18 May 2006

Musik Rakyat Flores


Orang Flores umumnya mewarisi bakat musik yang sangat kental. Di mana-mana orang menyanyi, menari, bergembira. Image bahwa kawasan ini melarat, selalu kelaparan, kurang pangan, memang ada benarnya. Tapi jika Anda datang ke Flores, Anda akan mudah menemukan suasana yang segar. Nyanyian sudah identik dengan keseharian warga Flores dan sekitarnya.

Bukanlah Flores itu pulau miskin? Tempatnya orang susah? Memang. Tapi, yang jelas, warga sejak dulu tidak merasa miskin. Musik, menyanyi, menari bersama... ibarat katarsis yang membebaskan rakyat dari berbagai tekanan hidup nan berat. Nyanyian itu ibarat doa. Qui bene catat bis orat!


Yang menyanyi ini tak hanya anak-anak atau remaja sekolahan. Setahu saya, kakek-kakek 70-an tahun yang duduk di tangkai pohon siwalan, untuk mengambil niranya (dijadikan tuak), selalu bersenandung atau bernyanyi. Para nelayan menyanyi. Anak-anak menyanyi. Ibu-ibu bersenandung sambil memutar alat pembuat benang atau menggarap tenun ikat. Ini semua dilakukan secara alamiah, spontan, tak berharap pamrih atau pujian dari siapa pun.

Karena itu, tidak salah kalau sejumlah penulis/peneliti menuliskan kesan-kesannya bahwa Flores tak hanya ‘pulau bunga’, tapi juga ‘pulau musik’. Musikalitas orang Flores itu terasa sekali di Gereja Katolik Indonesia. Begitu banyak lagu-lagu liturgi inkulturasi yang dibawakan umat Katolik di seluruh Tanah Air.

Pelatih-pelatih kor, solis, penggubah lagu-lagu gereja sebagian besar berasal dari Flores atau Nusa Tenggara Timur. Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja pun paling banyak menggelar lokakarya komposisi musik liturgi di Flores/NTT.

Saya kutip tulisan JAP KUNST (1942), peneliti musik yang banyak melakukan riset soal musik di Indonesia sebelum kemerdekaan.

“Sebenarnya menurut saya, penduduk Flores lebih berbakat musik daripada suku-suku Indonesia terkenal lainnya seperti Sumatera, Jawa, dan Celebes di mana saya pernah mendengar suara-suara yang cukup bagus menyanyikan nyanyian yang pas. Itu berbeda dengan yang ada di Flores. Banyak laki-laki bersuara sangat merdu, sambil menyanyikan lagu-lagu sederhana di tepi sungai, masih terngiang di telinga saya, melodi yang juga sangat menyenangkan orang Eropa.”

“... dan di mana orang Flores yang mendayung tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solis dan bagian pengulangan yang dinyanyikan dalam paduan suara? Di antara para solis terdapat suara-suara yang dengan latihan yang lebih baik dapat menjadi suara tenor, sopran, dan bas yang baik” (Kunst, 1942, hlm 11).

TRIYONO BRAMANTYO (2004), peneliti musik lulusan Institut Seni Indonesia, lahir 18 Februari 1957 di Trenggalek, dalam bukunya DISSEMINASI MUSIK BARAT DI TIMUR pun banyak menulis ‘keunggulan’ orang Flores di bidang musik.

Petikannya:

“Flores tidak hanya melestarikan lau-lagu liturgi kuno Latin dan Portugis, tetapi juga lagu rakyat Barat kuno yang masih sangat populer hingga sekarang. Penemuan pertama lagu-lagu ini dilakukan oleh Jaap Kunst yang berkunjung ke pulau itu pada tahun 1930.

"Dalam kunjungan tersebut dia merekam vokal dan musik instrumen dari Flores Timur. Meskipun dia datang dengan harapan tinggi, tetapi dia masih sangat heran dengan apa yang dia temukan di pulau tersebut. Dia berkata, ‘Saya tidak pernah menyangka bahwa pulau ini menghasilkan kekayaan dalam wujud musik atau bermacam-macam alat musik’.

"Untuk tujuan ini, dia mengirim 70 silinder piringan hitam vokal dan musik instrumen dan terkumpul sebanyak 90 musik instrumen. Dia juga menulis notasi lagu dan mengambil foto serta film dari para pemain, penari, dan alat-alat musik. Dia juga terkejut dengan penemuan beberapa lagu yang berkarakter, dalam istilahnya, lagu-lagu Valerius ‘more or less international’. Lagu-lagu Valerius adalah lagu yang berkarakter pada permulaan abad XVII, bahkan XVI, berasal dari nyanyian masyarakat Eropa Utara.”

Kesaksian menarik juga ditulis Kapten Tasuku Sato dan P Mark Tennien dalam buku I REMEMBER FLORES, penerbit Farrar, Straus and Cudahy, New York, 1957. Kapten Tasuku Sato yang lahir di Taipei pada Oktober 1899, pernah menjabat Komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943.

Tasuku Sato menulis:

“... Penduduk pribumi Flores memiliki bakat musikal luar biasa. Mereka dapat mempelajari lagu baru dan langsung melagukannya dalam sekli dengar.”

“Orang-orang Flores mempunyai bakat alam dalam bidang musik. Mereka dapat mempelajari lagu dengan cepat dan baik sekali. Mereka juga menirukan lagu-lagu Jepang dengan cepat.

"Orang-orang Flores juga mudah menangkap lagu-lagu yang mereka dengar dari radio, lalu menirukannya. Mereka mempunyai orkes asli yang terdiri atas bermacam-macam drum. Lagunya hidup dan sedap didengar. Di bawah pengawasan komisi kebudayaan, anak-anak diajarkan melagukan dan memainkan nyanyian-nyanyian Jepang....”

1 comment:

  1. kira-kira apa data yang bisa saya angkat di musik flores untuk skripsi saya ??? thx.

    ReplyDelete