26 February 2017

Gerson Poyk kembali ke bumi NTT




Gerson Poyk sastrawan hebat asal NTT itu telah pergi untuk selamanya. Usianya 86 tahun. Tapi banyak orang yakin usia aslinya lebih dari itu karena penulis hebat itu diduga kuat memudakan usia agar bisa tetap muda di depan wanita.

Gerson Poyk juga membuktikan bahwa kopi, sopi dan rokok tak membuat umurnya jadi pendek. Meskipun sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, Bung Gerson selalu antusias pulang kampung ke bumi NTT. Mengapa? Karena di seluruh NTT selalu ada sopi, tuak, arak dan sejenisnya.

"Wanita-wanita akan terlihat lebih menawan kalau kita minum sopi," ujar sastrawan yang selalu jenaka dan ceria itu.

Gerson Poyk memang fenomenal dan unik. Betapa tidak. Ketika sebagian besar rakyat NTT masih buta huruf, ia sudah bergelut dengan buku-buku kelas berat. Menghasilkan tulisan sastra, jurnalistik, yang banyak. Dialah sastrawan besar asal NTT yang sulit dicari tandingannya.

Gerson Poyk mendapat penghargaan Adinegoro pada 1985 dan 1986. Kemudian SEA Write Award pada 1989. Kumpulan cerpennya sangat banyak. Sebut saja Hari-Hari Pertama (68), Sang Guru (71), Matias Akankari (75), Cinta Rajaguguk (75), Nostalgia Nusa Tenggara (76), Cumbuan Sabana (79)... dan masih banyak lagi.

Hingga tahun 2016, ketika fisiknya sangat menurun karena tua, Bung Gerson pun tetap menulis. Beberapa cerpennya dimuat di koran terbitan Jakarta.

Yang menarik, hampir semua karyanya ada tali temali dengan kehidupan orang sederhana di Nusa Tenggara. Gerson bercerita tentang singkong, kebun, bambu betung, panen dan sejenisnya. Inilah yang membuat Gerson Poyk sejak dulu dianggap sebagai humas orang NTT lewat sastra.

Tak heran, orang-orang NTT (maksudnya intelektual, sastrawan, dan budayawan) mendesak agar jenazah Gerson Poyk dimakamkan di NTT. Dan harus di taman makam pahlawan!

Peter Apollonius Rohi wartawan senior dan sahabat Bung Gerson menulis:

"Masyarakat meminta jenazah sastrawan Gerson Poyk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kupang. Ia memang seorang pahlawan dalam dunianya, dikenal dalam dan luar negeri. Polemik terjadi. Masyarakat meminta, tapi persyaratan memberatkan. Ia harus memiliki unsur TNI atau unsur tentara. Bersenjata.

"Perjuangan Gerson untuk mengangkat nama bangsa, dimulai dari bawah. Coretan kalbu dalam penanya mengundang decak kagum. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa sebagai karya sastra dunia, termasuk Turki dn Rusia. Tentu saja juga dalam bahasa Prancis, Inggris, Belanda dll. Kata Napolion Bonaparte, pena penulis lebih tajam dari seribu bayonet.

Penulis akan dikeang sepanjang masa. Orang tahu siapa itu seniman2 besar seperti Leo Tolstoy, Shakespeare, musicus Chopin, Mozart, pelukis Van Gogh, Michelangelo dll, tapi mereka tidak ingat siapa para penguasa zaman itu, siapa para konglomerat masa mereka, siapa jenderal atau lain2nya.

Para pemikir dan pencipta tetap besar dan dikenang sepanjang massa. Gerson sendiri tidak meminta, tapi masyarakat telah mempahlawankan dia, sebagai pemberi semangat dan inspirasi jutaan anak2 muda Indonesia, jutaan anak2 muda NTT.

Mari kita berpikir baru, bahwa para pahlawan itu adalah mereka yang juga para pemikir, para penemu, para perintis dalam berbagai hal yang karya2 mereka dinikmati jutaan orang. Berpikirlah bahwa Makam Pahlawan bukanlah makam tentara. Pahlawan adalah mereka yang diakui masyarakat sebagai pahlawan."

Selamat jalan Bung Gerson Poyk!

25 February 2017

Indonesia berubah kayak Afghanistan?




Sascha Stevenson punya opini yang gelap tentang masa depan Indonesia. Seperti apa Indonesia 10 tahun mendatang? 20 tahun? 50 tahun? Simak di sini
https://m.youtube.com/watch?v=Dnrs1ulccgA

Akankah Indonesia bakal jadi seperti Afghanistan yang kacau balau? Yang perempuannya tidak boleh sekolah, cuma mendekam di dalam rumah? Tidak ada kebebasan bicara atau berpendapat? Bahkan model pakaian yang dipakai pun sudah ditentukan oleh tokoh masyarakat, pemerintah atau ulama?

Sascha termasuk bule pendatang baru di Indonesia. Awalnya jadi guru bahasa Inggris di EF, kemudian belajar Islam, jadi mualaf, pakai cadar yang sangat tertutup... dan akhirnya jadi seperti sekarang. Nikah dengan dosen asal Bandung.

Sascha banyak mencermati kehidupan sosial politik agama musik pendidikan dsb di Indonesia sejak 2001. Satu dekade lebih. Tapi rupanya wanita asal Kanada ini sudah merasakan ada indikasi yang mengarah ke gaya hidup ala Afghanistan.

Siapa orang Indonesia yang mau berwisata ke Afghanistan sekarang? Apalagi wanita. Apa yang bisa dinikmati di Afghanistan yang penuh chaos itu? "Saya tidak akan mau," ujar Sascha yang sangat terkenal di Youtube itu.

Jauh sebelum Sascha bicara gamblang di Youtube, saya sudah membaca tulisan-tulisan beberapa sarjana Barat pada tahun 80an dan 90an. Mereka sudah menangkap isyarat itu sejak lama. Dan itu dimulai saat perdebatan panas pembahasan undang-undang perkawinan tahun 1974.

"Sekitar 30an tahun ke depan Indonesia akan sangat berubah. Anda akan kesulitan melihat rambut wanita Indonesia di depan umum," tulis pakar asal Jerman yang saya lupa namanya.

Begitulah. Yang namanya masyarakat senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman. Tentu berubah menjadi lebih baik dan baik. Kalau berubah menjadi seperti Afghanistan yang dikuasai Taliban ya wassalam.

22 February 2017

Baba Ahok kini underdog

Blunder Baba Ahok di Pulau Seribu benar-benar dimanfaatkan Anies Baswedan untuk menyalip di tikungan. Perolehan suara Ahok kemarin masih terbanyak tapi tidak sampai 50 persen. Pilgub DKI Jakarta pun harus diulang di putaran kedua pada 19 April 2017.

Nasi sudah jadi bubur. Baba Ahok yang mestinya menang satu putaran kini harus menghadapi cabaran yang berat. Dengan posisi yang seimbang maka suara pendukung Agus SBY yang 17 persen yang bakal menentukan pemenang pilgub Jakarta.

Di atas kertas boleh dikata sebagian besar pemilih Agus condong ke Anies. Apalagi melihat aksi berbalas pendapat kubu SBY dan Jokowi akhir-akhir ini. Bagaimanapun juga Ahok itu diusung PDIP yang punya kaitan dengan Jokowi.

Kalau analisis di atas kertas itu terwujud di lapangan, ya Anies bisa dipastikan menang dengan selisih 5-7 persen. Bisa saja Ahok mengambil suara pemilih yang kemarin belum sempat nyoblos. Tapi jumlahnya tidak banyak. Dan tidak semuanya pendukung Ahok.

Satu-satunya jalan ya meyakinkan pemilih Agus SBY tadi. Mungkinkah itu? Dalam politik apa saja mungkin. Siapa yang menyangka seorang Anies yang dulu tangan kanan Jokowi, menterinya Jokowi, merapat ke Prawobo? Siapa sangka Anies yang orang Paramadina bergandengan tangan dengan Rizieq pimpinan FPI?

Begitulah. Politik bukan matematika meskipun bisa diramalkan berdasar peta sosial budaya ekonomi dsb. Kita yang berada di luar Jakarta hanya berharap Jakarta dan negara ini tetap aman dan damai.

20 February 2017

Baba Tionghoa menang lagi di Lembata



Pemilihan bupati di Lembata NTT sudah selesai. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU, pasangan Yenci Sunur dan Thomas Ola Langoday bisa dipastikan menang. Baba Sunur yang peranakan Tionghoa masih terlalu tangguh buat empat pasangan lainnya.

Viktor Mado Watun mantan bupati rupanya harus puas di posisi ketiga. Padahal politisi asal Atawatung Ileape ini didukung penuh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, sesama kader PDI Perjuangan. Klaim tim sukses Viktor Mado pun terpatahkan.

Di mana-mana yang namanya petahana (incumbent) memang sulit dikalahkan. Kecuali dia melakukan tindak pidana kelas berat macam korupsi, jadi bandar narkoba atau otak pembunuhan. Kalau cuma salah ngomong, tidak menjaga lidah macam Ahok di Jakarta ya tidak begitu berpengaruh pada hasil pemilihan

Selama lima tahun menjabat bupati Lembata, Baba Sunur ini sering digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Begitu banyak tuduhan miring terhadap baba yang lebih banyak menghabiskan umur di Jakarta dan Bekasi itu. Malah ada orang (anonim) yang bikin website khusus di internet untuk menyerang Baba Sunur.

Tapi buktinya baba yang kabarnya punya leluhur di Kedang ini tetap saja sakti. Lawan-lawannya justru kelelahan sendiri. Bukannya bersatu untuk maju menghadapi Baba Sunur, para politisi Lembata ini rame-rame keroyok Sunur di pilkada 15 Februari 2015.

Bayangkan, Kabupaten Lembata yang kecil itu (dulu gabung Flores Timur) punya lima pasangan calon. Yang menarik, 4 pasangan punya cabup atau cawabup asal Ile Ape, kecamatan asal saya. Bahkan ada satu desa (Atawatung) yang punya dua calon bupati: Viktor Mado Watun dan Lukas Witak.

Lah, bagaimana suara rakyat tidak terpecah ke banyak pasasangan kalau yang maju begitu banyak? Apalagi Baba Sunur yang ahli strategi menggandeng orang Ile Ape, Thomas Ola Langoday, sebagai calon wakil bupati.

Maka perbedaan dukungan pun terlihat nyata. Erni di Lamahora memilih Viktor Mado, sementara suaminya mencoblos Baba Sunur. Orang Ile Ape malah banyak yang memberikan suara untuk calon bupati yang Tionghoa. ''Kita kan bebas memilih,'' ujar Siba asal Ile Ape yang senang Baba Sunur.

Leo Larantukan, pengamat politik NTT, mengatakan kemenangan Marianus Sae di Ngada, Baba Sunur di Lembata dan AG Hadjon di Flores Timur punya pola yang sama. Selain memainkan isu daerah, mereka sangat rajin mengunjungi bapa-mama petani kecil di kampung-kampung pelosok.

''Duduk makan sirih pinang bersama, Ja'i, Sole, dan Dolo bersama. Sehingga berkali-kali demo kepada Marianus dan Yenci Sunur, oleh kebanyakan orang kampung dianggap sebagai permainan para elit semata,'' ujar teman lama yang asli Waibalun Flores Timur itu.

Kemenangan kedua Baba Sunur di Lembata ini juga menunjukkan bahwa politik SARA tidak efektif di Indonesia. Orang-orang sederhana di Lembata tidak lagi berkutat dengan isu lama TITEN NIMUN (putra daerah, pribumi, orang kita) tapi sudah sangat rasional.

''Saya heran mengapa Baba Sunur dapat suara banyak dari Ile Ape. Padahal orang Ile Ape sendiri ada dua orang yang jadi calon bupati,'' ujar Siba.

13 February 2017

Komperta dan geliat kesenian di Sidoarjo

Teman-teman seniman Sidoarjo sempat loyo setelah diterjang lumpur Lapindo akhir Mei 2006. Apalagi cukup banyak seniman yang tinggal di daerah terdampak lumpur. Beberapa seniman senior yang biasa menggerakkan kesenian di Sidoarjo macam Eyang Thalib, Bambang Thelo, Eyang Bete meninggal dunia.

Bung Yasluck ketua dewan kesenian juga wafat. Pelukis Djoko Lelono Stefanus juga meninggal mendadak. Maka 10 tahun ini hampir tidak ada pemeran lukisan atau pertunjukan kesenian yang besar. Ada satu dua kegiatan seni tapi cuma percikan-percikan kecil.

Syukurlah, dua tahun ini sudah ada geliat kesenian, khususnya seni rupa. Teman-teman pelukis muda bikin Komperta : Komunitas Perupa Delta. Dipimpin Antonius Juniarto Dwi Nugroho, seniman Komperta rajin blusukan ke berbagai kawasan Sidoarjo untuk OTS.

OTS iku opo? ''On the spot. Melukis langsung di lokasi,'' ujar Juniarto yang juga guru seni rupa. OTS ini juga sekaligus mengangkat candi-candi dan tempat wisata di Kabupaten Sidoarjo.

Lama-lama OTS jadi agenda rutin seniman Sidoarjo plus Surabaya dan kota-kota sekitar. Lama-lama lukisan jadi banyak. Lama-lama ada gairah untuk bikin pameran. Jujur aja... Komperta inilah yang sekarang jadi motor penggerak kesenian di Sidoarjo.

Komunitas-komunitas lain pun ikut terprovokasi untuk bangkit lagi. Komunitas Sketsapora makin aktif. Bumbu Pawon yang dimotori Rojib alias Mbah Bey juga makin kenceng. Bung Santoso juga aktif mendampingi perupa-perupa muda.

Pasar Seni di Pondok Mutiara pun hidup lagi setelah mati suri cukup lama. Komunitasnya Jansen Jasien di Krian juga menghidupkan gedung Lokaphala yang mangkrak itu.

Saat ini dua komunitas perupa lagi bikin pameran dalam waktu bersamaan. Komperta gelar pameran bersama dengan tajuk Among Karsa di Taman Budaya Jatim, Gentengkali Surabaya. Ada 21 pelukis Sidoarjo plus Surabaya dan sekitar ikut bergabung. Masing-masing pelukis dibatasi 2 karya.

Luar biasa! Karena itu, saya gembira ketika diminta Mas Juniarto ketua Komperta untuk menyumbang tulisan di katalog Among Karsa. Saya sampaikan apresiasi kepada Komperta yang kembali memanaskan mesin kesenian di Sidoarjo yang macet sangat lama.

Saya juga salut dengan Cak Amdo yang menghidupkan kembali pasar seni yang tidur lama itu. Apalagi kemarin Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat penting hadir untuk membuka pameran lukisan bertema lingkungan itu.


12 February 2017

Nasi jagung murah di Tanggulangin



Hampir tidak ada orang Sidoarjo yang makan nasi jagung. Apalagi yang menanam jagung. Kecuali beberapa penduduk Kecamatan Jabon di pinggir selatan Sungai Porong. Itu pun cuma sekadar memanfaatkan bantaran sungai yang kosong.

Makanya kita sangat kesulitan mencari warung yang jualan nasi jagung. Orang NTT yang pernah menghabiskan masa kecil dengan makan nasi jagung setiap hari biasanya kangen makanan wong cilik itu. Dulu ada PKL yang buka lapak di luar Stadion Gelora Delta. Tapi belakangan saya tak menemui ibu itu.

Eh, pagi ini saya tidak sengaja berjumpa dengan nasi jagung di pinggir jalan raya Tanggulangin. Harganya cuma Rp 3500. Mana ada nasi bungkus di bawah Rp 5000 di Sidoarjo dan Surabaya?

''Nasi jagung itu punya penggemar khusus,'' ujar mas pemilik warkop yang doyan lagu2 dangdut koplonya si Shodiq kriwul itu.

Maka sambil nunut nyetrum HP, saya menikmati nasi jagung yang lezat. Pake iwak asin. Teh tawar. Total tidak sampai Rp 5000. Malah dapat bonus nonton video konser dangdut koplo Monata plus internet gratis plus nyetrum ponsel.

Seandainya orang Indonesia, khususnya NTT, makan nasi jagung melulu, biaya konsumsi bisa ditekan banyak. Tak sampai Rp 500 ribu sebulan per mulut. Kalau masak sendiri pasti lebih murah lagi.


11 February 2017

Homili Minggu Ini Bahas KAFIR



Matius 5 : 22
''Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.''

''But I say to you, whoever is angry with his brother will be liable to judgment, and whoever says to his brother, 'Raqa,' will be answerable to the Sanhedrin, and whoever says, 'You fool,' will be liable to fiery Gehenna.''

Minggu ini umat Katolik di seluruh dunia membahas tema ini: marah, kafir, perzinaan, sumpah dsb. Yang aktual hari2 ini, di tengah suhu politik yang panas, adalah KAFIR.

Siapa yang KAFIR? Definisinya apa kafir itu? Apakah orang yang berbeda agama itu kafir? Yang agamanya sama2 kristiani tapi beda aliran gereja bagaimana? Kafir kah?

Kalau mengacu pada ucapan Yesus Kristus yang dibahas di gereja2 Minggu ini, Minggu VI Masa Biasa, maka kata KAFIR harus dicoret dari kamus rohani kristiani. Kita tidak berhak menyebut siapa pun KAFIR atau RAQA dan kata2 sinonimnya.

''Siapa yang menyebut sesamanya KAFIR harus dihadapkan ke mahkamah agama,'' begitu peringatan Gusti Yesus.

Sayang, di era media sosial ini, di Indonesia, kata KAFIR mengalami inflasi luar biasa. Begitu mudah orang mencap sesama manusia dengan kafir kafir kafir...

Kata KAFIR ini kayaknya lebih cocok dikenakan pada para koruptor pencuri uang rakyat. Siapa pun orangnya, apa pun agama dan jabatannya, kalau korupsi ya kafir. Alias ingkar dari amanat rakyat. Menteri agama sekalipun yang hafal kitab suci, kalau korupsi ya kafir. Hakim konstitusi yang korupsi? Sama aja kafirnya. Begitu.