11 November 2009

Halte untuk Apa?



Jalan Ahmad Yani Surabaya, tepatnya di arah Siwalankerto (UK Petra), kemarin, macet parah. Penyebabnya sederhana saja: beberapa angkot dan bus kota berhenti persis di zebra cross.

Arus kendaraan dari arah selatan (Waru) pun tersendat. Sementara penyeberang jalan dari arah timur tak peduli dengan lampu merah.

Ironis! Sekitar 30 meter dari zebra cross ada halte yang masih terlihat baru. Sejak dibuat, halte itu tidak pernah dimanfaatkan sebagai tempat menurunkan dan menaikkan penumpang angkot atau bus kota. Siang hari, halte itu bahkan dijadikan tempat tidur pasukan kuning yang kelelahan.

Ironis! Tak jauh dari situ ada kantor Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) yang antara lain bertugas menertibkan kendaraan umum di jalan raya. Pegawai pemkot, petugas Satpol PP, pun melintas di situ setiap hari. Tapi tak ada yang merasa janggal. Semuanya biasa-biasa saja.

Ironis! Surabaya, yang disebut-sebut sebagai metropolis, kota kedua di Indonesia, ternyata belum didukung warga yang berperilaku layaknya orang kota. Orang yang tahu memanfaatkan halte, zebra cross, traffic light, serta kesantunan publik yang layak dibanggakan.

Di Surabaya, ada 20-an halte yang tersebar dari Jalan Ahmad Yani hingga Tanjung Perak. Hampir semua halte yang sudah dibangun dengan uang rakyat itu tidak difungsikan. Bus kota dan angkot dibiarkan bebas mengambil dan menurunkan penumpang di mana saja. Jalan raya di Surabaya ibarat rimba raya tanpa aturan.

Anehnya, ketika orang Surabaya, yang tak pernah mau memanfaatkan halte ini, bisa tertib ketika berada di negara maju seperti Singapura. Bisa antre, tidak ngawur, sabar menunggu bus kota di halte.

09 November 2009

Komisi III DPR Brengsek




Dengar pendapat Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat dengan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menuai kecaman luas. Komisi III bukannya membela rakyat, tapi malah membela koruptor. Membela pejabat Polri yang jelas-jelas brengsek.

Komisi III menjadi pendukung utama Susno Duadji, pejabat Polri yang menjadi bintang utama kasus Cicak versus Buaya. Para wakil rakyat itu berkali-kali tepuk tangan untuk polisi. Parlemen nyata-nyata mengabaikan rekaman percapakan antara para mafia hukum yang sebelumnya diputar di sidang Mahkamah Konsititusi.

"DPR taek!" kata Cak Diri.

"DPR brengsek!" sambung Cak Mul.

"DPR maling!" komentar Cak Sam.

"DPR bajingan!" protes Cak Karyo.

Rakyat kecil di Surabaya, malam itu, memang marah besar menyaksikan siaran langsung dengar pendapat di televisi. Sinetron mafia peradilan yang sangat menjemukan. Tapi DPR tertawa-tawa. Foto bareng dengan petinggi Polri. Yah, seakan-akan petinggi polisi itu orang-orang bersih yang tak pernah menerima uang serupiah pun.

Komisi III DPR itu mewakili siapa? Wakil rakyat? Wakil mafia hukum? Pembela Susno Duadji? Pembela buaya-buaya korup?

"Benny K. Harman yang mimpin sidang itu siapa? Orang mana itu? Kok goblok banget? Orang kayak gitu kok jadi ketua komisi? Mimpin sidang aja nggak becus?" ujar beberapa teman saya.

Waduh! Saya semakin malu karena Benny Kabur Harman itu berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Si Benny duduk di Senayan, jadi orang terkenal, meskipun tak becus memimpin sidang, karena suara rakyat di Flores. Rakyat miskin yang bahkan tak punya uang untuk membeli beras.

Lha, Benny Kabur Harman yang dari Kabupaten Manggarai ini apa sudah lupa dengan rakyat di kampung halamannya sana? Masih layakkah engkau menjadi anggota parlemen?

Korupsi dan Sumpah demi Tuhan




Nama Tuhan selalu disebut-sebut di Indonesia. Ketika terantuk, Tuhan disebut. Bersin sebut nama Tuhan. Ditimpa kesialan, sebut Tuhan. Bersyukur sebut Tuhan. Ungkapannya bisa pakai bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa daerah, atau ungkapan yang mengarah ke sana.

Perhatikan kalimat-kalimat orang Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Selalu terselip interjeksi atau kata seru yangmengandung Allah atau Tuhan: alhamdulillah, insyaallah, masyaallah, subahanallah, astagfirullah.....

Dalam kasus korupsi, suap-menyuap, yang terungkap di media massa pun jurus sakti yang sering dilakukan orang Indonesia adalah ini: membawa-bawa nama Tuhan. Bikin sumpah pakai kitab suci!

"Demi Allah, demi Allah... sekali lagi, demi Allah... saya tidak korupsi! Saya tidak terima uang! Saya tidak terima suap seperti yang dibilang si A, si B, si C."

Susno Duadji, pejabat tinggi Mabes Polri, pun pakai jurus ini ketika dia dituduh menerima uang suap miliaran rupiah. Tak hanya bersumpah, Susno Duadji menangis di depan anggota Komisi III DPR. Intinya, Susno mengaku -- dengan membawa-bawa nama Tuhan -- bahwa dirinya bersih. Tidak korupsi.

Di televisi, TVOne, saya juga melihat Muhammad Jasin, anggota KPK, mengangkat sumpah demi Allah dengan mengangkat Alquran. Intinya sama: Jasin ingin membuktikan bahwa dirinya bersih. Saya tidak tahu apakah Anggodo Widjojo juga menyebut-nyebut nama Tuhan untuk "membersihkan" dirinya dari tuduhan sebagai penyandang dana untuk skenario mafia hukum.

Sumpah-sumpahan atas nama Tuhan memang bukan barang baru di Republik Indonesia. Upacara pelantikan pejabat mana pun, dari paling atas sampai paling rendah, selalu ada sumpahnya. "Demi Allah". "Demi Tuhan". "Demi Sang Hyang Widhi". "Demi Thian Penguasa Langit". Rohaniwan selalu dilibatkan sebagai pendamping dan pembawa kitab suci.

Tapi apa yang terjadi? Adakah sumpah "demi Allah" itu lantas membuat Indonesia bebas korupsi? Bebas suap? Bebas pemerasan? Pejabatnya amanah? Polisi, jaksa, hakim tidak menyalahgunakan kekuasaan?

Hehehe....

Indonesia, menurut berbagai riset, selalu jadi juara korupsi di Asia. Sumpah demi Allah sudah lama kehilangan hakikatnya. Sumpah jabatan, sumpah apa pun, cenderung pemanis bibir belaka. Nama Tuhan selalu disalahgunakan untuk menutup-nutupi kebobrokan, kebusukan, korupsi. Dan pejabat-pejabat publik tetap saja cengengesan, berlagak bersih, sok suci...

Saya selalu membandingkan Tiongkok, negara berpenduduk 1,3 miliar yang komunis dan ateis. Sumpah demi Allah tidak dikenal di Tiongkok. Kitab-kitab suci tidak ada. Tuhan dan agama,karena itu, tidak pernah dibawa-bawa sebagai alat justifikasi.

Kok Tiongkok bisa memberantas korupsi dengan efektif? Kok Tiongkok bisa memberlakukan sanksi hukum yang tegas kepada koruptor, termasuk hukuman mati? Kita, bangsa Indonesia, layak malu. Masak, kita yang membawa-bawa nama Tuhan kalah bermoral dengan Zhungguo yang komunis dan ateis itu?

06 November 2009

Anggodo dan Mafia Hukum



Yang paling penting dalam rekaman percakapan antara Anggodo Widjojo dan beberapa pejabat Polri, Kejaksaan Agung, penyidik polisi/jaksa, makelar kasus, pengacara, adalah pembuktian adanya mafia peradilan. Arek Surabaya di Jalan Karet 12 Surabaya itu, si Anggodo, membuktikan diri sebagai kepala mafia.

Anggodo, dengan uangnya yang nyaris tak terbatas, bisa dengan enaknya mendikte siapa saja. Termasuk mendikte orang-orang penting di jajaran penegak hukum negeri ini. Dan memang begitulah kerja mafia. Sejak dulu ada, bahkan dipraktikkan setiap hari, tapi sulit dibuktikan. Baru kali ini rakyat Indonesia mendengar langsung ulah mafia itu.

Anggodo itu ibarat dewa sakti bertangan seribu. Dia paham betul yang namanya BAP, berita acara pemeriksaan. Bagaimana cara menjebloskan orang KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, ke dalam penjara. "Kalau sudah di dalam, dibunuh saja," kata si Anggodo dengan bahasa Jawa logat Surabaya ragam Kembang Jepun yang khas.

Apa lagi yang kita harapkan dari lembaga penegak hukum macam Polri, Kejaksaan Agung, pemerintah? Sudah jelas, sebagai sesama mafia yang saling membutuhkan, kepolisian tak mungkin mau menangkap Anggodo. Polisi pasti mati-matian membela Susno Duaji. Abdul Hakim Ritonga, wakil jaksa agung, pun pasti dibela dengan berbagai cara.

Sebaliknya, Bibit dan Chandra pasti akan diperlakukan tidak adil. Dibuat skenario macam-macam, jalan cerita yang seakan-akan meyakinkan, agar dua orang KPK ini bersalah. Dan dimasukkan ke penjara seperti keinginan Anggodo Widjojo.

Sikap Kapolri Jenderal Bambang Hendrarso Danuri sudah normatif dan standar. Argumentasinya di Komisi III DPR RI pada Kamis malam sangat normatif dan klise. Ibarat kaset lama yang diputar berulang-ulang sehingga mbulet dan tidak enak didengar.

Kapolri ini membela siapa? Membela koruptor dan anak buahnya yang bermain-main dengan mafia atau serius memberantas korupsi?

Penjelasan-penjelasan Kapolri sudah gamblang memperlihatkan lembaga ini berdiri di posisi mana. Anggodo yang jelas-jelas mempermainkan aparat hukum, main suap sana-sini, tidak diapa-apakan. Dibiarkan lenggang kangkung meskipun perannya sebagai sutradara mafia peradilan sudah terang-benderang.

Ingat, KPK itu dibuat karena kepolsian dan kejaksaan sejak Indonesia merdeka tak mampu memberantas korupsi. Jangankan memberantas korupsi, kepolisian dan kejaksaan [lebih tepatnya: OKNUM] justru menjadi bagian dari mafia korupsi. Mana ada sesama koruptor saling tangkap, bukan?

Indonesia makin menangis ketika anggota DPR RI di Senayan jelas-jelas ikut memainkan gendang yang diinginkan mafia pengadian. Rakyat tak bisa lagi berharap kepada lembaga-lembaga resmi: kepolsian, kejaksaan, departemen hukum, hingga parlemen.

Presiden Susilo, bagaimana ini? Mau dibawa ke mana bangsa ini?

Artikel Ganda di Koran

Artikel opini Bernard L. Tanya, dosen Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, dimuat pada hari yang sama di dua koran besar sekaligus, Jawa Pos dan Kompas, pada hari yang sama. Kamis 5 November 2009.

Judulnya "Socrates dan Mafioso Hukum". Isinya tentu membahas kasus anggota KPK Bibit Samad Riyanto dan Candra M. Hamzah yang sedang berurusan dengan kepolisian.

Isi artikel Tanya sih biasa-biasa saja, normatif, cuma dibuat berbau filsafat sedikitlah. Bernard Tanya pun bukan intelektual terkenal. Tapi kok bisa dimuat koran besar sekaliber Kompas dan Jawa Pos pada hari yang sama. Apa gerangan di balik artikel ganda yang sejak dulu "sangat diharamkan" media massa itu?

Artikel ganda. Masalah ini sangat kronis. Sejak dulu sudah ada, pesat berkembang pada 1990-an, dan makin gila setelah reformasi. Ketika media massa melimpah ruah, internet meluas, copy-paste jadi gaya hidup, siapa yang bisa membendung artikel ganda? Kembali ke hati nurani dan kejujuran penulis. Itu jawaban para redaktur opini yang kecolongan oleh penulis-penulis nakal tak bermoral itu.

Ironis! Dalam kasus Bernard Tanya di Kompas dan Jawa Pos sudah jelas bahwa sejak awal si penulis mengirim artikel yang sama ke lebih dari satu media. Ini jelas salah besar. Semua artikel untuk media massa harus bersifat EKSKLUSIF. Hanya untuk satu media. Tidak diecer-ecer ke dua, tiga, atau banyak media.

Di mana moral filsafat Socrates yang digembor-gemborkan si Tanya itu kalau dia sendiri tidak melaksanakan kode etik penulis? Lebih celaka lagi kalau motifnya hanya untuk dapat honorarium. Lumayan, taruhlah satu artikel dibayar Rp 500.000, kalau dimuat di banyak koran, silakan digandakan sendirilah!

Motivasi cari uang harus diakui banyak penulis artikel opini di Indonesia. Selain artikel ganda yang benar-benar sama macam "Socrates dan Mafioso Hukum", banyak penulis yang bikin artikel "berbeda tapi sama". Susunan kata-katanya beda, lead sedikit beda, tapi inti tulisan sami mawon. Akal-akalan ini dibuat agar tulisan bisa dimuat di beberapa media massa. Lumayan, honor lebih banyak.

Saya mencermati kasus artikel ganda ini mulai meledak pada 1990-an. Banyak dosen muda, cendekiawan pemula, aktivis... yang gandrung banget kalau tulisannya dimuat koran dan dapat uang. Kalau dimuat di koran besar, honornya pun tinggi. Merasa enak, banyak orang yang kemudian menjadi "pabrik artikel".

Kerjanya menulis artikel setiap hari. Bisa empat, lima, enam, bahkan kalau perlu delapan artikel sehari. Bukankah menulis artikel pendek di koran itu relatif sederhana? Referensi tak perlu banyak, tak perlu wawancara, cukup buka buku sedikit, main silat kata, lantas mengetik. Kini ada Mr. Google yang siap membantu mencarikan beberapa kutipan agar artikel itu terkesan "ilmiah dan berbobot".

Saking produktifnya si "pabrik artikel", kadang-kadang mereka membuat strategi pinjam nama. Yang menulis sebenarnya si Badu, tapi penulisnya ditulis si Fulan, si Amir, dan sebagainya. Ini sering diketahui petugas yang mengirim honor ke rekening penulis. Kok nama di rekening si A, padahal penulisnya si B?

Banyak penulis nakal, yang doyan artikel ganda, berkilah dengan menyalahkan redaktur. "Sudah kirim ke koran A beberapa hari tak dimuat. Ya, aku kirim ke koran B, siapa tahu dimuat di koran B." Redaktur koran A tentu tidak membaca semua koran yang terbit di indonesia yang berjibun itu. Maka, lagi-lagi artikel ganda terjadi.

Sanksinya harus sangat tegas. Masukkan ke daftar hitam penulis nakal! Jangan pernah memuat tulisan penulis-penulis nakal itu lagi! Masih banyak kok penulis-penulis bermutu yang melaksanakan kode etik di Indonesia! Jangan khawatir karena biasanya penulis-penulis artikel ganda itu bermutu tanggung atau medioker. Penulis sekaliber Ignas Kleden atau Kuntowijoyo atau Budi Darma atau Daoed Joesoef tak akan pernah merusak reputasinya dengan artikel ganda.

Maraknya artikel ganda juga tak lepas dari sistem "pasar bebas" di Indonesia. Siapa saja boleh kirim artikel ke redaksi opini. Tak peduli orang itu analis beneran, intelektual sejati yang fokus di satu bidang bahasan, atau penganggur yang sedang cari uang lewat tulisan.

Ini berbeda dengan kebijakan redaksional di beberapa media internasional terkemuka yang sempat saya pantau. Artikel atau kolom di majalah seperti TIME atau NEWSWEEK, misalnya, tidak sembarang orang boleh menulis. Hanya analis-analis pilihan yang ditentukan redaksi dengan kriteria sangat ketat.

Begitu juga kolom-kolom di USA TODAY atau THE CHRISTIAN SCIENCE MONITOR. Mereka punya kolumnis-kolumnis kawakan yang artikelnya selalu dinanti pembaca. Apa boleh buat, sampai sekarang kita masih konsisten menjadi bangsa berkualitas medioker dalam segala hal.

04 November 2009

Selamat Jalan Ellya Khadam



Oleh SURYA AKA
Jurnalis JTV Surabaya, Wakil Ketua DPD PAMMI Jatim
Sumber: Radar Surabaya, 4 November 2009

Hatiku gembira
riang tak terkira
mendengar berita
kabar yang bahagia

Ayahku kan tiba
datang dari India
membawa boneka
yang indah jelita
Oh sayang…


Itulah bait pertama lirik ’Boneka dari India’ milik Ellya Khadam, yang sangat terkenal di tahun 1960-an. Kini Bunda Hajah Ellya yang bernama asli Siti Alya Khusna itu tiada. Dunia dangdut Indonesia kembali berduka, setelah dua pekan lalu Meggy 'Ayah' Zakaria dipanggil Allah SWT.

Ellya yang merupakan salah satu artis dangdut generasi pertama itu, meninggal Senin (2/11/2009) sekitar pukul 20.00 WIB. Innalillahi wainna ilahi rajiun.

Boleh dibilang Ellya Khadam termasuk salah satu perintis pertama dunia dangdut di Indonesia. Ellya yang kelahiran 1939, sudah menyanyi di era dangdut masih bernama Orkes Melayu, di tahun 1960 an, bersama Orkes Melayu Kelanaria.

Saat itu menyanyi bukanlah pekerjaan mudah. Karena situasi politik yang tidak menentu. Ditambah lagi, tiap pertunjukan orkes melayu hanya ditanggap orang nikahan kelas bawah. Itu pun pasti bukan orang kaya atau terpandang.

Meski demikian, Elya berhasil menelorkan beberapa album piringan hitam dengan lagu hitsnya, ''Boneka dari India.'' Kemudian ''Djanji'' yang dipopularkan Mansyur Syah dan terakhir oleh Siti Nurhaliza dengan bentuk pop melayu.

Lagu hits lainnya,''Pergi tanpa Kesan'' karya Mashabi, juga menjadi kenangan pada era 60-70an. Lagu itu Juga pernah dipopularkan adik kelasnya, Muchasin Alatas.

Bunda memang artis berbakat. Selain melayu, dia juga sempat menyanyi lagu pop, judulnya antara ''A Gogo''. Di era tujuh puluhan, ketika film merambah Indonesia, Ellya digaet pelawak berbakat Bing Slamet dan Benyamin Sueb untuk membintangi sejumlah film. Ellya sempat membintangi film yang laris di masanya, di antaranya seperti 'Bing Slamet Setan Djalanan' (1972), 'Benyamin Biang Kerok' (1972) atau 'Buaye Gile' (1974).

Di antara karyanya yang paling fenomenal tentu saja lagu 'Boneka dari India' itu. Melalui lagu itulah Ellya dikenal dengan ciri khasnya yang selalu mengenakan 'Sari', busana khas India. Aksesoris di sekitar wajah, jari dan gelangnya, menjadi ciri khas penampilannya.

Bunda Elya yang pernah aktif di Orkes Melayu Kelanaria. menjadi ikon orkes melayu pada era 1960-an, namanya sering mengudara di RRI bersama lengkingan empat pemuda asal Inggris yang tergabung dalam The Beatles dengan I Wanna Hold Your Hand. Juga bergantian tampil Waldjinah, Koes Bersaudara, atau petikan gitaris Tony Motolla.

Bahkan, ketika Rhoma masih remaja sempat berguru vokal kepada Ellya. Perteman dengan Rhoma berlanjut, ketika Oma Irama masih awal membentuk Soneta,1973, Ellya Khadam sering diajak tour keliling bersama Soneta. Tak heran bila duet Ellya dengan Oma Irama cukup banyak menghiasi khasanah lagu melayu khususnya sebelum Rhoma mendirikan Soneta di tahun 1973.

Oma yang lebih junior dari Elya banyak sharing dalam menyanyi. Mereka berdua bukan saja duet di panggung, tetapi juga di recording. Bisa disimak lagu-lagunya antara lain ’’Sebelum Nikah”, ’’Percayalah’’, ’’Di dalam Bemo’’, dan ’’Kawin Lari’’.

Lagu-lagu inilah yang sangat popular di RRI Jakarta pada akhir 1960 an, bersama penyiarnya Dahri Oskandar. Penulis yang saat itu masih berusia 9 tahunan, tidak memiliki radio, apalagi tape, sering harus pergi ke rumah tetangga untuk mendengarkan RRI yang menyiarkan pilihan pendengar dengan memperdengarkan piringan hitamnya. Nama-nama seperti Ellya Khadam, Elya M Haris, Munif Bahasuan, Bashabi, A Kadir, sangat akrab di telingan ''orang desa''.

Sayang, ketika itu, masih terbatas orang memiliki piringan hitam apalagi belum juga ditemukan teknologi pita kaset. Satu2nya mendengarkan radio, itupun hanya RRI..

Penampilan Ellya Khadam yang terakhir di depan publik tanah air, yaitu pada saat Rhoma memproklamirkan Sonet2 dalam sebuah acara ’Dangdut is Never Dies’ di akhir 2008 lalu. Pada saat itu, Rhoma yang berbicara dan disiarkan live di TPI, memperkenalkan salah satu personal Sonet2 bernama Bisri, penggebuk drum, yang tak lain adalah cucu dari Elya Khadam.

Eyangnya juga tampak di deretan kursi vip di studio TPI malam itu, bersama keluarga besar dangdut, keluarga Rhoma Irama terutama putra putrinya dari Veronika dan Marwah Ali nampak akrab. Juga dihadiri hampir semua generasi muda dangdut di KDI.

Kini Bunda Ellya telah tiada. Mari kita doakan semoga almarhumah diterima amalnya, dimaafkan salahnya. Semoga generani muda dangdut dapat meneladani kegigihan Bunda Ellya, yang tak mudah menyerah oleh keadaan. Selamat jalan Bunda Ellya. (*)

Malaysia, Allah, Alkitab

Negara tetangga yang satu ini, Malaysia, memang selalu bikin berita. Tenaga-tenaga kerja Indonesia bolak-balik dianiaya, diperlakukan tak manusiawi. Akhir Oktober ini, TKI asal Jember bernama Muntik meninggal karena dianiaya majikannya di Malaysia.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi, sistem perlindungan TKI di Malaysia--juga di beberapa negara lain--memang sangat payah. Meski selalu menganggap kita sebagai bangsa serumpun, orang-orang Indonesia yang bekerja di Malaysia sering dianggap budak, kuli, lebih rendah ketimbang manusia Malaysia.

Kamis, 29 Oktober 2009, sejumlah media internasional, kantor-kantor berita, menulis tentang tindakan pemerintah Malaysia yang menyita lebih dari 20.000 eksemplar kitab suci (Alkitab) milik umat Kristen Protestan dan Katolik. Alkitab itu diimpor dari Indonesia. Malaysia bersikeras bahwa Alkitab itu tidak boleh beredar karena mengandung kata ALLAH.

Sebutan nama Tuhan, yang sangat lazim kita pergunakan ini, dianggap eksklusif untuk umat Islam. "Memang muncul kepekaan yang berlebihan di Malaysia ini. Padahal, kata ALLAH sudah lama digunakan umat Kristen di Malaysia dan Indonesia," kata Pendeta Hermen Shastri, sekretaris jenderal dewan gereja Malaysia, dikutip CNN.

Masih terkait penggunaan kata ALLAH di Malaysia, The Herald, sebuah koran mingguan Katolik milik keuskupan di Kuala Lumpur terancam dibredel alias dicabut izin terbitnya. Hanya karena koran itu menggunakan kata ALLAH di edisi bahasa Melayu. Wah-wah-wah! Saat ini pihak gereja sedang menunggu putusan pengadilan tentang nasib media rohani tersebut.

Tak hanya pihak gereja, dunia internasional pun terus memantau perkembangan isu keagamaan yang makin aneh-aneh di negara tetangga yang sebenarnya multietnis itu. Sistem hukum di Malaysia sedang diuji: apakah menghargai hak asasi manusia yang universal atau terus memberi tempat bagi pandangan-pandangan sempit dan picik?

Mencermati kasus-kasus bernuansa SARA di Malaysia, kita bangsa Indonesia selayaknya bangga dan bersyukur. Sebab, bangsa berpenduduk 230 juta lebih ini bisa hidup bersama, bersatu, tanpa meributkan soal remeh-temeh seperti penggunaan kata ALLAH di kalangan non-Islam. Kita di Indonesia pun tidak perlu cemas aparat menyita kitab suci macam di Malaysia.

Persoalan kita khas: kitab suci banyak, tersebar di mana-mana, tapi minat membaca kitab suci masih sangat rendah. Saking jarang dibaca, Alkitab-Alkitab yang kita punyai selalu terlihat kinclong! Hehehe....

Romo Tondo 75 Tahun



Di kalangan umat Katolik di Keuskupan Surabaya, Prof Dr John Tondowidjojo Tondodiningrat CM dikenal sebagai pastor serbabisa. Setiap tahun dia merayakan ulang tahunnya dengan cara yang unik. Termasuk perayaan ulang tahun ke-75 belum lama ini.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Romo John Tondowidjojo Tondodiningrat CM, yang juga guru besar ilmu komunikasi di sejumlah universitas, tidak suka merayakan ulang tahun dengan potong kue tar, pesta hura-hura, dengan hadiah yang mahal-mahal. Romo Tondo, sapaan akrabnya, mengisi peristiwa tahunan itu dengan menggelar acara kesenian dan kebudayaan.

"Saya ingin mengajak semua orang Indonesia, khususnya anak-anak muda, untuk cinta seni budayanya. Jangan jadi konsumen seni budaya impor," ujar Romo Tondo kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Satu lomba yang wajib dilaksanakan menjelang HUT-nya adalah paduan suara dan tarian tradisional. Lagu-lagu yang dilombakan harus nyanyian tradisional dari berbagai daerah di tanah air. Romo Tondo, yang pernah mendalami ilmu vokal di Italia, juga menciptakan sebuah komposisi paduan suara sebagai lagu wajib.

Rohaniwan yang masih kerabat dekat Raden Ajeng Kartini ini kemudian mengajak sekolah-sekolah Katolik di Surabaya dan sekitarnya untuk ikut lomba. Biasanya, sekolah dasar (SD). Kenapa tidak diperluas ke sekolah-sekolah negeri dan non-Katolik?

"Waduh, saya ini cuma romo, bukan pemerintah. Saya bisa dicurigai macam-macam kalau saya bertindak terlalu jauh. Jadi, lebih aman dengan sekolah-sekolah Katolik dululah," jawabnya lalu tersenyum.

Setelah melalui babak penyisihan, para finalis ditampilkan pada perayaan ulang tahun Romo Tondo. Namanya juga romo, umat yang punya restoran menawarkan restorannya sebagai tempat lomba sekaligus pesta HUT sang gembala. Dengan sistem ini, Romo Tondo mengaku tidak membutuhkan biaya besar untuk menggelar lomba paduan suara, gebyar budaya, serta pesta ulang tahun. Termasuk biaya pembuatan trofi dan hadiah uang tunai bagi para pemenang.

"Syukurlah, selama ini saya banyak mendapat dukungan berbagai pihak. Mereka juga ingin agar seni budaya Indonesia tidak sampai tenggelam gara-gara serbuan dari luar," kata imam Lazaris ini.

Setelah semua peserta paduan suara dan tari-tarian daerah tampil, sembari menunggu pengumuman dewan juri, Romo Tondo mulai menampilkan bakat musikalnya. Semua peserta lomba dari berbagai sekolah diajak ke panggung untuk membawakan komposisi khusus ciptaan Prof Dr KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM alias Romo Tondo. Romo Tondo berperan sebagai dirigen.

Gaya direksi atau teknik membirama paduan suara ala Romo Tondo sangat atraktif. Tidak kaku seperti kebanyakan dirigen paduan suara umumnya. "Jadi dirigen paduan suara itu perlu teknik khusus. Tidak bisa sembarangan," ujar penulis ratusan buku, termasuk buku teknik vokal dan dirigen, itu.

Atraksi masih berlanjut. Setelah anak-anak paduan suara turun, Romo Tondo memperlihatkan kepiawaiannya bermain piano. Komposisi Beethoven, Mozart, Chopin? Sudah jelas tidak. Komposisi kesukaan Romo Tondo selalu lagu daerah macam Cublak-Cublak Suweng, Ampar-Ampar Pisang, Kambanglah Bungo, Janger, Ayo Mama, Yamko Rambe Yamko, Bubuy Bulan. Komposisi Nusantara ini dibawakan secara medley.

"Kalau kita tidak membawakan lagu-lagu daerah, lantas siapa yang melestarikannya?" tegas mantan ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya ini.
Gebyar Tresna Budaya untuk merayakan HUT ke-75 Romo Tondo yang melibatkan 10 finalis. SDK Katarina keluar sebagai juara pertama, disusul SDK Carolus dan SDK Yusup. Yang menarik, kali ini tamu undangan tak hanya dari kalangan gereja, tapi juga tokoh masyarakat seperti Basofi Sudirman.

Mantan gubernur Jatim ini menilai gebyar seni budaya yang digelar setiap tahun oleh Romo Tondo sangat brilian dan patut diapresiasi. "Saya berharap acara seperti ini dapat diselenggarakan secara rutin agar semakin banyak orang Indonesia yang mencintai budaya bangsanya sendiri," kata Basofi. (

Sebagai rohaniwan pribumi generasi awal, Romo KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM mendapat banyak kesempatan untuk belajar di Eropa. Romo yang baru merayakan ulang tahun ke-75 ini bahkan ditahbiskan sebagai imam Kongregasi Misi (CM) di Italia.

ROMO Tondowidjojo juga menikmati pendidikan lanjutan dan berkarya beberapa negara Eropa seperti Italia, Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol.

"Sampai sekarang saya masih pegang kartu wartawan internasional lho. Dan saya masih punya hak untuk mengikuti kongres pers internasional," kata Romo Tondo, sapaan akrab romo yang juga profesor ilmu komunikasi di STKIP Widya Mandala Madiun, Universitas Bhayangkara Surabaya, dan Universitas Atmajaya Jogjakarta ini.

Karena sangat lama tinggal di Eropa, dan masih sering ke Eropa, Romo Tondo sangat memahami perilaku orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Dia prihatin karena ternyata banyak orang Indonesia kurang menguasai seni budayanya sendiri. "Diminta menyanyi lagu-lagu daerah atau menari tarian daerah susah. Lha, bagaimana kita mau mempromosikan kebudayaan Indonesia kalau kita sendiri tidak menguasai," tukasnya.

Itu sebabnya, Romo Tondo sangat getol mempromosikan kesenian daerah dari seluruh Indonesia di kalangan pelajar dan mahasiswa. Lomba paduan suara lagu-lagu daerah dan tarian daerah menjadi 'menu wajib' setiap menjelang ulang tahunnya. Dia pun tak segan-segan memberikan penataran kepada guru-guru sekolah Katolik di wilayah Keuskupan Surabaya. "Kalau ada kesulitan, tolong hubungi saya. Saya akan langsung turun ke sekolah-sekolah," kata romo yang hobi menulis buku ini.

Kepada pelajar dan mahasiswa yang hendak belajar di luar negeri, Romo Tondo selalu punya pesan yang sudah baku. Yakni, menghafal di luar kepala paling sedikit lima lagu daerah dan dua tarian daerah. Mau lagu-lagu Jawa, Madura, Dayak, Sunda, Batak, Flores, Papua, terserah. Kursus tarian daerah pun sangat perlu dilakukan orang Indonesia yang akan menetap cukup lama di luar negeri.

Mengapa begitu?

"Lha, di luar negeri mereka akan menjadi duta budaya bangsa. Kalau ada malam kesenian atau acara-acara apa saja, mereka berkewajiban memperkenalkan seni budaya Indonesia di depan orang asing," tegas dosen sejumlah perguruan tinggi swasta ini.

Romo Tondo mengaku senang dengan minat anak-anak muda di Surabaya yang belajar musik klasik Barat sejak usia dini. Ini tentu saja bagus. Namun, tanpa dibarengi dengan mempelajari seni budaya negeri sendiri, maka kemampuan memainkan musik klasik Barat itu tidak akan memberi nilai tambah. Hanya kebanggaan semu.

"Musik Mozart, Beethoven, Haydn, Chopan, itu sudah sangat biasa di Eropa. Wong itu kesenian mereka. Kalau orang Indonesia mau pamer kemampuan bermain musik klasik Barat di Eropa, seniman-seniman Eropa lebih hebat lagi. Lain kalau kita memainkan seni budaya Indonesia," ujarnya.

Pastor (dari bahasa Latin) berarti gembala. Dan seorang gembala harus mengenal gembala-gembalanya dengan baik. Prinsip ini selalu dipegang teguh oleh Romo KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM.

Karena itu, meskipun berstatus guru besar komunikasi dan sering diundang sebagai pembicara di berbagai kota, bahkan luar negeri, Romo Tondo tak pernah melupakan 'domba-dombanya'. Termasuk umat yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang tinggal di kamar sempit di dalam gang.

Sejak dulu Romo Tondo punya kebiasaan melakukan semacam 'sidak' alias inspeksi mendadak ke rumah-rumah umat. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja rohaniwan Kongregasi Misi (CM) ini muncul di rumah. "Saya selalu ingin tahu langsung dan apa adanya kondisi umat. Dan sebetulnya umat itu senang kalau didatangi romonya," ujar Romo Tondo suatu ketika.

Setelah berbasa-basi dengan umat, Romo Tondo kemudian mencatat dengan teliti sejumlah data yang diperlukan. Mulai nama anak-anak, cucu (kalau ada), berapa anak yang sudah menikah, berapa orang yang tinggal di situ, hingga aktivitas rohani. Apakah keluarga itu punya kebiasaan doa bersama? Aktif atau tidak di lingkungan atau wilayah? Ikut paduan suara atau organisasi gerejawi lainnya?

"Saya juga ingin tahu apakah mereka aktif di RT/RW, ikut kerja bakti, poskamling, dan sebagainya. Umat Katolik jangan hanya rajin ke gereja, tapi tidak pernah kerja bakti di RT," tutur romo yang masih termasuk kerabat dekat Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, ini.

Di paroki pun dia bertugas, Romo Tondo selalu membiasakan kunjungan pastoral secara pribadi. Di samping, tentu saja, kunjungan-kunjungan formal seperti menghadiri doa lingkungan, pendalaman iman, pendalamankitab suci, dan sebagainya. Tak heran, Romo Tondo memiliki gambaran yang lebih utuh tentang kondisi umat sebenarnya.

Ada keluarga yang dari luar terlihat rukun, mesra, bahagia, ternyata punya masalah rumah tangga yang serius. Dan itu baru diketahui setelah diajak bicara dari hati ke hati. "Kalau masalah-masalah umat sudah dipetakan, kita akan lebih mudah mencari solusi. Kita harus membiasakan diri berbicara dengan data dan fakta," tegasnya.

Sikap Romo Tondo yang suka menggali data dan melakukan wawancara langsung dengan umat memang tak lepas dari pengalaman panjangnya sebagai wartawan. Sampai saat ini Romo Tondo masih rajin menulis untuk sejumlah media rohani (dan umum) baik di dalam maupun luar negeri. Tulisan-tulisan Romo Tondo selalu panjang, penuh data, dan selalu dilengkapi konteks sejarah.

01 November 2009

Nasrullah melukis di Jenewa




Nasib baik mempertemukan Nasrullah (48), pelukis asal Tanggulangin, Sidoarjo, dengan Christine Rod, perempuan asal Swiss. Dari sekadar diskusi kecil tentang seni rupa di Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto, keduanya lalu falling in love. Pacaran jarak jauh ini pun dilanjutkan dengan akad nikah di Sidoarjo. Beberapa saat kemudian Nasrullah-Christine meresmikan pernikahan mereka di kantor catatan sipil Jenewa, Swiss, tiga tahun lalu.

Sejak itulah Nasrullah 'diboyong' ke Swiss. "Alhamdulillah, sebagai suami Christine, saya mendapat hak-hak yang hampir sama dengan warga negara Swiss. Saya mendapat banyak kemudahan," kata Nasrullah kepada Radar Surabaya di sela liburannya di Sidoarjo, Jumat (23/10/2009). Berikut petikan wawancara khusus dengan Nasrullah:

Oleh LAMBERTUS HUREK


Apa kegiatan terakhir Anda di Eropa?

Sebelum datang ke Indonesia untuk mengurus beberapa dokumen keimigrasian, saya menghadiri Festival Davignon di Prancis selatan. Ini festival tahunan yang digelar selama satu bulan penuh. Ada kira-kira 500 performer dari berbagai negara yang mengisi festival ini. Sebagian besar di antaranya seni teater baik yang kontemporer, teater rakyat, dan sebagainya.

Saya salut melihat bagaimana orang Eropa mengelola teater, sehingga bisa dinikmati seluruh masyarakat. Kesenian memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat di negara maju seperti Eropa. Dan itu bisa kita lihat dari partisipasi masyarakat yang luar biasa. Orang-orang dari Swiss, seperti kami, pun merasa perlu ke Davignon untuk menikmati kesenian-kesenian yang ditampilkan di sini.

Kabarnya Anda sempat menggelar pameran tunggal di Swiss?

Ya, saya pameran tunggal selama 2,5 bulan di Le Nyamuk. Ini kafe sekaligus galeri yang terkenal di Jenewa, Swiss. Pemilik galeri kebetulan suka dengan kebudayaan Indonesia dan Malaysia, sehingga galerinya diberi nama Le Nyamuk. Galeri ini selalu menampilkan karya-karya pelukis dari berbagai negara. Jenewa sendiri memang dikenal sebagai kota internasional.

Nah, awalnya saya diberi kesempatan untuk pameran selama satu bulan. Tapi belakangan si pemilik minta diperpanjang karena pelukis lain, yang sudah dijadwalkan, ternyata belum siap. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa pameran selama dua setengah bulan. Ini semacam rezeki buat saya karena karya-karya saya bisa diapresiasi oleh orang banyak dari berbagai negara. Saya kan baru tiga tahunan tinggal di Jenewa, sehingga perlu kerja keras dan waktu lama agar bisa dikenal publik pencinta seni rupa.

Ada berapa karya yang Anda pamerkan di Le Nyamuk?

Ada 16 lukisan. Semuanya bercerita tentang berbagai persoalan yang saya ketahui selama tinggal di Jenewa. Maka, pameran ini saya beri judul Bienvenue a Geneve atau selamat datang di Jenewa. Saya tidak mengangkat tema-tema khas Indonesia seperti pemandangan di sawah, figur orang Indonesia, dan sebagainya. Sejak berada di Swiss saya memang tertantang untuk menampilkan karya-karya yang baru dan aktual.

Anda melakukan eksplorasi mengenai kehidupan masyarakat Swiss?

Betul. Di Jenewa itu ada kebiasaan masyarakat yang suka jalan kaki dan naik sepeda (onthel) ke mana-mana meskipun mereka itu rata-rata sangat makmur, punya mobil bagus. Orang kaya, pejabat-pejabat, naik sepeda ke tempat kerja itu sangat umum di Swiss. Nggak kayak di Indonesia. Mana ada orang kaya kita yang jalan kaki atau naik kendaraan umum di Surabaya atau Jakarta? Hehehe....

Nah, saya sendiri pun akhirnya terbiasa jalan kaki dua hari sekali sejauh 10 kilometer. Udaranya memang bagus sekali, trotoar sangat lebar, taman yang sangat indah, dan itu cocok untuk jalan kaki. Karena sering jalan kaki dan masuk ke mana-mana, saya akhirnya tahu banyak kondisi masyarakat di sana. Bahwa di balik kemakmurannya, kota Jenewa ternyata punya masalah sosial yang besar.

Contohnya?

Pencopet banyak. Saya sendiri pernah dua kali dicopet. Mertua saya dicopet 1.000 Frank, jumlah yang sangat besar. Di berbagai tempat kita melihat orang mabuk, stres, teriak-teriak histeris, makai narkoba, dan sebagainya. Orang-orang ini kebanyakan dari eks negara komunis di Eropa Timur yang mencari suaka politik. Juga orang-orang dari Afrika. Mereka-mereka ini membuat situasi kota-kota di Swiss, khususnya Jenewa, jadi tidak bagus.

Masyarakat Swiss juga sangat individualistis, sibuk sendiri-sendiri dengan pekerjaan mereka. Hampir tidak ada waktu untuk cangkrukan, santai, atau sekadar ngomong ngalor-ngidul. Orang-orang Indonesia yang tinggal di Swiss pun irama kehidupannya pun sama dengan orang Swiss. Jangan dikira kita gampang bertemu sesama orang Indonesia. Harus bikin janji dulu. Dan itu pun sering tidak bisa karena sibuk dengan pekerjaan dan sebagainya.

Suasana itulah yang Anda lukis?

Saya kontraskan bangunan-bangunan Eropa yang indah, punya seni arsitektur tinggi, gaya hidup modern, dengan masalah-masalah sosial. Yah, semacam sisi lain dari Jenewa. Waktu Euro 2008, di mana Swiss jadi tuan rumah, masyarakat mengkritik habis-habisan aksesoris bola di atas taman air pancur setinggi 104 meter. Sebab, biaya operasional saja mencapai 600 ribu Frank sebulan. Mereka anggap ini sebagai pemborosan yang luar biasa. Saya lukis itu dan ternyata ada yang tertarik mengoleksi.

Bagaimana kehidupan seniman, khususnya pelukis, di Swiss? Apa bisa hidup hanya dengan melukis?

Di mana-mana yang namanya seniman itu sama saja. Di Swiss sekalipun seniman itu nelangsa. Nggak bisa 100 persen mengandalkan hidup dari kesenian. Sebab, semua orang kan harus bayar pajak, asuransi, dan kebutuhan hidup lainnya. Eddy Hara, pelukis Indonesia terkenal yang juga tinggal di Swiss, pun sama saja. Dia bekerja sambil tetap berkesenian.

Anda sendiri bagaimana?

Ya, bekerja juga. Awalnya saya kerja di restoran sebagai tukang cuci piring. Di dapur itu nggak ada kursi, kerja harus cepat, istirahat nggak ada kecuali pada jam tertentu. Harus mengangkat tumpukan piring yang berat. Bayarannya besar memang, tapi punggung saya tidak kuat. Hehehe....

Saya kemudian pindah kerja sebagai pelukis potret dan merestorasi lukisan. Sekarang ini saya kerja di sebuah tempat penitipan anak-anak dua hari seminggu. Pekerjaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya di Indonesia. Saya jadi pengawas anak-anak kecil, ikut bermain-main sama anak-anak yang lucu-lucu itu.

Enaknya di Swiss, pekerjaan apa pun, entah tukang kebun, tukang pel lantai, tukang cuci piring, sangat dihargai. Tidak dipandang rendah. Semua orang itu egaliter. Jadi, kita tidak akan sungkan atau minder hanya karena jadi tukang cuci piring. Lha, kalau nggak ada yang cuci piring, bagaimana bisnis restoran itu bisa jalan?

Karena itu, pelukis-pelukis yang tinggal di Eropa harus punya energi ekstra kalau ingin tetap eksis di kesenian. Dia harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja di luar kesenian dan tetap menggeluti seni lukis. Dan itu tidak mudah. (*)


NASRULLAH

Nama populer: N Roel
Lahir : Sidoarjo, 26 April 1961
Istri : Christine Rod
Hobi : Mancing, jala kaki.

PENDIDIKAN
SDN Tanggulangin/SDN Rambipuji, Jember
SMPN Rambipuji, Jember
SMAN I Sidoarjo
FH Universitas Jember

AKTIVITAS KESENIAN
Pameran tunggal dan pameran bersama di Surabaya, Sidoarjo, dan kota lain di Jawa Timur.
Pameran tunggal di Swiss.
Ikut lomba melukis di Swiss.
Menghadiri Festival Davignon di Provenence, Prancis.



Kompetisi Sangat Ketat



Lain Indonesia, lain pula Eropa. Di benua biru itu iklim kehidupan kesenian, khususnya fine art, jauh lebih bagus ketimbang di negara-negara berkembang macam Indonesia. Festival, pameran lukisan, konser, digelar terus-menerus. Senimannya pun punya reputasi internasional. Itu yang dirasakan Nasrullah di Jenewa, Swiss.

"Hampir semua negara punya orang di Swiss, khususnya Jenewa. Mau seniman macam apa saja ada. Dan itu membuat kompetisi antarseniman sangat tinggi," cerita Nasrullah kepada Radar Surabaya di rumahnya, Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Karena itu, pelukis Eddy Hara yang sangat terkenal di Indonesia menjadi 'orang biasa' di negara penghasil keju dan arloji itu. Begitu juga seniman terkemuka dari negara-negara Asia lainnya. "Saya sendiri, ya, tambah nggak dikenal orang. Wong seniman di Jenewa itu banyak banget," ujar jebolan Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Jenewa dan kota-kota lain di Eropa, papar Nasrullah, juga dipenuhi banyak galeri. Di Jenewa saja ada sedikitnya 500 galeri seni rupa. Ini belum termasuk galeri-galeri di kampus-kampus atau lembaga pendidikan lainnya.

"Padahal, Jenewa itu kotanya nggak seberapa luas. Hampir sama dengan Sidoarjo, cuma kotanya dibuat dengan perencanaan yang sangat matang," katanya.

Karena seniman begitu banyak, sementara jumlah pelukis jauh lebih banyak lagi, kesempatan mengadakan pameran pun sangat terbatas. Apalagi, orang Swiss tidak dikenal mengenal istilah 'pameran bersama' seperti di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia. Yang namanya pameran pasti pameran tunggal.

"Ada pameran bersama, tapi sendiri-sendiri. Belum lama ini, misalnya, saya ikut pameran bersama yang melibatkan banyak galeri. Kita sih kebagian galeri sendiri-sendiri. Jadi, bukan beberapa pelukis pameran di satu galeri," tukasnya.

Kini, selain terus melukis dan bekerja paruh waktu di sebuah tempat penitipan anak, Nasrullah mengaku akan mengambil studi seni rupa di Jenewa. Dia merasa pemahaman kesenian secara akademis bakal menjadi lebih menunjang karirnya sebagai seniman di negeri orang.

"Proses administrasi sudah beres. Saya tinggal kuliah saja," katanya. (rek)

Yan Shi, pelestari syair Tionghoa




Para penyair Tionghoa, yang sempat 'tiarap' selama tiga dekade, kini mulai aktif berkarya. Selain mengisi kolom sastra di media berbahasa Tionghoa, mereka juga menerbitkan buku kumpulan puisi dwibahasa: Tionghoa dan Indonesia.


"Pusi saya sudah banyak sekali. Beberapa di antaranya dimuat di dua buku kumpulan puisi yang sudah saya terbitkan," ujar Yan Shi, salah satu penulis yang sangat produktif menulis puisi dalam bahasa Tionghoa, kepada saya pekan lalu.

Agar puisi-puisinya bisa dinikmati publik lebih luas, Yan Shi membuat puisi dalam dua bahasa: Tionghoa (Mandarin) dan Indonesia. "Syukurlah, sudah banyak orang yang menikmati puisi-puisi saya," ujar perempuan kelahiran Kediri 1 Mei 1938 itu.

Yan Shi mengangkat tema-tema sederhana dalam puisinya. Mulai dari persahabatan, nostalgia, cinta, alam, musik dan kehidupan, hingga peristiwa besar semacam ledakan bom di Bali pada 1 Oktober 2005. Di kuplet awal Yan Shi menulis:

"Mentari menghadap laut
Menyiram sinar pada kaca biru
Yang telah berabad-abad setia
Tiba-tiba menyaksikan dentuman bom bunuh diri."

Sebagai guru bahasa Tionghoa sejak 1958, Yan Shi memang tak asing lagi dengan syair-syair Tionghoa. Begitu datang inspirasi, mantan guru SMA Shin Hua Surabaya ini langsung bisa memilih ungkapan-ungkapan yang padat dan indah.

"Saya memang sudah biasa menulis, termasuk menulis puisi. Jadi, semuanya mengalir begitu saja," kata Yan Shi yang kini menjabat sekretaris Himpunan Penulis Sastra Tionghoa Indonesia Timur.

Han Chuan, pemerhati sastra Tionghoa asal Singapura, menilai Yan Shi sebagai sosok sastrawan yang luar biasa. Dia sangat teguh dalam menekuni sastra Tionghoa di Indonesia.

"Dan sajak-sajaknya selalu dipenuhi rasa nasionalisme yang mendalam. Yan Shi sangat mencintai Indonesia," ujar Han Chuan dalam kata pengantar Kumpulan Sajak Cinta Yan Shi. (*)

PMS bahas Barenboim



Musik bisa menjembatani perbedaan. Palestina dan Israel yang dilanda konflik berkepanjangan pun ternyata bisa berkolaborasi dalam musik. Itulah yang terungkap dalam Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di Wisma Musik Melodia, Jl Ngagel Jaya 12-14 Surabaya, kemarin.

PMS ini dipandu Slamet Abdul Sjukur, pianis sekaligus guru musik senior yang punya reputasi internasional. "Ini bukan teori, melainkan kenyataan. Bahwa ternyata musik berhasil mengatasi permusuhan yang tidak dapat diselesaikan dengan politik maupun senjata," ujar Slamet di hadapan sekitar 20 pianis dan guru musik di Surabaya dan sekitarnya.

Pertemuan ini fokus pada pribadi Barenboim, pianis kawakan yang juga konduktor orkes simfoni. Bersama pemain cello Yo-Yo-Ma dan sastrawan Palestina, Edward Said, Barenboim mengumpulkan para pemuda Yahudi dan Arab. Dua ras yang selama ini bermusuhan bak anjing dan kucing. Mereka menjalani latihan intensif untuk mempergelarkan konser.

Orkes ini diberi nama West-Eastern Divan Orchestra atau Orkes Divan Timur-Barat. Nama orkes ini dipetik dari sajak Goethe, Divan Timur-Barat, yang terinspirasi dari Jalaluddin Rumi. Slamet yang asli Keputran, Surabaya, kemudian mengupas puisi penyair Jerman itu tentang 'kerendahhatian'.

"Kerendahhatian itu berbeda dengan keakuan. Kerendahhatian adalah guru dari semua guru, di mana seluruh hati adalah muridnya," papar Slamet.

Usai menyampaikan pengantar singkat, peserta PMS diajak Slamet Abdul Sjukur menyaksikan rekaman persiapan dan konser orkes simfoni gabungan Arab-Palestina itu. Konser digelar empat kali di kota Weimar, Sevilla (Spanyol), Ramallah (Tepi Barat, Palestina), dan Berlin (Jerman).

"Mereka ini sebenarnya pemuda-pemuda ingusan. Tapi berkat bimbingan dan latihan dari Barenboim, yang memang seorang maestro, orkes mereka sangat menarik," ujar Slamet.

Ivonne Maria, pianis dan guru piano, mengapresiasi orkes simfoni gabungan Arab-Yahudi tersebut. Ini menunjukkan bahwa musik itu universal, bisa dimainkan dan dinikmati siapa saja tanpa memandang bangsa, ras, warna kulit, pilihan politik, dan sebagainya.

"Orang Arab dan Yahudi saja bisa menyatu dalam musik, apalagi kita di Indonesia," tukas Ivonne. (rek)

29 October 2009

More than 20,000 Bibles seized in Malaysia



By Saeed Ahmed, CNN
October 29, 2009 8:54 a.m. EDT

Authorities in Malaysia have seized more than 20,000 Bibles in recent months because they refer to God as "Allah," Christian leaders said Thursday.

The seizures have fed fears among minority groups, which see signs of encroaching Islamic fundamentalism in the predominantly Muslim but multi-racial country.

"There is a growing sense of Islamic assertion, yes," said the Rev. Hermen Shastri, general-secretary of the Council of Churches of Malaysia. "There is some concern."

The Bibles were written in the country's official language, Malay -- in which the word for God is "Allah," as it is in Arabic.

However, Malaysia's government says the word is exclusive to Islam.

Its use in Christian publications is likely to confuse Muslims and draw them to Christianity, the government says. So it has banned use of the word in Christian literature.

"Malay has borrowed from Arabic, just as it has from Sanskrit and Portuguese," Shastri said. "We have maintained the community has the right to use the word.

"But I think this has ignited a cause in the Muslim communities, who are interpreting it as a siege on Islamic beliefs."

A Home Ministry official directed requests for comment to the ministry's Publications and Quran Text Control Department, which enforces the ban. An employee there redirected calls to a spokeswoman, who in turn asked CNN to call the Home Ministry back. Calls to other departments were similarly redirected.

A Roman Catholic weekly newspaper, The Herald, is challenging the ban in court after the government threatened to revoke its license for using the word in its Malay edition. Hearings on the case have gone on for two years.

"We quote it as it is. We cannot change the text of the Scripture," Herald editor Father Lawrence Andrew told CNN last year. "I cannot be the editor of the Bible."

Among the Bibles confiscated were Malay-language ones that the Bible Society of Malaysia said it had imported from Indonesia. About 10,000 others also were confiscated from Gideons International, which places free copies in hotel rooms and other places.

The Malaysian constitution provides for freedom of religion. The country has a dual-track justice system, in which Islamic courts operate alongside civil ones.

Rulings by the Islamic, or sharia, courts are directed toward the country's Muslim, who make up 60 percent of the population. But they worry non-Muslims who see them as Islamism seeping into the moderate nation's fabric.

In November, the National Fatwa Council -- the country's top Islamic body -- banned Muslims from practicing yoga. It said elements of Hinduism in yoga can corrupt Muslims.

The council also bans short hair and boyish behavior for girls, saying they encourage homosexuality.

In northern Malaysia's Kelantan state, authorities have forbidden bright lipstick and high-heeled shoes, saying the bans will safeguard Muslim women's morals and dignity, as well as thwart rape.

And last month, an Islamic court judge in the eastern state of Pahang upheld a verdict to cane a Muslim woman for drinking beer in public.

The country has been mired in inter-faith disputes as well in recent months. In those cases, many non-Muslims complain that the civil courts generally cede control to Islamic courts.

Muslims cannot convert to other religions without the permission of the Islamic courts, which rarely approve such requests.

In relationships in which a Muslim parent has converted children to Islam over the objection of a non-Muslim parent, the sharia courts usually have upheld the conversions.

And earlier this year, a Sikh family lost a court battle to cremate a relative after officials said the man had converted to Islam years before his death, though the family said he hadn't.

25 October 2009

Pamrih Terima Kasih



Hampir tiap hari ada ratusan orang yang nyasar ke blog ini. Mereka umumnya mencari informasi via Google, kemudian diantar ke Wong Kam Pung. Jadi, kesannya seakan-akan blog ini punya ratusan pembaca setia.

Dan tiap hari ada saja orang yang mengirim surat elektronik, minta alamat ini, nomor telepon si anu, data tentang si fulan, hingga partitur paduan suara atau lagu seriosa.

Kalau ada waktu luang, saya berusaha menjawab. Saya usahakan agar informasi tersebut padat, berisi, dan bisa dimanfaatkan. Tapi saya pun sangat selektif memberikan nomor telepon seluler (HP) seseorang.

HP itu barang pribadi. Tidak semua orang boleh mengakses. Apalagi orang-orang penting macam pejabat, artis, dan sebagainya. Bagaimana kalau nomor itu jatuh ke tangan penjahat atau orang-orang berbahaya?

Setelah memberikan informasi kepada teman pembaca, diam-diam, saya selalu berharap datang ucapan TERIMA KASIH. Mau bilang THANK YOU, THANKS, MATUR NUWUN, SUWUN, XIEXIE... atau ungkapan lain yang sejenis, silakan.

Yang jelas, saya sangat berharap ada TERIMA KASIH. Kerja keras saya mencari data, bongkar dokumen, rasanya terbayar dengan dua kata pendek dan klise itu: TERIMA KASIH.

Sayang sekali, berdasar pengalaman, selama ini tak sampai 10 persen orang yang mengirim ucapan TERIMA KASIH kepada saya. Setelah dikasih informasi, bahan-bahan yang dibutuhkan, selesai. Tak ada kabar berita. Nol besar.

Apa sih sulitnya menulis e-mail atau komentar singkat di blog dengan pesan singkat, TERIMA KASIH? Padahal, sebelumnya mereka-mereka ini begitu ngoyo meminta informasi ini itu. Bahkan, terkesan mendesak-desak.

Saya pun merenung sendirian. Begitu sulitkan orang-orang kita, Indonesia, bilang TERIMA KASIH? Jangan-jangan benar kata orang Belanda tempo doeloe bahwa orang Indonesia itu pada dasarnya "kurang tahu ber-TERIMA KASIH"?

Oh, ya, kalau yang minta informasi itu orang Barat (Eropa, Amerika), ucapan TERIMA KASIH pasti segera datang. Begitu juga orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri selalu bilang TERIMA KASIH. Tapi kalau orang-orang kita di Indonesia Raya yang gak maju-maju itu, wah... TERIMA KASIH ternyata sangat mahal. Padahal, TERIMA KASIH itu bukan uang, bukan barang berharga. Cukup diucapkan atau dituliskan saja.

Karena sering tidak dapat ucapan TERIMA KASIH, padahal diam-diam saya harapkan, saya pernah berpikir untuk tidak lagi melayani permintaan pembaca blog. Capek-capek menulis, gali data, bongkar dokumen, paling juga dianggap angin lalu. Saya ibarat orang goblog saja. Maka, cukup lama saya mendiamkan saja permintaan orang.

Sampai suatu ketika saya mendengar khotbah di gereja tentang 10 orang kusta. Sepuluh orang kusta ini dikucilkan masyarakat. Mereka kemudian disembuhkan oleh Yesus Kristus. Apa yang terjadi? Mereka sangat gembira. Bahagia. Meloncat kegirangan.

Sayang sekali, dari 10 orang ini hanya SATU yang datang kembali kepada Yesus untuk bilang TERIMA KASIH. Dan satu orang ini pun orang Samaria yang dianggap rendah martabatnya ketimbang Yahudi. Adapun sembilan bekas penderita kusta lupa ber-TERIMA KASIH. Tidak tahu TERIMA KASIH.

Orang-orang Yahudi memang brengsek sejak zaman dulu!

Marahkan Yesus hanya karena hanya satu orang yang ber-TERIMA KASIH? Tidak. Apakah gara-gara kasus ini Yesus berhenti berbuat baik kepada sesama? Tidak. "Sebab, Yesus menyembuhkan 10 orang kusta itu tanpa pamrih apa pun," kata sang pastor dalam khotbah di gereja yang saya ikuti.

Khotbah ini membuat pikiran saya melayang ke blog. Yang bilang TERIMA KASIH kepada saya, setelah saya bantu memberikan informasi, tak sampai 90 persen. Jauh lebih banyak yang tidak pernah bilang TERIMA KASIH. Jauh lebih banyak yang hanya bisa minta, minta, minta, minta... dan alpa ber-TERIMA KASIH.

Pekan lalu, saya memberikan hadiah 20 kilogram beras kepada seorang seniman senior yang hidup serbakurang di Sidoarjo. Dia kerap SMS saya, bagi pengalaman, minta koran, dan sebagainya.

Saya berharap, setelah menitipkan beras di rumahnya, karena keluarga seniman itu tidak berada di rumah, beliau mengirim SMS berisi ucapan TERIMA KASIH. Tapi sampai sekarang belum ada pesan pendek, tapi penting itu. Saya pun merenung lagi.

"Kalau berbuat baik, jangan minta PAMRIH apa pun," begitu kata-kata pastor yang sering saya dengar. Termasuk pamrih TERIMA KASIH.

Yesus Kristus dalam Injil Matius Matius 6:3 mengatakan:

"Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu."

Tuhan, jadikan aku orang yang suka bersyukur!
Jadikan aku orang yang pandai berterima kasih!