19 June 2005

Helloween Dahsyat di Surabaya

Dahsyat! Ini kata yang pas untuk menyebut koser Helloween, band beraliran speed-power metal asal Hamburg, Jerman, di Stadion Tambaksari, Surabaya, belum lama ini. Tak rugi, ribuan masyarakat metal bersabar selama 50 menit lebih bagi kru Helloween untuk mempersiapkan sound system, instumen musik, dan berbagai peralatatan panggung.

Penonton puas.

Penantian sekian lama--setelah Power Metal dan Jamrud, band pembuka, tampil kurang percaya diri--dibayar lunas oleh Helloween. Bahkan, Andi Deris dan kawan-kawan memberikan bonus (encore) berupa tambahan dua lagu. Pukul 24.00 WIB, pecinta musik
metal masih terpaku di stadion. Tak percaya kalau pergelaran Helloween telah usai.

Panitia pun, rupanya, terbius hebat sehingga terlambat menyalakan kembang api sebagai pengakhir konser.

“Nggak rugi saya datang jauh-jauh dari Porong (Sidoarjo),” ujar Rosyid kepada saya.

Namun, di balik superioritas Helloween, dua band kita, Power Metal dan Jamrud benar-benar tenggelam. Mereka tampak kalah segalanya bila disandingkan dengan Helloween,
yang nota bene band metal idola mereka.

Seperti dalam album live-nya, konser dibuka dengan Walls of Jericho, sebuah instrumen yang dipetik dari lagu anak-anak di Barat, London Bridge is Falling Down. Pelan saja, dan terkesan main-main.

Tak sampai dua menit, penonton langsung diberondong dengan Starlight, komposisi bertempo sangat cepat, keras, nada-nada tinggi dari album Helloween generasi pertama. Komposisi khas Helloween ini memang penting untuk mempertegas jatidiri band yang sudah gonta-ganti personel hampir 10 kali itu.

Dari komposisi Helloween Era I (Ingo Schwichtenburg, Michael Weikath, Markus Grosskopf, Kai Hansen), vokalis Andi Deris yang baru masuk Helloween tahun 1994 (grup ini dibentuk Kai Hansen, 1984, di Hamburg) kemudian mengajak penonton menikmati nomor-nomor belakangan. Termasuk lagu di album Chameleon (1993) yang sedikit menyimpang dari karakter Helloween.

“Tahun ini kami mau bikin album baru. Album ini juga diproduksi di Indonesia, sehingga Anda bisa membeli dengan harga murah. Saya akan nyanyikan satu lagu
andalan kami,” ujar Andi Deris, sang vokalis yang sangat komunikatif di panggung.

“Penciptanya Sascha Gerstner. Orang ini tingginya dua meter, wah,” tukas Andi seraya menggoda Sascha, sang gitaris.

(Malam itu Sascha dan Michael Weikath berkali-kali memukau penonton dalam solo gitar nan ciamik.)

Dan meluncurlah Open Your Life, nomor cantik yang indah dan keras, namun temponya sedang-sedang saja. Meski belum tahu lagunya, ribuan penonton tampak sangat menikmati.

Tambaksari benar-benar heboh ketika Weikath, satu-satunya personel Helloween 1984 yang masih tersisa, memainkan intro Future Word yang sangat terkenal di Jawa Timur. Penonton meringankan tugas Andi Deris dengan bernyanyi ramai-ramai.

If you're out there all alone.
And you don't know where to go to.
Come and take a trip with me to...
Future World!


Rasanya tak ada penggemar musik rock, apalagi metal, di Indonesia yang tidak
tahu lagu karya Kai Hansen itu.

“Fantastic! I don’t believe it!” ujar Andi Deris, vokalis kelahiran 18 Agustus 1954 ini. “Thanks. Anda pernah dengar dokter gila? He-he...,” pancing Andi.

“Dr Stein! Dr Stein!” teriak penonton.

Tanpa buang waktu, meluncurlah hits lama Helloween ketika masih diperkuat Hansen ini.
Disusul dengan hits lainnya, Eagle Fly Free. “Lagu tadi tentang seorang gadis cantik.”

Kehebatan Andi Deris berkomunikasi, juga bercanda, dengan ribuan penonton terlihat dalam lagu Power, lagi hits dalam album The Time of The Oath (1996). Di bagian refrein yang ada seruan Oooo... Oooooo, Andi dengan telaten memimpin ‘paduan suara’ ribuan orang. Diawali dari bagian belakang kanan-kiri, tengah, lalu depan kanan-kiri, lalu bersama-sama. Berkali-kali, Andi Deris mengucapkan kata ‘fantastic’ karena
ternyata penonton sangat menguasai komposisi-komposisi Helloween.

Formasi Helloween di Surabaya (kemudian Jogja dan Jakarta) adalah Sascha Gerstner (gitar), Markus Grosskopf (bas), Andi Deris (vokal), Michael Weikath (gitar), Stefan Schwarzmann (drum). Mereka dibantu pemain tambahan di keyboards.

Grup asal Hamburg ini, meski tak diperkuat oleh pendiri dan pentolannya seperti Kai Hansen (gitar, vokal) dan Michael Kiske (vokal), Helloween tetap eksis, bahkan makin keren.

Kemampuan vokal Andi Deris sangat prima, stamina terjaga, meski usianya sudah mendekati 50 tahun. Beda sekali dengan vokalis kita yang cepat loyo kendati masih muda. Kecepatan, ketrampilan, harmonisasi musik mereka pun konsisten.

Titik lemah konser Helloween di Surabaya ada di tangan panitia. Seharusnya band pendamping cukup satu, Jamrud atau Power Metal. Kejadian di Tambaksari bisa merusak citra Jamrud sebagai grup papan atas Indonesia. Jadwal yang ketat membuat posisi
Jamrud serba salah. Baru menyanyikan beberapa hits, penonton sudah tak sabar melihat Helloween.

Apa boleh buat, Jamrud dan Power Metal harus rela menjadi tumbal kebesaran Helloween.

18 June 2005

Derita Akibat Eksploitasi Lapindo



Unjuk rasa warga terhadap proyek gas PT Lapindo sudah menjadi pola umum di Sidoarjo. Harap maklum, keberadaan Lapindo Brantas di Kabupaten Sidoarjo kurang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Sidoarjo kaya mendadak karena gas bumi? Ah, itu gosip murahan. Sidoarjo memang kaya dengan gas bumi--termasuk sentra utama gas bumi di Jawa Timur--tapi tidak serta-merta kekayaan itu berimbas pada rakyat di lokasi sumur gas.

"Lapindonya yang kaya, rakyat tetap miskin," begitu kata-kata warga di kampung gas alam, kawasan Porong dan Krembung.

Karena itu, aksi unjuk rasa seperti di Lajuk, Wunut, Candi Pari, Kedungboto, dianggap sebagai hal yang pantas. Masyarakat bergerak karena rasa keadilannya terusik.

"Kalau ngak ada unjuk rasa, Lapindo Brantas tidak akan memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar," ujar Syaiful, warga Desa Candi Pari, Porong, dalam percakapan khusus dengan saya di Sidoarjo.

Menurut dia, sejak mulai beroperasi di Kabupaten Sidoarjo, perusahaan gas alam ini kurang memberikan perhatian kepada masyarakat. Karena itu, aksi unjuk rasa seperti di Lajuk sudah berkali-kali terjadi. Di Wunut, Candi Pari, Kedungboto, dan sekitarnya, demonstrasi memprotes kebijakan Lapindo Brantas sudah sangat sering.

"Pokoknya, di mana ada Lapindo pasti unjuk rasa. Manajemennya tidak peka sih," kata sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya ini.

Seharusnya, manajemen Lapindo belajar, mengambil hikmah, dari kasus eksploitasi sumur gas di Wunut, Kedungboto, dan sekitarnya sebelum menggali sumur baru di Kabupaten Sidoarjo. "Akibatnya, ya, demo terus-menerus."

Di mata warga yang kampungnya dieksploitasi Lapindo Brantas, investasi perusahaan gas alam ini tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kenapa? Perusahaan ini tidak menyerap tenaga kerja seperti pabrik-pabrik besar di Sidoarjo. Praktis, yang bekerja di sumur hanyalah tenaga-tenaga khusus karena memerlukan ketrampilan sangat khusus.

Warga sekitar, kata Syaiful, paling-paling hanya bisa berjualan di sekitar sumur. "Berapa orang sih yang bisa berjualan di sana?"  Di pihak lain, polusi udara, debu beterbangan, polusi suara, terus-menerus dialami masyarakat.

Celakanya lagi, program pengembangan masyarakat (community development programme) ala PT Lapindo Brantas dinilai setengah hati. Jalan raya di Candi Pari, Wunut, hingga Kedungboto, memang diperbaiki, tapi tidak maksimal. Tiang listrik desa pun jauh di bawah standar PLN.

"Saya sebagai warga Candi Pari sudah lama gak sreg dengan programnya Lapindo. Tiang listrik kayak begitu, kalau kena angin kencang, bisa ambruk," Syaiful menandaskan.

Keluhan tak hanya datang dari warga di lokasi sumur gas Lapindo. Pemkab Sidoarjo pun diam-diam memprotes dana bagi hasil pertambangan tahun 2004 yang hanya Rp 45 juta. Empat puluh lima juta per tahun!

"Anda bayangkan, sekian banyak sumur gas di Kabupaten Sidoarjo hanya menghasilkan uang Rp 45 juta per tahun. Uang segitu buat apa? Sementara dampak yang dirasakan masyarakat luar biasa," ujar Syaiful.

Manajemen Lapindo dalam beberapa kesempatan menyatakan, ketentuan bagi hasil dan sebagainya sudah diatur dalam undang-undang khusus yang berlaku secara nasional. Menurut ketentuan UU itu, hasil eksploitasi gas alam diserahkan sepenuhnya ke kas negara di Jakarta. Berapa yang dikembalikan ke daerah asal tergantung kebijakan pemerintah pusat.

Selain kontribusinya yang sangat rendah pada masyarakat sekitar sumur gas, dan Kabupaten Sidoarjo umumnya, PT Lapindo Brantas dikhawatirkan merusak lingkungan. Warga mengaku sudah terjadi perubahan iklim sejak tiga tahun terakhir ini.


"TERUS terang saja, sekarang suhu di kampung saya, Candi Pari, panas banget. Tinggal di sana nggak kayak waktu saya kecil dulu," ujar Ipul, pemuda kampung Candi Pari, kepada saya.

Kampung Candi Pari sendiri ditempati tiga sumur gas milik PT Lapindo Brantas. Sumur yang disebut-sebut paling kaya gas alamnya dibandingkan sumur-sumur lain.

Ipul dan warga Candi Pari lainnya mengaku perubahan cuaca yang cukup ekstrem ini paling terasa sejak satu tahun terakhir. Dulu kawasan Wunut, Candi Pari, Kedungboto, sangat sejuk karena banyak pepohonan, tanaman di sawah, maupun perkebunan tebu. Sampai sekarang pun tanaman-tanaman, termasuk hutam bambu, masih ada. Tapi, ya, itu tadi suhu udara terasa panas.

Bagi warga semacam Ipul ini, biang kerok perubahan iklim lokal itu jelas karena eksploitasi gas bumi yang sangat intensif oleh Lapindo. Bayangkan, selama 24 jam perusahaan yang bermarkas di Desa Kedungboto, Porong, itu beroperasi untuk mengolah gas yang disedot dari berbagai sumur di Porong dan sekitarnya. 'Api abadi' terus memancar di kawasan Candi Pari dan sekitarnya.

"Jelas saja panas. Wong blower-nya saja sebesar rumah," ujar Ipul yang mengaku sudah lama kurang sreg melihat kehadiran PT Lapindo Brantas.

Perusahaan ini, kata Ipul, tidak pernah melakukan komunikasi yang intensif dengan warga. Kontribusinya begitu kecil, sementara dampak lingkungan sangat besar.

Ini baru tiga tahun. Bagaimana kalau beroperasi 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun? Warga Candi Pari dan sekitarnya mengaku tak bisa membayangkan perubahan suhu seperti apa yang terjadi di sana. Masih berdasar pengalaman empiris, warga juga mengaku curah hujan di sana pun sangat kurang.

"Kita bicara apa adanya. Orang tua, kakek, nenek saya orang Candi Pari, jadi saya tahu benar kondisi alam dan iklim di kampung saya. Anda bisa saja tidak percaya, tapi memang hujan sekarang nggak kayak dulu. Warga bolak-balik sambat," kata Ipul.

Berkurangnya curah hujan--bisa dibuktikan pada musim hujan tahun 2004 ini--ada dua penjelasan versi warga. Pertama, warga menuduh banyak pawang hujan yang dilibatkan dalam proyek gas raksasa di Sidoarjo itu. Sistem operasi ala Lapindo, kata warga, menuntut cuaca yang senantisa cerah. Karena itu, secara tradisional kemungkinan besar pawang hujan dipekerjakan secara aktif.

"Kedengarannya nggak ilmiah, tapi warga di sekitar kompleks Lapindo percaya dengan teori ini. Kayaknya hujan dialihkan ke tempat lain, jangan di lokasi pengolahan gas. Jelas saja kampung-kampung sekitar terkena dampaknya," ujar Ipul seraya tersenyum.

Analisis kedua, yang agak masuk akal, semburan gas panas dari pusat ke udara selama 24 jam sedikit banyak membuat awam mendung sulit berubah jadi hujan. Sebab, 'tolakan' dari semburan gas itu cukup kuat. "Lebih baik lagi kalau ada penelitian ilmiah dari Badan Meteorologi dan Geofisika agar lebih jelas persoalannya," usul beberapa warga Candi Pari.

Ipul dan warga Candi Pari yang kritis juga meminta pemerintah dan DPRD Sidoarjo membela warganya. Selama ini ada kesan bahwa pemkab tidak begitu peduli dengan berbagai dampak lingkungan akibat keberadaan PT Lapindo Brantas di Porong. Pemkab ibarat kura-kura dalam perahu.

"Sudah tahu ada banyak masalah kok diam saja. Di zaman otonomi daerah seharusnya Kabupaten Sidoarjo punya bargaining yang tinggi. Jangan mau didikte terus," Ipul menegaskan.

Selain dampak lingkungan, keberadaan PT Lapindo Brantas secara tak langsung memecah kekompakan warga. Devide et impera! Sesama warga jadi tidak rukun karena perbedaan kepentingan.

Datang saja ke desa-desa di mana ada sumur gas milik PT Lapindo Brantas! Ajak warga, petinggi desa, LSM, bicara seputar kehadiran Lapindo dan dampaknya bagi masyarakat. Hampir pasti keterangan mereka berbeda satu sama lain.

Ada yang memuji Lapindo setinggi langit, ada yang objektif, biasa-biasa saja, hingga yang mengecam sesama warga. Aktivis kampung yang pernah saya wawancarai sekitar 10 bulan lalu, kini berubah drastis pandangannya. Kalau dulu mengecam habis Lapindo, kali ini berubah pikiran. Ia malah meminta saya agar tidak perlu membahas kasus Lapindo.

"Sudahlah. Bicara tentang Lapindo itu nggak akan ada habisnya," kata pria yang enggan ditulis namanya itu.

Menurut Muhammad Syaiful, begitulah kondisi objektif di Desa Wunut, Candi Pari, Kedungboto, dan sekitarnya. Ada semacam pola yang terus berulang di lokasi sumur Lapindo. Mula-mula unjuk rasa ramai-ramai, bicara keras, setelah itu dilakukan diplomasi diam-diam. Petinggi kampung macam kepala desa, BPD, tokoh masyarakat, praktis tidak bisa banyak bicara tentang Lapindo.

"Kalau ditanya, jawabannya pasti bagus, bagus, bagus. Mereka sepertinya lupa bahwa warganya setiap hari menerima dampak keberadaan Lapindo. Ada apa di balik itu, ya, silakan dinilai sendiri," kata Syaiful seraya tertawa kecil.

Jangan heran, lanjut dia, masyarakat Candi Pari dan sekitarnya tidak begitu percaya pada petinggi desanya. "Dan orang-orang Lapindo sangat piawai untuk mendekati tokoh-tokoh berpengaruh di desa."

Banyaknya kepentingan yang 'bermain' dalam kasus Lapindo Brantas, khususnya elite desa, sering kali membuat warga awam terkesan hanya dimanfaatkan untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position).

Contohnya, kasus unjuk rasa warga Lajuk yang memprotes sumur Wunut-12 dua pekan lalu. Ketika saya meminta informasi seputar kasus unjuk rasa, tuntutan, kronologi, dan seterusnya, praktis tak ada warga yang bisa menjawab. Padahal, sehari sebelumnya mereka ramai-ramai turun ke jalan untuk unjuk rasa.

Kalau mau jujur, diam-diam sejumlah pejabat dan anggota legislatif Sidoarjo tidak puas dengan Lapindo. Pasalnya, perusahaan milik BP-Migas ini merasa dilindungi konstitusi dan undang-undang untuk mengeruk gas bumi sepanjang di wilayah Republik Indonesia.

"Bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di dalamnya dikuasai oleh negara....," begitu kira-kira amanat konstitusi.

UU Otonomi Daerah yang berlaku sejak 2001 rupanya mengecualikan bidang pertambangan umum. Lapindo ini mirip Bandara Juanda yang, meski beroperasi di Kabupaten Sidoarjo, tidak banyak memberikan kontribusi untuk Sidoarjo. Penyerapan lapangan kerja sangat sedikit. Pekerja proyek, kotraktor, semuanya dari luar daerah.

Belum lama ini, ketika anak-anak muda Sidoarjo menggelar pemilihan duta wisata (Guk dan Yuk Sidoarjo), panitia sempat meminta bantuan sponsorhip dari PT Lapindo Brantas. Sadar bahwa manajemen Lapindo di Sidoarjo sulit 'ditembus', panitia meminta bantuan pejabat teras Sidoarjo untuk menelepon langsung manajemen.

Apa jawabannya?

"Silakan berhubungan langsung dengan BP-Migas," ujar Dicky Hermawan, ketua Paguyuban Guk dan Yuk Sidoarjo (PGYS), kesal. Asal tahu saja, kantor pusat BP-Migas berada di luar Sidoarjo. Bagi Dicky dan kawan-kawan, jawaban manajemen Lapindo ini sama identik dengan penolakan halus.

14 June 2005

Jazz masuk kampus di Surabaya

Konser jazz keliling kampus bertajuk 'Surabaya Jazz to Campus II' berakhir Jumat (1/4/2005) dinihari di halaman kampus UPN Veteran, kawasan Gunung Anyar, Surabaya. Meski tak seheboh konser band pop ala Peterpan, Padi, Dewa, dan sejenisnya, program jazz masuk kampus ini memberi ruang apresiasi musik jazz bagi generasi muda di Surabaya.

Cuaca malam Jumat (31/5/2005) di halaman kampus UPN Veteran Surabaya sejak awal memang kurang 'kondusif' untuk konser di halaman terbuka. Langit gelap, sesekali gerimis. Namun, sekitar 500 anak muda (sebagian besar mahasiswa UPN, ITS, Unair, dan kampus-kampus kawasan Semolowaru) bertahan di lokasi. Hanya beberapa gelintir yang beranjak pulang sore-sore.

"Alhamdulillah, gerimis tapi nggak jadi hujan. Rupanya, program jazz kita direstui," ujar Priyono Suparjan, pengurus C.TwoSix Jazz Club, di sela-sela pergelaran. Klub jazz yang bermarkas di Jl Medokan Ayu Surabaya ini merupakan penggagas acara sekaligus event organizer.

Seperti Surabaya Jazz Goes to Campus I (2004), program ini merupakan ajang pengenalan jazz kepada anak-anak muda, khususnya mahasiswa. Dibuka awal Maret di kampus Ubaya, konser ini digilir setiap pekan di ITS, kemudian ITATS, dan terakhir di UPN Veteran. Rata-rata setiap pergelaran menyedot penonton sekitar 500 hingga 600 orang, termasuk ketika konser di ITATS (24/3) yang bersamaan dengan atraksi Peterpan di Lapangan Brawijaya.

Ada keprihatinan mendalam seputar kehidupan musik jazz di Surabaya. Praktis, sudah tidak ada lagi konser jazz di kampus-kampus seperti tahun 1980-an. Kunjungan grup atau musisi jazz dari luar negeri pun sangat jarang. Padahal, sejak dulu Surabaya dikenal sebagai salah satu barometer musik jazz di Indonesia.

Sebut saja nama-nama dedengkot jazz macam Buby Chen, Olle Pattiselano, Mus Mudjiono, Maryono, hingga Embong Raharjo (alm). Kini, mana ada artis jazz dari Surabaya atau Jawa Timur? Syaharani, penyanyi asal Malang, rupanya muncul ketika blantika musik nasional didominasi oleh band-band pop-rock secara mutlak.

"Nah, kita ingin mengembalikan situasi jazz seperti tahun 1980-an," ujar Priyono seraya tersenyum.

Karena itu, program Jazz Goes to Campus ini lebih terasa sebagai 'sosialisasi' musik jazz di kampus-kampus yang sejak dulu dikenal sebagai pencetak artis-artis jazz. Tentu saja, tidak mudah mengingat anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan Peterpan, Padi, Linkin Park, atau Slank. Dan itu yang sempat terjadi di halaman UPN Veteran malam Jumat (31/3).

Ketika beberapa mahasiswa diminta menyanyikan lagu jazz (apa saja, dan dapat hadiah kaus dari sponsor), mereka menukas, "Lagunya Slank saja. Lagu jazz nggak pernah dengar, Mbak," kata seorang mahasiswa. Yang lain malah minta lagu dangdut. Beberapa band juga lebih banyak membawakan lagu pop seperti Terima Kasih (Joy Tobing, Indonesia Idol).

"Atmosfer sekarang memang beda. Musik jazz makin terpinggirkan, sehingga kita harus mulai sosialisasi dari awal sekali," tambah Roedi Purnama, dedengkot C TwoSix Jazz Club Surabaya.

Di pengujung Jazz Goes to Campus II ini tampil sembilan band, yang tak bisa disebut 'jazz band' murni. Di antaranya, Wave Band, Journey's Band (FKG Unair), Hitam Putih Band, Biru Band, Paddle Band (ITS), Week End Band, Dewaruci Band (UPN).

"Terus terang saja, kami ini baru belajar main jazz. Jadi, harap maklum kalau notnya masih banyak yang salah. Kami tahu di sini banyak dedengkot jazz Surabaya yang menonton," ujar seorang gitaris dari atas panggung.

Yah, namanya juga pengenalan musik jazz, band-band yang tampil empat kali sebulan ini umumnya menampilan nomor-nomor jazz ringan (smooth jazz), acid jazz, fussion, jazz campur hip-hop, hingga jazz sambil ngerap. Nomor-nomor yang pas dengan vocabulary anak muda Surabaya, yang baru mencoba mengenal jazz. Jangan harap ada nomor-nomor jazz standard atau mainstream ala Buby Chen atau Bill Saragih.

"Kita ajak mereka pelan-pelan dengan nomor yang tidak begitu ruwet," tukas Roedi, koordinator C Two Six Jazz Club, yang juga alumnus UPN Veteran.

Maka, malam itu meluncur nomor-nomor seperti Beautiful Journey's, Friends, Sunday Morning, Everlasting Love, hingga Reborn. Kalau tidak ngepop, pilihan sembilan band ini rata-rata nomor rancak ala Cassiopea. Ada juga pop-jazz ringan macam Jangan di Bibir Saja (Iga Mawarni) atau Aku Ini Punya Siapa (Januari Christy). Namanya juga baru belajar jazz, sebagain besar vokalis terpaksa membawa 'buku pintar' karena tak hafal syair lagu. Seorang vokalis bahkan 'enggan' menatap ke depan (penonton) karena konsentrasi penuh di 'buku pintar'.

Terlepas dari beberapa kelemahan itu, beberapa band sudah menunjukkan ketrampilan bermusik jazz dengan baik. Mereka bahkan berani tampil tanpa vokalis alias murni instumentalia seperti Journey's Band. Kendati hanya punya tiga personel, mahasiswa FKG Unair ini tampil menawan. Begitu pula Hitam Putih, Paddle (ITS), serta Week End. Penampilan mereka membuat kita masih optimis dengan masa depan jazz di Surabaya.

Andai saja mereka tekun, konsisten, terus belajar, bukan tak mungkin beberapa di antaranya bakal menjadi penerus seniman jazz di Indonesia. "Misi kita sejak awal sama. Yakni, 'mensepakbolakan jazz' di Surabaya," tegas Priyono. Sebuah misi besar yang menuntut perjuangan keras pula.

11 June 2005

Benyamin Sueb, Legenda Betawi


Oleh Theodore K.S.

Kompas, 27 Februari 2004

Meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 1973 lewat film Intan Berduri dan 1974 dengan Si Doel Anak Modern tidak menepis popularitas Benyamin Suaeb sebagai penyanyi.

Lagu-lagunya yang menggunakan bahasa khas Betawi juga tidak menjadi penghalang bagi pendengar kaset atau penonton pertunjukannya untuk menikmati keserbabisaan Benyamin di atas panggung.

Selain digandrungi di negerinya sendiri, Benyamin juga sangat dikenal di Malaysia. Bahkan, dia sempat manggung di Moskwa, Rusia.

Jauh sebelum Iwan Fals melancarkan protes lewat Bento dan Bongkar tahun 1990, Benyamin sudah melakukan hal yang sama dengan lagu Digusur 20 tahun sebelumnya. Hanya saja, Benyamin menggunakan bahasa khas Betawi yang sarat humor sehingga Digusur justru menimbulkan senyum Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Sementara lagunya yang mengkritik pemerintah, berjudul Pungli, memperoleh penghargaan dari Kopkamtib. Lagu itu dianggap menunjang program Operasi Tertib yang sedang digalakkan pemerintah tahun 1977.

Orang pertama yang membuat Benyamin berani menjadi penyanyi adalah Bing Slamet. Setelah menyerahkan lagu ciptaannya, Nonton Bioskop, untuk direkam Bing Slamet, Benyamin justru disarankan membawakan sendiri lagu itu.

Lagu yang berirama pop itu sempat populer lewat suara Bing Slamet. Tak heran jika air mata Benyamin mengalir deras dan menangis sesenggukan ketika Bing Slamet tutup usia pada 17 Desember 1974.

Anak Kemayoran yang lahir sebagai Benyamin Suaeb dan namanya diabadikan pada sebuah jalan di tempat kelahirannya itu mulai menjadi penyanyi pop sebelum dikenal sebagai penyanyi khas lagu Betawi dan bintang film. Ia mendirikan grup Melodi Ria tahun 1957 dan bermain bersama pemusik jazz Jack Lesmana dan Bill Saragih, serta si penyanyi Patah Hati, Rachmat Kartolo.

Melodi Ria beranggotakan Rachman A (gitar melodi), Heri Sukarjo (bas betot), Achmad (klarinet), Imam Kartolo (piano, saksofon), Suparlan (gitar), Saidi S (bongo), Eli Srikudus (penyanyi), Rachmat Kartolo (penyanyi), dan Benyamin (penyanyi). Bersama grup ini, Benyamin sempat merekam sejumlah lagu, antara lain Kisah Cinta, Panon Hideung, Nonton Bioskop, dan Si Neneng.

Naga Mustika

Kiprahnya dalam musik pop membawa Benyamin ke klub-klub malam. Saat itu dia menyanyikan lagu-lagu Barat seperti Unchained Melody, Blue Moon, dan El Mondo. Tetapi, apesnya, sebagaimana Koes Bersaudara yang dijebloskan ke penjara karena membawakan lagu-lagu The Beatles, Benyamin juga diganyang dan dilarang manggung di klub-klub malam.

Larangan membawakan lagu ngak-ngik-ngok atau lagu Barat itu dikeluarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1965. Tetapi, Benyamin ternyata tidak patah arang. Dia memutar otak dan sebagai jalan keluarnya ia menyanyikan lagu-lagu khas Betawi dengan iringan musik gambang kromong.

"Kalau tidak ada larangan Bung Karno, saya barangkali tidak akan pernah menjadi penyanyi lagu-lagu Betawi," kata penyanyi kelahiran Jakarta, 5 Maret 1939, ini kepada saya tahun 1994, satu tahun sebelum menutup usianya setelah kena serangan jantung ketika sedang bermain olahraga kesenangannya, sepak bola. Dia dirawat selama sembilan hari di Rumah Sakit Harapan Kita sebelum meninggal 5 September 1995.

Untuk melaksanakan niatnya membawakan lagu-lagu dengan ciri khas Betawi, Benyamin bergabung dengan grup gambang kromong Naga Mustika pimpinan Suryahanda. Keberhasilan Benyamin tidak terlepas dari musik yang ditata "jago-jago" gambang kromong waktu itu, seperti Budiman B.J., Darmanto, dan Asep S.

Sebagai anggota grup Naga Mustika, Asep S juga menciptakan sejumlah lagu untuk dinyanyikan duet Benyamin dan Ida Royani, seperti Tukang Loak, Bertengkar, Si Bontot, Luntang- Lantung, Muara Angke, Si Jabrik, Nasib, Pelayan Toko, Si Denok, Petik Kembang, Layar Tancep, Pacar Biduan, Pulang Kerje, Tuak Manis, Tukang Grobak, Gara-Gara Anak, dan Pacar Biduan.

Duet Benyamin dan Ida Royani dengan lagu-lagu gambang kromongnya bisa dikatakan paling populer pada awal tahun 1970-an. Diperkirakan, mereka menyanyikan sekitar 150 lagu yang diciptakan Benyamin maupun pencipta lagu lainnya seperti Joko S atau abang Benyamin sendiri, Saidi Suaeb.

"Saya bertemu pertama kali dengan Benyamin di Studio Dimita. Pemilik studio itu, Oom Dick Tamimi, menawarkan saya membawakan lagu ciptaan seorang yang belum saya kenal. Ketika diperkenalkan, saya bertemu seorang pemuda yang dekil dan bersandal jepit.

"Dia senyum-senyum kepada saya. Lagunya yang berirama pop, saya tolak. Soalnya waktu itu saya dikenal sebagai penyanyi yang fensi (trendi) dengan celana hot pants dan sepatu lars," kenang Ida Royani yang sekarang berusia 50 tahun ketika dihubungi awal Februari 2004.

Akan tetapi, entah mengapa, ketika Dick Tamimi kemudian menawarkan berduet dengan pemuda dekil itu pada tahun 1970, Ida bersedia. Padahal, penggemarnya banyak yang protes dan merasa Ida yang populer dengan lagu-lagu popnya dianggap tidak cocok berduet dengan Benyamin. Namun, Ida jalan terus dan sampai tahun 1990, atau 20 tahun kemudian, masih berduet dengan Benyamin dalam rekaman maupun tampil di atas panggung.

Lagu-lagu Benyamin dan Ida Royani adalah gambaran nyata kehidupan masyarakat Betawi. Begitu melihat judulnya saja, langsung bisa dirasakan kebetawiannya. Ada Ngidam Lagi, Ngupi, Nonton Cokek, Ondel-Ondel, Onta Punya Cerita, Pendaringan, Penganten Sunat, Kompor Meleduk, Roti Gambang, Layar Tancep, atau Pulang Kerje.

"Meskipun beberapa di antara lagu-lagunya berbau Sunda, Benyamin membuatnya menjadi milik Betawi. Misalnya, Ayun Ambing, lagu yang meninabobokan anak," ujar seniman Betawi, S.M. Ardan, sambil menambahkan bahwa lagu-lagu Benyamin juga berlirik kocak dengan gaya Betawi.

Coba lihat lirik Nonton Bioskop: Jalan kaki di gang gelap/Pulang-pulang nginjek gituan (kotoran manusia). Dan juga sangat nakal sehingga sering bagaikan "pisau bermata dua" atau berkonotasi porno: Gimane lobangnya aje/Kecil atawe gede (lagu Tukang Solder).

Atau dalam lagu Perkutut. Liriknya begini:

B: Burung gue pegangin
I: Ogah ah, mendingan dilepasin
B: Ntar die menclok di wuwungan laen
I: Pengen tahu die menclok sembarangan,
gue jepret


Sampai tahun 1974 Benyamin menghasilkan sekitar 20 album yang berisikan lagu-lagu yang dia nyanyikan sendiri maupun berduet dengan penyanyi lain. Nyebur-nya penyanyi yang memperoleh penghargaan dari Yayasan Husni Thamrin pada tahun 1974 untuk pengabdiannya dalam bidang musik ini bersama musik gambang kromong ke industri musik Indonesia sedikit banyak juga terpengaruh apa yang dilakukan Vivi Sumanti dan Lilies Suryani, yang sudah terlebih dahulu menyanyi dengan iringan musik yang biasanya mengiringi pertunjukan lenong ini.

"Kelebihan Benyamin adalah lagak dan gayanya, selain lirik lagu. Kami sempat manggung ke seluruh Indonesia. Di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Irian, kebanyakan penonton tidak mengerti bahasa Betawi. Tetapi, mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat Benyamin di atas panggung," kenang Ida Royani yang menikah dengan pemusik Keenan Nasution tahun 1979.

Mewakili zamannya

Menelaah lagu-lagu Benyamin, kita juga bisa langsung membaca keadaan pada waktu lagu-lagu itu dibawakan. Hostess (istilah untuk wanita-wanita muda yang bekerja di kelab malam) menggambarkan pengalaman Benyamin ketika malang melintang di kehidupan malam Jakarta.

Demikian juga steambath yang merekam praktik prostitusi terselubung yang marak di kota-kota besar pada tahun 1970-an.

Bayi Tabung adalah rekaman peristiwa yang menjadi topik sejarah saat lagu itu diluncurkan. Sementara kata taisen, yang kemudian di kalangan muda-mudi artinya menjadi pacar, berasal dari judi hwa-hwe yang marak di Jakarta akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Judi itu menjanjikan 36 angka keberuntungan dengan simbol binatang pada setiap angkanya. Angka 1 (ikan bandeng), misalnya, taisen-nya angka 5 (singa), angka 30 (monyet) taisen-nya angka 23 (ikan mas koki), dan seterusnya.

"Kalau adek jadi ikan mas koki, abang yang jadi taisennya... monyet dong," kata Benyamin dalam salah satu lirik lagunya.

Walaupun judul lagu Benyamin sering terkesan "sembarangan", seperti Brang Breng Brong (yang diciptakannya bersama Bing Slamet), Cong Cong Balicong, Kompal Kampil, Petangtang Petingting, atau Abakikik Abakikuk, masyarakat yang menerima kebiasaannya itu justru bertambah luas.

Kebiasaan ini terus terlihat dalam lagu yang lain, Bom Pim Pah (duetnya bersama Rita Sahara), atau duetnya bersama Euis Darliah, Ngaca, atau yang dinyanyikannya sendiri, Ngaco atau Mumpung.

Bukan hanya judul dihasilkannya seketika, lirik lagunya juga muncul spontan. Judul dan lirik lagu Begini Begitu idenya muncul begitu saja di studio rekaman. "Kalau saya kehabisan ide, biasanya saya berteriak atau ngedumel. Eh, enggak tahunya, teriak atau dumelan saya itu menjadi kata yang pas untuk lagu saya," kata Benyamin pada suatu ketika.

"Itu yang namanya senggakan. Biasanya yang demikian itu memang muncul secara spontan, sebagaimana dialog-dialog pemain lenong, muncul begitu saja di atas panggung," komentar S.M. Ardan, yang sekarang sedang menyusun biografi aktor Sukarno M. Noor.

Di samping pop dan gambang kromong, Benyamin juga merambah jenis musik yang sedang mewabah pada tahun 1970-an, seperti blues, rock, hustle, dan disko. Walau demikian, Benyamin tidak lupa pada keroncong dan seriosa, sebagaimana Blues Kejepit Pintu, Seriosa, Kroncong Kompeni, Stambul Nona Manis, atau Stambul Kelapa Puan.

Keserbabisaan Benyamin yang lain ditunjukannya dalam lagu Disangka Nyolong atau Dingin Dingin Dimandiin, yang dibawakannya dengan dengan gaya menangis, tetapi tetap saja menimbulkan tawa pendengarnya.

Benyamin juga tidak lupa menyanyi tanpa canda seperti Abang Husni Thamrin atau Mengapa Harus Jumpa. Keseriusannya menyanyi diperlihatkan ketika dia membentuk grup Al Hadj pada tahun 1992, yang terdiri atas pemusik rock: Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya.

Benyamin menyanyikan lagu-lagu berirama rock, blues, dan metal: Biang Kerok, Maaf Kutak Datang, Ampunan, Mojok, I’m A Teacher, Kisah Kucing Tua, Balada Dalam Penjara, Dingin Dingin Dimandiin, Seliweran, dan Tragedi Cinta.

"Waktu itu dia mengatakan ingin menyanyi lagu rock sebagaimana Achmad Albar dari God Bless. Maka kami membuat lagu dan musik yang sesuai dengan karakternya. Dia bernyanyi sangat luar biasa. Album bersama Al Hadj barangkali merupakan rekamannya yang terakhir," ujar Harry Sabar yang menciptakan Biang Kerok.

Selain merekam sekitar 300 lagu (berduet dan menyanyi sendiri dalam periode 1964-1992), Benyamin juga menghasilkan sekitar 53 film dari tahun 1970 hingga 1992. Ini belum termasuk sinetron Si Doel Anak Sekolahan (1994), dengan celetukan khas dia, "tukang insinyur", yang muncul di sini.

Lalu Mat Beken dan Bergaya FM (1995). Untuk mengenang Benyamin S, Titiek Puspa menciptakan lagu dengan judul Ben yang dibawakannya sendiri ketika diadakan acara "Mengenang H Benyamin S" di Istora Senayan, Jakarta, 22 Oktober 1995.

Liriknya antara lain sebagai berikut:

Dia Jakarta asli
Tetapi dicinta se-Nusantara
Dia yang rendah hati
Hidup rukun tanpa perkara
Jiwa raga seni semata
Taatnya pada agama
Terpanggil-Mu saat jayanya
Oh Ben kau telah pergi
Pergi takkan kembali
Bangga kagum dan cinta
Engkau satu tiada duanya.


Benyamin memang enggak ade duenye.

[Theodore KS Penulis Masalah Industri Musik].

Eka Sapta, Band Legendaris


Oleh Theodore K.S.

Sumber: Kompas, 30 April 2004

PADA awal tahun 1960-an, dunia musik Indonesia bukan hanya diwakili oleh orkes-orkes melayu (OM) seperti OM Bukit Siguntang, OM Sinar Medan, OM Irama Agung dengan lagu-lagu Melayunya, Orkes Gumarang, atau Sikumbang Cari yang mengumandangkan lagu-lagu Minangkabau. Kala itu dunia musik kita juga dimeriahkan oleh band-band Arulan, Zainal Combo, Koes Bersaudara, dan Eka Sapta.

Penampilan perdana Eka Sapta adalah sebagai band pendamping band nomor satu waktu itu, Arulan, di Bandara Kemayoran tahun 1962.

Eka Sapta terdiri atas Bing Slamet (bongo, konga), Ireng Maulana (gitar pengiring), Idris Sardi (bas, biola), Itje Kumaunang (gitar melodi), Benny Mustafa (drum), Darmono (vibraphone), dan Kamid (konga). Mereka mengiringi penyanyi-penyanyi Suzanna, Rima Melati, dan Vivi Sumanti.

Kehadiran pertama Eka Sapta berhasil mencuri hati publik bukan saja karena permainan beragam jenis musik yang disajikan Bing Slamet dan kawan-kawan, namun juga didukung penampilan yang trendi dengan peralatan yang terbilang mewah serta kostum yang khusus dijahit di Singapura.

"Untuk urusan peralatan musik dan kostum, yang menangani adalah Amin Wijaya. Kami hanya memikirkan musiknya," kenang Idris.

Amin adalah pendiri dan pemilik Bali Records, Canari Records, serta Metropolitan Records yang kemudian menjadi Musica Studio’s. Eka Sapta juga merupakan nama toko elektronik milik Amin di Pasar Baru.

Eka Sapta berarti sapta tunggal. Jadi, meskipun jumlah personel tujuh orang, kepemimpinan dilakukan secara bersama-sama. Adapun Amin bertindak sebagai produser rekaman dan manajer yang mencari berbagai acara untuk kehadiran Eka Sapta di atas panggung. Mereka bekerja sama dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Korps Komando Angkatan Laut (KKO) untuk mendekatkan ABRI dengan rakyat dalam acara "Malam Eka Sapta Non Stop Revue" di kota-kota di Sumatera dan Jawa.

"Semua hadirin sempat tertegun mengagumi suatu rangkaian tarian, njanjian, lawak, dan musical show jang terpadukan dengan harmonis disirami permainan tjahaja dengan utas-utas jang gemerlapan berwarna sedap; indah dan decorasi jang menakdjupkan. Ini semuanja berlangsung pada ’Malam Eka Sapta Non Stop Revue’-di beberapa kota seperti Medan, Semarang, Djogjakarta, Sala, Djember, Surabaja, Malang, dan Djakarta," demikian antara lain tulisan di belakang sampul piringan hitam (PH) Varia Malam Eka Sapta yang diterbitkan Bali Records dengan kode BLM 7002, tanpa tahun.

PH itu berisi sepuluh lagu dalam beberapa warna musik: Bingkisan Eka Sapta (instrumentalia), Semalam Di Kualalumpur dinyanyikan Tetty Kadi, Django (Trio Parsito), Kau Pergi Tanpa Pesan (Elly M Harris), Kasihlah Pak! (Bing Slamet), Bingkisan Idris Sardi (Idris Sardi pada biola), Ulang Tahun Kakek (Lilies Suryani), Bunga Nirwana (Munif), Sang "Django" (Yanti Bersaudara), dan Mudiak Arau (Elly Kasim).

"Malam Eka Sapta Non Stop Revue" di delapan kota itu berlangsung selama dua jam tanpa henti. Di samping para penyanyi, pertunjukan juga menghadirkan penari-penari Ensemble Tari Sanggar Karya pimpinan Juni Amir, Eka Quarta Modern Dance Group pimpinan Rima Melati, dan lawak. Pertunjukan yang diadakan di lapangan terbuka menyebabkan Amin mengambil inisiatif menggunakan sistem playback atau merekam terlebih dulu musik dan vokal penyanyi di studio.

"Peralatan sound system waktu itu belum memenuhi syarat untuk pertunjukan di lapangan terbuka. Jadi, mau tidak mau harus menggunakan cara itu," ungkap Ireng memberi alasan.

Sebagai manajer, menurut Benny, Amin banyak menumpahkan perhatiannya untuk Eka Sapta. Jadi, tidak heran jika selain mempersilakan Eka Sapta merekam lagu apa saja, ia sibuk mencari "lowongan" untuk grupnya ini guna mengisi berbagai acara, hingga membawa Eka Sapta ke Istana Bogor bersama grup keroncong pimpinan Achmad. Pada saat itulah Idris dan Bing Slamet mendapat perintah dari Bung Karno untuk mencari lagu-lagu beat yang khas Indonesia dan yang tidak ngak-ngik-ngok.

Terbentuklah grup Lensois di luar Eka Sapta, yang khusus membawakan lagu-lagu berirama lenso dan berkeliling Eropa bersama Bung Karno pada tahun 1965. Bung Karno sempat diundang ke rumah bintang film Italia, Gina Lolobrigida, yang mau berdansa dengan Bung Karno dengan diiringi Lensois.

"Kami juga sempat ditraktir Bung Karno minum-minum di sebuah kafe di Paris. Itulah terakhir kali saya dan Bing Slamet bertemu dia," ungkap Idris.

Bing Slamet adalah teman Amin sejak kecil. "Teman main gundu (kelereng)," seloroh Ireng.

Bing Slamet juga berteman dengan Idris yang bergabung di Orkes Studio Jakarta. Mereka sering membicarakan berbagai hal tentang musik, sampai pada suatu ketika timbul keinginan keduanya mendirikan sebuah band yang mampu memainkan berbagai jenis musik.

"Tetapi, sebuah grup musik tidak hanya terdiri dari para pemusik saja, juga penyandang dana. Dalam hal ini Bing Slamet menyebut nama Amin Wijaya, yang kemudian ternyata sangat mendukung niat kami," ujar Idris.

Ireng dan Benny yang waktu itu sedang bergabung dengan The Leading Stars segera direkrut. Kemudian juga diajak seorang gitaris jazz, Itje Kumaunang, serta pemain vibraphone, Darmono, dan penabuh konga Kamid. Eka Sapta pun resmi berdiri tahun 1962.

Amin memberi mereka sejumlah PH dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa sebagai referensi. Tempat berlatih mereka adalah di sebuah gudang di toko kopi Warung Tinggi, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Dinding gudang tersebut terdiri dari tumpukan karung-karung yang berisi biji kopi.

Dengan latar belakang para pemusiknya yang beragam, tidak heran jika Eka Sapta mampu memainkan semua jenis musik, mulai dari pop, rock’n’roll, cha-cha, jazz, keroncong, hingga Melayu (waktu itu belum ada istilah dangdut).

"Tetapi, untuk memperkenalkan diri, dalam rekaman kami mengawalinya dengan gaya The Ventures dan The Shadows," kata Idris maupun Benny membuka rahasia awal sukses mereka. Dengan konsep itu Eka Sapta memulai rekamannya dengan sejumlah lagu instrumental, seperti Putih-Putih Si Melati, Burung Kurcica, Mojang Priyangan, Zakaria, Tirtonadi, Gambang Suling, Euis, Titian nan Lapuak, Gadisku, Herlina, Kalau Jodoh, dan Suling Bambu.

"Sebagai pemain biola, sebenarnya saya tidak boleh main gitar bas karena senarnya besar. Tetapi, saya senang gaya bas The Ventures yang ngebut, tidak dipetik sebagaimana semestinya," kata Idris.

Sebagai produser, ternyata Amin tidak membatasi kreativitas Bing Slamet, Idris, ataupun personel Eka Sapta lainnya. Ia merilis album The Best Of Romantic Keronchong yang berisi 12 lagu instrumentalia Barat yang populer pada waktu itu. Lagu-lagu tersebut, antara lain, adalah Nobody’s Child, I Can’t Stop Loving You, For Mama, Spinning Wheel, To See My Angel Cry, Impossible Dream, Take My Hand For A While, Song Of Joy, Aquarius, Bridge Over Trouble Water, dan If You Go Away.

Eka Sapta tidak hanya menerbitkan lagu-lagu instrumental, kemudian justru banyak mengiringi penyanyi-penyanyi. Misalnya, Ireng sukses berduet dengan Alice Iskak di Pro Ganefo Night tahun 1963 dan juga membuat singel berjudul Kasih Remaja berisi empat lagu (Paul & Paula, Dua Insan Di Dunia, Dara Manis, dan Kasih Remaja).

Adapun Bing Slamet menyanyi bersama Giman (suara Bing Slamet dipercepat) lewat lagu-lagu Bunda Piara, Bing & Giman Bernyanyi, Burung Nuri, dan Kunanti Jawabmu.

"Bukan hanya dalam kreativitas, kami juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas, seperti honor dan mobil, yang bisa kami pergunakan setiap waktu. Amin memberi honor yang cukup besar bagi kami, tetapi jumlahnya saya tidak ingat. Yang jelas, kami tidak terpikir membeli rumah atau mobil karena Amin menyediakan semuanya bagi kami. Honor dari Eka Sapta kami habiskan begitu saja," kata Ireng.

"Kalau ditanya bagaimana kami membayar mobil yang kami gunakan setiap pergi ke studio atau menuju ke panggung pertunjukan, Amin selalu mengatakan cengli atau gampang diatur," ungkap Idris.

Begitu juga kalau ada yang meminjam uang, Amin sering tidak memperhitungkan ketika membayar honor para personel yang mengutang. Bahkan, kalau ada keluarga anggota Eka Sapta yang sakit, Amin yang sibuk. Ia menyediakan mobil, memanggil dokter, atau membawa mereka ke rumah sakit.

"Hubungan kami memang sifatnya kekeluargaan. Itulah sebabnya kemudian kami menyebutnya Amin Cengli, barangkali istilah sekarang Amin fair play," ujar Idris.

"Kalau kami merekam lagu-lagu yang sedikit serius dan dianggapnya kurang komersial, Amin menyimpannya. Tetapi, kemudian lagu-lagu itu diterbitkan juga sehingga kami bisa bebas berkarya tanpa khawatir ditolak," lanjut Idris.

Sementara Eka Sapta terus meningkat aktivitasnya, Ireng dan Benny yang juga menekuni desain interior diminta bantuannya untuk merampungkan paviliun Indonesia di New York World Fair 1964. Adapun Idris mengisi acara kesenian ajang pameran kesenian dan bisnis dunia itu.

Kekosongan Eka Sapta yang ditinggalkan mereka tidak membuat Amin kehilangan akal. Untuk tetap mengaktifkan grup tersebut, dalam studio rekaman maupun panggung, Kibout Maulana menggantikan Ireng, Eddy Tulis menduduki bangku drummer, dan Enteng Tanamal menjadi pemetik bas.

Dan, sejak saat itu anggota Eka Sapta terus bertambah hingga dibentuk juga Eka Sapta Junior yang terdiri atas Jopie Item (gitar), Rully Djohan (organ), Henky Makasuci (drum), Papo Parera (bas), Ronny Makasuci (bas), dan Hengky Firmansyah (gitar).

"Ketika Eka Sapta tampil di Surabaya, saya masih menjadi penonton dan mengagumi senior-senior saya," ungkap Jopie Item.

Bersama 11 anggota Eka Sapta lainnya, Jopie ikut dikirim Amin ke Singapura selama tiga bulan pada awal tahun 1970.

Berdasar ingatan Idris, mereka berada di Singapura untuk rekaman di Studio Kinitex. Sebuah rumah tinggal berlantai dua di Jalan Bintan, tidak jauh dari Wisma Indonesia, disediakan oleh Amin. Lantai satu untuk latihan dan di lantai dua terdapat kamar-kamar tidur.

"Pagi latihan, sore rekaman. Itulah yang kami lakukan selama berada di sana," ungkap Idris.

Amin mengirim Eka Sapta di negeri pulau itu karena Studio Metropolitan sedang dibangun di Jalan Perdatam Raya, Pancoran, Jakarta Selatan. Selama ini Eka Sapta menggunakan Studio Remaco di Jalan Gedung Panjang 1, Jakarta Utara. Menurut Ireng, keberadaan mereka di Singapura karena ada kerja sama antara Amin dan perusahaan rekaman Philips.

"Kami menerima kiriman lagu dari Jakarta, menyeleksinya, dan kemudian membagi-bagikan kepada empat penata musik, yakni Enteng, Idris, Ireng, dan Jopie," tutur Benny.

Penyanyi-penyanyi yang mereka pilih adalah Tanti Josepha, Vivi Sumanti, Tuty Ahem, Erni Djohan, Lilies Suryani, Elly Kasim, Nani Wijaya, Suzanna, Rima Melati, Inneke Kusumawati, Maya Sopha, dan Franz Doromez. Mereka mondar-mandir Jakarta-Singapura untuk mengisi suara pada lagu-lagu yang telah dipilih sesuai dengan karakter masing-masing.

Hubungan kekeluargaan seluruh anggota Eka Sapta dan Amin bagaikan tak terpisahkan selama di Singapura. Tidak jarang Amin menjadi juru masak, menyediakan santapan, sementara Eka Sapta rekaman di Studio Kinitex.

"Ratusan lagu kami kerjakan musiknya selama di sana dan puluhan album diterbitkan di Jakarta. Kami benar-benar dikarantina, tidak ada waktu untuk bersantai. Tidak ada waktu untuk jalan-jalan, apalagi mengunjungi kelab malam untuk menyaksikan konser grup lain, seperti yang kami lakukan sekarang kalau kebetulan berada di luar negeri," kata Benny yang sekarang bergabung dengan Ireng Maulana All Stars.

Salah seorang yang paling disenangi sekaligus membuat Amin kesal adalah Kibout. Menurut Kibout, sebagai pimpinan Amin justru bertindak melebihi pemusiknya sendiri. Kalau ada peralatan musik yang rusak, misalnya, ia tidak segan-segan turun tangan mengganti kabel. Atau menyuruh putranya, Sanjaya Wijaya, yang sekarang memimpin Musica Studio’s dan saat itu sekolah di Singapura, membeli makanan.

"Amin adalah bos yang merakyat. Ia kesal kepada saya karena saya senang menakut-nakutinya dengan cerita-cerita yang kami karang sendiri. Sebagai contoh, pohon di depan rumah kami bilang ada kuntilanaknya pada malam hari. Amin sering pulang larut malam dan kami disuruh menunggu dan membuka pintu. Siapa saja yang membuka pintu dikasih tips dua dolar," tutur Kibout.

Lebih dari semua itu, Amin sangat dihormati karena sepak terjangnya yang membuat Eka Sapta menjadi grup yang disegani dan dikagumi sampai ke Malaysia. "Kami lebih dikenal daripada bintang film. Bahkan, sejumlah aktris seperti Chitra Dewi, Nani Wijaya, dan Mieke Wijaya merasa bangga ketika merekam suaranya bersama kami," ujar Ireng.

Amin meninggal tahun 1979 dalam usia 50 tahun di Amerika Serikat dan Bing Slamet mendahuluinya, 17 Desember 1974. Sepeninggal mereka, Eka Sapta bisa dikatakan tidak ada yang memerhatikan. Apalagi masing-masing anggota sudah memiliki kegiatan masing-masing.

Itje, sang gitaris melodi, memutuskan ke Belanda dan bermukim di sana sampai saat ini.

Eddy Tulis menyusul Bing Slamet dan Amin beberapa tahun kemudian, demikian juga Papo Parera yang tutup usia tahun 2002. Adapun Kamid menjadi manajer sebuah hotel di Solo. Bersama Benny, tiga penggebuk drum terkenal (Fuad Hasan, Guntur Soekarnoputra, dan Eddy Tulis), Eka Sapta pernah main bareng dalam pergelaran Eka Sapta di Istora Senayan.

"Waktu tepatnya pertunjukan itu saya lupa. Rasanya sampai sekarang tidak pernah terjadi sebuah grup seperti Eka Sapta menghadirkan empat drummer dalam sebuah pertunjukan. Juga pertunjukan kolosal yang menggunakan musik playback seperti yang dilakukan Swara Mahardika, sudah kami kerjakan beberapa tahun sebelumnya dalam ’Malam Eka Sapta Non Stop Revue’. Banyak yang dilakukan generasi musik sekarang sudah terlebih dulu dikerjakan Eka Sapta," kata Benny.

"Amin yang membuat semuanya itu bisa terjadi. Tetapi, kepergiannya menyebabkan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Peranannya dalam Eka Sapta sangat besar. Sampai sekarang kami belum mendapat gantinya dan Eka Sapta secara resmi belum pernah bubar," kata Idris.

Theodore KS, Penulis Masalah Industri Musik

09 June 2005

Konser Ebiet di Surabaya


Ebiet G Ade memang luar biasa. Meski kondisinya kurang fit, batuk-batuk, penyanyi dan penulis lagu legendaris ini berhasil memukau sekitar 800 penonton di Balai Pemuda Surabaya.

Yang menarik, di meja penonton tampak beberapa calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya seperti Bambang Dwi Hartono, Arief Afandi, Erlangga Satriagung, Arif Indriyanto, dan Muhtadi. Para 'balon' (bakal calon) ini tampak rukun, duduk di meja yang sama, sambil berbincang akrab.

Lupakan dulu kompetisi politik. Mari bersama menikmati musik Ebiet G. Ade.

"Kalau bukan Kang Ebiet nggak mungkin para balon itu bisa duduk bersama dalam suasana santai seperti ini. Kang Ebiet masih punya magnet yang luar biasa," ujar Herry Lentho, pengurus Dewan Kesenian Jatim.

Sadar kalau di depannya ada para 'balon' VVIP Surabaya, Ebiet tak lupa menggojlok mereka. "Saya tidak pernah menyangka malam ini para calon wali kota Surabaya menyaksikan konser saya. Mudah-mudahan salah satu di antaranya benar-benar jadi," ujar Ebiet disambut tepuk tangan meriah.
Bambang DH dan Erlangga pun tertawa lebar.

"Kalau sudah jadi wali kota, jangan lupa undang saya nyanyi hehehe.... Atau dibalik saja. Yang undang saya menyanyi bakal jadi wali kota Surabaya hehehe...," ujar Ebiet.

Akrab, santai, komunikatif.

Begitulah penampilan Ebiet G. Ade yang diiringi Casino Band (Surabaya) tanpa latihan itu. Ebiet tak hanya main gitar sambil bernyanyi, tapi juga bertutur seputar latar belakang lagu-lagu serta proses kreatifnya, terutama ketika berada di Jogjakarta tahun 1970-an.

Dibuka dengan Titip Rindu buat Ayah pada pukul 20:45, Ebiet G Ade membuat penonton larut dalam keheningan. Tak ada sorak-sorai atau hura-hura ala konser musik biasa. Penonton yang rata-rata berusia di atas 50 tahun itu diajak mengenang kembali figur ayah, yang mungkin sudah renta atau tak ada lagi di dunia.

"Mau nangis aja ingat almarhum ayahanda. Lagunya Kang Ebiet benar-benar menyentuh," ujar seorang penonton yang duduk di dekat saya.

Praktis, 17 lagu yang dibawakan Ebiet malam itu dikuasai dengan sangat baik oleh penonton. Nasihat Pengemis untuk Istri, Lagu untuk Sebuah Nama, Sketsa Rembulan Emas, Cintaku Kandas di Rerumputan, Camelia I, Camelia III, Berita kepada Kawan, Elegi Esok Pagi, Lolong, Untuk Kita Renungkan, Lolong, Dari Pintu ke Pintu, Aku Ingin Pulang.

"Tadinya saya hanya menganggarkan tujuh lagu. Tapi kok sekarang sudah 13 lagu," ujar Ebiet.

Lalu, terjadi semacam negosiasi antara Ebiet dengan penonton. Penonton, termasuk Arif Indrianto dan Erlangga, ingin tambah lagu, sementara Ebiet mengaku kondisinya kurang fit.

"Yok opo enake, rek! Kalau sama saudara-saudara sendiri, nggak apa-apa saya tambah beberapa lagu lagi," ujar pria kelahiran Banyumas, 21 April 1955 ini.

Arif Indiarto secara khusus meminta Berita kepada Kawan. Balon wali kota yang lain minta Untuk Kita Renungkan. Dua lagu tentang bencana alam ini akhir-akhir ini menimpa beberapa tempat di Tanah Air.

"Saya memang sudah membayangkan lagu saya ini bakal menjadi back sound peristiwa bencana alam. Sebab, bencana alam itu memang sudah menjadi kehendak Tuhan atau kelalaian kita yang tidak bisa merawat alam dengan baik.

"Tapi saya tidak pernah membayangkan bencana alam sedahsyat di Aceh," tutur Ebiet Gafar bin Abu Djafar, disingkat Ebiet G Ade.

Mendekati pukul 24:00, penonton tetap tidak beranjak pulang kecuali beberapa 'balon' wali kota yang punya acara mendadak. Kang Ebiet mengakhiri konser dengan lagu Aku Ingin Pulang.

"Lima kali saya ke Surabaya, empat kali saya sakit. Tapi, alhamdulillah, berkat dia dan energi dari saudara-saudara di Surabaya malam ini saya bisa membawakan lagu begitu banyak di luar perkiraan saya sendiri," ujar Ebiet.

Malam itu, Kang Ebiet didampingi sang istri, Yayuk Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto.