09 February 2016

Kitab suci dalam genggaman

Akhir pekan kemarin saya menghadiri akad nikah seorang teman kantor di musala di Sidoarjo. Sudah tiga tahunan saya tidak melihat langsung akad nikah islami. Biasanya langsung ke resepsi di gedung atau rumah.

Ternyata lebih menarik dan berkesan menghadiri ritual keagamaan daripada pesta alias resepsi. Suasananya khusyuk penuh doa. Kita juga bisa lebih dekat dengan keluarga besar sang mempelai.

Seperti biasa, sebelum akad nikah, jamaah menyimak pembacaan ayat suci Alquran. Tidak panjang. Nah, yang bikin saya kaget, sang qori tidak membawa buku cetak seperti biasanya. Karena sudah hafal? Bukan. Mas 40an tahun itu merogoh ponsel Samsung di sakunya.

Dan... dia mulai melantunkan ayat suci sambil menatap layar HP. Suaranya merdu enak didengar. Selesai baca, HP dikantongi lagi. Menarik banget buat saya yang baru sekali ini melihat pengajian pakai Quran digital. Di masjid pula.

Kalau melihat teman-teman menyetel pengajian Quran via HP sih biasa. Dari dulu. Tapi yang kemarin ini bagi saya sangat menarik karena acaranya sangat resmi di masjid nan bagus itu.

Di lingkungan gereja Katolik malah tidak pernah lihat romo-romo menggunakan e-Bible saat memimpin ekaristi atau upacara pelepasan jenazah, doa lingkungan dsb. Padahal Alkitab digital lebih dulu hadir di jagat internet ketimbang kitab suci agama-agama lain. Alkitab berbahasa Indonesia juga sudah muncul tahun 1990an ketika pengguna internet masih sangat terbatas.

Saya sendiri sudah lama membaca Alkitab via internet. Lebih tepatnya bacaan misa harian berbahasa Inggris yang disediakan banyak situs. Mengapa bahasa Inggris? Ya, sekalian belajar lebih akrab dengan bahasa internasional itu.

Saya tentu tidak membaca versi King James yang kata-katanya super sulit untuk orang Indonesia - termasuk guru english itu. Saya memilih versi bahasa Inggris yang sederhana. Versi untuk non English speaking nation macam kita di Indonesia. Itu sering kita temukan kata-kata sulit.

Membaca Alkitab berbahasa Inggris itu jauh lebih enak ketimbang membaca majalah Time atau Newsweek. Mengapa? Kata-kata sulit bisa kita tebak dengan benar. Tidak perlu buka kamus. Bukankah kita sudah biasa membaca Alkitab bahasa Indonesia selama bertahun-tahun?

Ini dia kutipan bacaan Injil hari ini yang baru saya renungkan:

Gospel of Jesus Christ according to Saint Mark 7:1-13.

When the Pharisees with some scribes who had come from Jerusalem gathered around Jesus,
they observed that some of his disciples ate their meals with unclean, that is, unwashed, hands.

(For the Pharisees and, in fact, all Jews, do not eat without carefully washing their hands, keeping the tradition of the elders.
And on coming from the marketplace they do not eat without purifying themselves. And there are many other things that they have traditionally observed, the purification of cups and jugs and kettles and beds.)

Begitulah. Internet, gadget, ponsel dan aneka produk IT di satu sisi sering dikecam karena melena orang, bikin anak muda kecanduan, hura-hura, tapi di sisi lain manfaatnya luar biasa di bidang dakwah atau keagamaan.

Kini firman Tuhan ada di genggaman kita. Di kantong kita. Selamat membaca!

08 February 2016

Ngobrol di belakang panggung dangdut

Sudah lama saya tidak ngurusin dangdut. Apalagi nongkrong di belakang panggung. Melihat persiapan penyanyi sebelum tampil dengan goyang dan senyum menawan.

Betapa bedanya panggung depan dan panggung belakang. Di depan kita melihat semua yang indah permai. Cakep, genit, merdu, goyang yang hot yang bikin beberapa penonton begitu mudah naik ngawur. Merasa sudah memiliki biduanita meski cuma lima menit.

Di belakang, backdrop, si artis kembali jadi manusia biasa. Grogi, sibuk menutup jerawat, minum obat, air putih dsb. Sang penyanyi  (pasti wanita karena sudah lama pria tidak laku di dangdut koplo) juga curhat macam-macam. Tentang order yang sepi, kurang saweran, konflik dengan teman sesama biduan dsb.

La kok cuma segini? Biduanita lokal itu sambat karena jatahnya terlalu sedikit. Padahal dia merasa sudah kerja keras, mandi keringat, bikin penonton heboh.

Disyukuri ajalah. Temanku malah gak tau manggung. Gak payu, kata saya sedikit berbohong. Teman mana yang penyanyi dangdut? Hehehe....

Keringat masih basah di wajah sang nona yang tidak terlalu manis. Sibuklah dia bercermin. Oles lagi bedak. Minyak wangi. "Aku nyanyi dulu ya," katanya.

Orkes mulai memainkan intro lagu dangdut lawas Terajana ciptaan Rhoma Irama. Yang minta pejabat penting di kotaku. "... iramanya melayu dubai sedap sekali....."

Malamnya sang biduanita ngamen di dua tempat. Malam tahun baru Imlek. Sawerannya buanyak ya? "Waduh, tahun ini seret," katanya.

Selamat kerja cari duit di panggung dangdut. Semoga tahun monyet api membawa rezeki berlimpah.

30 January 2016

Bandara Bawean menjanjikan harapan

Sabtu 30 Januari 2016, Lapangan Terbang Harun Tahir, Bawaan Gresik, diresmikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Inilah momentum bersejarah bagi rakyat Bawean yang sejak Indonesia merdeka terisolasi dari Jawa. Meskipun masuk Kabupaten Gresik, tetangga terdekat Kota Surabaya, Bawean terkesan seperti negeri yang jauh di Maluku atau Papua atau Natuna.

Selama ini warga Bawaan hanya dilayani kapal laut yang jumlahnya terbatas. Butuh waktu empat jam bahkan lebih. Itu pun tak selalu ada. Orang Bawaan sering terkatung-katung di Gresik karena tak ada kapal yang berani berlayar. Ombak kelewat besar. Bahaya!Maka beroperasinya bandara kecil ini layak disyukuri. Surabaya ke Bawean cukup 40 menit. Tarifnya pun lumayan murah karena disubsidi. Pejabat Gresik pun bisa blusukan ke sana dengan mudah.

Sebagai putra NTT, yang hampir setiap kabupaten punya bandara kecil, sejak lama saya mempertanyakan keanehan Jawa Timur. Provinsi kaya dengan 45 juta penduduk. Dengan pulau-pulau terpencil cukup banyak macam Bawean dan pulau-pulau di Sumenep Madura. Mengapa tidak dari dulu bikin bandara perintis? Mengapa tidak pernah dipikirkan gubernur dan parlemen? Mengapa tunggu tahun 2015-2026, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, baru bikin bandara?

Berapa sih biaya pembangunan bandara kecil? Pasti jauh lebih murah ketimbang biaya ngelencer, studi banding, atau jalan-jalan pejabat dan keluarganya. Tapi mengapa mengapa mengapa.....?

Pulau Bawean punya dua kecamatan. Statusnya bukan kabupaten sendiri. Sejak dulu orang Bawean lebih banyak merantau ke Malaysia dan Singapura sehingga jarang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan publik di pemerintahan dan dewan. Mereka seperti orang Tionghoa yang apolitis. Yang penting bisa kerja di luar negeri, bisa mudik lebaran, dsb.

Inilah bedanya Bawean dan Kepulauan Sumenep di Jatim dengan Alor, Lembata, Larantuka, Labuanbajo, Rote, Sumba dsb di NTT. Tempat-tempat di NTT ini sejak dulu sudah jadi kabupaten sendiri. Lembata meskipun belakangan baru jadi kabupaten mandiri (lepas dari Flores Timur), tapi sejak dulu sudah punya embrio sebagai daerah otonom.

Ketika pemerintah pusat membuka penerbangan perintis pada 1970an dan 1980an, kabupaten-kabupaten di NTT ini sangat antusias. Siapa yang tidak senang melihat kapal terbang? Meskipun kapal terbang waktu itu TO bekas milik Merpati yang suaranya sangat bising itu. Meskipun tidak ada penerbangan berjadwal. Meskipun lapangan terbang itu sering jadi tempat merumput kambing dan sapi karena nganggur bertahun-tahun.

Nah, ketika masuk reformasi, deregulasi bisnis penerbangan, NTT boleh dibilang paling siap. Bandara-bandara kecil yang jumlahnya 15 atau 20 ini tinggal dibenahi sedikit saja. Landas pacu diperbaiki dan diperpanjang. Lalu maskapai-maskapai baru macam Susi Air dan Trans Nusa pun mengisi peluang bisnis pesawat komuter jarak pendek itu.

Susi Air mengandalkan pesawat dengan 14 penumpang (termasuk 2 awak), sementara Trans Nusa yang milik pengusaha Tionghoa NTT menyediakan pesawat yang lebih besar. Maka bisnis penerbangan skala kecil di NTT tumbuh sangat pesat. Saat musim libur akhir tahun, kita tak akan dapat tiket jika tidak booking jauh hari sebelumnya.

Sebaliknya di Jatim, yang dikuasai peradaban darat, sama sekali tidak tertarik mengembangkan bandara di kawasan terpencil atau kota yang terlalu jauh dari Surabaya. Buat apa bandara kalau kita bisa naik mobil? Bukankah pejabat-pejabat itu selalu dikawal tim khusus?

Syukurlah, beberapa tahun lalu mulai ada kesadaran akan pentingnya bandara-bandara kecil. Dibangunlah bandara di Sumenep, Jember, disusul Banyuwangi. Bandara militer di Malang, Lanud Abdulrachman Saleh, pun mulai dikomersialkan. Kemudian mulai digagas bandara di Bawean yang akhirnya diresmikan hari ini.

Belajar dari jatuh bangun belasan bandara perintis di NTT, Bandara Harun Tahir di Bawean ini punya nilai strategis dan ekonomis yang luar biasa. Mungkin di tahun-tahun awal perusahaan penerbangan Airfast belum bisa laba. Apalagi jadwal rutinnya cuma dua kali seminggu. Mungkin maskapai memilih tarik diri ketika tidak mencapai skala keekonomian.

Tidak apa-apa. Biarkan saja bandara itu ditumbuhi rumput liar karena tak ada penerbangan. Jangan pernah diokupasi untuk pembangunan perumahan atau peruntukan lain. Percayalah, seperti di NTT, suatu ketika bandara perintis itu akan menjadi bandara komersial yang sangat efektif ketika iklim ekonominya membaik.

Dan, jangan lupa, Bawean sebagai pulau eksotis senantiasa memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional. Semoga Lapter Harun Tahir ini membawa kemaslahatan bagi saudara-saudari kita di Pulau Bawean!

Hilangnya tulisan tangan

Tulisan tangan bakal hilang? Bisa jadi. Koran New York Post kemarin menulis: Many NYC students so tech-oriented they can't even sign their own names."

Para siswa di New York saking gandrung gawai, teknologi, tak punya waktu lagi untuk belajar menulis tangan. Mereka sih tetap menulis tapi pakai komputer, ponsel dan aneka gadget lain. Sampai menulis nama sendiri pakai bolpoin, pensil, pulpen dsb tidak bisa.

Kutipan selanjutnya :

Even the 11-year-old daughter of veteran Harlem legislator Herman "Denny" Farrell doesn't know how to sign her name.

"And she's smarter than me," Farrell said of his daughter, Prince, who attends a private school in Harlem. "They don't teach it. I'm going to go home now and teach her handwriting."

Hihihi.... Lucu juga berita dari Amerika ini. Anak-anak itu sejak bayi dididik dengan canggih. Langsung pakai komputer untuk mengenal ABC, tanda baca dsb. Mereka pun jadi lebih cerdas ketimbang ibu bapak, apalagi kakek nenek yang mengenal komputer secara bertahap. Kelemahan mereka ya satu itu: tidak bisa menulis tangan, hand writing.

Tentu saja kasus di Amerika ini sangat khusus. Tapi bisa jadi akan menjadi tren dalam sepuluh tahun atau 30 tahun ke depan. Di Indonesia pun sudah lama mahasiswa mencatat pakai laptop atau tablet. Lebih cepat, efisien dan pasti lebih mudah dibaca. Tulisan tangan anak sekarang jangan disamakan dengan tulisan miring oma opa yang artistik itu.

Hilangnya kemampuan menulis tangan ini sejatinya sudah terjadi di bahasa Mandarin. Khususnya di kalangan orang asing macam kita yang baru ingin tahu Zhongwen. Betapa sulitnya kalau harus menggores aksara Tionghoa itu. Apalagi yang tradisional. Aksara sederhana versi Beijing pun sulitnya minta ampun.

Tapi di komputer atau ponsel kita bisa dengan mudah memilih karakter-karakter yang ditawarkan. Saya sendiri mengenal kata-kata umum seperti wo hen hao... ni hao ma... nian gao... yinni ren... tapi sama sekali tidak bisa menulis hanzhi secara manual.

Maka bukan tidak mungkin sekian puluh tahun ke depan hand writing hanya sekadar jadi catatan sejarah peradaban manusia.




Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Uang kecil tidak laku

Uang kecil Rp 100 dan Rp 200 sudah tidak laku? Gejala itu sudah lama terjadi di banyak tempat. Bahkan, uang Rp 500 pun sering dianggap tak ada gunanya lagi karena tidak bisa dipakai untuk membeli camilan yang paling sederhana.

Jajan pasar di Surabaya yang Rp 1000 pun sudah jarang. Maka surat kabar yang dulu mematok harga Rp 1000 kini dinaikkan 100 persen jadi Rp 2000. Para pengemis dan gelandangan pun akan uring-uringan kalau dikasih uang Rp 500.

Silakan Anda memberi koin Rp 100 kepada pengemis di Surabaya. Bisa dipastikan anda akan dimaki dengan "juancuuk". Tukang parkir di Sidoarjo saya lihat sudah lama menolak uang Rp 1000. "Sekarang seribu gak laku Cak," kata jukir di tengah kota Sidoarjo. Aneh, juru parkir liar kok malah memalak masyarakat dan jumlahnya naik makin lama makin banyak.

Ghifar Maulana, Jakarta Utara, menulis surat pembaca di Kompas tentang uang kecil yang tidak laku di Jakarta. Koin 200 ditolak karena dianggap tidak laku. "Ini berlaku di warung, pasar tradisional, khususnya di kawasan Sunter," tulis Ghifar.

Ada apa dengan rupiah, mata uang kita? Bukankah koin-koin itu kalau dikumpulkan jadi satu tas atau karung nominalnya cukup banyak? Mengapa uang kecil ditolak di mana-mana? Bahkan toko-toko menggantinya dengan permen?

Kalau dipikir-pikir, rakyat kecil yang menolak uang kecil juga tidak salah. Mereka tahu persis betapa hancurnya nilai rupiah dalam 10 tahun belakangan ini. Uang Rp 100.000 sudah lama kehilangan arti sejak kursnya jatuh di atas Rp 13.000 per USD. Kalau sampai tembus Rp 15.000 ya tambah hancur.

Pemerintah sebetulnya sangat sadar akan hancurnya nilai rupiah ini. Di era Presiden SBY sempat ada usulan untuk melakukan redenominasi mata uang. Tiga nol dicoret sehingga rupiah kelihatan "kuat" meskipun itu cuma psikologis saja. Wacana terus bergulir tapi pemerintah ragu-ragu menerapkannya.

Tapi redenominasi tak akan membuat rupiah jadi perkasa. Ia cuma menghilangkan nol yang banyak itu. Pemerintah yang punya menteri-menteri ekonomi yag hebat tentu lebih tahu caranya memperkuat ekonomi kita. Kalau gak tau juga ya buat apa ada pemerintah?

28 January 2016

Trotoar Jadi Pedestrian, Dirigen Jadi Konduktor

Makin banyak kata-kata lama yang menghilang dari media massa (sosial) sejak awal 2000. Masyarakat cenderung lebih suka serapan dari bahasa Inggris. Atau menggunakan bahasa Indonesia meskipun sangat mudah menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Kata KARCIS (dari bahasa Belanda) misalnya sudah jarang kita dengar. Orang kota di Jawa Timur lebih suka pakai TIKET. Kata MODE pun dirasa sudah ketinggalan zaman. Media massa lebih suka pakai FASHION atau dijawakan menjadi FESYEN.

Kata DIRIGEN pun mulai hilang diganti KONDUKTOR atau CONDUCTOR. Istilah dirigen biasanya dipakai para pelatih atau guru paduan suara yang senior. Adik-adik kita yang lahir 1990an ke atas bahkan asing dengan DIRIGEN. "Oh, dirigen itu ternyata conductor," ujar seorang mahasiswa anggota paduan suara.

Paduan suara di gereja, khususnya Katolik, khususnya di NTT, selalu disebut KOR (dari bahasa Belanda KOOR). Tapi belakangan ini kata KOR, yang sudah dibakukan Pusat Musik Liturgi (Katolik) sejak awal 1970an, makin tersisih. Diganti CHOIR. Makanya Paduan Suara Santo Paulus sekarang diganti St Paul Choir.
Ada satu kata lagi yang paling sering dipakai di koran-koran di Jawa Timur untuk menggantikan TROTOAR. Yakni PEDESTRIAN. Istilah trotoar sudah lama hilang dari masyarakat. Pedestrian itu dianggap sinonim dengan trotoar. "Coba kamu cek kamus dulu," ujar saya kepada seorang mahasiswa komunikasi di Sidoarjo yang magang wartawan.

Anak muda itu ngotot menyebut pedestrian sebagai tempat pejalan kaki. Sama dengan arti trotoar. "Apa gak salah nih?"

Coba kita simak kamus di internet atau Wikipedia. Penjelasan ensiklopedia ini: "A PEDESTRIAN is a person traveling on foot, whether walking or running."

Pedestrian itu orang yang bepergian dengan jalan kaki. Bisa jalan kaki, bisa berlari. Jelas bahwa pedestrian itu manusia yang melintas di trotoar. Keliru kalau pedestrian disamakan dengan trotoar. Kalau ngotot menggunakan pedestrian, yang dianggap lebih modern, mungkin lebih baik ditambahi JALUR. Menjadi JALUR PEDESTRIAN.

Anehnya, salah kaprah pedestrian, yang belum terlalu lama ini, merembet pula ke kalangan pejabat. Bapak kepala dinas yang satu itu sangat sering menyebut pedestrian sebagai ganti trotoar. "Bulan ini kami akan memperbaiki semua pedesrian di dalam kota," kata si pejabat.
Anehnya, koran-koran pun mengutip apa adanya omongan pejabat itu. Tidak ditambahi "jalur" agar tidak melenceng jauh dari bahasa Inggris.

Bahasa Arab yang bikin masalah

Ciputra Alim, pengusaha Tionghoa Sidoarjo, tak menyangka harus berurusan dengan polisi. Front Pembela Islam (FPI) pun sudah mengadukan dirinya ke Polda Jatim. Gara-gara panci yang diproduksi di Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, bertuliskan ALHAMDU ALLAH (maksudnya sih ALHAMDULILLAH).

Ciputra Alim tidak menyangka label di panci yang dulu bermerek Paramount itu bikin geger seluruh Jawa Timur. Sebab, aksara Arab itu salah eja dan -- ini yang gawat -- dianggap melecehkan agama Islam. Waduh, waduh... waduh! Kalau FPI sudah turun tangan bisa berabe!

"Saya salah. Saya minta maaf kepada semua umat Islam," kata Ciputra Alim pada hari Rabu (28/1/2016) di Sidoarjo.

Pengusaha yang hemat bicara itu bilang label ALHAMDULILLAH justru diusulkan para pekerjanya yang hampir semuanya muslim. Mereka bersyukur bisa bekerja lagi setelah pabrik panci itu bangkrut dan tutup selama 12 tahun. Maka mereka bersyukur kepada Tuhan dengan memasang label bahasa Arab yang disoal itu.

Manusia memang sudah selayaknya mengucap syukur kepada Tuhan. Syukur terus-menerus. Alhamdulillah tak putus-putus! Haleluya berkali-kali! Tapi kalau pasang label di panci, ejaan Arabnya, meleset pula ya beginilah akibatnya. Ciputra harus berurusan dengan polisi. Digertak FPI. Dipanggil MUI Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Jember dsb.

Fokus untuk mengurus pabrik panci jadi terbelah. Ribuan panci yang sudah telanjur beredar harus ditarik kembali. Berapa duit yang harus dikeluarkan? Bukan tidak mungkin pabrik yang baru menggeliat itu tidur lagi seperti dulu. Dan ujung-ujungnya karyawan diputus kontrak kerja.

Sebelum kasus panci di Sidoarjo, ada kasus sandal di Gresik, yang juga sangat heboh di Jatim karena dianggap melecehkan agama. Kasus yang muncul hanya karena kecerobohan pengusaha. Ketidaktahuan Ciputra Alim bahwa menempelkan aksara Arab di tempat sembarangan merupakan masalah besar di Indonesia.

Belum lama ini Agnes Monica pun dipermasalahkan karena busana panggungnya ada aksara Arab. Heboh di internet karena dianggap melecehkan agama Islam. Padahal, tulisan Arab itu artinya persatuan. Saya pun geleng-geleng kepala. Isunya tak sampai meluas ke mana-mana.

Agnes sih tidak salah. Tapi tidak sensitif. Bahwa di Indonesia tulisan Arab (hampir) selalu diidentikkan dengan Islam. Kalau tidak hati-hati, bisa berurusan dengan FPI dan ormas-ormas sejenis.

Saya sendiri pernah diberi dua kaos oblong dari teman aktivis gereja. Kaos itu ditulisi doa Bapa Kami dan Salam Maria dalam bahasa dan aksara Arab. Saya terima kaosnya tapi tidak pernah saya pakai. Sebab bisa menimbulkan salah pesepsi ketika dibaca orang-orang yang paham bahasa Arab.

Lha, doanya nasrani kok pakai bahasa Arab? Jangan-jangan siasat untuk kristenisasi? Maka kaos itu mau saya bakar. Tapi saya berubah pikiran dan kasihkan ke teman nasrani yang ndableg. Sebelumnya saya berpesan bahwa aksara Arab itu doa Bapa Kami dan Salam Maria. Hehehe....

Berbeda dengan bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Jepang, Mandarin, Jawa, Sunda, dsb, bahasa Arab ini punya sensitivitas keislaman yang luar biasa tinggi di Indonesia. Bahasa Arab dianggap identik dengan Islam. Belajar bahasa Arab biasanya satu paket dengan belajar mengaji kitab suci Alquran.

Saya hampir tidak pernah melihat kursus bahasa Arab yang mengajarkan bahasa percakapan sehari-hari seperti "saya makan nasi", "kita harus menang", "saya sedang bekerja".. dsb dsb. Karena itu, sangat jarang orang kristiani di Indonesia yang belajar bahasa Arab. Kecuali para teolog peminat bahasa macam Pendeta Bambang dari Ortodoks Siria, Yapi Tambayong, atau Romo Pidyarto. Beda dengan kursus bahasa Mandarin, Jepang, Prancis, Belanda, atau Jerman yang peminatnya sangat banyak di Surabaya.

Maka, suatu ketika ratusan jemaat sebuah gereja di Surabaya yang mengikuti seminar terheran-heran mendengar orang Kristen asal Mesir dan Palestina ternyata sangat fasih berbahasa Arab. Jauh lebih fasih ketimbang ulama Indonesia sekalipun. "Saya kira bahasa Arab itu hanya boleh dipakai oleh orang Islam saja," ujar seorang ibu dengan guyonan khasnya.

Hehehe....

22 January 2016

Bahasa Indonesia yang makin keminggris

Makin lama gaya bahasa orang Indonesia makin nginggris. Bahasa Indonesia yang sedikit-sedikit dicampur ungkapan bahasa Inggris sebagai bumbu atau penyedap. Sekaligus ingin menunjukkan bahwa orangnya bisa ber-English ria.

Fenomena nginggris ini sangat terasa sejak 20 tahun terakhir. Dulu, tahun 1950an hingga awal 1970an gaya bahasa rakyat elite Indonesia kemelondo: sedikit-sedikit dioplos bahasa Belanda. Lihatlah kalimat-kalimat Bung Karno dan menteri-menteri awal Orde Baru yang selalu ada oplosan ungkapan berbahasa Belanda. Setelah Belanda pergi, kita tetap saja berkiblat ke Barat, tapi kali ini Londo-nya ganti Amerika.

Mengapa penyakit NGINGGRIS dan KEMELONDO sulit dihapus di Indonesia?

Sudah banyak kajian yang dibuat doktor-doktor bahasa, munsyi, pusat bahasa, atau cuma obrolan kelas warung kopi. Mulai dari sejarah sebagai bangsa jajahan, mental rendah diri kas Inlander, snobisme, hingga mode sesaat. Kalau gak nginggris ketinggalan zaman. Kalau gak kemelondo dianggap bodoh. Orang yang berbahasa daerah malah jadi bahan guyonan di sinetron. Bahasanya para pembantu yang status sosialnya sangat rendah.

Pagi ini saya membaca ulasan bung Joss Wibisono di media sosial. Mantan redaktur Radio Nederland Seksi Indonesia ini mengutip kajian mendiang Ben Anderson PhD, indonesianis asal Amerika Serikat, yang belum lama ini jasadnya dikremasi di Kembang Kuning, Surabaya. Ben mengingatkan bahwa pola penjajahan Belanda di Hindia Belanda itu paling unik di dunia. Beda dengan kolonialisme di tempat-tempat lain.

Selama 200 tahun, Ben Anderson bilang, Hindia (Indonesia) diperintah oleh sebuah perusahaan dagang yang bernama VOC. Bukan pemerintahan nasional. Dan VOC yang tidak mau buang-buang duit untuk menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa jajahannya. VOC ambil jalan pintas dengan mengambil bahasa setempat (bahasa Melayu) sebagai bahasa pemerintahan. Bahasa Melayu Pasar sudah lama jadi lingua ranca di Nusantara.

"Inilah satu2nja djadjahan di dunia jang saya tahu jang diperintah terutama bukan oleh bahasa Eropa. Ini menundjukkan keanehannja," kata Ben Anderson yang diterjemahkan Joss Wibisono.

Opa Ben dan Joss dikenal sebagai penganjur utama ejaan Suwandi dan menolak EYD bikinan rezim Orde Baru. Mendiang Ben sangat fasih berbicara dalam bahasa Melayu pasar ala Tionghoa atau rakyat di Indonesia Timur macam Maluku, Papua, NTT, atau Manado.

Ketika pemerintah Kerajaan Belanda mengambil alih Nusantara dari tangan VOC pada abad ke-19, negara ini sangat miskin untuk standar Eropa waktu itu. Tingkat harapan hidup orang Belanda tahun 1860 sama dengan wong cilik di Nusantara. Belanda tidak punya uang untuk program menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi di Nusantara. Apalagi Nusantara ini sangat luas.

Pemerintah Belanda kemudian membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Belanda pada awal abad ke-20. Tapi bahasa Melayu sudah digunakan selama 200 tahun sebagai bahasa pergaulan di Nusantara. Itu berarti orang Indonesia tidak perlu berjuang untuk membuat bahasa nasional sebagai antitesis bahasa penjajah. Lantaran waktu itu bahasa Melaju memang tidak disaingin oleh bahasa Londo.

Joss Wibisono menyimpulkan: "Artinja, kita akan gampang melepas bahasa kita dan menggantinja dengan bahasa laen, seperti sikap keminggris jang belakangan ini begitu meluas."

15 January 2016

Orang lama ingin junta militer

Sambil menonton liputan teror bom di Jakarta, seorang bapak 60an tahun bikin analisis panjang. Analisisnya diamini tiga bapak lain yang sama-sama sepuh. Suasana di depot mi dan es degan di dekat kampus UPN Surabaya itu pun makin meriah di siang bolong.

"Sudahlah, dari dulu saya sudah bilang belum waktunya sipil jadi presiden. Paling aman itu tentara," kata bapak yang tinggal di kawasan Waru Sidoarjo.

"Dulu, zaman SBY, gak ada bom kayak gini," tambahnya.

"Siapa bilang gak ada bom?" saya menyela. "Zaman SBY, 2004-2014, itu juga banyak kejadian bom. Silakan diingat baik-baik."

Bapak berkacamata itu terdiam sesaat. Kelihatannya tidak suka argumentasinya saya mentahkan. "Paling aman itu zaman Pak Harto," kata saya menghibur beliau. Tidak enak juga menyerang orang tua yang sedang semangat-semangatnya menyerang kepemimpinan sipil.

"Oh iya, zaman Pak Harto itu paling aman dan damai. Gak ada bom, cari uang gampang, bensin murah, gak seperti sekarang. Gak ada bom-boman dan kekacauan kayak di TV itu," ujarnya bersemangat.

Bapak-bapak yang lain pun mengiyakan. Mengganggap militer paling cocok memimpin Indonesia. Pak Harto dinilai paling hebat karena bisa menciptakan stabilitas ekonomi, keamanan, dsb.

Sebetulnya saya ingin menyampaikan pendapat berbeda. Sisi gelap rezim Orde Baru yang otoriter an antidemokrasi itu. Semua bupati, wali kota, gubernur, menteri-menteri dijabat tentara aktif. Tapi situasi di warkop tidak kondusif untuk berdebat.

Di warkop kita harus ikut arus pendapat yang dominan. Melawan pendapat dominan terang-terangan, apalagi tiyang sepuh, orang tua, jelas tidak sopan. Kita bakal menjadi persona non grata alias orang yang tidak disukai. Maka, kita cukup melawan di dalam hati.

Pendapat para tiyang sepuh di Surabaya ini sejatinya masih berkembang di mana-mana. Intinya, sipil belum saatnya jadi kepala negara. Militer yang paling cocok jadi presiden untuk Indonesia yang luas, penduduknya banyak, dan ruwet itu. Sampai kapan?

"Ya, sampai situasinya memungkinan," kata bapak dari Sidoarjo itu. Menurut dia, risikonya terlalu tinggi kalau sipil macam Jokowi yang jadi presiden. Wibawa dan power-nya lemah.

Tentu saja pendapat ini antidemokrasi. Di mana-mana yang namanya junta militer ala Orde Baru tidak bisa dibenarkan. Myanmar pun rupanya mulai kapok diperintah militer. Thailand juga begitu. Kecuali di Korea Utara yang tampaknya masih akan lama prosesnya.

Tapi mengubah mindset atau (istilah Jokowi) revolusi mental niscaya sangat tidak gampang di Indonesia. Jangankan orang-orang awam di warkop, para politisi koalisi merah putih pun menganggap Prabowo lebih layak jadi presiden karena eks militer, mantan danjen kopassus.

Apakah presidennya militer lantas dijamin aman, damai, bebas teror? Nggak juga. Kerusuhan Situbondo dan Tasikmalaya misalnya terjadi pada zaman Pak Harto. Puluhan tempat ibadah dibakar tanpa bisa dicegah oleh polisi dan tentara. Termasuk tempat-tempat ibadah yang dekat dengan kantor polisi dan markas tentara.

Syukurlah, media sosial yang dikuasai anak-anak muda kelahiran di atas 1990 tak ada suara yang menginginkan junta militer berkuasa. Anggap saja suara orang tua di warkop mi ini cuma mimpi di siang bolong.

Iman yang makin lemah

Renungan yang dianjurkan gereja hari ini sangat menggugah di era yang serba heboh ini. Cerita lama tentang warga mengusung orang lumpuh kepada Yesus di Kapernaum. Rumah sesak. Tak ada celah untuk membawa orang itu untuk disembuhkan.

Maka atap pun dijebol. Pasien itu diturunkan dari atas. Sebab mereka sangat percaya akan kuasa Tuhan. Mereka percaya si lumpuh itu pasti tahir. "Dosamu sudah diampuni," kata Yesus. Hadirin terkejut.

"Bangunlah... dan pulangkan ke rumahmu," seru Yesus. Orang itu pun sehat kembali.

Cerita Markus 12,1-12 ini sudah sangat klasik. Lawas poll. Apalagi bagi kami di Flores yang mayoritas katolik. Saking seiringnya dengar dan baca, lama-lama jadi biasa. Kemudian bosan. Malas. Ketika dibahas lagi oleh romo di gereja, kita jadi ngantuk. Walah. .. Sudah tau. Gak menarik.

Iman akan kuasa penyembuhan jadi meredup. Makin tua makin apatis. Makin banyak orang yang tidak ke gereja. Apalagi diajak ikut kegiatan-kegiatan di luar liturgi. "Saya cari uang dulu," kata seorang teman di kampung yang sudah lama absen ekaristi.

Tidak gampang memang menjaga kestabilan iman di kota besar yang sibuk. Tapi tanpa iman, kita akan kehilangan harapan. Iman sekecil biji sesawi pun bisa memindahkan gunung.

Hehehe... Artikelnya kok kayak khotbah? Salam damai!

Mesin ketik tua di pasar loak

Ada mesin ketik tua di lapak pasar loak Pucang Surabaya. Tak ada yang melirik. Sudah dua bulan lebih belum laku. Tapi si penjual tetap saja memajang di lapak baju bekas, baju, elektronik dsb yang serba bekas itu.

Di era digital ini siapa yang peduli mesin ketik lawas? Tak tik tak tik yang bunyinya khas itu? Ketika komputer biasa dan laptop pun mulai ditinggalkan karena dirasa kurang praktis?

Mesin ketik itu rupanya sudah jadi barang antik. Hanya punya nilai buat kolektor dan penggemar peradaban macam bung Leo mantan editor Radio Nederland. Atau penulis Remy Sylado yang masih sangat produktif menulis buku-buku tebal dengan mesin tik lawas.

Saya jadi ingat masa anak-anak di pelosok NTT. SD kami hanya punya satu mesin tik Brother. Mesin tulis itu layaknya barang mewah yang hanya bisa kami lihat dan kagumi. Hanya guru tertentu yang memakai untuk mengetik surat dsb.

Di desa saya cuma ada dua mesin ketik. Satunya lagi milik desa, sumbangan pemerintah karena Golkar menang 100 persen. Betapa bangganya desa kami punya mesin ketik mengingat banyak desa lain di kabupaten Flores Timur saat itu tidak punya.

Wow... betapa hebatnya anak-anak sekarang. Begitu lahir sudah main tablet dan aneka gadget nan canggih. Langsung kenal QWERTY tanpa perlu mengikuti proses yang panjang dan bertahap ala generasi saya.

Sambil berlalu dari lapak loak ini saya terus merenung. Ternyata buku-buku atau naskah yang dihasilkan lewat mesin ketik lawas itu justru jauh lebih bermutu ketimbang buku-buku di era digital. Ini pula yang membuat saya takjub dengan Sukarno, Hatta, Sjahrir, Muhammad Jamin, Tan Malaka, STA, Iwan Simatupang, HB Jason.... dan tentu saja Pramoedya Ananta Tour.

Iklan Lifebuoy tahun 1960an

Usia sabun Lifebouy ternyata sudah tua banget. Dan terkenal sejak dulu. Kemarin saya iseng buka majalah tahun 1960an di perpustakaan milik Oei Hiem Hei di Medokan Ayu Selatan Surabaya. Hehe... ada iklan sabun mandi langganan saya ini satu halaman.

Teknologi percetakan saat itu masih sangat sederhana. Majalah Minggu Pagi terbitan Jogjakarta (grup Kedaulatan Rakyat) yang muat iklan Lifebuoy ini masih hitam putih. Jauh berbeda dari sistem sekarang yang serba komputer dan canggih.

Tapi di balik kesederhanaan itu, saya melihat keindahan di balik iklan sabun mandi ini. Pakai sketsa. Mirip ilustrasi cerpen di koran sekarang. Pesannya juga bisa ditangkap dengan jelas.

Saat ini, era 2000an, kayaknya hampir tidak ada lagi iklan pakai sketsa. Tahun lalu Pertamina menggunakan sketsa untuk iklan sosialisasi BBM bersubsidi. Selain itu hampir tidak ada.

Di era audiovisual kayaknya orang tak lagi percaya pada kekuatan gambar. Apalagi yang hitam putih. Para pelukis yang fokus pada sketsa pun makin sedikit. Kecuali pelukis-pelukis sepuh macam Tedja Suminar di Surabaya yang gambar hitam putihnya dihargai puluhan, bahkan ratusan juta.

14 January 2016

Ketua Gafatar Sidoarjo Jual Rumah lalu Hijrah ke Kalimantan



Lama tak terdengar kabarnya, Ketua Gerakan Fajar Gafatar Sidoarjo Arif Muarifin kini sudah hengkang ke Kalimantan. Bung Arif, sapaan akrabnya, rela menjual rumahnya di Kecamatan Waru, Sidoarjo, untuk bergabung dengan ribuan anggota Gafatar lainnya yang tengah membuka lahan di Kalimantan.

Berikut petikan wawancara Lambertus Hurek dengan Arif Muarifin, yang juga mantan ketua Gafatar Jawa Timur.

Apa saja kegiatan Gafatar Sidoarjo dan Jawa Timur sekarang?


Tidak ada. Gafatar itu sudah membubarkan diri saat kongres pada Agustus 2015
lalu. Maka, otomatis semua kegiatan organisasi seperti bakti sosial,kampung Pancasila, budidaya pertanian juga tidak ada lagi. Saya pun bukan ketua lagi. Wong organisasinya tidak ada.

Mengapa bubar?


Itu keputusan kongres. Alasannya antara lain karena Gafatar tidak kunjung mendapat legalisasi atau pengakuan dari pemerintah. Kegiatan-kegiatan kami juga mulai dicurigai. Padahal yang kami lakukan itu kegiatan sosial untuk masyarakat luas. Akhirnya, kongres sepakat untuk membubarkan Gafatar.

Anda sekarang di mana?


Di Kalimantan.

Kabarnya para pengurus dan anggota Gafatar memutuskan hijrah ke Kalimantan untuk membuat semacam kampung Gafatar?


Tidak begitu. Kami tersebar di mana-mana, membaur bersama masyarakat. Kami di sini (Kalimantan) tidak membawa-bawa bendera Gafatar yang sudah bubar itu.

Investasi apa? Kabarnya Anda sampai menjual rumah untuk membiayai kegiatan Gafatar di Kalimantan?


Tidak benar. Saya menjual rumah (di kawasan Waru) ya untuk pengembangan ekonomi saya sendiri. Secara pribadi saya melihat ada peluang bisnis di Kalimantan. Nggak ada kaitan dengan Gafatar. Tujuan investasi ini ya untuk keluarga saya juga.

Berapa orang eks Gafatar dari Sidoarjo dan Jatim yang sudah hijrah ke Kalimantan?
Wah, saya nggak tahu karena tersebar di mana-mana. Perkiraan saya dari Sidoarjo sekitar 100 keluarga.

Apakah semua pengurus diminta ke Kalimantan?


Nggak juga. Teman-teman memang diajak (ke Kalimantan), tapi sifatnya sukarela. Yang nggak mau ya nggak apa-apa. Jadi, tidak benar tuduhan seakan-akan kami membawa lari orang ke Kalimantan. Memangnya kami ini punya kekuatan apa? Modalnya dari mana? Orang yang ke Kalimantan itu karena kemauannya sendiri. Saya juga tidak dipaksa ke Kalimantan.

Bisnis apa sih di Kalimantan?


Usaha yang ada kaitannya dengan ketahanan dan swasembada pangan. Makanya, butuh lahan yang luas. Di Jawa kan sulit mendapatkan lahan yang luas untuk pertanian. Teman-teman juga masih bisa melakukan kegiatan sosial di sini.

Belakangan muncul tuduhan bahwa kegiatan-kegiatan sosial yang dulu sering diadakan Gafatar itu cuma kedok untuk mencari pengikut dan simpatisan?


Silakan tanya ke masyarakat di kampung-kampung tempat kami baksos dulu. Apa benar kami melakukan hal yang aneh-aneh saat kegiatan sosial. Wong kami cuma mengadakan pengobatan gratis, kerja bakti, bersih-bersih saluran air, penghijauan, dan sebagainya. Kami juga ajak warga untuk mencintai NKRI, dengan deklarasi kampung Pancasila, sosialisasi UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Silakan tanya ke warga
setempat.

Sekarang ada tuduhan bahwa kelompok Gafatar itu memiliki paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran agama Islam? Misalnya tidak wajib salat lima waktu?


Ah, nggak seekstrem itulah. Yang jelas, kami mengikuti ajaran yang bersumber dari Millah Ibrahim baik yang diajarkan Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, maupun Nabi Muhammad SAW. Penjelasan soal keyakinan agama ini nggak bisa dibicarakan sepotong-sepotong lewat telepon. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam.

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Bapak Ahmad Musadek merupakan pemimpin utama Gafatar?


Yang jelas, beliau Ustad Ahmad Musadek itu merupakan sumber inspirasi bagi kami. Semua kegiatan sosial kemasyarakatan dan pengembangan organisasi selama ini terinspirasi oleh beliau. (rek)