09 June 2005

Konser Ebiet di Surabaya


Ebiet G Ade memang luar biasa. Meski kondisinya kurang fit, batuk-batuk, penyanyi dan penulis lagu legendaris ini berhasil memukau sekitar 800 penonton di Balai Pemuda Surabaya.

Yang menarik, di meja penonton tampak beberapa calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya seperti Bambang Dwi Hartono, Arief Afandi, Erlangga Satriagung, Arif Indriyanto, dan Muhtadi. Para 'balon' (bakal calon) ini tampak rukun, duduk di meja yang sama, sambil berbincang akrab.

Lupakan dulu kompetisi politik. Mari bersama menikmati musik Ebiet G. Ade.

"Kalau bukan Kang Ebiet nggak mungkin para balon itu bisa duduk bersama dalam suasana santai seperti ini. Kang Ebiet masih punya magnet yang luar biasa," ujar Herry Lentho, pengurus Dewan Kesenian Jatim.

Sadar kalau di depannya ada para 'balon' VVIP Surabaya, Ebiet tak lupa menggojlok mereka. "Saya tidak pernah menyangka malam ini para calon wali kota Surabaya menyaksikan konser saya. Mudah-mudahan salah satu di antaranya benar-benar jadi," ujar Ebiet disambut tepuk tangan meriah.
Bambang DH dan Erlangga pun tertawa lebar.

"Kalau sudah jadi wali kota, jangan lupa undang saya nyanyi hehehe.... Atau dibalik saja. Yang undang saya menyanyi bakal jadi wali kota Surabaya hehehe...," ujar Ebiet.

Akrab, santai, komunikatif.

Begitulah penampilan Ebiet G. Ade yang diiringi Casino Band (Surabaya) tanpa latihan itu. Ebiet tak hanya main gitar sambil bernyanyi, tapi juga bertutur seputar latar belakang lagu-lagu serta proses kreatifnya, terutama ketika berada di Jogjakarta tahun 1970-an.

Dibuka dengan Titip Rindu buat Ayah pada pukul 20:45, Ebiet G Ade membuat penonton larut dalam keheningan. Tak ada sorak-sorai atau hura-hura ala konser musik biasa. Penonton yang rata-rata berusia di atas 50 tahun itu diajak mengenang kembali figur ayah, yang mungkin sudah renta atau tak ada lagi di dunia.

"Mau nangis aja ingat almarhum ayahanda. Lagunya Kang Ebiet benar-benar menyentuh," ujar seorang penonton yang duduk di dekat saya.

Praktis, 17 lagu yang dibawakan Ebiet malam itu dikuasai dengan sangat baik oleh penonton. Nasihat Pengemis untuk Istri, Lagu untuk Sebuah Nama, Sketsa Rembulan Emas, Cintaku Kandas di Rerumputan, Camelia I, Camelia III, Berita kepada Kawan, Elegi Esok Pagi, Lolong, Untuk Kita Renungkan, Lolong, Dari Pintu ke Pintu, Aku Ingin Pulang.

"Tadinya saya hanya menganggarkan tujuh lagu. Tapi kok sekarang sudah 13 lagu," ujar Ebiet.

Lalu, terjadi semacam negosiasi antara Ebiet dengan penonton. Penonton, termasuk Arif Indrianto dan Erlangga, ingin tambah lagu, sementara Ebiet mengaku kondisinya kurang fit.

"Yok opo enake, rek! Kalau sama saudara-saudara sendiri, nggak apa-apa saya tambah beberapa lagu lagi," ujar pria kelahiran Banyumas, 21 April 1955 ini.

Arif Indiarto secara khusus meminta Berita kepada Kawan. Balon wali kota yang lain minta Untuk Kita Renungkan. Dua lagu tentang bencana alam ini akhir-akhir ini menimpa beberapa tempat di Tanah Air.

"Saya memang sudah membayangkan lagu saya ini bakal menjadi back sound peristiwa bencana alam. Sebab, bencana alam itu memang sudah menjadi kehendak Tuhan atau kelalaian kita yang tidak bisa merawat alam dengan baik.

"Tapi saya tidak pernah membayangkan bencana alam sedahsyat di Aceh," tutur Ebiet Gafar bin Abu Djafar, disingkat Ebiet G Ade.

Mendekati pukul 24:00, penonton tetap tidak beranjak pulang kecuali beberapa 'balon' wali kota yang punya acara mendadak. Kang Ebiet mengakhiri konser dengan lagu Aku Ingin Pulang.

"Lima kali saya ke Surabaya, empat kali saya sakit. Tapi, alhamdulillah, berkat dia dan energi dari saudara-saudara di Surabaya malam ini saya bisa membawakan lagu begitu banyak di luar perkiraan saya sendiri," ujar Ebiet.

Malam itu, Kang Ebiet didampingi sang istri, Yayuk Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto.

No comments:

Post a Comment