07 May 2006

Nama Orang Flores Timur



Aho tou dore misa teti Adonara Timur. Ina-ina gekata.. hehehe...



Nama itu pertanda.
Nomen est omen, kata pepatah Latin.
Shakespiere: what’s in a name!


Saya kira, orang Indonesia rata-rata menganut prinsip Latin itu tadi: nama itu pertanda. Ada artinya. Ada tata cara, ada aturan mainnya. Tidak asal-asalan memberi nama tertentu kepada anak yang baru lahir!

Begitulah, maka cara orang Jawa menamakan anaknya berbeda dengan orang Batak, Padang, Dayak, Makassar, Flores, dan seterusnya. Disesuaikan dengan tradisi atau adat di daerahnya masing-masing. Orang Jawa cenderung menamakan anaknya seindah mungkin, berisi doa atau harapan yang baik-baik tentang si anak.

Arif Budiman, agar anaknya arif dan budiman. Setyawati, anak agar setia. Sugiharto, kaya harta. Orang Jawa yang suka wayang kulit atau kejawen cenderung memilih nama-nama tokoh wayang untuk anaknya. Yang Islam santri lazimnya pilih nama berbau Arab atau Timur Tengah, mengadopsi nama nabi-nabi atau para sahabat nabi.

Bagaimana dengan Flores, Solor, Lembata, Adonara?

Prinsipnya sama dengan di tempat lain. Tempo doeloe nama-nama orang Flores, yang belum makan sekolah, itu hanya satu kata. Misalnya, Kopong, Payong, Kia, Laba, Terong, Deram, Bengan, Lipat, Ola, Kotak… dan seterusnya. Setelah agama Katolik dan Islam masuk, cara pemberian nama pun mengalami penyesuaian di sana-sini.

Nama-nama asli Flores dipertahankan, namun ditambah dengan unsur Katolik (atau Islam), plus unsur fam (family name, semacam marga di Batak). Nomen est omen, karena itu, sangat kentara di dalam nama-nama orang Flores.

Nama penuh (full name) saya LAMBERTUS LUSI HUREK.

LAMBERTUS jelas nama permandian (baptist name).

LUSI nama asli etnis Lamaholot yang ada di Pulau Lembata, dipetik dari kakek saya dari pihak ibu.

HUREK adalah nama fam atau nama keluarga alias family name.

Saya anak pertama, adik saya yang tiga orang pun pakai pola yang sama: Vincentia Siri Hurek, Ernestina Siba Hurek, Christofora Tuto Hurek. Dengan melihat nama saja, orang bisa langsung tahu dari kampung mana saya berasal, orang tuanya siapa, agamanya apa, dan seterusnya.

Sosiolog ternama Dr. Ignas Kleden [lengkapnya Ignatius Nasu Kleden] bisa dipastikan berasal dari Waibalun atau Lewolere, Kecamatan Larantuka. Prof. Dr. Gorys Keraf pasti dari Lamalera, Lembata. Dr. Daniel Dhakidae pasti Bajawa, Kabupaten Ngada. Dan seterusnya. Orang Jawa, misalnya, tidak punya tradisi trinomial nomenclature seperti kami di Flores atau Nusatenggara Timur umumnya, sehingga sangat sulit dilacak dari mana ia berasal.

Bagaimana cara menentukan nama permandian?

Gampang-gampang sulit. Biasanya, terserah pada ayah-ibu si bayi. Dengan catatan, Gereja Katolik di Indonesia sejak zaman Belanda menggunakan tata nama Latin untuk santo/santa ditandai dengan akhiran –us:

Robertus, Lambertus, Heribertus, Yohanes, Gregorius, Yakobus, Bonefasius….

Jadi, akan ‘aneh’ kalau orang Flores menggunakan nama baptis berbau Inggris atau Amerika Serikat seperti John, Gregory, James, David, Andrew, Bryan… dan seterusnya.

Nama-nama santo/santa pelindung ini dimaksudkan sebagai teladan bagi si anak. Santo/santa itu punya akhlak dan kejuangan yang patut diteladani si kanak-kanak yang baru dipermandikan itu.

Kadang-kadang orang tua atau pastor bingung menentukan nama baptis. Maka, biasanya diajurkan mengunakan nama santo/santa yang diperingati Gereja Katolik pada saat si bayi lahir. Bagaimana kalau anaknya perempuan, sementara hari itu peringatan santo (pria)? Gampang.

Sesuaikan saja namanya: Paulus jadi Paula, Dominikus jadi Dominika, Yohanes jadi Yohana…. Nama tengah (middle name), yang diambil dari nama asli Flores/Lembata, bisa dari keluarga ayah atau ibu, tergantung kesepakatan. Dianjurkan memakai nama kakek/nenek yang sudah meninggal untuk mengenang jasa-jasa dan keberadaan mereka.

Hidup itu, bagi adat Flores, ibarat roda atau siklus yang terus berputar. Masa kini tak bisa lepas dari masa lalu, dan seterusnya. Karena itu, nama tengah ini cenderung berulang dan banyak kesamaan. Bukankah nama-nama orang lama itu sangat khas, berkisar ke itu-itu saja?

Tentu saja, nama resmi yang tiga/empat kata ini kelewat panjang dan tidak praktis sebagai nama panggilan (nickname). Di mana-mana nama panggilan harus singkat: dua suku kata, bahkan satu. Di Flores pun ada kebiasaan orang tua untuk mencari nama panggilan untuk anaknya: pendek, sederhana, tapi tetap mengacu pada nama panjang tadi.

Agustinus Boli Wuwur bisa dipanggil Agus, Tinus, Boli, Gusti… atau apa saja. Saya, Lambertus Lusi Hurek, dihadiahi nama panggilan BERNIE oleh Bapa dan Mama saya. Kadang kala nama panggilan ini ‘jauh’ dari nama asli yang panjang-panjang itu.

Jangan heran, teman-teman saya di Jawa selalu bingung ketika harus memanggil nama saya: kadang Lambertus, kadang Hurek, kadang Lusi. Kalau bertemu orang Flores, saya pasti disapa Lambert, ketemu keluarga dekat Bernie, di kantor atau tempat kerja Hurek. Mereka tidak tahu bahwa yang pakai nama Hurek itu sangat buaanyaaaak.

Pola penamaan ini pun berlaku untuk orang Flores yang beragama Islam. Paman saya, takmir masjid di kampung, misalnya bernama Muhammad Kotak Hurek. Paman satu lagi (almarhum) bekas kapten kapal laut, namanya Hasan Hada Hurek. Apa pun agamanya, pola penamaan ini tetap sama saja.

Jangan heran, nama orang-orang Islam asli Flores pasti ada unsur Arab (Muhammad, Abdullah, Mustafa, Hasan…).

Kini, ketika orang Flores makin tersebar ke berbagai daerah, terpengaruh dengan budaya lain, standar penamaan pun tidak seketat dulu. Jangan heran kalau ada anak muda Flores, kulit gelap, rambut ikal, namanya Ignatius Gatot Prasetyo!

71 comments:

  1. Wah .. saya kebetulan iseng searching2 eh mampir disini.. saya suka tulisannya. Jadi tahu banyak. Menarik juga ya.. dari nama jadi tahu bahkan kampung seseorang berasal

    Thanks dah sharing.. keep posting yaq

    ReplyDelete
  2. Si abang ini memang oks banget.. menarik sekali Mr. Lambert selalu menyajikan cerita yang diulas dalam bentuk berita pada blognya.Memang sebetulnya, terutama bagi orang NTT pada umumnya lebih khusus lagi Orang Flores menamai anak tetaplah dengan ciri kas Flores, karena nama itu menunjukan bangsa/suku.'Bukan begitukah Bang..? heheheh.Saya jadi ingat sewaktu SMP dulu dimana salah seorang teman agak malu karena namanya "Maaf" menurut teman-teman saya waktu itu namanya kampung banget. Coba kalau namanya agak2 jawa dikit..wah..betapa bangganya.Ternyata sewaktu saya kuliah ke Jawa nama Orang Flores serasa unik dan teman-teman anak Jawa bilang Apik temen Jenenge kon.
    ya gitu pengalaman saya pak.. thx berat atas topik yang diangkat oleh Pak Lambert.

    ReplyDelete
  3. hii.. bang. bgm dg nama org larantuka? tx.

    ReplyDelete
  4. Wulan dan teman2, terima kasih atas komentar kalian. Ternyata, catatan ringan ini direspons. Hehehe...

    Khusus Larantuka, ibukota Flores Timur, ada pengecualian. Sejak abad ke-16 Larantuka, Portugis menanamkan pengaruhnya di Larantuka. Sehingga, agama Katolik dan tradisi Portugis, termasuk nama-nama keluarga ala Portugis, diadopsi oleh masyarakat Larantuka [dari San Dominggo sampai Weri]. Fam atau family name Larantuka itu misalnya Riberu, Fernandez, da Costa, da Gama, da silva, de Ornai, de Rosari... dan sebagainya.

    Beda dengan Timor Timur, di Larantuka hanya marga [fam] yang diadopsi, tapi nama baptis tetap khas Gereja Katolik Indonesia. Maka, nama-nama orang Larantuka macam ini lah": Yohanes Juang Fernandez, Paulus K. Riberu, Bernardus Bl. de Rozari, Fransiska de Ornay.

    Oh ya, Larantuka juga berbahasa Nagi, sejenis bahasa Melayu ala Larantuka. Mereka tidak berbahasa Lamaholot seperti orang Flores Timur umumnya. Aturan belis [mas kawin] pun beda. Kalau budaya Lamaholot pakai gading gajah, orang Larantuka pakai pengganti 'air susu ibu' alias uang. Semacam jemputan dalam budaya Melayu.

    Larantuka termasuk kota pelabuhan, kota tua, yang sudah terkenal sejak era Portugis. Ia punya tradisi Semana Santa, perarakan jalan salib pada Jumat Agung, yang merupakan peninggalan Portugis pada abad ke-16. Anda bisa baca di blog ini http://hurek.blogspot.com/2007/03/semana-santa-jumat-agung-ala-larantuka.html.

    Terima kasih dan salam damai untuk teman-teman pengunjung blog ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sobat...
      ijinkan saya berbagi dan bertanya di blog ini...
      Ayah saya asli orang Flores Adonara di Hinga
      tapi dari kakak saya dan sampai saya lahir beliau tidak pernah pulang ke kampung nya...sampai kini beliau sudah tidak ada lagi...
      Jadi saya hanya dapat cerita saja tentang Ayah saya yang orang Flores tersebut, ibu saya orang Jambi (Sumatera)...

      Jadi saya mau minta tolong jika rekan rekan ada yang mungkin tahu mengenai sekilas tentang garis keturunan ayah saya....
      Nama saya ALAMSYAH LAMA WURAN
      saya tinggal di Provinsi Jambi
      saya ingin sekali mencari garis keturunan dari ayah saya di Flores Timur tepat nya di Hinga...
      Yang saya tau hanya nama dari kakek dari ayah saya...
      Nama Ayah saya Yohanes Wuran setelah mualab jadi Jani Anwar ...nama Bapak dari ayah saya (Kakek saya) DORE....tinggal di Hinga
      Farm saya LAMA WURAN..
      Siapa pun yang bisa kasih petunjuk agar saya bisa dapat mencari garis keturunan Almarhum Ayah saya di Hinga Flores Timur...
      No HP saya 0813 66 7777 28...
      Terima Kasih rekan semua

      Delete
    2. Nama ayahmu Yohanes Lama Wuran asal desa Hinga Adonara Timur sudah sangat jelas. Gampang sekali melacak keluarga besar di Adonara. Silakan datang ke Hinga, desa yg sangat terkenal di Flotim, temui kepala desa, tokoh masyarakat atau siapa saja. Saya jamin orang2 lama langsung nyambung dan tahu siapa gerangan ayahmu.

      Langsung ke Adonara itu yg terbaik. Tidak perlu banyak diskusi.

      Delete
    3. Saudara ku Hurek...
      Thank you for information...
      adakah teman teman yang dari hinga yang sdr Hurek kenal..
      boleh saya tahu tidak kenapa hinga sangat terkenal di Flotim....ap yg menyebabkan dia terkenal....
      Terima Kasih saudara...
      anak anak flores bs add saya punya FB Alam Syah (anakjambi@ymail.com)

      Delete
    4. Saya tidak kenal karena sudah lama banget jadi penduduk Jatim. Pulang kampung hanya sekali setahun untuk natalan aja.
      Anda bisa masuk FB, banyak sekali orang Adonara di sana. Salah satunya https://www.facebook.com/ambuga.lamawuran yg cukup terkenal sebagai penulis produktif.

      Mengapa Hinga terkenal di Flotim? Ceritanya bisa panjang lebar. Bisa jadi satu artikel panjang. Silakan tanya orang Flotim di sekitar anda.

      Delete
    5. Kasus macam Alamsyah ini biasa menimpa perantau2 Flores NTT yg tidak punya kenalan dengan sesama NTT di tanah rantau. Nikah dgn orang tempatan, punya anak, melebur dalam adat istiadat sang istri/suami. Sudah pasti anak2nya tidak akan kenal keluarga pihak NTT itu. Lama2 hilang seterusnya kalo tidak ada komunikasi dengan keluarga di kampung NTT khususnya ketika perantau generasi pertama itu meninggalkan dunia.

      Alamsyah ini menarik karena masih mau berusaha menemukan keluarga besar Lamawuran di Hinga Adonara. Biasanya anak cucu perantau turunan NTT tidak merasa perlu mencari akar ke-NTT-annya.

      Di era HP dan media sosial, internet dsb saya yakin kasus perantau2 NTT yg hilang semakin sedikit. Kecuali orang NTT yg memang sengaja menghilangkan dirinya sendiri.

      Delete
    6. Saudara Alamsyah skrg dmna? Kebetulan sy order redon (Hinga lali). Mungkin bisa dibantu

      Delete
    7. Sdr.alamsyah skrg dmna? Mungkin sy bisa bantu! Kebetulan sy org redon Tena (Hinga lali).

      Delete
    8. Jelangkung.....
      Tolong invite FB saya
      Alam Syah Lamawuran (anakjambi@ymail.com)
      Atau No Hp saya di 081366777728
      Saya ada di Kota Jambi Sumatera.....
      Di tunggu ya saudara ku

      Delete
    9. Jelangkung.....
      Tolong invite FB saya
      Alam Syah Lamawuran (anakjambi@ymail.com)
      Atau No Hp saya di 081366777728
      Saya ada di Kota Jambi Sumatera.....
      Di tunggu ya saudara ku

      Delete
  5. Hi.. bro.this good blog. kebetulan tadi lagi browsing di internet and ketemu ni blog, jadi penasaran trus coba baca ternyata bagus juga. Buat orang luar yang pengen tahu NTT lebih lagi Flores Timur.Sekalian promosi tempat-tempat wisata atau keunggulan yang lain dari Flotim, karena Indonesia bukan hanya Jawa doank

    ReplyDelete
  6. hi... aku ketemu blog ini secara ga sengaja...
    boleh ngasih komen sedikit kan...
    ternyata orang Flores juga punya aturan pemberian nama ya...
    kebetulan aku orang Batak yg dari dulu juga punya aturan penamaan seperti itu... orang Batak jaman sekarang memiliki paling sedikit 4 kata pada namanya... kata pertama itu dari orangtua... kata kedua dari ompung (kakek nenek...) sedangkan kata ketiga dari pihak hula-hula (pihak keluarga istri) yg dalam struktur masyarakat Batak ada di tingkat tertinggi... dan kata keempat itulah marga...
    misalnya namaku, Feraldo Patia Mangihut Sihombing... Feraldo itu dari orangtua (ga tau apaan artinya... kyknya asal ngasih aja...) Patia itu dari kakek nenek (artinya ksatria... ini bahasa Batak kuno...) sedangkan Mangihut itu dari hula-hula (artinya mengikut...) Nah, Sihombing itu margaku...
    ternyata di Pulau Flores pun ada juga hal demikian... walaupun tidak sepanjang namaku pastinya...
    thanks...

    ReplyDelete
  7. Feraldo Patia Mangihut Sihombing,
    Terima kasih sudah membagi cerita sedikit tentang pola penamaan di Tano Batak. Memang ada semacam "rumus umum", tapi dalam perjalanan waktu selalu ada dinamika.

    Saya sengaja mengangkat contoh dari diri saya sendiri, kampung saya sendiri, sebagai gambaran tentang Flores Timur. Paling tidak bisa membantu orang luar dalam memahami kebudayaan kami. Horas!!!

    ReplyDelete
  8. Kalau nama Mulyawan asalnya dari mana Bang??

    ReplyDelete
  9. sebenarnya saya gak ingin nge post komen ttg ini,,sy ingin ngepost di tulisan tntang pemberian nama d flotim tpi gl bsa jd terpaksa disini deh

    sy hanya mau bilang sy pun bangga menyandang nama nenek sy d blakang nama bptis sy

    o ya sy suka foto "ina adonara "
    sy sgt knal tempat itu,dan dlam foto itu terdapat nenek sya...lmayan utk mengobati rasa kangen..termakasih ya

    ReplyDelete
  10. Hai, sy tertarik dgn tlsan anda. bs tlg sy ga? Gmn dgn nama fam LAMABORAK? dan agama apa yg mrk anut ya bang? Mksh ya

    ReplyDelete
  11. Bang, kalo fam LAMABORAK gmn? Menganut agama apa ya mrk?

    ReplyDelete
  12. Fam Lamaborak dari Flores Timur. Agamanya mayoritas Katolik. Sayang, anda tidak menulis full name alias nama lengkap. Yang pasti, dia bukan Kristen Protestan, apalagi Pentakosta.

    ReplyDelete
  13. bang kalo fam leyn dari mana?
    Ada sejarahnya juga?
    Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leyn atau Lein bisa dipastikan dari Flores Timur.

      Delete
  14. sory...saya mahu tahu..kalau yang namanya ada Ratu Loly dibelakang nama tu bagaimana pula..?dari flores juga ye..?maaf kalau silap..sya malysia..tetapi tertarik dengan nama2 unik begini..sudut pandang budaya dan adat bagaimana pula ya?ingin tahu=)

    ReplyDelete
  15. Ratu Loly itu nama marga (fam) yang sangat terkenal dari Flores Timur. Tepatnya Lamahala, kampung yang 100% penduduknya beragama Islam. Orang Lamahala ini juga tergolong etnis Lamahalot, asli Flores Timur, yang juga berbahasa Lamaholot dengan logat dan aksen yang khas dan menarik. Nada bicaranya selalu TINGGI, meriah, seperti orang marah-marah, tapi hatinya baik.

    Terima kasih untuk YAB Encik dari Malaysia yang sudah mahu baca tulisan saya. Malaysia boleh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih,,jd kagum :)

      Delete
    2. Hahaha iy bang klo mereka ngomong pake wii wiii gitu

      Delete
  16. adammasang@yahoo.com7:45 AM, August 18, 2012

    bro....knpa kmu pintar banget? hehehe....sy senang skali mbacanya....,slmt dn sukses ya?????

    ReplyDelete
  17. adammasang@yahoo.com7:46 AM, August 18, 2012

    slmt dn sukses buat abang lambert...sy senang skali mbaca blok ini...

    ReplyDelete
  18. Maaf bro, bapak saya dari ende merantau ke jakarta 50th yg lalu,sblm beliau meninggal,beliau sempat berpesan untuk mencari keluarga di ende dan kami cm bermodal nama asli bapak "PETRUS DANRO" Apa kira2 si bro tau asal nama bapak saya itu.. Mohon bantuannya bro.. Trims..!

    ReplyDelete
  19. Bang help,,,klo pitaloka fam dari mana ya? Thanks

    ReplyDelete
  20. Hi, Bang Lambert, Salam kenal Neny dari Malang, terimakasih atas postingannya yang edukatif. saya jadi menyadari ternyata banyak pula orang keturunan/berdarah Flores yang penasaran dengan asal usul nama Flores dari para leluhurnya namun tidak memiliki info darimana itu berasal dan dimana keluarga Floresnya tinggal. itu termasuk saya, Bagaimana dengan nama fam Adamuka? pernahkah mendengar? saya tunggu infonya.. terimakasih

    ReplyDelete
  21. Terimakasih postingannya,
    Bagaimana dengan fam Adamuka? adakah info tentang nya?

    ReplyDelete
  22. saya senang membaca blog ini
    kalau bisa bahas tentang marga saya ratuloly secara detail ya :)

    ReplyDelete
  23. Kalok saya bisa di liat dari nama saya ngak yyy..! (keturunan flores mana?? )
    COz , papah juga orang flores.
    Nama papa: wedhe edy
    nama saya:edy prianus

    ReplyDelete
  24. nama saya nilsianus betu wain

    ReplyDelete
  25. Kalo ayah saya stephanus erman bala, berasal dr mana om karena tdk pernah diceritain ke saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ok saudara setahu saya fam bala itu berasal dari flores timur khususnya adonara.

      Delete
  26. bro mau nanya kalo family name parera itu dari wilayah flores mana ya?
    temen saya ada yang family namenya itu soalnya bro
    Thanks

    ReplyDelete
  27. Replies
    1. Keraf itu fam yg sangat terkenal di Kabupaten Lembata kampung Lamalera. Kampung ini sangat terkenal karena sejak dulu penduduknya terkenal sebagai pemburu ikan paus tradisional. Lamalera juga dikenal sebagai pintu masuk agama Katolik di pulau Lembata. Pastor2 pribumi asal flores maupun NTT berasal dari Lamalera.
      Orang Lamalera juga pernah jadi menteri era presiden Megawati yakni Prof Dr Sony Keraf sebagai menteri lingkungan hidup. Ada juga Prof Dr Gorys Keraf pakar bahasa indonesia yang sangat terkenal di masa lalu. Itu menunjukkan bahwa ketika masih banyak orang NTT yg pendidikannya rendah, orang Lamalera sudah banyak yg jadi pastor, bruder, suster, bahkan profesor doktor.
      Orang Lamalera juga yg menerjemahkan dokumen2 konsili vatikan ke2 untuk umat katolik di indonesia. Namanya Marcel Beding.

      Delete
  28. om, bokap saya orang flores, namanya Manaseh Kasing, itu berasal dari flores bagian mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan nanya aja ke bokap loe... dijamin benar. Ngapain loe cari info di internet? Masa nanya bokap dan keluarganya aja kagak bisa. Aneh....

      Ini salah satu contoh nyata bokap2 asal Flores yg kagak mau cerita soal asal usul.. keturunan.. kampung halaman.. sosial budaya ke anaknya sendiri. Ikut prihatin.

      Delete
    2. Mungkin dia anak yatim, pak, jadi mohon maklum.

      Delete
    3. benar bang, saya di tinggal sama bapak saya waktu masih kecil. waktu masih usia 6 tahun.

      Delete
    4. iya bang. saya sudah ditinngal bapak sejak jumur 12 tahun.

      Delete
    5. Yg benar yg mana: ditinggal waktu 6 tahun, atau 12 tahun??

      Delete
  29. Saya dulu pernah kerja di pabrik di Jakarta, anak buah saya dari berbagai penjuru Indonesia. Yg Jawa (baik Jawa asli maupun Pujakesuma), namanya menurut kelas dan tingkat keagamaan keluarganya. Yang keturunan rakyat jelata, namanya hanya satu: Karni, Djumadi, Safuanto. Yang anaknya pedagang dan abangan, namanya lebih keren: Heri Saptono (Sapto = anak ke-7), Soni Harsono. Yang anaknya santri: Ali Muchsin (Ali bin Muchsin). Yang keturunan keraton Solo / priyayi: Raden Mas Heru Sudarto. Orang Padang, muslim yang taat, maka namanya pun Islami: Mohamad Yamin seperti nama salah satu bapa pendiri NKRI. Orang Flores (Ngada) yang Katolik: Moses Djago.

    Begitulah dulu, dari nama kita bisa menebak latar belakang seseorang. Kalau sekarang semua orang namanya keren-keren. Biarpun rakyat jelata di pelosok, namanya bisa jadi Leonardo atau Fransiska, walaupun bukan Kristen atau Katolik.

    ReplyDelete
  30. Bagus sekali tulisan abang ni, kalau saya boleh tanya kalu nama PAULUS PATI KONDO itu abang tau gak...?

    ReplyDelete
  31. Cukup Detail Penjelasan abang tentang nama warga di flores, kalau saya boleh tanya nama PAULUS PATI KONDO itu abang tau gak....dan nama itu biasa digunakan di daerah mana di NTT bang...

    ReplyDelete
  32. Kerennnn bang Lambertus tulisannya.saya asli Lembata suami sy orang Jawa untuk tidak melupakan apa yg diulas oleh bang Lambertus maka nama ke 2 putri saya sy kasih nama lembata yg sulung namanya MARTHA ANJEELIN GELU GENDHIS PUTRI PRAMONO (nama Lembatanya GELU = nama Kaka dari Bapa saya) usia 8 tahun yg ke 2 namanya PATRICIA ANJEELIN KINAR KENUPANG PUTRI PRAMONO (nama Lembatanya KENUPANG = nama Mama saya)nama panggilannya Gendhis dan Kinar tapi klo dirumah kami suka memanggil Gelu dan Kenupang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat menarik dan berkesan. Tapi akibat akomodasi dua tradisi budaya maka nama anak jadi sangat panjang. Salut!

      Delete
  33. Hei teman Lambet apa kabar...sdh lama kita tdk prnh kontak, sjak kita tamat SMP, ku skrng ini di batam..

    ReplyDelete
  34. Hei teman apa kabar ...saya temanmu ketika di SMP Pakrasio Larantuka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Ama Paulus... reuk nolon teti Nagi. Tite kerun wekike hala lela2 kae... tai melarat doan2 te ata lewuna. Titip salam utk Ama sekeluarga... ake lupang lewotanah.

      Delete
  35. Tulisannya menarik trus enak d baca jg dan kebutulan yg tulis adlah org lembata. smoga bisa keluarkan lg karya" trbaru

    ReplyDelete
  36. Kae(Kaka) lambert salam kenal.saya bangga dan antusias sekali membacanya.td iseng2 mau cari "cara penamaam anak/masyarakat portugis". Eh malah ketemu blog orang flores saya.dr dulu bangga dengar nama orang batak.krn sistem penamaan marganya yg tertata,eh malah di flores senduri yg ga tau.maklum ka waktu masih disana ke daerah timur hanya sampai di aimere sj.ende lembata larantuka dllnya blm sama sekali.ada beberapa teman orang2 jawa sunda dll yg kebetulan kenal dengan orang flotim(mungkin di tempat kerja).ketika berkenalan dan mereka tahu bahwa saya orang flores,kemudian apa marga saya.?dengan ketidaktahuan saya menjawab" sebenarnya kita orang flores(pukul rata sebutanya)tidak begitu kental cara penanaman Lazimnya orang batak."
    Dengan pengetahuan yg sejengkal saya menjelaskannya demikian.
    Sebab dimanggarai sendiri tidak seperti itu KA Lambert.ada beberapa keluarga memang yg memakai nama belakang Dr ayah atau ibunya.contoh di keluarga saya.
    Nama almarhum papa "Yosef danggus"
    Ibu Yustina jenai
    Anak pertama Maria elot
    Kedua Yakobus masudin
    Ketiga Lukas nanggung
    Keemat(saya)Stefanus tamur
    Adikku Hubertus pradu.

    Bayangkan kan anggota keluarga yang cukup banyak seperti ini, satupun tidak ada yang sama.jd ketika teman2 saya bertanya tentang name marga saya. Saya jawab begitu saja Krn bahan referensi saya hanya keluarga saya dan tetangga saja.

    Saya senang sekali tulisan Kae ini, saya jadi tau dan baru sadar bahwa saya sudah memberikan jawaban yg salah kepada teman sy tentang budaya kita disana.cara penamaan khususnya.

    Salam Dr jakarta
    Sy Dr Manggarai.
    TABE

    ReplyDelete
  37. Halo abang, materi tulisannya keren lah ni. Saya punya kenalan baik, dia seorang Romo. Namanya Rm. JB Clay Pareira. Dengar2 nama Pareira itu trmasuk golongan terpandang di Maumere ? Bnarkah tu-

    ReplyDelete
  38. Betul banget... Marga2 seperti Pareira, Riberu, Fernandes, da Costa, da Silva dsb itu adanya di Maumere dan Larantuka. Sudah pasti marga2 yang bernuansa Portugis itu punya kedudukan penting di masyarakat. Sebab, menurut sejarah, orang Portugis tempo doeloe memilih elite2 lokal yang sangat berpengaruh untuk mendapatkan marga Pareira, Riberu, Fernandez dsb.

    Proses yang disebut KREOLISASI ini biasa dilakukan Portugis di negara2 jajahannya. Gak usah jauh2, di Timor Leste nama2 marga dan penduduk di sana umumnya berbau Portugis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman saya SMA di Surabaya asalnya dari Larantuka. Katanya papa dia diambil angkat oleh keturunan raja lokal krn itu nama fam dia Da Costa walaupun baba Tionghoa.

      Delete
    2. Betul banget Mas... baba2 tionghoa di Lamaholot ini memang punya kedekatan dengan bangsawan2 lokal seperti raja2 kecil tempo dulu. Di masa lalu ketika baba2 tionghoa ini kesulitan mencarikan jodoh untuk anaknya maka mereka (terpaksa) dijodohkan dengan anak2nya orang Lamaholot yg berpengaruh. Kalo kawin dengan orang Lamaholot (apalagi jaman dulu) harus ada upacara adat yg ribet antara kedua marga pihak laki dan perempuan. Maka orang tionghoa yg belum punya marga lokal lebih dulu dimasukkan ke salah satu marga setempat.

      Saya perhatikan sejak 90an, anak2nya baba tionghoa di NTT ini banyak yg menikah dengan pribumi elite macam anaknya pejabat atau orang yg punya kedudukan tinggi.

      Pola ini mirip yg ditulis Dr Ong Hok Ham ketika melakukan penelitian tentang masyarakat keturunan Tionghoa di Sumenep Madura seperti yg saya baca di bukunya Pak Ong. Bedanya, kalau di Sumenep itu tionghoanya melebur ke budaya lokal, masuk islam, berbahasa madura dsb, di NTT keturunan baba2 ini tidak hilang kecinaannya secara total meskipun dia berbahasa lokal, beragama katolik, dsb.

      Delete
    3. Sangat menarik. Pola pembauran baba Tionghoa dengan elit bangsawan yg Anda sebutkan itu bukan hanya di Madura tetapi oleh Claudine Salmon juga diteliti terjadi di Jawa Timur. Seandainya saya boleh kembali ke jaman sy lulus SMA sy akan memilih jurusan antroplogi dan genetika, bukannya teknik elektro.

      Delete
  39. Kyk ny rame banget ya,
    Hallo abang kenalin nama saya Yaser Arafat itu nama formal, hehehe klo nama adat nya Yaser Ara umakela
    Saya berasal dari Adonara timur :) salam kenal ya.

    ReplyDelete
  40. Mantap KK e...

    Saya dari Kalimantan, Bapak(alm) saya dari Larantuka

    Nama saya Geofani Loly Moron, salam kenal.

    ReplyDelete
  41. Keren. Ayah saya org Flores ibu saya org Sabu, tinggal di Papua tapi belum pernah Flores.
    Marga Carvallo itu asal dari Flores bagian mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Carvallo itu marga berbau Portugis. Biasa dipake di daerah Larantuka atau Maumere.

      Untuk kesekian kalinya, pertanyaan ini macam ini membuktikan bahwa banyak orangtua asal NTT khususnya Flores yg tidak mau menceritakan asal usul dan kampung halamannya kepada anak cucunya di tanah rantau. Akhirnya bung Joseph pigi cari info sendiri di internet. Salam bakar batu untuk kita punya rekan2 di Papua.

      Delete
  42. Hallo nama saya Jesica.
    Opa saya orang flores marga nya Ligaleta itu dr flores bagian mana ya?

    ReplyDelete
  43. Selamat siang menjelang sore bang Lambert,nama mu seperti nama opa saya Lambertus Ligaleta. Saya ingin sekali tahu asal opa saya persisnya dari Flores,Ende bagian mana? Saya ingin mencari tau apa saya masih punya saudara2 di sana? Terimakasih.

    ReplyDelete
  44. Hallo Abang Hurek, tulisanmu sangat menarik. Nama saya Linda silviana ayah saya orang ende, tetapi sampai sekarang saya tidak pernah melihat dan tidak tahu ayah saya seperti apa, saya juga belum pernah ke NTT. Nama ayah saya Petrus Pae. Marga keluarga dari pihak kakek berakhiran Nua. Kira2 itu ende bagian mana yah bang? Saya penasaran. Semoga sj suatu saat nanti bisa berkunjung ke NTT

    ReplyDelete