27 March 2015

Jokowi dan Wibawa Xi Jinping

Koran-koran pagi ini memuat foto Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok. Kedua kepala negara memerksa pasukan Zhongguo bersenjata. Keduanya terlihat berwibawa.

Sayang, retorika bahwa Indonesia menjadi kekuatan baru ekonomi dunia, selain Tiongkok, tidak begitu bergema di sini. Waktu kita habis untuk bahas ISIS, Ahok, kisruh Golkar, KPK vs Polri, harga bensin yang naik turun, dan sebagainya. Makin banyak orang yang ragu dengan kompetensi Jokowi sebagai presiden.

Kayaknya baru kali ini ada presiden RI yang instruksinya tidak dipatuhi Polri. Diminta Jokowi stop kriminalisasi, dua pimpinan KPK malah dijadikan tersangka. Kemudian diberhentikan dari KPK. Hakim praperadilan malah memenangkan Komjen Budi Gunawan. Dan Jokowi, presiden yang instruksinya diabaikan, malah tenang-tenang saja.

"Jokowi ini presiden yang tidak punya wibawa. Omong apa saja gak akan diikuti kalau ngurus KPK vs Polri saja gak bisa," kata seorang pelukis senior di Sidoarjo yang dulu getol kampanye mendukung Jokowi saat pilpres.

Belakangan terjadi kisruh di Bandara Juanda antara PT Angkasa Pura 1 dan TNI Angkatan Laut selaku pemilik lahan bandara, khususnya terminal 2. Sudah dua minggu ini tentara menutup jalan kargo. Layanan pengiriman kargo pun kacau. "Harus diselesaikan di Jakarta," kata beberapa petinggi di kawasan Bandara Juanda.

"Tidak usah ke Jokowi. Percuma! Nanti juga tidak akan ditaati sama mabes TNI AL," kata beberapa orang yang skeptis.

Kisruh ini kemudian ditangani Wapres Jusuf Kalla karena Jokowi ke Tiongkok dan beberapa negara lain. Hasilnya juga sama aja. TNI AL tetap menutup jalan dengan alasan Angkasa Pura melanggar banyak butir perjanjian kerja sama.

Betapa kontrasnya Jokowi di Indonesia dan Xi Jinping di Tiongkok. Tuan Xi ini luar biasa berwibawa di dalam negeri dan membuat gentar hampir semua negara di dunia. Xi Jinping bikin manuver kecil-kecilan yang membuat banyak negara ketakutan. Khususnya negara-negara yang berbatasan langsung dengan Tiongkok.

Xi Jinping juga makin keras membersihkan pejabat-pejabat korup. Tidak ada kompromi kalau sudah menyangkut pencolengan uang negara. Tidak ada pelemahan KPK di Tiongkok. Tidak ada kriminalisasi atau cari-cari perkara untuk menangkap orang yang getol membela korupsi. Tidak ada yang namanya istilah pelaksana tugas kepala kepolisian.

Xi Jinping memang dimusuhi banyak orang, khususnya di luar Tiongkok, tapi dianggap sebagai presiden yang sangat efekti. Hemat bicara, langsung bertindak. Tidak membiarkan sebuah kasus ngambang lamaaa seperti KPK vs Polri di Indonesia.

Mudah-mudahan sepulang dari Tiongkok Presiden Jokowi benar-benar jadi kepala negara plus kepala pemerintahan yang berwibawa. Bukan petugas partai yang sebentar-sebentar minta petunjuk dari mama yang punya partai. Bukan presiden boneka yang cuma jadi mainan partai-partai koalisi.


Sent from my BlackBerry

26 March 2015

Kolom Slamet Abdul Sjukur: Sepeda Motor di Surabaya

Suatu ketika saya meminta Bapak Slamet Abdul Sjukur untuk membahas kemacetan lalu lintas di Kota Surabaya. Beliau langsung menyanggupi. "Saya sudah lama punya uneg-uneg dengan sepeda motor di kampung saya," katanya. Maka, lahirlah tulisan yang kemudian saya muatkan di Radar Surabaya. "Tulisan Mas Slamet bagus, tapi honornya sedikit lho," kata saya. "Nggak masalah. Yang penting, Pemkot Surabaya mau membaca dan bertindak," katanya. Berikut ini tulisan Slamet Abdul Sjukur yang tutup usia pada 23 Maret 2015 lalu.


SEPEDA MOTOR DI SURABAYA

Oleh Slamet Abdul Sjukur


Sepeda motor merupakan kemandirian sarana transportasi. Orang bisa langsung ke tempat yang dituju. Berbeda dari transportasi-umum yang sudah ditetapkan jurusan dan rutenya, sehingga untuk ke tempat tertentu, kita terkadang harus ganti kendaraan beberapa kali.

Sepeda motor lebih dari itu, merupakan simbol kemandirian rakyat untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.

Di Tunisia, sudah lama sekali pemerintahnya membatasi masuknya kendaraan bermotor dengan pajak yang sangat tinggi. Dengan aturan pajak seperti itu, tidak banyak yang punya kemampuan membeli kendaraan. Tapi pemerintahnya yang visioner, dengan pandangan yang jauh ke depan, mengimbanginya dengan kebijaksanaan menyediakan sarana transportasi umum yang memadai: murah, bersih, aman, banyak dan tepat waktu.

Ada sistim kartu-langganan, bisa untuk bulanan, mingguan dan bahkan sekalipun hanya untuk beberapa hari (untuk turis). Sekali anda beli kartu langganan seperti itu, anda boleh naik kendaraan-umum berapakall saja sesuka hati anda tanpa harus bayar lagi. Di tempat-tempat pemberhentian ada jadwal datang dan perginya kendaraan-umum, dan 98% tepat waktu.

Akibatnya, yang terlihat di jalan seringnya lewat kendaraan-umum yang tidak perlu sampai penuh. Juga jarang terjadi kemacetan sekalipun jalan yang untuk kendaraan lebih sempit dari trotoar yang sangat nyaman untuk pejalan kaki.

Itu juga menyiratkan sikap pemerintahnya yang melindungi mayoritas yang lemah, yang tidak punya kendaraan pribadi, dan tidak memanjakan minoritas yang bisa beli kendaraan sendiri.

Di negeri kita, untung ada upaya-swasta yang memungkinkan orang bisa membeli sepeda motor yang harganya terjangkau dan masih boleh membayarnya secara kredit dengan uang muka tidak terlalu mahal. Sehingga rakyat yang sudah biasa “tahan bantingan” pintar memperhitungkan untung-ruginya membeli sepeda motor. Membeli dengan kredit, jauh lebih menguntungkan dan lebih murah dari menunggu lama kendaraan umum yang selalu padat dan sering terpaksa pindah kendaraan jurusan lain.

Itu solusi yang paling rasional bagi mayoritas yang terjepit ekonominya. Dengan dampak sampingan kemacetan lalu-lintas, yang tidak pernah menjadi “pelajaran bermutu” bagi yang bewajib. Kita punya budaya-berpikir mewah, boros dan menyalahkan keadaan. Macet? Lebarkan jalan! Macet lagi? Lebarkan lagi, habis perkara! Biar tidak tabrakan? Nyalakan lampu sepeda motor! …sekalipun kita di negeri yang dikarunia cahaya matahari yang terang benderang, bukan seperti ‘negeri sana’ yang hampir selalu berkabut… Dan masabodoh terhadap masalah pemanasan global dan hemat energi.

Dengan budaya-berpikir seperti itu, dijamin kemacetan akan berlangsung terus sampai kiamat sekalipun seandainya seluruh kota bangunannya dirobohkan semua demi pelebaran jalan.

Sepeda motor juga “simbol anarki” yang mengerikan. Sebagai akibat tidak digubrisnya kebutuhan masyarakat untuk bergerak dengan mudah, nyaman dan aman, maka sudah betul kalau masyarakat cari akal sendiri sebisa-bisanya. Akibat lainnya dari sebab yang sama, ialah masyarakat jadi tidak peduli sama sekali pada apa saja yang bukan untuk kepentingannya sendiri.

Mereka tidak mau tahu bahwa trotoar bukan pelebaran jalan. Mereka sering semena-mena lewat di trotoar yang bukan haknya. Tidak jarang terjadi tabrak lari di trotoar, padahal trotoar dibuat agar pejalan kaki juga punya wilayahnya sendiri untuk mereka, seperti halnya jalan raya khusus untuk kendaraan.

Sepeda motor tidak saja merajai jalan raya dan sering menyusup di trotoar, mereka juga tidak peduli bahwa kampung bukan jalan raya. Tanda-tanda HARAP TURUN yang dipasang di muka kampung, tidak saja dianggap tidak ada, mereka sering tidak segan membunyikan klakson agar pejalan kaki minggir.

Bukan main kesombongan sepeda motor di negeri kita ini termasuk di Surabaya yang baru saja mensyukuri hari-jadinya.

Sikap kesemena-menaan ini persis sama dengan mentalitas koruptor yang menganggap hanya dirinya yang penting dan yang lainnya itu anjing, harus minggir.

Ini menunjukkan sudah demikian parahnya mentalitas bangsa kita. Kalau awalnya rakyat menengadah melihat ketidak becusan yang di atas, sekarang ini anarkisme sudah menular seperti penyakit aids keseluruh tubuh Indonesia yang dengan susah payah, dengan darah dan nyawa kita rebut kembali dari penjajah.

Dulu kita dijajah, oleh bangsa lain, kemudian oleh bangsa sendiri, yaitu mereka yang sebenarnya kita percayai sepenuhnya untuk mengangkat derajat kita sebagai bangsa dan sebagai manusia. Sekarang lebih celaka lagi, kita malah dijajah oleh kita-kita sendiri yang di bawah.

Tapi "tidak perlu sedu sedan", kata Chairil Anwar. Nasib sudah membuat kita menjadi bangsa yang tahan bantingan. Bagi yang sudah biasa tercekik, kesulitan bukan lagi hambatan, justru setiap kesulitan itu merupakan tantangan untuk segera diatasi secara nyata dengan kemampuan kreatif kita. (*)

25 March 2015

Melepas Maestro Slamet Abdul Sjukur



Seakan tidak percaya Slamet Abdul Sjukur sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Saya tahu kondisi sang komponis, embahnya guru-guru musik di Indonesia ini, makin memburuk. Tapi beberapa jam sebelumnya saya masih sempat memegang tangan kirinya yang hangat sambil bercakap-cakap. Obrolan ringan campur guyon khas arek Surabaya.

Pak Slamet sempat tertawa kecil (atau senyum lebar) ketika saya guyoni. "Mas Slamet (beliau lebih suka disapa Mas daripada Pak atau Eyang atau Embah atau Mister), selama ini sampeyan sangat sulit ditemui. Sibuk ngajar, bikin komposisi, kasih seminar, ke Jakarta, Jogja, Bandung, luar negeri," begitu umpan pembukaan dari saya.

"Kalaupun ada di Surabaya, Mas Slamet pun tetap sulit dicari. Kadang di Yamaha Music, pindah lagi ke Kilang Music, ngajar di Unesa, diskusi di C20.... dan entah di mana lagi. Tapi sekarang ini Mas Slamet sangat mudah dicari. Cukup datang ke kamar 608 Graha Amerta!" kata saya.

Slamet Abdul Sjukur pun tertawa halus. Pria 80 tahun (kurang tiga bulan) ini kemudian membetulkan posisi badannya di bed. Agak kesakitan. Gema dan Jeanny ikut senyum mendengar gojlokan saya. Bu Marti, anak angkat yang merawat Pak Slamet di Jakarta sejak 1993, ikut senyum. Tapi sejatinya kondisi Slamet Abdul Sjukur makin buruk ketimbang Rabu pekan lalu saat saya besuk.

"Omongannya mulai aneh-aneh sejak Jumat lalu. Perasaan saya gak enak," kata Mbak Marti. Sama. Saya pun merasakan suasana yang demikian. Padahal beliau sudah siap mental untuk operasi tulang paha kanan yang patah yang membuatnya masuk Graha Amerta RSUD dr Soetomo sejak 9 Maret 2015.

Oh, musik piano terdengar lamat-lamat di kamar pasien lantai 6 itu. Komposisi yang belum pernah saya dengarkan. Karya siapa itu? "Bach," jawab Mas Slamet cepat. Rupanya karya-karya piano dari Johan Sebastian Bach itulah yang menemani sang komponis, budayawan, penulis, praktisi astrologi Yijing dari Tiongkok, manusia multidimensi itu hingga akhir hayatnya.

Dalam suasana begini, obrolan dengan pasien tidak bisa fokus dan panjang. Saya lalu bilang di Youtube ada beberapa karya Slamet Abdul Sjukur tapi masih terlalu sedikit untuk dinikmati masyarakat. Kalah banyak dibandingkan seorang pianis dan komponis muda Indonesia yang sangat digandrungi guru-guru piano dan penggemar musik klasik.

"Biar saja orang lain suka publikasi (karyanya) di internet. Saya sih tetap begini saja. Yang penting tetap mengarang," katanya. Slamet mengulang lagi kata-katanya bahwa komposisi yang dia buat berdasar puisi-puisi Nirwan Dewanto belum rampung. Padahal sudah dikerjakan selama 4 tahun.

Slamet Abdul Sjukur itu sangat paham dengan siapa dia bicara. Dengan pianis dia bicara soal karya-karya piano, teknik main, dan sebagainya. Bahas orkestrasi untuk komponis dan arranger. Bahas makanan Jawa yang enak atau telur mata sapi dengan penyuka makanan enak. Dengan wartawan koran dia bertanya soal berita dan perkembangan bisnis media cetak.

"Oplah media cetak bagaimana?" tanya Slamet Abdul Sjukur. Lho, pertanyaan yang kena tapi juga sensitif dari kacamata bisnis. "Naik turun Mas Slamet. Kadang naiknya cepat sekali, lalu turun banyak, naik lagi, dst. Tergantung materi berita yang dimuat," jawab saya singkat.

Slamet juga kaget ketika diberi tahu bahwa majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya, yang berbahasa Jawa, masih terbit di Surabaya. "Oh ya? Saya kira PS sudah gak terbit. Dulu saya pembaca setia PS. Tapi sudah lama saya gak baca," katanya dengan suara halus nyaris berbisik khas SAS.

Obrolan tidak bisa diteruskan karena Pak Slamet harus istirahat. Dia butuh ketenangan menikmati musik Bach sembari menunggu tindakan medis selanjutnya. Saya makin erat memegang tangan kirinya. "Terima kasih Mas Hurek sudah ke sini," katanya perlahan. Tak ada lagi suara selain musik Bach. Saya pulang.

Esok paginya, Selasa 24 Maret 2015, saya baca SMS: Slamet Abdul Sjukur meninggal dunia! Selamat jalan sang maestro! Beristirahatlah dengan tenang bersama sang komponis agung di atas sana!

Saya pun lekas ke Keputran, rumah almarhum Slamet Abdul Sjukur di tengah kampung itu. Ada bendera simbol kematian di gang tak jauh dari masjid. Seorang bapak mengaku sudah dengar kabar kematian Slamet Abdul Sjukur tapi tidak tahu disemayamkan dan dimakamkan di mana. "Gak ada jenazahnya di sini," kata bapak asli Keputran.

Lalu di mana? Beberapa laki-laki dekat masjid pun tak tahu. Bahkan ada yang tak kenal nama Slamet Abdul Sjukur. "Slamet iku sopo," bisik seseorang yang mengira saya tak paham bahasa Jawa.

Saya pun menghubungi Jeanny via ponsel. Tiga kali baru nyambung. Katanya, jenazah disemayamkan di Jalan Pirngadi 3 Bubutan, dekat belokan gereja. Di rumah keluarga dekat almarhum, rumahnya dokter. Suwun, Jeanny.

Benar saja. Begitu banyak pelayat sudah berada di sana. Begitu banyak karangan bunga, termasuk dari Bu Risma, wali kota Surabaya. Gema terus menangis, sangat terpukul dengan kepergian sang maestro. Jeanny hanya termenung di dekat jenazah Slamet Abdul Sjukur bersama keluarga, kerabat, kenalan, murid almarhum.

Saya pun mendekati jenazah Slamet Abdul Sjukur yang ditutupi kain batik. Tak ada lagi musik Bach, tak ada lagi guyonan ringan, tak senyum lebar dari musisi berenggot yang tak henti bekerja hingga tutup usia itu. Visi Slamet Abdul Sjukur sejak 1957, Kujadikan Rakyatku Cinta Musik, harus dilanjutkan!

22 March 2015

Bio Paulin Resmi WNI dan Tionghoa

Berita pendek di koran pagi ini berjudul Bio Paulin Resmi WNI. Sambil menikmati kopi yang gak enak saat hujan rintik, saya senyum sendiri. Betapa cepatnya orang Kamerun itu, pemain Persipura, jadi warga negara Indonesia. Bagi pemain-pemain sepak bola asing, yang merumput di ISL, mengurus surat pindah warga negara justru lebih cepat ketimbang kita, yang asli pribumi Indonesia, mengurus KTP.

Betapa sulitnya mengurus KTP di Surabaya. Maka biasanya para pendatang hanya bisa mendapatkan kipem alias kartu penduduk musiman. Lebih mudah mengurus KTP di Sidoarjo, tetangganya Surabaya. Tapi ya tetap saja harus melalui prosedur yang rada jelimet. Kecuali lewat makelar alias calo!

Bio Paulin menjadi pemain bola kesekian yang dapat tiket WNI. Sebelumnya ada beberapa pemain asing yang jadi WNI macam Gonzales atau Victor Igbonefo. Pemain-pemain naturalisasi ini kemudian memperkuat tim nasional Indonesia di turnamen internasional. Hasilnya? Sama saja. Prestasi timnas kita jalan di tempat. Malah cenderung menurun.

Kalau dibandingkan timnas era 1990an dan 1980an, atau lebih bawah lagi, kayaknya timnas sekarang yang pakai pemain-pemain naturalisasi sejatinya tidak lebih baik. Pemain-pemain bola zaman dulu yang 100 persen pribumi, tanpa naturalisasi, cukup berprestasi di Asia Tenggara. Bahkan nyaris lolos ke Piala Dunia ketika dilatih Om Sinyo Aliandoe.

Setelah jadi WNI, Bio Paulin bilang sangat siap memperkuat timnas Indonesia. Ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia. "Saya bangga kalau bisa memperkuat timnas Indonesia," katanya dikutip koran.

Bio Paulin jelas mustahil memperkuat timnas Kamerun. Mereka punya segudang pemain top yang bermain di klub-klub elite Eropa. Pemain macam Bio Paulin ini di Kamerun sama mungkin masuk level 3 atau 4. Di Indonesia Bio masuk level 1 alias kelas timnas.

Membaca berita Bio Paulin ini, saya teringat orang Tionghoa di Indonesia yang sejak ratusan tahun lalu sudah tinggal di nusantara. Sudah menyatu dengan alam dan manusia Indonesia. Sudah tidak tahu lagi negeri leluhurnya yang bernama Zhongguo alias Tiongkok. Tapi ada orang Tionghoa yang baru diakui sebagai WNI pada usia 60 tahun, 70 tahun, bahkan 80 tahun.

Betapa sulitnya Tionghoa jadi WNI. Betapa mudahnya Bio Paulin dan Gonzales jadi WNI. Betapa panjang dan berlikunya orang Tionghoa mengurus surat jadi WNI. Padahal mereka tak pernah tercatat sebagai warga negara Tiongkok atau negara lain. Lahir di Indonesia, kakek neneknya lahir di Indonesia, tak pernah ke Tiongkok.

Saya juga ingat Susi Susanti, Alan Budikusuma, dan banyak pemain badminton hebat yang mengharumkan nama Indonesia. Susi dan Alan meraih emas olimpiade. Tapi mereka malah dipersulit menjadi WNI. Prosesnya begitu rumit. Sebelum akhirnya dapat status WNI. Orang-orang Tionghoa bahkan harus punya SKBRI. Surat apa pula itu?

Bandingkan prestasi Bio Paulin, Gonzales, atau Victor dengan Susi Susanti, Alan Budikusuma, Hendrawan dsb. Pernahkan pemain-pemain bola naturalisasi ini membawa timnas juara Asia? Juara olimpiade? Lolos ke piala dunia? Juara Asia Tenggara? Ehmm.... Jangankan juara Asia, sampai sekarang timnas Indonesia sulit mengalahkan Malaysia, Singapura, atau Filipina.

Kebijakan negara terhadap Tionghoa di Indonesia memang ruwet sejak tahun-tahun awal kemerdekaan, orde lama, dan paling diskriminatif saat orde baru. Setelah reformasi, kebijakan pewarganegaraan mulai lebih ramah terhadap Tionghoa. Tapi tetap tidak semulus pemain-pemain sepak bola asing itu.
Sent from my BlackBerry

21 March 2015

Pengungsi Sudan di Sidoarjo



Namanya Mohammed Muchtar, asli Sudan. Namun, pria 30 tahun ini biasa dipanggil Mister Black. Maklum, kulitnya hitam legam layaknya orang Afrika. Bukannya marah, Muchtar malah senang disapa si Hitam alias Mr Black. "No problem. Saya memang hitam," ujar Muchtar saat berbincang dengan saya di sebuah warung di Puspa Agro, Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo kemarin.

"Orang hitam, putih, kuning, merah... sama saja di hadapan Tuhan. Kenapa kita harus marah dipanggil si Hitam?" katanya.

Saat ini Muchtar bersama 16 warga negara Sudan menjadi penghuni Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Puspa Agro. Tak ada yang dikerjakan selain memasak, jalan-jalan di kompleks Puspa Agro, menonton televisi, khususnya siaran langsung sepak bola, dan menunaikan ibadah salat di masjid atau kamar masing-masing. Mr Black ini ternyata penggemar berat sepak bola Eropa. Dia hafal hampir semua pemain Afrika yang merumput di Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, atau Liga Prancis.

"Saya suka Samuel Etoo dan Didier Drogba. Tapi sekarang keduanya sudah tidak lincah lagi karena sudah tua," katanya seraya tersenyum. Dia juga mengaku mengetahui informasi kedatangan tim nasional Kamerun ke Sidoarjo pekan depan. Timnas Kamerun ini bakal berlaga melawan timnas Indonesia. "Mungkin saya nanti nonton di TV saja. Soalnya, kami nggak bisa keluar dari Puspa Agro. Saya juga tidak punya uang," katanya lantas tertawa kecil.

Muchtar mengaku heran karena selama ini pengunjung dan pedagang di Puspa Agro selalu menganggap dirinya warga negara Somalia. Padahal, letak kedua negara ini cukup jauh. Bahasa yang digunakan pun tidak sama. "Kami di Sudan pakai bahasa Arab, sedangkan orang Somalia punya bahasa nasional sendiri. Ada juga bahasa-bahasa lokal di Somalia."

Hanya saja, dia mengakui postur tubuh dan warna kulit mereka sama-sama hitam legam. Mereka juga sehari-hari lebih banyak makan jagung, bukan roti atau nasi. "Tapi saya sudah biasa makan nasi setelah berada di tempat pengungsian di Indonesia," katanya.

Berbeda dengan imigran pengungsi asal Vietnam atau Myanmar yang biasa nunut kapal-kapal kecil, Muchtar mengaku menggunakan pesawat terbang dari Sudan ke Asia Tenggara. Situasi politik dan keamanan yang tak menentu di negaranya, perang saudara berkepanjangan, membuat nyawanya
terancam. Maka, dia pun nekat pergi meninggalkan istri dan anak semata wayangnya. "Saya ingin mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat atau Kanada," katanya.

Muchtar dan kawan-kawan menganggap Indonesia sebagai negara transit yang paling ideal menuju ke negeri impian di Amerika Utara itu. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, rombongan asal Sudan ini langsung digiring ke posko karantina imigran di kawasan Bogor. Tiga bulan di sana, mereka dikirim ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau. "Satu tahun kami tinggal di Tanjungpinang sebelum dikirim ke Puspa Agro, Sidoarjo."

Dibandingkan tempat penampungan pengungsi di Tanjungpinang, Muchtar menilai kamar kosnya di Puspa Agro jauh lebih nyaman. Ada televisi, dapur, tempat tidur, lengkap layaknya di sebuah hotel melati. Mereka juga mendapat jatah bulanan dari IOM untuk membeli makanan, sabun, dan sebagainya. "Tapi tidak ada kejelasan kapan kami dikirim ke Kanada atau USA. Saya hanya bisa berdoa, minta kepada Allah, agar diberikan jalan yang terbaik," ujarnya perlahan.

Selama setahun lebih menjadi pengungsi di Indonesia, Muchtar mengagumi Indonesia sebagai negara yang aman, damai, dan harmonis. Begitu banyak perbedaan di Indonesia seperti warga Papua yang fisiknya sedikit banyak mirip Sudan, warga Riau atau Sumatera yang budayanya berbeda dengan Jawa Timur, atau Bali yang mayoritas beragama Hindu, tapi bisa hidup bersama dengan rukun. Sebaliknya, di negaranya, Sudan, terjadi perang saudara berkepanjangan meski sama-sama muslim, sama-sama kulit hitam, sama-sama makan jagung.

19 March 2015

Golkar, PPP, dan Akal Sehat Menkumham

Setiap malam kita melihat diskusi ata debat panas di tvOne soal Partai Golkar. Golkar versi Munas Bali memanfaatkan televisi milik ARB itu, yang juga ketua DPP Golkar versi Bali, untuk menyerang DPP Golkar versi Ancol yang dipimpin Agung Laksono. Suasana makin panas karena Yorrys dari kubu Ancol menangkis tudingan kubu ARB.

Bukan main si Yorrys ini. Jago debat dan jago berkelahi. Ngabalin yang biasanya jago koar-koar pun disikat si Yorrys di televisi. Tontonan yang lucu tapi menyebalkan buat rakyat Indonesia yang sedang susah karena harga-harga lagi naik. Termasuk harga beras yang naik tajam. Politisinya eker-ekeran cari posisi.

Kubu ARB tentu marah-marah sama Menkumham Yasonna Laoly asal Batak itu. Gugat sana sini, bahkan lapor ke mabes polri segala. "Menkumham itu bukannya membuat keputusan hukum tapi keputusan politis," kata ARB gusar. "Menkumham ini harus dievaluasi sama presiden. Malu dong kalau kalah dua kali di PTUN," kata Yusril, pengacara kubu ARB.

Begitulah. Hujatan demi hujatan juga dilancarkan pengurus pusat PPP versi muktamar Jakarta kepada menkumham. Sebab menkumham dinilai tergesa-gesa, dan ngawur, mengakui kubu muktamar Surabaya yang dipimpin Romi. Menkumham dianggap menyalahgunakan kekuasaan.

"Bagaimana pendapat Anda?" tanya seorang bapak di sebuah warung kopi di Pondok Mutiara Sidoarjo. "Golkar dan PPP kok dibuat kisruh seperti ini?"

Yang buat kisruh itu siapa? Yang bikin dua munas atau muktamar itu siapa? Yang bikin pengurus tandingan itu siapa? Apa menkumham? Saya balik bertanya. Orang Golkar dan PPP sendiri yang jadi biang kerok kekisruhan ini. Coba kalau munasnya tenang, sama-sama, kompak, solid... tentu menkumham tidak dibuat makan buah simalakama macam ini?

Makanya jangan salahkan menkumham atau pemerintah. Salahkan Golkar sendiri. Salahkah PPP. Kenapa kok mau pecah? Kenapa bikin dua muktamar? Bikin dua DPP? Kok menteri yang disalahkan.

Bapak asal Surabaya yang sudah karatan di Sidoarjo itu menyimak analisis politik saya yang enteng-entengan kelas warung kopi jalanan ini. Dulu ada pepatah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh! Kalau partainya tidak bersatu, suka eker-ekeran, ya tidak akan bisa teguh. Bakal gembos.

Sang menteri yang juga politisi, Yasonna, sebetulnya hanya memanfaatkan bola liar yang diumpan sendiri oleh orang Golkar dan PPP. Ibarat main sepak bola, blunder itu begitu nyata. Kiper sudah salah posisi, gawang kosong, tinggal diceploskan sedikit saja dan... goool! Menteri Yasonna hanya tinggal smash bola tanggung lawan yang ngawur. Siapa pun menterinya saya yakin akan melakukan langkah yang sama dengan Yasonna.

Adalah sangat bodoh kalau menkumham memilih mengakui Golkar versi Bali yang jelas-jelas pimpinan koalisi merah putih yang oposan. Atau mengakui kubu muktamar PPP Jakarta yang juga anggota KMP. Menkumham tentu memilih pengurus partai yang jelas-jelas mendukung pemerintah. Akal sehatnya memang begitu.

Bagaimana kalau menkumham kalah di pengadilan? Gak masalah. Yang jelas, PPP dan Golkar sudah tidak lagi sesolid dulu. KMP juga tidak akan segalak dulu. Pelajaran moral: bersatu kita teguh, bercerai kita jadi mainan menkumham!

18 March 2015

Slamet Abdul Sjukur Dirawat di Graha Amerta



Pagi tadi, 18 Maret 2015, saya membesuk Pak Slamet Abdul Sjukur (SAS) di Karangmenjangan alias RSUD dr Soetomo Surabaya. Sang maestro musik klasik dan kontemporer Indonesia ini tergolek lemah di Graha Amerta kamar 608. Syukurlah, saya dapat informasi dari Gema, pianis dan komponis muda, muridnya SAS, meski telat seminggu lebih.

Pak Slamet yang 30 Juni nanti genap 80 tahun terjatuh di rumahnya. Sendirian. Tulang di pangkal pahanya tergeser. Beliau berusaha merangkak selama dua jam untuk menjangkau HP-nya. Agar bisa mengabarkan kondisinya yang tak berdaya. Syukurlah, SAS ditolong oleh beberapa muridnya dan segera dibawa ke Karangmenjangan. Selalu ada mukjizat di tengah ketidakberdayaan.

Sang maestro asli Surabaya ini selalu antusias, penuh gairah, kaya humor cerdas, tak pernah berhenti mengajar. Itulah yang membuat dia terlihat kuat di usia 80 tahun. Suka guyon sama murid-murid pianonya di Surabaya. Itu juga yang saya rasakan pagi tadi, jam 10an. Pak Slamet tersenyum menyapa saya. Seakan tak merasakan sakitnya kaki kanan yang teramat sangat itu.

Ada sekitar delapan orang di kamar 608 yang mirip hotel itu. Keluarga dekat, keponakan Pak Slamet. Saat saya guyon sama Pak Slamet, sambil pegang tangan kirinya, mereka ikut tertawa. "Saya belum lama ini membaca Virus Setan," kata saya.

"Oh ya! Itu buku sudah lama banget. Saya sendiri tahunya setelah jadi buku," kata SAS tentang buku kumpulan artikelnya yang disunting Mas Erie itu.

Buku kecil ini banyak humor dan kritikan SAS tentang musik, pendidikan, sosial budaya, hingga perilaku orang Indonesia. SAS dari dulu melawan arus, anti mainstream, dengan menyebarkan apa yang selalu dia sebut sebagai virus setan. Bahan-bahan di buku itu saya jadikan pemancing guyonan dengan SAS. Biar gak suntuk di rumah sakit meskipun mewah.

"Saya lagi bikin komposisi dari puisi-puisi Nirwan Dewanto. Sudah empat tahun tapi gak jadi-jadi," katanya dengan suara halus nyaris berbisik.

"Dari dulu saya memang begitu. Gak bisa mengarang cepat. Soalnya saya harus mengajar di mana-mana. Cari duit," SAS menambahkan. Beliau sudah sering bilang begitu.

Yang saya salut adalah SAS tetap asyik diajak bicara apa saja, khususnya musik, meskipun kaki kanannya dalam keadaan terkancing. Guyonannya pun tetap enak. Tiba-tiba datang pembesuk lain, pasutri pemilik sekolah musik Kilang Surabaya yang terkenal itu. Bawa roti dan makanan kesukaan SAS. Saya lihat SAS senyum gembira.

Kemudian muncul Gema. Murid kesayangan SAS ini membawa naskah artikel musik untuk dibaca SAS. SAS memberikan koreksi dan masukan seperlunya. "Gema ini salah satu murid yang saya harapkan bisa melanjutkan PMS," katanya kepada saya. PMS tak lain Pertemuan Musik Surabaya yang didirikan SAS tahun 1957. Setiap bulan ada kuliah bersama tentang musik, diskusi, apresiasi musik, nonton bareng film musik.

Obrolan plus guyonan terhenti saat seorang pria berbadan subur masuk. Petugas fisioterapis dari RSUD. Mas itu mirip tukang urut sangkal putung tapi lebih ilmiah. Ada ilmu soal otot, tulang, dsb. SAS tak bisa guyon lagi. Aduh, aduh... Beberapa kali SAS menjerit ketika latihan menggerakkan tulang dan otot. Sekitar 40 menit Pak Slamet dikerjain Mas Fisioterapis.

"Mungkin saya di sini sampai dua minggu lagi. Gak bisa lama-lama. Saya gak punya uang," katanya ketika saya pamitan.

Bagaimana kalau belum sembuh? "Kita bawa ke sangkal putung di Semarang," jawab salah satu kerabat sang maestro.

Kita doakan semoga Pak SAS cepat sembuh agar PMS bisa ciamik lagi. PMS tanpa SAS pasti bukan PMS!