16 April 2005

Joseph Ratzinger sebagai Paus Benediktus XVI


Joseph Kardinal Ratzinger akhirnya terpilih sebagai Paus ke-265, pengganti Yohanes Paulus II yang meninggal pada 2 April 2005. Sungguh sebuah kejutan karena konklaf (sidang 115 kardinal untuk memilih Sri Paus baru) berlangsung sangat singkat.

Dalam waktu kurang dari dua hari para "pangeran" Gereja Katolik itu sudah mengumumkan, "Habemus Papam! Kami telah memilih Paus baru!"

Asap putih dari cerobong Kapel Sistina di Kota Vatikan langsung mengepul, dan tak lama kemudian Kardinal Joseph Ratzinger muncul di depan ribuan jemaat yang sudah menunggu di lapangan Santo Petrus. Paus berusia 78 tahun asal Jerman ini (lahir 16 April 1927) ini memilih nama Paus Benediktus XVI. Nama yang dipilih Kardinal Ratzinger, Paus Benediktus, ini juga mengejutkan dan agak "asing" di telinga umat Katolik masa kini.

Bagaimana tidak. Paus yang terakhir kali memakai nama Benediktus adalah Kardinal Giacomo della Chiesa (Genoa, Italia) pada 1914-1922, Paus Benediktus XV. Kenapa kok bukan Yohanes Paulus III (seperti diperkirakan banyak orang, penerus Yohanes Paulus II), Yohanes XXIV (penerus Yohanes XXIII), atau Paulus VII (penerus Paulus VI)? Tak jelas.

Pemilihan nama memang diserahkan sepenuhnya kepada Kardinal Ratzinger yang terpilih dalam sidang konklaf tercepat dalam satu abad terakhir itu.

Kejutan lain, Kardinal Ratzinger menjadi Paus tertua dalam 275 tahun terakhir. Dia juga merupakan Paus pertama asal Jerman dalam hampir seribu tahun terakhir. Selain mendiang Paus Yohanes Paulus II yang asal Polandia, seperti diketahui, selama ini pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia itu berasal dari Italia.

Di luar beberapa keunikan tadi, kalau dicermati secara saksama, terpilihnya Ratzinger sebagai Paus Benediktus XVI sebetulnya sudah bisa diperkirakan jauh-jauh hari. Mungkin baru kali inilah, kardinal yang dijagokan akhirnya keluar sebagai Paus.

Pada konklaf sebelumnya, siapa yang menyangka kalau Karol Wojtyla bakal menjadi Paus Yohanes Paulus II? Albino Luciani menjadi Paus Yohanes Paulus I? Dus, konklaf yang tidak mengejutkan pada 18 April 2005 justru merupakan kejutan tersendiri di abad ini.

Begitu cepatnya konklaf berlangsung (dulu pernah satu bulan, bahkan tiga bulan) mengisyaratkan bahwa 115 kardinal dari 52 negara, termasuk Kardinal Julius
Darmaatmadja (Indonesia), tak banyak berbeda pendapat. Mayoritas kardinal tampaknya jauh-jauh hari mengincar "kardinal panser" sebagai pengganti Yohanes Paulus II.

Hanya dalam satu dua ronde, suara para kardinal langsung megerucut ke satu nama, Ratzinger, dan konklaf pun rampung.

Kenapa harus Kardinal Ratzinger? Beliau sangat dekat dengan almarhum Paus Yohanes Paulus II, khususnya sejak Konsili Vatikan II (1962-65). Keduanya dikenal sebagai tokoh penting di balik lahirnya dokumen-dokumen penting konsili yang mengubah wajah Gereja Katolik. Bersama Karol Wojtyla, Ratzinger berhasil melahirkan dokumen-dokumen luar biasa seperti Nostra Aetate yang berisi pandangan positif gereja terhadap agama-agama lain. Sikap positif terhadap Islam tertulis eksplisit di Nostra Aetate.

Karena itu, hubungan antara Karol Wojtyla dan Joseph Ratzinger memang sudah dekat sejak awal 1960-an. Ketika Karol terpilih sebagai Paus Yohanes Paulus II pada 1978, Kardinal Ratzinger dipanggil untuk membantu sang sahabat di Takhta Suci, Vatikan, sebagai Kongregasi Doktrin Iman. Jabatan ini sangat penting dan menentukan ajaran-ajaran resmi Gereja Katolik.

Boleh dikata, Kardinal Ratzinger merupakan tangan kanan Paus Yohanes Paulus II.
Menurut Pastor Alex Susilo Wijaya SJ dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), sejak belasan tahun terakhir, ketika kondisi fisik Sri Paus menurun, Kardinal Ratzinger-lah yang banyak berperan di balik layar dalam penyusunan dokumen-dokumen resmi gereja.

Peranan Ratzinger memang sangat menonjol, dan bisa dilihat langsung di berbagai kesempatan. Jangan heran, ketika sahabatnya, Paus Yohanes Paulus II, wafat pada 3 April 2005 Kardinal Ratzinger langsung dipercaya sebagai ketua dewan kardinal. Dialah yang memimpin perayaan ekaristi sekaligus prosesi pemakamaman Sri Paus, yang diikuti 200-an pemimpin negara-negara di dunia.

Dari sini bisa dibaca bahwa terpilihnya Ratzinger sebagai Paus ke-265 merupakan keinginan peserta konklaf agar ajaran-ajaran dan kebijakan Paus Yohanes Paulus II diteruskan, diperluas, dikembangkan. Dari 115 kardinal peserta konklaf, Kardinal Ratzinger jelas merupakan pilihan paling tepat. Tak heran, dalam misa pertama sebagai Sri Paus, Kardinal Ratzinger alias Paus Benediktus XVI berkali-kali merujuk pada pendahulunya yang baru saja dimakamkan 8 April 2005.

Sri Paus asal Jerman ini menegaskan bahwa ia ingin melanjutkan "dialog yang terbuka dan tulus" seperti yang sudah dirintis Paus Yohanes Paulus II selama 26 tahun. Amanat Konsili Vatikan II, yang antara lain digarapnya bersama almarhum Yohanes Paulus II, akan dilanjutkan. Dan, tak kalah penting adalah gerakan ekumene alias reunifikasi gereja-gereja dari berbagai denominasi. Semua program Paus Benediktus XVI sejatinya sama dengan pendahulunya dari Polandia itu.

"Seperti Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI ini Paus yang konservatif dalam arti positif. Dan semua Paus memang harus konservatif karena tugasnya menjaga nilai-nilai moral dan martabat manusia. Jadi, nggak bisa Paus yang jingkrak-jingkrak," kata Pastor Alex Wijaya dari KWI kepada saya.


Namun, bagaimanapun juga semua Paus itu dalam sejarahnya selalu unik. Namanya manusia, ada plus-minusnya masing-masing. Yohanes Paulus II adalah Paus yang naik takhta dalam usia sangat muda, 58 tahun, di masa perang dingin yang begitu mencekam. Dengan energi mudanya, almarhum melanglang buana ke berbagai negara, bertemu dengan berbagai manusia yang berbeda-beda bangsa, bahasa, agama, sistem politik, dan sekat-sekat lainnya.

Sementara usia Paus Benediktus XVI sudah mendekati 80 tahun, sehingga bisa dipastikan tak akan sedinamis Yohanes Paulus II. Masa kepausannya pun niscaya dibatasi oleh usia dan kondisi fisik. "Seperti bunga. Bentuk dan warnanya macam-macam, tapi sama-sama indah. Sejak dulu semua Paus itu unik, punya peran sendiri-sendiri," kata Pastor Alex Wijaya SJ.

So? Kita tunggu saja kiprah Benediktus XVI! Meski sangat dekat dengan mendiang Paus Yohanes Paulus II, jelas ia tak ingin menjadi fotokopi pendahulu dan sahabatnya itu, terbukti dari nama Bendektus XVI dan bukan Yohanes Paulus III yang dipilih. "Keabotan," kata orang Jawa.

Habemus Papam! Viva il Papa!

06 April 2005

Paus Yohanes Paulus II dan Pancasila


Paus Yohanes Paulus II (1924-2005) memang menaruh perhatian khusus pada Indonesia. Ia kagum dengan Pancasila dan punya pengalaman yang tak terlupakan dengan seorang Kardinal asal Indonesia.

Maret 2003 menjadi momen bersejarah bagi para uskup di seluruh Indonesia. Sebab, inilah terakhir kalinya mereka bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II, yang nota bene atasan langsung para uskup. Mgr Johanes Hadiwikarta, uskup Surabaya, yang juga sudah almarhum (wafat 13 Desember 2003) punya catatan penting tentang Sri Paus.

Audiensi dengan Sri Paus merupakan salah satu kewajiban para uskup di seluruh dunia. Di Kota Vatikan segala sesuatunya diatur secara hierarkis, dengan protokoler ketat. Yang pertama kali bertemu Sri Paus adalah Kardinal Julius Darmaatmadja SJ (Uskup Agung Jakarta dan ketua KWI), disusul uskup agung, kemudian uskup biasa. Uskup biasa pun digilir sesuai dengan usia tahbisannya.

Setiap hari rata-rata Paus menerima tiga sampai empat uskup masing-masing antara 5-10 menit saja. Hari Rabu, Sabtu, dan Minggu tidak ada audiensi dengan para uskup.

"Saya mendapat jatah bertemu dengan Paus pada 25 Maret 2003. Saya mendapat kesempatan agak lama, sekitar 10 menit," cerita Mgr Hadiwikarta suatu ketika.

Kalau dulu, Paus bisa berdiri untuk berfoto bersama para uskup Indonesia, sekarang ia hanya duduk saja selama audiensi. Yang menarik, di ruang kerjanya Sri Paus sudah menyiapkan peta Indonesia. Karena itu, ia sudah punya gambaran tentang suatu daerah manakala tengah menerima uskup atau rombongan mana pun. Kemudian ia menanyakan jumlah dan perkembangan umat, panggilan hidup membiara, kerja sama dengan umat beragama lain, khususnya Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.

"Beliau berbicara dengan saya dalam bahasa Italia. Untunglah, saya masih ingat bahasa Italia walaupun tidak sempurna. Beliau kelihatan tua tapi penuh kebapakan, maklum tahun ini (2003) beliau akan berumur 83 tahun," tutur almarhum Uskup Surabaya yang dimakamkan di Puh Sarang, Kediri, itu.

Acara lain yang wajib diikuti para uskup adalah makan siang bersama Sri Paus. Rombongan dibagi tiga kelompok masing-masing 12 orang. (Jumlah uskup di Indonesia 33 orang.) Paus Yohanes paulus II didampingi oleh dua ajudan. Yang menarik, kata Mgr Hadiwikarta, selama makan siang itu Sri Paus banyak bertanya tentang Pancasila, dasar negara kita. Ia juga meminta Mgr Hadiwikarta untuk menyebutkan sila-sila dalam Pancasila berikut maknanya.

Selain itu Sri Paus menyebut-nyebut nama almarhum Kardinal Justinus Darmajuwana SJ (almarhum), mantan ketua KWI dan mantan Uskup Agung Jakarta. Kardinal pertama asal Indonesia itu tak akan dilupakan Paus Yohanes Paulus II. Kenapa?

Ceritanya, tahun 1978 pada acara pemilihan Paus pengganti Yohanes Paulus I (yang
hanya bertakhta selama satu bulan), Kardinal Darmayuwana ternyata duduk persis di samping Kardinal Karol Wojtyla. Sejarah kemudian mencatat bahwa Wojtyla yang orang Polandia itu akhirnya terpilih sebagai Paus baru dengan nama Yohanes Paulus II.

Bagaimana mungkin Sri Paus melupakan Indonesia? "Beliau juga menyebut nama mantan Presiden Soeharto. Mungkin karena beliau telah berjumpa dengan Pak Harto beberapa kali," cerita Mgr Hadiwikarta.

Di meja makan, Bapa Suci menikmati makanan gaya Italia, hanya saja tidak minum anggur. Lalu, usai makan siang bersama, masing-masing uskup asal Indonesia mendapat salib perak sebagai kenang-kenangan.

Dalam catatannya, Mgr Hadiwikarta mengaku sangat senang bisa bertemu Paus, makan bersama, sambil membicarakan hal-hal ringan tentang Indonesia. Ia, bersama para uskup yang lain, juga mencium tangan Sri Paus tanda hormat. "Saya sendiri studi di Roma selama tiga tahun dari tahun 1974-1977, tapi tidak pernah mendapat kesempatan semacam ini. Paling banter hanya melihat Paus dari jendela atau di Basilika Santo Petrus. Itu pun dalam jarak yang sangat jauh sekali," kata Mgr Hadiwikarta.

Kini, semua tinggal catatan sejarah. Kardinal Darmajuwana SJ sudah lebih dulu wafat. Mgr Hadiwikarta menyusul ke alam baka pada 13 Desember 2003. Paus Yohanes Paulus II menyusul pada 3 April 2005. Semoga mereka berbahagia bersama di sisi-Nya.

Resquescat in pace, RIP! Selamat jalan Sri Paus.

Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia





Ada lima tempat yang dikunjungi Paus Yohanes Paulus II (almarhum) pada 1989, yakni Jakarta, Jogjakarta, Flores (Maumere), Medan, dan Timor Timur. Waktu itu Timtim masih menjadi bagian dari Indonesia. Kunjungan ke Flores paling heboh dan unik.

Presiden Soeharto berserta menteri-menteri 'Kabinet Pembangunan' plus ABRI saat itu agak ketar-ketir dengan rencana Paus Yohanes Paulus II menginap satu malam di Maumere, Flores. Bukan apa-apa. Pemerintah RI khawatir dengan keselamatan Sri Paus, yang nota bene Very-Very Important Person (VVIP).

Kenapa harus di Flores? Kenapa tidak menginap di Jakarta atau Denpasar saja? Lagi pula, Flores tidak punya hotel yang layak untuk menampung Sri Paus beserta rombongan besar. Jangankan hotel berbintang, mencari hotel melati di Flores dan tempat-tempat lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya sangat sulit.

Tapi, Sri Paus asal Polandia ini, melalui Duta Besar Vatikan di Jakarta, menegaskan, tetap akan tinggal satu malam di 'pulau bunga' Flores. Kabarnya, ia ingin melihat dari dekat situasi umat Katolik di sana yang populasinya di atas 90 persen.

Di Flores, khususnya Kabupaten Sikka, juga ada dua seminari tinggi yang sangat terkenal: Seminari Tinggi Ledalero dan Seminari Tinggi Ritapiret. Ledalero menjadi tempat penggodokan para pastor Societas Verbi Divini (SVD) yang berorientasi internasional, dengan moto 'dunia adalah paroki kami'. Ritapiret menjadi tempat pembibitan para iman praja yang akan berkarya di wilayah Gereja Nusa Tenggara.

Nah, Sri Paus ingin merasakan langsung suasana seminari alias Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) di Flores itu. "Ini yang membuat beliau ngotot menginap di Flores, selain karena umat Katolik di Flores memang mayoritas. Sebagai gembala, dia ingin mengenal dari dekat domba-dombanya," ujar Pastor Antonius Waget SVD, alumnus Seminari Tinggi Ledalero.

Singkat cerita, sebulan sebelum kunjungan bersejarah ke Flores itu kawasan seminari 'disterilkan' oleh aparat keamanan dari Jakarta. Kamar-kamar seminari ditata sedemikian rupa untuk menyambut Bapa Suci yang juga kepala negara Kota Vatikan itu. Kamar-kamar seminari direnovasi total agar layak didiami Sri Paus dan ratusan anggota rombongan. "Sibuk luar biasa waktu itu," kenang Anton Waget.

Seminggu sebelum hari-H, ratusan warga Flores dari lima kabupaten (Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur) sudah bergerak ke Maumere. Asal tahu saja, jalan raya di sepanjang Flores (trans-Flores) saat itu sangat buruk dan sempit.

Jarak Larantuka (Flores Timur) ke Maumere yang 'hanya' 136 kilometer makan waktu delapan hingga sembilan jam. Jika mogok di jalan, bisa lebih lama lagi. Tapi, begitulah, pekan pertama Oktober 1989 itu warga Flores rela bolos atau tidak bekerja agar bisa mengikuti misa agung di Maumere.

Seperti di Jogjakarta dan Medan, misa di Flores pun sangat kental dengan nuansa inkulturasi. Umat dari lima kabupaten seakan-akan berlomba untuk menampilkan
tari-tarian dan musik tradisional untuk Sri Paus. "Kunjungan yang mengesankan," ujar Paus Yohanes Paulus II.

Ada lagi cerita ringan di balik kunjungan ke Flores. Kebetulan di sana ada Prof Dr Josef Glinka SVD, pastor dan antropolog asal Polandia, satu negara dengan Sri Paus. Pater Glinka, yang kini pindah ke Surabaya dan menjadi guru besar antropologi di Universitas Airlangga, kebagian tugas khusus.

Selain mendampingi dan menjadi penerjemah Sri Paus dalam bahasa Polandia -- meski Sri Paus yang satu ini poliglot (menguasai banyak bahasa) -- Glinka berperan sebagai konsultan bagi penyedia masakan bagi Sri Paus.

Asal tahu saja, selain pakar antropologi ragawi, Pater Glinka punya hobi memasak di dapur. Sebagai warga Polandia, tentu saja Pater Glinka tahu persis makanan kegemaran Sri Paus. Menurut dia, Paus Yohanes Paulus II sebenarnya tidak rewel dalam soal makanan. Karena itu, ketika berada dua hari di Flores tidak ada persoalan serius. Sri Paus tetap sehat dan melanjutkan perjalanan ke Timor Timur.

Status Timtim di dunia internasional pada 1989 belum jelas. Secara de facto Timtim diklaim sebagai provinsi ke-27 Indonesia karena 'berintegrasi' pada 1976. Namun, di sisi lain Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional tidak mengakuinya. Vatikan sendiri pun masih menganggap Timtim sebagai wilayah yang belum punya pemerintahan sendiri.

Konsekuensinya, Keuskupan Dili yang dipimpin Mgr Carlos Filipe Ximenes Bello (waktu itu) tidak masuk Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kalaupun Mgr Bello kerap mengikuti acara-acara KWI di Jakarta, misalnya, statusnya hanyalah 'peninjau'.

Nah, karena itu, kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Timtim punya implikasi politik luar biasa. Pemerintah RI jelas berkepentingan agar Sri Paus menggunakan forum kunjungan ini untuk mengakui status Timtim sebagai bagian dari NKRI. Paus Yohanes Paulus II tentu saja tak ingin terjebak dalam perangkap politik. Dengan cerdik, Vatikan menyebut kunjungan ini hanyalah kunjungan pastoral biasa.

Dan, dalam misa di Dilli Sri Paus bersikap netral. Tak ada pernyataan politik yang bersifat pro atau kontra kemerdekaan Timor Timur. Sri Paus hanya meminta agar semua pihak menghormati hak-hak asasi manusia, menghormati kehidupan, memajukan keadilan dan perdamaian. Isi khotbah normatif yang juga sering disampaikan di tempat-tempat lain di dunia.

Mgr Bello, yang oleh rezim Orde Baru sering dituduh 'anti-integrasi', pun berusaha meredam kecurigaan pemerintahan Soeharto. Dia menegaskan, kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Timor Timur pada 1989 tak lebih sebagai kunjungan biasa seorang gembala kepada domba-dombanya. Bukankah Dioses (Keuskupan) Dilli langsung berada di bawah Vatikan?

Begitulah, dalam kenyataan, kiprah almarhum Karol Wojtyla (nama asli Paus Yohanes Paulus II) selama 26 tahun senantiasa mengandung dimensi politik baik langsung maupun tidak. Ini pulalah yang ia lakukan saat menghancurkan sistem komunisme di sejumlah negara Eropa.

01 April 2005

Singapore National Academy (SNA) di Sidoarjo


Setelah melalui  masa uji coba selama satu tahun, Sabtu (12/3/2005), Singapore National Academy (SNA) di kawasan Pepelegi, Waru, Sidoarjo, diresmikan. Grand opening sekolah internasional itu dilakukan oleh Ali Ghofar, kepala dinas pendidikan Sidoarjo.

Seharusnya, grand opening SNA dilakukan oleh Bupati Sidoarjo Win Hendrarso. Namun, Win berhalangan karena menghadiri acara penting di tempat lain. "Jadi, saya yang mewakili Bupati Sidoarjo," ujar Ali Ghofa.

Grand opening SNA ini dihadiri Alim Markus (bos Maspion), Alim Satria (ketua yayasan), hingga Ang Wee Hiong (CEO/prinsipal Hwa Chong Institution, Singapura). Namanya juga sekolah internasional, suasana internasional sangat terasa dalam peremian SNA Pepelegi.

Dipandu Sophy Octavia Alim, para pejabat dan tamu mula-mula diajak meninjau kompleks SNA yang luas dan dilengkapi fasilitas berstandar internasional. Mulai dari tempat bermain anak-anak, fasilitas olahraga, laboratorium, hingga convention hall. Setelah itu,
manajemen SNA menjelaskan seluk-beluk sekolahnya dengan teknologi multimedia.

Kemudian presentasi kurikulum primary and secondary school oleh Mr Stuart Ellis. Para siswa kemudian membawakan modern dance, lagu-lagu Mandarin, serta drama berbahasa Inggris.

Sophy Octavia Alim, bos SNA Pepelegi, menjelaskan, sekolah yang dia rintis tahun 2004 ini menggunakan kurikulum internasional dari Singapura. Sehari-hari pelajar SNA mendapat pelajaran dalam tiga
bahasa: Inggris, Mandarin, dan Indonesia. Ini sesuai dengan visi
pengelola SNA yang ingin menyiapkan generasi muda kita untuk menghadapi tantangan globalisasi.

Menurut Sophy, hanya dalam tempo kurang dari satu tahun SNA berhasil menarik perhatian cukup banyak orang tua di Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, dan sekitarnya. Sekarang saja sudah tercatat 150-an anak yang belajar di SNA mulai play group hingga secondary schoo alias SMP.