26 June 2016

Pelukis Tedja Suminar pulang dengan gembira

Semalam saya ikut doa bersama umat Katolik Paroki Kristus Raja Surabaya, wilayah Karangmenjangan. Saya duduk paling dekat peti jenazah yang terbuka dengan hiasan aneka bunga segar. Ada dua bungkus rokok di dekat telinga kiri sang seniman. Pakai baju batik dan baret hitam yang sangat khas.

Bapak Stefanus TEDJA SUMIJAR terbaring di dalam peti itu. Beliau meninggal kemarin pagi dalam usia 80 tahun.

Di depan rumah Pak Tedja yang artistik itu, samping masjid Muhammadiyah, saya baru sadar telah salah dress code. Pakai baju warna merah. Simbol bahagia dan gembira ala Tionghoa. Gak cocok untuk melayat dan bersembahyang requiem. Biasanya orang Tionghoa pakai busana warna putih untuk perkabungan.

Pak Tedja yang lahir di Ngawi 16 April 1936 tidak begitu hirau dengan tata cara Tionghoa ini meski ayahnya asli dari Hokkian Tiongkok. "Aku gak iso bahasa Mandarin blas. Bahasa Jawa atau bahasa Indonesia saja sudah cukup," katanya.

Sekitar 50 pelayat menemani mendiang Tedja Suminar malam minggu itu. Tidak ada ratap tangis selain doa-doa dan iman bahwa Pak Tedja sudah berada di surga. "Saya sangat yakin Papi sudah bahagia bersama Tuhan," kata mbak Swandayani putri Tedja Suminar yang seniman tari terkenal surabaya.

"Beberapa jam sebelum meninggal, Papi bilang melihat sesuatu yang sangat indah. Papi meninggal dalam keindahan," ujar mbak Swan kepada saya.

Mungkin itulah yang membuat suasana rumah duka di samping lapangan hockey itu tidak muram. Dan... kebetulan kok pemimpin doa rosario dari Paroki Kristus Raja memilihkan peristiwa gembira. Bukan peristiwa sedih! (Dalam tradisi Katolik, doa rosario itu ada 3 peristiwa: gembira, sedih, dan mulia.)

Oh, cocok! Baju merah yang saya pakai justru sangat cocok untuk menemani Pak Tedja Suminar yang besok siangnya akan dikremasi di Kembang Kuning. Umat Katolik berdoa di samping jenazah, sementara yang bukan Katolik duduk di pelataran yang desainnya sangat indah, khas Bali. Mbak Nathalini, pelukis terkenal juga, menemani pelayat-pelayat di luar.

Mbak Swandayani yang memimpin doa Salam Maria pada peristiwa pertama. Peristiwa kedua ketiga dan keempat didoakan bergantian. Peristiwa kelima didoakan serentak. Suasana doa rosario yang tak pernah saya alami selama bertahun-tahun di Surabaya.

Sambil mendaraskan rosario, saya pun teringat kata-kata Pak Tedja yang disampaikan kepada saya dalam berbagai kesempatan. "Saya ingin hidup di bumi seperti di dalam surga...," begitu pesan yang selalu terngiang di telinga saya.

Setiap kali bertemu beliau, Pak Tedja selalu mengulang kata-kata ini. Bahkan ketika pulang dari Tiongkok, Pak Tedja secara khusus memberikan VCD dan sketsa karyanya (fotokopian) dengan tulisan itu.

"Lambertus, jadikanlah di bumi seperti di dalam surga," tulis Pak Tedja Suminar dengan latar belakang Lapangan Tiananmen yang terkenal itu.

Oh ya.. mengunjungi negeri leluhur di Tiongkok semakin membuat Tedja Suminar merasa seperti di dalam surga. Sebab dia sudah keliling Eropa dan Asia untuk bikin sketsa. Keliling Indonesia sering sejak mulai cemplung ke seni rupa tahun 1957. Di Tiongkok itu Pak Tedja membuat cukup banyak sketsa dari kota ke kota. Didampingi dua putrinya yang sama-sama seniman itu.

Doa rosario selesai. Disusul doa penutup dan lagu penutup "Tuhan Berikanlah Istirahat... Abadi dan Tenang bagi Yang Wafat".

Pak Tedja, matur nuwun atas persahabatan dan semua ilmu yang telah anda bagikan selama ini.

Selamat jalan menuju surga! Dengan tenang dan senyum... ditemani beberapa bungkus rokok kretek kegemaran sampeyan!

19 June 2016

Karyawan Pria Muncul di Kompas

Baru membaca kalimat pertama berita boks bawah Kompas Minggu 19 Juni 2016, saya langsung tertawa sendiri. Gak nyangka guyonan saya selama ini bersama para mahasiswa magang jurnalistik ternyata muncul di Kompas. Koran yang disebut-sebut paling peduli bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Yang bikin saya ketawa itu: KARYAWAN PRIA. Bukankah karyawan itu secara implisit berarti pekerja yang berjenis kelamin pria atau laki-laki?

Jangan-jangan ada istilah KARYAWAN PEREMPUAN (WANITA)! Bukankah pekerja berjenis kelamin wanita itu cukup disebut karyawati?

Lama-lama ada istilah mahasiswa wanita dan mahasiswa pria. Padahal sejak dulu kita sudah punya istilah mahasiswa (pria) dan mahasiswi (wanita). Ada juga siswa-siswi. Pramugari-pramugara.

Memang ada kecenderungan untuk menghapus gender (Kompas pakai jender) untuk kata-kata tertentu yang dulu sangat lazim. Akhiran -wan dan -wati termasuk di antaranya. Karena itu, sudah lama kita tak mendengar istilah wartawati atau seniwati.

Jika frase KARYAWAN PRIA sengaja dipilih redaksi Kompas, dan direstui editor bahasa Indonesia, berarti kata KARYAWATI bakal hilang dari surat kabar itu. Tinggal kenangan sejarah masa lalu. Itu juga berlaku untuk siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswa-mahasiswi, wartawan-wartawati... dan sejenisnya.

Kalau sudah begitu ya, tidak ada lagi alasan buat saya untuk menertawakan mahasiswa magang di Surabaya yang sudah lama menggunakan KARYAWAN PRIA. Justru saya yang jadi bahan tertawaan karena masih membedakan karyawan dan karyawati, mahasiswa-mahasiswi, biarawan-biarawati, rohaniwan-rohaniwati, siswa-siswi....

Bahasa memang senantiasa berubah. Dan kadang kala kita sulit berubah karena terlalu taat pada tata kata dan tata kalimat tempo doeloe.

18 June 2016

Misa di Kristus Raja bersama Romo Tondowidjojo CM

Terlambat 7 menit tak apalah. Yang penting bisa ikut misa di Gereja Kristus Raja Surabaya, petang ini. Puji Tuhan, Romo Dr John Tondowidjojo CM yang pimpin misa. Sudah lama banget saya tak mengikuti ekaristi yang dipimpin pastor guru besar ilmu komunikasi itu.

Prof Tondo meski sudah sepuh, jelang 80, selalu antusias. Saya biasa membaca dan mengedit beberapa artikel panjangnya. Prof Tondo paling suka pakai judul QUO VADIS... Karena itu, beberapa teman menjuluki beliau Romo Quo Vadis!

Saya baru ingat kalau Romo Tondo ini suka menyanyi. Dulu ia pernah menulis buku teknik vokal dan seni suara. Pantas saja bacaan Injil Lukas 9:18-24 tidak dibacakan tapi dinyanyikan. Vokalnya tak lagi kencang tapi tidak fals. Enak.

Saya jadi teringat beberapa pastor di Flores, dulu, yang suka menyanyikan bacaan ketiga (Injil). Pater Paulus Due SVD almarhum paling jago soal beginian. Hampir di semua misa, termasuk misa harian, injilnya dinyanyikan. Kebiasaan itu sudah lama tidak saya temukan... kecuali Romo Tondo di Kristus Raja, gereja di dekat Stadion Tambaksari Surabaya.

Giliran homili (khotbah), Romo Tondo kembali memperlihatkan kelebihannya. Beliau membahas 100 tahun penampakan Bunda Maria di Fatimah, kota kecil di Portugal. Tepatnya 15 Mei 1907. Kebetulan replika patung Maria dari Fatima sedang berada di Indonesia. Termasuk mampir ke beberapa paroki di Surabaya.

Romo Tondo dengan fasih menceritakan peristiwa iman itu kepada tiga anak kecil di Portugal. Kemudian pastor yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi itu mengilas balik kisah penampakan-penampakan Bunda Maria di tempat lain. Mulai dari Meksiko hingga di Eropa berkali-berkali-kali.

Yang paling terkenal tentulah di Lourdes Prancis. Penampakan kepada Bernadete. Dari Lourdes itulah kata Romo Tondo muncul istilah Maria Immaculata... Maria yang tidak bernoda!

"Pesan Bunda Maria di semua penampakan itu hampir sama. Kita diminta bertobat, lebih banyak berdoa, mendekatkan diri pada Tuhan," kata Romo Tondo.

Yang sangat menarik buat saya, Romo Tondo bercerita panjang lebar soal sejarah penampakan ini tanpa teks. Tanpa bantuan google dsb. Semuanya di luar kepala. Padahal banyak tanggal, tahun, nama-nama asing, hingga pesan-pesan secara detail. Romo Tondo ini mirip ensiklopedia hidup untuk Gereja Katolik.

Inilah kelebihan Romo Tondo yang membuat khotbah-khotbahnya sangat menarik. Bukan retorika, teriak-teriak, seruan Haleluya Haleluya.. tapi informasi. Khotbah yang bercerita. Kita seperti sedang mengikuti kuliah agama Katolik di perguruan tinggi.

Di bagian lain, Romo Tondowidjojo menyoroti fenomena dekadensi di masyarakat saat ini. Korupsi.. suap.. narkoba.. pelecehan seksual.. pembunuhan.. pencurian.. Orang Indonesia itu beragama tapi kenyataannya terjadi banyak kemerosotan moral. Dekaden dari de-cadere artinya jatuh, turun... merosot.

"Secara lahir kelihatan terpandang, bersih, jujur, tapi di dalamnya busuk dan memuakkan..," begitu antara lain khotbah Romo Tondo.

Mungkin karena khotbahnya agak lama, tapi tidak terasa, Romo Tondo malah tidak menyanyikan prefasi. Padahal bagian misa ini selalu dinyanyikan imam.. termasuk yang paling tidak suka menyanyi.

Paduan suara anak muda yang tampil petang itu kualitasnya di atas rerata. Mereka membawakan beberapa komposisi sulit yang jarang dinyanyikan di gereja. Lagu Ave Maria dinyanyikan duet sopran dan tenor untuk mengiringi komuni. Tepuk tangan panjang usai lagu dinyanyikan. Mirip konser saja.

Sayang, saya tak sempat bersalaman dengan Romo Tondo sang kamus berjalan.

14 June 2016

Dendam 1965 sampai 7 turunan

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pekan lalu bicara tentang isu komunis dan PKI yang hangat lagi akhir-akhir ini. Ketua umum Partai Demokrat itu intinya mengatakan bahwa masyarakat kita belum siap untuk membahas persoalan 65 itu.

Ketika menjadi presiden dua periode, 2004-2014, SBY mengaku sudah berusaha tapi situasi tidak kondusif. Kalau dipaksakan oleh rezim Jokowi, justru hanya akan menimbulkan ketegangan di masyarakat. SBY ini mantunya Sarwo Edhi Wibowo, jenderal TNI AD yang dianggap berjasa dalam penumpasan PKI sampai ke akar-akarnya usai peristiwa 30 September 1965.

Lalu kapan masyarakat Indonesia siap?

Presiden keenam itu tidak menyebutkan. Orang Indonesia, khususnya pemerintah, sejak dulu memang tidak punya timeline. Pokoknya tunggu siap dulu. Bisa 20 tahun.. bisa 100 tahun... bisa sampai kiamat kalau sudah menyangkut PKI dan komunisme.

Saya sendiri sepakat dengan pernyataan SBY soal isu komunisme dan PKI plus ormas-ormasnya itu. Orang Indonesia tidak siap mengungkap masa lalu yang pahit. Komisi kebenaran dan rekonsiliasi macet. Baru dibahas sedikit saja, pemerintah khususnya TNI AD kebakaran jenggot.

Lalu terjadilah ketegangan di mana-mana. Putar film tentang Pulau Buru saja haram. Padahal isinya cuma kenangan seorang bekas tahanan yang pernah dibuang ke pulau di Maluku itu. Sekitar 12 ribu orang yang dianggap komunis atau simpatisan PKI dijadikan budak untuk babat alas di Pulau Buru selama 10 tahun.

Pemerintah Orde Baru sih inginnya ribuan orang itu mati pelan-pelan. Tapi proyek Buru ini akhirnya dihentikan setelah diprotes dunia internasional. Kembali ke Jawa dan kota-kota lain, para eks tapol Buru ini kehilangan hampir semua hak sipil. Anak-anak mereka pun tidak bisa bekerja di perusahaan (apalagi pns atau ABRI) karena tidak bersih lingkungan.

"Bertahun-tahun saya sengaja menyembunyikan identitas saya," kata mbah Harsojo eks tapol Buru saat saya temui di Sidoarjo. "Saya sudah bolak-balik dipenjara kemudian dibuang ke Buru. Cuma belum dibunuh," ujar sang seniman anggota Lekra itu.

Kembali ke pertanyaan awal. Kapan masyarakat Indonesia siap membicarakan peristiwa 65 dengan kepala dingin? Tidak terjebak debat kusir kayak sekarang di media sosial dan media utama? Bisa lebih arif menyikapi masa lalu?

Saya sudah lama membahas isu ini di sini. Intinya, Indonesia punya budaya dendam membara tujuh turunan. Tujuh generasi! Peristiwa 65, juga penumpasan alias penyembelihan massal pasca tragedi itu, tidak akan tuntas kalau belum sampai 7 generasi. Sudah tujuh turunan pun belum tentu selesai jika pola pikir di benak mayoritas orang Indonesia masih seperti sekarang.

Pak Harto, Pak Sarwo Edhi... DN Aidit jelas generasi pertama. SBY, Ryamizard, Kivlan Zen, Agus Widjojo dkk generasi kedua. Adalah hil yang mustahal  (istilah Asmuni Srimulat) mengharapkan generasi kedua melakukan rekonsiliasi. Sebab mereka ikut jadi saksi atas tragedi kekerasan yang menimpa orang tua atau orang-orang-orang terdekat.

Generasi ketiga pun sulit. Generasi empat dan lima juga agak sulit meski jarak dengan 1965 sudah jauh. Generasi keenam dan ketujuh bisa diajak bicara dengan kepala dingin. Sebab para pelaku sejarah dan anak-anaknya sudah tidak ada di bumi ini. Mereka hanya tau sejarah 65 dari buku-buku, film, pelajaran sejarah, atau cerita lisan.

Saat ini baru masuk generasi keempat. Masih perlu tiga generasi untuk sampai ke tujuh turunan. Kita yang lahir tahun 1970an atau 1980an atau 1990an tidak akan bisa menuntaskan dendam lama ini. Apalagi orang-orang lama macam Kivlan Zen, Prabowo, SBY, atau Jokowi sekalipun.

Tapi ribut-ribut soal PKI dan komunisme akhir-akhir ini ada bagusnya juga. Sebab baru kali inilah dalam sejarah Indonesia ada dialektika antara dua kubu di media sosial. Selama Orde Baru kita hanya dicekoki versi pemerintah saja. Orang-orang kiri dan simpatisannya dibungkam, dibui, dibuang... dan dibunuh.

13 June 2016

Ketika satpol PP jadi polisi syariah

Ternyata masih ada pemda yang merazia warung selama bulan Ramadan. Yang bikin heboh tahun ini di Serang Banten. Kota yang sangat dekat dengan Jakarta. Warung bu Saeni diobrak, makanan yang dijuali diangkuti.

Bu Eni hanya bisa menangis dan mencak-mencak. Tapi gak bisa apa-apa melawan satpol PP. Rupanya di Serang satpol PP sudah jadi polisi syariah. Blusukan ke warung untuk mencari orang-orang yang tidak puasa.

Lama-lama satpol di Serang (juga kota-kota lain) blusukan ke rumah-rumah. Mengecek penduduk apakah berpuasa atau tidak. Bisa jadi makanan di rumah penduduk pun diangkuti... untuk menjaga kesucian Ramadan. Betapa repotnya satpol kalau harus blusukan ke seluruh kabupaten.

Dulu di Jawa Timur ada beberapa kabupaten/kota yang mirip Serang Banten itu. Satpol razia warung yang buka siang hari. Tapi tidak sampai menyita makanan. Si pemilik warung cuma diimbau untuk tutup. Buka jelang magrib saja.

Namun belakangan ini satpol tak lagi overacting di Jatim. Masih terlalu banyak pekerjaan pokok yang belum dilaksanakan ketimbang merazia warung, depot, restoran dsb. Selama ini satpol justru cenderung membiarkan tempat hiburan malam beroperasi tanpa izin. Ada PSK pula! Kok cuma berani sama wong cilik kayak penjual nasi itu?

Polemik soal warung buka selama Ramadan sebetulnya isu lawas. Puluhan tahun lalu sudah dibicarakan di mana-mana. Dan semakin banyak orang yang bisa menerima warung buka siang karena tidak semua orang berpuasa. Ada musafir, nonmuslim, dsb yang butuh makan.

Silakan buka tapi ditutupi tirai. "Nggak perlu ditutupi kain segala. Orang yang niat puasa itu tidak akan tertarik makan dan minum," kata teman saya mantan aktivis PMII tahun 1990an. "Kalau kamu makan atau minum, silakan. Wong kamu nggak puasa," kata sahabat ini.

Cak Sarip ini justru menganggap instruksi penutupan warung selama Ramadan, apalagi pakai perda seperti di Serang itu, sangat berlebihan. Menunjukkan kecerdikan jiwa. Kalau semua orang puasa ya otomatis warung-warung tutup dengan sendirinya. Nggak akan laku.

Mana ada pedagang yang buka warung seharian untuk 5 sampai 10 pembeli? Itulah yang dulu saya alami di Jember, kota santri yang penduduknya sebagian besar keturunan Madura. Tidak ada razia, tidak ada ancaman. Tapi hampir tidak ada orang yang buka warung.

"Rugi cong!" kata bu Sutik pemilik warung langgananku di kamasan kampus Universitas Jember. "Mending buka sore." Tapi ibu ini tetap melayani mahasiswa nonmuslim yang memang tidak berpuasa.

Polemik warung selama Ramadan ini sudah berkembang jadi debat kusir yang melebar ke mana-mana. Saya sendiri sebetulnya kurang tergoda makan di warung. Biasanya cuma mampir ngopi untuk nguping tema aktual yang sedang dibahas wong cilik. Juga nonton bareng sepak bola yang seru.

Saya justru lebih tergoda dengan air minum kemasan macam Aqua, Club, Cheers... atau belakangan Le Minerale. Saya tahan tidak makan tapi tidak tahan haus. Apalagi belakangan ini saya aktif bersepeda jarak jauh. Jadi, harus sering minum air putih agar tidak dehidrasi.

Syukurlah ukurlah, tidak ada larangan menjual Aqua atau teh botol atau soft drink sebelum magrib. Juga tidak ada larangan menjual buah-buahan di pinggir jalan kayak semangka, pisang, jambu... selama sebelum buka puasa. Juga tidak ada larangan menjual roti, biskuit, kue-kue, es krim dsb dsb.

Mengapa cuma warung atau depot nasi yang dilarang? Kalau mau fair ya pasar buah pun harus ditutup sebelum magrib karena bisa menggoda orang yang berpuasa! Air putih pun jangan dijual. Semua toko harus menyembunyikan roti kue biskuit es krim... dsb dsb.

Betapa ribetnya hidup ini kalau satpol PP harus memeriksa semua toko di seluruh wilayah kabupaten! Lama-lama ada polisi syariah yang sibuk mencari orang-orang yang tidak melaksanakan sembahyang lima waktu.

09 June 2016

Mengantar Cak Lutfie Galajapo ke Makam Tembok

Gerimis tipis mewarnai suasana perkabungan di rumah duka almarhum Lutfie AM (Anake Mama), Jalan Kranggan Gang V Surabaya. Sekitar 200 pelayat dengan sabar menunggu mengantar jenazah cak Lutfie pelawak Galajapo ke makam Tembok. Malam itu juga!

Siangnya, jam duaan, Lutfie tewas di jalan lingkar timur Sidoarjo karena kecelakaan lalu lintas. Sang pelawak lucu minim kata ini berusaha menyalib motor, tapi kaget tiba-tiba ada motor dari arah utara (Surabaya) yang sama-sama ngebut. Cak Lutfie pun tutup usia di RSUD Sidoarjo dalam usia 48 tahun.

Malam Rabu itu saya duduk bersebelahan dengan Priyo Aljabar, pelawak anggota Galajapo, di rumah duka. Cak Priyo syok berat. Tidak menyangka kalau Lutfie yang sudah jadi bagian dirinya itu pergi begitu cepat. Tak ada firasat. Cak Priyo kemudian banyak cerita tentang almarhum Lutfie dan Galajapo, grup lawak yang pernah sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur itu.

"Lut.. Lut... awakmu kok sudah almarhum. Purna tugas... Gak bisa lagi update status," ujar Cak Priyo dengan gaya khasnya seperti ketika jadi presenter di JTV atau TVRI.

Di mana Cak Djadi Galajapo? "Djadi di dalam. Urusan protokoler... mewakili tuan rumah," kata cak Priyo yang belakangan sibuk menekuni seni lukis.

Di depan saya dan Cak Priyo tampak begitu banyak pelawak Surabaya. Ada Cak Kartolo. Ning Vera, Cak Jus, Hunter.. dan pelawak-pelawak Srimulat. Para raja dagelan ini pun tak banyak kata. Semua larut dalam kesedihan ditinggal cak Lutfie, kolega mereka. Sesekali Kartolo mencairkan suasana, ditimpali Hunter, Vera.... Cak Priyo masih tampak hambar.

Saya melihat seorang laki-laki 50 tahun membawa sebungkus garam. Masuk lorong.. komat-kamit bersembahyang. Oh, rupanya pawang hujan! Tapi sang pawang kelihatannya sulit membendung curahan air yang justru diharap-harap warga Sidoarjo yang kepanasan saat puasa siang tadi. Hujan sangat deras.

Para pelayat semburat ke rumah-rumah tetangga. Alhamdulillah, para tetangga almarhum Lutfie ini membuka rumah mereka untuk menampung para pelayat. Keguyuban khas kampung yang belakangan makin hilang di kota-kota besar macam Surabaya. "Insya Allah, pemakaman dimulai jam 23.00," kata Cak Priyo.

Benar saja. Sepuluh menit sebelum jam 11, hujan berhenti. Kami para pelayat berkumpul kembali di sekitar jenazah Cak Lutfie yang sudah digeletakkan di dalam keranda.

Pukul 23.00 Djadi Galajapo mewakili keluarga, teman dekat sesama anggota trio Galajapo (Gabungan Lawak Jawa Pos), memimpin doa dan menyampaikan tausiah singkat. Suaranya bergetar menahan haru.

"Semua yang hidup pada akhirnya akan mati. Kepergian Cak Lutfie yang mendadak sekali lagi membuktikan bahwa maut bisa datang kapan saja," kata Djadi Galajapo alias Haji Muhammad Cheng Hoo, salah satu MC papan atas di Surabaya.

Djadi Galajapo: "Saya ingin kesaksian dari Panjenengan semua yang hadir di sini... Selama hidupnya almarhum Cak Lutfie ini orang baik atau jahat? Tolong dijawab yang tegas!"

Hadirin: "Baiiiikkkkk!!!"

Djadi Galajapo: "Alhamdulillah... Sekarang saatnya kita bersama-sama mengantar sahabat kita Lutfie ke tempat peristirahatan yang terakhir!"

Keranda beroda itu pun bergerak dari rumah duka diiringi ratusan pelayat. Gerimis datang lagi tapi tak begitu mengganggu jalannya pemakaman Cak Lutfie di Tembok Surabaya. "Hujan itu justru rezeki. Kita tidak boleh menghalangi rezeki," begitu kira-kira omongan Cak Priyo.

Selamat jalan Cak Lutfie! Matur nuwun atas persahabatannya selama di Surabaya dan Sidoarjo!

03 June 2016

Dr Soe Tjen Marching getol bahas komunis




Isu komunis sangat ramai akhir-akhir ini. Di media sosial debat soal komunis marxis sosialis PKI palu arit tak akan ada habisnya. Sayang, bobot diskusi ini sangat rendah.

Begitu banyak anggota grup medsos yang bicara komunis marxis dsb tanpa membaca buku-buku yang tebal itu. Komunisme itu apa? Tidak mengakui agama? Anti Tuhan? Pengkhianat bangsa?

Bahasannya terlalu panjang. Dan pasti tidak dibaca sebagian besar orang Indonesia di era medsos ini. Jangankan baca buku-buku kajian yang tebal, baca artikel atau berita pendek saja enggan.

"Orang sekarang itu membaca judulnya tok," kata kenalan yang mengelola salah satu grup medsos di Sidoarjo.

Begitulah banalitas yang bersimaharajalela di mana-mana. Baca judul pendek, panas... lalu debat panjang. Melebar ke mana-mana. Profesor doktor, pakar, pengamat, tukang becak... diskusi tentang tema yang sangat besar dan berat itu: komunisme sosialisme marxisme...

Gara-gara heboh komunis itu, saya lihat mbak Soe Tjen Marching PhD pun turun gunung. Dosen di London Inggris, yang juga komponis kelas dunia, itu rajin sekali update status. Menanggapi isu kebangkitan komunis yang ramai dibicarakan di Indonesia.

Biasanya Sucen menanggapi komentar penguasa dan mantan jenderal yang ngomongin komunis. Tidak hanya di medsos, Sucen juga menulis artikel panjang di koran-koran. Sebagian dalam bahasa Inggris. Teman saya ini memang lebih lancar bikin tulisan dalam English karena sebagian besar umurnya dihabiskan di Australia dan Inggris.

Jangankan dengan Kivlan Zein, Ning Sucen bahkan bicara keras langsung di depan Presiden Jokowi saat berkunjung ke London bulan lalu. Temanya sama: luka lama 1965, rekonsilasi, dsb. Jokowi merespons secara dingin dan diplomatis. Posisi Jokowi memang tidak mudah.

Sucen kelihatannya makin fokus membahas masalah komunis, PKI dan sejenisnya. Saya khawatir energi arek Tionghoa Surabaya ini untuk menulis buku dan komposisi baru jadi hilang. Padahal Sucen lah yang paling dipercaya almarhum Slamet Abdul Sjukur untuk meneruskan jejaknya di musik kontemporer Indonesia.

Sesekali saya mengintip perdebatan Sucen di medsos. Begitu banyak hater yang memaki-maki dia. Ada juga teror dan ancaman. Tapi ya itu tadi, debat di medsos sangat tidak menarik karena kajian-kajian Sucen yang memang makan buku sejak kecil cuma dijawab dengan celetukan makian.

Sangat berbeda dengan perdebatan antara Bung Karno atau Bung Hatta tempo dulu yang kita baca di buku-buku. Dr Soe Tjen Marching rupanya sengaja turun gunung karena gejolak aktivismenya yang makin meluap-luap.

Semoga Sucen tidak capek dan sehat selalu. Ojo lali ngarang musik klasik lan kontemporer!

Jancuk itu apa?

Begitu pertanyaan Goris orang NTT yang baru pertama kali singgah di Surabaya. Kebetulan pemuda itu baru membaca plang sebuah kedai kecil di pinggir jalan kawasan Rungkut. Kedai Jancuk.

"Jancuk itu temannya jangkrik... makanan khas Surabaya yang enak sekali. Silakan dicoba jancuknya," komentar seorang bapak di warkop tak jauh dari Kedai Jancuk. Orang-orang pun ketawa ngakak.

Jancuk! Sering disingkat Cuk...

Kata seru ini sulit dijelaskan artinya kepada warga luar Jawa. Orang Jawa pasti tahu itu kata pisuhan alias makian.. Semacam PUKIMAI di NTT yang juga tidak jelas artinya tapi sangat kasar dalam situasi tertentu.

Jancuk pun sangat luwes. Situasional. Di Surabaya kata jancuk justru dianggap ungkapan keakraban. Biasa ditujukan untuk teman lama. Bisa juga ungkapan kekaguman. Wow.. jancuk tenan ayune! Maine Barca jancuk tenan!

Meski begitu, bagi orang NTT yang baru tiba di Surabaya sebaiknya hati-hati dengan jancuk. Sebaiknya tidak menggunakan kata jancuk dalam percakapan. Sebab ada nuansa tertentu yang sulit dirasakan oleh orang yang bukan Jawa.

Kata jancuk akan sangat kasar ketika salah tempat, salah waktu, salah orang. "Mas, sampean jancuk!" Urusannya bisa ke polisi.

Saya jadi ingat Mas Yusak, GM sebuah hotel berbintang di Surabaya. Dia meminta kokinya untuk bikin nasi goreng jancuk. Nasi goreng yang porsinya sangat besar dengan Lombok yang sangat banyak. Rasanya? Juancuuuk tenan...

Kepedasan. Mandi keringat. Efek itulah yang memang diharapkan pak Yusak. Nasi goreng jancuk jadi sangat laku meskipun mahal.

Ada juga jancuk yang bermasalah. Sejumlah budayawan Sidoarjo dulu pernah menggugat Bupati Win Hendrarso gara-gara mengizinkan acara jancuk-jancukan di pendapa. Itu sih cuma kumpul biasa, diskusi, sambil nonton Sawung Jabo menyanyi dan main gitar.

Eyang Bete (almarhum) yang asal Solo marah besar karena baginya jancuk-jancukan itu artinya pesta seks. Mantan dosen itu kemudian menerbitkan buku kecil membahas asal usul jancuk dsb dsb.

Tentu saja angle-nya berbeda dengan yang dipahami orang Surabaya. Pak Bupati kemudian klarifikasi dan selesai masalahnya.

Ini juga menunjukkan bahwa interjeksi jancuk yang khas Surabaya itu tidak lagi semulus dulu. Sebab saat ini makin banyak orang barat (wong kulonan) yang jadi penduduk Surabaya Sidoarjo Gresik kayak Eyang Bete dkk itu.