28 July 2014

Hikmah Lebaran: Surabaya bebas macet

Betapa menyenangkan melintasi jalan-jalan utama di Kota Surabaya sehari jelang Lebaran, Minggu 27 Juli 2014. Benar-benar lancar jaya. Tidak ada yang namanya bottle neck atau kemacetan seperti yang selama ini kita rasakan.

Mudiknya begitu banyak warga tidak berarti membuat jalanan di Surabaya lengang. Tetap ramai. Masih banyak mobil, angkutan kota, dan kendaraan pribadi yang lalu lalang. Tapi, karena jumlahnya pas, tidak ekstrem banyak, maka berkendara menjadi sangat menyenangkan.

Ambil contoh titik yang biasanya paling macet di Bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani sampai jalan layang Wonokromo. Di luar musim mudik Idulfitri, jalan raya yang panjangnya hanya satu kilometer lebih itu bisa makan waktu 30-50 menit dengan kendaraan bermotor. Apalagi pagi hari jam orang berangkat kerja.

Kemarin, saat saya survei, waktu tempuh tak sampai 5 menit. Banyak mobil bisa melaju hingga 80 km/jam saking longgarnya. Kalau hari biasa sih melaju dengan 10 km/jam saja susahnya minta ampun.

Ruas jalan Bundaran Waru ke Jembatan Porong juga lancar jaya. Bundaran Waru menuju Krian pun mulus. Kita bisa menikmati jalan raya yang benar-benar manusiawi. Tidak kosong tapi tidak penuh sesak.

Inilah hikmah Lebaran terbesar di Surabaya dan Sidoarjo. Kita jadi tahu bahwa daya dukung jalan raya itu ya cuma segitu. Minggu depan jalan raya akan kembali overload seperti biasa. Dan stres lagi seperti biasa.

Selamat Idulfitri. Maaf lahir dan batin!

25 July 2014

Mudik laut bisa jadi alternatif

Koran-koran hari ini membahas masalah jalan raya di Jawa yang sempit, padat, penuh, saat arus mudik Lebaran. Juga jembatan di Comal dan Ciamis yang rusak. Juga banyak titik rawan yang sama dari tahun ke tahun.

Membaca koran jelang Idulfitri dan melihat liputan di televisi rasanya sangat membosankan. Sebab tiap tahun masalahnya sama. Sudah puluhan tahun ya soal Nagrek, macet total, jalan rusak, tambal sulam tak karuan.

Siapa pun bupati, wali kota, gubernur, atau presiden, termasuk Jokowi, mustahil membereskan jalan raya di Pulau Jawa yang kelebihan beban. Kepemilikan kendaraan pribadi yang luar biasa, angkutan massal diabaikan, membuat situasi jadi runyam. Ini dimulai dengan banjir motor dan mobil buatan Jepang sejak 1970an.
Tanpa ada kebijakan yang pro transportasi massal sekaligus pembatasan kendaraan pribadi, jangan pernah bermimpi arus mudik di Jawa lancar jaya. Kereta api pun belum bisa jadi solusi karena kapasitas yang terbatas. Apalagi orang Indonesia, khususnya di Jawa, sudah termanja oleh kendaraan pribadi yang memang sangat fleksibel.

Mau belanja di Indomaret yang cuma 100 meter dari rumah saja orang Jawa tidak mau jalan kaki. Parkir mobil harus di depan ATM karena si pemilik mobil tidak mau jalan kaki 50an meter. Bahkan ada sistem drive thru sehingga si pengendara mobil tidak perlu turun kalau membeli ayam goreng di KFC dan sejenisnya. Perpanjang STNK pun sekarang cukup duduk manis di dalam mobil yang nyaman.

Maka, sembari membenahi jalan raya sepanjang seribu kilometer di Jawa, mengapa tidak dibiasakan mudik lewat laut? Bukankah kapal-kapal Pelni cukup banyak? Kapal-kapal TNI AL juga banyak yang nganggur. Kapal-kapal swasta lebih banyak lagi.

Pemudik dari Jakarta bisa turun di Semarang, Surabaya, dan Banyuwangi. Tiga pelabuhan besar ini sangat memadai untuk meng-cover pemudik tujuan Jateng dan Jatim. Bisa mengurangi kepadatan jalan raya Jakarta-Surabaya-Banyuwangi.

Persoalan selesai? Nanti dulu. Setelah turun di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, timbul masalah baru. Ke Madiun atau Nganjuk naik apa? Bus antarkota tentu saja. Tapi harus ke Terminal Bungurasih di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Repot lagi karena barang bawaan pemudik biasanya buanyaak buangettt.

Inilah peliknya transportasi kalau pelabuhan laut tidak punya koneksi langsung dengan terminal bus. Harusnya di Pelabuhan Tanjung Perak ada terminal bus antarkota yang bersih dan bagus ala negara maju. Juga sekaligus stasiun kereta api di dekat pelabuhan.

Nah, setelah tiba di Madiun atau Nganjuk, ada persoalan lagi. Naik apa ke desa? Biasanya tidak gampang mencari angkutan pedesaan. Apalagi untuk mengangkut barang-barang yang banyak dari Jakarta.

Karena itu, ide lama memanfaatkan kapal laut untuk mudik ternyata tidak mudah diwujudkan. Hanya cocok untuk pemudik yang kampung halamannya di kota-kota yang ada pelabuhannya macam Surabaya atau Semarang.

Selama layanan angkutan massal masih semrawut, belum tertata, ya, mudik dengan kendaraan pribadi tetap jadi pilihan sebagian besar masyarakat. Apalagi mobil pribadi bisa untuk silaturahmi dan ngelencer ke mana-mana selama liburan Lebaran. Sekaligus pamer kesuksesan selama bekerja di Jakarta.

24 July 2014

Mudik ala Jawa yang luar biasa

Lupakan politik, lupakan Prabowo, lupakan Jokowi. Saat ini saya lagi melihat arus mudik di Terminal Bungurasih. Ramai bukan main. Puncak mudik bisa dipastikan Jumat 25 Juli 2014.

Betapa antusiasnya orang Jawa yang bekerja di Surabaya, Sidoarjo, Malang dsb untuk mudik. Pulang kampung, berlebaran dengan keluarga di desa atau kota kecil. Berjumpa kerabat, kenalan, atau teman-teman sekolah semasa di kampung tempo dulu.

Begitu pentingnya mudik ini, sehingga jadwal kerja di kantor pun harus disesuaikan. Agar teman-teman yang rumahnya di Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat kayak Trenggalek atau Nganjuk bisa mudik dengan asyik. Setidaknya masih sempat berpuasa dua tiga hari bersama keluarganya di kampung.

Mengapa harus mudik? Bukankah orang-orang itu sudah karatan di Surabaya? Tinggal dan bekerja 10 tahun, 20 tahun, bahkan punya anak cucu di Surabaya?

Yah, namanya juga tradisi turun-temurun. Kalau tidak dilaksanakan bisa kualat. Sulit membayangkan orang Jawa tidak mudik hari raya ke kampung orang tua atau leluhurnya.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya orang-orang Jawa yang memenuhi Kota Surabaya, Jakarta, dsb itu pada dasarnya orang kampung. Orang udik. Dan mereka tetap saja memelihara keudikan mereka dengan rutin mudik untuk Idul Fitri.

Secanggih-canggihnya di Surabaya, banyak plaza, mal, bioskop, dan segalanya, toh orang masih merasa perlu kembali ke desa. Napak tilas masa lalu di ladang jagung, bertemu teman lama yang kawin tiga kali, cerita tentang teman yang sudah meninggal, ngerasani guru-guru lawas dsb. Nostalgia itu menyenangkan.

Sayang, arus mudik ini kurang terasa di NTT, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Boro-boro mudik minimal setahun sekali, terlalu banyak orang NTT yang lupa kampung halamannya. Lupa pulang kampung setelah lama merantau di Malaysia atau Jawa.

Jangankan yang di Malaysia atau Jawa, orang-orang NTT yang tinggal di ibukota kabupaten biasanya merasa sebagai orang kota. Bukan lagi orang udik. Maka, buat apa kembali ke kampung yang tidak punya listrik? Yang sulit air? Yang kamar mandinya nggak bersih? Yang banyak gosip murahan? Yang ini yang itu?

Ah, memang lain padang lain belalangnya!

21 July 2014

Saatnya Prabowo ikhlas dan legawa

Raden Mas Prabowo numpak jaran (potone teko internet baranews).


Terlalu lama rakyat dibuat tegang oleh manuver politisi usai pencoblosan 9 Juli 2014. Elite politik, khususnya Prabowo Subianto dan orang-orang dekatnya, kurang legawa untuk mengakui kemenangan lawan meskipun datanya sudah jelas.

Kalau di negara-negara lain yang sudah maju demokrasinya, paling lama dua hari setelah pencoblosan sudah ada ucapan selamat dari calon yang kalah. Salaman, ngopi, makan bersama, dan memberikan dukungan kepada sang pemenang. Namanya kompetisi ya pasti ada yang kalah alias kurang suara, begitu istilah Megawati Soekarnoputri.

Yang kurang suara atau kalah suara itu ya harus tahu diri. Cepat-cepat ucapkan selamat karena data perolehan suara tidak mungkin diubah. Kecuali oleh lembaga-lembaga survei dan penyelenggara quick count abal-abal itu.

Sayang sekali, suasana kompetisi yang sportif, fair play, ala Piala Dunia di Brasil itu tidak terlihat. Dan itu sejak beberapa jam usai pemungutan suara. Mengandalkan quick count yang kredibilitasnya diragukan, yang ditopang banyak televisi milik tim sukses, hasil pilpres versi quick count beneran tidak diakui. Malah mengklaim sama-sama menang!

Mana ada pertandingan bola yang sama-sama menang? Kalau seri ya harus adu penalti. Harus mengakui kemenangan lawan meskipun kalah sangat-sangat tipis.

Sayang sekali, di Indonesia kali ini sikap legawa itu tidak muncul. Prabowo pantang menyerah, tetap merasa menang. Dia malah menuduh 8 lembaga quick count yang hasilnya memenangkan Jokowi sebagai lembaga komersial yang tidak bisa dipercaya. Quick count yang dipecaya ya 4 lembaga yang memenangkan dirinya.

Satu minggu berlalu. Hasil pilpres yang asli alias real count sudah sangat jelas. Bahwa Prabowo kalah suara sama Jokowi. Beda suaranya jutaan, bukan ratusan ribu. Tapi tetap saja Prabowo masih merasa menang. Malah dia dan timnya merasa dicurangi. Sehingga minta pilpres diulang di beberapa tempat.

Senin, 21 Juli 2014, sehari sebelum pengumuman resmi dari KPU pun Prabowo masih merasa belum kalah juga. Kalimat-kalimatnya yang kita baca di media online memperlihatkan bahwa capres nomor 1 ini tidak ikhlas kalau Jokowi yang menang. Padahal, rekapitulasi suara tingkat nasional sudah mendekati final. Dan sudah sangat jelas kalau Jokowi yang unggul.

Lantas, kapan Prabowo merasa legawa, berbesar hati, mengakui keunggulan lawan?

Yah, mudah-mudahan setelah pengumuman resmi dari KPU, bekas danjen Kopassus ini mau menelepon Jokowi untuk mengucapkan selamat atas kemenangan capres nomor 2!

Inilah yang ditunggu-tunggu rakyat yang sudah lelah dengan kampanye hitam sejak Mei, Juni, dan awal Juli sebelum coblosan. Rakyat Indonesia, kecuali Prabowo dan elite-elite politik pendukungnya, sudah capek dengan ketegangan politik yang sudah terlalu lama sejak pemilu legislatif 9 April 2014.

Apakah hasil pilpres yang nanti diumumkan KPU bakal digugat ke Mahkamah Konstitusi? Melihat sikap dan bahasa tubuh Prabowo, kemungkinan besar akan dibawa ke MK. Artinya, kita, rakyat biasa, harus siap-siap menyaksikan akrobat politik Prabowo dan timnya hingga satu atau dua bulan ke depan.

Yah, mudah-mudahan di bulan puasa ini, yang sudah masuk dekad kedua alias likuran, Pak Prabowo mendapat pencerahan agar bisa memberikan kesejukan kepada bangsa Indonesia. Dengan tidak menggugat hasil pilpres yang ditetapkan KPU.

Yang justru harus digugat adalah 4 lembaga survei karena membuat quick count dengan metodologi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salam damai!


~ kirim pake hp lawas ~

18 July 2014

Orang Tionghoa Lebih Konsisten Bekerja



Sudah lama Slamet Abdul Sjukur dirasani teman-temannya sesama wong Jowo karena dianggap terlalu dekat dengan orang Tionghoa. Hanya mengajar anak-anak Chinese saja. Seakan-akan lupa kulitnya sebagai wong Jowo yang dulu dididik di Taman Siswa, lembaga pendidikan yang sangat menekankan kejawaan.

Saya kebetulan sering bertemu Slamet, komponis, pianis, guru piano, budayawan, kolumnis dsb, yang baru genap 79 tahun itu. Kebetulan saya aktif mengikuti Pertemuan Musik Surabaya (PMS), forum musik bulanan yang didirikan dan diasuh Mas Slamet di Wisma Musik Melodia, Ngagel Jaya, Surabaya.

Benar memang, Mas Slamet (dia gak suka dipanggil pak atau eyang, meski usianya mau masuk 80) lebih banyak berkumpul dengan orang Tionghoa. Sebab hampir semua kursus atau sekolah musik klasik di Surabaya itu murid-muridnya memang Tionghoa.

Orang Jawa atau etnis pribumi lain ada tapi satu dua saja. Saya hanya menyimpan pertanyaan berbau SARA itu dalam hati karena gak enak. Memangnya kenapa kalau murid-muridnya Mas Slamet itu semuanya Tionghoa? Bukankah mereka membayar?

Akhirnya, ketemu juga jawaban Mas Slamet di biografi singkatnya. Bapaknya musik kontemporer ini mengatakan, "Murid saya 98% adalah orang Tionghoa, hanya satu murid saya yang orang  Jawa. Orang Tionghoa itu pada umumnya kaya sekali."

Masalah lain, kata Slamet, "Orang Jawa dan suku-suku lain di Indonesia tidak sanggup bekerja secara konsisten. Pernah ada lima pemain gitar yang berkeinginan studi komposisi pada saya. Karena mereka tidak punya uang, maka saya memberikan beasiswa, selama 2 sampai 3 bulan. Pada awalnya berjalan mulus."

"Kemudian tiba-tiba muncul aneka gangguan. Satu orang punya urusan ini, yang lain urusan itu, satu orang ada masalah ini, yang lain masalah itu dan sebagainya," katanya.

"Maka saya sangat senang mengajar orang Tionghoa karena mereka sangat materialistik. Mereka minta sesuatu yang konkret buat uangnya. Mereka ingin melihat terjadi sesuatu, dan kapan-kapan memang ada hasil-hasil yang amat memadai."

Wah, wah...

Begitu ternyata pengalaman Slamet Abdul Sjukur mendidik para pemusik di tanah air sejak 1970an. Suka tidak suka, harus diakui bahwa apresiasi orang Tionghoa terhadap musik klasik atau musik sekolahan yang dikembangkan Mas Slamet memang jauh lebih tinggi ketimbang kita yang pribumi. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Saya sering mengajak beberapa kenalan yang bukan Tionghoa untuk menghadiri apresiasi musik yang dipandu Slamet Abdul Sjukur bernama PMS: Pertemuan Musik Surabaya. Harus bayar untuk konsumsi dan kas organisasi. Begitu tahu kalau harus bayar tiket, mereka tidak mau ikut. Bahkan kalau digratiskan pun belum tentu orang kita yang pribumi tertarik.

Karena itu, tidak heran nama Slamet Abdul Sjukur sangat terkenal di kalangan Tionghoa ketimbang pribumi. Orang Tionghoa sangat senang kalau anak-anaknya kursus piano, komposisi, orkestrasi, kontrapung dsb pada pria yang tetap segar di usia 79 itu.

Bagi orang Tionghoa, membayar ongkos untuk guru musik klasik sekaliber Slamet Abdul Sjukur, yang pernah tinggal dan berkarya selama 14 tahun di Prancis, tidak ada apa-apanya dibandingkan manfaat yang dipetik sang anak. Pendidikan musik sejak dini memang sejak dulu jadi investasi di kalangan Tionghoa.

Suatu ketika Slamet Abdul Sjukur bercerita kepada saya dengan nada guyon tapi serius. Dia mau bikin kor, paduan suara, yang semua penyanyinya bersuara sengau. Masuklah ia ke pasar dan kampung-kampung. Ada beberapa orang pribumi yang memenuhi kriteria sengau itu. Kemudian diajak latihan.

Ternyata paduan suara spesial itu tidak jalan karena penyanyi-penyanyinya, yang 100 persen pribumi,  sulit diajak latihan santai tapi serius. Guyonannya kebablasan, tak terarah. Satu per satu mrotol dan akhirnya buyar. Mas Slamet pun cuma tersenyum setiap kali menceritakan kembali pengalaman yang rada nyeleneh ini.

Aha, sekarang saya baru sadar bahwa orang-orang yang bukan Tionghoa itu, mengutip kata-kata Slamet Abdul Sjukur, "tidak sanggup bekerja secara konsisten."

Andai kata waktu itu Mas Slamet memburu tenglang-tenglang sengau di Kembang Jepun atau Pasar Atum mungkin paduan suara unik itu bisa bertahan lama.


~ kirim pake hp lawas ~

Surabaya-Sidoarjo tambah macet

Lalu lintas dari Surabaya ke Sidoarjo dari dulu sudah sangat padat. Ini karena lebar jalannya masih sama dengan tempo doeloe, sementara mobil dan motor terus bertambah. Pembuatan jalan baru atau frontage road masih lama.

Akhir-akhir ini saya merasakan kemacetan yang makin parah. Bahkan, saat libur, akhir pekan pun lalu lintas tidak lancar. Kemacetan makin parah kalau ada truk atau kendaraan berat yang mogok. Atau pas banjir yang membuat jalan tergenang.

Kemarin (17 Juli 2014), kemacetan Surabaya-Sidoarjo mencapai titik paling ekstrem. Gara-gara tabrakan antara kereta api dan truk pengangkut crane di Banjarkemantren, Buduran, yang menewaskan masinis dan seorang pengendara sepeda motor. Macet pagi itu benar-benar parah.

Bayangkan, jarak yang hanya 500 meter butuh waktu sekitar 70 menit. Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali. Banyak warga yang stres, kemudian menggeber gas atau membunyikan klakson berkali-kali. Toh tetap saja macet karena petugas masih sibuk mengeluarkan kendaraan yang penyok di belokan ke arah lingkar timur.

Di tengah jebakan macet cet-cet itu, saya pun merenung. Mencoba mengambil hikmah. Bahwa cepat atau lambat, bisa 10 atau 15 tahun lagi, Surabaya dan Sidoarjo akan macet ekstrem seperti ini. Jakarta sudah lama mengalaminya. Jutaan liter BBM terbuang sia-sia karena kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

Pemkot Surabaya dan Pemkot Sidoarjo harus duduk bersama membahas masalah jangka panjang yang sangat urgen ini. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri seperti sekarang. Lihat saja, ketika frontage road Surabaya dari Jemursari ke bundaran Waru sudah dipergunakan, frontage road di wilayah Sidoarjo belum jadi. Bahkan masih dalam tahap pembebasan tanah.

Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan atau bottle neck di dekat pabrik paku, Kedungrejo, Waru, samping Terminal Bungurasih. Jalanan di wilayah Sidoarjo, khususnya Kecamatan Gedangan, begitu penuh karena ada 5 titik macet sekaligus.

Jalan-jalan di Surabaya malah jauh lebih lancar ketimbang Sidoarjo. Kecuali dari perbatasan Sidoarjo-Surabaya di bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani. Jalan-jalan lain di Surabaya lantjar djaja.

Kelihatan Sidoarjo kurang mengantisipasi ledakan penduduk dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang luar biasa pesat. Sidoarjo perlu studi banding ke tetangga terdekatnya: Surabaya. Tidak perlu jauh-jauh ke Singapura, Eropa, atau Tiongkok.

~ kirim pake hp lawas ~

15 July 2014

Jerman Mandul, Argentina Tumpul

Begitu banyak puja-puji untuk Jerman yang memenangi Piala Dunia 2014 di Brasil. Pujian itu mengalir deras sejak Philip Lahm dkk mempermalukan tuan rumah dengan skor 7-1. Tapi benarkah tim nasional Jerman segemilang itu?

Lihatlah partai final lawan Argentina kemarin. Hingga 90 menit kedudukan masih 0-0. Sangat membosankan! Sering saya bilang menonton bola selama 90 menit tanpa gol  itu sangat menderita. Apalagi 120 menit.

Selama waktu normal, Jerman ternyata kesulitan membobol gawang Argentina. Di babak final ini permainan Argentina sangat efektif meredam Jerman meski kehilangan ketajaman di depan gawang. Kelihatan sekali kalau Jerman mustahil mengulang pesta 7 gol ke gawang tango dan sepertinya kehilangan ide.

Justru Argentina punya 3 peluang emas, setidaknya dua, yang seharusnya jadi gol. Higuain tinggal berhadapan dengan kiper tapi sepakannya melenceng. Padahal, pemain Napoli ini tidak dikawal pemain lawan. Kelihatan sekali kalau kualitas Higuan ini medioker alias di bawah standar striker kelas dunia.

Sebagai pemain Amerika Latin, Higuan seharusnya menggoreng bola, meliuk-liuk, kemudian memperdayai kiper. Teknik lama ala Maradona, Romario, Valdano, Bebeto, dan nama-nama besar lawas itu tidak dilakukan si Higuan. Ya jelas saja tidak akan masuk.

Sebagai pendukung Argentina, malam itu, saya jengkel bukan main dengan Higuain yang menyia-nyiakan peluang emas. Bahkan lebih dari emas. Argentina pasti kalah kalau Higuain masih dipertahankan, kata saya dalam hati.

Higuain akhirnya diganti oleh Palaccio. Orangnya masih sangat muda, tapi sudah botak, segar, dan semangat. Tadinya saya mengira dia bisa memanfaatkan peluang emas yang tidak bisa dilakukan Higuain.

Peluang emas itu akhirnya tiba di kaki Palaccio. Lolos dari hadangan lawan, si botak pun tinggal berhadapan dengan kiper Neuer. Hasilnya sama saja: mengecewakan! Sontekannya melenceng di luar gawang. Padahal posisi Neuer sudah salah.

Begitu masuk perpanjangan waktu, final Piala Dunia sudah selesai. Argentina kalah fisik karena sebelumnya sudah terkuras 120 menit di semifinal plus adu penalti. Pemain-pemain Jerman punya waktu istirahat satu hari lebih lama. Betapa susahnya Messi dkk merobek tembok Berlin dengan stamina yang melorot.

Maka, gol kemenangan Goetze sebetulnya tinggal menunggu waktu saja. Kok bukan 3-0 atau 4-0? Buat apa banyak gol kalau satu gol saja sudah juara dunia?

Kesimpulannya, final Piala Dunia 2014 ini tidak sedahsyat final 24 tahun lalu juga Jerman vs Argentina. Kita bisa saksikan rekamannya di youtube. Di era keemasan Maradona itu skornya 3-2 untuk Argentina.
Waktu itu Jerman Barat memang kalah tapi permainannya luar biasa. Maradona yang jenius didampingi pemain-pemain kelas dunia macam Valdano, Brown, Burruchaga, atau Rugeri berhasil memukau dunia. Jerman Barat pun tak kalah ganasnya. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah.

Jerman 2014, sang juara dunia, ternyata bukan tim yang sangat super. Tim yang tidak mampu mengalahkan Amerika Serikat dan Argentina selama 90 menit.

Oh ya, saya sebetulnya sudah lama mengkritik tambahan waktu atau extra time 30 menit. Terlalu lama. Waktu normal 90 menit itu pun sudah sangat lama. Bandingkan dengan cabang olahraga lain seperti basket atau voli. Apalagi atletik atau anggar.

Kalau sudah 90 menit skor masih sama, ya, distop. Langsung adu penalti saja. Tapi, pada menit ke-75 wasit harus mengingatkan kedua tim bahwa waktunya tinggal 15 menit. Segeralah bikin gol. Kalau tidak, silakan main judi lewat adu penalti.

Akan lebih bagus lagi kalau sepak bola itu dibuat 4 game. Cukup 4 x 20 menit. Bukan 2 x 45 menit kayak sekarang. Dengan begitu, pelatih dan pemain bisa membahas taktik, istirahat, dan melakukan evaluasi.

胡rek泗水

11 July 2014

Argentina vs Jerman di final Piala Dunia 2014

Argentina belum meyakinkan meski ada si jenius Messi. Mainnya mulai kompak tapi tidak tajam. Lawan Belanda, yang di bawah form, Messi dkk tak bisa berbuat banyak. Masih bagus bisa lolos ke final karena adu penalti.

Jerman menang besar 7-1 lawan Brasil. Tapi tidak bisa dibilang tim panser ini luar biasa. Sebab, Brasil memang lagi berantakan di belakang. Skor yang jomplang jelas memperlihatkan kualitas permainan yang tidak elok. Lain ceritanya kalau skornya 7-6 atau 7-5 atau 7-4.

Kita tentu ingat bagaimana Jerman kesulitan mengalahkan USA, tim yang dianggap pupuk bawang. Selama 90 menit tidak ada gol. Bahkan Jerman beberapa kali nyaris kebobolan. Karena itu, Jerman belum bisa disebut uber allez alias di atas yang lain.

Jerman punya banyak kelemahan. Pelatih Sabela dari Argentina pasti sudah tahu cara meredam operan-operan pemain Jerman dan tusukan ke gawang Romero. Cukup melihat rekaman pertandingan Jerman vs USA, timnas Argentina sudah tahu titik lemah Jerman.

Yang pasti, semifinal kedua kemarin sangat membosankan. Nonton pertandingan bola tanpa gol selama 90 menit + 30 menit jelas sangat menyiksa. Lebih menyiksa lagi melihat pemain-pemain Belanda dan Jerman sudah keok dan terkesan menunggu adu penalti.

Saya paling malas melihat pertandingan bola yang harus ditentukan dengan adu tendangan penalti. Tidak tega melihat pemain-pemain yang kalah. Makanya, begitu ketahuan hasil adu penalti, saya selalu langsung mematikan televisi.

Tapi mau bagaimana lagi? Siapa suruh tidak menang ketika disediakan waktu 120 menit?

Dus, ada baiknya Belanda disingkirkan Belanda lewat adu nasib tendangan 12 pas. Agar lain kali harus menang di waktu normal. Agar Louis van Gaal tidak pongah seakan-akan dialah raja taktik, pelatih terbaik di dunia.

Pertandingan final Argentina vs Jerman naga-naganya tidak akan banjir gol. Kedua kesebelasan akan saling kunci. Sulit mengulangi final Argentina vs Jerman yang luar biasa pada 1986 ketika tim tango diperkuat Diego Maradona dan Jerman punya striker maut macam Rummenige.

Jangan lupa, sepanjang sejarah Piala Dunia belum pernah ada tim Eropa yang juara di Amerika Latin. Argentina yang medioker, kecuali Messi yang super, berpeluang besar mengangkat trofi.


胡rek泗水

Quick count abal-abal rusak demokrasi



Sedikit banyak saya tahu metode hitung cepat alias quick count yang sekarang jadi industri pemilu di Indonesia. Di awal reformasi saya pernah ikut lokakarya tentang pemilu yang diadakan beberapa NGO dan universitas. Waktu itu istilah quick count belum dikenal masyarakat. Media massa pun belum tahu.

Memang tidak gampang memahami metodologi quick count kalau tidak pernah kuliah statistik. Saya ingat betul di kampus Ubaya, Ngagel, kami diberi wawasan tentang PVT: parallel vote tabulation. Dengan PVT ini, maka hasil pemilu sudah langsung diketahui beberapa jam sesudah pencoblosan di TPS. Hasilnya hampir pasti akurat asalkan sampelnya tepat. Baik jumlah, sebaran, proporsi.

"PVT ini dipakai di Filipina untuk mengontrol pemilu," kata dosen Ubaya yang saya lupa namanya, tapi masih ingat wajahnya. Beberapa kali dia memberi brifing khusus kepada saya di Ubaya.

Betul. Hasil PVT yang di Surabaya diolah di Ubaya ini cocok dengan hasil pemilu legislatif versi KPU. Pilpres langsung belum ada saat itu. Pak dosen itu optimistis PVT bakal menjadi metode efektif dari pemilu ke pemilu di Indonesia.

Betul memang. PVT ini kemudian dikenal luas dengan istilah quick count. Diperkenalkan di Metro TV oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang belum pecah dan masih sendirian bikin hitung cepat. Quick count itu secara akurat memprediksi hasil pemilu 2004 dan pilpres yang dimenangi SBY.

Sekarang ini quick count sudah pasaran. Istilah PVT malah tidak dikenal, kecuali orang-orang statistik yang mengolah data di dapur lembaga survei. Pilpres 9 Juli 2014 kemarin malah melibatkan 12 penyelenggara quick count.

Mengapa 8 lembaga quick count hasilnya Jokowi-JK menang, sedangkan 4 lembaga lain sebaliknya?

Hehehe.... Jangan lupa kata-kata almarhum Gus Dur tentang intelektual tukang. Intelektual atau lembaga survei yang mengorbankan idealisme dan metodologi ilmiah karena punya kepentingan dengan user-nya. Maju tak gentar membela yang bayar! Cendekiawan sejati harusnya maju tak gentar membela yang benar (secara ilmiah dan objektif).

Seandainya 12 lembaga itu menggunakan sistem PVT secara murni dan konsekuen (ini jargon khas Orde Baru), bisa dipastikan hasil quick count tidak akan jauh berbeda. Artinya, pasangan capres-cawapres yang menang itu pasti sama. Yang beda hanya persentasenya. Itu pun range-nya tidak akan banyak.

Begitu kira-kira kuliah gratisan tentang PVT alias quick count yang saya ikuti di Ubaya dulu. Kalau sampai berbeda, dan kemudian hanya diumumkan di televisi-televisi pendukung Prabowo-Hatta, pasti ada uang di balik angka! Pasti ada hidden agenda! Pasti ada kepentingan sebagai intelektual tukang untuk maju tak gentar membela yang bayar itu tadi.

Saya baca di koran pagi tadi bosnya Lembaga Survei Nasional (LSN) yang memenangkan Bowo-Hatta mengatakan, tunggu saja sampai real count atau hitungan resmi KPU tanggal 22 Juli mendatang. Akan kelihatan mana-mana saja lembaga survei yang akurat atau tidak.

Pernyataan ini juga sekaligus mendelegetimasi lembaga-lembaga atau industri quick count di Indonesia. Kenapa? Ketika PVT diperkenalkan di Indonesia, kemudian populer dengan nama quick count, tujuannya untuk mengawal hasil pemungutan suara. Agar suara rakyat tidak dimanipulasi oleh KPU dan pemerintah.

Kok sekarang jadi terbalik? Hasil resmi KPU jadi pengontrol lembaga-lembaga quick count. Jangan-jangan pimpinan LSN itu tidak paham atau lupa latar belakang quick count di era Marcos di Filipina, yang kemudian diterapkan juga di Indonesia itu.

Kasihan lembaga-lembaga quick count yang kredibel, jujur, menjaga integritas ilmiah. Hanya karena ulah beberapa lembaga survei abal-abal, quick count tidak lagi dipercaya masyarakat. Dianggap memecah belah masyarakat.

胡rek泗水