29 May 2015

Oriental Circus gak ada matinya

Dari dulu yang namanya pertunjukan sirkus ya begitu-begitu saja. Begitu juga atraksi binatang yang dilatih sedemikian rupa agar patuh pada perintah sang pawang. Tapi tetap saja circus show ini disukai orang dari zaman mbah buyut sampai era media sosial.

Sejak 22 Mei 2015 Oriental Circus Indonesia bikin pertunjukan di lapangan Pakuwon City, Kenjeran Surabaya. Pertunjukan kelompok sirkus legendaris ini berlangsung sampai 14 Juni 2015. Senin sampai Jumat dua kali show. Sabtu tiga kali dan Minggu empat kali.

"Pertunjukan kami selalu ramai penonton. Bahkan banyak penonton yang nonton berkali-kali," kata David Wijaya, manajer operasi Oriental Circus Indonesia. Tiket paling murah kelas ekonomi Rp 50 ribu, paling mahal Rp 200 ribu.

Kali ini Oriental Circus mendatangkan dua artis akrobatik dari Ukraina untuk menghibur penggemar sirkus di Surabaya. Pria dan wanita jangkung ini mampu memainkan aksi-aksi akrobatik yang mencengangkan. "Dari dulu kami biasa mendatangkan artis asing untuk kolaborasi dengan pemain OCI," kata David.

Oriental Circus Indonesia yang berdiri sejak 1967 hingga kini merupakan grup sirkus paling kondang di Indonesia. Didukung Taman Safari Indonesia, sirkus ini sering keliling Indonesia untuk menghibur warga hingga kota-kota kecil. Tak hanya pemain-pemainnya yang terus beregenerasi, penonton pun sudah masuk generasi keempat.

Papa mama yang dulu waktu kecil senang nonton sirkus mengajak anak-anaknya untuk nonton Oriental Circus juga. "Pertunjukannya sih hampir gak ada bedanya dengan waktu saya masih SD tahun 1980an dulu. Kemasannya aja yang lebih mewah dan modern," kata Santi, warga Sidoarjo, yang mengajak dua anaknya nonton sirkus.

Setelah show di Surabaya selama dua bulan, menurut David Wijaya, Oriental Circus sudah punya jadwal pertunjukan di kota-kota lain. Yang pasti, sirkus gak ada matinye!

28 May 2015

Mukjizat Gedung SSO di Manyarrejo



Cukup lama saya tidak bertemu Pak Solomon Tong, bos dan dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO). Terakhir ngobrol lama di ruang kerjanya di Gentengkali tentang hebatnya obat-obatan tradisional Tiongkok. Pak Tong yang lahir di Xiamen kemudian hijrah ke Surabaya saat masih bocah ini ternyata paham kebun jamu dan jamur di Zhongguo yang khasiatnya luar biasa.

Rabu 27 Mei 2015 saya bertemu lagi sama Pak Tong di markas SSO yang baru di Jalan Manyarrejo I/4 Surabaya. Inilah gedung sendiri yang sudah lama dicita-citakan Pak Tong. Gedung yang luas, punya concert hall, ada panggung di halaman terbuka, kantor, gudang, kelas-kelas kecil, dapur, bahkan losmen untuk pemusik tamu. Udara terasa segar ketika berbincang santai di ruangnya si Mimin, dekat lapangan itu.

"Beda jauhlah sama di Gentengkali dulu. Di sini oksigennya buanyaaak," kata Mimin yang setia bekerja di kantor SSO selama 10 tahun lebih.

Ya, sejak mulai di-launching dengan konser perdana, Christmas Concert, Desember 1996, di Hotel Westin Surabaya (sekarang JW Marriott Hotel), Surabaya Symphony Orchestra ini belum punya gedung sendiri. Awalnya ngontrak gedung tua di Keputran, Jalan Urip Sumoharjo, Surabaya. Tapi tidak lama karena kurang kondusif. Kemudian pindah kontrak ke Gentengkali. Itu pun di lantai 2 dan lantai 3.

Ajaibnya, tidak ada lift. Kita harus jalan kaki mendaki meniti anak tangga yang banyak. Cocok untuk orang-orang gemuk yang ingin kurus. Mungkin olahraga rutin inilah yang membuat Mimin tambah kurus meskipun rajin makan enak. Di gedung kontrakan masih lumayan dan tempat latihan orkestra di lantai 3 sekaligus tempat konser kecil-kecilan untuk murid SS0.

Tapi Solomon Tong yang beberapa adik kandungnya pendeta hebat ini (Stephen Tong, Caleb Tong, Joseph Tong) selalu percaya bahwa mukjizat selalu akan terjadi. Berkat Tuhan selalu melimpahi dirinya dan SSO. Karena itu, SS0 masih rutin bikin konser setidaknya tiga kali setahun (konser besar). Selain konser-konser kecil dan konser pesanan. Terakhir SSO bikin konser persahabatan Indonesia-Tiongkok yang dipesan Konjen Tiongkok di Surabaya.

"Kalau dipikir dengan otak manusia tidak masuk akal SSO bisa bertahan. Uang masuk dari tiket berapa sih? Sponsor berapa? Sementara pemain symphony orchestra itu banyak sekali. Tapi, puji Tuhan, selalu ada mukjizat dari Tuhan. Dan mukjizat itu selalu saya alami sejak SSO berdiri," kata Pak Tong yang juga pendiri beberapa gereja berbahasa Tionghoa di Surabaya ini.

Mukjizat masih terjadi di Manyarrejo ini? Solomon Tong mengaku mengalami kasih Tuhan, miracle, yang akhirnya membuat SSO memiliki gedung sendiri yang representatif itu. Bangunan lama dimodifikasi sekitar 40 persen menjadi conservatory SSO sekarang.

Pak Tong bercerita kepada saya, ketika sangat ingin memiliki gedung sendiri, tak ada uang untuk beli tanah dan bangunan. Biaya untuk konser, produksi, latihan, honor pemain... dan lain-lain saja tidak mudah dicari. Tapi tiba-tiba ada kabar dari Bandung, lewat adiknya, silakan survei tempat dan bangunan yang dianggap layak jadi gedung SSO. Cari ke sana kemari, akhirnya sreg dengan yang ada di Manyarrejo ini.

"Harganya Rp 6 miliar," tutur Pak Tong. Sang adik di Bandung, juga tokoh gereja yang sangat terkenal, pun bilang oke. Silakan ditunggu saja, berdoalah kepada Tuhan, agar rencana yang mulia itu bisa terwujud.

"Eh, ternyata (tanah dan bangunan) sudah dibayar lunas. Apa ini bukan mukjizat? Bahkan, waktu itu saya malah tidak tahu geangan orang yang membayar gedung ini," kata Pak Tong yang pernah belajar musik pada almarhum Slamet Abdul Sjukur itu.

Belum sampai setahun menempati gedung baru di Manyarrejo, kata Pak Tong, ada orang yang ingin membeli gedung itu. Dengan harga lebih dari dua kali lipat harga saat dibeli Pak Tong. "Ini juga mukjizat. Semua itu sulit diterima akal manusia tapi nyata adanya," kata pria 75 tahun yang energetik dan tak pernah sakit itu.

Rupanya Pak Tong belum tergiur dengan tawaran untuk menjual kembali gedung itu meskipun harganya ciamik soro. Bisa saja diterima agar bisa membeli gedung baru yang lebih dekat di dalam kota. Saya belum sempat bertanya karena gak enak mengganggu Pak Tong yang harus bekerja siang itu.

Saya pun pamitan ke Sidoarjo. Dan... dapat mukjizat dari Pak Tong berupa kaos putih konser persahabatan Indonesia-Tiongkok. Hehehe.... kamsia Tong xiangshen!

Semoga SSO makin sukses setelah tidak lagi pindah-pindah gedung kontrakan.

27 May 2015

Susy Nander Dara Puspita Melayani Narapidana



Orang-orang lawas tentu pernah dengar (dan menikmati) Dara Puspita. Grup band beranggotakan 4 wanita yang sangat musikal di era 60an dan 70an. Titiek Adji Rachman (gitar), Titik Hamzah (bas), Lies Soetisnowati Adji Rachman (gitar), dan Susy Nander (drum). Benar-benar fenomenal karena di zaman yang masih serba sederhana, empat dara manis itu (biyen) bisa bikin rekaman album, manggung di mana-mana, dengan aksi yang menarik ditonton.

Sampai sekarang pun banyak orang asing, khususnya Belanda dan USA, yang terkagum-kagum dengan Dara Puspita. Mr Alan Bishop bahkan beberapa kali datang ke Indonesia untuk mencari album-album lawas Dara Puspita, gali informasi, dan wawancara langsung dengan personel Dara Puspita yang sudah sepuh itu.

Miss Nina, juga orang Amerika Serikat, ketika bertugas sebagai guru bahasa Inggris di Krian, Sidoarjo, juga kaget ketika mengetahui Indonesia pernah punya band putri yang musiknya sangat unik. Nina yang masih muda, warga USA keturunan India, bahkan menjadikan Dara Puspita sebagai salah satu band favoritnya. Mr Alan Bishop juga beberapa kali menghubungi saya untuk diskusi soal Dara Puspita.

"Dara Puspita itu band yang fantastis," kata Alan Bishop, produser rekaman spesialis lagu-lagu super lawas. Beliau sudah keliling ke berbagai negara dan secara khusus memuji musik-musik lawas di Indonesia, khususnya Dara Puspita.

Begitu dinamisnya industri musik membuat kita makin sulit mengingat nama-nama band atau artis lawas. Termasuk si Dara Puspita. Ketika Susy Nander muncul di Rutan Medaeng, Sidoarjo, tempat penggemblengan warga binaan yang terlibat berbagai kasus kriminalitas, orang tidak mengira bahwa dulunya Bu Susy ini artis terkenal.

"Puji Tuhan! Haleluya!!! Percayalah saudara-saudara bahwa saudara tetap disayang Tuhan. Kasih setia Tuhan selalu baru tiap hari," begitu antara lain kata-kata hiburan rohani buat para narapidana yang beragama Kristen di Medaeng. Senyum Bu Susy tetap mengembang menyapa para warga binaan. Para tahanan pun tak ada yang tahu kalau Susy Nander ini drummer Dara Puspita.
"Saya sekarang memang sering pelayanan ke penjara dan panti asuhan. Berbagi kasih dengan sesama yang sedang menghadapi ujian dari Tuhan," kata nenek kelahiran 5 Juli 1947 itu.

Bagi Susy, popularitas Dara Puspita dan dirinya sebagai drummer kawakan, khususnya pada 1965-1972, tak lebih dari nostalgia masa lalu. Dia lebih asyik menikmati kebersamaan dengan lima cucu dari tiga anaknya. Di usia 68 tahun, Susy mengaku tidak punya energi yang kuat untuk menggebuk drum. Apalagi untuk musik yang dinamis dalam tempo cepat.

"Cucu saya yang pintar main drum. Pakai baca partitur segala. Aku gak iso moco, wong otodidak. Pokoknya iso nggebuk, enak ya wis," kata Susy Nander yang sekarang tinggal di perumahan kawasan Gedangan, Sidoarjo, itu. "Saya kalah sama cucu," kata mantan artis yang suka berkebun itu.

Setelah vakum dari Dara Puspita, Susy Nander sempat tinggal di berbagai kota di tanah air. Di Bontang Kalimantan Timur selama 17 tahun. Gara-gara rumahnya dekat pabrik pupuk, Susy kena alergi. Ini pula yang membuat dia makin rewel menjaga makanan dan kebersihan rumahnya. Makan malam tepat pukul 18.00. "Kesehatan itu nomor satu. Ditambah hati yang gembira," katanya.

Karena sering pelayanan di penjara, tutur kata Susy Nander pun makin religius. Saat ini dia ingin melakukan bakti sosial di Nusakambangan. Bisa main drum di depan para terpidana kelas kakap, khususnya yang menunggu eksekusi mati.

26 May 2015

AdSense Selamatkan Blog

Sebelum dimakan facebook, twitter, BBM, instagram... dan entah apa lagi, blog sempat booming sekitar 10 tahun lalu. Orang ramai-ramai memanfaatkan blog untuk menulis semacam diari atau jurnal pribadi. Diari yang dulu rahasia, dibaca sendiri, sejak adanya blog malah jadi konsumsi publik. Bahkan, para blogger kerap mengudang orang lain, dengan segala cara, agar berkunjung ke blognya.

Komunitas blogger tumbuh di berbagai kota, tapi tak bertahan lama. Blogging ditelan media sosial yang sangat interaktif dengan notifikasi yang segera di smarphone. Ciut sana sini, komentar dikomentari, selfie, dsb dsb. Blog pun sempat mati. Blog milik seorang guru jurnalistik kawakan, yang dulu rajin memprovokasi wartawan-wartawan muda untuk blogging, ikut terkapar.

Kalau dulu blog kondang itu penuh artikel bagus, selalu di-update 3-4 kali seminggu, kini sepi jali. Belum tentu ada satu artikel dalam satu bulan. Gurunya jurnalis itu malah aktif di media sosial, khususnya twitter, yang cuma 140 karakter itu. Padahal, beliau itu dulu hampir tiap hari mengecam para jurnalis Indonesia yang sebagian besar tidak mampu menulis panjang.

Rupanya, kelesuan blogging ini disadari Google selaku pemilik blogspot dan beberapa platform blog lainnya. Blog atau website pribadi jangan sampai mati total. Maka harus ada iming-iming alias insentif agar orang mau kembali ngeblog. Iming-iming yang paling ampuh apa lagi kalau bukan duit. Program iklan ala Google Inc dengan sistem PPC pay per click) ini memang terbukti efektif untuk membangunkan jutaan blogger yang mati suri.

"Saya mau hidupkan blogspot saya yang lama. Sudah tidak aktif lima tahun," kata teman asli Surabaya yang juga penulis buku. Harapannya ya blognya bisa lolos AdSense. Kalau nasib mujur, dapat PO yang lumayanlah... meskipun masih kelas recehan.

Ada lagi blogger senior yang menyesal karena sudah lama menghapus blogspot-nya. Dia hijrah ke blog lain yang katanya lebih ciamik, dengan desain yang jauh lebih hidup, ketimbang punyanya Google. Belakangan menyesal karena perusahaan penyedia platform blog itu bangkrut. Blognya ikut hilang dari jagat maya. Lebih menyesal lagi setelah tahu ada program iklan versi Google yang disebut AdSense itu.

"Saya harus mulai dari nol lagi," katanya sendu. Ingin menghidupkan blognya, dengan konten-konten yang bagus dan mendalam, agar bisa ikutan AdSense. "Soalnya, ada teman saya yang PO AdSense-nya sangat tinggi," katanya.

Sayang sekali, demam AdSense ini malah dimanfaatkan begitu banyak blogger, lama dan baru, untuk membuat blog semata-mata untuk AdSense. Bikin blog bukan untuk berbagi informasi, berekspresi, senang-senang, pengisi waktu luang (ketimbang ngelamun), tapi ingin dapat duit banyak dari AdSense. Banyak kiat yang ditawarkan untuk menjebak pembaca, khususnya kategori visitor, agar mengklik iklan AdSense di blognya. Penempatan AdSense pun dibuat sedemikian rupa agar diklik orang.

Demam AdSense yang kebablasan ini tentu saja tidak sehat. Tak hanya pembaca yang jengah, sang blogger pun tak lagi merasakan keasyikan ngeblog.

24 May 2015

Musik Rock Berjaya di Surabaya 1990-an

Membaca koran-koran lawas itu seperti membaca sejarah. Kita jadi tahu banyak hal tentang masa lalu yang sebagian besar sudah tidak pas dengan tren saat ini. Juga banyak kenangan tentang band atau artis lama yang kini tinggal kenangan. Artis-artis lawas yang kini jadi kakek-nenek atau telah kembali ke pangkuan ilahi.

Kliping berita Jawa Pos edisi 29 Desember 1989, Jumat Legi, itu berjudul ROCK DOMINASI PAKET JELANG 1990 TVRI. Yang menulis Sugeng Irianto, wartawan senior Jawa Pos yang sudah almarhum. Beliau salah satu guru saya yang telaten membimbing teknik reportase dan menulis konser musik pop, rock, metal, dangdut, dsb. "Dibuat sederhana dan asyik aja. Bikin pembaca seakan-akan menonton langsung konser itu," begitu pesan almarhum Sugeng Irianto.

Nah, secara kebetulan saya menemukan tulisan beliau tentang persiapan menyambut tahun baru 1990 di Surabaya. Cak Ir, sapaan akrab sang wartawan musik ini, menulis sejumlah band dan penyanyi yang mengisi paket old & new di TVRI Surabaya. Surabaya Rock Band. Andromedha. Rock Trickle. Gorella. GM Band.

Kemudian penyanyi Ita Purnamasari. Rita Monica. Nyoman Olly. Dewi Novianti. Paman Dolit yang kocak. Ada juga orkes melayu (dangdut) cewek Ashanti's dan Pink Road. Cak Ir menulis, "Dominannya jumlah kelompok rock rupanya cerminan menjamurnya kelompok-kelompok rock di Surabaya. Bisa juga kita sebut Surabaya adalah kota barometer musik rock di Indonesia saat ini."

Pendapat bahwa Surabaya barometer musik rock di Indonesia itu bukan kutipan pengamat, artis, atau sumber, tapi wartawannya sendiri. Cak Ir memang bilang kalau menulis musik sebaiknya masukkan opini atau pendapat untuk memperkaya tulisan. Jangan cuma menurut si A begini, kata si B begitu, si C berpendapat begini begitu... blablabla....

"Wartawan seni budaya itu kan punya otak dan wawasan. Jangan mau jadi corongnya narasumber thok," pesan almarhum Ir yang juga teman akrab Log Zhelebour, promotor musik rock papan atas dari Surabaya itu.

Membaca tulisan Cak Ir di Jawa Pos lama memang hidup dan asyik. Terasa sekali dia dekat banget dengan artis, musisi, atau promotor yang jadi narasumbernya. Akhirnya, saya baru sadar mengapa dulu Cak Ir ini sering guyon dan cangkrukan bersama George Handiwiyanto yang selama ini saya kenal sebagai pengacara dan ketua himpunan pengusaha hiburan umum di Surabaya. Saya baru tahu, setelah baca klipingan lawas, George ternyata manajer yang mengorbitkan Surabaya Rock Band. Oalahhhh...

Di bawah berita tulisan Cak Ir, ada liputan dari Malang berjudul RIA RESTY FAUZY BERTAHUN BARU DI REGENT'S. Selain Ria Resty, ada paket musik yang menampilkan penyanyi Ira Puspita, Markonah n Dance Group, Dino Magician, serta Star Light Band.

Harga tiket menikmati malam tahun baru 1990 di Regent's Park Hotel Jalan Jaksa Agung Suprapto 12-16 Malang ini Rp 35 ribu (VIP) dan Rp 25 ribu (biasa) per orang. Hari ini, Mei 2015, uang Rp 35000 bahkan tidak bisa dipakai untuk makan di depot sederhana di Surabaya dengan menu gulai kambing plus es teh. Amboi, betapa dahsyatnya inflasi rupiah selama 25 tahun ini!

Ludruk Irama Budaya Menolak Mati

Margono, warga Pegirian, berbincang santai dengan temannya di depan panggung Ludruk Irama Budaya, Surabaya, dalam bahasa Madura. Temanya tentang beberapa lakon ludruk populer di Jawa Timur. Cerita Pak Sakerah, Sarip Tambakoso, Joko hingga Sembung. "Saya sudah hafal semua lakon ludruk. Wong sejak masih di Lumajang saya nonton ludruk," kata Margono kepada saya.

Malam Minggu itu, 23 Mei 2015, hanya kami bertiga di ruang pertunjukan ludruk di kampung seni Taman Hiburan Rakyat (THR). Beberapa waria senior sesekali mondar mandir ke samping panggung yang jadi tempat tinggal pemain ludruk pimpinan Deden Irawan, 34 tahun, itu. Sayang, mas Deden, anak angkat almarhum Sakia Sunaryo, pendiri Irama Budaya, lagi keluar saat itu. Padahal, saya ingin tahu perkembangan ludruk yang dikelolanya itu.

Syukurlah, Margono bisa jadi saksi hidup yang lebih objektif untuk melihat perkembangan Ludruk Irama Budaya. Sebab pria yang selalu pakai kopiah hitam ini rajin menonton Irama Budaya sejak masih bermarkas di Pulo Wonokromo, dekat Terminal Joyoboyo. Ketika sang empunya tanah meminta haknya, Sakia dan kawan-kawan kelimpungan. Mereka kemudian dibantu Pemkot Surabaya agar boyongan ke THR.

Gedung pertunjukan THR jauh lebih bagus dan bersih daripada di Wonokromo dulu. Juga lebih luas. Lampunya bagus. Sound system dibantu Bank Jatim. Sayang, kehidupan Irama Budaya malah senen kemis. "Penonton di sini paling banyak 20 orang. Rata-rata ya 10 sampai 15 orang. Termasuk saya," kata Margono dengan logat Madura yang sangat kental.

Padahal harga karcis cuma Rp 5000.
Tidak cukup untuk beli nasi di warung yang paling murah Rp 7000 (plus es teh). "Kalau dipakai beli rokok ya nggak bisa," kata Margono tentang nestapa kehidupan seniman ludruk.

Andaikan yang nonton ludruk ini 20 orang, duit masuk Rp 100 ribu. Pemain ludruk dan musisi pendukung sekitar 50 orang. Berapa rupiah duit yang diterima seorang seniman? "Hehehe... Kalau dihitung-hitung ya jelas gak masuk akal bisa hidup. Tapi kok masih bertahan sampai sekarang," kata Margono yang hafal benar jalan cerita ludruk di Jatim.

Ketika masih di Wonokromo, penonton ludruk Irama Budaya pun sebenarnya tidak banyak. Tapi setiap malam grup pimpinan Sakiah alias Sunaryo ini bisa menyedot 20an orang ke gedung pertunjukan dari bahan kayu-kayu bekas itu. Setiap malam ada pertunjukan. Malam Minggu pasti penuh gedung tobong itu.

"Di THR ini Irama Budaya cuma main malam Minggu thok. Itu pun yang nonton hanya belasan orang," tutur Margono yang polos dan suka senyum ini.

Pukulan kian berat ketika Sakia, waria yang merintis Ludruk Irama Budaya sejak 1987, meninggal dunia tahun 2012. Irama Budaya kehilangan motor penggerak sekaligus manajer, juru lobi, dan pencari sponsor. Sakia dengan segala keterbatasannya bisa menggandeng pejabat macam wali kota saat itu, Bambang DH, atau Arif Afandi, wakil wali kota saat itu. Juga pengusaha dan pejabat lain agar jadi sponsor pertunjukan Irama Budaya.

Berkat almarhum Sakia, yang ngotot dan kerap digojlok sebagai rai gedhek, Irama Budaya beberapa kali mengadakan pertunjukan keliling Surabaya. Khususnya wilayah pinggiran macam Tandes atau Benowo. Nah, rupanya Sakia lupa mengkader anak buahnya agar bisa luwes mendekati para pejabat dan pengusaha. Deden Irawan jelas bukan Sakia yang punya pengalaman dalam urusan cari sponsor.

"Makanya, bisa bertahan saja sudah keajaiban," kata Margono.

Tak jauh dari gedung ludruk, ada pertunjukan Srimulat yang dibiayai pemkot dalam rangka hari jadi Kota Surabaya. Penontonnya cukup melimpah. Kalau tak ada sponsor ya Srimulat tidak manggung. Beda dengan Irama Budaya yang menolak mati meskipun kanker ganas sudah menggerogoti tubuhnya.

Sebagai orang desa yang akrab dengan ludruk sejak bocah, Margono menilai keberadaan Irama Budaya di kampung seni THR, tengah kota Surabaya, salah tempat. Apalagi di depannya ada pusat belanja modern yang dikenal sebagai HighTec Mall. Di samping bagian depan ada Taman Remaja Surabaya yang dikemas moder dan full dangdut. Mana ada orang yang mau ke belakang untuk nonton ludruk yang pemain-pemainnya makin uzur itu?

Margono, juga beberapa penggemar, berpendapat ludruk seperti Irama Budaya ini lebih cocok bermarkas di wilayah pinggiran. Khususnya di Tandes, Benowo, atau perbatasan Surabaya-Gresik macam Romokalisari. Atau, perbatasan dengan Sidoarjo, khususnya dekat Desa Tambakoso, yang punya tokoh legendaris Sarip Tambakoso. Masyarakat Surabaya di pinggiran masih bisa diharapkan datang menonton ludruk yang memang kesenian tradisional agraris.

"Kalau di THR terus ya lama-lama habis," kata Margono.

Malam itu Ludruk Irama Budaya menampilkan cerita Akal Bulus. Pukul 21.30 pertunjukan belum dimulai. Penontonnya baru tiga orang. Termasuk mas Margono yang setia itu.

Srimulat Surabaya yang Lesu Darah

Mau nonton konser Dewa 19 (Ahmad Dhani) atau Srimulat? Dua-duanya gratis. Tadi malam saya memilih yang kedua. Sebab sudah bertahun-tahun saya tidak menyaksikan pertunjukan Srimulat secara langsung di THR Surabaya. Gedung pertunjukan yang masih lumayan bagus, yang pernah sangat berjaya hingga tahun 1990an.

Saya juga sering penasaran dengan tulisan preview yang dibuat mas Agus, wartawan senior, yang sangat aktif woro-woro pertunjukan di THR Surabaya. "Ceritanya menarik, judulnya Dendam Kuntilanak. Bintang-bintang Srimulat kawakan seperti Bambang Gentolet, Vera, Hanter... come back," kata mas Agus yang memang bikin catatan untuk promosi Taman Hiburan Rakyat (THR).
Sabtu malam, 23 Mei 2015, penonton cukup melimpah. Lebih dari 50 persen kursi terisi. Mungkin karena gratis. Mungkin juga karena banyak undangan yang tidak enak sama panitia hari jadi Kota Surabaya. Tak sedikit orang Tionghoa yang nonton. Banyak pula gadis-gadis 20an tahun yang sibuk mengabadikan pertunjukan dengan gadget mereka.

Seperti biasa, pertunjukan dibuka dengan band yang diisi pemain-pemain lawas. Lagu-lagunya juga lawas. Ada Tanjung Perak Tepi Laut (lumayan menghibur dengan irama keroncong), I Can't Stop Loving You, yang disusul seorang nenek 70an tahun membawakan Still Loving You. Musisi dan penyanyi lawas ini sebetulnya punya kemampuan di atas rata-rata. Sayang, sound system benar-benar jelek. Jauh lebih buruk ketimbang sound system orkes dangdut yang pentas di kampung terpencil di Sidoarjo.

Kok bisa Srimulat yang sangat terkenal itu bermain dengan sound system yang jelek? Padahal gedung pertunjukannya masih bersih, bagus, dan terawat. Jeleknya sound membuat kita sulit menikmati musik. Syair lagu hampir tidak bisa diikuti. Suara instrumen pun numpuk gak karuan. Pemain saksofon yang gondrong bikin gaya macam-macam tapi suaranya tidak jelas.

Lebih kacau lagi ketika home band Srimulat itu membawakan dangdut. Berantakan! Syukurlah, penonton masih mencoba bertahan karena penasaran dengan dagelan Dendam Kuntilanak. Buat mengusir stres di tengah kepungkan isu beras plastik, melambungnya harga sembako, dan kesulitan hidup lainnya.

Pertunjukan dimulai. Pelawak Lutfi dan Insaf buka warung kopi di tengah hutan. Jualan kopi, teh, pisang goreng, tahu kotak, ote-ote dsb. Sebentar-sebentar ada gangguan daru kuntilanak. Kedua pelawak ini seperti biasa bikin ulah konyol yang membuat penonton tertawa ngakak. Yang paling ramai tertawa tentu anak-anak kecil karena belum tahu guyonan lawas. Yang tua-tua cuma tertawa partisipasi. Gak enak kalau diam saja.

Tapi ya itu tadi, sound system yang berantakan membuat kata-kata para pemain Srimulat tidak kedengaran. Sayup-sayup tidak jelas. Untung grup lawas yang dijuluki pabrik tawa ini banyak main action, slapstick konyol, sehingga penonton agak terhibur. Suara tawa anak-anak di kursi depan praktis menutupi dialog pemain di atas panggung.

Bambang Getolet, Hanter, Vera, Eko... dan beberapa pemain lain terkesan cuma sambil lewat begitu saja. Perannya di panggung seperti figuran saja. Justru Insaf dan Lutfi, yang bukan anggota asli Srimulat, yang bekerja keras mengawal cerita Kuntilanak ini sejak awal sampai akhir. "Persiapannya kurang. Insya Allah, ke depan kami buat lebih bagus lagi," kata mas Lutfi, pelawak yang tinggal di Sidoarjo.

Selain sound system, masih banyak hal yang harus dibenahi Srimulat kalau ingin bertahan di tengah kepungan hiburan modern yang makin melimpah. Manajemen pertunjukan jelas sangat lemah. Sulit dipercaya grup kawakan ini tidak sadar bahwa sound system di dalam gedung benar-benar payah. Ilustrasi musik juga tidak ada. Yang ada cuma band pembukaan dengan kualitas sound yang berantakan itu.

Yang paling urgen tentu kaderisasi pemain atau pelawak. Lutfi dan Insaf, motor pertunjukan Srimulat Surabaya, itu produk lawak tahun 1990an. Usia keduanya sudah di atas 40 tahun. Padahal Lutfi dan Insaf ini paling muda di Srimulat. Tanpa pemain 20an tahun, masa depan pabrik tawa ini sangat suram. Mbah Bambang Gentolet yang sangat sepuh malam itu hanya ngomong dua tiga kalimat saja. Dan tidak lucu.

Sayang, ketika penonton di Surabaya sudah bersedia datang untuk menyaksikan Srimulat, pengurus THR dari Pemkot Surabaya malah tidak menyiapkan sound system yang layak. Maka tidak heran kalau orang-orang muda lebih memilih menyaksikan konser Dewa 19 di Grand City ketimbang datang ke kompleks THR pada malam Minggu.

21 May 2015

PSM Universitas Jember Larang 44 Lagu Daerah

Sangat mengejutkan. Pantia festival paduan suara Piala Rektor Universitas Jember membuat kebijakan melarang 44 lagu daerah karena terlalu sering dibawakan dan lomba atau festival paduan suara di tanah air. Peserta diminta memilih lagu daerah di luar yang 44 itu.

Daftar lagu-lagu daerah terlaris yang dilarang itu antara lain Yamko Rambe Yamko, Umbul-Umbul Blambangan, Tanduk Majeng, Gundul-Gundul Pacul, Cik-Cik Periuk, Kicir-Kicir, Karaban Sape, Jaranan, Jangkrik Genggong, Bungong Jeumpa, Manuk Dadali, dan Paijjar Laggu.

"Lagu-lagu daerah di Indonesia itu ada ratusan, bahkan ribuan. Jangan cuma itu-itu saja yang dinyanyikan di festival," kata Rohmat Hidayanto, pembina Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Jember.

Rasanya baru kali ini ada panitia lomba paduan suara yang melarang begitu banyak lagu daerah. 44 lagu itu tidak sedikit. Semuanya dipastikan sangat populer dan jadi favorit paduan suara di mana pun. Belum lagu-lagu Batak yang juga sangat populer seperti Sigulempong, Sitogol, Tilo-Tilo, atau Siksik Sibatumanikam.

Yang terakhir ini bahkan sudah jadi lagu rakyat paling disukai paduan suara di seluruh dunia. Diaransemen Pontas Purba, Siksik Sibatumanikam dibawakan dengan sangat bagus oleh paduan suara Incheon Korea Selatan, Thailand, dan beberapa negara Eropa. Bisa dipastikan lagu ini pun masuk dalam daftar 44 lagu daerah yang jarang dinyanyikan itu.

Kalau 44 lagu ini dilarang dinyanyikan di festival paduan suara (tingkat TK hingga perguruan tinggi), lantas peserta mau menyanyikan lagu apa? Masih buanyaaak lagu daerah di tanah air yang belum dieksplor. "Ibarat lapangan tenis, yang dieksplor paduan suara kita baru sebesar bola tenis," kata Rohmat.

Mas Rohmat mungkin benar. Kor-kor harus lebih banyak mengeksplor lagu-lagu daerah di luar 44 top hits itu. Tapi untuk bisa mengeksplorasi, bikin aransemen kor, menemukan keenakan sebuah lagu, butuh orang-orang khusus. Dus, tidak semua arranger mampu mengutak-atik lagu-lagu daerah yang benar-benar belum dikenal sebelumnya. Di level nasional sekalipun tidak banyak arranger paduan suara seperti mas Budi Susanto dari Malang, Pontas Purba, Avip Priatna, atau arranger yang dimiliki paduan suara di kampus terkemuka.

Kalau mau jujur, kor-kor Indonesia yang berjaya di festival paduan suara tingkat nasional dan internasional pun umumnya membawakan lagu daerah yang termasuk 44 itu. Bahkan, lagu daerah yang sama dibawakan dengan aransemen yang sama. Beberapa tahun lalu mas Budi yang dikenal sebagai arranger dan dirigen jempolan sering dipinjam berbagai paduan suara untuk tampil di festival internasional. Dan menang! Mas Budi ini memang dirigen, pelatih, arranger paduan suara yang menangan.

Itu paduan suara tingkat universitas yang sedikit banyak pula home arranger. Itu pun masih menggunakan aransemen paduan suara yang digarap dedengkot kor macam mas Budi. Kalau zaman dulu kita yang biasa terlibat di paduan suara lebih sering memakai lagu daerah yang diaransemen Lilik Sugiarto, N Simanungkalit, Theys Watopa, Nikolai Varvalomejev, atau Paul Widyawan. Bisa juga garapan Feri Dewobroto dari Jakarta atau Bonar Sihombing atau Gorga Gultom.

Mengapa begitu? Sebab partitur-partitur lagu daerah karya para arranger populer itu sudah siap saji. Fotokopiannya beredar di seluruh paduan suara mahasiswa di Indonesia. Selain itu, lagu-lagu daerah itu digarap dengan rasa yang enak. Plus tingkat kesulitannya masih bisa diatasi paduan suara amatiran. "Lagu-lagu Batak itu paling enak kalau dibawakan paduan suara," kata beberapa teman yang dulu aktif di paduan suara kampus dan gereja.

Kembali ke larangan membawakan 44 lagu daerah itu. Apakah panitia festival menyediakan aransemen puluhan lagu daerah lain sebagai pengganti? Tingkat kesulitannya bagaimana? Kemampuan dirigen atau pelatih menguasai lagu-lagu daerah yang belum pernah didengar? Ini tidak gampang.

Berdasar pengalaman saya, banyak pelatih paduan suara (amatir) di Indonesia hanya bisa melatih membawakan lagu-lagu yang pernah dia nyanyikan sebelumnya di paduan suaranya ketika di sekolah menengah, perguruan tinggi, atau komunitas lain seperti gereja dsb. Kalau diminta membimbing paduan suara dengan lagu baru, aransemen baru, apalagi dengan tingkat kesulitan di atas level 3, banyak pelatih yang mundur. (Tingkat kesulitan paduan suara versi Pusat Musik Liturgi Katolik di Jogjakarta mulai level 1 atau paling mudah hingga level 6 sangat-sangat sulit).

Tapi bagaimanapun juga kebijakan PSM Universitas Jember melarang 44 lagu daerah yang terlalu sering dinyanyikan ini punya banyak sisi positifnya. Paling tidak ke depan makin banyak lagu daerah baru yang bergema di seluruh Indonesia. Orang akan bosan dengan lagu-lagu daerah yang itu-itu saja macam Lisoi, Ampar-Ampar Pisang, Sayang Dilale, Paris Barantai, Goro-gorone, Gunung Sahilatua, Bolelebo, Kicir-Kicir, Cente Manis, Jali-Jali, Anging Mamiri....

Saya sendiri sih kalau diminta membimbing paduan suara untuk festival di Jember itu akan memilih lagu Cikcik Periuk. Lagu daerah Kalimantan ini buat saya sangat enak, lincah, variatif, tidak terlalu sukar tapi juga tidak terlalu gampang, punya greget untuk sebuah festival. Dan, yang paling penting, arranger-nya Lilik Sugiarto (almarhum) dari PSM Universitas Indonesia yang sangat saya kagumi. Kalau dipaksa harus membawakan lagu daerah di luar 44 judul, yang belum pernah saya ketahui, saya pasti tidak akan berani.

Salam paduan suara!

20 May 2015

Membaca e-paper gak asyik

Tidak gampang mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Termasuk kebiasaan membaca koran kertas, newspaper, sejak kecil. Mengubah kebiasaan membaca berita di atas kertas ke berita di atas komputer yang nirkertas ternyata perlu penyesuaian mental, psikologi, dsb.

Sebetulnya jauh lebih gampang mengakses dan membaca e-paper. Cukup buka internet di komputer, lalu ketemu laman surat kabar macam Jawa Pos, Radar Surabaya, dan Kompas -- tiga koran yang selalu saya ikuti. Tidak perlu menunggu kiriman loper atau membeli koran di pinggir jalan. Dengan tampilan yang sama persis dengan edisi kertas, sejatinya membaca e-paper sama saja dengan membaca koran kertas.

Tapi ya itu tadi, keasyikkan membolak-balik halaman koran, kadang menandai beberapa berita atau artikel, jadi hilang di depan komputer atau laptop atau gawai lainnya. Belum lagi godaan di internet begitu banyaknya. Belum tuntas membaca dua sampai lima berita, selalu ada keinginan untuk memelototi breaking news, Youtube, atau diskusi di media sosial macam FB. Maklum, banyak sekali usul, saran, atau informasi warga Sidoarjo di grup fesbuk yang bisa dikembangkan jadi berita.

Akibatnya, saya tidak pernah membaca koran elektronik (e-paper) secara mendalam. Beda dengan membaca koran kertas konvensional yang terasa enak, tenang, merangsang imajinasi dan membuat kita sering sebel, geli, atau tertawa sendiri dengan ulah politisi yang konyol. Padahal, berita-berita di koran kertas itu dijamin sudah ketinggalan satu hari ketimbang breaking news di internet.

Karena gak asyik membaca e-paper, saya biasanya membaca lagi koran kertas beberapa jam kemudian, bahkan malam hari di kantor, meskipun isi dan tampilannya sama persis. Maka, saya pikir-pikir, e-paper itu hanya cocok untuk orang-orang yang belum punya kebiasaan membaca koran kertas sejak kecil. Kalau sejak balita sudah biasa main internet, browsing ke sana kemari, aktif di media sosial, e-paper rasanya kurang efektif.

Kayaknya e-paper ini semacam media transisi dari koran kertas ke koran online yang benar-benar nihil kertas. Semoga masa transisi ini berlangsung lamaaaa... sehingga bisnis koran kertas bisa terus berjalan. Dan para loper serta pengecer koran tetap berjualan di pinggir jalan.

Hidup koran kertas!