11 June 2005

Eka Sapta, Band Legendaris


Oleh Theodore K.S.

Sumber: Kompas, 30 April 2004

PADA awal tahun 1960-an, dunia musik Indonesia bukan hanya diwakili oleh orkes-orkes melayu (OM) seperti OM Bukit Siguntang, OM Sinar Medan, OM Irama Agung dengan lagu-lagu Melayunya, Orkes Gumarang, atau Sikumbang Cari yang mengumandangkan lagu-lagu Minangkabau. Kala itu dunia musik kita juga dimeriahkan oleh band-band Arulan, Zainal Combo, Koes Bersaudara, dan Eka Sapta.

Penampilan perdana Eka Sapta adalah sebagai band pendamping band nomor satu waktu itu, Arulan, di Bandara Kemayoran tahun 1962.

Eka Sapta terdiri atas Bing Slamet (bongo, konga), Ireng Maulana (gitar pengiring), Idris Sardi (bas, biola), Itje Kumaunang (gitar melodi), Benny Mustafa (drum), Darmono (vibraphone), dan Kamid (konga). Mereka mengiringi penyanyi-penyanyi Suzanna, Rima Melati, dan Vivi Sumanti.

Kehadiran pertama Eka Sapta berhasil mencuri hati publik bukan saja karena permainan beragam jenis musik yang disajikan Bing Slamet dan kawan-kawan, namun juga didukung penampilan yang trendi dengan peralatan yang terbilang mewah serta kostum yang khusus dijahit di Singapura.

"Untuk urusan peralatan musik dan kostum, yang menangani adalah Amin Wijaya. Kami hanya memikirkan musiknya," kenang Idris.

Amin adalah pendiri dan pemilik Bali Records, Canari Records, serta Metropolitan Records yang kemudian menjadi Musica Studio’s. Eka Sapta juga merupakan nama toko elektronik milik Amin di Pasar Baru.

Eka Sapta berarti sapta tunggal. Jadi, meskipun jumlah personel tujuh orang, kepemimpinan dilakukan secara bersama-sama. Adapun Amin bertindak sebagai produser rekaman dan manajer yang mencari berbagai acara untuk kehadiran Eka Sapta di atas panggung. Mereka bekerja sama dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Korps Komando Angkatan Laut (KKO) untuk mendekatkan ABRI dengan rakyat dalam acara "Malam Eka Sapta Non Stop Revue" di kota-kota di Sumatera dan Jawa.

"Semua hadirin sempat tertegun mengagumi suatu rangkaian tarian, njanjian, lawak, dan musical show jang terpadukan dengan harmonis disirami permainan tjahaja dengan utas-utas jang gemerlapan berwarna sedap; indah dan decorasi jang menakdjupkan. Ini semuanja berlangsung pada ’Malam Eka Sapta Non Stop Revue’-di beberapa kota seperti Medan, Semarang, Djogjakarta, Sala, Djember, Surabaja, Malang, dan Djakarta," demikian antara lain tulisan di belakang sampul piringan hitam (PH) Varia Malam Eka Sapta yang diterbitkan Bali Records dengan kode BLM 7002, tanpa tahun.

PH itu berisi sepuluh lagu dalam beberapa warna musik: Bingkisan Eka Sapta (instrumentalia), Semalam Di Kualalumpur dinyanyikan Tetty Kadi, Django (Trio Parsito), Kau Pergi Tanpa Pesan (Elly M Harris), Kasihlah Pak! (Bing Slamet), Bingkisan Idris Sardi (Idris Sardi pada biola), Ulang Tahun Kakek (Lilies Suryani), Bunga Nirwana (Munif), Sang "Django" (Yanti Bersaudara), dan Mudiak Arau (Elly Kasim).

"Malam Eka Sapta Non Stop Revue" di delapan kota itu berlangsung selama dua jam tanpa henti. Di samping para penyanyi, pertunjukan juga menghadirkan penari-penari Ensemble Tari Sanggar Karya pimpinan Juni Amir, Eka Quarta Modern Dance Group pimpinan Rima Melati, dan lawak. Pertunjukan yang diadakan di lapangan terbuka menyebabkan Amin mengambil inisiatif menggunakan sistem playback atau merekam terlebih dulu musik dan vokal penyanyi di studio.

"Peralatan sound system waktu itu belum memenuhi syarat untuk pertunjukan di lapangan terbuka. Jadi, mau tidak mau harus menggunakan cara itu," ungkap Ireng memberi alasan.

Sebagai manajer, menurut Benny, Amin banyak menumpahkan perhatiannya untuk Eka Sapta. Jadi, tidak heran jika selain mempersilakan Eka Sapta merekam lagu apa saja, ia sibuk mencari "lowongan" untuk grupnya ini guna mengisi berbagai acara, hingga membawa Eka Sapta ke Istana Bogor bersama grup keroncong pimpinan Achmad. Pada saat itulah Idris dan Bing Slamet mendapat perintah dari Bung Karno untuk mencari lagu-lagu beat yang khas Indonesia dan yang tidak ngak-ngik-ngok.

Terbentuklah grup Lensois di luar Eka Sapta, yang khusus membawakan lagu-lagu berirama lenso dan berkeliling Eropa bersama Bung Karno pada tahun 1965. Bung Karno sempat diundang ke rumah bintang film Italia, Gina Lolobrigida, yang mau berdansa dengan Bung Karno dengan diiringi Lensois.

"Kami juga sempat ditraktir Bung Karno minum-minum di sebuah kafe di Paris. Itulah terakhir kali saya dan Bing Slamet bertemu dia," ungkap Idris.

Bing Slamet adalah teman Amin sejak kecil. "Teman main gundu (kelereng)," seloroh Ireng.

Bing Slamet juga berteman dengan Idris yang bergabung di Orkes Studio Jakarta. Mereka sering membicarakan berbagai hal tentang musik, sampai pada suatu ketika timbul keinginan keduanya mendirikan sebuah band yang mampu memainkan berbagai jenis musik.

"Tetapi, sebuah grup musik tidak hanya terdiri dari para pemusik saja, juga penyandang dana. Dalam hal ini Bing Slamet menyebut nama Amin Wijaya, yang kemudian ternyata sangat mendukung niat kami," ujar Idris.

Ireng dan Benny yang waktu itu sedang bergabung dengan The Leading Stars segera direkrut. Kemudian juga diajak seorang gitaris jazz, Itje Kumaunang, serta pemain vibraphone, Darmono, dan penabuh konga Kamid. Eka Sapta pun resmi berdiri tahun 1962.

Amin memberi mereka sejumlah PH dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa sebagai referensi. Tempat berlatih mereka adalah di sebuah gudang di toko kopi Warung Tinggi, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Dinding gudang tersebut terdiri dari tumpukan karung-karung yang berisi biji kopi.

Dengan latar belakang para pemusiknya yang beragam, tidak heran jika Eka Sapta mampu memainkan semua jenis musik, mulai dari pop, rock’n’roll, cha-cha, jazz, keroncong, hingga Melayu (waktu itu belum ada istilah dangdut).

"Tetapi, untuk memperkenalkan diri, dalam rekaman kami mengawalinya dengan gaya The Ventures dan The Shadows," kata Idris maupun Benny membuka rahasia awal sukses mereka. Dengan konsep itu Eka Sapta memulai rekamannya dengan sejumlah lagu instrumental, seperti Putih-Putih Si Melati, Burung Kurcica, Mojang Priyangan, Zakaria, Tirtonadi, Gambang Suling, Euis, Titian nan Lapuak, Gadisku, Herlina, Kalau Jodoh, dan Suling Bambu.

"Sebagai pemain biola, sebenarnya saya tidak boleh main gitar bas karena senarnya besar. Tetapi, saya senang gaya bas The Ventures yang ngebut, tidak dipetik sebagaimana semestinya," kata Idris.

Sebagai produser, ternyata Amin tidak membatasi kreativitas Bing Slamet, Idris, ataupun personel Eka Sapta lainnya. Ia merilis album The Best Of Romantic Keronchong yang berisi 12 lagu instrumentalia Barat yang populer pada waktu itu. Lagu-lagu tersebut, antara lain, adalah Nobody’s Child, I Can’t Stop Loving You, For Mama, Spinning Wheel, To See My Angel Cry, Impossible Dream, Take My Hand For A While, Song Of Joy, Aquarius, Bridge Over Trouble Water, dan If You Go Away.

Eka Sapta tidak hanya menerbitkan lagu-lagu instrumental, kemudian justru banyak mengiringi penyanyi-penyanyi. Misalnya, Ireng sukses berduet dengan Alice Iskak di Pro Ganefo Night tahun 1963 dan juga membuat singel berjudul Kasih Remaja berisi empat lagu (Paul & Paula, Dua Insan Di Dunia, Dara Manis, dan Kasih Remaja).

Adapun Bing Slamet menyanyi bersama Giman (suara Bing Slamet dipercepat) lewat lagu-lagu Bunda Piara, Bing & Giman Bernyanyi, Burung Nuri, dan Kunanti Jawabmu.

"Bukan hanya dalam kreativitas, kami juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas, seperti honor dan mobil, yang bisa kami pergunakan setiap waktu. Amin memberi honor yang cukup besar bagi kami, tetapi jumlahnya saya tidak ingat. Yang jelas, kami tidak terpikir membeli rumah atau mobil karena Amin menyediakan semuanya bagi kami. Honor dari Eka Sapta kami habiskan begitu saja," kata Ireng.

"Kalau ditanya bagaimana kami membayar mobil yang kami gunakan setiap pergi ke studio atau menuju ke panggung pertunjukan, Amin selalu mengatakan cengli atau gampang diatur," ungkap Idris.

Begitu juga kalau ada yang meminjam uang, Amin sering tidak memperhitungkan ketika membayar honor para personel yang mengutang. Bahkan, kalau ada keluarga anggota Eka Sapta yang sakit, Amin yang sibuk. Ia menyediakan mobil, memanggil dokter, atau membawa mereka ke rumah sakit.

"Hubungan kami memang sifatnya kekeluargaan. Itulah sebabnya kemudian kami menyebutnya Amin Cengli, barangkali istilah sekarang Amin fair play," ujar Idris.

"Kalau kami merekam lagu-lagu yang sedikit serius dan dianggapnya kurang komersial, Amin menyimpannya. Tetapi, kemudian lagu-lagu itu diterbitkan juga sehingga kami bisa bebas berkarya tanpa khawatir ditolak," lanjut Idris.

Sementara Eka Sapta terus meningkat aktivitasnya, Ireng dan Benny yang juga menekuni desain interior diminta bantuannya untuk merampungkan paviliun Indonesia di New York World Fair 1964. Adapun Idris mengisi acara kesenian ajang pameran kesenian dan bisnis dunia itu.

Kekosongan Eka Sapta yang ditinggalkan mereka tidak membuat Amin kehilangan akal. Untuk tetap mengaktifkan grup tersebut, dalam studio rekaman maupun panggung, Kibout Maulana menggantikan Ireng, Eddy Tulis menduduki bangku drummer, dan Enteng Tanamal menjadi pemetik bas.

Dan, sejak saat itu anggota Eka Sapta terus bertambah hingga dibentuk juga Eka Sapta Junior yang terdiri atas Jopie Item (gitar), Rully Djohan (organ), Henky Makasuci (drum), Papo Parera (bas), Ronny Makasuci (bas), dan Hengky Firmansyah (gitar).

"Ketika Eka Sapta tampil di Surabaya, saya masih menjadi penonton dan mengagumi senior-senior saya," ungkap Jopie Item.

Bersama 11 anggota Eka Sapta lainnya, Jopie ikut dikirim Amin ke Singapura selama tiga bulan pada awal tahun 1970.

Berdasar ingatan Idris, mereka berada di Singapura untuk rekaman di Studio Kinitex. Sebuah rumah tinggal berlantai dua di Jalan Bintan, tidak jauh dari Wisma Indonesia, disediakan oleh Amin. Lantai satu untuk latihan dan di lantai dua terdapat kamar-kamar tidur.

"Pagi latihan, sore rekaman. Itulah yang kami lakukan selama berada di sana," ungkap Idris.

Amin mengirim Eka Sapta di negeri pulau itu karena Studio Metropolitan sedang dibangun di Jalan Perdatam Raya, Pancoran, Jakarta Selatan. Selama ini Eka Sapta menggunakan Studio Remaco di Jalan Gedung Panjang 1, Jakarta Utara. Menurut Ireng, keberadaan mereka di Singapura karena ada kerja sama antara Amin dan perusahaan rekaman Philips.

"Kami menerima kiriman lagu dari Jakarta, menyeleksinya, dan kemudian membagi-bagikan kepada empat penata musik, yakni Enteng, Idris, Ireng, dan Jopie," tutur Benny.

Penyanyi-penyanyi yang mereka pilih adalah Tanti Josepha, Vivi Sumanti, Tuty Ahem, Erni Djohan, Lilies Suryani, Elly Kasim, Nani Wijaya, Suzanna, Rima Melati, Inneke Kusumawati, Maya Sopha, dan Franz Doromez. Mereka mondar-mandir Jakarta-Singapura untuk mengisi suara pada lagu-lagu yang telah dipilih sesuai dengan karakter masing-masing.

Hubungan kekeluargaan seluruh anggota Eka Sapta dan Amin bagaikan tak terpisahkan selama di Singapura. Tidak jarang Amin menjadi juru masak, menyediakan santapan, sementara Eka Sapta rekaman di Studio Kinitex.

"Ratusan lagu kami kerjakan musiknya selama di sana dan puluhan album diterbitkan di Jakarta. Kami benar-benar dikarantina, tidak ada waktu untuk bersantai. Tidak ada waktu untuk jalan-jalan, apalagi mengunjungi kelab malam untuk menyaksikan konser grup lain, seperti yang kami lakukan sekarang kalau kebetulan berada di luar negeri," kata Benny yang sekarang bergabung dengan Ireng Maulana All Stars.

Salah seorang yang paling disenangi sekaligus membuat Amin kesal adalah Kibout. Menurut Kibout, sebagai pimpinan Amin justru bertindak melebihi pemusiknya sendiri. Kalau ada peralatan musik yang rusak, misalnya, ia tidak segan-segan turun tangan mengganti kabel. Atau menyuruh putranya, Sanjaya Wijaya, yang sekarang memimpin Musica Studio’s dan saat itu sekolah di Singapura, membeli makanan.

"Amin adalah bos yang merakyat. Ia kesal kepada saya karena saya senang menakut-nakutinya dengan cerita-cerita yang kami karang sendiri. Sebagai contoh, pohon di depan rumah kami bilang ada kuntilanaknya pada malam hari. Amin sering pulang larut malam dan kami disuruh menunggu dan membuka pintu. Siapa saja yang membuka pintu dikasih tips dua dolar," tutur Kibout.

Lebih dari semua itu, Amin sangat dihormati karena sepak terjangnya yang membuat Eka Sapta menjadi grup yang disegani dan dikagumi sampai ke Malaysia. "Kami lebih dikenal daripada bintang film. Bahkan, sejumlah aktris seperti Chitra Dewi, Nani Wijaya, dan Mieke Wijaya merasa bangga ketika merekam suaranya bersama kami," ujar Ireng.

Amin meninggal tahun 1979 dalam usia 50 tahun di Amerika Serikat dan Bing Slamet mendahuluinya, 17 Desember 1974. Sepeninggal mereka, Eka Sapta bisa dikatakan tidak ada yang memerhatikan. Apalagi masing-masing anggota sudah memiliki kegiatan masing-masing.

Itje, sang gitaris melodi, memutuskan ke Belanda dan bermukim di sana sampai saat ini.

Eddy Tulis menyusul Bing Slamet dan Amin beberapa tahun kemudian, demikian juga Papo Parera yang tutup usia tahun 2002. Adapun Kamid menjadi manajer sebuah hotel di Solo. Bersama Benny, tiga penggebuk drum terkenal (Fuad Hasan, Guntur Soekarnoputra, dan Eddy Tulis), Eka Sapta pernah main bareng dalam pergelaran Eka Sapta di Istora Senayan.

"Waktu tepatnya pertunjukan itu saya lupa. Rasanya sampai sekarang tidak pernah terjadi sebuah grup seperti Eka Sapta menghadirkan empat drummer dalam sebuah pertunjukan. Juga pertunjukan kolosal yang menggunakan musik playback seperti yang dilakukan Swara Mahardika, sudah kami kerjakan beberapa tahun sebelumnya dalam ’Malam Eka Sapta Non Stop Revue’. Banyak yang dilakukan generasi musik sekarang sudah terlebih dulu dikerjakan Eka Sapta," kata Benny.

"Amin yang membuat semuanya itu bisa terjadi. Tetapi, kepergiannya menyebabkan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Peranannya dalam Eka Sapta sangat besar. Sampai sekarang kami belum mendapat gantinya dan Eka Sapta secara resmi belum pernah bubar," kata Idris.

Theodore KS, Penulis Masalah Industri Musik

1 comment: