30 July 2015

Tan Mei Hwa bukan calon boneka?



Ibu Tan Mei Hwa ikut pemilihan bupati Sidoarjo? Apa gak salah dengar?

Maklum, selama ini di Sidoarjo nama sang ustadah keturunan Tionghoa ini tidak pernah disebut-sebut menjelang pendaftaran 26 Juni 2015. Tan Mei Hwa lebih sibuk ceramah, pengajian di televisi, keliling ke berbagai kota.

Tapi tiba-tiba dia dipasangkan dengan Utsman Ihsan, cabup yang diusung Gerindra dan PKS. "Apa benar anda jadi calon bupati?" tanya saya lewat telepon. Sudah lama banget Tan Mei Hwa jadi salah satu narasumber saya saat mengangkat berita-berita komunitas Tionghoa di Surabaya. Ustad yang aktif di komunitas muslim Tionghoa, PITI, ini sangat mudah dikontak kapan saja.

"Hehehe... Masih dalam proses. Saya belum bisa memastikan. Tunggu beberapa hari lagi ke depan," kata Tan yang sarjana hukum ini. "Saya lagi sibuk (mengisi) acara halalbihalal di mana-mana. Sekarang lagi ke Lamongan," kata wanita bersuara agak cempreng ini.

Tapi nama anda sudah muncul di media massa?

"Saya malah belum baca koran," jawabnya diplomatis.

Tapi anda siap kalau diusung Gerindra-PKS di pilkada Sidoarjo? Tan tak langsung menjawab. "Insya Allah," katanya serius.

Meski di telepon, obrolan dengan Tan Mei Hwa berlangsung gayeng. Saya bilang terkejut mendengar Tan terjun ke politik. Sebab selama ini orang tahunya Tan Mei Hwa itu ustadah keturunan Tionghoa yang populer di JTV Surabaya, julukannya Bu Nyai Gaul, gaya ceramahnya dibumbui humor dsb dsb. Semuanya jauh dari politik.

Sejak kapan anda ikut politik?

"Mas, sebelum reformasi saya sudah belajar politik. Ikut PPP tahun 1990an. Waktu itu partai hanya tiga, PPP, Gokar, PDI, dan saya memilih aktif di PPP. Sekalian belajar dan mendalami Islam. Jadi, keliru kalau saya ini dibilang pendatang baru di politik."

Wow, saya baru tahu sekarang. Masih aktif di PPP?

Ibu Tan bilang, setelah reformasi dia lebih aktif di dunia dakwah dan bisnis. Dia punya beberapa bisnis, jadi konsultan di Surabaya. Sejak muncul di JTV dengan tagline Bu Nyai Gaul, Tan Mei Hwa makin sibuk ceramah di mana-mana. Karena itu, aktivitasnya di partai berkurang drastis. Tapi belakangan Tan mengaku masuk dalam lingkaran Partai Gerindra.

Dua hari kemudian muncul kabar dari Surabaya. Pasangan Utsman Ihsan dan Tan Mei Hwa resmi maju dalam pilkada Sidoarjo. Sebelumnya sudah ada 2 pasangan, yakni Saiful Ilah-Nur Ahmad Syaifuddin dan Hadi Sutjipto-Abdul Kholik.

Pasangan Saiful-Nur dianggap paling kuat, karena incumbent, dananya buanyaak, menang di semua survei. Hadi Sutjipto yang wakil bupati pun tak bisa diremehkan. Keduanya punya jaringan yang sangat luas. Adapun Utsman Ihsan, mantan ketua DPRD Sidoarjo, pernah masuk penjara gara-gara kasus korupsi berjemaah. Waktu itu semua anggota dewan 1999-04 dijebloskan ke penjara.

Lantas, anda merasa punya peluang di pilkada Sidoarjo? Melawan calon petahana?

"Bismillah, saya dan Abah Utsman berusaha untuk menang. Saya serius. Jangan dikira saya dan abah (Utsman) calon penggembira atau boneka," katanya tegas.

Tan Mei Hwa mengaku punya modal sosial berupa jamaah pengajian yang sudah dibina dalam 20 tahun terakhir. Dia juga dekat dengan ibu-ibu nahdliyin, muhammadiyah, dsb. Tan pun merasa punya banyak gagasan untuk memajukan Kabupaten Sidoarjo. "Insya Allah," katanya.

Apa pun kata orang, tampilnya Tan Mei Hwa di gelanggang politik pilkada Sidoarjo kembali memperlihatkan bahwa warga Tionghoa makin melek politik. Tak lagi alergi politik seperti era Orde Baru selama 30an tahun. Sebelumnya Abah Anton, ketua PITI Malang, bahkan terpilih jadi wali kota Malang. Atau yang paling ngetop tentulah Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama gubernur DKI Jakarta.

Saya selalu ingat guyonan Tan Mei Hwa dalam beberapa kali ceramahnya tentang ajakan untuk mencari ilmu bahkan hingga ke negeri China. Ungkapan ini sangat populer di kalangan umat Islam.

"Lha, sekarang ini sudah buanyaaak orang China di sini. Ya, belajar saja sama orang-orang China di sini (Indonesia). Tidak perlu jauh-jauh ke negeri China segala!" katanya dengan suara renyah.

Bu Nyai Gaul, selamat memasuki rimba raya politik pilkada! Semoga tidak dikadalin!

BACA JUGA

Tan Mei Hwa Bu Nyai Gaul, ustadah Tionghoa di Surabaya.

29 July 2015

Ludruk makin ditinggalkan penonton



Secara umum kondisi ludruk di Kabupaten Sidoarjo senen-kemis. Dari 20-an grup ludruk yang tercatat di Disporabudpar Sidoarjo, tak sampai lima grup yang aktif menggelar pertunjukan.

Ludruk Irama Baru di kawasan Balongbendo tergolong istimewa. Pada bulan Syawal ini Irama Baru memiliki enam tanggapan. Sebelum puasa lalu, tepatnya bulan Ruwah, ludruk pimpinan Hadi Wijaya itu bahkan main sembilan kali dalam sebulan.

"Sangat bagus kalau sebuah grup ludruk dapat tanggapan sampai sembilan kali sebulan," kata Prof Dr Henricus Supriyanto, pakar ludruk dari Universitas Negeri Surabaya kepada saya.

Berdasar pengamatan Henri, sapaan akrab Prof Henricus Supriyanto, krisis yang dialami kesenian tradisional di Jawa Timur, khususnya ludruk, sudah lama terjadi. Bahkan, sejak zaman Orde Baru ludruk-ludruk yang ada mulai ditinggalkan penontonnya. Apalagi setelah bermunculan televisi swasta di tanah air.

Masyarakat punya begitu banyak alternatif hiburan tanpa harus keluar rumah. Di sisi lain, kualitas permainan ludruk-ludruk yang ada tak bisa mengimbang masyarakat yang semakin maju dan modern. "Terus terang, seniman-seniman ludruk kita tidak kreatif," kata pria yang dijuluki doktor ludruk itu.

Miskinnya kreativitas itu terlihat dari gaya lawakan hingga adegan di atas panggung yang begitu-begitu saja. Kurang menyesuaikan diri dengan selera dan karakter penonton yang sudah jauh berubah.

Grup-grup yang mampu bertahan pun terpaksa lebih banyak mengeksploitasi dagelan, memperbanyak tandak, dan nyanyian. Begitu lawakan selesai, penonton ramai-ramai meninggalkan arena pertunjukan. "Karena memang tidak menarik. Ini masalah kreativitas seniman-seniman ludruk itu sendiri," kata profesor yang pernah menjadi pemimpin grup ludruk itu.

Masih banyak kelemahan lain yang disebut Prof Henri. Termasuk ketiadaan organisasi yang menjadi jujukan ludruk-ludruk di Jatim. Yang terjadi sekarang grup ludruk ibarat perusahaan yang dikendalikan oleh juragannya. Beda dengan ludruk-ludruk pada era 1960-an dan awal 1970-an yang selalu dipadati penonton.

Meski begitu, Prof Henri mengaku optimistis akan terjadi kebangkitan ludruk di Jatim yang dimotori seniman-seniman generasi muda. Gaya ludruk modern itu nantinya jauh berbeda dengan ludruk-ludruk lawas yang senen-kemis itu.

Di tangan anak-anak muda berpendidikan tinggi, melek teknologi, paham selera penonton, ludruk yang merupakan kesenian rakyat khas Jatim itu bakal mendapat tempat lagi di masyarakat. "Saya optimistis ludruk tidak akan hilang. Cuma modelnya saja yang disesuaikan dengan perkembangan zaman," katanya.

25 July 2015

Pabrik gula di Sidoarjo kesulitan tebu

Saya baca di koran terbitan Jakarta edisi Sabtu 25 Juli 2015 soal industri gula. Dewan gula mendesak pemerintah segera membangun pabrik gula berbasis tebu. Mungkin pabrik gula baru di luar Pulau Jawa.

Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, empat pabrik gula sedang musim giling hingga Desember. Isunya justru kurangnya pasokan tebu sebagai bahan baku gula. Ini karena sudah lama sawah-sawah berubah jadi perumahan, ruko, gudang dsb. Anak-anak muda juga enggan jadi petani. Akibatnya, pabrik gula peninggalan Belanda yang jumlahnya belasan (ada yang bilang 16, ada versi menyebut 14, lain lagi 11) sekarang tinggal 4. Yakni PG Kremboong, PG Watoetoelis, PG Toelangan, dan PG Candi Baru (Tjandi).

Sebuah pabrik gula tak akan bisa hidup jika tidak ada tebu yang akan digiling. Maka empat pabrik gula itu pun lama-lama akan tutup jika pasokan tebu tidak ada lagi. "Kami kesulitan mencari petani yang mau garap lahan tebu," kata Zainal Arifin, direktur PG Watoetoelis di Kecamatan Prambon.

Pabrik gula lawas di dekat perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto itu punya 500 ha lahan tebu di Sidoarjo. Luasan yang terus menyusut. Karena kesulitan mendapatkan petani (warga Sidoarjo sekarang lebih suka bekerja di pabrik, kantor, PNS, politisi, pedagang, atau buka usaha sendiri), PG Watotoelis mengembangkan mekanisasi pertanian. Semua proses budidaya tebu pakai mesin. Mulai pembibitan, olah tanam, pemupukan, hingga panen (penebangan) pakai mesin. Tenaga kerja bisa dihemat.

"Sudah 35 persen mekanisasi," kata Zainal Arifin. Dia ingin dalam dua tiga tahun ke depan semuanya sudah mekanis. Satu orang bisa menggarap satu kavling lahan tebu dengan bantuan mesin itu.

Masih lumayan PG Watoetoelis berusaha mempertahankan lahan tebu meskipun tidak gampang. Pabrik Gula Toelangan malah sudah dua tahun ini mengandalkan pasokan tebu 100 persen dari luar Kabupaten Sidoarjo. Semua tebu dipasok dari luar daerah macam Mojoketo, Malang, Madura, Jombang. Tebu-tebu asal Sidoarjo yang dulu dipasok ke PG Toelangan dialihkan ke pabrik tetangganya, yakni PG Kremboong.

Sampai kapan PG Toelangan bertahan kalau hanya mengandalkan pasokan tebu dari luar Sidoarjo? Waktu yang akan menjawab, kata orang bijak. Sayang sekali kalau PG Toelangan yang jadi bahan cerita Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, dengan tokoh Nyai Ontosoroh asal Tulangan, ini bakal mengalami nasib seperti pabrik-pabrik gula sebelumnya macam di Ketegan (Taman), Wonoayu, Sruni (Gedangan), Porong, Buduran, Waru, atau Krian.

Kota Surabaya tempo doeloe juga punya buanyaaak pabrik gula. Mungkin lebih banyak ketimbang Sidoarjo. Tapi seiring transformasi ekonomi, perubahan zaman, sudah puluhan tahun tak ada satu pun pabrik gula yang tersisa. Karena memang tak ada sawah di Surabaya. Apalagi yang luasnya ratusan atau ribuan hektare untuk skala industri.

Karena itu, pemerintah harus melakukan kajian yang sangat mendalam jika ingin membangun pabrik-pabrik gula yang baru. Lokasinya di mana? Perkebunan tebunya bagaimana? Petani penggarapnya apa cukup? Kualitas tebu seperti rendemen bagaimana? Dan, yang paling penting, berapa lama PG itu bisa bertahan?

Belajar dari kasus pabrik gula di Sidoarjo (Jawa umumnya), industri yang berbasis pertanian tidak akan bisa bertahan lama. Beda dengan industri logam atau kimia yang tahan zaman. Berdasar pengalaman, petani biasanya hanya bertahan satu atau dua generasi. Anaknya si petani bisanya bertekad tidak akan pernah jadi petani kayak orang tuanya.

Beda dengan dokter yang selalu ingin anak, cucu, cicit, dst mengikuti jejak eyangnya sebagai dokter.

23 July 2015

1979 tahun bencana alam di Flores Timur

Harian Kompas edisi Selasa 21 Juli 1979 memuat arsip berita lawas satu alinea di halaman 1. Judulnya: Gelombang raksasa hantam Flores Timur.

Ceritanya, pada 18 Juli 1979 terjadi tsunami di pantai selatan Pulau Lembata (dulu Lomblen) yang menewaskan 154 warga Waiteba, Lebala, dan Bala. Air laut masuk ke daratan dan menyapu kampung sederhana di pulau yang saat itu masuk wilayah Kabupaten Flores Timur.

Saat itu belum ada telepon seluler. Telepon biasa pun belum masuk Lembata. Listrik pun tak ada. Jaringan jalan pun belum ada. Sehingga tim SAR kesulitan mengevakuasi korban serta membantu warga di lokasi bencana alam. "Kami di Lembata benar-benar takut karena sebagian besar kampung berada di pinggir laut," kata Kopong, warga Lembata di Jawa Timur.

Dulu istilah tsunami belum populer. Warta berita di RRI Kupang menggunakan istilah gelombang pasang. Nah, tsunami ini membuat warga Lembata di pantai selatan dan pantau utara (kampung halaman saya) selalu deg-degan setiap kali melihat gelombang pasang.

Sekitar lima bulan sebelumnya, 27 Februari 1979, juga terjadi bencana alam di Flores Timur yang sangat dahsyat. Banjir bandang, lumpur, batu-batuan menerjang Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Korban jiwanya bukan ratusan, tapi ribuan orang. Kalau tidak salah banjir di Larantuka ini dinyatakan sebagai bencana nasional.

Orang Flores Timur dan Lembata tak akan pernah lupa bencana alam dahsyat di Larantuka ini. Maklum, dulu diciptakan lagu yang sangat populer untuk menggambarkan betapa dahsyatnya bencana alam di kota Reinha (julukan Larantuka). De Rozen Group yang dipimpin MT de Rosary, musisi top asal Larantuka yang sangat terkenal di NTT, menulis lagu yang membuat warga Flores Timur, khususnya Larantuka sering menangis.


Begini antara lain syairnya:

"Dua tujuh malam Rabu
Pebruari bulan itu
Tujuh sembilan yang kelabu
Tak dapat kulupakan

Lumpur batu yang mengganas
Tak berperi dan berbelas
Merenggut harta korban jiwa
Tak dapat kulukiskan...."

Wow, rasanya merinding saat saya menyenandungkan lagu kenangan lama tentang bencana Larantuka itu. Padahal kejadiannya sudah lama sekali. Saya membayangkan wilayah Lohayong yang ditimpuk batu-batu besaaar, Lokea, Balela, Postoh, dsb. Namun ada keajaiban: beberapa kapel untuk menghormati Tuan Ma (Tuan Ma) dan Tuan Ana (Yesus Kristus) luput dari terjangan banjir. Lumpur, batu, potongan batang kayu... seakan menghindari gereja-gereja kecil itu.

Orang Flores Timur yang mayoritas Katolik sejak dulu dikenal punya devosi kuat terhadap Bunda Maria. Maka bencana alam ini juga dilihat dari kacamata iman. Semacam ujian iman dari Tuhan agar warga kembali ke pangkuan sang Pencipta. Mungkin saja selama ini warga asyik sendiri dengan urusan duniawi, minum tuak, arak, ngomong kosong, dsb.

Refren lagu karya MT de Rosary seperti menjadi kesimpulan bencana alam di Flores Timur.

"Oh Tuhan...
Apa salah dan dosaku
Derita ini bertubi menimpa
Andaikan ini jawaban kehendakMu
Tak kuingkari salib kota Reinha..."

Belakangan, setelah berada di Jawa Timur, saya jadi tahu bahwa bencana alam di Larantuka pun diabadikan dalam lagu milik SAS, grup rock asal Surabaya, dengan judul Larantuka. Lirik lagu tentang bencana alam dahsyat itu ditulis Sutanto Supiadhy, sekarang Prof Dr Sutanto Supiadhy, guru besar hukum tata negara di Untag Surabaya, yang juga seniman. Beliau ini meskipun profesor selalu jadi teman diskusi yang sangat asyik dengan orang-orang yang jauh lebih muda.

Lagu Larantuka dari SAS ini kemudian dipopulerkan lagi oleh Boomerang, band cadas dari Surabaya. "Di ujung timur Flores...." begitu antara lain lirik lagu mengenang bencana di Flores Timur itu.

19 July 2015

Macet abadi di Tanahmerah Bangkalan

Jauh sebelum ada jembatan Suramadu, jalan raya di Tanahmerah Bangkalan selalu macet. Anak kecil pun tahu penyebabnya adalah pasar tradisional di kiri kanan jalan plus tumpah ke badan jalan. Anehnya, dari dulu Pemerintah Kabupaten Bangkalan tak punya solusi cerdas. Pasar dibiarkan semrawut, jalan raya antarkabupaten pun dibiarkan macet.

Setelah jembatan Suramadu dioperasikan, otomatis volume kendaraan dari Surabaya ke Madura meningkat drastis. Bisa empat atau lima kali lipat dibandingkan sebelum ada jembatan di atas laut sepanjang 5,4 km itu. Tapi rupanya Bupati Fuad Amin, yang sekarang ditahan KPK karena korupsi, tak banyak action. Tak ada penertiban pedagang, relokasi pasar, atau bikin semacam jalan arteri di Tanahmerah.

Tidak jelas apa saja yang dilakukan Bupati Fuad selama 10 tahun jadi bupati Bangkalan. Sebab, kondisi jalan raya di wilayahnya tak banyak berubah dibandingkan zaman Orde Baru. "Orang Madura itu ngeyel, sulit ditertibkan," kata kenalan yang asli Pamekasan.

Kalau sulit ditertibkan, mengapa cuma Bangkalan saja yang semrawut? Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep kok bisa lancar dan tertib? Bangkalan pun sebenarnya cuma di Tanahmerah dan sedikit di Galis, yang juga punya pasar di pinggir jalan?

Setelah Fuad Amin lengser, bupati Bangkalan diganti anaknya, Momon. Masuk rekor Muri sebagai bupati termuda di Indonesia, usianya 20-an tahun. Fuad Amin jadi ketua DPRD Bangkalan sebelum dicokok KPK.

Momon belum lama jadi bupati. Kinjerjanya belum bisa dinilai sekarang. Tapi, berbeda dengan para bupati di Jawa Timur (luar Pulau Madura) yang selalu habis-habisan memperbaiki lancar untuk kelancaran arus mudik dan balik Lebaran, Pemkab Bangkalan seperti tenang-tenang saja. Sumber utama kemacetan di Pulau Madura, kawasan Tanahmerah, tidak diapa-apakan.

Maka, sudah pasti kemacetan terjadi setiap saat di pasar lama itu. Khususnya di saat arus mudik ini. Puluhan polisi tak bisa berbuat banyak karena jalan alternatif tidak ada. Jalan lewat kampung tidak mungkin dilewati mobil. Sepeda motor pun sulit melintas karena terlalu banyak lubang dan batu-batuan tajam berwarna putih.
Setelah saya blusukan ke jalan kampung ini, sebetulnya dinas PU bina marga Bangkalan bisa dengan mudah meningkatkan jalan desa ini menjadi jalan alternatif. Semacam arteri di Tanahmerah. Hanya dengan sedikit sentuhan, pengerasan, disiram aspal, sudah bagus. Jaraknya pun tak sampai lima kilometer. Akan lebih bagus lagi kalau dibeton agar kuat.

Bukankah Bangkalan dapat dana bagi hasil gas yang besar? Investasi juga berdatangan setelah ada Suramadu. Ke mana larinya duit-duit itu? Mungkin pemkab punya proyek lain yang dianggap lebih penting ketimbang menyelesaikan kemacetan abadi di Tanahmerah.

Menjadikan jalan desa sebagai arteri juga tidak perlu menggusur rumah-rumah penduduk. Sebab, jalannya sudah ada. Beda dengan arteri Porong yang terpaksa menggusur tanah dan bangunan ratusan warga. Pemkub cukup memperlebar jalan agar bisa dilalui kendaraan roda empat dua arah.

Anehnya, selama ini para tokoh, ulama, pengamat, LSM, budayawan setempat lebih sibuk bicara soal gerbangsalam, perda syariat, industrialisasi dan maksiat, tapi lupa membahas kemacetan di Tanahmerah.

Semoga Bupati Momon yang masih sangat muda, masih banyak energi, mau mengatasi persoalan lama di Tanahmerah. Sebelum masa jabatannya berakhir. Syukur-syukur tahun depan arus mudik Lebaran tidak nyantol lagi di Tanahmerah.

18 July 2015

Umat Katolik di Madura yang terisolir

Di malam takbiran, 16 Juli 2015, saya duduk tak jauh dari Gereja Katolik Santa Maria Ratu Para Rasul Pamekasan. Luar biasa ramai karena ada pawai kendaraan hias plus takbiran di alun-alun kota yang disebut Arek Lancor. Nah, Gereja Katolik itu berdiri megah di lingkaran alun-alun itu.

Cukup menarik karena gereja besar (untuk ukuran Madura yang 99,99 persen) tak jauh dari masjid jamik di Pamekasan. Ini paling tidak menunjukkan bahwa toleransi antarumat berbeda agama di Pamekasan sangat bagus. Paroki Pamekasan merupakan salah satu dari tiga paroki di Pulau Madura. Hanya Kabupaten Sampang yang tidak punya Gereja Katolik. Dari dulu Kabupaten Sampang merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Jawa Timur yang tidak punya gereja. Umat Katolik di Sampang biasanya mengadakan misa mingguan di sebuah gudang tua milik seorang pengusaha Tionghoa yang beragama Katolik.

"Umat Katolik di Madura ini sedikit, tapi cukup dinamis. Aktivitas di lingkungan, wilayah, paroki lumayan bagus. Enggak kalah sama Surabaya," kata Pak Yosef, umat Katolik di Sampang.

Hanya saja, anak-anak muda yang tamat SMP atau SMA otomatis keluar dari Madura untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, umat kristiani (tak hanya Katolik) niscaya berkurang. Umat Katolik dari luar yang masuk hampir tidak ada. Sehingga kegiatan parokinya didominasi orang-orang tua yang sebagian Tionghoa.

Sejak dulu keberadaan 3 paroki di Pulau Madura ini unik sekaligus mencemaskan. Mengapa? Ketiga paroki itu (Bangkalan, Pamekasan, Sumenep) ikut Keuskupan Malang, bukan Keuskupan Surabaya. Karena itu, romo-romo yang bertugas di Madura adalah karmelit (Ordo Carmel alias OCarm), sama seperti romo-romo di Malang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Banyuwangi. Pembagian wilayah keuskupan di Jatim ini sejak zaman Belanda dan masih bertahan sampai sekarang.

Karena ikut Keuskupan Malang, umat Katolik di Keuskupan Surabaya sejak dulu kurang memiliki kedekatan dengan saudara-saudara seiman di Madura. Sama-sama Katolik tapi beda keuskupan. Karena itu, meskipun sudah ada jembatan Suramadu, makin banyak orang Surabaya yang lan-jalan ke Madura, tidak ada aktivitas yang berbau gerejawi. Sekadar mampir di gereja, ngobrol sama pengurus dewan paroki, mampir ke pastoran pun nyaris tak ada.

Sebaliknya, umat Katolik dari Keuskupan Malang juga jarang yang main-main ke Madura karena terlalu jauh. Harus lewat Surabaya. Maka tidak ada misalnya pertemuan skala besar tingkat Keuskupan Malang yang diadakan di Pulau Madura. Dulu, ketika masih jadi umat Paroki Jember, saya bahkan tidak tahu bahwa Madura itu ikut Keuskupan Malang dan dilayani imam-imam karmelit. Saya baru tahu setelah ketemu Pastor Hidin Situmorang OCarm di Bangkalan beberapa tahun lalu. Sebelum ada jembatan Suramadu.

Sebagai orang awam, umat Katolik biasa, saya pun berpikir. Mengapa paroki-paroki di Madura itu tidak diserahkan saja ke Keuskupan Surabaya? Bukankah Madura dan Surabaya sudah menyatu berkat jembatan Suramadu?

Saya yakin seyakin-yakinnya secara pastoral paroki-paroki di Madura akan lebih hidup kalau ditangani Keuskupan Surabaya. Seandainya 3 paroki di Madura itu masuk wilayah Keuskupan Surabaya, bisa dipastikan umat Katolik di Madura lebih dinamis. Pelatihan petugas liturgi tak perlu jauh-jauh ke Malang. Tim liturgi dari Surabaya akan senang sekali turun langsung ke Madura sambil lan-jalan makan bebek Sincay yang terkenal itu. Romo-romo dari Surabaya pun akan di-rolling setiap tiga tahun seperti di Keuskupan Surabaya.

Sejak dulu saya melihat umat Katolik di Keuskupan Surabaya, yang wilayahnya hingga Cepu dan Rembang itu, senang anjangsana untuk menemui para mantan romo parokinya. Karena di-rolling tiga tahunan, banyak paroki yang harus dikunjungi. Nah, Pulau Madura tidak mungkin dikunjungi karena romo-romo karmelit di Madura (hampir) mustahil bertugas di Keuskupan Surabaya. Sebaliknya, romo-romo yang ada di Keuskupan Surabaya pun (hampir) mustahil bertugas di Madura.

Menurut saya, yang awam, kuncinya ada di Keuskupan Malang dan Ordo Karmel untuk menyerahkan 3 paroki itu di Pulau Madura itu ke Keuskupan Surabaya. Sudah banyak contoh paroki-paroki yang awalnya dikelola kongregasi diserahkan ke Keuskupan Surabaya. Contoh: Paroki Sakramen Mahakudus (Pagesangan) dan Paroki Santo Paulus (Juanda, Sidoarjo), diserahkan ordo SVD ke imam-imam diosesan Keuskupan Surabaya.

17 July 2015

Libur Lebaran, Gunung Raung, Pamekasan

Tiket pesawat ke Kupang, NTT, di musim Lebaran ini Rp700an. Jauh lebih murah ketimbang musim libur Natal dan tahun baru yang hampir Rp 1500. Sekitar lima tahun lalu tiket Lion Air rute Surabaya-Kupang cuma Rp 340an. Lebih murah ketimbang ke Jakarta.

Sayang, peluang untuk memanfaatkan libur Lebaran yang cukup lama, dan serentak, itu dijegal oleh Gunung Raung. Gunung yang tidak begitu terkenal dan dilupakan orang karena jarang membuat berita. Beda dengan Kelud atau Merapi yang memang news maker. Tapi si Raung ini sekali meraung membuat ratusan penerbangan di Juanda, Malang, Bali, Lombok, Banyuwangi... terganggu.

Beda dengan letusan Kelud yang dahsyat, tapi jauh dari jalur penerbangan. Begitu juga Merapi yang jauh di Jogja. Gunung Raung membuat warga yang ingin terbang ke Bali, Lombok, Kupang... gigit jari. Mengapa erupsi kok pas cuti bersama? Libur Lebaran? Rupanya Gunung Raung berhasil mencuri perhatian kita yang sudah lama mengabaikan gunung setinggi 3,3 km di kawasan Bondowoso itu.

Apa boleh buat. Safety first! Keselamatan adalah segalanya. Apalagi untuk pesawat terbang. Kita belum lupa Hercules di Medan atau AirAsia yang pilotnya belum ditemukan sampai sekarang.

Apa boleh buat, kita dipaksa alam untuk mengisi liburan Idulfitri ini dengan cara lain. Banyak objek wisata di Jawa Timur yang belum kita nikmati. Kota-kota kecil yang menunggu didatangi.

Maka, ketimbang mikirin Raung yang tak menentu, saya memutuskan jalan-jalan ke Madura. Bertemu Pak Kosala Mahinda, pemilik Kelenteng Kwan Im Kiong di pantai Talangsiring, Pamekasan, yang sangat terkenal di kalangan warga Tionghoa. Kelenteng ini punya tempat ibadah untuk 5 agama: Buddha, Tao, Konghucu, Islam, dan Hindu.

"Libur Lebaran ini saya malah sangat sibuk karena banyak tamu dari jauh. Kebanyakan dari Jakarta dan sekitarnya," kata Pak Kosala sambil tersenyum.

Beberapa rombongan dari Jakarta memang sudah bermalam satu dua hari di Kwan Im Kiong. Tidak perlu khawatir, ada penginapan yang bisa menampung 1000 orang. Ada kantin untuk makan minum. Semuanya komplet. Setiap tahun kelenteng di Desa Polagan, dekat hutan bakau ini, mengadakan tiga hajatan besar yang semuanya terkait Dewi Kwan Im.

"Kalau perayaan Dewi Kwan Im saya sediakan konsumsi untuk ribuan umat yang ke sini. Makan, minum, penginapan gratis. Kalau sekarang penginapannya gratis, tapi makan minumnya silakan bayar sendiri di kantin," kata Pak Kosala yang alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya.

Rombongan dari Jakarta ini ada yang rutin ke Kwan Im Kiong Pamekasan, tapi lebih banyak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Madura. Semuanya mengaku jauh-jauh dari Jakarta, macet berjam-jam bersama para pemudik, tidak sekadar berlibur atau bertualang, tapi untuk pencerahan. "Suasananya sangat bagus untuk refreshing dan pencerahan. Kita butuh keheningan seperti ini," kata seorang bapak yang datang bersama istri, dua anak, dan mertuanya.

Selain Kosala dan 20 karyawan, Kwan Im Kiong (penduduk setempat menyebut Vihara, bukan kelenteng) tidak punya biarawan/biarawati atau pembimbing rohani macam di tempat retret Katolik. Pengunjung bebas melakukan ritual, sembahyang, meditasi, atau sekadar duduk-duduk menikmati nyanyian alam, burung berkicau, dan aroma garam dari kawasan sekitar kelenteng.

Pengunjung yang beragama Hindu juga bisa melakukan ritual di pura yang baru direnovasi. Pura satu-satunya di Pulau Madura itu dekat dengan vihara dan lithang (tempat ibadah Konghucu). Yang Islam juga bisa salat di musala, tak jauh dari pagoda. Yang Kristen belum ada gereja atau kapel. Cukup jalan-jalan, membaca buku, atau meditasi di mana saja.

Di Kwan Im Kiong ini saya menikmati liburan yang agak anti-mainstream. Bertemu orang-orang Jakarta yang sengaja menghabiskan waktu dengan meditasi meditasi meditasi. Saya pun mencoba belajar meditasi tapi betapa sulitnya. Pikiran cepat melayang ke mana-mana, sulit dikendalikan.