17 April 2014

Komunitas Hindu Jawa di Sidoarjo



Lima tahun lalu kawasan Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dipenuhi kebun tebu. Di tengah perkebunan tebu itu terdapat Pura Margo Wening. Tempat ibadah umat Hindu ini diresmikan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso pada 21 Agustus 2014. Kini, kawasan pura dan sekitarnya sudah jadi perkampungan. Tak ada lagi kebun tebu yang terlihat.

Adapun pura lama yang berdiri sejak 1971, tak jauh dari Pura Margo Wening, kini nyelempit di antara rumah-rumah penduduk. Namun, Pura Margo Wening selalu ramai dengan kegiatan ibadah umat Hindu di Sidoarjo, khususnya bagian barat dan selatan, setidaknya dua kali sebulan. Yakni, saat bulan mati dan bulan purnama.

"Sebagian besar kegiatan rohani umat Hindu di Sidoarjo memang dipusatkan di Pura Margo Wening, Krembung. Sebagian umat Hindu memanfaatkan Pura Jala Siddhi Amertha di Juanda," kata I Nyoman Anom Mediana, ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sidoarjo.

Sejak puluhan tahun silam sudah ada cikal bakal pura di sana. Ini tak lepas dari keberadaan komunitas umat Hindu asli Jawa yang secara turun-temurun berdiam di Krembung. Dalam perkembangannya, populasi umat Hindu Jawa itu terus merosot. Saat ini tinggal sekitar 20 hingga 30 keluarga saja.

Umat Hindu asli Krembung ini tempo doeloe biasa mengadakan ritual keagamaan layaknya umat Hindu Bali. Hanya saja, ritual Hindu ala Krembung ini lebih tradisional layaknya aliran kebatinan atau Kejawen. Pada 1957, salah seorang umat Hindu setempat, Pak Untung, menghibahkan lahan di depan rumahnya untuk dijadikan pura. Sejak itulah umat Hindu pelan-pelan membangun pura kecil secara swadaya. Butuh 35 tahun untuk bisa mewujudkan pura nan mungil itu.

Nah, pada 1 Januari 1992, bertepatan dengan tahun baru, Bupati Sidoarjo (waktu itu) Edhi Sunyoto meresmikan Pura Jagat Naya Margo Wening. Sejak itulah komunitas Hindu Krembung menarik perhatian umat Hindu keturunan Bali yang tinggal di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Dipimpin mendiang Ngakan Putu Tagel, ketua PHDI Sidoarjo, umat Hindu Bali akhirnya melebur dengan Hindu Jawa. Saat itu memang hanya ada satu pura di Kabupaten Sidoarjo, yakni di Krembung itu. "Kemudian umat Hindu bersama-sama memperluas pura lama di lahan perkebunan tebu," tutur Nyoman.

Akhirnya, pada 21 Agustus 204, Bupati Sidoarjo (waktu itu) Win Hendrarso meresmikan pura baru yang diberi nama Pura Penataran Agung Margo Wening. Tak ayal, pura pun terus berkembang. Selain sembahyang rutin, PHDI Sidoarjo juga mengadakan pelajaran agama Hindu setiap Minggu. Kelas khusus ini diikuti para pelajar beragama Hindu mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

"Sebab, di Kabupaten Sidoarjo ini hampir tidak ada guru agama Hindu. Makanya, pelajaran agama Hindu harus diadakan di luar sekolah," kata Nyoman Anom Mediana.

Setelah melebur dengan umat Hindu asal Bali, otomatis komunitas Hindu Jawa asli Krembung menjadi minoritas. Meski begitu, umat Hindu Krembung tetap mendapat peranan yang besar di pura. Jero Pemangku Senadi, misalnya, menjadi pinandhita di pura tersebut. Ada juga Pemangku Rusdianto yang tengah menimba pendidikan tinggi agama Hindu di Bali. Rusdianto ini tak lain keturunan langsung Pak Untung, perintis berdirinya pura di Krembung.

"Sekarang ini tidak ada dikotomi Hindu Jawa dan Hindu Bali. Semua umat Hindu, apa pun sukunya, silakan bersembahyang di sini," kata Pemangku Senadi. (rek)

Paulus Latera Rilis Novel Mutiaraku




Kepergian putri sulungnya Santy Stevanny Wellowati setahun lalu masih menyisakan duka yang mendalam di hati Paulus Latera. Pria asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menulis novel khusus untuk mengenang putri kesayangannya itu. Novel berjudul Mutiaraku itu diluncurkan di kediamannya, Perumahan Pondok Jati, Sidoarjo, Sabtu (11/4/2014).

Paulus Latera mengundang sekitar 30 warga Pondok Jati untuk doa bersama sekaligus berbagi cerita tentang Santy. Gadis 24 tahun yang menjadi guru bahasa Inggris di Surabaya itu meninggal dunia akibat leukimia di Rumah Sakit Darmo, Surabaya.

"Sampai sekarang saya, istri, dan Ina, putri saya, belum bisa melupakan Santy. Dia seperti selalu berada di tengah-tengah kami," ujar pria yang tinggal di Pondok Jati sejak 1988 itu.

Bukan itu saja. Christin Setyowati, istri Paulus, bahkan enggan melintas di depan Rumah Sakit Darmo, Surabaya. Melihat rumah sakit di tengah Kota Pahlawan itu ibarat menghadirkan kenangan yang sangat mendalam, khususnya menjelang akhir hidup Santy.

"Santy itu sangat religius, begitu dekat dengan Tuhan. Dia sering membawa mukjizat dalam kehidupan keluarga kami," kata guru SMA Petra 3 Surabaya itu.

Di depan para  undangan, Paulus menceritakan bahwa putrinya yang lulusan Universitas Widya Mandala, Surabaya, itu seakan-akan sudah punya firasat akan segera dipanggil Tuhan. Ini terlihat dari surat berisi permintaan maaf kepada ayah dan ibu serta kata-kata perpisahan. Padahal, saat itu kondisi Santy belum begitu parah.

"Dia bilang hidup itu pilihan. Dan, dia telah memilih untuk tinggal bersama Tuhan," kenang Paulus dengan mata berkaca-kaca.

Ditulis berdasar kisah nyata, Paulus menceritakan pengalaman pahit, manis, hingga kekuatan  iman sang putri yang akhirnya membuat pihak keluarga ikhlas melepas kepergian Santy. Paulus sangat percaya ada rencana Tuhan di balik penyakit yang diderita Santy hingga kematiannya.

"Suasananya menjelang Paskah seperti sekarang. Mulai dari Rumah Sakit Islam Siti Hajar, Sidoarjo, dan berakhir di Rumah Sakit Dharmo, Surabaya," katanya.

Novel Mutiaraku merupakan buku ke-17 Paulus Latera. Alumnus IKIP Sanata Dharma, Jogjakarta, ini mengaku senang menulis puisi, cerpen, cerita rakyat, dan artikel sejak remaja. "Penulisan novel ini sangat lancar dan cepat karena peristiwanya saya alami sendiri. Tahu-tahu sudah jadi dan terbit," tuturnya.

Paulus mengaku menovelkan kisah putrinya, Santy, karena didorong oleh guru-guru, siswa, dan alumni Petra yang tersebar di berbagai kota. Sebelumnya, Paulus juga menerbitkan buku kumpulan puisi, juga tentang buah hatinya yang sudah tiada itu.

"Saya hanya berbagi pengalaman kepada pembaca tentang orang tua yang harus kehilangan putri yang sangat dikasihi dalam usia relatif muda," katanya. (rek)

14 April 2014

Litani Ratapan Putra Adonara - Paulus Latera

 INAK ATA WAE BELEK
RAE LEWO TOBO
NAE GANG WUA MALU
EKOT DI LIMAN WANA
TOBO METE TUTU KODA

Petikan Litani 11 buku Litani Nuha Nebon karya Paulus Latera. Guru SMA Kristen Petra 3 Surabaya ini baru saja merilis buku barunya. Kumpulan puisi sederhana tentang kampung halamannya, Adonara.

Pulau kecil di Kabupaten Flores Timur, NTT, ini merupakan jantung etnis, bahasa, dan budaya Lamaholot. Salah satu etnis besar di Provinsi NTT. Etnis yang dikenal suka merantau ke Malaysia Timur, Jawa, atau Papua karena tanah di kampung halamannya kurang subur.

Ajaibnya, ketika berada di tanah rantau, orang-orang Adonara begitu gandrung akan Lewotanah, kampung halaman. Ingat ibunda yang sudah tua, yang makan sirih pinang, duduk sambil cerita ngalor ngidul. Tapi ketika diminta pulang ke kampung halaman seterusnya, si putra Lamaholot itu pikir-pikir 77 kali tujuh kali.

Paulus Latera adalah tipe perantau Lamaholot, asli Adonara Barat, kampung Botung di Tanjung Gemuk yang terkenal itu. Terkenal karena di sinilah pertama kali ada menara (BTS) TVRI sehingga warga Botung bisa menikmati siaran TVRI dengan kualitas gambar paling bagus. Beda dengan orang Lembata yang dulu sulit menangkap TVRI karena pemancarnya jauh di Botung, kampungnya Pak Paulus.

Meski istrinya asli Jawa, dua putrinya (si sulung Santi meninggal setahun lalu) kental dengan bahasa dan budaya Jawa, Pak Paul rupanya punya DNA Adonara yang sangat kuat. Sebagai guru bahasa di sekolah Tionghoa, Petra 3, Pak Paul memang melebur tapi tetap Adonara.

Seorang profesor dari Belanda pernah mengatakan, orang Flores (termasuk Adonara dan Lembata) yang berada di perantauan biasanya menjadi lebih kuat kefloresan dan kekatolikannya. Flores + Katolik menjadi lebih berkembang justru setelah si Flores itu meninggalkan kampung halamannya. Rupanya tesis ini cocok untuk Pak Paulus Latera.

Litani, yang jadi judul buku, merupakan istilah Katolik untuk doa-doa panjang yang berulang untuk memuji Tuhan, hati kudus Yesus, Bunda Maria, dan figur-figur suci dalam agama Katolik. Pak Paul menggunakan analogi ini untuk membuat litani untuk pulaunya, Adonara.

Nuha Nebon: pulau yang terapung! Ungkapan sayang, cinta, dan kerinduan perantau Adonara yang sudah puluhan tahun tinggal di Jawa (Pak Paul alumnus IKIP Sanata Dharma Jogjakarta), tapi justru kian menebal keadonaraannya.

AMAK ATA ORANG TUA
RAE TANA PAE
TOBO METE GOLO TEBAKO
PAE METE HAWON KIRIN

Sedih juga membaca litani-litani Pak Paul tentang Adonara. Ada 19 litani yang nelangsa ibarat lamentasi pekan suci di Flores menjelang Paskah. Kalau di kitab Ratapan, Nabi Yeremia menyusun litani ratapan tentang kejatuhan Yerusalem, di buku bersampul sarung khas Adonara ini Paulus Latera meratapi kampung halaman, Nuha Nebon, yang kini jauh di mata.

ADONARA....
MUKO RAE HOLEN DOAN
TAPO TETI GELONG TAPO BALI
WUA RAE BAKI KERON
MALU WELI KOLEN KUMA

Investasi politik yang gagal

Main politik itu seperti berjudi. Kalah hampir pasti, peluang menangnya nol koma nol sekian persen. Kecuali politik ala Orde Baru atau Tiongkok atau Korea Utara yang penuh dengan kepastian.

Perjudian politik paling terasa pada musim caleg alias pemilu legislatif 9 April 2014 lalu. Bayangkan, kursi dewan yang cuma 50 di Sidoarjo diperebutkan oleh 460 caleg! Di sebuah dapil (daerah pemilihan) yang cuma punya 11 kursi diperebutkan oleh sekitar 100 caleg?

Yang menang ya cuma 11 orang itu. Yang lain sudah pasti kalah. Persis judi. Tapi, karena kayak judi itulah, banyak orang tertarik bermain-main dengan menghamburkan uang dan modalnya. Anggap saja buang sial kalau memang harus kalah.

Nah, seperti biasa, beberapa kerabat dekat, keluarga jauh, kenalan saya ikut main judi pileg. Optimisme menangnya bukan main. Pakai hitung-hitungan yang dahsyat. Mana ada penjudi yang tidak optimistis? Apalagi caleg-caleg itu di posisi nomor 1 atau nomor 2 di partai besar seperti PDI Perjuangan.

Maka, seperti kebiasaan orang-orang NTT, keluarga dekat + keluarga jauh dipajaki. Dimintai susu tante (sumbangan sukarela tanpa tekanan) untuk dana perjuangan. Bikin atribut kampanye, poster, stiker, uang rokok, bensin, hingga uang saksi.

Serba salah kita orang ini! Bisa celaka kalau si keluarga itu terpilih, sementara kita tidak ikut membantu perjuangannya sebagai caleg.

"Dulu waktu saya butuh bantuan kamu cuek saja. Sekarang kamu datang minta bantuan mobil untuk mengangkut orang sakit," begitu biasanya kata-kata anggota DPRD di NTT, khususnya Flores, menyindir pihak keluarga atau kerabat jauh.

Karena itulah, walaupun sedikit, orang NTT di perantauan mau tak mau harus menyumbang keluarganya yang maju judi caleg. Cuek saja, apatis, tidak menyumbang apa-apa, bisa berabe. Tapi, di sisi lain, kita pun sadar bahwa judi pileg ini berisiko sangat tinggi. Probabilitas menang 0,0001 persen!

"Yah, anggap saja kita kecopetan di Terminal Bungurasih," kata seorang teman asal NTT yang juga dimintai sumbangan oleh keluarganya untuk nyaleg.

Hehehe.... Kecopetan kok hilangnya banyak sekali?

Dua hari setelah pencoblosan datang berita yang sudah bisa ditebak jauh hari sebelumnya. "Terima kasih atas bantuan dan dukungannya. Sayang, kali ini saya belum berhasil. Kita sudah berjuang semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain," kata sang caleg yang gagal itu.

Yah, dinikmati sajalah kegagalan itu. Kegagalan itu membuat kita lebih arif dalam hidup ini. Yang tidak bisa belajar dari kegagalan itu cuma penjudi. Termasuk penjudi politik.

Mengapa tidak menanam dari dulu?

Perumahan KNV di Sidoarjo belum genap lima tahun. Tapi, wow, luar biasa rindang, teduh, dan indah dengan hutan kota yang lebat. Penghuni KNV, sebagian besar korban lumpur lapindo, bisa menikmati udara segar di tengah kota. Dus, mereka tak perlu jauh-jauh ke Pacet atau Trawas kalau hanya untuk bisa menikmati pepohonan rimbun.

Mengapa KNV bisa jadi hutan dalam waktu singkat? Pengembangnya memang sadar penghijauan dan taman. Begitu lahan di Desa Jati, Kecamatan Kota, dibuka, pengembang sudah menanam pohon. Ketika media massa tiap hari berdebat soal pola ganti rugi dengan sistem cash and resettlement, developer tetap rajin menanam.

Sementara itu, rumah-rumah dibangun satu per satu. Ketika saatnya tiba, warga lumpur mulai masuk KNV, tanaman-tanaman sudah ada. Bahkan banyak yang sudah besar-besar karena jenis bibitnya memang bagus.

Selama dua tahun lebih saya tak mampir ke KNV. Lalu tiba-tiba ada janjian ketemu Mas Bhima, ketua KPU Sidoarjo, di pusat kuliner KNV. Betapa tercenangnya diriku. Wow, tanaman penghijauan sudah sangat tinggi, lebat, dan jadi hutan. Hutan yang sangat tertata.

Dari KNV, saya mampir ke Buncitan, Sedati, dekat Bandara Juanda. Bertemu Mas Syaiful pengurus Candi Tawangalun, situs cagar budaya peninggalan Majapahit.

Wow, betapa gersangnya. Tak ada pohon-pohon besar. Ada beberapa tanaman tapi terlalu kerdil. "Andai kata tujuh tahun lalu saya, Syaiful, dan Pak Bambang menanam pohon seperti beringin atau tanaman-tanaman besar," kata saya dalam hati.

Dulu saya memang sering mampir ke Candi Tawangalun bersama Pak Bambang Haryaji (almarhum), pelukis senior Sidoarjo yang juga aktivis lingkungan. Kami banyak bicara soal penghijauan. Tentang pentingnya gerakan menanam pohon di Sidoarjo. Termasuk di Buncitan yang punya semburan lumpur alami, jauh sebelum ada lumpur Lapindo di Porong.

Tapi ya cuma omong doang. Saya tidak melakukan action apa pun. Padahal, di Jalan Raya Juanda, masih di wilayah Kecamatan Sedati, terdapat pusat penjualan bibit tanaman penghijauan, bunga, kompos, berbagai kebutuhan taman alias gardening.

Ah, andai kata tahun 2005 atau 2006 saya membeli bibit di Juanda dan menanam di kompleks Candi Tawangalun! Mungkin sebagian mati karena tanah di situ salinitasnya tinggi, dekat laut. Tapi mungkin ada satu dua pohon yang hidup. Membesar, menghijau, bikin kawasan Buncitan sebagai kawasan hutan kota di sekitar Bandara Juanda.

Minggu lalu Kak Ardiyanto, pembina Pramuka Kecamatan Sedati, menghubungi saya. Dia ingin mengerahkan anak-anak Pramuka siaga hingga penegak di Sedati untuk mengadakan penghijauan di Buncitan, dekat Candi Tawangalun. Kak Ardi (semua pembina pramuka disapa Kak) prihatin melihat kondisi bangunan cagar budaya yang gersang dan merana.

"Harus ada action," ujar Ardiyanto.
Saya hanya tersenyum. Kata-kata sang kakak pramuka ini seperti menyindir saya. Harus action. Harus menanam. Harus bergerak. Ojo ngomong thok kayak aku biyen!

Siapa yang menanam akan menuai! Yang menanam banyak akan menuai banyak juga! Siapa yang tidak menanam tidak akan menuai apa-apa!

13 April 2014

Makin Puritan + Makin Nasionalis

Hasil pemilu 9 April 2014 belum diumumkan secara resmi. Namun, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa perolehan suara partai-partai islamis sangat rendah. Sebaliknya, partai nasionalis macam PDIP, Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat sangat bagus, kecuali Hanura yang melorot.

PKB melejit, PAN stagnan. PKB dan PAN ini berbasis massa muslim (PKB nahdliyin, PAN Muhammadiyah) tapi tidak bisa dibilang partai islamis murni.

Di daerah saya, NTT, PKB dan PAN sejak dulu selalu disebut partai nasionalis. Sebab, pengurus PAN dan PKB plus caleg-calegnya justru lebih banyak yang Katolik dan Protestan. Termasuk paman saya yang bukan Islam, tapi pengurus penting di PKB.

Karena itu, dari 12 partai peserta pemilu, yang benar-benar bisa dikategorikan partai islami hanya PKS, PPP, dan PBB. Suara ketiga partai ini tidak signifikan. PKS yang sempat berjaya pada dua pemilu sebelumnya kini stagnan. Sistem kaderisasi dan indoktrinasi ala PKS rupanya kurang efektif untuk menaikkan elektabilitas partai.

Fenomena ini jelas berbanding terbaik dengan masyarakat Indonesia yang makin islami sejak 1990an. Sekarang makin sedikit wanita yang tidak pakai jilbab. Ucapan selamat pagi atau selamat malam sudah lama digusur assalamualikum. Formalisasi hukum syariah diadopsi ke perda dan undang-undang.

Kajian MC Ricklefs dalam buku Mengislamkan Jawa pun mengungkap perkembangan mutakhir di Indonesia ini. Islam mengakar kuat di Indonesia, kata Ricklefs.

"Tapi sejak reformasi partai-partai Islam tidak pernah mendominasi kekuatan politik di Indonesia," katanya.

Rupanya sosiologi masyarakat ini kurang dibaca oleh politisi partai-partai islami. Termasuk Rhoma Irama. Tadi malam di televisi Bang Raja Dangdut ini memberikan pendapat yang jauh berbeda dengan platform PKB yang dipahami warga NTT pemilih PKB selama ini.

Meski jadi jurkam, bahkan bakal capres dari PKB, cara berpikir Bang Rhoma khas politisi anggota konstituante tahun 1950an yang sangat dikotomis islamis vs nasionalis. Beda dengan Muhaimin atau Nahrawi yang sudah lama menyadari tren politik Indonesia.

"Islam yes! Partai Islam no!"

Ungkapan lama peninggalan almarhum Cak Nur ini makin terbukti.

Yesus Naik Colt Jelang Paskah

 


Gak nyangka sudah masuk pekan suci. Saya ikut misa Minggu Palem di Gereja Katolik St Paulus, Juanda, Sidoarjo, barusan. Misa dipimpin Romo Soni Keraf SVD, pastor paroki asal Lembata, NTT, yang bertugas di sini sejak 2006.

Oh ya, wakil Romo Soni juga berasal dari Flores Timur, Romo Yosef Bukubala SVD. Betapa banyaknya orang Flores yang mewarnai gereja-gereja Katolik di tanah Jawa. Tak jauh dari Paroki St Paulus, namanya Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, juga romo-romonya dari Flores pula.

Misa Minggu Palem alias Palma mengenang Yesus masuk kota Yerusalem dengan mengendarai colt alias anak keledai. Orang banyak mengelu-elukan Yesus dengan daun-daun palem. Karena itulah, umat wajib membawa daun palem dari rumah untuk diberkati saat perarakan Minggu Palem.

Daun palem yang sudah diberkati itu dibawa pulang ke rumah untuk dipasang di salib. Kalau Anda melihat salib yang ada palemnya, berarti tuan rumahnya Katolik. Pasti bukan Protestan, Pentakosta, Karismatik, dsb.

Sayang, hujan deras yang stabil membuat prosesi palem ditiadakan. Umat cukup mengangkat palem untuk diperciki air suci sambil menyanyi Yerusalem Lihatlah Rajamu. Kesan Minggu Palemnya jadi kurang terasa.

Bagi orang Flores atau NTT, yang Katolik tentu saja, prosesi palem ini sangat penting. Harus ada untuk menandai awal pekan suci Paskah. Tanpa prosesi itu, kita akan kehilangan beberapa lagu khas Minggu Palem yang hanya setahun sekali. Misalnya: Hosanna Putra Daud, Anak-Anak Ibrani, Tatkala Yesus Masuk Yerusalem. Ada beberapa lagi yang saya lupa.

Beberapa orang Flores, juga Jawa, yang tinggal di Jerman biasa meminta lagu liturgi lama itu kepada saya. Mereka menyanyikan saat Minggu Palma agar liturginya khas Indonesia. Begitulah. Simplifikasi yang kita lakukan sering menghilangkan nuansa yang sebetulnya sangat menyentuh perasaan jemaat sampai mati.

Karena prosesi palem tidak ada, perayaan ekaristi tidak ada bedanya dengan misa mingguan biasa. Bacaan tentang colt, anak keledai, tidak ada. Langsung pasio atau kisah sengsara. Itu pun dibaca saja, bukan dinyanyikan.Maka, misa pembukaan pekan suci ini pun tidak lama. Tidak sampai 90 menit.

Di pelataran gereja pun tak terlihat ceceran daun palem. Pun tak ada umat yang mengubek-ubek daun palem cantik untuk dibawa pulang. "Di sini umat yang membawa daun palem sendiri-sendiri dari rumah," kata seorang panitia.

08 April 2014

Coblosan Caleg Wani Piro

"Kok cuma Rp 25 ribu? Wong pilkades aja kita dikasih Rp 250 ribu. Ada calon kepala desa yang kasih Rp 100 ribu. Lha, duit 25 ribu itu buat apa?"

Begitu kata-kata Bu Fatma, pemilik warung soto di kawasan Buduran, Sidoarjo. Bu Fatma mengaku baru saja menerima angpao dari beberapa caleg DPRD Sidoarjo. Nilainya rata-rata segitu: Rp 25 ribu.

Lalu besok sampeyan milih caleg yang mana? Ibu asal Lamongan yang sudah karatan di Sidoarjo ini tertawa sejenak. "Yah, yang kasih paling banyak. Kalau cuma selawe ya untuk apa," katanya.

Rakyat kita memang makin pintar. Mereka tahu bahwa satu suara punya nilai. Mereka juga tahu kalau para caleg ini biasanya lupa daratan, mabuk kekuasaan, kalau sudah menjabat anggota dewan.

Karena itu, mereka harus diporot sebelum pencoblosan. Duit dari caleg-caleg diterima meski jengkel karena nilainya jauh lebih rendah dari pemilihan kepala desa. Rakyat kecil sepertinya tak peduli partai, platform, visi dan misi.

"Nyoblos bolak-balik ya saya tetap begini saja. Cuma janji-janji manis di kampanye thok," kata ibu yang ramah ini.

Saya tanya Mas Sai, juga di Sidoarjo, apakah dia sudah dapat duit dari tim sukses caleg. Mas yang tunarungu ini menulis angka 25000 di meja. Lalu menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya. Keciiil banget.

Apakah duit saweran atau undangan nyoblos dari caleg ini tergolong politik uang? Bisakah panwaslu membuktikannya? Rasanya sulit.

Mas Burhanudin, ketua Panwaslu Sidoarjo, pun kesulitan memproses caleg-caleg yang diduga bagi-bagi duit. Setelah diproses, tidak ditemukan pelanggaran.

Apa boleh buat. Beginilah kondisi masyarakat kita yang makin ugal-ugalan dalam memahami demokrasi liberal ala Amerika dengan sistem pemilihan langsung. Ada uang ada suara. Uang recehan jangan harap dicoblos.

NPWP: Nomer Piro Wani Piro!

Jangan salah rakyat alias wong cilik. Selama reformasi mereka sudah banyak belajar dari wakil-wakilnya di legislatif, eksekutif, bahkan yudikatif yang ugal-ugalan. Wani piro?

Gunung Rokatenda, Pelajaran dari Mbah Marijan




Masih ingat Mbah Marijan? Penjaga Gunung Merapi ini meninggal akibat awan panas atau wedhus gembel Merapi. Mbah Marijan ngotot bertahan di dekat gunung meskipun sudah diminta berkali-kali untuk turun karena erupsi sangat berbahaya.

Mbah Marijan yang pernah dielu-elukan, jadi bintang iklan, pun harus meregang nyawa secara tragis. Menjemput ajalnya sendiri di gunung yang dia jaga bertahun-tahun. Inikah kearifan lokal di pegunungan Jogja itu?

Saat ini di NTT, tepatnya di Kabupaten Sikka tengah terjadi erupsi Gunung Rokatenda. Gunung api di Pulau Palue itu sudah sering meletus dan menelan korban jiwa. Agustus 2013 lima orang meninggal dunia.

Berbeda dengan Kelud yang meletus dahsyat dan langsung selesai, Rokatenda di Flores ini tak jelas kapan selesainya. Statusnya masih siaga level tiga. Warga Palue alias Rokatenda yang jumlahnya 8000 orang harus mengungsi berbulan-bulan. Tanpa kepastian kapan drama Gunung Rokatenda tamat.

Minggu lalu saya baca di koran bahwa warga Palue justru bikin upacara adat di lereng gunung. Tujuannya: melindungi pulau dan erupsi cepat selesai. Sehingga 8000 warga Palue itu bisa kembali hidup normal.

Membaca berita ini, saya jadi ingat Mbah Marijan. Meski level bahaya di Rokatenda tak segawat di Merapi yang menewaskan Mbah Marijan, ritual adat yang dilakukan di Palue ini sama saja dengan menantang alam. Dengan sengaja melawan erupsi yang bisa membahayakan nyawa warga.

Budaya lokal tidak bisa menghentikan aktivitas gunung, kata Frans Senda, petugas pemantau Gunung Rokatenda.

Frans benar. Budaya atau kearifan lokal tidak bisa menghentikan erupsi. Negara dengan segala kewenangannya harus bisa menyadarkan masyarakat bahwa Gunung Rokatenda sangat berbahaya, bahkan pulau itu tidak layak lagi didiami.

Kasus Mbah Marijan di Jogja hendaknya jadi pelajaran bagi pemerintah. Negara bisa dianggap lalai membiarkan Mbah Marijan bertahan di gunung -- apa pun alasan dan keyakinannya -- ketika awan superpanas bisa dipastikan menghanguskan apa saja di kawasan itu.

Membiarkan orang Palue tetap tinggal di gunung, bikin upacara adat, dengan alasan budaya lokal, rasanya terlalu berisiko. Gubernur NTT Pak Frans, Bupati Sikka, dan aparatur pemerintah setempat. Kita tidak ingin ada Marijan-Marijan di Flores dan wilayah lain di Indonesia.

Dangdut dan Budaya Nyawer



Pertunjukan dangdut itu asyik, sangat merakyat, tapi ada buntutnya. Buntutnya adalah nyawer. Bukan dangdut kalau tidak ada tip uang tunai yang diserahkan secara terbuka atau diam-diam kepada sang penyanyi.

Penonton konser musik pop atau rock atau jazz atau klasik cukup membeli tiket masuk. Beres. Setelah itu kita bebas menikmati musik dan penampilan para penyanyi dari awal sampai akhir. Mustahil penonton konser klasik tiba-tiba naik ke atas panggung kemudian bernyanyi bersama dan memberikan uang kepada sang penyanyi.

Beda banget dengan dangdut. Penyanyi-penyanyi dangdut (plus orkesnya) justru sangat membutuhkan uang saweran dari penonton. Selama pertunjukan si penyanyi pasti berkali-kali meminta duit saweran secara halus maupun terang-terangan. Pejabat-pejabat pun sering ditodong sama pedangdut.

Dulunya saya heran plus risi dengan tradisi sawer ala dangdut di Jawa Timur ini. Tapi lama-lama terbiasa dan bisa memahami karakter dangdut sebagai budaya rakyat menengah bawah di Jawa Timur. "Kalau gak ada saweran, terus aku dapat apa," kata seorang penyanyi asal Mojokerto belum lama ini.

Dibandingkan penyanyi atau band pop, para pengusaha hiburan kita memang agak beda dalam memperlakukan musisi dan penyanyi dangdut. Orang dangdut dibayar sangat murah di pub atau kafe. Jadi, memang tidak mungkin bisa eksis hanya dengan mengandalkan honor yang tidak seberapa itu.

Kompensasinya ya itu tadi: saweran! Dan, saweran akan semakin banyak kalau pedangdutnya muda, cantik, dan pintar goyang. Suara bagus pun penting tapi tidak mutlak. Uang saweran masuk ke kas manajemen orkes, kemudian dibagi-bagi kepada penyanyi dan musisi.

Si penyanyi pun biasanya punya trik sendiri sehingga saweran masuk ke kantongnya tanpa diketahui manajemen orkes. Biasanya duit itu diserahkan penonton di bawah panggung. Bukan di atas panggung.

Dengan sistem saweran seperti ini, jangan harap dangdut bisa naik kelas menjadi tontonan masyarakat menengah atas layaknya pop, jazz, atau klasik. Saweran hanya bisa distop jika penyanyi dangdut dibayar mahal layaknya artis-artis pop Republik Cinta si Ahmad Yani atau band-band pop papan atas.

Tapi, kalau dipikir-pikir, dangdut yang heboh dengan tradisi saweran ini sejatinya merupakan metamorfosa seniman musik jalanan tempo doeloe macam ronggeng di masyarakat tempo doeloe. Dalam kesenian rakyat itu, siapa saja bebas menonton, tak ada karcis, bahkan tak ada panggung.

Namun, penonton dituntut kesadarannya untuk nyawer dengan imbalan bisa menari bersama si ronggeng. Kadang-kadang dapat bonus bisa memasukkan uang langsung ke dalam BH sang biduanita. Rangsangan erotis inilah yang bikin orang ramai-ramai nyawer. Apalagi sudah terpengaruh banyu setan alias minuman keras.

Ketika ronggeng dan musik jalanan menghilang, datanglah dangdut sebagai pengganti. Maka, tidak heran kalau karakter penyanyi dangdut (yang sekarang harus wanita muda) tidak berbeda jauh dengan ronggeng. Sama-sama minta disawer. Bonusnya si penonton pun diajak joget bersama dan bisa berpegangan mesra.

Salam dangdut!

Politik Balas Jasa Leluhur di NTT

Hani Chandra, anggota DPRD Lembata, yang maju lagi. Ayah dan leluhurnya berjasa merintis usaha perdagangan hasil bumi di Kabupaten Lembata hingga ke pelosok.  


Orang Jawa punya ungkapan khas: sepi ing pamrih, rame ing gawe! Bekerja keras tanpa pamrih. Biarlah Tuhan yang membalas! Tapi apakah sepi ing pamrih juga berlaku untuk urusan politik?

Rasanya sulit. Apalagi di luar Jawa. Apalagi di NTT, khususnya Flores, khususnya di kalangan etnis kami, Lamaholot, di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor.

Sering kali, bahkan sudah jadi semacam adat kebiasaan, bahwa orang tak boleh melupakan begitu saja jasa baik seseorang. Meskipun kebaikan itu sudah lama sekali dilakukan. Bahkan, yang menanam jasa baik itu orang tua atau kakek neneknya.

Investasi jasa baik di masa lalu itu kini bisa dipetik oleh anak cucu yang maju sebagai calon anggota DPRD kabupaten/provinsi. Berbeda dengan di Jawa, yang caleg-calegnya kurang dikenal, bahkan tak dikenal, di Flores ini hampir semua caleg kita kenal. Bahkan, punya hubungan kekeluargaan. Kita tahu persis siapa dan latar belakang si caleg.

Misalnya, caleg A anaknya Pak Y, yang kakeknya saudara kandung kakek saya. Caleg B anaknya pengusaha Tionghoa terkenal yang berjasa memajukan ekonomi daerah dengan menjadi pengepul hasil bumi. Caleg C anaknya Pak X yang dulu berjasa membuka isolasi di kampung halaman. Caleg D 10 tahun lalu sangat berjasa mengurus orang tuaku ke rumah sakit. Dan seterusnya.

Repot juga kalau caleg-caleg yang berlaga itu punya rekam jejak macam ini. Rekam jejak yang emosional. Kita jadi kehilangan objektivitas saking kentalnya muatan emosional. "Masa sih saya tidak mencoblos si A yang jasanya begitu besar sepuluh tahun lalu. Kalau saya tidak pilih A, saya salah. Saya jadi orang yang tidak tahu terima kasih," kata seorang bapak di Lembata, sebut saja Pak Frans.

Tapi bukankah si caleg B juga ada hubungan darah dengan kita? Bapaknya juga punya banyak jasa (di masa lalu)? Benar juga. Yah, terserah warga di dalam TPS mau coblos siapa.

Tapi di desa-desa di NTT, yang penduduknya sedikit, dan semua orang saling mengenal sampai tiga turunan (generasi), pemilihan umum legislatif dengan sistem terbuka macam sekarang bisa jadi masalah. Sebab, nantinya orang akan tahu si A memilih siapa dan si B memilih caleg yang mana. Bisa timbul rasa kurang enak kalau caleg tertentu, yang masih keluarga kita, atau bapaknya pernah sangat berjasa di kampung, tidak terpilih.

Karena itu, orang-orang lama di pelosok NTT lebih suka sistem pemilih ala Orde Baru yang cuma diikuti tiga partai saja (PPP, Golkar, PDI). Tidak pakai sistem memilih caleg. Dan, hasilnya sudah jelas warga sekampung memilih nomor 2 alias Golongan Karya. 100 persen pasti Golkar. Warga kompak, tak akan ada ketegangan. Bahkan, biasanya setelah kemenangan mutlak Golkar itu, pemerintah akan memberikan bantuan berupa televisi umum, pengadaan MCK, dan sebagainya.

Sistem pemilu legislatif alias pileg sekarang memang sangat rawan konflik horizontal di masyarakat. Tak heran, sejak akhir Desember 2013, pastor-pastor di NTT, khususnya Keuskupan Larantuka, setiap kali berkhotbah di mimbar selalu mengingatkan potensi konflik antarwarga, yang sebetulnya masih keluarga, karena sama-sama maju jadi caleg. Konflik bisa melebar sampai jauh dan berbuntut tidak saling bicara... sampai lamaaa sekali.

Namun, di pihak lain, saya juga melihat hikmah kebijaksaan di balik kearifan politik lokal di desa-desa NTT ini. Bahwa kebaikan atau jasa yang pernah ditanam sang kakek/nenek atau orang tua di masa lalu, yang sangat jauh, ternyata berbuah dan dipetik hasilnya oleh si anak atau cucu yang jadi caleg.

Padahal, si orang tua sendiri tidak pernah mengharapkan pamrih apa pun. Para almarhum itu bahkan tidak tahu bahwa pada tahun 2014 akan ada pemilu legislatif dengan sistem proporsional terbuka (suara terbanyak) dan multipartai.

Maka, tanam, tanam, tanamlah kebaikan mulai sekarang. Sekecil apa pun pasti dicatat oleh Tuhan Sang Maha Melihat. Dan itu akan dikembalikan kepada anak cucumu di kemudian hari.

03 April 2014

Black Sweet, Band Legendaris dari Papua



Pagi tadi, saya mendengar beberapa pemuda asal Papua di Surabaya bernyanyi lagu pop lawas. Lagu yang sangat terkenal di kawasan Indonesia Timur, termasuk pelosok NTT, sebelum tahun 2000. Saya tahu lagu itu: PUSARA TAK BERNAMA ciptaan Sam Kapisa.

Dalam belaian angin gersang
Di atas bukit nan sepi
Engkau terbaring
Dalam tidurmu yang lelap

Dalam temaram senja kelabu
Di sisi lorong yang sempit
Engkau tertidur
Di kesunyian abadi

Engkau dilupakan namamu
Di lembaran bunga bangsa
Engkau dilupakan jasamu
Di lembaran sejarah

Nama band lawas yang sudah tak aktif ini, maklum pemainnya pasti sudah tua-tua, adalah BLACK SWEET. Nama yang mengingatkan kita pada Black Brothers, juga band asal Papua, yang lebih dulu ngetop di Jakarta. Gaya musik, karakter vokal, cara bernyanyi, pun sama dengan Black Brothers.

Album pertama Black Sweet, Pusara Tak Bernama, diproduksi Dunia Musik Records, Jakarta, 1982. Masa-masa ketika Black Brothers masih berkibar di industri rekaman tanah air. Maka, album ini pun melejit sampai ke pelosok.

Buktinya, ketika masih SD di kampung halaman, Lembata, NTT, saya sering mendengar lagu ini diputar warga yang baru pulang dari tanah rantau di Malaysia atau Papua. Dulu, banyak juga warga NTT yang merantau di Papua, khususnya Sorong, Fakfak, dan Jayapura. Anak-anak pun biasa menyanyikan bagian refren (chorus) dengan berbagi suara satu, dua, tiga.

Pusara tak bernama
Kau ditinggal, terlantar penuh debu
Pusara tak bernama
Siapa pemilikmu sejak itu 
Pahlawan.......

Lagu Pusara Tak Bernama ini sangat menarik karena menceritakan nasib pahlawan tak dikenal. Pejuang-pejuang yang terlupakan setelah merdeka. Menjadi menarik karena yang menyuarakan itu band Papua, wilayah yang baru bergabung dengan Indonesia usai penentuan pendapat rakyat tahun 1962.

Didirikan tahun 1977, band Papua ini baru bisa mnembus industri rekaman di Jakarta setelah nekat merantau. Black Brothers yang menjadi penarik atau lokomotif band ini mencapai kegemilangan pada masanya.

Pilihan musiknya manis, melankolis, enak didengar seperti nama band ini: Black Sweet. Wajah boleh sangar, rambut keriting, kulit legam, tapi hatinya halus.

Sayang sekali, kejayaan band-band Papua seperti Black Brothers dan Black Sweet, yang dimotori oleh Steven Letsoin, ini tidak diikuti oleh generasi muda Papua. Sekarang tidak ada lagi band asal Papua, bahkan penyanyi Papua, yang berjaya di industri hiburan Indonesia. Musisi-musisi dari Indonesia Timur lainnya, seperti Maluku yang dulu sangat dominan, kini hanya menjadi cerita masa lalu.

29 March 2014

PUTUSAN MK DAN KEWAJIBAN LAPINDO

Leonard Kristianto, bos JK Records, Jakarta, bersama keluarga berwisata di kawasan lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo.

Sudah delapan tahun ini kita capek membahas lumpur di Sidoarjo. Warga sudah seperti berdamai dengan lumpur, apalagi setelah BPLS mampu mengendalikan lumpur di Porong itu.

Yang jadi masalah justru ribuan korban lumpur jilid satu dan dua. Mereka ini paling duluan terkena semburan lumpur. Ganti rugi lahannya ditanggung Lapindo Brantas. Ini diatur dalam Perpres 14/2007.

Anehnya, sampai tahun kedelapan ganti rugi mereka belum tuntas karena Lapindo punya macam-macam alasan. Padahal Lapindo ditenggat menyelesaikan pembayaran paling lama 2012.

Sementara itu, korban lumpur jilid 3 sampai 5 tidak ada masalah. Ganti rugi mereka lancar karena ditanggung APBN alias uang rakyat. Inilah yang mendorong mereka menggugat ke MK dan ternyata menang. MK
memutuskan bahwa pemerintah atau negara harus membayar ganti rugi semua korban lumpur.

Tidak boleh ada diskriminasi korban di peta terdampak dan di luar peta terdampak. Putusan ini tentu disambut gembira korban lumpur jilid 1 dan 2 (warga Perumtas Kedungbendo) karena mereka sudah terlalu lama diombang-ambingkan Lapindo. Bagi mereka, yang penting dapat uang, tak peduli dari mana asalnya.

Lantas, bagaimana kewajiban Lapindo? Ini penting karena selama ini ada berbagai pendapat dan action di lapangan.

Pak Tjuk Sukiadi dkk pernah menggugat ke MK menuntut Lapindo harus membayar semua korban tanpa kecuali. Bukan di peta terdampak thok!

Sebagai pembayar pajak, mereka tidak rela uang rakyat, APBN, dipakai untuk menebus kesalahan Lapindo. Pihak Lapindo sendiri dari dulu merasa tidak bersalah. Lapindo menganggap semburan lumpur itu bencana alam, mud volcano, bukan kesalahan pengeboran di sumur Banjarpanji.

Yah, kasus ini masih akan ramai selama korban masih menjerit dan korban baru muncul lagi. Tapi sebetulnya Lapindo juga untung karena punya tanah 600 ha lebih. Andaikan lumpur berhenti menyembur, diperkirakan 10-15 tahun lagi, Lapindo sudah menguasai aset tanah seluas satu kecamatan.

Mengunjungi Sekolah di Tambak Pucukan Sidoarjo

Dusun Pucukan, Desa Gebang, masuk wilayah Kecamatan Sidoarjo Kota. Tapi anehnya kampung tambak ini paling terisolasi di Kabupaten Sidoarjo. Akses jalan darat sulit, apalagi musim hujan.

Maka, kita hanya bisa mengandalkan perahu motor untuk menjangkau kampung tambak dengan 55 keluarga itu. Naik perahu dari Kedungpeluk, Candi, perjalanan kira-kira butuh waktu 50-70 menit. Itu pun harus tunggu air pasang.

"Kalau airnya surut, kita harus menunggu sampai tiga jam lebih. Alhamdulillah, hari ini airnya bagus," ujar Mulyono, 30, pengemudi perahu milik Pemkab Sidoarjo, kepada saya.

Jalur sungai kecil itu berkelok-kelok sehingga sang sopir sering memperlambat atau menghentikan kendaraannya. Belum lagi bila baling-baling tersangkut ranting pohon atau sampah rumah tangga. Nah, ini dia, sungai di Sidoarjo memang sudah lama tercemar rupa-rupa polutan.

Kamis 27 Maret 2013. Saya bersama dua wartawan lain, Isna dan Nugroho, diajak menengok sekolah dasar di sana. Namanya SDN Gebang 2. Kami menumpang perahu pemkab yang khusus disediakan untuk guru-guru sekolah itu. Pak Suwarno kepala sekolah ditambah tiga guru (Sumini, Ihwal Praja, Adib Astiawan).

Empat guru ini setiap hari kerja naik perahu bermesin Honda yang masih greng itu. Kalau bosan di air, sekali-sekali mereka nekat menjajal jalan darat dengan sepeda motor. Kelihatan berat sekali medannya, jauh di pelosok, tapi guru-guru itu very happy. Bu Sumini bahkan sudah tujuh tahun mengajar di SDN Gebang 2 dan tidak mau dipindah.

"Suasana kekeluargaan di Pucukan ini luar biasa hebat. Sesama guru sangat kompak. Hubungan dengan murid dan orang tua mereka pun sangat baik," kata Bu Sumini di dalam perahu. Bu guru asal Kediri ini piawai mencairkan suasana dengan humor-humornya dalam bahasa Jawa kulonan yang asyik.

Pak Ihwal, Pak Adip, dan Pak Kasek ikut membumbui sehingga perjalanan tidak terasa. Tahu-tahu sudah sampai di dermaga depan sekolah.

Anak-anak SD Pucukan, total 22 orang, menyambut para guru di dermaga. Wajah mereka riang, pakai kaos olahraga biru. Tak beda dengan siswa di kota.

"Ibu, tadi pintunya digedor-gedor dari dalam. Tapi nggak ada orangnya," ujar beberapa murid dalam bahasa Jawa.

Bu Sumini tertawa kecil. "Sing gedor iku sopo. Lawange iku paling kene angin. Ono-ono wae hehehe," ujar guru kelahiran Kediri 9 Juni 1968 ini.

"Bisa jadi benar Bu. Soalnya di sini kan ada hantu tambak," saya menukas. Bu Sumini kembali tertawa.

Empat guru ini kemudian mengajak anak-anak masuk kelas. Pelajaran plus pengarahan dimulai. Karena muridnya sedikit, sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai sekolah mandiri, sistem belajarnya pun beda dengan sekolah kota.

Kelas 6 hanya empat anak. Kelas lain pun hanya tiga, empat, bahkan dua orang. Sering terjadi ada kelas yang tidak punya murid. Ini membuat suasana belajar lebih mirip les pivat.

Kondisi gedung sekolah lumayan bagus untuk ukuran kampung tambak. Cuma plafonnya rusak. Masih menunggu perhatian Pemkab Sidoarjo via dinas pendidikan. Saat ini bahkan sudah dibuat gedung baru yang lumayan bagus. Sayang, atapnya sudah bolong terkena angin kencang di muara sungai.

"Bangunan dua kelas ini belum diserahkan tapi sudah rusak. Maklum, tidak ada orang kota yang mengawasi proyek ini. Rawan sekali kalau tiba-tiba gedungnya ambuk karena tidak kuat," kata Pak Warno, kepala sekolah.

Setelah jalan-jalan keliling kampung Pucukan bersama Mas Mulyono, asli Pucukan, yang istrinya Suhartatik membantu mengajar agama Islam, saya kembali ke sekolah. Anak-anak asyik belajar. Kelas 5 dan 6 sama-sama belajar matematika.

Pak Ihwal siang itu menjelaskan tentang sistem metrik. Kilometer, hektometer, dekameter, meter, desimeter, sentimeter, milimeter. Lalu dikasih 10 soal di papan tulis. Anak-anak harus mentransfer senti ke kilo, deka ke mili, dan seterusnya. Wow, anak-anak tambak ternyata sangat antusias.

Suasana belajar di kampung tambak Pucukan ini sangat hidup. Anak-anak begitu spontan bertanya, percaya diri, juga penuh perhatian pada pelajaran. Ini berbeda dengan suasana belajar di sejumlah SMA atau universitas di Surabaya yang anak-anaknya cenderung cuek.

Cuma, yang paling menarik dan bikin saya heran, anak-anak SDN Gebang 2 ini belum bisa belajar dalam bahasa Indonesia. Baik guru maupun siswa sama-sama pakai bahasa Jawa. Guru berbahasa ngoko, murid-murid dalam bahasa madya atau tengahan.

Saya agak heran tapi bisa memaklumi kondisi begini. Di NTT, khususnya Flores Timur, seperti yang saya alami waktu SD di Lembata, bahasa daerah hanya dipakai sebagai bahasa pengantar sampai kelas 3. Karena bahasa Indonesia memang belum dikuasai anak-anak desa.

Tapi mulai kelas 4 bapak guru atau ibu guru mengajar dalam bahasa Indonesia. Anak-anak dipaksa berbahasa Indonesia meski jatuh bangun dan tergagap-gagap.

Di kampung tambak Sidoarjo, yang PLN belum masuk, pakai genset mulai pukul 17.00 hingga 23.00 ini anak-anak SD hanya berbahasa Jawa saja.

"Kalau ngajar pakai bahasa Indonesia mereka kesulitan menangkap. Tapi sebenarnya mereka paham kok," kata Bu Sumini.

Bagaimana dengan ujian sekolah atau ujian nasional? Apakah petugas dinas pendidikan datang ke Pucukan?

Sistem untuk sekolah-sekolah pelosok ini beda. Murid kelas enam yang cuma EMPAT orang itu dititipkan ke salah satu SDN di kota. Tahun ini Pak Warno bekerja sama dengan SDN Lemahputro di tengah kota Sidoarjo.

"Itu terserah kepala sekolahnya. Saya titip ke Lemahputro karena kebetulan saudara saya kepala sekolah di situ. Biar lebih gampang koordinasi," kata kasek yang sudah banyak mengusahakan pakaian batik untuk guru serta berbagai keperluan sekolah itu.

Saat ujian di Sidoarjo, anak-anak ini tinggal bersama kepala sekolah atau dititipkan di rumah guru yang lain. Yah, mirip keluarga sendiri.

Melihat antusiasme anak-anak Pucukan dalam belajar, sangat berani bertanya, meski pakai bahasa Jawa, saya yakin dalam 10 tahun ke depan wajah kampung Pucukan akan berubah. Mereka bisa jadi orang-orang kreatif, pengusaha hasil laut, atau apa saja yang membuat kampung di muara sungai ini jadi kinclong.

Syaratnya, sekolah lanjutan berupa SMP dan SMA atau SMK harus lebih dekat dengan Pucukan. Saat ini anak-anak Pucukan harus naik perahu ke Kepetingan untuk sekolah di SMP Satu Atap.

Mengapa SDN Gebang 2 di Pucukan ini tidak didesain menjadi sekolah 9 tahun saja. Dus, SD dan SMP dijadikan satu sehingga tidak perlu mencari SMP ke Sidoarjo atau pantai Kepetingan.

Tentu saja, SMP khusus ini wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar. Kasihan juga kalau adik-adik di kampung tambak ini ketinggalan terlalu jauh, sementara teman-temannya di kota, yang jaraknya cuma 10 kilometer setiap hari cas-cis-cus pakai bahasa Inggris + Mandarin.

Pak Bupati Sidoarjo, Abah Saiful, dan Pak Kadis Pendidikan Pak Mustain, jangan lupakan anak-anak tambak di muara sungai kawasan Sedati, Buduran, Sidoarjo, Candi, Tanggulangin, Porong, hingga Jabon.

Salam dari Pucukan, kampung tambak Sidoarjo!

Sascha Stevenson yang Menabrak SARA

Sumber:  http://www.youtube.com/watch?v=9QpBXkcCxIo


Tidak ada yang menyangkal bahwa Sacha Stevenson itu jenius. Video-videonya di Youtube tentang Indonesia yang penuh parodi, sarkasme, menertawakan tingkah pola orang Indonesia sangat bagus. Luar biasa! Saya selalu terbahak-bahak setiap kali menonton video apa saja.

Tapi rupanya orang Kanada, yang sudah belasan tahun tinggal di Indonesia ini, lupa dengan SARA. Kepekaan soal SARA atau suku, agama, ras, golongan sejak dulu selalu menjadi rambu-rambu utama di media massa. Termasuk Youtube.

Orang harus kreatif, bebas beropini, lewat film, video, tulisan, atau apa saja. Tapi jangan sampai menabrak pagar SARA. Itulah yang tampak dalam video berjudul How to act Chinese Indonesian.

Ada beberapa kalimat Sacha di Youtube yang tidak enak didengar. Bukan hanya bagi orang Tionghoa, tapi saya yang bukan Tionghoa alias pribumi. Kok bisa ya ngomong begitu mbak yang belasan tahun jadi guru bahasa Inggris di Indonesia.

Sacha mengatakan orang China di Indonesia itu rata-rata sukses, kaya, tapi CARANYA NGGAK BENAR. Kemudian dengan bahasa Indonesia yang fasih dan gaya yang sinis, wanita bule ini melanjutkan:

"Sacha itu meskipun semiskin apa pun pasti percaya bahwa rezeki itu dari Allah. Kalau mereka (Tionghoa) percaya sama kucing."

Sampai di sini saja kita sudah malas menonton kelanjutan akting sang bintang asal Kanada ini. Dari mana Sacha dapat data bahwa orang Tionghoa itu kaya dengan cara tidak benar? Kalau hanya mendengar omongan ngawur di pinggir jalan, kemudian jadi bahan film ya payah banget.

Di negara hukum seperti Indonesia, ada pemerintah dan aparat hukum yang mengontrol pedagangan, pabrik, dan sebagainya. Kalau ada pengusaha melanggar hukum, tentu aparat hukum turun tangan. Sangat naif menganggap orang Tionghoa secara general menjadi sukses dan kaya dengan cara tidak benar.

Saya kira Sacha tidak mendapat advis yang cukup dari orang-orang di sekitarnya saat membuat video ini. Atau, bisa saja Sacha hanyalah aktor yang menyuarakan pendapat orang-orang dekatnya, masyarakat setempat, tanpa mencari opini pihak Tionghoa. Aneh juga karena biasanya orang Barat sangat peduli dengan riset.

Yang paling fatal adalah soal AGAMA. Ini unsur SARA yang sangat-sangat gawat di Indonesia karena sensitif. Apalagi sudah menyerang dan malah menertawakan keyakinan lain, yang ternyata tidak demikian aslinya.

Orang Tionghoa percaya pada kucing (dan tidak percaya Tuhan)? Wah, bahaya sekali kalimat Sasa di video yang sudah diklik 102.221 kali itu. Sasa rupanya tidak tahu bahwa orang Tionghoa di Indonesia itu banyak komunitasnya, ada macam-macam, menganut agama yang juga macam-macam.

Orang Tionghoa banyak yang muslim. Para pengusaha Tionghoa di Surabaya bikin Masjid Cheng Hoo, punya organisasi PITI. Sudah banyak kiai atau ustad Tionghoa.

Yang Katolik, Protestan, Pentakosta, dan berbagai aliran gereja lebih banyak lagi. Orang Kristen, termasuk Tionghoa, tentu percaya kepada Tuhan. Bukan kepada si kucing! Orang Buddha, Konghucu, Tridharma, dan penganut agama lain juga begitu.

Uskup Surabaya Monsinyur Sutikno orang Tionghoa. Pendeta-pendeta besar di Indonesia seperti Stephen Tong atau Alex Tanuseputra orang Tionghoa. Mana mungkin mereka-mereka ini percaya sama kucing.

Sekali lagi, bagaimana bisa seorang guru internasional sekaliber Sacha Stevenson membuat statement seperti itu di Youtube yang sangat populer itu. Mungkin, sebagai orang Kanada, Sacha tidak mau tahu dengan SARA dan sensitivitas orang Indonesia.

Tapi, kalau sudah lama tinggal di Indonesia, cari makan di Indonesia, bahkan punya suami orang Indonesia (kalau saya tak salah), ada baiknya pagar api SARA itu tidak ditabrak begitu saja.

Orang Surabaya bilang guyon ya guyon tapi ojo kebabalasan rek!

Guyonan yang kebablasan, SARA, tidak akan pernah membuat orang tertawa tapi malah merusak akal sehat dan selera makan kita.

28 March 2014

Kasus Satinah dan Masalah Hukuman Mati

Foto dikutip dari kapanlagi.com

Sejak dua pekan lalu media massa memberitakan kasus Satinah di Arab Saudi. TKI ini akan dieksekusi mati (pancung) jika tidak membayar diat atau uang tebusan. Pagi tadi, koran Jawa Pos menulis Presiden SBY mengirim utusan khusus ke Arab Saudi.

Maftuh Basyuni, mantan menteri agama, diminta melobi pemerintah Saudi dan keluarga korban di sana. Pak Maftuh membawa uang Rp 15 miliar untuk bayar diat itu. Insyaallah berhasil!

Selain Satinah, masih ada 38 TKI lain di Arab Saudi yang bernasib sama. Sedang menunggu eksekusi mati. Hukuman pancung bisa dibatalkan kalau ada maaf dari keluarga korban. Plus bayar diat.

Begitulah sistem hukum di Arab Saudi yang harus dihormati siapa saja yang bekerja di sana. Sama jugalah dengan warga negara asing yang bekerja di Indonesia. Kalau kena kasus pidana ya aturan hukum Indonesia akan berlaku.

Masih terkait hukuman mati ini, di luar negeri, beberapa koran di Indonesia juga protes hukuman mati untuk 500 lebih politisi Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kok banyak banget? Di tengah tren dunia yang menentang hukuman mati, mengapa Mesir menjatuhkan vonis mati untuk lawan politik?

Dari kasus Satinah dan Mesir ini, kita bisa melihat bahwa orang Indonesia ini sejatinya tidak ingin hukuman mati. Paling tidak sebagian warga yang ramai-ramai mengumpulkan uang untuk bayar diat. Lebih baik membayar denda Rp 15 miliar atau Rp 40 miliar atau berapa saja asalkan saudari kita itu, si TKW, tidak dipancung.

Nyawa manusia sangat berharga. Hanya Tuhan yang berhak mengambilnya. Meskipun kita juga tahu bahwa TKI-TKI di luar negeri itu sudah menjalani pengadilan dan terbukti bersalah.

Namun, di pihak lain, kita di Indonesia malah tenang-tenang saja ketika membaca berita akan ada eksekusi mati terpidana di Lapas Porong, Lapas Nusakambangan, Lapas Cipinang, dan sebagainya. Hari ini misalnya ada berita bahwa kejaksaan akan segera mengeksekusi Aris dan Sugik. Keduanya terpidana mati di Lapas Porong Sidoarjo.

Tidak ada protes apa-apa meskipun kasusnya sama dengan hukuman pancung di Arab Saudi. Malah ada sejumlah orang yang gregetan karena Sugik tidak cepat-cepat dieksekusi. Vonis mati dia terima di PN Surabaya 18 tahun lalu.

"Kok gak cepet-cepet eksekusi?" Begitu komentar orang-orang di warung kopi setelah membaca berita di Jawa Pos.

Tidak ada gerakan masif untuk membebaskan terpidana dari hukuman mati di dalam negeri. Sebaliknya, kita ramai-ramai berusaha kumpul duit, protes, presiden turun tangan... tatkala ada orang Indonesia yang mau dieksekusi di negara lain.

Inilah yang sejak dulu saya kritik sebagai double standard atau politik dua muka orang Indonesia. Ketika kita dikritik karena masih menerapkan hukuman mati oleh penggiat human rights, pemerintah dan mayoritas orang Indonesia marah. Menganggap orang luar campur tangan. Menganggap hukuman mati efektif untuk efek jera.

Saya kira, pemerintah dan parlemen hasil pemilu 9 April 2014 perlu mengkaji ulang kebijakan hukuman mati di Indonesia. Ketimbang kita jadi bahan tertawaan dunia internasional dengan standar ganda kita.