25 May 2006

Rumah Azahari di Malang



Peristiwa penggerebekan Dr Azahari Husin, gembong teroris asal Malaysia, bersama anak buahnya sudah lima bulan berlalu. Namun, hingga kini rumah kontrakan Azahari di Vila Flamboyan Raya Blok A1/7 Batu, Kabupaten Malang, masih terus didatangi wisatawan dari dalam dan luar negeri.


SEBUAH rombongan turis sawo matang tiba-tiba mampir ke bekas rumah Azahari yang masih berantakan itu, Rabu (17/05/2006). Garis polisi atau police line masih melilit rumah yang hancur terkena bom pada 9 November 2005 lalu. Semrawut, tak ada keindahan sama sekali.

Namun, turis-turis ini sibuk mengamati, mengambil gambar, sambil berbincang di antara mereka. Logat bahasa mereka mengingatkan Suyati (58) pada Dr Azahari atau Noordin M Top. Omong punya omong, ternyata sekitar 20 pelancong ini memang berasal dari Malaysia.

"Saya tanya sama mereka, apakah kalian mengenal dekat Azahari dan Noordin? Jangan-jangan masih keluarganya," cerita Suyati yang saya temui di rumahnya, pekan lalu.

Rumah Suyati, yang akrab disapa Bu Salamun ini, persis di depan bekas kontrakan Azahari Husin, Noordin M Top, Arman, Muhammad Cholily alias Yahya Antoni, serta beberapa kaki tangan Azahari-Noordin.

Para pelancong Malaysia ini pun ramai-ramai membantah punya hubungan dengan Azahari dan Noordin. Mereka datang dari Kuala Lumpur dan sekitarnya (negara bagian Selangor), satu Kerajaan (negara, red) dengan sang gembong teroris, namun tak punya hubungan apa-apa. Mereka justru sangat menentang sepak terjang duet teroris top Asia Tenggara itu.

"Di Malaysia mereka itu justru dikejar-kejar," tutur Suyati menirukan kata-kata pelancong asal Malaysia itu.

Begitulah. Hampir setengah tahun terjadi penggerebekan Azahari, yang diikuti aksi tembak-menembak antara pasukan Densus 88 Antiteror/Polri, di kawasan sejuk itu. Azahari dan Arman tewas. Namun, masyarakat masih tetap penasaran, ingin melihat langsung tempat persembunyian si gembong teroris.

Menurut Suyati, juga saksi mata, hampir setiap hari selalu ada pengunjung yang datang menengok bekas rumah Azahari. "Yah, saya pasti jadi tempat bertanya mereka. Wong rumah saya kan cuma beberapa meter dari tempatnya Azahari," ujar Suyati.

Dibandingkan dengan akhir tahun lalu, ketika kasus Azahari masih ramai dibicarakan, jumlah pengunjung 'objek wisata' ini sudah jauh menurun. Dulu, November-Desember 2005, hampir tiap hari pengunjung membeludak sehingga kawasan Flamboyan pun macet. Di akhir pekan, Sabtu-Ahad atau hari libur nasional, jangan tanya lagi.

"Waktu itu jualan kita ramai sekali," kenang Suyati.

Wanita berbusana muslim ini membuka kafe makanan kecil serta gerai penjualan cendera mata persis di depan bekas rumah kontrakan Azahari dan Noordin M Top.

Kini, kemacetan dan hingar-bingar pedagang kaki lima di kompleks bekas rumah teroris itu tak ada lagi. Tapi tidak berarti minat warga untuk datang ke sana surut sama sekali. Contohnya, ya, 20-an pelancong asal Malaysia itu tadi.

Menurut Suyati, kalau ada acara konferensi atau rekreasi di kawasan Malang Raya, khususnya Kota Batu, biasanya orang menyempatkan diri datang ke Flamboyan Raya A1/7. "Seperti orang-orang Malaysia itu, ya, mereka mampir karena kebetulan ada kunjungan ke Surabaya. Sebelumnya juga ada pengunjung dari luar negeri, orang kulit putih," tutur Suyati seraya tersenyum.

Wali Kota Batu Imam Kabul sempat mengemukakan rencana membuat monumen antiterorisme di bekas rumah kontrakan Azahari dan Noordin M Top. Tidak sulit, tentu, membuat monumen sederhana.

Hanya saja, program untuk menambah objek wisata baru di Batu belum bisa terwujud karena Mabes Polri belum mengizinkan. Sebab, rumah sederhana milik Supomo, warga Surabaya, itu masih dijadikan barang bukti sidang kasus terorisme yang masih berlangsung di Denpasar dan beberapa kota lain.

1 comment:

  1. Salam kenal dari Outbound di Malang :)

    http://www.nolimitadventure.com/

    ReplyDelete