29 December 2006

Gereja Katolik Antik di Puhsarang Kediri


Gereja Puhsarang di Kediri merupakan model inkulturasi ajaran Katolik dan budaya Jawa. Kini, Puhsarang menjadi salah satu objek ziarah kristiani terbesar di Jawa Timur.

Malam Kudus, yang menjadi 'lagu wajib' misa malam Natal, di Gereja Katolik Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, dibawakan dalam bahasa Jawa.

"Santi Ratri.
Ing Ratri, dalu adi.
Prapangen miyarsi...."


Jemaat sederhana di desa ini memang sejak dulu menggunakan Kidung Adi, buku doa dan nyanyian Katolik versi bahasa Jawa. "Berdoa dan menyanyi pakai bahasa Jawa rasanya lebih mantap. Pakai bahasa Indonesia juga bisa, cuma rasanya lain dibandingkan dengan bahasa Jawa," tutur Maria Magdalena Asri Evayanti, guru sekolah dasar setempat, kepada saya.

Lagu-lagu liturgi ini diiringi gamelan jawa, bukan organ atau piano seperti di gereja-gereja di kota. Selama hampir 20 tahun menetap di Puhsarang, Maria merasakan bahwa jemaat lebih afdal mengikuti liturgi bercorak inkulturasi Jawa. Namun, belakangan ini Gereja Puhsarang 'diserbu' ribuan jemaat dari luar, sehingga mau tak mau misa atau ibadat tidak lagi 100 persen berbahasa Jawa.

"Kalau pakai bahasa Jawa thok, kasihan orang-orang kota yang kurang paham bahasa Jawa. Liturgi itu kan harus bisa dirasakan oleh semua umat," ujar Maria Magdalena.

Begitulah. Didirikan oleh Romo H Wolters CM, waktu itu pastor paroki di Kediri, pada 1936 Gereja Puhsarang sejak awal dirancang sebagai gereja bernuansa budaya Jawa alias gereja inkulturasi. Kebetulan saat itu ada Henricus Maclaine Pont, arsitek Belanda, yang sangat kagum dengan situs-situs peninggalan Kerajaan Mojopahit di Trowulan, Mojokerto.

Karena itu, ketika diminta Romo Wolters untuk membuat sebuah gereja di Puhsarang, Maclaine Pont sangat antusias. Dia menggambar arsitektur gereja ala situs-situs peninggalan Majapahit. Maksudnya agar gereja baru itu 'ramah lingkungan', sejalan dengan budaya Jawa yang dipegang teguh oleh masyarakat di sekitarnya.

"Warga di desa itu kan sederhana, miskin. Pendidikan mereka rata-rata rendah. Jadi, bentuk gereja ala Jawa membuat warga kerasan," tutur Romo GAS Andri Cahyono Pr, pastor yang pernah bertugas di Gereja Puhsarang, kepada saya.

Menurut dia, sejak dulu gereja yang dikeliling hutan bambu ini sudah menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, tak hanya umat Katolik. Mereka rata-rata mengagumi arsitektur bangunan yang dipenuhi bebatuan kecil, mirip sepasang rusa sedang menikmati air air. "Memang dibandingkan dengan gereja-gereja di kota, Gereja Puhsarang punya magnet tersendiri," kata pastor yang juga mantan wartawan sebuah majalah rohani itu.

Saking populernya, Gereja Puhsarang kebanjiran para wisatawan rohani. Ini membuat Uskup Surabaya Mgr Johanes Hadiwikarta Pr (almarhum) menggagas pendirian tempat ziarah untuk umat Katolik di situ. Uskup yang dikenal kuat devosinya pada Bunda Maria itu kemudian memutuskan untuk mendirikan Gua Maria, tak jauh dari gereja.

"Jadi, umat yang melihat bangunan gereja bisa sekalian berziarah, berdoa, jalan salib, melakukan refleksi di sekitar situ," ujar Mgr Hadiwikarta saat tempat ziarah dalam proses pembanguan.

Proses pembangunan berjalan mulus. Dan, pada awal tahun 2000 Mgr Hadiwikarta memimpin misa pemberkatan sekaligus peresmian tempat ziarah baru di samping Gereja Puhsarang. Dia menamakan tempat ziarah itu Gua Maria Lourdes.

"Biar umat Katolik tidak perlu jauh-jauh ke Lourdes, Prancis. Toh di Puhsarang ada Gua Maria," kata Mgr Hadiwikarta.

Sejak itulah, Puhsarang banjir pengunjung dari berbagai penjuru tanah air, bahkan luar negeri. Apalagi, setiap malam Jumat Legi digelar tirakatan di kompleks Gua Maria. Tirakatan ini upaya inkulturasi ajaran Katolik dengan budaya Jawa. "Sampai sekarang acara tirakatan selalu diminati umat dari seluruh Jawa Timur, bahkan Jakarta dan luar Jawa," ujar Romo GAS Andri Cahyono.

Popularitas Gereja Puhsarang dengan Gua Maria Lourdes-nya memang luar biasa. Pemerintah Kabupaten Kediri bahkan menetapkan kawasan ini sebagai objek wisata ziarah andalan daerah. Tentu saja, hal ini membuat warga Desa Puhsarang (tak hanya Katolik) kecipratan rezeki dari para peziarah. Kini, warga berlomba-lomba menyewakan kamar, menjual suvenir, berdagang makanan, hingga mengurus parkir.

Namun, di sisi lain, seperti saya saksikan sendiri, terjadi perubahan besar dalam pola pikir masyarakat Puhsarang. Kepolosan, kesederhaan, semangat tanpa pamrih... mulai merosot. Jangan heran, ketika hendak memasuki kompleks Gua Maria, Puhsarang, kita langsung disambut puluhan pedagang asongan yang getol menjajakan rosario, kaus, kaset, patung, serta puluhan aksesoris lain. Namanya juga tempat wisata.

125 Tahun Gereja Kristen Jawi Wetan

Bagi jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), perayaan Natal tahun ini punya makna khusus. Sebab, mereka baru saja merayakan 75 tahun Majelis Agung GKJW sekaligus 125 tahun berdirinya gereja perdana di Mojowarno, Kabupaten Jombang.

BERBEDA dengan gereja-gereja di kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, suasana kebaktian di GKJW Mojowarno, sangat sederhana. Tak ada praise and worship yang hiruk-pikuk layaknya kebaktian versi 'gereja-gereja baru' di kota-kota besar. Kidung pujian dilantunkan dalam bahasa Jawa halus.

Tak hanya itu. Jemaat GKJW Mojowarno selalu datang ke gereja dengan busana sederhana. Pakaian adat Jawa lazim dipakai saat kebaktian-kebaktian raya seperti Natal, Paskah, atau pesta persembahan (unduh-unduh). Para perempuan berusia lanjut pakai kebaya, sedangkan laki-laki pakai songkok. Tak sedikit pria yang pakai sarung layaknya warga muslim pedesaan yang salat berjemaah.

Khotbah pendeta dalam bahasa Jawa kromo. Nada suaranya tenang, tidak menggebu-gebu, apalagi berteriak-teriak sampai suaranya serak. "GKJW itu memang gereja ndeso, gereja agraris. Hampir semua jemaatnya memang berlatar belakang pedesaan, anak petani," jelas Pendeta Gunawan Yuli MTh, pengurus majelis agung GKJW, kepada saya, Sabtu (23/12/2006).

Bangunan GKJW Mojowarno, Jombang, diresmikan pada 3 Maret 1881 atau jauh sebelum Indonesia merdeka. Proses penggarapan dimulai pada 1879, atau dua tahun sebelumnya. Karena itulah, GKJW Mojowarno sampai sekarang dianggap sebagai gereja Kristen Protestan pertama di Jawa Timur.

"Tapi pada tahun 1843 jemaatnya sudah ada," papar Gunawan Yuli, yang kemarin mengikuti acara pertemuan lintas agama di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang.

Berbeda dengan gereja-gereja lain di Indonesia yang didirikan oleh misionaris Barat, GKJW Mojowarno justru dirintis oleh pribumi asli. Namanya Kasan Jariyo, berasal dari Madura. Ayah Kasan, sebagaimana warga Madura umumnya, merupakan pemeluk Islam yang taat. Sebagai penggembala ternak, Kasan senang ternyata gemar main judi. Sempat menikah di usia muda, pernikahan Kasan hanya bertahan dua bulan.

Dia kemudian merantau dan menjadi pedagang kapas yang sukses. Lalu, menikah lagi dengan perempuan pilihannya sendiri. Namun, karena kegemaran berjudinya kambuh lagi, si Kasan jatuh miskin. Singkat cerita, Kasan akhirnya bertemu dengan Meneer Coolen, evangelis asal Rusia dan beribu Jawa, yang sedang membuka hutan di Ngoro, Jombang. Kasan kemudian memeluk agama Kristen dan berubah nama menjadi Paulus Tosari.

"Jadi, Paulus Tosari yang selalu disebut-sebut di lingkungan GKJW itu, ya, Pak Kasan itu. Dia benar-benar orang awam, bukan pendeta, tetapi justru menjadi pendiri jemaat perdana GKJW. Kami, sebagai orang GJKW, tidak akan pernah melupakan jasa beliau," tutur Gunawan Yuli.

Di balik kesederhanaannya, Paulus Tosari meninggalkan sebuah warisan berharga yang bisa dinikmati sampai kini, yakni kitab Serat Rasa Sejati. Sedikitnya 23 syair dalam bahasa Jawa disusun dalam asmaradana, kinanthi, pucung, pangkur, maskumambang, mijil, gambuh, dandanggula, megatruh, hingga sinom. Tembang-tembang Jawa yang sangat indah.

Menurut Pendeta Gunawan Yuli, Serat Rasa Sejati ini merupakan upaya Paulus Tosari, alias Kasan Jariyo, untuk menghayati iman kristianinya sebagai orang Jawa. Sebab, saat itu (Kasan lahir pada 1813) Kristen identik dengan agamanya orang Belanda, agamane londo. Praktis, gereja-gereja megah yang dibangun di pusat kota hanya untuk orang Belanda yang nota bene penjajah bangsa Indonesia.

Karena itu, di mata Gunawan Yuli, apa yang dilakukan Kasan Jariyo sejak menjadi pemimpin jemaat pada 1848 di Mojowarno, Jombang, sebagai tindakan yang luar biasa. Kasan melakukan inkulturasi budaya dan iman kristiani.

"Jadi, budaya sebagai penghayatan iman. Itulah hikmah yang kami petik saat memperingati 75 tahun majelis agung GKJW dan 125 keberadaan bangunan gereja GKJW di Mojowarno," papar Gunawan.

Kini, setelah satu abad berlalu, GKJW yang tadinya hanya punya satu gereja di Mojowarno, telah berkembang menjadi 150 gereja di seluruh Jawa Timur. Namun, di sisi lain, GKJW menjadi gereja mapan dan tua. Perubahan zaman, globalisasi, gaya hidup, membuat gereja protestan perdana di Jawa Timur itu mulai 'ditinggalkan' anak-anak muda. Kalau dulu jemaat GKJW pernah mencapai 250 ribu, surut menjadi 134 ribuan.

"Orang tua saya GKJW, tapi saya sendiri sempat di GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, red), kemudian sekarang di gereja lain. Suasana di GKJW terlalu kalem, tenang. Sementara saya ini kan dinamis," ujar Suprapto, warga Surabaya.

Gunawan Yuli, pendeta senior GKJW, mengakui tantangan globalisasi yang memang tak bisa dielakkan siapa pun. Karena itu, GKJW melakukan sejumlah perubahan dan penyesuaian untuk menjawab tanda-tanda zaman yang berbeda. Contoh kecil soal liturgi. GKJW tak lagi 100 persen menggunakan bahasa Jawa. "Tugas berat lain adalah mengatasi kemiskinan. Sebab, mayoritas jemaat kami berada di desa," tutur Gunawan.

Dimuat di Radar Surabaya edisi 24 Desember 2006

23 December 2006

Ireng Maulana, Didiek SSS, R Tonny Suwandi


Oleh Lambertus L. Hurek

TIGA pemusik jazz, yang kebetulan beragama Katolik, Fransiskus IRENG MAULANA (gitar), Robertus TONY SUWANDI (saksofon), dan Aloysius DIDIEK SSS (flute) akhir-akhir ini kerap tampil di gereja. Main musik mengiringi kor gereja setempat. Biasanya, kor anak muda alias mudika. Biasanya pula, untuk penggalangan dana.

Siapa tak kenal IRENG MAULANA? Dia bukan saja gitaris jazz top indonesia, tapi juga penggagas dan penyelenggara Jakarta Jazz Festival atawa JAK JAZZ. DIDIEK SSS? Dia adik almarhum EMBONG RAHARDJO, saksofonis top. DIDIEK SSS piawai bermain semua instrumen musik tiup. Juga mengaba dan membuat orkestrasi untuk Orkes Studio Jakarta. R TONNY SUWANDI? Beliau ini pun saksofonis kawakan, dulu pembuat orkestrasi di TVRI Jakarta.

Berbeda dengan di panggung festival, rekaman, atau siaran televisi, trio musisi ini banyak ‘mengalah’ saat main di gereja. Permainan solo sangat sedikit. Improvisasi sekadar saja. Mereka memilih menjadi pemanis kor. Paduan suara dan umat menyanyi, IRENG-DIDIEK-TONNY mengiringi dengan sentuhan musik yang profesional. Tapi, namanya juga orang jazz, sesekali trio ini memperlihatkan kepiawaiannya.

“Saya sudah tiga tahun ini ikut pelayanan untuk mencari dana di gereja,” ujar IRENG MAULANA. Sebetulnya IRENG termasuk pendatang baru. Dia menggantikan posisi EMBONG RAHARDJO yang meninggal dunia. Sebelumnya, trio musisi itu, ya, EMBONG-DIDIEK-TONNY. Koordinatornya EMBONG. “Sekarang saya yang jadi koordinator,” jelas DIDIEK SSS yang tampil memukau di JAK JAZZ 2006.

“Main di gereja ini lain sekali dengan di festival jazz atau di pertunjukan biasa. Suasananya berbeda,” kata IRENG MAULANA. Maksudnya, tentu, pemusik tak bisa improvisasi seenaknya, gaya-gayaan, dan sebagainya. Suasana ibadah harus tetap dijaga agar jemaat dikondisikan untuk memuji, mengelu-elukan Tuhan. Bukan memuji si musisi!

DIDIEK SSS menambahkan, talenta musik yang mereka terima berasal dari Tuhan, sehingga perlu dikembalikan kepada-Nya. “Semua untuk kemuliaan Dia,” ujar DIDIEK SSS, yang kian rajin memproduksi album instrumentalia rohani.

Di halaman gereja, DIDIEK juga berjualan kaset/CD, sebagian hasilnya disumbangkan untuk gereja. Saya lihat di Surabaya CD-CD milik DIDIEK SSS laku keras. “Puji Tuhan,” begitu seruan DIDIEK SSS yang juga piawai menyampaikan kesaksian hidupnya kepada jemaat.

Bagi saya, sikap trio musisi ini layak diteladani. Mereka orang hebat, populer, terkenal, luar biasa di belantika musik. Tapi mereka mau ‘turun ke tengah jemaat’ karena sadar bahwa mereka hanyalah debu di mata Tuhan. Musisi, artis top, pun manusia biasa. Ketika kita meninggal, maka segala reputasi, popularitas, kekayaan, pangkat, jabatan, pun lenyap sama sekali.

22 December 2006

C Hasaniyah Waluyo: Penerjemah Alkitab Bahasa Madura



Sejak kecil, di pelosok Flores Timur, saya menikmati cerita bersambung karya C HASANIYAH WALUYO di HIDUP. Ini majalah mingguan Katolik yang diterbitkan oleh Keuskupan Agung Jakarta, beralamat di Jalan Kebon Jeruk Raya 85 Jakarta. Gaya bertuturnya khas. Ada nasihat, kata-kata bijak, serta pandangan hidup Katolik. Tapi isinya universal, bisa dinikmati semua manusia di bumi ini, apa pun agama dan keyakinannya.

Setelah merantau di Tanah Jawa, saya menemukan beberapa buku cerita (novel) karya C HASANIYAH WALUYO di toko buku. Saya sempat meminjam beberapa novel di Perpustakaan Pukat, Jalan Bengawan 3 Surabaya. “Novel-novel karya Bu Waluyo memang banyak yang suka,” ujar Andre, pengelola perpustakaan.

Saya pun mengecek siapa gerangan C HASANIYAH WALUYO itu. Aha, ternyata dia berasal dari Pulau Madura. Tepatnya di Pamekasan. Karena penasaran, suatu ketika, saya berusaha bertemu C HASANIYAH WALUYO di Pamekasan. (C di depan ini Caecilia, nama permandian.)

Ternyata tidak sulit. Cukup bertanya kepada umat paroki, gerejanya di dekat alun-alun, alamat C HASANIYAH WALUYO mudah ditelusuri. “Nggak jauh kok rumah BU Waluyo,” ujar seorang jemaat.

BU WALUYO alias C HASANIYAH WALUYO pun menyambut kedatangan saya. Ramah sekali. Basa-basi sebentar, minum kopi panas. Ditemani PAK WALUYO, suaminya, pengarang senior ini cerita banyak tentang novel-novelnya. Di usia sepuh (60-an tahun), beliau masih menulis, menulis, dan menulis. Dia suka menulis novel, cerita pendek, singkatnya fiksi.

"Saya memang tidak bisa berhenti menulis. Menulis sudah jadi panggilan jiwa saya,” tutur sang pengarang. Logat Maduranya kental. Artikulasinya jelas.

"Saya punya beberapa novel yang belum diterbitkan,” papar Bu Waluyo. Dia juga bertanya kenapa majalah HIDUP tidak seperti pada 1970-an hingga pengujung 1980-an. Waktu itu karya-karya C HASANIYAH WALUYO sangat sering dimuat. Sekarang sulit, katanya.

“Apa ada kebijakan baru atau apa ya? Padahal, cerita-cerita itu kan ada muatan moralnya. Penting untuk generasi muda.”

Saya bukan orang HIDUP, meski waktu mahasiswa saya banyak menulis di HIDUP, sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Waluyo. "Saya kira itu pertimbangan redaksi HIDUP. Tapi, yang jelas, tulisan Ibu sangat bagus,” kata saya, tulus. Kalau tak bagus, buat apa saya capek-capek mencari C HASANIYAH WALUYO di Pamekasan, bukan?

Selain menulis, Bu Waluyo memberi les bahasa Inggris kepada anak-anak muda di Pamekesan. Mengajar. Sebab, pasutri Waluyo-Hasaniyah ini memang sejak dulu berbakti sebagai guru. Jiwa pendidik sangat terasa dari dua sosok sederhana ini. Pak Waluyo asli Jawa, luwes, pandai bergaul.

Hasaniyah asli Madura, fasih beberapa bahasa asing. Saya menilai kedua insan ini sebagai pasangan suami-istri yang bahagia meski hidup di rumah sederhana, masuk gang sempit.

SETELAH berbincang agak panjang, saya terperanjat ketika Bu Waluyo menyebutkan bahwa dialah penerjemah ALKITAB berbahasa Madura. Wah, luar biasa ibu ini! Ternyata, orang hebat itu terserak di mana-mana, hingga ke pelosok Madura. Puji Tuhan, saya beroleh kesempatan bertemu dengan C HASANIYAH WALUYO.

Ceritanya, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sejak 1980-an bikin program penerjemahan Alkitab alias Bibel (Bible, Bijbel) ke dalam bahasa-bahasa nusantara. Tujuannya, ya, agar umat kristiani lebih mudah menangkap cerita-cerita dan ajaran luhur dari kitab sucinya. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, masih banyak warga Indonesia yang belum paham bahasa Indonesia. Contohnya, ya, orang di pelosok Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Maluku, Papua, Nias, Dayak.

"Saya kemudian diminta bantuan oleh LAI untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Madura,” tutur Bu Waluyo lalu tersenyum simpul. Kalau menerjemahkan novel biasa (dari bahasa Inggris) sih sudah biasa bagi Bu Waluyo. Beberapa karya terjemahannya bahkan sudah diterbitkan PT Gramedia, Jakarta.

Tapi menerjemahkan Alkitab? Aha, ini bukan pekerjaan main-main. Alkitab itu firman Allah, sehingga kata-katanya harus pas. Terjemahan dengan tingkat akurasi sangat-sangat tinggi.

Awalnya, Bu Waluyo merasa berat, namun dia akhirnya menerima ‘tantangan’ LAI di Jakarta. “Sebelumnya saya berdoa, minta bantuan Roh Kudus, agar dimampukan untuk melakukan pekerjaan besar ini,” kata Bu Waluyo.

Jangan lupa, Bu Waluyo harus menerjemahkan seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dari KEJADIAN hingga WAHYU. Total 66 kitab. Tujuh kitab DEUTEROKANONIKA (versi Katolik) tidak diterjemahkan mengingat ini proyek LAI, lembaga milik Kristen Protestan. (Katolik punya lembaga sendiri, namanya LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA.)

Berbeda dengan menerjemahkan novel, C HASANIYAH WALUYO harus dites dulu. Pakar-pakar Alkitab dari LAI memintanya menerjemahkan beberapa pasal. Untuk itu, Bu Waluyo menggunakan beberapa rujukan Alkitab bahasa Indonesia, bahasa Inggris (beberapa versi), bahasa Belanda, dan beberapa bahasa lain. Juga merujuk bahasa asli Alkitab (Ibrani).

Cek sana, cek sini, recek... kata per kata, kalimat, ayat, perikop, hingga pasal. Akurasi adalah segalanya, sehingga pekerjaan besar ini tidak pakai tenggat waktu alias deadline.

Mirip anak sekolah, setiap selesai menerjemahkan, pakar-pakar LAI dan pakar bahasa Madura membelejeti karya Bu Waluyo secara cermat. Meleset sedikit diulang... dan seterusnya.

Singkat cerita, Alkitab dalam bahasa Madura itu pun tuntas. Betapa bangganya C HASANIYAH WALUYO mampu menyelesaikan ‘tantangan’ LAI itu. “Puji Tuhan. Saya percaya ini karena campur tangan Tuhan. Kalau kita percaya Tuhan, maka selalu ada jalan. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan,” ujar Bu Waluyo yang piawai main organ di gereja itu.

Saya puas dan bahagia bisa bertemu Pak Waluyo dan Bu Waluyo di Pamekasan. Terima kasih, Tuhan, saya diberi kesempatan bertemu dengan orang sederhana yang dianugerahi talenta luar biasa!

21 December 2006

Ucok AKA & His Gang


Poster Grup AKA, 1967. Tulisan tangan Ucok sangat khas.


OLD ROCKERS NEVER DIE!
Rocker tua tak pernah mati!

Begitulah, The ROLLING STONES (MICK JAGGER 63 tahun, KEITH RICHARD 62, ROON WOOD, CHARLIE WATTS) hingga akhir tahun 2006 ini masih aktif menggelar tur konser ke seluruh dunia. Penontonnya melimpah. Penghasilannya... luar biasa!

Menurut BILLBOARD BOXSCORE, tur dunia ROLLING STONES bertajuk A BIGGER BANG mencatat rekor pendapatan sepanjang tahun 2006. Nilainya USD 437 juta atau setara Rp 4,15 triliun. Angka yang sulit kita bayangkan di Indonesia.

DEEP PURPLE, sebaya ROLLING STONES, pun terus bikin album dan tur ke seluruh dunia. ERIC CLAPTON masih terpilih sebagai pegitar terbaik di ujung 2006.

Di Indonesia? “Kondisinya agak beda,” kata Yoyok, bekas rocker top Surabaya kepada saya. Audiens musik kita berbeda, sehingga sulit bagi pemusik untuk menekuni kariernya sampai tua. Masa edar pemusik kita, apalagi rocker, rata-rata tak sampai 10 tahun. “Masih jauhlah kita dengan di Barat sana,” tambah Yoyok.

Masih lumayan, di kita masih ada ben tua yang bertahan sampai hari ini macam GOD BLESS. Didirikan pada 1973 oleh ACHMAD ALBAR, grup ini masih bertahan hingga 2006. Hanya saja, sayangnya, GOD BLESS tidak bisa bikin album secara rutin, sehingga popularitasnya tidak terjaga. Bayangkan, sejak 1975 sampai 2006 GOD BLESS hanya punya lima album.

Nah, selain GOD BLESS, masih ada rocker tua yang konsisten bertahan di jalur musik cadas. Siapa lagi kalau bukan UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP yang lebih dikenal dengan UCOK AKA HARAHAP, 67 tahun. Grupnya, AKA (Apotik Kali Asin) sudah lama bubar, tapi Ucok tetap bermusik sampai sekarang. Bikin kursus musik di Lawang. Main musik di Surabaya dan sekitarnya.

Terakhir, Ucok bikin proyek musik sosial peduli bencana lumpur panas di Porong, Kabupaten Sidoarjo. Katanya, musik sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Saya pemusik. Sampai kapan pun saya akan tetap main musik,” tegas Ucok AKA Harahap.

SENIN, 18 DESEMBER 2006, saya menerima kiriman paket dari UCOK AKA HARAHAP, salah satu pemusik idola saya. Isinya: poster Grup AKA formasi 1967 (UCOK HARAHAP, SJECH ABIDIN, ARTHUR KAUNANG, SONATHA TANJUNG), CD lagu-lagu tentang lumpur Sidoarjo, foto Ucok AKA. Beliau memang ingin saya mendengar contoh rekamannya, terus dikomentari, dikritik, dinilai mana yang kurang.

Ucok juga menjelaskan grup barunya, UCOK AKA & HIS GANG. UCOK HARAHAP (eks AKA) vokalis, merangkap kibod. PHARDY ARTIN (eks THE GEMBELS) pegitar utama. TONI SUWARTO (eks THE WARROCK) drums. ROCHIM EFFENDY (eks THE MAGNIFICENT 7) bas. Manajernya EDI HAZTYANTO, pemilik STUDIO NADA MUSIKA, Jalan Jemursari 236 Surabaya.

“UCOK AKA & HIS GANG ini grup musik yang unik ditonton dan dinikmati beat-beat musiknya. Pemainnya empat orang, kadang-kadang atas permintaan ditambah dua penyanyi wanita,” jelas Ucok. Mereka main lagu-lagu era 1960-an hingga masa kini. Indonesia, Barat, selain hits grup-grup legendaris Tanah Air.

"Kami juga siap tampil di mana saja dan kapan saja. Pesta-pesta. Open air show. Rekaman iklan. Ben pengiring,” ujar Ucok mempromosikan grupnya.

Bagaimana kalau ada yang ingin menanggap UCOK AKA & HIS GANG? “Gampang,” kata Ucok. Hubungi saja EDY HAZTYANTO di Jalan Jemursari 236 Surabaya, telepon 031-8490772, 081-3300 27918.

RABU, 20 DESEMBER 2006.

UCOK AKA HARAHAP bicara di depan anggota DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura Surabaya. Dia bahas masalah pemusik jalanan atawa pengamen yang sering ‘digaruk’ oleh satuan polisi pamongpraja (satpol pp) di Surabaya, Malang, Jember, Sidoarjo, dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Menurut Ucok AKA, razia pengamen seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kenapa pemusik muda remaja itu diperlakukan macam penjahat? Solusinya apa? "Saya bicarakan itu di depan anggota DPRD Jawa Timur. Wakil rakyat harus cari solusi. Jangan terus membiarkan para pengamen kita diperlakuan tidak baik,” tegas Ucok.

Bagi Ucok, pemusik jalanan atau pengamen atau apa pun namanya adalah warga bangsa yang punya bakat musik. Dan bakat itu harus dirawat, dipupuk, dikembangkan. Bukan malah dibasmi oleh polisi pamong praja.

“Ingat, tidak semua orang bisa main musik. Lha, kalau pengamen yang cari uang sendiri, tidak korupsi... diperlakukan seperti itu, mau jadi apa bangsa ini?” tandasnya, blak-blakan.

Sebagai pemusik senior, rocker kawakan, guru musik, Ucok AKA diam-diam sudah melakukan kerja nyata di Lawang, Kabupaten Malang. Dia bikin studio musik, membagikan ilmu musiknya kepada anak-anak muda, sebagian di antaranya pengamen, agar skill musik generasi muda berkembang dengan baik.

“Omo Ucok memang tidak pernah kehilangan kreativitas,” komentar Sugeng Irianto, bekas wartawan musik koran JAWA POS, yang mengenal dekat Ucok AKA Harahap.

19 December 2006

Maria Eva Buka-bukaan di Radar Surabaya




Maria Eva, pedandut yang namanya melejit sejak video mesumnya dengan mantan petinggi Partai Golkar Yahya Zaini beredar, Senin (18/12) malam, berkunjung ke kantor RADAR Surabaya di Surabaya . Tak sekadar menyapa akrab awak redaksi, wanita asal Sidoarjo itu juga buka-bukaan tentang kasus perselingkuhannya yang menghebohkan tersebut.


*APA KABAR MARIA?

Alhamdulillah, baik-baik saja.

*MASIH KEPIKIRAN DENGAN VIDEO MESUMNYA ITU MBAK?

Jelas, saya ingin semuanya selesai. (tersenyum)

NAMPAKNYA SUDAH MULAI BISA TERSENYUM YA?

Ya begitulah. Ketimbang kemarin-kemarin itu saya syok benar. Sekarang pun masih, meski berusaha untuk mengatasinya.

*KENAPA SYOK?

Lha, empat hari saya disanggong wartawan sampai ndak berani keluar.

*TAPI SEKARANG MBAK LEBIH SERING BERTEMU ORANG DAN MUNCUL DI MEDIA MASSA.

Ya, daripada ngumpet gak selesai masalahnya.

*GAK TAKUT DISANGKA MENCARI POPULARITAS?

Saya ndak minta semua orang mengekspos saya lho. Mereka yang mau saya tampil. Malah mereka yang undang saya, njemput saya malah. Seperti sekarang, saya sampai di Graha Pena. Nggak sangka malah nemui wartawan seperti di RADAR SURABAYA, JAWA POS, dan JTV. Masak ya saya tolak.

*JADI SENANG DONG DIKENAL BANYAK ORANG?

Terus terang tidak, kalau dengan cara begini. Ini aib, aib untuk keluarga dan sahabat-sahabat saya. Bukan sesuatu yang menyenangkan, terkenal tidak karena potensi positif saya. Saya memberanikan diri bertemu dengan orang lain karena saya ingin selesaikan masalah ini. Sebab dengan begini saya bisa infokan apa yang sebenarnya terjadi.

*TANGGAPAN ORANG SAAT BERTEMU MBAK?

Saya benar-benar bersyukur karena masih ada yang mau bertemu dengan saya. Seperti ketika reuni kemarin, ternyata banyak teman-teman SMA saya mendukung saya menyelesaikan masalah ini.

*BENTUK DUKUNGAN MEREKA APA?

Contohnya ide untuk mendorong saya membuat opini publik tentang saya. Terus terang saya ini orang yang sedang dikuyo-kuyo (dianiaya, red), jadi jangan makin diam karena makin diinjak-injak nantinya. Mereka menyarankan saya tunjukkan identitas sebagai orang Sidoarjo.

Kebetulan ada korban Lapindo, mereka sarankan saya mengunjungi mereka. Saya pikir kenapa tidak, itu kan ide baik? Saya ini orang Sidoarjo yang harus tahu keadaan saudara saya di sana.

*TERUS, APA SAJA YANG DILAKUKAN DENGAN KORBAN LAPINDO?

Selesai reuni, saya diantar empat mobil yang ditumpangi teman-teman saya. Jadinya mirip konvoi. Saya blusukan ke tanggul lumpur dan bertemu dengan banyak korban lumpur. Saya berusaha menghibur mereka, meski saya juga tengah dilanda masalah. Ternyata mereka juga menyambut saya dengan baik. Di sana, saya berikan sedikit yang saya punya.

*KEGIATAN ITU DIEKSPOS BANYAK MEDIA. NGGAK TAKUT DISANGKA MENGALIHKAN PERSOALAN?

Ah nggak. Sekarang ini saya ibaratnya sedang makan buah simalakama. Nggak muncul salah, terlalu banyak muncul juga repot. Tapi yang penting bukan saya yang mau ekspos besar-besaran. Media kok yang mau. Saya hanya lakukan ini dengan satu niat agar semua masalah ini cepat selesai. Itu yang harus orang tahu. Lagipula Mas Ruhut (Ruhut Sitompul, pengacara Maria Eva) juga izinkan saya melakukan ini.

Aduh saya minta minum air dong, ada? (Maria minta wartawan mencarikannya minum. Dia minta air mineral, tapi yang ada teh kemasan botol plastik. Maria pun minum, tanpa sedotan. Arek-arek iki tego, aku dikon ngglogok. (Selama wawancara, Maria memang lebih banyak menggunakan bahasa Jawa).

*LANGKAH MBAK SEKARANG?

Ikuti saja hasil di persidangan apa. Saya juga mau pikirkan karir saya sebagai penyanyi dangdut. Sebentar lagi saya siapkan album.

*TEMANYA?

Tentang alam. Nah, waktu ke Lapindo saya juga terinspirasi memasukkan banyak lagu tentang kejadian alam di album itu.

*ADA YANG MENGATAKAN MBAK TIDAK COCOK JADI PENYANYI DANGDUT.

Saya tak berkesenian dengan paksaan siapapun. Juga tak ada yang berhak menghalangi saya. Saya juga tak hanya menyanyi, saya ini juga pemain sinetron dan berteater juga. Jadi masih banyak ladang lain untuk berkesenian.

*TENTANG PERCERAIAN MBAK ITU BAGAIMANA?

No comment. Saya lebih suka bicara tentang video itu. (RADAR Surabaya mendesaknya lagi. Akhirnya Maria menjawab). Tak ada perceraian itu. Itu cara orang lain mendompleng masalah ini.

*KELUARGA SEKARANG TINGGAL DI MANA?

Saya tak mau bilang, kasihan orangtua saya. Mereka ikutan stres dengan masalah ini. Biar saya saja yang urus. Doakan selesai cepat ya.

18 December 2006

Aku Mejeng Sama Maria Eva


Aku (topi, kaus biru) lagi dampingi Maria Eva untuk wawancara santai. "Saya ini dikuyo-kuyo lho Mas," kata Maria Eva.

Senin, 18 Desember 2006, malam Maria Eva dan rombongan mampir ke kantor Radar Surabaya. Saya dan teman-teman wawancara, ngobrol, dan foto bareng. Dia tampak tegar meskipun tengah menghadapi skandal video mesum dengan Yahya Zaini.

"Saya akan hadapi semua ini," tegas Maria Eva.

17 December 2006

Maria Eva Nyanyi di Lumpur Lapindo




Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Sidoarjo!
Rek ayo rek, mlaku-mlaku bebarengan


Lagu terkenal ini didendangkan oleh MARIA EVA alias MARIA ULFA, pedangdut asal Sidoarjo, yang video syurnya dengan anggota DPR sempat menghebohkan publik. Maria Eva bernyanyi di lokasi semburan lumpur panas di dekat Sumur Banjarpanji-1 milik Lapindo Brantas Inc, Porong.

Lagu Rek Ayo Rek yang sudah dipelintir syairnya itu dinyanyikan Eva bersama para pengamen yang kebetulan berada di sekitar Relief Well I, Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Minggu (17/12/2006).

Eva datang ke lokasi semburan lumpur sekitar pukul 15:00 WIB bersama keluarga dan sejumlah rekannya. Mereka datang pakai tiga mobil. Dia menaiki sedan hijau bernomor polisi W 909 FI. Dalam rombongan itu, tampak sang ayah, Amir Faisal.

Kedatangan perempuan ini mengejutkan para pengunjung yang memadati sekitar tanggul di Jatirejo. Maklum, tiap Sabtu dan Minggu, banyak orang yang datang ke lokasi itu. Karenanya, tempat itu sudah seperti objek wisata.

"Sekarang ini Sidoarjo jadi terkenal. Selain terkenal dengan semburan lumpur Lapindonya, juga terkenal dengan orangnya (Maria Eva) di Jakarta," cetusnya lalu tertawa kecil.

Usai menyaksikan semburan lumpur, dia bergeser ke lokasi penampungan pengungsi di Pasar Baru Porong. Maria Eva meminta masyarakat untuk tetap bersabar dalam menghadapi ujian. Dia juga mendoakan agar musibah yang dihadapi warga segera berakhir.

Dalam kunjungannya itu, perempuan yang mengenakan busana muslim hijau pupus itu sempat sempat menghibur warga dengan menggendong seorang balita yang merupakan anak pengungsi. Sebelum meninggalkan lokasi, dia menyerahkan 30 dus mi instan.

Sebelum datang ke lokasi semburan, Maria Eva ikut reuni di SMA Muhamadiyah II Sidoarjo.

Lapindo Layak Ditutup

JAUH SEBELUM KASUS LUMPUR PANAS DI PORONG, 29 MEI 2006, SAYA BEBERAPA KALI MENYOROTI KINERJA LAPINDO BRANTAS INC DI KABUPATEN SIDOARJO. PERUSAHAAN INI SEJAK DULU TIDAK RAMAH LINGKUNGAN.

Dewan Lingkungan Sidoarjo (DLS) menganggap keberadaan PT Lapindo Brantas di Kabupaten Sidoarjo sejak lima tahun lebih ini banyak membawa mudarat bagi lingkungan hidup. Karena itu, DLS sepakat dengan DPRD Sidoarjo agar perusahaan pertambangan gas bumi ini ditutup saja. Jika dibiarkan terus beroperasi, maka kerusakan lingkungan akan semakin parah. Warga desa yang berada di lokasi eksploitasi Lapindo pun jelas tak akan bertahan dalam jangka panjang.

"Sebelum DPRD bicara, DLS sudah lama berteriak soal Lapindo, tapi tidak pernah didengar. Syukurlah, sekarang DPRD sudah mulai berani kritis," ujar Nurul Ahdi, sekjen DLS, kepada RADAR Surabaya, Rabu (28/09/2005).

Sebelumnya, DPRD Sidoarjo mengusulkan agar sumur gas Lapindo di Kabupaten Sidoarjo ditutup karena setorannya ke kas daerah sangat rendah. Ini karena hasil yang disetor ke APBD Sidoarjo hanya Rp 45 juta setahun, padahal Lapindo dikenal sebagai perusahaan multinasional yang kaya. Dulu, 2001, kontribusi Lapindo mencapai Rp 1,9 miliar.

Menurut Nurul Ahdi, DLS tidak melihat besar-kecilnya setoran Lapindo ke kas daerah, tapi lebih menyoroti kerusakan lingkungan akibat eksploitasi besar-besaran perusahaan yang bermarkas di Kedungboto, Porong, itu. Kalaupun setoran Lapindo miliaran rupiah, dosa-dosa lingkungannya terlalu besar.

"Limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) Lapindo itu sudah keterlaluan. Mereka tidak melakukan pengolahan sesuai ketentuan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), tapi menimbun saja di Sidoarjo. Keterlaluan Lapindo itu," Nurul menegaskan.

Dalam beberapa dialog di Sidoarjo, aktivis DLS selalu mempertanyakan sistem pembuangan limbah B3 di Lapindo. Selama ini limbah B3 hanya disimpan di tempat khusus, begitu klaim manajemen Lapindo, tanpa ada prosesing yang benar. Padahal, seharusnya limbah itu dikirim ke Jawa Barat (Cilengsi) untuk diolah sesuai dengan standar internasional.

"Ketika kami sampaikan hal ini ke Lapindo, manajemennya mengaku nggak tahu cara penanganan limbah B3. Aneh dan lucu sekali, perusahaan sebesar Lapindo tidak tahu bagaimana cara menangani limbah B3," ucap Nurul Ahdi.

Gara-gara tidak becus mengelola limbah B3 dan mengendalikan dampak lingkungan, Lapindo beberapa kali dinilai sebagai perusahaan yang 'sangat berbahaya' oleh KLH. Tahun 2004 Lapindo masuk daftar hitam (sangat, sangat berbahaya), tahun 2005 masuk daftar merah (sangat berbahaya). KLH juga sudah meminta Lapindo untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbahnya.

"Kalau ditutup jelas lebih baik karena Lapindo terbukti tidak bertanggung jawab,"  Nurul menegaskan.

 Pentolan LSM lingkungan ini berharap, masukan dari DLS bisa dipakai DPRD Sidoarjo menjadi 'senjata' untuk mengusulkan penutupan PT Lapindo Brantas Inc di Kabupaten Sidoarjo. Diharapkan, DPRD serius dan konsisten mengingat saat ini warga di kompleks eksploitasi Lapindo sudah merasakan dampak lingkungan akibat ulah Lapindo.

Dimuat RADAR SURABAYA, 29 September 2005

Aan Dwi Atmojo KDI



Saya beberapa kali bertemu dan berbincang dengan AAN DWI ATMOJO, pedangdut yang kini lebih dikenal dengan AAN KDI. Bahkan, saya sempat menjadi salah satu tim sukses Aan saat dia ikut KONTES DANGDUT TPI (2004) di Jakarta. Menulis berita, cari pulsa... agar peringkat Aan terjaga.

"Setelah ikut KDI, Aan sibuk sekali. Jarang pulang ke Sidoarjo," kata AMBARWATI, ibu angkat Aan, di Perumahan Palem Putri K/32 Desa Balonggabus, Candi, Sidoarjo.

AAN DWI ATMOJO yang lahir di Mojosari (Mojokerto) 17 Mei 1983, sejak 1999 tinggal di Candi, Sidoarjo. Aan mencuat di KDI sebagai the best four setelah SITI, NASAR, dan SAFARUDDIN. Setelah terpilih sebagai penyanyi favorit KDI I, Aan sangat sibuk. Rekaman, show di televisi, tur ke mana-mana, dan belakangan main sinetron.

"Kalau ada waktu kosong baru saya menyempatkan diri ke Sidoarjo. Agak susah mengatur jadwal," ujar Aan KDI kepada saya. Bekas vokalis beberapa band rock di Sidoarjo ini sudah merilis satu album kompilasi bersama para artis KDI.

Ayah kandung Aan, Joko, tinggal di Mojosari. Namun, karena sekolah di SMK Negeri 9 Surabaya, Aan tinggal di Sidoarjo. Di situlah pemuda bersuara lantang itu aktif di berbagai grup ben, baik di Sidoarjo maupun Surabaya. Suaranya sangat ngerock. Yah... dangdut rock!

Sebelum menjadi artis ngetop seperti sekarang, AAN KDI tidak seglamor sekarang. Mengenakan busana pentas rancangan desainer ternama, dikawal layaknya VIP, hingga jadi rebutan begitu banyak produser dan promotor musik dangdut. Hingga September 2004, AAN DWI ATMOJO belum ada apa-apanya.

Waktu itu, kata IPUNK PURNAMA, Aan memang sudah malang melintang di dunia musik, khususnya rock, tapi masih kelas Sidoarjo, Surabaya, dan Mojokerto. Nama Aan belum dikenal publik.

"Jadi, Aan ini boleh dibilang berangkat ke KDI dari nol. Tapi dia memang punya modal suara dan penampilan yang sudah oke," jelas IPUNK PURNAMA, tim sukses sekaligus manajer Aan di Jawa Timur.

Nah, ketika hendak mengikuti KDI, Aan mendaftarkan diri paling akhir. Ipunk Purnama mengaku pontang-panting untuk mempersiapkan kebutuhan panggung si Aan. Waktu itu Aan belum punya busana panggung yang layak untuk kontes dangdut bergengsi tingkat nasional. Aan kemudian membicarakan persoalan ini kepada Ipunk.

Kebetulan, hubungan Ipunk dengan Aan sudah terjalin akrab sejak lama. "Sudah mirip keluarga sendiri," ujar Ipunk, alumnus SMA Negeri I Sidoarjo itu.

Untung saja, Ipunk punya koleksi busana artis dalam jumlah memadai. Maklum, dia sudah lama bergerak dalam bidang seni, menjadi agen model, sutradara dan penulis skenario, juga fotografer di Sidoarjo. Ipunk memilih busana panggung yang cenderung 'ngerock' sesuai dengan karakter AAN DWI ATMOJO. "Tidak cocok kalau busana panggungnya biasa-biasa saja," tutur Ipunk seraya tersenyum.

Nah, di babak-babak awal KDI, Aan menggunakan busana pinjaman dari Ipunk Purnama. Rupanya, nasib Aan mujur terus hingga anak muda itu bertahan sangat lama di pentas KDI. Seperti diketahui, Aan akhirnya terpilih sebagai 'juara empat' karena kalah dukungan SMS dibandingkan SITI, NASAR, SAFARUDDIN.

Toh, Ipunk sangat bangga karena anak asuhnya itu terpilih sebagai juara favorit pilihan TPI. "Kita harus bangga punya Aan," katanya. Bukan itu saja perjuangan Ipunk untuk mengegolkan Aan. Karena kontes ini menggunakan sistem SMS, Ipunk harus pontang-panting melakukan promosi dan lobi agar warga Sidoarjo, Surabaya, dan Mojokerto (juga Jawa Timur umumnya) ramai-ramai mengirim SMS untuk memenangkan Aan.

Sampai-sampai Ipunk mendatangi Bupati Sidoarjo Win Hendrarso agar 'mengerahkan' pejabat dan warga Sidoarjo untuk ber-SMS ria memenangkan Aan setiap konser TPI hari Selasa.

"Alhamdulillah, akhirnya Aan berhasil meskipun bukan juara satu," katanya.

15 December 2006

Natal Borjuis di Jawa



Waktu masih anak-anak, ketika saya tinggal di kampung pelosok FLORES TIMUR, Pater WILLEM VAN DE LEUR SVD (almarhum), selalu menyindir orang-orang kristiani di kota. Mereka bikin perayaan Natal, Santa Claus, pohon terang, pesta mewah... lepas sama sekali dari Kristus. Istilah PATER VAN DE LEUR: ‘Natal tanpa Kristus’.

“Kelihatan dari luar mereka memperingati Natal, tapi tidak ada Kristusnya. Nggak ada urusan dengan Kristus,” kritik pastor asal Belanda yang selalu keliling 15 desa di Paroki Ile Ape dengan sepeda pancal.

“Kalian ingat itu: Natal tidak boleh dipisahkan dari Kristus,” begitu Pater mengingatkan kami, anak-anak kampung.

Dulu, saya tak paham apa maksud sang misonaris dari Societas Verbi Divini itu. Setelah tinggal di kota besar (Malang, jember, Jakarta, Surabaya), tengara Pater van de Leur terbukti benar. Sangat benar!

Lihatlah di mal, plasa, hotel, pusat rekreasi, televisi, tempat hiburan, bahkan tempat remang-remang macam karaoke. Pohon terang. Salju palsu. Christmas carols. Setelah pekan pertama Desember, aksesoris Natal begitu mudah ditemui. Tak ada urusan yang pasang itu tahu hakikat Natal atau tidak. Yah... Natal tanpa Kristus lah!

Lebih gila lagi di Singapura. Negara kecil itu sejak awal November 2006 sudah bikin festival Natal terbesar di dunia. JAWA POS bikin reportase khusus langsung dari sana. Yah, tak ada urusan dengan Kristus atau nasrani. Praktis, niai-nilai rohani Natal lenyap sama sekali. Diganti dengan pesta belanja, dagang, berkedok Christmas Festival. Natal cuma bungkus thok. Yang penting, dagang, bisnis, jualan laku.

Saya baca koran-koran lokal di Surabaya. Isinya, ya, banyak cerita tentang natalan di hotel, restoran, mal, plasa. Nyanyi-nyanyi, konser, artis, pohon terang, pak jengot Santa Claus. Klise banget. Asal tahu saja, jumlah nasrani di Surabaya (apalagi Jawa Timur) hanya ‘seupil’ alias sangat-sangat kecil. Tak sampai 2 persen. Tapi heboh bisnis berkedok natalan luar biasa.

Saya dan teman-teman Flores hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pameran ‘Natal tanpa Kristus’ yang dilakukan terang-terangan itu.

Bagaimana dengan liturgi?

Ini pun saya lihat makin kacau alias melenceng dari pakem gereja. Lingkaran Adventus, yang berlangsung empat minggu, hanya ada di dalam gereja. Itu pun sudah hambar. Keluar gereja, ada saja orang yang bikin kebaktian Natal, perayaan Natal, dan macam-macam lagi.

“Natal itu kan mulai 24 Desember, saat misa malam viligi Natal. Lha, sebelum tanggal itu kok orang sudah ramai-ramai natalan? Pakemnya bagaimana?” gugat saya dalam hati.

Ini mirip orang Islam yang berlebaran, padahal masih bulan Ramadan. Kacau! Meskipun sudah terbiasa dengan ‘Natal tanpa Kristus’, sampai sekarang, sebagai anak Flores Timur, saya belum bisa menerima kenyataan yang begitu dahsyat di kota-kota besar itu.

Lalu, ada konser Natal: pop, klasik, paduan suara, dan sebagainya. Tempatnya di hotel mewah. Bayar karcis ratusan ribu. Ikut Sinterklas bayar sekian. Ketemu Santa Claus tidak gratis.

Sungguh kontras dengan kisah Natal di Bethlehem yang begitu sederhana: Yesus lahir di kandang binatang. Yusuf dan Maria tak kebagian (dan tak bisa bayar) hotel. Ditemani gembala-gembala Bethlehem. Bau pesing. Natal pertama di Bethlehem sungguh-sungguh milik orang-orang termiskin, the poorest of the poor.

Nah, kini, di kota-kota Pulau Jawa wong cilik ini benar-benar tersingkir dari Natal.

Substansi Natal sejati--sederhana, lemah, hina, dina, miskin (istilah Romo YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA Pr)--hilang sama sekali.

Bukan itu saja. Orang miskin pun semakin minder saat hendak masuk ke dalam gereja-gereja di Jawa yang semakin mirip kompleks elite, hall mewah, ala hotel berbintang.

Jangan heran, agama Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik, Adven, Baptis...) semakin menjadi AGAMA BORJUIS yang jauh dari masyarakat akar rumput. Kekristenan pun menjadi menara gading. Menjadi bahan tertawaan di mana-mana.

14 December 2006

Maria Eva Punya Suami


MARIA EVA (29 tahun), pedangdut Sidoarjo yang terlibat skandal video porno dengan YAHYA ZAINI, pengurus DPP Partai Golkar dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, ternyata masih berstatus istri orang. Suaminya TJIE JONG SAN alias KOH SAN, pengusaha Tionghoa di Surabaya. Pasutri MARIA EVA-TJIE JONG SAN pernah tinggal bersama di Jalan Prada Permai VIII/47 Surabaya.

Selama ini tak banyak yang tahu, termasuk wartawan di Sidoarjo dan Surabaya, bahwa MARIA ULFA (nama asli MARIA EVA) sudah bersuami.

Maklum, wanita asal Sidoarjo ini dikenal tertutup soal urusan keluarganya. Orang tuanya pun enggan cerita soal ini. Namun, Rabu (13/12/2006) lalu pengacara SUNU LENGGONO, selaku kuasa hukum TJIE JONG SAN alias KOH SAN, mengatakan bahwa dia tengah menangani kasus perceraian KOH SAN.

“Dalam akte nikah klien saya tercantum nama MARIA ULFA sebagai istri TJIE JONG SAN. Mereka melangsungkan pernikahan di Sidoarjo pada 23 Maret 2001.”
Namun, Sunu mengaku tidak berani mengatakan bahwa MARIA ULFA itu MARIA EVA, yang bikin heboh gara-gara video mesumnya dengan anggota DPR, YAHYA ZAINI, terungkap.

“Coba Anda tanya kepada ME, apakah dia kenal dengan saya," kata Sunu, diplomatis.

Seperti diketahui, MARIA EVA adalah nama artis untuk MARIA ULFA. Pedangdut asal Sidoarjo ini menggunakan nama MARIA EVA saat merilis album perdananya, PELANGI SENJA, pada akhir 2004.

"Dia pakai nama MARIA EVA agar lebih keren. Sesuai dengan tren di blantika musik lah," jelas A MALIK BZ, pencipta lagu asal Waru, Sidoarjo. Komposer inilah yang menciptakan 10 lagu di album PELANGI SENJA milik MARIA EVA atawa MARIA ULFA.

Menurut Sunu, hingga 14/12/2006 sidang perceraian KOH SAN dan MARIA ULFA telah sampai pada tahap pembuktian. Namun, dia tidak mau mengatakan kapan sidang kasus kliennya digelar di Pengadilan Agama Surabaya. Sunu pun terkesan segan dan hati-hati untuk membeberkan kasus ini.

"Bukan apa-apa, klien saya bisa disudutkan oleh dia (MARIA EVA). Dengan rumah produksi yang membuatkan video klipnya saja (INE WIRAYANTI), dia mengaku tidak kenal, apalagi dengan klien saya. Takutnya dia bilang itu adalah penggemarnya yang numpang tenar," tandas Sunu.

Berdasarkan pengecekan di PA Surabaya, perkara perceraian Maria-Koh San tercatat dengan nomor register 1824/PDT.G/2006/PA Sby, diajukan oleh Tjie Jong San pada 4 Oktober 2006. Artinya, jauh sebelum skandal video mesra ME-YZ yang mulai merebak pada 30 November 2006. Koh San sebagai pemohon, Maria termohon. Pasutri tanpa anak ini menikah di KUA Candi, Sidoarjo, 23 Maret 2001.

Apa alasan Koh San menggugat cerai istrinya, Maria?

"Biasalah, katanya sudah tidak ada kecocokan lagi," jelas panitera di PA Surabaya. Sempat terungkap, Maria dinilai keras kepala dan tidak menghormati Koh San sebagai suami.

Sidang pertama digelar 7 November 2006, kemudian tertunda-tunda. Menurut rencana, sidang dilanjutkan pada 19 Desember 2006. ''Mungkin langsung putusan karena perkaranya sudah lama,'' tegas si panitera.

*******
Sebagai tambahan informasi, sebelum menikah dengan Koh San, Maria menikah dengan pengusaha Tionghoa, juga asal Surabaya. Pasutri ini punya satu anak, Okky, yang sekarang tinggal bersama orang tua Maria Ulfa di Sidoarjo.

''Itu informasi dari sumber saya yang dekat dengan keluarga Pak Amir Faisal, ayah Maria Eva,'' cerita Wahyu Setya Darmawan, wartawan Radar Surabaya.

''Okky ini banyak teman, luwes, pandai bergaul. Tapi setelah kasus ibunya diberitakan besar-besaran di televisi dan surat kabar, anaknya enggan sekolah.''

11 December 2006

Aku Kolektor Album Natal



Saat menulis catatan ini, saya menikmati THE CHRISTMAS ALBUM milik DAVID FOSTER. Dia salah satu komposer favorit saya. Di album ini David menghimpun sejumlah penyanyi ternama macam NATALIE COLE, CELINE DION, TOM JONES, ROBERTA FLACK, PEABO BRYSON, hingga VANESSA WILLIAMS.

Lagu-lagunya standar ala White Christmas, Blue Christmas, The First Noel, O Holy Night, The Christmas Song. Cukup bervariasi karena David Foster membuat aransemen sesuai dengan karakter si penyanyi. Sebagai ‘raja pop’, album ini memang kental dengan nuansa pop. Ringan-ringan saja lah.

Setelah pekan pertama bulan Desember, tiap tahun, saya punya tradisi memutar lagu-lagu Natal di kamar. Saya lakukan itu sejak SMA. Jangan heran, koleksi album Natal saya tergolong banyak dan variatif.

Mau album Natal macam apa? Saya punya. Pop. R&B. Jazz. Ngerock. Klasik. Kor atawa paduan suara. Opera. Country. Gamelan Jawa. Gamelan Bali. Campur sari.

Berikut beberapa koleksi album Natal saya:

DAVID FOSTER (pop)
CELINE DION (pop)
MARIAH CAREY (pop)
THREE TENORS-PAVAROTTI, DOMINGGO, CARRERAS (opera).
MORMON TABERNACLE GLORY CHOIR (paduan suara, USA)
NATALIE COLE WITH THE LONDON SYMPHONY ORCHESTRA (pop-orkestra)
PERRY COMO (pop standar)
GUNTHER GRASS (semi jazz)
BONEY M (disco)

Itu yang Barat. Album Natal versi Indonesia pun cukup banyak:

VICTOR HUTABARAT
BROERY MARANTIKA
BOB TUTUPOLY
MARGIE SEGERS (jazzy)
EMBONG RAHARJO (jazzy)
VOCALISTA SONORA (kor)
EXAUDIA (kor)
CAMPURSARI NATAL
NATAL ALA BALI

Beberapa album dihibahkan ke teman, hilang, atau ketelisut.

Yang jelas, stok album-album Natal ini sudah lebih dari cukup untuk memeriahkan Natal dan tahun baru di kamar saya.

Kalau dicermati, lagu-lagu Natal itu sejak zaman dulu sampai sekarang itu-itu saja. Memang sudah banyak lagu baru dibuat orang, namun lagu-lagu lama rasanya lebih berkesan di hati. Album campursari Natal, produksi Jogja, yang benar-benar baru terasa ‘asing’ sekali di telinga saya. Rasa natalnya gak ada.

Maka, yang terjadi adalah modifikasi lagu-lagu Natal standar (Christmas carols) semacam Joy to the World, Silent Niht, Holy Night, Jingle Bells, White Christmas....
Entah sudah berapa ribu kali christmas carols diolah para komposer, diproduksi sebagai album natal, dilempar ke pasar musik. Orang Kristen toh tidak bosan-bosannya mengoleksi album itu untuk mewarnai masa Natal.

Saya pribadi tidak pernah membeli pohon terang, bikin kandang natal, pasang aksesoris, dan tetek-bengek Natal lainnya. Koleksi album Natal sudah lebih dari cukup, bagi saya, untuk membuat ‘demam natal’ di hati saya. Saya nikmati betul setiap komposisi karena rata-rata berkualitas tinggi. Jauh lebih apik ketimbang lagu-lagu pop Tanah Air.

Di antara sekian ribu lagu Natal abadi, everlasting songs, saya memberi nilai istimewa pada tiga lagu. Saya tergetar setiap kali mendengarkannya. Komposisinya luar biasa. Lebih-lebih kalau yang nyanyi juga penyanyi luar biasa. Apa saja tiga lagu Natal favorit saya? Ini dia.

1. O HOLY NIGHT karya Adolphe Adams, penyanyi LUCIANO PAVAROTTI atau PLACIDO DOMINGO atau JOSE CARRERAS. Komposisi ini dahsyat punya, memang lebih cocok dibawakan dengan teknik opera. Seriosa. Penyanyi Indonesia yang mampu membawakan lagu ini dengan nyaman tak lain CHRISTOPHER ABIMANYU, bekas juara satu seriosa di Indonesia.

2. THE CHRISTMAS SONG (CHESNUTS ROASTING ON AN OPEN FIRE) karya Mel Torme dan Robert Wells. Lagu ini dahsyat untuk kategori jazz, lebih tepatnya swing. Saya pun sering memainkan lagu ini dengan alat musik tiup. Santai, membuai, suasana natalnya terasa sekali di sini. Cocok dibawakan NAT KING COLE (dan anaknya NATALIE COLE). Dahsyat.

3. Untuk kategori paduan suara saya pilih FOR UNTO US A CHILD IS BORN. Ini karya komponis besar George Frederic Handel (1685-1759), petikan opera The Messiah. Komposisi kor ini tergolong sangat sulit, penuh dengan lengkung silabis, sehingga hanya kor profesional yang mampu membawakannya.

Kapan ya ada karya paduan suara sehebat ini dibuat lagi?

Saya beberapa kali menyaksikan beberapa kor hebat di Surabaya (Universitas Kristen Petra, Surabaya Oratorio Society) membawakan lagu ini. Ternyata, kalah jauh dengan kor orang Barat yang saya nikmati di album natalku. Akhirnya, saya sadar bahwa kor atawa paduan suara itu memang kesenian Eropa alias Barat. Sehebat-hebatnya kita, orang Indonesia atau Asia, tak akan bisa menandingi kualitas mereka.

Sebagai catatan akhir: album-album Natal produksi Indonesia kebanyakan kurang bermutu alias dibuat asal-asalan. Penggarapannya parah. Mixing, aransemen, sound... semuanya parah. Beda sekali dengan album-album Natal versi Barat.

Begitulah potret bangsa kita yang sejak dulu kurang mengutamakan mutu. Termasuk dalam urusan membuat lagu-lagu Natal.

Tak apa-apa. Yang pasti, mengutip DAVID FOSTER, saya ingin berkata:

“The songs of Christmas have always been a source of inspiration to me and my family.”

Kisruh Pulau Bidadari di NTT


Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang, Nusa Tenggara Timur Kol Inf APJ Noch Bola mengatakan, pengibaran Bendera Merah Putih oleh prajurit TNI di Pulau Bidadari, sempat dilarang oleh Ernest Lewandowsky. Alasannya, pulau di ujung barat Pulau Flores itu sudah dibelinya.

Sumber: Antara, 28 Februari 2006

"Anak buah saya sempat dilarang masuk oleh warga negara Inggris itu dengan alasan bahwa Pulau Bidadari sudah dibelinya dari Haji Jusuf Mahmud, seorang penduduk Labuanbajo, Manggarai Barat yang mengklaim sebagai pemilih hak ulayat atas tanah di Pulau Bidadari,"kata Danrem Bola kepada pers di Kupang, Selasa (28/2/2006).

Namun, kata Danrem, Bendera Merah Putih berhasil dikibarkan di Pulau Bidadari. Ia mengatakan, penguasaan pulau secara total oleh warga negara Inggris dalam wilayah NKRI itu, memang belum masuk dalam kategori ancaman terhadap integritas bangsa, namun lama-kelamaan bisa diklaim sebagai bagian dari wilayah kepulauan Kerajaan Inggris.

"Aturan hukum internasional kan jelas jika kita biarkan terus maka nasib Pulau Bidadari di ujung barat Pulau Flores itu seperti Sipadan dan Ligitan atau seperti Argentina menguasai Pulau Foklan. Karena kasus ini masih merupakan embrio maka harus dimusnahkan dari sekarang sebelum berkembang menjadi jabang bayi," katanya.

Danrem Bola mengatakan, institusi TNI tidak memiliki kewenangan apapun untuk mengusir Lewan Dawski bersama isterinya dari Pulau Bidadari, karena fungsi dan tugas TNI hanya mengamankan kedaulatan negara dari invasi negara lain.

"Jika melihat kenyataan sudah begitu, seharusnya pihak Kepolisian dan Imigrasi segera bertindak untuk melakukan penyidikan. Sudah sangat jelas bahwa Pulau Bidadari telah dibeli oleh warga negara Inggris itu dari Haji Jusuf Mahmud seharga Rp 495 juta yang dibayarnya secara bertahap sejak 2003," kata Danrem.

Pembayaran tahap pertama pada 2003 sebesar Rp279 juta dan terus dicicil sebanyak lima kali sampai menggenapi angka Rp495 juta sesuai harga tanah seluas 15 hektar di atas Pulau Bidadari itu.

Danrem Bola menegaskan, proses jual beli tanah ulayat ini tanpa sepengetahuan pemerintah daerah sehingga apapun alasannya proses tersebut tetap dinyatakan ilegal, karena tidak melibatkan pemerintah dalam proses penjualan dimaksud.

"Indikasi tindak pidananya kan sudah ada, kenapa hal ini tidak ditindaklanjuti oleh aparat Kepolisian? Kita harapkan embrio dalam penguasaan pulau di dalam wilayah NKRI itu secepatnya dimusnahkan sebelumnya berkembang biak menjadi jabang bayi," tambahnya.




Tanah di Pulau Bidadari, sebuah pulau kecil dengan luas 15,4 hektar yang terletak di Kecamatan Komodo, Kabupaten Menggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini belum dikuasai negara.

Sumber: ANTARA 28 Februari 2006

Karena itu kasus jual-beli tanah di Pulau Bidadari yang dilakukan Haji Mahmud selaku hamente (semacam kepala suku) kepada investor Inggris, Ernest Lewandowsky harus dikaji lebih cermat," kata Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi NTT, Dicky SM Pelt, di Kupang, Selasa (28/2/2006).

Ernest mengaku membeli tanah di Pulau Bidadari dari Haji Mahmud dengan harga Rp297 juta sesuai nilai yang tertera dalam kwitansi. Pelt telah mengutus tiga orang pejabat BPN di NTT untuk menemui Kepala BPN Joyo Winoto guna menjelaskan masalah Pulau Bidadari yang disebut-sebut telah dimiliki oleh investor Inggris itu.

"Ketiga pejabat BPN itu membawa data-data tentang Pulau Bidadari sekaligus menjelaskan kepada pemerintah pusat tentang keberadaan investor Inggris yang telah membeli tanah secara tidak prosedural di pulau itu," ujar Pelt.

Para pejabat BPN dari NTT itu juga akan mendampingi Kepala BPN guna menemui Menteri Dalam NegeriM Ma’ruf terkait keberadaan pulau-pulau kecil dan pulau di kawasan perbatasan negara yang hingga kini belum berada dalam penguasaan negara sehingga perlu diberikan kepastian hak atas tanah.

BPN, katanya, sedang mengupayakan pulau-pulau itu tetap berada dalam penguasaan negara dan kebijakan pengelolaan wilayah akan diberikan kepada daerah atau masyarakat namun harus mengacu kepada aturan perundang-undangan yang berlaku.

"Fakta membuktikan bahwa sejumlah pulau-pulau kecil di Indonesia termasuk di NTT hendak dikuasai oleh kelompok masyarakat tertentu sehingga permasalahan tersebut sudah diagendakan dalam program kerja BPN," ujarnya.

Data BPN terdapat 89 pulau-pulau kecil yang terletak di kawasan perbatasan negara termasuk yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang harus diberikan kepastian hak pengelolaan atas tanah di kawasan itu. Pemerintah Indonesia juga telah membentuk tim khusus yang bertugas memberi nama pulau-pulau di Indonesia yang hingga kini belum dinamai.

Khusus NTT terdapat 566 pulau yang terdiri dari 246 pulau yang sudah diberi nama dan 320 pulau belum bernama dan keberadaan pulau-pulau itu mengindikasikan NTT memiliki garis pantai yang panjang dan tersebar di wilayah-wilayah pulau.

"Ketika pemerintah memberi kewenangan pengelolaan pulau-pulau kecil kepada peemrintah daerah atau masyarakat maka terlebih dahulu harus dipastikan tidak ada dampak ikutan yang mengarah kepada perbuatan merugikan kepentingan masyarakat banyak," katanya.

BPN, tambah Pelt, tidak menghendaki adanya penguasaan pulau-pulau kecil oleh pihak tertentu tanpa kepastian hak atas tanah di pulau itu. "Karena itu perorangan atau perusahaan tidak boleh diberikan kewenangan penuh untuk mengelola suatu pulau karena berkaitan dengan potensi wilayah pesisir di sekitarnya," katanya.



PENJELASAN ERNEST LEWANDOWSKY

Sumber: ANTARA 1 Maret 2006

Ernest Lewandowsky menjelaskan keberadaannya di Pulau Bidadari, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Melalui kuasa hukumnya, I Gusti Putu Ekadana, Rabu (1/3/2006), di Mataram, investor asal Inggris itu mengemukakan keberadaannya di Pulau Bidadari secara hukum sah, karena memiliki izin resmi pemerintah Indonesia termasuk pemerintah daerah setempat.

"Karena itu kita sayangkan pernyataan sejumlah pejabat tinggi di Indonesia yang menuding Ernest sebagai orang asing yang membeli dan menguasai, bahkan disebut sebagai mata-mata atau spionase sehingga akan mengirim pasukan mengamankan Pulau Bidadari," katanya.

Ekadana mengkhawatirkan tindakan keras dan pernyataan sejumlah petinggi itu berdampak buruk terhadap perkembangan investasi di Indonesia, investor asing merasa tidak ada kepastian hukum berusaha di Indonesia. Menurut dia, hal itu bertentangan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang terus berjuang melakukan promosi dengan dana yang tidak sedikit guna mengundang investor sebanyak-banyaknya menanamkan modal di Indonesia.

"Perlu diketahui keberadaan investor asal Inggris Ernest dan istrinya Kathleen Mitcinson adalah legal dan sah menurut peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, karena dia telah mengantongi izin lengkap sebagai investor," kata Ekadana.

Kehadirannya di Indonesia dan membuka usaha Wisata Tirta di Gili (pulau kecil) setelah mengantongi izin tetap usaha Wisata Tirta dari Menteri Negara/Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara dengan nomor 364/I/PARSENI/2000 tertanggal 16 juni 2000.

Usaha Wisata Tirta di Gili Air, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat itu, berada di bawah payung PT. Reefseekers Kathernest Lestari (RKL), di Gili Air, Ernest juga membuat penangkaran penyu sebagai wujud kepeduliannya terhadap kelestarian satwa yang dilindungi itu.

Selanjutnya untuk mengembangkan usahanya, Ernest kembali mengajukan permohonan perluasan penanaman modal asing dan mendapat persetujuan dari BKPM Jakarta Nomor: II/PMA/2001 dan Nomor Kode Proyek 5511/6341/7032-51/83-9059 (d/h 9490-24-9059).

Bidang usaha adalah jasa usaha akomodasi (hotel/bungalow), Wisata Tirta dan biro perjalanan wisata yang berlokasi di Kabupaten Manggarai Barat, NTT dan Kabupaten Badung, Bali. Untuk usaha wisata tirta di Kabupaten Manggarai Barat, PT RKL juga mengatongi izin lokasi untuk keperluan pembangunan resort hotel dari Bupati Manggarai dengan nomor HK/62/2003 tanggal 12 Juni 2003 dan juga mendapat izin untuk Zona Konservasi Pantai dan Laut Pulau Bidadari.

Selain itu, kata Eka, Izin Persetujuan Prinsip Membangun dari Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai dengan nomor 556.2/82/PPM/Par-2000. Untuk keperluan usahanya, PT. RKL membebaskan lahan seluas lima hektar di Pulau Bidadari dengan status Hak Guna Bangunan (HGB), jadi bukan membeli pulau tersebut seharga Rp495 juta, jadi dana tersebut bukan sebagai pembelian pulau tetapi sebagai dana pembebasan lahan.

"Karena itu selaku kuasa hukum saya sedih kalau klien saya dituding sebagi orang asing yang membeli pulau dan menjadi mata-mata, karena itu para petinggi republik ini hendaknya mengetahui persoalan terlebih dahulu baru bertindak dan mengeluarkan statement," katanya.

PENJELASAN RESMI PEMDA NTT

Sumber: KOMPAS 1 Maret 2006

Pihak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur secara resmi membantah pernyataan sejumlah kalangan yang menyebutkan penjualan Pulau Bidadari di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, NTT.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT Stanis Tefa di Kupang, Selasa (28/2/2006), mengemukakan, Pulau Bidadari tidak diperjualbelikan kepada Ernest Lewan Dowsky. Warga Inggris itu hanya diberi hak untuk mengelola areal seluas lima hektar, dari total luas Pulau Bidadari 15 hektar, berjangka waktu 20 tahun lebih.

Tak kurang dari Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang NTT Kolonel (Inf) APJ Noch Bola menyatakan terkejut soal isu ”penjualan” Pulau Bidadari. Menurut laporan yang dia terima, pulau itu dibeli seharga Rp 495 juta dari Yusuf Mahmud, warga Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Tentang harga pembelian senilai Rp 495 juta, menurut Stanis Tefa, itu hanya merupakan biaya untuk pembebasan lahan kepada warga yang mengklaim lahan pulau tersebut sebagai hak ulayat.

Stanis menjelaskan, usaha yang dilakukan oleh Ernest termasuk dalam kategori penanaman modal asing (PMA) dengan nama PT Reefsekers Kathernest Lestari. Izin usaha diberikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat di Jakarta.

”Jadi tidak benar ada jual-beli Pulau Bidadari. Yang ada, dia (Ernest Lewan Dowsky) diberi hak guna bangunan atas tanah seluas lima hektar, untuk usaha wisata tirta, yaitu hotel, bungalo dan kolam renang, serta biro perjalanan wisata,” ujar Stanis.

PT Reefsekers Kathernest Lestari mengantongi izin dari Bupati Manggarai (saat itu wilayah Labuanbajo masih tergabung dalam Kabupaten Manggarai) guna mengelola usaha pariwisata itu. Surat Bupati Manggarai Antony Bagul Dagur itu Nomor HK/62/ 2003 tanggal 12 Juni 2003 tentang Pemberian Izin Pembangunan Resor Perhotelan di atas tanah seluas lima hektar.

Usaha warga Inggris tersebut diperkuat Surat Persetujuan PMA Nomor 111/II/PMA/2001 tertanggal 18 April 2001 yang diterbitkan BKPM. Selain itu, Dowski mengantongi Izin Usaha Tetap (IUT) Nomor 364/t/Perseni/2001 tanggal 16 Juni 2001.

Tefa menegaskan, hak atas pulau itu hanya diberikan dalam konteks hak pakai, hak guna bangunan, dan hak pengelolaan. Tidak ada hak pemilikan pulau.

Ernest Lewan Dowsky didampingi kuasa hukumnya, IP Ekadana, Selasa petang di Mataram menjelaskan, ia membeli tanah melalui prosedur yang benar untuk pembangunan hotel di Pulau Bidadari.

Tanah yang dibeli tersebutseluas 15 hektar. Proses itu ditempuh lewat pelepasan hak, dan pihaknya memberi ganti rugi sebesar Rp 495 juta, diperkuat akte jual beli dari Pejabat Pembuat Akta Tanah, kemudian Pemkab Manggarai dan jajarannya memberikan izin lokasi.

08 December 2006

Poligami: Tujuh Istri, Satu Rumah



ABDULLAH GYMNASTIAR, dai terkenal, pada 3 November 2006 mengumumkan pernikahan keduanya dengan RINI. Proses kawin kedua butuh waktu lima tahun. Istri pertama, NINIH, dalam jumpa pers, mengaku telah mengizinkan Abdullah Gymnastiar nikah lagi.

"Saya sudah baca lagi Alquran, buku-buku tentang riwayat Rasulullah SAW, dan ternyata memang dibolehkan suami menikah lagi. Ada hikmah," kata Ninih di depan wartawan. Karena Gymnastiar dai terkenal, peristiwa yang sebenarnya sangat biasa ini menjadi santapan media massa. Orang ramai-ramai bicara soal poligami.

Bahkan, pemerintah 'tertarik' untuk memperketat syarat-syarat poligami. Kalau sebelumnya hanya untuk pegawai negeri sipil dan TNI/Polri, pemerintah berencana 'memperluas' kepada pejabat publik dan masyarakat umumnya. Bisa ditebak, kontroversi soal poligami pun melebar pascajumpa pers ABDULLAH GYMNASTIAR dan NINIH.

POLIGAMI sejatinya bukan barang baru. Ia menjadi praktik lazim di masyararat sejak tempo doeloe. Setahu saya, Islam membolehkan laki-laki menikahi empat istri dengan syarat suami mampu bersikap ADIL kepada istri-istrinya. Aturannya sudah gamblang. Lha, buat apa diributkan? Penatlah awak!

Di Surabaya dan Sidoarjo, saya punya banyak teman akrab, yang berpoligami. Istri dua sangat biasa, istri tiga cukup umum, istri empat lumayan banyak. Bahkan, saya pernah mewawancarai laki-laki yang istrinya tujuh. Bukan main!

Gus CHOLIQ, pengasuh Pesantren Baiturrahman di Waru dan Tulangan (Kabupaten Sidoarjo), istrinya empat. Keempatnya rukun-rukun saja. Kalau ada acara di Sidoarjo, empat istri ini ikut. Saling cerita, canda, sibuk... no problem lah. "Imamnya kan saya. Mereka itu istri-istri yang baik. Mereka sangat menghormati saya," kata Gus Choliq yang kerap menggelar atraksi 'alam gaib' di Tanah Air itu.

Di rumahnya yang megah--maklum orang kaya--empat istri punya kamar sendiri-sendiri. Terserah Gus Choliq mau tidur di kamar yang mana. Pengaturan 'giliran' bagaimana, Gus? "Hehehe... biasa-biasa aja tuh. Mereka berempat kan istri saya. Jadi, saya bisa tidur bersama istri yang mana, ya, terserah saya. Nggak masalah," kata kiai yang seniman ini.

Sejauh ini, menurut dia, tidak ada komplain dari para istrinya.

Meski sukses membina rumah tangga dengan empat istri, Gus Choliq mengingatkan masyarakat untuk tidak meniru begitu saja apa yang ia jalani. Sebab, tidak semua laki-laki mampu melakoninya. Bukan sekadar nafkah atau materi, kata Choliq, ada banyak aspek yang perlu dipikirkan. "Panjang kalau kita bahas soal poligami. Yang penting, kita mampu menciptakan keluarga yang sakinah," kata Gus Choliq.

BICARA soal poligami, saya rasa ROZAK (50-an) merupakan laki-laki istimewa di Kota Surabaya. Istrinya bukan empat, melainkan TUJUH. Hebatnya lagi, tujuh istri itu tinggal bersama di dalam satu rumah. Tepatnya di kawasan Jemursari, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Beberapa waktu lalu, saya diantar SANTOSO, seniman yang juga sahabat Rozak, untuk mengobrol santai soal poligami. Bagaimana dia bisa membina rumah tangga dengan tujuh istri selama bertahun-tahun dengan sukses. Di lain pihak, banyak laki-laki yang gagal membina rumah tangga meskipun istrinya hanya satu.

"Wah, biasa saja. Saya rasa tidak ada yang istimewa. Normal saja," kata Rozak menjawab pertanyaan saya.

Pria yang cukup gagah ini tersenyum. Lalu, dia memanggil tiga istrinya ke ruang depan, mengikuti obrolan kami. Hm... manis-manis. Rukun. Duduk berdempetan. Tersipu-sipu. Saya dan Santoso pun bersalaman akrab dengan mereka.

"Istri-istri yang lain ke mana, Pak?" tanya saya.

"Oh, masih kerja. Ada yang menemani anak-anak di luar," jawabnya ramah.

Terus terang, saya terperanjat menyaksikan kenyataan di depan mata. SATU LAKI-LAKI, TUJUH ISTRI, TINGGAL DI SATU RUMAH. Tak ada bentrok atawa perang mulut. Bahkan, ini yang bikin saya tambah kaget, istri-istri itu pun tidur di dalam KAMAR YANG SAMA. Namun, karena kapasitas ranjang tentu tidak cukup untuk delapan orang (Rozak plus tujuh istri), maka hanya tiga istri yang tidur di satu kamar.

Empat istri di kamar lain. Saya pun geleng-eleng kepala, namun takjub, dengan kehebatan Pak Rozak.

Menurut dia, para tetangga, dan siapa pun, pasti terkejut melihat kehidupan rumah tangganya. Punya tujuh istri sekaligus, tinggal satu rumah, satu kamar. Tapi Rozak sendiri menganggapnya biasa-biasa saja, hal yang alamiah belaka.

"Kuncinya di saya sebagai kepala rumah tangga. Ibarat nakhoda, saya harus mengendalikan kapal ini agar bisa berlayar terus dengan selamat," jelas Rozak dengan ramah.

Berkat wibawa dan kepemimpinannya, istri-istrinya hidup rukun. Saling hormat. Tahu hak dan kewajiban. Ibaratnya, mereka tahu job description masing-masing. Itulah yang membuat Rozak bangga dan bahagia hidup bersama mereka.

"Tujuan rumah tangga itu kan kebahagiaan. Kalau saya bahagia, mereka bahagia, ya, sudah. Mau cari apa lagi?" ujar Rozak di rumahnya yang sederhana.

"Bagaimana Rozak mampu menjinakkan begitu banyak perempuan? Pakai ilmu apa?" tanya saya.

Rozak dan tiga istrinya tertawa mendengar pertanyaan 'nakal' saya. "Gak pake ilmu-ilmuan," ujarnya lalu tertawa. SANTOSO, seniman yang sering bikin acara seni rupa di Sidoarjo, pun tertawa ngakak. "Yah, biasa-biasa sajalah. Saya suka dia, saya ajak menikah, dia mau, ya wis," urai Rozak.

Yang jelas, Rozak memang punya kelebihan. Begitu melihat gadis cantik, dan ia berniat mengawininya, maka langsunglah dia bicara. "Kamu cantik, baik, bisa jadi ibu anak-anak saya. Saya mau menikahi kamu," kira-kira begitulah cara Rozak menjinakkan calon istrinya.

Benar saja. Si gadis itu pun tak bisa lain, selain menerima pinangan Rozak.
Persoalan muncul, biasanya, di orang tua si gadis. Mereka keberatan anaknya menikah dengan pria yang sudah beristri, apalagi lebih dari tiga-empat-lima-enam. Si gadis pun diminta ayah-ibunya untuk menolak, setidaknya berpikir berkali-kali. Sebab, risikonya tidak kecil. Lagi pula, apa kata tetangga dan keluarga besar.

Namun, kalau cinta sudah melekat, biasanya si gadis itu tak mungkin lepas dari jeratan asmara Rozak. Melalui rintangan kecil, mereka akhirnya menikah secara resmi. Begitu seterusnya sampai Rozak punya tujuh istri.

"Ada rencana tambah lagi, Pak?" goda saya. Rozak tertawa.

Menurut dia, jodoh itu sudah ditakdirkan Yang Mahakuasa, sehingga manusia tidak bisa melakukan rancangan atau rekayasa apa pun. "Kita serahkan semuanya kepada Dia Yang di Atas," katanya diplomatis.

Selama melakoni hidup beristri tujuh di Surabaya, Rozak harus menjalani gaya hidup yang tidak lazim. Dia pantang makan makanan bernyawa seperti daging, ikan, dan seterusnya. Vegetarian total. Rozak pun pantang makan nasi (beras). Dia hanya boleh makan ubi-ubian alias polo pendhem dan jagung. "Sejak kecil saya sudah melakoni beginian," katanya.

SELAIN piawai 'menjinakkan' wanita, Rozak pun pakar dalam urusan menjinakkan orang gila. Kalau ada orang gila yang seliwar-seliwer di jalan raya, tidak pakai busana, mengamuk, mandi di got... serahkan saja kepada Rozak. Dalam waktu singkat, orang gila itu jinak, akal sehatnya pulih.

Caranya cukup ekstrim. Di tengah malam, dingin, orang-orang gila itu direndam di dalam saluran air di Surabaya yang sangat kotor itu. Mereka dipersilakan menikmati air kotor itu sampai puas. Keluar dari got, Rozak bersama asistennya memberikan terapi-terapi tertentu. Juga ramuan tradisional untuk diminum.

"Atas izin Allah, alhamdulillah, mereka sembuh kembali," kata Rozak seraya memperlihatkan sejumlah foto orang-orang gila yang kini sudah waras lagi.

Syahdan, pada 1980-an di Surabaya banyak orang gila yang hilir-mudik di jalan raya. Dinas Sosial pusing. Polisi bingung. Warga ketakutan. Rozak kemudian digandeng pemkot untuk menyelesaikan masalah sosial nan pelik itu. Ternyata, berhasil.

Saat ini orang gila yang gentayangan di jalan raya atau kampung hampir tidak ada lagi.

07 December 2006

Solomon Tong Doktor HC


Solomon Tong bersama Maya Hasan, harpis terkenal usai konser bersama SSO di Surabaya, beberapa waktu lalu.



SELASA, 5 DESEMBER 2006, saya main-main ke SURABAYA SYMPHONY ORCHESTRA alias SSO. Satu-satunya orkes simfoni di Jawa Timur ini bermarkas di Jalan Gentengkali 15 Surabaya, dipimpin SOLOMON TONG. Lahir di Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939, Solomon Tong merupakan pendiri sekaligus konduktor SSO.

Saya disambut YANTI, staf SSO, dengan keramahan yang khas. "Mau minum apa? Coca Cola? Sprite?" tanya wanita Surabaya yang kawin dengan pria Nusa Tenggara Barat ini.

"Terserah lah," jawab saya.

"Waduh, Coca Cola habis. Sprite juga habis. Air putih sajalah."

"Oke. Air putih justru bagus untuk kesehatan."

Beberapa saat kemudian Solomon Tong datang. Saya menyalaminya, basa-basi sejenak, lalu ngobrol santai ditemani YANTI dan MIMIN, staf SSO yang sudah saya kenal baik. "Ini ada pisang enak," kata Solomon Tong sembari memperlihatkan pisang kepok. Hm... besar dan segar. Saya menikmati pisang itu dengan lahap, maklum belum makan.

Lalu, mulai berbincang tentang konser Natal SSO yang diadakan di Hotel JW Marriott Surabaya pada 13 Desember 2006, hari Rabu. Tema konser: GOLDEN CHRISTMAS CONCERT atawa konser emas. "Sebab, ini merupakan penampilan SSO ke-50. jadi, namanya konser emas. Golden concert," ujar Solomon Tong yang juga menikmati pisang kepok.

Konser ke-50 ini sekaligus menandai tahun ke-10 usia Surabaya Symphony Orchestra yang didirikan pada 1996 dengan susah payah oleh SOLOMON TONG bersama SUWADJI WIDJAJA (pengusaha) dan RUDY SETIAWAN (pengusaha).

Program konser, seperti biasa, menampilkan nomor-nomor khas Natal, opera, serta simfoni klasik. Di antaranya, Le Nozze di Figaro, La Clemenza di Tito, Die Zauberflote karya Mozart. Dari Pucini ada La Boheme. Juga Phantom of Opera dari Weber.

Seperti biasa juga, PAULINE POEGOEH, soprano sekaligus guru vokal andalan SSO, menjadi primadona dalam urusan opera. Vokalnya dahsyat, pemahamannya pada seni suara klasik Barat jauh di atas rata-rata penyanyi Indonesia. Juga ada beberapa juara lomba vokal Mozart versi SSO macam LINDA HARTONO (juara I dewasa), DODY SOETANTO (juara 2 dewasa), serta Audrey Azarine (juara 2 anak-anak).

GAVIOTA HARTONO, violinis muda, membawakan Concerto for Violin in B-flat major Kv 207 karya Wolfgang Amadeus Mozart. Saya juga melihat nama AGUS P. SIMORANGKIR, kepala divisi regional V Telkom Jawa Timur sebagai konduktor tamu. Apa benar bekas manajer Persebaya itu jadi konduktor? Apa bisa?

"Oh, dia hanya memimpin lagu untuk kebaktian," ujar Solomon Tong seraya tersenyum. "Kalau sekadar jadi dirigen untuk kebaktian kan gampang."

MEMELIHARA eksistensi orkes simfoni selama 10 tahun, dengan konser rutin, pemain tetap, di Indonesia, bukan perkara gampang. 10 tahun 50 konser! Artinya, satu tahun lima konser.

Di awal berdirinya SSO, Tong diingatkan salah satu dedengkot radio di Surabaya, ERROL JONATHANS, bahwa orkes simfoni paling-paling hanya bisa bertahan lima tahun. Setelah itu habis.

Maklum, audiens musik klasik di Surabaya sangat terbatas. Dukungan sponsor kurang. Gedung kesenian atawa concer hall tidak ada. Media massa adem ayem. Namun, Solomon Tong jalan terus dengan idealismenya.

Menurut Tong, konser musik klasik itu hanya berdurasi satu dua jam, tapi persiapannya ratusan jam. Untuk konser bulan Desember 2006, misalnya, Tong sudah melakukan persiapan sejak Januari 2006. Susun program, orkestra, hingga pesan tempat di hotel sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. "Kami berusaha profesional, tidak amatiran," ujar suami ESTHER KARLINA MAGAWE (pianis dan guru musik SSO) itu.

Biaya operasional per bulan Rp 25 juta, ditanggung anggota Yayasan SSO yang jumlahnya sembilan orang. Biaya GOLDEN CHRISTMAS CONCERT ini mencapai Rp 250-Rp 300 juta. Sementara tiket yang terjual, rata-rata seribu penonton, tak sanggup menutup separuh saja biaya konser. "Soalnya, banyak yang tidak bayar," papar Solomong Tong.

Tiket konser SSO bervariasi mulai Rp 100 ribu, Rp 150 ribu, hingga Rp 350 ribu. Sulit menaikkan harga karena kemampuan rata-rata warga Surabaya berada di kisaran ini. Karena itu, Tong mengaku selalu rugi sekitar Rp 100 juta setiap kali mengadakan konser.

Lalu, dari mana duit untuk menutupi defisit anggaran? Tong, yang juga pendiri beberapa gereja mandarin di Surabaya ini, menjawab diplomatis ala pendeta. "Uangnya dari Tuhan. Kami punya moto: WE ARE NOTHING BUT WE HAVE SOMETHING," ujar kakak kandung Pendeta Dr STEPHEN TONG dan Pendeta JOSEPH TONG itu.

"Something itu apa? Jawabnya FAITH, iman."

Berbekal iman yang teguh, FAITH, terbukti selama 10 tahun SSO mampu menggelar konser secara teratur di Kota Surabaya. SSO pun menjadi ikon musik klasik di kota terbesar kedua di Indonesia itu.

Saat dirikan pada 1996, Tong dan kawan-kawan menanamkan misi pendidikan dan budaya musik klasik di Surabaya. Ingin menjadikan Surabaya sebagai 'kota berbudaya' melalui musik klasik. Bukankah kota-kota besar di dunia senantiasa punya orkes simfoni? Tiongkok, misalnya, punya begitu banyak orkestra berkualitas. Sayang, misi mulia ini belum mendapat respons positif dari pemerintah kota.

Toh, di tengah berbagai kendala, Solomon Tong tetap optimis dan bahagia. Dia mengaku mendapat kepuasan mendalam. Apalagi, setelah beberapa siswa SSO mendapat prestasi yang diakui masyarakat musik nasional. Setidaknya tiga murid SSO tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) di bidang piano, biola, dan vokal. Ada lagi yang diterima di konservatorium di Amerika, Australia, dan Tiongkok.

"... menurunkan ilmu dan jika ini tercapai, maka kepuasan batin tak ternilaikan dengan materi," kata Solomon Tong.

Kepuasan batin yang lain, personel orkestra menganggap dirinya sebagai ayah, keluarga, sendiri. Dan ini membuat SSO relatif solid sampai sekarang.

DI sela-sela GOLDEN CHRISTMAS CONCERT, Solomon Tong mendapat anugerah doktor kehormatan (honoris causa) di bidang musik dari International Theological Seminary di Los Angeles, Amerika Serikat. Gelar ini terkait dengan dedikasi Solomon Tong di bidang musik selama bertahun-tahun.

Mengajar paduan suara sejak 1957 sampai sekarang, mengajar musik di berbagai lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi. "Jadi, tidak terasa saya sudah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di bidang musik," ujar Tong yang belajar teknik vokal dari LE CLERG VAN HAMMEL pada 1956.

"Sebetulnya sudah lima tahun lalu saya ditawari gelar (doktor HC) itu. Tapi saya rasa belum pantas. Eh, sekarang mereka proses lagi karena board di kampus itu memandang saya memang memenuhi syarat," tegas Tong.

Gelar itu penting, tapi bukan segalanya. Bagi Solomon Tong, ada atau tidak gelar itu, dia bersama pemusik dan manajemen SSO tetap akan menyebarkan musik-musik indah di udara Surabaya yang panas. LET THERE BE MUSIC!

06 December 2006

Sinterkas di Sidoarjo



Saya main-main ke Gereja Salib Suci di kawasan Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Kebetulan ibu-ibu WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia) bikin acara Sinterklas.

Ini memang keunikan gereja yang tak jauh dari Bandara Juanda itu. Di gereja-gereja lain, saya pastikan tidak ada 'tradisi' Sinterklas ala Belanda setiap 5 atau 6 Desember. Paling-paling natalan anak-anak pada 25-26 Desember.

"Kita ingin mengambil hikmah positif dari sosok Sinterklas bagi anak-anak. Maka, acara Sinterklas selalu untuk anak-anak di paroki," ujar BU SUKISNO, anggota WKRI Salib Suci, kepada saya.

[Ada semacam kebiasaan kami di paroki untuk memanggil ibu-ibu dengan nama suaminya. BU SUKISNO atau BU SUKIS karena dia istrinya PAK SUKISNO. Teman kuliah saya, MARGARETA INDAH LESTARI, kini berubah nama menjadi BU BAMBANG. YUSTINA WIGATI jadi Bu NDARU. Saya akui, Gereja Katolik memang masih patriarkis.]

Nah, SINTERKLAS alias SINTERKLAAS, kakek jenggot putih yang baik hati, petang itu, persis 5 Desember 2006, datang di Sidoarjo, tepatnya Wisma Tropodo, Waru. Sekitar 500 anak-anak tampak gembira menyambut sang kakek. Sinterklas pakai jenggot dan kumis putih lebat dengan jubah uskup, lengkap dengan tongkat kebesaran. Ini sesuai dengan cerita klasik versi Eropa, khususnya Belanda.

Syahdan, Sinterklas itu dulunya uskup yang penuh perhatian pada anak-anak.

Sinterklas diiringi dua pengawal setianya, PIET HITAM, membawa karung dan sapu lidi. Badannya hitam legam bak pantat wajan. Anak-anak nakal diancam akan dimasukkan ke dalam karung atau dikasih 'pelajaran' dengan sapu lidi. Tapi tidak dibanting ala smack down di televisi.

Kontan saja, begitu SINTERKLAS dan PIET HITAM masuk Balai Paroki, anak-anak berteriak histeris. Beberapa anak balita menjerit ketakutan ketika hendak disentuh si Piet Hitam.

"Tidak usah takut, anak-anak. Piet Hitam itu baik hati. Kalau anak-anak tidak nakal, ikut nasihat orang tua, Piet Hitam akan kasih kamu orang hadiah," sapa SINTERKLAS dalam bahasa Indonesia logat 'londo'.

Lantas, anak-anak yang duduk lesehan bernyanyi dan berjoget bersama Sinterklas dan Piet Hitam. Suasana pun mencair. Anak-anak yang tadinya takut, kini ramai-ramai mendekati Sinterklas untuk minta hadiah.

"Sabar, sabar, sabar... semua akan dapay bagian. Kakek Sinterklas tahu kalau kalian semua anak-anak baik, tidak nakal," ujar Sinterklas yang diperankan aktivis mudika setempat.

Acara Sinterklas di Sidoarjo ini berbeda dengan SANTA CLAUS, juga kakek jengot putih, di mal, plasa, atau pusat perbelanjaan. Pesta di Waru ini ni jauh dari kesan komersial. Sebab, ibu-ibu WKRI mengajak sekitar 30 anak yatim dari Panti Asuhan Bhakti Luhur (Tropodo) untuk bergembira bersama teman-temannya.

"Anak-anak Bhakti Luhur itu latar belakangnya macam-macam. Ada yang ditemukan di pinggir jalan, diserahkan orang tuanya, singkatnya manusia yang selama ini disingkirkan dari masyarakat," kata BU SUKIS alias Maria Margareta Sukisno itu.

Sambil menikmati hiburan bersama Sinterklas dan Piet Hitam, para orang tua secara spontan mengumpulkan sumbangan sukarela untuk anak-anak yatim. Ibu-ibu WKRI juga menyerahkan paket khusus kepada anak-anak yatim. "Ini hanya pancingan. Kita mengajak semua umat untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tidak beruntung," jelas Bu Sukis.

Acara gembira bersama Sinterklas dan Piet Hitam selama dua jam lebih itu pun berakhir. Saya dan ibu-ibu di balai paroki pun diingatkan bahwa Natal akan segera tiba. Siapkah hati, siapkan jiwa! Mengutip Injil Markus 1:3:

"... Get the road ready for the Lord. Make a straight path for him to travel."

04 December 2006

Maria Eva... Kecian deh loe


KAMIS, 30 November 2006, beredar video berisi adegan panas MARIA EVA dengan YAHYA ZAINI, anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Rekaman pendek, hanya 42 detik, ini langsung menjadi isu nasional. Politikus bicara. Infotainmen riuh. Koran-koran berlomba mengemas informasi ini. Heboh!

Saya kebetulan mengenal MARIA ULFAH, nama asli wanita kelahiran Sidoarjo 21 Februari 1979, meski tidak terlalu dekat. MARRY, begitu sapaan akrabnya, sempat bikin album Pelangi Senja yang semua lagunya karya A Malik BZ. Abah Malik, sapaan akrab pencipta lagu legendaris Keagungan Tuhan, sejak awal menempa vokal si Maria Eva agar bisa membawakan lagu pop-melayu.

"Marry itu susah di cengkok. Dia itu kan basic-nya pop, bukan dangdut. Jadi, paling pol albumnya ya, pop dangdut," ujar A Malik Bz kepada saya di rumahnya, Jalan Flamboyan II/21 Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Maria Eva dan keluarganya yang mendanai pembuatan album pertama yang akhirnya melahirkan hit PELANGI SENJA dan BIAS BESTARI. "Saya dapat royalti sekitar Rp 7 juta, dan itu cukup besar untuk ukuran artis pendatang baru. Jadi, bisa dibilang albumnya si Marry ini meledak," kata A Malik Bz saat saya temui lagi pada 2 Desember 2006 lalu.

Maria Eva terlambat start jadi penyanyi rekaman karena usianya sudah tidak tergolong muda untuk biduan perempuan. Andai dia mulai sekitar usia 17, 18, hasilnya akan lain. Tapi bisa dipahami karena Maria ini sangat aktif di Dewan Pimpinan Pusat Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) sebagai wakil bendahara. Dia pun ikut kampanye, jadi jurkam Golkar. Di situlah Maria Eva bertemu dan berkenalan dengan Yahya Zaini, politikus Partai Golkar, sesama jurkam.

Nah, saat merilis album PELANGI SENJA inilah saya kenal Maria Eva. Sebagai wartawan di wilayah liputan Kabupaten Sidoarjo, saya kerap dikontak manajernya, YAZIR MALIK, untuk ikut 'mengangkat' artisnya. "Anaknya cantik, asli Sidoarjo, kelas menengah-atas. Pendidikan oke," ujar Yazir berpromosi.

Saya kemudian diberi kaset serta kaos hitam yang ada tulisan Maria Eva, Pelangi Senja. "Kita baru launching di Hotel Borobudur Jakarta, karena album Marry ini kita arahkan untuk pasar menengah ke atas," kata Yazir yang kini tidak lagi menangani manajemen Maria Eva.

Saat wawancara, Maria Eva tidak pernah cerita tentang kehidupan pribadinya. Suaminya siapa, anaknya berapa, pacarnya... bahkan umur tidak pernah diceritakan. Kalaupun ditanya wartawan, Maria suka menghindar. "Kita bahas album saya sajalah biar lebih dikenal," katanya ramah.

Sebelum Lebaran, saya pun diundang Maria Eva ke Masjid Muhammadiyah di Jalan Mojopahit Sidoarjo. Dia bikin acara penyerahan paket bingkisan untuk anak-anak yatim. Ada tiga yayasan yang kebagian rezeki dari Maria. "Maunya sih lebih banyak, tapi mampunya hanya ini," kata Maria kepada saya dan teman-teman wartawan.

Menjelang buka puasa, Maria Eva dengan bangga mengatakan bahwa sekarang dia sudah berstatus hajah. Baru saja menunaikan ibadah haji bersama ayah ibunya. Dan ini merupakan babak baru dalam kehidupan Maria Eva.

"Saya membuka lembaran baru. Saya harus bisa tampil lebih sopan ketimbang sebelumnya. Masa, hajah goyangannya hot," ujar Maria lalu tertawa kecil. Kebetulan waktu itu dia sedang mempersiapkan tur di beberapa kota Jawa Timur.

Sejak jadi hajah, dia pun aktif di pengajian. Ibadah lebih banyak. Khusyuk. Ungkapan-ungkapannya lebih islami. Baksos di masjid. Eh, menjelang akhir tahun 2006 kita dikejutkan oleh berita skandal seksnya dengan Yahya Zaini, si wakil rakyat. Kok bisa begitu?

Kepada seorang teman dekatnya di Jakarta, Maria Eva menyebutkan bahwa rekamanan hot yang beredar itu hanyalah dari 'cerita lama' dalam kehidupannya. Rekaman diambil sekitar 2004. "Saya tidak punya hubungan lagi dengan YZ. Bahkan, nomor teleponnya pun saya tidak tahu," akunya.

Alumnus Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, ini menduga ada motif-motif politik di balik pengedaran rekaman masa lalunya itu.

Alih-alih membuka bab baru, rekaman itu memaksa Maria Eva untuk membongkar kembali file lama yang ingin dia lupakan. Itu sih penjelasan resmi Maria Eva kepada wartawan. Atau, ada motivasi lain yang belum terungkap?

Kita tunggu saja bab selanjutnya. (*)



TULISAN TERKAIT
Maria Eva penyanyi Sidoarjo.

Dengar permintaan maaf Maria Eva di SCTV.

03 December 2006

Skandal Video Maria Eva-Yahya Zaini


Kamis, 30 November 2006.

Rekaman adegan hubungan asmara di ranjang antara MARIA EVA (27 tahun) dan YAHYA ZAINI (44 tahun) beredar di masyararat. Yahya, ketua Himpunan Mahasiswa Islam periode 1992-1994, dikenal sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Yahya Zaini juga pengurus dewan pimpinan pusat Partai Golongan Karya bidang kerohanian. Tak jelas siapa dalang di balik peredaran video berdurasi 42 detik itu.


Heboh! Politisi bicara. Infotainmen. Koran dan majalah berlomba memberitakan. Maka, tiba-tiba nama MARIA EVA yang sebelumnya kurang dikenal, alias penyanyi dangdut sedang-sedang saja, tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Maria Eva siapa? Maria Eva yang mana? Penyanyi asal Sidoarjo itu mengaku ngumpet di apartemen di Jakarta untuk menghindari wartawan.

"Saya stres. Untuk sementara, saya tidak bicara apa-apa," ujar Maria kepada teman-teman wartawan di Surabaya.

"Kalau ada yang tanya kasus saya, silakan hubungi RUHUT SITOMPUL, pengacara saya. Thank you," begitu bunyi pesan pendek (SMS) Maria Eva, Minggu (3/12/2006).

Senin, 4 Desember 2006, Maria Eva bikin kejutan.

Didampingi RUHUT SITOMPUL, dia bikin jumpa pers tentang skandal video pribadi yang menghancurkan karier politik Yahya Zaini itu. Intinya, MARIA ULFAH, nama sebenarnya, mengakui bahwa pelakon dalam video mesra yang beredar luas itu memang benar dirinya dan Yahya Zaini. Adegan itu dilakukan sekitar 2004 ketika keduanya sedang mabuk asmara.

"Itu love story kami," katanya.

Kata almarhum Gombloh, penyanyi terkenal asal Surabaya, kalau cinta sudah melekat tahi kucing rasanya cokelat! Nah, Maria-Yahya bahkan berhubungan khusus selama empat tahun, sejak kampanye pemilu 2004. Affair ini akhirnya diketahui oleh istri Yahya, SHARMILLA.

"Kami saling cinta. Kak Yahya sayang banget sama saya," kata pelantun PELANGI SENJA itu. Bahkan, album pertamanya, PELANGI SENJA, dibiayai oleh Yahya Zaini. Hubungan mereka sangat mesra, namun tidak sampai menikah. Yang mengejutkan, Maria Eva mengaku mengugurkan janin hasil hubungannya dengan Yahya Zaini.

"Saya diantar Kak Yahya ke dokter (untuk aborsi)," akunya.

Nyonya Yahya Zaini, tutur Maria, ikut memantau, memastikan bahwa janin itu benar-benar sudah digugurkan. Lalu... hubungan mereka putus. "Nomor teleponnya saja saya nggak tahu," kata Maria Eva yang juga tanpa malu-malu membeberkan kisah gelapnya di televisi.

KASIHAN ORANG TUANYA

Kamis, 30 November 2006, rumah mungil di perkampungan padat penghuni, Jalan Kombes M Duriyat Gang 1 Nomor 15 A, Sidoarjo, yang asri berkali-kali didatangi wartawan. Apalagi, letaknya hanya sekitar 50 meter dari Balai Wartawan Sidoarjo.

Wartawan ingin minta komentar kedua orang tua Maria Eva, AMIR FAISAL dan SRI SUNDARI. Yah, itu memang rumah Maria Eva di kampung halamannya, Sidoarjo, sekitar 15 kilometer dari Kota Surabaya.

Di pelataran rumah, terparkir mobil Honda Jazz merah W 2994 FY. Rumah di Dusun Balong RT 2/RW 1, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Sidoarjo, ini tak asing lagi di kalangan warga Sidoarjo. Apalagi, baik orang tua maupun Maria Eva cukup dikenal berkat aktivitasnya di masyarakat.

"Maaf Mas, saat ini Bapak tidak ada di rumah," ujar NURYATI, wanita asal Malang, yang bekerja sebagai pembantu di keluarga Maria Eva. "Saya tidak tahu kapan beliau akan pulang. Karena beliau tidak mengatakan kapan balik ke Sidoarjo," imbuhnya.

Menurut Nuryati, sejak Sabtu (2/12/2006) malam AMIR FAISAL dan SRI SUNDARI mengungsi ke rumah kerabatnya di Gempol, Kabupaten Pasuruan. Mengungsi bukan karena semburan lumpur di Porong, melainkan gara-gara pemberitaan yang luar biasa seputar kehidupan pribadi putrinya. Maria Eva sendiri sebelumnya telah menelepon ayah ibunya.

"Gak usah direkenlah. Nanti juga hilang sendiri," begitu antara lain kata-kata Maria Eva.

"Bapak dan Ibu tidak percaya dengan video itu. Saya juga ndak percaya kalau Mbak Eva seperti itu," tandas NURYATI yang baru bekerja sebagai pembantu sejak Lebaran 2006 lalu.

Bagaimana reaksi orang tua Maria Eva? Nuryati bilang, sebagai orang tua, mereka tentu sangat sedih. Dan kesedihan mereka semakin terasa saat melihat acara infotainmen yang membahas video cinta Maria Eva-Yahya Zaini. "Setiap habis lihat infotainmen yang ada berita Mbak Eva, Ibu (Sri Sundari) langsung melamun," tutur Nuryati.

KASIHAN ANAKNYA

Di Sidoarjo, MARIA EVA punya anak semata wayang, namanya GEPENG (nama dan sekolah sengaja disamarkan, sesuai dengan ketentuan KODE ETIK JURNALISTIK). Bocah tampan ini kelas lima sebuah sekolah dasar negeri favorit di dalam kota Sidoarjo. GEPENG luwes, pandai bergaul, banyak teman. Usai sekolah, teman-temannya biasa datang main play station di rumahnya.

Kasihan si Gepeng. Gara-gara ibunya diberitakan besar-besaran di media massa, Gepeng memilih tidak masuk sekolah alias bolos sejak awal Desember 2006. "Saya tidak lihat orangnya. Biasanya, tiap hari ramai anak-anak. Bagaimanapun juga dia ikut merasa prihatin dengan kasus ibunya. Anak kelas lima SD kan sudah besar," kata Eddy, tetangga yang juga masih kerabat keluarga Maria Eva.

Informasi yang diterima WAHYU SETYA DARMAWAN, wartawan RADAR SURABAYA, Maria Eva pernah menikah dua kali. Kedua-duanya dengan pengusaha Tionghoa. Pernikahan pertama hanya berumur sekitar satu tahun saja. Pernikahan kedua pun tidak bertahan lama. Si Gepeng, bocah kelas lima SDN favorit ini, buah pernikahan kedua.

"Kalau soal itu (pernikahan dan kehidupan pribadi) sebaiknya Anda tanya langsung ke dia (Maria Eva). Kami nggak bisa bicara banyak soal itu," tegas Amir Faisal, ayahanda Maria Eva.

Di Gedung Lembaga Sensor Film di Jakarta, Maria Eva sempat bicara tentang keinginannya menikah lagi dengan pria yang bertanggung jawab. "Saya ingin punya suami yang bertanggung jawab. Yah, kayak Bang Ruhut inilah," kata Maria Eva.

"Mati aku, Tante!" sahut Ruhut Sitompul yang mendampingi Maria Eva.

Hehehe.... Puluhan reporter tertawa terbahak-bahak.