20 May 2006

Catatan Jumaadi dari Sydney

Meskipun hubungan diplomatik Indonesia dan Australia pasang-surut, warga Indonesia di Australia berusaha menjalin saling pengertian di antara kedua bangsa. Seniman asal Sidorjo yang mukim di Sydney membagi pengalamannya melakukan ‘diplomasi budaya’ dari sekolah ke sekolah di Australia.

Oleh JUMAADI, Sydney

Saat ini Sydney sedang musim gugur. Cuaca dingin, apalagi beberapa hari ini hujan. Maka, kota sedikit kelihatan sendu. Tapi, saya suka musim gugur ketimbang musim panas yang menyengat, berangin, dan berkeringat.

Pekan depan saya berangkat ke daerah yang cukup dingin, Riverina. Letaknya di perbatasan New South Wales dengan Victoria. Riverina, karena memang daerah tersebut dilewati sungai besar. Saya dan seorang teman Australia (Max Libermen namanya) akan berkemah di taman nasional di sepanjang sungai yang melewati beberapa kota kecil itu.

Di setiap daerah permukiman di sepanjang sungai itu ada satu atau dua sekolah. Nah, di sekolah itulah kami akan memainkan wayang overhead projector dan mendongeng. Pertunjukan berlangsung 45 menit. Namun, untuk memasang dan membongkar panggung masing-masing perlu waktu 40 menit. Jadi, setiap hari kami kan mengunjungi dua sekolah, dengan setidaknya dua kali petunjukan. Jarak antara sekolah yang satu dengan lainnya kurang lebih 60 km.

Inti pertunjukan tersebut adalah menjelaskan Indonesia dari kacamata saya (Jumaadi, red). Kacamata seorang anak gembala yang kehilangan ladangnya, namun masih menyimpan indah kenangannya. Dalam pertunjukan itu saya bercerita menggunakan wayang, slides, gitar, nyanyian, nembang, serta menggambar.

Cerita yang sering saya bawakan tentang seorang perjaka yang akhirnya meminang Bidadari, Nawang Wulan.

Anda pasti tahu bahwa ini dongeng tentang Jaka Tarub. Sang Bidadari harus kembali ke surga. Demikianlah, cerita itu menjadi mitos terpenting bagi kaum agraris di Tanah Air, khususnya Pulau Jawa. Selain itu ada adegan Rama, cerita dari India yang diadopsi ala Jawa.

Pertunjukan saya mulai dengan menganyam rumput di hadapan 200 siswa di aula mereka. Sembari menganyam rumput, saya perkenalkan diri.

“Nama saya Jumaadi. Juma karena lahir pada hari Jumat, dan Adi berarti bagus. Jadi, Jumaadi berarti anak laki-laki yang lahir di hari Jumat dan berhati bagus. Dan seterusnya,” kata saya dalam bahasa Inggris, tentu saja.

Selanjutnya, saya jelaskan posisi saya sebagai kakak tertua yang pekerjaannya menggembala kambing, kerbau, dan 300 bebek di bagian timur Sidoarjo, yang saat itu masih persawahan, namun kini dipenuhi rumah-rumah. Bagaimana ibu saya bangun jam empat pagi menanak nasi dan bapak ke musala, terus ke sawah atau tambak.

Sedangkan saya, sebelum matahari terbit harus sudah mengumpulkan telur bebek di keranjang. Dan ibu membawanya ke pasar untuk ditukar dengan sayuran, kue manis, daging, buku tulis, pensil, sarung, baju baru, beras, bahkan pada suatu pagi sepeda baru.

Kesempatan untuk mendongeng itu sebenarnya bermula dari ketertarikan orang Australia akan karya-karya lukis dan instalasi kecil saya. Kemudian saya diundang di pusat kesenian dan sekolah-sekolah untuk ceramah tentang kesenian saya dan asal-muasal penciptaannya.

Saya juga beruntung telah memenangkan beberapa penghargaan dan hadiah serta bea siswa di Australia. Saat ini, selain mengajar kesenian, saya juga menyelesaikan pascasarjana di jurusan seni lukis.

Kesenian yang saya tekuni adalah bagian dari gerakan kesenian kontemporer yang angkuh, keren, dan sok modern. Saya masih bisa keren, gagah, namun tetap saja sebagai bagian dari dunia kecil, pada kenangan masa kecil. Dengan gambar-gambar kecil, suara orang-orang kecil. Suara saya sendiri.

Saya bangga dengan ini. Karena di dunia dewasa, orang-orang selalu memberikan ketakjubannya pada anak-anak yang polos dan manis, bukan? Pada kacamata kecil ada keajaiban besar. Seperti perahu-perahu kecil yang menaklukkan lautan besar dengan keelokan dan keseimbangannya.

Bercerita di hadapan anak-anak Australia itu sangat memberikan kepuasan batin. Setiap kali saya tuturkan latar kehidupan saya, mereka tercengang dan seolah ‘cemburu’. Meskipun sekarang saya hidup di kota Sydney, yang besar, bergumul dengan makhluk manusia dari seluruh dunia, saya tahu di mana harus berpijak. Sebab, nyanyian masa kecil dan kidung di bawah rembulan selalu mengiang dan menunjukkan jalan.

Ketika orang meneriaki dunia Barat yang kejam. Ketika Indonesia marah karena urusan Papua. Saya bercerita di hadapan 200 anak per sekolah, dan beberapa bulan ke depan saya akan mengunjungi 80 sekolah. Bercerita tentang kedamaian. Berdialog tentang bahasa hati, dan mengajak mereka menyanyi bersama Ampar-Ampar Pisang, Di Sini Senang di Sana Senang, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Jaranan. Saya yakin hati mereka akan terbuka untuk melihat Indonesia dari kacamata yang sahaja.

Politik dan pemerintahan terlalu besar bagi orang seperti saya. Tapi kasih sayang dan cinta tidak pernah cukup untuk direguk dan disiramkan kembali. Anak-anak itu biasanya bercerita atas kunjungan kami kepada kerabatnya, orang tuanya. Mereka bahkan membuat gambar, menulis surat kepada saya.

Mereka mulai merasai Indonesia. Merasai denyut napas kerbau-kerbau dan itik-itik. Merasakan hangatnya telur Nusantara.

No comments:

Post a Comment