07 May 2006

Nama Orang Flores Timur



Aho tou dore misa teti Adonara Timur. Ina-ina gekata.. hehehe...



Nama itu pertanda.
Nomen est omen, kata pepatah Latin.
Shakespiere: what’s in a name!


Saya kira, orang Indonesia rata-rata menganut prinsip Latin itu tadi: nama itu pertanda. Ada artinya. Ada tata cara, ada aturan mainnya. Tidak asal-asalan memberi nama tertentu kepada anak yang baru lahir!

Begitulah, maka cara orang Jawa menamakan anaknya berbeda dengan orang Batak, Padang, Dayak, Makassar, Flores, dan seterusnya. Disesuaikan dengan tradisi atau adat di daerahnya masing-masing. Orang Jawa cenderung menamakan anaknya seindah mungkin, berisi doa atau harapan yang baik-baik tentang si anak.

Arif Budiman, agar anaknya arif dan budiman. Setyawati, anak agar setia. Sugiharto, kaya harta. Orang Jawa yang suka wayang kulit atau kejawen cenderung memilih nama-nama tokoh wayang untuk anaknya. Yang Islam santri lazimnya pilih nama berbau Arab atau Timur Tengah, mengadopsi nama nabi-nabi atau para sahabat nabi.

Bagaimana dengan Flores, Solor, Lembata, Adonara?

Prinsipnya sama dengan di tempat lain. Tempo doeloe nama-nama orang Flores, yang belum makan sekolah, itu hanya satu kata. Misalnya, Kopong, Payong, Kia, Laba, Terong, Deram, Bengan, Lipat, Ola, Kotak… dan seterusnya. Setelah agama Katolik dan Islam masuk, cara pemberian nama pun mengalami penyesuaian di sana-sini.

Nama-nama asli Flores dipertahankan, namun ditambah dengan unsur Katolik (atau Islam), plus unsur fam (family name, semacam marga di Batak). Nomen est omen, karena itu, sangat kentara di dalam nama-nama orang Flores.

Nama penuh (full name) saya LAMBERTUS LUSI HUREK.

LAMBERTUS jelas nama permandian (baptist name).

LUSI nama asli etnis Lamaholot yang ada di Pulau Lembata, dipetik dari kakek saya dari pihak ibu.

HUREK adalah nama fam atau nama keluarga alias family name.

Saya anak pertama, adik saya yang tiga orang pun pakai pola yang sama: Vincentia Siri Hurek, Ernestina Siba Hurek, Christofora Tuto Hurek. Dengan melihat nama saja, orang bisa langsung tahu dari kampung mana saya berasal, orang tuanya siapa, agamanya apa, dan seterusnya.

Sosiolog ternama Dr. Ignas Kleden [lengkapnya Ignatius Nasu Kleden] bisa dipastikan berasal dari Waibalun atau Lewolere, Kecamatan Larantuka. Prof. Dr. Gorys Keraf pasti dari Lamalera, Lembata. Dr. Daniel Dhakidae pasti Bajawa, Kabupaten Ngada. Dan seterusnya. Orang Jawa, misalnya, tidak punya tradisi trinomial nomenclature seperti kami di Flores atau Nusatenggara Timur umumnya, sehingga sangat sulit dilacak dari mana ia berasal.

Bagaimana cara menentukan nama permandian?

Gampang-gampang sulit. Biasanya, terserah pada ayah-ibu si bayi. Dengan catatan, Gereja Katolik di Indonesia sejak zaman Belanda menggunakan tata nama Latin untuk santo/santa ditandai dengan akhiran –us:

Robertus, Lambertus, Heribertus, Yohanes, Gregorius, Yakobus, Bonefasius….

Jadi, akan ‘aneh’ kalau orang Flores menggunakan nama baptis berbau Inggris atau Amerika Serikat seperti John, Gregory, James, David, Andrew, Bryan… dan seterusnya.

Nama-nama santo/santa pelindung ini dimaksudkan sebagai teladan bagi si anak. Santo/santa itu punya akhlak dan kejuangan yang patut diteladani si kanak-kanak yang baru dipermandikan itu.

Kadang-kadang orang tua atau pastor bingung menentukan nama baptis. Maka, biasanya diajurkan mengunakan nama santo/santa yang diperingati Gereja Katolik pada saat si bayi lahir. Bagaimana kalau anaknya perempuan, sementara hari itu peringatan santo (pria)? Gampang.

Sesuaikan saja namanya: Paulus jadi Paula, Dominikus jadi Dominika, Yohanes jadi Yohana…. Nama tengah (middle name), yang diambil dari nama asli Flores/Lembata, bisa dari keluarga ayah atau ibu, tergantung kesepakatan. Dianjurkan memakai nama kakek/nenek yang sudah meninggal untuk mengenang jasa-jasa dan keberadaan mereka.

Hidup itu, bagi adat Flores, ibarat roda atau siklus yang terus berputar. Masa kini tak bisa lepas dari masa lalu, dan seterusnya. Karena itu, nama tengah ini cenderung berulang dan banyak kesamaan. Bukankah nama-nama orang lama itu sangat khas, berkisar ke itu-itu saja?

Tentu saja, nama resmi yang tiga/empat kata ini kelewat panjang dan tidak praktis sebagai nama panggilan (nickname). Di mana-mana nama panggilan harus singkat: dua suku kata, bahkan satu. Di Flores pun ada kebiasaan orang tua untuk mencari nama panggilan untuk anaknya: pendek, sederhana, tapi tetap mengacu pada nama panjang tadi.

Agustinus Boli Wuwur bisa dipanggil Agus, Tinus, Boli, Gusti… atau apa saja. Saya, Lambertus Lusi Hurek, dihadiahi nama panggilan BERNIE oleh Bapa dan Mama saya. Kadang kala nama panggilan ini ‘jauh’ dari nama asli yang panjang-panjang itu.

Jangan heran, teman-teman saya di Jawa selalu bingung ketika harus memanggil nama saya: kadang Lambertus, kadang Hurek, kadang Lusi. Kalau bertemu orang Flores, saya pasti disapa Lambert, ketemu keluarga dekat Bernie, di kantor atau tempat kerja Hurek. Mereka tidak tahu bahwa yang pakai nama Hurek itu sangat buaanyaaaak.

Pola penamaan ini pun berlaku untuk orang Flores yang beragama Islam. Paman saya, takmir masjid di kampung, misalnya bernama Muhammad Kotak Hurek. Paman satu lagi (almarhum) bekas kapten kapal laut, namanya Hasan Hada Hurek. Apa pun agamanya, pola penamaan ini tetap sama saja.

Jangan heran, nama orang-orang Islam asli Flores pasti ada unsur Arab (Muhammad, Abdullah, Mustafa, Hasan…).

Kini, ketika orang Flores makin tersebar ke berbagai daerah, terpengaruh dengan budaya lain, standar penamaan pun tidak seketat dulu. Jangan heran kalau ada anak muda Flores, kulit gelap, rambut ikal, namanya Ignatius Gatot Prasetyo!

23 comments:

  1. Wah .. saya kebetulan iseng searching2 eh mampir disini.. saya suka tulisannya. Jadi tahu banyak. Menarik juga ya.. dari nama jadi tahu bahkan kampung seseorang berasal

    Thanks dah sharing.. keep posting yaq

    ReplyDelete
  2. Si abang ini memang oks banget.. menarik sekali Mr. Lambert selalu menyajikan cerita yang diulas dalam bentuk berita pada blognya.Memang sebetulnya, terutama bagi orang NTT pada umumnya lebih khusus lagi Orang Flores menamai anak tetaplah dengan ciri kas Flores, karena nama itu menunjukan bangsa/suku.'Bukan begitukah Bang..? heheheh.Saya jadi ingat sewaktu SMP dulu dimana salah seorang teman agak malu karena namanya "Maaf" menurut teman-teman saya waktu itu namanya kampung banget. Coba kalau namanya agak2 jawa dikit..wah..betapa bangganya.Ternyata sewaktu saya kuliah ke Jawa nama Orang Flores serasa unik dan teman-teman anak Jawa bilang Apik temen Jenenge kon.
    ya gitu pengalaman saya pak.. thx berat atas topik yang diangkat oleh Pak Lambert.

    ReplyDelete
  3. hii.. bang. bgm dg nama org larantuka? tx.

    ReplyDelete
  4. Wulan dan teman2, terima kasih atas komentar kalian. Ternyata, catatan ringan ini direspons. Hehehe...

    Khusus Larantuka, ibukota Flores Timur, ada pengecualian. Sejak abad ke-16 Larantuka, Portugis menanamkan pengaruhnya di Larantuka. Sehingga, agama Katolik dan tradisi Portugis, termasuk nama-nama keluarga ala Portugis, diadopsi oleh masyarakat Larantuka [dari San Dominggo sampai Weri]. Fam atau family name Larantuka itu misalnya Riberu, Fernandez, da Costa, da Gama, da silva, de Ornai, de Rosari... dan sebagainya.

    Beda dengan Timor Timur, di Larantuka hanya marga [fam] yang diadopsi, tapi nama baptis tetap khas Gereja Katolik Indonesia. Maka, nama-nama orang Larantuka macam ini lah": Yohanes Juang Fernandez, Paulus K. Riberu, Bernardus Bl. de Rozari, Fransiska de Ornay.

    Oh ya, Larantuka juga berbahasa Nagi, sejenis bahasa Melayu ala Larantuka. Mereka tidak berbahasa Lamaholot seperti orang Flores Timur umumnya. Aturan belis [mas kawin] pun beda. Kalau budaya Lamaholot pakai gading gajah, orang Larantuka pakai pengganti 'air susu ibu' alias uang. Semacam jemputan dalam budaya Melayu.

    Larantuka termasuk kota pelabuhan, kota tua, yang sudah terkenal sejak era Portugis. Ia punya tradisi Semana Santa, perarakan jalan salib pada Jumat Agung, yang merupakan peninggalan Portugis pada abad ke-16. Anda bisa baca di blog ini http://hurek.blogspot.com/2007/03/semana-santa-jumat-agung-ala-larantuka.html.

    Terima kasih dan salam damai untuk teman-teman pengunjung blog ini.

    ReplyDelete
  5. Hi.. bro.this good blog. kebetulan tadi lagi browsing di internet and ketemu ni blog, jadi penasaran trus coba baca ternyata bagus juga. Buat orang luar yang pengen tahu NTT lebih lagi Flores Timur.Sekalian promosi tempat-tempat wisata atau keunggulan yang lain dari Flotim, karena Indonesia bukan hanya Jawa doank

    ReplyDelete
  6. hi... aku ketemu blog ini secara ga sengaja...
    boleh ngasih komen sedikit kan...
    ternyata orang Flores juga punya aturan pemberian nama ya...
    kebetulan aku orang Batak yg dari dulu juga punya aturan penamaan seperti itu... orang Batak jaman sekarang memiliki paling sedikit 4 kata pada namanya... kata pertama itu dari orangtua... kata kedua dari ompung (kakek nenek...) sedangkan kata ketiga dari pihak hula-hula (pihak keluarga istri) yg dalam struktur masyarakat Batak ada di tingkat tertinggi... dan kata keempat itulah marga...
    misalnya namaku, Feraldo Patia Mangihut Sihombing... Feraldo itu dari orangtua (ga tau apaan artinya... kyknya asal ngasih aja...) Patia itu dari kakek nenek (artinya ksatria... ini bahasa Batak kuno...) sedangkan Mangihut itu dari hula-hula (artinya mengikut...) Nah, Sihombing itu margaku...
    ternyata di Pulau Flores pun ada juga hal demikian... walaupun tidak sepanjang namaku pastinya...
    thanks...

    ReplyDelete
  7. Feraldo Patia Mangihut Sihombing,
    Terima kasih sudah membagi cerita sedikit tentang pola penamaan di Tano Batak. Memang ada semacam "rumus umum", tapi dalam perjalanan waktu selalu ada dinamika.

    Saya sengaja mengangkat contoh dari diri saya sendiri, kampung saya sendiri, sebagai gambaran tentang Flores Timur. Paling tidak bisa membantu orang luar dalam memahami kebudayaan kami. Horas!!!

    ReplyDelete
  8. Kalau nama Mulyawan asalnya dari mana Bang??

    ReplyDelete
  9. sebenarnya saya gak ingin nge post komen ttg ini,,sy ingin ngepost di tulisan tntang pemberian nama d flotim tpi gl bsa jd terpaksa disini deh

    sy hanya mau bilang sy pun bangga menyandang nama nenek sy d blakang nama bptis sy

    o ya sy suka foto "ina adonara "
    sy sgt knal tempat itu,dan dlam foto itu terdapat nenek sya...lmayan utk mengobati rasa kangen..termakasih ya

    ReplyDelete
  10. Hai, sy tertarik dgn tlsan anda. bs tlg sy ga? Gmn dgn nama fam LAMABORAK? dan agama apa yg mrk anut ya bang? Mksh ya

    ReplyDelete
  11. Bang, kalo fam LAMABORAK gmn? Menganut agama apa ya mrk?

    ReplyDelete
  12. Fam Lamaborak dari Flores Timur. Agamanya mayoritas Katolik. Sayang, anda tidak menulis full name alias nama lengkap. Yang pasti, dia bukan Kristen Protestan, apalagi Pentakosta.

    ReplyDelete
  13. bang kalo fam leyn dari mana?
    Ada sejarahnya juga?
    Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leyn atau Lein bisa dipastikan dari Flores Timur.

      Delete
  14. sory...saya mahu tahu..kalau yang namanya ada Ratu Loly dibelakang nama tu bagaimana pula..?dari flores juga ye..?maaf kalau silap..sya malysia..tetapi tertarik dengan nama2 unik begini..sudut pandang budaya dan adat bagaimana pula ya?ingin tahu=)

    ReplyDelete
  15. Ratu Loly itu nama marga (fam) yang sangat terkenal dari Flores Timur. Tepatnya Lamahala, kampung yang 100% penduduknya beragama Islam. Orang Lamahala ini juga tergolong etnis Lamahalot, asli Flores Timur, yang juga berbahasa Lamaholot dengan logat dan aksen yang khas dan menarik. Nada bicaranya selalu TINGGI, meriah, seperti orang marah-marah, tapi hatinya baik.

    Terima kasih untuk YAB Encik dari Malaysia yang sudah mahu baca tulisan saya. Malaysia boleh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih,,jd kagum :)

      Delete
  16. adammasang@yahoo.com5:45 AM, August 18, 2012

    bro....knpa kmu pintar banget? hehehe....sy senang skali mbacanya....,slmt dn sukses ya?????

    ReplyDelete
  17. adammasang@yahoo.com5:46 AM, August 18, 2012

    slmt dn sukses buat abang lambert...sy senang skali mbaca blok ini...

    ReplyDelete
  18. Maaf bro, bapak saya dari ende merantau ke jakarta 50th yg lalu,sblm beliau meninggal,beliau sempat berpesan untuk mencari keluarga di ende dan kami cm bermodal nama asli bapak "PETRUS DANRO" Apa kira2 si bro tau asal nama bapak saya itu.. Mohon bantuannya bro.. Trims..!

    ReplyDelete
  19. Bang help,,,klo pitaloka fam dari mana ya? Thanks

    ReplyDelete
  20. Hi, Bang Lambert, Salam kenal Neny dari Malang, terimakasih atas postingannya yang edukatif. saya jadi menyadari ternyata banyak pula orang keturunan/berdarah Flores yang penasaran dengan asal usul nama Flores dari para leluhurnya namun tidak memiliki info darimana itu berasal dan dimana keluarga Floresnya tinggal. itu termasuk saya, Bagaimana dengan nama fam Adamuka? pernahkah mendengar? saya tunggu infonya.. terimakasih

    ReplyDelete
  21. Terimakasih postingannya,
    Bagaimana dengan fam Adamuka? adakah info tentang nya?

    ReplyDelete