15 October 2005

Santunan buat keluarga Gus Luqman


Menepati janjinya, para pelukis yang terlibat dalam pameran 'In Memoriam Gus Luqman', kemarin, menemui keluarga Gus Luqman Azis (almarhum) di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka menyampaikan santunan kepada keluarga Gus Luqman.

"Ini sesuai dengan komitmen teman-teman sebelum pameran, bahwa hasil pameran diberikan kepada keluarga almarhum. Nominalnya tidak besar, tapi bagaimanapun juga harus disampaikan kepada keluarga Lukman," kata Farid Firdaus, koordinator pameran, kepada saya.

Rumah Gus Luqman, sebelum meninggal menjabat ketua RT 09 Siring, masih terlihat sunyi. Suasana dukacita masih terasa kendati Gus Luqman sudah meninggal sekitar 40 hari lalu. Ny Tyas Rukmini bahkan tak kuasa menahan air mata saat disambangi Farid dan kawan-kawan.

"Matur nuwun," kata Ny Tyas.

Istri almarhum Gus Luqman ini didampingi dua anaknya, Lailatul Madzuhna (18) dan Umrohatus Sholehah (11). Satu lagi anak Gus Luqman-Tyas Rukmini, yakni Muhammad Al-Insan Bela Belo (16), pelajar SMA Antartika Buduran, tak ada di tempat.

Menurut Farid Firdaus, para peserta pameran mengenang Gus Luqman (sekitar 30 pelukis) memang sudah berniat membagikan sebagian 'rezeki' kepada keluarga Gus Luqman. Sebanyak 60 persen dana dari lukisan yang terjual untuk keluarga Gus Luqman, sisanya untuk sang pelukis.

Pendapatan lain di luar penjualan lukisan pun diberikan ke keluarga. "Kita ingin menjadikan momentum ini sebagai ajang memperkuat solidaritas di antara pelukis-pelukis Sidoarjo dan sekitarnya. Baru pertama kali ini ada pameran untuk mengenang pelukis Sidoarjo," kata Farid Firdaus.

Di sela-sela penyerahan santunan, para seniman berdiskusi dengan Ny Tyas Rukmini. Dari sini diketahui bahwa sebelum meninggal dunia, 27 Agustus 2005, Gus Luqman ternyata membuat cukup banyak lukisan. Karya terakhirnya lebih kental nuansa ketuhanan, kendati almarhum memang sejak dulu dikenal sebagai pelukis surealis-sufistik.

Harryadjie BS, pelukis dari Sidokare, meminta Ny Tyas Rukmini untuk lebih berhati-hati dalam melepas karya-karya Gus Luqman. Jika pelukis sudah meninggal dunia, biasanya karyanya diburu kolektor, 'kolekdol' [koleksi kemudian 'didol' lagi], sejenis makelar. Mereka membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga sangat mahal.

"Jangan segan-segan minta nasihat kepada kami yang paham lukisan," kata Harryadjie.

Herman Sukamto, pelukis senior, juga meminta Ny Tyas untuk tidak melepas semua karya Gus Luqman. Harus ada beberapa karya berkualitas tinggi yang disimpan untuk koleksi dan kenangan keluarga.

"Suatu ketika bisa diceritakan kepada cucu-cucu bahwa dulu kakeknya pernah menjadi pelukis terkenal di Sidoarjo," kata Herman.

No comments:

Post a Comment