14 June 2005

Jazz masuk kampus di Surabaya

Konser jazz keliling kampus bertajuk 'Surabaya Jazz to Campus II' berakhir Jumat (1/4/2005) dinihari di halaman kampus UPN Veteran, kawasan Gunung Anyar, Surabaya. Meski tak seheboh konser band pop ala Peterpan, Padi, Dewa, dan sejenisnya, program jazz masuk kampus ini memberi ruang apresiasi musik jazz bagi generasi muda di Surabaya.

Cuaca malam Jumat (31/5/2005) di halaman kampus UPN Veteran Surabaya sejak awal memang kurang 'kondusif' untuk konser di halaman terbuka. Langit gelap, sesekali gerimis. Namun, sekitar 500 anak muda (sebagian besar mahasiswa UPN, ITS, Unair, dan kampus-kampus kawasan Semolowaru) bertahan di lokasi. Hanya beberapa gelintir yang beranjak pulang sore-sore.

"Alhamdulillah, gerimis tapi nggak jadi hujan. Rupanya, program jazz kita direstui," ujar Priyono Suparjan, pengurus C.TwoSix Jazz Club, di sela-sela pergelaran. Klub jazz yang bermarkas di Jl Medokan Ayu Surabaya ini merupakan penggagas acara sekaligus event organizer.

Seperti Surabaya Jazz Goes to Campus I (2004), program ini merupakan ajang pengenalan jazz kepada anak-anak muda, khususnya mahasiswa. Dibuka awal Maret di kampus Ubaya, konser ini digilir setiap pekan di ITS, kemudian ITATS, dan terakhir di UPN Veteran. Rata-rata setiap pergelaran menyedot penonton sekitar 500 hingga 600 orang, termasuk ketika konser di ITATS (24/3) yang bersamaan dengan atraksi Peterpan di Lapangan Brawijaya.

Ada keprihatinan mendalam seputar kehidupan musik jazz di Surabaya. Praktis, sudah tidak ada lagi konser jazz di kampus-kampus seperti tahun 1980-an. Kunjungan grup atau musisi jazz dari luar negeri pun sangat jarang. Padahal, sejak dulu Surabaya dikenal sebagai salah satu barometer musik jazz di Indonesia.

Sebut saja nama-nama dedengkot jazz macam Buby Chen, Olle Pattiselano, Mus Mudjiono, Maryono, hingga Embong Raharjo (alm). Kini, mana ada artis jazz dari Surabaya atau Jawa Timur? Syaharani, penyanyi asal Malang, rupanya muncul ketika blantika musik nasional didominasi oleh band-band pop-rock secara mutlak.

"Nah, kita ingin mengembalikan situasi jazz seperti tahun 1980-an," ujar Priyono seraya tersenyum.

Karena itu, program Jazz Goes to Campus ini lebih terasa sebagai 'sosialisasi' musik jazz di kampus-kampus yang sejak dulu dikenal sebagai pencetak artis-artis jazz. Tentu saja, tidak mudah mengingat anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan Peterpan, Padi, Linkin Park, atau Slank. Dan itu yang sempat terjadi di halaman UPN Veteran malam Jumat (31/3).

Ketika beberapa mahasiswa diminta menyanyikan lagu jazz (apa saja, dan dapat hadiah kaus dari sponsor), mereka menukas, "Lagunya Slank saja. Lagu jazz nggak pernah dengar, Mbak," kata seorang mahasiswa. Yang lain malah minta lagu dangdut. Beberapa band juga lebih banyak membawakan lagu pop seperti Terima Kasih (Joy Tobing, Indonesia Idol).

"Atmosfer sekarang memang beda. Musik jazz makin terpinggirkan, sehingga kita harus mulai sosialisasi dari awal sekali," tambah Roedi Purnama, dedengkot C TwoSix Jazz Club Surabaya.

Di pengujung Jazz Goes to Campus II ini tampil sembilan band, yang tak bisa disebut 'jazz band' murni. Di antaranya, Wave Band, Journey's Band (FKG Unair), Hitam Putih Band, Biru Band, Paddle Band (ITS), Week End Band, Dewaruci Band (UPN).

"Terus terang saja, kami ini baru belajar main jazz. Jadi, harap maklum kalau notnya masih banyak yang salah. Kami tahu di sini banyak dedengkot jazz Surabaya yang menonton," ujar seorang gitaris dari atas panggung.

Yah, namanya juga pengenalan musik jazz, band-band yang tampil empat kali sebulan ini umumnya menampilan nomor-nomor jazz ringan (smooth jazz), acid jazz, fussion, jazz campur hip-hop, hingga jazz sambil ngerap. Nomor-nomor yang pas dengan vocabulary anak muda Surabaya, yang baru mencoba mengenal jazz. Jangan harap ada nomor-nomor jazz standard atau mainstream ala Buby Chen atau Bill Saragih.

"Kita ajak mereka pelan-pelan dengan nomor yang tidak begitu ruwet," tukas Roedi, koordinator C Two Six Jazz Club, yang juga alumnus UPN Veteran.

Maka, malam itu meluncur nomor-nomor seperti Beautiful Journey's, Friends, Sunday Morning, Everlasting Love, hingga Reborn. Kalau tidak ngepop, pilihan sembilan band ini rata-rata nomor rancak ala Cassiopea. Ada juga pop-jazz ringan macam Jangan di Bibir Saja (Iga Mawarni) atau Aku Ini Punya Siapa (Januari Christy). Namanya juga baru belajar jazz, sebagain besar vokalis terpaksa membawa 'buku pintar' karena tak hafal syair lagu. Seorang vokalis bahkan 'enggan' menatap ke depan (penonton) karena konsentrasi penuh di 'buku pintar'.

Terlepas dari beberapa kelemahan itu, beberapa band sudah menunjukkan ketrampilan bermusik jazz dengan baik. Mereka bahkan berani tampil tanpa vokalis alias murni instumentalia seperti Journey's Band. Kendati hanya punya tiga personel, mahasiswa FKG Unair ini tampil menawan. Begitu pula Hitam Putih, Paddle (ITS), serta Week End. Penampilan mereka membuat kita masih optimis dengan masa depan jazz di Surabaya.

Andai saja mereka tekun, konsisten, terus belajar, bukan tak mungkin beberapa di antaranya bakal menjadi penerus seniman jazz di Indonesia. "Misi kita sejak awal sama. Yakni, 'mensepakbolakan jazz' di Surabaya," tegas Priyono. Sebuah misi besar yang menuntut perjuangan keras pula.

No comments:

Post a Comment