22 July 2016

Hujan terus di musim kemarau 2016

Pagi ini hujan deras di sekitar Bandara Juanda, Kecamatan Sedati Sidoarjo. Mulai pukul 06.00 sampai 08.00. Kemarin juga begitu. Kemarinnya lagi. Hampir tiap hari hujan meski siang dan sore biasanya cerah.

Bulan Juli, mau Agustus, kok hujan rutin? Apakah sekarang masih musim hujan? Inikah yang dinamakan perubahan iklim itu? Climate change? Entahlah.

Pak Bambang dari BMKG Juanda punya penjelasan yang ilmiah soal ini. Tentang kenaikan suhu permukaan laut. Stok awan yang menjadi bibit hujan dsb dsb. "Sampai bulan Agustus hujan akan terus terjadi di Sidoarjo Surabaya dan sekitarnya," kata Pak Bambang.

Bahkan, menurut BMKG Juanda, ada kemungkinan hujan musim kemarau ini bakal nyambung dengan hujan asli di musim hujan. Sehingga kita bisa menikmati air hujan secara rutin sepanjang tahun. Luar biasa curahan hujan yang merupakan karunia Tuhan itu.

Sebagai orang yang dekat dengan alam dan pertanian, juga bersahabat dengan para tukang kebun dan taman di Sidoarjo, saya sangat bersyukur dengan hujan yang melimpah. Tanah jadi basah terus. Tanaman-tanaman tidak perlu disiram lagi. Alam jadi hijau.

Tahun lalu saya stres berat karena belasan tanaman yang saya tanam di Candi Tawangalun mati. Kekeringan. Wilayah Buncitan itu memang kering luar biasa di musim kemarau. Tak ada sumur. Jaringan PDAM Sidoarjo pun belum masuk. Mirip kampung kering di NTT.

Kami pun bersama 500an orang melakukan penghijauan di situ tiga tahun lalu. Bibitnya bagua dan mahal. Hasilnya? Mati semua. Tak ada satu pun yang selamat. Selain kurang air, tanamannya tidak cocok. Yang cocok itu klampis, waru, kaktus.. dan beberapa tanaman khas daerah kering.

"Alhamdulillah, sekarang hujan terus. Kita bisa penghijauan lagi," kata Saiful Munir teman saya yang jadi pemelihara Candi Tawangalun.

Bibit sih banyak di Sidoarjo. Bisa minta ke dinas kebersihan dan pertamanan. Tapi saya masih trauma dengan kematian ribuan tanaman yang dulu itu. Mending tidak usah dulu. Biarkan klampis dan kepuh yang ditanam Saiful berkembang jadi pohon besar. Saya masih trauma kalau bikin program kayak dulu... kemudian mati semua!

Pulang dari Candi Tawangalun, tak jauh dari Bandara Juanda, saya teringat kampung halaman di NTT. Akhir Desember dan awal Januari lalu, orang-orang di kampung saya yang hampir seluruhnya petani berdukacita. Tanaman-tanaman mati atau setengah mati. Sebab tidak ada hujan setelah jagung tumbuh 30an sentimeter.

"Semoga tidak terjadi kelaparan tahun ini...," begitu ujud doa saat ekaristi alias misa di kampung.

Aneh banget... Di bulan-bulan yang seharusnya hujan - Desember Januari Februari - justru hampir tidak ada hujan di NTT. Curah hujan terlalu minim untuk mengairi tanaman yang sejatinya hanya butuh sedikit air.

Saya belum cek curah hujan di NTT di saat Jawa Timur lagi panen hujan di musim kemarau. Tapi bisa dipastikan NTT pun turun hujan meski tidak sebanyak di Jatim.

Apakah petani-petani akan menanam jagung di musim kemarau? Siapa yang jamin hujan akan stabil selama dua tiga bulan? BMKG toh hanya lembaga peramal cuaca. Prakiraan cuacanya pun sering meleset.

Semoga saja kita semua mau belajar mengenali alam yang makin berubah ini. Dan semoga tidak ada kelaparan.

HP Tiongkok makin berkelas

Tiongkok saat ini sudah jauh berbeda dengan awal 2000an. Produk-produk made in China bukan lagi kelas ecek-ecek yang mudah rusak. Sudah lama kita tak mendengar kata mocin dan sejenisnya yang mencibir produk buatan Tiongkok.

Tiongkok sudah berubah. Mereka belajar banyak dari pengalaman mengembangkan teknologi. "Tiongkok yang tadinya hanya meniru sekarang lebih aktif di inovasi," kata Hermawan Kartajaya pakar marketing dalam sebuah diskusi di Surabaya kemarin.

Lupakan motor made in China macam Jialing yang sudah lama tutup buku di Jawa Timur. Sekarang ini ponsel buatan Tiongkok sudah jadi incaran masyarakat. Harganya pun tak bisa dibilang murah. Bandingkan dengan HP China lawas yang harganya setara sekali makan di restoran. Dan cepat rusak dalam hitungan hari.

Saya sendiri membeli HP merek Huawei saat demam Piala Dunia di Afrika Selatan tahun 2010. Huawei yang bukan android itu memang lagi promosi memanfaatkan demam Piala Dunia. Harganya cuma Rp 200 ribu. Sampai sekarang ponsel mirip Nokia dan BB itu masih sehat walafiat.

Kelemahannya cuma suara musik yang gak enak didengar karena cempreng suaranya. Internet pun harus beli browser lawas opera. Tapi kalau cuma untuk menelepon dan SMS masih sangat oke. Huawei lawas ini tidak ada lagi di pasar.

Huawei sekarang canggih bukan main. Tidak kalah sama Samsung. Pak Dahlan Iskan mantan menteri BUMN pun pakai Huawei edisi mutakhir yang canggih. Cukup banyak klub sepak bola elite Eropa yang disponsori Huawei. Mana mungkin produk ecek-ecek jadi sponsor klub besar sekelas Atletico Madrid?

Setelah Huawei, ponsel China yang lagi hot di Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, adalah Oppo. "Opo kuwi?" begitu pertanyaan orang-orang yang penasaran.

Awalnya Oppo dikira kelasnya kayak HP made in China buatan perajin rumahan yang asal tempel merek. Alah, paling juga murahan. Cepat rusak. Modele tok sing apik! Tapi waktu jugalah yang akhirnya jadi hakim terbaik. Saat ini Oppo sangat sukses di pasar. Branding di mana-mana.

Kalau anda melintas ke Bandara Juanda lewat Rungkut, Pondok Candra, Tripodo Sidoarjo... lihatlah betapa banyak logo khas Oppo di toko-toko pinggir jalan. Konsumennya pun banyak. "Aku sudah lama pakai Oppo. Enak buat motret dan medsos," kata Yanti yang tinggal dekat Juanda.

Ehmm... saya akhirnya makin ngeh dengan kebangkitan imej dan penetrasi Oppo setelah mengikuti berita sekilas di televisi kemarin dan tadi pagi (ulangan). Oppo yang menggandeng Barcelona sedang promosi di Jakarta. Luar biasa! Berarti Oppo ini bukan ponsel kelas ecek-ecek seperti tuduhan sejumlah orang di Indonesia.

Saya pun teringat obrolan dengan Mr Fu Shuigen di Surabaya beberapa tahun lalu. Saat itu Mr Fu konsul jenderal Tiongkok. Kami ngobrol serius tapi santai tentang serbuan produk-produk Tiongkok ke Indonesia. Begitu murahnya dan begitu cepat rusaknya.

Mr Fu pun tersenyum. Lalu dia bilang negaranya sangat serius mengembangkan teknologi yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Beberapa tahun lagi ponsel buatan Tiongkok jadi sangag berkualitas dan disukai masyarakat. Mr Fu pun kembali ke negaranya.

Sekarang saya baru sadar ternyata visi besar pemeritah RRT yang disampaikan Mr Fu itu terbukti. Bahkan jauh melebihi bayangan saya.

16 July 2016

Ririt Surya Duta Bandara Juanda 2016

Namanya cukup panjang: Muryati Suryaning Pungkasari. Tapi gadis asal Pasuruan ini biasa disapa Ririt Surya. Di musim arus mudik Lebaran ini Ririt betugas di Bandara Internasional Juanda Surabaya di kawasan Sedati Sidoarjo.

Meski bertugas di airport, Ririt bukan karyawan PT Angkasa Pura I atau maskapai penerbangan. Gelar resminya Duta Bandara Juanda 2016. Ada empat duta bandara - semuanya nona manis - yang bertugas giliran di Bandara Juanda.

"Saya tugas dari pagi sampai jam tiga sore," ujar Ririt kepada saya kemarin. Di ruang khusus Tourist Information Center itu Ririt sibuk membaca informasi di laptopnya. Informasi tentang penerbangan dan pariwisata.

Saya sendiri kaget kok ada duta bandara yang pakai sabuk ala duta wisata di Bandara Juanda. Dulu-Dulu-dulu tidak pernah ada. Nah, Ririt mengakui duta bandara ini memang program baru dari PT Angkasa Pura I. Semua bandara di lingkungan Angkasa Pura I mulai awal Juni 2016 dimeriahkan dengan duta bandara kayak Ririt Surya ini.

"Waktu itu ada pengumuman, saya coba daftar. Alhamdulillah, lolos terus sampai babak final di Bali. Saya terpilih sebagai duta persahabatan," tutur mahasiswa semester akhir Universitas Malang ini.

Selain wawasan kendaraan, para duta bandara ini tentu dituntut kemampuan bahasa Inggris aktif. Sebab mereka harus menghadapi penumpang internasional yang sewaktu-waktu. Penampilan fisik jelas oke. Tinggi dan berat seimbang. Cakep. Komunikatif.

Yang tak kalah penting, kata Ririt, pengetahuan tentang pariwisata di Jawa Timur. Sebab Bandara Juanda di Sidoarjo ini merupakan pintu masuk Jawa Timur. Ririt dan tiga temannya pun harus mempelajari objek wisata di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

"Beda dengan Cak Ning Surabaya atau Surabaya yang hanya mendalami pariwisata di kabupatennya thok," kata Ririt yang juga duta wisata Kabupaten Pasuruan. Dia juga ikut Raka-Raki Jatim sehingga wawasannya tentang pariwisata Jawa Timur memang di atas rata-rata.

Berbeda dengan duta wisata, yang hanya bertugas dalam kegiatan terbatas di lingkungan pemerintah kabupaten/kota, bahkan lebih banyak nganggurnya, Ririt Surya dan tiga rekannya ngantor di Bandara Juanda empat hari seminggu. Satu duta bandara di terminal 1, satu lagi di terminal 2. Kemudian gantian sama temannya sore.

Kok kayak karyawan bandara? Apa kamu dapat bayaran? Ririt pun tersenyum. "Alhamdulillah, adalah," ujarnya seraya tersenyum manis.

Suka dukanya? Ririt bilang lebih banyak suka daripada duka jadi duta bandara. Bisa mengenal banyak orang dengan karakter yang berbeda, logat dan asal usul yang berbeda, punya banyak teman baru, dan pengalaman kerja yang tak dimiliki gadis-gadis seumuran. Juga kenal dengan orang-orang penting di Angkasa Pura selaku pengelola bandar udara.

Ini semua menjadi modal bagi Ririt untuk membangun karir setelah lulus nanti. Ngobrol dengan duta bandara seperti Ririt ini memang asyik. Tapi saya harus tahu diri karena dia harus melayani pertanyaan-pertanyaan penumpang yang butuh informasi.

Maka, saya pun pamit dan mengucapkan terima kasih. Good luck Ririt!

Indomaret gilas toko legendaris di Tretes

Dua tahun lebih saya tidak mampir ke kawasan Tretes Pasuruan. Kota pegunungan sejuk tempat warga Tionghoa Surabaya berlibur. Juga tempat favorit kawan-kawan aktivis bikin kegiatan.

Saat datang lagi siang ini, saya lihat tak banyak perubahan. Cuacanya masih enak, sejuk. Tidak perlu AC karena suhu di bawah 25 derajat Celcius. Masih ramai pedagang kaki lima di depan Hotel Surya. Pedagang buah pun masih sama wajah-wajahnya.

Aha, ada yang beda. Toko Arjuno depan Hotel Surya sudah tutup. Padahal dulu toko camilan dan aneka kebutuhan praktis itu ramai luar biasa. Saya sering beli roti atau camilan di situ.

Suatu ketika saya sakit perut parah. Mampir di situ, si ibu Tionghoa menawarkan obat dari Tiongkok. "Sangat manjur," katanya serius.

Benar saja. Tidak sampai 30 menit sakit perut hilang. Lega rasanya. Saya pun akhirnya jadi kenal sama si pemilik toko itu. Apalagi orangnya ramah. Saya juga membeli teh khusus dari Tiongkok alias zhongguo cha di Toko Arjuno.

"Teh ini asli dari Taiwan. Ada pelanggan-pelanggan khusus," katanya. Tak lupa ibu itu berpromosi bahwa teh dari Tiongkok itu punya khasiat obat. Bukan kayak teh biasa di Indonesia.

Di mana ibu Tionghoa 50an tahun itu sekarang? Entahlah. Saya tak bertanya pada siapa pun. Kalaupun nanya hampir pasti tidak ada yang tahu. Emangnya gue pikirin?

Tretes ini desa tapi cara pikir penduduknya lebih materialistis ketimbang orang kota asli kayak Surabaya atau Malang. Begitu banyak makelar raja tega di sini. Maka saya hanya bisa membayangkan pemilik toko yang murah senyum itu.

Ya... Indomaret besar di sampingnya membuat Toko Arjuno habis. Tak bisa berkutik. Apalagi mini market waralaba ini luas, nyaman, punya beberapa mesin ATM. Pelayannya pun muda dan cantik-cantik. Bagaimana bisa unggul?

Kalau Arjuno yang besar, berpengalaman, punya modal rada kuat saja kolaps, jangan tanya toko-toko pracangan milik penduduk lokal. Habis digilas Indomaret, Alfamaret dsb...

Karena itu, belum lama ini DPRD Sidoarjo ingin membuat peraturan daerah untuk membatasi mini market di Kabupaten Sidoarjo. Toko-toko modern itu dianggap membuat toko-toko kecil milik warga mati. Ekonomi rakyat bisa lumpuh dimakan kapitalis Indomaret dan sejenisnya.

Tapi apa mungkin membatasi toko modern? Lha, wong konsumen justru senang berbelanja di toko-toko modern yang bersih, sejuk, dengan pelayan yang penuh senyum... meski artifisial. Senyum yang dipaksakan demi mengikuti SOP.

14 July 2016

Alhamdulillah, arus mudik macet total

Ucok Khadafi mendesak Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mundur. Pasalnya, Jonan dianggap tidak becus mengurusi arus mudik Lebaran. Kemacetan panjang terjadi di Jawa Tengah dan kota-kota lain di Jawa jelang Lebaran lalu.

Omongan Ucok yang pengamat dimuat koran utama. Di media sosial lebih heboh lagi. Pemerintah dimaki-maki karena gak becus ngurusin mudik. Opo tumon! Memangnya arus mudik yang dulu-dulu lancar jaya?

Begitulah. Akal sehat di Indonesia sering kali ditelan emosi yang meluap-luap. Politisi, pengamat, NGO, pengusaha, cendekiawan dsb sering asal ngoceh. Lupa akar masalah yang sebenarnya.

Saya sih senyam-senyum saja melihat kemacetan panjang yang disiarkan televisi. Bagus! Syukur-syukur bisa diambil hikmahnya oleh para pemudik yang menggunakan mobil atau sepeda motor. Semoga ada efek jera! Kapok untuk mudik dengan kendaraan pribadi.

Mudiklah dengan kapal laut atau kapal terbang! Dijamin tidak macet.

Mengapa saya tertawa sendiri menanggapi makian pemudik mobil pribadi di media sosial? Karena macet itu sudah jadi makanan sehari-hari di Jawa. Tiada hari tanpa kemacetan karena jalan raya penuh dengan mobil dan motor. Ruas jalan raya sih nyaris tidak bertambah. Jalan tol baru pun sangat terbatas.

Lha, hari biasa aja sudah macet parah, apalagi saat arus mudik? Saat volume kendaraan bertambah 10 sampai 20 kali lipat?

Maka mengharapkan arus mudik lancar jaya itu adalah "hil yang mustahal" - meminjam istilah Asmuni Srimulat. Siapa pun presidennya, siapa pun menteri perhubungannya... arus mudik dan Lebaran tetap akan seperti sekarang. Bahkan lebih parah karena motor dan mobil terus bertambah.

Sudah lama Indonesia masuk jebakan kendaraan pribadi. Sejak 1970an kita terlena dengan motor dan mobil buatan Jepang yang memang nyaman, terjangkau, dan kuat. Pemerintah ikut terbius dengan memberikan subsidi bahan bakar minyak kepada pemilik mobil dan motor.

Kita lupa membangun sistem transportasi umum seperti di negara-negara maju yang beradab. Presiden Jokowi yang merakyat itu pun ikut-ikut menggairahan kendaraan pribadi dengan eksperimen mobil Esemka buatan ana-anak SMK yang katanya lebih murah.

Sama-sama penyakit. Masalahnya bukan mobil/motor buatan Jepang, Italia, Jerman, Tiongkok, Indonesia dsb. Masalah kita adalah jutaan kendaraan pribadi itulah yang bikin sumpek jalan raya.

12 July 2016

Tiga Orang Flores Timur Disandera Abu Sayyaf



Tiga orang Flores Timur, Nusatenggara Timur, disandera kelompok Abu Sayyaf. Mereka dicokok di perairan Lahad Dato, Malaysia Timur. Dari 7 anak buah kapal, penyandera sengaja memilih 3 orang Indonesia untuk ditahan.

Lha, kok kali ini yang disandera orang Flores Timur, warga etnis Lamaholot, kampung halaman saya. Ketiga nelayan yang apes itu Lorensius Koten, Theodorus Kopong, dan Emanuel. Sangat menkhawatirkan!

Kita tahu bagaimana rekam jejak Abu Sayyaf selama ini. Biasanya sandera-sandera dilepas setelah membayar tebusan miliaran rupiah. Biasanya pemerintah Indonesia membantah membayar tebusan kepada penculik. Tapi kita tahulah ada pihak ketiga, khususnya pengusaha kapal, yang merogoh kocek demi keselamatan ABK-nya.

Lahad Dato, Malaysia Timur, Flores Timur dan Lembata! Betapa terkenalnya nama-nama ini di kampung saya, bumi Lamaholot, di Provinsi NTT. Tepatnya Kabupaten Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, dan Alor. Anak-anak yang belum bisa baca tulis pun hafal nama-nama tempat di Malaysia Timur itu: Lahad Dato, Tawau, Keningau, Kota Kinabalu, Kuching, dan seterusnya.

Maklum, sejak dulu, jauh sebelum Malaysia merdeka, warga Flores Timur sudah merantau ke Malaysia Timur, khususnya Sabah. "Tahun 60an Sabah itu macam kampung, hutan belukar dengan pohon-pohon besar. Kami-kami ini yang membuka hutan itu," tutur Om Kornelis kepada saya suatu ketika.

Om asal Lembata ini begitu paham seluk-beluk Sabah, salah satu negara bagian di Malaysia Timur, selain Serawak. Ia juga punya semacam kartu sakti yang membuatnya bebas masuk ke Sabah kapan saja. "Soalnya kami dianggap ikut berjasa membangun Sabah," katanya.

Sebagian besar teman-teman masa kecil saya pun sudah jadi penduduk Sabah. Lulus SD atau SMP langsung kabur ke Sabah. Pulang kampung satu dua bulan, paling lama enam bulan, balik lagi ke Sabah. Kerja berat tapi ringgitnya banyak. "Kalau tinggal di kampung terus, dapat uang dari manan" ujar teman akrabku.

Karena itu, ketika mendengar berita penculikan warga NTT oleh Abu Sayyah di perairan Sabah, saya langsung ketar-ketir. Besar kemungkinan orang Lamaholot (Flores Timur). Setelah memantau internet, nama-nama ketiga orang itu sudah menunjukkan nama khas Lamaholot: Koten, Kopong.

Syukurlah, pemerintah mulai gregetan dengan ulah Abu Sayyaf yang sengaja memilih orang Indonesia sebagai sandera. ABK asal Malaysia dibiarkan bebas. "Ada apa sebenarnya Abu Sayyaf dengan Indonesia?" kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kemarin.

Rakyat, politisi, pun saya rasa merasa terhina dengan aksi Abu Sayyaf yang terus berulang ini. Sulit dimengerti negara sebesar Indonesia dipandang sebelah mata oleh gerombolan bajak laut Abu Sayyaf.

Pemerintah Malaysia pun tidak boleh berdiam diri. Sebab, tiga orang Flores itu, dan ribuan bahkan jutaan orang Indonesia di Malaysia Timur sejatinya sejak dulu bekerja keras banting tulang demi kemajuan Malaysia. Ikut membuat Kota Kinabalu dan kota-kota lain di Malaysia berkilau cahaya seperti sekarang.

09 July 2016

Jokowi gagal jinakkan sapi

Harga daging sapi di Sidoarjo, Pandaan, dan Malang kemarin masih di atas Rp 100 ribu. Bu Sumi pemilik warung di daerah Pandaan Pasuruan mengeluh karena harga daging sapi tetap stabil sejak sebelum puasa, saat puasa, hingga setelah puasa.

"Kadang 110 kadang 120 ribu," kata ibu yang gemuk itu.

Katanya Pak Jokowi, daging sapi diturunkan harganya sampai Rp 80 ribu? Paling mahal 80 ribu?

"Halah... 80 ribu apa? Wong selama ini ndak pernah di bawah 100," kata bu Sumi yang dulu nyoblos Jokowi.

Begitulah. Sebelum puasa Presiden Jokowi bicara menggebu-gebu di istana, disiarkan beberapa kali di TV. Jokowi memerintahkan menteri-menteri dan pejabat terkait untuk segera menurunkan harga daging sapi. "Tidak boleh lebih dari 80 ribu. Saya tidak mau tahu bagaimana caranya," katanya.
Menteri-menteri tentu sudah bekerja. Pontang-panting operasi pasar di mana-mana. Tapi rupanya Jokowi yang aslinya pengusaha itu lupa bahwa pasar punya hukum sendiri. Ada permintaan, penawaran, stok dsb dsb. Maka instruksi seorang presiden sekalipun tidak mampu menurunkan harga sapi potong.

Lha, kalau populasi sapi kita terbatas, sementara kebutuhan sangat tinggi, khususnya puasa dan lebaran, bagaimana harga daging bisa turun? Mau tidak mau harus impor sapi atau dagingnya. Negara agraris kok impor sapi beras garam buah gula dsb?

Lupakan retorika lama itu. Negeri ini sudah lama salah urus. Sejak zaman Bung Karno, Pak Harto, sampai sekarang. Kita tidak serius menyediakan kebutuhan pangan rakyat.

Presiden Jokowi mungkin tidak dipasok informasi yang valid soal stok bahan pangan di dalam negeri oleh pembantu-pembantu-pembantunya. Maka yang muncul adalah retorika hendak menurunkan harga daging sapi di bawah Rp 80 ribu. Niat baik tapi mustahil diwujudkan di pasar sapi.

Saya sendiri sih cuek saja dengan harga daging sapi yang makin gila itu. Mau 100, 150, 200.... Lha, wong aku gak suka makan daging sapi!

08 July 2016

Euro 2016 jadi kompensasi yang asyik

Libur begini ngapain ya?

Hmm.. iseng-iseng nonton Youtube. Video-video pendek nan menggelitik, kadang kasar, dari Sascha Stevenson. Bule Kanada yang sudah lama tinggal di Indonesia, suaminya orang Sunda itu.

Makin kritis aja si Sascha ini. Mungkin karena dia bule, meski sudah merasa sangat Indonesia, kritikannya sangat tajam, blakblakan, apa adanya. Masalah SARA jadi bahan olok-olok nan renyah.

Salah satu videonya tentang bulan Ramadan yang heboh https://m.youtube.com/watch?v=9iKzztKx7xE. Semua stasiun televisi selama 24 jam bikin program yang bernuansa puasa. Dakwah penuh. Hikmah ramadan dsb dsb...

Celetehan Sascha Stevenson membuat saya tersenyum dan geleng-geleng. Berani benar orang ini. Mengkritik kebiasaan rutin yang sudah dianggap lumrah di Indonesia. Saking lumrahnya, orang Indonesia yang nonmuslim pun menganggap biasa saja.

Mau 24 jam siaran Ramadan, dakwah nonstop, sinetron islami... why not? Pengelola televisi bebas aja. Malah dapat penghargaan dari MUI atau KPI dsb. Tidak perlu ada program yang bernuansa nonmuslim karena ratingnya pasti rendah. Tak ada iklan.

Syukurlah, Sascha datang dengan angle beda. Dia melihat ada supremasi berlebihan dari kaum mayoritas di televisi. Seakan-akan penonton televisi itu semuanya beragama Islam. Bahkan TVRI yang merupakan televisi publik pun tak beda dengan televisi-televisi-televisi swasta yang full Ramadan itu.

Syukurlah, bulan Ramadan tahun ini ada dua turnamen sepakbola akbar. Copa America dan Euro 2016. Semua pertandingan Copa disiarkan Kompas TV. Sementara RCTI juga menayangkan semua laga Piala Eropa mulai babak grup hingga final.

Saya yang memang gandrung bola bersyukur bisa menikmati atraksi pemain-pemain bola kelas dunia. Kehebohan program Ramadan akhirnya mendapat lawan tanding yang luar biasa: Piala Eropa 2016 di Prancis. Meskipun jagoku kalah, Spanyol, laga-laga Euro selama satu bulan ini benar-benar menjadi hiburan segar di tengah kepungan program Ramadan yang nyaris sama dari tahun ke tahun itu.

"Kalau bisa tiap bulan Ramadan ada turnamen sepakbola macam Euro atau Piala Dunia," kata Edi asal NTT yang menjagokan Jerman.

Hehehe... Gak mungkinlah tiap tahun ada turnamen besar. Wong Piala Dunia dan Euro itu empat tahun sekali. Copa America juga begitu. Olimpiade sami mawon.

Lagi-lagi syukurlah, Ramadan 30 hari sudah selesai. Program Ramadan 24 jam sudah diganti mudik macet di mana-mana. Sama-sama tidak menariknya. Syukurlah, pertandingan Prancis vs Jerman pagi tadi sangat menarik.

Tinggal satu laga lagi: Prancis vs Portugal. Dan... pemenangnya adalah... Prancis!

06 July 2016

Tionghoa Makin Melebur di Flores Timur

Tulisan Laurens Molan di situs Katolik UCA membeberkan data terbaru komposisi umat beragama di Kabupaten Flores Timur, NTT. Dari 280.862 penduduk, umat Katolik berjumlah 217.944 jiwa (77 persen). Umat Islam 60.146 jiwa (21 persen).

Cukup signifikan memang populasi umat muslim di Flores Timur. Sebab ada banyak kampung muslim di sana. Sebut saja Lohayong, Lamakera, Lamahala, Waiwerang, Terong, Sagu, dan beberapa lagi. Laurens Molan menceritakan kehidupan etnis Lamaholot di Flotim (Flores Timur) yang sangat guyub dan rukun, khususnya Islam dan Katolik. (Kristen Protestan hanya 2.500 yang hampir semuanya pendatang alias bukan etnis Lamaholot.)

Karena barusan mengunjungi kelenteng, ngobrol di kantin dengan rombongan Tionghoa Surabaya, ingatan saya langsung tertuju ke masyarakat Tionghoa di Larantuka, ibukota Flores Timur. Saya menghabiskan masa remaja SMP/SMA di Larantuka sehingga sedikit banyak saya tahu kehidupan para baba dan nona di Flores Timur.

Oh ya, kami orang Lamaholot selalu memanggil orang Tionghoa dengan embel-embel BABA (laki-laki) dan NONA (perempuan). Wanita Tionghoa yang tua pun dipanggil nona meski sudah punya cucu. Anak-anak kampung biasa main dengan anak baba-baba ini tanpa batasan psikologis, SARA, tingkat ekonomi dsb. Anak-anak Tionghoa pun membaur 100 persen di sekolah swasta Katolik atau negeri.

Nah, yang menarik bagi saya, data statistik terbaru yang dikutip Laurens menyebutkan bahwa umat Buddha di Flores Timur hanya 14 jiwa. Konghucu hanya 3 orang.

Bukankah warga keturunan Tionghoa di Flotim sangat banyak? Di Larantuka, kawasan pertokoan Jalan Niaga jelas ada ratusan keluarga. Belum lagi di Pantai Besar, Lebao, Kota Baru dan ibukota kecamatan.

Di Pulau Adonara pun ada sentra niaga semacam pecinan. Kok Buddha dan Konghucu hanya 17 orang?

Begitulah. Data ini semakin memperkuat cerita saya di beberapa tulisan sebelumnya di blog ini. Bahwa Tionghoa di Flores Timur, bahkan di 22 kabupaten yang ada di NTT, karakternya peranakan. Tidak lagi memelihara adat istiadat leluhur secara ketat layaknya Tionghoa totok.

Boleh dikata, hampir semua Tionghoa di Flores beragama Katolik. Agama mayoritas penduduk setempat. Bahkan sejak dulu saya perhatikan orang-orang Tionghoa ini termasuk paling rajin misa karena gereja katedral Larantuka peninggalan Portugis itu berada di Postoh, sekitar pecinan. Orang-orang Tionghoa juga biasanya masuk gereja lebih awal setengah jam sebelum ekaristi dimulai.

Mengapa konversi orang Tionghoa ke katolisme di Flores sangat mulus? Saya kira ada kaitan dengan karakter Gereja Katolik di Indonesia, khususnya NTT, yang sangat menekankan inkulturasi. Adat, budaya, tradisi Lamaholot atau Tionghoa tidak dinegasikan tapi dirangkul dan diberi muatan kristiani.

Teologi inkulturasi inilah yang membuat warga Tionghoa tetap bisa melaksanakan tradisi leluhurnya tanpa khawatir dianggap bertentangan dengan kitab suci dsb.

Maka orang Tionghoa di Flores Timur sejak dulu tetap bikin ritual adat Tionghoa tapi juga tetap rajin ke ekaristi. Sama dengan orang Lamaholot yang rajin misa, tapi tidak pernah lupa mengadakan ritual adat Lamaholot untuk menjaga keseimbangan lera wulan tanah ekan (matahari bulan bumi angkasa).

Agama dan adat bisa berjalan seiring... praktik yang biasa dikecam kalangan Kristen fundamentalis.

Romo Prof Pidyarto Jadi Uskup Malang

Umat Katolik di Keuskupan Malang akhirnya punya uskup baru. Mgr HJS Pandojoputero OCarm, 77 tahun, uskup sekarang pensiun, sehingga takhta sempat lowong. Puji Tuhan, Selasa, 28 Juni 2016, Paus Franciskus menunjuk Romo Prof Dr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm sebagai uskup yang baru.

Romo Pid jadi uskup? Apa nggak salah nih? "Informasi yang saya dapat begitu," kata pak dr Budi tokoh umat Paroki Santo Paulus Juanda Sidoarjo. "Saya akan konfirmasi lagi," katanya pekan lalu.

Saya pun langsung kontak Romo Eko Budi Susilo di Nganjuk. Romo yang aktif di komunitas lintas agama ini pun kaget. Belum tahu. "Saya kontak Jakarta dulu," ujar Romo Eko lewat WA.

Tak lama kemudian Romo Eko dapat konfirmasi. Benar! Romo Pid jadi uskup Malang. Ada video misa di Katedral Ijen Malang. Romo Pid menyampaikan kabar baik ini kepada umat Katolik yang ikut misa.

"Saya sendiri awalnya tidak percaya kalau ditunjuk. Soalnya saya sudah di atas 60 tahun. Usia yang belum tua tapi juga tidak muda," kata romo yang sehari-hari guru besar di STFT Widya Sasana Malang itu.

Romo Pidyarto mengaku kaget karena selama menjadi imam, waktunya lebih banyak di bidang pendidikan. Tepatnya jadi dosen seminari. Hanya 3 tahun pegang paroki. "Tiga puluh tahun lebih saya di pendidikan. Bagaimana mungkin (saya dijadikan uskup)," katanya.

Maka ketika muncul rumor namanya disebut-sebut calon uskup Malang, Prof Pidyarto tenang-tenang saja. Cuek. Tapi rumor itu makin kencang. Ia pun mulai merenung dan bicara dengan beberapa "orang saleh". Tak disebutkan orang saleh itu siapa.

"Orang-orang saleh itu mengatakan, Romo, jangan ditolak!" Kata-kata orang-orang saleh itu disimak benar oleh romo kelahiran Malang 13 Juli 1955 itu.
Akhirnya.... rumor yang beredar itu terbukti benar. Romo Pidyarto kini resmi menjadi Minsinyur Pidyarto. Tunggal menunggu penahbisan resmi saja.

Di kalangan umat Katolik di Jawa Timur, bahkan Indonesia, nama Prof Dr Pidyarto sudah tidak asing lagi. Beliau ahli kitab suci khususnya perjanjian baru. Kajiannya tentang kitab suci alias Alkitab sangat mendalam. Sebab beliau membedah tidak hanya konteks tapi juga akar katanya. Mengukuti uraian Romo Pid rasanya seperti kuliah teologi tingkat tinggi.

Karena itu, Romo Pidyarto selalu diundang paroki-paroki di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya. Dari situlah selalu muncul pertanyaan-pertanyaan praktis tentang kitab suci dan ajaran gereja yang sering dikritik pihak luar. Ada aroma apologetika seperti era reformasi Martin Luther tempo doeloe.

Contoh: Mengapa kitab suci Protestan ada 66, sementara Katolik ada 73? Katolik yang menambah buku atau Protestan yang mengurangi buku? Apakah orang Katolik menyembah patung? Mengapa pastor tidak menikah? Dan sebagainya dan seterusnya.

Nah, pertanyaan-pertanyaan itu kemudian lahirlah buku Mempertanggjawabkan Iman Katolik. Laku keras. Kalau tidak salah ada lima jilid. Kalau diteruskan bisa sampai puluhan jilid. Tapi Romo Pidyarto terlalu sibuk sebagai pimpinan STFT Widya Sasana yang tugas utamanya mendidik para calon romo.

Masih banyak lagi buku-buku lain yang ditulis Romo Pidyarto. Tapi yang benar-benar best seller adalah Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Dicetak berkali-kali. Dan terus dicari umat Katolik yang merasa keteteran saat debat dengan protestan.

Romo Pidyarto dihabiskan menjadi imam pada 1982. Tiga puluh empat tahun silam. Saya sendiri kagum dan terpukau setiap kali mengikuti seminar atau ceramah-ceramahnya. Bukan karena lucu dengan retorika yang hebat seperti Romo BA Pareira OCarm, juga profesor doktor, ketua STFT Widya Sasana yang lama, atau Romo Dr Piet Go OCarm, ahli hukum gereja yang juga sangat memukau.

Romo Pidyarto ini tipe intelektual serius yang sangat kaya pengetahuan. Banyak makan buku-buku tebal. Beliau ibarat sumur yang berisi begitu banyak air pengetahuan dan kebijakan.

Kini, Romo Pidyarto sudah ditetapkan sebagai uskup. Semoga beliau sukses menjadi gembala yang baik untuk umat Katolik di Keuskupan Malang.

Catatan akhir:
Dengan terpilihnya Romo Pidyarto maka dua uskup di Jawa Timur sama-sama keturunan Tionghoa. Sebelumnya Uskup Surabaya Mgr Sutikno, Tionghoa asli Surabaya. Ini membuktikan bahwa orang Tionghoa itu tidak hanya jago dagang atau bisnis tapi juga sangat serius dan unggul sebagai rohaniwan Katolik.

Lebaran keempat Syiah Sampang di pengungsian

Empat tahun sudah sekitar 500 warga Syiah asal Sampang Madura berlebaran di pengungsian. Sekali di GOR Sampang, tiga kali di Rusun Puspa Agro Jemundo Sidoarjo. Belum ada isyarat dari pemerintah pusat dan provinsi kapan mereka dikembalikan ke kampung halaman.

Isyarat yang sangat jelas justru dari Sampang. "Masyarakat Sampang belum bisa menerima mereka. Itu hasil rapat kami dengan para ulama dan tokoh masyarakat," kata Wakil Bupati Sampang Fadhilah Budiono pekan lalu.

Seperti biasa, Fadhilah yang dulu bupati tidak bisa menjawab kapan masyarakat siap. Tidak ada timeline yang jelas. Pun tak ada usaha yang serius untuk menyelesaikan kasus pengungsian ini.

Aneh, ada orang Indonesia jadi pengungsi di dalam negaranya yang katanya aman damai toleran bhinneka tunggal ika. Lebih ironis lagi, para pengungsi Syiah Sampang ini tinggal satu kompleks dangan ratusan pengungsi asal Somalia Afganistan Pakistan Myanmar dll di rumah susun yang sama.

Indonesia dianggap hebat oleh dunia internasional, khususnya IOM, yang mengurusi pengungsi pencari suaka politik. Tapi Indonesia ternyata belum mampu menyelesaikan kasus pengungsi Sampang selama 4 tahun.

"Kami seperti ditinggalkan pemerintah. Tidak jelas kapan kami bisa pulang," ujar Iklil al-Milal pimpinan pengungsi Sampang.

Ustad muda inilah yang menjadi pembimbing rohani jamaah Sampang itu sejak dipindahkan dari Sampang ke Sidoarjo. Beberapa kali Iklil dan beberapa pentolan Syiah diajak koordinasi dengan perwakilan pemerintah. Bahkan Presiden SBY mengirim utusan khusus, Dr Albert Hasibuan, menemui pengungsi. Ada rekomendasi dan catatan tapi menemui jalan buntu.

Minggu lalu, meski sudah tahu bakal mentok, Iklil dkk mengajukan permintaan izin silaturahmi Lebaran ke Sampang. Tidak lama. Cukup dua hari saja. Hasilnya? Ditolak pemerintah. Polres Sampang menganggap situasinya belum kondusif. Keamanan warga Sampang di tanah kelahirannya sulit dijamin.

Apa boleh buat, 500an pengungsi Sampang ini harus berhari raya di Sidoarjo. Di rumah susun milik pemerintah provinsi. Rusun yang bagus, bersih, terawat... tapi beda dengan suasana kampung halaman tentu saja. "Lain rasanya tinggal di pengungsian dengan di rumah sendiri. Rumah sendiri kampung sendiri, biarpun gedhek, rasanya ayem dan bahagia," kata sang ustad.

Yah.... Pemerintah sebetulnya tidak meninggalkan pengungsi Syiah. Buktinya, mereka masih tetap menikmati berbagai fasilitas di Rusun Puspa Agro. Gratis. Ada pula uang jatah hidup.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga membuka sekolah untuk anak-anak pengungsi. Guru-guru dll tersedia. Sidoarjo juga menyediakan fasilitas kesehatan dan dapur umum. Hanya Pemerintah Kabupaten Sampang yang memang sejak awal enggan memperhatikan rakyatnya di pengungsian.

Syarat dari Sampang masih sama: Iklil dkk harus bertobat... kembali ke jalan yang benar! Kembali beragama seperti rakyat Sampang dan Madura umumnya. Jangan ada Syiah di Sampang dan Madura! Syarat yang kelihatannya mudah, tapi praktiknya sangat berat. Mendesak orang untuk mengubah keyakinan!

Di awal pemerintahan Presiden Jokowi sempat ada setitik harapan. Ini setelah Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mau turun berdialog dengan warga Syiah Sampang. Mencari solusi. Sayang, niat baik di awal pemerintahan itu tidak berlanjut lagi. Tidak ada upaya untuk memecah kebuntuan.

Sementara itu, tim khusus yang dibentuk Gubernur Jatim Soekarwo pun sudah selesai masa kerjanya. Rekomendasi sudah dibuat. Tapi solusi nyata? Kita tunggu saja.

Semoga tahun depan warga Syiah Sampang tidak menjadi pengungsi abadi di Sidoarjo!