26 September 2014

Pilkada Lewat DPRD: Kembali ke Orde Baru!

Gubernur NTT Frans Lebu Raya menari dolo-dolo bersama rakyat di pelosok Flores.

Banyak yang berubah di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, sejak pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung 10 tahun lalu. Calon bupati dan calon gubernur NTT mau masuk kampung keluar kampung di pelosok bumi Flobamora. Termasuk di kampung saya di pinggir Laut Flores, Kabupaten Lembata.

Pak Frans Lebu Raya, yang asli Adonara, datang ke kampung saya. Ikut menari hedung, dolo-dolo, berbaur bersama warga yang memang sama-sama etnis Lamaholot dan berbahasa Lamaholot. Pak Frans tidak banyak kampanye. Cuma dengan kata-kata khas Lamaholot yang jitu, politikus PDI Perjuangan ini langsung memikat hati warga setempat.

"Ama Frans nepe tite hena. Tite ata koli lolon hena," kata ina ama (ibu bapak) di kampung saya. Artinya, Pak Frans itu orang kita. Kita sama-sama orang Lamaholot.

Para calon bupati Lembata lebih sering lagi blusukan ke desa-desa di daerah kelahiran saya. Maklum, jumlah pemilihnya paling banyak karena ada dua kecamatan sekaligus: Ile Ape dan Ile Ape Timur. Kalau menguasai dua kecamatan ini, paling tidak peluang menangnya sangat tinggi.

Para calon bupati biasanya mengenang masa lalu, tiba-tiba cerita bahwa kakek neneknya dulu punya hubungan darah dengan warga kami. Bahkan, Pak Yance Sunur, cabup yang Tionghoa pun, bercerita dengan meyakinkan bahwa nenek atau mbahnya dulu ternyata masih famili dengan warga kampung saya. Pak Yance kemudian terpilih sebagai bupati Lembata!

Itulah hikmah pilkada langsung! Para calon bupati dan gubernur berusaha datang ke pelosok-pelosok untuk menemui rakyat. Suara rakyatlah yang jadi penentu seseorang jadi atau tidak menjadi kepala daerah. Meskipun, harus diakui, biaya politik menjadi sangat mahal karena NTT adalah provinsi yang punya banyak pulau. Belum biaya sosialisasi, beli sirih pinang, kopi, dan sebagainya.

Kedekatan antara calon kepala daerah (kemudian jadi kepala daerah) inilah yang tidak ada saat pilkada tidak langsung alias lewat DPRD. Di era Orde Baru, yang pakai pilkada dewan, tidak pernah ada gubernur yang datang ke kecamatan saya. Bahkan, bupati Flores Timur sekalipun tidak pernah menunjukkan mukanya di kampung saya ketika saya kecil dulu. Saya hanya menghafal nama-nama 12 bupati se-NTT, kemudian daftar nama gubernur NTT sejak provinsi NTT berdiri 20 Desember 1958, sampai gubernur sekarang.

Melihat wajah gubernur langsung, apalagi menjabat tangannya? Mimpi di siang bolong. Hil yang mustahal di era pilkada lewat DPRD. Karena para calon bupati/gubernur memang tidak punya kepentingan dengan rakyat. Dia cukup mengamankan anggota DPRD agar bisa terpilih sebagai gubernur atau bupati.

Setelah Koalisi Merah Putih (dan SBY) sukses mengembalikan pilkada langsung ke DPRD, maka bisa dipastikan suasana politik yang jauh dari rakyat khas Orde Baru akan terulang. Calon gubernur NTT tidak perlu jauh-jauh ke Lembata, Sumba, Alor, Komodo, Manggarai, Sabu Raijua, Semau... untuk mengambil hati rakyat.

Sang cabup NTT cukup "mengamankan" 28 suara dewan. Sang cabup Lembata cukup "mengamankan" 13 suara dewan. Tidak perlu blusukan ke kampung-kampung, berbaur dolo-dolo seperti yang dilakukan Pak Frans Lebu Raya (gubernur NTT sekarang), omong-omong sambil minum tuak dengan rakyat. Sang calon gubernur/bupati cukup menyenangkan hati anggota DPRD plus pengurus beberapa partai yang akan mengusung dan mendukungnya.

Cara mengamankan suara dewan? Bisa dengan UANG, proyek, jabatan... apa saja. Kalau punya banyak "amunisi" untuk mengamankan 50% suara dewan, sang calon gubernur NTT cukup goyang kaki di Kupang, traktir makan minum anggota dewan, traktir pengurus partai. Selesai!

Welcome back, Orde Baru! Itu berarti orang-orang kecil di kampung saya tidak akan melihat, berbincang, apalagi menari, dengan calon gubernur/bupati! Calon gubernur/bupati cukup menari, dansa-dansi, dengan anggota dewan!

Musik Pring Ori dari Sidoarjo



Sambil menikmati jajan pasar, diterangi api unggun, sekitar 50-an audiens di Sanggar Pecantingan, Desa Sekardangan, Sidoarjo, dihibur enam pemusik asal Porong dengan alunan musik yang tidak biasa. Musik mereka campuran antara tradisional, kothekan, modern, dan sesekali ditingkahi vokal yang bebas. Tidak ada ritme atau melodi yang ajek. Pun tak ada lirik atau syair layaknya musik pop, rock, jazz, atau dangdut.

Pring Ori, grup musik asal Porong itu, akhirnya bangkit kembali dari mati surinya sejak tragedi semburan lumpur Lapindo, delapan tahun silam. Beberapa pemusik jadi korban lumpur, terpaksa mengungsi, tak lagi punya jujukan tetap. Para pemusiknya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Pring Ori itu kelompok yang mengalir begitu saja. Nggak neko-neko. Nggak ngoyo. Yang kami tonjolkan itu spontanitas dan mengalir," ujar Yusri, salah satu pemusik, sekaligus juru bicara Pring Ori, saat tampil di Sekardangan, Sidoarjo, dua pekan lalu.

Grup Pring Ori mulai muncul sejak akhir 1990-an. Saat cangkrukan bersama, ada yang main gitar, biola, dan beberapa instrumen yang kebetulan tersedia. Yang tidak punya alat musik pun spontan meningkahi dengan vokal yang bebas, bertepuk tangan, atau memukul kaleng atau galon air mineral. "Ternyata asyik juga," kenangnya.

Saat itu kebetulan di Sidoarjo sedang tumbuh sejumlah sanggar atau kantong kesenian di berbagai kawasan. salah satunya Sanggar Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo. Arek-arek Pring Ori pun diajak untuk berlatih sekaligus tampil rutin setiap malam bulan purnama. Awalnya para pengunjung, khususnya warga setempat, merasa aneh dengan musik Pring Ori yang memang jauh berbeda dengan musik mainstream di televisi. 

"Tapi lama-lama orang jadi senang menikmati Pring Ori karena nuansanya beda. Rasanya tenang, guyub, khas suasana perkampungan," ujar Suhari, pengelola Sanggar Pecantingan.

Sawung Jabo, musisi kawakan asal Surabaya, pun terkesan dengan Pring Ori. Seniman yang terkenal dengan lagu-lagu kritik sosialnya bersama Swami, Kantata Takwa, dan Sirkus Barock ini pernah mengajak Pring Ori untuk berkolaborasi memeriahkan pentas seni ulang tahun Kabupaten Sidoarjo di alun-alun. 

Tak disangka, masyarakat merespons dengan baik musik tanpa vokal itu. Bupati Sidoarjo (waktu itu) Win Hendrarso pun ikut memberikan apresiasi kepada para seniman kota petis itu. "Ada nuansa baru, nuansa kesenian, dalam perayaan HUT Sidoarjo," kata Pak Win.

Sayang, bencana lumpur Lapindo ternyata ikut menyurutkan aktivitas kesenian di Kota Delta. Satu per satu sanggar dan rumah budaya memilih vakum. Banyak pula seniman muda yang menikah, punya anak, sehingga harus fokus mengurus rumah tangga. Nama Pring Ori pun tenggelam oleh hiruk-pikuk unjuk rasa korban lumpur yang terus menuntut pembayaran ganti rugi tanah dan rumah mereka.

Heri Andriyanto, pemain violin asal Krembung, malam itu ikut nimbrung bersama Pring Ori. Pria yang lebih dikenal dengan nama Heri Biola ini memang sejak awal selalu diajak berkolaborasi dengan grup kontemporer ini. 

"Pring Ori itu komunitas musik yang sifatnya bebas dan terbuka untuk siapa saja. Nama-nama personelnya bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Saya juga bisa dianggap anggota Pring Ori. Anda juga otomatis jadi anggota kalau ikut kolaborasi," kata Heri.

Seperti namanya, menurut Heri, Pring Ori ini ibarat rumpun bambu yang kokoh, punya akar yang kuat, tapi sangat lentur ketika menghadapi terjangan angin kencang. Bambu itu kelihatan rebah, bahkan jatuh, tapi tidak sampai mati. 

"Bambu itu temannya banyak dan selalu tumbuh tunas baru dalam waktu cepat. Filosofi bambu inilah yang dianut teman-teman di Pring Ori," kata pemusik yang juga guru SDN Kebaron, Tulangan.

25 September 2014

Anak sibuk pacaran, ibu jadi pembantu

Bu Ninik tinggal di sebuah perumahan menengah atas di Surabaya. Setiap pagi ibu yang ramah ini rajin membersihkan halaman rumahnya. Menyapu, menata bunga, dan sebagainya. Padahal wanita karir ini punya pembantu.

"Sekalian olahraga," katanya. "Lagi pula, sejak dulu saya suka bersih-bersih. Saya gak puas kalau pembantu yang bersihin rumah saya."

Bu Ninik punya dua anak gadis. Satunya SMA, satunya lagi mahasiswi. Berbeda dengan mamanya yang rajin bersih-bersih, saya tidak pernah melihat dua gadis ini bersih-bersih. Tak pernah pula membantu mamanya menata kembang, menyapu, dan sebagainya. Cuek bebek!

Cewek-cewek itu lebih asyik berpacaran. Berjam-jam keduanya ngobrol dengan pacar masing-masing. Sang mama pun membiarkan saja anaknya menikmati masa muda yang indah. Tak pernah saya dengar Bu Ninik menegur anak gadisnya yang terlalu antusias pacaran dan cuek dengan urusan housekeeping.

"Biarkan aja mereka belajar sambil menikmati masa mudanya," kata Bu Ninik suatu ketika. Yang penting, dia menambahkan, pacaran dalam batas normal.

Lain padang lain belalang! Betapa bahagianya anak-anak di kota besar di Jawa macam Surabaya. Mereka tak perlu kerja membantu orang tua. Cukup belajar, sekolah, garap PR, nonton film, pacaran, dst. Dapat uang jajan yang sangat banyak dari orang tua. Masih diantar jemput pula ke sekolah.

Di NTT, khususnya Flores Timur, termasuk Lembata, anak-anak dipaksa orang tua kerja begitu keras. Harus cuci piring, ambil air cukup jauh, menyapu, ngepel, menggembala ternak, atau memasak. Karena itu, setiap pagi kita melihat anak-anak usia sekolah (SD sampai SMA) sibuk menyapu halaman rumah masing-masing sebelum berangkat ke sekolah.

Mungkin beban kerja ini pula yang membuat nilai ujian nasional anak-anak NTT paling rendah di Indonesia. Sejak dulu peringkat NTT memang selalu buruk sehingga warga dan pemerintahnya tidak cemas. Orang tua pun cenderung cuek aja.

Buat apa nilai unas tinggi, toh sebentar lagi merantau jadi TKI di Malaysia. Tidak lulus pun tak masalah. Toh majikan di Malaysia Timur, khususnya Sabah, tak butuh ijazah.

Di kota besar macam Surabaya dan Jakarta, anak-anak hanya fokus ke sekolah, pelajaran, les ini itu, bimbingan belajar, ngaji, dsb. Sekolah sepanjang hari alias full day school makin menjamur di kota besar. Mana ada waktu untuk bersih-bersih rumah, cuci piring, atau ngepel lantai di rumah?

23 September 2014

Jumaadi antara Sidoarjo dan Sydney


Jumaadi dan istri, Siobhan Campbell.

Tinggal dan bekerja di Sydney, Australia, selama hampir 20 tahun, punya istri wanita bule Aussie, tak membuat Jumaadi berubah jadi orang kota. Setiap kali cuti di Desa Sekardangan, Sidoarjo, pelukis ini selalu bikin acara kesenian yang berbau ndeso.

Dua minggu lalu, Jumaadi mengajak teman-teman seniman Sidoarjo untuk kumpul-kumpul di rumah masa kecilnya di Sekardangan. Joglo lawas yang dikelilingi kolam ikan, bambu, dan pepohonan yang bikin sejuk. Main musik dengan penerangan obor, baca puisi, hingga menikmati dolanan anak-anak.

Permainan khas anak-anak kampung memang sangat membekas di hati Jumaadi. Bikin wayang suket dari rumput di sawah, main dalang-dalangan, jamuran, menari di bawah sinar bulan purnama, dengar gending Jawa, sambil ngopi dan menikmati jajan pasar ala kampung.

Setelah bertahun-tahun tinggal di Australia, kampung halaman Jumaadi di Sidoarjo sudah jauh berubah. Hamparan sawah di Sekardangan tak ada lagi. Yang ada hanyalah perumahan-perumahan kelas menengah atas yang dikelilingi pagar tembok, dijaga satpam, yang penghuninya bukan orang kampung.

Teman-teman masa kecil Jumaadi saling mencar entah ke mana. Jumaadi pun terkejut melihat kampung halamannya sudah jauh berbeda dengan era 1980an dan 1990an. Di mana gerangan bocah-bocah kampung yang bermain, bernyanyi di sawah, mencari ikan di kali? Di mana gerangan seni batik tulis Sekardangan yang dulu sangat terkenal di kampungnya?

Banyaknya perumahan baru, yang mamakan sekian ratus hektare sawah, telah membuat kampung Sekardangan berubah total. Penduduk yang dulunya petani, punya sawah, kini hanya bisa jadi buruh pabrik. Anak-anak punya mainan baru yang jauh berbeda dengan anak-anak era 1980an.

PS, game online, internet, televisi.. tentu lebih menarik ketimbang wayang suket atau mencari ikan di sungai. Karena itu, saya bisa memahami kegundahan para perantau seperti Jumaadi (atau saya sendiri) ketika pulang kampung.

Kok suasananya beda banget dengan masa kecil saya? Kok anak-anak tidak berebut menjabat dan mencium tangan saya? Kebiasaan yang dulu saya lakukan saat bocah ketika om-om baru kembali dari Malaysia atau Jawa. Kok anak-anak lebih asyik main HP ketimbang mengerubuti saya untuk mendengar cerita-cerita ajaib di tanah rantau?

Mas Jumaadi pun tidak bisa lagi melihat wayang suket di Sidoarjo. Bahkan anak-anak sekarang dijamin tidak tahu mainan anak-anak lawas untuk hiburan di kampung itu. Maka, apa boleh buat, Jumaadi pun terpaksa mencari rumput sendiri (jauuuh.. karena sawah tak ada lagi) dan mulai bikin wayang suket di rumah tua milik orang tuanya itu. Syukurlah, ada beberapa anak yang mau diajak latihan membuat wayang suket.

Hanya seminggu Jumaadi berlibur di Sidoarjo. Kemudian ke Amerika Serikat untuk proyek seni rupanya, kemudian kembali ke Sydney. Tahun depan dia cuti lagi di kampung halamannya dan pangling lagi dengan Sekardangan yang makin berubah rupa. Mudah-mudahan rumah joglo tua dengan kolam ikan dan suasana kampung ala 1980an itu masih bisa bertahan.

19 September 2014

Lafal Mandarin Tionghoa Sidoarjo Menyimpang

Kredit kartun: http://ikman.files.wordpress.com/2008/03/sapek2.jpg


Sebagian besar warga Tionghoa yang berusia 60-80 tahun di Kabupaten Sidoarjo mampu berbahasa Mandarin. Namun, logat atau pelafalan mereka ternyata menyimpang dari pelafalan bahasa Mandarin standar yang berlaku di Tiongkok.

Belum lama ini dua peneliti dari Program Studi Bahasa Tionghoa Universitas Kristen Petra Surabaya, Carolina AS dan Henny PS Wijaya, mengadakan penelitian tentang pelafalan bahasa Mandarin di kalangan generasi tua di Kabupaten Sidoarjo. Keduanya mengambil sampel warga Tionghoa yang berusia rata-rata di atas 70 tahun.

Menurut Carolina, para sesepuh Tionghoa ini sangat fasih membaca aksara hanzi yang dipakai dalam bahasa Mandarin. Namun, ketika mereka diminta membacakan 11 kalimat dengan suara keras, terdapat perbedaan bunyi yang cukup signifikan. "Nada-nadanya berbeda dengan bahasa Mandarin standar yang dipakai di Tiongkok," jelas Carolina.

Setelah digali lebih jauh, menurut dia, pelafalan yang bervariasi ini tak lepas dari perbedaan guru bahasa Mandarin yang mengajar mereka di sekolah-sekolah Tionghoa di Sidoarjo dan Surabaya. Sekolah-sekolah yang ditutup rezim Orde Baru pada akhir 1960-an itu memang menggunakan guru asal Tiongkok.

"Tapi mereka sudah lama tinggal di Indonesia. Jadi, pelafalan mereka sudah agak berbeda dengan bahasa Mandarin standar," katanya.

Nah, setelah bahasa dan tulisan Tionghoa dilarang selama 30-an tahun, bahasa Mandarin hanya dipakai di lingkungan yang sangat terbatas. Hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga putus, sehingga tidak ada lagi guru-guru native speaker dari negara tirai bambu itu. Meski begitu, warga Tionghoa alumni sekolah-sekolah Tionghoa di Sidoarjo itu masih menggunakan bahasa Mandarin untuk komunikasi secara terbatas.

Namun, karena setiap hari lebih banyak berbahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia, menurut Carolina, bunyi bahasa atau pelafalan para senior itu makin menyimpang dari pelafalan standar Mandarin di negara asalnya.  "Orang-orang Beijing sendiri mungkin bingung mendengar orang Tionghoa di sini berbahasa Mandarin. Sebab, bunyinya berbeda," katanya.

Carolina mengaku menemukan tiga macam kesalahan, yakni vokal, konsonan, dan nada. "Semua nada yang dipakai para orang tua itu mengalami penyimpangan," tutur Carolina.
Tak tanggung-tanggung, perbedaan vokal itu bahkan ada 10 macam. Sedangkan konsonan ada lima perbedaan. Banyaknya perbedaan bunyi ini jelas menjadi masalah serius bagi bahasa Mandarin karena mengubah arti kata atau kalimat.

Carolina menjelaskan, bahasa Mandarin standar yang digunakan di Tiongkok dan dunia internasional menggunakan  pelafalan Beijing. Meski Tiongkok sangat luas dengan banyak bahasa lokal, pelafahalan ala Beijing ini yang dianggap standar. Caroline kemudian menyimpulkan: "Kuncinya ada di guru. Apabila guru mengajarkannya salah, murid juga akan melakukan kesalahan yang sama." 

16 September 2014

Penyakit nginggris SBY kumat lagi




Koran-koran hari ini memberitakan Presiden SBY meresmikan bandara internasional Sepinggan di Balikpapan. SBY mengatakan begini:

 "It's not only airport, tetapi ini adalah centre of growth of economy, of services."

Presiden keenam ini memang sejak dulu punya kebiasaan (atau penyakit) bahasa yang disebut NGINGGRIS. Yakni suka mencampuradukkan kalimat atau frase bahasa Inggris di dalam kalimat-kalimat pidatonya yang berbahasa Indonesia. Padahal SBY berpidato di depan orang Indonesia. Padahal kata-kata English itu cuma bahasa Inggris dasar yang sangat mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak dulu Pak SBY ini dikasih masukan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik. (Tidak harus bahasa yang benar asalkan komunikatif.) SBY sangat gandung ungkapan bahasa Inggris karena barangkali dianggap lebih tepat dan kuat. Tapi haruskah seorang kepala negara berbahasa Indonesia campur Inggris dalam pidato resmi di Indonesia? Di Kalimantan pula!

Okelah, kalau bicara di depan orang asing, di luar negeri, pakai bahasa Inggris 100 persen. Tapi mengapa harus campur english di dalam negeri? Kenapa tidak 100 persen Inggris saja kalau memang tidak suka berbahasa Indonesia?

Syukurlah, SBY akan segera lengser pada 20 Oktober 2014 mendatang. Jadi, biarlah tokoh asal Pacitan yang juga jago menulis cerpen dalam bahasa Jawa ini bebas menggunakan gaya bahasa Indo-English sesuka hatinya. Lebih bagus lagi kalau bicara 100 persen Inggris. Tidak usah gado-gado kayak begitu.

Setahu saya, yang namanya pejabat-pejabat negara, mulai tingkat daerah sampai pusat, punya kode bahasa yang harus dipatuhi. Mereka wajib berbahasa Indonesia secara baik di depan publik. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia kalau tak salah adalah salah satu butir Soempah Pemoeda 1928.

Lha, kalau kepala negaranya saja lebih suka bahasa Inggris, bagaimana rakyatnya disuruh menjunjung tinggi bahasa Indonesia? Mustahil bahasa Indonesia jadi bahasa internasional kalau pengguna bahasanya kena penyakit nginggris. Pengguna bahasa minder dengan bahasa nasionalnya. Pengguna bahasanya lebih suka english agar kelihatan maju, cerdas, modern, kosmopolitan, bukan wong kampung berpendidikan rendah.

Setiap kali mendengar Presiden SBY bicara di televisi, atau membaca kutipan di koran yang dicampur english, saya selalu ingat diplomat Tiongkok di Surabaya. Kebetulan dulu saya sering bertemu dan wawancara Konjen Tiongkok Wang Huagen dan (sebelumnya) Fu Shuigen.

Kedua diplomat negara Zhongguo (baca: Cungkuo) ini sebetulnya fasih berbahasa Inggris. Tapi keduanya hanya mau memberikan keterangan pers dalam bahasa nasionalnya: Putunghuo atau yang lebih kita kenal dengan bahasa Mandarin. Mr Wang tak akan bicara kalau tak ada penerjemah yang juga sekretarisnya, si nona cantik An Xiaoshan.

Wow, luar biasa kecintaan orang Tiongkok pada bahasa nasionalnya! Begitu pula diplomat Prancis lebih suka bicara bahasa Prancis meskipun sangat fasih berbahasa Inggris.

Kalau Jokowi yang jadi presiden, kayaknya penyakit nginggris ini tak ada lagi. Kalimat-kalimat Presiden Joko Widodo nanti bakal lebih berasa Jawa ngoko kulonan. Aku sih rapopo!

Malah enak didengar karena renyah, gak ndakik ndakik because... we have to respect our local and national language agar bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap lestari till the end of the world!

Tapi ngomong-ngomong, we have to learn english agar kita sebagai Indonesia people punya skill of communication seperti Pak SBY. Soalnya, dunia ini sudah menjadi sebuah global village yang tidak terpisahkan!

Matur thank you untuk Mr President SBY!

Good pagi dan selamat morning!

Pulau Tanjung Lumpur jadi hutan bakau

Prof Hardi Prasetyo bersama rombongan dari Juanda di Pulau Tanjung Lumpur, Sidoarjo.

Pekan lalu ada penghijauan di Pulau Tanjung Lumpur, Sidoarjo. Pulau buatan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) di muara Sungai Porong, Kecamatan Jabon, ini ternyata sudah meluas hingga 100 hektare. Padahal, pulau yang dibuat dari lumpur Lapindo ini belum genap 10 tahun.

Inilah bedanya pulau yang by design dengan 3 pulau kecil lain yang juga berada di muara Sungai Porong: Pulau Dem, Pulau Pitu, dan Pulau Kedung. Tiga pulau itu nyaris tak punya hutan bakau yang rimbun meski usianya sudah ratusan tahun. Yang ada cuma tambak-tambak sederhana.

Nah, BPLS yang memang punya kepentingan dengan pembuangan lumpur Lapindo sejak awal mendesain Pulau Tanjung Lumpur (warga setempat menyebut Pulau Sarinah) sebagai area penghijauan, budidaya ikan, penelitian, dan wisata laut. Prof Hardi Prasetyo, pakar BPLS yang lulusan University of California, USA, bahkan hampir setiap hari mondok di situ. Bikin penelitian, analisis lumpur, memantau muara Sungai Porong, dan sebagainya.

Saya beberapa kali bertemu Prof Hadi di Pulau Tanjung Lumpur. Orangnya ramah, sederhana, dan sangat antusias menjelaskan kebijakan BPLS terkait semburan lumpur, pengaliran lewat Sungai Porong, hingga endapan yang dimanfaatkan untuk membuat pulau. Melihat sosok Pak Hardi, orang pasti tak menyangka kalau beliau ini profesor doktor lulusan USA pula.

Dia blusukan tak kenal lelah karena passion-nya yang luar biasa terhadap sains. Berbulan-bulan ia meninggalkan keluarga di Jakarta, menyepi bersama beberapa asistennya, untuk riset di Pulau Tanjung Lumpur. "Pulau ini akan menjadi ikon dan kebanggaan Kabupaten Sidoarjo," katanya.

Saat ini sih hutan bakau atau mangrove belum terlihat lebat. Dus belum bisa disebut hutan. Tapi dengan penanaman yang intensif, tahun lalu 30 ribu pohon, minggu lalu 15 ribu pohon, Pak Hardi optimistis dalam 10 sampai 20 tahun mendatang Pulau Tanjung Lumpur bakal menjadi pulau mangrove terbaik di Indonesia. Asalkan pohon-pohonnya tidak mati dan pulaunya tidak digerus air laut di Selat Madura itu.

Abrasi memang jadi ancaman besar untuk Pulau Tanjung Lumpur. Jangankan pulau baru, tiga pulau lama, khususnya Pulau Dem, sering mengalami abrasi. Ini juga terkait pembalakan pohon bakau yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Siapa yang bisa menjamin ribuan pohon di Pulau Tanjung Lumpur itu tidak akan ditebang oleh mafia kayu?

Selama lumpur Lapindo masih menyembur di Porong, BPLS tentu masih diperlukan. Pulau Tanjung Lumpur pasti dikontrol setiap saat. Namun, jika BPLS angkat koper, karena lumpurnya berhenti sendiri (sudah lama BPLS tak punya metode untuk menyumbat lumpur, selain menampung di kolam untuk dialirkan ke Sungai Porong), Pulau Tanjung Lumpur itu jelas akan ditinggal.

Lantas, Pulau Tanjung Lumpur mau diserahkan kepada siapa? "Itu akan dibicarakan kemudian. Sekarang kami fokus dulu dengan wanamina dan pemberdayaan masyarakat pesisir," kata Prof Hardi.
Rupanya ada blessing in disguise dari tragedi lumpur Lapindo ini. Kabupaten Sidoarjo ketambahan dua destinasi wisata baru yang sangat potensial. Pertama, wisata lumpur di Porong.

Pengunjung dari berbagai daerah penasaran melihat semburan lumpur yang terjadi sejak 29 Mei 2006 dan tak kunjung berhenti sampai sekarang. Lumpur kok gak mandeg? Airnya dari mana? Sampai kapan?

Objek wisata kedua adalah Pulau Tanjung Lumpur yang dikelola BPLS. Demi membuka akses ke pulau ini, BPLS memperbaiki jalan setapak dari Jembatan Porong hingga ke Dermaga Tlocor. Karena itu, jalan ke Tlocor di pinggir Sungai Porong yang dulu terburuk di Kabupaten Sidoarjo sekarang jadi yang terbaik di Sidoarjo.

Pesta Kue Bulan Ajang Cari Jodoh

Pesta kue bulan atau mooncake festival berlangsung sederhana di Sidoarjo. Ada kue bulan yang manis, teh pahit, lagu-lagu oriental, tapi suasana pestanya tidak ada. Perayaan tradisional Tionghoa setiap purnama kedelapan ini lebih kental suasana religius.

"Dimensi spiritual inilah yang sering dilupakan orang Tionghoa," kata Njoo Tiong Ho, rohaniwan Buddhis Tionghoa, yang memimpin upacara kue bulan di Pondok Jati, Sidoarjo.

Malam itu Pak Njoo bicara panjang lebar tentang sejarah pesta bulan purnama ala Tiongkok itu. Dia manfaatkan kesempatan ini untuk bicara soal perjodohan. Alasannya, sang Dewi Bulan juga dianggap sebagai dewanya muda-mudi yang hendak mencari pasangan hidup.

Di zaman yang canggih ini, menurut Pak Njoo, metodologi untuk mencari jodoh sudah sangat berbeda dengan zaman engkong-engkong dulu. Muda-mudi jauh lebih bebas, cari jodoh sendiri, tak mau dijodohkan orang tua. Banyak pula yang cari kenalan di internet, kopi darat, jadian, lalu menikah.

Ada yang bahagia, langgeng, tapi banyak juga yang cepat bubar. Easy come easy go! "Kita, para orang tua, sering mengabaikan urusan jodoh anak-anak. Cuek saja. Ini jelas orang tua yang tidak bertanggung jawab," kata pria yang juga biasa disapa Pak Nugroho itu.

Mengutip sutra berbahasa Tionghoa, Pak Njoo bilang jodoh yang ideal itu sudah ditentukan Sang Pencipta jauh-jauh hari sebelumnya. Sang Dewi Bulan dari Tiongkok tentu tahu siapa yang bakal berjodoh dengan si A, si B, si Y. "Makanya, kita harus banyak berdoa dan meditasi," kata sang pendeta ahli barongsai itu.

Rupanya Pak Njoo memanfaatkan acara Tiong Ciu Jie ini untuk mengingatkan umatnya, Tionghoa Buddhis, agar memilih pasangan hidup yang seiman atau sedarma. Menikah dengan pasangan seiman jauh lebih aman daripada yang tidak seiman. Wong dengan seiman saja sering bubrah kok cari yang tidak seiman!

Bagaimana kalau sulit cari yang seiman? "Berdoa, berdoa, meditasi, meditasi... berusaha. Mudah-mudahan dapat penerangan sempurna dari sang Dewi Bulan," katanya.

11 September 2014

Silvia setelah operasi tumor di mulut

BEFORE: Silvia sebelum dioperasi pada  6 Mei 2014.


Akhir-akhir ini Hengki Rumpuin lebih banyak merokok. Asap rokok mengebul tebal di serambi rumahnya di Desa Lebo, Sidoarjo, saat saya bertamu pekan lalu. Membaca kartu nama saya, dia memastikan saya orang NTT, khususnya Flores. Bung Hengki asli Ambon yang sudah karatan di Sidoarjo.

Empat bulan lalu putrinya, Silvia Putri Rumpuin, 11 tahun, jadi berita besar di koran gara-gara tumor di mulut. Daging liar itu memenuhi mulut sang putri. Tim dokter RSUD dr Soetomo berhasil mengangkat tumor ganas itu pada 6 Mei 2014.

Setelah operasi, Hengki dan Paniyem, istrinya, harus mendampingi Silvia untuk kemoterapi setiap dua minggu. "Sekarang sudah paket kelima. Rencananya enam paket. Kasihan beta punya anak ini. Dia punya badan sudah habis dimakan kemo," ujar Hengki dalam logat khas Maluku. Hengki punya istri, Paniyem, saat itu lagi kerja di pabrik sepatu PT Ecco, Candi, Sidoarjo.

Hengki rupanya masih jengkel dengan dokter di Sidoarjo yang salah mendiagnosa penyakit anaknya. Dibilang kena TBC, dikasih obat TBC, ternyata membuat daging di mulut Silvia terus membesar. Setelah diperiksa di dokter lain di Surabaya, baru dipastikan tumor ganas.

"Ada ungkapan mata ganti mata, gigi ganti gigi," ujar Hengki yang pernah sekolah pendeta mengutip ayat Alkitab. Saya senyum masam. Saya paham maksud Hengki yang tidak terima anaknya jadi korban salah diagnosa hingga tumor cepat mengganas.

"Jangan lupa, ada juga ungkapan: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang membenci kamu!" kata saya.

Perang ayat Alkitab memang biasa dilakukan orang-orang Maluku, Papua, atau NTT yang mayoritas penduduknya kristiani. Hengki pun tertawa kecil mendengar celetukan saya.

Sementara itu, Silvia duduk termenung sambil memain-mainkan kartu nama saya. Tak ada kata. Sejak menjalani kemoterapi, bukan saya badannya habis, Silvia pun malas bicara. Murid SDN Lebo, yang untuk sementara tidak bisa sekolah ini, hanya mau bersuara kalau minta ini-itu pada orang tuanya.

"Beta sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Beta dan istri gantian jaga Silvia. Uang simpanan juga sudah habis untuk beli susu, jus, dan kebutuhan dia. Mudah-mudahan Tuhan Allah kasih keajaiban untuk Silvia dan beta punya keluarga," katanya penuh harap.

Operasi tumor yang difasilitasi Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jawa Timur ini memang gratis. Begitu juga kemoterapi. Namun, sebagai orang biasa, bukan pengusaha besar, Hengki mengaku sangat berat menghadapi beban penderitaan yang dialami Silvia. Sebab, perawatan pascatindakan masih sangat panjang dan pasien remaja ini belum bisa dipastikan kapan sembuhnya.

"Bung Hengki, kalau sembuh nanti Silvia dimasukkan ke sekolah pendeta saja. Dia punya bapak gagal jadi pendeta, biarlah Silvia yang ganti," beta kasih usul setengah bercanda.

Hengki malah menanggapi dengan serius. "Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, Bung!" katanya.

Beta setuju. Kalau Tuhan menghendaki, Silvia pasti sembuh!

AFTER: Silvia di rumahnya, 6 September 2014.

Anak wartawan (terpaksa) jadi wartawan

Belakangan ini saya lihat cukup banyak wartawan baru yang ternyata anaknya wartawan. Anak-anak wartawan ini biasanya tidak pernah diarahkan ayahnya untuk jadi pekerja media. Biasanya, mereka melamar sendiri dan akhirnya diterima di newsroom.

"Ayahmu kan wartawan top, gurunya banyak wartawan di Surabaya. Berarti kamu pasti sudah diajarin ilmu jurnalistik, cara menulis berita, wawancara, 5W + H, dan sebagainya?" tanya saya.

"Nggak pernah," kata reporter baru itu. "Ayah malah suruh saya belajar sendiri. Ayah nggak pernah ikut campur urusan kuliah, pilihan kampus, termasuk saya harus kerja di mana."

Wartawan fresh ini putranya salah satu mbahnya wartawan, yang jago menulis feature alias boks. Saya salah satu muridnya. Dulu dia biasa mengedit tulisan-tulisan saya dengan pola editing yang sangat ketat. Orangnya galak tapi baik.

Aneh juga, pikir saya. Bapaknya sudah menggembleng begitu banyak wartawan, yang sekarang jadi editor dan pemimpin redaksi sejumlah media, kok anaknya tidak diajari sama sekali. Pengetahuan dan keterampilan sang anak diperoleh dari bangku kuliah, baca buku, dan belajar sendiri.

"Barangkali ayahmu pernah mengoreksi tulisan-tulisanmu? Paling tidak membaca dan memberi masukan mana yang kurang, mana yang perlu dilengkapi, ejaan yang salah?" tanya saya lagi.

"Tidak pernah," katanya.

Ya, pantas saja kalau kualitas tulisan si wartawan baru ini masih sangat jauh dari tulisan ayahnya. Poin-poin yang dilarang keras oleh ayahnya, seperti kalimat-kalimat majemuk yang panjang, lead yang mbulet, bertele-tele, fokus tidak jelas, justru dilakukan secara konsisten oleh si reporter baru ini.
"Aneh, wartawan-wartawan lain digembleng dengan sangat keras, sementara anaknya sendiri dibiarkan jalan tanpa arahan," pikir saya.

Akhirnya, saya membuat kesimpulan sendiri yang spekulatif. Besar kemungkinan wartawan-wartawan senior kawakan itu tidak ingin anaknya jadi wartawan. Maka, anak-anaknya tidak disuapi ilmu jurnalistik di rumah. Anak-anak mereka pun umumnya didorong masuk ke perguruan tinggi yang tidak ada kaitannya dengan media atau kewartawanan.

Tapi rupanya takdir berkata lain. Mereka ternyata dibelokkan oleh alam untuk mengikuti perjalanan yang sudah dirintis orang tuanya. Mereka pun harus belajar jurnalistik praktis kepada editor-editor yang notabene mantan murid orang tuanya.

"Jujur aja, saya malu ngajarin kamu. Wong ayahmumu itu salah satu guru jurnalistik saya," kata saya sambil tertawa.

Saya jadi ingat Ki Subur, dalang wayang potehi di Sidoarjo. Dua anak laki-lakinya, Alfian dan Ringgo, dulu sangat tidak suka dengan kesenian tradisional khas Tionghoa itu. Keduanya juga tidak habis pikir mengapa Ki Subur, yang muslim taat, salat lima waktu, harus masuk keluar kelenteng untuk memainkan wayang para pendekar dan dewa-dewi  dari negeri Tiongkok.

Lima tahun setelah saya menulis profil Ki Subur, berikut pernyataan dua putranya, apa yang terjadi? Saat ini Alfian dan Ringgo malah ketagihan bermain wayang potehi. Keduanya bahkan sudah jadi asisten Ki Subur ketika ditanggap bermain wayang potehi di berbagai kota di Indonesia.

10 September 2014

Bandara Juanda: Komersial + TNI AL

Banyak orang yang marah-marah membaca berita Bandara Internasional Juanda di wilayah Sedati, Sidoarjo, ditutup untuk perayaan Hari TNI. Sebab akan ada 216 pesawat militer yang lalu lalang untuk unjuk kebolehan. Sekalian melepas Presiden SBY yang akan lengser pada 20 Oktober 2014. Sudah lama tidak ada airshow militer di Jawa Timur.

Pagi tadi, Paidi, pengurus yayasan konsumen marah-marah di JTV Surabaya. Cak Paidi sudah mendapat pengaduan dari calon penumpang yang dirugikan gara-gara penutupan Bandara Juanda. "Kami akan class action," kata Paidi penuh semangat.

Dia tak lupa menyebut berbagai kerugian yang dialami konsumen penerbangan. Juga maskapai-maskapai sebagai konsumen bandara yang dikelola PT Angkasapura I itu. Hehehe... Apa Cak Paidi wani gugat tentara? Opo maneh TNI AL selaku penguasa kawasan Bandara Juanda sejak 1960an?

Bagi kami, warga Kabupaten Sidoarjo, khususnya di wilayah utara macam Sedati, Gedangan, Waru, debat panjang di media massa terkait rencana penutupan sementara Bandara Juanda itu lagu lawas. Lagu lama yang basi dan tak enak didengar. Tidak ada gunanya kalau orang paham latar belakang dan sejarah Bandara Internasional Juanda.

Orang sering lupa bahwa kawasan Bandara Juanda itu wilayah TNI AL. Bandara Juanda sendiri pun dulunya lapangan terbang militer. Tanah yang dipakai bandara komersial itu pun tanah militer. Ketika bandara lama di Morokrembangan. Surabaya, ditutup, maka cara instan agar Surabaya punya bandara komersial ya nebeng di Lanudal (Pangkalan Udara TNI AL) Juanda.

Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, keenakan dompleng bandara militer selama 40-50 tahun. Sama sekali tidak ada upaya membuat bandara baru yang benar-benar sipil. Yang benar-benar jauh dari Juanda di Sedati itu. Yang memungkinkan Angkasapura I tidak rikuh dengan militer alias Lanudal Juanda.

Pemkab Sidoarjo yang wilayahnya ketempatan Lanudal Juanda + Bandara Internasional Juanda sebetulnya sudah lama membicarakan persoalan ini. Khususnya terkait aset tanah, dampak sosial, banjir yang dulu menimpa beberapa desa di sekitar bandara, hingga kontribusi ke kas daerah. Bukan apa-apa, sejak dulu Sidoarjo merasa tidak dapat duit dari bandara internasional yang megah itu.

Ketika PT Angkasapura I berencana memperluas Bandara Juanda, yang sekarang jadi Terminal I, sempat terjadi diskusi yang intens di Sidoarjo. Sebab, perluasan itu memakan satu desa, yakni Desa Pranti. Beberapa desa lain tenggelam saat hujan gara-gara proyek besar itu. Bupati Win Hendrarso (saat itu) resah melihat warganya tenggelam dan harus bedhol desa.

Lalu, muncul wacana: apakah Bandara Juanda harus diperluas? Atau tidak perlu diperluas lagi? Bikin bandara internasional baru yang jauh dari Lanudal Juanda + Bandara Juanda di Sidoarjo, Surabaya, atau di kota lain di Jawa Timur? Bandara kelas dunia yang tidak lagi terkait dengan pangkalan udara TNI.

Saya masih ingat, waktu itu Pemkab Sidoarjo (secara halus dan terselubung) cenderung menginginkan agar Bandara Juanda dikembalikan sebagai bandara militer. Jangan lagi dicampur komersial dan militer dijadikan satu seperti sekarang. Silakan bikin bandara komersial baru di tempat lain. Di mana? Ya, silakan pemerintah pusat dan provinsi menemukan lokasi yang bagus.

Wacana dan usulan ternyata hilang ditelan angin. Proyek Juanda jalan terus dan lahirlah Terminal 1 sekarang. Bandara Juanda lama digser ke Terminal 1. Kompleks bandara lama mangkrak selama tujuh tahun sebelum dihidupkan lagi menjadi Terminal 2 yang kita kenal sekarang. Jadi, T2 itu sebetulnya bandara yang asli, sedangkan T1 itu bandara baru yang menggusur habis Desa Pranti.

Maka, kalau bulan September 2014 ini Lanudal Juanda Sidoarjo jadi tuan rumah Hari TNI, sehingga dia perlu menutup sementara operasional Bandara Juanda, ya, jangan marah. Itu memang wilayahnya dia. Siapa suruh bandara komersial menumpang puluhan tahun di pangkalan militer?

Ini juga jadi pelajaran bagi pemerintahan sipil dan PT Angkasapura I dan II untuk membangun bandara komersial yang sipil 100 persen. Sayangnya, petinggi-petinggi Angkasapura itu ternyata juga bukan sipil murni!

Hehehe.... Nunut di tanahnya orang kok banyak cincong! Cak Paidi sek wani gugat Angkasapura lan Lanudal?