29 June 2015

Tari Lenso (Trisakti) Tinggal Kenangan



Bung Karno bukan sekadar ideolog, jago ngomong, tapi selalu berusaha melaksanakan ide-ide besarnya. Ketika bicara soal Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari ekonomi, berkepribadian di bidang kebudayaan), Bung Karno langsung action. Kebijakan-kebijakannya, suka tak suka, selalu sejalan dengan Trisakti itu.

Inilah bedanya dengan pemimpin-pemimpin sekarang. Ngomong revolusi mental, tapi tak jelas juntrungannya. Revolusi koyok opo? Ngomong revolusi mental, tapi KPK diobok-obok. Ngomong Nawacita, tapi realisasi 9 cita-cita seperti apa, ora jelas. Anak dan cucunya Bung Karno, Bu Mega dan Mbak Puan, juga sering bicara Trisakti, tapi apa maksudnya? Ora jelas.

"Kader PDI Perjuangan agar mengamalkan Trisakti Bung Karno dan Nawacita... kalau mau maju di pilkada," kata Megawati Soekarnoputri yang saya baca di koran pagi ini.

Trisakti. Nawacita. Ini konsep yang terlalu besar, yang tidak bisa dilaksanakan secara individual. Ini menyangkut sistem ekonomi, pasal 33 UUD 1945, kebijakan negara yang strategis. Kalau hanya sekadar membaca dan menghafal konsep Trisakti, gampang. Tinggal membaca pidato-pidato lama Bung Karno. Jokowi sendiri mungkin sudah lupa Nawacitanya sendiri.

Kembali ke soal Trisakti, khususnya butir kebudayaan, kalau tidak salah, Bung Karno gencar sekali mengangkat tarian daerah untuk dibawakan di acara-acara nasional, regional, bahkan sampai ke desa-desa. Bung Karno melarang musik ngak-ngek-ngok, dansa-dansi, dan hiburan lain yang berbau imperialis Barat. "Dulu tari lenso dan serampang 12 dibawakan di mana-mana," kata Mbah Gito di kawasan Pucang, Surabaya.

Kemarin, wartawan senior Peter A. Rohi merilis foto lama beberapa wanita di Ende, Flores, menari lenso seperti dianjurkan Bung Karno. Berpakaian sarung tenun ikat khas Ende, para wanita itu berlenggak-lenggok di atas pasir. Peter Rohi menulis:

"Bung Karno adalah pemuja seni tanah air dari mana ia bisa melihat Indonesia. Selama empat tahun dalam interniren di Ende, Flores, 1934-1938, dia tidak boleh berpolitik dan tidak boleh membaca buku2 politik. Tapi bukan Bung Karno kalau ia taat begitu saja pada aturan kolonial. Dia membuka kegiatan politik melalui seni tari dan drama. Dia membaca buku2 di perpustakaan pastoran, karena dia tahu Belanda tak mampu melampaui otonomi gereja katolik. Pastor Hetink menjamin Bung Karno boleh membaca dan meminjam buku2 dari perpustakaan pastoran.

"Selama di Ende, cerita mendiang Kepala Daerah pertama Flores, Monteiro, Bung Karno suka tari lenso. Dia membawa teman2nya ke permandian Wolaare, dan di sanalah mereka melakukan kegiatan seni itu, tari lenso."

Sayang, setelah Bung Karno dijatuhkan, semua ajarannya, khususnya Trisakti, dilenyapkan di Indonesia. Rezim Orde Baru secara sistematis menghilangkan semua yang berbau Bung Karno di Indonesia. Termasuk tari lenso dan serampang 12 yang pernah sangat terkenal pada era 1960-an itu. Maka, saya tidak pernah meihat tari lenso dimainkan saat pesta atau perayaan-perayaan di Flores, NTT, khususnya.

Yang justru populer adalah dansa-dansi ala Eropa yang dulu dimaki-maki Bung Karno. Acara dansa-dansi ini bahkan sering berlebihan, dilakukan sampai pagi hari. Ketika mahasiswa NTT berkumpul di kos-kosan di Jawa pun yang menonjol justru pesta dansa. "Juaranya pasti teman-teman dari Kabupaten Ngada. Dulu sih juaranya mahasiswa Timor Timur," kata Ansel, bekas aktivis mahasiswa di Jatim.

28 June 2015

Himne Lama Masih Enak

Mampir ke kampus Universitas Kristen Petra Surabaya belum lama ini, lamat-lamat terdengar nyanyian lama. Melodinya persis lagu Salam Santa Maria yang sangat terkenal saat saya kecil di Flores Timur, NTT. Mahasiswa dan dosen Petra yang 96 persen Protestan nyanyi lagu devosi Bunda Maria?

Tentu saja tidak. Lagunya memang sama dengan nyanyian Katolik di buku Syukur Kepada Bapa (dulu dipakai di NTT), tapi syairnya tak ada hubungan dengan Santa Maria. Lagu yang dibawakan di UK Petra ini berjudul Serikat Persaudaraan. Dari Kidung Jemaat No 249. "Lagu Serikat Persaudaraan selalu dinyanyikan saat kebaktian di sini," kata seorang dosen UK Petra asal NTT.

Gara-gara dengar Salam Santa Maria, eh Serikat Persaudaraan di UK Petra, saya mulai iseng memeriksa lagu-lagu Protestan di Kidung Jemaat. Wow, banyak himne yang sama dengan di Katolik. Di sebelahnya Serikat Persaudaraan, ada lagu Allahmu Benteng yang Teguh. Sama persis dengan di Puji Syukur, buku nyanyian resmi umat Katolik di Jawa.

Masih dekat dengan Serikat, KJ 247, lagu yang sangat terkenal di Katolik: Terpuji Sang Kristus. Namun, di KJ judulnya Sungguh, Kerajaan Allah di Bumi Tak Kalah. Makin banyak kita periksa, makin terlihat kesamaan selera musik saudara-saudari kita di gereja reformasi. Gerak melodi, pola penerjemahan, aransemen kor... sangat mirip.

Sejak mendengar himne Protestan di UK Petra itu, saya mulai rajin melacak himne-himne gereja lama di YouTube. Enak-enak ternyata. Lagunya sederhana, tidak sulit, sengaja dibuat untuk nyanyian jemaat. Bukan lagu solo ala worship songs yang dibawakan bersama-sama. Asyik betul menikmati lagu-lagu lawas yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Betapa berbedanya dengan lagu-lagu kristiani yang saya dengar saat mengikuti kebaktian ala karismatik di Rutan Medaeng bulan lalu. Kita seperti menonton konser artis pop di lapangan. Ada band, tiga penyanyi yang disebut worship leader, lalu jemaat ibarat fans sang artis itu. Yang menggelegar suara musik karena sound system yang tidak proporsional.

Tak tahan, saya pamit panitia, Tante Lanny, dengan alasan yang dibuat-buat. Agar meninggalkan kebaktian kristiani yang corak musiknya tidak cocok dengan selera saya. Belum lagi celetukan-celetukan Haleluya dan "bahasa roh" yang berhamburan. "Ini memang ibadah raya khas anak muda yang lagi ngetren," kata seorang panitia.

Begitulah. Sebagaimana musik pop, musik liturgi gerejawi pun punya segmen sendiri-sendiri. Ada yang suka himne lawas ala Kidung Jemaat, Puji Syukur, Nyanyian Kemenangan Iman... tapi banyak juga yang doyan praise and worship songs ala gereja-gereja karismatik yang booming di Indonesia sejak 1980an. Semua dapat tempat!

Orang yang terbiasa dengan himne-himne lawas akan kelimpungan ketika disuguhi musik dar-der-dor, loncat-loncat ala Bethany dan sejenisnya. Sebaliknya, para pemuja praise and worship music menganggap himne sebagai lagu-lagu kacangan yang tidak bermutu.

"Itu lagu yang tidak mengantar kita ke hadirat Tuhan," ujar FS, seorang artis penyanyi lagu-lagu worship terkenal di Indonesia, dalam sebuah seminar di Surabaya. Malamnya FS bikin konser di kebaktian kebangunan rohani di mal besar di Surabaya.

Lantas, lagu-lagu yang bagus, membawa ke hadirat Tuhan, penuh kuasa roh kudus itu seperti apa? Jawabannya mbulet dan panjang lebar. Tapi ujung-ujungnya tidak jauh dari lagu-lagu ciptaannya di CD yang ia promosikan di sela seminar.

Hehehe... Jualan kaset sembari menjelek-jelekkan lagu-lagu lama di Kidung Jemaat. Inilah bedanya penulis-penulis himne masa lalu seperti Fanny Jane Crosby, William Bradbury, atau Martin Luther. Yang pasti, penulis-penulis himne lama ini sama sekali tidak punya motivasi jualan kaset, selain memuji dan memuliakan Tuhan lewat nyanyian.

27 June 2015

Argentina vs Kolombia menjemukan

Orang USA tidak suka sepak bola karena golnya sedikit. Beda dengan basket atau american footbal yang golnya buanyaak. Maka, kalau ingin disukai orang USA, bikinlah aturan main baru agar balbalan bisa menghasilkan banyak gol.

Ada benarnya juga pendapat orang Amerika. Saya pun jengah ketika menonton sepak bola, 90 menit, plus tambahan waktu, tanpa gol. Kok gak gol-gol sih? Kapan golnya? Masa Messi gak bisa bikin gol? Tapi, apa boleh buat, orang yang sudah kecanduan bola sulit meninggalkan televisi meski peluang gol hanpir tidak ada. Mirip pecandu rokok yang sulit meninggalkan rokoknya.

Begitulah. Laga semifinal Copa America beberapa menit lalu, Argentina vs Kolombia, bagi saya, sangat menjemukan. Main selama 90 menit tanpa gol. Skor 0-0 ini sejak dulu paling saya benci. Saya suka skor 3-3 atau 4-4 atau 5-4 dst.

Benar-benar tidak asyik menonton pemain kelas dunia macam Messi, di Maria, Teves, cuma bisa berputar-putar, protes wasit, jegal lawan... tapi tidak bisa menghasilkan gol. Gak mutu!

Saya dari dulu suka balbalan yang sudah ada gol sebelum menit ke-20. Pertandingan pasti menarik. Sebab tim yang ketinggalan dipaksa menyerang agar bisa membalas. Mainnya jadi terbuka. Ini membuat tim yang menang bisa menambah gol lagi karena beknya ikut naik. Atau, skor jadi 1-1. Seru!

Syukurlah, Amerika Latin menggunakan sistem pertandingan 90 menit tanpa extra time 2 x 15 menit. Mestinya sistem ini diadopsi FIFA jadi standar internasional. Buat apa dikasih perpanjangan waktu 30 menit? Bukankah 90 menit itu sangat lama? Salah sendiri tidak bisa bikin gol pada masa 2 x 45 menit. Langsung saja adu penalti untuk menentukan pemenang.

Yang menarik dalam pertandingan Argentina vs Kolombia ini adalah adu penaltinya. Argetina akhirnya lolos ke semifinal. Sebetulnya saya sih ingin Argentina yang kalah sebagai hukuman atas kegagalan Messi dkk tidak membuat gol dalam 90 menit.

Kolombia gak usah menangis. Salahmu sendiri tidak mampu mencetak gol. Lalu, kapan ya ada pertandingan sepak bola yang sama-sama menyerang, banyak gol, cepat, semangat, pantang menyerah.. seperti Jerman vs Belanda di Piala Eropa dulu ya? Sampai sekarang, menurut saya, kayaknya belum ada pertandingan bola semenarik era Van Basten, Gullit, Rijkaard, Lothar Mathaeus, Klinsman dkk.

Salam balbalan!


Sent from my BlackBerry

26 June 2015

Lebih enak zaman Belanda? Enak zaman Pak Harto?

Kaget juga mendengar celetukan seorang opa, 80 tahun lebih, masih kuat, saat ngobrol di sebuah warung kopi di kawasan Pucangsewu, Surabaya. Opa berpendidikan Belanda itu bilang hidup di zaman penjajahan Belanda lebih enak ketimbang sekarang.

"Aneh, orang tua ini," pikir saya. Sejak SD, bahkan TK, kita mendapat pelajaran tentang betapa kejamnya penjajah Belanda. Rakyat ditindak, disiksa. Kerja paksa, Tanam paksa. Rakyat jajahan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Tuan dan nyonya Belanda di atas segalanya. Menikmati pelbagai kemewahan, hasil menguras hasil bumi dan alam Nusantara.

"Kok bisa sampean bilang zaman Belanda lebih enak? Belanda itu kejam-kejam," kata saya agak sok tahu.

"Gak kejam sebenarnya," ujar sang Opa. "Situasinya panas, gak karuan, itu justru zaman Jepang. Sebelumnya kita merasakan tenang-tenang saja... gak banyak gejolak," kata kakek kelahiran Surabaya itu.

"Tapi kan pejuang-pejuang itu banyak ditangkap, dibuang, dibui, dan sebagainya. Kok Anda bilang tenang-tenang saja?" pancing saya.

Masa itu, tahun 1930an, tentu belum ada telepon seluler, telepon biasa, atau media massa macam koran, radio, apalagi televisi. Kalaupun ada telepon lawas atau radio, mungkin koran, jumlahnya amat sangat terbatas. Karena itu, Opa Jadul ini mengatakan, rakyat biasa tidak pernah tahu ada penangkapan-penangkapan yang dilakukan aparat Hindia Belanda.

Apalagi, Opa Jadul yang masih anak-anak mana paham urusan politik tingkat tinggi di Hindia Belanda masa itu. Dia hanya tahu bahwa zaman itu enak, tenang, tidak ruwet. Mana ada kemacetan di jalan raya? Surabaya, kota besar yang sudah terkenal di era Hindia Belanda, pun masih sepi. "Daerah sini (Pucang) masih sawah-sawah yang luas. Penduduknya sangat sedikit," katanya.

Opa Jadul itu kemudian membandingkan kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb dsb di Indonesia saat ini yang tidak karuan. Dolar USA masih tenang di atas Rp 13.300. Mata uang rupiah seperti tak ada harganya di dunia. Opa Jadul kemudian mengenang uang recehan kecil era Belanda yang nilainya sangat tinggi.

Bangunan-bangunan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda juga bagus dan kuat. Bahkan, masih awet sampai sekarang. Bandingkan dengan kondisi bangunan sekarang yang keropos, asal jadi. Belum lima tahun sudah hancur. Bahkan, ada gedung sekolah (dimuat di koran pagi itu) yang sudah rusak sebelum diresmikan. "Zaman dulu Belanda) gak ada yang main-main kalau bikin bangunan," katanya.

Pagi yang lain, saya bertemu opa yang lain lagi, juga di atas 80 tahun. Pria Tionghoa ini lebih banyak membahas kondisi ekonomi Indonesia yang dianggap kurang mantap. Pengusaha-pengusaha kesulitan membayar upah buruh sesuai ketentuan UMK Surabaya/Sidoarjo yang nilainya Rp 2,7 juta sebulan.

"Bagaimana bisa mbayar gaji (UMK) kalau kondisinya masih seperti ini," kata opa sepuh yang masih sehat waras itu.

Dia kemudian bernostalgia ke masa yang jauuuh di belakang: zaman Hindia Belanda. Kesannya bagus-bagus, ibarat lautan yang teduh. Ada gejolak, tapi tidak sampai mencemaskan.

Yen dipikir-pikir, manusia yang semakin tua punya kecenderungan untuk meromantisasi masa lalu. Nostalgia yang bagus-bagus. Makanya, tidak heran dalam beberapa tahun terakhir foto Presiden Soeharto (Pak Harto) dipasang di truk-truk atau kaos. "Piye... Enak jamanku to!"

Setelah melewati banyak tahun, manusia memang cenderung menyeleksi memori di kepalanya. Yang diingat cuma yang baik-baik saja seperti bensin murah, sekolah bisa gratis beneran, buku-buku pelajaran bisa dipakai bertahun-tahun (tidak gonta-ganti terus kayak sekarang), kehidupan yang guyub dan tenang di desa sambil menonton TVRI hitam putih, satu-satunya televisi zaman Orde Baru.

Yang maki-maki Pak Harto dan Orde Baru biasanya para politisi oposisi atau korban politik buldoser ala Orba. "Siapa bilang Pak Harto bagus? Orde Baru lebih baik? Saya ini dibuang ke Pulau Buru selama 10 tahun tanpa diadili sama sekali. Sampai sekarang saya tidak tahu apa kesalahan saya hingga dibuang ke Pulau Buru," kata Gregorius Suharsojo, seniman tua yang tinggal di Taman, Sidoarjo, kepada saya.

Bagi Suharsojo, yang dulu aktif di Lekra, lembaga kebudayaan yang dituduh terkait PKI, rezim Soeharto alias Orde Baru itu sangat brengsek, melanggar HAM, tidak demokratis, kejam, sewenang-wenang dst dst.

"Baca itu tulisan-tulisan tentang Pulau Buru, eks tapol, dsb. Pak Harto itu hanya kenal 3B: buang, bui, bunuh. Masih untung saya cuma dibuang ke Buru. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang Indonesia yang mati gara-gara Orde Baru. Gombal kalau dibilang zaman Pak Harto itu enak," protes Opa Greg dengan nada tinggi.

Begitulah. Angle atau sudut pandang orang beda-beda dalam melihat sebuah peristiwa. Apalagi masa lalu yang jauh. Pengalaman orang memang berbeda. Banyak orang yang senang dengan sistem pemerintahan ala Pak Harto, tapi banyak juga yang menderita. Di zaman Hindia Belanda pun ada saja orang yang senang dan diuntungkan.

22 June 2015

Gampang jadi WNI? Jadilah pemain sepak bola!


Kick Andy di Metro TV siang kemarin (siaran ulangan) sangat menarik. Beberapa warga negara asing (WNA), bule Eropa, peneliti, dosen yang sudah puluhan tahun mengabdi di Indonesia curhat betapa sulitnya menjadi warga negara Indonesia. Padahal mereka mengaku sangat cinta negara ini.

"Kalau ada syarat yang belum lengkap, tolong tunjukkan. Agar saya bisa melengkapi," kata Mr Hywel Coleman asal Inggris yang profesor doktor.

Dosen bahasa Inggris ini tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 23 tahun. Dimulai dari Bengkulu, dia ditugaskan di berbagai kota di tanah air. Untuk mencerdaskan anak bangsa agar bisa ngomong English. Coleman juga lama bekerja membantu kementerian pendidikan dan kebudayaan. Karena itu, dia akrab dengan Fuad Hasan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan.

Tapi dedikasi dan reputasi seorang Coleman rupanya dianggap belum cukup untuk jadi WNI. Apa lagi syarat yang kurang? Coleman tidak tahu karena tidak pernah diberi tahu. Namun dia tetap ingin menghabiskan usia di Indonesia. Coleman sudah menyiapkan makam untuk rumah masa depannya.

Komentar Andy Flores Noya, host acara Kick Andy, membuat saya tertawa terbahak-bahak. Lucu tapi pahit. Penonton di studio malah diam karena guyonan ala Andy Noya ini memang gak enak.

"Mengapa Anda sulit sekali jadi WNI?" tanya Andy Noya. Lantas dijawab sendiri, "Karena Pak Coleman bukan pemain sepak bola. Coba Anda pemain sepak bola, begitu Anda tiba di Indonesia, bahkan masih di bandara, Anda sudah dapat status WNI."

Hahahaha.... Saya suka banget humor ala Andy Noya ini. Tajam, lucu, satir, sangat telak. Pernyataan itu juga menurut saya sekaligus kesimpulan bincang-bincang bersama para bule di Kick Andy itu. Ah, andaikan Coleman pemain bola!

Mas Wahyu yang mualaf, lahir di Skotlandia, status warga negara Australia, pakai songkok dan berkali-kali menyatakan kemualafannya di Kick Andy. Dia juga tak mau pakai nama Barat tapi Mas Wahyu yang sangat Jawa. Beda banget dengan etika Barat yang cenderung tidak membicarakan agama atau keimanan pribadi di muka umum.

Toh, Mas Wahyu yang juga pengasuh program islami di beberapa televisi nasional itu juga susah dapat status WNI. Wahyu boleh mualaf, Islam taat, nama Jawa, penampilan ustad, tapi jangan lupa... bukan pemain sepak bola. Seandainya Mas Wahyu mualaf ini pemain bola, ceritanya jadi lain sekali. Tiba di bandara sudah resmi WNI lalu memperkuat tim nasional bentukan PSSI.

Acara Kick Andy kemarin, khususnya celetukan Andy F Noya, soal pemain bola yang begitu mudahnya dinaturalisasi, benar-benar mewakili uneg-uneg saya selama ini.

Apa pun alasannya, saya sudah lama melihat diskriminasi yang luar biasa dalam proses naturalisasi sejumlah WNA yang puluhan tahun mengabdi untuk Indonesia dengan pemain sepak bola. Padahal, dari dulu timnas PSSI sulit menang lawan Malaysia atau Thailand. Boro-boro ke Piala Dunia, juara SEA Games saja nyaris mustahil. Padahal negara-negara peserta SEA Games ini kelasnya paling lemah di Asia dalam urusan balbalan.

Tidak hanya Mr Coleman atau Mas Wahyu yang harus menunggu puluhan tahun untuk diakui sebagai WNI. Juara-juara bulutangkis kita yang keturunan Tionghoa pun sama saja. Sudah mengharumkan nama Indonesia, sumbang medali emas di berbagai kejuaraan... eh ternyata juga dipersulit jadi WNI. Sampai-sampai ada sejumlah pemain dan pelatih top yang putus asa dan memilih jadi warga negara Tiongkok atau negara lain.

Mengapa bisa begitu? Jawabnya itu tadi: karena mereka bukan pemain sepak bola! Itulah Indonesia, negeri ajaib yang mengagung-agungkan sepak bola yang tidak maju-maju itu.


Sent from my BlackBerry

20 June 2015

Peter A Rohi: Bung Karno Lahir di Pandean IV Surabaya



Usianya tahun ini masuk 73 tahun. Tapi Peter Apollonius Rohi masih rajin meliput, menulis, diskusi, ngelencer, bercerita, dan tertawa khas. Omongannya masih meletup-letup khas orang NTT bagian selatan yang ngeyel memperjuangkan gagasannya. Peter A Rohi, nama populernya di media massa, wartawan senior asal Pulau Sabu, NTT, beralamat KTP di Surabaya, tapi lebih banyak bekerja di Jakarta.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Kita bekerja terus sampai akhir," kata Om Peter yang dekat dengan komunitas tempo doeloe di Surabaya dan NTT.

Rasanya tak akan ada lagi wartawan nyentrik, pekerja keras, blusukan ke mana-mana macam Peter A Rohi. Dia bisa seenaknya pergi meliput ke mana-mana, lokasi yang jauh dari Surabaya/Jakarta (kantor redaksi), dalam waktu lama tanpa takut dipecat. Peter tak kenal sistem mengisi daftar hadir elektronik ala perusahaan media sekarang.

"Wartawan itu harus bebas. Agar liputannya tajam, dibaca pengambil kebijakan, dan punya pengaruh di masyarakat. Buat apa menulis banyak berita tapi kelasnya cuma ecek-ecek? Beta bukan tipe wartawan macam itu," kata wartawan yang banyak membidani berbagai koran di Indonesia sejak 1980-an itu.

Biasanya, setelah dikelola enam bulan atau setahun, Peter minggat, keluar, dan jadi wartawan bebas alias freelance. Kemudian ada saja pemodal yang mengajak bekas KKO (marinir) ini untuk bikin koran baru. Bosan, ditinggal lagi... dst dst. "Beta sampai sekarang bikin reportase dan dimuat di mana-mana," katanya dengan suara nyaring.

Di Surabaya, Peter A Rohi lebih dikenal karena kegigihannya "menemukan" rumah tempat kelahiran Bung Karno (Ir Sukarno), presiden pertama Indonesia. Berbekal segepok buku referensi, yang sangat banyak di rumahnya di Kampung Malang itu, Peter dan kawan-kawan dari Sukarno Institute akhirnya pada bulan Bung Karno, Juni 2010, bikin deklarasi besar-besaran bahwa Bung Karno itu arek Surabaya. Beliau lahir di Jalan Pandean IV, Surabaya.

"Ketika berita itu diturunkan media cetak dan media elektronika, beta dikecam orang dari mana-mana. Beta sudah siap menghadapi serangan-serangan itu," katanya. Peter A Rohi diserang karena ngotot memasang prasasti di kampung Pandean IV itu bahwa Sukarno lahir di Surabaya. Padahal selama Orde Baru orang Indonesia diindoktrinasi lewat buku-buku dan pelajaran sejarah bahwa Bung Karno lahir di Blitar.

Karena itu, Peter tidak menyelahkan penulis pidato Presiden Jokowi yang menyatakan Bung Karno lahir di Blitar. "Beta memahami betapa sulitnya meyakinkan orang tentang pelurusan sebuah kebenaran yang sudah lama tertanam dalam benak setiap orang Indonesia pada kurun waktu itu," katanya.

Jangankan Sukarni Rinakit, penulis pidato Jokowi, atau Presiden Jokowi, saat survei lima tahun lalu pun warga Pandean dan Lawang Seketang di Surabaya pun tidak tahu bahwa Bung Karno, sang proklamator, lahir di kampung mereka. Ketua RT, RW, tokoh masyarakat pun tahunya Bung Karno lahir di Blitar. Wartawan-wartawan muda pun tak tahu. Karena itu, hasil riset Peter Rohi dkk ini besoknya menjadi berita besar di media massa Surabaya. Lalu dipasanglah prasasti di rumah itu yang dipimpin Wali Kota Bu Risma Harini.

Peter menjelaskan, sejak 1967 rezim Orde Baru mengganti kota kelahiran Bung Karno, Surabaya jadi Blitar, saat merilis terjemahan buku Soekarno, an Autobiography as told to Cyndi Adams. Terjemahan itu dilakukan ABRI (militer) dengan kata sambutan Presiden Soeharto. "Buku terjemahan itu dibuat dengan menyelipkan pesanan-pesanan khusus untuk mendiskreditkan Bung Karno," kata Peter.

Sejarah memang milik pemenang. Karena itu, setelah Bung Karno dijatuhkan, sejarah versi sang pemenang, Orde Baru, dikeluarkan secara sistematis, terstruktur, dan masif sejak 1967 untuk menggantikan buku-buku sejarah sebelumnya. Generasi yag lahir sejak 1967 dicecoki dengan buku sejarah yang salah itu. Sayangnya, buku Cyndi Adams yang asli, versi Inggris, pun dilarang beredar di Indonesia.

Mmantan direktur sejarah Anhar Gonggong saat berdebat di Metro TV pun saat itu berpendapat Bung Karno lahir di Blitar. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam pun bingung dan minta waktu untuk meneliti kembali "penemuan" yang sebetulnya sudah jadi pengetahuan umum ilmuwan Barat itu.

"Puji Tuhan, setelah arsip-arsip lama dibuka, ternyata saya yang benar!" kata Peter A Rohi bangga.

18 June 2015

Polemik awal Ramadan sangat menarik

Pemerintah menetapkan awal Ramadan 1436 H jatuh pada 18 Juni 2015. Begitu pengumuman Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Alasan menteri yang kader PPP itu karena hilal atau anak bulan sabit yang sangat kecil tidak terlihat menjelang magrib 17 Juli 2015.

"Pengamatan hilal dilakukan di 36 tempat di seluruh Indonesia," kata Pak Menteri dalam konferensi pers hasil sidang isbat di Jakarta yang disiarkan tvOne.

Bagi orang awam, pengumuman pemerintah ini sudah standar. Setiap tahun menjelang puasa juga begitu. Ada kegiatan pengamatan bulan pakai teleskop, kemudian bikin laporan ke Jakarta. Kalau hilal terlihat, maka besoknya puasa atau Lebaran. Kecuali Muhammadiyah yang dari dulu pakai sistem perhitungan atau hisab tanpa perlu memelototi bulan segala.

Bagi mereka yang paham ilmu falak, apalagi astronom, ada yang lucu dalam kegiatan pengamatan hilal di 36 titik kemarin. Mengapa? Sebab konjungsi atau ijtimak terjadi jauh setelah matahari terbenam. Tepatnya pukul 21.05 WIB. Ijtimak itu artinya posisi bulan, bumi, dan matahari sejajar. Inilah batas pergantian hari dalam penanggalan bulan atau Imlek versi Tionghoa.

Lha, kalau konjungsinya jam sembilan malam, mengapa harus capek-capek memelototi ufuk saat surya tenggelam? Hilal atau anak bulan itu tentu tidak akan terlihat. Hil yang mustahal, kata Srimulat tempo dulu. Wong hilal baru terbentuk setelah konjungsi.

Tapi, pemantauan hilal harus dilakukan karena sudah tradisi dari tahun ke tahun. Bukan saja tradisi tapi sudah menyangkut keyakinan atau doktrin agama. Aturan awal puasa memang sudah begitu: mulailah puasa ketika engkau melihat hilal! Jadi, harus dilihat secara visual (harfiah) meskipun ilmu astronomi dengan tegas menyatakan bahwa Selasa 16 Juni 2015 itu hilal tidak akan mungkin terlihat dengan alat secanggih apa pun.

Dulu saya tidak begitu peduli dengan urusan pemantauan hilal, awal puasa, atau kapan Idulfitri. Saya hanya berpatokan pada tanggal merah yang ada di kalender plus pengumuman hari libur yang disampaikan jauh hari sebelumnya. Awalnya sih selalu cocok, khususnya zaman Orde Baru. Tapi, setelah sering terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran, saya mulai tertarik mendalami lagi pelajaran ilmu bumi antariksa zaman SMP dulu.

Saya jadi ingat Pak Martinus (almarhum), guru di SMP di Larantuka Flores, yang sangat piawai menjelaskan konjungsi, rotasi bumi, revolusi, dsb. Ilmu falak inilah yang menjadi dasar penentuan puasa dan lebaran. Saya pun jadi semangat membaca lagi buku lawas atau internet.

Akhirnya, saya jadi sadar dan sangat bisa memahami mengapa sering terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran di Indonesia. Saya pun jadi sangat memahami mengapa Muhammadiyah selalu mengumumkan awal puasa dan lebaran beberapa minggu sebelumnya. Saya juga sangat memahami mengapa harus ada pemantauan bulan meskipun perhitungan astronomisnya sudah sangat jelas.

Intinya, selama belum ada kesepakatan tentang kriteria hilal, ketinggian berapa derajat, usia hilal... maka perbedaan awal puasa dan/atau lebaran akan sering terjadi. Kriteria Mabims (menteri agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) bahwa tinggi hilal itu minimal 2 derajat ternyata tidak sepenuhnya diterima di Indonesia.

Ada ormas yang tidak berpatokan pada ketinggian hilal tapi konjungsi sebelum matahari terbenam. Kalau sudah konjungsi, berapa pun ketinggian hilal, dilihat atau tidak, sudah masuk 1 Ramadan atau 1 Syawal. Sebaliknya, pemerintah dan sebagian besar ormas merujuk pada kriteria Mabims itu. Maka, kalau awal puasa tahun 2015 ini bisa bersama-sama, itu berkat kehendak alam. Bukan hasil pendekatan atau lobi menteri agama dsb.

Lantas, bagaimana dengan 1 Syawal 1436? Kuncinya ya ijtimak atau konjungsi itu tadi.

Data dari Lapan menyebutkan, konjungsi pada akhir bulan Ramadan nanti terjadi pada Kamis 16 Juli 2015 pukul 08.24 WIB. Karena konjungsinya pagi hari, besar kemungkinan si hilal bisa dilihat dengan teleskop karena ketinggiannya 2-3 derajat. Maka, ormas seperti Muhammadiyah bisa dipastikan berlebaran pada 17 Juli 2015.

Apakah pemerintah juga akan sama dengan Muhammadiyah? Secara teori astronomi memang begitu. Tapi, karena hilal harus bisa dilihat mata, bisa jadi bulan baru itu tidak bisa diamati tim pemantau di 36 lokasi seluruh Indonesia itu karena gangguan cuaca dan sebagainya. Kalau sudah begitu, pemerintah bisa saja menetapkan Idulfitri jatuh pada 18 Juli 2015.

Sangat menarik mengikuti polemik tahunan tentang awal puasa dan lebaran di Indonesia. Kita semua, termasuk saya yang tidak berpuasa, dipaksa untuk mendalami kembali ilmu pengetahuan bumi dan antariksa, mata pelajaran lawas versi Orde Baru itu.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk umat Islam di Indonesia dan di mana saja! Salam damai!

Sekolah pinggiran kalahkan sekolah favorit

Peta mutu sekolah-sekolah di Jawa Timur berubah drastis sejak tahun 2000an. Sekolah-sekolah negeri atau swasta yang dulu favorit, langganan unas terbaik, NEM tertinggi, dan sejenisnya kini nyaris tak terdengar. Sekolah-sekolah di pelosok pun makin unjuk prestasi.

Siapa yang menyangka kalau siswi sebuah SMP di Bangkalan, Madura, justru jadi peraih unas terbaik SMP se-Jatim? Dulu orang memandang sebelah mata Madura yang dianggap kering dan serba tertinggal. Termasuk ketinggalan dalam pelajaran dan kualitas pendidikan. Makan jagung pula.

Kemarin diumumkan peraih nilai ujian sekolah tertinggi tingkat SD/MI se-Jatim. SDN Kedungboto paling tinggi. MI Roudotul Ikhsan Sidoarjo juga tertinggi untuk madrasah ibtidaiyah. Bukan itu saja. Murid SDN Candi Sidoarjo juga tercatat sebagai peraih unas tertinggi tingkat SD. Nilai rata-ratanya 10 alias sempurna!

Sebaliknya, nilai para murid SD di Kota Surabaya malah jeblok. Koran-koran pun menyoroti kegagalan sekolah-sekolah di kota terbesar di Jatim ini yang hampir berulang setiap tahun. Apa sih yang tak ada di Surabaya? Fasilitas pendidikan terlengkap, bahkan berlebih. Guru-gurunya juga mumpuni. Komputer, laboratorium, teknologi informasi dsb melimpah.

Kok bisa kalah sama Madura atau Sidoarjo? Sudah banyak pengamat yang membeberkan alasan kemunduran pendidikan di Surabaya, khususnya di sekolah-sekolah elite, mahal, dan favorit. Juga keberhasilan para murid di sekolah-sekolah pinggiran yang makin moncer dalam kompetisi ujian sekolah atau ujian nasional.

Kalau dicermati saksama, kualitas pendidikan cenderung makin merata di Jatim. Wilayah terpencil yang dulu krisis guru, buku, gedung dsb kini mulai teratasi. Bahkan, saya lihat sendiri guru-guru yang mengajar di sekolah paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo, SDN Gebang 2, Dusun Pucukan, Kecamatan Kota, punya dedikasi yang luar biasa. Selain punya kompetensi yang sama dengan guru-guru di kota.

Bu Sumini misalnya tak ingin pindah ke sekolah di kota meskipun harus naik perahu motor selama satu jam lebih ke Pucukan setiap hari kerja. Kalau air surut, guru-guru bisa tertahan berjam-jam di kampung tambak itu. Anak-anak SD di Pucukan diajar layaknya murid bimbingan belajar. Sangat intensif.

Buku-buku pun saya lihat menumpuk. Komputer yang tidak ada karena listrik PLN belum masuk. "Kalau anak-anak mau belajar aja, insyaallah, mereka tidak akan kalah dengan teman-temannya di Sidoarjo atau Surabaya," kata Bu Sumini.

SDN Kedungboto yang jadi juara pertama unas di Jatim tahun ini tentu tidak seterpencil SDN Gebang 2 di Pucukan. Tapi, untuk ukuran Sidoarjo, Kedungboto tetap sulit diakses dari jalan raya. Tidak banyak orang yang mengenal Desa Kedungboto, kecuali warga Kecamatan Porong. Itu pun hanya desa-desa tetangga seperti Wunut atau Candi Pari.

Selama ini Kedungboto jadi terkenal gara-gara Lapindo Brantas Inc. Jauh sebelum terjadi semburan lumpur di Porong itu, 29 Mei 2006, Lapindo sudah memiliki instalasi pengolahan gas di Kedungboto. Gas bumi inilah yang membuat Lapindo bisa kaya-raya sebelum terkena karma di sumur Banjarpanji 1. Seandainya tidak ada instalasi gas itu, orang Sidoarjo, khususnya di bagian utara, tak akan kenal Kedungboto.

Nah, setelah lama tak ada kabarnya di media massa, baru kemarin itu muncul berita menarik dari Kedungboto. Hasil unas SDN Kedungboto tertinggi di Jawa Timur. Luar biasa! Tak ada yang menyangka kalau kampung terpencil yang dulu penuh dengan tanaman tebu puluhan hektare itu memiliki anak-anak yang sangat cerdas.

"Ini berkat pembinaan yang sudah kami lakukan selama bertahun-tahun. Juga kerja sama dengan orang tua, guru, siswa, dinas pendidikan, serta semua elemen yang terkait," kata Pak Djoko Supriyadi dari Dinas Pendidikan Sidoarjo.