07 December 2016

Jalur Undangan PTN Perlu Dievaluasi



Sudah lama saya kurang sreg dengan sistem penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) jalur undangan. Bukan apa-apa. Selain porsinya yang kebanyakan, 50-60 persen, kualitas calon mahasiswa pun sejatinya tidak istimewa. Sebab jalur undangan ini hanya mengandalkan nilai rapor di SMA.

Tahu sendirilah bagaimana integritas guru-guru dan kepala sekolah. Nilai rapor bisa disulap sebagus mungkin agar siswa bisa tembus PTN tanpa tes alias jalur undangan. Jalur ini otomatis memperkecil jutaan lulusan SMA di seluruh Indonesia yang berjuang keras memperebutkan bangku di PTN lewat jalur reguler alias seleksi bersama itu. (Dulu namanya skalu, sipenmaru, UMPTN, dsb.)

Karena 60 persen sudah di-booking jalur undangan, alokasi bangku untuk jalur free fight competition ini sangat sedikit. Sebab PTN juga diberi kesempatan untuk merekrut mahasiswa via jalur mandiri. Jalur ketiga ini biasanya muahaal banget karena ada misi cari duit. Hanya anak orang kaya saja yang bisa masuk jalur mandiri... meskipun otak tidak terlalu cemerlang.

Selama beberapa tahun ini iseng-iseng saya mencoba mengetes kemampuan mahasiswa PTN baik yang magang atau hendak melamar pekerjaan. Nomor satu saya bertanya bagaimana dia bisa menembus PTN. Lewat jalur mana: undangan atau reguler atau mandiri. Biasanya jalur undangan yang lebih banyak.

Alumnus PTN kok gitu ya? Kok kurang cerdas? Kurang cepat menangkap arah pembicaraan? Logikanya kurang asyik? Sebaliknya, mahasiswa jalur reguler rata-rata sangat cerdas. Tidak perlu penjelasan panjang lebar, dia sudah tahu maksud kita. Bisa belajar cepat.

Ada apa dengan jalur undangan? Masih pantaskah dipertahankan kalau hanya menghasilkan lulusan yang medioker? Syukurlah, pagi ini Pak Budi Santoso akhirnya bisa menjawab pertanyaan saya yang sudah lama terpendam. Lewat artikel bagus di Jawa Pos.

Ternyata dosen senior ITS Surabaya ini punya kompain yang sama dengan saya. Beliau tentu saja jauh lebih valid karena mengikuti proses belajar para mahasiswa sejak semester satu hingga tamat. Pak Budi pun mengeluhkan kemampuan mahasiswa jalur undangan yang kalah dari jalur free fight competition. Mahasiswa-Mahasiswa-mahasiswi tanpa tes ini umumnya kedodoran dari segi akademik.

Kualitas universitas negeri sudah pasti anjlok jika mahasiswanya didominasi jalur undangan dan mandiri yang 60 persen lebih itu. Kalau mau benar-benar bagus, porsi jalur kompetisi setidaknya 90 persen. Jalur undangan dan mandiri cukup 10 persen. Itu pun harus diseleksi ketat karena nilai rapor biasa dimainkan guru-guru SMA untuk memasukkan sebanyak mungkin lulusannya ke PTN.

Ada fakta baru yang dibeberkan Pak Budi di artikelnya itu. Ternyata jalur undangan ini didominasi perempuan alias mahasiswi. Beda dengan jalur free fight yang relatif seimbang. Mengapa? Wanita biasanya lebih telaten dan rajin sehingga nilai rapornya di SMA lebih tinggi ketimbang laki-laki.

Yang jadi masalah, khususnya di ITS, ada sejumlah jurusan yang sangat menuntut kemampuan fisik yang kuat, harus melekan di lapangan atau laboratorium dsb. Maka, dulu jurusan-jurusan itu sering dianggap jurusan laki-laki.

Nah, setelah ada jalur undangan, jurusan-jurusan itu akhirnya didominasi para perempuan. Dosen-dosen kayak Pak Budi ini yang kelimpungan. Tidak bisa maksimal dalam pembelajaran. Pak Budi menduga, para pelajar SMA yang rapornya bagus itu hanya asal pilih fakultas atau jurusan. Pokoknya tembus PTN!

"Mereka tidak memperhatikan nature seorang perempuan ketika kuliah di jurusan-jurusan tertentu, " kata Pak Budi.

Maka, dosen senior ITS ini mengusulkan agar pemerintah mengevaluasi jalur undangan alias SNM PTN itu. Menutup jalur undangan? Rasanya tidak mungkin. Sebab dulu pun ada PMDK yang esensinya sama dengan jalur undangan sekarang. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi porsi mahasiswa PTN dari jalur undangan. Biarlah bangku PTN yang sangat terbatas itu hanya diisi mahasiswa-mahasiswi yang benar-benar memenuhi syarat akademik.

06 December 2016

Topik Paling Populer di Blog Ini?

Hehehe... ternyata seks!

Sejak dulu artikel yang berbau esek-esek selalu jadi top hit. Saya perhatikan peringkat atas tak pernah jauh dari tiga topik ini: Lonte TPI Porong, Kupu-Kupu Malam di Sidoarjo, dan Tempat-Tempat Dugem di Surabaya. Banyak benar orang yang mencari artikel (dan gambar) tentang tema 18+ ini.

Padahal, tiga artikel ini sebetulnya ditulis iseng aja. Cuma selintas. Dan sudah lamaaa banget. Materi di artikel itu rasanya sudah tidak cocok lagi. Sebagian tempat dugem itu sudah tutup. Kupu-kupu malam di Aloha pun tak ada lagi.

Tapi ya, namanya naluri primitif manusia, artikel lama yang sudah expired itu tetap saja diklik. Saya sih geli dan geleng kepala melihat peringkat artikel hit. Masih seperti dulu.

Artikel-artikel yang agak serius seperti musik klasik, jazz, atau gerejawi dari dulu nasibnya sama: jarang diklik dan dibaca. Masih lumayan kemarin ada penggemar seriosa yang menulis komentarnya dengan serius. Seriosa ini memang punya peminat khusus. Sangat sedikit tapi orangnya serius dan akademik.

Melihat kecenderungan ini, saya jadi maklum mengapa situs-situs seks, porno, begitu laku di internet. Orang Indonesia konon paling doyan situs seks, kata sebuah penelitian. Makanya, meskipun sudah dblokir pemerintah, situs porno terus saja merajalela di sini.

Demokrasi mayoritas di tingkat RT

Pak Isfanhari guru musik senior yang sering jadi dirigen paduan suara perayaan hari besar nasional di Grahadi Surabaya. Beliau juga komposer dan arranger kor kawakan. Pagi ini Pak Isfan tidak membahas musik tapi justru woro-woro pemilihan ketua RT di Kupangkrajan tempat tinggalnya.

Ada tiga calon yang maju. Ada kampanye kecil-kecilan. Warga diajak datang mencoblos. Mirip pemilu legislatif, pemilihan bupati, gubernur atau presiden. Demokrasi langsung! Tidak pakai musyawarah mufakat atau perwakilan segala.

Kelihatannya sepele tapi sejatinya menunjukkan perubahan sistem budaya kita. Selama ini sangat jarang ada orang yang bersedia jadi ketua RT atau RW. Ini kerja sosial yang tidak digaji. Tanggung jawabnya pun berat. Kalau ada apa-apa, misalnya kecolongan teroris di wilayahnya, ketua RT harus mondar-mandir ke kantor polisi. Ketua RT juga harus keliling ke rumah-rumah. Dan sebagainya.

Karena itu, di tempat tinggal saya yang lama, Ngagel Jaya Selatan, BP boleh dikata ketua RT abadi. Sudah 30an tahun menjabat tanpa pernah diganti. Dia sih sudah bosan. "Tapi tidak ada yang mau. Kalau ada yang bersedia, sekarang juga saya serahkan jabatan saya," katanya.

Di mana-mana memang seperti itu. Di Sidoarjo pun banyak ketua RT yang menjabat lebih dari 10 tahun. Beda dengan jabatan anggota DPRD yang selalu diperebutkan dengan berbagai cara. Apalagi kepada daerah!

Maka pemilihan langsung RT di Kupangkrajan ini saya anggap langka. Mungkin terimbas sistem demokrasi langsung ala pilkada atau pilpres yang heboh itu. Warga yang dulu rikuh, sungkan, berkompetisi di lebel bawah mulai mengikuti langgam politisi. Semoga saja tidak ada isu SARA dalam pemilihan ketua RT!

Di sisi lain, pemilihan langsung yang merambah level RT ini menunjukkan betapa asas musyawarah mufakat makin ditinggalkan rakyat Indonesia. Musyawarah mengandaikan kompromi, negosiasi, tawar menawar. Tanpa ruang negosiasi, maka segala sesuatunya akan diselesaikan dengan metode voting.

"Demokrasi banyak-banyakan suara," ujar Jockey Suryo Prayogo, budayawan dan seniman musik terkenal.

Komposer top ini memang dari dulu menginginkan agar musyawarah mufakat yang menjadi nilai-nilai khas bangsa Indonesia yang dikedepankan. Dan itu hanya bisa jalan kalau UUD 1945 yang asli diberlakukan kembali. Sekarang kita sudah terjebak dalam demokrasi banyak-banyakan suara dengan segala dampak negatifnya.

Tak hanya Jockey yang resah. Sudah lama banyak tokoh lintas profesi mengeluhkan demokrasi liberal pascareformasi. Voting jadi berhala baru. Kuantitas massa jadi andalan untuk memaksakan keinginan kelompok tertentu. Di mana jalan musyawarah itu?

Melihat virus demokrasi mayoritas atau banyak-banyakan suara yang sudah merambah pemilihan ketua RT, rasanya musyawarah mufakat hanya menjadi cerita nostalgia.

Paroki Salib Suci Sidoarjo Juara Umum Festival Paduan Suara Keuskupan Surabaya

Sudah 10 tahun tidak ada lomba atau festival paduan suara di Keuskupan Surabaya. Lama banget! Padahal festival kor resmi keuskupan sangat efektif untuk menggairahkan kor-kor paroki atau stasi atau lingkungan. Kalau tidak ada lomba, biasanya kor-kor Katolik kurang semangat berlatih.

Ada sih festival paduan suara yang diadakan Jawa Pos untuk menyambut Natal. Juga festival di universitas dan lembaga-lembaga lain. Tapi misinya pasti beda dengan liturgi Katolik.

Lomba paduan suara Gereja Katolik mau tidak mau harus diarahkan untuk pengembangan musik liturgi. Bukan bagus-bagusan di konser, dapat banyak medali di luar negeri, masuk televisi dan sebagainya. Buat apa hebat di luar kalau mutu kor liturgisnya jelek?

Maka, inisiatif Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat Surabaya, mengadakan festival paduan suara Keuskupan Surabaya layak diapresiasi. Meskipun yang ikut cuma 17 paroki dan satu stasi (Porong Sidoarjo). Belum setengahnya paroki di Keuskupan Surabaya yang jumlahnya 42. Biasanya kalau penyelenggaranya Keuskupan Surabaya hampir pasti semua paroki ikut.

Tapi saya kira gebrakan Redemptor Mundi ini menjadi awal yang baik. Ada tiga kategori lagu yang dilombakan: Gregorian, polifoni, dan inkulturasi. Cocok dengan pakem musik liturgi. Selama ini Gereja Katolik di Indonesia saya nilai terlalu asyik di inkulturasi karena buku Madah Bakti dulu memang berat di inkulturasi. Gregoriannya sangat sedikit. Polifoni tidak ada.

Tidak hanya berlomba, peserta juga diajak mengikuti lokakarya dan choir clinic. Klinik paduan suara ini antara lain menghadirkan mas Budi Susanto dari Malang. Mas Budi ini dirigen, arranger, dan komposer kor yang sangat berpengaruh di Indonesia di era reformasi. Kor-kor mahasiswa Indonesia umumnya membakan komposisi anggitan Budi Susanto ketika mengikuti international choir festival.

Mas Budi menekankan pentingnya produksi suara. How to inilah yang sering diabaikan kor-kor kita, khususnya di Gereja Katolik. Akibatnya, lagu-lagu liturgi lawas yang seharusnya sudah di luar kepala pun terdengar mentah. Ndak enak blas! Pokoknya setiap misa ada kornya. Belum ada upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan prinsip Gereja: Qui bene cantat bis orat!

Akhirnya, sesuai dugaan saya, Paroki Salib Suci Waru, Sidoarjo, meraih juara umum. Paroki binaan romo-romo SVD memborong tiga kategori, yakni Gregorian, polifoni, dan inkulturasi. Saya tidak kaget karena sejak dulu Salib Suci memang sangat konsen mengembangkan Gregorian dan polifoni. Dan itu tak lepas dari sosok Romo Heribert Balhorn yang sangat menekankan ekaristi klasik.

Ketika Gereja-Gereja lain getol dengan inkulturasi, Salib Suci Waru aktif mengembangkan Gregorian. Saya pernah menulis catatan di blog ini: suasana misa di Salib Suci itu rasanya lain dibandingkan paroki-paroki lain di Jawa Timur. Selamat untuk Paduan Suara Salib Suci Sidoarjo!

Hasil Lomba Paduan Suara Keuskupan Surabaya 2016

Juara umum: Paroki Salib Suci Sidoarjo

Kategori Gregorian:

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2: Paroki Roh Kudus Surabaya
Peringkat : 3 Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya

Kategori Polifoni Suci

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2: Paroki Roh Kudus Surabaya
Peringkat 3 : Paroki Gembala yang Baik Surabaya

Kategori Inkulturasi

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2 : Paroki Kristus Raja Surabaya
Peringkat 3 : Paroki Roh Kudus Surabaya

29 November 2016

Jockey Suryo Prayogo maestro pop progresif Indonesia



Akhir-akhir ini saya cukup sering diskusi dengan Jockie Suryo Prayogo. Beliau pemusik kawakan, komposer musik pop era 70an sampai sekarang. JSOP  (begitu julukannya di media online) kondang sebagai pemain keyboards grup rock legendaris Godbless.

Sudah ratusan lagu diciptakan JSOP. Setiap saat musisi yang merintis karir dari Malang itu bahkan hampir setiap hari berkreasi. Dan... lagu-lagunya selalu unik dan berkelas. JSOP-JSOP-lah yang mewarnai album-album LCLR alias lomba cipta lagu remaja di masa lalu.

Diskusi dengan JSOP menurut saya berbeda dengan artis-artis biasa. Sebab yang dibahas bukan cuma musik tapi juga sosial politik budaya hingga agama. Kemarin kami diskusi panjang tentang fenomena pengerasan ideologi agama di Indonesia. Kami pun berpaling ke wacana lama yang sering dibahas Bung Karno pada tahun 1930an.

Saya geleng kepala melihat kemampuan JSOP yang luar biasa. Rujukannya luas. Jelas beliau komposer yang doyan baca buku, diskusi, dan jeli membaca situasi masyarakat. Berapa galaunya JSOP melihat unjuk rasa kasus Ahok di Jakarta yang dikemas begitu canggih.

Mengapa musik pop Indonesia sekarang seperti ini? Perbedaan dengan era lama terlalu jauh. Seperti terputus dengan masa lalu. Orang Indonesia yang berusia di atas 40 makin sulit menyukai lagu-lagu pop sekarang. Sebaliknya anak-anak muda pun tidak bisa mengapresiasi musik pop lama. Bahkan nama-nama besar di masa lalu macam Harvey Malaihollo, Nicky Astria, Elfa, hingga Bob Tutupolly pun tak kenal.

Ada apa dengan musik pop sekarang?

JSOP mengakui musik pop Indonesia tak bisa dilepaskan dari musik Barat. Semua instrumen dari sana. Tangga nada, pola komposisi, sound dan sebagainya aslinya dari Barat. Tapi tidak berarti kita menelan mentah-mentah-mentah gaya pop Barat.

JSOP dkk di masa lalu dengan sadar melakukan adaptasi dan modifikasi. Sehingga rasa Indonesia sangat menonjol. Bukan copy paste begitu saja musik pop USA atau Eropa. "Agnes Monica itu sebetulnya punya karakter yang kuat. Tapi kebule-bulean," ujar JSOP menanggapi pertanyaan saya.

JSOP menulis:

"Pesan yang ingin saya sampaikan: ..... ngapain generasi sekarang harus ikut2an membeo/berkiblat ke musik barat? Kalau soal modern dan lebih cerdas ... itu sudah pasti wong itu produk budaya masyarakat mereka sendiri. Tapi sosiologi kultural kita itu berbeda dengan masyarakat barat.

"Mbok dipaksa2in tetep saja akan wagu dan terdengar eksentrik .... eksentrik itu bukan artistik maupun unik. Konklusinya: pelajari modernisasinya (subjek) .... bukan meniru kulturnya (objek). Kultur dalam hal ini adalah raw material milik kita sendiri. Kuasai cara/metode membuat komposisi yang bisa diadopsi."

Bagaimana dengan musik yang berisik?

JSOP: "Definisi musik yang dianggap berisik itu bukan hanya dari perspektif 'keras atau pelannya' bunyi2an yang terdengar. Berisik itu ketika masing2 struktur bunyi yang ada terkesan tumpang tindih saling memperebutan ruang."

JSOP: "Definisi memperebutkan ruang itu karena banyaknya jenis lalu lintas progresi not yang mau tampil."

Kenapa musik pop justru kehilangan 'gairahnya' ketika di-backup dengan orkestrasi yang megah?

JSOP: "Karena frasanya menjadi 'tua' dan 'mapan'... bertolak belakang dengan filosofi pop yang progressive & revolusioner. Lalu ditulislah  line strings, woodwinds dan lain2 yang kompleks agar tidak terkesan tua, misalnya. Alih2 justru berisik kehilangan identitas karena sebagai sebuah lagu tidak lagi fokus. Musik served lagu atau lagu yang melayani musik.

Mengapa terkesan tua?

JSOP : "... karena disiplin intrumentasi orkestra harus patuh pada doktrin classic, antara lain perfect pitch .... sedangkan pop di era romantic bukan menjadi ketentuan2 yg bersifat mutlak. Ekspresi lebih mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi kebebasan. Maka seorang orkestrator bukan hanya harus memenuhi persyaratan teknis/akademik, lebih penting lagi harus menguasai sosiologi musik yang hendak diciptakan.

JSOP: "Perhatikan ketika group2 luar semacam Metallica ketika mereka bekerja sama dengan orkestra .... dimensi orkestra cukup hanya sebagai layer yang tidak maju ke depan mendominasi arransemen. Tidak membuat lalu lintas2 baru dalam komposisi orkestrasinya."

JSOP: "Bikin lagu itu yang susah bukan ngarang melodinya atau nulis syairnya, tapi mempertemukan dua unsur diatas menjadi satu kesatuan frasa yang bisa disebut estetika. Banyak orang asal menulis syair hanya karena merasa gaya bahasanya dianggap mewakili persoalan2 kekinian tanpa peduli pada melodi yang 'terseret2' kebingungan dalam membahasakan pesan2 syair yang tertulis .... lalu dinyanyikan saja sekenanya. Yang penting syairnya dianggap heboh atau ngetren ... duuhh. Setelah persoalan antara melodi dan syair di atas teratasi, barulah kemudian musik berperan untuk membungkusnya agar lebih sempurna."

Apa kelemahan komposer kita?

JSOP: "Kekeliruan2 yang sering kali dilakukan aranger maupun orkestrator musik kita itu seringnya mengaransemen ulang atau reinterpretasi lagu yang membuat karakter lagu tersebut berubah dari frasa aslinya. Bila komposisi baru tersebut dialamatkan ke lagu2 yang sudah dikenal hingga dianggap populer karena mendapat apresiasi yang besar dari publik .... maka yang terjadi adalah semacam 'kecelakaan'. Namun bila memang sengaja dengan tujuan ingin melahirkan image/persepsi baru yang juga ditujukan bagi generasi2 barunya.

Maka diperlakuan waktu cukup panjang sebagai pembuktian atau untuk bisa dibuktikan apakah versi yang baru tersebut mampu memperoleh besaran kadar apresiasi yang sama dari yang sebelumnya. Hal di atas tersebut juga merupakan upaya kreatif dari arranger namun memikul konsekuensi 'riskan' yang cukup besar."

JSOP: "Musik dan lagu2 yang dibuat sejak era generasi saya 1970an (LCLR dan Badai Pasti Berlalu) wajib untuk terus diindakkanjuti proses2 berikutnya melalui pola2 pemahaman yang sama. Bahwa musik pop itu produk budaya. Musik pop bukan sebatas bunyi2an harmoni diatonal apalagi dibatasi
dengan persoalan 'selera' atau kebiasaan2 tertentu yang hanya bersandar pada teori musical serta trend maupun gaya. Menguasai ilmu itu penting. Namun tanpa mengenal filsafat ilmu itu sendiri, musik pop Indonesia hanya akan menjadi komoditas dagangan pragmatis yang akan diperlakukan semena2 oleh pemodal2 yang banal
budaya."

21 November 2016

Launching, Opening, Substitusi, Konsumsi

"Launching itu apa?"

Begitu pertanyaan mas Anang asal Krian usai membaca berita di koran kemarin.

Koran itu memang memuat banyak kata launching di halaman pariwaranya. Launching ruko, launching gudang, launching buku, launching album, hingga launching kegiatan lomba-lomba santai hingga kejuaraan olahraga.

"Apa launching itu pembukaan?" ujar pria 30an tahun yang lulusan SMK itu.

"Cocok. Launching bisa juga disebut pembukaan acara atau kegiatan. Bisa juga peluncuran sebuah produk baru," kata saya berlagak paham bahasa Inggris asli bule.

"Kalau opening artinya apa? Apa bedanya dengan launching?" kejar mas Anang.

Waduh, rupanya mas ini mau ngetes saya!

"Hampir samalah. Mungkin opening lebih cocok untu pembukaan kegiatan atau sekarang lebih populer dengan event. Bisa juga membuka kantor. Ada soft opening, grand opening...," jawab saya sekenanya.
Saya pun lekas meninggalkan warung kopi rakyat jelata di kawasan Buduran Sidoarjo. Kata-kata mas Anang terus berkecamuk di kepala saya. Oh, rupanya kata-kata Inggris seperti launching, opening, soft launching, awarding, topping off... sudah inflasi di media massa. Sebagian masyarakat sangat paham, dan senang karena keren, tapi ada juga orang-orang warkopan yang bingung.

Saya pun sulit membedakan launching dan opening. Sudah minta bantuan Google tapi tetap tidak meyakinkan. "Mengapa tidak dipakai pembukaan saja? Mengapa harus launching?" tanya mas Anang.

Penjelasannya bisa panjang lebar. Dan merambat ke mana-mana: sosial budaya, bahasa, ekonomi, gaya hidup (life style lebih populer di media) hingga mentalitas pribumi yang minderwaardigheids complex di era Hindia Belanda. Mentalitas anak negeri yang tidak percaya diri dengan bahasa nasionalnya.

Kalau mas Anang sering mempertanyakan kata-kata English, saya selalu tersenyum sendiri ketika menemukan kata-kata serapan yang dipaksakan untuk mengganti kata-kata asli yang sudah sangat umum. Contohnya di berita olahraga (sekarang nama rubrik olahraga sudah diganti SPORT):

"Zizou dengan cerdas menyubstitusi hilangnya tiga pilar itu."

Hehehe... MENYUBSTITUSI.

Mengapa tidak dipakai MENGGANTI saja? "Zizou dengan cerdas mengganti tiga pemain pilar yang cedera."

Selain SUBSTITUSI, menyubstitusi, kata serapan lain yang sangat populer di media adalah KONSUMSI: mengonsumsi, dikonsumsi, pengonsumsian....

"Karena tidak punya beras, warga mengonsumsi tiwul."

Lama-lama kata MAKAN bisa tergusur dari percakapan orang Indonesia di kota. "Saya makan nasi" bakal disubstitusi menjadi "saya mengonsumsi nasi".

Begitulah jalannya peradaban. Mesin ketik sudah lama disubstitusi komputer (PC). Komputer disubstitusi laptop. Laptop pun disubstitusi telepon pintar alias smartphone. Dan seterusnya...

Sent from my BlackBerry

15 November 2016

Umat Kristen Diminta Mengampuni Pengebom Gereja Oikumene di Samarinda

Pernyataan Sikap Badan Musyawarah Antar Gereja/Lembaga Keagamaan Kristen Indonesia (Bamag LKK Indonesia) tentang Pengeboman Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda Kaltim, 13 November 2016.

1. Meminta aparat kepolisian dalam hal ini penegak hukum untuk mengusut dan menindak pelaku pengeboman sesuai dengan hukum yang berlaku untuk menjamin tegaknya hukum dan keadilan.

2. Meminta pemerintah (TNI/Polri) untuk memberikan rasa aman atau jaminan/perlindungan keamanan kepada warga negara Indonesia, termasuk umat Kristen (jaminan keamanan untuk beribadah).

3. Bahwa pengeboman tempat ibadah agama apa pun termasuk pengeboman Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda adalah satu bentuk tindakan keji terhadap kemanusiaan dan bukti perlawanan terhadap NKRI dan Pancasila.

4. Presiden RI kiranya  mengambil langkah-langkah strategis dalam menjaga, mengamankan, mempertahankan terhadap upaya-upaya penghancuran NKRI dan Pancasila.

5. Berharap pemerintah untuk menanggung segala beban biaya yang diderita ileh korban dari mulai pengobatan sampai kehidupan ke depanya sebagai wujud tanggung jawab negara kepada warga negaranya.

6. Mengimbau umat Kristen agar tetap tenang serta berdoa untuk kedamaian Indonesia dan mengampuni/memberkati pelaku pengeboman,  memperkokoh kerukunan antar umat beragama dan senantiasa berkoordinasi dengan aparat(TNI/Polri), pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan FKUB setempat.

7. Salam perdamaian dan kesatuan berbangsa dari umat Kristen kepada umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia.

TUHAN memberkati! Salam! Merdeka!!!

Jakarta, 13 November 2016

Ketua Umum Bamag/LKK Indonesia


Agus Susanto                                   

10 November 2016

Pelajaran dari Pilpres USA yang luar biasa cepat

Kok bisa Trump? Begitu judul koran besar di Surabaya pagi ini.

Ya, banyak orang tidak percaya Donald Trump yang bakal jadi presiden USA. Mereka menganggap Donald punya terlalu banyak kelemahan untuk ngantor di Gedung Putih.

Hamid Awaluddin bekas menteri menulis analisis di Kompas kemarin yang intinya Hillary pasti menang telak. Sehingga Bu Hillary bakal jadi perempuan pertama yang jadi presiden USA. Kok kalah ya sama Indonesia yang pernah punya Presiden Megawati.

Tapi apa yang terjadi? Semua analisis di Indonesia (mungkin juga di USA) meleset semua. Bapak Trump mengacaukan semua jajak pendapat. Hasil survei berantakan. Pak Trump menang 279 vs 218.

Kita sering lupa bahwa pemilihan umum (pilpres atau pileg) selalu melahirkan kejutan. Tak terkecuali di USA. Sehebat-hebatnya Hillary, pintar, berpengalaman, bicaranya enak, bukan jaminan menang. Rakyat punya naluri sendiri. "Ada kekuatan semesta yang bermain dalam kehidupan," ujar mas Rokim, wartawan senior yang mendalami dunia supranatural.

Itulah yang bagi kita orang Indonesia disebut takdir! Kalau memang sudah dikehendaki Hyang Kuasa, jadilah! Tidak ada yang bisa menghalangi. Orang-orang lama selalu bilang seorang raja (pemimpin) adalah orang yang ketiban pulung. Cara mendapat pulung itu? Kerja kerja kerja... dan selanjutnya takdir yang bicara.

Saya yang bukan wong Amerika sih netral saja. Yang menang Trump atau Hillary sama saja. Sebab kedua capres itu tentu sama-sama punya kemampuan untuk jadi presiden. Gak mungkinlah wong kenthir, goblok, ngawur... dipaksakan untuk nyalon. Apalagi menang telak. Emangnya orang USA yang memilih Trump itu goblok semua?

Yang mengharukan, seperti siaran langsung di Metro TV kemarin, Donald Trump menyampaikan pidato kemenangan yang mengesankan. Normatif sih tapi saya apresiasi tinggi sebagai pelajaran untuk Indonesia. Ia memuji Hillary yang sudah mengabdi sangat lama untuk rakyat Amerika. Meskipun terlibat kampanye yang keras, saling menista segala, pada akhirnya pertarungan ini untuk USA juga.

Pak Trump juga bilang di awal pidato bahwa dia sudah menerima telepon dari Bu Hillary yang mengucapkan selamat atas kemenangannya. Luar biasa!

Di usia 70 tahun Pak Trump masih ngotot berjuang untuk tugas kenegaraan yang menyita waktu, energi, pikiran, dsb. Beda dengan para lansia kita yang lebih banyak nongkrong di rumah, ngemong cucu, dengar wayang kulit di radio, ngaji agama, dan sebagainya. Pak Trump membuktikan bahwa manusia punya kesempatan untuk mengabdi, tetap produktif, sampai kapan saja... kalau mau!

Bagi saya, pelajaran paling penting bagi kita di Indonesia adalah ini: Satu, hasil pilpres USA ini luar biasa cepat diketahui. Coblosan hari Selasa, besoknya Rabu sudah final result.

Di Indonesia, hasil pilpres baru diumumkan KPU hampir SATU BULAN setelah hari pencoblosan. Sama persis dengan pemilu pertama tahun 1955. Kalau ada gugatan, bisa tertunda dua minggu lagi.

Dua, capres yang kalah (bersama timmnya) langsung menelepon capres yang menang. Ucapkan selamat! Dan itu tidak sampai 24 jam usai coblosan. Hiruk pikuk pilpres, kampanye yang panas, selesai dengan sejuk.

Di Indonesia? Hehehe.... Jangankan mengakui kekalahan, capres yang kalah malah mengumumkan di televisi, mengklaim sebagai pemenang. Lengkap dengan data lembaga survei abal-abal pesanannya sendiri. Si kalah itu malah menuduh proses pilpres curang, banyak pelanggaran, penggelembungan suara, dsb.

Kita masih ingat, tahun 2014 lalu capres Prabowo berapi-api merasa jadi pemenang (meskipun faktanya terbalik) berbekal data dari PKS. Ternyata data yang dirujuk itu tidak valid. Akibatnya, setelah pilpres suasana politik di Indonesia makin panas.

Saya rasa cukup dua pelajaran itu dulu. Kok bisa ya hasil pilpres di USA bisa diketahui dalam tempo kurang dari 24 jam? Bukan hitung cepat alias quick count yang bisa meleset itu!

Indonesia memang bukan USA yang sudah sangat maju dan canggih. Tapi kalau hasil pilpres kita baru diumumkan satu bulan lebih ya kebangetan!

Sent from my BlackBerry

04 November 2016

Mahalnya harga politisasi agama

Beberapa hari ini kita dibombardir isu yang tidak enak. Politisasi agama dalam pilkada. Khususnya di Jakarta. Begitu banyak pilkada di tanah air tapi cuma Jakarta yang paling heboh.

Begitu hebatnya politisasi SARA, agama dan ras, bahkan ada gerakan unjuk rasa sejuta umat pada 4 November. Tujuannya menekan polisi agar segera memproses hukum Ahok. Tuduhan: penistaan agama.

Gubernur Ahok sendiri sebetulnya sudah minta maaf berkali-kali. Tapi masalah justru makin merembet luas. Politisasi agama memang luar biasa dahsyat dan liar. Apalagi di era media sosial seperti ini. Ketika semua orang bebas membuat isu, gosip, fitnah... dan apa saja sesuai kepentingannya.

Syukurlah, di Indonesia masih jauh lebih banyak orang yang tidak terhasut isu agama. Ajakan demonstrasi malah disambut dengan guyonan segar. "Saya pasti ikut demo 4 November... tapi demo masak nasi goreng jawa," ujar seorang aktivis LSM di Surabaya

"Polisi sudah siapkan pagar betis untuk mengamankan unjuk rasa," tulis teman yang tak lupa menyertakan meme betis-betis mulus wanita cantik. Asem tenan!

Yockie Suryo Prajogo, musisi senior, komposer kondang, teman diskusi saya, menulis status pendek tapi sangat tajam. "Selama isu agama masih menjadi komoditas politik.. pertanda masih banyak orang bodoh di Indonesia...."

Glodak! Kita tidak perlu terlalu cerdas untuk memahami manuver politik SARA yang memang sudah sangat lazim ini. Cukup main feeling saja kita sudah tahu betapa gonjang-ganjing isu agama dalam pilkada Jakarta tak lebih dari komoditas orang-orang yang lapar kekuasaan.

Kalau kita ikut terhasut permainan elite yang tak bertanggung jawab, ya makin benar sinyalemen Yockie Suryo Prajogo. Apa boleh buat, masih buanyaaak orang bodoh di Indonesia.

"Itu seperti kondisi di Amerika pada abad ke-16," kata Sascha sang bintang YouTube yang suka bikin parodi tentang orang Indonesia itu.

Tapi mau gimana lagi? Ribuan polisi dan tentara terpaksa dikerahkan untuk mengamankan unjuk rasa. Berapa duit untuk biaya pengamanan? Mobilisasi kendaraan militer ke Jakarta? Konsumsi dan sebagainya?

Belum kekhawatiran para pedagang atau pemilik toko jika unjuk rasa berbuah kerusuhan. Jalanan yang macet. Citra bangsa yang terpuruk di dunia internasional. Dsb dsb...