20 January 2019

Cari Inspirasi di Sumber Tetek

Siang ini banyak banget orang Sidoarjo yang berkunjung ke Sumber Tetek. Nama populer Candi Belahan di Kecamatan Gempol, Pasuruan. Ada yang bawa jeriken untuk mengisi air yang menetes dari teteknya arca sang dewi di kompleks candi.

"Biar sehat, awet muda, rezeki lancar," kata seorang wanita setengah baya asal Sepanjang, Kecamatan Taman.

Mbak Sri ini langganan Sumber Tetek dan Jolotundo, situs purbakala yang terkait erat dengan Raja Airlangga. Saking seringnya ngalap berkah di petilasan, Mbak Sri merasa kawasan Sumber Tetek dan Jolotundo seperti kampungnya sendiri.

Selain pengunjung biasa macam Mbak Sri, banyak juga umat Hindu dari Sidoarjo dan Gresik. Bikin ritual dan mandi di tirta suci peninggalan Airlangga pada 1009 itu. Kembang-kembang disajikan di dua arca perempuan simbol kesuburuan itu.

Minggu lalu teman-teman pelukis Sidoarjo mengadakan kegiatan melukis bareng on the spot (OTS) di Sumber Tetek ini juga. Sekaligus menyerap oksigen dan energi segar di kawasan Penanggungan ini.

Mereka mengagumi arsitektur kuno karya nenek moyang pada masa Airlangga. Bukti bahwa leluhur kita sejatinya sudah punya kecerdasan dan ilmu yang tinggi. Peradaban luhur ketika belum ada mobil, sepeda motor, listrik, ponsel, atau media sosial.

"Saya makin kagum dengan peradaban Nusantara," kata seorang pria asal Bangil yang potongan dan gaya bahasanya mirip seniman. Sering pakai kata-kata yang aneh dan hebat.

Saya sendiri lebih sering ke Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. Bahkan sempat jadi anggota forum sarasehan seni budaya Sidoarjo. Kebetulan Gatot Hartoyo, budayawan senior Sidoarjo, sudah lama tinggal di Seloliman. Dan jadi tokoh utama acara ruwat sumber-sumber air di petirtaan Airlangga di Jolotundo.

Sangat jarang saya ke Sumber Tetek. Belum sampai lima kali. Selain tidak ada jujukan atau padepokan istirahat macam di Pak Gatot, jalan menuju ke Candi Belahan alias Sumber Tetek ini masih jelek. Jauh lebih bagus jalan raya ke Jolotundo yang dicor bagus sampai ke kompleks petirtaan.

Di Sumber Tetek ini saya teringat mendiang Pak Suryo. Pendiri sekaligus pimpinan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di dekat Jolotundo yang terkenal itu. Abu jenazah Pak Suryo dilarung di kolam Sumber Tetek ini.

Konon Prabu Airlangga pun diperabukan di sini.

19 January 2019

Tentara Uang, Timor Timur, Habibie

Bapa Tentara. Begitulah anak-anak dulu di kampung Mawa, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, memanggil namanya. Orang kampung biasa menyapa Tentara Uang. Nama resminya Urbanus Uang Hurek.

Sebagai anggota Kodam Udayana, Tentara Uang aktif dalam tugas mulia Operasi Seroja di Timor Portugis pada 1970an. Masuk ke Timor Timur (sekarang Timor Leste) ketika wilayah jajahan Portugis itu kisruh ditinggal penjajahnya. Lantaran Revolusi Bunga di Portugis sana.

Bapa Tentara Uang pun ikut dalam misi mulia TNI Angkatan Darat. Jadi pedagang keliling, tukang dongeng, badut, hingga angkat senjata. Ambil hati rakyat setempat agar bergabung dengan Indonesia. Tahun 1976 terjadi integrasi. Jadilah Timor Timur provinsi ke-27 Republik Indonesia.

"Prosesnya panjang dan melelahkan. Sayang sekali, sekarang Timtim merdeka. Jadi negara sendiri," kata Bapa Tentara Uang kepada saya dan beberapa warga Lewoleba, Lembata, akhir Desember 2018.

Bapa Tentara sangat geram dengan Habibie. Presiden yang mengizinkan jajak pendapat di Timtim. "Indonesia dibohongi," kata Bapa Tentara. "Jajak pendapat itu penuh rekayasa dan kecurangan," katanya agak keras.

Ketika masih SD di kampung Mawa, pelosok Lembata yang tak ada listrik, Tentara Uang ini jadi idola kami, anak-anak kampung. Begitu banyak ceritanya tentang perang di Timtim. Begitu pula soal Fretelin, Apodeti, UDT, Kota dan sejumlah elemen politik di Timor Portugis.

Tapi yang paling saya ingat adalah keajaiban-keajaiban di medan perang Timor Timur. Tentara Uang punya ilmu yang membuatnya tidak bisa dilihat musuh. "Saya berdiri saja tapi mereka tidak tahu saya," katanya.

Bapa Tentara menggambar semacam lingkaran, lalu duduk di tengahnya. Dia bisa membidik musuh dengan akurasi tinggi. "Kalau ditembak pun pelurunya akan berbelok. Bapa selamat. Kalau tidak selamat, Bapa sudah mati," tuturnya di pinggir pantai menghadap Laut Flores.

Anak-anak kampung pun takjub. Kok bisa sakti begitu? Pakai ilmu apa? "Bapa pigi ambil di leluhur. Dikasih pegangan untuk perlindungan di medan perang," katanya.

Cerita lama ini saya tanyakan lagi di ujung tahun 2018. Bapa Tentara yang kelihatan lemah di usia senja ini tiba-tiba segar kembali. Semangat bercerita tentang perjuangan di Timor Timur. Tak ketinggalan ilmu kebal atau jimat dari seorang dukun sakti di kampung tempo dulu.

Ada ilmu untuk menembak tepat? "Ada," katanya. Tentara Uang mengaku bisa menembak jitu objek yang bergerak cepat. "Tapi saya harus lepas topi dulu agar tidak berbelok," katanya.

Apakah ilmu itu masih disimpan? Atau diwariskan ke tentara-tentara muda?

"Sudah dilarung ke laut. Dalam nama Yesus saya lepas semua jimat dan ilmu-ilmu itu," kata Bapa Tentara yang masih tetap disapa Tentara Uang meskipun sudah lama purnawirawan.

Ceritanya, suatu ketika Bapa Tentara sakit keras. Tidak sembuh-sembuh. Bolak-balik ke dokter + dukun tidak berhasil. Lalu, dicarilah hamba Tuhan atau pendoa karismatik. Sang pendoa yang bukan pastor atau pendoa itu sambil merem ternyata melihat Bapa Tentara punya simpanan jimat-jimat sakti.

"Bapa Tentara... jimat-jimat itu harus dibuang. Percayalah saja kepada Tuhan," begitu kira-kira wejangan sang pendoa.

Bapa Tentara sempat berpikir lamaaaa... Tapi akhirnya rela melenyapkan simpanan jimatnya untuk dilarung. "Sekarang saya hanya mengandalkan Tuhan. Ilmu-ilmu itu masa lalu," katanya serius.

Bapa Tentara saat ini saya lihat sangat religius. Rajin berdoa meskipun tidak pigi misa di gereja karena fisik yang rapuh. Sekali seminggu terima komuni di rumah.

Bapa Tentara sudah mengikhlaskan jimat-jimat sakti. Tapi tidak pernah rela Timor Timur jadi negara merdeka.

Bapa Tentara: "Habibie harus tanggung jawab. Habibie itu cuma presiden sementara pengganti Pak Harto. Tapi Habibie bikin keputusan yang membuat Timtim lepas!"

Jagung titi makin langka

Jagung titi. Camilan khas Lamaholot (Flores Timur dan Lembata) itu sudah lama habis. Tidak bisa lama karena ada saja orang Lamaholot di Surabaya dan Sidoarjo yang perlu icip-icip.

Emping jagung tradisional itu memang tak bisa dipisahkan dari orang Lamaholot. Maka, satu-satunya camilan yang dibawa saat mudik ya jagung titi. Bukan jajanan lain.

"Jagung titi itu bikin kita ingat Lewotanah (kampung halaman)," kata Ama Paulus.

Guru SMA Petra Kalisari Surabaya yang rajin menulis puisi ini memang selalu dapat jatah jagung titi dari Lembata. Meskipun tidak banyak, Ama (bapak atau paman atau anak laki-laki) girang bukan main. Lalu bikin puisi. Kadang pantun khas Lamaholot untuk dolo-dolo.

Sayangnya, jagung titi makin lama makin langka di bumi Lamaholot. Kita tidak lagi mendengar bunyi batu pagi hari ketika para wanita Lamaholot melakukan semacam ritual gae wata. Jagung disangrai kemudian dititi (dipukul) pada batu.

Sejak tahun 2000-an anak-anak perempuan di Lamaholot tidak lagi tertarik untuk gae wata. Tangan jadi panas dan tebal. Capek. Tidak telaten macam ibu-ibu atau nenek-nenek dulu. Maka, ritual gae wata tidak ada lagi.

Sekarang ini yang masih gae wata, bikin jagung titi, hanyalah ibu-ibu yang niatnya jualan. Bukan lagi untuk dimakan sendiri. Makanya saya tidak tega minta jagung titi di kampung... meskipun sangat menginginkannya. Sebab stok jagung titi memang tidak ada.

Beda dengan masa anak-anak saya di kampung dulu. Jagung titi selalu tersedia di semua rumah. Disimpan dalam kaleng bekas Khong Guan atau blek-blek besar. Bisa dimakan kapan saja. Jagung titi pun sangat efektif untuk menggantikan nasi beras atau nasi jagung atau nasi tiwul sebagai makanan pokok.

Tanpa kuantitas maka tidak ada kualitas. Begitu pendapat Ketua PSSI Edy Rahmayadi tentang tim nasional sepak bola kita yang makin kedodoran. Jagung titi juga sama. Karena kuantitasnya sedikit, tidak banyak yang gae wata, maka kualitasnya pun sangat merosot.

Saya rasakan kualitas jagung titi di Lembata saat ini sangat jauh di bawah standar. Sulit menemukan jagung titi yang nilainya di atas 8/10. Jagung titi yang saya bawa buat oleh-oleh kemarin pun nilainya paling mentok 7,5.

Padahal, dulu sangat mudah menemukan jagung titi yang nilainya 90-100. Yakni wata kenaen (jagung titi) yang memenuhi dua syarat ini: nipi + tepo. Tipis + tidak melempem. Jagung titi yang nilainya di bawah 80 (versi saya) pasti tidak memenuhi dua kriteria itu.

Karena itu, tidak heran di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, jagung titi ini digoreng lagi dengan minyak. Agar berasa renyah. Tidak alot. Jagung titi goreng ini justru tidak dikenal di kampung asalnya di Lembata dan Flores Timur. Tapi mungkin terpaksa dilakukan lantaran mutu jagung titi yang terus merosot.

Sekian saja cerita tentang jagung titi. Tidak banyak yang bisa ditulis. Sebab saat mudik akhir tahun kemarin saya tidak melihat orang yang gae wata di kampung.

Saya sengaja jalan kaki keliling Lewoleba, masuk lorong-lorong (kata GANG tidak dikenal di Lembata), tapi tidak mendengar bunyi orang titi jagung di dapur. Yang ada cuma belasan perempuan asal Desa Kolipadan, Kecamatan Ile Ape, menjual jagung titi di pasar. Itu pun kualitasnya medioker.

Ah, saya jadi ingat Kak Paulina saat saya masih sekolah dasar di Mawa. Skor jagung titi kaka yang satu ini 10. Istimewa! Sayang, tinggal kenangan!

15 January 2019

Neo+ Hotel Buka di Waru Sidoarjo

Pesat banget pertumbuhan hotel di Kabupaten Sidoarjo. Pada awal 2000 hotel-hotel hanya ada di kawasan Bandara Juanda. Itu pun hotel berbintang. Umumnya hotel-hotel transit kelas melati alias losmen.

Pelan tapi pasti, Sidoarjo terimbas pengembangan Surabaya ke wilayah selatan. Lalu muncullah The Sun Hotel di tengah kota. Berdiri di atas lahan milik pemkab. Lalu mulai ada plaza, mal, hingga bioskop. Dus, tidak perlu pigi Surabaya untuk nonton film terbaru.

Minggu lalu saya lewat di depan jalan raya Waru. Dekat jalan layang di timur Terminal Purabaya. Wow... rupanya muncul hotel baru.

Neo+ Hotel. Begitu cepatnya pengerjaan gedung hotel bintang tiga itu. Neo+ menjadi hotel berbintang pertama di pinggir jalan raya Waru. Sisi utara Kabupaten Sidoarjo.

Cari punya cari, akhirnya ketemu nomornya Nisrina Mardani. Mbak Rina ini marketing and sales manager Neo+ Hotel Manager. "Kita mau soft opening 18 Januari 2019," katanya.

Neo+ Hotel punya 130 kamar. Tarifnya mulai Rp 278 ribu. "Informasi selanjutnya nanti aja kita ngopi bareng biar bisa lihat sendiri kamar-kamarnya biar lebih meyakinkan," kata Mbak Rina.

Pertumbuhan hotel di wilayah Kabupaten Sidoarjo memang meningkat tajam dalam tujuh tahun terakhir. Dari tahun 2012 hingga kini, hotel di Sidoarjo tumbuh 76,1 persen menjadi 81 hotel. Angka ini mendekati pertumbuhan hotel di Jawa Timur sebesar 76,65 persen.

"Sedangkan kamar hotel di Sidoarjo pada kurun waktu yang sama tumbuh 52,6 persen. Lebih tinggi dibanding Jawa Timur yang 27,89 persen," ujar Ronny H. Mustamu, dosen Universitas Kristen Petra, menjawab pertanyaan saya.

Menurut Ronny, pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa akomodasi yang berkembang cenderung berupa hotel dengan kamar sedikit. Pertumbuhan hotel di Sidoarjo dalam kurun waktu enam tahun terakhir lebih didorong oleh munculnya kebutuhan pertumbuhan industri (untuk akomodasi dan lokasi pertemuan) yang dikenal dengan konsep MICE (Meeting, Incentive, Convention/Conference, Exhibition).

"Sudah bisa dipastikan, kebutuhan ruang-ruang pertemuan dan akomodasi semakin meningkat," kata Ronny yang aktif menjadi pembicara seminar-seminar bisnis itu. (rek)

12 January 2019

Sekolah Tionghoa dan Baperki di Porong


Sanggar Sungging Saloko di dekat Pusdikgasum Porong, Kabupaten Sidoarjo, sudah lama tutup. Seiring kepergian Mas Eko sang pemilik sanggar ke alam baka. Bahkan, saat Eko masih hidup pun sanggar tempat kreasi sejumlah pelukis Sidoarjo itu sudah megap-megap.

Pagi tadi saya melintas di depan eks sanggar lawas itu. Sepi. Maka saya pun mampir ke rumah tua dekat sanggar. Yang dijadikan warung soto, rawon, gado-gado. Seorang Tionghoa asyik membaca koran pagi Jawa Pos di Depot Bedjo Oentoeng.

Saya pesan kopi hitam agak pahit. Lalu mulai mancing percakapan. Rupanya bapak Tionghoa ini senang bicara. Membahas beberapa berita di koran yang lagi ngetren.

"Saya dulu sekolah di Porong ini. Sampai tua begini pun saya masih di sini," katanya.

Wow, ketemu narasumber primer untuk Tionghoa di wilayah Porong dan sekitarnya. Bapak Tionghoa pengusaha warung ini bernama. Kwee Soe Tjin. "Orang biasa panggil saya Djunaedi," ujarnya ramah.

Kwee Soe Tjin alias Djunaedi ini akhirnya bercerita bahwa tempo doeloe dia menempuh pendidikan di sekolah Tionghoa di Desa Mindi, Kecamatan Porong. Gedung sekolahnya di dekat kantor PLN Porong saat ini. Dekat kawasan terdampak lumpur Lapindo.

Artinya, dulu di Porong ini ada sekolah Tionghoa? "Ada. Wong saya ini dulu sekolah di situ. Tapi cuma sampai kelas tiga saja karena sekolahnya ditutup. Lalu saya lanjut ke sekolah nasional di tempat yang sama," ujar Kwee yang lahir pada tahun 1947.

Kwee masih ingat sekolah Tionghoa di Porong ini jadi jujukan anak-anak Tionghoa yang orang tuanya masih berstatus warga negara asing (WNA). Warga negara Tiongkok meskipun orang tua atau kakek nenek dan buyut mereka sudah lama banget berimigrasi di Nusantara. Maklum, masih era penjajahan Belanda.

Meskipun Indonesia resmi merdeka pada 17 Agustus 1945, orang-orang Tionghoa tidak otomatis menjadi warga negara Indonesia. Masih lebih banyak yang WNA. Karena itu, anak-anak Tionghoa dari Pandaan, Krembung, Kejapanan dan daerah lain sekitar Porong bersekolah di sekolah Tionghoa di Porong ini.

Selain di Porong, ada juga sekolah Tionghoa tingkat dasar (SD) di Sidoarjo dan Sepanjang, Kecamatan Taman. "Satu kelas saat itu muridnya sekitar 30 anak. Lumayan banyak," ujar Kwee Djunaedi.

Pelajaran disampaikan dalam bahasa Mandarin. Anak-anak Tionghoa juga diajari kaligrafi Tionghoa serta seni budaya khas Tiongkok. Kwee mengaku sangat menikmati masa kecilnya sebagai murid sekolah dasar Tionghoa di Porong ini.

Tahun 1958 sekolah Tionghoa di Porong ini ditutup. Para murid yang WNA Tiongkok dipindahkan ke sekolah Tionghoa di kawasan pecinan Sidoarjo. Sekarang kita kenal sebagai Jalan Gajah Mada.

Kwee tidak ikut boyongan ke Sidoarjo. Tapi tetap bertahan di gedung sekolah yang sama di Porong. Hanya saja pengelolanya Yayasan Baperki. Jadilah sekolah Baperki. Masih Tionghoa tapi sudah menjadi sekolah nasional. Kurikulumnya sama dengan sekolah-sekolah negeri dan swasta di Indonesia.

Kalau sekolah Tionghoa milik THHK di Porong hanya tingkat SD, sekolah Baperki ini sampai SMA. Dus, anak-anak tidak perlu jauh-jauh melanjutkan sekolah ke Surabaya. Saat itu anak-anak Tionghoa di Kabupaten Sidoarjo harus sekolah lanjutan di Surabaya. Bukan Sidoarjo.

Singkat cerita, Kwee Soe Tjin harus drop out SMA kelas 2. "Saya hanya tiga bulan di SMA karena sekolahnya tutup," kenang baba Tionghoa yang pernah jadi hansip di kawasan Porong itu.

Mengapa sekolah baperki ditutup?

Agak lama Kwee merenung. "Kalau gak salah karena baperki dianggap kekiri-kirian. Pokoknya situasi setelah peristiwa G30S itu gak kondusif. Sekolah-sekolah baperki jadi sasaran," katanya.

Begitulah. Sejak itulah bangunan eks sekolah Tionghoa (Baperki) di Porong diambil alih pemerintah. Mulailah era orde baru. Semua yang berbau Tionghoa dilarang. Kwee Soe Tjin jadi Djunaedi. Keturunan mereka juga tidak pigi kelenteng tapi pigi gereja. Lagu-lagu Haleluya menemani saya ngopi pagi itu.

Pak Kwee, sampean kok senang lagu-lagu kristiani? "Anak-anak dan cucu-cucu kami memang pigi gereja," katanya.

Kamsia!

09 January 2019

Kopi Rojo Merawat Keroncong di Sidoarjo

Hidup segan mati pun enggan. Begitulah situasi yang dialami musik keroncong di Sidoarjo. Meskipun sejumlah musisi dan orkes keroncong masih eksis, kiprah mereka nyaris tak terdengar masyarakat luas.

Kondisi inilah yang mendorong sejumlah pemusik dan penggemar musik keroncong untuk mendirikan Komunitas Pecinta Keroncong Sidoarjo alias Kopi Rojo.

Setiap Jumat malam mereka berlatih bersama di berbagai kawasan Sidoarjo. "Awalnya Kopi Rojo bikin kegiatan setiap Jumat malam di Omah Wayang, Jalan Jenggolo Sidoarjo. Tapi belakangan kita berpindah-pindah agar virus keroncong lebih menyebar ke masyarakat," ujar Hadi Anugroho, pengelola Kopi Rojo, kemarin.

Para pemusik ini dulunya bergabung dengan sejumlah orkes keroncong di Sidoarjo dan Surabaya. Namun, grup-grup itu kemudian bubar atau nonaktif karena berbagai alasan. Paling banyak lantaran pemusik senior meninggal dunia.

Kopi Rojo didirikan oleh  sekelompok pemusik dan pemerhati musik Keroncong di Sidoarjo. Bermula dari pertemuan Thomas Villanova selaku owner dari Omah Wayang Jenggolo dan Teguh selaku pelopor musik keroncong di Sidoarjo. Mereka berdua berkumpul dan membahas rencana untuk membentuk sebuah komunitas musik keroncong pada 7 Juli 2018.

Pengurus Kopi Rojo terdiri atas Thomas Villanova (ketua), Endang (sekretaris), dan Ibnu (bendahara). Mereka kemudian sepakat untuk melakukan semacam jam session untuk melestarikan musik keroncong. Pihak Omah Wayang pun bersedia menjadi tuan rumah.

"Kita semua berkomitmen untuk merawat musik keroncong. Sebab, bagaimanapun juga keroncong ini merupakan musik yang khas Indonesia," kata Thomas Villanova.

Menurut Hadi, anggota dan simpatisan Kopi Rojo, komunitas ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh bergabung. Tidak harus musisi atau penyanyi keroncong.

Anak-anak muda zaman now pun diajak menikmati
keroncong sambil belajar teknik menyanyi keroncong. "Latihan sambil belajar dari para senior," katanya.

Teguh Santoso, pemusik yang selama ini aktif bermain di genre jazz, ikut bergabung di komunitas keroncong Kopi Rojo. Meski tekniknya berbeda, Teguh ternyata sangat menikmati alunan irama keroncong yang halus dan mendayu-dayu. "Keroncong itu bikin adem," katanya.

Menurut dia, lagu-lagu pop atau dangdut yang sedang populer pun bisa diaransemen dalam gaya keroncong. Ini untuk menarik minat generasi milenial. Selain itu, lagu-lagu keroncong asli pun bisa
dimodifikasi dalam ritme yang lebih modern.

Teguh mengaku terharu karena belum lama ini mereka dikunjungi Sundari Soekotjo yang dikenal sebagai ratu keroncong Indonesia. Sundari pun memberikan dukungan agar para pemusik Sidoarjo terus melestarikan musik keroncong.

"Mbak Sundari juga sempat menyumbang suara emasnya," kata Teguh.

03 January 2019

Orang Lembata Lebih Suka Sinetron

Orang Lembata, NTT, lebih suka nonton sinetron. Anak TK hingga lanjut usia setiap hari asyik menikmati tayangan sinetron khas televisi-televisi Jakarta. Mereka hafal benar jam tayangnya. Berikut jalan cerita dan ulah para pelakon di sinetron itu.

Saat saya coba pindah saluran ke televisi berbasis berita, proteslah semua orang di rumah. Apa boleh buat, saya harus mengalah. Ketimbang bikin keributan yang tidak perlu.

Orang Lembata juga sangat jarang yang rutin menonton sepak bola Liga Inggris atau Liga Spanyol. Pertandingan-pertandingan seru klub-klub besar macam Liverpool, MU, Chelsea, Barcelona, atau Real Madrid dibiarkan berlalu begitu saja.

Ini juga karena laga-laga itu tayang tengah malam hingga dinihari. Orang Lembata, NTT umumnya, memilih tidur sebelum pukul 21.00. Mete atau melekan hanya berlaku untuk para peminum dan pemabuk. Bukan melekan untuk nonton bola.

Karena itu, hampir tidak ada orang Lembata yang ngomong politik elite nasional. Mereka tidak tertarik bahasa Jokowi vs Prabowo, demonstrasi 212, politik tempe tahu, pejabat dan politisi ditangkap KPK, dan sebagainya. Mereka juga tidak peduli dengan media sosial.

Beda banget dengan warkop-warkop di Sidoarjo yang lebih banyak bicara sepak bola dan politik. "Nonton sinetron itu bagus untuk hiburan," kata Yois di Lewotolok. "Politik itu bikin orang cepat mati."

Yois kemudian menyebut beberapa politisi lokal yang kini sudah tidak ada di muka bumi. Ada juga beberapa mantan caleg yang lumpuh karena stroke. Orang-orang di pelosok malah mengaitkan penyakit itu dengan politik.

"Coba kalau dulu tidak jadi caleg pasti masih sehat. Makanya, jangan ikut politik. Nanti cepat mati," katanya serius.