15 June 2006

Buby Chen


Oleh AGUS WAHYUDI
Wartawan Radar Surabaya

Tidak ada yang lebih mengasyikkan bagi Bubi Chen selain bermain piano. Bagi sang legenda jazz Indonesia, bermain piano seperti orang berbicara. Berdialog. Dia bisa memainkan jari-jemarinya, melekuk-lekuk memencet tuts-tuts dengan lincah. Seperti ada impuls yang terus membimbingnya tanpa pernah ingin berhenti.


Itulah yang dilakukan Bubi Chen pada 12 Oktober 2002. Saat itu ia hadir dalam Konser Jazz Bubi Chen & Launching Piano Kuno, berbarengan dengan penampilan Gerard Mosterd, koreografer asal Belanda.

Bubi Chen yang tampil di konser jazz yang digelar Unit Pelayanan Teknis Dinas Balai Pemuda (Surabaya) itu serasa terbuai. Ia memainkan piano kuno bermerek GrotnanSteinmeg. Piano itu peninggalan Belanda yang sudah berumur 96 tahun, dihitung sejak Balai Pemuda berdiri tahun 1907.

Yang paling mengesankan, Bubi yang telah malang melintang di berbagai even baik berskala nasional maupun internasional ternyata pernah memainkan pian itu saat itu berusia 16 tahun. Ia acap mengiringi acara dansa yang dihadiri menir-menir dan noni-noni Belanda.

Pengakuan Bubi Chen ini mengejutkan Nirwana Juda, kepala UPDT Balai Pemuda. Sebab, dia sendiri sebelumnya buta akan piano itu. Katanya, saat ia ditempakan di Balai Pemuda piano itu nyaris tidak terawat. Dibiarkan tergeletak begitu saja di salah satu ruangan Balai Pemuda. Nah, akhirnya muncul ide untuk memamerkan piano itu. Tapi itu semua butuh perjuangan ekstra. Ya, untuk memindahkan piano itu dari kantor ke Gedung Utama Balai Pemuda yang jaraknya 10 meter harus diusung 25 orang. Belum lagi piano itu harus disetem hampir setengah hari.

Lantas, saat memainkan piano tua itu Bubi Chen sempat memutar memori lama saat ia memainkan komposisi lawas ‘Surabaya Oh Surabaya’. Komposisi cukup nostalgis. Mengingat komposisi itu seakan membuka lembaran masa silam, yang bertutur tentang semangat perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Saat tampil di Balai Pemuda setelah puluhan tahun, Bubi Chen juga mengungkapkan kekagumannya, terutama pada bangunan fisik Balai Pemuda.

Katanya, “Saya tak bisa membayangkan betapa kokohnya gedung ini setelah sekian tahun saya tak mengunjunginya.”

Balai Pemuda memang estetik. Langgam arsitekturnya yang mewarnai corak bangunan pergantian abad 19 ke 20 itu sangat beragam, dipengaruhi perkembangan arsitektur di Belanda. Di antaranya, neogotik, neorenaisans, neoklasik, niewe kunst (art nouveau versi Belanda), Amsterdam School, dan de stijl, yang berpengaruh pada aliran asitek kolonial di Surabaya.

Pengaruh itu juga bisa dilihat dari dominasi arsitek-arsitek Belanda yang berkarya di Indonesia. Keunikan yang membedakan arsitektur masa lalu Indonesia dengan negeri lain adalah kondisi bangunan di Indonesia telah disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan iklim tropis Indonesia.

Di mata Bubi Chen, fungsi Balai Pemuda seyogianya menggugah kesadaran seniman Surabaya. Hanya saja, lagi-lagi soal keterbatasan ruang untuk berekspresi dan modal menjadi kendala utama. Jika musik jazz ingin digairahkan lagi, Bubi Chen sepenuhnya percaya akan lahir musisi-musisi jazz berbobot dari Surabaya. Lahirnya musisi-musisi andal itu sangat memungkinkan mengingat Surabaya memang sempat menjadi barometer jazz di Tanah Air.

Untuk memulainya, Bubi Chen menawarkan langkah yang paling sederhana. Yakni, dengan menggelar secara periodik pergelaran musik jazz tiga bulan sekali. Dari situ akan terbentuk komunitas jazz yang selama ini terlihat tidur.

Apa yang dikatakan Bubi Chen tersebut diamini Ireng Maulana dan Margie Segers. Saat tampil bareng dalam konser jazz pada 19 Desember 2003, Ireng yang dikenal sebagai gitaris serba bisa berucap, “Jangan pernah lupakan sejarah. Surabaya dulu adalah barometer musik jazz di Tanah Air.”

Ireng Maulana mengunkapkan rasan-rasan para musisi jazz dulu seperti Maryono, Bill Saragih, Jack Lesmana, Benny Mustofa, Benny Likumahuwa, dan masih banyak lagi. Kata mereka, kepuasan belum klimaks kalau belum bisa tampil di Surabaya dan beroleh sambutan meriah. Bahkan, ucap Ireng, Surabaya pantas bersyukur punya Bubi Chen. Dia telah memberikan banyak inspirasi dan kenangan bagi musisi-musisi jazz di Tanah Air.

Lahir di Surabaya 9 Februari 1938, Bubi Chen mulai aktif bermain piano sejak umur tiga tahun. Dia mulai belajar serius umur lima tahun. Saat itu ayahnya, Tan Khing Hoo, menitipkan Bubi kepada Di Lucia, seorang pianis berkebangsaan Italia, untuk belajar piano. Kendati belum bisa membaca, bahkan memahami not balok, Di Lucia bisa mengajarinya.

Ketertarikan mempelajari jazz lantaran Bubi Chen sering melihat latihan dan pertunjukkan kakak-kakaknya, Jopie dan Teddy Chen. Ia sempat belajar piano klasik dengan Josef Bodmer, guru piano berkebangsaan Swiss, dan menekuni musik-musik karya Mozart, Beethoven, dan Chopin.

Tatkala belajar bersama Bodmer ini, suatu ketika Bubi tertankap basah oleh sang guru sedang memainkan aransemen jazz. Bodmer tidak marah, justru malah berpesan, "Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu.” Bubi Chen belajar cukup lama hingga umur 16 tahun pada Josef Bodmer.

Bubi Chen belajar jazz secara otodidak. Dia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York, antara tahun 1955-1957. Salah satu gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman. Sejak anak-anak bakat Bubi Chen sudah terasah. Ia mengaku senang mendengarkan musik jazz. Dari seni Tatum sampai Artie, dan Benny Goodman.

Bersama mendiang Jack Lesmana, mendiang Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustofa dan kakaknya, Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesian All Stars. Kelompok ini sempat berangkat dan tampil di Berlin Jazz Festival pada 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelurkan album yang kini menjadi barang langka, Djanger Bali. Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat Tony Scott.

Bubi Chen pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit (pianis jazz terkenal, almarhum, red) dan diproduseri Suyoso Karyoso yang akrab dipanggil Mas Yos. Tahun 1959 bersama Jack Lesmana, Bubi Chen membuat rekaman di Lokananta. Rekaman bertitel Bubi Chen with Strings ini pernah disiarkan oleh Voice of America dan dikupas oleh Willis Conover, kritikus jazz ternama dari AS.

Bubi Chen juga pernah membentuk Chen Trio bersama saudaranya Jopie Chen dan Teddy Chen di tahun 1950-an. Di tahun yang sama ia juga bergabung dengan Jack Lesmana Quartet yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Di Kota Pahlawan, Surabaya, Bubi Chen membentuk sebuah grup bernama The Circle bersama Maryono (saksofon), FX Boy (bongo), Zainal (bas), Tri Wijayanto (gitar), dan Koes Syamsuddin (drums).

Bubi Chen menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa di antara ‘murid’ Bubi yang cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng, dan Widya Kristanti.

Bubi Chen telah merilis banyak album. Beberapa di antaranya: Bubi Chen and His Fabolous 5, Mengapa Kau Menangis, Mr Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Play Soft and Easy, Kedamaian (1989), Bubi Chen and His Friends (1990), Bubi Chen-Virtouso (1995), Jazz the Two of Us (1996), All I am (1997)... dan masih banyak lagi.

Kemampuan Bubi Chen ini mendapat dukungan keluarganya, yang sama-sama berbakat main musik. Teddy Chen, kakak tertua, pemain biola jempolan, juga tertarik dengan jazz. Kakak dan ayahnya, pemain biola, memang lebih tertarik dengan musik jazz. Tahun 1965 Bubi Chen sempat bergabung dengan band pimpinan Tonny Scott, pemain jazz dari Amerika Serikat. Tony Scott akhirnya memilih Bubi Chen bergabung dengannya dalam tur-tur musik jazz.

Tahun 1967 Bubi Chen membuat konser keliling Eropa dengan sejumlah bintang Indonesia, antara lain Jack Lesmana (gitar), Jopie Chen (bas), Maryono (saksofon), Benny Mustafa (drum), dan Kiboud Maulana (gitar kedua). Dia juga tampil berkolaborasi bersama Tonny Scott di kelompok jazz bersama Albert Mangelsdorf, Benny Bailey, dan Philly Joe Jones. Dan pada tahun yang sama Bubi Chen tampil lagi bersama Tonny Scott pada festival jazz di Berlin dan mendapatkan predikat sebagai pemain piano internasional (band internasional). Joachim Ernst Berendt, pengamat jazz dari Jerman, memanggilnya sebagai Tatum se-Asia.

Yamaha mengundangnya berkunjung ke pabrik dan sekolah musik Yamaha di Jepang. Pemerintah Australia mengundangnya berkunjung ke Australia, mengadakan penelitian, dan membuat perbandingan antara pendidikan musik dan pertukaran musisi pada 1979. Di tahun 1984, pemerintah Amerika Serikat mengundangnya tampil bersama saudaranya (Percy, Jimmy, dan Albert) dan Woody Shaw Quintet. Selama melawat dia membuat sebuah album jazz trio bersama Albert ‘Tootie’ Heath dan John Heard dan album jazz duet dengan pemain bass bernama Paul Langosh. Bubi Chen juga sempat mengunjungi dan meneliti beberapa konservasi musik dan sekolah di AS, dan berbincang-bincang dengan Willis Cannover dari Voice of America (Music USA).

Bubi Chen tak pernah melewatkan masa mudanya. Pernah suatu ketika Bubi Chen dan teman-temannya berangkat ke Pulau Garam, Madura. Kala itu ia berniat mencari sasaran yang bagus untuk objek foto, salah satu hobinya. Namun, di tengah jalan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Bubi yang duduk di depan telempar ke luar setelah membentur kaca depan yang hancur berantakan.

Bubi ingat, ketika sadar sudah tengkurap di rerumputan pinggir jalan. Lalu, apa yang pertama dilakukannya? Bubi langsung menggerakkan sepuluh jemari tangannya. Setelah tahu jemari itu masih utuh dapat digerakkan, Bubi pingsan lagi.

“Kupikir, waktu itu biarlah semuanya rusak asalkan janan jemari ini. Artinya, aku masih bisa main piano,” ucap Bubi Chen seraya tertawa. Akibat kecelakaan itu, wajahnya harus dijahit dan dia mengalami gegar otak ringan.

Bubi Chen adalah pianis yang seluruh jiwanya dicurahkan kepada musiknya. Apa pun yang keluar dari tangannya pada piano selalu mencerminkan musikalitasnya yang berakar pada jazz. Karyanya juga kerap menghiasi stasiun radio, misalnya Radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM di Santa Cruz, California, AS, yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat.

Bubi juga punya hobi khusus dalam melatih kesabaran: merakit miniatur mesin perang. Hobi ini, kata dia, bisa menekan emosinya yang sejak muda mudah sekali marah. “Atas saran dokter saya diajurkan melakoni hobi yang bisa mengendalikan emosi. Lantas, saya coba memancing tapi gagal karena tak sabar. Kemudian saya bealih ke hobi utak-atik. Hingga sekarang koleksi hasil hobi saya sudah beraneka ragam,” paparnya.

Untuk merakit miniatur ini Bubi Chen butuh waktu 30 sampai 40 jam. Bahkan, bila ditotal mencapai dua tahun. Bubi menyelesaikan setiap ada waktu luang. Lama waktu merakit bergantung pada mudah-sukarnya bentuk pesawat. “Terkadang ada pesawat yang terlihat simpel bentuknya, tapi ternyata rumit bagian-bagiannya,” kata Buby Chen.

Siapa sangka kalau Bubi Chen sejak kecil memang sangat menggemari perang. Namun, bukan berarti ia cinta peperangan. "Saya gemar membaca cerita, perlengkapan, dan trik perang melalui buku-buku. Kalau dihitung, sudah tak terhitung lagi buku-buku saya soal perang,” katanya.

Kegemaran ini dilakoninya sejak awal 1960-an. Ketika itu ia membeli miniatur pesawat tempur dan tank tempur yang masih belum berbentuk. Koleksi-koleksi itu semula didapatkan dari Amerika Serikat dan Inggris. “Dulu mendapatkannya sangat sulit, sehingga saya mendatangkan langsung dari AS dan Inggris sebanyak satu peti tiap kali datang. Kalau sekarang mungkin sudah banyak, ya, di Surabaya.”

Sedikitnya 300 buah telah selesai dia rakit. Dia sendiri masih menyisakan sejumlah rakitan. Pesawat-pesawat itu mirip benar dengan aslinya meski bentuknya kecil. Namanya juga miniatur. Kalau pesawat aslinya terkena bom pada bagian lambungnya, maka pesawat yang dirakit Buby pun gosong warnanya seperti kena bom.

"Memang ada rasa kesal saat merakit. Tapi setelah jadi pesawat tank dan tempur, saya measa senang dan puas. Saya nggak peduli diolok teman (saya) seperti anak kecil. Kalau saya mengunjungi toko mainan untuk membeli koleksi, teman-teman pasti mengatai saya mengunjungi TK,” ujar Bubi Chen lalu terkekeh.

Di usianya yang mulai merapat senja, Bubi Chen sangat mensyukuri hidup. Dia tak pernah ngersulo (mengeluh), puluhan tahun bergelut di musik jazz. Baginya, jazz telah memberinya spirit untuk tetap hidup. Dan jazz telah memberikan kedamaian hati hingga membawanya sebagai sang maestro jazz Indonesia.

BIODATA SINGKAT

Nama : Bubi Chen
Lahir : Surabaya, 9 Februari 1938
Alamat : Jl Kupang Indah I/16 Surabaya
Istri : Endang Sulisetyaningsih
Anak-anak : Howie Chen, Benny Chen, Yana Chen, Serena Chen

No comments:

Post a Comment