22 April 2006

Christine Rod



Musibah tabrakan antara Kereta Api (KA) Kertajaya dan KA Sembrani di Stasiun Gubug, Grobogan, Sabtu (15/4/2006) dini hari, menyebabkan 14 penumpang tewas dan sedikitnya 30 luka-luka. Christine Rod (51), warga negara Swiss, merupakan satu-satunya orang asing yang ikut menjadi korban tragedi itu.


“ALHAMDULILLAH, saya masih hidup. Terima kasih, Tuhan, juga terima kasih untuk kamu!” Begitu ucapan spontan Christine Rod saat menyambut kunjungan saya bersama beberapa pelukis Sidoarjo, Minggu (16/4/2006), di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Wanita yang sudah lama menjalin ‘silaturahmi budaya’ dengan komunitas seniman Sidoarjo ini tersenyum, menyalami kami dengan ramah. Langkahnya sempoyongan.

“Ini masih sakit,” ujar Christine menunjuk lutut kirinya yang memar. “Ini juga sakit,” tambah Christine, kali ini menunjuk telinga kirinya. Dia baru belajar bahasa Indonesia, sehingga kalimat-kalimatnya masih kaku dan kerap bercampur ‘bahasa tazan’.

“Sekarang kondisinya sudah lumayan. Sabtu kemarin bengkaknya seperti ini,” tambah Nasrullah seraya memperlihatkan genggaman tangan orang dewasa. Christine sejak Sabtu (15/4) malam dirawat di rumah Nasrullah, pelukis asli Tanggulangin, yang lebih dikenal dengan N. Roel.

Sosok Christine Rod--sehari-hari bekerja sebagai guru matematika sekaligus pekerja budaya di Swiss--tak asing lagi di kalangan seniman Sidoarjo, Surabaya, Trawas (Mojokerto), hingga Solo.

Pada peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2005, Christine ikut pameran lukisan bersama perempuan-perempuan pelukis se-Jawa dan Bali di Balai Pemuda Surabaya. “Saya bisa melukis, tapi kurang pandai,” katanya, merendah.

Kamis (13/4), Christine kembali ke Indonesia untuk mengurus berbagai dokumen administrasi terkait dengan rencana pernikahannya dengan Nasrullah. Kedua seniman ini berkenalan di Jolotundo, Trawas, sekitar dua tahun lalu, kemudian sibuk berbagi rasa lewat SMS. “Saya bisa bahasa Indonesia karena sering SMS dengan Roel,” ujar Christine seraya tertawa kecil.

Nah, Nasrullah pun menemani calon istrinya di Jakarta mengingat keduanya sama-sama ingin segera menikah secara resmi. “Kebelet kawin,” begitu celetukan teman-teman dekat Nasrullah. Setelah urusan di Kedubes Swiss beres, mereka pun kembali ke Sidoarjo. “Kita naik kereta api biar lebih santai,” tutur Nasrullah.

Wanita Swiss yang senang jalan-jalan ke kawasan pegunungan itu pun sepakat. Mereka kemudian membeli tiket KA Sembrani seharga Rp 440 ribu untuk dua orang. “Kami dapat seat 7C dan 7D,” cerita Nasrullah, yang juga ikut jadi korban kendati hanya tergores sedikit.

Menurut Nasrullah, gerbong nomor satu (paling dekat lokomotif) itu terisi kurang dari separuhnya. Karena banyak seat kosong, tengah malam, Nasrullah pindah ke seat nomor 3 agar bisa tidur dengan leluasa. Istirahat sejenak, Roel pindah lagi ke seat nomor 11. Lalu, terjadilah peristiwa tragis itu. “Kami di dalam nggak tahu apa-apa. Tahunya sudah di tengah sawah. Gelap,” cerita Roel.

Sadar kalau telah terjadi kecelakaan, Roel segera mencari Christine Rod di tengah hiruk-pikuk penonton yang berteriak minta tolong. “Saya pakai sinar di HP karena gelap. Semua penumpang panik.”

Sekitar setengah jam kemudian, Christine ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri. Wanita asal Swiss ini praktis tidak bergerak. Roel lantas ‘mengamankan’ Christine di dekat rel dengan harap-harap cemas. “Saya bisikan pelan-pelan, tanya keadaannya. Alhamdulillah, akhirnya sadar,” kata Roel.

“Saya sendiri tidak ingat apa-apa sampai sekarang. Saya hanya ingat di rumah sakit,” ujar Christine.

Saat dirawat di PKU Muhammadiyah, perawat khawatir Christine mengalami gegar otak atau patah tulang, sementara peralatan medis di sana tidak menunjang. Karena itu, Christine segera dirujuk ke RS Tlogorejo, Semarang. “Saya baru lega karena ternyata tidak ada patah tulang. Hanya (daun) telinga kirinya yang robek sehingga dirawat secara khusus,” papar Nasrullah.

Baik Christine maupun Nasrullah mengaku tak punya firasat atau mimpi aneh sebelum musibah terjadi. “Saya pikir, kejadian ini sudah jadi takdir Yang Maha Kuasa. Yang penting, saya masih hidup,” ujar Christine yang menekuni agama Islam sejak beberapa bulan terakhir.

[Di waktu senggangnya, Christine banyak membaca buku-buku tentang Islam dalam bahasa Prancis.]

Berbeda dengan Christine yang pasrah, tenang, Nasrullah mengaku dihantui perasaan bersalah. Kenapa?

“Saya yang ajak dia pakai kereta api. Padahal, selama ini selalu pakai pesawat,” ujarnya. Pelukis yang gemar mengabadikan pemandangan alam di Sidoarjo ini pun berkali-kali minta maaf kepada pacarnya. “Saya jawab, bukan salah Roel, tapi sudah takdir,” tukas Christine.

Sebelum datang ke Indonesia, Christine Rod seperti biasa mengemudikan mobil pribadinya di jalan raya kota Jenewa, Swiss. Di jalan yang halus-mulus itu Christine mendapat firasat bakal ada kecelakaan.


KEJADIANNYA sekitar dua pekan lalu. Dalam perjalanan menuju sekolah, tempat kerjanya, tiba-tiba Christine mendapat bisikan halus, “Awas, kecelakaan! Awas, kecelakaan.”

Wanita kelahiran Jenewa, 24 November 1953 ini, ini pun heran dengan apa yang ia sebut ‘intuisi’ di jalan raya tersebut. “Saya ambil hikmahnya, bahwa saya harus hati-hati di perjalanan,” batinnya. Ternyata, firasat ini terealisasi di gerbong Kereta Api (KA) Sembari jurusan Jakarta-Surabaya, Sabtu (15/4) dini hari lalu.

Christine Rod tercatat sebagai satu-satunya warga negara asing yang ikut menjadi korban dalam peristiwa tabrakan dua kereta api. Sebanyak 14 penumpang meninggal dunia.

“Hari Minggu ketika Anda tanya apakah saya punya firasat atau mimpi, saya bilang tidak ada. Tapi sekarang saya baru ingat kalau isyarat itu sudah saya terima waktu mengendarai mobil pribadi di Jenewa,” ujar Christine Rod yang didampingi Nasrullah, calon suaminya.

Apakah peristiwa ini sudah disampaikan kepada pihak keluarga di Swiss? Christine tersenyum. Mula-mula guru matematika serta pembimbing siswa bermasalah di sebuah sekolah di Jenewa ini mengaku ingin merahasiakannya. Khawatir membuat shock ibundanya, Rose-Marie Rod, yang berusia 71 tahun. Namun, semakin Christine ingin ‘menyembunyikan’ tragedi ini, semakin kuat desakan dalam hatinya untuk segera menelepon keluarga di Swiss.

“Kamu harus segera telepon, harus telepon. Tidak bisa diam,” ujar wanita yang belakangan selalu menggunakan kerudung (busana muslim) dalam acara-acara resmi itu. (Christine sangat tekun mempelajari agama Islam menjelang pernikahannya dengan Nasrullah, pelukis asli Sidoarjo.)

Akhirnya, setelah siuman di RS Tlogorejo, Semarang, Christine pun menelepon keluarga dekat di Swiss, tapi bukan sang ibu. “Saya kaget karena mereka di Swiss sudah tahu ada kecelakaan kereta api di Indonesia, termasuk saya yang jadi korban,” ujar pekerja seni-budaya ini seraya tersenyum lebar.

Bukan itu saja. Kerabat dekat lain yang tinggal di Brasil pun mendapat informasi ini dari televisi. “Saya bilang saya masih shock, luka-luka, tapi masih hidup. Saya hanya perlu istirahat beberapa hari,” ujar Christine.

Kabar buruk dari Indonesia ini akhirnya bocor juga ke telinga sang ibunda, Rose-Marie Rod. Dengan bijak Rose-Marie mengatakan bahwa apa yang sekarang menimpa Christine sudah merupakan takdir dari Tuhan yang Mahakuasa. Kasusnya sama dengan Christine yang jatuh cinta pada Nasrullah, berbagai rasa, kemudian berencana meresmikan pernikahan mereka di Swiss tahun 2006 ini.

“Saya diminta tenang, pasrah,” kata Christine yang mulai mengenal Indonesia pada 1983 itu.

Swiss merupakan negara kecil di daratan Eropa yang sangat makmur (welfare state), juga sangat peduli pada hak asasi manusia. Jangankan warga negara sendiri, warga negara lain yang minta perlindungan akan dilindungi secara penuh.

Di Jenewa, Christine Rod ini juga banyak berperan mendampingi orang-orang asing yang terpaksa mengais rezeki di Swiss karena berbagai alasan. Tak heran, Kedutaan Besar Swiss di Jakarta kalang-kabut tatkala mendengar informasi bahwa ada warga negara Swiss yang jadi korban kecelakan di Grobogan, Jawa Tengah.

“Kedubes Swiss berkali-kali menelepon, cari informasi tentang saya di hospital. Mereka baru lega setelah tahu saya hanya luka-luka dan bisa selamat,” tutur Christine. Kemarin, giliran Christine yang menelepon Kedubes Swiss dari Sidoarjo untuk menceritakan keadaannya, termasuk rencana perjalanan selanjutnya.

Kini, kondisi Christine sudah jauh lebih baik ketimbang Ahad (16/4) lalu. Selain mengonsumsi obat-obatan dari RS Tlogorejo, Christine dirawat secara khusus oleh Fransisca Endang Waliati, pelukis asal Porong, yang dikenal sebagai tukang urut jempolan. “Christine hanya perlu istirahat untuk memulihkan kondisinya,” ujar Endang.

Christine pun tersenyum lega. Menurut rencana, ia kembali ke Swiss pada 22 April mendatang dari Bandara Juanda menuju Singapura langsung ke Zurich. Dari Zurich ia menempuh beberapa menit perjalanan darat ke Jenewa. “Total sekitar 20 jam perjalanan,” paparnya.

Ia mengaku puas dengan pelayanan pihak rumah sakit serta perhatian para sahabatnya di Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, dan sekitarnya.

Kapok naik kereta api di Indonesia?

“Oh, tidak. Selama kita masih hidup, maka risiko itu selalu ada. Tidak hanya kereta api, naik pesawat, bus, kapal laut... selalu ada risiko,” kata Christine yang vegetarian itu.

No comments:

Post a Comment