31 August 2015

Presenter TV Tidak Boleh Tua



Jurnalis CNN Christiane Amanpour, 57 tahun, mewawancarai Presiden Jokowi sambil blusukan.

Betapa bedanya presenter (atau host atau anchor atau apalah namanya) televisi berita asing dan Indonesia. Saya perhatikan TV-TV asing macam BBC, CNN, atau Aljazeera selalu menyajikan wawancara yang lancar, mengalir, enak. Sang presenter menguasai persoalan yang ditanyakan.

Begitu narasumber menjawab, si presenter bule itu sudah siap nerocos menggali informasi baru. Dengan bahasa yang sopan tapi mengena. Obrolan jadi asyik meskipun dengan tokoh antagonis. "Seperti ngobrol dengan teman lama," begitu resep wawancara dari jurnalis senior Bapak Atmakusumah.

Mengapa para jurnalis televisi berita asing begitu gayeng dalam reportase dan wawancara? Pengalaman panjang di lapangan. Banyak riset. Banyak baca. Banyak diskusi. Banyak sekolah. Mereka sekolah di universitas terkemuka. Ada yang PhD, menulis buku macam-macam. Dus, bukan jurnalis karbitan.

Tapi, akibat dari banyak-banyak-banyak ini, usia presenter CNN, BBC, dsb biasanya sudah matang. Rambut sudah banyak ubannya. Usia mereka di atas 35 tahun. Bahkan tak jarang jurnalis-jurnalis di atas 50 tahun pun masih memandu program berita di televisi.

Saya perhatikan seorang wanita jurnalis CNN, yang dulu sangat terkenal karena liputan perang teluk, masih jadi presenter berita. Acaranya sangat berbobot. Sang jurnalis, si tukang tanya-tanya, bahkan lebih tahu dan pintar daripada pakar yang ditanya.

Inilah yang terbalik di Indonesia. Makin lama saya melihat presenter-presenter berita kita makin muda, cantik, gak kalah sama artis sinetron. Bedaknya tebal, bajunya bagus-bagus, riasannya oke punya. Usia cewek-cewek ini biasanya paling tinggi 28 tahun.

Saya sudah lama kangen presenter-presenter lama macam Ira Koesno, Dana Iswara, Desi Anwar, atau Ibu Tuty Adhitama di TVRI zaman dulu. Jurnalis-jurnalis yang lebih yunior, tapi matang, macam Kania Sutisnawinata pun sudah lama hijrah dari Metro TV.

Mbak Najwa Shihab asyik dengan Mata Najwa, bukan berita-berita harian yang paling kita butuhkan. Mbak Desi Anwar masih di TV, tapi urusan manajemen. Dia punya acara santai yang bukan hard news. Rossiana Silalahi juga begitu.

Rupanya siklus presenter berita di televisi kita mirip artis musik atau film/sinetron. Ketika usia sudah masuk 27, kemudian menikah, pengelola TV sudah menyiapkan penggantinya. Cewek-cewek likuran (20an tahun) yang nampang di Liputan 6, Apa Kabar Indonesia, Metro Hari Ini dsb.

Yang usia 30+ pelan-pelan menyingkir ke belakang. Jadi produser, manajemen, atau bikin partai baru macam Grace Natalie dari tvOne (sebelumnya di SCTV). Atau jadi PR perusahaan besar macam Wianda atau Catherine. Hehehe....

Lantas, kita, pemirsa pun disuguhi berita yang dipandu presenter-presenter muda belia, cakep, wangi.. tapi masih minim wawasan. Jelas saja dia kepontal-kepontal memahami persoalan sosial politik budaya keamanan pendidikan kurs rupiah ekonomi teknolog dsb yang tidak sederhana.

Kasihan adik-adik presenter muda itu! Terlalu cepat ditampilkan di layar karena para seniornya sudah digeser lebih dulu. Jangan heran bila Bapak SBY, mantan presiden kita, hanya mau menerima para wartawan senior untuk diwawancarai.

"Saya butuh para pemimpin redaksi di Surabaya," kata SBY beberapa waktu lalu di Hotel Shangri-La Surabaya.

Bukan hanya SBY. Banyak pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat yang kurang sreg diwawancarai jurnalis-jurnalis yang usianya di bawah 25 tahun.

"Capek kalau ngomong sama wartawan-wartawan anyar. Saya bicara panjang lebar tapi gak nyambung. Kalau wartawan-wartawan lawas, saya ngomong dua kalimat, dia sudah tahu maksudnya," kata Tuan Liem, pengusaha Tionghoa terkenal di Surabaya.

Yah, kalau mau televisi-televisi berita kita berkualitas kayak CNN, ABC, atau BBC, ya presenter-presenter kawakan macam Andy Flores Noya, Desi Anwar, Rossiana Silalahi, Najwa Shihab, Putra Nababan, Grace Natalie... harus tetap berada di garis depan. Sebab masyarakat sebetulnya tidak membutuhkan wajah-wajah cakep, muda, tapi masih minim wawasan.

Kalau mau lihat wajah-wajah cakep, penuh riasan, bedak tebal, muda remaja, tinggal geser ke Inbox atau Dahsyat. Bukan di program berita.

Dagelan Politik dari Surabaya

Pantas saja ludruk mati di Surabaya. Sebab dagelannya kalah lucu ketimbang dagelan politisi. Kemarin kita kembali disuguhi dagelan politik: pasangan Rasiyo-Dhimam Abror tidak memenuhi syarat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah di Surabaya pada 9 Desember 2015.

Rasiyo-Abror digugurkan KPU Sidoarjo karena surat rekomendasi dari pengurus pusat PAN ternyata tidak identik dengan versi digital (scan) yang dipakai saat pendaftaran lalu. Katanya, surat asli yang fotokopinya dikirim ke KPU Surabaya itu hilang. Dibawa kabur oleh seseorang yang tidak disebutkan namanya. Tentu saja orang Partai Amanat Nasional (PAN) juga.

Katanya, surat rekomendasi itu mau dijual dengan harga miliaran rupiah. Tapi tidak laku. Karena surat aslinya hilang, pengurus pusat PAN di Jakarta membuat surat baru. Ya, tentu saja tidak bisa identik dengan versi scan saat pendaftaran itu.

Sangat lucu! Lebih lucu daripada Srimulat yang sudah lama mati itu. Tapi kita tidak bisa tertawa lepas kayak nonton ludruk di THR atau Wonokromo. Kita hanya bisa bilang, "Juancuuuuk tenan! Juangkreeeek! Dagelan politisi gombaaaal!"

Dagelan sebelumnya tidak kalah lucu. Beberapa menit sebelum penutupan pendaftaran, Dhimam Abror dan Haries Purwoko datang ke KPU Surabaya. Warga Surabaya, kecuali politisi Koalisi Majapahit, senang karena pemilihan wali kota tidak perlu ditunda hingga 2017. Pasangan Risma-Whisnu punya calon lawan tanding.

Eh, tiba-tiba Haries izin ke toilet. Setelah itu melarikan diri tak tentu rimbanya. Dhimam Abror dinyatakan tidak sah karena tidak punya pasangan calon wakil wali kota. Mungkin baru pertama kali di Indonesia ada bakal calon yang kabur ke WC dan menghilang.

Indonesia tertawa! Srimulat dan grup-grup ludruk makin sulit menyaingi kekonyolan politisi di Surabaya.

Kabarnya KPU Surabaya kembali membuka pendaftaran bakal calon 6-8 September 2015. Rasiyo dan Abror tidak boleh mendaftar lagi karena sudah TMS: tidak memenuhi syarat.

Kita tunggu saja dagelan macam apa lagi yang dimainkan para aktor politik Kota Buaya. Politik memang panggung sandiwara. Mungkin dagelan berikut jauh lebih lucu ketimbang dua dagelan sebelumnya.

Yang namanya dalang gak akan kehabisan lakon!


Sent from my BlackBerry

30 August 2015

Teater Lekture tidak mati-mati (kayak Waska)



Jarang ada teater yang bisa bertahan lama. Apalagi di kota kecil macam Sidoarjo, Jawa Timur. Karena itu, keberadaan Teater Lekture Sidoarjo yang genap 60 tahun pada 5 Oktober 2015 layak diapresiasi. Angkat topi untuk Bung Mulyono Muksim, Bung Asmoro Darmo, dan para senior Lekture Sidoarjo yang berhasil mempertahankan teater rintisan almarhum Achmad Djafar ini.

Selama dua hari, 22--23 Agustus 2015, Teater Lekture mengadakan pertunjukan di Gedung Cak Durasim Surabaya. Lakon klasik karya Arifin C Noer berjudul Umang-Umang. Naskah panjang, cerita absurd, dan menguras energi penonton selama 2,5 jam. Tapi kursi-kursi terisi hingga 90 persen. Meskipun banyak penonton yang kabur setelah pertunjukan berjalan 90an menit.

Para penggemar teater tentu tidak asing lagi dengan Umang-Umang yang menampilkan puluhan orang dari dunia hitam. Raja rampok Waska jadi pimpinan komunitas maling, pelacur, jambret, pemalak, gelandangan, dukun, tukang sihir, penggali kubur, dsb. Waska punya jalinan asmara dengan Bigayah, tapi tak ada yang namanya akad nikah.

Waska sang pimpinan bajingan bersama asistennta Borok dan Ranggong dielu-elukan anak buahnya. Ketika Waska sakit berat, sekarat, komunitas maling ini geger berat. Mereka sibuk berdoa agar si Waska tidak sampai mati. Segala cara dilakukan agar Waska, nabinya para garong, hidup kekal selama-lamanya.

Cerita absurd yang benar-benar menyita energi baik pemain maupun penonton. Jelas tidak gampang. Masyarakat yang tiap hari dihajar cerita sinetron yang linear, gampang ditebak, banyak dagelan, niscaya berpikir keras untuk mengikuti khotbah-khotbah Arifin C Noer lewat mulut tokoh-tokohnya.

Waska paling banyak khotbah, kalimat-kalimat panjang, bahasa baku... membuat suaranya serak. Tapi, syukurlah, Gedung Cak Durasim punya akustik yang baik. Sehingga penonton bisa mendengar suara para pemain yang bicara langsung, tanpa mikrofon. Mereka harus hafal kalimat-kalimat panjang, nyaris tanpa improvisasi, selama 90 menit.

"Durasinya sudah kami kurangi tinggal 2,5 jam. Kalau taat naskah bisa 4 jam lebih," kata Bung Asmoro Darmo, ketua Teater Lekture Sidoarjo.

Bung Darmo sengaja menampilkan pemain-pemain muda untuk regenerasi. Hanya satu mahasiswa, pemeran waria yang suaranya paling terang dan menggemaskan. Pemain-pemain lain masih SMA/SMK, bahkan SD. Namun, karena minimnya jam terbang, eksekusi naskah Umang-Umang ini belum bisa maksimal.

Banyak komentar, apresiasi, juga kritik untuk pementasan Umang-Umang di Surabaya ini. Kalau dicari-cari kelemahan sih pasti ada saja. Tapi mana ada teater di Jatim yang bisa bertahan selama 60 tahun? Dengan kondisi yang serba terbatas?

"Dalam setahun paling banyak ada dua teater di Jatim yang mengajukan pementasan secara mandiri. Termasuk Lekture Sidoarjo ini. Makanya, saya sangat mengapresiasi Teater Lekture," kata Kepala Taman Budaya Jatim Suyatno.

Di masa lalu, khususnya tahun 1980an, pertunjukan teater pernah berjaya di Sidoarjo dan kota-kota lain. Waktu itu masyarakat sangat haus hiburan bermutu. Bung Mulyono mengenang, dulu pertunjukan Teater Lekture bahkan sempat mengalahkan konser dangdut Rhoma Irama di Sidoarjo.

"Karcis teater kami Rp 250, sementara konser Rhoma Irama Rp 150. Dua malam berturut-turut penonton penuh sesak. Itu pengalaman manis yang tidak pernah saya lupakan," kata Bung Mulyono, sutradara Teater Lekture sekarang.

Waktu terus berputar. Satu demi satu grup teater gulung tikar. Yang tersisa hanya teater-taeter sekolahan sebatas kegiatan ekstrakurikuler pelajar. Gedung pertunjukan yang biasa dipakai Lekture pun sudah jadi bangunan jangkung, kantor, atau ruko. Bioskop-bioskop lawas yang juga sering disulap jadi arena teater pun tak ada lagi.

"Kami sebetulnya ingin mengadakan pertunjukan di Sidoarjo. Sebab Teater Lekture ini sudah menyatu dengan masyarakat Sidoarjo. Tapi mau bagaimana lagi? Di Sidoarjo tidak ada gedung pertunjukan," kata Bung Mulyono.

Bung Mulyono sendiri sangat yakin Teater Lekture masih terus bertahan di tengah kesulitan. Termasuk perbedaan pandangan di kalangan senior yang menimbulkan dualisme: Teater Lekture Sidoarjo dan Teater Lekture Indonesia. Sebab regerasi di teater ini mulai membuahkan hasil. Buktinya, putra Bung Mul mampu menjadi pemeran utama Waska.

Tinggal bagaimana menjaga stamina, napas panjang, karena seni teater ini membutuhkan para petarung yang pantang menyerah. Juga perlu merawat pita suara, minum wedhang jahe, agar suaranya Waska Raja Garong tidak serak-serak hilang.

Selamat untuk Teater Lekture Sidoarjo! Semoga panjang umur seperti Waska yang tidak mati-mati (karena makan obat sakti dari dukun tua)!

Chelsea makin jelek aja

Apa boleh buat, malam Minggu ini kita hanya bisa menonton siaran langsung Liga Inggris. Tak ada lagi Liga Spanyol di RCTI. Liga Italia dan Liga Jerman pun tak lagi disiarkan televisi biasa. Kalau mau nonton ya harus berlangganan.

Maka, saya pun terpaksa menonton Chelsea vs Crystal Palace. Mulai menit 1 hingga 90 + 5. Dari sinilah saya makin tahu kelemahan Chelsea yang dilatih Mourinho itu. Begitu banyak kelemahan elementer yang anehnya dilakukan sang juara Liga Inggris musim lalu itu.

Pemain-pemain Crystal rupanya sejak awal sudah hafal kelemahan-kelemahan dan kecerobohan pemain-pemain Chelsea. Syukurlah, Chelsea dipermalukan di kandang sendiri dengan 1-2. Sebetulnya skor bisa 1-4 atau 1-5 kalau kipernya bukan Courtouis.

Tapi kekalahan kedua, dari 3 pertandingan, sudah cukup untuk menyadarkan kita bahwa Chelsea bukan lagi favorit juara. Bisa masuk 4 besar saja sudah bagus. Dan, kayaknya Mourinho akan dipecat jika kalah lagi dua kali berturut-turut.

Sudah lama saya tidak memelototi pertandingan-pertandingan Liga Inggris secara penuh. Biasanya hanya beberapa big match saja. Itu pun tidak sampai 90 menit. Beda dengan laga Barcelona atau Real Madrid yang biasa saya nikmati sampai tuntas. Nah, pertandingan Chelsea vs Crystal beberapa menit lalu makin menyadarkan saya bahwa kualitas Liga Inggris masih kalah sama Spanyol, Jerman, atau Italia.

Betapa tidak. Chelsea, juara bertahan, bisa membeli pemain-pemain terbaik di dunia, berapa pun harganya, ternyata sangat keropos. Lini tengahnya mati. Operan-operannya sering meleset. Sangat sulit menguasai bola dalam waktu lama. Diego Costa terlalu mudah jatuh. Bukannya mencari ruang kosong, Costa suka menabrak pemain lawan... dan jatuh sendiri.

Eden Hazard pun tak mampu menghidupkan permainan Chelsea. Maka, syukurlah, Chelsea keok di kandang sendiri. Dikalahkan Crystal Palace yang nota bene bukan tim papan atas. Kalau kalah dari MU, City, Arsenal, atau Liverpool, apalagi Barca dan Madrid, masih bisa diterima. Tapi kalah sama Crystal Palace? Yang pemain-pemainnya tidak terkenal?

Kompetisi masih sangat panjang. Baru 4 pertandingan. Tapi, bagi saya, penampilan Chelsea yang di bawah standar bisa menjadi gambaran tim-tim Premier League di Liga Champion nanti. Chelsea bisa dipastikan akan sulit bersaing dengan klub-klub elite macam PSG, Juventus, Bayern Munchen, Valencia. Apalagi Real Madrid dan Barcelona.

Jose Mourinho biasanya selalu punya kambing hitam ketika timnya kalah. Biasanya Mou juga punya resep yang jitu untuk membenahi timnya agar bisa bangkit lagi. Tapi, melihat 4 pertandingan Chelsea, rasanya kok sangat berat mengembalikan Chelsea sebagai the winning team kayak musim lalu.

28 August 2015

Orang Hitam Sulit Dapat Pacar



Obrolan di warung kopi Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, kali ini sangat menarik. Banyak sisi-sisi kehidupan para pengungsi asal Afghanistan, Pakistan, Iran, Myanmar, Somalia, Sudan, dan beberapa negara lain muncul dalam obrolan santai. Juga pengungsi Syiah asal Sampang, Madura, yang entah kapan dipulangkan ke kampung halaman mereka.

Empat tower rusunawa di Puspa Agro ini memang sudah lama jadi tempat penampungan pengungsi. Para imigran itu biasa jalan-jalan, belanja, ngopi, cangkrukan... dan pacaran di kompleks itu. Ada saja wanita-wanita lokal yang rela dipacari pengungsi-pengungsi dari negara-negara berkonflik itu.

"Si Riza (Pakistan) itu pacarnya cantik-cantik dan muda. Sekarang ini ceweknya dari Krian," tutur mbak Sri juragan kopi kepada saya.

Meski imigran-imigran ini cuma dibekali jatah Rp 1,2 juta sebulan dari IOM (organisasi urusan migrasi internasional), para pencari suaka masih bisa menyisihkan duit untuk pacaran. Kalau cowoknya cakep, muda, putih kayak si Riza, gampanglah dia mendapat nona manis.

Saya lihat sendiri si nona berputar-putar dengan motornya untuk ngapelin Riza. Maklum, para pengungsi dilarang keluar dari kompleks rusunawa. Kalau ketahuan bisa gawat. "Pokoknya pengungsi yang kulit putih, ganteng, mudah dapat pacar," kata Sri.

Hehehe... Itu sih semua orang tahu. Tapi Sri menambahkan, pengungsi asal Afghanistan, Pakistan, atau Iran, yang punya modal tampang bagus, juga ramah dan mudah bergaul. Mereka pun paling cepat menguasai bahasa Indonesia. Beda dengan pengungsi-pengungsi hitam asal Somalia dan negara Afrika hitam lain yang cenderung rombongan dan eksklusif.

"Orang-orang hitam itu gak ada yang mau. Tampangnya gak menarik, mereka juga sangat fanatik agamanya. Suka melecehkan kita yang dianggap masih kurang Islam," kata Sri yang berbusana muslim.

Suatu ketika mbak Sri dites menghafal kitab suci Alquran oleh beberapa cowok Somalia. Karuan saja Sri kelabakan karena tidak hafal. Tahu tapi tidak mendalam. Si Somalia yang fanatik itu kemudian marah-marah. "Kamu ini katanya Islam kok tidak hafal Quran? Kafir kamu!" ujar Sri menirukan ucapan salah satu imigran hitam itu.

"Kamu wong ireng, ngapain minggat dari negara kamu? Sudah ditampung di sini, dikasih makan, tidur gratis... kok malah marah-marah sama orang Indonesia! Pulang aja ke Somalia sana!!!!" gantian mbak sri membentak orang yang kulitnya hitam kayak kopi itu.

Bukan hanya Sri yang didamprat oleh para fundamentalis hitam dari Somalia itu. Beberapa pedagang di Puspa Agro juga dikhotbahi agar segera berubah jadi orang Islam yang bener. "Tapi ada juga yang kepergok pacaran sama janda tua. Gantian saya yang teriak, haram haram haram! Bukan muhrimnya kamu!" Si Somalia yang kesepian di rusunawa pun hanya bisa nyengir kuda.

"Wis lah, pokoknya wong-wong ireng iku gak enak blas. Sudah jelek, hitam, suka mencampuri urusan keagamaan kita. Kalau ketemu yang diomongin mesti soal-soal agama... dan bikin panas kuping. Lha, siapa yang mau dipacari sama Somalia?" kata Sri lantas tertawa keras.

Tiba-tiba pedagang makanan yang lain, namanya juga Sri, muncul dan nguping omongan Sri juragan warkop itu. "Sampeyan gelem pacaran sama pengungsi di sebelah itu?" pancing saya menggoda Sri yang gemuk dan STW itu.

"Apa??? Pacaran sama pengungsi? Sama Somalia? Sorry ya!!! Saya ini, meskipun sudah STW, masih laku lho! Zaman sekarang ini gak perlu ganteng. Yang perlu itu uang! Pengungsi itu gak punya uang! Emangnya kita makan gantengnya si Iran, Pakistan?" kata tante gemuk itu dengan nada tinggi.

Wow, rupanya pedagang-pedagang di Puspa Agro sudah paham betul kelakuan para imigran asing itu. Bahkan, beberapa di antaranya pernah jadi korban mabok cinta sesaat dari para pencari suaka politik. "Uang saya dibawa cowok (pengungsi), tapi sampai sekarang belum dikembalikan," kata seorang wanita STW yang pernah menjalin asmara dengan pengungsi.

Pelajaran moral:
Jadi orang hitam itu gak enak!
Gak ada (jarang ada) gadis/janda yang mau dipacari!
Lebih setia istri karena sulit selingkuh (biasanya ditolak cewek).

Hari Pertama Jadi Wartawan JP



Oleh Djono W. Oesman
Pensiunan Wartawan Jawa Pos



"Kami mau melamar jadi wartawan, Pak," kata Sugeng Irianto, 29 Juli 1984, di lantai 1 sebuah gedung tua di Jalan Kembang Jepun 171, Surabaya.

Di hadapannya, seorang pemuda berpakaian rapi mengamati tamunya dari rambut sampai kaki. Di sebelah Sugeng ada saya, sama-sama berdiri membawa map karton warna biru. Kami berdua diamati pemuda itu.

"Silakan duduk," ujar tuan rumah.

"Lulusan mana?" tanyanya.

"Saya sudah tingkat akhir di AWS (Akademi Wartawan Surabaya). Sebentar lagi lulus," jawab Sugeng.

Saya menimpali, "Saya tingkat akhir FISIP Universitas Wijaya Kusuma, Pak."

"Nanti saja kalau sudah lulus melamar lagi, ya," ujar pemuda itu sambil bangkit dari duduk.

Segera, Sugeng memotong, "Tapi kami sudah pengalaman, Pak."

Kalimat ini menarik perhatian dia. "Dari mana?" tanyanya.

"Kami berdua dulu sama-sama wartawan Radar Kota," jawab Sugeng.

"Wah, mantan Rako (Radar Kota). Payah tuh Rako," ujarnya. Rako koran kriminal sudah tutup 7 bulan berselang. Dia kembali duduk. "Berapa lama di Rako?"

Sugeng: "Saya dua tahun, kawan saya ini setahun setengah."

"Sering terima amplopdari narasumber, ya?" tanyanya.

Kami terdiam. Tak menduga pertanyaan itu. Kaki Sugeng menyenggol-nyenggol kaki saya, tanda dia anjurkan saya bicara.

Saya: "Kami profesional, Pak. Profesional menolak sogokan."

Mendadak dia tertawa. Sugeng ikut tertawa. Hanya saya yang diam. (Jiancuk. Sugeng laopo melok ngguyu).

"Amplop tidak selalu sogokan, lho. Bisa ucapan terima kasih. Bagaimana?" tanyanya.

Sugeng tidak membantu, malah ikut memandangi saya. "Amplop terima kasih harus ditolak. Kami, kalau diterima disini, pasti sudah digaji," jawab saya.

"Masak ikhlas nolak amplop? Yang bener saja," desaknya.

Saya jawab: "Kami belum berkeluarga, Pak. Kebutuhan kami hanya untuk membayar kuliah. Dari gaji saja pasti berlebih."

"Kalau Anda sudah berkeluarga, berarti menerima amplop? Begitu?" desaknya.

Jawaban saya masih saja menimbulkan celah untuk didesak. Tapi saya sudah siap jawaban: "Amplop tetap saya tolak, Pak. Kalau sudah berkeluarga, gaji saya pasti sudah lebih tinggi dari saat awal bekerja."

"Mengapa sih Anda bersikukuh menolak amplop? Bukankah semua orang tertarik uang?" tanyanya.

"Amplop melemahkan obyektivitas wartawan. Kalau wartawan tidak obyektif, dia sudah tidak lagi berfungsi sebagai social control," jawab saya menyitir teori dari kampus.

Akhirnya, kami dicoba. "Mulai tangal 1 Anda berdua silakan liputan. Kalau dalam sebulan saya nilai tidak memenuhi syarat, Anda langsung keluar," katanya.

Mendadak Sugeng nyeletuk, "Mengapa tunggu tanggal 1, Pak? Sekarang saja kami siap."

Segera ditanggapi, "O, bagus. Siang ini Anda berdua langsung jalan."

Pemuda itu bernama Cholili Ilyas. Jabatan: koordinator liputan.

Keluar dari gedung tua (kantor pusat Jawa Pos) badan rasanya segar. Debu dan asap knalpot antrean kendaraan di Jalan Kembang Jepun, rasanya wangi. Jadi wartawan Jawa Pos ternyata gampang.

Sugeng merentangkan kedua tangan, menarik-nariknya ke belakang seperti gerakan senam. Saya lihat, dia seperti ayam jago yang baru menang sabung. Lihat saja kumisnya begitu tebal.

Dia lalu melirik saya. "Gayamu nolak amplop. Paling, amplop ditolak kecuali isinya," katanya. Kami tertawa terbahak-bahak.

Saya menimpali: "Koen enak, Geng. Gak janji nolak amplop."

Dia menyahut: "Dadi, nek awakmu oleh amplop iso mbok kek'no aku."

Saya tambahi, "Amplop'e gawe awakmu, isine aku." Kami terpingkal-pingkal.

Tapi, setelah sadar bahwa kami masih di halaman parkir kantor JP, yang memungkinkan pembicaraan kami didengar orang dalam kantor, maka kami cepat-cepat kabur memacu motor masing-masing.

Saya menuju pengadilan, Sugeng ke UGD RSUD Dr Soetomo. Sorenya kami ke kantor baru itu dengan membawa masing-masing dua berita. Semua berita hasil wawancara, bukan melulu sidang atau kejadian.

Itulah hari pertama saya dan Sugeng Irianto jadi wartawan JP.

27 August 2015

Rezeki nomplok dari orang mati

Ada pemandangan menarik di koran Jawa Pos hari ini. Empat setengah halaman koran berpembaca terbanyak di Indonesia itu diisi iklan dukacita mendiang mama pengusaha keramik terkenal. Nilai rupiahnya jelas tidak sedikit.

Alhamdulillah, rezeki nomplok untuk surat kabar tersebut! Orang-orang yang bekerja di media massa, khususnya surat kabar, sangat menyadari pentingnya orang Tionghoa yang sejak Hindia Belanda punya kebiasaan beriklan di media massa. Iklan-iklan itulah yang antara lain menghidupi media massa.

Seorang tokoh surat kabar nasional sering berpesan kepada para wartawan, khususnya yang masih muda-muda, agar menjaga hubungan baik dengan warga Tionghoa. Jangan termakan isu-isu sektarian, rasial, SARA dsb yang sering kita dengan di masyarakat yang memojokkan orang Tionghoa.
Ingat, orang Tionghoa itulah yang bakal pasang iklan di mediamu. Orang Tionghoa sudah ratusan tahun menyadari (dan merasakan) manfaat beriklan. Orang Indonesia, yang bukan Tionghoa, juga sudah mulai sadar iklan tapi belum semasif para huaqiao di seluruh dunia.

"Kalau kita baik sama kawan-kawan Tionghoa, insyaallah, gampang diajak kerja sama. Minimal dia akan pasang iklan ucapan belasungkawa kalau ada keluarganya yang meninggal dunia. Kalau anda memusuhi orang Tionghoa ya akan ditinggal," kata sang wartawan senior.

Betul juga. Ucapan sang senior ini terus dibuktikan koran-koran di kota besar. Setiap hari ada saja iklan dukacita di Jawa Pos dll. Ada yang iklan kecil, sedangan, besar, kemudian super besar. Hari ini iklan orang mati malah mendominasi halaman-halaman Jawa Pos. Luar biasa!

Berbeda dengan Tionghoa, memasang iklan dukacita belum jadi kebiasaan di kalangan pribumi. Orang-orang kita (Jawa, Madura, Sunda, Batak, Flores dsb) sering terheran-heran mengapa orang Tionghoa suka membelanjakan duit besar untuk iklan kematian di surat kabar. Banyak kenalan saya malah tertawa melihat iklan kematian di surat kabar.

"Jangan tertawa Bung! Ceritanya panjang. Maknanya sangat dalam," begitu kata-kata saya setiap mendengar obrolan di warung kopi yang menyinggung iklan kematian.
Biasanya saya mengarang sendiri beberapa teori dan analisis tentang alasan orang Tionghoa suka memasang iklan dukacita. Tentu saja dari perspektif orang media yang memang sangat membutuhkan iklan-iklan sebagai sumber hidup bisnis media. Syukurlah, cara berpikir orang Tionghoa berbeda jauh dari para komentator asongan di warkop itu.
Kalau kita jeli, sebetulnya iklan dukacita terbesar dalam sejarah Indonesia bukan dari kalangan Tionghoa, tapi bumiputra. Yakni iklan ucapan dukacita atas meninggalnya Ibu Tien, istri Presiden Soeharto. Waktu itu koran-koran di tanah air benar-benar panen rezeki dari iklan dukacita.

Karena halaman koran saat itu masih dibatasi, pemerintah bahkan mengizinkan penambahan halaman agar bisa memuat iklan-iklan kematian Ibu Tien. Perusahaan-perusahaan seakan berlomba pasang iklan setengah halaman, bahkan satu halaman. Ramai luar biasa!

Setelah fenomena iklan dukacita Ibu Tien, kita tidak lagi melihat iklan-iklan kematian yang luar biasa masif di Indonesia. Bahkan, ketika Pak Harto meninggal iklannya pun tidak banyak.

22 August 2015

Hilangnya La Liga di TV kita



Mulai pekan ini, penggemar Barcelona tidak bisa lagi menyaksikan aksi-aksi ciamik Messi, Suarez, Neymar dkk di lapangan. Penggemar Real Madrid pun tak bisa melihat si CR7 membusungkan dana, ini dadaku, mana dadamu, memamerkan guratan ototnya usai mencetak gol.

Kita hanya bisa melihat cuplikannya di televisi atau internet. Sekilas saja. Sebab RCTI mulai tahun ini angkat bendera putih tinggi-tinggi. Gak kuat bayar hak siar Liga Spanyol alias La Liga. Sebetulnya kita di Indonesia sih tetap bisa menonton dengan mudah, gambar lebih bagus, pertandingan lebih banyak. Tapi ya itu, harus berlangganan TV berbayar. Gak gratisan lagi.

Mengubah mental gratisan, yang diperkenalkan RCTI sejak awal mengudara pada tahun 1980an dengan Liga Italia alias Serie A, menjadi pelanggan TV berbayar memang tidak mudah. Tapi di mana-mana memang begitu. Kalau mau nonton tayangan bagus, bermutu, tidak banjir iklan, banjir presenter waria kemayu, ya bayar.
Keputusan RCTI menghentikan siaran langsung La Liga sekaligus menghapus citra stasiun itu menjadi pelopor virus kompetisi liga sepak bola Eropa di Indonesia. Di awal berdirinya, RCTI dikenal orang karena Seputar Indonesia, program berita yang angle-nya beda dengan TVRI. Gaya penyampai berita di RCTI lebih santai, agak informal, dan cerdas. Beda dengan penyiar-penyiar TVRI yang cuma membacakan teks, mirip baca koran saja.

Sampai sekarang saya masih terkenang gaya presenter Adolf Posumah, Desi Anwar, dan Dana Iswara, yang kemudian menjadi benchmark saya dalam menilai presenter-presenter berita di TV sekarang. Selain Seputar Indonesia, tayangan Liga Italia membuat RCTI menjadi jujukan semua orang Indonesia yang gila bola.

Dalam perkembangannya, kualitas Liga Italia merosot sampai ke titik terendah. Lalu muncul TV7 (sekarang Trans 7) yang rutin menayangkan Liga Inggris. Amboi, suasana pertandingannya jauh lebih heboh daripada Italia. Permainan lebih cepat, lebih keras, lebih semangat. Bintang-bintangnya pun lebih bersinar. Maka penggemar bola di tanah air makin terbius dengan Premier League.

RCTI makin asyik dengan sinetron dan berita-berita politik pesanan pemiliknya HT. Tapi tengah malam kita masih bisa menyaksikan La Liga. Khususnya laga-laga yang melibatkan dua raksasa: Barcelona dan Real Madrid. Sebab hanya dua klub itu yang disukai publik di seluruh dunia. Kualitas Barca dan Real Madrid jauh melampui 18 klub yang lain.

Yah, masih syukur Liga Inggris masih ditayangkan SCTV dan Indosiar yang satu manajemen. Itu pun bukan partai paling heboh. Andaikan ada 5 pertandingan yang dimainkan bersamaan, SCTV/Indosiar biasanya hanya kebagian laga yang dianggap paling jelek. Namanya juga gratisan. Kalau mau lihat super big matches ya harus nyetel si Bein TV itu.

Tentu saja ada segi positif di balik hilangnya La Liga di televisi gratisan. Kita bisa tidur lebih nyenyak, tak perlu nyetel alarm agar bangun 01.30 atau 03.00 demi memuaskan kesenangan kita menonton bola dengan mengorbankan kesehatan. Berbeda dengan Liga Inggris, yang menyesuaikan jadwal laga agar ramah Asia, Liga Spanyol sejak dulu sangat berorientasi Eropa. Gak peduli kalau di Indonesia pukul 01.30 itu orang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur.

21 August 2015

Selamat Jalan Pelatih Suharno



Ribuan penggemar sepak bola di Kabupaten Sidoarjo menundukkan kepala, berbelasungkawa, atas meninggalnya Suharno, 55 di Malang. Pelatih asal Klaten yang malang melintang di jagat sepak bola nasional. Pria humoris tapi sangat disiplin itu terakhir melatih Arema Cronus.

Pelatih Suharno tak bisa dipisahkan dari Gelora Putra (GPD) yang kemudian berubah nama menjadi Deltra Putra Sidoarjo (Deltras). Bahkan, ketika masih menjadi pemain, Suharno merupakan pemain andalan Perkesa 78, klub galatama yang bermarkas di Sidoarjo. Perkesa kemudian pindah markas ke Jogjakarta pada 1987. Sejak itu Sidoarjo hilang dari peta balbalan nasional sebelum muncul GPD yang tak lain jelmaan Gelora Dewata.

Kepiawaian Suharno membaca permainan, skill individu yang tinggi, kerja sama apik, membuat Suharno sangat menonjol. Saat itu Perkesa Sidoarjo cukup disegani di tanah air.

Selepas menjadi asisten pelatih Niac Mitra sembari bermain di klub jawara galatama Surabaya itu, Suharno mulai merintis karir sebagai head coach di kesebelasan Gelora Dewata, Bali. Klub ini kemudian hijrah ke Sidoarjo, ganti nama menjadi GPD, kemudian diambil alih Pemkab Sidoarjo menjadi Deltras. Pada musim kompetisi 2002-2003 itu Suharno menjadi pelatih kepala Deltras di Liga Bank Mandiri.

Itulah era keemasan Deltras FC. Cukup banyak pemain nasional bergabung dengan tim berjuluk The Lobster seperti I Putu Gede, Anang Maaruf, Budi Sudarsono, Agung Prasetyo, dan Isdiantono. Saat itu Stadion Gelora Delta begitu meriah setiap kali Deltras memainkan laga kandang.

Di awal musim, tim besutan Suharno bahkan sempat menjadi juara paro musim alias capolista. Namun, di akhir musim Deltras tercecer di urutan ke-10. Saat itulah Suharno diincar klub-klub besar sehingga tidak bisa bertahan lama di Sidoarjo.

Meski hanya semusim melatih Deltras, ribuan Deltamania alias penggemar bola di Kota Delta tak pernah melupakan kontribusi salah satu pelatih tersukses di Liga Indonesia itu. Setelah sesi latihan yang disiplin, serius, dan keras, Suharno selalu terlihat akrab dengan siapa saja. Ngobrol santai, akrab, dan tak lupa menyapa lawan bicaranya dengan sapaan "Dulur".

"Dulur, sebuah klub itu akan maju kalau ada sinergi antara pemain, pelatih, asisten pelatih, manajemen, suporter, media massa, sponsor, dan sebagainya. Kita semua saling membutuhkan," katanya.

Karena itu, ketika melihat antusiasme penonton terhadap Deltras kian menurun, stadion makin sepi, Suharno secara halus meminta semua elemen untuk duduk bersama, melakukan pembenahan. Sayang, Suharno tak bisa berlama-lama di Kota Delta karena sudah digaet klub lain, kalau tidak salah Pupuk Kaltim.

Sejak itu kita di Sidoarjo hanya bisa mengikuti sentuhan tangan midas Suharno yang selalu sukses menangani klub-klub Liga Indonesia. Saat ini Deltras bahkan terjun bebas ke kompetisi amatir yang disebut Liga Nusantara. Polesan Suharno yang halus, taktis, ciamik itu sepertinya tinggal kenangan.

Selamat jalan Pak Suharno! Selamat beristirahat dalam damai di sisi-Nya! (*)

Serunya Meliput Orang Gila di RSJ Menur



Oleh DJONO W. OESMAN
Mantan Wartawan Jawa Pos


Orang gila selalu dihindari orang normal. Jika orang gila mendekati si normal, yang normal pasti menghindar. Bahkan, undangan Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, kepada surat kabar Jawa Pos (JP) di awal 1986, dihindari kawan-kawan saya. Akhirnya, saya ditugasi meliput itu. Nasib….

Jelang petang di Kantor Redaksi JP, Jalan Kembang Jepun, Surabaya, suasana sibuk. Belasan redaktur dan wartawan, masing-masing memainkan mesin ketik kuno Olivetti. Wajah mereka mengkerut. Bunyi hammer huruf mesin menghantam bantalan karet hitam penahan kertas, meriah bersemangat.
Semua memencet keyboard dengan tekanan keras. Sebab, jika tekanan kurang, hammer besi tidak mampu memukul bantalan kertas. Tekanan harus bertenaga. Jadinya, pukulan hammer menghentak bertalu-talu. Tak… tok…. tak… tok…

Saya baru tiba dari liputan. Ada satu meja kosong, segera saya isi. Saat itu wartawan tak punya meja khusus, kecuali redaktur. Sebab, jumlah mesin ketik kurang dibanding jumlah wartawan yang ada. Sehingga, mesin digunakan bergantian.

Redaktur Nani Wijaya berdiri di dekat meja Sekretaris Redaksi, Oemi. Ia mengamati kertas-kertas yang terserak di meja besar kuno itu. “Lho, ini ada undangan untuk besok. Mengapa belum dibagi ke wartawan?” kata Nani, entah kepada siapa.

Karena yang paling dekat adalah Oemi, maka ia menjawab: “Tak tahu, Ibu. Sudah saya serahkan ke Cholili (Koordinator Liputan) seminggu lalu, tapi katanya, letakkan disini dulu.” Cholili kebetulan tidak kelihatan.

Nani mendekati saya. “Dwo (panggilan saya), ini buat kamu cocok. Kamu kan setengah gila,” ujarnya. Undangan saya baca. Acara: Syukuran Pembangunan Ruangan Baru RSJ Menur.

Oalaaa… undangan ini sudah ‘dilepeh’ (dimuntahkan) teman-teman sejak beberapa hari lalu. Dua teman (nama dirahasiakan) sudah menolak dengan cara pura-pura sibuk, pura-pura kebanyakan acara. Mereka menolak bukan karena tidak ada amplopnya (tentu, yang saya maksud adalah amplop berisi uang). Bukan karena itu, tapi karena ini sulit dijadikan berita layak muat. Itu pula sebabnya diabaikan Cholili.

“Jadikan boks (tulisan features). Saya tahu, kamu ahlinya,” ujar Nani.

“Siap… Saya akan berusaha maksimal,”

Siang, Surabaya panas kerontang. Kota kelahiran saya ini macet di sekitar Pasar Wonokromo. Kendaraan bermotor, becak, sepeda, gerobak pedagang, kereta sapi, saling potong-memotong. Kata-kata lokal: “Jiancuk…” atau “Matamu gak ndelok..” beberapa kali terlontar. Tapi, selepas dam jembatan Jagir, motor saya melaju lancar ke timur.

Tiba di RSJ Menur, saya belum terlambat. Parkir motor, jalan menuju pintu yang dijaga beberapa wanita cantik berkebaya. Wajah mereka manis-manis, postur langsing-langsing membuat hati ini sejuk. Menghapus bau busuk Pasar Wonokromo dan busuknya kali Jagir yang telanjur melekat di baju.

“Oh… dari Jawa Pos… Silakan, Mas, mengisi buku tamu,” sambutnya. “Mohon ini dipakai, ya Mas….” ujarnya. Sungguh, mereka cantik-cantik. Ternyata dia memberi keplek dari karton bertulisan: TAMU. Saya jepitkan ke saku kemeja, jepitannya sudah koyak. Tapi bisa juga menempel.

Lokasi acara jauh di belakang, di gedung yang baru dibangun. Saya masuk melewati koridor panjang, ruang berderet-deret. Itulah tempat pasien. Mereka bergerombol belasan orang di tiap ruang. Pasien lama berseragam hijau-hijau di deretan depan, yang tidak berseragam deretan belakang. Gedung baru tak jauh dari situ.

Di salah satu ruang, ada dua pasien pria main catur. Mereka kelihatan serius memandangi papan catur. Tapi, di belakang mereka ada tujuh penonton pria bersorak-sorak, tepuk tangan, melonjak-lonjak, seperti menonton pertandingan bola. dialog Surabaya: “Ayo… emplok… emplok… cepet diemplok, Mas…” teriak salah satu penonton yang paling dominan. (Ayo... telan, telan itu...)

Uniknya, sang pecatur sama sekali tak merasa terganggu suara berisik. Mereka tetap tekun memandangi papan catur. Saya tersenyum. Tapi kemudian tertegun, saat ada penonton menyambar satu bidak catur, lalu memasukkan ke mulut salah satu pemain. “Emplok, Mas… emplok..” teriaknya. (telan... telan...)

Ternyata pecatur membuka mulut. Maka, blus… masuklah bidak catur ke mulutnya. Tapi digigit, ditahan di gigi depan. Dari jarak sekitar 5 meter saya lihat, yang digigit bidak catur kuda. Sebab, kepala kuda muncul di bibir pecatur. Gilanya, pecatur pemakan kuda ini tenang, mengangguk-angguk, tetap serius ke arah papan.

Penasaran, saya masuk ruangan itu. Ingin tahu papan caturnya. Sebab, dari jauh tidak jelas kelihatan, tertutup oleh para penonton yang melonjak-lonjak. Setelah dekat, bentuknya begini: Papan catur memang ada, tapi bidak-bidaknya tidur semua. Diatur berderet, seperti bed pasien RSJ yang juga berderet. Dasar… gila.

Acara dimulai, kepala RSJ berpidato. Saya melihat ada belasan wartawan yang hadir. Ada para pejabat Kanwil Depkes, juga karyawan RSJ. Saat saya mencabut pena di saku kemeja, keplek tersobek, terlepas dari jepitannya. Sekalian, saya lepas jepitannya, saya masukkan semua itu ke kardus kue snack yang isinya sudah saya habiskan. Tak ada bak sampah disitu.

Usai acara formal, makan siang bersama. Saat itulah terjadi keriuhan. Tidak ricuh, tapi riuh.
Para pasien RSJ menyerbu deretan makanan yang disiapkan untuk prasmanan di taman. Mereka membaur dengan tamu, mengambil makanan. Belasan bodyguard RSJ berbadan tegap-tegap seragam putih-putih, sibuk menghalau puluhan pasien.

Sebagian tamu takut mengambil makanan, berbaur dengan pasien. Para bodyguard dibantu petugas security bekerja keras. Susahnya, saat ada petugas bertindak keras dengan memukul perut pasien, dia ditegur karyawan RSJ. Maksudnya mungkin: Jangan bertindak keras, karena banyak tamu disini, apalagi ada wartawan.

Tapi, teguran ini malah membuat petugas serba salah. Sebab, orang gila tentu sulit dikendalikan dengan cara halus. Hasilnya: semakin banyak pasien menyebar, ikut makan bersama tamu. Terutama, pasien yang tidak berseragam.

Petugas jadi bertindak terlalu berhati-hati, khawatir salah tangkap. Suasana serba tidak enak. Petugas mengamati semua wajah orang yang makan. Sebaliknya, orang yang diamati merasa terganggu. Maka, acara segera diakhiri. Tuan rumah meminta maaf.

Saya yang semula kurang bersemangat, kini berubah bergairah. Dapat berita bagus. Saat semua tamu termasuk wartawan pulang, saya wawancara dengan karyawan dan pembina pasien. Sayang, kepala RSJ sudah menghilang sejak awal keriuhan. Tapi, saya sudah mendapatkan data yang cukup dari pembina pasien, melengkapi deskripsi keriuhan tadi.

Saat berjalan keluar melewati koridor sepi, saya menjumpai keanehan. Seorang bodyguard seragam putih-putih yang jalan hendak berpapasan dengan saya, gayanya aneh. Pada jarak sekitar 10 meter menjelang kami berpapasan, dia memperlambat langkahnya. Kemudian badannya agak membungkuk seperti pegulat yang siap bertarung.

Saya menghentikan langkah, menoleh ke belakang. Mungkin ada orang lain di belakang saya. Ternyata sepi. Hanya ada saya dan dia. Berarti dia bersikap begitu ditujukan ke saya. Tak perduli, saya tetap mengayunkan langkah. Jarak kami kian dekat. Saya jalan di sisi kiri dia ke kiri, saya ke kanan dia cepat beralih ke kanan. Padahal, koridor ini lebarnya sekitar 3 meter.

Saat jarak kami tinggal sekitar 3 meter, saya terkejut dengan tegurannya: “Hayoo… mau kemana kau…” Seketika saya berhenti. Saya tatap matanya, dia jadi semakin galak. Badannya yang berotot, bagai singa siap menerkam. Saya tanya: “Ada apa, Mas?” Dia tak menjawab.

Dalam hitungan detik, dia sudah meringkus kedua tangan saya ke belakang. “Lho… lho… Saya bukan orang gila,” bentak saya. Jawaban dia mengagetkan: “Semua penghuni disini juga bilang begitu.”

“Saya tamu,” bentak saya lebih keras lagi. Dia terpengaruh. Mengamati saku kemeja saya, tapi cengkeramannya tetap kokoh. Saat matanya mengamati saku kemeja saya, sadarlah saya persoalannya: Keplek TAMU sudah saya buang. “Saya wartawan, Mas,” kata saya tak lagi membentak.

Dia kembali mengamati saya. “Gayamu boleh, Dul. Kayak orang normal, he… he… he…” katanya. Wadoh… wadoh… Mbok De…. Saya terjebak kekonyolan ini. Lalu saya membentak lagi: “Hei Mas… ambilkan dompet saya di saku belakang. Ada kartu pers disitu.”

Untung dia mau. Tangan kanannya tetap meringkus saya, kiri mencabut dompet. Saya menunggu. Beberapa detik kemudian dia melepaskan cengkeramannya.

Segera dia meminta maaf berkali-kali sambil menunduk. Saya tidak marah, justru tertawa terbahak-bahak. Dia kelihatan kaget dengan reaksi saya ini. Lalu dia menyalami saya sambil merangkul akrab, “Jangan laporkan saya, ya Mas,” ujarnya. Saya menepuk-nepuk bahunya.

Kami berpisah dengan keakraban. Saya berjalan sambil mengibas-kibaskan lengan yang sepertinya terkilir.

Di dekat gerbang, cewek-cewek cantik penerima tamu sudah mulai berkemas. Salah seorang dari mereka bertanya, “Mas wartawan yang dari Jawa Pos, ya?” Saya mengangguk.

“Wah... saya tunggu, saya kira anda sudah pulang,” ujarnya sambil memberi saya tas plastik berisi cenderamata.

“Kepleknya mana?” tanya si cewek.

Ketika saya jawab hilang saat ada keriuhan makan siang, dia tertegun. Lalu berkata, “Wah… untung anda tidak ditangkap bodyguard, Mas. Disini ketat. Sebab, ada pasien lolos menyamar seperti tamu, memakai keplek,”

Saya menahan tawa. Bukan saja karena penjelasan cewek cantik ini, tapi juga teringat gurauan Nani saat memberi tugas: “Ini buat kamu cocok. Kamu kan setengah gila.” (*)

20 August 2015

Trik Wartawan Lawas Mengakali Redaktur

Oleh Djono W. Oesman
Mantan Redaktur Jawa Pos


“Tidur di masjid lebih enak daripada di hotel,” kata Irawan Nugroho, kawan saya sama-sama eks wartawan Jawa Pos (JP). Itu dikatakan kepada Umar Fauzi, kawan saya eks JP juga, bulan lalu. Ini bukan soal bayaratau gratis (duit), tapi kepuasan dan nostalgia.

Irawan sudah puluhan tahun tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Kangen tanah air, bulan lalu, dia disana menggunakan aplikasi Google map, mencari hotel di kawasan Blok M. Ketemu Fave Hotel, dekat terminal. Terbang-lah dia sendirian ke Jakarta.

Blok M memang tempat istimewa bagi kami, eks wartawan Jawa Pos (JP) biro Jakarta. Tujuh tahun JP berkantor di Jalan Prapanca, Blok M, pada 1990-an. Jadi, maklum Irawan pilih di situ.

Tiba di hotel siang, dia pasang status di facebook, agar teman-temannya datang. Bener, Umar merapat ke sana. Sahabat lama bertemu lagi. Sambil makan, ngobrollah mereka tentang berbagai hal. Pekerjaan, jumlah anak, kondisi keluarga, dan kisah-kisah nostalgia.

Adzan Ashar berkumandang, Irawan berwudhu. Umar pun ikutan.Mereka shalat berjamaah di kamar hotel, imamnya Umar.

Usai shalat Irawan tidur. Umar asyik nonton TV aneka hewan di channel Animal Planet. Setelah Umar tahu temannya ngorok, dia jadi serba gak enak. Mau pulang gak bisa pamitan, mau disitu mikir-mikir: Berapa jam lagi Irawan bangun?

Irawan bangun sudah malam. Mungkin dia mengalami jetlag, sehabis terbang begitu jauh dari Amrik. Lantas Umar pamitan. Tapi segera dicegah. “Mau ke mana, Mar? Nginap sini aja. Tapi, tidur di sini ternyata gak enak,” katanya.

“Hotel di Amerika pasti lebih baguslah,” sahut Umar.

“Bukan begitu. Nggak seperti zaman kita wartawan dulu.”

“Lho, zaman kita wartawan JP, hotel ini belum ada, Dul.”

“Memang. Dulu tempat ini masjid. Dibongkar, dibangun hotel.”

“Kok tau?”

“Aku dulu sering tidur di masjid ini.”

Umar tertegun. Pikirannya melayang-layang ke masa lalu, tahun 1990-an. Dia mereka-reka, jarak antara kantor JP dengan lokasi itu tak sampai satu kilometer. Ya… ya… ya… pantas kalau dulu Irawan sering tidur di sini (masjid).

Irawan: Aku sebenarnya ada urusan ke Papua, bukan Jakarta.

Umar: Lho… terus?

Irawan: Aku cari titik lokasi ini via Google map, pengen tidur di masjid sini seperti dulu lagi. Mumpung aku ke Indonesia. Ternyata masjid sudah jadi hotel ini. Ya sudah, aku ke sini.

Umar mendengarkan kisah Irawan.

Dulu, wartawan JP punya kewajiban harus dapat 3 berita berbeda dan layak JP (berkualitas) per hari. Kalau kurang dari 3, sebaiknya jangan ke kantor. Sebab, bakal diomeli redaktur Nany Wijaya. Dan, akan diberi tugas lagi (berarti balik ke lapangan lagi) sampai dapat 3 berita.

Saya, Irawan, Umar (saat itu dia wartawan foto), sama-sama mengalami itu. Juga sama-sama punya trik rahasia untuk mengatasi itu. Ada juga wartawan JP yang polos tanpa trik. Jadinya, mereka yang polos tiap hari diomeli Nany, dan harus mondar-mandir keliling Jakarta.

Irawan punya trik: Jika suatu hari dia dapat berita kurang dari 3, maka dia tidak langsung ke kantor. Aturannya, tiba di kantor pk 15.00 dan harus sudah dapat 3 berita. Tapi, dia membuang waktu dulu. Kira-kira pukul 18.00 atau lebih, dia baru masuk kantor.

Nany: Berapa beritamu, Wan?

Irawan: Satu, Mbak.

Nany: Whadoooh... wartawan apaan kamu ini? Jakarta begini luasnya, begitu banyak masalah, masak seharian cuma dapat satu….

Irawan menunduk, pura-pura sedih. Tapi dia tahu, tidak mungkin disuruh balik ke lapangan lagi, sebab hari sudah gelap. Pukul 22.00 deadline, waktu habis. Sedangkan, satu berita di tangan belum diketiknya pula.

Nany akan membentak: “Ya sudah… cepat ketik beritamu sana.” Maksud Nany, jika berita bisa diketik cepat, selesai dalam setengah jam, dia bisa memberi tugas lagi.

Jangan dikira Irawan bodoh. Dia akan ngetik beritanya sampai dua jam lebih, sambil sebentar-sebentar merokok yang berarti keluar dari ruangan ber-AC.

Nah, berita selesai diketik Irawan pukul 20.00 lantas diserahkan ke Nany. Pada saat itu Nany sudah lupa, sebab berita semua wartawan berbondong-bondong datang padanya. Dia sudah terlalu sibuk. Loloslah Irawan.

Terus, ke mana Irawan membuang waktu? “Aku tidur di masjid dekat terminal. Ya di sini ini lokasinya,” kata Irawan kepada Umar. Dan, Umar menceritakan kisah itu pada saya, kemarin.

Saya ketawa ngakak mendengar cerita Umar. Pun Umar ketawa ngekek.

Mengapa Umar ketawa?

“Irawan punya trik mirip kamu," ujar Umar menunjuk saya. Dia ketawa gak habis-habis, sampai membungkuk-bungkuk, memegang jidatnya.

Alamaaak… saya baru ingat.

Tapi, trik saya beda gaya dengan Irawan. Kalau dia takut ke kantor pada sekitar pk 15.00 (sesuai aturan) saya malah datang pukul 13.00, di saat Nany belum ngantor. Dia, bisa masih makan, bisa masih di rumah.

Begitu sampai kantor, saya langsung ngetik di komputer: Jakarta, JP. Sudah. Itu saja. “Jakarta JP” adalah tanda pembuka semua berita JP yang diliput dari Jakarta.

Setelah ngetik itu, saya langsung kabur hunting berita. Artinya: Berita baru saya cari kemudian. Hehehe…

Setelah dapat berita, entah 1, atau 2, atau 3, saya langsung menuju Biliar Rodeo. Di sana Umar sudah menunggu, sebab kami sudah janjian lewat pager Motorolla (saat itu belum ada HP). Kami main biliar sampai pk 18.00 supaya gak stres.

Sedangkan di kantor, Nany sejak datang pukul 14.00 sudah melihat tanda “Jakarta JP” di komputer saya. Artinya, jelas saya sudah punya berita, sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Dia pasti senang. Aman, pikirnya.

Begitu saya datang (pukul 18.00 atau lebih) akan ditanya Nany, berapa beritamu, Dwo? “Satu, Mbak.” Sambil pura-pura sedih.

“Ya Allah… Ya Rabbi…. Sebelum jam dua tadi kamu sudah dapat satu. Masak sampai malam begini cuma itu?” hardiknya. “Trus, ke mana aja kamu?”

“Siang tadi dapat satu. Saya ke lapangan lagi. Tapi, yang saya kejar meleset semuanya,” jawab saya, pasang tampang polos.

“Hadeeew…” ujarnya, geleng-geleng.

Pembaca terhormat, tahukah Anda lokasi Biliar Rodeo? Ya, di dekat terminal Blok M, persis di sebelah masjid, tempat Irawan tidur.