06 December 2005

Gereja Ortodoks Syiria di Indonesia

Cak Henney, koyok wong Arab.

Saat Maghrib telah tiba. Belasan orang di Hotel Sahid Surabaya itu bergegas shalat. Semuanya berkopiah dan dipimpin seorang imam. Jangan keliru, mereka bukan orang Islam yang sedang menunaikan kewajiban shalat Mahgrib. Mereka adalah jamaah Kanisah Ortodoks Syiria (KOS), sebuah sekte dalam agama Kristen.

Bisa jadi, orang awam akan terkecoh. Sebab, sekte ini memang sangat mirip Islam. Bukan saja asalnya serumpun, Timur Tengah, tapi juga ritual dan tatacara peribadatannya nyaris sama.

Tengoklah saat mereka shalat. Selain berkopiah dan dipimpin seorang imam, bila berjamaah, juga memakai bahasa Arab. Rukun shalatnya pun nyaris sama.

Ada ruku' dan sujud. Bedanya, bila kaum Muslimin diwajibkan shalat 5 kali sehari, penganut KOS lebih banyak lagi, tujuh kali sehari setiap tiga3 jam masing-masing dua rakaat. Mereka menyebutnya: sa'atul awwal (fajar/shubuh), sa'atuts tsalis (dhuha), sa'atus sadis (dhuhur), sa'atut tis'ah (ashar), sa'atul ghurub (maghrib), sa'atun naum (Isya'), dan sa'atul layl (tengah malam).

Hal yang sama juga pada praktik puasa. Puasa wajib bagi pemeluk Islam dilakukan selama sebulan dalam setahun, dikenal dengan shaumu ramadhan. Sedang pada KOS disebut shaumil kabir (puasa 40 hari berturut-turut) yang dilakukan sekitar bulan April. Jika dalam Islam ada puasa sunah Senin-Kamis, pada KOS dilakukan pada Rabu-Jumat, dalam rangka mengenang kesengsaraan Kristus.

Selain shalat dan puasa, jamaah KOS juga mengenal ajaran zakat. Zakat, dalam ajaran KOS, adalah sepersepuluh dari pendapatan bruto.

Tidak sebatas itu saja. Kalangan perempuan pemeluk KOS, juga mengenakan jilbab plus pakaian panjang ke bawah hingga di bawah mata-kaki. Pemeluk KOS mempertahankan Kitab Injil berbahasa asli Arab-Ibrani: Aram, sebagai kitab sucinya.

Model pengajian yang dilakukan pemeluk KOS juga tidak berbeda jauh dengan ala pesantren di Indonesia. Mereka melakukan dengan cara lesehan di atas tikar atau karpet. Ini tidak pernah didapati pada 'pengajian' pemeluk Kristiani di Indonesia yang lazim duduk di atas kursi atau balkon.

Bambang Noorsena, seorang Syekhul Injil (penginjil) KOS yang pertama kali memperkenalkan ajaran KOS di Indonesia, kepada Sahid mengatakan, di antara kedua agama [Islam dan KOS] memang mempunyai kesamaan sejarah, etnis serumpun, dan budaya.

Adanya Pan-Arabisme di Timur Tengah, misalnya, ternyata bukan an sich milik kalangan muslim. Pemeluk KOS pun, turut memiliki Pan-Arabisme itu. Salah satunya, kalangan KOS turut menyesalkan sikap Israel yang hingga sekarang ngotot menduduki jalur Ghaza milik penduduk Palestina.

Cendekiawan muslim, Jalaluddin Rahmat, tidak merasa kaget terhadap adanya banyak kesamaan antara Islam dengan KOS. Pada zaman dulu, kata cendekiawan dari Bandung ini, orang-orang Islam di Yordania, Syria, dan Lebanon hidup berdampingan dengan orang-orang Kristen, yang dikenal dengan Kristen Monorit. Mereka melakukan tatacara peribadatan hampir mirip dengan cara beribadah umat Islam.

Dengan banyaknya kemiripan itu, tak heran bila KOS lebih bisa diterima di kalangan Muslim di Indonesia. Setidaknya, setiap bulan KOS diberikan kesempatan tampil dalam Forum Dialog Teologis yang diselenggarakan Yayasan Paramadina, Jakarta.

"Kami sangat berterima kasih dan menaruh hormat kepada orang-orang Islam yang bersedia menerima kehadiran KOS dengan lapang hati dan terbuka," ujar Bambang.

Anehnya, di kalangan Kristen sendiri KOS malah kurang bisa diterima, bahkan dicurigai. Tengoklah pernyataan Direktur Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Protestan Departemen Agama RI, Jan Kawatu. Menurut Jan, aliran tersebut belum tercatat dalam komunitas Kristen di Indonesia.

Jan juga mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang disampaikan kepada para notaris. Isinya, agar mereka tidak mengesahkan berdirinya sebuah yayasan atau lembaga Kristen sebelum mendapatkan izin resmi dari Direktur Bimas Kristen.

"Izin itu diperlukan untuk mengetahui siapa mereka, apa tujuannya, dan macam apa alirannya," kata Jan Kawatu seperti dikutip Gatra edisi 14 Maret 1998. Dan, masih menurut Jan, bahwa Bimas Kristen Protestan sudah menutup pintu bagi aliran baru.

Tetapi, kalangan KOS sendiri agaknya tak mau ambil pusing dengan surat edaran Dirjen Bimas Kristen-Protestan itu. Mereka menilai, pelarangan itu lebih bersifat politis.

 "Karena di Indonesia telah ada terlebih dahulu Kristen Ortodoks Yunani. Hanya saja, selama bertahun-tahun tidak menunjukkan perkembangan berarti. Sedang KOS, kendati baru beberapa tahun, tapi cukup bisa diterima masyarakat dan terus berkembang," ucap Henney Sumali, Ketua Yayasan KOS Surabaya.

Meskipun Dirjen Bimas Kristen telah menyebarkan surat larangan kepada para notaris, nyatanya KOS tetap bisa mengantongi akte pendirian. Yakni melalui notaris Gufron Hamal di Jakarta pada 17 September l997. Melalui yayasan inilah, Bambang yang kelahiran Ponorogo ini terus mensosialisasikan KOS ke khalayak ramai. Yang kerap mereka lakukan adalah lewat kajian-kajian, misalnya melalui Pusat Studi Agama dan Kebudayaan di Malang, 1990-1992. Kini, kajian itu sudah merambah Jakarta dan Surabaya.

Tetapi soal pengikut, diakui Bambang, memang belum cukup banyak, baru sekitar 100 orang. Tapi kalau simpatisan, sudah mencapai ribuan. Untuk menjadi pengikut resmi KOS di Indonesia belum bisa dilakukan, karena KOS di Indonesia belum mempunyai imam dan gereja. Padahal untuk bisa menjadi pengikut resmi KOS harus melewati prosedur pembaptisan seorang imam.

Di Indonesia, kata Bambang, yang kini tinggal di Malang, baru bersifat 'studi atau kajian KOS'. Sebab itu, untuk sementara ini bagi jamaah KOS yang ingin menjadi pengikut resmi KOS harus melalui prosedur pembaptisan Abuna Abraham Oo Men di Singapura.

Sumber: MEDIA CETAK edisi September 2003

27 comments:

  1. komunitas ini patut didukung untuk menjadi gereja yang resmi.
    sekedar mau bertanya, bisakah semua teks kitab, ajaran dan doa-doa KOS di"bahasa indonesia"kan.

    ReplyDelete
  2. tidak bisa...
    karena yang kutahu dan pernah kuliat di Medan, mereka berbahasa Arab kl beribadah...

    ReplyDelete
  3. tlong romo imformasinya lebih lanjut ya,aku tertarik ajaranya..tlong kirim tuntunan solatnya ke email ini.jhonnyhutauruc@yahoo.com.gbu.

    ReplyDelete
  4. Mau tanya apakah ibadahnya hanya shalat....???....(zyfa_ruru@ymail.com)

    ReplyDelete
  5. Jesus dari Nazaret tidak pernah memakai bahasa Ibrani, Yunani, Latin, Arab, apalagi bahasa Inggris.
    Bahasa yang se-hari2 digunakan oleh Jesus dari Nazaret adalah bahasa Aramaeisch, bisa diejak Aramaic atau Aramit.
    Ditinjau dari letak atau topografi, Nazaret ada di Galilea, dan daerah Galilea sekarang berdampingan dengan wilayah Israel, Libanon, Syria (Antochia), Iran, Irak dan Turki.
    Jadi Kitab Injil penganut Gereja Orthodox Syria, yang asli tentu saja ditulis dalam bahasa
    Aramaeisch. Aksaranya ditulis dari kanan ke kiri, dan hurufnya mirip tulisan Arab. Tentu saja tulisan Aramaeisch ber-abad2 lebih tua umurnya daripada tulisan Arab.
    Ajaran fundamental dari Gereja Orthodox Syria adalah cara hidup yang bersahaja ( Askese ), sesuai dengan kehidupan Jesus Nazaret. Inilah ajaran Kristen yang murni.
    Para pendeta halleluja yang perlente perlu belajar dari orang Kristen Orthodox Syria. Amin.

    ReplyDelete
  6. Klu di jakarta kegiatan ibadahnya di mana yahh.. Klu ada di jakarta Tolong di Email Waktu & tempat Ibadah nya & Hari apa ke alamat email reg_agent@yahoo.com
    Makasih..

    ReplyDelete
  7. Jesus dari Nazaret tidak pernah memakai bahasa Ibrani, Yunani, Latin, Arab, apalagi bahasa Inggris.
    Bahasa yang se-hari2 digunakan oleh Jesus dari Nazaret adalah bahasa Aramaeisch, bisa diejak Aramaic atau Aramit.
    Ditinjau dari letak atau topografi, Nazaret ada di Galilea, dan daerah Galilea sekarang berdampingan dengan wilayah Israel, Libanon, Syria (Antochia), Iran, Irak dan Turki.
    Jadi Kitab Injil penganut Gereja Orthodox Syria, yang asli tentu saja ditulis dalam bahasa
    Aramaeisch. Aksaranya ditulis dari kanan ke kiri, dan hurufnya mirip tulisan Arab. Tentu saja tulisan Aramaeisch ber-abad2 lebih tua umurnya daripada tulisan Arab.
    Ajaran fundamental dari Gereja Orthodox Syria adalah cara hidup yang bersahaja ( Askese ), sesuai dengan kehidupan Jesus Nazaret. Inilah ajaran Kristen yang murni.
    Para pendeta halleluja yang perlente perlu belajar dari orang Kristen Orthodox Syria. Amin.

    Emang Jesus pernah nulis kitab??.. zzzz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesus memang tidak mencatat alkitab, tetapi keempat muridnya yaitu Matius, Lukas, Markus, dan Yohanes. Percakapan sehari hari mereka pada saat itu adalah bahasa ibrani lama yaitu bahasa aram, nenek moyang bahasa arab.
      So?

      Delete
    2. Semuanya salah. Yesus memang tumbuh dan besar berbahasa Aram, tetapi hampir semua orang di daerah Lautan Tengah di wilayah kekaisaran Romawi waktu itu berbahasa Yunani pasaran (Koine Greek). Mirip dengan di Nusantara, di mana semua orang dapat berbahasa Melayu pasaran, walaupun bahasa ibunya lain-lain. Akibatnya kitab-kitab Injil itupun ditulis dalam bahasa Yunani pasaran itu (Koine Greek). Jadi jangan dibayangkan Injil asli itu bahasanya sastrawi seperti roman Balai Pustaka atau Pujangga Baru, tetapi lebih merupakan bahasa yang ringkas dengan kalimat-kalimat yang lugas dan tidak selalu benar tata bahasanya. Kitab-kitab Injil dituliskan 70-90 tahun sesudah Yesus wafat. Lukas ialah satu-satunya yang bukan rasul langsung. Sedangkan Injil Yohanes diatribusikan ke rasul Yohanes, tetapi mungkin yang menulis ialah salah satu pengikut rasul Yohanes.

      Informasi begini ini gampang sekali ditemukan di jaman Internet ini. Sayang kebanyakan orang malas.

      Delete
  8. KOS tidak perlu menggubris surat Dirjen Bimas Kristen-Protestan, karena KOS ini sama sekali bukan Protestan. Seperti Gereja Ortodoks (yang tumbuh di bagian timur dari kekaisaran Romawi kuno) lainnya, ia salah satu komunitas Kristen tertua di dunia, sama tuanya dengan Katolik Roma. Aliran2 Protestan itu kan sempalannya Roma (yang tumbuh di bagian barat dari kekaisaran Romawi kuno). Pemerintah Indonesia yang sok mengatur tidak mengerti sejarah agama Kristen.

    Orang Indonesia norak, kalau yang bau2 Arab dianggap gimana gitu ... hehehe.

    ReplyDelete
  9. saya juga ingin mengenal lebih dalam kalau bisa tahu gerejanya dimana ?

    ReplyDelete
  10. sekali lagi Kristen Ortodok Syiria juga baik bagi umat yang mau mengikuti ajaran dalam tata cara sektenya. Tidak ada masalah buat saya pribadi sebab Yesus hidup di tanah Palestina dan berbahasa Ibrani, Aram. Bagi saya bahasa apapun Tuhan akan tahu tidak mesti harus bahasa Arab tetapi jika ada yang ingin mengenang tatacara ke kristenan arab ya monggo silahkan saja. Artinya umat yang mengikutinya akan berbudaya Arab Syiria dengan keimanan Kristen begitu. Tapi saya lebih melihatnya tatacara ibadah berkultur Arab dengan keimanan Katolik Arab Syiria. Bagus sekali untuk dilanjutkan.

    ReplyDelete
  11. di jakarta ada di mana ya tempatnya/alamatnya?

    ReplyDelete
  12. KOS ini kayaknya belum punya bangunan gereja resmi karena sifatnya masih kajian atau pengajian. Komunitasnya berpindah-pindah tempat. Selain itu, ada pertimbangan keamanan karena KOS sering dianggap aliran yg kontroversial baik oleh umat Islam maupun Kristen sendiri.

    ReplyDelete
  13. gue islam and gue ngedukung kristen modern daripada kristen orthodox....bravo agama modern (apapun agamanya)....!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, anda ini bilang seperti ini rupanya kurang mengerti sejarah agama. Yang modern itu tidak selalu lebih baik dari yang orthodox. Yang paling modern ya gereja2 halleluya yang pakai teologi kemakmuran itu.

      Buat saya pribadi, gereja atau kumpulan agama (apapun) yang baik ialah yang menekankan kelakuan daripada ritual. Yang menggunakan ritual, baik khotbah, sakramen, dakwah, dll. sebagai media untuk mendekatkan diri dan mengingatkan diri (eling) kepada Tuhan, bukan sebagai sarana untuk menjelek2kan agama lain atau umat lain.

      Delete
    2. Imam Tauhid :
      Benar saya setuju , ritual juga penting tetapi lebih penting adalah bagaimana kita berkelakuan apapun agama dan keyakinan kita. Mau ada sekte , aliran apapun itu tidak pengaruh dengan keimanan kita, karena Iman tumbuh dan dianugerahkan Tuhan kepada kita.

      Delete
  14. jika sudah ada cabang di jakarta kasih tau saya ya.. Karna saya pikir semua ritual diatas adalah alkitabiah. Kirim ke email saya ya stheoignatius@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  15. Yesus x membawa agama ke dunia..kita hanya percayA, bertoubat dan menerima yesus sbgi tuhn juruslmat kita pasti d terima yesus.ngga pya ribut2 agama apa..yg ptg berlandaskan injil yesus snua sma d sisi tuhan

    ReplyDelete
  16. bertambah satu lagi ajaran kristen ???

    ReplyDelete
  17. Agama KOS tu agama galau. Islam bukan,kristen juga bukan.
    Hehee (•ˆ⌣ˆ•)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengamat Indonesia10:36 AM, March 06, 2014

      Agama KOS itu sudah jelas bukan Islam, tetapi Kristen 100%. Hanya, dia menggunakan bahasa Aram (bukan Arab, Bung Hurek), karena penganut aslinya ialah bangsa Assyria, yang merupakan salah satu bangsa terkuno di dunia ini, jauh sebelum Timur Tengah dikuasai bangsa Arab dan Israel. Bangsa Assyria ini menggunakan bahasa Aram, yang serumpun dan merupakan pendahulu bahasa Ibrani dan bahasa Arab. Yang mereka gunakan ialah bahasa Syriac, suatu versi dari bahasa Aram. Syriac di sini tidak sama dengan negara Syria ... jadi terjemahan bahasa Indonesianya agak salah.

      Yesus sendiri menggunakan bahasa Aram. Ada beberapa aliran gereja-gereja Assyria ini; ada yang berhaluan Katolik Roma dan mengaku kepemimpinan Paus, dan ada yang tidak, seperti KOS ini. Tetapi semuanya menggunakan ritual yang hampir sama.

      Delete
  18. Kalau itu memang Kristen tertua di Bumi, saya akan pindah ke agama itu kalau memang ajarannya dari Yesus dan Benar

    ReplyDelete
  19. anda terlalu sensitif mas sebagai minoritas... edaran bimas menurut saya hanya bersifat tekhnis saja... bimas kristen mungkin ada ketakutan dan kekhawatiran adanya aliran sesat kristen di indonesia... nah tugas anda untuk meyakinkan masyarakat bahwa ajaran anda ajaran kasih yang tidak sesat... jangankan KOS, pendirian gereja katholik saja susah di daerah saya, begitupun mesjid di daerah timur indonesia... apapun ajarannya yg penting imanya kepada Yesus sang juru selamat... mau nungging, mau nunduk, ngangkat tangan, berdoa 1000x sehari, jejingkrakan, nyanyi2 juga terserah manusianya... yg penting ada kedamaian dan ketenangan jiwa...

    ReplyDelete
  20. silakan saja mau bikin eksperimen. nanti pasar yg akan menentukan. kayak sekarang ini gereja2 aliran bethany paling laris manis dan menyedot jemaat dari gereja2 lama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi eksperimennya jangan kebablasan...

      Delete
  21. KOS ini tak layak disebut sebagai agama
    ini hanyalah SINKRETISME (pencampur adukan ajaran agama)
    bisa rusak tatanan keagamaan di indonesia
    klo KOS dibiarkan menggurita. pemerintah harus turun tangan!
    islam ya islam...... kristen ya kristen.....
    "agamumu bagimu & agama kami bagi kami"
    ini harga mati bagi kaum muslimin.

    ReplyDelete