03 February 2012

Lewouran masuk televisi


Dr Markus Solo SVD, putra asli Lewouran di Vatikan City.

Mungkin baru kali ini Lewouran masuk televisi nasional. Maka orang2
kampung begitu bersukacita, ramai2 menari hedung, bikin upacara adat
untuk menyambut kru METRO TV.

Putri Ayuningtyas, presenter Metro, disambut dengan adat Lamaholot
layaknya menyambut tamu istimewa. Orang Lewouran di Vatikan pun begitu
gembira. Dan mengirim email agar kenalannya ikut menonton tayangan di
Metro itu.

Reportase Putri singkat saja, tak sampai 5 menit. Putri kaget karena
Lewouran di Flores Timur, NTT, belum dialiri listrik PLN. Kampung yang
gelap dan serderhana dengan orang2 kampung yang bersahaja.

Ada apa kok Metro mengirim kru dari Jakarta ke Lewouran? Putri yang
tiap hari muncu di Wide Shot itu harus dikirim ke Flores? Ehm.. sejak
awal saya curiga ada peran Pater Markus Solo Kewuta SVD. Salah satu
penasihat Paus Benediktus XVI ini memang lahir di Lewouran. Maka saya
pun kirim email ke sang pastor hebat itu.

Benar saja. Kedatangan tim Metro itu memang untuk membuat liputan
khusus tentang Dr Markus Solo. Bagaimana mungkin orang pelosok NTT
menjadi orang Indonesia pertama yang masuk lingkaran dalam Vatikan.
Benar2 langka!

"Desember lalu orang Metro TV bertemu saya di Vatikan. Lalu rupanya
mereka tertarik untuk membuat liputan tentang saya," tulis Pater
Markus. Kru Metro pun melacak kampung Lewouran, Seminari Hokeng,
hingga kondisi alam dan masyarakat Flores Timur.

Syukurlah, ada Pater Markus Solo yang melejit ke beberapa kota di
Eropa, kemudian ditarik ke Vatikan. Kalau tidak kampung Lewouran
mungkin tidak pernah masuk televisi.

Mengutip kata2 Pater Markus, kedatangan kru Metro TV di kampungnya
adalah peristiwa luar biasa. Karena itu, Putri Ayuningtyas dkk pun
disambut secara istimewa dengan prosesi adat lengkap dengan tarian
hedung.

Semoga dengan reportase itu orang Indonesia semakin mengenal Flores.
Pulau kecil, terbelakang, listrik masih sedikit... tapi telah banyak
menghasilkan pastor2 untuk Indonesia dan dunia. Termasuk Pater Markus
Solo SVD.

Pater Markus, terima kasih, mo soga naran lewotana!

02 February 2012

Orkes Keroncong Delta Irama

Musik keroncong kian tergusur dari belantika musik tanah air. Kita makin sulit menemukan orkes keroncong yang eksis di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi orkes keroncong yang diperkuat musisi muda.

Syukurlah, di Sidoarjo masih ada Orkes Keroncong Delta Irama yang berusaha melestarikan keroncong agar tidak sampai punas. Selama satu dasawarsa terakhir mereka aktif berlatih di kawasan Mayjen Sungkono Sidoarjo.

Menurut Teguh, pemain cello yang juga koordinator, cikal-bakal orkes keroncong ini sebetulnya sudah ada puluhan tahun lalu. Waktu itu namanya OK Delta. Namun, karena sepi tanggapan dan kesibukan masing-masing anggota, orkes ini pun vakum. Baru pada 1999 Teguh menghidupkan lagi orkes ini dengan nama OK Delta Irama. "Beberapa pemain lama juga meninggal karena memang sudah sepuh," kata Teguh.

Saat vakum itulah Teguh dan beberapa penggemar keroncong berusaha melestarikan musik lawas ini dengan bermain bersama. Semacam jam session. Lama-kelamaan semua personel terisi layaknya sebuah orkes keroncong.

Selain Teguh yang main celloa, ada Heru (biola), Lanu (bas), Yudi (ukulele), Joko (saksofon), Agus (gitar). Vokalisnya cukup banyak karena banyak orang yang ingin menyanyi diiringi orkes keroncong. Mereka adalah Sri Retno, Endang, Utami, Hartini, dan Suroso.

Saat ini setiap Jumat malam para pemain OK Delta Irama berkumpul untuk latihan bersama. Bukan karena ada job atau tanggapan, tapi lebih karena hobi. "Yah, untuk silaturahmi sekaligus hiburan," kata Teguh.

Dia mengakui musik keroncong makin kehilangan peminat dalam 20 tahun terakhir. Orkes-orkes yang pernah ada di Sidoarjo bubar satu per satu. Kalaupun ada satu dua grup yang mencoba bertahan, tidak pernah ditanggap untuk mengisi hajatan-hajatan seperti perkawinan.

"Kita masih kumpul dan berlatih karena memang hobi saja. Tapi kalau ada orang yang mau nanggap ya silakan," kata pria 36 tahun ini.

Tak mudah mempertahankan keroncong di tengah masyarakat Sidoarjo yang gila dangdut dan pop. Namun, Teguh dkk tak putus asa. Mereka tetap berlati dan bermusik dengan gembira.

01 February 2012

Bakar lilin di Lembata


Salah satu komoditas yang laris manis di Lembata, dan NTT umumnya, adalah lilin. Yah, lilin putih yang biasa dijual di toko2 itu. Lilin ini tidak dipakai untuk penerangan, karena listrik padam, tapi untuk nyekar dan berdoa.

Mayoritas orang Lembata beragama Katolik. Sama dengan Flores, Adonara, Solor. Orang Katolik di NTT senantiasa menggunakan lilin untuk sembahyang pribadi, doa bersama, hingga misa di gereja.

Orang Katolik di Jawa pun pakai lilin, tapi tidak sehebat di NTT. Orang Jawa atau Tionghoa yang Katolik di Jakarta atau Surabaya biasa berdoa tanpa lilin. Beda dengan orang NTT yang merasa kurang afdal kalau berdoa tanpa lilin. Seakan-akan ada sesuatu yang hilang atau kurang.

Kalau diJawa orang nyekar ke kuburan pakai kembang atau bunga, di Lembata atau Flores pakai lilin. Tidak perlu bunga. Kita cukup membawa lilin untuk dipasang di atas makam. Jumlahnya terserah kita sajalah.

Tradisi nyekar macam ini disebut TUTUNG LILIN alias bakar lilin. Tutung = bakar dalam bahasa Lamaholot. Dan bakar lilin ini akan sangat ramai pada 24 Desember, jelang misa malam Natal. Juga tanggal 2 November.

Bakar lilin sekaligus membersihkan makam keluarga atau sanak famili. Dengan bakar lilin serta berdoa singkat di makam, kita dianggap tidak lupa akan jasa2 mereka yang sudah meninggal.

Bakar lilin juga biasa dipakai untuk kulonuwun atau lapor diri. Orang yang lama merantau, ketika pulang kampung, dianjurkan bakar lilin di makam keluarga dekat, khususnya orangtua yang sudah meninggal. Berdoa dan AMET MARING, seakan-akan kita sedang bicara dengan orang yang sudah meninggal itu.

Maka, ketika mudik ke kampung halaman, orang selalu bertanya, "Kamu sudah bakar lilin ke makam mama belum?"

Maklum, ibu saya sudah meninggal dunia pada 1998. Biasanya saya cepat2 mampir ke kuburan untuk bakar lilin karena memang begitulah tradisi yang hidup di Lembata maupun Flores.

Dan, yang menarik, orang2 Lembata yang Katolik ini juga bakar lilin di makam famili yang beragama Islam. Dan berdoa secara Katolik tentu saja. RIP!

Dokter terlalu muda di NTT

Misalkan anda berkenalan dengan seorang dokter di Lembata, NTT. Tahun depan atau tiga tahun lagi si dokter itu sudah kembali ke kota2 besar di Jawa. Lalu diganti dokter2 fresh from the oven dari Jawa. Tradisi lama sejak kita mengenal puskesmas itu masih berlangsung sampai sekarang.

NTT dan daerah2 tertinggal memang jadi ajang dokter2 muda untuk cari pengalaman. Itu pun karena dipaksa oleh peraturan pemerintah. Karena itu, dokter2 di NTT kebanyakan masih berusia 20-an tahun. Muda2 dan cantik2. Jarang kita menemukan dokter2 senior yang sengaja memilih NTT sebagai ladang pengabdiannya.

"Kondisi pelayanan medik di luar Jawa memang memprihatinkan," kata seorang dokter senior di Surabaya. Dan itu tidak lepas dari kualitas peralatan, rumah sakit, dan dokter.

Di mana2 masyarakat lebih suka dilayani dokter senior. Karena itu, tempat praktek dokter2 senior di Surabaya selalu penuh. Beda dengan dokter2 muda yang perlu jam terbang lebih banyak lagi.

Menurut pak dokter senior itu, NTT dan wilayah luar Jawa bukan pasar yang empuk untuk profesi dokter. Uang masuk sedikit. Apalagi banyak warga yang tak mampu membayar dokter atau rumah sakit.

Maka, setelah kerja bakti di NTT, dokter2 itu balik ke kota. Buka praktek. Kerja di beberapa rumah sakit. Uang masuk tentu lancar jaya. Bisa cepat makmur.

Koran hari ini memberitakan biaya masuk fakultas kedokteran universitas negeri sekitar 175 juta. Itu hanya semacam tiket. Belum SPP, uang lab dan sebagainya. Sudah jelas ratusan juta bahkan miliaran.

Kalau uang keluar untuk biaya kuliah begitu banyak, sudah pasti harus ada uang masuk yang banyak juga. Agar impas. Maka, jangan heran biaya kesehatan di Indonesia menjadi sangat mahal. Dan jangan heran jarang ada dokter2 senior yang bekerja total di NTT.

Hari gini bicara pengabdian? Mimpi kali!

Rod Stewart dan penyanyi kita

ROD STEWART, 67 tahun, baru manggung di Jakarta. Tiketnya mahal tapi laku. Paling murah 1,5 juta dan paling mahal 15 juta. Wow, orang Jakarta hebat, punya daya beli luar biasa!

Rod Stewart dan artis2 lawas Barat memang sangat beruntung ketimbang artis2 kita. Di usia mendekati 70, bahkan 80 tahun, masih bisa konser tur keliling dunia. Dibayar mahal, tak kalah dengan artis2 muda.

Rod dan artis2 Barat sepertinya bisa bermusik sepanjang hayat. Uang terus mengalir. Masih dielu-elukan meskipun cucu2nya sudah dewasa. Inilah untungnya artis yang hidup dalam sistem industri musik yang sehat. Bahkan, setelah meninggal pun royalti masih mengalir ke rekening si ahli waris.

Kontras nian dengan artis Indonesia. Terlalu payah. Karir artis2 kita tak pernah panjang. Usia masuk 30, apalagi 40... habislah dia. Sulit bikin album, apalagi tur keliling Jawa misalnya. Pendapatan langsung seret. Nganggur.

Ucok AKA Harahap (alm), rocker top seangkatan Rod Stewart. Setelah surut dari industri musik, dia mengembara ke mana2. Tak ada tanda2 kalau dia ini pernah sangat berjaya di blantika musik rock.

Ucok hanya bisa mengisi kafe2 dengan honor yang sangat murah. Beli laptop pun tak bisa. Maka, Ucok sering bikin press release dengan... tulisan tangan.

Karena bandnya bubar, jarang konser, Ucok malah menekuni dunia spiritual: semadi dan ritual2 ala dukun. Dia pernah ke Porong untuk menutup semburan lumpur dengan cara gaib. Namun, proposalnya ditolak pemerintah kabupaten Sidoarjo.

Ucok hanyalah satu contoh betapa begitu banyak mantan bintang musik atau film kita yang mengalami anomali setelah bintangnya redup. Begitu banyak eks artis yang terlunta2 ketika sakit. Jangankan bayar rumah sakit, mmbeli kebutuhan sehari2 saja susah bukan main.

Belum lama ini Mbak Indah Kurnia bikin acara reuni artis2 lawas di Grand City Surabaya. Begitu banyak yang hadir, mulai penyanyi dangdut, pop, jazz, hingga campursari. Sisa2 kebintangan tak lagi terlihat di wajah mereka. Banyak yang sakit berat.

30 January 2012

Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?



Rindu...
Mengapa rindu hatiku tiada tertahan?
Kau tinggalkan aku seorang...

Orang Sidoarjo itu gila dangdut. Di semua desa di 18 kecamatan pasti ada orkes melayu alias dangdut. Maka, tak heran Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun suka dangdut. Juga suka naik panggung untuk menyanyikan lagu dangdut.

Saya perhatikan, sejak dulu Pak Saiful selalu membawakan lagu RINDU. Dangdut lawas ciptaan Ali Alatas, kalau tidak salah, yang juga tinggal di Sidoarjo.

Pak Bupati ini orang kaya, raja tambak, jauh sebelum menjadi wakil bupati pada 2000. Sepuluh tahun jadi wabup, Pak Saiful kemudian menang mutlak dalam pemilihan bupati pada 2010.

Mengapa selalu nyanyi Rindu? Kok tidak pernah lagu lain? Mungkin karena hanya hit 1970-an itulah yang dihafal. Lumayan, buat menghibur rakyat di Sidoarjo yang terkena lumpur panas Lapindo sejak 2006.

Yang menarik, Pak Saiful kalau diminta nyanyi selalu mengajak pasukan. Mulai wakil bupati, kepala2 dinas, sekwilkab, hingga camat2. Panggung pun penuh.

Minggu 29 Januari 2012 Pak Saiful kembali menyanyikan Rindu di alun-alun. Acara hari jadi ke-153 Kabupaten Sidoarjo. Abah ditemani wabup, sekwilkab, dan pejabat lain.

"Saya minta semua penyanyi untuk menemani saya," pinta bupati. Lima pedangdut cewek OM Rollista pun ramai2 menemani Pak Saiful menyanyi.

Suara sang bupati pun tenggelam. Yang penting, semua gembira.

"... akan kucari walau ke mana, kini aku berkelana..
ke ujung dunia akan kucari.
Engkau pergi tiada pesan, kabar darimu kunantikan..."

Mudah-mudahan acara goyang dangdut di alun-alun ini tidak membuat kita lupa nasib ribuan warga korban lumpur Lapindo!

Evi penyanyi dangdut Rollista


Namanya Evi, asal Mojosari, Mojokerto. Karena ikut OM Rollista, Evi lebih dikenal di panggung sebagai Evi Rollista.

Suaranya oke, goyangannya boleh juga. Cuma kurang tinggi untuk ukuran artis dangdut yang perlu postur dan penampilan di atas rata2. Seksinya juga... lumayanlah.

Saya kenal Evi dan suaminya, pemain keyboard OM Rollista, yang sering ditanggap bersama sang istri. Seperti penyanyi2 dangdut di Jatim umumnya, Evi ngamen ke mana2. Mulai dari kampung tambak, kawasan pabrik gula, alun2, hingga pub dan kafe di Surabaya.

"Namanya rezeki ya jangan ditolak. Kita harus bisa menghibur siapa saja," kata Evi yang enggan mengungkap honornya.

Dunia artis, apalagi dangdut, memang gemerlap, tapi juga nelangsa dan penuh godaan. Melihat penampilan seksi, genit, lirik2 lagu yang nakal, pengunjung kafe sering bikin ulah. Apalagi kalau sudah mabuk berat. Maklum, pub dan kafe di kota memang tempatnya orang mabuk.

Bagaimana cara menghadapi pengunjung yang macam2 atau minta lebih? Evi mengaku punya jurus ampuh untuk menepis rayuan mabuk om2 pemabuk itu. Ada teknik khusus yang sifatnya win-win solution. Jangan sampai kehilangan penggemar, tapi juga jangan sampai dianggap wanita nakal atau pekerja seks.

Eva bersyukur karena selalu didampingi suami saat bernyanyi. Suami main keyboard, dia nyanyi dan bergoyang ria. Sang suami ibarat body guard paling setia. Tapi ini, di sisi lain, kurang menguntungkan karena laki2 iseng tak akan berani terlalu geer dan mengobral uang kepada Evi.

Tidak ingin jadi artis terkenal macam Ayu Ting Ting? "Siapa sih gak ingin terkenal di seluruh Indonesia?" sergahnya.

Vokalnya tidak kalah dengan si Alamat Palsu itu. Tapi nasib dan jalan hidup orang memang lain2. Ayu Ting Ting pun tidak menyangka bisa terkenal dan bikin heboh seperti sekarang.

"Doain aja ya," kata Evi yang begitu sopan di luar panggung. Di atas panggung, wuih, gayanya terkesan liar dan nakal.

Untung saya tidak bisa joget dan malu naik panggung. Kalau tidak saya jadi bulan2an si artis dangdut ini. Rollista!!!

29 January 2012

Dokter Edhy Listiyo CEO RS Adi Husada Surabaya



Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK

Sudah setahun lebih dr Edhy Listiyo MARS ditinggal selamanya oleh sang istri tercinta, Aily Laksmi. Namun, kecintaan CEO Rumah Sakit Adi Husada Surabaya ini terhadap mendiang Aily tak juga hilang. Sang dokter senior ini merasa seakan-akan Aily masih berada di sampingnya.


NAH, menjelang tahun baru Imlek 2563 ini, dr Edhi Listiyo meluncurkan memoar dalam bahasa Mandarin. Dicetak di atas art paper, edisi lux, buku ini merupakan kado terindah dr Edhy kepada sang istri, Aily Laksmi, yang meninggal pada 22 Oktober 2010.

Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 66 tahun silam ini memang begitu terpukul dengan kematian sang istri yang begitu mendadak. Saat itu Edhy sedang berada di Tiongkok untuk mengikuti sebuah kongres internasional.

Tiba-tiba Edhy menerima telepon dari Surabaya bahwa sang istri tercinta, Aily Laksmi, kolaps dan terjadi pendarahan otak. Meski sudah ditangani tim dokter, Tuhan berkehendak lain. Tiga hari kemudian Aily, wanita kelahiran Batu, 28 September 1945, ini berpulang untuk selamanya.

Sampai sekarang dr Edhy mengaku masih belum bisa melupakan kenangan manis dan bahagia bersama sang istri yang telah memberinya dua anak itu. Kepada Radar Surabaya, Kamis (19/1/2012), dr Edhy menunjuk foto-foto di dalam buku beraksara Tionghoa itu. Pose keduanya yang selalu tampak mesra dalam kondisi apa pun.

Berikut petikan wawancara khusus dengan dr Edhy Listiyo di ruang kerjanya.


Mengapa Anda membuat buku khusus tentang perjalanan hidup Anda bersama istri tercinta?

Begini. Dia itu pacar saya yang pertama dan terakhir. Sebaliknya, saya ini juga pacar dia yang pertama dan terakhir. Cinta kasih antara saya dan dia begitu mendalam. Kami sangat sulit dipisahkan. Hanya maut yang akhirnya memisahkan kami.

Apa lagi yang berkesan dari mendiang istri Anda?


Dia itu sosok yang sangat low profile. Kalau saya bicara di depan, dia duduk di belakang. Dia bilang, yang jadi direktur rumah sakit itu suami saya, bukan saya. Kalau belanja suka nawar. Tidak pernah beli barang yang mahal-mahal. Benar-benar low profile.

Kenalannya dulu di mana?


Kami satu sekolah di SMA Chung Chung Surabaya. Kemudian saya kuliah kedokteran, dia ambil Sastra Tionghoa. Makanya, dia menguasai tulisan resmi Mandarin. Beda dengan saya yang hanya bisa berbahasa Mandarin sehari-hari. Kalau perlu surat-surat atau dokumen resmi ke Tiongkok, saya minta bantuan dia. Jadi, terus terang, saya sangat-sangat kehilangan. Buku ini saya buat sebagai oleh-oleh untuk istri yang meninggal setahun lalu.

Ada misi khusus di balik penulisan buku ini?


Ada empat tujuan yang ingin saya sampaikan. Pertama, bagaimana menjadi istri teladan, istri yang sangat mendukung penuh karier dan pengabdian saya selama bertahun-tahun. Kedua, kasih sayang antara kami berdua sangat-sangat mendalam. Cinta kasih itulah yang menjadi landasan kami dalam membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis. Saya dan istri itu tidak bisa dipisahkan, dua orang tapi satu. Satu dalam banyak hal meskipun dua pribadi yang berbeda.

Ke mana-mana kami selalu berdua. Kalau lagi ke Tiongkok untuk konferensi atau acara lain pun kami selalu berdua. Ini yang membuat saya sedih karena terakhir ketika saya ke Tiongkok sendiri, istri saya nggak ada.

Ketiga, bagaimana saya memimpin Rumah Sakit Adi Husada. Keempat, bagaimana kita melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan jiwa dalam tugas dan profesi kita. Saya ingin ide-ide dan cita-cit saya dan istri ini diteruskan oleh anak cucu di kemudian hari.

Berapa lama Anda menyiapkan buku ini?


Sekitar enam bulan. Saya menulis garis besarnya, kejadian-kejadiannya. Setiap saya baca ulang saya selalu menangis karena sangat menyentuh perasaan saya. Lalu, saya ke Beijing bertemu penerbit khusus buku-buku biografi. Ternyata setelah membaca, dia menangis juga. Berarti dia benar-benar bisa nyambung dengan perasaan saya. Nah, penerbit itulah yang menerbitkan buku saya dalam bahasa Mandarin.

Dicetak berapa? Dan kapan dibuat edisi Indonesia?


Dicetak terbatas, hanya 200 eksemplar. Tapi banyak yang ingin membaca, maka sekarang sedang dibuat edisi Indonesia. Yang menerjemahkannya staf Pendeta Stephen Tong. Untuk edisi Indonesia ini kemungkinan dicetak seribu eksemplar.

Terakhir, bagaimana saran Anda kepada generasi muda untuk mewujudkan keluarga bahagia dan harmonis?


Sederhana saja. Saya dan istri punya ikatan batin yang sangat dalam. Kami selalu bergandengan tangan kalau bepergian ke mana saja. Selalu ada kedekatan hati. Yang juga sangat penting, saya selalu pulang ke rumah.

Rumah itu sarangnya bahagia. Sesibuk apa pun bekerjan saya selalu usahakan untuk pulang. Dan kalau ada tugas di luar kota atau luar negeri, saya selalu mengajak istri saya. Komunikasi. Sama-sama rendah hati. Ini semua saya share di buku saya. (*)




Jualan Baju Keliling Pasar

BEGITU banyak pengalaman mengharukan yang dirasakan dr Edhy Listiyo dari sang mendiang istri, Aily Laksmi. Salah satunya adalah ketika sang istri hamil tua. Edhy masih harus kuliah dan ekonomi rumah tangga belum mapan.


“Sangat mengharukan karena istri saya tetap menjahit baju anak-anak untuk dijual keliling pasar demi menambah uang rumah tangga dan biaya kuliah saya,” kenang dokter yang menerima berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri itu.

Karena itu, dr Edhi menilai peranan sang istri, Aily, sangat besar dalam keberhasilan kariernya sebagai dokter. “Saya bisa jadi begini berkat keringat dari istri saya,” katanya.

Tak heran, pasangan suami-istri Edhy-Aily ini begitu lengketnya bagaikan prangko. Ke mana-mana selalu berdua, bergandengan tangan, ala orang sedang pacaran. “Saya dan istri selalu berkomunikasi melalui SMS baik pagi, siang, maupun malam hari,” katanya.

Ada lagi ritual rutin yang dilakukan Edhy-Aily untuk mempererat ikatan batin di antara mereka. Yakni, sama-sama merendam kaki di dalam air yang sudah diberi ramuan tradisional Tionghoa. Ritual rendam kaki ini dilakukan pada malam hari sepulangnya dr Adhy dari tempat kerja.

“Karena paginya kerja sampai malam, jadinya rendam kaki hanya dilakukan malam,” kenangnya. (rek)


Blog di era BBM dan media sosial



Blogging atau ngeblog tidak seheboh tahun 2007-2008. Beberapa komunitas blogger di Surabaya saya lihat vakum. Acara ngeblog bareng di taman sudah lama tak terdengar.

Ya, segala sesuatu itu ada masanya. Masa booming blog sudah berlalu diganti media sosial macam facebook, twitter, dan sekarang BBM. Teman2 lama yang dulu doyan ngeblog sekarang selalu bicara isu2 aktual di BBM.

"Anda ketinggalan zaman Bung. Aneh, anda gak punya BB, fb-mu gak aktif," kata teman lama mantan blogger asal Jatim.

Saya cek di internet, blognya sudah mangkrak begitu lama. Postingan terakhirnya sekitar dua tahun lalu. Dia memang aktif mengikuti perkembangan IT dan media sosial. Dan blog dirasa tidak cocok lagi dengan dunianya.

Hobi orang memang beda2, kita tak bisa memaksa. Termasuk memaksa orang aktif blogging, sementara media sosial berkembang sangat pesat. Dan jauh lebih menarik.

Tapi bagi orang2 luar Jawa, khususnya NTT macam saya, blogging saya rasa masih mutlak perlu untuk berbagi informasi di era internet. Sebab, informasi tentang NTT di media nasional seperti surat kabar sangat minim.

Saya perhatikan dalam dua tahun terakhir tidak ada satu pun berita tentang kabupaten saya di pelosok NTT yang dimuat di koran2 nasional. Karena dianggap tidak menarik pembaca. Padahal, pemimpin redaksi surat kabar Kompas itu orang NTT bernama Rikard Bagun.

Satu2nya berita dari Flores Timur yang dimuat Kompas adalah prosesi Jumat Agung di Larantuka, tradisi yang sudah berusia 500 tahun.

Maka, blog menjadi platform satu-satunya bagi orang2 kampung NTT ini untuk sedikit berbagi informasi. Paling tidak menyumbang Mr Google ketika misalnya ada orang yang cari informasi tentang Gunung Lewotolok di NTT yang akan meletus. Lewotolok itu di mana. Hampir pasti Mr Google akan menggiring orang itu ke blog ini. Hehehe...

Saya juga senang karena ternyata anak2 TKI asal NTT yang lahir di Malaysia, dan tak pernah pulang kampung, banyak menjadikan blog ini sebagai referensi. Paling tidak mereka tahu sedikit kampung halaman orangtua atau leluhur di NTT.

Saya juga kaget ketika ada orang Barcelona, Spanyol, yang banyak bertanya tentang Lembata setelah membaca blog ini. Kemudian dia dan istrinya memutuskan berlibur ke Lembata, NTT.

Contoh2 kecil ini menunjukkan bahwa blog masih ada gunanya di era BBM dan media sosial ini. Meski blogging dianggap old school dan ketinggalan zaman.

26 January 2012

Song leader kurang enak


Mengapa harus ibu itu?
Mengapa bukan orang lain yang suaranya lebih bagus?
Bukankah gereja itu punya ribuan jemaat?
Apakah terlalu sulit menemukan orang yang benar2 vokalis?

Pertanyaan2 ini muncul ketika saya secara tak sengaja menyaksikan program rohani Kristen di TVRI Surabaya dengan judul MUJIZAT (yang benar MUKJIZAT, pakai K). Acara Gereja Tiberias kalau tidak salah.

Sesua namanya, program ini menekankan kuasa penyembuhan Tuhan alias mukjizat. Orang sakit berat sembuh secara ajaib tanpa bantuan dokter. Ada mayat yang utuh selama bertahun-tahun.

Mimbar kristiani tentu selalu ada puji2an atau worship/gospel song. Di sinilah yang bikin telinga saya gak enak mengingat reputasi Tiberias yang hebat. Bandnya oke, pemusik2 bolehlah, tapi vokalisnya seorang ibu yang bukan vokalis.

Maka, ketika muncul di televisi, rasanya seperti suara ibu-ibu di kampung. Bukan suara yang layak dipakai untuk siaran televisi tingkat nasional.

Memang tidak mudah menemukan orang yang serbabisa: Punya kualitas evangelis atau pendeta, suara bagus, hebat di public speaking. Karena itu, biasanya acara2 sejenis di televisi memanfaatkan song leader yang profesional. Tapi Gereja Tiberias ini rupanya kurang mempertimbangkan hal itu.

Beberapa tahun lalu ada pendeta gereja lain, laki2, yang juga maksa bikin album. Padahal suaranya sangat jelek. Kok maksa gitu? Apa tidak ada vokalis lain yang lebih pantas membawakan lagu2 ciptaan beliau?

Usut punya usut, pendeta bersuara fals ini ternyata masih kerabat dekat bos besar atau owner gereja itu. Maka, jemaat hanya bisa pasrah.

Hentikan ekspor pembantu ke Malaysia


Koran terbitan Jakarta edisi hari ini, 26 Januari 2012, kembali membahas tenaga kerja Indonesia atau TKI. Khususnya TKI ke Malaysia. Kerajaan Melayu itu memang banyak menampung TKI di sektor informal.

Begitu banyak pekerja2 kasar, kuli, tukang kebun, dan pembantu asal Indonesia di Malaysia. Jumlahnya lebih banyak daripada total penduduk Singapura dan Brunei. Karena itu, Indonesia sering dihina sebagai bangsa kuli, bangsa budak, bangsa babu (pembantu).

Menteri Muhaimin Iskadar seperti dikutip Kompas mengatakan akan membatasi pengiriman pembantu ke Malaysia. Mutu calon TKI akan ditingkatkan. Statemen macam ini sudah lama diucapkan menteri2, bahkan sejak zaman Suharto.

Faktanya? Lain di bibir lain di lapangan. Ekspor TKI tetap saja tinggi baik ke Malaysia maupun Saudi. Dua negara yang paling rawan bagi TKI, khususnya pembantu.

Pemerintah kita rupanya belum ada usaha serius untuk menyediakan pekerjaan di Indonesia. Mengapa harus jauh2 ke Malaysia atau Saudi kalau hanya jadi pembantu, tukang kebun, atau pemetik sawit?

Indonesia adalah negara yang penduduknya sangat banyak, 230 juta. Wilayahnya luas. Tapi penduduk yang banyak justru jadi beban karena kita tak mampu menciptakan pekerjaan. Pengangguran terlalu banyak.

Presiden SBY pernah berjanji membuat policy2 yang pro job, pro poor, pro growth. Misi ini bagus dan seharusnya diikuti tindakan nyata oleh menteri2. Bukan malah menjadikan TKI sebagai alat bargaining dengan Kerajaan Malaysia.

Salah satu ukuran keberhasilan presiden adalah mengurangi sebesar mungkin ekspor TKI ke Malaysia dan Saudi. Kita harus punya mimpi bersama: suatu ketika, one day, tidak ada lagi orang Indonesia yang menjadi pembantu atau kuli di Malaysia!

25 January 2012

Sincia di rumah abu keluarga Han



Sehari sebelum Sincia atau tahun baru Imlek, warga Tionghoa mengadakan sembahyang leluhur. Semua keluarga baik dekat maupun jauh berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur yang sudah tiada.

Itu pula yang dilakukan keluarga Han di Surabaya, Minggu (22/1/2012). Mereka berkumpul di rumah abu keluarga Han, Jl Karet. Sejak pagi tampak hadir Robert Rosihan bersama bersama istri Tan Ling Mei dan anak-anaknya. Ada juga Shirley, kakak Robert.

Menjelang siang datang Johanes Rosihan, putra sulung mendiang Han Kian Kwat. "Setiap tahun kami selalu berkumpul di sini. Selain Sincia, juga saat sembahyang rebutan dan Ceng Bing," kata Robert.

Dia didampingi Hubert, anaknya yang sekolah di SMAK Santa Maria. Anak kedua, Indriani, tak hadir dalam sembahyang leluhur karena tinggal di Jerman.

Meski namanya rumah abu, menurut Robert, tak ada abu jenazah leluhur yang disimpan di sini. Yang ada hanya sinci-sinci atau papan bertuliskan nama-nama leluhur marga Han dalam bahasa Tionghoa. Sinci-sinci itu terletak di atas meja altar.

Shirley Han, anak ketiga dari empat bersaudara, menyiapkan berbagai perlengkapan sembahyang. Mulai buah-buahan seperti pisang, apel, jeruk, rambutan. Kemudian makanan basah seperti ayam, kepiting, ikan, babi, bebek. Tak lupa kue-kue basah seperti wajik, roti mangkok, nian gao, dan kue thok. Juga minuman putao chee chiew, sejenis anggur rendah alkohol.

"Yang wajib ada tebu sebagai simbol manis-manis. Supaya di tahun yang baru ini semua keluarga diberikan rezeki dan kehidupan yang manis," kata Shirley.

Putra-putri mendiang Han Kian Kwat mengawali sembahyang leluhur dengan penuh hormat. Tak lama kemudian kerabat-kerabat lain datang dan melakukan ritual yang sama. Han Tjoan San khusus datang dari Lawang untuk mengikuti acara menjelang pergantian tahun Imlek itu.

Yang menarik, ritual keluarga Han ini dihadiri juga oleh David Reeve, profesor dan peneliti dari University of New South Wales, Sydney, Australia. Dia khusus datang ke Surabaya untuk meneliti keluarga Han di Jawa Timur.

"Keturunan Han banyak yang jadi opsir Tionghoa. Mereka merupakan keluarga Tionghoa terpandang di Jawa Timur," kata David.

Pelacuran merusak Lembata



Lembata mulai memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur pada tahun 2000. Tak banyak kemajuan di pulau yang dulu disebut Lomblen itu. Jalan raya dibiarkan rusak. Infrastruktur lain pun begitu2 saja.

Yang maju justru ini: Pelacuran!

Dulu orang Lembata tak pernah membayangkan ada nona-nona yang cari nafkah dengan menjual diri. Sebab, di NTT hanya ada satu lokalisasi prostitusi setengah resmi di Kupang. Yakni di dekat Pelabuhan Tenau.

Tapi laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama bikin kita geleng2 kepala. Prostitusi justru terjadi terang2an di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Ironisnya, menurut tulisan Kornelis, konsumennya juga kalangan politisi, pejabat, dan pengusaha.

Bisnis kafe, karaoke, panti pijat marak di kabupaten baru ini. Tak hanya jualan minuman keras, juga memajang nona-nona dari Surabaya dan Makassar. Usia wanita penghibur ini 15-45 tahun. Yang muda mejeng di karaoke atau kafe, yang tua2 melayani tamu di gubuk2 sederhana.

Memprihatinkan! Masyarakat Pada tak bisa berbuat banyak karena bisnis kotor itu diduga kuat melibatkan orang2 kuat. Ada beking di belakangnya. Apalagi omzet esek2 itu memang menggiurkan.

Menurut Kompas, konsumen para PSK liar itu kebanyakan anak2 muda di Lewoleba, juga dari 9 kecamatan. Mereka sudah tahu kompleks tak resmi yang sudah terkenal itu. Bahkan, ada orang Adonara dan Solor pun memaksa diri ke Lewoleba untuk mencicipi surga dunia itu.

Sudah sering tokoh masyarakat protes. Pastor2 marah. Ulama meradang. Tokoh2 Lembata di Kupang pun sudah beberapa kali mendesak pemkab untuk membersihkan pulau miskin itu dari prostitusi. Tapi hasilnya nol besar. Setiap hari bisnis esek2 it jalan terus.

Sebetulnya pemkab punya momentum bagus untuk bertindak. Mumpung bupati dan wakil bupati masih baru menjabat. Senyampang bisnis seks ini masih berskala kecil.

Kalau dibiarkan terus-menerus justru akan menjadi bom waktu di masa mendatang. Bupati Sunur sebagai orang nomor satu di Lembata dituntut lebih tegas! Begitu juga Wabup Watun. Jangan terlalu sering ke Kupang, Bung!

Pao wawe utan



Tite rae lewotana biasa pao witi, wawe, manuk. Sapi take. Witi nong wawe paling aya, ewang nawun tang buley dagel.

Wawe utan? Wawe nepi ata pao hala. Tapi rae Lamahora ata kiwan alawen, dahe Hadakewa, ra pao wawe utan. Hehehe...

Wawe utan nepe ra royaro. Pasang jerat, rewang moring. Kalo tite langsung gerian, tekan rame2... Ata Hadakewa pao wawe utan sampe tun tou rua.

Beleka kae ra gerian, tekan hama2 rae watan, tempat wisata, piknik. Waktu go balik lewo, kami mekan wawe utan tou. Hmm.. mela2, woraken kurang. Wawe biasa woraken aya-ayaka. Go suka hala!

Tekan wawe utan nepe oneke senang2. Behing tuak neak tou rua telo... ehm bisa melayang. "Pao wawe utan hama nong wawe biasa. Na gan uwe, wata muringen, heloka makanan naen te utan onen. Repot hala," Ama Lewa maring nepa.

Jawa alawen maring wawe utan meri celeng. Watanen rekan hala heloka wawe biasa. Coba wawe utan nepi ra tula sei heloka rae Kupang? Hmm... iluka gerota.