21 October 2005

Pameran terakhir Gus Luqman


Hingga 20 Agustus 2005 mendatang, Gus Luqman Azis menggelar pameran lukisan tunggal di Ekspo Kerajinan Permata Tanggulangin. Bagi Gus Luqman, ini merupakan pameran pertama di kampung halamannya sendiri.

"Saya kan lahir di Kludan, sehingga diminta pameran di sini. Saya cukup bangga, tapi juga sedih melihat keadaan sekarang," ujar Gus Luqman dalam pameran yang dibuka Wakil Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.

Di depan pengunjung ekspo, pria kelahiran 1 Juni 1959 itu menceritakan pengalaman masa kecil di Kludan. Ketika masih anak-anak, Gus Luqman mengaku sering mencuri tebu bersama teman-teman sebayanya. Dikejar-kejar mandor sekalipun anak-anak Kludan tidak jera.

"Semua anak di sini, ya, begitu. Kenapa? Karena kehidupan waktu itu susah, tebu itu buat makan. Saya geli juga kalau mengingat pengalaman masa kecil," tutur pria yang kini senantiasa mengenakan jubah khas Arab itu.

Kawasan Tanggulangin, termasuk Kludan, kemudian berkembang pesat. Lahan tebu, sawah-sawah, akhirnya hilang diganti toko-toko kerajinan dan sebagainya.

"Lha, sekarang kalau mau ngambil tebu di mana? Jangan-jangan yang 'dicolong' bukan tebu, tapi yang lain," tukasnya.

Gus Luqman sendiri tergusur ke Siring, Kecamatan Porong. Ekspresi masa kecil di Kludan digambarkan Gus Luqman dalam 35 lukisannya. Semua bergaya surealis meski beberapa di antaranya masih realis. 'Di Pantai Bahagia', misalnya, menggambarkan keteduhan, damai, dengan warna dominan hijau. Karena bukan pelukis realis, tentu Gus Luqman tidak melukis ladang tebu atau sawah yang indah.

"Tapi orang bisa menangkap getaran masa lalu yang bahagia itu lewat perasaan," ujar Gus Luqman yang didampingi istri dan anaknya.

Lukisan lain, judulnya 'Puncak Kedamaian', 'Bahagia di Taman', juga menceritakan kebahagiaan yang sederhana. Hampir semua karyanya dibubuhi kaligrafi berisi ayat-ayat suci Alquran. "Kalau soal kaligrafi memang tidak bisa lepas dari karya saya. Sebab, saya tidak melukis atau hidup kalau tidak punya sandaran ke Atas. Makanya, banyak asma Allah di karya saya," kata pria yang kerap diminta memimpin doa di berbagai hajatan itu.

Yang menarik, kendali lukisan-lukisan Gus Luqman cenderung berat, sulit ditafsirkan, jumlah pengunjung cukup banyak. Mereka rata-rata terpaku cukup lama melihat gambar wanita cantik dari tiga ras berbeda, yakni China, India, dan Jawa.

"Ukuran kecantikan itu berbeda-beda, makanya saya tampilkan tiga contoh wanita cantik. Kebetulan saya ini penggemar berat film India hahaha...," ujar Gus Luqman seraya menunjuk lukisan 'Artis Bollywood'.

No comments:

Post a Comment