21 July 2014

Saatnya Prabowo ikhlas dan legawa

Terlalu lama rakyat dibuat tegang oleh manuver politisi usai pencoblosan 9 Juli 2014. Elite politik, khususnya Prabowo Subianto dan orang-orang dekatnya, kurang legawa untuk mengakui kemenangan lawan meskipun datanya sudah jelas.

Kalau di negara-negara lain yang sudah maju demokrasinya, paling lama dua hari setelah pencoblosan sudah ada ucapan selamat dari calon yang kalah. Salaman, ngopi, makan bersama, dan memberikan dukungan kepada sang pemenang. Namanya kompetisi ya pasti ada yang kalah alias kurang suara, begitu istilah Megawati Soekarnoputri.

Yang kurang suara atau kalah suara itu ya harus tahu diri. Cepat-cepat ucapkan selamat karena data perolehan suara tidak mungkin diubah. Kecuali oleh lembaga-lembaga survei dan penyelenggara quick count abal-abal itu.

Sayang sekali, suasana kompetisi yang sportif, fair play, ala Piala Dunia di Brasil itu tidak terlihat. Dan itu sejak beberapa jam usai pemungutan suara. Mengandalkan quick count yang kredibilitasnya diragukan, yang ditopang banyak televisi milik tim sukses, hasil pilpres versi quick count beneran tidak diakui. Malah mengklaim sama-sama menang!

Mana ada pertandingan bola yang sama-sama menang? Kalau seri ya harus adu penalti. Harus mengakui kemenangan lawan meskipun kalah sangat-sangat tipis.

Sayang sekali, di Indonesia kali ini sikap legawa itu tidak muncul. Prabowo pantang menyerah, tetap merasa menang. Dia malah menuduh 8 lembaga quick count yang hasilnya memenangkan Jokowi sebagai lembaga komersial yang tidak bisa dipercaya. Quick count yang dipecaya ya 4 lembaga yang memenangkan dirinya.

Satu minggu berlalu. Hasil pilpres yang asli alias real count sudah sangat jelas. Bahwa Prabowo kalah suara sama Jokowi. Beda suaranya jutaan, bukan ratusan ribu. Tapi tetap saja Prabowo masih merasa menang. Malah dia dan timnya merasa dicurangi. Sehingga minta pilpres diulang di beberapa tempat.

Saat ini, 21 Juli 2014, sehari sebelum pengumuman resmi dari KPU pun Prabowo masih merasa belum kalah juga. Kalimat-kalimatnya yang kita baca di media online memperlihatkan bahwa capres nomor 1 ini tidak ikhlas kalau Jokowi yang menang. Padahal, rekapitulasi suara tingkat nasional sudah mendekati final. Dan sudah sangat jelas kalau Jokowi yang unggul.

Lantas, kapan Prabowo merasa legawa, berbesar hati, mengakui keunggulan lawan? Yah, mudah-mudahan setelah pengumuman resmi dari KPU, bekas danjen Kopassus ini mau menelepon Jokowi untuk mengucapkan selamat atas kemenangan capres nomor 2!

Inilah yang ditunggu-tunggu rakyat yang sudah lelah dengan kampanye hitam sejak Mei, Juni, dan awal Juli sebelum coblosan. Rakyat Indonesia, kecuali Prabowo dan elite-elite politik pendukungnya, sudah capek dengan ketegangan politik yang sudah terlalu lama sejak pemilu legislatif 9 April 2014.

Apakah hasil pilpres yang nanti diumumkan KPU bakal digugat ke Mahkamah Konstitusi? Melihat sikap dan bahasa tubuh Prabowo, kemungkinan besar akan dibawa ke MK. Artinya, kita, rakyat biasa, harus siap-siap menyaksikan akrobat politik Prabowo dan timnya hingga satu atau dua bulan ke depan.

Yah, mudah-mudahan di bulan puasa ini, yang sudah masuk dekad kedua alias likuran, Pak Prabowo mendapat pencerahan agar bisa memberikan kesejukan kepada bangsa Indonesia. Dengan tidak menggugat hasil pilpres yang ditetapkan KPU.

Yang justru harus digugat adalah 4 lembaga survei karena membuat quick count dengan metodologi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salam damai!


~ kirim pake hp lawas ~

18 July 2014

Mengapa murid-murid Slamet Abdul Sjukur (hampir) semuanya Tionghoa



Sudah lama Slamet Abdul Sjukur dirasani teman-temannya sesama wong Jowo karena dianggap terlalu dekat dengan orang Tionghoa. Hanya mengajar anak-anak Chinese saja. Seakan-akan lupa kulitnya sebagai wong Jowo yang dulu dididik di Taman Siswa, lembaga pendidikan yang sangat menekankan kejawaan.

Saya kebetulan sering bertemu Slamet, komponis, pianis, guru piano, budayawan, kolumnis dsb, yang baru genap 79 tahun itu. Memang benar Mas Slamet (dia gak suka dipanggil pak atau eyang, meski usianya mau masuk 80) lebih banyak berkumpul dengan orang Tionghoa. Sebab hampir semua kursus atau sekolah musik klasik di Surabaya itu murid-muridnya memang Tionghoa.

Orang Jawa atau etnis pribumi lain ada tapi satu dua saja. Saya hanya menyimpan pertanyaan berbau SARA itu dalam hati karena gak enak. Memangnya kenapa kalau murid-muridnya Mas Slamet itu semuanya Tionghoa? Bukankah mereka membayar?

Akhirnya, ketemu juga jawaban Mas Slamet di biografi singkatnya. Bapaknya musik kontemporer ini mengatakan, "Murid saya 98% adalah orang Tionghoa, hanya satu murid saya yang orang  Jawa. Orang Tionghoa itu pada umumnya kaya sekali."

Masalah lain, kata Slamet, adalah orang Jawa dan suku-suku lain di Indonesia tidak sanggup bekerja secara konsisten. "Pernah ada lima pemain gitar yang berkeinginan studi komposisi pada saya. Karena mereka tidak punya uang, maka saya memberikan beasiswa, selama 2 sampai 3 bulan. Pada awalnya berjalan mulus.

"Kemudian tiba-tiba muncul aneka gangguan. Satu orang punya urusan ini, yang lain urusan itu, satu orang ada masalah ini, yang lain masalah itu dan sebagainya," katanya.

"Maka saya sangat senang mengajar orang Tionghoa karena mereka sangat materialistik. Mereka minta sesuatu yang konkret buat uangnya. Mereka ingin melihat terjadi sesuatu, dan kapan-kapan memang ada hasil-hasil yang amat memadai."

Wah, wah...

Begitu ternyata pengalaman Slamet Abdul Sjukur mendidik para pemusik di tanah air sejak 1970an. Suka tidak suka, harus diakui bahwa apresiasi orang Tionghoa terhadap musik klasik atau musik sekolahan yang dikembangkan Mas Slamet memang jauh lebih tinggi ketimbang kita yang pribumi. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Saya sering mengajak beberapa kenalan yang bukan Tionghoa untuk menghadiri apresiasi musik yang dipandu Slamet Abdul Sjukur bernama PMS: Pertemuan Musik Surabaya. Harus bayar untuk konsumsi dan kas organisasi. Begitu tahu kalau harus bayar tiket, mereka tidak mau ikut. Bahkan kalau digratiskan pun belum tentu orang kita yang pribumi tertarik.

Karena itu, tidak heran nama Slamet Abdul Sjukur sangat terkenal di kalangan Tionghoa ketimbang pribumi. Orang Tionghoa sangat senang kalau anak-anaknya kursus piano, komposisi, orkestrasi, kontrapung dsb pada pria yang tetap segar di usia 79 itu.

Bagi orang Tionghoa, membayar ongkos untuk guru musik klasik sekaliber Slamet Abdul Sjukur, yang pernah tinggal dan berkarya selama 14 tahun di Prancis, tidak ada apa-apanya dibandingkan manfaat yang dipetik sang anak. Pendidikan musik sejak dini memang sejak dulu jadi investasi di kalangan Tionghoa.

Suatu ketika Slamet Abdul Sjukur bercerita kepada saya dengan nada guyon tapi serius. Dia mau bikin kor, paduan suara, yang semua penyanyinya bersuara sengau. Masuklah ia ke pasar dan kampung-kampung. Ada beberapa orang pribumi yang memenuhi kriteria sengau itu. Kemudian diajak latihan.

Ternyata paduan suara spesial itu tidak jalan karena penyanyi-penyanyinya sulit diajak serius. Guyonannya kebablasan. Satu per satu mrotol dan akhirnya buyar.

Aha, sekarang saya baru sadar bahwa orang-orang yang bukan Tionghoa itu, mengutip kata-kata Slamet Abdul Sjukur, "tidak sanggup bekerja secara konsisten."

Andai kata waktu itu Mas Slamet memburu tenglang-tenglang sengau di Kembang Jepun atau Pasar Atum mungkin paduan suara unik itu bisa bertahan lama.


~ kirim pake hp lawas ~

Surabaya-Sidoarjo tambah macet

Lalu lintas dari Surabaya ke Sidoarjo dari dulu sudah sangat padat. Ini karena lebar jalannya masih sama dengan tempo doeloe, sementara mobil dan motor terus bertambah. Pembuatan jalan baru atau frontage road masih lama.

Akhir-akhir ini saya merasakan kemacetan yang makin parah. Bahkan, saat libur, akhir pekan pun lalu lintas tidak lancar. Kemacetan makin parah kalau ada truk atau kendaraan berat yang mogok. Atau pas banjir yang membuat jalan tergenang.

Kemarin (17 Juli 2014), kemacetan Surabaya-Sidoarjo mencapai titik paling ekstrem. Gara-gara tabrakan antara kereta api dan truk pengangkut crane di Banjarkemantren, Buduran, yang menewaskan masinis dan seorang pengendara sepeda motor. Macet pagi itu benar-benar parah.

Bayangkan, jarak yang hanya 500 meter butuh waktu sekitar 70 menit. Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali. Banyak warga yang stres, kemudian menggeber gas atau membunyikan klakson berkali-kali. Toh tetap saja macet karena petugas masih sibuk mengeluarkan kendaraan yang penyok di belokan ke arah lingkar timur.

Di tengah jebakan macet cet-cet itu, saya pun merenung. Mencoba mengambil hikmah. Bahwa cepat atau lambat, bisa 10 atau 15 tahun lagi, Surabaya dan Sidoarjo akan macet ekstrem seperti ini. Jakarta sudah lama mengalaminya. Jutaan liter BBM terbuang sia-sia karena kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

Pemkot Surabaya dan Pemkot Sidoarjo harus duduk bersama membahas masalah jangka panjang yang sangat urgen ini. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri seperti sekarang. Lihat saja, ketika frontage road Surabaya dari Jemursari ke bundaran Waru sudah dipergunakan, frontage road di wilayah Sidoarjo belum jadi. Bahkan masih dalam tahap pembebasan tanah.

Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan atau bottle neck di dekat pabrik paku, Kedungrejo, Waru, samping Terminal Bungurasih. Jalanan di wilayah Sidoarjo, khususnya Kecamatan Gedangan, begitu penuh karena ada 5 titik macet sekaligus.

Jalan-jalan di Surabaya malah jauh lebih lancar ketimbang Sidoarjo. Kecuali dari perbatasan Sidoarjo-Surabaya di bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani. Jalan-jalan lain di Surabaya lantjar djaja.

Kelihatan Sidoarjo kurang mengantisipasi ledakan penduduk dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang luar biasa pesat. Sidoarjo perlu studi banding ke tetangga terdekatnya: Surabaya. Tidak perlu jauh-jauh ke Singapura, Eropa, atau Tiongkok.

~ kirim pake hp lawas ~

15 July 2014

Jerman Mandul, Argentina Tumpul

Begitu banyak puja-puji untuk Jerman yang memenangi Piala Dunia 2014 di Brasil. Pujian itu mengalir deras sejak Philip Lahm dkk mempermalukan tuan rumah dengan skor 7-1. Tapi benarkah tim nasional Jerman segemilang itu?

Lihatlah partai final lawan Argentina kemarin. Hingga 90 menit kedudukan masih 0-0. Sangat membosankan! Sering saya bilang menonton bola selama 90 menit tanpa gol  itu sangat menderita. Apalagi 120 menit.

Selama waktu normal, Jerman ternyata kesulitan membobol gawang Argentina. Di babak final ini permainan Argentina sangat efektif meredam Jerman meski kehilangan ketajaman di depan gawang. Kelihatan sekali kalau Jerman mustahil mengulang pesta 7 gol ke gawang tango dan sepertinya kehilangan ide.

Justru Argentina punya 3 peluang emas, setidaknya dua, yang seharusnya jadi gol. Higuain tinggal berhadapan dengan kiper tapi sepakannya melenceng. Padahal, pemain Napoli ini tidak dikawal pemain lawan. Kelihatan sekali kalau kualitas Higuan ini medioker alias di bawah standar striker kelas dunia.

Sebagai pemain Amerika Latin, Higuan seharusnya menggoreng bola, meliuk-liuk, kemudian memperdayai kiper. Teknik lama ala Maradona, Romario, Valdano, Bebeto, dan nama-nama besar lawas itu tidak dilakukan si Higuan. Ya jelas saja tidak akan masuk.

Sebagai pendukung Argentina, malam itu, saya jengkel bukan main dengan Higuain yang menyia-nyiakan peluang emas. Bahkan lebih dari emas. Argentina pasti kalah kalau Higuain masih dipertahankan, kata saya dalam hati.

Higuain akhirnya diganti oleh Palaccio. Orangnya masih sangat muda, tapi sudah botak, segar, dan semangat. Tadinya saya mengira dia bisa memanfaatkan peluang emas yang tidak bisa dilakukan Higuain.

Peluang emas itu akhirnya tiba di kaki Palaccio. Lolos dari hadangan lawan, si botak pun tinggal berhadapan dengan kiper Neuer. Hasilnya sama saja: mengecewakan! Sontekannya melenceng di luar gawang. Padahal posisi Neuer sudah salah.

Begitu masuk perpanjangan waktu, final Piala Dunia sudah selesai. Argentina kalah fisik karena sebelumnya sudah terkuras 120 menit di semifinal plus adu penalti. Pemain-pemain Jerman punya waktu istirahat satu hari lebih lama. Betapa susahnya Messi dkk merobek tembok Berlin dengan stamina yang melorot.

Maka, gol kemenangan Goetze sebetulnya tinggal menunggu waktu saja. Kok bukan 3-0 atau 4-0? Buat apa banyak gol kalau satu gol saja sudah juara dunia?

Kesimpulannya, final Piala Dunia 2014 ini tidak sedahsyat final 24 tahun lalu juga Jerman vs Argentina. Kita bisa saksikan rekamannya di youtube. Di era keemasan Maradona itu skornya 3-2 untuk Argentina.
Waktu itu Jerman Barat memang kalah tapi permainannya luar biasa. Maradona yang jenius didampingi pemain-pemain kelas dunia macam Valdano, Brown, Burruchaga, atau Rugeri berhasil memukau dunia. Jerman Barat pun tak kalah ganasnya. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah.

Jerman 2014, sang juara dunia, ternyata bukan tim yang sangat super. Tim yang tidak mampu mengalahkan Amerika Serikat dan Argentina selama 90 menit.

Oh ya, saya sebetulnya sudah lama mengkritik tambahan waktu atau extra time 30 menit. Terlalu lama. Waktu normal 90 menit itu pun sudah sangat lama. Bandingkan dengan cabang olahraga lain seperti basket atau voli. Apalagi atletik atau anggar.

Kalau sudah 90 menit skor masih sama, ya, distop. Langsung adu penalti saja. Tapi, pada menit ke-75 wasit harus mengingatkan kedua tim bahwa waktunya tinggal 15 menit. Segeralah bikin gol. Kalau tidak, silakan main judi lewat adu penalti.

Akan lebih bagus lagi kalau sepak bola itu dibuat 4 game. Cukup 4 x 20 menit. Bukan 2 x 45 menit kayak sekarang. Dengan begitu, pelatih dan pemain bisa membahas taktik, istirahat, dan melakukan evaluasi.

胡rek泗水

11 July 2014

Argentina vs Jerman di final Piala Dunia 2014

Argentina belum meyakinkan meski ada si jenius Messi. Mainnya mulai kompak tapi tidak tajam. Lawan Belanda, yang di bawah form, Messi dkk tak bisa berbuat banyak. Masih bagus bisa lolos ke final karena adu penalti.

Jerman menang besar 7-1 lawan Brasil. Tapi tidak bisa dibilang tim panser ini luar biasa. Sebab, Brasil memang lagi berantakan di belakang. Skor yang jomplang jelas memperlihatkan kualitas permainan yang tidak elok. Lain ceritanya kalau skornya 7-6 atau 7-5 atau 7-4.

Kita tentu ingat bagaimana Jerman kesulitan mengalahkan USA, tim yang dianggap pupuk bawang. Selama 90 menit tidak ada gol. Bahkan Jerman beberapa kali nyaris kebobolan. Karena itu, Jerman belum bisa disebut uber allez alias di atas yang lain.

Jerman punya banyak kelemahan. Pelatih Sabela dari Argentina pasti sudah tahu cara meredam operan-operan pemain Jerman dan tusukan ke gawang Romero. Cukup melihat rekaman pertandingan Jerman vs USA, timnas Argentina sudah tahu titik lemah Jerman.

Yang pasti, semifinal kedua kemarin sangat membosankan. Nonton pertandingan bola tanpa gol selama 90 menit + 30 menit jelas sangat menyiksa. Lebih menyiksa lagi melihat pemain-pemain Belanda dan Jerman sudah keok dan terkesan menunggu adu penalti.

Saya paling malas melihat pertandingan bola yang harus ditentukan dengan adu tendangan penalti. Tidak tega melihat pemain-pemain yang kalah. Makanya, begitu ketahuan hasil adu penalti, saya selalu langsung mematikan televisi.

Tapi mau bagaimana lagi? Siapa suruh tidak menang ketika disediakan waktu 120 menit?

Dus, ada baiknya Belanda disingkirkan Belanda lewat adu nasib tendangan 12 pas. Agar lain kali harus menang di waktu normal. Agar Louis van Gaal tidak pongah seakan-akan dialah raja taktik, pelatih terbaik di dunia.

Pertandingan final Argentina vs Jerman naga-naganya tidak akan banjir gol. Kedua kesebelasan akan saling kunci. Sulit mengulangi final Argentina vs Jerman yang luar biasa pada 1986 ketika tim tango diperkuat Diego Maradona dan Jerman punya striker maut macam Rummenige.

Jangan lupa, sepanjang sejarah Piala Dunia belum pernah ada tim Eropa yang juara di Amerika Latin. Argentina yang medioker, kecuali Messi yang super, berpeluang besar mengangkat trofi.


胡rek泗水

Quick count abal-abal rusak demokrasi



Sedikit banyak saya tahu metode hitung cepat alias quick count yang sekarang jadi industri pemilu di Indonesia. Di awal reformasi saya pernah ikut lokakarya tentang pemilu yang diadakan beberapa NGO dan universitas. Waktu itu istilah quick count belum dikenal masyarakat. Media massa pun belum tahu.

Memang tidak gampang memahami metodologi quick count kalau tidak pernah kuliah statistik. Saya ingat betul di kampus Ubaya, Ngagel, kami diberi wawasan tentang PVT: parallel vote tabulation. Dengan PVT ini, maka hasil pemilu sudah langsung diketahui beberapa jam sesudah pencoblosan di TPS. Hasilnya hampir pasti akurat asalkan sampelnya tepat. Baik jumlah, sebaran, proporsi.

"PVT ini dipakai di Filipina untuk mengontrol pemilu," kata dosen Ubaya yang saya lupa namanya, tapi masih ingat wajahnya. Beberapa kali dia memberi brifing khusus kepada saya di Ubaya.

Betul. Hasil PVT yang di Surabaya diolah di Ubaya ini cocok dengan hasil pemilu legislatif versi KPU. Pilpres langsung belum ada saat itu. Pak dosen itu optimistis PVT bakal menjadi metode efektif dari pemilu ke pemilu di Indonesia.

Betul memang. PVT ini kemudian dikenal luas dengan istilah quick count. Diperkenalkan di Metro TV oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang belum pecah dan masih sendirian bikin hitung cepat. Quick count itu secara akurat memprediksi hasil pemilu 2004 dan pilpres yang dimenangi SBY.

Sekarang ini quick count sudah pasaran. Istilah PVT malah tidak dikenal, kecuali orang-orang statistik yang mengolah data di dapur lembaga survei. Pilpres 9 Juli 2014 kemarin malah melibatkan 12 penyelenggara quick count.

Mengapa 8 lembaga quick count hasilnya Jokowi-JK menang, sedangkan 4 lembaga lain sebaliknya?

Hehehe.... Jangan lupa kata-kata almarhum Gus Dur tentang intelektual tukang. Intelektual atau lembaga survei yang mengorbankan idealisme dan metodologi ilmiah karena punya kepentingan dengan user-nya. Maju tak gentar membela yang bayar! Cendekiawan sejati harusnya maju tak gentar membela yang benar (secara ilmiah dan objektif).

Seandainya 12 lembaga itu menggunakan sistem PVT secara murni dan konsekuen (ini jargon khas Orde Baru), bisa dipastikan hasil quick count tidak akan jauh berbeda. Artinya, pasangan capres-cawapres yang menang itu pasti sama. Yang beda hanya persentasenya. Itu pun range-nya tidak akan banyak.

Begitu kira-kira kuliah gratisan tentang PVT alias quick count yang saya ikuti di Ubaya dulu. Kalau sampai berbeda, dan kemudian hanya diumumkan di televisi-televisi pendukung Prabowo-Hatta, pasti ada uang di balik angka! Pasti ada hidden agenda! Pasti ada kepentingan sebagai intelektual tukang untuk maju tak gentar membela yang bayar itu tadi.

Saya baca di koran pagi tadi bosnya Lembaga Survei Nasional (LSN) yang memenangkan Bowo-Hatta mengatakan, tunggu saja sampai real count atau hitungan resmi KPU tanggal 22 Juli mendatang. Akan kelihatan mana-mana saja lembaga survei yang akurat atau tidak.

Pernyataan ini juga sekaligus mendelegetimasi lembaga-lembaga atau industri quick count di Indonesia. Kenapa? Ketika PVT diperkenalkan di Indonesia, kemudian populer dengan nama quick count, tujuannya untuk mengawal hasil pemungutan suara. Agar suara rakyat tidak dimanipulasi oleh KPU dan pemerintah.

Kok sekarang jadi terbalik? Hasil resmi KPU jadi pengontrol lembaga-lembaga quick count. Jangan-jangan pimpinan LSN itu tidak paham atau lupa latar belakang quick count di era Marcos di Filipina, yang kemudian diterapkan juga di Indonesia itu.

Kasihan lembaga-lembaga quick count yang kredibel, jujur, menjaga integritas ilmiah. Hanya karena ulah beberapa lembaga survei abal-abal, quick count tidak lagi dipercaya masyarakat. Dianggap memecah belah masyarakat.

胡rek泗水

09 July 2014

Tionghoa dan Tiongkok, Gitu Aja Kok Repot!

Pagi ini, 9 Juli 2014, menjelang pencoblosan, saya membaca surat pembaca di Kompas. Ditulis Eliza dari Jember, mengaku keturunan Fujian alias Hokkian, dia bingung dengan istilah TIONGKOK pengganti CHINA. Kita tahu beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia secara resmi mengganti istilah CHINA dengan TIONGKOK demi menjaga hubungan baik dengan Tiongkok dan warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Eliza menulis: "Sebaiknya kita menggunakan China daripada Tiongkok karena pemerintah RRC pun menyebut stasiun televisi negaranya secara resmi China Central Television."

Pendapat Eliza ini sekali lagi mencerminkan pemahaman sejarah yang sangat kurang di kalangan generasi muda Tionghoa. Khususnya yang lahir di atas tahun 1980. Ini juga menunjukkan bahwa warga Tionghoa sendiri banyak yang tidak mengikuti isu-isu rasial di tanah air sejak prakemerdekaan, orde lama, dan khususnya orde baru.

Maka, ketika para tokoh Tionghoa di Indonesia, yang hampir semuanya alumni sekolah-sekolah Tionghoa, memperjuangkan agar kata CINA tidak dipakai, tapi diganti TIONGHOA, para anak dan cucu mereka bingung. Mestinya yang bingung itu orang Jawa, Sunda, Batak, Flores, dan sebagainya yang tidak mengalami politik diskriminasi orde baru.

Kok orang Tionghoa, apalagi keturunan Hokkian, yang bingung? Saya tidak perlu mengulang lagi tulisan tentang alasan-alasan mengapa para pemuka Tionghoa menolak CINA (tanpa H) dan lebih suka istilah Tionghoa dan Tiongkok. Di internet pun sudah banyak ditulis.

Yang jadi masalah ya itu tadi. Di kalangan Tionghoa sendiri ternyata banyak yang tidak sreg dengan kata Tionghoa dan Tiongkok. Yah, namanya juga demokrasi, siapa pun bebas menggunakan kata atau istilah apa saja yang disukai. Asal tidak melukai atau melecehkan orang lain.

Kasus kata Tionghoa dan Tiongkok ini mengingatkan saya pada Khonghucu. Sampai sekarang tidak semua orang Tionghoa di Indonesia menganggap Khonghucu itu tidak memenuhi syarat sebagai agama. Karena itu, tidak tepat dijadikan agama resmi keenam di Indonesia. Ada beberapa tokoh Tionghoa yang tidak bosan-bosannya ceramah untuk mementahkan Khonghucu sebagai agama.

"Aneh wong Tionghoa iku. Banyak yang ngotot supaya Khonghucu dijadikan agama resmi kok setelah diterima pemerintah, sebagian lagi menjegal. Kita jadi bingung apa sih maunya orang Cina itu?" komentar seorang teman ketika mengikuti seminar di Surabaya beberapa waktu lalu.

Kalau dipikir-pikir, paling enak kita mengikuti sikap Gus Dur. Kalau menganggap Khonghucu agama ya silakan, kita hargai dan akui. Tapi, kalau sampean menganggapnya sebagai guru agung kebijaksanaan dan moralitas ya mboten nopo-nopo.

Kalau Eliza tidak terima Tiongkok dan Tionghoa, ya, silakan pakai istilah yang Anda sukai. Gitu aja kok repot!
胡rek泗水

08 July 2014

Kaset masih ada di Plaza Surabaya

Sambil menunggu kenalan di kedai kopi Excelso, Plaza Surabaya, siang tadi, 8 Juli 2014, saya mampir ke konter musik. Dekat banget dengan Excelso. Dulu saya sering membeli kaset, dan belakangan CD, ketika masih sangat gila musik.

Sudah lama sekali saya tidak mampir. Saya kira sudah tutup seperti Aquarius, toko kaset dan CD, yang dulu paling ramai di Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Maklum, digitalisasi musik, online, Youtube, sudah lama membuat industri musik terpukul. Banyak produser yang stres.

Kaset yang pakai pita itu saya kira sudah kedaluwarsa. Alias tidak dijual lagi di toko. Eh, ternyata saya keliru. Di dekat kafe Excelso ini kaset-kaset ternyata masih banyak. Memang tidak sebanyak CD/ VCD dan sejenisnya. Tapi terbentang cukup panjang.

"Kaset-kaset itu punya penggemar tersendiri," kata penjaga toko yang ramah. "Tapi memang tidak sebanyak CD," begitu mbak yang murah senyum itu menambahkan.

Kalau saya perhatikan kaset-kaset yang dijual di toko ini sebagian besar kaset lawas. Jenisnya macam-macam, mulai pop manis ala Dian Piesesha, band-band rock-nya Log Zhelebour, hingga dangdut dan kasidah.

Ada kaset baru? "Ada," jawab si mbak ini.

Saya pikir-pikir kaset-kaset yang dijajakan di pusat belanja di samping Kalimas ini lebih sebagai barang cuci gudang. Sekaligus untuk koleksi penggemar musik. Sebab, masa bakti kaset di industri musik memang sudah selesai seiring masifnya digitalisasi rekaman di seluruh dunia.

Mungkin 10 atau 20 tahun lagi kaset-kaset itu akan menjadi barang antik yang diburu para kolektor. Sama dengan piringan hitam yang sekarang sudah tak lagi dikenal masyarakat.

Saya sendiri sudah lama tidak memutar kaset karena tape-nya rusak berat. Kasihan pitanya mbulet dan putus kalau dipaksakan. Saya malah lebih sering mendengarkan musik dari komputer atau laptop yang sudah disimpan dalam file mp3.

Kalau disimak sungguh-sungguh, musik yang dihasilkan kaset terasa berbeda dengan CD/VCD. Apalagi kaset-kaset super lawas yang proses rekamannya benar-benar analog.

Yah, semuanya kembali ke selera juga. Samalah dengan orang-orang lama yang memuji kualitas sound LP atau piringan hitam setinggi langit.
胡rek泗水

07 July 2014

Prabowo vs Jokowi Bikin Sawah Baru

Debat terakhir capres pada 5 Juli 2014 paling menarik dan menggelitik. Saya geli sendiri melihat Hatta Rajasa menyebut Piala Kapaltaru, padahal maksudnya Adipura. Jokowi pun menjawab sesuai bunyi pertanyaan sang cawapres. Sementara Pak Hatta belum juga sadar bahwa yang dia maksudkan itu Adipura.

Pak Hatta pun menyerang Jokowi. Katanya, sewaktu memimpin Solo dan Jakarta, Jokowi tidak beroleh penghargaan. Hehehe... Kalau Pak Hatta jeli, setidaknya membaca koran, ia akan tahu bahwa tahun 2014 ini Jakarta memborong empat Piala Adipura untuk kategori metropolitan. Bersama Kota Surabaya tentu saja.

Bagi saya, yang paling menggelitik itu soal pembukaan sawah baru. Capres Prabowo, yang juga ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), ngotot akan membuka 2 juta hektare sawah baru. Pak Bowo rupanya belum membaca platform Jokowi-JK yang juga akan berusaha memperluas lahan untuk tanaman pangan sekitar 1 juta hektare.

"Apa tanggapan Pak Jokowi tentang program kami membuka sawah baru dua juta hektare," Prabowo bertanya.

Jokowi pun menjawab. "Buka sawah baru itu mudah. Tapi airnya dari mana? Kita harus lihat dulu persediaan airnya," begitu kira-kira komentar Jokowi.

Bagi orang kota, khususnya di Jakarta atau Surabaya, yang asing dengan sawah, irigasi, ladang, atau pertanian, topik bahasan sawah baru ini tidak menarik. Tapi, bagi orang luar Jawa, justru ini yang paling menarik. Dan Jokowi selain sangat paham masalah sawah + irigasi, secara telak mengangkat kegagalan proyek sawah jutaan hektare di luar Jawa sejak Orde Baru sampai sekarang.

Membuka lahan itu mudah. Babat alas atau menebang pohon di hutan gampang. Tapi pengairannya bagaimana? Bendungan air, saluran primer, sekunder, tersier? Bagaimana menjamin irigasinya lestari seperti yang dibangun di Jawa Timur sejak era Prabu Airlangga dan dilanjutkan pemerintah Hindia Belanda?

Belum lagi masalah tingkat keasaman atau pH tanah. Tanah di luar Jawa itu berbeda dengan tanah di Jawa yang sangat gembur dan subur. Di Jawa Timur misalnya, tanpa dipupuk pun tanaman-tanaman hias di depan rumah akan tumbuh subur, hijau, dan membesar.

Jalan raya menuju Bandara Juanda di Sedati, Sidoarjo, sekarang ini sudah jadi hutan trembesi, angsana, dan tanaman hias lain. Padahal, lima tahun lalu jalan raya itu masih terlihat kosong. Selain dirawat, tanah di Jawa punya nutrisi atau unsur hara yang bagus. Apalagi dengan adanya abu vulkanik gunung berapi yang sering erupsi seperti Kelud atau Semeru atau Ijen.

Nah, di Kalimantan itu tanahnya tanah gambut. Tidak cocok untuk tanaman padi (bukan beras seperti istilah Prabowo di debat terakhir itu). Harus ada pengolahan khusus untuk menetralkan pH yang sangat asam. Ini juga yang menyebabkan program sawah sejuta hektare gagal pada zaman Pak Harto.

Minggu lalu saya bertemu Subowo, mantan transmigran asal Sidoarjo di Krian. Bowo dan istri plus tiga anaknya balik kucing ke Jawa karena lahan yang disiapkan pemerintah di Halmahera Utara tidak bisa diharapkan. "Airnya nggak ada. Gimana kita mau olah sawah," kata laki-laki yang sekarang mengurusi bangunan lama aset pemkab di Krian.

Karena itu, ketika melihat Prabowo getol membahas sawah dua juta hektare dan Jokowi menimpali dengan "dari mana airnya", saya langsung ingat Bowo di Krian. Pastikan dulu airnya! Begitu penegasan Jokowi. Kalau ada air, punya potensi untuk irigasi, baru bikin sawah.

Jangan dibalik. Buka lahan 2 juta atau 3 juta hektare, tapi irigasinya tidak jelas. Omongan Jokowi yang rilek, sederhana, khas wong cilik di lapangan, ini sangat mengena. Prabowo juga bilang dia sudah tentu tahu, apalagi ketua HKTI, bahwa sawah pasti butuh pengairan intensif.

Tapi, yang jelas, kelihatan sekali dalam debat di televisi bahwa pernyataan Jokowi selalu bersifat how to do. Sangat konkret dan mengena. Khas seorang pelaksana atau eksekutor. Inilah yang hilang selama kepemimpinan SBY, khususnya di periode kedua.