19 May 2016

Selamat jalan Deddy Dores

Minggu lalu saya iseng-iseng mencari lagu-lagu Deddy Dores di Youtube. Buanyaaak banget. Jauh lebih banyak yang saya ketahui. Paling disuka warga internet tentulah lagu yang melejitkan nama Nike Ardila: Bintang Kehidupan.. Seberkas Cahaya Terang.

Ada lagu melankolis kang Deddy yang mengingatkan saya pada Larantuka, kota kecil di Flores Timur NTT. Album terbitan JK Records yang dulu diputar hampir setiap hari di rumah Pak Simon. Deddy Dores berduet dengan bintang JK macam Ria Angelina dan Lydia Natalia. Lagu sedih yang sangat digandrungi orang NTT.

"Aku masih milikmu
Di sini tertulis indah namamu...
Sebelum tidur pun
Kupanggil namamu...."

Ada lagi lagu melankolis tentang kepasrahan wanita yang ditinggal kekasih setelah dihamili. Lagu yang sering dinyanyikan Kanis temanku dengan penuh penghayatan. Seakan-akan dia wanita yang disia-siakan kekasihnya.

Ah... rupanya ini isyarat dari Deddy Dores. Mau pamitan ke dunia lain. Menemui sang Pencipta di usia 65 pada Selasa tengah malam.

Ketika TV masih satu biji, TVRI, kita tahu betapa dominannya kang Deddy Dores. Jago bikin lagu, menyanyi, main gitar dan kibor, hingga menemukan bibit-bibit artis. Lagu-lagunya cenderung mirip karena tren musik pop saat itu memang begitu.

"Kalau lagi musim mangga, masa kita jual rambutan," kata Obbie Messakh pencipta lagu yang juga hits maker era 80an dan 90an. Kebetulan Deddy Dores dan Obbie Messakh sama-sama dikontrak sebagai tukang bikin lagu di JK Records, label paling top saat itu.

Tiga kali saya sempat bertemu Deddy Dores. Orangnya asyik, halus, tidak mengeraskan suara. Beda dengan tampang gondrong ala rocker (aslinya Deddy Dores seniman rock) yang sangar. Bicaranya hemat, tidak meledak-ledak.

Saya bilang kagum dengan produktivitasnya menciptakan lagu. Deddy Dores sudah bikin ribuan lagu. Mungkin 3000 sampai 5000. Tidak semuanya ngetop tentu saja. Tapi jejaknya di industri rekaman bisa dilacak dengan mudah. Jelly Tobing drummer teman Deddy Dores di Superkids Band memperkirakan kang Deddy sudah bikin 150 album. Bisa masuk buku rekor dunia.

Menjawab pertanyaan saya di Tambaksari Surabaya, Deddy Dores mengatakan dia bisa menulis lagu kapan saja dan di mana saja. Juga genre apa saja. Begitu berada di studio, sering ia ditodong produser untuk bikin lagu.

Oke... Deddy Dores pun ambil gitar atau memijat kibor dan jadilah lagu pop. Tinggal disempurnakan syairnya. Sebuah calon lagu hit siap direkam. Biasanya dia menyesuaikan nada lagunya dengan suara calon artis. Kalau artis JK yang sulit menyanyikan nada-nada tinggi, dia bikinkan lagu yang demikian. Sebaliknya, penyanyi sekelas Nicky Astria akan dibuat lagu yang ambitus nadanya seluas mungkin.

Sebagai rocker, Deddy Dores terbiasa membawakan lagu-lagu bernada tinggi. Maka dia terpaksa membuat modulasi atau pindah nada ketika duet dengan penyanyi cewek. Semua lagu melankolis yang berduet dengan cewek cakep pasti ada overtone-nya. Dan ini yang memberi warna khas pada perjalanan Deddy Dores di industri musik pop kita.

"Bikin lagu-lagu pop dan menyanyi itu untuk cari uang. Kalau mau idealis ya kasetnya nggak laku," kata Deddy suatu ketika.

Karena prinsip ini, Deddy bolak balik diserang kritik pedas. Dianggap bunglon, penulis lagu cengeng, tidak punya prinsip dsb. Deddy sih tenang saja. Dia tetap larut di industri musik yang berputar keras sebelum 2000.

Hingga akhirnya tren musik berubah total. Band dan penyanyi baru tak lagi membutuhkan pencipta lagu hit ala Deddy Dores atau Obbie Messakh atau Ian Antono. Band-band remaja bikin lagu sendiri. Deddy Dores pun kelimpungan. Mengalami krisis ekonomi.

Tapi di dapur rekaman kang Deddy beroleh istri baru, Dagmar Clara penyanyi Twin Sister, yang kemudian digerakkan. Cari lagi istri baru dst. Usia jugalah yang akhirnya menghentikan petualangan sang maestro slow rock itu.

Deddy Dores meninggal akibat serangan jantung. "Kang Deddy tidak bisa berhenti merokok," kata Dagmar mantan istri.

Selamat jalan Deddy Dores!

18 May 2016

Ujian nasional jadi berhala baru

Gatot, guru kesenian di salah satu SMP negeri favorit di Sidoarjo, gundah gulana. Pasalnya, pimpinan sekolah meminta agar kegiatan-kegiatan kesenian dikurangi atau dihilangkan saja.

"Kesenian itu cuma menghambur-hamburkan uang," ujar Gatot menirukan omongan petinggi sekolah.

Gatot yang juga perupa mencoba melawan. Debat sana-sini, kutip teori tentang manfaat kesenian bagi peserta didik dsb. Tapi ndak mempan. Pihak sekolah hanya ingin anak-anak belajar belajar belajar.. fokus pelajaran pelajaran pelajaran. Agar nilai ujian nasional (unas) tinggi. Jadi tertinggi di kabupaten.

Pak guru ini hanya bisa curhat di media sosial. "Aneh, padahal selama ini kegiatan kesenian tidak menggunakan uangnya sekolah," katanya lantas tertawa kecil.

Unas alias ebtanas (tempo dulu) seakan sudah jadi berhala baru. Begitu banyak guru mata pelajaran yang tidak diunaskan, salah satunya Gatot, mengeluh karena ruang geraknya makin dibatasi. Anak-anak tidak perlu bermain, olahraga, berlatih paduan suara, menggambar, berteater, main band.. karena ndak ada kaitannya dengan unas.

Murid yang jago renang, juara bulutangkis atau lari, sering nyanyi di TV... bakal terganggu unasnya. Unas tinggi itu dianggap jaminan untuk masa depan yang cerah. Mau jadi apa kalau murid SMP atau SMA lebih sibuk menekuni teater, musik, melukis, seni tari, dsb?

"Begitulah kondisi pendidikan kita hari ini. Dan ini bukan hanya di tempat saya. Sekolah-sekolah lain juga sudah terobsesi dengan unas unas unas," kata Pak Gatot yang sering jadi teman diskusiku itu.

Bukankah nilai unas tidak lagi menjadi penentu kelulusan? Benar. Kini hampir tidak ada lagi murid yang tidak lulus di Kabupaten Sidoarjo. Yang tida diluluskan itu biasanya murid yang nakal luar biasa. Misalnya suka memaki-maki atau melempari gurunya. Atau berurusan dengan polisi karena mencuri dsb.

Tapi... fakta di lapangan menunjukkan betapa luar biasa sihir unas ini. Sebab hasil unas merupakan tiket untuk melanjutkan sekolah ke SMA favorit. Dan sekolahan Gatot sepertinya punya beban psikologis untuk mempertahankan prestasi sebagai pemasok murid terbanyak ke SMA-SMA favorit.

"Hasil unas itu jadi kebanggaan pihak sekolah," katanya.

Saya jadi ingat guyonan (serius) seorang bupati di Jawa Timur. Suatu ketika dia bertemu dengan teman sekolahnya yang sekarang jadi guru bahasa Inggris di sebuah SMA. Pak Bupati menceritakan betapa pintarnya sang teman yang jadi guru itu. Nilai ebtanasnya rata-rata 9 koma sekian.

"Kalau saya cerdas seperti dia ya saya tidak akan pernah jadi bupati," katanya.

16 May 2016

Chelsea cuma nomor 10

Nonton bareng pertandingan Chelsea vs Leicester City baru berakhir. Hasilnya seri 1-1. Laga ke-38 Liga Inggris ini cuma untuk menggugurkan kewajiban saja. Tidak ada pengaruhnya untuk kedua tim.

Leicester sudah juara. Chelsea yang juara tahun lalu mantap di nomor 10. Luar biasa! Klub yang gila-gilaan beli pemain mahal ini ternyata cuma segitu. Nomor 10. Sebaliknya, Leicester yang miskin jadi juara. Padahal tahun lalu hampir relegasi.

Suasana warkop di Kedungrejo Waru Sidoarjo, yang berbatasan dengan Kota Surabaya, pun ramai. Maklum, pelanggan warkop rata-rata gila bola. Komentar mereka tak kalah dengan pengamat di TV. Bahkan ada yang lebih mengena ketimbang komentator gundul di TV itu.

Chelsea benar-benar terpuruk musim ini. Tapi untunglah Guus Hiddink masih bisa mengangkat Chelsea ke posisi 10. Andaikan Jose Mourinho tidak dipecat, hampir pasti klub London ini terdegradasi. Paling tinggi urutan keempat atau kelima dari bawah. Jose memang pembawa sial meskipun tahun lalu mempersembahkan gelar untuk The Blues.

Jauh sebelum Jose Mourinho dipecat, saya sudah menulis di blog ini bahwa coach asal Portugis itu tidak bisa dipertahankan. Kalah melulu. Pemain-Pemain-pemain melempem. Pertahanan kacau. Koordinasi ndak jelas. Semangat bertanding hancur. Chelsea kehilangan kemampuan how to win.

Guus Hiddink jauh lebih baik ketimbang Mourinho. Tapi terlalu banyak seri. Jarang menang. Bagaimana bisa dapat banyak poin untuk naik ke papan atas? Sampai pertandingan ke-36, 37, dan 38 Chelsea ya gitu-gitu aja. Sama sekali tidak ada aroma juara liga tahun lalu. Leicester yang gayanya mirip Chelsea dulu justru sangat konsisten.

Akankah pelatih baru, Antonio Conte, mampu mengembalikan Chelsea ke lima besar?

Hem... sulit rasanya. Kerusakan di Chelsea sudah terlalu parah. Sementara klub-klub Inggris sekarang makin kompetitif. Tak ada lagi dominasi big four macam dulu.

Chelsea sudah jadi klub medioker. Pertahanan masih rapuh. Striker Costa pun kelihatan sudah kehilangan ketajaman. Hazard tak jelas mainnya.

Bagaimana dengan Jose Mourinho? Lupakan saja. Klub-klub besar kayak MU sebaiknya tidak meminang Mou. Sejelek-jeleknya Louis van Gaal, masih lebih baik ketimbang Mou yang terlalu suka main bertahan. Taktik dan strategi Mou sudah dibaca semua pelatih top di Eropa.

Kompetisi Liga Inggris 2015/16 sudah selesai. Leicester juara. Chelsea nomor 10. Arsenal 2. Spurs 3. Manchester City 4. Tahun ini peta kekuatan memang berubah total.

Tak ada yang menyangka Leicester juara. Pun tak ada yang mengira Chelsea nomor 10. Tapi begitulah sepak bola. Selalu ada kejutan yang menyenangkan.

15 May 2016

Spirit lingkungan Boomerang 2016

Boomerang pernah sangat terkenal pada tahun 2000an awal. Saya masih ingat band jebolan festival rock ala Log Zhelebour ini pernah jadi buruan promotor musik di tanah air. Tiada hari tanpa show.

Personel Boomerang pun jadi super star. Khususnya Ivan gitaris dan Roy vokalis. Setiap melintas di ruang publik, mall, kampus, sekolah... Roy dan John Paul Ivan yang super gondrong itu jadi buruan anak-anak muda. Minta tanda tangan, foto bareng, atau cuma sekadar salaman.

Tapi itu dulu.... Popularitas band di Indonesia sangat cepat berlalu. Beda dengan band-band di barat yang tetap ngetop meski musisinya terus menua. Pemusik di barat kayak Jagger tetap saja diuber meski sudah 60 atau 70 tahun.

Boomerang masih ada? Begitu pertanyaan beberapa peminum kopi di warkop kawasan Sedari Sidoarjo.

Masih ada tapi tanpa Roy dan Ivan. Dua musisi yang selama ini jadi ikon Boomerang. Minggu lalu baru perkenalkan album baru di Sidoarjo. "Kok ndak muncul di TV ya?" kejar mas yang asli Sidoarjo ini.

Mungkin belum. Mungkin juga tidak. Wong TV sekarang ndak kasih tempat untuk band hard rock lawas kayak Boomerang. Siapa tahu nanti beberapa lagu Boomerang bisa muncul di TV nasional.

Begitulah. Boomerang baru saja bikin jumpa fans di Sidoarjo. Formasi Mei 2016: Andi Babas (vokal), Hubert Henry Limahelu (bass), Farid Martin (drum), dan Tommy Maranua (gitar). Album baru itu 3 to Rock. Boomerang kolaborasi dengan Grassrock dan D'Bandhits.

Boomerang menyumbang empat lagu. Rakyat Hutan. Berhala Modernisasi. Perahu Kertas. Cinta Pertama. Lagu terakhir ini daur ulang komposisi ciptaan almarhum Idris Sari.

Tiga band ini kolaborasi di lagu Kebebasan. Mudah-mudahan album ini memuaskan penggemar musik rock di Indonesia, kata Henry anggota senior yang memperkuat grup ini sejak awal.

Di usia yang senior, jam terbang panjang, Boomerang tak lagi bicara tentang cinta, pacaran, atau selingkuh. Henry dkk ingin lebih banyak menyampaikan kritik sosial lewat lagu. Salah satunya soal hutan yang selalu dibakar untuk kepentingan investor.

"Kami sempat mengadakan kegiatan bersama Greenpeace di Kalimantan Tengah saat kebakaran hutan tahun lalu. Dari situ muncul inspirasi untuk membuat lagu tentang konservasi hutan," ujar arek Surabaya keturunan Maluku ini.

Basis ini berharap album ini mampu memberikan kesadaran bagi rakyat Indonesia untuk menjaga lingkungan hidup. Syukur-syukuri laku di pasar.

14 May 2016

Mampir di Kelenteng Bangkalan

Sudah setengah tahun lebih saya tidak mampir ke Kelenteng Eng An Bio Bangkalan Madura. Kangen juga sama Tante Yuyun Kho biokong asal Salatiga. Tante ini sudah kayak keluarga sendiri. Beliau sering menghubungi saya untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan kelenteng-kelenteng di Jawa Timur.

Maka siang tadi saya pun meluncur ke Bangkalan. Lewat Suramadu. Kondisi sekitar Jembatan Suramadu wilayah Madura sepertinya makin tidak terurus. Tidak lagi ramai. Banyak warung yang tutup. Termasuk dua warung milik ibu langganan saya.

"Susah sekarang. Pembeli sedikit," kata mbak penjual es degan di dekat jembatan.

Impian agar Pulau Madura, khususnya Bangkalan, makin bersinar berkat Suramadu sepertinya masih meleset. Padahal pemerintah pusat sudah menggratiskan sepeda motor. Tarif kendaraan roda empat ke atas pun diturunkan banyak. Mestinya wilayah kaki Suramadu makin ramai. Tapi nyatanya tidak.

Akhirnya tibalah saya di Eng An Bio, Jalan Panglima Sudirman. Wilayah pecinan Bangkalan. Bangunannya makin mengkilat habis dicat. Juga makin luas. Rupanya bangunan rumah di sebelahnya sudah dibeli yayasan. Untuk perluasan kelenteng.

Tante Yuyun nonton televisi setelah mengurusi tempat ibadah Tridarma itu. Ibu ini selalu bikin hiasan kertas untuk keperluan sembahyang. "Ndak ada acara khusus Waisak," ujar tante Yuyun seakan tahu pertanyaan yang belum keluar dari mulut saya.

Ada sembahyangan tapi rutin saja. Sebab Hari Waisak selalu jatuh pada bulan purnama. Nah, orang Tionghoa pun selalu mengadakan sembahyang pada tanggal 15 (purnama) dan tanggal 1 (bulan mati). "Di sini ndak ada persiapan khusus," katanya.

Tante Yuyun ditemani seorang ibu Tionghoa Bangkalan. Obrolan pun mengalir lancar. "Pak Mis sudah ndak ada (meninggal dunia)," ujar tante Yuyun.

Oh... Tuhan. Bapak asli Madura ini sudah bertahun-tahun kerja di kelenteng ini. Orangnya ramah, suka humor. Teman ngobrol saya untuk memperlancar bahasa Madura yang masih sepotong-sepotong. Semoga Allah memberikan tempat yang layak buat Pak Mis!

Tak ada isu serius yang kami bicarakan. Obrolan santai sembari mencicipi srikaya khas Madura. "Mahal sekarang. Sepuluh ribu cuma dapat tiga," kata bu Yuyun yang juga biasa membuat lukisan khas Tionghoa untuk kelenteng.

Bagaimana dengan kegiatan karaoke Mandarin? Senam aerobik mingguan? Kursus bahasa Mandarin? Tenis meja? Bu Yuyun cuma menggeleng dan tersenyum.

"Semua kegiatan itu mandeg. Sesekali sih ada tapi tidak rutin," katanya perlahan.

Selain kesibukan pengurus, menurut dia, warga Tionghoa Bangkalan (Madura umumnya) lebih suka mencari hiburan di Surabaya. Karaoke plus makan di restoran sekalian rekreasi. "Bangkalan ini makin menyatu dengan Surabaya sejak ada Suramadu. Itu juga yang membuat banyak kegiatan di sini ndak jalan," katanya.

Saya kemudian merebahkan badan di dekat meja pingpong. Tidur lumayan enak karena angin di aula tengah berembus kencang. Sampai sore. "Kalau ada acara kelenteng kamu pasti saya undang," ujar tante Yuyun.

Maria Yohana Veronica yang bukan Katolik

Nomen est omen!
Nama itu pertanda.

Pepatah lama ini cocok untuk warga NTT. Sebagian besar orang NTT (Flores Sumba Timor Alor Sabu Rote) memang menamai anaknya sesuai pakem penamaan turun temurun.

Nama orang NTT, khususnya Flores Timur, ada rumusnya. Tiap kabupaten atau unit suku punya pola sendiri. Sudah lama saya bahas ini di blog aku (eh blog saya). Tidak asal comot nama tokoh terkenal macam pemain bola Ronaldo atau Maradona. Di Flores Timur harus ada nama permandian (contoh Lambertus), nama kakek/nenek (Lusi), dan fam atau marga (Hurek).

Karena itu, nama orang Flores pasti beda dengan orang Sumba Timor Alor Sabu Rote dsb. Jika anda bilang punya kenalan bernama Lambertus Lusi Hurek kepada orang NTT, maka dia akan bilang pasti dari Flores.

Flores mana? "Flores Timur atau Lembata," kata teman anda yang asli Flores.

Kecamatan mana? Pasti Ileape. Sebab tidak mungkin ada orang Adonara punya fam Hurek. Begitu seterusnya sampai ke desa.

"Bapak Jeremia Pandango itu dari mana?" tanya seorang teman di Sidoarjo.

"Pasti dari Sumba. Dan pasti bukan Katolik. Beliau Protestan. Kecuali kalau pindah agama di Jawa," jawab saya.

Kok tahu agamanya?

"Pandango marga dari Sumba Timur. Tidak ada sejarahnya ada di antara marga itu yang Katolik. Mereka banyak yang jadi pejabat dan tokoh Gereja Kristen Protestan di NTT," saya menjelaskan.

Begitulah. Nama itu memberi identitas kepada pemiliknya. Ahmad Zaini jelas Islam. Muhammad Sholeh pengacara terkenal itu muslim santri yang saleh. I Wayan Sidharta asli Bali, Hindu, kecuali pindah agama.

Dua minggu terakhir ini saya bertemu lima wanita yang namanya dianggap orang Flores sebagai nama permandian Katolik. Santa alias orang kudus dalam tradisi kekatolikan. Ada yang namanya Maria Novita, Veronica Putri, Yohana Sari.

Begitu bertemu muka alias kopi darat... wah, semua wanita itu pakai hijab. Muslimah sejati. Bukan nasrani yang pindah agama. Orang NTT pasti terkejut atau tertawa dalam hati jika mengetahui Maria, Veronica dan Yohana yang bukan Katolik. Malah ada yang tidak mau berjabatan tangan dengan laki-laki. Hehehe...

Mengapa teman-teman muslimah itu menggunakan nama yang berbau nasrani? Mengapa tidak mencari nama yang khas islami? Saya cuma membatin. Juga tidak perlu mengorek hal-hal yang sifatnya SARA.

Apalah arti sebuah nama, kata pepatah lama. Bunga mawar dinamakan apa pun tetaplah menyebarkan aroma yang harum. Ribuan penghuni penjara di Porong, Medaeng, dan Sidoarjo pun menggunakan nama-nama suci. Bandar narkoba kelas kakap itu kerap menyampaikan kesaksian dan khotbah di gereja dalam penjara.

Pepatah lama NOMEN EST OMEN rupanya semakin tidak relevan di era globalisasi ini.

Tulisan Dahlan Iskan makin enak


Lead tulisan Dahlan Iskan hari ini, Sabtu 14 Mei 2016:

"Mi tarik Lanzhou. Saya selalu mencarinya. Di kota mana pun di Tiongkok. Pasti ada. Cocok untuk lidah Indonesia. Dan pasti halal."

Sangat menyenangkan membaca catatan Dahlan Iskan di Jawa Pos pagi ini. Cerita ringan perjalanan sang wartawan yang mantan menteri BUMN itu ke Tiongkok.

Beliau baru jalan-jalan ke USA dan sekarang mampir ke Zhongguo. Negara besar yang sangat dia kenal. 33 dari 34 provinsi di Tiongkok sudah ia jelajahi. Tinggal satu yang belum: Tibet. Di setiap tempat Pak DI selalu bisa menemukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan.

Di internet atau majalah dan koran cerita tentang mi, kehidupan orang muslim suku Hui sudah sering ditulis. Tapi setiap kali membaca catatan DI, saya selalu menemukan sesuatu yang lain. Ada angle baru. Detail baru.

Misalnya umat muslim di Tiongkok ternyata 70 juta jiwa. Tiga kali lebih banyak ketimbang penduduk Malaysia. Muslim Tiongkok itu mazhab Hanafi. Salatnya harus cepat dikerjakan setelah dengar azan. Jamaah tidak menyuarakan "amiiiin" macam di Indonesia.

Dulu mereka naik haji sembunyi-sembunyi. Pura-pura ke Pakistan untuk dagang. Tapi diam-diam ke Makkah untuk berhaji. Suka pakai kopiah haji meskipun belum tentu haji.

Kok bisa wartawan-wartawan lain tidak membuat tulisan sebagus DI?

Itulah talenta. Yang diperoleh dari Tuhan. "Makanya saya hanya baca tulisan Pak DI di koran. Tulisan-tulisan lain ya sambil lalu saja," kata Pak Bambang Thelo almarhum, pelukis senior di Sidoarjo, beberapa tahun lalu.

Menemukan hal menarik. Angle yang pas. Kemudian cara bercerita. How to tell the story. Cerita sama, bahan sama, di tangan tukang cerita alias dalang yang berbeda akan jadi lain.

Itulah sebabnya Ki Anom dan Ki Mantheb sangat digandrungi di Jawa. Padahal ada ribuan dalang lain yang sepi tanggapan. Padahal ada buanyaaak dalang sekolahan bergelar sarjana seni atau doktor seni.

Dahlan Iskan memang rajanya jurnalisme bertutur. Ki dalang maestro sekelas Ki Narto Sabdo. Tulisan gaya staccato dengan kalimat-kalimat pendek sudah banyak ditiru wartawan muda dan tua di seluruh Indonesia. Tapi sebagus-bagusnya peniru ya tetap kalah sama aslinya. Lukisan repro, meski lebih bagus daripada lukisan asli, tetap saja lukisan palsu. Ndak ada harganya.

Tulisan-tulisan DI yang nabati, khas, diselipi humor menggelitik... inilah yang membuat koran tetap dibaca orang. Matur nuwun Pak DI! Selalu memberi inspirasi dan contoh nyata. Bukan cuma kasih teori-teori yang sudah banyak dibahas di buku-buku dan internet.

13 May 2016

HP aku di dalam tas aku dibelikan teman aku

Kata AKU dan SAYA itu sinonim. Sama artinya. Tapi tidak (selalu) bisa ditukar-tukar begitu saja. Demikian penjelasan Pak Aldo, guru bahasa Indonesia saya di SMP Katolik San Dominggo Larantuka, NTT, dulu.

Pak Aldo ini hafal teori linguistik dan tata bahasa Indonesia versi Prof Dr Gorys Keraf. Buku tata bahasa, komposisi, sintaksis... karya Gorys Keraf yang asli Lembata itu selalu dibawa Pak Aldo, orang Adonara, ke sekolah.

"AKU hanya cocok untuk bicara dengan teman. Bicara dengan guru atau orang yang lebih tua pakailah SAYA," pesan guru yang dulu merangkap penyiar radio satu-satunya di Larantuka, RKPD Flotim (Flores Timur).

Masih soal AKU dan SAYA, menurut Pak Aldo alias Aloysius (orang yang nama permandiannya Aloysius di NTT sering disapa Aldo atau Alo atau Luis atau Luwi), ketika menjadi kata ganti empunya (posesif), SAYA tidak bisa diganti AKU. Kata AKU harus dijadikan -KU dan ditempel diakhir kata dasar atau bentukan.

Contoh: Rumah saya luas.
Salah: Rumah aku luas.
Benar: Rumahku luas.

Bukankah AKU sama dengan -KU dan SAYA? Mengapa tidak bisa ditukar untuk ajektiva posesif?

Pak Aldo kemudian menjelaskan panjang lebar konsep enklitis dan proklitis. Konsep yang terlalu rumit untuk kami pelajar SMP di Larantuka yang sebagian besar belum lancar berbahasa Indonesia. Kami lebih sering berbahasa Lamaholot, bahasa daerah yang dipakai di Adonara, Lembata, Solor, dan Flores Timur daratan. Kecuali Larantuka yang pakai bahasa Nagi alias Melayu Larantuka.

Pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMP ini terngiang-ngiang di benakku (bukan benak aku) sampai sekarang. Selain karena Pak Aldo guru yang hebat, eks seminari yang pasti pintar, saya juga menemukan pelajaran serupa di buku karangan JS Badudu, empu bahasa Indonesia.

Karena itu, saya selalu merasa janggal ketika menonton televisi-televisi Jakarta. Khususnya program infotainment alias berita-berita pesohor. Boleh dikata, hampir semua artis atau selebritas (atau selebriti?) itu "melanggar" ajaran ajektiva posesif, enklitis proklitis.. yang dulu ditanamkan bapak guru kami di Flores Timur.

"Pemirsa, ini tas aku, nggak mahal kok. Di dalamnya ada HP aku, buku tabungan aku, bedak aku, dompet aku..," kata seorang penyanyi muda di Indosiar. "Oh ya, kalau di depan itu teman aku.."

Yang menarik, penggunaan AKU untuk ajektiva posesif itu juga dilakukan orang-orang yang usianya di atas 30 tahun. Bukan cuma di bawah 20 tahun yang tidak mengenal Gorys Keraf, JS Badudu, Anton Moeliono, Hasan Alwi, Harimurti Kridalaksana, atau Dendy Sugono... nama-nama besar yang berjasa menyebarluaskan tata bahasa baku bahasa Indonesia.

Ya, bahasa menunjukkan bangsa! Bahasa selalu berkembang sesuai dengan selera dan kebiasaan berbahasa masyarakatnya. Bisa saja ajaran lama tentang AKU dan saya versi 1980an dan 1990an sudah tidak cocok dengan era media sosial 2016 atau 2020. Kesalahan yang kaprah bisa menjadi kebenaran baru kalau mayoritas masyarakat menginginkan demikian?

Syukurlah, pekan lalu saya membaca tulisan Wisnubroto Bawono Kuntjoro, Karanganyar, Jawa Tengah di Kompas 10 Mei 2016. Judulnya TENTANG KATA AKU. Rupanya Pak Wisnubroto ini memiliki kegundahan yang sama dengan saya. Khususnya penggunaan AKU untuk ajektiva posesif.

Wisnubroto menulis: "Sekarang ada kecenderungan kuat anak muda menggunakan AKU untuk ajektiva posesif sepadan dengan MY dalam bahasa Inggris. My book menjadi buku aku. My house menjadi rumah aku. Menurut hemat saya, yang seperti ini tidak lazim. Bentuk yang berterima adalah bukuku dan rumahku. Dulu yang saya pelajari seperti itu."

Lain dulu, lain sekarang...

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca tulisan aku di blog aku ini!

02 May 2016

Gereja Ortodoks Baru Rayakan Paskah

Pekan ini, Kamis 5 Mei 2016, umat Katolik (kristiani umumnya) merayakan hari kenaikan Yesus Kristus. Hari libur nasional yang jatuh setiap Kamis, 40 hari setelah Paskah.

Yang menarik, saudara-saudara kita yang tergabung dalam Gereja Ortodoks Indonesia baru saja merayakan Paskah kemarin. Jumat Agung tanggal 29 April 2016, Sabtu malam Paskah 30 April 2016. Begitulah informasi yang saya terima dari Gereja Ortodoks Indonesia dalam siaran persnya.

Kok perayaan pekan suci "terlambat" satu bulan? Atau, gereja-gereja lain di Indonesia "kecepatan" satu bulan? Padahal semua sama-sama mengimani Yesus Kristus yang wafat dan bangkit pada hari ketiga? Sama-sama mengucapkan Credo in Unum Deum?

Fr Boris Setiawan, imam Gereja Ortodoks Indonesia, mengatakan perbedaan ini tak hanya untuk pekan suci Paskah, tapi hari-hari besar lain seperti Natal dan Pentakosta. Ya otomatislah.. Pentakosta itu kan 50 hari setelah Paskah. Kalau hari Paskahnya beda, Pentakosta dan kenaikan pun jelas beda.

"Kami menggunakan kalender kuno Julian, 47 BC. Sedangkan sebagian umat Kristen lain mengikuti sistem kalender baru Gregorian tahun 1582," demikian pernyataan resmi Ortodoks Indonesia.

Gereja Ortodoks baru masuk ke Indonesia pada 1988 lewat Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro. Perlahan-lahan gereja yang berpusat di Rusia itu mendapat pengikut di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Utara, Papua. Saat ini jemaatnya sekitar 3000 jiwa. Masih sedikit.

"Kristen Ortodoks merupakan salah satu kekristenan purba yang tumbuh di timur. Sehingga dikenal dengan sebutan Gereja Timur. Kami sangat teguh memegang tradisi kekristenan purba hingga masa kini," demikian pernyataan Gereja Ortodoks Indonesia dalam siaran pers Paskah 2016.

Di Indonesia, gereja ini justru berada di bawah naungan Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia. Padahal, tata ibadah (liturgi), dogmatika, dan berbagai elemen lain lebih dekat dengan Katolik.

Selamat Paskah untuk jemaat Gereja Ortodoks di Indonesia!