06 April 2005

Paus Yohanes Paulus II dan Pancasila


Paus Yohanes Paulus II (1924-2005) memang menaruh perhatian khusus pada Indonesia. Ia kagum dengan Pancasila dan punya pengalaman yang tak terlupakan dengan seorang Kardinal asal Indonesia.

Maret 2003 menjadi momen bersejarah bagi para uskup di seluruh Indonesia. Sebab, inilah terakhir kalinya mereka bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II, yang nota bene atasan langsung para uskup. Mgr Johanes Hadiwikarta, uskup Surabaya, yang juga sudah almarhum (wafat 13 Desember 2003) punya catatan penting tentang Sri Paus.

Audiensi dengan Sri Paus merupakan salah satu kewajiban para uskup di seluruh dunia. Di Kota Vatikan segala sesuatunya diatur secara hierarkis, dengan protokoler ketat. Yang pertama kali bertemu Sri Paus adalah Kardinal Julius Darmaatmadja SJ (Uskup Agung Jakarta dan ketua KWI), disusul uskup agung, kemudian uskup biasa. Uskup biasa pun digilir sesuai dengan usia tahbisannya.

Setiap hari rata-rata Paus menerima tiga sampai empat uskup masing-masing antara 5-10 menit saja. Hari Rabu, Sabtu, dan Minggu tidak ada audiensi dengan para uskup.

"Saya mendapat jatah bertemu dengan Paus pada 25 Maret 2003. Saya mendapat kesempatan agak lama, sekitar 10 menit," cerita Mgr Hadiwikarta suatu ketika.

Kalau dulu, Paus bisa berdiri untuk berfoto bersama para uskup Indonesia, sekarang ia hanya duduk saja selama audiensi. Yang menarik, di ruang kerjanya Sri Paus sudah menyiapkan peta Indonesia. Karena itu, ia sudah punya gambaran tentang suatu daerah manakala tengah menerima uskup atau rombongan mana pun. Kemudian ia menanyakan jumlah dan perkembangan umat, panggilan hidup membiara, kerja sama dengan umat beragama lain, khususnya Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.

"Beliau berbicara dengan saya dalam bahasa Italia. Untunglah, saya masih ingat bahasa Italia walaupun tidak sempurna. Beliau kelihatan tua tapi penuh kebapakan, maklum tahun ini (2003) beliau akan berumur 83 tahun," tutur almarhum Uskup Surabaya yang dimakamkan di Puh Sarang, Kediri, itu.

Acara lain yang wajib diikuti para uskup adalah makan siang bersama Sri Paus. Rombongan dibagi tiga kelompok masing-masing 12 orang. (Jumlah uskup di Indonesia 33 orang.) Paus Yohanes paulus II didampingi oleh dua ajudan. Yang menarik, kata Mgr Hadiwikarta, selama makan siang itu Sri Paus banyak bertanya tentang Pancasila, dasar negara kita. Ia juga meminta Mgr Hadiwikarta untuk menyebutkan sila-sila dalam Pancasila berikut maknanya.

Selain itu Sri Paus menyebut-nyebut nama almarhum Kardinal Justinus Darmajuwana SJ (almarhum), mantan ketua KWI dan mantan Uskup Agung Jakarta. Kardinal pertama asal Indonesia itu tak akan dilupakan Paus Yohanes Paulus II. Kenapa?

Ceritanya, tahun 1978 pada acara pemilihan Paus pengganti Yohanes Paulus I (yang
hanya bertakhta selama satu bulan), Kardinal Darmayuwana ternyata duduk persis di samping Kardinal Karol Wojtyla. Sejarah kemudian mencatat bahwa Wojtyla yang orang Polandia itu akhirnya terpilih sebagai Paus baru dengan nama Yohanes Paulus II.

Bagaimana mungkin Sri Paus melupakan Indonesia? "Beliau juga menyebut nama mantan Presiden Soeharto. Mungkin karena beliau telah berjumpa dengan Pak Harto beberapa kali," cerita Mgr Hadiwikarta.

Di meja makan, Bapa Suci menikmati makanan gaya Italia, hanya saja tidak minum anggur. Lalu, usai makan siang bersama, masing-masing uskup asal Indonesia mendapat salib perak sebagai kenang-kenangan.

Dalam catatannya, Mgr Hadiwikarta mengaku sangat senang bisa bertemu Paus, makan bersama, sambil membicarakan hal-hal ringan tentang Indonesia. Ia, bersama para uskup yang lain, juga mencium tangan Sri Paus tanda hormat. "Saya sendiri studi di Roma selama tiga tahun dari tahun 1974-1977, tapi tidak pernah mendapat kesempatan semacam ini. Paling banter hanya melihat Paus dari jendela atau di Basilika Santo Petrus. Itu pun dalam jarak yang sangat jauh sekali," kata Mgr Hadiwikarta.

Kini, semua tinggal catatan sejarah. Kardinal Darmajuwana SJ sudah lebih dulu wafat. Mgr Hadiwikarta menyusul ke alam baka pada 13 Desember 2003. Paus Yohanes Paulus II menyusul pada 3 April 2005. Semoga mereka berbahagia bersama di sisi-Nya.

Resquescat in pace, RIP! Selamat jalan Sri Paus.

No comments:

Post a Comment