05 June 2007

Naik Becak di Singapura


Cak Agus ikut menjajal becak khas Singapura.

Di mana ada orang kaya, di situ ada orang miskin. Di balik gedung-gedung yang tinggi menjulang, pesta pora di hotel berbintang, ternyata ada banyak tukang becak miskin melintas di jalan raya Kota Singapura.

Mendengar kami berbicara dalam bahasa Indonesia, Wan Ahmad (sekitar 50 tahun) langsung menyapa. "Mau ke jalan-jalan? Boleh saya antar? Nggak mahal kok," begitu sapaan tukang becak yang mangkal tak jauh dari Bugis Village, Singapura, itu.

Kawasan ini memang favorit orang Indonesia karena banyak dijual barang-barang cendera mata macam t-shirt, gantungan kunci, pakaian balita, aneka kerajinan, hingga CD/VCD. Harganya cocok untuk ukuran dompet orang Indonesia yang tak tipis. Tawar-menawar sangat dianjurkan di Bugis Village.

Nah, Wan Ahmad ini duduk manis di atas becaknya yang sudah kusam.

"Bapak dari Indonesia atau Malaysia?" tanya saya.

"Oh, saya asli Singapura. Saya lahir di sini, orang tua saya pun orang Singapura. Tapi saya Melayu sehingga mirip kalian, orang Indonesia hehe...," ujar Wan Ahmad dengan ramah.

"Saya punya istri orang Riau, makanya saya sering pulang ke Riau."

Suasana pun gayeng, mirip ketemu kawan lama. Maka, peluang ini kami manfaatkan untuk mengorek sisi-sisi lain Singapura yang penuh dengan 'hutan' beton itu. Menurut Wan Ahmad, tukang becak di Singapura yang sekitar 300 orang semuanya warga negara Singapura. Hampir semua etnis (Tionghoa, Melayu, India) menekuni pekerjaan yang mengandalkan otot kaki itu.

"Jangan dikira semua orang China itu kaya. Samalah macam kita, ada yang kaya, ada yang miskin," ujar pria yang mengaku sudah 20 tahun jadi tukang becak.

Tiga ratusan becak tadi mangkal di tiga pusat keramaian. Mereka hanya boleh menunggu penumpang di areal khusus, seluas lapangan bola voli. Dilarang keras mencari penumpang di jalan raya, karena dendanya sangat mahal.

"Singapura memang kota denda," begitu pepatah terkenal di sana.

[Jangankan becak yang tidak tertib, pengunjung restoran yang menyisakan makanan di atas 100 gram didenda besar.]

"Saya duduk saja di sini. Kalau ada yang mau pakai, silakan. Anda pun boleh ikut saya pusing-pusing di Singapura," ujar Wan Ahmad seraya tersenyum.

Saya pun tergoda untuk 'mencicipi' becak Singapura. Asal tahu saja, becak Singapura ini sedikit berbeda dengan becak Surabaya. Tetap roda tiga, hanya pengemudinya mengayuh dari samping kanan. Wan Ahmad mengaku sudah tahu desain becak ala Indonesia.

"Kasihan tukang becak di Surabaya. Bagaimana kalau penumpangnya kentut?" celetuknya. Kami pun tertawa bersama.

Singkat cerita, saya minta Wan Ahmad berputar-putar senilai 5 dolar. Tidak lebih. "Okelah. Tapi bayarnya nanti saja kalau sudah pulang. Jangan bayar di muka," ujarnya ketika disodori uang 5 dolar.

Maka, kami pun melintas beberapa ruas jalan utama Singapura yang ramai, tapi sangat tertib. Wan Ahmad tak perlu 'bertarung' dengan kendaraan bermotor seperti di Surabaya karena becak selalu diberi jalan oleh pengendara mobil. "Saya kan warga negara yang juga bayar pajak. Saling hormatlah," tutur Wan Ahmad yang senang bercerita itu.

Di atas becak, Wan Ahmad bicara banyak soal warga Singapura yang gila uang, gadis-gadis Indonesia yang terpaksa menjual diri di Singapura, posisi orang Melayu, hingga pemilihan umum. Menurut dia, pemilu yang baru saja dimenangkan secara mutlak oleh Partai Aksi Rakyat (PAP)--meminjam istilah Surabaya--hanya awu-awu belaka. Kenapa?

"Sebelum undian (pemilihan umum) PAP sudah menang. Kita tak usahlah bahas pilihan raya," tegas Wan Ahmad.

Tukang becak ini rupanya 'nrimo' dengan profesi sekarang. Padahal, ia bisa saja menekuni profesi-profesi lain yang memang diprioritaskan untuk warga negara Singapura seperti dirinya. Untuk menembus pekerjaan yang mengandalkan otak, Wan Ahmad tentu harus ikut training, kursus, pelatihan, dan sebagainya.

"Repotlah. Hidup ini untuk apa sih? Saya kerja begini saja sudah bisa hidup, membiayai anak istri, bisa ke Indonesia kapan saja saya mau," ujar Wan Ahmad sambil tak lupa mengutip ayat-ayat Alquran.

"Orang yang gila uang itu tidak akan bahagia," tambah 'ustad' jalanan itu.

Lalu, sampai kapan Wan Ahmad mengayuh becak?

"Yah, selama saya masih kuat.... Eh, jangan lupa kalau ingin naik becak di Singapura, sila datang ke Bugis Village, tanya tukang becak nama Wan Ahmad. Saya selalu di sini," kata Wan Ahmad saat tiba di pangkalan semula, Bugis Village.

Kami pun berpisah.

1 comment:

  1. Hi Mas Hurek,

    Still remember me?
    Salut deh, googling apa pun ketemunya tulisan mas Hurek. Hehehe...

    Aku pernah naik taksi di Spore, dapet supir yg doyan ngobrol jg. Padahal waktu itu aku dan 2 orang tmn lg letih bgt, pulang kerja trus nonton film sampe midnight.

    Dia cerita macem2, nanya kita dari negara mana lah, kerja apa lah, dll. Dia blg bangga sama kita bisa kerja di Spore sbg profesinal, krn banyak WNI di sini kerja sbg house keeper.

    Ujung2nya dia cerita, kalo kebanyakan wanita di Spore melihat pria dari 5C.

    Cash,
    Credit card,
    Car,
    Condo,
    Cheese burger....

    Kita akhirnya ketawa bersama juga, dengerin gaya ngomongnya dia yg lucu (dgn aksen Singapore-English)

    Keep on writing ya mas Hurek....

    /may
    FS: maybeagb@yahoo.com
    YM: mei_alfagama@yahoo.com
    maylina.blogspot.com

    ReplyDelete