08 April 2006

Mengenang Anita Susanti Jawa Pos


Di koran Jawa Pos edisi 6 April 2006 ada foto Anita Susanti bersama Pramoedya Ananta Toer. Ani, sahabat kita yang wartawan Jawa Pos, memang pengagum berat Pak Pram, novelis hebat Indonesia. Keduanya meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Melihat foto Ani dan Pak Pram itu, saya langsung teringat ‘Bukan Pasar Malam’, novel karya Pak Pram. Saya yakin, Ani pernah membaca novel tipis itu. Di situ Pak Pram melukiskan penderitaan hebat sang Ayah yang digerogoti TBC.

Kendati sangat menderita, tulis Pak Pram, Ayah tetap tegar. Tak ingin merepotkan orang lain. Ayah tetap berolah pikir, idealismenya bernyala, demi bangsanya.
“Engkau... tak perlu menunggu aku. Tidurlah,” kata Ayah.

“Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang--dengan diam-diam--menikmati kebahagiaan,” tulis Pak Pram.

Saya tak pernah tahu kalau Ani dalam dua tahun terakhir ini bertarung melawan ganasnya sel-sel kanker. Bagaimana tidak. Ani tak pernah memberi tahu teman-teman dekatnya. Lewat SMS Ani selalu bilang baik-baik saja. Mungkin, seperti si Ayah dalam novel Pak Pram, Ani tak ingin merepotkan orang lain. Ani tetap ceria, santun, mau bicara... tentang apa saja, khususnya seni dan sastra, dan bukan penyakitnya.

“Ani, are you okay?” begitu celetukan khas saya saat meliput bareng acara-acara seni budaya dan hiburan di Surabaya beberapa tahun lalu. Gadis Ponorogo kelahiran 27 Februari 1975 ini pun selalu menjawab, “Okay!”

Mungkin, seperti dikatakan Pak Pram, “Orang yang hidup dalam kesengsaraan kadang-kadang, dengan diam-diam, menikmati kebahagiaan.”

Ani sangat menikmati jurnalisme, dunia yang asyik, tapi keras. Karena itu, dia senantiasa mendalami objek liputannya secara detail. Ani bukan tipe wartawan instan yang hanya mengandalkan wawancara by phone, apalagi minta berita pada wartawan lain. Sudah lama ia mengkritik praktik ‘jurnalis copy-paste’, yang makin banyak pengikutnya di Indonesia saat ini.

Dengan copy-paste, si wartawan tak perlu capek-capek wawancara, turun ke lapangan, tapi cukup meng-copy paste berita dari temannya atau situs internet. Tanpa kerja keras, 'produktivitas' luar biasa.

“Bagaimana kita bisa menulis dengan baik kalau kita tidak pernah wawancara langsung, face to face meeting?” ujar Ani kepada saya.

Nah, suatu ketika kami meliput konser di kafe. Sampai di sana, tahulah saya bahwa Ani ini bukan sekadar peliput atau pengamat, melainkan penikmat. Dia tampak sangat enjoy, menikmati beat-beat musik yang menghentak, katakanlah dari The Groove.

“Lagu itu judulnya apa?” tanya teman wartawan.

Ani kemudian menggelar semacam ‘jumpa pers’ khusus untuk mendeskripsikan musik serta performance band yang baru saja diliput.

Tanpa pemahaman yang baik, papar Ani, maka wartawan hanya bisa menulis seputar gosip artis. Artis A pacaran dengan B, cerai dengan C, selingkuh dengan D, dipelet E, dan seterusnya. “Kalau sekadar nulis gosip, buat apa?” tegasnya.

Sikap ‘politik’ Anita Susanti ini tak lepas dari kegemarannya membaca buku. Saat kuliah di Universitas Jember, Ani mengaku menjadi pengunjung setia perpustakaan di Bumi Tegalboto itu. Selain buku-buku Pramoedya Ananta Toer alias Pak Pram, Ani gemar karya-karya Karl May.
Buku-buku lain, khususnya sastra, seni, budaya, selalu ia koleksi. “Belanja buku saya luar biasa. Membeli pakaian malah jarang,” ujarnya di Balai Pemuda, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ketika dimutasi dari seni budaya--mutasi di Grup Jawa Pos tergolong sangat sering dan cepat--Ani tetap enjoy. Padahal, saya tahu, pos baru ini tak pernah ia bayangkan sama sekali. Kecewa?

“Oh, nggak. Kenapa kecewa? Kita harus enjoy meskipun ditempatkan di mana saja. Waktu yang akan bicara,” katanya, tegas. Justru di pos baru, yang tak ada hubungan dengan kesenian, Ani lebih intens menggeluti dunianya (seni, budaya, buku) lewat diskusi informal maupun di internet.

Kini, rekan Ani telah meningalkan kita.

Rasanya, bukan kebetulan kalau Ani menyusul Pak Pram, idolanya, hanya dalam tempo tiga hari. Ungkapan Pak Pram di ‘Bukan Pasar Malam’ kiranya layak untuk mengantar kepergian Ani dan Pram.

“... mengapa kita harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.”

Selamat jalan Ani!

Selamat jalan Pak Pram!

1 comment:

  1. Selamat jalan senior dan sahabat pembimbing ku....
    Antara percaya dan tidak....setelah 15 tahun berpisah..krn adh beda profesi, saya bertemu dan bekerja bersama di Lumajang saat saya belajar jadi jurnalis di jawa pos group...
    Krn kangen dan tengah berada di Ponorogo tempat kelahiran mbak Anita. Tiba-tiba ada wanita mirip mbak anita melintas..tak pikir dia, kemudian saya coba googling...ternyata sahabat dan pembimbing saya saat kerja perdana di jawa pos group telah tiada...
    Terima kasih mbak bimbingannya...walaupun saya tdk meneruskan karir di dunia jurnalistik...tapi bersama hampir 1 tahun di Radar Jember telah banyak memberi kenangan dan ilmu yg bermanfaat. SEMOGA ALLAH SWT memberi tempat yg paling layak disisiNYA. Pengajaran dan tegur sapa kita selalu dlm ingatan...
    Semangat san dedikasimu akan menjadi kisah melekat dlm hatiku...
    Ponorogo...aku selalu datang untuk mengenangnya...

    ReplyDelete