29 April 2006

PPLH Trawas


Kalau ada waktu senggang, saya biasa main-main ke kawasan Trawas. Dan Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjadi tempat favorit saya. PPLH ini memang tempat belajar, riset, wisata, bercanda… yang luar biasa.

Hawanya sejuk karena berada di ketinggian 800an meter dari muka laut. Di dekatnya ada sungai, kemudian sumur jolotundo yang terkenal itu. “Yang paling banyak berkunjung ke sini adalah rombongan anak-anak,” cerita Mas Suroso, bos PPLH.

Saya memang akrab dengan para petinggi PPLH seperti Mas Suroso, Mas Arif Eddy Rahmanto, serta para pembimbing lapangan. Kedekatan ini ada guna-ruginya sendiri. Gunanya, setiap saat saya boleh menikmati fasilitas di PPLH, makan minum gratis, jalan-jalan sampai capek. Ruginya, saya jadi sungkan mengingat para tamu lain harus bayar cukup mahal. Tentu tidak mungkin saya menikmati fasilitas gratis di PPLH itu terlalu sering. Malu ah!



FOTO: Salah satu tempat bersantai di PPLH. Sederhana, bersih, dan nyaman.

Akhir 2005, saya diajak Mas Arif untuk memberikan kursus jurnalistik dasar kepada teman-teman di PPLH. Waktu itu saya bersama Mas Henri Nurcahyo, jurnalis dan penggiat budaya ternama dari Surabaya. Saya dapat kenang-kenangan berupa tas, topi, brosur… suvenir yang dikerjakan masyarakat lokal bersama teman-teman di PPLH. PPLH memang berprinsip: menggunakan bahan-bahan alami semaksimal mungkin, pantang pakai pupuk kimia, obat-obatan kimia, dan seterusnya. Organic farming menjadi prinsip utama lembaga ini.

Oh, ya, di PPLH kita bisa bertemu tamu-tamu asing, khususnya orang bule. Ada yang ikut rombongan tur (Interped Tours & Travel), sebagian lagi relawan-relawan yang ingin mencicipi rasanya berada di pedalaman Indonesia. Saya kenal baik Elaine Montegriffo, gadis cantik asal Australia, yang mengaku betah tinggal di pegunungan Trawas.

“Di sini saya bisa menikmati hidup yang sebenarnya,” ujar bekas public relations hotel berbintang di negaranya. “Saya tidak mau bekerja lagi di hotel dan sejenisnya. Lebih enak di tempat seperti ini.”

Beberapa wanita bule bahkan kecantol dengan pria Jawa. Contohnya Mas Gepenk Jumaadi (asal Sidoarjo) yang akhirnya menikah dengan wanita Australia, relawan (volunteer) PPLH Seloliman. Nasrullah alias N Roel, pelukis dan pencinta lingkungan asal Sidoarjo, yang kecantol dengan Christine Rod, wanita Swiss saat jalan-jalan di kawasan PPLH dan Jolotundo.

“Saya benar-benar cinta sama Nasrullah,” kata Christine kepada saya.

“Oh, saya saya sekarang sudah berada di Jenewa, di rumah istri saya (Christine),” tulis Nasrullah kepada saya via email pada awal Juli 2006.

Begitulah. Di tempat sejuk macam Trawas selalu ada cerita-cerita indah tentang hidup dan kehidupan.


FOTO: PPLH punya projek listrik tenaga air untuk warga desa. Ini membuat hubungan PPLH dengan warga sekitar sangat erat.

No comments:

Post a Comment