30 September 2016

Selamat untuk atlet Jatim dan NTT

Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-19 ditutup tadi malam. Tuan rumah Jawa Barat sukses jadi juara umum dengan 217 medali emas. Disusul Jawa Timur 132 emas dan Jakarta yang emasnya sama. Cuma beda di medali perak dan perunggu.

Jabar memang luar biasa. Peroleh medalinya jauh melampaui Jatim Jakarta. Selisihnya 85 emas. Kok begitu perkasa? Mengapa Jatim dan Jakarta terpaut begitu jauh? Sudah banyak analisis di surat kabar dan internet. Mulai teknis, nonteknis, penghalalan cara demi emas, hingga soal klenik perdukunan.

Tapi kita harus akui Jabar memang benar-benar berambisi dan layak juara umum. Saya menyaksikan final voli putri Jabar vs Jatim di TVRI. Jatim memang kedodoran. Kalah kelas. Kalah segalanya. Jadi, pantas kalah 3-0.

Laga final bola basket putra juga sama. Sejak menit awal pemain-pemain Jabar merajalela. Jatim memang kalah. Asli kalah. Bukan karena wasit berat sebelah atau faktor nonteknis. Karena itu, meskipun banyak kecurangan, kisruh, emas Jabar tetap jauh lebih banyak ketimbang Jatim dan  Jakarta.

Selain Jatim, saya juga memperhatikan hasil yang diraih Nusatenggara Timur (NTT), tempat kelahiranku. Awalnya sempat bikin kami deg-degan karena tim NTT nol medali. Sampai empat hari jelang penutupan. Koran-koran di NTT juga sibuk membahas persoalan ini. Jangan-jangan kontingen NTT pulang kampung tanpa medali.

Syukurlah, di dua hari terakhir NTT langsung melejit. Dapat emas perak perunggu. Total 7 emas 7 perak 9 perunggu. Biasanya anak-anak SD di NTT bakal mendapat pertanyaan saat ujian sekolah (macam saya dulu di Lembata). Berapa perolehan medali NTT di PON Jabar? Ingat-ingat 7-7-9.

Kalau mau fair, NTT sebenarnya bisa dapat emas di atas 10 keping. Sebab sebagian dari tujuh perak itu sebetulnya emas... jika wasit jujur dan objektif. Salah satunya di tinju 56 kg. Petinju Jabar yang jelas-jelas nyonyor, tidak bisa melanjutkan pertandingan, berdarah-darah akibat pukulan petinju NTT malah dimenangkan!

Inilah salah satu keajaiban di PON Jabar. Petinju yang kalah RSC di final malah dapat medali emas. Akhirnya petinju NTT yang marah menyerahkan medali perak kepada petinju tuan rumah. Jadi, petinju Jabar itu dapat emas dan perak sekaligus.

Hehehe... Perlu dicatat di museum rekor Indonesia!

Meskipun resminya hanya dapat 7 emas, orang NTT tidak perlu bersedih. Sebab faktanya ada belasan atlet asal NTT yang dapat emas dengan membawa bendera provinsi lain. Sonde apa-apa lah! Yang penting mereka bisa meraih prestasi untuk Indonesia.

Sejak dulu banyak atlet NTT yang hijrah ke Jawa dan daerah lain karena banyak faktor. Mulai dari bonus yang wah, fasilitas latihan, perhatian pemerintah, hingga peluang untuk mempertajam rekor. Saya sendiri tidak keberatan. Toh saya sendiri pun orang NTT yang sudah lama transmigrasi ke Jawa Timur.

Saya bisa pastikan pelari asal NTT yang menang di PON, meski cuma perunggu, bakal lebih tajam rekornya di Jatim. Sebab fasilitas latihan di Surabaya, Sidoarjo, atau Malang sudah kelas dunia. Beda jauh dengan di Stadion Kupang yang tidak terurus itu.

Belum lagi dukungan pakar-pakar olahraga, sport science, dan sebagainya. Kemudian uji coba dan kesempatan berlaga di luar negeri. Petinju peraih emas PON asal NTT pun sebaiknya ke Jawa kalau mau menekuni tinju profesional.

Selamat untuk para atlet Jatim dan NTT!

26 September 2016

Salah Kaprah Juara Dua dan Juara Harapan

"Klub saya juara empat," kata mantan pemain sepak bola top era 90an.

Saat ini dia jadi pelatih sekaligus pemilik sebuah SSB di Kabupaten Sidoarjo. "Biasanya sih anak-anak saya juara satu. Minim juara dualah."

Kata-kata seperti ini sudah sangat lazim di masyarakat. Hampir semua wartawan olahraga juga menggunakannya: juara 1, juara 2, juara 3, juara 4... dst. Tapi saya sudah lama tergelitik dengan istilah ini.

Juara kok banyak? Setahu saya, sebelum buka kamus, yang namanya juara itu ya satu orang. Atau satu regu/tim. Tidak ada yang namanya juara dua tiga empat lima dst. Apalagi juara harapan satu, juara harapan dua, juara harapan tiga dst.

Akhirnya saya gatal juga membuka kamus besar. Saya cek lema JUARA. Aha, penjelasannya ternyata cocok dengan konsep saya selama ini.

Kamus bahasa Indonesia menulis: "Juara: Orang (regu) yg mendapat kemenangan dlm pertandingan yg terakhir."

Ada lima pengertian juara. Tapi dalam konteks ini (olahraga, lomba, kompetisi, kontes), juara itu sang pemenang di laga terakhir (final). Yang kalah di final ya runner-up. Bukan juara dua. Lebih pas: peringkat kedua. Disusul peringkat ketiga keempat kelima dst.

Kok ada juara harapan segala? Bahkan, dalam lomba-lomba di lingkungan gereja ada juara harapan satu sampai harapan tiga. "Biar lebih banyak yang dapat hadiah," ujar seorang ibu aktivis paroki di Surabaya.  Hehe...

Rupanya salah kaprah juara satu dan juara harapan ini cuma ada di Indonesia. Kalau kita rajin membaca berita-berita berbahasa Inggris niscaya tidak ada juara yang lebih dari satu. CHAMPION itu ya juara! Artinya sama persis dengan JUARA versi kamus standar bahasa Indonesia. Tidak ada the second champion atau the third champion!

Karena itu, saya lebih suka istilah medali emas perak perunggu yang dipakai di olahraga atau olimpiade fisika atau matematika. Lomba paduan suara internasional pun pakai istilah peraih emas perak perunggu. Emas untuk juara alias peringkat satu. Perak posisi kedua, perunggu ketiga.

24 September 2016

NTT kok belum dapat medali di PON 2016?

Setiap hari saya memantau perolehan medali kontingan Jawa Timur di PON XIX/2016. Kelihatannya sulit menyalip Jawa Barat. Tuan rumah itu terlalu perkasa. Selain teknis, Jabar ini terlalu banyak main trik-trik nonteknis agar bisa jadi juara umum.

Biasalah tuan rumah. Tapi PON kali ini kayaknya paling kisruh lantaran si tuan rumah terlalu bernafsu jadi juara umum. Sportivitas jadi kata kosong di slogan. Maka, target Jatim untuk menjadi juara umum sulit terwujud. DKI Jakarta pun sama.

Sedih rasanya membaca dan mendengar curhat adik-adik atlet asal Sidoarjo yang memperkuat Jatim di PON XIX di Bandung. Sudah main bagus, eh ada saja faktor nonteknis. Aulia harus pulang tanpa medali. Padahal cewek asal Buduran ini sudah lama merindukan emas indoor hockey. "Banyak kejanggalan," kata Bu Indah, mamanya Aulia, sedih.

Meskipun memantau Jatim, sebagai orang NTT di perantauan saya tak lupa memperhatikan posisi NTT di klasemen PON XIX. Yah, dari 34 provinsi, hanya dua provinsi yang saya pantau: Jatim dan NTT. Ditambah dua rival abadi Jatim, yakni Jakarta dan Jawa Barat.

Betapa nelangsanya saya melihat posisi NTT di nomor 34. Alias juru kunci. Nomor 1 dari bawah! Kok bisa separah itu? "Jangan khawatir, NTT pasti dapat medali. Biasanya hari-hari menjelang penutupan," begitu antara lain pernyataan ofisial NTT yang saya baca di internet.

Semoga saja ada medali emas untuk NTT! Sangat aneh kalau NTT tidak dapat satu pun medali di arena PON 2016. Sebab sejak dulu NTT punya keunggulan di atletik, khususnya lari menengah dan jauh, tolak peluru, cakram. Dulu hanya dengan seorang Eduard, NTT sudah bisa dijamin dapat emas untuk lari 1500, 3000, 5000, 10000, maraton.

Mengapa tak ada penerus Edu? Wilmintje di pelari putri?

Tinju juga (dulu) andalan utama NTT. Dulu.. sekali lagi nostalgia dulu.. Nelson Oil dkk hampir tak punya lawan di ring tinju nasional. Medali emas sudah pasti di tangan. Kok belum ada tanda-tanda NTT dapat emas? Agak tidak bertengger di posisi 34?

Upacara penutupan PON dijadwalkan 29 September 2016. Masih ada empat hari lagi. Semoga NTT bisa dapat 5 atau 7 medali emas. Setidaknya 2 medali emaslah!

Sangat keterlaluan kalau sampai gagal dapat emas. Lah, dulu ketika NTT masih primitif, jaringan lisrik PLN belum ada, siaran televisi belum menjangkau desa-desa, rakyat belum keranjingan HP seperti sekarang, masih makan jagung... atlet-atlet NTT bisa berprestasi di tingkat nasional. Bahkan tembus ke olimpiade.

Ahok anak Tuhan! Yang lain anaknya siapa?

Kantor pusatku di pecinan Surabaya. Persis di muka gapura Kya Kya Kembang Jepun yang terkenal itu. Pecinan, kota tua ini terlihat ramai dan semrawut. Begitu banyak bangunan tua yang dibiarkan berlumut. Bahkan ditumbuhi tanaman-tanaman liar macam beringin.

Aroma hio, dupa Tionghoa, menjadi bumbu penyedap obrolan di warung kopi atau depot makanan. Sesekali saya ngopi di depot milik orang Tionghoa di salah satu sudut pusat Chinatown itu. "Ahok itu anak Tuhan lho," ujar seorang pria Tionghoa 60an tahun.

Kaget juga mendengar pancingan baba ini. Anak Tuhan! Istilah yang biasa dipakai di kalangan kristiani, khususnya jemaat lahir baru.

"Kok bisa disebut anak Tuhan? Ahok anak Tuhan, kita semua anak Tuhan. Semua manusia juga anak Tuhan. Sebab manusia itu ciptaan Tuhan. Bukan Ahok thok yang anak Tuhan," ujar saya sekenanya. Serius dan setengah guyon.

Saya tidak menyangka kalau Tionghoa berkacamata ini jemaat gereja reborn alias Haleluya. Selama beberapa bulan saya pikir dia tipe Tionghoa khas pecinan yang dekat dengan Kwan Im, Kwan Kong, kue bulan, kue keranjang, sincia, kelenteng dsb. Ternyata saya keliru.

"Anda kan Kristen. Masa nggak ngerti anak Tuhan," ujarnya sengit. Kelihatannya dia agak marah karena pernyataan awalnya saya redam. Dia pikir aku ini serani yang satu aliran dengan dia.

Saya pun diam. Lalu bapak ini membeberkan beberapa omongan dan aksi Ahok gubernur Jakarta. Untuk membuktikan bahwa Ahok itu benar-benar orang Kristen yang salah. Cocok dengan julukan anak Tuhan itu tadi.

"Persoalan Jakarta itu ruwet. Sistemnya harus ditata. Penduduknya sudah jauh melebihi ambang batas," kata saya memancing.

"Tapi saya yakin Ahok bisa. Dia itu anak Tuhan... Kalau anak Tuhan yang pimpin... maka Tuhan juga yang akan kasih jalan," katanya.

Lalu beliau memamerkan kebolehannya mengutip ayat-ayat Alkitab. Tentang pentingnya seorang pemimpin yang memeritah dengan kebijaksanaan dsb dsb. Obrolan pun berubah jadi ceramah kayak di persekutuan doa. Bapak ini cocok jadi tukang khotbah... kalau jualan makanannya seret.

Saya pun minta diri. Sejak itu saya tak lagi mampir ngombe kopi di depot itu. Takut diceramahi soal anak Tuhan, hukum tabur tuai, hujan berkat, memenangkan jiwa-jiwa dsb. Tema obrolan yang sangat berbeda jauh dengan di warkop-warkop lain yang kebanyakan bahas sepak bola atau Bu Wali Kota.

Minggu ini Ahok, Djarot, Anies, Sandiaga, Agus Yudhoyono, Sylviana mendaftarkan diri ke KPU sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Semuanya anak Tuhan. Semuanya ciptaan Tuhan. Siapa yang bakal menang itulah suara Tuhan.

Suara rakyat suara Tuhan!

20 September 2016

Pelukis Rudi Isbandi yang nyentrik


Banyak kenangan indah bersama almarhum RUDI ISBANDI. Pelukis senior Surabaya ini meninggal dunia jelang 80 tahun di Jakarta akhir pekan lalu. Seniman komplet, begawan seni rupa, perintis museum seni rupa (yang keburu tutup), tokoh dewan kesenian, dan macam-macam lagi.

Sudah begitu banyak seniman yang saya temui dan akrabi. Tapi Rudi Isbandi benar-benar unik. Baik kata-katanya yang jenaka, cerdas, kritis, tapi juga laku kesehariannya. Rambutnya dibiarkan panjang awut-awutan. Tidak pernah disisir atau dirapikan. Tidak pernah dicat.

"Saya biarkan apa adanya. Saya justru lebih suka wajah dan penampilan saya sekarang ketimbang waktu muda dulu," kata Pak Rudi saat ngobrol dengan saya di rumah plus museumnya Karangwismo I/10 Surabaya. Tak jauh dari kampus Universitas Airlangga.

Karena itu, Pak Rudi hampir setiap hari membuat sketsa wajahnya. Kadang pakai tangan kiri, kadang tangan kanan. Pria kelahiran Jogja 2 Januari 1937 ini ingin membuktikan bahwa tangan kiri dan kanan sebetulnya sama-sama penting. Sama-sama bisa dipakai untuk melukis, menulis, dan apa saja. Tidak benar anggapan bahwa tangan kiri cuma sekadar pelengkap tangan kanan.

Sketsa-sketsa wajah ini kemudian diberikan kepada siapa saja untuk suvenir. Saya pun dapat satu. Sketsa yang dibuat pakai tangan kiri. "Bagaimana? Ada bedanya skesta hasil tangan kanan dan kiri?" tanya Pak Rudi.

"Mirip banget. Sama bagusnya," jawab saya memuji. Pujian yang tulus. Sebab gambarnya seorang maestro seni lukis yang sudah mengasilkan lebih dari 2.000 karya seni rupa ini memang ciamik.

Sketsa wajah sendiri ini boleh dikata cuma mainan sambil lalu. Sejak akhir 90an Rudi Isbandi makin gandrung instalasi. Barang-barang bekas seperti rantai sepeda, gir, logam-logam rongsokan mesin... dia tata jadi karya seni. Semua karya ada filosofi dan kritik sosialnya. Termasuk menyoroti hiruk pikuk politik saat krisis moneter dan reformasi tahun 1998.

"Seniman tidak boleh diam. Seniman itu bicara lewat karya-karyanya," ujar ayah dua anak ini saat menjelaskan beberapa karya instalasi di lantai atas museumnya. (Putranya Totok sudah lebih dulu almarhum. Putrinya Titik Ratih yang menemani jelang akhir hidupnya.)

Almarhum Rudi Isbandi meraih penghargaan dari Presiden Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur Jatim, Menteri Luar Negeri RI, Pemerintah Mesir, Menko Kesra, KB Lestari Teladan Tingkat Nasional, lencana kemanusiaan dari Presiden Megawati, dan beberapa penghargaan bergengsi lainnya. Tidak terhitung penghargaan-penghargaan kecil. Pak Rudi kemudian dipercaya untuk menjadi anggota tim seleksi calon penerima penghargaan gubernur dan wali kota.

Gaya Rudi Isbandi ini sekilas mirip Slamet Abdul Sjukur, seniman musik kontemporer asli Surabaya, yang berpulang tiga tahun lebih dulu. Sama-sama suka blusukan. Pak Slamet blusukan dengan dibantu kruk. Pak Rudi blusukan jalan kaki ke mana saja kakinya melangkah.

Setiap hari Pak Rudi blusukan ke kampung-kampung di Surabaya. Jalan kaki pagi sampai siang, bahkan petang. "Jalan, jalan, jalan aja... Itu saya lakukan selama puluhan tahun," katanya.

Rudi Isbandi yang gondrong awut-awutan itu tak tergonda naik angkot atau nunut motor dan mobil. Sebab biasanya ada saja kenalannya yang kebetulan melihat dia bermandi keringat di jalan. Diajak numpang mobil. "Lah, wong aku niatnya jalan kok."

Tak sedikit warga yang mengira Pak Rudi ini seorang gelandangan yang cuma luntang-lantung di jalan. Maklum, pakaian yang dipakai sangat sederhana layaknya wong cilik. Orang tidak tahu kalau beliau ini salah satu perupa sukses yang lukisan-lukisannya dihargai tinggi oleh kolektor. Itulah yang membuat dia bisa membuat museum seni rupa dengan biaya miliaran rupiah pada 2010.

Selamat beristirahat panjang untuk Pak Rudi dan Ibu Sunarti! Semoga bahagia di surga!

Maestro Rudi Isbandi Kembali ke Pangkuan-Nya



Berita pendek ini membuat saya kaget. "Maestro seni rupa Pak Rudi Isbandi meninggal dunia hari Sabtu, 17 September 2016. Mohon dimaafkan segala kesalahannya."

Ciutan kecil dari Radio Suara Surabaya ini kemudian di-share ke para seniman, budayawan, wartawan, dan berbagai komunitas Surabaya. Selamat jalan Pak Rudi! Saya pun diam, berdoa sejenak. Sendiri. Sang pelukis senior Surabaya ini bertekun dalam dunianya, seni rupa, hingga buku hidupnya tamat.

"Seniman rupa itu tidak kenal pensiun. Saya harus berkarya sampai selesai. Saya bahkan sudah punya rencana untuk 20 tahun ke depan," kata Rudi Isbandi kepada saya di rumah sekaligus museumnya di Karangwismo I Surabaya sekitar lima tahun lalu.

Eyang Rudi ini bukan seniman atau pelukis biasa. Sejak 1970an dia dikenal sebagai kritikus seni papan atas di Surabaya. Tulisan-tulisannya tajam, enak dibaca, tapi juga bisa nyelekit. Bisa membuat seniman yang karyanya dikritik sakit hati.

"Kalau pelukis yang itu sih perlu belajar lagi. Pelukis X itu lukisannya masih kelas anak-anak. Pelukis Y sudah tua tapi gak aa kemajuan. Pelukis-pelukis kita kebanyakan masih asyik dengan dua dimensi..," begitu antara lain komentar Pak Rudi Isbandi sambil tersenyum.

Di atas meja ada pisang kepok goreng yang enak banget. Buatan sang istri, Sunarti, yang lebih dulu meninggal dunia. Yang kemudian mengubah hidup sekaligus Museum Seni Rupa Rudi Isbandi di Karangwismo itu. Pasangan suami-istri itu begitu mesra kayak remaja yang lagi mabuk cinta. Saling pangku, cium, lalu saya jepret.

"Saya tidak akan tahan kalau sehari saya jauh dari Ibu (Sunarti). Ibu ini hadiah istimewa Tuhan untuk saya," katanya dengan kalimat yang enak, mirip artikel-artikelnya di koran atau buku.

Begitulah. Diskusi atau kritik yang seru tentang seni rupa (juga kesenian umumnya) sering diselingi obrolan ringan seputar kemesraan Rudi Isbandi-Sunarti. Sang istri mengajar di IKIP Surabaya (sekarang Unesa), sementara Rudi Isbandi taat menjalani laku kesenian. "Silakan ditulis omongan saya. Tapi tolong dipilah agar tidak membuat teman-teman tersinggung," katanya.

Biasanya kritikan tajam mengenai seniman tertentu saya simpan saja di kepala. Sekadar referensi belaka. Tapi kadang Rudi Isbandi bicara langsung di seminar-seminar. Dengan bahasa dan gaya yang lebih halus. Karena itulah, beliau sengaja membangun museum seni rupa dengan biaya ratusan juta (mungkin miliaran) hasil melukisnya sejak 1950an. Untuk menunjukkan perkembangan gayanya mulai awal melukis hingga jadi begawan sepuh.

"Siapa saja silakan datang ke museum saya," kata Rudi Isbandi saat peresmian museum yang sangat ramai pengunjung.

Sayang, museum bagus ini tidak bisa bertahan lama. Kepergian Bu Sunarti memuat Pak Rudi goyah. Energinya yang meluap-luap sepertinya layu seketika. Pak Rudi pun ikut anaknya ke Jakarta. Museum di Surabaya mangkrak. Beberapa kali saya mampir ke museum plus rumah itu yang tak lagi berpenghuni. Kliping-kliping koran masih terpampang di dinding teras.

"Rumah itu mau dijual," kata seorang warga Karangwismo.

Sejak itu saya tak lagi bertemu dengan sang begawan seni rupa itu. Kangen rasanya mendengar uraian seni rupa, budaya Jawa, hingga seni instalasi yang jadi kegandrungannya di masa senja. Juga kegemarannya jalan kaki tanpa tujuan, tanpa rencana, blusukan ke mana saja.

"Saya sering menghirup bau sampah di kampung-kampung pemulung. Itu jadi inspirasi sendiri bagi saya," katanya.

Sang begawan itu telah kembali!
Selamat jalan Pak Rudi!

Pengemis Bule vs Pengemis Pribumi

Benjamin Holst pengemis asal Jerman kemarin dipulangkan ke negaranya. Dua petugas mengawal bule geladangan ini dari Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo. Sang bule 31 tahun tersenyum ramah. "Saya sudah punya tiket ke Denmark," kata Benjamin.

Hehehe... Gapleki wong Londo iki.

Kehadiran Benjamin Holst sempat bikin heboh di Surabaya. Dia ngemis di Jalan Demak dan Kayon, kemudian dicokok petugas satpol PP karena mengganggu ketertiban umum. Apalagi orang ini bule Eropa. Jangan-jangan intel yang menyamar? Kalau bekerja, mana surat tugas dan dokumen imigrasi?

Seminggu lebih koran-koran membahas pengemis antarkota antarnegara ini. Jadi berita besar. Kayaknya baru kali ada gepeng (gelandangan dan pengemis) yang jadi perhatian besar di media massa. Sebab nilai beritanya memang besar. Orang bule yang kita anggap makmur, punya duit banyak, ternyata mbambung di jalanan.

Yang jadi rasan-rasan di warung kopi pagi ini adalah perlakukan khusus untuk pengemis bule. Bayangkan, dua orang mengantar pakai pesawat. Tiket untuk petugas dan si bule ini setidaknya Rp 5 juta. Belum makan, minum, dan sebagainya. Belum bekal untuk mr Holst.

"Kok pengemis bule dibela-belain sampai segitu! Dikasih makan enak, permintaannya selalu dituruti. Lah, kok pengemis pribumi malah dianggap penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)," kata cak Kadir di kawasan Rungkut.

Kontras memang memandingkan bule dan pribumi. Pengemis bule si Holst ini bisa keliling dunia, membeli tiket pesawat sendiri. Dia bahkan sudah beli tiket untuk balik ke Eropa. Pakai duit hasil mengemis? Entahlah.

Yang pasti, selama satu bulan terakhir ini teman saya mas Priyo yang bekerja di tempat penampungan gelandangan dan pengemis (gepeng) milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Sidoarjo sibuk mengetuk hati masyarakat untuk menyumbangkan pakaian-pakaian bekas. Sebab para (bekas) pengemis ini tak punya pakaian yang cukup. Negara tidak punya uang untuk membelikan pakaian buat mereka.

Para pengemis lokal juga kerap mendapat perlakuan yang kasar saat dirazia di perempatan jalan. Padahal UUD 1945 sangat jelas memerintahkan negara untuk memelihara para fakir miskin alias gelandangan dan pengemis yang warga negara Indonesia. Konstitusi justru tidak menyebut pelayanan spesial untuk gelandangan warga negara asing.

19 September 2016

MU krisis, Mourinho sebaiknya dipecat

Semalam pertandingan MU vs Watford tidak disiarkan di televisi Indonesia. Sedih karena tidak bisa nonton. Tapi saya sudah menduga MU bakal kalah. Benar saja tim asuhan Jose Mourinho ini kalah 1-3.

Kalah tiga kali berurut memang bukan kebiasaan MU. Tapi melihat penampilan MU sejak dilatih Mourinho, saya tidak kaget. Kerja timnya tidak jalan. Umpan tidak jelas. Gak enak ditonton. Jauh banget dibandingkan Manchester City. Apalagi Barcelona atau Bayern Muenchen.

Saya melihat MU melawan Feyenoord di Liga Eropa. Jelek banget. Pantas kalah. Pelatih Mou sepertinya kehilangan akal untuk membenahi permainan tim yang sebetulnya sarat pemain-pemain bintang itu.

Pogba belum punya efek. Ibra cetak beberapa gol tapi usianya sudah 34. Tidak lagi di usia emasnya. Rooney pun tampak kelelahan. Jose Mourinho? Masih pintar cuap-cuap di media. Menyalahkan wasit. Mengeluhkan pemainnya. Nasib tidak berpihak dsb.

Penggemar sepak bola pasti belum lupa sepak terjang Mourinho musim lalu di Chelsea. Mirip di MU saat ini. Kohesi tim benar-benar payah. Pertahanan bolong. Mudah ditembus penyerang yang berlari cepat dan piawai menggiring bola. Maka Chelsea pun keteteran di urutan ketiga dari bawah.

Dan... Jose Mourinho akhirnya dipecat!

Lah, manajemen MU kok malah merekrut Mourinho yang benar-benar gagal di Chelsea musim lalu? Rupanya orang Portugis ini masih dianggap dewa penyelamat yang bisa mengangkat lagi prestasi MU setelah ditinggalkan Ferguson. Maklum, Mou punya rekam hebat yang bagus di Porto, Chelsea jilid I, Inter Milan, dan Real Madrid.

Tapi itu dulu... Makin lama Mou bukannya makin hebat, tapi malah keteteran. Karena itu, saya sangat tidak setuju ketika Mou ditunjuk sebagai pelatih MU. Sebab bakal jadi blunder besar seperti di Chelsea belum lama ini.

Rupanya krisis mulai terasa di tubuh MU. Kita tunggu satu sampai tiga pertandingan lagi. Kalau mainnya seperti semalam, rasanya sangat sulit untuk menang. Kalau kalah melulu, apa boleh buat, Jose Mourinho harus dipecat.

16 September 2016

Sulit Menemukan Kopi Flores di Flores

Soto madura itu sangat terkenal di Surabaya. Dulu saya sering mampir ke warung soto madura di Jalan Bengawan Surabaya. Sekarang pusat soto madura itu sudah tergusur. Soto madura juga mudah ditemukan di Sidoarjo, Malang, dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Anehnya, ketika keliling kota Pemekasan belum lama ini, saya tidak menemukan warung, depot, atau restoran yang jual soro madura. Di tempat wisata pantai Talangsiring juga tidak ada soto madura. Sate madura juga kosong. Kok bisa soto madura tidak ada di pusat Pulau Madura?

Begitulah. Ini mirip kopi flores yang lagi naik daun di televisi. Koran Kompas pagi ini juga memahas panjang lebar festival kopi flores di Jakarta. Kayak apa sih kopi flores itu? "Kopi arabika yang dibudidayakan di Pulau Flores, NTT," begitu jawaban saya kepada teman yang asli Jawa Timur.

Jawaban generalis ala ludrukan yang tidak bermutu. Sebab saya sendiri yang asli NTT, Lembata, bagian dari Flores Timur (dulu), tidak pernah menikmati kopi flores itu. Padahal sejak kecil saya sudah gemar ngopi. Kopi jenis apa saja. Bahkan, di rumahku ada mesin giling (selep) kopi buatan Belanda.
Kopi yang tumbuh di tanah tinggi tentu hanya cocok di Flores bagian barat. Kayak Ngada dan Manggarai. Kalau Flores Timur atau Lembata pasti susah. Apalagi curah hujan sangat kurang. Ada kopi terkenal milik kongregasi romo-romo SVD di Hokeng Flores Timur. Itukah yang dinamakan kopi flores? Atau kopi manggarai dan ngada seperti konteks berita di Kompas?

Yang pasti, cerita tentang kopi flores ini ternyata tidak sesuai image di media massa. Saat berlibur ke NTT, mulai dari Kupang kemudian Flores dan Lembata, saya justru sedih karena budaya ngopi di kampung halaman sudah berubah drastis. Saya tidak lagi menemukan orang yang sibuk menyangrai kopi di dapur. Kemudian digiling sendiri atau dibawa ke selep seperti masa kecil saya dulu.

Ketika saya minta dibuatkan kopi, apa yang terjadi? Kopi saset buatan pabrik di Jawa Timur yang dikeluarkan. Kopi Tugu Luwak dari Gresik dan Kapal Api dari Sidoarjo. Ada juga Torabika yang masuk pasar belakangan. Tapi yang paling banyak justru Tugu Luwak.

Mana kopi yang dari kampung? "Tidak ada. Tugu Luwak ini yang paling disukai orang," kata adik perempuan saya.

Hem... Saya pun sadar telah terjadi perubahan selera dan kultur yang luar biasa di kampung halaman. Dulu, sewaktu SD di pantai utara Lembata, hampir tidak ada kopi buatan pabrik yang masuk kampung.

Kopi Kapal Api sudah ada tapi kurang disukai. Orang-orang kampung pada 1980an dan 1990an menganggap kopi hasil industri di Jawa, yang dijual di toko-toko milik baba-baba Tionghoa, rasanya aneh.

Waktu jualah yang mengubah segalanya. Rakyat tidak lagi membeli biji kopi dari pedagang untuk disangrai dan dicampur jahe, jagung, dan bumbu-bumbu lain sesuai selera. Terlalu repot. Cukup membeli kopi sasetan, diseduh dengan air panas, selesai.

14 September 2016

Yesus Bisa Bahasa Inggris?

Setiap hari Pak Budi yang tinggal di Sidoarjo membagi renungan kepada orang-orang Katolik yang dikenalnya. Bagus-bagus dan menyentuh. Gak kalah sama pastor atau pendeta. Malah sering lebih bagus. Padahal bapak yang tinggal di Sidoarjo ini awam alias umat biasa.

"Sampean ini kelihatannya sudah mengalahkan rohaniwan hehe..," goda saya.

"Rohaniwan dan awam itu kan cuma status. Kita semua sama-sama umat Allah," kata Pak Budi tak lupa mengutip ayat Alkitab. Dia memang fasih soal ayat dari Kejadian sampai Wahyu.

Satu yang agak mengganggu saya adalah ini: dia sering banget mengutip ucapan Yesus Kristus dalam bahasa Inggris. Hari Rabu ini alinea pertama renunganya begini:

"Consider the lilies of the field how they grow; they toil not, neither do they spin; and yet I say unto you, that even Solomon in all his glory was not arrayed like one of these."

Lima alinea yang lain dalam bahasa Indonesia. Tata bahasa, tata kalimat, ejaannya boleh dikata sempurna. Pria bergelar doktor ini memang sangat teliti soal bahasa Indonesia meskipun di media sosial. Bahkan singkatan macam yg (yang), dgn (dengan), dsb (dan sebagainya) tidak dia pakai. Persis makalah atau artikel di surat kabar yang memang bersifat resmi.

Saya selalu bertanya dalam hati mengapa kutipan Alkitab, khususnya kata-kata Yesus, sering dalam bahasa Inggris? Padahal kutipan yang lain dari Alkitab bahasa Indonesia yang sangat umum. Hanya untuk variasi? Bumbu penyedap?

Supaya kelihatan fasih berbahasa Inggris? Atau terjemahan Inggris lebih baik? Saya belum sempat bertanya langsung karena gak enak. Tapi Pak Budi tidak sendiri. Banyak sekali pendeta-pendeta di Surabaya yang sangat senang mengutip Alkitab berbahasa Inggris. Kemudian kutip lagi yang bahasa Indonesia.

Sudah lama saya ketawa sendiri kalau menyimak khotbah-khotbah berlumur English itu. "Memangnya Yesus dulu bicara bahasa Inggris? Memangnya bahasa asli Alkitab itu bahasa Inggris?"

Ada kemungkinan para pendeta dan Pak Budi ini ingin meniru gaya khotbah kiai-kiai atau ustad muslim. Pasti mengutip ayat suci bahasa Arab kemudian bahasa Indonesia. Dan itu sangat bagus karena Alquran memang aslinya berbahasa Arab. Terjemahan dalam bahasa di luar Arab pasti ada kelemahannya.

Nah, yang terjadi di kalangan kristiani lebih ke penyakit nginggris atau keminggris. Ben ketok pinter ngomong Inggris. Wong Alkitab bahasa Inggris itu pun hasil terjemahan dari bahasa Aram dan Ibrani - bahasa asli Alkitab. Mengapa tidak mengutip bahasa asli itu saja?

Hehehe...

Di Indonesia sangat jarang ada pendeta atau pastor yang menguasai bahasa asli Alkitab. Mungkin di seluruh Jawa Timur ini tidak sampai 100 orang. Setahu saya yang biasa mengutip ayat Alkitab dalam bahasa asli itu Romo Pareira dan Romo Pidyarto (sekarang jadi uskup Malang).

Kalau cuma mengutip bahasa Inggris, siapa yang tidak bisa? Tinggal membaca atau copy paste saja. Tidak perlu belajar mengaji secara intensif seperti yang dilakukan saudara-saudari kita yang beragama Islam dengan kitab sucinya. Karena itu, saya selalu takjub melihat anak-anak belasan tahun di Sidoarjo yang fasih menghafal Alquran.