09 November 2018

Timnas senior sangat keropos

Tak banyak yang bisa diharap dari timnas Indonesia di Piala AFF 2018 ini. Baru satu pertandingan. Masih banyak laga di fase grup. Tapi kesan pertama lawan Singapura yang baru berakhir beberapa menit lalu sangat mengerikan.

Indonesia memang cuma kalah 0-1. Tapi secara permainan, kerja sama tim, dsb kalah total. Pemain-pemain kita juga emosian. Main kasar, tidak bisa kontrol emosi. Makanya kena kartu kuning dan kartu merah.

Apakah faktor pelatih Bima Sakti yang masih hijau? Kurang persiapan? Materi pemain yang jelek?

Rasanya semuanya. Di stadion negara Singapura itu tahulah kita bahwa timnas sepak bola kita memang masih jalan di tempat. Bahkan kalah level dari Singapura, Malaysia, atau Thailand. Kita hanya sedikit lebih baik daripada Timor Leste dan Brunei Darussalam.

Perjalanan Indonesia di Piala AFF masih panjang. Timnas masih punya peluang untuk lolos ke fase berikut. Syaratnya gampang: menang menang menang menang. Tak boleh seri atau kalah.

Dan syarat untuk menang juga gampang: bikin gol lebih banyak ketimbang lawan. Gampang diucapkan tapi betapa sulitnya di lapangan.

Penyerang kita Beto dan Lilipaly sepertinya tidak punya banyak imajinasi menghadapi bek-bek Singapura. Evan Dimas yang dulu sangat gemilang bersama Indonesia U19 kini tak lagi dominan di lapangan. Visi bermain dan umpan-umpannya tak lagi enak.

Kita sempat terbang ke langit ketika Indonesia U23 tampil sangat bagus di Asian Games 2018 yang lalu. Tim kuat dari Timur Tengah pun bisa kita bikin kewalahan. Kok di timnas senior kita masih seperti yang dulu?

Semoga pelatih Bima Sakti dkk bisa membenahi timnas yang lagi keropos ini.

08 November 2018

Minum air es tidak dianjurkan?

Mampir di warkop di dekat Balai Bahasa, Siwalanpanji, Buduran, saya ketemu seorang ibu. Pensiunan dosen ternyata. Grapyak, cepat akrab. Enak diajak ngobrol karena ilmunya luas.
Melihat saya memesan es batu + joss, Bu Widya itu pun kasih wejangan. Mirip kuliah di kampus. "Sebaiknya hindari es Mas. Tidak bagus untuk kesehatan. Rasanya sih segar di mulut. Tapi di dalam perut?"

Hem... Saya mencoba mencerna kata-katanya. Saya pernah baca nasihat itu yang beredar luas di media sosial tahun lalu. Lebih baik minum yang hangat. Hindari es atau minuman yang disimpan di kulkas. Alasannya blablabla....

Ibu sendiri tidak minum es?

"Alhamdulillah, tidak pernah. Sudah bertahun-tahun Ibu tidak minum minuman dingin. Kulkas hanya untuk simpan sayur, ikan, daging dsb. Alhamdulillah, Ibu masih sehat, tidak pernah sakit di usia 70 tahun lebih," katanya mantap dengan bahasa Jawa campuran ngaka + krama.

Mungkin Ibu dulu dosen kesehatan atau ilmu gizi?

"Bukan. Tapi Ibu sering membaca dan ikut seminar-seminar kesehatan. Buat nambah wawasan," katanya.

Kampanye kesehatan ala Ibu Widya ini ternyata sangat manjur. Saya jadi ingat tulisan-tulisan di internet dan media sosial yang intinya sama: hindari es. Tapi sebetulnya banyak juga pendapat sebaliknya. 

Air es atau air yang sangat dingin tidak seberbahaya yang disebut pakar-pakar instan di medsos. Buktinya, sampai sekarang tidak pernah ada larangan minum es dari kementerian kesehatan. Masak, pemerintah membiarkan rakyatnya sakit gara-gara ngombe es batu dsb.

Tengah malam saya buka lagi buku Keajaiban Enzim karangan Dr Hiromi Shinya yang terkenal itu. Cukup banyak orang yang terpengaruh pendapat Hiromi yang cenderung anti mainstream. Misalnya, manusia seharusnya tidak minum susu sapi karena susu sapi itu sejatinya disediakan alam untuk anak-anak sapi.

Nah, soal air es ini, Dr Hiromi membahasnya cukup panjang. Pakar asal Jepang yang tinggal di USA ini bilang air yang paling bagus untuk diminum itu adalah "air yang suhunya lebih rendah daripada suhu tubuh Anda tetapi tidak sedingin es".

Suhu air yang bagus katanya sekitar 21 derajat Celcius. Kayaknya ibu pensiunan dosen di Buduran itu merujuk pendapat Dr Hiromi.

Gara-gara obrolan senja di warkop itu, saya mulai berhenti membeli es degan di lapaknya Bu Saiful di Jalan Jenggolo. Padahal hampir tiap hari saya membeli es degan di gelas besar. Es batunya dilebihkan, pesan saya.

"Kok lama gak mampir?" tanya Bu Saiful yang asli Jember.

"Hem... istirahat dulu. Barusan ngopi di kafe sebelah."

Saya tidak singgung Dr Hiromi atau kuliah kesehatan ala warkop di Buduran itu.

07 November 2018

Tandjoeng Poeri pun gersang

Sudah mendung tiga hari ini tapi belum hujan. Sidoarjo masih ongkep. Taman Tandjoeng Poeri yang didesain sebagai paru-paru kota pun gersang.

Saya ngopi sambil baca majalah Tempo terbaru. Membahas kapal terbang Lion Air yang nyungsep ke laut. Diiringi musik keroncong, suasana siang ini masih terasa terik. Untung ada semilir angin.

Saya perhatikan begitu banyak tanaman yang kering. Kok bisa begitu? Bukankah taman ini milik pemkab? Ada petugas yang merawat tiap hari? Tidak sempat disiram?

"Selalu disiram dan dirawat. Tapi kalau musim kemarau ya begitu," kata seorang pria di taman. Rupanya dia petugas di taman bekas tempat pembuangan sampah di Bluru Kidul, Sidoarjo, itu.

Tenang... hujan tak lama lagi datang. Begitu ramalan BMKG Juanda. Semoga tidak mbeleset lagi prakiraan cuacanya.

05 November 2018

Indomaret Sidoarjo Runner-up Livoli 2018

Luar biasa Indomaret Sidoarjo! Klub bola voli yang bermarkas di Wonoayu ini semalam keluar sebagai pemenang kedua (runner-up) Livoli 2018.

Tidak ada yang menyangka Indomaret Sidoarjo bisa melangkah sejauh ini. Tampil di final bola voli putra melawan Bhayangkara Samator di GOR Magetan.

Samator memang terlalu tangguh. Diperkuat banyak pemain nasional, anak-anak Sidoarjo memang kewalahan. Tapi para senior itu juga sering dibuat kalang kabut dengan bola-bola kejutan.

Bhayangkara Samator menang 3-0. Skornya lumayan bersaing 25-22, 25-19 dan 25-20. Tidak terlalu jomplang. "Kita punya masa depan yang baik karena anak-anak masih sangat muda. Mereka perlu jam terbang," kata Sutono, pembina Indomaret Sidoarjo yang mantan pemain bola voli nasional.

Yah... Tim bola voli putra Sidoarjo ini punya beberapa pemain muda yang menonjol. Alfin Pratama 16 tahun, Viko Aditya 17, Tri Fauzan Maulana 18, dan libero Fahreza Abhinaya 19.

Anak-anak muda kota kupang ini memang baru kali ini ikut kompetisi bola voli antarklub tingkat nasional. Selama ini mereka hanya ikut kejuaraan remaja tingkat Jatim. Atau sekadar kejurkab atau porkab di Kabupaten Sidoarjo.

Tapi begitu diturunkan di kejuaraan bergengsi Livoli 2018, anak-anak Sidoarjo ini tampil taktis. Tidak hanya mengandalkan otot tapi otak. Tidak heran, tim-tim unggulan dibuat kelimpungan di fase grup hingga semifinal.
Indomaret Sidoarjo hanya kalah oleh Bhayangkara Samator. Baik di grup A maupun final.

"Samator memang berat. Mereka punya pemain-pemain berpengalaman di kompetisi level tinggi," kata Sutono.

Hasil Livoli 2018 ini juga menunjukkan bahwa Sidoarjo punya bibit-bibit pemain bola voli yang melimpah. Pembinaan yang dilakukan PBSI Sidoarjo maupun klub-klub di 18 kecamatan sudah memperlihatkan hasilnya. Atlet-atlet muda 16 hingga 19 tahun ini tinggal dipoles dan dikawal terus agar bisa menjadi bintang baru timnas Indonesia.

Dan itu tugas Sutono bersama pelatih Iwan Dedi Setiawan dan timnya di Wonoayu.
"Kita pernah jadi juara Livoli tahun 2008. Kita masih punya harapan untuk jadi juara lagi pada tahun-tahun ke depan," katanya.

Ketua PBSI Sidoarjo Djoko Supriyadi mengapresiasi hasil yang diraih Indomaret Sidoarjo pada kompetisi Livoli 2018 di Magetan. Pria yang juga ketua PAMMI Sidoarjo mengaku sangat yakin Sidoarjo selalu punya kemampuan untuk bersaing di cabang olahraga bola voli. Khususnya kelompok usia remaja hingga pratama.

"Makanya, saya selalu bilang cabor bola voli tidak boleh lepas putra-putrinya. Kita harus bisa pertahankan medali emas putra dan putri di Porprov Jatim 2019," katanya.

Djoko berharap sistem pembinaan yang sudah baik di Indomaret (putra) maupun Sparta (putri) bisa dipertahankan. Lebih bagus lagi jika bisa ditularkan ke klub-klub lain di Kabupaten Sidoarjo.

01 November 2018

Mengapa protes hukuman mati di Arab Saudi?

Tuti Tursilawati pekerja migran baru saja dieksekusi di Arab Saudi. Ramai banget suara-suara protes di media sosial. Media massa juga memberitakan peristiwa yang selalu berulang itu.

Ada aktivis yang minta pemerintah melakukan moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi. Sebab negara itu tidak mengindahkan notifikasi dari pemerintah Indonesia. Menlu Retno pun protes keras. Suaranya agak tercekat karena simpati pada perempuan yang sudah tidak ada lagi di dunia itu.

Ehem... sayang banget. Kasus Tuti ini tidak dikaitkan dengan praktik hukuman mati yang masih berlaku di Indonesia. Eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba, terorisme, dan sebagainya terjadi terus menerus-menerus di Indonesia. Kejaksaan Agung sudah menyiapkan nama-nama yang bakal dieksekusi.

Sudah banyak banget terpidana yang dieksekusi di Indonesia. Khususnya sejak pemerintahan Presiden SBY dan Jokowi. Protes atau permohonan dari pemerintah asing yang warganya bakal dieksekusi dianggap angin lalu. Bahkan permintaan khusus Paus Benediktus XVI agar Fabianus Tibo dkk tidak dieksekusi pun diabaikan pemerintah.

Indonesia pun dikenal sebagai negara yang konsisten dengan hukuman mati. Di dalam negeri malah sering ada usulan agar para koruptor sebaiknya ditembak mati di lapangan monas. Boleh dikata pihak yang menolak hukuman mati di Indonesia tidak sampai 10 persen.

Mayoritas rakyat Indonesia senang hukuman mati agar ada efek jera. Bandar-bandar narkoba ditembaki agar tidak ada lagi penyalahgunaan narkoba di NKRI. Hasilnya? Narkoba malah beredar di dalam penjara. Padahal si Freddy Gemblung sudah ditembak dan dimakamkan di dekat Kelenteng Mbah Ratu, Surabaya.

Makanya, kalau ada protes hukuman mati atas WNI di luar negeri, saya hanya senyum kecut. Ketawa sendiri dalam hati. Lah, kota di Indonesia sudah biasa melakukan eksekusi mati kok malah protes negara lain yang punya sistem hukum serupa?

Yang berhak protes adalah negara-negara yang tidak memberlakukan hukuman mati. Aneh kalau Indonesia ikut protes. Apa pun alasannya selama hukuman mati masih diberlakukan di Indonesia.

Saya dengar pemerintahan Pakatan Harapan yang dipimpin PM Tun Mahathir baru saja menghapus hukuman mati di Malaysia. Ini luar biasa dan gak kebayang sebelumnya. Malaysia yang negara Islam dan sejak awal kemerdekaan kita anggap sering merujuk ke Timur Tengah ternyata bisa membuat perubahan kebijakan yang sangat drastis.

Dulu begitu banyak TKI yang digantung di Malaysia. Protes keras Indonesia pun biasanya cuma sekadar ditampung saja. Tapi ada beberapa TKI dilepas meski sudah ada jadwal eksekusi. Salah satunya wanita asal Krian, Sidoarjo, beberapa tahun lalu. Malaysia di era UMNO memang cenderung tanpa kompromi.

Tapi kini Malaysia sudah berubah. Benar-benar berubah sejak Pakatan Harapan menang pilihan raya pada awal Mei 2018. Tatanan politik berubah total. Bahkan sampai menyentuh hukuman mati segala. Luar biasa jiran kita itu.

Sayang, dalam hal hukuman mati, kita masih jalan di tempat. Masih terus reaktif, protes negara lain, tanpa mau mengubah kebijakan itu. Para politisi, 16 partai politik, capres-cawapres... dipastikan tidak akan berani mengangkat isu hukuman mati karena pasti kontraproduktif. Bisa kalah dalam pemilu karena... itu tadi... 90 persen rakyat menganggap hukuman mati itu sangat perlu di Indonesia.

Jannatun Korban Lion Air Asal Sidoarjo



Korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 mulai teridentifikasi. Jenazah pertama ternyata warga Sidoarjo. Tepatnya Desa Suruh, RT 01, Sukodono. Namanya Jannatun Cintya Dewi.

Gadis 24 tahun ini salah satu dari 189 penumpang dan awak Lion Air yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Jannatun bekerja sebagai staf Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta. Jannatun berangkat ke Pangkal Pinang karena urusan dinas.

Korban merupakan anak sulung pasutri Bambang Supriyadi, 48, dengan Surtiyem, 45. Keduanya langsung ke Jakarta begitu mendengar berita Lion Air jatuh. Akhirnya jenazah bisa diidentifikasi paling awal.

Saat sekolah di SMAN 1 Sidoarjo, Jannatun tergolong sangat cerdas. Dia bahkan menyelesaikan sekolahnya dalam waktu dua tahun saja. Ada program akselerasi memang di sekolah favorit itu.

Kuliah di ITS pun Jannatun tetap moncer. IP-nya mendekati sempurna. Lalu bekerjalah dia di kementerian energi itu. "Kakak saya selalu sempatkan diri pulang ke Sidoarjo," kata Nadzir Ahmad Firdaus, adik kandung almarhumah Jannatun.

Pihak keluarga yang memang sangat religius menerima musibah ini sebagai takdir ilahi. Bahwa usia Jannatun ternyata tidak terlalu panjang. Meninggal dunia justru masih di periode awal membina karirnya di ESDN.

Semoga Jannatun berbahagia di sana!

27 October 2018

Panas ekstrem, ingin hujan



Bulan Oktober 2018 mau habis. Tapi belum ada tanda-tanda akan hujan. Yang terjadi sekarang di Surabaya dan sekitarnya adalah ongkep alias sumuk.

Siang panas terik. Suhu 35-37 derajat Celsius. Bisa lebih kalau tengah hari.

Panas ekstrem ini membuat kita sulit tidur. Memang tidur tapi sama sekali tidak merasakan enaknya tidur. Ini membuat kondisi tubuh menurun. Gampang sakit karena daya tahan tubuh berkurang.

Perlukah doa minta hujan? Tidak dan ya. Sang penguasa alam punya rahasia sendiri. Kalau memang sudah saatnya hujan ya hujan. Kalau belum hujan ya belum. Alam jangan dipaksa-paksa. Begitu kata Saiful pengurus Candi Tawangalun yang kepanasan di Buncitan Sedati.

"Kita sebaiknya pasrah saja sama Sang Pencipta," kata Saiful sambil menyedot rokoknya.

Begitulah. Hujan dan panas adalah siklus alam yang niscaya. Saat ongkep, suhu dekat 40 celcius, kita ingin hujan deras biar segar sejuk lagi. Tapi kalau hujan ya banjir di mana-mana. Khususnya di Sidoarjo.

Saya jadi ingat warga Bungurasih, Kedungrejo, atau Tanggulangin tahun lalu. Kampung mereka tenggelam beberapa hari saat hujan. Mereka pun minta agar tidak ada lagi hujan.

Ebiet G. Ade sejak 1980an sudah mengingatkan kita semua bahwa alam sudah tidak bersahabat dengan manusia. Dan itu akibat ulah manusia sendiri.