29 May 2006

Gang Inul





JIKA melintas dari Porong (Sidoarjo) ke arah Malang, berbeloklah sejenak ke sebelah barat, ke arah markas Brimob di Watukosek. Nah, tak jauh dari traffic light, sekitar 100 meter, ada sebuah gang kecil di sebelah utara. Simak baik-baik nama gang itu: Gg Inul, Meli’an, Kejapanan, RT 3 RW 9.

Gang Inul ini sangat populer di Kejapanan, Kecamanatan Gempol, kampung halaman Inul Daratista. Di sebelah kanan ada stan buah-buahan, di sebelah kiri konter telepon seluler berikut aksesorisnya: Inul Cellular.

“Soalnya, rumahnya Mbak Inul tidak jauh dari sini,” ujar warga setempat yang mengaku bernama Bambang, kemarin.

Benar saja. Saya pun melintasi Gang Inul. Tak sampai 50 meter, tampak sebuah rumah besar, pagar mengkilat, bertingkat, mewah... dengan angkuh menyapa kita. Pekarangan luas, perabotan antik ala rumah kelas atas di kota besar.

Ya, itulah rumah Haji Muhammad Aman, bekas penjahit yang tak lain ayah kandung Inul Daratista.

“Rumah ini dulunya biasa-biasa saja kayak rumah-rumah lain. Tapi, setelah Inul naik daun, rumah orang tuanya direnovasi total,” cerita Bambang yang menjadi ‘pemandu wisata’ saya seraya tersenyum.

Sayang, kami tak bisa masuk ke dalam rumah mewah itu karena penghuninya tak ada di tempat. Mungkin saja mereka sibuk menemani Inul Daratista yang show ke mana-mana. “Tadinya rumah kecil. Tapi rumah di belakangnya dibeli, sehingga bentuknya berubah sama sekali,” tambah Bambang yang mengaku banyak tahu cerita seputar Inul di kampung halamannya.

Lalu, bagaimana ceritanya nama gang kampung itu ditahbiskan menjadi Gang Inul? Bambang, juga beberapa warga Kejapanan lain, yang saya temui kurang antusias bercerita. Ada kesan, mereka kurang sreg dengan perubahan nama gang kecil sepanjang hampir 100 meter itu.

“Kami di sini, ya, nggak tahu banyak. Tahu-tahu nama Gang Melikan sudah berubah menjadi Gang Inul,” tutur pria berkulit gelap ini, pasrah.

Sebagai warga asli Kejapanan--sama dengan Inul Daratista--Bambang dan beberapa temannya berpendapat, mengubah nama gang atau jalan tidak bisa dilakukan serta-merta begitu saja. Warga Melikan, khususnya RT 03/RW 09, harus diajak musyawarah, dimintai masukan, apakah perubahan nama itu perlu.

Lagi-lagi, Bambang terkesan kurang sreg dengan nama Gang Inul.

“Lha, ini nggak pakai prosedur, tahu-tahu namanya sudah lain. Padahal, sejak saya belum lahir, sejak zaman Jepang, gang di sini, ya, Gang Melikan,” ujar pria berusia 40-an tahun itu.

Menurut Bambang, perubahan nama itu merupakan kebijakan sepihak dari Adam Suseno, suami Inul, yang juga warga Kejapanan. “Mungkin Adam merasa perlu mengabadikan nama istrinya di Kejapanan. Tapi, ya, itu, warga seperti saya tidak pernah ditanya apa-apa,” keluhnya.

Begitulah, sukses Inul Daratista di blantika musik Indonesia dengan goyang ngebornya melahirkan perasaan bercampur di kalangan warga Kejapanan. Satu sisi, nama Kejapanan dan Kabupaten Pasuruan ikut terangkat, dikenal di mana-mana, namun di sisi lain banyak warga tak suka goyangan Inul yang erotis itu. Apalagi, ketika isu pornoaksi merebak akhir-akhir ini--dan Inul Daratista dianggap sebagai ikon pornoaksi--warga Gang Inul alias Gang Melikan jadi serba salah.

“Kami bisa dianggap pendukung pornoaksi. Padahal, aslinya kan tidak begitu. Masyarakat di Gang Melikan itu agamanya kuat. Orang tuanya Inul itu agamanya sangat kuat. Masa, kami dianggap pendukung pornoaksi,” tutur Bambang seraya menyeruput kopi tubruk panas.

Sementara itu, belum lama ini ada sebagian warga Pasuruan melakukan unjuk rasa menolak kedatangan Inul Daratista--jika istri Adam Suseno itu tetap bergoyang ngebor. “Jadi, kami ini serba salah. Membela Inul ya repot, menentang Inul, wong dia warga kami juga,” kata Bambang.

Tak heran, warga Gang Inul rata-rata memilih diam, bahkan apatis, jika diajak bicara soal gang di kampungnya atau pro-kontra goyang Inul. Diam itu emas!

“Inul sendiri pun cuek dengan warga, ngak pernah bertemu kami kalau datang ke sini,” ujar Bambang. Apa pun kata orang, secara de facto Gang Inul itu sudah dikenal luas di kawasan Kejapanan.

25 May 2006

Rumah Azahari di Malang



Peristiwa penggerebekan Dr Azahari Husin, gembong teroris asal Malaysia, bersama anak buahnya sudah lima bulan berlalu. Namun, hingga kini rumah kontrakan Azahari di Vila Flamboyan Raya Blok A1/7 Batu, Kabupaten Malang, masih terus didatangi wisatawan dari dalam dan luar negeri.


SEBUAH rombongan turis sawo matang tiba-tiba mampir ke bekas rumah Azahari yang masih berantakan itu, Rabu (17/05/2006). Garis polisi atau police line masih melilit rumah yang hancur terkena bom pada 9 November 2005 lalu. Semrawut, tak ada keindahan sama sekali.

Namun, turis-turis ini sibuk mengamati, mengambil gambar, sambil berbincang di antara mereka. Logat bahasa mereka mengingatkan Suyati (58) pada Dr Azahari atau Noordin M Top. Omong punya omong, ternyata sekitar 20 pelancong ini memang berasal dari Malaysia.

"Saya tanya sama mereka, apakah kalian mengenal dekat Azahari dan Noordin? Jangan-jangan masih keluarganya," cerita Suyati yang saya temui di rumahnya, pekan lalu.

Rumah Suyati, yang akrab disapa Bu Salamun ini, persis di depan bekas kontrakan Azahari Husin, Noordin M Top, Arman, Muhammad Cholily alias Yahya Antoni, serta beberapa kaki tangan Azahari-Noordin.

Para pelancong Malaysia ini pun ramai-ramai membantah punya hubungan dengan Azahari dan Noordin. Mereka datang dari Kuala Lumpur dan sekitarnya (negara bagian Selangor), satu Kerajaan (negara, red) dengan sang gembong teroris, namun tak punya hubungan apa-apa. Mereka justru sangat menentang sepak terjang duet teroris top Asia Tenggara itu.

"Di Malaysia mereka itu justru dikejar-kejar," tutur Suyati menirukan kata-kata pelancong asal Malaysia itu.

Begitulah. Hampir setengah tahun terjadi penggerebekan Azahari, yang diikuti aksi tembak-menembak antara pasukan Densus 88 Antiteror/Polri, di kawasan sejuk itu. Azahari dan Arman tewas. Namun, masyarakat masih tetap penasaran, ingin melihat langsung tempat persembunyian si gembong teroris.

Menurut Suyati, juga saksi mata, hampir setiap hari selalu ada pengunjung yang datang menengok bekas rumah Azahari. "Yah, saya pasti jadi tempat bertanya mereka. Wong rumah saya kan cuma beberapa meter dari tempatnya Azahari," ujar Suyati.

Dibandingkan dengan akhir tahun lalu, ketika kasus Azahari masih ramai dibicarakan, jumlah pengunjung 'objek wisata' ini sudah jauh menurun. Dulu, November-Desember 2005, hampir tiap hari pengunjung membeludak sehingga kawasan Flamboyan pun macet. Di akhir pekan, Sabtu-Ahad atau hari libur nasional, jangan tanya lagi.

"Waktu itu jualan kita ramai sekali," kenang Suyati.

Wanita berbusana muslim ini membuka kafe makanan kecil serta gerai penjualan cendera mata persis di depan bekas rumah kontrakan Azahari dan Noordin M Top.

Kini, kemacetan dan hingar-bingar pedagang kaki lima di kompleks bekas rumah teroris itu tak ada lagi. Tapi tidak berarti minat warga untuk datang ke sana surut sama sekali. Contohnya, ya, 20-an pelancong asal Malaysia itu tadi.

Menurut Suyati, kalau ada acara konferensi atau rekreasi di kawasan Malang Raya, khususnya Kota Batu, biasanya orang menyempatkan diri datang ke Flamboyan Raya A1/7. "Seperti orang-orang Malaysia itu, ya, mereka mampir karena kebetulan ada kunjungan ke Surabaya. Sebelumnya juga ada pengunjung dari luar negeri, orang kulit putih," tutur Suyati seraya tersenyum.

Wali Kota Batu Imam Kabul sempat mengemukakan rencana membuat monumen antiterorisme di bekas rumah kontrakan Azahari dan Noordin M Top. Tidak sulit, tentu, membuat monumen sederhana.

Hanya saja, program untuk menambah objek wisata baru di Batu belum bisa terwujud karena Mabes Polri belum mengizinkan. Sebab, rumah sederhana milik Supomo, warga Surabaya, itu masih dijadikan barang bukti sidang kasus terorisme yang masih berlangsung di Denpasar dan beberapa kota lain.

20 May 2006

Pater Josef Glinka SVD



Saya sedang mewawancarai dua tokoh John Paul II Foundation asal Polandia. Pater Glinka SVD (paling kanan, gemuk) menjadi penerjemah karena mereka bicara dalam bahasa Polandia. Kebetulan Glinka dan dua rohaniwan Katolik itu sama-sama berasal dari Polandia, satu negara dengan almarhum Paus Yohanes Paulus II.


Foto ini diambil ketika saya melakukan wawancara khusus dengan dua uskup asal Polandia tersebut. Pater Josef Glinka SVD tokoh luar biasa, setidaknya bagi saya. Terlalu banyak yang harus ditulis tentang beliau. Beliau ahli antropologi ragawi, guru besar Universitas Airlangga, pastor SVD, lama berkarya di Flores, cinta Indonesia, bahasa Indonesianya sangat bagus… sangat dikenal di Surabaya, Flores, bahkan Indonesia.

Asal tahu saja, profesor antropologi di Tanah Air tak sampai lima orang.

Saya beberapa kali mewawancarai Prof Glinka. Salah satunya wawancara panjang untuk dimuat satu halaman koran RADAR Surabaya edisi Minggu. Janjian ketemu, on time. Lalu, saya merekam kata-kata beliau yang tegas, sistematis, semuanya layak dikutip.

Lahir di Chrorzow, kota industri di Polandia selatan pada 7 Juni 1932, Pater Glinka dan enam misionaris lain tiba di Jakarta 27 Agustus 1965. Desember 1966, Glinka mulai berkarya di Flores, tepatnya di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.

Tak hanya bekerja sebagai pastor, Glinka melakukan riset antropologi dengan sangat intensif. Nah, sejak 1965 itulah ia tinggal di Indonesia, menghirup udara nusantara, bersosialisasi dengan orang Indonesia, khususnya Flores.

Kepada saya, Pater Glinka menyampaikan apresiasi yang tinggi untuk orang Flores. “Orang Flores itu jujur. Polos. Apa adanya,” puji Pater Glinka. Saya, asli Flores Timur dari kampung pelosok, pun bangga.

Setelah puluhan tahun tinggal dan bekerja di Indonesia, Pater Glinka melamar jadi warga negara Indonesia. Istilahnya, minta naturalisasi. Ternyata, prosesnya tidak mudah. “Sampai sekarang belum diterima. Saya tidak tahu kenapa,” kata pastor yang pintar memasak ini.

Catatan Jumaadi dari Sydney

Meskipun hubungan diplomatik Indonesia dan Australia pasang-surut, warga Indonesia di Australia berusaha menjalin saling pengertian di antara kedua bangsa. Seniman asal Sidorjo yang mukim di Sydney membagi pengalamannya melakukan ‘diplomasi budaya’ dari sekolah ke sekolah di Australia.

Oleh JUMAADI, Sydney

Saat ini Sydney sedang musim gugur. Cuaca dingin, apalagi beberapa hari ini hujan. Maka, kota sedikit kelihatan sendu. Tapi, saya suka musim gugur ketimbang musim panas yang menyengat, berangin, dan berkeringat.

Pekan depan saya berangkat ke daerah yang cukup dingin, Riverina. Letaknya di perbatasan New South Wales dengan Victoria. Riverina, karena memang daerah tersebut dilewati sungai besar. Saya dan seorang teman Australia (Max Libermen namanya) akan berkemah di taman nasional di sepanjang sungai yang melewati beberapa kota kecil itu.

Di setiap daerah permukiman di sepanjang sungai itu ada satu atau dua sekolah. Nah, di sekolah itulah kami akan memainkan wayang overhead projector dan mendongeng. Pertunjukan berlangsung 45 menit. Namun, untuk memasang dan membongkar panggung masing-masing perlu waktu 40 menit. Jadi, setiap hari kami kan mengunjungi dua sekolah, dengan setidaknya dua kali petunjukan. Jarak antara sekolah yang satu dengan lainnya kurang lebih 60 km.

Inti pertunjukan tersebut adalah menjelaskan Indonesia dari kacamata saya (Jumaadi, red). Kacamata seorang anak gembala yang kehilangan ladangnya, namun masih menyimpan indah kenangannya. Dalam pertunjukan itu saya bercerita menggunakan wayang, slides, gitar, nyanyian, nembang, serta menggambar.

Cerita yang sering saya bawakan tentang seorang perjaka yang akhirnya meminang Bidadari, Nawang Wulan.

Anda pasti tahu bahwa ini dongeng tentang Jaka Tarub. Sang Bidadari harus kembali ke surga. Demikianlah, cerita itu menjadi mitos terpenting bagi kaum agraris di Tanah Air, khususnya Pulau Jawa. Selain itu ada adegan Rama, cerita dari India yang diadopsi ala Jawa.

Pertunjukan saya mulai dengan menganyam rumput di hadapan 200 siswa di aula mereka. Sembari menganyam rumput, saya perkenalkan diri.

“Nama saya Jumaadi. Juma karena lahir pada hari Jumat, dan Adi berarti bagus. Jadi, Jumaadi berarti anak laki-laki yang lahir di hari Jumat dan berhati bagus. Dan seterusnya,” kata saya dalam bahasa Inggris, tentu saja.

Selanjutnya, saya jelaskan posisi saya sebagai kakak tertua yang pekerjaannya menggembala kambing, kerbau, dan 300 bebek di bagian timur Sidoarjo, yang saat itu masih persawahan, namun kini dipenuhi rumah-rumah. Bagaimana ibu saya bangun jam empat pagi menanak nasi dan bapak ke musala, terus ke sawah atau tambak.

Sedangkan saya, sebelum matahari terbit harus sudah mengumpulkan telur bebek di keranjang. Dan ibu membawanya ke pasar untuk ditukar dengan sayuran, kue manis, daging, buku tulis, pensil, sarung, baju baru, beras, bahkan pada suatu pagi sepeda baru.

Kesempatan untuk mendongeng itu sebenarnya bermula dari ketertarikan orang Australia akan karya-karya lukis dan instalasi kecil saya. Kemudian saya diundang di pusat kesenian dan sekolah-sekolah untuk ceramah tentang kesenian saya dan asal-muasal penciptaannya.

Saya juga beruntung telah memenangkan beberapa penghargaan dan hadiah serta bea siswa di Australia. Saat ini, selain mengajar kesenian, saya juga menyelesaikan pascasarjana di jurusan seni lukis.

Kesenian yang saya tekuni adalah bagian dari gerakan kesenian kontemporer yang angkuh, keren, dan sok modern. Saya masih bisa keren, gagah, namun tetap saja sebagai bagian dari dunia kecil, pada kenangan masa kecil. Dengan gambar-gambar kecil, suara orang-orang kecil. Suara saya sendiri.

Saya bangga dengan ini. Karena di dunia dewasa, orang-orang selalu memberikan ketakjubannya pada anak-anak yang polos dan manis, bukan? Pada kacamata kecil ada keajaiban besar. Seperti perahu-perahu kecil yang menaklukkan lautan besar dengan keelokan dan keseimbangannya.

Bercerita di hadapan anak-anak Australia itu sangat memberikan kepuasan batin. Setiap kali saya tuturkan latar kehidupan saya, mereka tercengang dan seolah ‘cemburu’. Meskipun sekarang saya hidup di kota Sydney, yang besar, bergumul dengan makhluk manusia dari seluruh dunia, saya tahu di mana harus berpijak. Sebab, nyanyian masa kecil dan kidung di bawah rembulan selalu mengiang dan menunjukkan jalan.

Ketika orang meneriaki dunia Barat yang kejam. Ketika Indonesia marah karena urusan Papua. Saya bercerita di hadapan 200 anak per sekolah, dan beberapa bulan ke depan saya akan mengunjungi 80 sekolah. Bercerita tentang kedamaian. Berdialog tentang bahasa hati, dan mengajak mereka menyanyi bersama Ampar-Ampar Pisang, Di Sini Senang di Sana Senang, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Jaranan. Saya yakin hati mereka akan terbuka untuk melihat Indonesia dari kacamata yang sahaja.

Politik dan pemerintahan terlalu besar bagi orang seperti saya. Tapi kasih sayang dan cinta tidak pernah cukup untuk direguk dan disiramkan kembali. Anak-anak itu biasanya bercerita atas kunjungan kami kepada kerabatnya, orang tuanya. Mereka bahkan membuat gambar, menulis surat kepada saya.

Mereka mulai merasai Indonesia. Merasai denyut napas kerbau-kerbau dan itik-itik. Merasakan hangatnya telur Nusantara.

18 May 2006

Musik Rakyat Flores


Orang Flores umumnya mewarisi bakat musik yang sangat kental. Di mana-mana orang menyanyi, menari, bergembira. Image bahwa kawasan ini melarat, selalu kelaparan, kurang pangan, memang ada benarnya. Tapi jika Anda datang ke Flores, Anda akan mudah menemukan suasana yang segar. Nyanyian sudah identik dengan keseharian warga Flores dan sekitarnya.

Bukanlah Flores itu pulau miskin? Tempatnya orang susah? Memang. Tapi, yang jelas, warga sejak dulu tidak merasa miskin. Musik, menyanyi, menari bersama... ibarat katarsis yang membebaskan rakyat dari berbagai tekanan hidup nan berat. Nyanyian itu ibarat doa. Qui bene catat bis orat!


Yang menyanyi ini tak hanya anak-anak atau remaja sekolahan. Setahu saya, kakek-kakek 70-an tahun yang duduk di tangkai pohon siwalan, untuk mengambil niranya (dijadikan tuak), selalu bersenandung atau bernyanyi. Para nelayan menyanyi. Anak-anak menyanyi. Ibu-ibu bersenandung sambil memutar alat pembuat benang atau menggarap tenun ikat. Ini semua dilakukan secara alamiah, spontan, tak berharap pamrih atau pujian dari siapa pun.

Karena itu, tidak salah kalau sejumlah penulis/peneliti menuliskan kesan-kesannya bahwa Flores tak hanya ‘pulau bunga’, tapi juga ‘pulau musik’. Musikalitas orang Flores itu terasa sekali di Gereja Katolik Indonesia. Begitu banyak lagu-lagu liturgi inkulturasi yang dibawakan umat Katolik di seluruh Tanah Air.

Pelatih-pelatih kor, solis, penggubah lagu-lagu gereja sebagian besar berasal dari Flores atau Nusa Tenggara Timur. Pusat Musik Liturgi (PML) Jogja pun paling banyak menggelar lokakarya komposisi musik liturgi di Flores/NTT.

Saya kutip tulisan JAP KUNST (1942), peneliti musik yang banyak melakukan riset soal musik di Indonesia sebelum kemerdekaan.

“Sebenarnya menurut saya, penduduk Flores lebih berbakat musik daripada suku-suku Indonesia terkenal lainnya seperti Sumatera, Jawa, dan Celebes di mana saya pernah mendengar suara-suara yang cukup bagus menyanyikan nyanyian yang pas. Itu berbeda dengan yang ada di Flores. Banyak laki-laki bersuara sangat merdu, sambil menyanyikan lagu-lagu sederhana di tepi sungai, masih terngiang di telinga saya, melodi yang juga sangat menyenangkan orang Eropa.”

“... dan di mana orang Flores yang mendayung tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solis dan bagian pengulangan yang dinyanyikan dalam paduan suara? Di antara para solis terdapat suara-suara yang dengan latihan yang lebih baik dapat menjadi suara tenor, sopran, dan bas yang baik” (Kunst, 1942, hlm 11).

TRIYONO BRAMANTYO (2004), peneliti musik lulusan Institut Seni Indonesia, lahir 18 Februari 1957 di Trenggalek, dalam bukunya DISSEMINASI MUSIK BARAT DI TIMUR pun banyak menulis ‘keunggulan’ orang Flores di bidang musik.

Petikannya:

“Flores tidak hanya melestarikan lau-lagu liturgi kuno Latin dan Portugis, tetapi juga lagu rakyat Barat kuno yang masih sangat populer hingga sekarang. Penemuan pertama lagu-lagu ini dilakukan oleh Jaap Kunst yang berkunjung ke pulau itu pada tahun 1930.

"Dalam kunjungan tersebut dia merekam vokal dan musik instrumen dari Flores Timur. Meskipun dia datang dengan harapan tinggi, tetapi dia masih sangat heran dengan apa yang dia temukan di pulau tersebut. Dia berkata, ‘Saya tidak pernah menyangka bahwa pulau ini menghasilkan kekayaan dalam wujud musik atau bermacam-macam alat musik’.

"Untuk tujuan ini, dia mengirim 70 silinder piringan hitam vokal dan musik instrumen dan terkumpul sebanyak 90 musik instrumen. Dia juga menulis notasi lagu dan mengambil foto serta film dari para pemain, penari, dan alat-alat musik. Dia juga terkejut dengan penemuan beberapa lagu yang berkarakter, dalam istilahnya, lagu-lagu Valerius ‘more or less international’. Lagu-lagu Valerius adalah lagu yang berkarakter pada permulaan abad XVII, bahkan XVI, berasal dari nyanyian masyarakat Eropa Utara.”

Kesaksian menarik juga ditulis Kapten Tasuku Sato dan P Mark Tennien dalam buku I REMEMBER FLORES, penerbit Farrar, Straus and Cudahy, New York, 1957. Kapten Tasuku Sato yang lahir di Taipei pada Oktober 1899, pernah menjabat Komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943.

Tasuku Sato menulis:

“... Penduduk pribumi Flores memiliki bakat musikal luar biasa. Mereka dapat mempelajari lagu baru dan langsung melagukannya dalam sekli dengar.”

“Orang-orang Flores mempunyai bakat alam dalam bidang musik. Mereka dapat mempelajari lagu dengan cepat dan baik sekali. Mereka juga menirukan lagu-lagu Jepang dengan cepat.

"Orang-orang Flores juga mudah menangkap lagu-lagu yang mereka dengar dari radio, lalu menirukannya. Mereka mempunyai orkes asli yang terdiri atas bermacam-macam drum. Lagunya hidup dan sedap didengar. Di bawah pengawasan komisi kebudayaan, anak-anak diajarkan melagukan dan memainkan nyanyian-nyanyian Jepang....”

08 May 2006

Jagung Titi Makanan Khas Lamaholot



Saya beruntung punya adik (sepupu, foto) LINDA WATI di Jakarta. Gadis manis campuran Flores Timur-Betawi ini, menariknya, punya apresiasi tinggi pada adat dan budaya Flores.

Ayahnya, KANIS KIA HUREK, masih tergolong sepupu dengan ayah saya, NIKOLAUS NUHO HUREK. Ama Kia ini tergolong orang Flores yang ‘berani’ merantau, keluar kandang, dan akhirnya melahirkan keturunan dengan mixed blood, darah campuran, yang unik. Anak-anak muda generasi kedua (campuran Flores non-Flores) ini akan semakin banyak ditemukan di Tanah Air.

Dari Linda, saya sering mendapat kiriman paket khusus, kilat, nan spesial: JAGUNG TITI. Saya selalu menikmati emping jagung khas Flores Timur ini dengan penuh syukur. Jagung titi tak sekadar makanan kecil (snack), tapi juga simbol lewotanah (Tanah Air) bagi warga Flores Timur (Lembata, Adonara, Solor, Flotim Daratan).

Di Surabaya dan Sidoarjo, saya juga kerap menikmati jagung titi di rumah sahabat atau kenalan. Makanan ini punya nilai tinggi karena sangat langka di Jawa. Sebagai barang langka, dia mahal, selalu dicari, ingin terus dinikmati dan dinikmati. Mau tahu cerita tentang jagung titi atau dalam bahasa daerah (Lamaholot): WATA NENGEN? Baiklah.

Di kampung halaman, Lembata, semua rumah pasti punya alat pembuat jagung titi. Sederhana saja: batu kali (pantai) yang kokoh dan lempeng, sebagai landasan, kemudian sebuah batu sebesar genggaman tangan orang dewasa untuk ‘meniti’. Titi dalam bahasa melayu lokal (Larantuka) berarti ‘memukul’ sampai lempeng. Dari sinilah asal mula nama JAGUNG TITI itu tadi.

Di samping bebatuan sederhana tadi, ada tungku tiga batu, yang juga dipakai untuk keperluan memasak makanan sehari-hari di rumah, di pondok, di kebun, atau di mana saja ada orang kami bermalam.

Berbeda dengan emping melinjo atau produk-produk snack di Jawa, yang digarap oleh sejumlah pengusaha kecil (home industry), emping jagung alias jagung titi di Flores Timur ini dibuat di semua rumah. Bukan orang Lembata (Flores Timur) kalau perempuannya tak bisa buat jagung titi.

Makanan pokok di sana, khususnya sebelum 1980-an, memang jagung, sehingga jagung adalah hidup dan kehidupan warga itu sendiri.

Saya masih ingat benar suara batu-batu saling bersahutan dari rumah ke rumah setiap subuh. Mirip suara azan di Jawa yang bersahutan setiap subuh, membangunkan warga untuk salat. Suara batu itu tak lain dari dapur-dapur rumah penduduk. Yah… proses meniti jagung sedang terjadi. Paling afdol memang dilakukan pukul 04:00-06:00 Wita. Hasilnya nanti untuk sarapan atau disimpan, kapan saja bisa dimakan.

Cara membuat jagung titi sangat sederhana, tapi cukup ‘menyiksa’ bagi mereka yang belum biasa. Jagung dipipil dari tongkolnya, disangrai 5-7 menit hingga setengah matang. (Terlalu lama disangrai, jadilah jagung bunga.) Penyangraian harus di periuk/belanga tanah liat. Agar proses transfer panas lebih lambat, tapi merata ke seluruh bagian jagung pipilan. Jangan sekali-kali menggunakan periuk/wajan dari logam karena dijamin akan rusak berat. Letak batu penumbuk (peniti) berada di kanan tungku, karena jarang ada orang Flores yang kidal.

Nah, usai penyangraian (roasting), irama ‘musik batu’ itu pun mulai terdengar. Kaum wanita (ibu-ibu) secara otomatis menambil 5-7 butir jagung panas, ditaruh di atas batu landasan, dan… tangan kanan meniti. Butiran jagung panas pun langsung memipih. Jadilah jagung titi. Dua tiga butir berdempetan.

Di depan batu landasan ada wadah (anyaman dari daun siwalan) yang siap menampung hasil titian tadi. Jagung titi yang masih panas-panas, hhhmmmm…. nikmat luar biasa!!!!

Apa tangan si ibu/wanita itu (sebab, seumur-umur saya belum pernah melihat laki-laki membuat jagung titi) tidak kepanasan? Tangan tidak rusak. Waktu belum masuk SD, saya pun bertanya begitu. Alah bisa karena biasa. Tentu saja panas, tapi karena sudah jadi kebiasaan, bahkan budaya, panas itu tak terasa. Justru sangat dinikmati.

Karena itu, sebelum tahun 1980-an praktis tangan kaum perempuan Lembata/Flores Timur tebal-tebal dan cenderung ‘mati’ rasa panas. Tangan-tangan rajin ini pun banyak yang berwarna hitam pekat karena dipakai untuk mengolah tarum (bahasa daerah TAUM) sebagai bahan pewarna sarung. Benar-benar hitam!

Jagung titi berkualitas tinggi, menurut saya, harus gurih, tipis, tidak alot saat dikunyah, bahannya benar. Karena itu, memilih jagung untuk dititi butuh pengalaman dan naluri budaya yang luar biasa. Memang, semua wanita di Lembata pada dasarnya bisa membuat jagung titi, karena gampang, tapi hasilnya tidak dijamin bagus. Bisa jadi kekuatan pukulnya kurang, sehingga kurang pipih.

Jagung titi berwarna putih bersih rata-rata sangat dipuji. Saya ingat betul, di Mawa, Ileape, Lembata, jagung titi garapan Kak Wara Hurek dan Kak Paulina Hurek dikenal paling berkualitas, membuat orang ketagihan.

Jagung titi berasa khas, tapi musiman, adalah jagung titi muda. Bahannya diambil dari jagung yang baru saja dipanen. Kulitnya dibuka, dijemur sampai kering benar (kadar air harus rendah)… baru dititi. Enak sekali! Kalau dijual, saya rasa harganya bisa dua kali lebih mahal ketimbang jagung titi biasa. Stoknya sangat terbatas karena hanya ada pada saat panen.

Karena kadar airnya rendah, si jagung titi sangat awet disimpan. Lebih awet ketimbang jajanan biasa karena dia tidak punya minyak dan gula. Akan lebih awet lagi manakala disimpan rapat-rapat di dalam kaleng kedap udara. Warga kampung saya, dulu, punya kebiasaan menyimpang jagung titi di dalam kaleng biskuit Khong Guan yang gambarnya khas itu.

Maka, jika Anda bertandang ke rumah-rumah di kampung dan menemukan beberapa kaleng Khong Guan, saya pastikan isinya jagung titi. Biskuit aslinya sih sudah lama habis. Jika disimpan rapat-rapat, tidak kemasukan air, saya jamin disimpan enam bulan pun si jagung titi ini tetap awet.

Agar lebih khas, plus tambah protein nabati, lazimnya jagung titi ini dicampur dengan kacang tanah sangrai. Hmm… lebih enak. “Supaya lebih kenyang siram dengan air,” begitu nasihat mama-mama di kampung.

Anak-anak sekolah di kampung biasanya mengandalkan jagung titi untuk sarapan. Akan lebih afdol lagi, makanan ini diperkaya gizinya dengan ikan bakar, apalagi gurita, sebagai sumber protein hewani. Makanan laut di kampung sebetulnya sangat berlimpah karena kampung saya di Lembata itu benar-benar di pinggir laut. Rumah saya, misalnya, berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.


Ile Ape (Gunung Api) di kampung saya, Lembata, Flores Timur. Suasana eksotis ini sangat disukai para turis bule.

RODA zaman terus bergulir. Politik beras ala rezim Orde Baru membuat Nusatenggara Timur, yang nota bene tidak memproduksi beras, dikondisikan untuk makan nasi (rice) ala Jawa, Sumatera, Kalimantan. Guru-guru dan pegawai negeri sipil seperti bapak saya diberi jatah beras tiap bulan. Citra beras pun terangkat tinggi, imej jagung terus memudar.

Ketika Ben Mboi [Aloysius Benediktus Mboi] menjabat gubernur NTT selama dua periode, 1978-1988, dia pernah usul agar guru-guru dan PNS diberi jatah jagung, bukan beras. “Masa, guru-guru dikasih beras? Kita kan nggak bisa menghasilkan beras untuk kebutuhan warga?” kata Ben Mboi, gubernur yang menurut saya paling hebat dalam sejarah NTT.

Protes besar pun terjadi. Dus, usulan Ben Mboi ini hanya sekadar wacana yang tak pernah terealisasi.

Di sisi lain, sekolah-sekolah berhasil melahirkan generasi baru yang wawasannya lebih baik. Gaya hidup berubah. Orientasi tidak lagi ke dalam, tapi merantau atau sekolah di luar Flores. Maka, gadis-gadis muda mulai enggan berpanas-panas di dapur, membawakan irama musik batu setiap subuh, bikin jagung titi. Takut, tangannya ‘kapalan’, tidak mulus lagi.

Yah… zaman berubah. Gadis-gadis semakin memperhatikan penampilan, kosmetik, menganggap tradisi meniti jagung bisa merusak tangannya yang halus mulus. Doyan makan jagung titi, tapi tidak mau bikin sendiri. Mau konsumsi, tapi enggan memproduksi. Kayak orang Indonesia sekarang lah!

Sejak itulah irama batu pembuat jagung titi di pagi subuh makin redup kendati belum hilang sama sekali. Yang belum hilang ini, saya rasa, ibu-ibu yang telah berhasil melihat jagung titi sebagai peluang bisnis.

“Harganya mahal sekali. Saya baru pulang dari Riangkemie (dekat Larantuka), satu gelas saja Rp 1.000,” cerita Mbak Wahyuni, warga kampung Dinoyo, Surabaya, yang kebetulan suaminya orang Flores Timur.

Jagung titi sejak 1990-an memang jadi komoditas di pasar, termasuk di kampung. Kalau dulu, waktu saya kecil, jagung titi ibarat ‘barang bebas’ yang tanpa harga, sekarang berubah menjadi ‘barang ekonomis’. Ada uang ada barang!

Saya sering menjemput orang Lembata, termasuk adik saya Is dan Ernie, di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di perjalanan ke pelabuhan saya hanya jagung titi, jagung titi, jagung titi. Nah, setelah berbasa-basi, tanya kabar, kesehatan… saya pun melontarkan pertanyaan krusial itu.

“Mete wata nengen aya le take?” (Bawa jagung titi banyak atau sedikit?)

“Kame mete hala. Pi wata nengen teti lewo pe welin-welin. Kame hope hala,” (Sekarang jagung titi di kampung sangat mahal. Jadi, kami tidak beli.)

Saya langsung kecut. Selera untuk bertanya lebih jauh pun hilang sama sekali.

“Sekarang jagung titi sangat mahal,” ulang saya di dalam hati.

Kesimpulannya jelas. Orang Flores Timur yang lahir pada awal 1980-an tidak pernah lagi menikmati the song of stones, nyanyian bebatuan, dari dapur-dapur setiap subuh. Jagung titi bukan lagi makanan siap saji di rumah-rumah, melainkan komoditas cendera mata yang hanya bisa DIBELI di tempat-tempat tertentu.

Sejak bertemu pengalaman ‘buruk’ di Pelabuhan Tanjung Perak–banyak orang Lembata ternyata tidak membawa oleh-oleh jagung titi, karena mahal–saya pun kehilangan selera untuk memesan jagung titi dari kampung. Saya tak ingin mereka harus membeli ke mana-mana, karena di rumah tak ada lagi produksi jagung titi.

Bukan tak mungkin, 20 hingga 50 tahun lagi jagung titi tinggal sejarah di Flores Timur. Sekarang saja, tahun 2006, saya justru mendapat kiriman jagung titi dari JAKARTA, bukan dari kampung pelosok Flores Timur.

Alamak!

07 May 2006

Pemilu ala Singapura


Saya (kanan, hormat militer) bersama Puji Raharjo sedang melepas lelah di Orchard Road, Singapura. Habis jalan kaki keliling negara kecil ini membuat badan capek, tapi asyik. Pejalan kaki dihargai, punya tempat jalan yang bagus, taman bersih, serba indah lah. Saya kagum sekaligus iri sama Singapura.

MELINTAS di berbagai sudut kota Singapura, kehidupan praktis berjalan biasa-biasa saja. Warga sangat disiplin, budaya antre, etos kerja tinggi, ambisi luar biasa untuk memperoleh uang banyak. Politik? Ah, itu bukan naluri warga Singapura yang 80 persen etnis Tionghoa.

“Yang penting kerja kita bagus, penghasilan bertambah. Tapi saya pasti datang ke tempat pemungutan suara,” ujar pria yang mengaku bernama Peter Chen di Copthorne Orchid Hotel, 214 Dunearn Rod, kepada saya, Selasa (2/5/2006).

Seperti pemilu sebelumnya, Peter mengaku akan memilih kandidat dari PAP, yang berkuasa sejak negara ini didirikan pada 1965. Alasannya, selama ini pemerintah yang berkuasa sudah berjasa membawa Singapura menjadi negara yang makmur. Menurut dia, tak ada warga bakal memilih kandidat dari partai oposisi yang selama ini hanya pajangan belaka di Singapura.

“Buat apa oposisi? Itu berbahaya sekali,” tegas pria berusia 50-an tahun ini.

Wan Ismail (nama samaran), warga Singapura berdarah Melayu, mengaku tidak berselera saat diajak bicara soal pemilu di negaranya. Alasannya, itu tadi, jauh-jauh sebelumnya hasil pemilu sudah diketahui masyarakat.

Dari 84 kursi parlemen yang diperebutkan, calon dari partai oposisi hanya bisa meraih beberapa gelintir kursi. Pemilu 2001, misalnya, oposisi hanya mendapat 29 kursi alias 34 persen.

“Buat apa berbincang soal pilihan raya? Jelas PAP yang menang. Apa yang menarik dari pilihan raya, kok wartawan Indonesia masih sempat meliput ke sini,” ujar Wan Ismail seraya tertawa lebar.

Seperti umumnya orang Melayu, Wan Ismail sangat kritis mencermati kehidupan politik di negaranya. Namun, buru-buru ia mengingatkan saya untuk tidak menulis nama aslinya. Kenapa? “Anda tahu Singapura ini negara intel. Kalau mengkritik pemerintah, kita bisa ditangkap. Tak usahlah bicara soal pilihan raya. Buat apa?” pinta Wan Ismail.

Toh, suasana kampanye pemilu dengan sistem distrik ini cukup meriah dalam sepekan terakhir. Poster-poster bergambar sang caleg dipasang rapi di pepohonan pinggir jalan raya. Suasana ini mirip kampanye pemilu legislatif di Indonesia pada 2004 lalu. Hanya saja, pemasangan poster tidak semrawut atau asal tempel seperti di sini.

Tim kampanye caleg, termasuk PAP (partai pemerintah) dilarang keras melukai pohon-pohon yang memang sangat ‘dimuliakan’ di Singapura. Sebab, dendanya mencapai 1.000 dolar Singapura (sekitar Rp 5,5 juta, red) atau penjara 12 bulan.

Karena itu, ketika melintasi di kawasan Potong Pasir, saya menyaksikan poster-poster ini terpampang di kayu kering, kemudian diikat di pohon atau tiang listrik. Dari poster-poster ini saja terlihat betapa jomplangnya kekuatan kontestan pemilu. Bagaimana tidak. Poster-poster calon dari oposisi sangat sulit ditemukan karena sudah ‘di-booking’ calon dari PAP.

PAP ini persis Golkar era Orde Baru. Menang pemilu itu pasti, tapi harus telak. Karena PM Goh Chok Tong pada 2001 berhasil memenangkan PAP dengan 70 persen, maka PM sekarang, Lee Hsien Loong, setidaknya harus bisa mempertahankannya. Kalau hanya menang 60 persen, Lee dianggap gagal.

Warga Melayu–yang identik dengan Islam—-merupakan kaum minoritas, mereka terlibat aktif dalam politik. Sejumlah politisi Melayu gencar berkampanye untuk memenangkan Partai Aksi Rakyat (PAP).

Saluran televisi berbahasa Melayu di Singapura gencar memberitakan kegiatan para caleg Melayu. Namun, liputan ini tidak berimbang karena didominasi calon-calon dari PAP, partai yang berkuasa sejak Singapura berdiri pada 1965. PAP ini dipastikan menang telak dalam pemilihan umum (pemilu), Sabtu (6/5/2006).

Koran Berita Harian, yang berbahasa Melayu, pun praktis tidak memberikan tempat untuk kandidat dari tiga partai oposisi, yakni Partai Buruh (WP), Aliansi Demokratik Singapura (SDA), dan Partai Demokrat Singapura (SDP). Kalaupun diliput, biasanya pendapat para tokoh oposisi langsung dikecam keras oleh koran ini. Karena itu, saya dan wartawan asing sulit menangkap secara utuh isu-isu politik menjelang pemilihan umum.

Berbeda dengan minoritas China di Indonesia, warga minoritas Melayu sangat terlibat dalam politik di Singapura. Ini karena ‘negara singa’ itu sejak awal didesain oleh Raffles sebagai negara multikultur yang memadukan empat komunitas sekaligus: China, Melayu, India, dan Eurasia (keturunan Eropa). Jangan lupa, sampai hari ini gambar Yusuf Ishak, politikus Melayu yang juga salah satu founding father Singapura, terpampang di uang kertas Singapura.

Nah, karena sejak awal terlibat dalam politik, praktis tokoh-tokoh Melayu tampil sebagai penggerak PAP, the rulling party. Pada pemilu kali ini ada tujuh caleg Melayu yang tampil, yakni Zainul Abidin Rasheed, Yaacob Ibrahim, Abdullah Tarmugi, Hawazi Daipi, Mohammad Maliki Osman, Ahmad Mohamed Magad, Masagos Zulkifli Masagos Mohammad. Sementara itu, ada lima politisi Melayu lain yang dinyatakan ‘menang tanpa bertanding’.

Karena pemilu menggunakan sistem distrik murni, di mana warga memilih orang, bukan gambar partai, tujuh caleg Melayu ini sangat aktif berkampanye dari rumah ke rumah. Mereka datang ke flat-flat warga yang tersebar di Singapura.

[Di Singapura, sekitar 95 persen warga tinggal di berbagai flat alias rumah susun karena keterbatasan lahan.) Jadi, kampanye ala Singapura ini berisi dialog langsung. Bicara dari hati ke hati.]

Hawazi Daipi merupakan politikus terkenal yang mewakili komunitas Melayu (Islam). Seperti dikutip Berita Harian, Hawazi mengaku hanya bisa tidur kurang dari dua jam karena padatnya jadwal kampanye. Saat bertemu konstituennya, warga Melayu meminta agar flat mereka dilengkapi lift di semua tingkat.

Asal tahu saja, flat-flat kelas menengah-bawah di Singapura hanya menyediakan lift untuk lantai-lantai tertentu, misalnya lantai 3, lantai 6, lantai 9, dan seterusnya. Nah, warga yang tinggal di lantai 7 (apalagi lansia) tentu saja komplain. Seperti kampanye di Indonesia, Hawazi berjanji memperjuangkan pengadaan lift untuk semua tingkat kalau dirinya terpilih sebagai anggota parlemen. Juga penciptaan lapangan kerja sebanyak mungkin.

Yang jelas, warga Melayu yang umumnya kurang antusias dengan pemilu. Saat saya mengajak beberapa orang Melayu di kompleks Masjid Al-Falah, kawasan elite Orchard Road, untuk bicara soal pemilu, mereka rata-rata menghindar.

Saya justru diajak mendengar ceramah tentang tanda-tanda orang munafik. Politikus yang suka janji-janji, tapi tidak mampu menepati janjinya, jelas terbilang kaum munafik.

Hehehe..

Nama Orang Flores Timur



Aho tou dore misa teti Adonara Timur. Ina-ina gekata.. hehehe...



Nama itu pertanda.
Nomen est omen, kata pepatah Latin.
Shakespiere: what’s in a name!


Saya kira, orang Indonesia rata-rata menganut prinsip Latin itu tadi: nama itu pertanda. Ada artinya. Ada tata cara, ada aturan mainnya. Tidak asal-asalan memberi nama tertentu kepada anak yang baru lahir!

Begitulah, maka cara orang Jawa menamakan anaknya berbeda dengan orang Batak, Padang, Dayak, Makassar, Flores, dan seterusnya. Disesuaikan dengan tradisi atau adat di daerahnya masing-masing. Orang Jawa cenderung menamakan anaknya seindah mungkin, berisi doa atau harapan yang baik-baik tentang si anak.

Arif Budiman, agar anaknya arif dan budiman. Setyawati, anak agar setia. Sugiharto, kaya harta. Orang Jawa yang suka wayang kulit atau kejawen cenderung memilih nama-nama tokoh wayang untuk anaknya. Yang Islam santri lazimnya pilih nama berbau Arab atau Timur Tengah, mengadopsi nama nabi-nabi atau para sahabat nabi.

Bagaimana dengan Flores, Solor, Lembata, Adonara?

Prinsipnya sama dengan di tempat lain. Tempo doeloe nama-nama orang Flores, yang belum makan sekolah, itu hanya satu kata. Misalnya, Kopong, Payong, Kia, Laba, Terong, Deram, Bengan, Lipat, Ola, Kotak… dan seterusnya. Setelah agama Katolik dan Islam masuk, cara pemberian nama pun mengalami penyesuaian di sana-sini.

Nama-nama asli Flores dipertahankan, namun ditambah dengan unsur Katolik (atau Islam), plus unsur fam (family name, semacam marga di Batak). Nomen est omen, karena itu, sangat kentara di dalam nama-nama orang Flores.

Nama penuh (full name) saya LAMBERTUS LUSI HUREK.

LAMBERTUS jelas nama permandian (baptist name).

LUSI nama asli etnis Lamaholot yang ada di Pulau Lembata, dipetik dari kakek saya dari pihak ibu.

HUREK adalah nama fam atau nama keluarga alias family name.

Saya anak pertama, adik saya yang tiga orang pun pakai pola yang sama: Vincentia Siri Hurek, Ernestina Siba Hurek, Christofora Tuto Hurek. Dengan melihat nama saja, orang bisa langsung tahu dari kampung mana saya berasal, orang tuanya siapa, agamanya apa, dan seterusnya.

Sosiolog ternama Dr. Ignas Kleden [lengkapnya Ignatius Nasu Kleden] bisa dipastikan berasal dari Waibalun atau Lewolere, Kecamatan Larantuka. Prof. Dr. Gorys Keraf pasti dari Lamalera, Lembata. Dr. Daniel Dhakidae pasti Bajawa, Kabupaten Ngada. Dan seterusnya. Orang Jawa, misalnya, tidak punya tradisi trinomial nomenclature seperti kami di Flores atau Nusatenggara Timur umumnya, sehingga sangat sulit dilacak dari mana ia berasal.

Bagaimana cara menentukan nama permandian?

Gampang-gampang sulit. Biasanya, terserah pada ayah-ibu si bayi. Dengan catatan, Gereja Katolik di Indonesia sejak zaman Belanda menggunakan tata nama Latin untuk santo/santa ditandai dengan akhiran –us:

Robertus, Lambertus, Heribertus, Yohanes, Gregorius, Yakobus, Bonefasius….

Jadi, akan ‘aneh’ kalau orang Flores menggunakan nama baptis berbau Inggris atau Amerika Serikat seperti John, Gregory, James, David, Andrew, Bryan… dan seterusnya.

Nama-nama santo/santa pelindung ini dimaksudkan sebagai teladan bagi si anak. Santo/santa itu punya akhlak dan kejuangan yang patut diteladani si kanak-kanak yang baru dipermandikan itu.

Kadang-kadang orang tua atau pastor bingung menentukan nama baptis. Maka, biasanya diajurkan mengunakan nama santo/santa yang diperingati Gereja Katolik pada saat si bayi lahir. Bagaimana kalau anaknya perempuan, sementara hari itu peringatan santo (pria)? Gampang.

Sesuaikan saja namanya: Paulus jadi Paula, Dominikus jadi Dominika, Yohanes jadi Yohana…. Nama tengah (middle name), yang diambil dari nama asli Flores/Lembata, bisa dari keluarga ayah atau ibu, tergantung kesepakatan. Dianjurkan memakai nama kakek/nenek yang sudah meninggal untuk mengenang jasa-jasa dan keberadaan mereka.

Hidup itu, bagi adat Flores, ibarat roda atau siklus yang terus berputar. Masa kini tak bisa lepas dari masa lalu, dan seterusnya. Karena itu, nama tengah ini cenderung berulang dan banyak kesamaan. Bukankah nama-nama orang lama itu sangat khas, berkisar ke itu-itu saja?

Tentu saja, nama resmi yang tiga/empat kata ini kelewat panjang dan tidak praktis sebagai nama panggilan (nickname). Di mana-mana nama panggilan harus singkat: dua suku kata, bahkan satu. Di Flores pun ada kebiasaan orang tua untuk mencari nama panggilan untuk anaknya: pendek, sederhana, tapi tetap mengacu pada nama panjang tadi.

Agustinus Boli Wuwur bisa dipanggil Agus, Tinus, Boli, Gusti… atau apa saja. Saya, Lambertus Lusi Hurek, dihadiahi nama panggilan BERNIE oleh Bapa dan Mama saya. Kadang kala nama panggilan ini ‘jauh’ dari nama asli yang panjang-panjang itu.

Jangan heran, teman-teman saya di Jawa selalu bingung ketika harus memanggil nama saya: kadang Lambertus, kadang Hurek, kadang Lusi. Kalau bertemu orang Flores, saya pasti disapa Lambert, ketemu keluarga dekat Bernie, di kantor atau tempat kerja Hurek. Mereka tidak tahu bahwa yang pakai nama Hurek itu sangat buaanyaaaak.

Pola penamaan ini pun berlaku untuk orang Flores yang beragama Islam. Paman saya, takmir masjid di kampung, misalnya bernama Muhammad Kotak Hurek. Paman satu lagi (almarhum) bekas kapten kapal laut, namanya Hasan Hada Hurek. Apa pun agamanya, pola penamaan ini tetap sama saja.

Jangan heran, nama orang-orang Islam asli Flores pasti ada unsur Arab (Muhammad, Abdullah, Mustafa, Hasan…).

Kini, ketika orang Flores makin tersebar ke berbagai daerah, terpengaruh dengan budaya lain, standar penamaan pun tidak seketat dulu. Jangan heran kalau ada anak muda Flores, kulit gelap, rambut ikal, namanya Ignatius Gatot Prasetyo!

06 May 2006

Mgr Darius Nggawa SVD


“Setiap kali mendengar lagu dolo-dolo dinyanyikan dalam perayaan ekaristi di mana saja, hati dan pikiran saya selalu kembali mengenang peristiwa bersejarah itu dalam hidupku. Seolah-olah film itu diputar kembali.”

Demikianlah kata-kata Mgr. Darius Nggawa SVD, mantan Uskup Larantuka, Flores Timur.

Paket lagu misa dolo-dolo yang diciptakan oleh Matius Wari Weruin ini memang pertama kali dibawakan di Stadion Ile Mandiri, Larantuka, pada 16 Juni 1974 ketika Mgr. Darius Nggawa, S.V.D. ditahbiskan sebagai uskup. Pak Wari [waktu itu] kepala SPG Podor dikenal sebagai ahli musik, komponis musik liturgi, dan paedagog musik paling terkenal di Kabupaten Flores Timur. Pak Wari juga dirigen hebat, menurut saya.

Darius menjadi uskup ketiga Dioses Larantuka. Uskup pertama Gabriel Manek, S.V.D. (1951-1961), uskup kedua Mgr. Antonius Thijsen, S.V.D. (1961-1973). Setelah menggembalakan umat Keuskupan Larantuka selama 30 tahun, pada Juni 2004 dia digantikan Mgr. Frans Kopong Kung, Pr., uskup keempat, asli Flores Timur.

Moto tahbisan Mgr Darius Nggawa Veritatem facientis in Caritate: melaksanakan kebenaran dalam cinta kasih (Efesus 4:15). Dia sangat yakin bahwa perjuangan untuk kebenaran dan keadilan harus dilandaskan pada kasih Kristiani. Untuk mencapai kebenaran, setiap kita harus bergumul, tetapi yang lebih penting lagi mempraktikkan kebenaran itu.

Lahir di Pora, Kabupaten Ende, 16 Juli 1929, Darius Wilhelmus Nggawa merupakan generasi pertama umat Katolik di Lio Selatan. Dia dipermandikan pada 16 Juli 1929 oleh Pastor Suntrup SVD.

Tahun 1941 masuk Seminari Mataloko. Di sini ia tidak menemui banyak kesulitan. “Saya sangat rajin belajar dan jalan lancar-lancar saja,” katanya.

Tahun 1948, Darius masuk Seminari Tinggi Ledalero. Pada 1954 Darius sakit berat. Dia berdoa kepada Tuhan, “Biarlah saya menjadi imam cukup lima tahun saja sebelum saya diambil untuk selama-lamanya.”

Pada 12 Oktober 1955 ia ditahbiskan menjadi imam bersama Hendrik Djawa, S.V.D. (almarhum) dan Alo Mitan, S.V.D. Darius memilih moto: “Lihatlah, Aku Telah Kau Panggil” (I Sam 3:8).

Setelah ditahbiskan, Darius Nggawa bekerja selama tiga tahun di Kisol, Manggarai: sebagai guru seminari merangkap pastor paroki Kisol pada akhir pekan.

Pada 1959-1964 Darius melanjutkan studi sejarah Asia Timur dan Tenggara sampai tingkat doktoral di Universitas Santo Thomas Manila; sambil mengajar di Christ the King Mission Seminary. Sekembali dari Filipina, ditugaskan menjadi guru di SMAK Syuradikara Ende selama setahun sebelum menjadi dosen di STFK Ledalero untuk mata kuliah sejarah gereja dan misiologi, 1966-1972.

Sejak 1966, Darius Nggawa bertugas di Seminari Ritapiret: tiga tahun pertama sebagai prefek dan tiga tahun berikutnya praeses. Di Ritapiret inilah dia dipilih menjadi Regional Regio SVD Ende dan menjadi orang Indonesia pertama yang terpilih sebagai pemimpin Serikat Regio Ende.
Sebelum masa tugasnya berakhir, ia diangkat menjadi Uskup Larantuka pada Februari 1974 dan ditahbiskan pada 16 Juni 1974.

Data ini saya kutip dari tulisan Steph Tupeng Witin. Bagi saya, sebagai anak Flores Timur, Mgr. Darius Nggawa ini seorang uskup yang luar biasa. Bila dia turne ke kampung-kampung di Lembata untuk memberi Sakramen Krisma, terasa sekali kewibawaannya sebagai imam agung. Saya bersyukur menerima Sakramen Krisma dari tangan beliau.

Kunjungannya ke stasi-stasi di desa jauh berbeda dengan kunjungan uskup di tempat lain di Indonesia. Di Jawa, misalnya, uskup masih dianggap sebagai 'orang biasa', mirip romo-romo atau pastor lain. Wibawanya baru tampak saat memimpin misa pontifikal.

Di Flores Timur lain sekali. Saya sulit melukiskan dengan kata-kata keagungan seorang uskup--dalam hal ini Mgr Darius Nggawa--bagi jemaat desa yang sederhana.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana warga ramai-ramai membenahi kampung sebelum Mgr Darius tiba. Di luar kampung dibuat gapura agung dengan hiasan indah. Seluruh masyarakat menjemput di gapura luar kampung dengan upacara adat. Makan sirih pinang. Pidato penerimaan. Lalu, jalan kaki bersama, warga mengelu-elukannya.

Bupati atau gubernur sekalipun tidak pernah disambut dengan upacara kehormatan macam ini.

Karena umat Katolik di Flores Timur sangat banyak, sementara gereja sebesar apa pun tak akan menampung, maka misa pontifikal digelar di lapangan bola. Altar raksasa. Janur kuning. Hiasan meriah. Tari-tarian tradisional. Pakai busana terbaik.

Sekali lagi, saya tidak pernah menyaksikan misa raya seagung dan semeriah itu di Jawa. Jangankan uskup, kardinal sekalipun penyambutannya di Jawa biasa-biasa saja. Satu-satunya misa pontifikal paling meriah di tanah Jawa sepanjang sejarah Indonesia adalah saat Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Jogjakarta pada 1989.

Mgr. Darius Nggawa tergolong rohaniwan serius. Jarang bercanda atau tertawa. Ini saya rasakan ketika jadi anak asrama SMPK San Pankratio, San Dominggo, Larantuka. Kebetulan asrama putra ini satu kompleks dengan 'istana keuskupan' di bukit San Dominggo.

Mgr Darius biasanya memimpin misa pagi di asrama setiap Kamis (kalau tidak salah ingat). Saya beberapa kali jadi ajuda alias misdinar. Beliau ingin semua perlengkapan misa, buku-buku, suasana liturgi beres. Tidak pernah menuntut macam-macam. Jika ajuda melaksanakan tugas dengan baik, beliau bilang terima kasih.

Setelah itu cepat-cepat ke istana karena sibuk. Begitu berwibawanya, sehingga remaja SMP macam kami segan bertanya ini itu.

Kewibawaan Mgr. Darius Nggawa sangat terasa saat berkhotbah. Sebagai intelektual, banyak baca, isi khotbahnya sangat mendalam, analitis, ilmiah. Begitu berwibawanya, sehingga suara Mgr. Darius senantiasa didengarkan oleh bupati, pembantu bupati, atau camat.

Mgr. Darius Nggawa melewati hari tuanya di Pusat Penelitian Agama dan Kebudayaan, Candraditya, Wairklau, Maumere. “Saya membaca buku, berdoa, merayakan ekaristi, dan menulis renungan harian dengan tangan sendiri,” katanya.

Meski sudah tidak tinggal di Flores Timur, penggembalaan Mgr. Darius Nggawa selama 30 tahun di kabupaten paling timur 'pulau bunga' ini niscaya tak akan hilang dari warga Flores Timur. Setidaknya saya!

CATATAN TAMBAHAN
Mgr. Darius Nggawa wafat pada 10 Januari 2008 di RS Lela, Flores, dan dimakamkan pada 13 Januari 2008 di Larantuka, Flores Timur. Resquescat in pace!

ISA dan Kemakmuran Malaysia

Aksi-aksi teroris yang merepotkan aparat keamanan di Indonesia, khususnya sepak terjang Noordin Mat Top, lelaki kelahiran Johor, Malaysia, beserta para pengikutnya terus menjadi perhatian masyarakat negeri serumpun ini. Di Malaysia sendiri, para teroris sama sekali tidak mendapat tempat. Kenapa?

NEGARA jiran itu punya Akta Keselamatan Dalam Negeri atau Internal Security Act (ISA). Dengan ISA itu, pemerintah Malaysia bisa menahan siapa saja selama dua bulan, dan dengan kewenangan Menteri Dalam Negeri, penahanan itu bisa diperpanjang menjadi dua tahun.

“Itu sebabnya aksi terorisme tak tumbuh subur di sini,” ucap Mohamad Nasruddin bin Ibrahim, warga Kuala Lumpur, mengenai kondisi Malaysia yang relatif bebas dari aksi terorisme. Padahal, kita tahu gembong-gembong teroris seperti Dr Azhari dan Noordin Mat Top berasal dari Malaysia.

Sejatinya, pemberlakuan ISA tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari warga Malaysia, khususnya aktivis hak asasi manusia (HAM). Maklum, dengan kewenangan yang sangat luas itu, setiap warga yang dianggap bermasalah bisa dicokok tanpa proses peradilan. Dan ini banyak dilakukan terhadap tokoh-tokoh politik seperti Anwar Ibrahim. Bekas Menteri Keuangan Malaysia ini bukan saja dikirim ke penjara, tapi juga dianiaya sampai babak belur.

Meski demikian, warga Malaysia seperti Nasruddin, menganggap ISA ini sangat efektif dalam menghentikan aksi-aksi terorisme di negaranya. Kondisi Malaysia stabil, aman, dan itu mendorong investor untuk menanamkan modalnya di sana. Bandingkan dengan Indonesia yang sampai sekarang terus digoyang aksi terorisme.

Seperti Indonesia, perekonomian Malaysia sebetulnya juga terkena hantaman krisis ekonomi pada 1997. Namun, negeri jiran ini mampu bangkit dan terus melejit hingga saat ini. Sektor pertanian, manufaktur, tumbuh subur dengan pertumbuhan ekonomi jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Cyber Jaya merupakan kawasan industri seluas 3.000 hektare yang dibangun khusus untuk pengembangan teknologi tinggi. Kini, kota baru di dekat pusat pemerintahan, Putra Jaya, itu menjadi pusat bisnis teknologi informasi (IT) terkemuka di dunia. Setidaknya 900 perusahaan IT kelas dunia membangun kantor cabang di sana. Bahkan, beberapa di antaranya membangun kantor pusatnya di Cyber Jaya.

Berkat ketegasan pemerintah menjalankan penegakan hukum, disiplin, dan kerja keras warganya, Malaysia kini jauh meninggalkan Indonesia. Pendapatan per kapita Malaysia telah melesat di atas USD 3.000. bandingkan dengan Indonesia yang masih bergerak pada kisaran USD 800.

Sangat ironis, memang. Di satu sisi, Malaysia di era kepemimpinan Mahathir Mohammad begitu keras mengkritik pemerintahan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, namun di sisi lain pemerintahannya memberikan angin segar kepada pengusaha multinasional dari AS dan Eropa. “Say no to politics, say yes to money,” kata Mahathir suatu ketika.

Betahnya para investor menanamkan modalnya di Malaysia tidak lain karena iklim investasi yang sangat kondusif. Tidak seperti di Indonesia yang buruhnya terus-menerus melakukan aksi mogok massal, unjuk rasa, serta perusakan fasilitas umum.

Gorys Keraf Pakar Bahasa dari Flores Timur


Prof. Dr. Gorys Keraf [RIP] sangat dikenal di Flores, khususnya Lembata. Dia memang lahir di Lamalera, Lembata, pada 17 November 1936. kampung Lamalera ini sangat unik karena punya tradisi memburu ikan paus dengan fasilitas yang sangat sederhana: tombak (tempuling) naik peledang alias perahu bercadik ukuran kecil.

Gorys Keraf atau panjangnya Dr Gregorius Keraf merupakan sumber inspirasi sekaligus intelektualitas orang Lembata dan Flores umumnya. Maklum, pada 1980-an dan 1990-an masih sangat sedikit orang Flores yang bisa meraih gelar doktor, profesor, atau menjadi intelektual ternama di Indonesia.

“Kita, orang Lembata, layak bangga punya Gorys Keraf. Beliau doktor linguistik yang sangat langka di Indonesia,” kata Paulus Lopi Blawa, almarhum, bekas guru sekolah dasar saya di kampung Mawa, Ile Ape, Lembata.

Tak hanya Paulus, banyak lagi guru SD/SLTP/SLTA yang menyebut-nyebut nama Gorys Keraf untuk memompa motivasi anak-anak Lembata agar belajar rajin dan tekun.

Namanya juga anak kecil, saya hanya mendengar sambil lalu saja nama Gorys Keraf disebut-sebut. Baru pada 1980-an saya menemukan buku TATABAHASA INDONESIA terbitan Nusa Indah (Ende) lusuh di kamar rumah Bapak Gaspar Kotak Hurek di Lewoleba. Pengarangnya Gorys Keraf. Saya coba membaca uraian-uraian Pak Gorys yang sangat ilmiah dan sulit untuk anak desa belasan tahun seperti saya.

Oh, ini to buku karya Gorys Keraf, yang namanya banyak disebut-sebut di koran dan guru-guru sekolah itu?

Meskipun sulit, saya paksakan membaca buku itu. Sejarah bahasa Indonesia. Tatabahasa. Fonologi. Vokal/konsonan. Morfologi. Sintaksis. Saya membaca dan membaca terus meskipun tidak ada yang bisa diingat. "Jangan lupa dwilingga salin suara dan dwandwa," begitu guyonan teman saya, Johny, di Larantuka dulu.

Hehehe.... Dwilingga salin suara dan dwandwa merupakan istilah 'aneh' ciptaan Gorys Keraf.

Baru setelah masuk SMP San Pankratio [sore] di Larantuka, prinsip-prinsip tatabahasa ala Gorys Keraf diuraikan secara mendalam oleh pak guru, Bung Aldo. Guru-guru bahasa di Flores Timur umumnya memang pengagum Gorys Keraf. Apa boleh buat, pelajaran bahasa Indonesia di SLTP/SLTA pun cenderung berisi rumus-rumus seperti termuat dalam buku Gorys Keraf.

“Segala kata yang dapat mengambil bentuk se + reduplikasi + nya serta dapat diperluas dengan paling, lebih, sekali, adalah kata sifat”.

Penekan pada tatabahasa ala Gorys Keraf jelas saja membuat pelajaran bahasa jadi kering. Pelajaran mengarang atau menikmati bahasa sangat jarang diberikan. Tak heran, ketrampilan berbahasa anak-anak Lembata/Flores, kemampuan berwacana, kurang berkembang dengan baik. Toh, ilmu bahasa versi Gorys Keraf, guru besar Universitas Indonesia ini banyak membantu saya memahami berbagai fenomena kebahasaan di kemudian hari. Apalagi, saya wartawan, setiap hari bergelut dengan bahasa.



Gorys Keraf yang tamatan SMP Seminari Hokeng, kemudian SMA Syuradikara, Ende, ini juga dikenal sebagai penulis buku-buku bahasa yang produktif dan sangat ilmiah. Selain opus magnum-nya TATABAHASA INDONESIA, almarhum Gorys Keraf juga menulis buku-buku lain seperti KOMPOSISI, EKSPOSISI DAN DESKRIPSI, ARGUMENTASI DAN NARASI, kemudian diksi dan GAYA BAHASA. Buku-bukunya diterbitkan Nusa Indah (Ende) dan PT Gramedia (Jakarta).

Sebagai informasi tambahan, orang-orang Lamalera sejak dulu dikenal cerdas, otak encer, tekun, melahirkan pastor dan tokoh-tokoh terkenal. Fam Keraf di Lamalera ini pun banyak menelurkan orang-orang hebat. Begitu juga fam (marga) Beding.

Kita tentu ingat Dr. Sonny Keraf, ahli filsafat, bekas Menteri Lingkungan Hidup, kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta. Ia masih kerabat dekat almarhum Gorys Keraf. Di Surabaya ada Pastor Petrus Sonny Keraf SVD, kepala Paroki Sakramen Mahakudus Pagesangan. Pater Sonny ini suaranya tegas saat khotbah, ilmiah, dan runut… khas orang Lamalera. Pater ini juga secara spontan mengedit teks misa yang tata bahasanya buruk.

Kata teman-teman di kampung, orang Lamalera pintar-pintar karena sejak kecil makan daging ikan paus. Barangkali saja!

Lembata: Tenun Ikat Ile Ape




THE residents of the peninsula that is dominated by Ile Ape (Gunung Api, active vulcano) belong to the most traditional part of Lembata Island. The adat houses on the slopes, in which traditionally spirits are honored, are still in use and festivities like the 'bean-fest' (pesta kacang) still takes place.

The women make the nicest ikats of the island. The landscape is very beautifull. From Ile Ape, you can see the big protected Teluk Waienga in the east, with deep blue water and surrounded by coconut and lontar-palmtrees.

The weavers of Ile Ape don't use synthetic dye or prefabricated threat. They make the threat by hand or self-grown cotton and the dye is made from roots and leaves of flowers. In all villages along the coast women are working behind their weaving machines.

The best fabrics are expensive, but can be very expensive if you have the best quality. They form an important part of the bridal treasure. During marriages the family of the bride gives the nice fabrics to the family of the groom.
Most villages have KOKER, small huts which are used as temples for the ancestors.

The koker are outside the village, on the slopes of Ile Ape. Sacrifices are regularly brought, but the most important spiritual annual event is the 'Bean Festival', Pesta Kacang.





BEAN FESTIVAL or PESTA KACANG

In the 1960's the Pesta Kacang was hardly performed anymore. The 'ban' on regional religions is eased now and the government has become aware of the political and economical benefits of the cultural diversity. In an effort to bring back to life several local traditiona, the government stimulated the Pesta Kacang.


The 'new' Pesta Kacang lasts three days. In earlier times it took upto one week. In a small group the first day is spend on prayers and sacrificing the village spirites, the goodlike ancestors of the village as well as the spirits of the soil.

The following two days are public. Several hundred people participate in the dances (HAMANG). For important guests, among foreigners, a stay for the night is arranged.

The festivities take place in Atawatung (July), Mawa (August), Lewotolok (September), Jontona or Baopukang (October) and Lamariang (November).

Under the influence of the modern time the old habits have been changed slightly. Stickfights, in which young men hit each other on the legs, are abolished. And married women nowadays cover their breasts.




The road from Lewoleba to Mawa (Napasabok), along the western side of the vulcano, is reasonably good. The road from Mawa to Tokojaeng at the eastern coast is not that good and there is no public transport.

Between Tokojaeng and Jontona, only motorcycles, jeeps and people walking can travel. From Jontona, the road is better; it merges with the better road just north of Lewoleba. Passenger trucks maintain connections with the villages on the peninsula.

Especially on Mondays there is a lot of traffic because of the market in Lewoleba. But none of the - mostly overfull - trucks drives around the entire peninsula. During travelling you will look at a whole lot of dusty faces, unless you are in the lucky position to sit alongside the driver.

Who travels this area on foot and - where possible - by public transport, will have to get a nights stay offered by the residents of the villages. This shouldn't be a problem; look for the kepala desa (village head) and ask permission to spend the night in the village. It's not expensive. The dinner is local food (corn, maniok, vegetables and maybe some fish) and in the mornings there is coffee.

You can also travel on the island by rented motorbike with a driver. The easiest way to travel is by chartered jeep or bemo. These can transport more than five persons and comes along with a driver for a cheap price.




The road that runs towards the north from Lewoleba, passes a turn to the landing strip and leads to the 'neck' or Ile Ape and then follows the western shore of the island. Meanwhile, small cotton plantations can be seen, salt-panes and every once in a while a row of reo-trees, which were planted by the Dutch.

About 12 kilometers from Lewoleba is Waowala, dominated by the mosque. The road now runs over low coastal hilla; the landscape changes drastically here. All villages have small fields on the slopes, where maniok, corn, beans and nuts are grown. There are several coconut trees and the traveller can have a drink of air kelapa muda (coconut milk).

On the slopes of Ile Ape mountain, the men hunt with their dogs, and crossbows on wild pigs. In contrary to the eastern coast, the western side is no place for fishing.

In Lamagute or Mawa, at the northern coast, you can see the production of ikat fabrics. Take a local guide to the koker of the village. In the most important is a bronze drum with looks like a timeglass.

Most drums which were found in that region - on Lembata, Solor and mainly Alor - the copies of the old drums are of those of the Dongson culture, about 2000 years ago. They were used as merchandize and were made in the 17th and 19th century in China and mainland Jawa. The drum of Lamagute is probably an original dating from the Dongson period.





Who wants to climb the vulcano should realise that young, healthy climbers from the village take about two hours. Start before sunrise and take a hat, enough sunblick and water with you. Who wants to spend the night at the summit and doesn't want to freeze should bring a sleeping bag as well.

East of the peninsula is Teluk Waienga. In Jontona - and also in Lamagute - you can order people to perform a traditional dance for you.



LEWOLEBA MARKET

The weekly market in Lewoleba is one of the biggest in Eastern Indonesia. It attracts visitors and merchands from Alor and Pantar in the west, places like Larantuka, Maumere and Ende on Flores in the west and the islands of Savu and Raija in the south. In the dry season (March through December) several thousand people flock to this market in the west of Lembata.


Most visitors come to sell and buy their food: fishermen, farmers and women from the highlands with their colorfull ikat-decorated fabrics.

They sell and buy food, clothing, spices, cattle and tools. Other visitors to there to gossip or to enjoy the atmosphere. And for the children the market place is one big playing field.

Around 4 A.M. trucks deliver the first - sleepy - passengers. Until 11 A.M. the trucks and bemo keep on driving. Throughout the day all kinds of boats with marketeers arrive and depart. Canoo's with a diamont-shaped sail glide to their parking place. Noisy boats with engines move besides the pillared houses, pull out their engine and load their passengers on a shallow place in the water. With their merchandize on their heads, the women in colorfull sarongs walk to the shore.

Sweated farmers arrive on foot, some have a long trip behind them - on foot - of sometimes eight to ten hours. A trip with a truck is too expensife for them. They just bring a small bag of nuts, beans or tamarind with them.

A number of farmers uses the transport on Mondays to bring their harvest to Lewoleba. Kopra is the most important product, followed by green beans, nuts and tamarind. The government stimulated the cultivation of new crops, among them coffee, cashewnuts and palmsugar, so they can be bought at the market as well.



In the Dutch time, Lembata was then named Lomblen. Hadakewa – 20 kilometers east of Lewoleba - was the most important market place of the island. After the Second World War the small Lewoleba started to grow.

In the early 1950's the first Bajo - semi-nomadic fishermen from the island of Adonara - built pillar houses off the coast, on grounds that were flooded a part of the day. But at the end of the 1950's there were stil wild pigs around Lewoleba and Hadakewa was still much more important.

The Indonesian government and the Catholic Church were at the base of the rise of Lewoleba by making the village of arts the center of their activites. Hadakewa now is a neglected provincial capital of a subdistrict.

The trade between the coastal residents and the population in the hinterlands dates back for many years. The gatherers on the beach needed corn, maniok, onions and vegetables, because the coastal area was dry and the soil was infertile. The people from the hinterlands needed proteine and fish.

Most visitors of the market sell or buy small amounts: one kilo of corn, a few eggs, a handfull tobacco, one or two pineapples and a little bit of coffee. The women have spread their merchandize on a cloth. Chickens are hung by the legs, a snorring pig is tied to a rope, just in case. For the entire day, traders exchange the latest gossip, always chewing on a sirih-prune, which colors the teeth red.

Some women sell homemade fabrics, which are as usual reasonably cheap. Every once in a while you can find a great ikat, often a heirloom, saved for a bridal treasury. These can be very expensive.

Traders from Savu also bring ikat; it looks like useless, but the designs from Savu are very well received among the women on the market. They trade their threads for these sarongs. Handmade cotton is popular because natural dyes maintain better than the manufactured fabrics.

The most serious trade is that in daily needs: dried fish, nuts, rice, corn, beans, maniok and kerosine. Everyone knows the price - trading level - of these goods. As soon as a sale is approved - and often before - the men drink a glass of palmwine.

Sellers of small snacks offer numerous snacks: roasted fish, sticky rice in banana-leaves, colored cookies and cake, lemonade, fresh bread, popcorn and fresh roasted peanuts.