23 October 2017

Negara ateis kok lebih maju

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan selalu bikin kejutan dengan joke yang menggelitik. Seperti dimuat Jawa Pos pagi ini. Dalam sebuah acara peluncuran buku di Surabaya, Pak Bos mengungkap tantangan Indonesia (mayoritas Islam, semua penduduk wajib beragama) untuk menjadi negara yang makmur.

Dahlan Iskan:

"Indonesia yang bertuhan satu sedang mendapat tantangan dari bangsa yang tidak bertuhan (Tiongkok) dan yang bertuhan banyak (India). Tiongkok yang tidak bertuhan maju sekali.... Ekonomi India sangat maju sejak menghapus swadeshi alias berdikari. Pertumbuhan ekonomi India mencapai 7 persen.

Lantas, kita harus bagaimana? Apakah negara yang bertuhan hanya satu bisa berkompetisi dengan negara yang bertuhan banyak atau tidak bertuhan?"

Hadirin tepuk tangan dan tertawa.

Di forum hari santri ini Pak Dahlan tentu tidak membahas masalah teologi. Monoteisme. Ateisme. Politeisme. Pak Dahlan yang baru kembali dari Tiongkok hanya ingin mengajak peserta seminar (orang Indonesia) untuk kerja kerja kerja.... Agar bisa maju seperti Tiongkok atau India.

Indonesia yang rakyatnya beragama, mayoritas Islam, mestinya bisa lebih maju ketimbang India yang tuhannya banyak atau Tiongkok yang tidak bertuhan. Sebab agama punya daya dorong yang luar biasa bagi pemeluknya. Kok kita kalah sama Tiongkok yang ateis dan komunis?

Ironisnya lagi, di negara bertuhan ini, tingkat korupsi begitu tinggi. Pejabat-pejabat pusat dan daerah bolak-balik dicokok KPK karena nyolong duit rakyat. Bahkan anggaran untuk pengadaan kitab suci hingga urusan ibadah seperti haji pun ditilep. Sekarang lagi heboh uangnya jamaah umrah First Travel diembat si pengusaha yang penampilannya sangat alim.

Lalu, apa yang salah di Indonesia? Bangsa yang selalu bangga dengan agama dan ketuhanannya itu? Saya khawatir lama-lama agama jadi bahan tertawaan di negeri panda.

20 October 2017

Pelukis Sidoarjo Ikut PSLI 2017

Sedikitnya 10 pelukis asal Kabupaten Sidoarjo berpartisipasi dalam Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2017. Mereka menyertakan karya-karya terbaru yang ramah pasar di ajang tahunan untuk memeriahkan hari jadi Provinsi Jawa Timur itu.
Para pelukis Kota Delta yang ambil bagian di PSLI 2017 antara lain M Nasrudin, M Cholis, Bambang Tri, Wiji Sayid, Andris, Daniel De Quelyu, Bangun Asmoro, dan Wadji Iwak.

"PSLI ini jadi ajang silaturahmi dengan para pelukis dari berbagai kota di Indonesia. Kita juga bisa diskusi dan berbagi informasi tentang perkembangan seni lukis di tanah air," ujar Wadji Iwak kepada saya, Jumat 20 Oktober 2017 di Gedung JX International Jalan Ahmad Yani 99 Surabaya.

Pelukis senior asal Desa Bangsri, Sukodono, ini boleh dikata melupakan pelanggan tetap pasar seni lukis. Wadji Iwak seperti biasa menampilkan lukisan-lukisan-lukisan dengan tema ikan. Mulai ikan koi, arwana, hingga ikan bakar yang siap disajikan di meja makan.

"Sudah puluhan tahun saya melukis. Makanya, saya sudah dikenal dengan lukisan ikan. Bukan berarti saya tidak membuat lukisan-lukisan lain yang objeknya bukan ikan," ujar pelukis bernama asli Wadji Martha Saputra ini.

Sesuai nama event, pasar seni lukis, menurut Wadji, para pelukis yang datang dari Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, Gresik, Jombang, Kediri, Jakarta, Bandung, Bali, Magelang, dan kota-kota lain ini mengusung lukisan yang ramah pasar. Lukisan yang mudah diapresiasi oleh masyarakat. Khususnya kolektor lukisan. "Makanya, lukisan ikan yang saya tampilkan di sini kelihatan indah dan realis. Itu yang disukai orang banyak," tuturnya.

Meski begitu, Wadji tetap menyisipkan beberapa lukisan ikan yang cenderung abstrak dan rumit di stannya. Lukisan seperti ini dianggap mencerminkan isi hati dan idealismenya sebagai seniman. "Seorang pelukis harus bisa pandai-pandai menyiasati situasi ini agar bisa hidup dari kesenian. Kalau cuma menuruti idealisme saja, ya lukisannya sulit laku. Mau makan apa kita?" tuturnya.

Di ajang pasar seni lukis yang berlangsung selama 10 hari ini, Wadji mengaku senang karena beberapa lukisan ikannya sudah diserap pasar. Harganya? "Wah, kalau itu masih dalam proses negosiasi," ujar seniman yang juga kolektor benda-benda pusakan seperti keris bertuah itu.

Kisruh angkutan online vs konvensional

Sejak ojek dan taksi online beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lain, saya sudah duga bakal terjadi gejolak. Taksi-taksi lama, angkot, dan kendaraan umum lain pasti ngamuk. Sebab pasar mereka dikeruk habis.

Benar saja. Masyarakat rame-rame lari ke daring (online) karena mudah diakses. Lewat ponsel. Ojek atau taksi online itu datang jemput di mana saja. Tepat waktu. Sebab angkutan online ini tersedia di berbagai titik. Beda dengan taksi biasa yang hanya mangkal di beberapa titik terbatas.

Jauh sebelum ada taksi atau ojek online, sistem transportasi macam ini sudah jamak di luar Jawa. Khususnya Indonesia bagian timur seperti NTT. Di kampung halaman saya itu (hampir) semua mobil pribadi atau sepeda motor dijadikan angkutan umum. Kita cukup menelepon atau kirim SMS ke nomor tukang ojek atau pemilik mobil pribadi.

Biasanya setiap rumah di Kupang ada nomor-nomor ojek dan pemilik kendaraan pribadi yang bisa dikontak setiap saat. Langganan saya namanya Bapa Anton. Kalau mau ke Bandara Eltari Kupang pukul 05.00 ya pakai jasa bapak ini. Atau pakai ojek seorang nyong asal Timor.

Tidak pakai aplikasi atau internet karena (saat itu) belum ada. Cukup telepon rumah atau HP. Mengapa tidak pakai taksi resmi? Tidak ada. Di ibu kota NTT itu hanya ada beberapa unit taksi milik koperasi TNI AU. Tapi sulit diajak mengantar penumpang ke tempat yang jauh. Saya malah pernah diturunkan di jalan oleh sopir brengsek. Bukti bahwa budaya tolong-menolong dan empati orang NTT (sama-sama pribumi) sudah luntur.

Kembali ke Surabaya atau Jakarta. Di Jawa taksi dan angkutan umum banyak. Mereka punya armada yang cukup. Harus izin macam-macam. Modal raksasa. Karena itu, menggunakan kendaraan pribadi untuk angkut penumpang jelas pelanggaran. Yang boleh angkut penumpang ya plat kuning. Plat hitam haram bawa penumpang... kecuali di NTT.

Ketika angkutan aplikasi booming, maka hancurkan undang-undang dan peraturan lainnya. Ugal-ugalan. Sepeda motor angkut penumpang. Mobil pribadi plat hitam bawa penumpang. Padahal pemerintah daerah dari dulu aktif kampanye agar rakyatnya naik angkot atau bus kota.

Taksi dan ojek aplikasi datang membawa paradigma yang jauh berbeda. Yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Go-Jek atau Uber bukan perusahaan transportasi tapi seakan-akan punya jutaan unit kendaraan. Tidak sampai dua tahun kekayaan Go-Go-Jek atau Uber melebihi bos-bos taksi yang sudah berusaha selama 30 tahun atau 50 tahun.

Masyarakat sendiri (mayoritas) justru senang dengan angkutan online. Gak mau tau aturan plat hitam, kuning, dsb. Pokoknya cepat, nyaman, murah pula. Maka pelanggaran undang-undang yang dilakukan pihak online dapat pembenaran. Aturan apa pun kalau dilanggar bareng-bareng, pemerintahnya yang bingung. Beda kalau Anda sendiri yang menerobos lampu merah di jalan.

Begitu banyak argumentasi untuk membenarkan angkutan online. Ada yang menyamakan angkutan online dengan koran atau situs berita online. Dua-duanya bisa tetap jalan. Meskipun berita online sudah menggerus pembaca koran cetak.

Argumentasi ini kelihatan logis tapi ngawur. Koran atau situs berita online memang dibuat untuk dibaca di komputer, ponsel atau gawai yang lain. Sebaliknya, orang tetap harus naik mobil atau motor biasa untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mustahil orang duduk di kamar, masuk situs taksi online... lalu sampai ke tujuan.

Karena itu, pemerintah sebagai regulator kudu membuat aturan yang pas untuk melindungi taksi, angkot, atau bus kota yang sudah ada. Ojek juga diatur? Ojek ini sebenarnya tidak termasuk angkutan umum. Ojek boleh beroperasi karena tidak ada kendaraan umum roda empat atau lebih... kayak di NTT.

Di sisi lain, revolusi digital, internet, telah menjungkirbalikkan tatanan lama. Di segala bidang. Mau tidak mau... suka tidak suka... harus dihadapi.

17 October 2017

Retorika Pribumi Anies Baswedan

Anies Baswedan baru saja dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta. Bekas menteri pendidikan ini langsung menohok dalam pidato pertamanya. Dengan retorika khas politisi, Anies mengangkat isu pribumi vs nonpribumi.

Anies: "Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari."

"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ucapnya.

Pribumi itu siapa? Orang Betawi asli? Penduduk yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum Indonesia merdeka?

Isu pribumi vs pendatang ini sangat sensitif di Indonesia. Sebab rezim Orde Baru mengartikan nonpribumi sebagai warga keturunan Tionghoa. Meskipun sudah enam tujuh generasi di nusantara, orba masih menganggap orang Tionghoa sebagai nonpri. Karena itu, mereka perlu membuktikan kewarganegaraan dengan SBKRI.

Warga keturunan Arab, seperti Anies Baswedan, tidak dianggap nonpribumi. Tidak dianggap pendatang. Padahal pemerintah Hindia Belanda memasukan keturunan Arab sebagai Timur Asing. Bukan pribumi. Anies yang doktor pasti paham banget klasifikasi ala kolonial itu.

Bicara pribumi vs nonpribumi (pendatang) saat ini pasti tidak sesederhana di era 1930an. Batasannya jelas. Mengikuti pembagian masyarakat ala Hindia Belanda.

Lah, sekarang bisakah Anies membuat kriteria warga pribumi itu? Siapakah yang berhak disebut pribumi di Jakarta? Asli Betawi? Yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum NKRI lahir? Bagaimana dengan orang Tionghoa yang leluhurnya lahir di Jakarta tapi baru resmi jadi WNI tahun 1960an?

Penduduk Jakarta tahun ini tentu sudah berbeda komposisinya dengan tahun 1945. Mungkin yang asli tidak sampai 30 persen. Sebagian besar justru pendatang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jogja, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua... seluruh Indonesia.

Jakarta itu ibarat melting pot. Semuanya kumpul di situ. Maka membicarakan isu pribumi vs pendatang di Jakarta di era globalisasi ini jelas kontraproduktif. Definisinya tidak jelas. Anies lupa bahwa dirinya juga bukan pribumi karena keturunan Arab.

Yang ingin ditekankan Gubernur Anies di hari pertamanya (mungkin) keberpihakannya pada rakyat. Dia ingin mengingatkan para investor, korporasi (asing atau tempatan), untuk tidak coba-coba mendikte pemerintah Jakarta. Kapitalisme harus dihentikan.

Maka reklamasi laut ditolak Anies sejak kampanye lalu karena dianggap membuat nelayan sengsara. Rakyat menderita. Yang makmur tetap saja investor alias kapitalis properti raksasa.

Rupanya Anies ingin mewujudkan program populisnya seperti saat kampanye lalu. Sekaligus pemanasan jelang 2019.

Taiso dan Senam Pagi Indonesia

Belum lama ini saya melihat orang Jepang (plus belasan orang Indonesia) melakukan senam pagi bersama. Senamnya ringan saja. Beda dengan senam-senam aerobik di arena car free day Minggu pagi.

Aha... ini yang dinamakan taiso. Jadi ingat pelajaran orkes (olahraga dan kesehatan) zaman SMP dulu di Larantuka. Kita hafal taiso tapi tidak pernah lihat gerakan-gerakan senam masal ala Nippon. "Dulu senam taiso dilakukan tiap pagi," ujar Mbah Siti (alm) yang sangat suka taiso.

Gerakan-gerakan taiso sangat sederhana. Tidak berat. Siapa pun bisa mengikuti meskipun belum pernah belajar sebelumnya. Beda dengan senam poco-poco olahraga versi 2016 yang sangat sulit itu.

Syukurlah, sekarang ada Youtube. Saya pun mencari taiso di internet. Banyak banget videonya. Tapi gerakan-gerakannya sama. Ada dua versi taiso. Versi 1 yang gampang dan lebih populer. Cuma tiga menit saja.

Hebatnya, taiso ini dipraktikkan di Jepang sejak 1928. Radio NHK tiap pagi dan sore putar musik pengiringnya, pakai piano, kemudian orang Jepang ramai-ramai melakukan senam ringan ini. Di sekolah, kantor, pabrik... di mana saja. Sampai sekarang!

Melihat taiso di Youtube beberapa kali, saya jadi teringat senam pagi Indonesia (SPI) dan senam kesegaran jasmani (SKJ). Kedua macam senam ini diwajibkan di zaman orde baru. Senam hafalan anak-anak sekolah seperti saya.

SPI punya empat versi: seri A, B, C, D. SKJ yang mengganti SPI juga ada tiga versi. Saya cuma hafal SPI seri D dan SKJ versi paling awal. Sebab kedua versi itu selalu kami lakukan di halaman sekolah dekat pantai itu. Baik dengan iringan musik maupun kosongan.

Dari enam versi senam masal ala Indonesia, menurut saya, SPI seri D yang paling dekat taiso. Musiknya pakai piano. Gerakan-gerakannya sederhana. Teratur. Mudah diikuti. Saya yakin pencipta SPI mengadopsi senam taiso ala Jepang itu.

Sayang, senam masal ala Indonesia tidak pernah bertahan lama. Orang Indonesia sepertinya cepat bosan. Selalu berusaha untuk mencari yang baru. Meskipun senam-senam baru itu tidak lebih bagus ketimbang senam lama.

''Bosan kalau cuma itu-itu aja gerakannya," kata Mbak Rida instruktur senam aerobik di arena CFD Sidoarjo. "Saya sudah buat beberapa versi senam Nusantara. Senam Maumere perlu ada pengganti biar tidak bosan," kata Pak Rusman instruktur senam Maumere di Sidoarjo.

Itulah bedanya taiso dengan senam-senam lain di Indonesia. Orang Jepang sudah tidak bisa dilepaskan dari taiso. Dari generasi ke generasi. Taiso ibarat ritual rutin setiap pagi untuk menjaga kebugaran tubuh masyarakat. Bahkan, para ekspatriat Jepang tetap memainkan taiso di negara mana pun.

Saya pun mencoba mengingat-ingat senam pagi seri D yang dulu diajarkan Bapa Gaspar, penilik olahraga di kecamatanku. Ternyata masih bisa meskipun tidak sempurna. Untung orang Indonesia ini baik hati. Mereka menayangkan rekaman senam lawas dari TVRI itu ke Youtube. Senam pagi sebelum nonton bareng Si Unyil.

16 October 2017

Ampun! Panaaas! 41 Celcius!

Panas? Ampun!

Begitu antara lain judul berita di Jawa Pos edisi Minggu 15 Oktober 2017. Tentang balap sepeda GFJP Suramadu 2017 dengan peserta terbanyak di Indonesia. Medannya rata, tapi panasnya yang luar biasa.

Koran itu menulis cuaca di Madura saat balapan itu di kisaran 39,7 derajat celcius. Suhu sempat menembus 41 derajat celcius saat memasuki kawasan wisata tambang kapur Bukit Jaddih di Kecamatan Socah Bangkalan.

Wow... 41 derajat celcius! Itu panas yang sangat terik. Membakar di tengah hari. Kalau tubuh tidak kuat, kurang minum, bisa semaput.

Suhu di Madura sebetulnya tak jauh berbeda dengan Surabaya. Kalaupun ada selisih, sangat tipis. Beda satu derajat lah.

Tidak heran masyarakat Surabaya dan Sidoarjo sejak tiga pekan ini mengeluhkan suhu yang menyengat. Siang panas ekstrem, malam pun gerah nian.

Saya sendiri sulit tidur sejak 10 hari terakhir. Selalu terbangun pukul 01.00 lebih sedikit. Lalu langsung mengguyur tubuh dengan air yang tidak sejuk. Badan tetap saja tidak bisa didinginkan.

Musim kemarau sedang di puncak teriknya. Sebab posisi matahari di atas Surabaya dan wilayah lain yang koordinatnya sama. Sang Surya lagi bergerak ke selatan. Untuk memanggil sang hujan.

Maka, saya pun minggat ke kawasan Trawas. Tepatnya Desa Seloliman yang dekat situs pemandian Jolotundo itu. Membunuh panas terik dari Sidoarjo.

Benar saja. Tidak sampai tujuh menit saya bisa tidur pulas. Makin lama makin dingin. Sekitar 20 derajat celcius. Di tengah udara segar yang dihasilkan pohon-pohon di tanah milik Perhutani itu. Nikmat banget!

Ternyata bukan cuma saya yang ngalih ke kaki Gunung Penanggungan. Mas Hari, Mas Samsul, dan beberapa orang Surabaya yang lain bahkan sudah lama memilih ngadem di Trawas.

Pak Gatot yang pensiunan panitera PN Sidoarjo malah sudah punya vila khusus di daerah Biting. Heri Biola, seniman musik dan guru, yang dulu punya sanggar di Sawotratap Gedangan Sidoarjo juga tinggal di Trawas yang sejuk. "Saya tetap kerja di Sidoarjo. Tapi tinggal saya istri di sini," ujar Heri yang asli Krembung.

Pantesan... jalan raya dari arah Ngoro ke Trawas didominasi kendaraan bermotor plat L (Surabaya) dan W (Sidoarjo).

Semoga hujan segera turun.

Satlak Prima Layak Dibubarkan

Indonesia gagal total di SEA Games 2017 di Malaysia Agustus lalu. Cuma peringkat kelima dari 11 negara. Perolehan medali emas Indonesia jauh di bawah Malaysia yang juara umum. Indonesia pun kalah jauh dengan Singapura yang penduduknya tidak lebih banyak dari Kabupaten Sidoarjo.

Hasil SEA Games ini terburuk dalam sejarah. Saya pun langsung mengirim pesan WA ke kemenpora. Kecewa berat. Sekaligus kritik soal birokrasi olahraga yang panjang. Bagaimana bisa dapat emas kalau peralatan sejumlah cabang olahraga terlambat dikirim? Dana belum cair? Koordinasi tidak jalan?

Semua ini tentu tanggung jawab pemerintah. Kemenpora. Di bawahnya lagi ya satlak prima. Sejak awal satlak tidak jalan. Bahkan sekadar menganalisis kekuatan lawan pun gagal. Target medali meleset jauh. Buat apa ada satlak prima? Begitu antara lain curhat saya ke kemenpora.

Saya sebetulnya berharap pengurus satlak prima mundur setelah SEA Games. Lah, gagal total kok masih bertahan! Saya tunggu-tunggu kok tidak ada yang mundur. Achmad Sucipto ketua satlak prima cuma kasih penjelasan yang normatif. Padahal saya sih ingin pensiunan tentara ini mundur.

Di olahraga itu ukuran keberhasilan atlet sangat jelas. Tidak abu-abu kayak di politik atau pemerintahan. Bayern gagal ya pelatih Ancelotti dipecat... karena tidak mundur sendiri. Mourinho dulu juga dipecat Chelsea. Banyak banget pelatih yang diputus kontraknya karena gagal mempersembahkan kemenangan.

Daripada dipecat lebih baik mundur sendiri. Itu yang ditunjukkan pelatih timnas USA dan Cile pekan lalu. Kasih kesempatan pelatih lain. Ciptakan suasana baru.

Nah, rupanya Achmad Sucipto belum paham tradisi itu. Gagal total di SEA Games tapi tidak mundur. Malah banyak bicara di koran dan televisi.

Syukurlah, kemenpora ternyata membuat gebrakan di luar bayangan saya. Bukannya memecat Sucipto, kemenpora justru membubarkan satlak prima. Luar biasa! Langkah yang sangat tepat. Memotong jalur birokrasi olahraga yang kontraproduktif.

Sucipto akhirnya bicara. "Silakan ganti saya. Tapi jangan bubarkan satlak prima," katanya. Alasannya blablabla....

Syukurlah, banyak pengurus besar olahraga yang mendukung gebrakan pemerintah. Salah satunya Brigjen Pol Johny Asadoma, ketua PB Pertina, yang tak lain mantan petinju amatir terbaik Indonesia asal NTT. Dulu Bung Johny tampil di Olimpiade 1984 di Los Angeles. Gagal dapat medali tapi penampilan Johny saat itu sangat meyakinkan.

"Dulu tidak ada satlak prima, tapi petinju-petinju Indonesia berjaya di Asian Games,'' ujar Bung Johny sembari menyebut nama-nama petinju top masa lalu. Namanya sendiri tidak disebut. Hehe....

Apakah pembubaran satlak prima bisa menyelesaikan masalah? Bisa membuat Indonesia berprestasi di Asia? Setidaknya juara atau nomor dua di SEA Games? Tidak bisa instan begitu. Tapi setidaknya rantai birokrasi jadi lebih sederhana.

Pemerintah pusat cukup koordinasi dengan KONI dan pengurus besar (PB) semua cabang olahraga. Tidak perlu lewat satlak atau lembaga sejenis yang terbukti tidak efektif.

Di masa Orde Baru hanya KONI yang menjadi satu-satunya induk semua olahraga. KONI yang mengatur semuanya. Termasuk koordinasi dengan semua PB. Dan hasilnya luar biasa. Indonesia selalu juara umum SEA Games. Indonesia jauh di atas negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina. Apalagi dengan negara-negara-negara yang dulu bergolak kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar.