26 September 2017

Banyak mahasiswa buta EYD

Masalahnya sama dari tahun ke tahun. Para mahasiswa semester akhir, tinggal skripsi, belum menguasai ejaan yang disempurnakan alias EYD. Sebagian besar calon sarjana (bahkan dosen) belum bisa membedakan awal di- (prefiks) dan kata depan di.

Sepanjang tahun 2017 ini saya menjadi pengampu magang beberapa mahasiswa universitas negeri dan swasta di Surabaya. Hampir semuanya gagal di EYD. Khususnya penulisan di- awalan vs di sebagai kata depan.

Si X selalu menulis di terpisah. Misalnya: di cium. Padahal yang benar: dicium.

Si Y sebaliknya. Dia selalu menulis di terpisah - meskipun awalan. Disini disana disitu diatas dibawah disamping.... Yang benar : di sini, di sana, di situ, di atas, di bawah, di samping....

Mengapa generasi yang sangat muda ini, milenial, sangat lemah EYD? Salah siapa? Bukankah di internet sudah ada ribuan artikel tentang EYD, bahasa yang baik dan benar? Buku-buku juga jauh lebih banyak?

Apakah salah dosen di universitas? Saya kira tidak. Dosen-dosen terlalu sibuk untuk memelototi tulisan mahasiswa yang jumlahnya ratusan itu. Apalagi sampai titik koma, EYD dan tetek bengek itu.

Saya cenderung menyalahkan guru-guru di tingkat SD, SMP, dan SMA. Tapi kuncinya di sembilan tahun pertama pendidikan. Kelas 1 sampai kelas 9.

Kalau di sembilan level ini guru-gurunya apatis, tidak mau mengoreksi EYD... ya wassalam. Di SMA dan universitas si pelajar pasti sulit berubah. Jangan harap seorang calon sarjana bisa membedakan kata depan dan awalan di-.

''Guru-guru sekarang itu orientasinya bukan kualitas pengajaran. Idealisme sudah lama luntur,'' ujar GK, guru sebuah sekolah negeri terkenal di Sidoarjo.

Saking hilangnya idealisme, nilai-nilai siswa bisa disulap menjadi sangat kinclong. Maka, jangan heran dalam penerimaan siswa baru beberapa waktu lalu, siswa yang nilai rata-ratanya 90 tidak diterima. Sebab nilai terendah justru 95. Mendekati sempurna.

Wow... pinter-pinter anak sekarang! Tapi kok gak iso EYD???

Indonesia tuan rumah Piala Dunia???

Indonesia mau jadi tuan rumah Piala Dunia 2034? Sebaiknya jangan. Melihat prestasi olahraga NKRI, khususnya sepak bola, Indonesia belum memenuhi syarat untuk jadi tuan rumah pesta sepak bola sejagat itu.

Jangankan Piala Dunia FIFA, jadi tuan rumah Piala Asia pun masih jauh lah. Kualitas sepak bola kita belum ada apa-apanya dibandingkan Jepang atau Korea Selatan. Belum lagi negara-negara Timur Tengah.

Jangankan di Asia, sekadar berkompetisi di Asia Tenggara saja belum sanggup. Padahal 11 negara Asean ini paling lemah di Asia.

Masih jelas dalam ingatan kita, Agustus 2017, timnas Indonesia gagal di SEA Games. Untuk kesekian kalinya dihentikan Malaysia. Timmas seperti tidak berkutik saat menghadapi Malaysia.

Di Piala AFF beberapa tahun lalu juga sama. NKRI keok di kaki Malaysia. Padahal kita pakai pelatih Eropa sekelas Alfred Riedl atau Luis Milla. Sebaliknya Malaysia hanya mengandalkan pelatih tempatan keturunan Tionghoa, Datuk Ong Kim Swee.

Indonesia belum bisa meraih emas SEA Games sepak bola sejak 1991. Sudah 26 tahun. Kapan bisa dapat emas? Saya bertanya ke kemenpora. Tapi tidak ada jawaban tegas. Insya Allah, kata pihak kemenpora via WA.

Karena itu, sebaiknya kita fokus dulu untuk mengangkat sepak bola NKRI di level Asia Tenggara. Jadi juara SEA Games dulu. Tidak usah ngoyo jadi tuan rumah Piala Asia. Apalagi Piala Dunia yang bisa habis Rp 200 triliun.

Saya bahkan menolak Indonesia jadi tuan rumah Asian Games 2018. Tapi pemerintah sudah kadung senang. Seakan-akan event tingkat Asia ini punya manfaat luar biasa.

Lah... di Asia Tenggara saja kita hanya bisa peringkat 5, bagaimana bisa bersaing di Asian Games? Celakanya lagi, selisih medali emas Malaysia (juara umum SEA Games) dengan Indonesia ibarat langit dan sumur.

Celakanya lagi, banyak atlet kita yang keleleran di Malaysia karena manajemen olahraganya kacau. Kok mau jadi tuan rumah Piala Dunia?

24 September 2017

Zow Min Pengungsi Myanmar yang Buddha di Sidoarjo

Ratusan ribu warga Rohingya terpaksa mengungsi gara-gara kebijakan pemerintah Myanmar. Gara-gara isu itu, teman-teman wartawan rajin mendatangi Rusunawa Puspa Agro di Jemundo, Taman, Sidoarjo. Beberapa televisi menurunkan pasukan lengkap dengan mobilnya. Siaran langsung dari Jemundo.

Rumah susun di Puspa Agro memang menampung sekitar 140 pengungsi dari berbagai negara. Pakistan, Afghanistan, Iran, Somalia, termasuk Myanmar. Pencari suaka asal Myanmar ada 13 orang. Dua belas orang beragama Islam, etnis Rohingya, dan satu orang beragama Buddha.

Nah, yang Buddha ini namanya Zow Min. Saking seringnya bertemu, ngopi di warkopnya mbak Sri di Puspa Agro, saya jadi akrab dengan dia. Zow Min pun paling luwes ketimbang pengungsi-pengungsi lain. Potongannya kayak wong Jowo, tinggi 160an cm. Suka senyum dan lancar bahasa Indonesia meskipun ucapannya sering gak jelas. Khususnya huruf R.

''Saya ingin kerja di sini saja. Indonesia ini aman dan tenang. Nggak seperti di negara saya,'' ujarnya seraya tersenyum.

Zow Min tiap hari membantu beberapa tukang warung. Dulu kalau gak salah dia cawe-cawe di warungnya bu Ida. Belakangan di warung pojok. Biasa disuruh-suruh memikul air galonan atau barang-barang berat. Hasilnya bisa untuk beli rokok atau tambahan uang saku.

''Jatah kami sebulan cuma Rp 1.250.000 dari IOM. Cuma untuk bertahan hidup saja,'' ujarnya. IOM dan UNHCR yang selama ini mengurusi kebutuhan para pengungsi mancanegara itu. Termasuk yang membayar sewa rumah susun kepada Pemprov Jatim.

Mengapa Zow Min yang Buddha ikut meninggalkan negaranya bersama orang Rohingya? Sudah pernah saya tulis di sini. Dia jadi sebatang kara karena istri dan anaknya hilang. Tak jelas rimbanya.

Meskipun bukan muslim, Zow Min mengaku tidak punya masalah dengan teman-temannya yang Rohingya. Maklum, nasib mereka sama saja. Sama-sama menunggu negara ketiga yang bersedia menerima mereka. ''Kalau bisa sih saya tinggal di Indonesia saja,'' katanya.

''Lho, orang Indonesia itu juga banyak yang miskin. Jutaan orang jadi TKI di Malaysia, Hongkong, Timur Tengah. Nggak mungkin lah bisa menampung ribuan pengungsi,'' kata saya. Menirukan omongan mbak Sri yang ingin agar pengungsi-pengungsi ini segera pergi ke negara lain. Sebab masih banyak orang Jatim yang lebih membutuhkan rumah susun itu.

Sambil asyik ngobrol, wartawan Kompas TV masuk ke pos keamanan. Minta dipanggil koordinator pengungsi Rohingya. ''Zow Min ini juga dari Myanmar tapi Buddha,'' ujar saya. Teman dari Kompas TV itu pun tampak tertarik dengan Mas Paijo, sapaan akrab Zow Min.

Kemudian Paijo alias Zow Min beranjak ke rusunawa untuk memanggil temannya, Muhammad Suaib, ketuanya Rohingya. Dialah yang selama ini jadi narasumber para wartawan. ''Kami sudah bosan di sini. Cuma makan tidur aja. Keluar juga harus izin. Tidak boleh kerja,'' katanya.

Yah... namanya aja pengungsi, pencari suaka, ya begitu. Masih untung dapat jatah bulanan, tinggal di rusun yang bagus di Sidoarjo. Ketimbang ratusan ribu pengungsi Rohingya yang tinggal di tenda-tenda di Bangladesh dsb.

Suab dkk dari Myanmar tinggal di Sidoarjo sejak 2013. Mereka sudah di-screening oleh IOM dan UNHCR agar bisa dikirim ke negara ketiga. Tapi tidak ada kepastian berangkat. Ironisnya, kondisi di Rakhine daerah asal mereka makin tidak karuan. Mata dunia pun tertuju ke sana.

Suaeb, Zow Min... dan kawan-kawan hanya bisa menanti dan menanti. Sampai kapan?

September memang bulan yang super panas

September memang bulan yang panas. Dari dulu juga begitu. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, lupa dengan fenomena alam ini. Begitu banyak orang yang menggerutu. Bak orang Eropa dekat kutub utara yang setiap hari menikmati suhu ekstrem dingin.

Syukurlah, beberapa media di Surabaya selalu berinisiatif untuk menjelaskan siklus alam yang disebut EQUINOX ini. BMKG Juanda juga berusaha menjelaskan peristiwa setiap bulan September ini secara seserhana. Bahwa tiap 23 September posisi matahari berada di garis katulistiwa. Di atas daratan Indonesia.

Ya... terang saja cuaca begitu teriaknya. Menyengat. Apalagi di musim kemarau yang kering seperti tahun 2017 ini. Beda dengan tahun lalu yang masih banyak hujan di musim kemarau.

''Suhu di Surabaya meningkat hingga 34-35 derajat celcius,'' ujar Agatha dari BMKG Juanda di Sedati Sidoarjo.

Tapi rupanya banyak warga Surabaya yang termakan isu di media sosial. Katanya suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Super panas. Betul begitu? ''Hoax itu,'' kata Agatha.

Temperatur 37 celcius pun hanya pernah terjadi di NTT. Surabaya memang panas, apalagi September, tapi belum sampai 40. Gerakan penanaman pohon sejak wali kota Bambang DH hingga Risma lumayan membantu meredam suhu tinggi.

''Tapi di aplikasiku kok suhunya 43 derajat celcius?'' ujar Kris, warga Gedangan Sidoarjo.

Di papan digital Wonokromo pun sering tertera angka 38, 39, hingga di atas 40 celcius. Kok berbeda dengan versi BMKG? Jelas lah. Termometer dan alat-alat lain di BMKG pasti jauh lebih akurat.

Rupanya mata pelajaran lama, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA), perlu diajarkan lagi di sekolah-sekolah. Agar rakyat tidak kaget dengan gerakan semu matahari, equinox, rotasi bumi, revolusi dsb.

Bahwa matahari seolah bergerak ke selatan menuju titik 23,5 lintang selatan. Nanti kembali ke katulistiwa pada 23 Maret sehingga terjadi equinox lagi menjelang kemarau. September ini equinox untuk mempersiapkan musim hujan. Siklus alam yang sudah berjalan selama jutaan tahun silam.

Khusus di Indonesia, fenomena alam equinox yang ekstrem panas setiap September ini menjadi lebih panas lagi gara-gara selalu muncul isu PKI, komunis, ekstrem kiri, ateisme dan sejenisnya. Polemik nonton bareng film Pengkhianatan G30S PKI lagi ramai di Indonesia.

Karena itu, lagu lama September Ceria ciptaan James F. Sundah (vokal Vina Panduwinata) sebetulnya tidak cocok dengan suasana di Indonesia. Panas suhunya... panas politiknya. Apanya yang ceria kalau konflik ideologis tahun 1965 ini tidak ada ujungnya?

Semoga September cepat berlalu!

22 September 2017

Nonton film Pengkhianatan G30S PKI

Semalam saya nonton film Pengkhianatan G30S PKI yang sangat terkenal itu. Bukan nonton bareng tapi nonton sendiri. Di Youtube. Sudah lama film propaganda ini diunggah di Youtube.

Karena itu, acara nobar sebetulnya tidak relevan. Apalagi kalau nobar itu pakai instruksi seperti zaman saya sekolah dulu. Pasti ada agenda politiknya.

Lebih baik biarkan saja rakyat nonton film yang durasinya 3,5 jam itu. Bisa disaksikan kapan saja.... tidak harus September. Khususnya 30 September. Mau nonton sehari tiga kali atau 10 kali silakan. Tidak ada yang larang.

Apa yang menarik dari film bikinan sutradara Arifin C. Noer, atas pesanan orde baru, itu? Tidak ada. Maklum sudah sering kita nonton di masa orba dulu. Pakai layar tancap. Isinya sama dengan pelajaran sejarah versi orba, PSPB, buku putih dan berbagai dokumen versi orba lainnya.

Yang jadi masalah adalah narasi tentang G30S itu tidak lagi tunggal seperti di zaman Soeharto. Sejak reformasi muncul banyak kajian dan publikasi tentang kejadian yang mengubah wajah Indonesia itu. Sekaligus menjadikan Pak Harto sebagai presiden selama 32 tahun.

Lantas, mengapa panglima TNI getol meminta masyarakat untuk nonton bareng G30S PKI? Selain alasan sejarah seperti dikutip di televisi, panglima yang berasal dari TNI AD (di film ini pakai istilah Adri) jadi lakon protagonis. Aidit dkk dari PKI jadi antagonis yang jahatnya seperti setan.

Situasi politik global sudah jauh berubah. Perang dingin sudah lama berakhir. Komunisme sebagai ideologi bangkrut di mana-mana. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya pimpinannya, masih berpikir seakan-akan kita masih di tahun 1965 atau awal 1970an.

18 September 2017

Sayur kelor mulai disukai di Jatim

Tak jauh dari Stadion Jenggolo Sidoarjo, belakang ruko lama, ada taman yang luas. Selain mangga, terong, aneka bunga, ada juga kelor. Cukup banyak tanaman kelor yang batangnya lumayan besar. Masih hijau di musim kering ini.

''Kok tidak dibuat sayur? Enak banget lho!'' pancing saya.

Pak Yanto, pengurus taman dan tokoh perumahan, tertawa kecil. Saya pun maklum. Di Jawa memang orang tidak biasa makan jangan kelor. Tabu. Sebab tanaman yang biasa tumbuh di daerah kering itu biasa dipakai untuk menangkal ilmu sihir, ilmu hitam, jimat, dan sebangsanya.

Mayat-mayat orang yang dianggap punya banyak ilmu (hitam) pun biasanya dibersihkan dengan kelor. Orang-orang yang pakai susuk juga begitu alergi dengan kelor. Susuknya bisa hilang tuahnya.

Lain di Jawa, lain di NTT. Khususnya di Flores Timur dan Lembata. Kelor atau merungge (marunggai) atau motong (bahasa Lamaholot) justru sangat populer. Hampir tiap hari orang makan sayur kelor. Tanaman yang tumbuh liar di halaman, ladang, hutan... tanpa perawatan.

Cara memasaknya pun semudah mi instan. Cukup dimasukkan ke air mendidih, diaduk, dikasih sedikit garam dan bumbu. Beres. Rasanya enak dan segar menurut lidah NTT. Sayur kelor ini juga sering disiramkan ke jagung titi (semacam emping jagung khas Flores Timur dan Lembata).

Bisa menghilangkan ilmu sihir? Di NTT tidak ada kepercayaan itu. Dukun-dukun kampung yang dianggap sakti di NTT pun saya lihat doyan merungge. Toh ilmunya tidak hilang.

Di internet dan koran di Surabaya akhir-akhir ini sering diberitakan khasiat tanaman kelor. Banyak banget. Katanya mencegah jantung koroner, kanker, diabetes, sakit mata, dsb dsb. Buku-buku tentang kelor juga mudah dijumpai di toko buku.

Karena itu, sudah mulai ada inisiatif dari ibu-ibu PKK untuk mengolah kelor menjadi aneka makanan. Yang paling ramai di Sukorejo, Bungah, Gresik. ''Bisa dibuat cemilan, sayuran, minuman dsb,'' kata Sri Ludiana, pengurus PKK Sukorejo.

Awalnya tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk mengonsumsi kelor. Apalagi yang sudah telanjur percaya dengan sihir, klenik, dan sebagainya. Namun perlahan-lahan cemilan dari kelor itu mulai disukai. Apalagi setelah beredar informasi tentang khasiat daun kelor di internet.

''Kalau saya sih gak akan makan kelor. Kelor di halaman rumah saya ini hanya untuk hijau-hujauan,'' kata Gunawan, warga Ngagel, Surabaya.

16 September 2017

Pelukis Dharganden tutup usia



Satu lagi seniman Kota Delta berpulang ke pangkuan Sang Khalik. Dharganden, pelukis senior asal Tanggulangin, Sidoarjo, meninggal di kediamannya Perumtas II karena sakit hati dan ginjal. Komplikasi penyakit di tubuhnya ternyata sudah lama.

Kepergian pelukis yang aktif berkarya di Kampung Seni Pondok Mutiara itu tak ayal mengagetkan kalangan seniman di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di tanah air. Maklum, selama ini Dharganden selalu terlihat ceria, semangat, murah senyum, dan jarang sakit.

''Saya sendiri terkejut banget karena Mas Dar tidak pernah mengeluh sakit. Energi dan staminanya luar biasa untuk berkarya,'' ujar Amdo Brada, pelukis senior yang juga sahabat akrab almarhum Dharganden.

Lahir di Tanggulangin, 56 tahun silam, Dharganden dikenal luwes dan mudah bergaul dengan siapa saja. Meski sudah malang melintang di jagat seni rupa nasional, pria bernama asli Darsono itu oke-oke saja diajak melakukan pameran bersama dengan pelukis-pelukis yang jauh lebih muda.

''Almarhum tidak senang diajak diskusi dan mau membagi ilmunya,'' ujar Muhammad Bella Bello, pelukis muda asal Desa Siring, Porong, yang kini hijrah ke Desa Penambangan, Balongbendo.

Dharganden juga selalu menekankan kepada anak-anak muda untuk berkarya dengan media apa saja. Seni rupa tidak harus mahal. Melukis bisa di mana saja. Itulah yang terlihat saat pameran bersama bertema daur ulang di Pondok Mutiara. Saat itu Darganden menggunakan papan-papan bekas untuk melukis berbagai objek menarik.

Lukisan karya Dharganden dan kawan-kawan itu dipamerkan di alam terbuka. Tepat di jalan masuk ke kompleks ruko lawas di Pondok Mutiara. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat pemkab sempat mengapresiasi karyanya.
''Jadi, pameran lukisan itu tidak harus di hotel atau gedung yang mahal. Di mana saja bisa,'' ujar seniman yang gemar merokok itu.

Dharganden berencana menggelar pameran lukisan pada Oktober 2017. Maka, dia pun bekerja keras, lembur untuk menghasilkan lukisan-lukisan baru. Tapi rupanya Allah berkehendak lain....

Jenazah almarhum Dharganden dibumikan di makam umum Desa Kalisampurno, Tanggulangin. Tak jauh dari tanggul lumpur Lapindo. Selamat jalan Cak Dar! (*)

KRIS MARIYONO, pengamat seni rupa Jawa Timur, menulis:

Seniman lukis Dharsono yang memiliki nama populer Dharganden tidak hanya mampu mewujudkan kreasi karya yang unik dan naif. Dia juga pelukis yang fenomenal. Nilai fenomenal Dharganden yang paling tinggi ketika pelukis kelahiran Surabaya 17 Agustus 1957 ini menggelar Pameran Tunggal kedua bertajuk Lingkungan Terkoyak di Galaeri Surabaya 29 Mei hingga 5 Juni 2009.

Saat itu Dharganden menampilkan salah satu lukisan dari kurang 15 lukisan yang dipamerkan berukuran panjang 13 meter lebar 120 sentimeter. Lukisan terpanjang itu menggambarkan tentang kepanikan masyarakat yang mengalami musibah bencana Lumpur Lapindo.

Memang sangat detail dan tematis pelukis yang juga dikenal sebagai ahli taman ini mengangkat persoalan lumpur Lapindo karena keluarganya merupakan salah satu korban Lumpur Lapindo di kawasan Ketapang Keres, Porong, Sidoarjo.

Pengamat seni rupa Henri Nurcahyo memberikan apresiasi bahwa bencana Lumpur Lapindo sebagai sumber inspirasi yang luar biasa bagi Dharganden yang terlibat langsung secara fisik kemudian diwujudkan dalam karyanya. Karyanya itu pun bukan sebuah eksploitasi atau dramatisasi bencana, melainkan menjadi semacam jeritan yang artistik.

Mengenali karya-karya Dharganden tidak terasa nuansa yang mendayu-dayu. Goresan-goresan karyanya tidak sedang berteriak-teriak dengan nada protes. Dharganden telah menemukan caranya sendiri bagaimana menyuarakan substansi bencana dengan tampilan yang artistik tanpa terjebak dalam karya yang semarak.

Dharganden kini tidak akan lagi melukis dari realitas yang hendak diungkapkan. Kenapa? Karena pria yang akrab dan senang berdiskusi mengenai persoalan seni rupa itu telah kembali ke hadirat Ilahi Robbi pada 16 Sepetmber 2017. Ia meninggalkan sejuta kenangan tentang berbagai karyanya yang sarat persoalan sosial.

Selamat jalan Dharganden! Semoga Allah Maha Pemurah memberikan tempat yang lapang dan ampunan dosa!