22 April 2006

Gombloh seniman musik yang merakyat


Oleh LAMBERTUS HUREK

Almarhum Sujarwoto yang lebih populer dengan sapaan Gombloh merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara pasangan suami-istri Slamet dan Tatoekah. Pak Slamet bekerja sebagai pedagang ayam di Pasar Genteng, Surabaya. Setiap hari Slamet dengan tekun menjual ayam-ayam potong di pasar tradisional dalam kota tersebut.

Hasil berjualan ayam cukup lumayan untuk membiayai hidup keluarga. Bagi Pak Slamet, keenam anaknya harus bisa sekolah, setinggi mungkin, agar kelak bisa menjadi manusia yang punya masa depan cerah.

“Bapak tidak ingin anak-anaknya punya pendidikan pas-pasan kayak beliau,” ujar Sujarwati, anak bungsu, yang paling dekat dengan almarhum Gombloh.

Alhamdulillah, semua anak Pak Slamet ternyata dikaruniai kemampuan inteligensia di atas rata-rata. Tak heran, mereka semua bisa menempuh pendidikan di sekolah favorit atau unggulan di Surabaya pada masa itu. SMA Kompleks, yang favorit itu, bisa ditembus anak-anak Pak Slamet dengan mudah.

Bagaimana dengan Sujarwoto alias Gombloh? “Wah, dia itu otaknya encer sekali,” tutur Sujarwati. Maka, bisa dipahami Gombloh masuk SMAN 5 Surabaya dan lulus dengan nilai bagus.

Lulus SMAN 5, darah seni Gombloh yang selama bertahun-tahun dipendam tak bisa dibendung lagi. Pria kelahiran 14 Juli 1948 di Jombang ini tampaknya lebih memilih menjadi manusia bebas ketimbang harus kuliah seperti tiga kakaknya. Tapi, menurut Sujarwati, sang ayah tetap ingin anaknya itu kuliah demi masa depannya di kemudian hari.

Asal tahu saja, profesi seniman (penyanyi, pelukis, penari) dulu masih dianggap aneh oleh masyarakat. Seniman identik dengan pengamen yang tak punya masa depan.

Apa boleh buat, Gombloh pun terpaksa mendaftar ke Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya yang bergengsi itu. Berbeda dengan remaja lain, Gombloh tidak pernah ikut bimbingan tes, latihan soal, atau belajar. “Gombloh kok disuruh belajar,” kata Sujarwati seraya tertawa kecil.

Menurut si bungsu ini, Gombloh hanya melihat buku sepintas kilas--karena terus diawasi oleh ayahnya--pada menjelang ujian masuk di ITS. Hasilnya, Gombloh ternyata lulus, diterima di kampus ITS. Pak Slamet tentu senang, karena ini berarti anak-anaknya masuk perguruan tinggi bergengsi (kakak-kakak Gombloh lebih dulu kuliah di Universitas Airlangga). Dan, seperti di SD hingga SMA dulu, Pak Slamet tetap mengawasi anak-anak belajar pada malam hari sebelum tidur.

“Semua harus belajar. Bapak sendiri baca cerita silat Kho Ping Hoo,” tutur Sujarwati yang kini tinggal di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.

Namanya juga tak punya niat kuliah di ITS, ‘kenakalan’ Gombloh makin menjadi. Dia sering bermain sandiwara untuk mengelabui Pak Slamet, ayahnya, seakan-akan dia berangkat kuliah di ITS, Sukolilo. Ternyata, sekitar pukul 10:00 WIB Gombloh kembali lagi ke rumah, dan tidur. Ulah Gombloh ini akhirnya ketahuan setelah Pak Slamet mendapat kiriman surat dari ITS. Di situ disebutkan bahwa Gombloh sudah terlalu banyak bolos kuliah, sehingga dapat peringatan keras.

Di saat itulah Gombloh ‘menghilang’ ke Bali untuk mengarungi petualangan sebagai seniman. Disiplin ketat, kuliah teratur, dapat titel dan pekerjaan bagus... ternyata tidak cocok untuk jiwa seorang Gombloh. Ia harus drop out (DO) di ITS hanya dalam satu semester.

GOMBLOH akhirnya menemukan dunianya yang asyik: main musik, jadi seniman bebas. Nama dan kiprahnya mulai dikenal di mana-mana. Bagaimana reaksi sang ayah, Pak Slamet? Biasa-biasa saja.

“Bapak tetap ingin anaknya kuliah, agar masa depannya lebih baik. Seniman itu apalah,” kata Sujarwati.

Sementara itu, adik Gombloh bernama Sujari sudah lulus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, sesuai dengan keinginan orang tua. Masa, Gombloh tidak ingin mengikuti saudara-saudaranya yang sudah sukses? Tapi dunia kesenian sudah sedemikian merasuki jiwa Gombloh.

Rekaman demi rekaman, manggung dari hotel ke hotel, ngamen sana-sini, pun dilakoni Gombloh alias Sujarwoto. Hasilnya lumayan. Gombloh sudah bisa mencari uang sendiri kendati dalam beberapa kesempatan ia masih minta uang pada saudaranya.

Bukankah Gombloh sudah mendapat bayaran yang lumayan sebagai penyanyi? Menurut Sujarwati, kakak kandungnya ini termasuk orang yang royal, suka menolong siapa saja tanpa pamrih, sehingga uangnya cepat habis. Ulahnya sering kali menggelikan dan bikin saudara-saudaranya geleng kepala.

Suatu ketika, cerita Sujarwati, Gombloh tiba-tiba menelepon dari Kalimantan. “Saya sakit keras, diopname di rumah sakit. Tolong segera kirim uang, tapi tidak perlu ke Kalimantan,” kata si Gombloh.

Keluarga di Surabaya pun kalang-kabut. Mereka pun urunan mengirim uang ke Kalimantan. Eh, uang itu ternyata dipakai untuk membiayai teman-temannya ke Surabaya. “Dia ikut ke Surabaya karena memang nggak sakit,” Sujarwati mengenang.

Di balik ‘kenakalannya’, Gombloh sangat mengasihi orang tua, khususnya Bu Tatoekah, sang ibunda. Gombloh pernah mengatakan bahwa ia akan mengurus sang ibu sampai tua hingga meninggal dunia. Benar saja. Ketika albumnya meledak di pasaran, Bu Tatoekah sakit keras sehingga harus dirawat di rumah sakit. Gombloh menginstruksikan agar sang ibu dirawat di rumah sakit terbaik, kelas VIP.

“Ibu tidak boleh menderita. Saya yang tanggung semua biaya rumah sakit,” kata Gombloh.

Begitulah, dedikasi Gombloh untuk ibunya memang luar biasa, sampai Bu Tatoekah meninggal dunia.


GOMBLOH telah tiada, namun kenangan manis dan pahit tentang sang seniman tak akan pernah hilang. Dan, kenangan itu kian membekas karena belakangan karya-karya Gombloh yang legendaris itu membuat saudara mereka mendapat berbagai penghargaan. Tahun 2005 saja, Sujarwati diundang dua kali ke Jakarta untuk menerima penghargaan sebagai wakil (ahli waris) Gombloh.

“Saya sangat terharu,” ujar Sujarwati. Karya-karya Gombloh pun beroleh royalti, dan itu bisa dinikmati oleh keluarganya.

“Bagi kami, royalti dari karya Mas Gombloh itu untuk diamalkan. Kalau ada keluarga yang paling membutuhkan, ya, dikasihkan ke dia,” kata Sujarwati.


KEBYAR-KEBYAR

Indonesia, merah darahku, putih tulangku
bersatu dalam semangatmu!

Indonesia, debar jantungku getar nadiku
berbaur dalang angan-anganmu
Kebyar-kebyar pelangi jingga....

Indonesia, nada laguku, simfoni berteduh
selaras dengan simfonimu
Kebyar-kebyar pelangi jingga....

[Biarpun bumi berguncang kau tetap Indonesiaku.
Andaikan matahari terbit dari barat, kau pun Indonesiaku.
Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan aku darimu.]

Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas
malang-malang tuntas denganmu.



YAH, Gombloh memang telah meninggalkan kita semua sejak 1988 lalu. Namun, almarhum mewarisi lagu ‘Kebyar-Kebyar’ sebagai pusaka berharga bukan hanya bagi warga Surabaya atau Jawa Timur, melainkan seluruh bangsa Indonesia.

Lagu ‘Kebyar-Kebyar’ belakangan bahkan dibanding-bandingkan dengan ‘Indonesia Raya’, national anthem karya WR Supratman, seniman pejuang yang dimakamkan di Surabaya. Ada yang bilang ‘Kebyar-Kebyar’ lebih heroik ketimbang ‘Indonesia Raya’.

Karena itu, tak berlebihan kalau musikus legendaris asal Surabaya itu menerima penghargaan ‘Nugraha Bhakti Musik Indonesia’ pada puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, 30 Maret 2005. menurut Iga Mawarni, Humas Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), ada 10 musikus yang menerima penghargaan bergengsi itu.

Para penerima ‘Nugraha Bhakti Musik Indonesia’ pada 2005 itu adalah Gombloh (alm), A Malik BZ (tokoh musik Melayu yang tinggal di Kureksari, Waru, Sidoarjo), Ki Narto Sabdo (alm), Harry Roesli (alm), Pupuk Norobe (penemu sasando), Agusli Taher (seniman tradisi Sumatera Barat), Kristian Tamaela (seniman tradisi Maluku), Khori Ali (seniman tradisi Sumatera Selatan), Nelwan Katuu (pengembang musik Kolintang asal Sulawesi Utara), dan Buya Han (seniman tradisi Maluku).

“Siapa sih yang nggak kenal Gombloh. Beliau itu pencipta lagu ‘Kebyar-Kebyar’ yang sudah dianggap sebagai lagu kebangsaan kedua setelah ‘Indonesia Raya’,” ujar Iga Mawarni yang dikenal sebagai penyanyi bernuansa jazz (jazzy) itu. Saat menentukan nominee, cerita Iga, praktis nama Gombloh langsung diterima oleh panitia Hari Musik Indonesia III.

Tak ada debat, apalagi perlawanan, karena nama Gombloh, berikut karya-karyanya memang sangat dikenal masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Ini tentu berbeda dengan sejumlah seniman tradisi yang hanya dikenal di komunitas daerah tertentu.

“Almarhum Gombloh itu sudah menjadi milik Indonesia. Jadi, bukan sekadar milik masyarakat Surabaya,” kata Iga Mawarni saat melakukan sosialisasi Hari Musik Indonesia--yang jatuh pada 9 Maret, bertepatan dengan hari lahir komponis WR Supratman--di Surabaya, awal Maret 2005.

SEBAGAI penyanyi sekaligus penulis lagu, Gombloh boleh dibilang cukup produktif. Ini dibuktikan dari delapan album yang ia rekam bersama Nirwana Record, Surabaya. Lagu-lagu karya Cak Gombloh rata-rata ‘slengekan’, spontan, ceplas-ceplos, liriknya banyak yang nakal alias urakan, tapi sangat merakyat.

“Dia benar-benar mewakili watak arek Suroboyo. Polos, apa adanya, semuanya keluar begitu saja dari hatinya. Tapi hatinya sangat baik,” kata Pardi Artin, gitaris dan salah satu teman main band almarhum Gombloh, yang tinggal di kawasan Kedungrukem, Surabaya.

Selain ‘Kebyar-Kebyar’ yang terkenal itu, lagu-lagu Gombloh yang dikenal publik musik Indonesia antara lain Kugadaikan Cintaku, Apel, Di Angan-Angan, Setengah Gila, Selamat Pagi Kotaku, Karena Iseng, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Gila, Semakin Gila, Sumirah, Okelah, Arjuna Cari Cinta, Hey Kamu, Berita Cuaca, Tari Kejang, Lepen, Skala, Konsumsi Cinta, Hong Wila Heng. Sebanyak 20 lagu terpopuler mendiang Gombloh ini terdokumentasi cukup rapi di album khusus berdurasi 90 menit (C-90) produksi Nirwana Record.

Dari judul-judul, apalagi lirik-lirik khasnya, rasanya sulit dipercaya kalau Gombloh masih sempat-sempatnya menulis lagu ‘Kebyar-Kebyar’ yang sangat heroik itu. Sebuah lagu yang nuansanya jauh berbeda dengan karya-karya lain. “Saya juga heran, kok beliau bisa membuat lagu sehebat itu,” ujar Pardi.

Sahabat akrab Gombloh ini belakangan membuat band khusus yang membawakan lagu-lagu tempo doeloe, khususnya lagu-lagu Gombloh dengan Lemon’s Tree-nya.

“Dari segi komposisi, Kebyar-Kebyar itu sebetulnya biasa saja. Tapi nuansa heroiknya itu yang sangat terasa. Kalau memainkan lagu itu, rasanya kita larut dalam semangat heroik, seperti maksud Cak Gombloh,” kata Toni Suwanto, drummer asli Surabaya, yang juga teman dekat almarhum Gombloh.

Baik Toni Suwanto, Pardi Artin, Rokhim, serta beberapa musisi sahabat dekat Gombloh mengaku tak pernah menyangka kalau lagu Kebyar-Kebyar menjadi begitu populer, apalagi dianggap sebagai ‘lagu kebangsaan’ tidak resmi. Gombloh sendiri pun tidak. Sebagai musisi kampung--begitu para seniman Surabaya ini menamakan dirinya--mereka hanya ‘mengamen’ dari kampung ke kampung, hotel ke hotel, atau panggung satu ke panggung lainnya.

Gombloh tidak punya pretensi macam-macam, selain menjadi diri sendiri. Menurut Pardi, sejak dulu Gombloh memang sudah berani tampil beda, dengan identitas dan karakter yang kuat. Rambut panjang, kacamata, topi, jaket.... Koleksi topi dan kacamata Gombloh cukup banyak kendati harganya, ya, biasa saja: khas koleksi orang kampung.

“Sederhana banget kayak kita-kita ini. Ketika namanya melambung di tanah air pun gayanya tidak berubah,” kata Rokhim, pemain bass yang pernah menemani Gombloh ‘ngamen’ dari hotel ke hotel di Bali pada awal 1970-an. Gombloh itu, kenang sehabat-sehabatnya, adalah trend setter, pencipta tren, bukan pengikut tren atau korban mode.

Gombloh, kendati sudah eksis di Kota Surabaya bersama band Lemon’s Tree, sebetulnya kurang dikenal di belantika musik nasional. Bisa dipahami karena itu tadi, karya-karya Gombloh, cenderung slengekan, sarat kritik sosial, dan itu bukan mainstream dalam industri musik pop Indonesia saat itu.

Entah dapat ilham dari mana, pada 1986 Gombloh menulis lagu Kugadaikan Cintaku. Ceritanya tentang kekecewaan seorang pemuda ketika memergoki pacarnya sedang bercumbu dengan pria lain saat apel malam Minggu. Apa boleh buat, si pria itu (Gombloh?) akhirnya ‘menggadaikan cintanya’. Lagu jenaka ini benar-benar meledak.

“Setelah Di Radio itu nama Gombloh benar-benar melambung. Rezekinya mengalir deras karena kaset Di Radio laku keras,” tutur Pardi Artun.

Toh, Gombloh tetaplah Gombloh, arek Suroboyo yang sederhana, tidak lupa daratan dengan popularitas yang melambung. Ketika ditawari hijrah ke Jakarta--agar bisa lebih terkenal lagi--Gombloh bergeming. Ia tak ingin didikte oleh cukong-cukong industri musik di Glodok, Jakarta.

“Saya kan orang Surabaya. Saya tidak boleh meninggalkan Surabaya karena saya komunitas saya di Surabaya,” ujar Gombloh seperti ditirukan teman-teman dekatnya. Maka, rekaman selanjutnya tetapia lakukan di Surabaya, tepatnya di dekat kawasan Tunjungan.

Ada yang menarik.

Ketika berproses di studio rekaman, para sahabat Gombloh dari lingkungan ‘marginal’ seperti pekerja seks di Gang Dolly dan sekitarnya ikut menyaksikan. Gombloh ibaratnya mendapat suntikan semangat dari sekian banyak PSK itu. Kenapa PSK?

“Dia dekat sekali dengan mereka. Ketika PSK dilecehkan masyarakat, dikejar-kejar, Gombloh justru menyapa mereka. Mungkin, karena itu, ketika Gombloh rekaman, gantian para PSK dari Dolly datang memberikan dukungan,” ujar Pardi Artin, serius.

Sebuah koran di Jawa Tengah mencatat sebuah adegan menarik tentang keakraban antara Gombloh dengan PSK binaannya.

“Gombloh itu manusia sangat merdeka. Pencinta rakyat kecil dan membaur dalam kehidupan mereka. Pernah honornya dibelikan ratusan BH, dibagi-bagikan di perkampungan prostitusi. Bayangkan, Gombloh naik becak dengan tumpukan keranjang BH. Dia sibuk melemparkan BH itu satu per satu ke setiap rumah prostitusi,” tulis surat kabar harian tersebut.

Seniman bernama asli SUJARWOTO ini memang murah hati. Ketika berada di puncak karier, rezeki mengalir berkat Kugadaikan Cintaku, Gombloh tidak mau melepaskan diri dari komunitas, teman-teman, serta warga kampungnya.

Ia tidak membeli rumah mewah di kawasan real estat yang mulai tumbuh di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar saat itu. Padahal, kalau mau, Gombloh mudah saja melakukannya. Posisi tawarnya sedang di puncak, sehingga ia bisa meminta rumah gedong, mobil mewah, serta fasilitas lain.

Yang paling berkesan bagi Pardi Artun, dan seniman-seniman Surabaya seangkatan, Gombloh senang mentraktir siapa saja yang ia temukan di kampung. Silakan makan apa saja--bakso, nasi goreng, bakmi, tahu tektek--Gombloh yang bayar. Buat Gombloh, rezeki harus dinikmati bersama, dibagi-bagi kepada teman serta sesama warga kampung.

“Sisi ini yang sulit saya lupakan dari Gombloh,” kata Pardi, tetangga dekat Gombloh saat aktif bermusik bersama di Surabaya dan sekitarnya.

Yah, Gombloh memang manusia sangat merdeka. Manajemen artis ala industri musik modern praktis tidak bisa dikenakan untuk seorang Gombloh. Dia senang bebas yang tetap berjiwa ‘wong cilik’, tak bisa keluar dari akarnya sebagai wong kampung. Bukankah Kota Surabaya ini, meminjam istilah Prof Johan Silas, tak lebih dari aglomerasi kampung-kampung? Dan itu membawa konsekuensi bagi Gombloh dan keluarganya.

Setelah Gombloh meninggal dunia pada 1988, sang seniman tak meninggalkan harta apa pun selain karya-karya musik serta kisah hidupnya yang eksentrik dan bersahaja. Lahir sebagai orang kampung, bermain musik secara otodidak bersama teman-temannya di kampung, sempat ngetop... akhirnya pergi untuk selamanya ala orang kampung.

“Dia memang seniman rakyat,” kata Pardi Artin.

Ada lagi catatan penting dari Pardi Artin. Menurut pemusik serba bisa ini, sejatinya si Gombloh tidak pernah benar-benar sehat. Tubuhnya yang kerempeng sudah dititipi penyakit macam-macam. Ditambah kebiasaan merokok yang sulit dihilangkan, fisik Gombloh setiap hari digerogoti kuman-kuman penyakit tersebut.

“Kalau bicara atau bersin, sering kali keluar darah. Dan itu sudah sangat lama,” Pardi mengenang.

Tapi Gombloh bukan tipe manusia yang mudah menyerah pada sakit-penyakit. Daya hidup yang luar biasa ini membuat Gombloh mampu memperpanjang masa baktinya di dunia. “Itu semua karena anugerah dari Allah. Sebab, kalau dipikir-pikir dengan logika biasa, melihat kondisi Gombloh seperti itu, kok dia bisa kuat? Dia main musik, menciptakan lagu, semua dalam kondisi yang tidak sehat-walafiat. Ini luar biasa,” kata Pardi dengan mata berkaca-kaca.

KOMUNITAS seniman Surabaya, dan warga Surabaya umumnya, sangat kehilangan Gombloh. Seniman sederhana yang dengan lantang, semangat, menyanyikan Kebyar-Kebyar, karyanya sendiri, di nada dasar D. Dengan kunci D, maka nada lagu ini sangat tinggi untuk masyarakat biasa, bahkan penyanyi profesional sekalipun. Orang tentu sulit melupakan almarhum Gombloh.

“Kita baru benar-benar merasakan betapa pentingnya Gombloh setelah beliau meninggal,” kata Djoko Lelono, pelukis dan penggiat seni rupa di Surabaya dan Sidoarjo. Maka, pada 1996 para seniman Surabaya secara spontan membentuk Slidaritas Seniman Surabaya.

Seniman apa saja (musik, rupa, tari, teater, tradisi) bersama-sama menggagas even untuk mengenang Gombloh di Surabaya. Ada sejumlah agenda kesenian dalam rangka menjadikan Gombloh sebagai Pahlawan Seniman Kota Surabaya. “Kita semua sepakat bahwa Gombloh itu pahlawan seniman,” ujar Djoko Lelono, yang waktu itu dipercaya sebagai Ketua Solidaritas Seniman Surabaya.

Nah, untuk mengikonkan Gombloh, Djoko (bersama Oto dan Didit) membuat patung Gombloh seberat 200 kilogram terbuat dari perunggu. “Kita garap selama enam bulan. Kita fokus benar untuk menghasilkan karya terbaik demi mengenang almarhum Gombloh,” ucap Djoko Lelono, yang lebih dikenal sebagai pelukis dan penggiat seni rupa itu.

Patung itu kemudian dipasang di halaman Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

“Sengaja di THR karena (dulu) THR itu salah satu pusat aktivitas kesenian di Kota Surabaya. Agar orang tahu bahwa Mas Gombloh itu seniman besar yang pernah dilahirkan Surabaya,” kata Djoko.

Bagi Djoko Lelono, dan para seniman Surabaya, Gombloh itu tak akan bisa hilang dari memori kolektif warga Surabaya, Jawa Timur, bahkan Indonesia. Bahkan, 100 tahun lagi pun Gombloh tetap akan dikenang oleh bangsa Indonesia. “Sebab, begitu orang mendengar atau menyanyikan lagu Kebyar-Kebyar, maka Gombloh akan hadir. Dia benar-benar pahlawan,” tegas Djoko.

Jumat, 20 Juni 2003.

Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya, komunitas musisi rock Surabaya, serta musisi lain nyekar ke makam Gombloh di Makam Umum Tembok, Surabaya. Mereka menyanyikan dua lagu karya Gombloh yang paling terkenal: Gebyar-Gebyar dan Berita Cuaca (Lestari Alamku). Dari atas makam Gombloh itu, para musisi jalanan menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Musisi Jalanan Surabaya.

Menurut Yus, koordinator rock se-Surabaya, acara nyekar ke makam almarhum Gombloh oleh musisi Surabaya ini sangat mengesankan, apalagi Gombloh adalah sosok musisi idealis. "Ide-idenya pun cukup didengar. Dan kami berpikir layak untuk menjaga idealisme Gombloh dalam bermusik," katanya.

BIODATA SINGKAT

- Nama lengkap : Sujarwoto alias Gombloh
- Tempat/tanggal lahir : Jombang, 14 Juli 1948
- Meninggal dunia : Surabaya, 9 Januari 1988
- Pendidikan : SMAN 5 Surabaya, ITS jurusan arsitektur (tidak selesai)
- Orang tua : Slamet dan Tatoekah
- Kekerabatan : Anak ke-4 dari enam saudara (Anwar Sujono, Siti Alifah, Askur Prayitno, Sujarwoto alias Gombloh, dr Sujari, Sujarwati)
- Alamat : Kebangsren I/48 Surabaya

24 comments:

  1. Wow...what a sweet story you give us.
    I am trying to finish my first album hoping it will be out in May, 2007, and one of the songs is about Gombloh whom I have always admired. Reading this article makes me more motivated to complete the CD and get it released.
    Anyway, with the spirit of my Hero Gombloh, all profits from this CD will be going toward my foundation ATsea (a non-profit organization supporting the arts for children of Southeast Asia). Really I am doing this for a good cause and I realize I do need a lot of help in so many ways. So if anyone has some advice to offer me I would be most grateful to hear it! One thing in particular where I'm looking for some help is in contacting the Gomloh family. If anyone has an update on their situation and where they might be living I'd love to hear from you.

    Finally, a little note about me: my name is Sadir from Sidoarjo originally but I have lived in the USA for 12 years now. Currently I'm in Manhattan New York. I look forward to hearing from you! You can contact me here:
    Sadir Waridjo
    Phone 347 420 6231.
    email: SadirW25@gmail.com OR:
    swaridjo25@hotmail.com

    ReplyDelete
  2. Terima kasih, anda sudah mengunjungi blog saya.
    Thanks for visiting my blog. Good luck.

    ReplyDelete
  3. wah, cak terima kasih atas liputannya Gombloh-nya (i'm one of his fans ^_^).
    Tulisan2 sampeyan khas suroboyoa-an (simple dan to the point).
    oke, ditunggu postingan2 selanjutnya.
    Salam kenal. :)

    ReplyDelete
  4. gleam... suwun cak, wis mampir nang blogku.

    salam

    ReplyDelete
  5. hiiii... bernie. it's a very nice story about gombloh. thank you.

    bambang wijanarko.
    bekas unej juga hehe..

    ReplyDelete
  6. karya gombloh memang keluar dari pakem industri. ini yg membuat spirit dari lagu2 gombloh tetap terasa sampai sekarang.
    suwun cak, info ini sangat lengkap n berguna. salam

    ReplyDelete
  7. ya... almarhum gombloh memang pahlawan kita. lagu2nya heroik, jujur, polos, apa adanya.

    frans,
    jakarta

    ReplyDelete
  8. Naskah saya ini dijadikan referensi untuk wikipedia indonesia. Sayang, pengelola wikipedia tidak mencantumkan blog ini di pranala luar, tapi justru blog lain yang mengutip blog ini tanpa menyebutkan sumbernya.

    Saya kecewa, tentu saja. Mudah-mudahan kita sama-sama belajar menghargai hak cipta dan kreasi orang lain. Setahu saya wikipedia itu menjadi rujukan orang di mana-mana lho.

    Salam!

    ReplyDelete
  9. As I like Indonesian music from the 60's and 70's I was reading your blogs about Theodore KS and the singer Ervinna with great interest.

    (I can read and understand Indonesian.)

    If you have time see my blog: Mazef.multiply.com

    ReplyDelete
  10. pak gombloh emang pahlawan seniman, pahlawan kita semua. merdeka!!!!!

    wawan, blitar

    ReplyDelete
  11. hidup cak gombloh!!! merdeka!!!

    ReplyDelete
  12. sekilas ulasan anda tentang riwayat gombloh menarik untuk diikuti. sip buat kamu. oya apabila punya informasi mengenai gombloh yang lebih detail lagi tolong kirimi aku ya di email karno2008_86@yahoo.com

    ReplyDelete
  13. wah bagus banget critanya.... thanks buat yang bikin blog "om Lambertus"..... ^^

    ReplyDelete
  14. Gombloh adalah salah satu pahlawan musik kita.

    ReplyDelete
  15. wah sweety banget ada yang sempet nulis tentang alm gombloh. saya akui dia harusnya adalah heronya minimal arek suroboyo dan maksimalnya arek indonesia. dengan segala kekurangannya.
    makasih ya atas penulisan ini paling tidak sesama penggemar gombloh kita saling melestarikan dia dengan cara kita masing-masing.
    salam dari bandung

    ReplyDelete
  16. Indonesia, merah darahku, putih tulangku

    ReplyDelete
  17. saya penggemar karya2 beliau dari sekolah dasar hingga sekarang beranak empat.dengan lagu kebyar-kebyar,skala,gugur-gugur bunga,berita cuaca dan masih banyak lagi lagu2 yang menceritakan betapa bangganya gombloh sebagai warga negara indonesia.
    bangganya menjadi warga indonesia di kala mendengarkan lagu2 cakgomloh.yang dapat menumbuhkan rasa rosoheroisme yang telah mati pada negeri ini.genius untuk gombloh dengan The Lemon Tree's Anno '69.

    ReplyDelete
  18. bangganya menjadi warga indonesia di kala mendengarkan lagu2 cakgomloh.yang dapat menumbuhkan rasa rosoheroisme yang telah mati pada negeri ini.genius untuk gombloh dengan The Lemon Tree's Anno '69.

    ReplyDelete
  19. bagi saya,di indonesia tidak ada seniman sejati
    yang sehebat cak gombloh.saya penggemar karya2 beliau dari sekolah dasar hingga sekarang beranak empat.dengan lagu kebyar-kebyar,skala,gugur-gugur bunga,berita cuaca dan masih banyak lagi lagu2 yang menceritakan betapa bangganya gombloh sebagai warga negara indonesia.
    bangganya menjadi warga indonesia di kala mendengarkan lagu2 cakgomloh.yang dapat menumbuhkan rasa rosoheroisme yang telah mati pada negeri ini.genius untuk gombloh dengan The Lemon Tree's Anno '69.

    ReplyDelete
  20. DIKALA AKU TERINGAT LAGU2MU,TERINGAT PULA MASA2 TAHUN 79 DIMANA WAKTU ITU HANYA SEGELINTIR SENIMAN YG BERANI MENDOBRAK ATAU MENGERITIK SOSIL BUDAYA HANYA GOMBLOH,MOGI DARUSMAN,IWAN FALS. HIDUP...GUS GOMLOH RAWE2 RANTAS MALANG PUTUNG . AKU RINDU ORANG SEPERTIMU MASIH ADAKAH DI INDONESIA INI????.dari ranupane putrasemeru. bagus a.f

    ReplyDelete
  21. Gw anak muda zaman skrg, gw sring dngar lagu rock, metal, hip-hop tpi apa ujung ujungx mengidolakan GOMBLOH. tiap taun ane mampir blog ini trus bang. pa lgi tgl 14 juli ini genap 64thun gombloh..

    ReplyDelete
  22. trimksh tulisannya bermanfaat bget..sy adalh asli org jombang pengagum gombloh dari kecil,kbetulan mnurut tetangga..dulu gombloh sering maen disekitar rumahku dan banyak yg kenal dg beliau

    ReplyDelete
  23. alm.GOMBLOH itu sejati....sejati pda pngabdianya sbg seniman,dan sejati pada karya2 nya yg sngat berkesan.
    GOMBLOH adalah GOMBLOH......dan yg sangat disayangkan,mngapa ia sngat cepat menghadap sang khaliq,yaaah meungkin itu semua sudah rencanaNYA....
    "selamat jalan mas gombloh"

    ReplyDelete
  24. seharusnya penyanyi indonesia sekarang itu, tahu diri.. gmana caranya membanggakan bangsanya, membuat semangat para pemuda, eh malah merusak pake dangdut erotis, lagu nyeleneh.. oalah indonesia semakin memburuk. liat ni gombloh cuy.

    Salam Para pelajar SIDOARJO

    ReplyDelete