24 June 2006

Bedah Bukune Yudi


Suatu ketika Cak Kartolo (59) melawak di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumberporong, Lawang. Penontonnya pasien yang dianggap sudah agak waras, bisa diajak berkomunikasi. Cak Kartolo pun memainkan berbagai jurus lawakan untuk mengundang tawa penonton.

Tidak mempan. Ratusan penonton itu diam saja. “Saya dan teman-teman bingung, apanya yang salah,” cerita Cak Kartolo di acara peluncuran buku ‘Sketsa Tokoh Surabaya’, di Hotel Tunjungan, Sabtu (24/6) siang. Buku ini karya Agus Wahyudi, wartawan RADAR Surabaya.

Beberapa saat kemudian, cerita Cak Kartolo, layar panggung ambruk. Dengan wajah merah padam, pelawak kelahiran Pasuruan 2 Juli 1947 ini tergopoh-gopoh menyelamatkan diri. Eh, para penghuni RSJ Sumberporong tertawa terbahak-bahak. “Sing gendheng tibakno ludruke,” kenang Cak Kartolo disambut tawa seratusan hadirin.

Acara peluncuran sekaligus bedah buku ini menjadi hidup berkat cerita-cerita ringan, celetukan, serta pernyataan ceplas-ceplos dari Cak Kartolo. Selain dia, dihadirkan dua pembicara lain, yakni Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi serta Prof Johan Silas, ahli tata kota dari ITS.

Mereka membahas buku sketsa 21 tokoh Suroboyo itu. Kota Surabaya yang baru saja merayakan hari jadi ke-713 itu sebetulnya kaya tokoh. Tokoh bisnis, politik, birokrat, seniman, olahragawan, pendidik, aktivis LSM, hingga pelawak. Lantas, kenapa Agus Wahyudi (34) hanya memilih 21 orang untuk buku perdananya? Pertanyaan, yang sebetulnya sudah lama diantisipasi, itu akhirnya muncul dalam diskusi.

Agus Wahyudi sendiri mengakui keterbatasan itu. “Ini hanya awal. Kalau ada teman-teman penulis yang mau melanjutkan, silakan,” ujar redaktur metro (kota) RADAR Surabaya itu, diplomatis.

Namun, secara umum para pembicara maupun audiens mengapresiasi kesungguhan Agus Wahyudi menggali sisi-sisi lain di balik 21 tokoh itu. Siapa tak kenal Cak Kartolo? Gombloh, Johan Silas, Kaisar Victorio, Suparto Brata, Buby Chen, Nyoo Kim Bie, Lim Keng, Soekirno, Rusdy Bahalwan, RM Soekotjo, Poernomo Kasidi. Dua tokoh terakhir ini mantan wali kota Surabaya yang dianggap paling sukses saat menjabat.

“Saya kenal betul Pak Poer dan Pak Kotjo. Kedua orang ini luar biasa,” puji Johan Silas, guru besar ITS yang kerap dimintai masukan oleh kedua bekas wali kota ini.

Menurut Silas, Pak Poer dan Pak Kotjo semakin menarik karena latar belakang mereka sebenarnya bukan orang pemerintahan. Pak Poer dokter, Pak Kotjo tentara. Pak Poer sampai sekarang dikenang sebagai ‘wali kota got’, Pak Kotjo berjasa memodernisasi Kota Surabaya.

Mengapa keduanya paling sukses sukses sebagai wali kota?

“Mereka mau mendengarkan masukan dari luar, termasuk orang kampus seperti saya,” ujar Johan Silas. “Mereka pandai memilih staf yang hebat,” tambah Cak Kadaruslan, ketua Putra Surabaya (Pusura).

Setelah membaca buku setebal 321 halaman ini, Wawali Arif Afandi mengaku menemukan jawab atas beberapa pertanyaan mendasar seputar Surabaya. Juga banyak inspirasi dari para tokoh. Menurut Arif, figur-figur yang diangkat Agus Wahyudi layak menjadi teladan karena tiga hal: sederhana, memberi inspirasi, dan berbuat untuk orang lain.

“Lain dengan selebriti, mereka terkenal, populer, tapi untuk dirinya sendiri. Kecuali Cak Kartolo,” ujar bekas pemimpin redaksi Jawa Pos itu.

Seperti juga Johan Silas, Wawali Surabaya menilai masih banyak tokoh-tokoh di Kota Surabaya yang layak diangkat sebagai inspirasi warga kota. Dia menyebut kompleks pecinan di Kembang Jepun yang terkesan kumuh, tua, sederhana. Di balik tampilan luar seperti itu, ternyata jumlah uang beredar di sana mencapai miliaran rupiah per hari.

“Saya menilai Agus Wahyudi ini bukan wartawan biasa. Dia wartawan serius, dan itu sangat langka di zaman serba instan seperti ini. Asal tahu saja, sekarang ini wartawan-wartawan dihinggapi budaya kloning, copy-paste,” tukas Arif Afandi.

Dia memuji karya Agus Wahyudi ini sebagai kumpulan features yang berhasil merangsang keinginantahuan pembaca tentang tokoh tertentu.

No comments:

Post a Comment