07 April 2006

Belajar Menulis di Majalah Kunang-Kunang


Selain dua mingguan–kemudian berubah jadi mingguan–DIAN, sejak kecil kami, anak-anak SD di Lembata, Flores Timur, rutin membaca majalah KUNANG-KUNANG. Ini majalah bulanan anak-anak, bagian tak terpisahkan dari SKM Dian. Sama-sama milik Kongregasi SVD yang beralamat di Jalan Katedral 5 Ende, Flores.

Dilihat dari standar majalah anak-anak nasional masa sekarang, Kunang-Kunang boleh dikata masih sangat sederhana. Sampul warna, tapi isinya kertas koran. Tak segemerlap majalah/tabloid anak-anak zaman sekarang. Toh, bagi anak-anak kampung (tanpa listrik) macam saya, Kunang-Kunang merupakan majalah yang selalu ditunggu-tunggu.

Isinya cukup seru: dongeng, kisah-kisah fiksi, reportase, mirip tapi tak sama (menebak lima perbedaan dari dua gambar yang hampir sama, lalu karangan kecil. Ada juga surat dari Kak Emma, yang fotonya tak pernah ditayangkan. Saya duga, Kak Emma ini nama samaran dari redaksi Kunang-Kunang. Bisa laki-laki, bisa perempuan.

Saya selalu menunggu karangan kecil–cerita pendek satu alinea tulisan anak-anak SD–karena memang sering mengirim naskah ke redaksi Kunang-Kunang. Apa karangan saya dimuat? Hati selalu berdebar-debar setiap awal bulan ketika majalah anak-anak itu datang.

“Horeee… masuk,” teriak saya. Saya begitu gembira karena karangan kecil saya dimuat.

Diam-diam, pemuatan karangan kecil anak-anak SD di Kunang-Kunang menjadi perang urat saraf antar-SD di kecamatan kami, Ile Ape. Kalau karangan muridnya masuk Kunang-Kunang, ya dianggap hebat. Kalau karya teman dari SD kampung lain dimuat, sementara kita belum, maka kita didorong oleh guru-guru, termasuk bapak saya yang kepala sekolah, untuk bikin karangan lagi.

Saat sekolah di SMPK San Pankratio Larantuka, saya membuat tulisan panjang, masih cerita dongeng atau fiksi anak-anak, untuk Kunang-Kunang. Pakai tulisan tangan di sobekan buku tulis. Beberapa karya saya dimuat dua halaman. Saya senang luar biasa, apalagi dapat honor Rp 2.500 yang dikirim lewat wesel pos.

Inilah pertama kali saya mendapat ‘nafkah’ dari hasil tulisan di media massa.

Gara-gara Kunang-Kunang inilah, minat saya untuk menulis semakin terasah. Saya pertama kali membuat reportase ketika menulis kunjungan anak asrama Pankratio, Larantuka, ke Seminari Hokeng. Reportase ini sampai sekarang saya anggap sangat menarik karena berbentuk ‘features’, dan ditulis anak SMP kelas 2.

Lancar, mengalir, ada kutipan bagus, ada humor dari Rektor Seminari, deskripsi, sedikit opini pribadi. Saya membuka tulisan dengan kisah seorang Narcisismus yang memuja bayangannya sendiri di dalam air.

Sekarang, ketika saya menjadi redaktur di koran Radar Surabaya, Grup Jawa Pos. Saya sering kecewa melihat sebagian besar wartawan profesional, di berbagai media, ternyata belum bisa membuat tulisan features. Stright news melulu. Piramida terbalik melulu.

Features (atau boks) macam momok yang selalu dihindari wartawan-wartawan masa kini. Lha, kok kalah sama murid SMPK Pankratio di kampung terpencil pada era 1980-an? Hehehe…

Dari Kunang-Kunang, saya mencoba menulis di majalah anak-anak kelas nasional seperti Bobo, Hallo, Kuncung. Beberapa di antaranya dimuat, tapi jauh lebih banyak yang tidak dimuat. Sejak zaman dulu risiko penulis, ya begitu. Menulis banyak, yang dimuat sedikit.

Beda sekali dengan wartawan-wartawan muda masa kini. Sangat sedikit yang sejak awal hobinya menulis, tapi sekadar pekerjaan biasa. Roh tulisannya tak tampak. Minta berita atau kloning dari sana-sini tanpa rasa bersalah. Tulisannya sering jauh dari kriteria layak muat.

Redaktur macam saya terpaksa memuat juga karena tak ada features lain. Ketika tidak dimuat–karena kualitas jelek, di bawah standar layak muat–eh, si wartawan bersangkutan marah-marah. “Mas, kenapa nggak dimuat? Saya kan udah kerja capek-capek?” protes banyak reporter masa kini.

“Sekarang kita semakin sulit menemukan wartawan yang bisa menulis features bagus. Features yang benar-benar features,” ujar teman saya, redaktur features halaman satu koran terkenal di Surabaya.

“Wartawan-wartawan sekarang perlu kursus khusus buat features. Pasti ada yang salah di sistem rekrutmen,” tambah Jaka Mujiana, mantan wartawan senior Surabaya Post, yang kini menjadi pekerja budaya dan penulis buku di Surabaya.

Saya pun jadi teringat features pertama saya, tentang Seminari Hokeng, di Kunang-Kunang pada 1980-an. Saya tak pernah kursus jurnalisme, tak pernah dengar apa yang namanya ‘boks’ atau features, tak punya mesin tik, komputer belum ada, menulis pakai tangan…. Kok bisa bikin features panjang (dua halaman) di Kunang-Kunang?

Saya akhirnya sadar, ini semua talenta dari Tuhan.

Terima kasih untuk Kak Emma dan redaksi Kunang-Kunang saat itu.

MENULIS itu–termasuk di blog pribadi ini–adalah hobi atau kesenangan yang sulit ditinggalkan. Writtingis a part of my life. Saat kuliah di Universitas Jember, saya benar-benar produktif membuat tulisan di SKM Dian. Hampir tiap minggu tulisan saya dimuat, bisa 2-5 artikel/berita sekaligus. Saya yakin, pengalaman macam ini pun dirasakan teman-teman lain dari berbagai darah di NTT. Betapa Kunang-Kunang dan Dian (plus majalah HIDUP) telah berperan penting dalam membuka cakrawala pandangan masyarakat NTT pada umumnya.

“Orang-orang Flores dan Timor bukanlah pembaca. Belum suka membaca. Budayanya hampir murni lisan,” tulis Pastor Josef Koenigsmann SVD. Mantan pengajar STFT Ledalero itu menyebutkan, peranan media massa terbitan SVD–di antaranya Kunang-Kunang dan Dian–sedikit banyak membantu tumbuhnya budaya baca di NTT.

Sampai sekarang Kunang-Kunang masih terbit. Saya harap majalah kebanggaan Flobamora ini tetap mewarnai dunia anak-anak di Nusa Tenggara Timur. Tentu saja, isinya perlu disesuaikan dengan selera dan tuntuan zaman sekarang.

4 comments:

  1. Kak Emma diambil dari Sr. Emanuela, OSU yang saat itu lkut mengasuh majalah kunang kunang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muren Ama... Pater Alex Beding juga pernah cerita saya soal kak Emma yg tidak lain sr. Emanuela OSU. Pater Alex yg merintis surat kabar Dian dan Kunang-Kunang. Sayang.. Dian kemudian meredup karena muncul koran harian Flores Pos yg ternyata kurang sukses secara bisnis.

      Dulu di kampung halaman Lewotanah selalu ada bacaan Dian, Kunang-Kunang, dan Hidup Katolik.. sekarang tidak ada lagi. Tetapi masyarakat dapat sumber informasi plus hiburan yg jauh lebih dahsyat: televisi! Pakai parabola pula. Terima kasih aya aya.

      Delete
  2. Jaman sudah berubah. Di negara2 maju, majalah-majalah dan koran2 sedang berjuang untuk survive, dan grup JawaPos sudah pasti sedang berjaga-jaga dan memikirkan, begitu pula grup Kompas. Koran berubah menjadi portal media - podcast, video, blog, dll. Suatu features laporan pandangan mata yang tadinya menyajikan berbagai sudut pandang secara tertulis, kini bisa menggabungkan video clip wawancara, foto galeri, dll. Seorang wartawan harus menjadi "multi-media producer" yang juga bisa menulis.

    ReplyDelete