22 April 2006

Johan Silas

Johan Silas tak asing di Surabaya. Akan tidak afdal kalau nama guru besar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini luput dari wacana seputar tata kota, perencanaan kota, pembenahan permukiman, perbaikan kampung, dan semacamnya. Yah, Johan Silas memang merupakan salah satu dedengkot program perbaikan kampung, atau lebih dikenal dengan Kampung Improvement Program (KIP).

Ingat KIP, di Kota Surabaya, pasti orang berpaling ke sosok pria kelahiran Samarinda, 24 Mei 1936 ini. Sejak 1968/1969, ketika usianya masih sangat belia, Johan Silas mengaku sudah aktif di KIP.

“Sampai sekarang juga masih aktif. Sebab, selama masih ada kampung, masih ada orang kecil, ya, akademisi seperti saya tidak mungkin diam,” ujar Johan Silas ketika ditemui di kampus ITS Surabaya, awal Januari 2006.

Bagi orang lain, ‘kampung’, apalagi di kota sebesar Surabaya, sering diasosiasikan dengan sejumlah citra miring. Kumuh. Kotor. Semrawut. Fasilitas minim. Kriminalitas. Tapi, bagi Johan Silas, yang namanya kampung tidaklah seburuk itu. Menurut pendiri jurusan arsitektur ITS ini, justru kampung itulah ciri khas Kota Surabaya. Dus, jika kampung itu tidak ada lagi, digusur untuk real estat atau tempat bisnis, maka hilanglah karakter Surabaya.

Johan Silas mengaku masih bisa bersyukur karena kondisi kampung di Surabaya masih relatif utuh ketimbang kota besar lain, khususnya Jakarta.

“Kalau mau tahu kehidupan orang Surabaya, karakter masyarakatnya, ya, Anda harus masuk ke kampung-kampung. Di real estate Anda tidak akan menemukan budaya, karakter, serta kehidupan khas masyarakat Surabaya,” begitu penegasan Prof Johan Silas dalam berbagai kesempatan.

Jangan heran, Johan Silas begitu gelisah, dan marah, menyaksikan begitu banyak perumahan baru (real estat) tumbuh begitu pesat di Surabaya tanpa ada konsep yang jelas. Real estat berdiri begitu saja tanpa mempertimbangkan karakter masyarakat Surabaya dan budayanya. Ironisnya lagi, ada real estat yang sengaja menjiplak mentah-mentah luar negeri tanpa modifikasi sedikit pun.

“Sudah meniru, hasilnya malah lebih jelek. Apa yang bisa dibanggakan dari sini,” kata penulis beberapa buku seputar permukiman dan tata kota yang diterbitkan penerbit luar negeri itu.

“APA yang istimewa dari saya? Nggak ada. Apa yang saya lakukan itu, ya, biasa saja. Akademisi, ya, harus begitu itu. Melakukan penelitian, analisis, mempertimbangkan sebuah persoalan dari berbagai aspek,” tegas Johan Silas.

Begitulah. Kepeduliannya Johan Silas yang luar biasa untuk Kota Surabaya, kata Johan Silas di beberapa kesempatan, tidak lebih dari perannya sebagai orang kampus, akademisi. Kalangan perguruan tinggi ‘dari sononya’ memang banyak diharapkan untuk memberikan ‘sesuatu’ bagi masyarakat di lingkungan sekitar. ‘Sesuatu’ itu, tentu saja, bukan uang, harta, atau fasilitas, melainkan kajian-kajian ilmiah demi perbaikan kualitas hidup masyarakat. Orang kampus harus punya kontribusi bagi orang kampung! Jangan sampai, meminjam ungkapan Prof Nugroho Notosusanto, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, kampus menjadi menara gading di tengah-tengah masyarakat.

Lalu, kenapa Prof Johan Silas memilih menjadi pakar tata kota (planolog) yang sangat concern pada wong cilik, orang-orang kampung? Pria yang pindah dari Samarinda ke Surabaya pada 1950 itu mengaku agak sulit menjawab. Alasannya, ya, itu tadi, kebetulan dia merasa pas dengan dunia orang kampung. Tidak ada alasan yang terlalu khusus.

“Sama saja dengan bertanya kenapa si A jadi wartawan, si B jadi dokter, dan seterusnya. Saya kebetulan berkecimpung di sini. Jadi orang perguruan tinggi, ya, itu yang bisa saya berikan kepada masyarakat.”

Karena itu, sejak 1968 hingga sekarang Johan Silas tetap konsisten menekuni dunia ini--program perbaikan kampung--kendati di lapangan selalu ada kendala. Bagi Johan Silas, KIP sama sekali bukan proyek yang langsung selesai ketika masa ‘kontraknya’ habis. Boleh jadi, KIP alias pembenahan ‘kampung besar’ Surabaya (Kota Surabaya pada hakikatnya merupakan kumpulan kampung-kampung) telah menjadi panggilan hidup seorang Johan Silas.

Wali kota boleh saja gonta-ganti, begitu juga politisi di parlemen, serta kepala-kepala dinas, dan stafnya. Tapi Johan Silas jalan terus dengan program perbaikan kampung, KIP. “Saya tidak akan capek. Hidup ini menjadi lebih berwarna kalau ada yang bergiat di kampung, perguruan tinggi, dan sebagainya,” kata profesor yang paling tidak suka ditanya hal-hal pribadi seperti nama istri, anak-anak, dan seterusnya. [“Relevansinya apa? Kita fokus saja pada inti persoalan.”]

INGENIERO, si nos habian dado las ayudas y orientaciones cuando las necessitabamos..

.. Insinyur, kalau saja Anda membantu saat kami sangat membutuhkan keahlianmu!

Kata-kata ini, seperti ditulis Johan Silas di harian Surabaya Pos edisi 13 Mei 1990, merupakan keluhan warga kampung kumuh di Lima, ibukota Peru, menanggapi timbulnya kemelut perumahan buruk akibat perencanaan dan pembangunan kota yang dilakukan seenaknya saja.

Ungkapan ini, rupanya, sangat menantang Johan Silas, sebagai insinyur-arsitek-profesor, untuk memberikan sumbangsih nyata bagi Surabaya, kota yang didiaminya sejak usia 14. Dan, sebagai arsitek, tidak sulit bagi Johan Silas untuk melecak jejak KIP di Surabaya yang ternyata sudah ada sejak 1923. “Ini KIP pertama di Indonesia,” kata pria bertubuh langsing itu.

Menurut dia, KIP pada zaman Belanda ini sangat berbeda dengan KIP yang ikut digarapnya sejak Orde Baru sampai sekarang. KIP versi Belanda dibuat sebagai wujud politik etis yang dilancarkan kaum oposisi di parlemen Negeri Belanda. KIP ini untuk melindungi warga di dekat kampung yang umumnya warga Eropa dari bahaya epidemi.

“Orientasi KIP ketika itu hanya menangani aspek sanitasi kampung saja, amat bersahaja,” jelas konsultan beberapa pemda serta lembaga-lembaga internasioinal, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia itu.

Sedangkan ‘KIP baru’ (1968/69 sampai sekarang), urai Johan Silas, “membawa pembangunan sampai ke depan pintu penduduk yang paling miskin sekalipun”.

Pembangunan di sini tidak hanya fisik, tapi jauh lebih urgen adalah pembangunan manusianya. Mengapa demikian? Johan Silas selalu mengingatkan apa yang dikenal sebagai ‘sindrom Pareto’. Artinya, 80 persen hasil pembangunan terbaik hanya dinikmati 20 persen penduduk lapisan atas. Kesenjangan sosial ini sangat berbahaya karena bisa memicu kerawanan sosial.

Ditegaskan Johan Silas, prinsip dasar KIP tidak pernah berubah. Yakni, melayani penduduk di kampung agar terjadi proses ‘pengadaan’ perumahan yang memenuhi syarat. Mula-mula prioritasnya adalah lingkungan yang baik. Kemudian perumahan yang memenuhi syarat. Prasarana lingkungan yang baik. Dan, sejak 1990-an dilanjutkan dengan pembentukan lembaga masyarakat yang andal dan mandiri.

“Sama sekali salah anggapan bahwa KIP di Surabaya sudah rampung. Selama masih ada wong cilik di kota, selama itu pula KIP diperlukan,” tegas Johan Silas.

KERJA keras Johan Silas bersama tim serta Pemkot Surabaya (ini paling penting! Katanya) tidak sia-sia. Kota Surabaya beberapa kali meraih penghargaan nasional maupun internasional di bidang tata kota. Setelah berjalan 10 tahun lebih, pada 1980-an hingga 1990-an, Kota Surabaya memang panen penghargaan. Dan itu tak lepas dari peranan Prof Johan Silas.

Di tingkat nasional, Kota Surabaya menggondol penghargaan Adipura jadi langganan, 1988, 1989, 1990, 1991, 1992, serta beberapa lagi. Adipura Kencana! Pemkot mempekerjakan petugas kebersihan, diberi seragam warna kuning, dan dikenal dengan sebutan populer ‘pasukan kuning’. Istilah ‘pasukan kuning’ yang bermula di Surabaya ini kemudian menjadi semacam nama generik untuk petugas kebersihan di seluruh Indonesia.

Penghargaan untuk KIP pun cukup banyak. The Aga Khan Award for Architecture (1986). The Unep Award (1990). The World Habitat Award (1992) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Johan Silas mencatat beberapa lagi. Kampung Pandegiling ikut pameran Living in Cities (1983) di Jerman. Kampung Donorejo-Donokerto mewakili Indonesia dalam buku Tipologi Permukiman Khas di Asia Pasifik oleh UNESCAP (1984). Tahun 1988, Surabaya mendapat penghargaan Japan Housing Associations IYSH Matsuhita Award. Wow, banyak sekali!

“Kunci keberhasilannya, di samping sejarah dan budaya Surabaya memang berakar di kampung, seperti diungkap Babad Surabaya, harus dicatat pula besarnya perhatian dan usaha pejabat Pemerintah Kota Surabaya,” tegas Johan Silas.

Berkat kampung itu pula, pada 1990-an itu Surabaya tak henti-hentinya menjadi tujuan ‘studi banding’ negara-negara lain. Jadi, beda sekali dengan ‘studi banding’ versi parlemen atau pejabat kita setelah era Reformasi 1998. Di setiap studi banding, Johan Silas senantiasa berada di depan, memandu para tetamu asing itu untuk menikmati ‘wisata kampung’ di Surabaya.

Johan Silas mengaku gundah karena kedatangan tamu-tamu asing ke Surabaya ini kerap luput dari perhatian media massa lokal. Padahal, menurut arsitek dari ITS ini, studi banding ke kampung-kampung Surabaya itu berita besar yang layak muat. Kenapa tidak ada berita atau foto sama sekali?

"... mungkin karena mengikuti kaidah no news is good news, atau belum diarahkan oleh humas,’’ sindir Johan Silas dalam sebuah kolomnya di Surabaya Post, koran berpengaruh di Surabaya pada 1990-an.

SELAMA 30 tahun lebih terlibat di KIP Kota Surabaya, Johan Silas menemukan rahasia sukses program pembenahan kota ala KIP dan sejenisnya. Nomor satu, katanya, warga kampung itu sendiri. Maka, berbagai hadiah atau penghargaan yang diterima Kota Surabaya itu pada hakikatnya merupakan hadiah untuk warga. Bukan karena kehebatan insinyur/arsitek atau wali kota dan aparatnya.

Namun, Johan Silas mengingatkan bahwa peranan wali kota sangat vital dan menentukan. Johan Silas kemudian menunjuk Poernomo Kasidi, seorang dokter yang menjabat wali kota Surabaya pada 1990-an. Sosok Pak Poer, sapaan akrab Poernomo Kasidi, dinilai sebagai wali kota yang paling menghayati karakter masyarakat Surabaya, berikut berbagai persoalannya.

“Pak Poer itu sering masuk kampung secara diam-diam. Dia minum kopi sama warga kampung, bicara dari hati ke hati, khas arek Suroboyo. Jadi, dia tahu betul persoalan di Kota Surabaya,” ujar Johan Silas.

Kebiasaan blusukan ala Pak Poer ini yang jarang, bahkan hampir tidak pernah dilakukan, oleh wali kota penggantinya. Sebagai dokter, Johan Silas melihat Pak Poer benar-benar menggunakan sistem berpikir holistik ala dokter untuk membedah persoalan di Surabaya. Dokter itu, kata Johan, tidak sekadar mengobati gejala-gejala penyakit di permukaan saja.

“Sakitnya diobati, tapi dokter pasti mencari lebih jauh lagi apa sebenarnya penyebab dari suatu penyakit.”

Nah, pola pikir itu diterapkan Pak Poer saat menjabat wali kota. Kalau ada limpasan air (banjir), pemerintahan Pak Poer tidak sekadar sibuk menguras air dengan pompa atau solusi jangka pendek. Pengurasan memang penting, tapi tidak cukup sampai di situ. Menurut Johan Silas, Wali Kota Poernomo Kasidi meminta masukan dari pakar tata kota, lingkungan, dan pihak mana pun untuk menemukan biang keladi banjir, misalnya.

“Kalau diberi masukan, Pak Poer itu selalu dengar dan mau melaksanakan. Sebelum Pak Poer, seperti Pak Muhaji (Wijaya) juga didengarkan,” kata Johan Silas.

Karena itu, jika ada pengembang yang menggunakan lahan terlarang, izin langsung dicabut. Tidak ada kompromi. Daerah resapan air dipelihara. Sayang, setelah Pak Poer, kebijakan positif ini mulai hilang dari para wali kota yang baru. Yang ada hanya penanganan yang parsial belaka. “Hanya gejalanya yang diobati, seperti banjir, sampah, atau kemacetan. Akar persoalan tidak disentuh,” ujar Johan Silas, sedih.

Lebih buruk lagi, sambung dia, ada wali kota yang sebetulnya baik, polos, sederhana, tapi dikelilingi kawan-kawan dekatnya yang vested interest-nya tinggi. Mereka-mereka ini ibarat juru bisik, yang ‘memagari’ orang nomor satu di KMS (Kota Madya Surabaya, istilah lama untuk Kota Surabaya). Bisa ditebak, masukan-masukan akademis dari para pakar seperti Johan Silas cenderung diabaikan pak wali.

“Soal banjir, kemacetan, sampah, kita sudah berkali-kali membuat kajian. Tapi kalau tidak dilaksanakan, ya, susah,” ujar Johan Silas.

JOHAN Silas dikenal sebagai dosen yang enggan menggunakan telepon seluler (handphone, HP). Tapi, sejak 2005 lalu Johan sering terlihat membawa HP ke kampus, Fakultas Arsitektur ITS Surabaya. “Bisa minta nomor HP Bapak,” tanya saya.

“Sebaiknya jangan, karena saya jarang pakai. Lebih baik telepon saja ke rumah,” tegas Johan Silas. “Saya pakai HP ini juga karena dikasih sama orang Aceh. Sering off karena jarang digunakan,” tambah profesor yang ramah ini.

Ya, selepas bencana alam gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, yang meluluhlantakkan kawasan itu, kesibukan Johan Silas bertambah lagi. Ia dipercaya menjadi konsultan pembangunan sebuah permukiman baru untuk korban tsunami di Aceh.

“Sekarang ini saya harus bolak-balik ke Aceh karena ada garapan di sana,” ujar insinyur lulusan teknik arsitektur Institut Teknologi Bandung, 1963, itu. Sesuai dengan filosofinya yang berorientasi pada wong cilik, kawasan permukiman baru di Aceh pun dibuat sedemikian rupa agar tidak membuat warga korban tsunami tidak merasa asing di lingkungannya sendiri.

Johan Silas memang orang sibuk, mobilitasnya tinggi. Namun, di sela-sela kesibukannya sebagai dosen, arsitek, penggiat KIP, Johan Silas masih menyempatkan diri untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan ‘tambahan’ di bidang sosial atau seni budaya.

Johan pernah memimpin BUSOS--majalah sosial, budaya yang dikenal dengan moto ‘kecil-kecil cabe rawit’--tapi kini sudah diambil alih Emannuel Subangun, mantan wartawan Kompas. Johan kerap diminta bicara di diskusi bersama komunitas seniman.

Last but not least, Johan Silas seorang penikmat musik klasik yang sangat apresiatif. Di setiap konser Surabaya Simphony Orchestra (SSO), Johan Silas selalu hadir manakala tidak ada aktivitas di luar kota. “Pak Johan Silas itu salah satu penikmat utama konser SSO,” kata Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen SSO.

BIODATA SINGKAT

Nama : Prof Ir Johan Silas
Lahir : Samarinda, 24 Mei 1936
Pendidikan : Jurusan Teknik Arsitektur ITB, 1963
Pekerjaan : pengajar, pendiri Jurusan Teknik Arsitektur ITS Surabaya. Tahun 1992 memperoleh gelar guru besar madya.

Pengetahuan tambahan tentang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan diperoleh di Inggris, Belanda, Jepang, Prancis, dan Jerman. Program yang diikuti antara lain Housing in Urban Development (London, 1979), Housing, Building & Planning (Rotterdam, 1980), Cooperative Housing (Tokyo, 1984/1985), Comparative Study on Urban Anthropoloy (Prancis, 1986), Inner City Conservation (Berlin, 1987).

Menjadi konsultan sejumlah pemerintah daerah dan lembaga-lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, dan sebagainya.

Ikut mengasuh beberapa majalah ilmiah di luar negeri seperti Sustainable Development, Urbanization & Environment. Anggota Komite Nasional Habitat Indonesia, lembaga profesi dan LSM tentang perumahan dan permukiman.

Menulis dalam buku yang terbit di luar negeri, antara lain, Readings on Community Participation (IBRS), Low Income Housing in Developing Countries (London), Land for Housing The Poor (AIT), Housing Policy and Practice in Asia, Methodology for Land Market and Housing Analysis (UCL London, 1993), Living and Working in Cities (HFB-Berlin, 1993).

Sejak 1974 menjadi penulis tetap di harian Surabaya Post serta beberapa media cetak daerah dan nasional. Aktif mengikuti diskusi, seminar, dan lokakarya di dalam dan luar negeri sebagai pembicara maupun peserta.

5 comments:

  1. terima kasih atas data pak silas. penting banget bagi saya.

    anton wahyu

    ReplyDelete
  2. waaaww... ini bapak dosenku dulu... saya juga sempat membantu beliau untuk survey sampah kota Surabaya pertama kali... sehingga akhirnya Surabaya meraih Adipura... bersyukur sekali beliau masih aktif berkarya... salam saya untuk beliau...

    Tjiplies

    ReplyDelete
  3. Bp.Johan Silas sangat berdedikasi kpd Kota Surabaya, dan juga aktif dlm beberapa kegiatan sosial.
    Silahkan menyimak www.singyourheartlive.com yang juga ikut diperhatikan oleh Bp & Ibu Johan Silas.
    Terima kasih.
    yuni mochny-YPAB,Surabaya,26Ap2013

    ReplyDelete
  4. Nggak salah kalau dari dulu saya ngefans banget sama kuliahnya bapak Johan Silas. Gilaaaa .... isinya blusukan ke kampung-kampung untuk kemudian diperbaiki. Jadi ngerti sama yang namanya penduduk kampung Surabaya dan permasalahannya. Dan solusinya itu lho paaas banget. Bapak Silas sangat menginspirasi saya untuk mentransfer ilmu bapak ke mahasiswa. Sukses ya pak.

    ReplyDelete
  5. beliau think tank-nya surabaya.

    ReplyDelete