22 April 2006

Nikah Belis Gading di Flores Timur



Kebarek mion gampang hala, welin bala lema. FOTO: Kompasiana.

“Mas, kamu kawin saja sama cewek atau rondo Jawa aja. Kan sampeyan sudah tinggal di Jawa sejak SMA di Malang. Gampang, nggak pakai maskawin, prosedurnya mudah. Sederhana sekali!”

Begitu kalimat yang saya dengar dari beberapa kawan ketika usia saya menembus 30, tapi belum ada tanda-tanda punya pacar, apalagi menikah.  Hehehe... rondo teles!

Teman-teman Jawa ini memang sedikit banyak tahu rumitnya adat kawin-mawin masyarakat etnis Lamaholot yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor.

Di Pulau Jawa proses pernikahan memang sangat mudah. Asal punya pasangan, restu orang tua, sudah. Jadwal menikah di depan penghulu (KUA) atau pemberkatan di gereja bisa langsung dilakukan.

Teman saya, ASK, wartawan koran terbesar di Indonesia, hanya butuh waktu kurang dari dua bulan untuk berkenalan dengan cewek (dia tidak pacaran dulu), meminta restu calon mertua, penetapan jadwal, dan hari-H menikah di depan penghulu. Kemudian ramah-tamah, pesta sederhana. Jadilah mereka pasangan suami-istri.

Kenapa bisa secepat ini? Orang Jawa, dalam contoh ini, sudah lama tidak terikat lagi pada adat-istiadatnya.

Masuknya agama Islam di akhir kejayaan Kerajaan Majapahit telah merasuk ke sumsum orang Jawa. Islam sudah jadi way of life, segala sesuatu serba dirujuk dari Alquran dan Alhadits alias ajaran Islam. Dan agama Islam memang pada dasarnya sangat memudahkan pernikahan asalkan sama-sama beragama Islam. Tidak pakai kursus persiapan perkawinan, mengecek buku induk, seperti di Gereja Katolik.

Orang Jawa bahkan selalu dimotivasi untuk segera menikah kalau sudah cukup umur dan punya pekerjaan. Pria Jawa disarankan menikah sebelum berusia 25 tahun. Wanita tentu lebih muda lagi.

Di Flores, sayangnya, Gereja Katolik belum menjadi satu-satunya rujukan hidup. Saya mengalami sendiri, adat lama (animisme) jauh lebih kuat ketimbang Gereja Katolik. Lihat saja, begitu banyak orang yang kawin kampung (baca: kawin secara adat), tapi belum menikah secara Katolik atau hukum sipil. Adat lama ini begitu kuatnya sehingga orang tua tak akan pernah mau menikahkan anaknya tanpa mempertimbangkan adat Lamaholot.

Belis atau mas kawin merupakan persoalan paling prinsip sebelum sebuah pernikahan diresmikan di gereja. Di Jawa, mas kawin atau belis ini hanya sekadar simbolis, misalnya perangkat alat salat, uang tunai sekadarnya. Pihak perempuan tidak akan menolak meskipun mas kawin hanya Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu.

Berkali-kali saya dengar ada pengantin pria yang hanya bisa memberi maskawin alat-alat salat dan uang receh yang disesuaikan dengan tanggal pernikahan mereka. Misalnya, nikah tanggal 25 Juni 2006, maka mas kawinnya 25.606, dua puluh lima ribu enam ratus enam rupiah.

Di Flores Timur,  dan NTT umumnya, maskawin simbolis alias iseng-iseng macam ini tidak akan pernah terjadi. Belis merupakan urusan yang benar-benar serius, dibahas secara intensif oleh dua keluarga besar, sampai ada deal di antaranya kedua belah pihak.

Belis di Flores Timur adalah gading gajah atau bahasa daerahnya BALA. [Di Flores lain juga belis sangat ditekankan, hanya wujudnya berbeda.] Aneh bin ajaib, Flores Timur yang tak punya seekor pun gajah sejak tempo doeloe mensyarakatkan gading (bala) sebagai belis. Mungkin, karena superlangka inilah, nenek moyang menjadikannya sebagai mahar atau mas kawin.

Jauh sebelum pernikahan, digelar KODA KIRING alias pertemuan adat di antara keluarga besar wanita dan pria. Yang terlibat adalah keluarga besar (fam/suku/marga), bukan orang tua kandung saja seperti di Jawa dan tempat-tempat maju lain di Tanah Air. Biasanya, KODA KIRING ini digelar sepanjang malam, beberapa hari, sampai ada kesepakatan.

Waktu kecil saya kerap nguping pembicaraan mereka sambil menikmati makanan enak. Suasana rata-rata tegang, menjurus panas, karena pihak perempuan (OPU LAKE) meminta call yang tinggi. Gebrak meja adalah hal biasa, apalagi para pemuka adat menenggak tuak selama rapat berlangsung.

OPU LAKE menginginkan BALA alias gading kualitas terbaik, setidaknya setara dengan gading yang dulu diterima ibu calon mempelai wanita. Tak boleh lebih rendah. Mereka yang derajatnya tinggi, umumnya menuntut belis mahal. Panjangnya sekian, diameter sekian, mulus, jumlahnya sekian.

Pihak keluarga pria (ANA OPO) dalam posisi tertekan. Mengalah. Kata-katanya halus. Cenderung merayu. Minta agar call dari OPU LAKE tadi diturunkan. Rapat hari pertama lazimnya deadlock, karena OPU LAKE ngotot jaga gengsi. Lalu, disepakati rapat adat kedua, ketiga, keempat… dan seterusnya.

Jika kedua belah pihak tetap tidak mau mengalah, bukan tak mungkin pembicaraan soal belis (BALA) ini berlangsung beberapa bulan. Sering terjadi rapat adat terus-menerus buntu sehingga calon mempelai patah semangat: putus hubungan atau melarikan diri ke Malaysia. Tragis!

Kalau belis BALA ini sudah disepakati, barulah persoalan tetek-bengek lain dirancang. Misalnya, kewajiban-kewajiban kedua belah pihak, bentuk pesta seperti apa, PENANG atau antaran, kambing-babi (atau sapi), hingga jadwal pernikahan. Pihak gereja baru diberi tahu ihwal rencana pernikahan setelah persoalan adat-istiadat ini beres.

“Jangan sampai setelah menerima sakramen pernikahan di gereja masih ada utang masalah adat. Kasihan keluarga mereka,” ujar almarhum Pater Petrus M Geurtz, SVD, yang dulu pastor paroki di kampung saya, Ileape, Kabupaten Lembata.

Dalam kenyataan, persoalan gading ini tetap menyisakan masalah bagi pasangan pengantin tertentu. Keluarga wanita yang tadinya mengalah, bisa memahami kemampuan laki-laki, tiba-tiba terprovokasi untuk meminta belis yang lebih berkualitas. Secara adat memang dibenarkan.

Bagaimana kalau tidak bisa membayar belis?

Wah, si pria itu bakal terus menjadi ‘tawanan’ keluarga wanita selama utangnya tidak dibayar. Dia harus mengabdi kepada OPU LAKE yang telah merelakan anaknya untuk dinikahi. Seumur hidup!

Soal belis atau mahar  BALA (gading) ini terlalu njelimet untuk dipahami orang-orang di luar Flores Timur. Sejarahnya begitu panjang. Begitu banyak misionaris, pastor lokal, pemerintah, meminta agar persoalan ini disederhanakan. Boleh ada belis, tapi jangan terlalu kaku ala orang-orang zaman 1950-an hingga 1970-an awal. Toh, tradisi yang sudah berurat berakar ini tidak bisa dihapus begitu saja.

Sejak tahun 1980-an anak-anak muda Lembata atau Flores Timur banyak yang hijrah ke tempat lain untuk sekolah, kuliah, atau bekerja. Tak sedikit yang tinggal di Jawa seperti saya. Di tempat baru ini lingkungannya berbeda, adat lain, tradisi lama di kampung halaman tak bisa dilaksanakan begitu saja. Beberapa teman saya mengaku sangat menikmati pernikahannya dengan gadis-gadis Jawa: prosedur mudah, tidak pakai BALA, semua serba efisien.

Di Jakarta, ibukota Republik Indonesia, beberapa tahun lalu saya dipercaya memikul gading (BALA) ke rumah mempelai perempuan. Kami dari pihak laki-laki melakukan prosesi panjang. Ribuan warga Jakarta menyaksikan prosesi adat kami yang langka itu. Saya pun jadi objek tontonan.

Tiba di rumah calon mempelai wanita, kami disambut dengan hormat. Hantaran kami berupa bahan makanan, hewan, perlengkapan pesta, diturunkan. Lalu, salah satu wakil keluarga perempuan mengambil BALA dari bahu kanan saya. Upacara selesai.

Saya hanya ingin mengatakan, di Jakarta yang begitu modern sekalipun keluarga besar Flores tidak ingin melupakan tradisi adatnya begitu saja. Semua prosedur dilaksanakan meskipun tidak seheboh kalau pesta pernikahan itu digelar di LEWOTANAH, kampung halaman.

12 comments:

  1. aku kira ini cerita yg bagus n informatif banget. jarang ada tulisan dari anak flores yg enak dibaca, isinya bagus, kayak gini. met sukses bung.

    ReplyDelete
  2. Inilah yang menjadi masalah. Bila adat dan gengsi adalah pertukaran sebuah kebahagiaan. Bila adat menjadi lebih daripada Agama. Bila kita terpisah hanya kerana gigi gajah. Itu menyakitkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maia betul... sebagai orang keturunan Lembata yang tinggal di Malaysia, Maia tidak pernah merasakan persoalan belis gading di kampung sehingga sulit memahami logika di balik tradisi lama ini. Tapi kita butuh orang2 muda yang berani mengubah sistem belis yang sangat mengekang ini.

      Kalau laki2 Flores tidak berani kawin sama gadis2 di kampung, menikah dengan wanita2 di Jawa atau Malaysia... kasihan wanita2 Lamaholot di kampung. Makin banyak yang jadi perawan tua, tidak menikah seumur hidup.

      Delete
    2. adat ini sangat baik karena hanya lelaki yang berkualitas sajalah yang bisa menhasilkan keturunan, sehingga flores yang tandus terhindar dari bencana ledakan penduduk miskin.

      Delete
  3. Om,sy ada ambil bbrp kalimat utk dijadikan bahan tweet di Twitter seputar belis org Flores krn lumayan juga yg penasaran.hehhehe.
    Makasih Om;-)

    ReplyDelete
  4. Saya sepakat dengan pernyataan bahwa di Jawa adat istiadat yg seperti itu sudah lama ditinggalkan. Waktu calon suami saya beserta dengan utusan2 keluarganya datang melamar, sempat juga terjadi ketegangan, karena orang tua saya adalah tipe orang yg berjuang keras untuk melepaskan diri dari adat. Sehingga agak kaget juga ketika calon menantunya yg dari flores timur masih memegang teguh adatnya.

    Untuk perempuan yang mengalami nasib yang sama dengan saya, mungkin bisa bicara baik2 dengan orang tua tentang keinginan anda menikahi lelaki ini, dengan menyebutkan alasan2 logis mengapa anda ingin menghabiskan sisa hidup dengan lelaki ini.

    Kemudian penjelasan lebih lanjutnya (yang mungkin belum disebutkan di dalam blog ini) adalah bahwa tata cara adat yg seperti itu dilakukan untuk menjaga kehormatan si perempuan ketika nanti dia di bawa pulang ke kampung. Ibaratnya, kalau anda dilamar dengan mengikuti tata cara adat, itu artinya anda adalah perempuan baik2, yang diminta secara baik2 juga. Memang beginilah cara yang dianggap mereka sebagai cara yg baik2 hehehehe...

    Untungnya karena ortu saya tidak terlalu senang dengan pembantaian gajah, jadi belis yg dikirim bukan gading, hanya kalung emas dan ortu saya membalas dengan kain sutra. :-)

    Memang adat tetap perlu dilakukan untuk melestarikan budaya dan nilai2 perkawinan, tapi jika berhadapan dengan manusia2 modern seperti ortu saya, bisa jadi tidak semua persyaratan diminta ke keluarga laki2. Yang penting sah dihadapan Tuhan. Semoga dapat membantu yaaa. Terima kasih Bung, tulisan blog nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ina senaren... terima kasih, sudah komentar dan berbagi cerita di sini. Dan... terima kasih karena anda sudah sangat memahami tradisi Lamaholot... dan mau menjadi istri laki2 Lamaholot yang adat belisnya seperti yg saya ceritakan ini.

      Salam lewotanah!

      Delete
  5. lain daerah lain adatnya... tentu leluhur orang flores punya kearifan lokal sehingga membuat adat belis gading seperti ini. masyarakat juga yg akan menentukan apakah bisa bertahan atau tidak.

    ReplyDelete
  6. kutipan tulisan Rizki asal Aceh yg pernah bertugas di Lembata:

    "Begitu berat perjuangan mendapatkan sebuah gading. Hal ini mungkin melambangkan berapa tinggi derajat kaum wanita dalam pandangan etnis Lamaholot. Jadi tak semudah itu memperistri seorang gadis Lamaholot. Kesepakatan yang dicapai dalam urusan belis menjadi tanda penghargaan dan penghormatan terhadap wanita dan keluarganya. Urusan belis bukannya tanpa kontra, kini banyak suara dari kaum muda Lamaholot yang ingin urusan belis ini disederhanakan. Isu-isu lingkungan juga disuarakan untuk menjaga populasi gajah yang semakin langka.


    Karena keunikannya lah etnis Lamaholot begitu meninggalkan kesan bagi saya. Keunikan yang tak ada duanya. Apapun bentuknya kita tetap harus menghargai segala kearifan lokal etnis Lamaholot. Sebuah warisan budaya yang patut kita jaga dan pelihara sebagai salah satu wujud kekayaan Bangsa."

    ReplyDelete
  7. Bung Lamber, salam jumpa....senang kita bisa "bertemu" lagi via halaman ini. masih ingat saya? Hans Lamak..kita sama-sama dulu di Malang. Gini, saya senang juga membaca artikel teman tentang adat istiaadat perkawinan Lamaholot, cuma sayangnya agak "dsangkal". Kalo teman mau supaya soal adat yang menurut teman sangat "serius" dibicarakan oleh anak opu dan tuan belake, maka saran saya tolong dimuat secara lengkap, jangan sepenggal-sepenggal, nanti pemahaman orang seadanya. Okay....terus berkarya, apalagi teman seorang wartawan.

    ReplyDelete
  8. Ama, go pinjam gambar moen teti pi le... go tao rae blog goen...

    ReplyDelete
  9. Opu Ancis boleh nereng foto.. tapi nereng bala bisa hala. Foto nepi di ata raen. Goe nereng sementara ...salam nusa tadon !

    ReplyDelete