06 May 2006

ISA dan Kemakmuran Malaysia

Aksi-aksi teroris yang merepotkan aparat keamanan di Indonesia, khususnya sepak terjang Noordin Mat Top, lelaki kelahiran Johor, Malaysia, beserta para pengikutnya terus menjadi perhatian masyarakat negeri serumpun ini. Di Malaysia sendiri, para teroris sama sekali tidak mendapat tempat. Kenapa?

NEGARA jiran itu punya Akta Keselamatan Dalam Negeri atau Internal Security Act (ISA). Dengan ISA itu, pemerintah Malaysia bisa menahan siapa saja selama dua bulan, dan dengan kewenangan Menteri Dalam Negeri, penahanan itu bisa diperpanjang menjadi dua tahun.

“Itu sebabnya aksi terorisme tak tumbuh subur di sini,” ucap Mohamad Nasruddin bin Ibrahim, warga Kuala Lumpur, mengenai kondisi Malaysia yang relatif bebas dari aksi terorisme. Padahal, kita tahu gembong-gembong teroris seperti Dr Azhari dan Noordin Mat Top berasal dari Malaysia.

Sejatinya, pemberlakuan ISA tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari warga Malaysia, khususnya aktivis hak asasi manusia (HAM). Maklum, dengan kewenangan yang sangat luas itu, setiap warga yang dianggap bermasalah bisa dicokok tanpa proses peradilan. Dan ini banyak dilakukan terhadap tokoh-tokoh politik seperti Anwar Ibrahim. Bekas Menteri Keuangan Malaysia ini bukan saja dikirim ke penjara, tapi juga dianiaya sampai babak belur.

Meski demikian, warga Malaysia seperti Nasruddin, menganggap ISA ini sangat efektif dalam menghentikan aksi-aksi terorisme di negaranya. Kondisi Malaysia stabil, aman, dan itu mendorong investor untuk menanamkan modalnya di sana. Bandingkan dengan Indonesia yang sampai sekarang terus digoyang aksi terorisme.

Seperti Indonesia, perekonomian Malaysia sebetulnya juga terkena hantaman krisis ekonomi pada 1997. Namun, negeri jiran ini mampu bangkit dan terus melejit hingga saat ini. Sektor pertanian, manufaktur, tumbuh subur dengan pertumbuhan ekonomi jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Cyber Jaya merupakan kawasan industri seluas 3.000 hektare yang dibangun khusus untuk pengembangan teknologi tinggi. Kini, kota baru di dekat pusat pemerintahan, Putra Jaya, itu menjadi pusat bisnis teknologi informasi (IT) terkemuka di dunia. Setidaknya 900 perusahaan IT kelas dunia membangun kantor cabang di sana. Bahkan, beberapa di antaranya membangun kantor pusatnya di Cyber Jaya.

Berkat ketegasan pemerintah menjalankan penegakan hukum, disiplin, dan kerja keras warganya, Malaysia kini jauh meninggalkan Indonesia. Pendapatan per kapita Malaysia telah melesat di atas USD 3.000. bandingkan dengan Indonesia yang masih bergerak pada kisaran USD 800.

Sangat ironis, memang. Di satu sisi, Malaysia di era kepemimpinan Mahathir Mohammad begitu keras mengkritik pemerintahan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, namun di sisi lain pemerintahannya memberikan angin segar kepada pengusaha multinasional dari AS dan Eropa. “Say no to politics, say yes to money,” kata Mahathir suatu ketika.

Betahnya para investor menanamkan modalnya di Malaysia tidak lain karena iklim investasi yang sangat kondusif. Tidak seperti di Indonesia yang buruhnya terus-menerus melakukan aksi mogok massal, unjuk rasa, serta perusakan fasilitas umum.

No comments:

Post a Comment