27 November 2014

Dagelan Timnas di Piala AFF 2014

Dagelan atau lawakan itu memuat orang tertawa. Tapi dagelan tim nasional sepak bola di Piala AFF 2014 ini justru membuat kita sedih. Geleng-geleng kepala. Aneh bin ajaib!

Bagaimana mungkin pemain-pemain bola terbaik Indonesia, timnas senior, begitu konyol saat melawan Filipina? Kalah 4 gol tanpa balas sih biasa. Tapi melihat gol ketiga itu, penonton televisi pasti sulit mengerti. Apakah pemain-pemain timnas tidak paham aturan, law of the game yang dikeluarkan FIFA, atau sengaja bikin dagelan di lapangan?

Dagelan konyol itu adalah backpass. Semua pemain bola, bahkan orang awam yang biasa nonton bola, pasti tahu bahwa bola yang dioper teman sendiri haram ditangkap kiper. Penjaga gawang tidak boleh menyentuh bola backpass dengan tangan. Silakan pakai kaki, kepala, badan, bokong, atau bagian tubuh mana saja asalkan bukan tangan.

Lha, kok Kurnia Meiga, kiper timnas asli Arek Malang (Arema) malah menangkap bola backpass. Sudah bertahun-tahun saya menonton Liga Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Piala Dunia, Piala Eropa... juga Liga Indonesia di televisi. Dari ribuan pertandingan ini belum pernah terjadi kasus kiper konyol menangkap bola backpass! Dan baru kali inilah saya melihat kiper timnas Indonesia, nomor punggung 1, membuat kekonyolan itu.

Lebih konyol lagi, ketika hukuman tendangan bebas dilakukan di dalam kotak penalti, pemain-pemain bukannya membuat pagar betis, menutup gawang, malah bengong. Wuedannya lagi, si kiper keluar dari gawang, berada di dekat bola, dan memunggungi penendang dari Filipina. Gawang dibiarkan kosong melompong.

Ya, jelas saja bola masuk dengan mulus. Ini hakikatnya sama dengan own goal, sengaja bikin gol bunuh diri, tapi secara halus. "Kelihatan sekali kalau pemain Indonesia itu bodoh-bodoh. Tidak tahu law of the game," kata Jimmy Napitupulu, mantan wasit FIFA asal Indonesia.

Proses terjadinya gol pertama dari titik penalti pun berbau dagelan. Lucu tapi bikin kita jenggel. Bola yang sangat aman, jauh dari gawang, dekat garis pinggir lapangan, malah diarahkan ke tengah. Ke area yang dekat penyerang Filipina. Jelas saja bola itu diserobot sehingga pemain belakang timnas keteran. Jelas penalti dan gol!

Petang itu Indonesia kalah segalanya. Fisik, teknik, semangat... semuanya. Cara bermain Indonesia yang tanpa gairah, konyol, memberi banyak umpan untuk lawan kok mirip banget sepak bola gajah.

Jangan-jangan....
Jangan-jangan...
Jangan-jangan...

KULIAH UMUM MENTERI SUSI

Kemarin, 26 November 2014, Susi Pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan, berkunjung ke Sidoarjo. Memberi kuliah umum di kampus Akademi Perikanan Sidoarjo (APS). Pesona Bu Susi yang nyentrik, out of the box, membuat 600-an mahasiswa yang berasal dari semua provinsi di Indonesia itu sangat antusias.

Kuliah umum jadi ajang Bu Susi berbagi pengalaman memulai bisnis jualan ikan di Jawa Barat hingga sukses jadi pengusaha kaya raya. Jadi bos Susi Air, punya puluhan pesawat, dengan pilot-pilot bule.

"Kalian tahu saya tidak lulus SMA. Tapi jangan ditiru lho. Kunci
sukses itu disiplin, kerja keras, dan kerja ekstra," ujar bu menteri
dengan suara khasnya yang berat.

Disiplin! Gampang diucapkan tapi susah dilaksanakan secara konsisten oleh orang Indonesia. Mungkin disiplin itu bukan budaya kita, katanya. Orang Indonesia umumnya antusias saat mulai tapi melempem kalau sudah jalan. Hilang semangat. Karena itu, ia meminta mahasiswa APS untuk selalu disiplin dan kerja keras.

Laut kita begitu luasnya, dari Aceh sampai Papua. Tapi perikanan kita kalah jauh sama Jepang dan Thailand. Bu menteri menantang mahasiswa perikanan ini untuk kreatif menggali potensi, harta kekayaan alam, yang menumpuk di laut kita. Ikan-ikan kita maah dicuri kapal-kapal asing.

Kuliah umum bersama Menteri Susi begitu menarik dan hidup. Anak-anak muda menyimak kata-kata bu menteri yang hanya berijazah SMP tapi sukses luar biasa itu. Masa, kalian yang nanti jadi sarjana perikanan dan kelautan nggak bisa! Harus bisa dong!

Hidup Menteri Susi!

Yasluck Hasan Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo Berpulang

Setelah lengser sebagai anggota DPRD Sidoarjo, Yasluck Hasan seperti menghilang dari dunia politik dan kesenian. Tapi sebetulnya ketua Dewan Kesenian Sidoarjo tetap aktif bersilaturahim dengan para seniman di Kabupaten Sidoarjo. Sekadar ngobrol santai, diskusi, atau membahas berbagai perkembangan sosial, politik, dan seni budaya di Kota Delta.

Mas Yasluck ini lincah, ceria, hingga tak banyak yang tahu kalau dia sebetulnya punya penyakit dalam: komplikasi liver dan ginjal. Karena itu, saya terkejut mendapat informasi bahwa Yasluck Hasan, yang juga politisi PAN, berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Selamat jalan Mas Yasluck! Semoga amal ibadah sampeyan diterima Allah SWT!

Berbeda dengan sebagian besar seniman yang pergaulannya terbatas di lingkungan seni budaya, Mas Yasluck Hasan bisa masuk ke kalangan mana saja. Bisa berkomunikasi dengan enak dengan petani, nelayan, buruh, politisi, birokrat, hingga bupati dan wakil bupati. Kemampuan inilah yang membuat dia terpilih sebagai anggota DPRD Sidoarjo 2009-2014.

Posisi di parlemen ini membuat Yasluck sangat diharapkan para seniman, khususnya pengurus dewan kesenian, untuk mengegolkan rencana lama: mewujudkan sebuah gedung kesenian yang representatif di Sidoarjo. Aneh, kota tetangga Sidoarjo yang berambisi jadi kota festival tak punya gedung kesenian! Yasluck secara konsisten ikut memperjuangkan pembangunan gedung itu.

Tidak mudah. Dia dijegal banyak anggota dewan lain yang menganggap gedung kesenian bukan kebutuhan rakyat yang mendesak di Sidoarjo. Rencana lama yang dijadikan Bupati Saiful Ilah sebagai salah satu programnya ini sempat terkatung-katung. Alhamdulillah, tahun ini, gedung kesenian itu sedang dibangun. Tahun 2015 diharapkan sudah selesai. Lokasinya di lingkar timur, dekat ruang terbuka hijau atau Taman Tandjoeng Puri.

Yasluck Hasan pun lega karena tak lagi ditagih gedung kesenian oleh para seniman Sidoarjo. Dia pun lengser, kembali ke masyarakat, komunitas seniman, dengan kepala tegak. Tapi Tuhan punya rencana lain. Di saat gedung kesenian sedang dibangun, diharapkan jadi salah satu gedung kesenian terbaik di Jawa Timur, Yasluck Hasan tutup usia.

Kita kehilangan seorang penggiat kesenian cum politisi yang tak hanya bicara, tapi tahu strategi untuk mewujudkan cita-cita para seniman di Kabupaten Sidoarjo. Kelak, ketika gedung kesenian itu berdiri megah dan digunakan untuk pertunjukan kesenian dan aktivitas berbagai komunitas di Sidoarjo, kita akan selalu mengenang almarhum Yasluck Hasan.

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un!

23 November 2014

Jejak Sekolah Tionghoa di Sepanjang Sidoarjo



Tak banyak orang yang tahu kalau dulu di kawasan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, ada sekolah Tionghoa dan kompleks kelenteng yang megah. Zhonghua Xuexie, nama sekolah setingkat SD itu, akhirnya ditutup rezim Orde Baru (Orba) selepas peristiwa Gerakan 30 September 1965.

"Sekolah Tionghoa Sepanjang itu sekarang jadi SMP Muhammadiyah 2 Taman. Kelentengnya juga ada di situ," tutur Lie Tjin Sam, salah satu alumnus Sekolah Tionghoa Sepanjang, Sidoarjo. Pria 77 tahun ini kemudian memperlihatkan foto para siswa Sekolah Tionghoa Sepanjang berpose di depan kompleks sekolah pada 6 Desember 1951.

Seperti sekolah-sekolah Tionghoa yang lain, menurut Tjin Sam, Zhonghua Xuexie didirikan oleh perhimpunan warga Tionghoa untuk menampung anak-anak Tionghoa. Sebab, saat itu sebagian besar warga Tionghoa di Indonesia belum menjadi warga negara Indonesia. Meski tinggal di seberang lautan, mereka masih dianggap warga negara Tiongkok. Karena itu, anak-anak Tionghoa tidak mungkin bersekolah di sekolah umum atau nasional.

"Tapi, yang menarik, di Sekolah Tionghoa Sepanjang ini ada anak Jawa. Saya tahu anak itu meskipun dia di kelas lain," kata pria peranakan Tionghoa-Bali yang kini lebih dikenal dengan nama Samsu Arliyanto itu.

Sistem pendidikannya, menurut dia, kombinasi antara kurikulum di Tiongkok daratan dan pendidikan Indonesia. Bahasa Mandarin tetap menjadi bahasa pengantar utama. Bahasa Indonesia, sejarah Indonesia, maupun adat istiadat Indonesia pun tidak ketinggalan.

"Di kelas empat ada pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sangat disiplin sehingga teman-teman bisa menguasai bahasa Inggris dengan cepat," ujarnya. Tjin Sam sendiri fasih beberapa bahasa asing seperti bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin.

Menurut Tjin Sam, hubungan antara warga Tionghoa dan pribumi di kawasan Sepanjang, Taman, dan sekitarnya pada era 1950-an dan 1960-an itu sangat baik. Warga Tionghoa mencari nafkah dengan membuka toko di sepanjang jalan raya, pasar, hingga di dalam gang.

Tjin Sam ketika muda suka blusukan ke mana-mana dengan kamera andalannya. Karena itulah, pria yang juga penasihat komunitas motor tua ini punya begitu banyak koleksi suasana Kecamatan Taman, Sidoarjo, tempo doeloe.

22 November 2014

Domba di Kanan, Kambing di Kiri

Tak terasa, umat kristiani, khususnya Katolik, telah sampai di akhir tahun liturgi. Hari Minggu 23 November 2014 merupakan minggu ke-34 dalam kalender liturgi. Artinya, Minggu depan, 30 November 2014, mulai masuk Minggu Advent I. Masa persiapan untuk menyambut Natal.

Anak-anak kecil di pelosok NTT, yang mayoritas Katolik, setidaknya zaman dulu selalu bergidik mendengar cerita dari guru SD tentang kambing dan domba. Witi (kambing) dan luba (domba). Binatang peliharaan yang (dulu) hampir dipunyai semua orang kampung di Flores Timur dan Lembata.

Bapak guru membacakan Injil Matius 25:31-46 tentang pengadilan terakhir. Cerita bagaimana Anak Manusia memisahkan umat manusia dalam dua bagian: kambing dan domba. Kambing di sebelah kiri, domba di sebelah kanan. Orang-orang baik itu disimbolkan dengan domba (kanan), yang buruk masuk golongan kambing (kiri).

Mengapa justru domba yang baik? Kambing kok dianggap jelek? Begitu biasanya anak-anak kampung bertanya. Bukan apa-apa. Di daerah Flores Timur kambing justru jauh lebih penting untuk ternak adat, disembelih untuk perayaan-perayaan adat Lamaholot, sementara domba tidak bisa dipakai. Maka, jarang sekali orang memelihara domba.

Pak guru biasanya bingung karena memang cerita di kitab suci memang demikian. Toh cuma ilustrasi saja. Selanjutnya, sang raja itu dengan suara yang sangat berwibawa bersabda kepada orang-orang di sebelah kanan (domba):

"Come, you who are blessed by my Father. Inherit the kingdom prepared for you from the foundation of the world. For I was hungry and you gave me food, I was thirsty and you gave me drink, a stranger and you welcomed me, naked and you clothed me, ill and you cared for me, in prison and you visited me."

Orang-orang di sebelah kanan itu, yang akan dimasukkan di kerajaan yang berlimpah susu dan madu heran. Kapan kami melihat engkau lapar dan memberi engkau makan? Haus dan kami memberi minum? Engkau orang asing dan kami beri tumpangan? Telanjang dan kami beri pakaian?


And the king will say to them in reply, "I say to you, whatever you did for one of these least brothers of mine, you did for me."

Kata-kata dan ganjaran sebaliknya dikenakan untuk manusia-manusia di sebelah kiri (kambing). Cerita yang sangat menggetarkan untuk anak-anak desa yang masih polos dan kurang pengetahuan. Siapa yang tidak takut dijebloskan ke api neraka?

Belakangan, saya mengenal beberapa orang di Surabaya dan Sidoarjo, yang melaksanakan pesan Anak Manusia itu nyaris secara harfiah. Misalnya, Ibu Lanny di Surabaya dan Mas Agus di Sidoarjo. Kedua aktivis gereja itu sama-sama punya program rutin mengunjungi narapidana dan tahanan di Rutan Medaeng, Lapas Sidoarjo, Lapas Porong, Lapas Malang, Lapas Pamekasan, dan beberapa penjara di kota lain.

Program mengunjungi tahanan di penjara itu dilaksanakan secara rutin selama bertahun-tahun. Sisihkan waktu, uang untuk beli makanan, minuman, oleh-oleh untuk warga binaan, menghadapi birokrasi penjara, dan banyak pengorbanan lainnya. Namun, Bu Lanny dan Mas Agus ini (sekadar menyebut dua contoh nyata) menghadapi dengan senyum.

"Ketika aku di dalam penjara... kamu tidak mengunjungi aku. Ketika aku lapar... kamu tidak memberi aku makan. Ketika aku telanjang... kamu tidak memberi aku pakaian."

Asmirandah Pindah Agama Jadi Polemik

Ully Artha Pangaribuan yang meninggal dunia di Jakarta, 16 Juni 2013, merupakan salah satu dari sedikit aktris kita yang hebat. Dia bukan bintang sinetron dadakan, tapi merintis karir dari bawah. Ditambah talentanya yang memang besar, acting Ully Artha senantiasa memukau penonton film atau televisi. Khususnya tahun 1990-an dan 1980-an.

Yang juga menarik dari Ully Artha adalah kehidupan pribadinya. Dulunya Kristen Protestan, jemaat HKBP, tapi kemudian jadi muslimah atau mualaf. Tapi mendiang ini tidak gembar-gembor bicara ke mana-mana untuk kesaksian, ceramah, testimoni, dakwah, dan sebagainya. Agama jadi urusan privatnya.

Bahkan, sebagian keluarga dekatnya pun baru tahu kalau Ully Artha ini sudah memeluk Islam setelah Ully meninggal dunia. Para artis senior, teman-teman dekat Ully, pun begitu. Oh, ternyata Ully Artha mualaf! Saya sendiri kagum dengan sikap Ully Artha yang sangat bijaksana dalam urusan keyakinan. Dia tahu mana ruang publik, mana ruang privat, mana yang perlu diumumkan, dan sebagainya.

Berbeda dengan Ully Artha, di Indonesia, selebriti-selebriti yang pindah agama, Islam ke Kristen atau sebaliknya, Buddha atau Hindu ke Islam, selalu jadi santapan publik. Diangkap di berita gosip di TV (kondang dengan istilah INFOTAINMENT, yang salah kaprah itu), kemudian dibahas secara mendalam dan sangat luas. Ditambah media sosial, internet, Youtube, dsb, artis pindah agama, jadi mualaf, jadi nasrani... begitu ramainya dibahas.

Salah satu yang paling heboh adalah pasangan pasangan artis Asmirandah dan Jonas Revanno. Jonas yang Kristen kabarnya sempat nikah secara Islam dengan Asmirandah. Belakangan Jonas jadi Kristen lagi dan membantah telah menikah si artis sinetron cakep itu. FPI dan ormas-ormas sejenis ikut nimbrung membahas persoalan ini. Ramai dan panas!

Mirip sinetron, beberapa saat kemudian, giliran Asmirandah yang pindah agama jadi Kristen. Ikut Jonas kebaktian di gereja, gabung paduan suara gereja, Asmirandah bahkan membawakan gospel song dalam kebaktian kebangunan rohani (dimuat di YouTube). Pendeta Gilbert Lumoindong bahkan memberi kesempatan kepada Asmirandah untuk memberikan kesaksian di depan jemaat gerejanya (bisa dilihat di YouTube).

Belakangan saya melihat beberapa gereja aliran Haleluya ikut memanfaatkan popularitas Asmirandah dengan mengundangnya ke KKR. Tak lupa ada iklan di surat kabar segala! Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat manuver sejumlah pendeta dan gereja yang sangat tidak bijaksana ini. Sebab, bagaimanapun juga gerak-gerik Asmirandah selalu jadi sorotan media massa dan media sosial. Sudah pasti akan muncul perang komentar yang tidak ada gunanya karena mengandung virus SARA.

Kita tidak bisa menyalahkan Asmirandah begitu saja. Dia cuma pesohor yang diundang gereja-gereja tertentu, dengan sepengetahuan Jonas, untuk keperluan marketing gereja yang bersangkut. Asmirandah hanya dimanfaatkan karena memang ada momentum. Dengan hadirnya Asmirandah, meski cuma nyanyi satu lagi dan bicara lima menit, sang pengudang berharap banyak orang yang datang ke gerejanya. Ujung-ujungnya persembahan kasih alias uang masuk jadi buanyaaak!

Sebaliknya, Asmirandah rupanya tidak paham filosofi Jawa: urip kuwi kudu bener lan pener! Apa yang mungkin benar, belum tentu tepat! Asmirandah jelas kurang bijak dan hati-hati. Di tengah polemik yang sangat tajam seputar konversi agama, kemudian pernikahannya dengan Jonas, Asmiranda bukannya cooling down, tapi speak out!

Padahal, menurut tradisi Gereja (dalam G besar), orang-orang seperti Asmirandah ini masih dalam taraf KATEKUMEN yang masih perlu mengikuti katekese. Katekese itu butuh waktu yang tidak sedikit.Sama saja dengan para mualaf yang perlu banyak waktu untuk belajar mendalami agama Islam.

Sangat aneh kalau seorang katekumen diundang ke mana-mana, dikasih panggung untuk bicara di depan orang banyak. Yang lebih aneh lagi tentu pendeta-pendeta yang sengaja memanfaatkan Asmirandah untuk testimoni di gerejanya. Sayang, di Indonesia ini tidak banyak artis yang arif bijaksana macam almarhumah Ully Artha. Yang tidak suka gembar-gembor soal konversi agamanya hingga tutup usia.

21 November 2014

Akhirnya, hujan turun lagi

Musim kemarau tahun 2014 ini teriknya luar biasa. Surabaya dari dulu dikenal sebagai kota yang panas, sumuk, dengan debu-debu ramai beterbangan. Tapi tahun ini panasnya minta ampun.

Oktober yang zaman dulu menjadi awal musim hujan justru menjadi puncak kepanasan di Surabaya dan sekitarnya. Tanaman-tanaman mati kekeringan. Ternak pun kekurangan air. Warga Buncitan, Sedati, terpaksa membeli air jerikenan karena sumur mengering.

"Semua tanaman penghijauan mati," kata Syaiful, pemelihara Candi Tawangalun di Buncitan, Sedati. Kebakaran pun sempat menimpa padang rumput seluas belasan hektare di kawasan tambak itu.

Lalu, kapan mulai musim hujan? Pertanyaan klasik ini sering ditanyakan wartawan kepada petugas BMKG Juanda di Sedati, Sidoarjo. Dan, seperti biasa, jawaban dan penjelasan BMKG tidak jelas. Itu memang bukan salah BMKG, tapi iklim dunia yang sudah tidak teratur lagi. Sulit diramal seperti sebelum tahun 2000an.

Lha, ramalan BMKG itu lebih sering meleset! Bumi makin tua, makin tandus, makin penuh, makin polutif, sehingga climate change benar-benar menimpa umat manusia. Maka, umat manusia perlu sama-sama action untuk menyelamatkan bumi yang sama ini.

Syukurlah, masih dalam suasana hari pahlawan, Surabaya dan sekitarnya mulai mendung. Tapi gak hujan-hujan. Sementara di televisi kita melihat beberapa daerah malah sudah kebanjiran. Ada foto sebuah kampung di Jakarta yang tenggelam gara-gara banjir dahsyat. Lalu kapan Surabaya dikirimi hujan sama yang empunya alam semesta?

Sabtu 15 November 2014, ketika hendak menonton konser Ari Lasso dan Ahmad Dhani bertajuk Simfoni untuk Negeri, tiba-tiba turun hujan. Belum deras tapi lumayan untuk melarutkan debu-debu yang beterbangan selama enam bulan terakhir. Berhenti sejenak, lalu turun hujan yang lebih deras.

Alhamdulillah! Meskipun tak jadi nonton Ari Lasso, saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Puas! Akhirnya, Surabaya kebagian jatah hujan dari sang Pencipta.

Musim hujan sudah tiba? Belum tentu juga. Kayaknya baru pemanasan menjelang musim hujan yang sebenarnya. Saat yang tepat untuk bersiap diri agar tidak kelelep selama seminggu seperti yang dialami warga Bangah, Sawotratap, Gedangan, Waru, dan Taman di Kabupaten Sidoarjo bagian utara beberapa waktu lalu.

20 November 2014

Pendeta Meninggal, Gereja Ikut Mati

Gereja di pinggir jalan raya di kawasan Surabaya Selatan itu kini berubah menjadi bangunan mangkrak. Kusam. Tak ada lagi kesibukan jemaat, khususnya anak-anak muda, yang dulu rajin bikin macam-macam kegiatan. Tak ada lagi bursa barang murah untuk warga kurang mampu. Tak ada lagi tanda-tanda kalau bangunan itu bekas gereja. Kecuali logo 4 huruf kapital yang masih tersisa.

Yah, sejak ditinggal mati pendetanya, HS, gereja aliran pentakosta-karismatik itu rupanya cuma tinggal nama. Ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Bahkan, belum sempat jadi bunga. "Jemaatnya sudah ikut gereja lain. Sudah nggak ada kegiatan di sini," ujar seorang ibu yang bisnis cuci pakaian di samping eks gereja itu.

Sang gembala, HS, meninggal dalam usia yang masih relatif muda, 40-an tahun. Anak-anaknya pun masih kecil sehingga sulit diharap meneruskan jejak ayahnya sebagai pendeta. Dan, kalaupun anak-anak HS sudah dewasa pun, belum tentu ada yang terpanggil menjadi pendeta. Sebab, orang Kristen percaya bahwa pendeta atau pastor itu panggilan Tuhan, bukan profesi atau pekerjaan biasa.

Sayang, gereja yang sempat terkenal ini, dulu sering masuk koran, meski tidak apa-apanya dibandingkan Bethany atau Mawar Sharon, mati muda. Tenggelam bersama gembalanya yang dipanggil Sang Pencipta. "Mengapa nggak dilanjutkan? Sayang, bangunan gereja sampai telantar seperti ini," kata saya kepada ibu laundry itu.

"Mau bagaimana lagi? Memang jalannya sudah seperti itu. Kita serahkan saja kepada Tuhan," ujar sang ibu yang ramah itu.

Saya pun segera meninggalkan halaman bekas gereja itu. Di tengah perjalanan ke Sidoarjo, saya pun merenung. Seandainya gereja ini GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) atau GKI (Gereja Kristen Indonesia) atau GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), gereja ini tak akan mati. Sang gembala, pendeta, boleh tiada, tapi sinode atau organisasi gerejawi jalan terus. Bahkan, ketika sang pendeta sakit keras, otomatis pihak sinode otomatis mengirim pendeta-pendeta lain untuk melayani jemaat.

Tapi yang ini bukan gereja ala GKJW atau GKI, apalagi Katolik. Ini gereja pribadi yang dimodali sendiri oleh sang pendeta yang meninggal dunia itu. Dia jadi majikan atas dirinya sendiri. Tak punya atasan. Jemaatnya pun dia cari sendiri dengan berbagai teknik marketing dan persuasi. Maka, ketika sang pendeta tidak bisa aktif karena sakit keras, gereja ini sebenarnya sudah lumpuh. Yang namanya kebaktian, ibadah raya, dan sebagainya sudah tak ada lagi.

Syukurlah, para domba gereja-gereja macam ini pun sangat luwes.Mereka bisa dengan enteng pindah ke gereja lain kapan saja dia mau. Dan gereja-gereja macam ini sedang booming di kota-kota besar macam Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Biasanya mereka ngontrak ruko untuk dijadikan gereja dalam jangka pendek. Habis kontrak bisa diperpanjang atau pindah ke ruko lain. Kebetulan Pendeta HS ini memilih membeli (atau menyewa) bangunan di pinggir jalan raya untuk merintis gerejanya.

Begitu banyak hikmah yang saya petik dari kasus gereja mangkrak ini. Tapi kurang elok rasanya kalau ditulis di sini karena pasti akan menyinggung perasaan jemaat gereja-gereja aliran itu. Teologi sukses itu ternyata tidak selamanya sukses!

Haleluyaaaaa!!!!

19 November 2014

Artikel Gombloh sering dicontek

Lagu Kebyar-Kebyar ciptaan almarhum Gombloh masih sering dibawakan band-band anyar. Termasuk Arkana, band asal Inggris, saat syukuran pelantikan Jokowi sebagai presiden di Jakarta pada 20 Oktober 2014. Arkana ternyata bisa membawakan lagu ini dengan aksen bahasa Indonesia yang tidak bule.

Aksen vokalis Arkana, yang bule asli, menurut saya, jauh lebih Indonesia ketimbang aksen beberapa artis lokal macam Cinta Laura, Ahmad Dhani, Mulan, dan penyanyi-penyanyi binaan Republik Cinta. Begitulah dunia. Orang bule asli British, yang sejak bayi sudah pandai bahasa Inggris, berusaha keras agar membawakan syair Kebyar-Kebyar sedekat mungkin dengan ucapan orang Indonesia, sementara orang Indonesia malah ingin kedengaran kayak bule. 

Setelah melihat Arkana di televisi, menyanyi Kebyar-Kebyar, saya jadi ingat kembali almarhum Gombloh. Masuk ke Google, mengetik Kebyar-Kebyar Gombloh. Wow, ternyata Mbah Google antara lain memperlihatkan artikel di blog saya sendiri. Hehehe... Jadi ketawa membaca kembali tulisan sendiri yang dibuat pada April 2006. Sudah lama banget.

Saya juga membaca tulisan-tulisan lain tentang Gombloh di internet. Hehehe... Sebagian besar justru mencontek alias copy-paste tulisan di blog saya. Ada yang mencantumkan sumbernya, tapi lebih banyak yang tidak. Hebatnya, artikel contekan ini peringkatnya di atas artikel aslinya. Di jagat maya, internet, yang serba bebas, termasuk bebas mencuri, tidak jelas lagi mana yang asli dan mana yang palsu. 

Bahkan, artikel tentang Gombloh di Wikipedia pun merujuk ke blog ini. Tapi sumbernya justru dari laman atau blog contekan itu. Gak apa-apalah, anggap saja amal untuk menyebarluaskan nama besar Gombloh, seniman musik yang pernah menjadi motor kesenian di Kota Surabaya itu. "Kalau gak mau di-copas ya jangan nulis di internet," kata teman saya. 

Tak hanya di jagat maya. Tulisan saya tentang Gombloh ini juga diterbitkan jadi buku. Tanpa izin penulis aslinya. Seakan-akan penyusun buku itu yang wawancara, cari data, dan menulis sendiri. Hehehe... 

Saya hanya bisa ngelus dada karena begitulah kondisi perbukuan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Begitu banyak buku instan, hasil copy-paste internet, dicetak, kemudian dijual di toko buku. "Itu namanya kerja cerdas," kata teman saya. "Buat apa capek-capek menulis sendiri kalau bisa copy-paste," kata teman yang lain.

Yo wis! Biarpun matahari terbit dari barat, kau tetap Indonesiaku!

JK tidak pro angkutan publik

Miris membaca pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla di koran pagi ini. JK enteng saja menanggapi aksi mogok massal Organda merespon kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan harga bensin dan solar memang membuat pengusaha angkutan publik yang tergabung dalam Organda menjerit. Mereka menganggap pemerintah tidak pro transportasi massal.

Di koran, JK bilang begini: "... angkutan darat sudah tidak diminati penumpang. Sekarang banyak orang yang sudah memiliki kendaraan pribadi."

Faktanya memang begitu. Sudah lama sekali angkutan publik merana di Indonesia. Jangankan di Jawa, di pelosok NTT sekalipun angkutan umum tidak diminati. Orang lebih suka naik sepeda motor. Atau, naik ojek motor ke mana-mana. Beda dengan tahun 1980-an dan 1990-an yang sangat marak angkutan umum meskipun sangat sederhana. Kondisi di Jawa jauh lebih parah. Sebagian besar keluarga punya motor atau mobil.

Tapi, sebagai wakil presiden, JK mestinya tidak bicara njeplak seperti ini. Tokoh yang paling getol mencabut subsidi BBM ini seharusnya bikin kebijakan untuk memperbaiki kondisi angkutan publik yang sangat buruk itu. Bagaimana membuat puluhan juta pengguna kendaraan pribadi itu beralih ke angkutan massal. Termasuk bus-bus umum yang dikelola Organda.

Pernyataan JK, yang sebelumnya sudah jadi wapres pendamping Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jelas tidak sejalan dengan program pemerintah-pemerintah daerah untuk membenahi angkutan massal. Pemkot Surabaya lagi getol memperbaiki angkutan massal. DKI Jakarta bahkan lebih dulu maju dengan bus Transjakarta.

Bahkan, Ahok sejak lama berencana makin mempersulit ruang gerak pengguna mobil dan motor. Tujuannya, jutaan pengguna kendaraan pribadi itu beralih ke angkutan massal. Jika jutaan pengguna kendaraan pribadi ramai-ramai naik kendaraan publik, bisa dibayangkan penghematan BBM di negara ini.

Sayang, Pak JK terkesan meremehkan Organda yang sudah lama membantu pemerintah untuk menyelenggarakan transportasi publik. JK malah terkesan lebih pro kendaraan pribadi yang bikin jalan macet dan telah membuat konsumsi BBM kita tidak karuan itu.

Semoga saja koran-koran salah kutip omongan JK!

18 November 2014

Turunkan Tarif Angkutan Umum

Pengurangan subsidi, atau bahasa Presiden Jokowi 'pengalihan subsidi' bahan bakar minyak (BBM), sudah bisa diterima sebagian masyarakat. Kecuali ahli-ahli ekonomi mazhab Kwik Kian Gie yang sejak dulu mempertanyakan definisi subsidi BBM. Karena itu, kenaikan harga BBM sejak 18 November 2014 tidak menimbulkan reaksi yang sangat keras di masyarakat. 
Bahkan, sebagian warga menyalahkan Presiden SBY yang enggan menaikkan harga BBM meski anggaran negara sedang parah. SBY tak mau ambil risiko, memang bukan tipe risk taker, dan memilih bermain aman. Biarlah presiden baru, Jokowi, yang memutuskan. Biarlah Jokowi yang dimaki-maki rakyat dengan "salam gigit jari".
Yang jadi masalah, dan sejak dulu kurang dipikirkan pemerintah, adalah subsidi BBM untuk kendaraan umum seperti angkot, bus kota, bus antarkota, kereta api, dan sebagainya. Setahu saya tidak ada subsidi khusus untuk angkutan publik. Angkot dan bus publik harus membeli bensin/solar dengan harga yang sama dengan kendaraan-kendaraan pribadi. "Mana patut lah?" kata orang Malaysia.
Karena tidak ada subsidi BBM untuk kendaraan umum, ya, otomatis tarif angkutan umum segera naik sesaat setelah BBM dinaikkan. Akibatnya, rakyat kecil juga yang menjerit karena duitnya tergerus banyak untuk transportasi. Kalau setiap hari harus ganti angkot tiga atau lima kali, betapa bebannya rakyat yang tidak punya kendaraan pribadi.
Dalam sebuah diskusi ala warung kopi, saya pernah mengusulkan agar harga BBM untuk kendaraan-kendaraan umum justru harus diturunkan. Jangan disamakan dengan kendaraan pribadi. Kalau sepeda motor atau mobil pribadi membeli bensin Rp 8500, mestinya kendaraan umum cukup Rp 5000 saja. Disubsidi pemerintah. 
Teknisnya bagaimana, silakan pemerintah menemukan solusi yang efektif. Bukankah pemerintah punya jutaan ahli? Memang akan ada masalah mafia-mafia minyak di lapangan. Tapi membiarkan kendaraan umum minum bensin/solar yang sama dengan kendaraan pribadi, mana patut? Tarif kendaraan-kendaraan umum harus diturunkan, entah bagaimana caranya, agar tingkat kepemilikan kendaraan pribadi semakin berkurang.
Sangat lucu kalau pemerintah, khususnya DKI Jakarta, getol meminta rakyat beralih ke angkutan publik yang jauh lebih mahal dan tidak nyaman dibandingkan kendaraan pribadi. Lha, wong pemerintahnya saja tidak pernah naik angkot, bus kota, bagaimana bisa merasakan penderitaan rakyat jelata? 

Si Kaya pun Antre di Pom Bensin

Seperti biasa, setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), antrean panjang terlihat di semua pom bensin. SPBU-SPBU di Sidoarjo dan Surabaya dijaga ketat oleh polisi. Malam itu, Senin 17 November 2014, pengguna jalan raya Sidoarjo-Surabaya terjebak kemacetan gara-gara antrean panjang para pemburu bensin/solar harga lama.
"Lumayan, selisih Rp 2000 itu cukup besar lho. Kalau beli lima liter kan bisa irit Rp 10 ribu," ujar Mas Tommy yang ikut antre di Buduran. Saya tak ikut antre karena sorenya sudah isi penuh di kawasan Jemursari. Gak nyangka kalau malamnya ada keputusan cepat dari Mr Jokowi.
Yang bikin jengkel, antrean di SPBU yang mengular ke jalan raya itu, seperti syair lagu, sambung menyambung menjadi satu. Sebab, jarak SPBU di jalan raya Sidoarjo-Surabaya ini sangat dekat satu sama lain. Dari Jenggolo, Sidoarjo Kota, ke Wonokromo, Surabaya, ada 6 SPBU di pinggir jalan. Yakni Buduran, Puri Surya Jaya, Aloha, Waru, dan Ahmad Yani (Surabaya). Maka, begitu keluar dari SPBU Buduran, kita langsung disambut ekor antrean kendaraan dari SPBU Gedangan (Puri Surya Jaya).
Yang bikin saya geleng-geleng kepala, dari dulu, adalah banyaknya mobil pribadi yang ikut antre bensin harga lama Rp 6500. Padahal, para pemilik mobil diasumsikan punya duit lebih sehingga bisa membeli bensin/solar nonsubsidi. Ini juga sekali lagi memperlihatkan bahwa subsidi BBM di Indonesia itu salah sasaran. Sebab, yang paling banyak dapat subsidi itu orang-orang kaya yang punya mobil itu. 
Yah, begitulah kalau orang sudah ketagihan subsidi minyak selama bertahun-tahun. Mudah-mudahan saja para pemilik mobil pribadi ini tidak ikut antre raskin (beras miskin) atau nasi bungkus baksos (bakti sosial).
Anehnya, saat cangkrukan di warung kopi, yang paling keras mengecam kenaikan harga BBM, dus pengurangan subsidi, justru seorang bapak yang bermobil. Dia mengeluh karena biaya BBM untuk kendaraan pribadinya nanti membengkak luar biasa. "Kayaknya lebih enak hidup di zaman Pak Harto," katanya seperti memprovokasi pengunjung warkop yang lain.
Saya diam saja. Menikmati obrolan jalanan ala warung kopi sembari menyaksikan televisi yang juga menyiarkan antrean di sejumlah SPBU di Jakarta dan kota-kota lain. Juga unjuk rasa mahasiswa di Makassar yang memprotes kenaikan harga BBM.