25 August 2016

Saatnya bulutangkis Indonesia berjaya lagi

Hegemoni Tiongkok di jagat bulutangkis dunia seperti sudah berakhir. Hasil Olimpiade Rio 2016 kemarin dengan gamblang memperlihatkan perubahan peta badminton dunia. Tiongkok cuma dapat dua medali emas. Tidak lagi memborong 5 emas.

Siapa yang menyangka kalau medali emas tunggal putri direbut Spanyol? Saya bahkan belum pernah melihat wajah Carlina Marin di televisi. Di final si Marin mengalahkan Pusaria Sindhu dari India. Wajahnya seperti apa? Aku juga belum tahu.

Selama bertahun-tahun saya mengira Tiongkok sulit, bahkan hampir mustahil, dikalahkan di tunggal putra dan putri. Pemainnya berlapis-lapis. Semuanya ciamso, ciamik soro, kata orang Tionghoa Surabaya. Permainan Li Xuerui enak ditonton. Tapi di Rio 2016 Nona Li tidak berkutik karena cedera lutut.
Di tunggal putra Tiongkok masih berjaya. Chen Long dapat emas. Tapi Lin Dan sudah pasti pensiun karena usia. Begitu pula Chong Wei jagoan Malaysia saatnya gantung raket karena fisiknya tak sebagus 10 tahun lalu.

Di sisi lain Malaysia mulai muncul bakat-bakat bagus di olahraga kebanggaan orang Indonesia dan Malaysia ini. Bayangkan, Malaysia menempatkan tiga wakil (dari total lima) di partai final olimpiade Rio 2016. Meskipun tak satu pun berbuah emas, kekuatan Malaysia tak bisa diremehkan. Kalau dibina dengan baik, Malaysia akan jadi kekuatan baru.

Indonesia lumayan dapat satu emas dari Tontowi/Liliyana di ganda campuran. Tapi kita belum bisa disebut luar biasa. Pemain-pemain muda sangat banyak. Akhir-akhir ini gairah bermain bulutangkis daerah mulai tumbuh meskipun tidak seheboh era 80an dan 90an. Di Sidoarjo muncul beberapa klub badminton baru yang punya gedung olahraga sendiri.

"Kita investasi untuk mencetak atlet-atlet dunia di masa depan. Insya Allah, beberapa tahun mendatang ada pemain Sidoarjo yang jadi andalan Indonesia," kata HM Thorieq pemilik dan ketua Fifa Badminton Club Sidoarjo kepada saya.

Saya sering diskusi soal bulutangkis dengan Pak Thorieq yang memang gila bulutangkis. Saat ini pemain Fifa Sidoarjo jadi andalan Jawa Timur untuk tunggal putri PON 2016 di Jawa Barat. Ada juga beberapa pemain Sidoarjo yang melejit di sirkuit nasional meskipun belum juara. Syukurlah, Fifa Sidoarjo ini didukung legenda badminton kita, Haryanto Arbi, Icuk Sugiarto, dan Rexy Mainaky.

Saya kira inilah saat terbaik bagi Indonesia untuk mengembalikan kejayaan di cabang bulutangkis. Mumpung Tiongkok lagi goyang. Mumpung Li Yongbo, pelatih nasional Tiongkok, sedang dikecam rakyat negeri panda itu karena dinilai gagal di Rio 2016.

Li Yongbo mengatakan situasi yang dihadapi Tiongkok saat ini sebagai siklus biasa dalam dunia olahraga. "Indonesia dan Denmark juga pernah mengalaminya," kata Li Yongbo seperti dikutip South China Morning Post.

Mudah-mudahan segera muncul bintang-bintang bulutangkis Indonesia yang berjaya dalam lima tahun ke depan. Sebelum pemain-pemain Tiongkok kembali merajalela seperti era Li Yongbo, Yang Yang, Han Aiping... hingga Lin Dan.

Konflik di Universitas Trisakti yang tak kunjung sudah

Miris melihat foto preman-preman yang ditangkap di koran pagi ini. Sebagian besar orang NTT, khususnya Flores. Mereka dicokok polisi karena menyeru kampus Universitas Trisakti. Tentu saja preman-preman itu dibayar sang pemakai jasa.

Yang miris, juga bikin geli, salah seorang preman itu memakai kalung rosario berukuran buesaar sekali. Salibnya pun besar. Mungkin rosario dari kayu cendana. Sang preman berambut keriting itu pakai anting.

Kok bisa begini Bung? Pakai rosario untuk melakukan kejahatan di kampus Trisakti yang terkenal itu? Jangan-jangan kalung rosario itu dijadikan jimat. Biar gak mempan diapa-apakan aparat atau sesama preman. Wah wah...

Serbuan sekitar 50 preman di kampus Trisakti, yang dulu rektornya orang Flores, Prof Dr Thoby Mutis, sejatinya cuma riak-riak kecil dari konflik bertahun-tahun di kampus itu. Konflik 20 tahun lebih antara yayasan dan rektorat. Sudah banyak upaya mediasi tapi hasilnya justru makin parah.

Kedua kubu sama-sama merasa paling benar. Sama-sama saling pecat. Sama-sama melakukan gugatan ke pengadilan tanpa hasil yang menggembirakan. Hebatnya, kampus yang pernah berjaya ini masih diminati mahasiswa.

Konflik semacam ini tak hanya di Trisakti. Di kampus-kampus lain juga ada. Tapi skalanya tidak sehebat di Trisakti yang sudah ibarat kanker kronis. Pemerintah, khususnya kementerian pendidikan tinggi, seharusnya sudah lama mengambil alih persoalan ini.

Misalnya melarang Universitas Trisakti menerima mahasiswa baru. Sampai kedua kubu ini berdamai. Tanpa mahasiswa baru, maka bisnis utama universitas ini akan habis. Mana ada universitas tanpa mahasiswa? Duit untuk membayar dosen dan sebagainya dari mana? Sayang, kementerian pendidikan sepertinya sengaja membiarkan para petinggi Trisakti berkelahi sampai 20an tahun.

Yang juga bikin kita takjub adalah para petinggi Trisakti, yang profesor, doktor, akademisi, itu punya energi berkelahi yang luar biasa. Bertahun-tahun berkonflik tanpa tanda-tanda akan selesai. Lalu kapan bisa bikin penelitian? Menghasilkan karya-karya ilmiah yang bisa dibanggakan?

Sulit dibayangkan para dosen dan mahasiswa Trisakti bisa belajar dengan baik, mengadakan riset ilmiah, asyik di laboratorium, jika setiap saat diancam serbuan preman-preman bayaran. Yang pakai kalung rosario segala.

20 August 2016

Soe Tjen Marching mudik ke Surabaya

Betapa sibuknya teman lama yang satu ini. Mudik ke kampung halaman Surabaya, daerah Putroagung dekat Kenjeran, jadwal Soe Tjen Marching PhD sangat padat. Diskusi di Malang, Surabaya, Jakarta, dan entah di mana lagi.

Topik diskusinya pun sudah pasti berat-berat. Masalah 1965, hak asasi manusia, LGBT, pendidikan, hingga majalah Bhinneka yang isinya unik dan cenderung anti-mainstream itu. Saya pun mampir menemui Soe Tjen di rumahnya yang juga kompleks Sekolah Mandala.

Alumnus Sinlui Surabaya yang mengajar di London Inggris ini senyum merekah. Kelihatan segar meski belum mandi. Tubuhnya lebih gemuk setelah berhasil berjuang melawan kanker. Perutnya pun agak buncit. Beda banget dengan potongannya selama ini.

"Ada makanan Manado... enak lho. Kamu coba ya?" katanya ramah.

Bu Juliana Soesilo, ibunda Soe Tjen, sastrawan dan guru bahasa Mandarin lulusan Fujian Tiongkok, ikut sibuk di dapur. Agar saya bisa mencicipi masakan khas Manado buatan Surabaya itu. Tapi saya sudah kenyang. Habis sarapan di pujasera dekat lapangan bola itu.

"Saya senang banget masakan Manado... tapi dibungkus aja. Soale aku kekenyangan," kata saya. Soe Tjen kaget. Dia sibuk cari wadah untuk masakan Manado yang pancen maknyuss itu.

Soe Tjen dan mamanya plus saya sudah saling mengenal. Karena itu, obrolan di ruang keluarga itu berlangsung gayeng. Topiknya ringan saja. Mulai soal penanganan sampah di Inggris, ongkos orang bule memotong pohon... begitu-begitulah. Tidak ada tema serius seperti tulisan-tulisan Soe Tjen di The Jakarta Post, Tempo, atau media sosial yang berat dan sangat kritis.

Soe Tjen yang terkesan sangar di media massa, pernah diteror ormas radikal, kali ini terasa lembut si rumah. Sibuk ria di dapur dan melayani tamu (saya) layaknya ibu rumah tangga biasa aja. Dia ini tipe orang yang biasa mengerjakan sendiri apa saja yang bisa dikerjakan. Tidak mengandalkan pembantu.

Bagaimana dengan Bhinneka? Soe Tjen bilang waktunya banyak dihabiskan untuk mengurus majalah itu. "Kondisinya agak berat. Gak bisa lagi dibagikan gratis," katanya.

Dulu memang ada donatur alias penyandang dana. Rupanya kerja samanya sudah selesai. Soe Tjen yang harus jalan sendiri bersama kawan-kawannya. "Tapi Bhinneka saya usahakan tetap terbit," tegasnya.

Di era internet ini sebetulnya Bhinneka bisa terbit dengan edisi online. Selama ini juga sudah ada. Tapi berdasar pengalaman, Soe Tjen menganggap edisi cetak masih sangat penting di Indonesia. Meskipun ongkos cetak itulah yang banyak menguras kas Bhinneka.

Asyik memang ngobrol Soe Tjen. Walaupun lebih banyak menghabiskan umur di Australia dan Inggris, gaya khas arek Surabaya tetap kental. Bahasa Indonesianya pun tidak berlumur kata-kata English yang tidak perlu. Beda banget dengan kita-kita-kita di tanah air yang doyan nginggris.

"Saya mau kasih seminar untuk guru-guru di sini bagaimana mengajar bahasa Inggris secara efektif," kata Soe Tjen.

Sebetulnya saya ingin lebih banyak ngobrol dengan kawan lama ini. Tapi saya tahu agendanya sangat padat. Sementara masa cutinya di Indonesia tinggal beberapa hari lagi. Maka saya pun pamit.

Terima kasih atas masakan Manadonya! Selamat berjuang untuk kebaikan bangsa Indonesia!

Space Iklan di Bandara Juanda

Syukurlah, tulisan di papan reklame di perempatan Pabean, akses masuk Terminal 1 Bandara Juanda, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, itu sudah diganti. Sebelumnya papan itu menggunakan kata-kata Inggris yang salah eja. Tertulis di situ: AVAILEBEL... Padahal seharusnya AVAILABLE.

Cukup lama tulisan yang keminggris nan ngawur itu dibiarkan di ruang terbuka. Lama-lama saya ikut gatal juga untuk menyentil. Akhirnya minggu lalu diganti desain baru. Tulisan baru: SPACE IKLAN. Mengapa bukan tempat iklan? Atau ruang iklan?

Tidak apa-apa. Toh SPACE IKLAN sudah sangat biasa dipakai di Surabaya dan Sidoarjo. Kombinasi Inggris + Indonesia. Setengah-setengah.

Orang Indonesia hari ini memang cenderung begitu. Suka beringgris ria tapi bukan full English. Kata-kata bahasa Inggris biasa dijejalkan sebagai pemanis atau penanda status sosial. Persis gaya bahasa artis-artis kita di sinetron atau program gosip artis yang kaprah disebut infotainment.
Televisi-televisi di Jakarta juga senang banget menggunakan istilah English untuk nama programnya. Contoh: Breaking News, Headline News, Live Event... Padahal acara-acara itu sepenuhnya berbahasa Indonesia.

Saya jadi ingat buku paket bahasa Indonesia di SMA dulu. Di sampilnya ada tulisan besar BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA. Gaya bahasa gado-gado yang mewabah sejak belasan tahun terakhir jelas menunjukkan bangsa kita yang makin nginggris. Makin ngamrik.

Dan media sosial sangat berjasa menyebarluaskan virus nginggris yang luar biasa itu. Tabik!

All China Final vs All Tiongkok Final

Lin Dan kalah. Jago badminton asal Tiongkok itu gagal menambah koleksi medali emas olimpiade di Brasil. Di dua olimpiade sebelumnya Lin Dan, pebulutangkis yang aku suka, mencium emas.

Mungkin inilah akhir era sang Super Dan. Usia memang sukar dilawan bukan? Lee Chong Wei yang sama-sama tua yang mengakhiri petualangan Lin Dan di olimpiade.

Berita kekalahan Lin Dan sih sudah aku baca di internet. Maka tidak kaget ketika baca koran pagi sembari ngopi dan makan pisang goreng di kawasan Tambakoso Waru Sidoarjo. Yang bikin saya geli adalah judul berita: CHONG WEI GAGALKAN TIONGKOK FINAL.

Hehe... Rupanya teman kita sang redaktur ini kebablasan mengganti CHINA dengan TIONGKOK. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang membuat kepres untuk "mengembalikan" istilah Cina menjadi Tiongkok. Sesuai keinginan para tokoh Tionghoa di tanah air.

Istilah CINA tanpa H dianggap kasar dan punya konotasi merendahkan warga keturunan Tionghoa. CHINA yang pakai H dianggap netral. Sesuai ejaan dalam bahasa Inggris.

Ini semua ekses peristiwa pahit tahun 1965. Jauh sebelum keputusan Presiden SBY, bos Jawa Pos sudah lebih dulu membuat semacam SK lisan. Intinya semua koran di bawah manajemen Grup Jawa Pos dianjurkan menggunkakan istilah Tiongkok untuk negara Zhongguo alias China. Bisa juga pakai RRT: Republik Rakyat Tiongkok.

Tentu saja istilah Tiongkok itu hanya cocok untuk konteks Indonesia. Itu pun lebih berbau Hokkian alias Fujian, provinsi sebagian besar leluhur warga Tionghoa di sini. Tak heran di internet banyak orang Tionghoa yang justru menolak istilah Tiongkok dan Tionghoa. Salah satunya Jaya Suprana bos Jamu Jago dan Museum Rekor Indonesia (Muri).

Istilah Tiongkok dan Tionghoa ini tentu saja tidak pas untuk konteks bahasa Inggris. Istilah ALL CHINA FINAL tidak bisa diganti dengan ALL TIONGKOK FINAL. Orang Amerika atau Inggris dan negara-negara lain pasti tidak paham Tiongkok.

Ini namanya kebablasan. Maksud hati menghindari kata CINA, malah membuat pembaca geli sendiri. Nama tumbuhan petai cina tentu tak bisa diubah menjadi petai tiongkok. Tinta cina ya tinta cina. Bukan tinta tiongkok.

Begitu.

19 August 2016

Ayo Kerja! Kerja Nyata!

Sejak menjadi presiden, Jokowi bikin banyak gebrakan bagus. Salah satu yang paling saya suka, di bidang bahasa Indonesia, adalah menghadirkan tema hari kemerdekaan yang sangat khas. Pendek, enak, jauh dari kalimat ala birokrat era Orde Baru.

Tema Hari Kemerdekaan tahun lalu AYO KERJA. Tahun ini KERJA NYATA. Cocok dengan moto Jokowi, yang meniru Dahlan Iskan, KERJA KERJA KERJA... Kabinet Jokowi pun disebut Kabinet Kerja.

Sebagai generasi produk Orde Baru, selama tiga dekade kita disuguhi tema hari proklamasi yang sama. Pola kalimatnya selalu identik. Dari tahun ke tahun. Seperti ada template-nya. Tema klise itu begini :

DENGAN SEMANGAT PROKLMASI, KITA... UNTUK MENCIPTAKAN... MASYARAKAT YANG ADIL MAKMUR DAN BERKEADABAN.

Susunan kalimat ini juga dipakai untuk hari pahlawan, hari guru, hari pendidikan, hari guru, hari ibu, hari anak, sumpah pemuda, dsb. Juga ditiru pemerintah-pemerintah daerah di seluruh Indonesia. "Dengan semangat blablabla, kita tingkatkan blablabla...."

Begitu membudayanya tema ala orba, banyak PNS di daerah sempat bingung. Aneh. Kok temanya Ayo Kerja. Kerja Nyata. Saya kemudian mencoba menjawab sebisa mungkin. Saya justru memuji gaya khas Jokowi yang sangat swasta. Presiden yang aslinya swasta, pengusaha di Solo, ini rupanya melakukan debirokratisasi di bidang bahasa protokoler.

Gaya pidato Jokowi pun makin informal. Jauh dari bahasa khas birokrasi yang doyan pakai kalimat-kalimat majemuk yang panjang beranak cucu. Jokowi memang menyiapkan teks pidato, tapi biasanya dia tidak tunduk 100 persen. Beliau lebih senang ngomong lisan. Spontan. Dan itu sangat bagus untuk dikutip wartawan.

Sayang sekali, di daerah-daerah para pegawai humas pemkab pemkot dan pemprov gagal membaca perubahan gaya ini. Tulisan-tulisan orang humas, siaran pers, buletin... masih sama dengan gaya bahasa Orde Baru. Kalimat-kalimatnya ruwet. Poin yang ingin disampaikan malah kabur.

"Naskah dari humas itu jangan diubah lho," begitu pesan orang humas pemda kepada editor surat kabar.

Serba salah kita orang. Dibiarkan apa adanya, jelimet, kasihan pembaca. Dirombak total bisa mutung. Sebab naskah itu pesanan alias advertorial. Apa boleh buat, kita perlu kompromi untuk urusan beginian.

Ayo kerja!
Kerja nyata!

09 August 2016

Khotbah kebersihan tidak mempan

Orang beriman tidak mungkin buang sampah di sini!

Begitu tulisan di pinggir jalan raya Pondok Candra Waru Sidoarjo. Tepat di bawah jalan tol di perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu.

Saya hanya tersenyum pahit saat melintas dengan sepeda tua pagi ini. Kok sampah masih berserakan di tanah kosong Desa Tambaksumur Kecamatan Waru itu. Di kompleks ruko kiri kanannya pun tidak bersih.

Hem... padahal baru saja Piala Adipura Kirana diarak keliling Sidoarjo. Tiap tahun Sidoarjo menang Adipura karena dianggap kota yang paling bersih di tanah air. Pejabat pemkab juga bangga karena Sidoarjo jadi tempat studi banding kabupaten/kota lain untuk tempat pengolahan sampah terpadu.

Kok masih banyak sampah berserakan ya? Di mana petugas kebersihan kampung, desa, kecamatan DKP kabupaten? Dan ini bukan saja di Kecamatan Waru. Di kawasan lain pun sama saja. Bahkan lebih parah ketimbang di Pondok Candra Waru yang mepet Surabaya ini. Lah, yang mepet Surabaya aja kayak gini, apalagi yang jauh dari pantauan orang banyak.

Kebersihan adalah bagian dari iman! Slogan yang artinya sama dengan spanduk di atas. Orang beriman pasti tidak buang sampah sembarangan. Yang buang sampah pasti orang yang tidak beriman!

Hehe... bagus juga sih untuk mengajak warga hidup sehat dan bersih. Bahasa agama dibawa-bawa biar lebih mempan. Tapi kenyataannya ya tidak juga. Persoalannya bukan beriman atau tidak beriman. Ini bukan masalah agama Bung! Ini masalah manajemen pengelolaan sampah.

Begitu banyak spanduk imbauan dilarang buang sampah di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Lengkap dengan ancaman denda minimal Rp 500 ribu. Ada juga ancaman ditangkap ke kantor desa. KTP ditahan dan sebagainya. Tapi juga tidak mempan. Bahkan biasanya desa-desa yang suka menebar ancaman justru banyak sampahnya.

Yang masih jadi masalah besar adalah ini: belum disediakan tempat-tempat sampah di pinggir jalan. Orang tentu kesulitan membuang bungkus-bungkus makanan, kulit buah, dsb. Apa boleh buat, lahan-lahan kosong terpaksa jadi tempat penampungan sampah tidak resmi.

Petugas kebersihan dari desa sampai kabupaten mestinya tanggap. Harus ada solusi yang nyata. Memasang imbauan dengan bahasa iman, ayat suci, dsb terbukti tidak efektif di lapangan.

Singapura yang bersih niscaya bukan karena penduduknya sangat beriman. Tiongkok yang komunis tentu tidak paham ayat suci. Negara-negara Barat yang kotanya bersih dan teratur pun jelas sangat sekuler. Gereja sudah lama kosong di Barat.

Mengapa kota-kota mereka yang tidak beriman itu sangat bersih? Itu yang perlu kita pelajari dan contohi. Sebab kebersihan tidak akan bisa diwujudkan dengan khotbah.

07 August 2016

Stasi Krian Juara Lomba Kor Paroki Mojokerto



Stasi Krian, Sidoarjo, menjadi juara pertama lomba paduan suara antarlingkungan dan stasi di Paroki Santo Yosef Mojokerto. Menarik! Karena sejak dulu hampir tidak ada stasi yang menang dalam lomba paduan suara di lingkungan Gereja Katolik.

Biasanya kor-kor di perkotaan yang juara. Stasi itu identik dengan wilayah gereja perdesaan. Umatnya sedikit. Bangunan gereja sering tidak ada. Perayaan ekaristi lazimnya diadakan di salah satu rumah jemaat atau nunut di sekolah Katolik (kalau ada). Jangankan bikin kor campur sopran alto tenor bas (SATB), sekadar menyanyi bersama, unisono, saja stasi-stasi ini selalu kesulitan.

Stasi Krian misalnya. Misa mingguan masih nunut di sekolahan Katolik. Bedanya dengan stasi-stasi lain, umat Katolik di Stasi Krian sudah mendekati 2000 jiwa. Sudah bisa jadi sebuah paroki kecil. Paduan suaranya pun sudah setingkat paroki di kota.

Meskipun berada di Kabupaten Sidoarjo, Stasi Krian masuk Paroki Mojokerto karena lebih dekat. Bukan Paroki Sidoarjo. Selain Krian, Paroki Mojokerto ini punya Stasi Mojoagung, Stasi Pacet, dan Stasi Randegan.

Kembali ke lomba paduan suara. Ada 17 peserta yang mengikuti festival musik liturgi itu. Termasuk empat stasi itu. Lagu wajib dan lagu pilihan sangat sederhana. Alias partitus level A versi Pusat Musik Liturgi (PML). Komposisi kelas A adalah partitur yang paling mudah sehingga bisa dibawakan hampir semua orang dengan sedikit latihan.

Sebagai perbandingan, Halellujah Handel itu masuk level C atau D. Cukup sulit kalau bukan kor berintikan penyanyi-penyanyi profesional. Himne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa masuk kelas A. Lagu Bumiku Indonesia yang biasa jadi lagu wajib lomba paduan suara mahasiswa di Jawa Timur (dulu) kelas D.

Nah, Stasi Krian ini memilih lagu Terimalah Ya Bapa Terimalah... sebagai lagu pilihan. Lagu persembahan ciptaan Frans Sega dari Flores yang sangat terkenal di kalangan umat Katolik di Indonesia. Dirilis bersama buku Madah Bakti pada 1980 dan masih dipertahankan di Puji Syukur sampai sekarang.

Begitu sederhana, begitu sering dibawakan di gereja-gereja. Sehingga kita kadang bosan dan kehilangan kepekaan untuk menikmati keenakannya. Mendengar kor Stasi Krian membawakan lagu ini: "Terimalah roti anggur.. persembahan diri kami"... bulu kuduk serasa merinding.

Komposisi sederhana itu dinyanyikan dengan hati. Menyanyi untuk memuji Tuhan, yang konon sama dengan berdoa dua kali. Bukan semata-mata menyanyi untuk dapat nomor. Kalaupun akhirnya menang, juara satu, itu cuma bonus. Kebetulan dewan juri (Agapitus Sismadi, PM Dominico Odjan, Indro Cahyono)menentukan begitu.

Dalam 10 tahun terakhir ada kecenderungan lomba atau festival paduan suara mengutamakan lagu-lagu sulit, level D bahkan F. Kor-kor mahasiswa dan SMA, juga anak, sering tampil di luar negeri. Sayang, mereka cuma bagus ketika ikut lomba. Ketika kembali ke gereja, mereka melempem lagi. Tidak asyik ketika membawakan lagu-lagu liturgi di Puji Syukur, Madah Bakti, dan sebagainya.

Saya sendiri sejak dulu menganjurkan kor-kor di lingkungan Katolik untuk lebih serius menggarap komposisi umum di buku liturgi. Ketimbang menghabiskan waktu berhari-hari untuk melatih satu dua partitur sulit level C/D tapi mengabaikan tujuh atau delapan lagu biasa.

Kesederhanaan, simplicity, itu kadang lebih indah daripada keruwetan!

02 August 2016

Kangen Warung Bu Sumi di Prigen

Warung Bu Sumiati di pertigaan Prigen dan Trawas itu sudah rata dengan tanah. Betapa kagetnya saya ketika hendak mampir ngombe sebelum ke Jolotundo Trawas. Sejak dulu saya dan almarhum Pak Bambang Thelo, pelukis senior yang juga penasihat Dewan Kesenian Sidoarjo, selalu mampir di situ. Beliau lah yang mengenalkan Bu Sumi ke saya.

"Bu Sumi sudah pulang ke desanya. Minggu lalu," kata bapak tukang parkir di samping toko Tionghoa dekat warung bu Sumi.

Oh, kembali ke Solo rupanya. Beberapa kali ibu gemuk nan ramah itu mengatakan akan kembali ke Karanganyar Jawa Tengah. Apalagi setelah suaminya meninggal dunia. Cari duit di Prigen, tempat wisata yang selalu ramai, memang mudah. Tapi ada sesuatu yang hilang selama bertahun meninggalkan kampung halamannya.

"Aku mau istirahat di Solo. Kerja buka warung itu capek lho. Harus belanja, masak, nunggu pembeli... ribet deh," katanya.

"Enakan gak kerjo tapi duite wuakeeeh....," pancing saya.

"Ora iso. Ora ono wong nganggur iso sugih," kata Bu Sumi disusul tawa berderai.

Hubungan saya dan Bu Sumi memang cukup akrab. Dia selalu pesan koran bekas kalau saya mau naik ke Jolotundo tempat wisata alam dan heritage favorit saya. Maka saya pun sering membawa koran bekas dalam jumlah yang buanyaaak sekali. "Kamu makan gak usah bayar. Bayar pake koran aja," katanya.

Sebaliknya, saya pun kerap meminta bantuan Bu Sumi untuk menggoreng pisang. Soalnya Prigen Trawas Tretes ini penghasil pisang di Jawa Timur. Tapi anehnya sulit mencari pisang goreng di sana. Kalaupun ada hampir tidak ada pisang kepok.

Maka saya membeli pisang kepok untuk digoreng Bu Sumi. Kita cukup menyediakan minyak goreng dan tepung. Beli di toko sebelah. Lalu mama yang baik hati dengan asyiknya menggoreng pisang kepok. Enak banget.

Kenapa sampean nggak jual pisang goreng kepok? "Gak laku. Pisang kepok iku larang," ucapnya. Ooohh...

Cukup lama saya tidak naik ke Jolotundo, khususnya setelah Pak Bambang meninggal dunia. Lagi pula suasana di kawasan petirtaan Jolotundo tidak lagi sealami dulu. Terlalu banyak warung kopi dan hiruk pikuk dangdut koplo.

Tapi lama-lama kangen juga. Minggu lalu saya mencoba naik lewat Pandaan, mampir ke Finna Golf, dan ingin silaturahmi dengan Bu Sumi di warungnya. Mumpung masih suasana Idul Fitri.

Eh, warung lesehan tak jauh dari vila milik pemilik (lama) Sampoerna itu sudah rata dengan tanah. Selamat mudik Bu Sumiati. Semoga lebih bahagia di kampung halaman. Jauh dari hiruk pikuk industri wisata yang sering menawarkan kebahagiaan semu.

31 July 2016

11 kelenteng dibakar karena pengeras suara

Kemarin dan hari ini ada berita yang ironis. Bikin kita tersenyum sekaligus prihatin. Menteri agama bangga dengan kerukunan beragama di Indonesia. Pak Menteri bicara saat MTQ di Nusatenggara Barat. Di teks berjalan yang sama muncul berita beberapa kelenteng dibakar massa di Tanjungbalai Sumatera Utara.

Di koran pagi ini Wapres Jusuf Kalla membanggakan toleransi umat beragama di Indonesia. Itu news lead alias berita di bagian atas. Di berita yang sama, koran sama, di bagian bawah diceritakan tempat-tempat ibadah warga Tionghoa di Tanjungbalai. Gara-gara seorang Tionghoa yang ngamuk. Terganggu pengeras suara dari masjid di dekat rumahnya.

Si Tionghoa itu pun sudah dikasih pelajaran oleh massa. Kalau tidak salah rumahnya dibakar. Tapi rupanya warga belum puas. Mereka ramai-ramai membakar 10 kelenteng di kota perikanan itu. Satu rumah duka warga Tionghoa juga dibakar. Total 11 rumah ibadah Tionghoa jadi abu arang.

Luar biasa kualitas toleransi masyarakat Tanjungbalai Asahan. Kota yang sejak dulu dihuni banyak warga Tionghoa itu pun langsung jadi buah bibir di mana-mana. "Kami sejak dulu rukun dan damai. Sumatera Utara itu Indonesia mini," begitu pernyataan seorang tokoh agama di Metro TV.

Hehe... Indonesia mini. Rukun damai. Sangat toleran. Kata-kata ini ibarat guyonan yang tidak lucu. Toleran kok membakar 11 kelenteng dalam sekejap. Oleh ribuan orang yang terkoordinasi?

Kalau tersinggung dengan ucapan seorang warga Tionghoa, mengapa bukan oknum itu saja yang dipolisikan? Mengapa harus membakar begitu banyak kelenteng? Tempat ibadah atau pemujaan yang tidak tahu apa-apa?

Sekali lagi, kasus SARA di Tanjungbalai ini memperlihatkan betapa rapuhnya integrasi bangsa ini. Di permukaan seolah-olah rukun damai guyub tapi sejatinya ada bara kebencian di bawah. Bak api dalam sekam.

Maka ketika dapat momentum, provokasi via media sosial, meletuslah angkara murka itu. Gak puas membakar rumah si wanita kenthir itu, tapi 11 kelenteng. Wow, tidak sedikit lho sebelas kelenteng/wihara! Di Jawa Timur kebanyakan satu kabupaten/kota hanya ada satu kelenteng. Kecuali Surabaya.

Saya bisa bayangkan betapa banyaknya orang Tionghoa di Tanjungbalai. Saya juga tidak tahu berapa banyak kelenteng yang tidak dibakar. Tapi setidaknya 11 kelenteng ini memperlihatkan betapa orang Tionghoa sudah begitu lama ada di Tanjungbalai. Kok bisa terjadi amuk massa yang luar biasa seperti ini?

Suasana sudah aman terkendali, kata polisi di TV. Klise. Bagaimana mungkin aparat keamanan setempat tidak bisa mendeteksi gerakan massa. Menunggu sampai 11 kelenteng jadi abu?

Membangun kembali kelenteng-kelenteng-kelenteng itu tentu tidak sulit. Orang Tionghoa di Tanjungbalai juga bisa sembahyang di rumah atau di mana saja. Tapi membangun kembali kepercayaan, harmoni, toleransi, tenggang rasa... sangat sangat sangat tidak mudah.

Hakim MA jadi pencabut nyawa

Masih soal hukuman mati. Koran pagi ini memberitakan majelis hakim kasasi MA memvonis mati Budiman dan Arifin. Keduanya terpidana kasus sabu 8 kg di Gedangan Sidoarjo. Tiga hakim pemutus mati itu Surya Jaya, Sri Murwahyuni dan Artidjo Alkostar.

Sebelumnya kedua terdakwa divonis seumur hidup di PN Surabaya. Tuntutan jaksa: hukuman mati! Di pengadilan tinggi pidana mati. Naik banding ke MA, hasilnya itu: mati.

Apa boleh buat. Sekali lagi ini membuktikan bahwa para hakim di MA masih senang dengan hukuman mati. Sebab bandar macam Budiman dan Arifin dianggap perusak anak bangsa. Tidak pantas hidup di bumi Indonesia. Lebih baik ditembak mati daripada membiarkan bandar-bandar narkoba ini hidup.

Apakah salah vonis mati ini? Tidak salah. Hukum positifnya ada. Suasana kebatinan rakyat Indonesia, mayoritas, pun begitu. Tapi haruskah hukuman mati di mahkamah tertinggi ini dijatuhkan?

Rupanya para hakim kita, khususnya di MA, sama sekali tidak terketuk hatinya dengan kebijakan penghapusan hukuman mati di 140 negara di dunia. Permintaan PBB, Vatikan, Amnesti Internasional, bahkan Komnas HAM pun tidak direken. Pun permintaan mantan Presiden BJ Habibie dan SBY lewat Partai Demokrat.

Maka daftar nama terpidana yang menunggu giliran ditembak mati bertambah dua lagi. Kejaksaan mau tidak mau dipaksa untuk melaksanakan eksekusi mati di Nusakambangan atau tempat lain. Gara-gara vonis MA berkekuatan hukum tetap.

Presiden Jokowi selaku eksekutif pun dalam posisi serba salah. Pasti dapat tekanan internasional. Dari NGO. Komnas HAM. Amnesti internasional dsb.

Benar bahwa kekuasaan kehakiman itu bebas merdeka. Independen. Tapi tidak bisa para hakim di Indonesia menutup mata dan telinga dari sorotan internasional. Argumentasi para penolak hukuman mati patut disimak juga... kalau boleh meminta kesediaan para yang mulia di meja hijau itu.

Kemarin saya baru saja menulis permintaan agar hakim-hakim melakukan moratorium vonis mati. Hari ini dua terpidana divonis mati oleh MA. Itulah Indonesia... negara Pancasila!