlibat pesta maupun bukan. Kalau dirasa masih kurang, kita boleh beralih ke kampung tetangga untuk mengambil tuak di pohon-pohon mereka. Mengambil tanpa izin pemilik lebih dulu, tapi tidak pernah dianggap sebagai aksi pencurian. Sebabnya, itu tadi, kita mengambil tuak untuk kebutuhan pesta. Kalau di luar urusan pesta, jangan coba-coba memanjat pohon lontar milik orang lain untuk mengambil tuaknya. Bisa geger!

OLEH segelintir penduduk, tuak ini diolah lagi menjadi arak. Porsesnya tak lain destilasi atau penyulingan air tuak biasa tadi. Tuak dipanaskan, air biasa menguap…. Destilasi ini menyisakan alkohol kadar tinggi di tangki pengembunan. Itulah arak!

Jika penyulingan dilanjutkan, hasilnya arak yang sangat keras. Arak kepala, istilah orang kampung, adalah arak dengan kadar alkohol tinggi sekali. Ini sangat berbahaya karena efeknya yang korosif. Mabuk? Hampir pasti. Sebab, kadar alkoholnya jauh di atas kadar alkohol tuak biasa.

Sejak dulu arak ini kurang ‘direstui’ aparat keamanan. Pembuatnya dianggap melanggar hukum, sehingga produksi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tahu sama tahulah! Saya sendiri tidak pernah minum arak dan tuak (kecuali tuak manis). Tapi teman-teman saya bilang, minum arak itu nikmat luar biasa.

“Seperti terbang ke bulan. Apalagi, arak itu sudah dicampur janinya kijang,” kata Jack, teman saya. Gila!!!!

KARENA ada tradisi minum tuak itulah, jangan heran orang NTT sampai sekarang masih banyak yang doyan minuman keras–bir, anggur, KTI, cap tikus, topi miring, brendy, whisky… dan seterusnya. Miras-miras ini sangat mahal sehingga menguras isi kantong. Juga melanggar hukum negara kita.

Jelas, miras agak berbeda dengan tuak, minuman tradisional beralkohol rendah, yang gratis karena langsung diambil dari kebun atau halaman pondok/rumah. Minum tuak ramai-ramai di MOTING menambah keakraban, persaudaraan, gotong-royong…, sementara minum minuman keras justru menambah musuh dan menhancurkan masa depan.

Saya rasa, dengan perubahan zaman, kualitas pendidikan yang kian bagus, wawasan makin luas, masyarakat Flores Timur (NTT umumnya) sudah bisa mengubah habitus lama yang kurang produktif. Habitus minum tuak sampai mabuk, bicara ngalor-ngidul tanpa juntrungan, jelas tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman sekarang yang serba cepat dan cenderung individualis.

1 comment:

  1. hei, bagus banget, informatif artikel ini. kita jadi tahu tradisi di flores. *aan

    ReplyDelete