25 February 2015

19 TKI Jatim dihukum mati

Masih terkait hukuman mati, saat ini 19 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur menghadapi hukuman mati. Ada kasus narkoba, pemerkosaan, pembunuhan. Para pahlawan devisa itu, julukan TKI, tinggal menunggu eksekusi.

"Kita tidak bisa berbuat banyak. Itu kewenangan pemerintah pusat," kata Edy Purwinarto, kepala dinas tenaga kerja Jatim. Para TKI yang menunggu eksekusi mati itu kebanyakan dari Madura, Ponorogo, dan Madiun.

19 warga Indonesia bukan jumlah yang sedikit. Nasib mereka sama dengan Bali Nine asal Australia dan Marco dari Brasil yang belakangan ini beritanya mengisi surat kabar, televisi, dan internet.

Brasil sampai mempermalukan dubes RI demi membela Marco, bandar narkoba, yang barusan dieksekusi di Nusakambangan. Australia juga bikin tekanan dan pernyataan keras agar Indonesia membatalkan eksekusi Bali Nine. Termasuk mengungkit-ungkit jasanya dalam membantu korban tsunami di Aceh dsb.

Bagaimana dengan sikap pemerintah Indonesia atas rencana eksekusi mati 19 TKI itu? Kalau ditambah TKI dari provinsi-provinsi lain niscaya jumlahnya lebih banyak lagi. Mereka semua manusia yang punya hak hidup meskipun sudah divonis mati di negara orang.

"Kami akan usahakan melobi lewat sejumlah tokoh," kata Nusron Wahid, kepala BNP2 TKI.

Kita belum mendengar suara Presiden Jokowi untuk menyelamatkan nyawa para pahlawan devisa yang terancam eksekusi mati itu. Yang ramai di tanah air saat ini adalah koin untuk Australia dan blow-up berita soal dubes kita yang dipermalukan di Brasil.

Betapa kontrasnya sikap Indonesia dan negara-negara asing yang warganya terancam (dan sudah menjalani) eksekusi mati di Indonesia. Dan, sekali lagi, itu tak lepas dari kebijakan negara terhadap hukuman mati. Negara-negara yang menolak hukuman mati pasti melakukan apa saja demi menyelamatkan satu nyawa manusianya. Termasuk mengorbankan hubungan diplomati. Termasuk jadi bahan ledekan kayak Australia itu.

Sebaliknya, Indonesia yang sangat pro hukuman mati, bahkan ada usulan agar koruptor pun ditembak mati, terkesan biasa-biasa saja. Sembilan belas nyawa, 20 atau 30 TKI terancam mati, sepertinya adem ayem aja pemerintahnya. Gak ada SAVE TKI di media sosial.

"Kami bingung kalau diminta uang diyat. Pakai uangnya siapa? Kan nggak mungkin pakai APBN," kata Nusron.

Nyumbang buku tetap didenda

Saya tercatat sebagai anggota beberapa perpustakaan di Surabaya dan Sidoarjo. Ada yang perpustakaan umum kelas daerah, rumah baca, taman bacaan milik gereja, perpustakaan spesialis buku-buku lawas, hingga perpustakaan Londo semacam pusat kebudayaan Belanda.

Karena satu dan lain hal, saya selalu terlambat mengembalikan buku. Tentu saja harus bayar denda. Gak banyak sih. Cuma kalau telatnya lama, dikalikan tiga buku, ya jadinya banyak. Makanya jangan suka terlambat bayar pajak, ngurus STNK dsb.

Biasanya saya berusaha mengambil hati pengelola perpustakaan dengan menyumbang buku-buku lama. Ketimbang tidak dibaca. Ketimbang dijadikan bungkus kacang kalau jatuh ke tukang loak. Hitung-hitung ikut menambah koleksi perpustakaan. Gak pinjam tok tapi juga nyumbang. Tangan di atas lebih baik, kata orang.

Setelah menyumbang buku, saya pikir, denda keterlambatan buku itu dihapus. Bukankah nilai buku sumbangan saya jauh lebih mahal ketimbang besaran denda? "Terima kasih sudah nyumbang buku. Gak usah bayar denda segala," begitu kata-kata yang saya bayangkan dari mulut pengurus perpustakaan.

Hehehe.... Ternyata saya selalu kecele. Kata terima kasih sih ada tapi tetap harus bayar denda. Nyumbang ya nyumbang tapi kewajiban sebagai peminjam buku harus dijalankan. Peminjam yang telat diperlakukan sama. Baik yang menyumbang 10 buku, 20 buku, 2 buku, atau tidak pernah menyumbang sama sekali.

"Aneh sekali," pikir saya. Soalnya, pengalaman saya, ibu pemilik warung nasi selalu menggratiskan semua makanan dan minuman kalau sebelumnya saya kasihkan setumpuk koran bekas. Terima kasihnya berkali-kali. "Wis, gak usah bayar. Aku sing matur suwun sudah dikasih koran," katanya.

Belum lama ini saya mendaftar anggota sebuah perpustakaan terkenal yang sering masuk koran di Surabaya. Koleksi buku-bukunya memang bagus, langka, kualitas tinggi. Pinjamlah saya tiga buku. Seperti biasa, saya telat lagi. Pasti dapat sanksi denda nih!

Maka minggu lalu saya datang mengembalikan buku milik si perpus plus menyumbang tiga buku. Siapa tahu dibebaskan dari kewajiban bayar denda. "Anda bayar denda sekian," kata si nona manis penjaga perpus. Hehehe....

Tak lupa dia mengucapkan terima kasih atas sumbangan tiga buku itu. Kecele lagi saya. Rupanya ada kesamaan semua perpustakaan di kota buaya ini. Siapa pun yang menyumbang buku tidak akan lepas dari denda keterlambatan mengembalikan buku.

Hikmah: Menyumbang apa pun harus ikhlas. Jangan seperti saya yang menyumbang buku-buku lama dengan pamrih dibebaskan dari denda.

Ilmu Hewan, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Ilmu Tanah

Pak Bos, Dahlan Iskan, dalam kolom tetapnya di Jawa Pos edisi Senin, 23 Februari 2015, menghidupkan lagi istilah ILMU HEWAN. Salah satu mata pelajaran di sekolah yang kemudian lebih dikenal dengan biologi atau zoologi. Begini tulisan Pak Dahlan saat membahas pencurian sapi yang luar biasa di Pulau Sumba, NTT:

"Saya ingat, setiap terjadi gejolak harga daging, pembahasannya selalu sangat ilmiah. Ilmu supply and demand, ilmu dagang, ilmu hewan, ilmu logistik, serta segala macam ilmu diperdebatkan."

Aha, ilmu hewan! Saya jadi ingat buku-buku pelajaran atau kuliah lawas yang menumpuk di lapak buku-buku bekas Jalan Semarang, Surabaya. Istilah yang dipakai memang sangat sederhana, merakyat, begitu mudah dipahami. Termasuk orang awam yang tak makan sekolah tinggi.

Ada ilmu hewan. Ilmu hayat. Ilmu bumi. Ilmu antariksa. Ilmu tumbuhan. Ilmu bumi. Ilmu jiwa. Ilmu dagang. Ilmu hukum. Ilmu pesawat. Ilmu pasti. Ilmu serangga. Ilmu sosial.

Para intelektual, ahli, tempo doeloe, rupanya bekerja keras dan cerdas untuk menerjemahkan istilah-istilah ilmiah dari bahasa Inggris atau Belanda ke dalam bahasa nasional. Mereka tidak cari gampang dengan menyerap begitu saja istilah bahasa Inggris. Biology jadi biologi. Climatology dijadikan ilmu iklim, bukan klimatologi. Zoologi jadi ilmu hewan, bukan zoologi. Psycologi jadi ilmu jiwa, bukan psikologi.

Saya ingat masa kecil saat sekolah dasar di pelosok NTT. Bapak Guru Paulus selalu mengatakan bahwa di Yunani itu banyak ahli pikir. Apa pula ahli pikir itu? Ahli-ahli yang berpikir mendalam tentang hakikat kehidupan. Setelah dewasa baru saya paham. Oh, ahli pikir itu ternyata filsuf atau filosof. Ilmu pikir itu tak lain filsafat.

Saat kuliah, ada satu mata kuliah dasar yang SKS-nya banyak, praktikumnya lama, biasa menginap di laboratorium, sering gagal, bahan kimianya banyak dan sangat berbahaya. Mata kuliah itu namanya ILMU TANAH. Ilmu tanah itu sangat berbeda dengan ilmu bumi meskipun tanah dan bumi mirip-mirip artinya. Ilmu tanah membahas jenis tanah, struktur, kandungan kimia, pupuk apa yang cocok, tanaman yang cocok, penyerapan air, dsb. Rumus-rumusnya juga banyak.

Mahasiswa-mahasiswi umumnya jengah mengikuti kuliah ilmu tanah ini. Selain lama, banyak praktikum, dosennya juga mahal kasih nilai. Setahu saya tidak ada nilai A. Yang dapat B juga sedikit. Padahal, kami sudah membaca buku-buku ilmu tanah yang sangat tebal. Karena itu, ketika membaca berita banyak sarjana sekarang IP-nya kebanyakan di atas 3,3; bahkan mendekati 4,0; saya jadi heran. Betapa mudahnya si dosen sekarang kasih nilai!

Nah, ilmu tanah ya ilmu tanah. Istilah asing seperti soil science atau pedology tak pernah dipakai di kampus-kampus Indonesia. Nggak tahu sekarang. Begitu membuminya istilah ilmu pengetahuan itu. Sama dengan ilmu bumi (istilah lawas) yang kini lebih dikenal dengan geografi.

Setelah pemikir-pemikir lawas menua dan jadi almarhum, Indonesia memasuki era baru: nginggris! Sedikit-sedikit pakai istilah Inggris. Britis-britisan! Slogan-slogan di kota, bahkan kampung, pakai English. Nama-nama mata pelajaran atau mata kuliah pun ikutan nginggris. Setidaknya pakai serapan dari bahasa Inggris.

Karena itu, anak-anak sekarang pasti bingung (mungkin geli) mendengar istilah ilmu hewan, ilmu bumi, ilmu tanah, ilmu pasti, ilmu jiwa, ilmu serangga, dan sebagainya.

24 February 2015

Hobi memecah kabupaten di NTT

Pagi tadi ada berita kecil di koran terbitan Jakarta yang menggelitik saya. Judulnya: Sumba Timur Usulkan Tiga Kabupaten Baru. Wow, luar biasa! Satu kabupaten ditambah tiga kabupaten lagi? Di daerah yang penduduknya sedikit itu? Yang secara ekonomi masih belum mapan?

Bupati Gideon bilang penambahan tiga kabupaten baru itu demi peningkatan pembangunan. "Ini bukan dorongan atau tekanan dari elite politik," katanya.

Aneh tapi nyata! Begitulah yang sudah lama terjadi di NTT sejak reformasi. Provinsi yang aslinya hanya punya 12 kabupaten ini sekarang jadi 22 kabupaten. Mungkin 23. Sebab, usulan dari NTT biasanya diloloskan di Senayan, Jakarta. Kecuali usulan Provinsi Flores yang sampai sekarang selalu kandas. Juga Kabupaten Adonara!

Orang NTT yang terlalu lama merantau, tidak pulang kampung tujuh atau delapan tahun, misalnya, pasti pangling saat mudik ke kampung asalnya. Ternyata data di kartu identitas atau ijazah atau surat-surat penting lain sudah gak cocok. Saya yang pakai identitas lahir di Flores Timur, sekarang harus minta revisi menjadi Lembata. Sebab Lembata sudah jadi kabupaten sendiri. Bukan lagi Kabupaten Flores Timur.

"Kabupaten Adonara tinggal menunggu waktu saja," kata Adrianus, rohaniwan asal Adonara. Saat ini Adonara masih gabung Flores Timur. Sepuluh tahun mendatang ceritanya mungkin lain.

Teman-teman di Jawa Timur tentu heran, campur geli, membaca berita pemekaran kabupaten yang penduduknya di bawah satu juta itu. Kalau dibagi empat, populasinya berapa? Maklum, Jawa Timur yang punya 44 juta penduduk sejak dulu tetap 38 kabupaten/kota. Tetap satu provinsi. Bahkan tak ada pikiran sedikit pun untuk menambah provinsi atau kabupaten.

Pulau Madura sebetulnya layak jadi provinsi sendiri. Penduduknya jauh lebih banyak dari Provinsi Gorontalo. Infrastruktur jalan raya, pelabuhan, dsb jauh lebih bagus daripada di NTT atau kawasan lain di luar Jawa. Dengan adanya Jembatan Suramadu, Pulau Madura sejak 2009 sudah terhubung dengan Pulau Jawa. Jaraknya cuma 5,4 kilometer. Tapi kenapa Madura tidak ngotot jadi provinsi kayak Flores?

"Karena orang Madura pintar," kata teman saya Ahmad, orang Bangkalan. Jadi satu dengan Jatim jauh lebih menguntungkan. Berdiri sendiri malah tambah sulit maju.

Cara berpikir orang NTT, khususnya politisi dan birokrat, beda. Populasi sama sekali tidak dipertimbangkan. Maka banyak kabupaten yang penduduknya kurang dari 300 ribu jiawa. Itu di Flores, pulau terbesar di NTT. Di Sumba yang daratannya kosong itu penduduknya jelas lebih sedikit lagi. Bandingkan dengan Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur yang penduduknya 2,5 juta. Belum termasuk pendatang atau penduduk musiman.

Di NTT, seperti dikatakan Bupati Sumba Timur Gideon tadi, pemekaran kabupaten perlu untuk peningkatan pembangunan. Logika sederhana. Semakin banyak kabupaten, maka alokasi dana dari pusat semakin banyak. Kalau biasanya cuma satu kabupaten, sekarang jadi empat. Proyek-proyek makin banyak. Makin banyak pula lowongan PNS yang tersedia. Jangan lupa, PNS merupakan profesi yang paling diidamkan dan dihargai di NTT.

Ada dampak ikutan yang luar biasa dari pemekaran kabupaten ini. Otomatis kecamatannya diperbanyak. Satu desa yang besar bisa dipecah jadi tiga atau empat desa. Bagi NTT yang sangat mengandalkan kucuran dana dari pusat, pemecahan desa-desa ini memang "meningkatkan pembangunan" seperti dikatakan Pak Bupati tadi. Kucuran dana besar untuk proyek pusat macam PNPM otomatis dibagi ke tiga atau empat desa.

"Jadi, kita bisa perbaiki jalan desa, bikin sumur, dan sebagainya. Kalau cuma satu desa ya PNPM-nya juga hanya untuk satu desa saja," kata petinggi di kampung saya di Kabupaten Flores Timur, eh Kabupaten Lembata.

Manfaat lain pemekaran kabupaten yang dirasakan di NTT, setidaknya bagi saya, adalah bisa melihat langsung wajah bupati, bersalaman, ngobrol, ngopi, bercanda. Dulu ketika Lembata masih ikut Kabupaten Flores Timur, saya tidak pernah melihat langsung wajah bupati. Namanya doang yang harus kami hafalkan di SD. Mengapa tidak bisa lihat bupati? Sebab sang bupati belum pernah sekalipun mengunjungi desa/kecamatan saya.

Sekarang setelah Lembata jadi kabupaten sendiri, setiap saat kita bisa melihat bupati atau wakil bupati. Bahkan selama 10 tahun pak bupati dan keluarga sangat sering blsukan ke kampung saya. Kita tahu persis siapa orang tuanya bupati, kakek neneknya, keluarga besarnya, makam leluhur, rumah adat dsb. Mengapa? Karena pak bupati itu tidak lain tetangga dekat di kampung.

Salut untuk Brasil dan Australia

Begitu banyak warga negara Indonesia yang terancam nyawanya di luar negeri. Kemarin ada berita kecil di koran Surabaya tentang seorang TKW asal Madura terancam hukuman mati di negara tetangga. Kasus pembunuhan. Beritanya cuma tiga atau empat alinea.

Begitu seringnya kasus-kasus macam ini di luar negeri. Sikap pemerintah Indonesia pun tak jelas. Tak ada reaksi keras. Cuma pernyataan singkat KBRI atau konjen yang normatif. Rakyat Indonesia memang tak lagi sensitif dalam soal beginian. Padahal urusannya: nyawa manusia!

Karena itu, saya sangat salut dengan sikap tegas dan keras pemerintah Brasil dan Australia merespons eksekusi mati warganya di Indonesia. Presiden Brasil, wanita, menolak menerima dubes Indonesia untuk Brasil. Dia mewakili pemerintah dan warganya yang marah karena Marco baru saja dieksekusi mati di Indonesia. Kasus narkoba.

Pihak Brasil juga merasa dipermalukan karena sudah dua kali mengemis grasi tapi ditolak. Marco tetap ditembak mati di Nusakambangan. Betapa marahnya Brasil yang memang menenteng hukuman mati. Bandar narkoba, penjahat, punya hak hidup? Punya. Itulah yang dihayati di negara bola itu.

Sikap Australia juga tegas. Demi membela warganya yang akan ditembak mati di Nusakambangan, PM Abbot melakukan segala macam cara. Termasuk mengungkit-ungkit bantuan tsunami dan sebagainya. Juga mengancam boikot wisata ke Indonesia, khususnya Bali.

Gertakan yang dianggap kanak-kanak di tanah air. Kayak anak kecil yang ngambek minta perhatian. Tapi, begitulah, apa pun harus dilakukan demi membela nyawa manusia. Nyawa penjahat atau bandar narkotika sekalipun. Australia menghapus hukuman mati sejak 1980an. Sehingga ia harus sangat tegas berdiri di atas prinsip itu.

Indonesia boleh marah atau merasa terhina. Dipermalukan Brasil. Dipermalukan Australia. Tapi inti persoalannya adalah itu: hukuman mati! Sudah lama hukuman mati dianggap kuno di negara-negara maju. Meskipun USA masih ada. Hukuman mati, mengeksekusi para penjahat jalanan, pembunuh, koruptor, teroris, bandar narkoba, pemerkosa... tak akan pernah bikin jera.

Dengan mengeksekusi mati terpidana, Presiden Jokowi bisa menjamin tak ada lagi kejahatan narkoba? Terorisme hilang? Korupsi enyah?

Dave McRae, dosen Australian National University, menulis: "... dari berbagai penelitian ilmiah tidak ada bukti memadai yang menunjukkan bahwa efek jera yang ditimbulkan oleh eksekusi mati melebihi efek jera akibat pidana penjara."

Bahkan, Paus Fransiskus beberapa kali menegaskan bahwa hukuman penjara seumur hidup pun hakikatnya sama dengan hukuman mati yang diperpanjang. Indonesia masih menganut paham hukum besi masa prasejarah: mata ganti mata, gigi ganti gigi!

21 February 2015

Syukurlah, Lion Air akhirnya kualat

Semua orang yang biasa terbang dengan Lion Air, khususnya ke rute Indonesia timur, macam Kupang, NTT, pasti sangat paham bahwa Lion Air itu rajanya delay. Semua calon penumpang Lion Air sangat maklum bahwa pesawat milik Rusdi Kirana itu tidak mungkin on time. Mengharapkan Lion Air on time itu ibarat mengharapkan seorang wanita melahirkan anak kembar lima.

Kalau Lion Air telat terbang satu jam itu sama dengan on time. Terlambat dua jam mah sudah biasa. Calon penumpang masih asyik guyon, cerita, main-main HP. Telat tiga jam sih sering. Penumpang asyik lihat TV atau jalan-jalan keliling ruang tunggu. Telat empat jam, nah, penumpang-penumpang, yang sebetulnya sudah sangat terlatih kesabarannya, mulai gerah. Ada beberapa yang ngamuk seperti pernah saya lihat di Bandara Juanda tahun lalu.

Biasanya, yang mengamuk ini bukan karena delayed, yang sudah memang tabiat Lion Air, tapi penumpang-penumpang yang kehilangan uang banyak karena tiket connecting flight-nya hangus. Misalnya, Lion Air dijadwalkan tiba di Bandara Eltari, Kupang, pukul 08.00. Anggap saja delayed tiga jam sehingga baru landing di Kupang molor tiga jam. Padahal, si John sudah membeli tiket SusiAir ke Pulau Komodo. Hanguslah tiket itu! Sebab, SusiAir, Wings, atau TransNusa tidak akan menunggu Lion Air dari Surabaya.

"Naik Lion Air itu seperti berjudi. Kalau menang ya syukur, kalah sudah pasti," kata Frans, teman asal Lembata, NTT.

Penumpang yang ratusan, bahkan ribuan itu, pasti kalah sama Lion Air. Mau telat berapa jam pun, kita hanya bisa marah-marah di ruang tunggu tanpa solusi. Tak akan ada pengurus resmi Lion Air yang menjelaskan secara jujur, apa adanya, penyebab delayed, kapan pesawat tiba, solusi apa jika telatnya di atas 4-5 jam.

Karena itu, jujur aja, sejak dulu para penumpang Lion Air rute Indonesia timur yang kecewa berat selalu mendoakan agar suatu saat Lion Air beroleh kesulitan. Kualat! Kena batunya gara-gara manajemennya yang tak mampu mengatasi krisis dalam waktu cepat.

"Saya jengkel karena tiket saya hangus gara-gara telat check-in lima menit. Uang tidak bisa kembali. Sebaliknya, Lion Air telat tiga jam, empat jam, no problem," kata Frans yang dua kali tiketnya hangus. Gara-gara sepeda motor ojek di Kupang pecah ban saat hendak ke bandara di kawasan Penfui itu.

"Saya dalam hati berdoa agar Tuhan kasih pelajaran kepada manajemen Lion Air. Supaya sadar bahwa ribuan, bahkan jutaan penumpang, sudah dikecewakan," kata Frans.

Kalau jengkel sama Lion Air, mengapa tidak pilih maskapai lain? Bukankah manajemennya bobrok? Pramugarinya ketus, tidak ramah?

"Sulit Bung! Kita tidak punya banyak pilihan. Lion Air punya jadwal paling banyak. Airline yang lain sedikit, bahkan sudah banyak yang mati, kayak Batavia Air, StarAir, Awair, dan sebagainya. Suka tidak suka, bae sonde bae (baik tidak baik), kita terpaksa pakai Lion Air," katanya seraya tersenyum.

Semua orang NTT macam Bung Frans justru menganggap Lion Air ini sebagai pahlawan meskipun raja delayed, manajemen brengsek, pramugari cakep tapi ketus. Bukan apa-apa. Lion Air yang membuat penerbangan dari/ke Kupang, NTT, menjadi sangat lancar. Lion Air membuat orang NTT di perantauan bisa pulang cuti ke kampung halaman dengan mudah dan terkalkulasi.

Sejelek-jeleknya Lion Air, setelat-telatnya Lion Air, masih lebih cepat daripada naik kapal laut! Naik kapal laut Pelni dari Surabaya ke Kupang paling cepat dua hari. Normalnya tiga hari. Harus putar ke Makassar, singgah dulu di pelabuhan-pelabuhan kecil. Terbang dengan Lion Air Surabaya-Kupang cuma makan waktu 100 menit saja!

"Jangan lupa, Bung, orang tua kita dulu ke Surabaya butuh waktu lima hari atau satu minggu. Masak, telat empat jam saja sama Lion Air kita marah-marah," begitu kata-kata penghiburan khas orang NTT. Orang yang sudah lumayan mampu, apalagi kaya, sering lupa betapa beratnya penderitaan di masa lalu. Kemudian bersumpah serapah, ngamuk, hanya karena terlambat pesawat tiga empat jam. Padahal ruang tunggu di bandara sejuk, nyaman, ada TV, camilan, wanita cantik, dsb.

Sejelek-jeleknya Lion Air, maskapai inilah yang berjasa membuat tiket penerbangan Surabaya-Kupang menjadi sangat terjangkau. Dulu, harga tiket di atas Rp 2,5 juta. Sampai sekarang pun Garuda masih jual tiket Surabaya-Kupang Rp 3 juta. Ketika masih dalam masa promosi, pengenalan rute baru, Lion Air berani jual tiket Rp 300 ribu. Bisnis penerbangan kemudian menjadi sangat hidup di NTT.

Tebih murah ke Kupang daripada Jakarta. Sejak itulah, orang-orang NTT yang lama tidak mudik ke kampung mulai mengunjungi kampung halamannya yang ditinggal sangat lama. Tiket dinaikkan pelan-pelan. Saat ini tiket Surabaya-Kupang sekitar Rp 600 ribu. Itu pun setelah tragedi AirAsia.

Karena itu, tugas manajemen Lion Air sebetulnya hanya membenahi jadwal penerbangan, layanan konsumen, keterbukaan informasi. Dengan armada pesawat yang ratusan, paling banyak di Indonesia, Lion Air sulit disaingi maskapai mana pun. Wong berstatus raja delayed saja tetap dirindukan penumpang, khususnya ke Indonesia timur, apalagi tidak delayed.

Kita sih tidak menuntut on time schedule standar internasional. Telat satu jam saja, buat Lion Air, saya anggap tepat waktu. Telat dua jam masih okelah. Tapi jangan lagi terlambat tiga jam! Dan, kalau sudah telat tiga jam lebih, silakan manajemen menyampaikan informasi yang jujur, apa adanya. Kalau memang mesin rusak, gangguan serius, siapa pun pasti menerima dengan ikhlas. Ketimbang ada apa-apa di perjalanan.

Orang Jawa punya pepatah bagus: Tega larane ora tega patine! Kita ingin manajemen Lion Air mendapat pelajaran dan sanksi berat dari pemerintah, dimaki-maki orang, citranya hancur, raja delayed, tapi jangan sampai dibunuh. Jangan sampai izin Lion Air dicabut. Berikan kesempatan kepada Rusdi Kirana dan manajemennya untuk memperbaiki diri.

20 February 2015

Rabu Abu drive thru dan pengakuan di jalan

Berita satu alinea di koran Kompas pagi ini (20/2/2015) sangat menggelitik. Di USA, New Orleans, umat kristiani menerima abu pada hari Rabu Abu di pinggir jalan. Pastor membuka layanan pemberian abu tanda pertobatan, awal puasa 40 hari, di pinggir jalan. Soalnya orang Amerika terlalu sibuk untuk datang ke gereja pada hari Rabu.

Setelah terima abu, umat bahkan dapat bonus secangkir kopi. Hehehe... Unik juga terobosan gereja di negara maju yang makin sekuler itu. Jemaat sudah cuek dengan kebaktian, liturgi, dsb sehingga pihak gereja terpaksa jemput bola ke pinggir jalan. Mungkin suatu ketika para pastor di sana buka konter abu di mal atau plaza.

Terobosan ala Amrik ini rasanya belum saatnya ditiru gereja-gereja di Indonesia. Sebab semangat beribadah di tanah air masih sangat tinggi. Saking semangatnya yang overdosis, orang Kristen di Indonesia, khususnya di Jawa, seakan berlomba-lomba bikin gereja baru meski gereja-gereja lama masih kosong. Bila perlu bikin gereja di ruko, garasi, convention hall, dsb.

Membaca berita Rabu Abu di jalanan New Orleans ini, saya teringat kebiasaan lama di kampung-kampung di Flores, NTT, sebelum 1990an. Hampir semua orang di kampung beragama Katolik. Tapi pastornya sangat kurang karena harus melayani begitu banyak desa. Naik turun gunung, jalan desa yang sangat buruk.

Pastor-pastor kongregasi SVD asal Belanda macam Pater Geurtz SVD dan Pater Van de Leur SVD di kampung saya terpaksa jalan kaki ditemani kuda putihnya. Si kuda itu membawa banyak sekali barang bawaan sang romo seperti perlengkapan misa, logistik, obat-obatan, pakaian, radio canggih. Biasanya ekaristi atau misa hanya diadakan dua bulan sekali. Paling cepat sebulan sekali. Hari Minggu lainnya diisi ibadat sabda tanpa imam pakai buku UAB: Umat Allah Beribadat. Buku tata cara kebaktian tanpa pastor ini kebetulan disimpan di rumah saya. Bahan homili (khotbah) pun ada bukunya sendiri yang tebal.

Nah, karena pastor sangat langka, umat Katolik di kampung saya di Lembata, Flores Timur, dulu biasa mencegat pastor di jalan. Begitu melihat Pater Geurtz lewat di jalan dengan kuda kesayangannya itu, umat bersalaman dan meminta romo memberikan sakramen tobat atau pengakuan dosa. Mengaku dosa di jalan! Atau minta Tuan Buraken (misionaris putih) untuk memberkati rosario, kalung, atau apa saja yang dianggap perlu diberkati.

Luar biasa iman orang-orang sederhana di kampung itu. Layanan liturgi spontan di jalanan ini perlahan-lahan berkurang, kemudian habis, karena pastor mulai tersedia. Kalau dulu cuma orang-orang Eropa saja yang jadi romo, belakangan banya pula anak-anak muda asli lewotanah (kampung) yang masuk seminari dan ditahbiskan jadi pastor. Sementara pastor-pastor Eropa kian menua dan kembali ke pangkuan-Nya satu per satu.

Situasi unik yang pernah saya saksikan di pelosok NTT itu kini tinggal kenangan. Antusiasme umat Katolik untuk mengaku dosa di hadapan pastor makin berkurang. Padahal, pastor di Surabaya, Sidoarjo, Gresik ini saya anggap sangat lebih dari cukup. Satu gereja (pastor) dilayani tiga pastor, bahkan ada yang empat. Bandingkan dengan di pelosok Flores macam tempat saya: satu pastor harus melayani SEPULUH gereja!

Karena jarang ada umat Katolik di Jawa yang minta pengakuan, saya lihat banyak pastor yang nganggur. Kamar pengakuan sepi jali. "Nggak enak ngaku dosa, malu," begitu alasan banyak orang.

Benar-benar terbalik dengan umat Katolik jadul di pelosok yang berebut menemui pastor di pinggir jalan agar bisa terima sakramen tobat. Begitulah. Zaman memang sudah jauh berbeda. Perubahan besar ini pun terjadi di dalam gereja.

18 February 2015

Parade Lampion Anugerah School



Sekitar 500 siswa Anugerah School Selasa, 17 Februari 2017, menggelar perayaan tahun baru Imlek dengan cara unik. Para pelajar mulai playgroup, TK, SD, hingga SMP ini mengadakan pawai lampion di kompleks sekolah hingga ke Pondok Jati. Berbusana cheongsham khas Tionghoa, parade lampion anak-anak sekolah tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Mandarin) itu pun menjadi tontonan warga dan pengendara yang melintas.

Yang menarik, lampion-lampion yang dibawa para siswa ternyata hasil kreasi sendiri. "Mereka bikin lampion dengan cara daur ulang. Angpao-angpao dan kertas-kertas bekas dikreasi jadi lampion," ujar Ivana Supit, guru bahasa Mandarin Anugerah School.

Setiap tahun sekolah ini menggelar perayaan tahun baru Imlek secara meriah. Meski tidak semua siswa berlatar belakang Tionghoa, menurut Ivana, pihaknya ingin mengajak anak-anak untuk mengenal dan memahami aneka kebudayaan yang hidup di tanah air. "Kalau tidak kenal maka tidak sayang," kata gadis murah senyum ini.

Selepas jalan kaki sekitar 1,5 kilometer, para siswa bersama-sama menyaksikan film tentang asal muasal 12 shio dalam tradisi Tionghoa. Termasuk shio kambing yang akan dimulai pada 19 Februari. "Sebelum parade lampion ini, anak-anak juga belajar makan dengan memakai sumpit. Banyak siswa kesulitan karena belum biasa," tuturnya.

17 February 2015

Cik Maya Pantang BB - Rabu Abu

Tidak terasa sudah Rabu Abu, 17 Februari 2015. Awal masa pantang dan puasa selama 40 hari bagi umat Katolik. "Saya pantang rokok selama 40 hari. Kamu pantang apa?" tanya Koh Ricky di Jenggolo, Sidoarjo.

Gak nyangka tenglang yang satu ini Katolik beneran. Selama ini saya mengira di bukan nasrani, apalagi Katolik. Soalnya omongan-omongannya tak pernah menyinggung urusan gerejawi. Kok tiba-tiba ngomong Rabu Abu. Benar-benar kejutan.

Sebelumnya Cik Maya, juga Tionghoa Surabaya, bikin pengumuman di status BB-nya. "BB off forever," tulisnya. Aneh, bos Jejak Petjinan ini kok aneh. Ada apa? Saya pun kirim SMS bertanya soal ini.

Paulina Mayasari menjawab, "Ini kan mau pantang, Rabu Abu, kepengin off. Sampai Paskah!"

Kok gitu sih? Lalu diskusi-diskusi komunitas Petjinan bagaimana? Saya juga mau off BB tapi dipakai diskusi kerjaan. Sulit pantang BB! Kata saya di SMS lanjutan.

"Saya juga pake untuk kerjaan. Tapi sejauh ini kayaknya BB lebih banyak buang waktu saya daripada benar-benar berguna. Jadi biar ini jadi percobaan juga. Lagian ada email dll," kata kawan yang ngajar di UK Petra itu.

Wah, luar biasa si Maya ini. Gak nyangka kalau dia ini Katolik dan punya pemahaman tentang pantang, prapaskah, seperti ini. Baru kali ini saya dengar ada orang Katolik pantang BB. Yang paling umum itu pantang rokok (Ricky) atau kopi (saya). Atau pantang TV dan hiburan. Duit untuk rokok, kopi, hiburan disisihkan untuk APP (aksi puasa pembangunan).

Kok Maya pantang BB, telepon pintar yang makin sulit dilepaskan dari dunia kerja? Ya, ini pilihan Maya. BB ada gunanya, ada main-mainnya, iseng, dsb. Selama ini BB hanya buang-buang waktu, kata Maya.

Begitulah, pantang dan puasa selalu menyesuaikan perkembangan zaman. Para penyusun buku katekese tempo doeloe tentu tak pernah membayangkan bahwa suatu ketika ada masa di mana manusia begitu tergantung pada gawai (gadget) macam BB dan sejenisnya.

Di bangku SD di Lembata, NTT, saya masih ingat pelajaran agama Katolik tentang 5 perintah gereja. "Jangan makan daging pada hari pantang!" Lha, wong kampung tidak pernah makan daging kok disuruh tidak makan daging? Rumusan ini mungkin hanya cocok untuk orang Katolik di Eropa atau Amerika yang konsumsi dagingnya tinggi.

Apa pun pilihan kita, selamat memasuki masa prapaskah! Berkah Dalem!

16 February 2015

Mata Ganti Mata - Eksekusi Mati ala Indonesia

Syukurlah, pemerintah Australia, yang didukung rakyatnya, memprotes keras eksekusi mati warga negaranya di Indonesia. Syukurlah, menlu Australia bicara sangat keras plus pakai ancaman segala. Syukurlah, PBB juga dengan tegas mengirim pesan kepada Indonesia bahwa hukuman mati, eksekusi manusia, apa pun alasannya, sudah lama ditolak di banyak negara.

Sudah lama hukuman mati ini ditolak di mana-mana. Di Indonesia sendiri pun banyak orang yang menentang. Termasuk Komnas HAM, komisi bikinan pemerintah untuk mengurus hak asasi manusia (HAM). Komnas HAM sudah berkali-kali meminta pemerintah menghentikan hukuman mati. Tapi berkali-kali pula ditolak.

Kita sudah hafal alasan pemerintah Indonesia, khususnya Jokowi-JK, menerapkan hukuman mati di Indonesia. Agar ada efek jera! Agar penjahat kapok! Alasan klise ini juga dipakai di negara-negara lain yang kini menolak hukuman mati. Tapi harus diakui bahwa sampai sekarang mayoritas mutlak orang Indonesia sangat pro eksekusi mati.

Saya ikut barisan yang menolak hukuman mati! Saya ikut gerakan Pro Life yang membela kehidupan. Termasuk jabang-jabang bayi yang tidak dikehendaki kelahirannya oleh ibunya. Lha, manusia-manusia yang belum lahir saja kita bela, apalagi manusia-manusia dewasa. Mencabut nyawa manusia, apa pun alasannya, termasuk euthanasia, harus ditolak.

Karena itu, saya gembira melihat pemerintah dan rakyat Australia sangat keras menentang hukuman mati. Saya juga gembira PBB juga tegas mengingatkan Indonesia akan betapa berharganya nyawa manusia. Termasuk manusia-manusia yang dulunya penjahat besar, bandar narkoba, teroris, dan sebagainya.

Prinsip "mata ganti mata, gigi ganti gigi" itu sudah lama tidak berlaku. Tapi rupanya Indonesia masih menganut prinsip hukum besi ini, mata ganti mata, bahkan dengan bunganya sekalian. Pemerintah Indonesia malah bangga karena menunjukkan kepada dunia bisa sangat tegas terhadap penjahat-penjahat narkoba.

Biarin aja Australia protes. Ini kan urusan hukum dan kedaulatan Indonesia. Ngapain PBB ikut protes, begitu kira-kira suara yang terdengar di televisi. Jaksa Agung HM Prasetyo pun malah menambah terdakwa yang akan dieksekusi mati. Kalau sebelumnya enam, sebentar lagi bisa 10 atau lebih.

Saya yakin permintaan Australia, PBB, atau negara mana pun tak akan mengubah posisi Indonesia. Pokoke ditembak mati, titik! Bandit-bandit narkoba kudu modar, titik! (Tapi koruptor kok ora dipateni!) Pokoke Indonesia bebas nembaki wong-wong jahat yang sudah divonis dan berkekuatan hukum tetap!

Nasi sudah jadi bubur. Sebelumnya pemerintaan Paus Benediktus XVI di Vatikan tentang pentingnya pengampunan terhadap terdakwa yang akan dieksekusi mati pun ditolak mentah-mentah. Bahkan dijadikan bahan guyonan. Bahkan justru jadi momentum untuk mempercepat eksekusi mati Tibo dkk di Poso beberapa tahun lalu.

Ya, sudahlah, biarkan Presiden Jokowi melakukan apa saja yang menurutnya terbaik. Bukankah itu hak prerogatif presiden? Anehnya, Jokowi sangat berani memutuskan untuk mencabut nyawa terpidana mati, tapi gak wani menetapkan kapolri. Membiarkan negara ramai dengan perdebatan KPK vs Polri yang gak ada juntrungannya.

Ke depan, setelah rangkaian eksekusi mati ini, Indonesia tak punya hak lagi untuk memperjuangkan warga negara Indonesia di luar negeri (TKI) yang dihukum mati. Baik di Arab Saudi, Malaysia, Taiwan, Hongkong, dan sebagainya. Negara tak perlu lagi membayar diyat dsb demi menyelamatkan nyawa manusia Indonesia di luar negeri. Sebab, kebijakan mata ganti mata gigi ganti gigi (plus bunganya) sudah dipilih Jokowi!