20 May 2019

Cebong vs Kampret Rusak Harmoni

Politik jadi panglima di NKRI pasca-Soeharto. Khususnya setelah ada pemilihan langsung. Khususnya setahun belakangan. Media sosial penuh dengan politik. Sebagian besar hoax. Ujaran kebencian merajalela.

"Tak ada lagi KITA. Pilihan cuma jadi KAMPRET atau CEBONG. Ekstrem vs ekstrem," tulis Ketua Umum Peradi Juniver Girsang di koran pagi ini.

Perhimpunan advokat itu gerah dengan kompetisi politik yang sangat melelahkan. Rasa persaudaraan antarwarga seperti hilang. Rakyat dibelah: kami vs mereka.

Pembelahan rakyat ini harus dihentikan. Saatnya kerja kerja kerja... membangun negara ini.

Kompetisi politik di era demokrasi liberal ini memang panas. Dan itu sudah terasa sejak 2014. Jokowi vs Prabowo jilid satu. Yang melahirkan cebong vs kampret. Ada Obor Rakyat segala.

Revans Jokowi vs Prabowo 2019 jauh lebih panas. Ini karena sebelumnya ada pilkada DKI Jakarta yang super panas. Ahok vs Anies. BTP bukan saja kalah tapi juga masuk penjara 2 tahun.

HTI kemudian dibubarkan pemerintah. Pimpinan FPI berlibur lama di Arab Saudi. Lalu pilpres dengan klaim kemenangan baik kubu cebong maupun kampret.

Akankah suhu politik bakal turun setelah 22 Mei 2019? Saat KPU secara resmi mengumumkan hasil pemilu?

Tergantung elite politik. Khususnya Prabowo. Kalau orasi-orasinya panas terus, menolak hasil pilpres, menafikan KPU, Bawaslu, MK dsb, ya panas terus. Bisa tambah panas negeri ini.

Yang senang justru teroris-teroris dan anasir-anasir yang ingin negara ini kaos. Sayang, sebagian elite politik tidak siap pemilihan langsung. Perolehan suaranya kalah banyak tapi merasa menang. Menuduh lawannya curang.

Studio Liem Keng Jadi Toko Listrik

Sejak sebulan ini hampir tiap hari saya melintas di Undaan Kulon. Menuju kota lama Surabaya. Finis persis di pojokan Jembatan Merah yang terkenal itu. Melihat sungai yang airnya keruh cokelat. Ruwet dan selalu macet. Apalagi di Jalan Karet. Tak jauh dari gapura pecinan Kya Kya Kembang Jepun.

Setiap kali lewat di Jalan Undaan Kulon 125, saya selalu ingat Liem Keng. Pelukis senior maestro sketsa yang meninggal 10 tahun lalu. Saya ikut mengantar jenazah seniman kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, ini ke krematorium di kawasan Juanda, Sedati. Ikut tabur bunga di atas peti jenazah sebelum mesin kremasi dihidupkan.

Liem Keng yang bersahaja. Saya selalu mampir ngobrol di rumah sekaligus toko pracangan di Undaan Kulon 125 itu. Seniman-seniman muda pun muncul untuk berguru. Minta masukan tentang sketsa, lukisan dsb. Liem Keng biasanya tersenyum. Lalu kasih masukan dengan suara halus.

Saya pun diajak ke lantas atas. Melihat koleksi sketsa-sketsa beliau yang ciamik. Banyak juga sketsa ciamik tapi dia anggap gagal. Gak ada nyawanya, kata lelaki kurus ini.

Bagaimana nasib koleksi-koleksi itu? Apakah rumah plus studio ini akan jadi museum seni rupa?

Saya ragu. Sebab dua putra Liem Keng tinggal di Papua dan Belu NTT. Tidak punya minat sama sekali ke seni rupa atau kesenian. Mereka sejak kecil diarahkan mamanya untuk menekuni dagang. Sebab seni lukis tidak bisa diandalkan untuk hidup.

"Soal lukisan-lukisan dan rumah akan kita pikirkan kemudian," kata Liem Ie Waliban, putra kedua Lim Keng yang tinggal di Papua.

Akhirnya, waktu jua yang menjawab. Studio sekaligus toko pracangan Liem Keng di Undaan Kulon itu sudah jadi toko alat-alat listrik. Saya selalu melirik ke arah toko itu setiap lewat di Undaan Kulon. Khususnya ketika lampu lalu lintas sedang merah. Rumah itu memang jaraknya tidak sampai 25 meter dari TL.

Suatu kali saya mampir ke toko itu. Pura-pura bertanya tentang rumah mendiang Liem Keng.

"Permisi, rumahnya pelukis Pak Liem Keng itu di mana ya?"

"Pelukis??? Di sekitar sini gak ada pelukis. Yang ada cuma toko-toko," kata seorang lelaki 30-an tahun.

Begitulah nasib seniman di NKRI. Terlalu cepat dilupakan orang. Tak ada museum atau sekadar tempat sederhana untuk memajang karya-karyanya. Di negeri yang masyarakatnya masih terus bergumul dengan urusan sembako.

19 May 2019

Homili di USA: Singkat Padat Lancar



Minggu pagi ini saya tidak pigi gereja. Kejauhan dan sudah terlambat. Perlu waktu 40an menit ke gereja paroki di kota kecil di Jatim. Tapi.. saya tetap bisa ikut misa pagi. Langsung dari Washington.

Teknologi informasi saat ini benar-benar membuat dunia jadi menyatu. Tanpa jarak. Kita yang berada di pegunungan Mojokerto bisa ikut The Sunday Mass yang dipimpin Mgr Raymond East, bapa uskup di Washington USA. Ekaristi pagi ini 5th Sunday of Easter - May 19, 2019.

Nyanyian pembukaan sudah sangat enak. Guest Choir: Members of the Theological College Seminarian Schola, The Catholic University of America, Washington, DC. Tidak sampai 10 orang tapi sangat profesional. Baik Gregorian Latin maupun Inggris.

Bacaan-bacaan misa sama persis dengan di Indonesia.

First Reading: Acts 14: 21-27
Second Reading: Rev 21: 1-5A
Gospel: John 13: 31-33A, 34-35

Yang selalu bikin saya kagum adalah homilinya. Sudah lama saya perhatikan pater-pater Amerika dan Kanada sangat fasih bicara. Homili atau khotbah sangat lancar mengalir. Tidak perlu teks atau catatan. Homili kayak ngobrol dengan kawan lama.

Bisa jadi karena bahasa Inggris punya banyak kelebihan ketimbang bahasa Indonesia. English adalah bahasa ibu orang USA. Begitu lahir bayi-bayi USA sudah dengar English. Tidak ada bahasa daerah yang banyak kayak di Indonesia.

Beda dengan kita. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu. Kita baru belajar bahasa Indonesia setelah masuk sekolah. Itu pun tidak bisa lancar. Bahasa Indonesia formal dan informal sangat berbeda. Makanya pater-pater di NKRI tidak bisa berhomili secepat dan senatural pater-pater di Amerika atau Inggris sana.

Khotbah padat, misa juga demikian. Sunday Mass yang biasanya 70-90 menit di Surabaya atau Sidoarjo bisa diringkas jadi 30 menit di Amerika. Ini juga karena misa di gereja USA ini tidak banyak nyanyian. Lagunya cuma 4: pembukaan, mazmur tanggapan, sanctus, dan agnus dei. Beda dengan di misa di Surabaya/Sidoarjo yang lagunya ada 12 sampai 15.

17 May 2019

Arzeti Bilbina Lolos ke Senayan

Akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an Arzeti Bilbina jadi model top di negeri ini. Hampir setiap bulan dia dapat job di Surabaya. Paling sering di Shangri-La. Jadi peragawati aneka busana rancangan desainer-desainer Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lain.

Sang peragawati ini pun kerap lenggak-lenggok di bridal show. Peragaan gaun pengantin di Surabaya. "Arzeti memang model papan atas. Teman-teman desainer lebih suka kalau dia yang jadi model busana mereka," kata pimpinan sebuah sekolah fashion terkenal di Surabaya.

Selain Arzeti, top model yang lagi berjaya saat itu adalah Karenina. Sama-sama cakep, sama-sama super sibuk. Sulit dimintai waktu 10 menit atau 5 menit untuk wawancara singkat.

Terus kita nulis apa? Mbak model gak mau ngomong?

"Bikin deskripsi aja saat Arzeti tampil di catwalk. Wawancara sama desainernya aja. Pasti gampang," kata Ika, teman reporter dari JP yang sekarang jadi dosen bahasa Inggris.

Saya geli sendiri saat ditugaskan jadi peliput selebriti, model kayak Arzeti, Inul si Ratu Ngebor, dan manusia-manusia ajaib lainnya. Sebab, dunia ini sangat asing bagi saya. Dunia gemerlap nan wangi di ballroom hotel berbintang internasional. Juga hampir tidak ada wawancara mendalam dengan si artis sebagai narasumber. Omongan seenaknya, gak fokus, dan tidak menarik.

Beda banget dengan musisi jazz, klasik, atau tradisi yang sangat enak diajak diskusi. Atau pelukis-pelukis yang bisa diajak ngobrol berjam-jam sampai pagi. Atau seniman teater yang suka mengajak reporter jalan-jalan ke luar kota untuk latihan alam dsb.

Untungnya saya tidak lama berurusan dengan dunia fashion, modeling, clubbing, atau life style. Tidak perlu lagi mengemis informasi dari Arzeti atau Karenina. Tidak perlu mencari-cari gosip pacaran, selingkuh, jalan bareng dan sejenisnya.

Eh, belakangan... sekian tahun kemudian Arzeti Bilbina sering blusukan ke Sidoarjo. Masuk kampung ke luar kampung. Jadi duta buku, pengurus KONI Sidoarjo dsb. Arzeti juga sering muncul di acara-acara pemkab. Bukan lagi sebagai model, tapi anggota DPR RI dapil Surabaya dan Sidoarjo.

Arzeti Bilbina menggantikan Imam Nahrawi yang ditunjuk sebagai menpora. Sejak itu Arzeti makin mudah ditemui. Diajak bicara enak. Sekarang kelihatannya dia membutuhkan wartawan agar kegiatan reses dan blusukannya bisa diberitakan.

Dandanan dan busananya masih khas peragawati. Tapi pakai hijab nan anggun. Maklum, politikus PKB mewakili Sidoarjo Kota Santri. Beda banget dengan masa kejayaan di catwalk dulu. Wanginya tetap semerbak di usia 45-an.

Saat kampanye lalu, April 2019, poster dan baliho Arzeti yang paling modis. Desainnya mirip cover majalah wanita macam Femina atau Kartini. Posternya tersebar di 18 kecamatan.

Rupanya wajah cantik Arzeti plus kiprahnya sebagai wakil rakyat petahana jadi sihir yang jitu. Arzeti berhasil mengumpulkan 30.729 suara di Sidoarjo. Di Surabaya dapat 22.456 suara. Total 53.185 suara. Sang mantan model top ini pun melenggang dengan mulus ke Senayan.

"Alhamdulillah, saya kembali mendapat amanah dari masyarakat Sidoarjo dan Surabaya," kata perempuan kelahiran Lampung dan besar di Jakarta itu.

Arzeti Bilbina merupakan 2 dari 16 caleg artis di dapil Jatim yang lolos ke DPR RI. Satu pesohor lagi yang lolos adalah Krisdayanti, penyanyi top segenerasi Arzeti. KD maju dari kampung halamannya di Malang Raya dari PDI Perjuangan.

Arzeti merupakan salah satu dari sedikit selebriti yang mampu beradaptasi dengan panggung politik. Panggung yang sebenarnya sama-sama penuh dengan sandiwara dan pencitraan.

15 May 2019

Ludruk pilpres masih panjang



Bulan puasa sudah masuk pekan kedua. Televisi-televisi berlomba bikin acara berbau Ramadan, sahur, dsb. Tapi tensi politik masih tinggi. Khususnya capres-cawapres 02 dan pendukungnya.

Kubu Prabowo kembali klaim kemenangan. Kalau dulu 62 persen, kemarin turun jadi 54 persen. "Kita telah mendapat mandat dari rakyat," ujar Prabowo di depan pendukungnya. Mandat opo?

"Kami tidak makar. Kami membela bangsa Indonesia. Jangan takut-takuti kami dengan senjata yang dibeli oleh uang rakyat," kata Prabowo. Tegas, keras, seperti biasa.

Bukankah rekapitulasi sedang dilakukan KPU? Pengumuman resminya 22 Mei 2019?

Rupanya Prabowo sudah tidak sabar jadi presiden. Malam setelah pencoblosan, 17 April lalu, bekas menantu Pak Harto dua kali deklarasi kemenangan. Berdasar angka-angka dari timnya sendiri. Hebat!

Di koran pagi ini ada berita berjudul: Prabowo-Sandi Tolak Penghitungan KPU. Alasannya, banyak kecurangan.

Ibarat sandiwara atau ludruk atau film, pertunjukan masih seru. Belum antiklimaks. Penonton masih penasaran dengan akhir cerita. Protagonis vs antagonis gak jelas.

Bahkan, setelah 22 Mei pun adegan ludruk pilpres ini masih berlanjut ke MK. Belum lagi ada pernyataan kubu Prabowo tentang people power, diskualifikasi Jokowi, dsb dst.

Monggo siapkan kopi dan gorengan! Ludruk pilpres masih panjang.

13 May 2019

Daniel Rohi Akhirnya Lolos ke DPRD Jatim

Kaget juga membaca nama-nama 100 caleg yang lolos ke DPRD Jatim. Ada nama Daniel Rohi. Dosen UK Petra asal Kupang NTT ini jadi caleg ke-11 yang lolos dari PDI Perjuangan. Mewakili Malang Raya.

Daniel Rohi. Lama tak bertemu bung yang suka bicara bahasa Melayu Kupang meskipun sudah karatan di Surabaya. Logat NTT sonde bisa hilang, katanya. Bae sonde bae tanah Timor lebeh bae!

Bung Daniel cukup lama kuliah lanjut di Malaysia. Di negara jiran itu dia banyak belajar sistem politik Malaysia. UMNO yang dominan, pembangkang (oposisi) yang galak, ADUN yang selalu turun menemui rakyat di dapilnya.

ADUN itu ahli undangan negeri. Macam anggota DPRD di sini. "Semua ADUN punya gelar YB di depan namanya. YB: Yang Berhormat," ujar Daniel Rohi kepada saya di kampus UK Petra Surabaya.

Sangat sering saya ngobrol sama orang Kupang ini. Ada saja isu yang bisa digoreng jadi berita. "Bung sangat cocok jadi ADUN di sini. Bung kan mantan ketua GMKI Surabaya," kata saya serius.

"Masalahnya, beta bukan anggota partai. Kalau bukan anggota partai, mana bisa jadi anggota dewan," katanya.

Tak lama kemudian saya baca di koran. Daniel Rohi jadi sekretaris Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) Jatim. Tentu saja jadi caleg juga. Tapi gagal. PDKB bubar karena gagal di electoral threshold.

"PDKB itu sekolah politik saya. PDKB yang membentuk skill politik saya," kata Daniel Rohi.

Bung Daniel yang sudah kecemplung ke kolam politik pantang mundur. Masuklah dia ke PDI Perjuangan. Jadi caleg lagi. Gagal lagi. Sampai tiga kali.

"Puji Tuhan dan terima kasih atas dukungannya. Setelah antre 4 kali pemilu... akhirnya," tulis Daniel Rohi. Ada gambar hati warna merah muda.

Daniel Rohi menggarap suara umat Kristen Protestan di kawasan Malang Selatan. Di antaranya di Sitiarjo. Salah satu kampung kristiani yang punya GKJW legendaris. Begitu juga pasamuwan GKJW-GKJW lain.

"Suara dari Sumbermanjing Wetan ini lumayan. Itu salah satu basis massa saya. Tentu saja saya tidak hanya mengandalkan suara dari umat Kristiani. Kontribusi suara yang signifikan justru dari komunitas lain," katanya.

Apa program YB Daniel Rohi?

"Tunggu pengumuman dan penetapan resmi dari KPU dulu lah. Sekarang beta belum saatnya bicara," katanya.

Pastor-Pastor Tidak Pakai Jubah

Foto di Jawa Pos halaman 17 Senin ini (13/5/2019) cukup menarik. Para pemuka agama berdoa bersama di Mapolrestabes Surabaya. Mengenang tragedi bom di 3 gereja di Surabaya tahun lalu.

Dari busananya kelihatan agamanya. Rohaniwan Hindu dan Khonghucu sangat jelas. Ulama Islam pakai sarung, songkok, ada sorban. Yang Nasrani? Gak jelas. Sebab tidak ada penanda. Tidak ada kekhasan.

Pastor Katolik pakai kemeja hitam, bawahan celana jins. Pendeta Kristen Protestan pakai baju batik. Tidak ubahnya jemaat biasa. Tidak ada ciri khas busana pendeta atau pastor.

Dulu, sebelum 1990, para pater atau pastor Katolik pakai jubah ke mana-mana. Frater-frater pun pakai jubah. Saya sering lihat frater-frater BHK jalan kaki di Malang. Dari dan ke biaranya di Celaket 21 dekat RS Syaiful Anwar yang terkenal itu.

Entah mengapa, sejak 20an tahun ini pater-pater alias romo-romo sangat jarang pakai jubah. Pakai jubah kalau mau liturgi saja. Selepas misa langsung lepas. Pakaian biasa. Karena itu, umat yang baru tidak tahu kalau laki-laki itu seorang pastor. Tidak ada penanda seorang klerus.

Romo makin sekuler? Makin profan? Kalau dilihat dari pakaiannya sehari-hari iya. Beda dengan Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD di kampung saya di Lembata dulu yang lebih banyak pakai jubah putih. Pastor-pastor sekarang sangat jarang pakai jubah kalau tidak sedang liturgi.

Syukurlah, suster-suster alias biarawati masih konsisten pakai jubah dan kerudung setiap saat. Rasanya kok gak adil. Mengapa biarawan-biarawan bisa bebas pakai pakaian apa saja, sementara biarawati-biarawati tidak bebas? Untungnya para biarawati ini tidak protes.