13 July 2018

Tidak Perlu Anak Pintar



''Sekarang tidak perlu anak pintar. Kalau punya SKTM ya gampang.''

Begitu keluhan Sigit di Jawa Pos. Pak Sigit kecewa berat karena anaknya gagal masuk SMA negeri. Padahal nilai reratanya di atas 90.

Sekolah-sekolah negeri tahun ini memang mengutamakan anak-anak yang orang tuanya miskin. Bukti miskinnya ya pakai surat keterangan tidak mampu alias SKTM. Maka surat miskin ini laku keras. Para orang tua berlomba-lomba jadi orang miskin. Agar anaknya bisa masuk negeri. Biarpun nilainya rendah.

Kebijakan menteri pendidikan sekarang ini niatnya baik. Biar kualitas pendidikan bisa merata. Tidak boleh lagi ada yang disebut sekolah favorit. Tidak boleh ada penumpukan anak-anak pintar di satu sekolah. Semua anak, berapa pun IQ-nya, dicampur di satu sekolah.

Ada juga kebijakan zonasi. Sekolah negeri wajib mengutamakan pelajar yang rumahnya di dekat sekolah. Tanpa perlu melihat hasil unasnya.

Memangnya sekolah-sekolah negeri sudah merata? Jangankan di luar Jawa, di Sidoarjo sekalipun sekolah negeri yang bagus (sekolah favorit, istilah warga) ada di tengah kota. Ada empat SMA negeri.

Maka berbahagialah warga Sidoarjo yang tinggal di Kelurahan Pucang dan Siwalanpanji. Sebab merekalah yang paling berhak masuk SMAN 1 Sidoarjo yang sangat favorit (dulu) itu. Sebab sekolah elite itu berlokasi di kampung halaman mereka.

Sebaliknya, warga Kecamatan Sukodono atau Balongbendo atau Wonoayu tidak akan bisa masuk SMA negeri. Begitu juga warga Kecamatan Sedati yang wilayahnya ada Bandara Internasional Juanda. Wilayah kecamatan-kecamatan ini tidak punya SMA dan SMK negeri.

Dari 18 kecamatan di Sidoarjo, masih banyak kecamatan yang tidak punya SMA negeri. Sekolah-sekolah negeri yang bagus justru numpuk di tengah kota. Beginikah zonasi pendidikan itu?

Kebijakan menteri pendidikan saat ini jelas mengubah filosofi persekolahan yang sudah bertahun-tahun dianut di Indonesia. Model rekrutmen berdasar nilai unas (dulu ebtanas) atau seleksi sepertinya tidak berlaku lagi.

Tidak ada lagi istilah anak pintar, sedang, atau lambat menangkap pelajaran. Semua murid dianggap punya kemampuan yang sama untuk mengikuti pelajaran. Filsafat yang sudah sering ditolak pakar-pakar pendidikan macam Pater Drost SJ.

''Kami khawatir siswa yang nilainya rendah tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik seperti teman-temannya yang nilainya tinggi,'' ujar Yuniarto, guru salah satu SMA negeri.

Syukur-syukur anak yang nilainya rendah itu ketularan temannya yang pintar. ''Kalau gurunya bagus, anak-anak yang nilainya jelek itu bisa dibuat pintar. Salahnya guru kalau ada anak yang nilainya di bawah 70,'' ujar Sugianto, teman saya yang guru bahasa Mandarin dan punya sekolah bisnis berbahasa Mandarin.

Mr Su ini tergolong aliran sama rata sama rasa khas Tiongkok. Dia sejak dulu menolak dikotomi sekolah favorit dan nonfavorit. Karena itu, dia sangat senang dengan kebijakan Menteri Muhadjir dalam penerimaan siswa baru.

''Sekolah swasta juga mestinya gitu. Semua pendaftar harus diterima selama kursinya cukup. Lan iso mbayar hehe,'' kata saya disambut tawa Mr Su.

Sepertinya Tuhan Memihak Malaysia



Akhirnya terulang lagi dan lagi dan lagi. Timnas Indonesia U-19 gagal ke final. Kalah adu penalti. Malaysia lagi-lagi menang. Padahal bermain di Gelora Delta Sidoarjo.

Semua penonton, 30 ribu orang, jelas pendukung Indonesia. Suporter Malaysia boleh dikata nihil. Tapi justru yang tertekan pemain-pemain Indonesia. Anak-anak Malaysia memang tangguh mentalnya. Tenang dan meyakinkan. Teriakan ribuan penonton Indonesia dianggap angin segar pembawa oksigen.

Dua tendangan Indonesia meleset. Sebaliknya, semua tendangan Malaysia masuk. Indonesia gagal ke final. Dipermalukan Malaysia si harimau malaya.

Saya sepertinya punya trauma dengan Malaysia. Betapa tidak. Sejak nonton bola di era hitam putih rasanya timnas Indonesia kalah melulu dari Malaysia. Sebagus apa pun timnas kita, ada saja halangan untuk mengatasi Malaysia. Sulit juara.

Maka, begitu Indonesia gagal juara grup A di Sidoarjo saya cemas. Sambil melihat latihan timnas asuhan pelatih Indra Sjafri di dekat kantor saya, Jenggolo Sidoarjo. Sambil memantau hasil pertandingan terakhir grup B di Gresik.

Waduh... Malaysia juara grup. Jadi lawan Indonesia di semifinal. Trauma pun muncul. Kalau musuhnya Malaysia ya wassalam. Sebaiknya Garuda Muda jumpa Malaysia di final. Jangan di semifinal. Banyak tokoh yang bilang begitu di internet.

Tapi takdir sepak bola punya jalan sendiri. Indonesia vs Malaysia di semifinal. Bismillah... kata orang Indonesia yang benar-benar demam timnas U-19. Pemain-pemain dan pendukung Malaysia juga baca bismillah... sama-sama bismillah. Minta tolong Tuhan agar dimenangkan.

Penyiar Valentino Simanjuntak begitu sering mengajak bangsa Indonesia memanjatkan doa kepada Tuhan. Agar Indonesia diberi kemenangan. Berdoa berdoa berdoa.... Pasti di Malaysia juga orang-orang berdoa agar timnasnya dimenangkan.

Rupanya doa-doa orang Malaysia lebih manjur. Dari dulu. Indonesia kalah lagi. Mungkin doa-doa kita kurang banyak. Atau kurang tulus. Atau isinya keliru. Terlalu egoistis. Mau menang sendiri. Emangnya Tuhan itu cuma milik orang Indonesia.

11 July 2018

Matinya tiki-taka dan samba tango

Piala Dunia 2018 segera selesai. Prancis sudah dapat satu tiket ke final. Inggris vs Kroasia sebentar lagi.

Saya sih netral saja. Tidak memihak Prancis atau Inggris atau Kroasia. Sama aja. Sebab tim-tim Amerika Latin sudah lama tersingkir. Khususnya Argentina.

Apa asyiknya Piala Dunia tanpa Argentina? Dan Brasil? Bagaikan sayur tanpa garam. Begitulah pendapat om-om di NTT saat saya masih kecil di pelosok republik. Pendapat yang kemudian saya amini. Sampai sekarang.

Sepak bola Eropa memang ciamik. Industrinya luar biasa. Pemain-pemain Latin yang hebat pasti main di Eropa. Messi bahkan sejak anak-anak sudah belajar di akademi Barcelona. Sudah jadi orang Eropa meskipun paspornya Argentina.

Tapi gaya bermain bola ala Eropa terlalu tertib. Ibarat musik klasik yang sangat taat partitur. Semua ikut petunjuk dirigen. Tidak boleh menyimpang sedikit dari pakem. Inilah yang membedakan dengan gaya samba atau tango.

Gaya Argentina dan Brasil seperti musik jazz. Mereka punya bakat improvisasi sejak dari sononya. Maka seorang Maradona bisa meliuk-liuk sendiri melewati banyak pemain lawan untuk bikin gol. Gaya ini hanya bisa dimainkan seorang maestro jazz kelas wahid.

Messi juga punya talenta istimewa di bidang improvisasi. Sayang, teman-temannya kurang mendukung. Sehingga Argentina pulang terlalu awal.

Sepak bola toh pada akhirnya mencari menang. Bikin gol. Apa pun caranya. Efisiensi inilah yang dipunyai tim-tim Eropa. Kecuali Spanyol. Tim Matador bikin rekor dunia passing terbanyak tapi gagal bikin gol. Pasti kalah.

Sepak bola rupanya sudah jauh berubah. Ada VAR dsb. Gaya Latin yang samba atau tango sepertinya sudah tidak dapat tempat. Orang lebih suka balbalan yang simpel, kolektif, langsung ke tujuan. Bikin gol.

Maka Piala Dunia 2018 ini juga menandai akhir kejayaan tiki taka. Sepak bola ala Spanyol yang banyak passing, umpan pendek, muter-muter... jadi bahan tertawaan orang di warkop. Begitu juga gerakan meliuk-liuk Neymar + aktingnya yang aneh-aneh.

30 June 2018

Argentina 1986 vs Argentina 2018




Argentina sebetulnya sudah nyaris amblas. Untung masih dilindungi dewi fortuna di Russia. Messi dkk akhirnya lolos ke 16 besar Piala Dunia 2018.

Saya pendukung Argentina sejak sekolah dasar di pelosok utara NTT. Ketika belum ada televisi. Ketika masih "menonton" Maradona di radio. Membayangkan betapa hebatnya Maradona pada Piala Dunia 1986. Kok bisa cetak gol pakai tangan. Tangan Tuhan!

Siaran pandangan mata RRI waktu itu memang luar biasa... untuk saya yang anak-anak. Begitu hidup. Kita yang cuma nguping di depan radio seakan-akan berada di dalam stadion. Menonton langsung aksi Maradona.

Ketika menonton rekaman Maradona dan Argentina sekian tahun kemudian, di kota, wuih... ternyata Maradona jauh lebih hebat ketimbang bayangan saya. Di luar imajinasi anak-anak kampung di Pulau Lembata. Kok bisa ada pemain bola yang jenius luar biasa macam Maradona.

Sejak anak-anak pula saya pakai kaos Maradona. Argentina 1986. Maka sejak itu Argentina selalu nempel di hati saya. Meskipun penampilan Argentina tidak sedahsyat ketika Maradona di usia emasnya. Argentina masih bagus tapi jauh di bawah era Maradona, Valdano, Brown, Buruchaga dan kawan-kawan.

Di Rusia 2018 ini Argentina punya Messi. Pemain terbaik di dunia. Tapi Messi bukan Maradona. Usianya bukan usia emas macam Maradona di Argentina 1986. Karakter Messi juga beda banget dengan Maradona yang mampu menghidupkan teman-temannya yang kalah kelas.

Messi terbiasa dikelilingi pemain-pemain terbaik dunia di Barcelona. Skema permainan Barca juga dirancang untuk memaksimalkan kejeniusan Messi. Inilah yang bikin Messi begitu mudah mencetak gol saat memperkuat Barcelona.

Di Argentina Messi jarang dapat umpan yang bagus. Teman-temannya juga masih sering salah pengertian. Karena itu, jangan salahkan Messi kalau dia tidak bisa bermain sebagus di Barcelona.

Semoga saja Messi bisa meloloskan Argentina sejauh mungkin di Rusia 2018.

Argentina 1986.
Argentina 2018.

Tidak terasa sudah 32 tahun saya jadi pendukung Argentina.

27 June 2018

Mengenang kejayaan Ratatex di Balongbendo Sidoarjo



Sofjan R. Tamin beberapa waktu lalu menerbitkan buku memoar berjudul Character First: Berbisnis dengan Jalan Lurus. Pemilik pabrik mur dan baut ternama ini juga menceritakan pabrik tekstil Ratatex di Desa Balongbendo, Kecamatan Balongbendo, yang kini tinggal sejarah. Padahal Ratatex pernah menjadi salah satu pabrik tekstil terbesar di tanah air pada era 1960-an.

Ratatex sendiri merupakan akronim dari Rahman Tamin Textile. Rahman Tamin, pengusaha plus pejuang asal Sumatera Barat, itu tidak lain ayah kandung Sofjan Rahman Tamin. Almarhum Rahman Tamin dikenal sebagai sahabat dekat Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Karena itu, pabrik Ratatex di Balongbendo itu diresmikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Mei 1958.

"Bung Karno datang terlambat sekitar 30 menit. Beliau dengan tulus meminta maaf kepada Bung Hatta dan semua yang hadir karena terlambat," ujar Yoyok Widoyoko, penulis buku memoar Sofjan R. Tamin.

Menurut Yoyok, kehadiran Bung Karno dan Bung Hatta saat grand opening pabrik Ratatex di Balongbendo ini merupakan peristiwa bersejarah yang langka. Betapa tidak. Duet proklamator ini berpisah sejak Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Berbagai upaya untuk menyatukan kembali dwitunggal ini pun gagal. Hanya Rahman Tamin yang mampu mengajak keduanya datang ke Balongbendo.

Prasasti peresmian pabrik Ratatex oleh Bung Karno dan Bung Hatta masih terlihat di kompleks pabrik seluas 12 hektare yang kini ditumbuhi rumput-rumput liar itu.
Selain Bung Karno dan Bung Hatta, teman karib Rahman Tamin semasa perjuangan, peresmian Ratatex juga dihadiri sejumlah menteri Kabinet Djuanda yang disebut Kabinet Karya. Di antaranya, Menteri Perindustrian Inkiriwang, Menteri Perdagangan Soenarjo, dan Menteri Keuangan Sutikno Slamet. Tak ketinggalan Gubernur Jatim R. Samadikun dan Bupati Sidoarjo.

Kehadiran Bung Karno, Bung Hatta, dan para pejabat penting itu menunjukkan betapa luasnya pergaulan dan jaringan Rahman Tamin yang lahir pada 1907 di Padang, Sumatera Barat, itu. "Rahman Tamin punya visi dan misi memproduksi tekstil yang murah dan layak bagi masyarakat Indonesia," ujar Yoyok yang melakukan riset cukup lama untuk menulis buku tentang Sofjan Rahman Tamin dan pernak-pernik Ratatex di Balongbendo.

Sejak awal Rahman Tamin ingin menjadikan Ratatex di Balongbendo sebagai kawasan industri terpadu (integrated industry) berbasis tekstil. Karena itu, lahan yang dipakai sangat luas. Total 12 hektare. Tujuh hektare untuk pabrik benang dan pabrik tenun dengan 500 mesin. Sisanya lima hektare untuk perumahan karyawan tetap.

"Saat itu pabrik pemintalan benang skala besar hanya dua buah, yakni di Cilacap dan Semarang. Sedangkan pabrik tenun baru ada di daerah Tegal dan Pasuruan," papar Yoyok yang kelahiran Surabaya.

Sebelum mendirikan Ratatex di Balongbendo, Rahman Tamin melakukan semacam studi banding di Belanda dan Jerman. Di situ ia melihat bahwa kain-kain berkualitas yang diimpor dari Belanda pada tahun 1950-an ternyata bahan bakunya didatangkan dari Jepang.

Rahman pun berpikir mengapa tidak membuat pabrik serupa di Indonesia. Harga kain pasti lebih murah. Pabrik itu juga bisa menyerap ratusan tenaga kerja. Sekaligus mendorong industrialisasi yang mulai didorong pemerintahan Presiden Soekarno setelah penjajah Belanda hengkang dari tanah air. Kita harus bisa berdikari: berdiri di atas kaki sendiri.

"Pemikiran Rahman Tamin sudah melampaui zamannya. Sudah menerapkan kaidah bisnis dan manajemen modern," ujar Yoyok.

Begitulah. Roda mesin Ratatex di Balongbendo berputar untuk mulai produksi pada Februari 1958. Awalnya pabrik ini menghasilkan 600 yard sehari. Kemudian berangsur naik jadi 30 ribu yard sehari. Kapasitas maksimum pabrik 50 ribu yard sehari. Sistem kerja dua shift. Ratatex memproduksi kain kembang yang selama ini diimpor dari Eropa.

Saat itu Ratatex mempekerjakan 200 karyawan tetap. Rahman Tamin juga mendatangkan lima orang dari Jerman sebagai konsultan atau expert. Ditambah tiga pakar tekstil asli Indonesia, yakni Rahmaniar (putri Rahman Tamin), R. Achmad Soerianata Djoemena (suami Rahmaniar), dan Kersim. Ratatex juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah teknik di Sidoarjo dan sekitarnya sebagai sumber daya manusia (SDM) di masa depan.

Beroperasinya pabrik Ratatex di Balongbendo, menurut Yoyok, membuat Rahman Tamin layak disebut konglomerat pada masa itu. Sebab, pengusaha yang hanya menikmati pendidikan sampai kelas dua MULO ini sebelumnya lebih dikenal sebagai pedagang (trader) di bidang ekspor dan impor, perkebunan dan percetakan.

"Rahman Tamin hendak menjadikan Ratatex sebagai motor yang andal bagi Grup Rahman Tamin. Harapannya, Ratatex menjadi industri terpadu berbasis tekstil sehingga harga sandang dapat ditekan semakin murah namun berkualitas tinggi. Lebih dari itu, harapannya Indonesia tidak lagi bergantung kepada produk impor yang menyedot banyak devisa negara," tulis Yoyok Widoyoko dalam buku setebal 448 halaman ini.

Tidak salah kalau Rahman Tamin pernah mendapat julukan sebagai Raja Tekstil Murah di Indonesia. (rek)

23 June 2018

Selamat Jalan Mas Totok Pudjianto! Maestro Musik Liturgi



Minggu, 17 Juni 2018, umat Katolik Indonesia kembali kehilangan komposer musik liturgi. Y. Totok Pudjianto kembali ke pangkuan-Nya. Adik kandung almarhum A. Riyanto ini disemayamkan di Gereja Santo Leo Agung, Bekasi, sebelum dikebumikan.

Selamat jalan Mas Totok!
Resquescat in pace!

Umat Katolik di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, niscaya tidak asing dengan Y. Totok Pudjianto. Mas Totok menciptakan lagu-lagu liturgi Katolik gaya baru yang lebih segar. Ada nuansa klasik, pop, dengan syair yang puitis dan melodius.

Lagu-lagu ciptaan Mas Totok berbeda dengan lagu liturgi ala Pusat Musik Liturgi (PML) yang inkulturatif. Juga beda dengan lagu-lagu liturgi di Flores NTT yang sederhana dan pendek. Musik Mas Totok agak bernuansa praise and worship. Tapi liriknya sangat Katolik.

Dalam setiap perayaan ekaristi penerimaan sakramen pernikahan.. wuih... karya Mas Totok sudah seperti lagu wajib nikahan. Yakni BERKATILAH, dinyanyikan saat sungkeman. Bisa dipastikan kedua mempelai, orang tua, sanak kerabat berlinang air mata. Saking indahnya melodi dan syair lagunya Mas Totok.

BAPA YANG DI SURGA
KAMI BERDUA
BERSUJUD DI DEPANMU
DI ALTAR MULIA

SALING MENGUCAP KATA
BERJANJI SETIA
.......

Selain BERKATILAH, lagu Mas Totok yang paling terkenal di gereja adalah Bapa Kami. Biasa disebut Bapa Kami Totok Pudjianto. Lagunya enak, megah, membuat umat menyanyi dengan syahdu. Saingannya Bapa Kami versi Linus Putut Pudyantoro. Mas Putut lebih dahulu menghadap Bapa di surga pada 27 November 2017.

Begitu banyak orang yang mengarang lagu liturgi. Apalagi lagu pop cinta-cintaan. Tapi menurut saya tidak sekuat karya-karya Mas Totok (dan Mas Putut). Mungkin inilah yang disebut bakat. Talenta khusus. Mas Totok tidak syak lagi memiliki bakat musikal tingkat tinggi macam kakaknya, Aloysius Riyanto. Legenda musik pop Indonesia itu.

"Om Totok sedang merekam lagu Mari Bersyukur. Tapi beliau keburu dipanggil Tuhan," ujar Lisa A. Riyanto, keponakan Mas Totok. Lisa berjanji segera menyelesaikan rekaman itu. Agar bisa dinikmati umat kristiani di tanah air.

Tadinya saya pikir Mas Totok Pudjianto hanya kondang di kalangan Katolik. Khususnya anggota kor stasi, kring, lingkungan, paroki, hingga kategorial. Ternyata koran umum Kompas sempat menulis berita kepergian Mas Totok.

"Totok adalah pencipta lagu-lagu rohani yang bermelodi indah tetapi mudah dinyanyikan," tulis Kompas.

Mas Totok memang rajanya melodi indah. Tapi mudah dinyanyikan?

Berdasarkan kajian saya sejak era Jubilate, Syukur Kepada Bapa, Madah Bakti, Puji Syukur, Kidung Jemaat dan partitur liturgi lainnya, lagu-lagu Mas Totok tidak bisa dibilang mudah. Biasanya ada nada kromatis, chord yang variatif, hingga modulasi. Nada tertingginya juga tidak bisa dianggap ringan.

Contohnya: lagu Kasih (berdasar 1 Korintus 13). Di setiap bait atau verse ada perubahan nuansa. Modulasi atau perubahan tangga nada beberapa kali. Karena itu, tidak bisa masuk Puji Syukur. Biasanya dinyanyikan kor-kor yang sering berlatih dengan kemampuan di atas rata-rata.

Hidup itu singkat, seni itu abadi! Mas Totok dan Mas Putut sudah tiada. Tapi lagu-lagu kedua komposer hebat era 90an dan 2000an ini akan tetap abadi.

Hindari kucing, tabrak manusia

Tiada hari tanpa kecelakaan lalu lintas (polisi: laka lantas) di Surabaya dan sekitarnya. Saya sampai bosan membaca berita laka lantas di koran. Penyebabnya hampir sama. Ugal-ugalan.

Di Krian, minggu lalu, ada laka lantas yang menarik. Seorang sopir yang ngebut kaget melihat kucing lewat. Takut menabrak binatang sakti itu. Mobilnya digeser ke kanan. Brakkk! Sepeda motor pun dihantam begitu saja.

Pengendara motor langsung wassalam. Tewas di jalan. Sopir menyesal tapi telat.

Di Pepelegi, Waru, kemarin lain lagi. Ada orang menyeberang jalan di jalur yang benar. Zebra cross depan Giant Waru. Sudah lampu hijau. Tanda penyeberang jalan boleh melintas.

Tapi pengendara sepeda motor dari selatan alias Sidoarjo tidak mau tahu dengan pejalan kaki yang sedang menyeberang di zebra cross. Bukannya dipelankan malah digas. Si pejalan kaki pun dihantam. Ambruk. Dibawa ke rumah sakit. Koma.

Sudah terlalu sering saya membahas perilaku pengendara kita yang ugal-ugalan. Tidak ada adab atau tata laku di jalan raya. Tidak punya respek pada pejalan kaki. Jangankan berhenti, pengemudi mobil dan motor di sini selalu mempercepat laju kendaraan. 

Bulan lalu pejalan kaki di depan Royal Wonokromo juga ditabrak. Justru di zebra cross. Mati. Entah sudah berapa banyak yang melayang sia-sia di jalan raya.

Rupanya orang Indonesia ini makin kehilangan unggah-ungguh di jalan raya. Bangsa yang katanya ramah, murah senyum, suka mengalah, ternyata begitu sadis di jalan raya. Kurang menghargai nyawa orang lain. Khususnya pejalan kaki. 

Pengendara mobil dan motor justru lebih takut sama kucing.