16 June 2006

Balawan di FSS 2006


Menjalin Dialog antara Timur dan Barat

Jumat, 16 Juni 2006

Tak salah kalau panitia Festival Seni Surabaya (FSS) memilih I Wayan Balawan (33) sebagai pamungkas perhelatan yang dimulai pada 1 Juni lalu. Kamis (15/6) malam, Balawan bersama grupnya, Batuan Ethnic Fusion, berhasil menerjemahkan dengan baik Dua Dunia: Perubahan dan Kesinambungan, tema FSS ’06.

Dengan gitar leher ganda (two necks guitar) buatan Julius Salaka asal Porong, Sidoarjo, Balawan memosisikan diri sebagai wakil dunia ‘moderen’, sementara para pemain instrumen Bali mewakili kubu ‘tradisi’. Dua kubu ini diupayakan agar bisa berjalan seiring. Dan itu tidak mudah mengingat karakter musik Barat dan Timur pada dasarnya memang beda.

''Saya akui memainkan musik seperti ini tidak gampang. Kami harus terus-menerus melakukan dialog, saling menyesuaikan diri, terus-menerus,” ujar Balawan kepada saya.

Sadar bahwa penonton Indonesia kurang akrab dengan ramuan musik jazz etnik, Balawan banyak bercanda dengan penonton. Mulai cerita-cerita ringan tentang Bali hingga logat orang Bali yang ‘aneh’. Lebih istimewa lagi si ‘magic finger’ ini dikarunia talenta musik luar biasa yang membuat dia bisa mengocok perut penonton dengan bebunyian aneh dari gitarnya.

“Main apa ya? Panitia bilang pokoke main saenake awe, ya wis... kita ngawur-ngawuran saja,” ujar Balawan enteng. Penonton gerrr.

Begitulah. Komposisi-komposisi jazz etnik versi Balawan malam itu memang ‘ngawur-ngawuwan’, rancak, dinamis, penuh improvisasi, yang bikin penonton terpingkal-pingkal. Diawali Bird Song, kemudian Janger, Magic Reong, Country Beleganjur, Globalism, Meli Tuak, bahkan What a Wonderful World (dari Louis Armstrong) diracik sedemikian rupa sejalan dengan karakter musik Bali yang memang dinamis.

“Unsur kecepatan dan kelincahan Bali itu yang saya eksplorasi,” tutur lulusan Austalian Institute of Music, Sydney, itu. Karena itu, Balawan mengaku bingung menemukan komposisi slow untuk mendinginkan suasana konser di Balai Pemuda yang panas karena AC rusak berat.

Secara umum, kelebihan Balawan adalah penguasaan teknik gitar yang dahsyat serta penguasaannya pada musik tradisi kampung halamannya, Bali. Ditambah dengan modifikasi gitar made in Sidoarjo, Balawan dengan enteng mampu menghasilkan sekian macam bunyi. Di nomor Dialogue Frogman and Reong, misalnya, Balawan menghasilkan percakapan antara katak dengan seorang gadis (atau waria). Bercanda, membentak, marah-marah, menggelundungkan batu besar, hingga rayuan gombal. Sekitar 500 penonton pun sakit perut lantaran terlalu banyak tertawa.

Wayan Balawan mengatakan, gitar synthesizer dua leher yang ia miliki sekarang membuat ia bisa membuat suara atau bebunyian apa saja tanpa kesulitan.

“Yah, mirip keyboard-lah. Kalau ditanya berapa jenis bunyi yang bisa dihasilkan, saya jawab tidak terbatas. Bunyi apa saja bisa. Dan itu yang saya eksplorasi di Festival Seni Surabaya ini,” ujar gitaris muda itu.

Konsep ‘Dua Dunia’ juga diusung grup jazz etnik Krakatau bersama Rafli (seniman Aceh) pada pembukaan FSS, 1 Juni lalu. Kalau Balawan mengusung kerangka musik tradisi Bali, Krakatau berangkat dari musik tradisi Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kalah ancak dan eksotis.

Seperti Balawan, Dwiki Dharmawan sejak awal meniatkan Krakatau sebagai grup jazz yang berakar pada musik tradisi Nusantara, namun tetap dibalut dengan musik Barat universal. Nada-nada pentatonis Timur diusahakan kawin dengan diatonis Barat.

Ini bisa dibaca sebuah langkah nyata membangun dialog Timur-Barat secara berkesinambungan, terus-menerus, ajek, kendati tidak mudah. Di musik, khususnya jazz, dua peradaban itu tidak dibenturkan--ingat tesis The Clash of Civilization dari Samuel P Huntington--tapi dipadukan.

Mudah-mudahan inti pesan FSS ’06--Dua Dunia: Perubahan dan Kesinambungan--yang berhasil disajikan Balawan dan Kakatau, bisa menyebar di Tanah Air.

No comments:

Post a Comment