26 January 2015

Zainal Abidin ketua KPU Sidoarjo

Baru saja saya ngobrol dengan M Zainal Abidin di ruang kerjanya. Mas Zainal ini ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sidoarjo. Lama banget saya tak sua komisioner yang juga dosen di STAI Al-Khoziny, Buduran, ini.

Mas Zainal masih seperti yang dulu. Masih asyik merokok meski ruang kerjanya ber-AC. Semakin merokok semakin banyak dapat inspirasi. Apalagi ditambah kopi kental panas. "Saya agak kurangi kopi untuk kontrol gula darah. Tapi nggak bisa lepas dari kopi," katanya santai.

Zainal Abidin adalah satu-satunya komisioner KPU Sidoarjo yang bertahan lebih dari dua periode. Dus, ini periode ketiganya. Mas Bhima sudah lengser. Sekarang malah jadi salah satu direktur PDAM Sidoarjo. Mas Ansori jadi hakim tipikor di luar Jawa. Mas Nanang tidak lolos dalam seleksi kemarin.

"Pekerjaan apa pun kalau dinikmati mesti enak. Disyukuri saja," kata santri senior yang sering jadi pembawa acara di Pesantren Al-Khoziny itu. Sebagai komisioner kawakan, pria yang murah senyum ini kudu ngemong teman-temannya komisoner baru. Dia juga paling bertanggung jawab atas pemilihan kepala daerah Sidoarjo tahun 2015 atau Februari 2016.

Zainal dan KPU di seluruh Indonesia masih menunggu pembahasan perppu pilkada di Senayan, Jakarta. Sebab perppu itulah yang akan menjadi acuan dalam pilkada. Tahapan-tahapan pilkada belum bisa dilakukan selama belum ada aturan main yang disahkan wakil rakyat. "Mudah-mudahan segera selesai agar kami bisa membuat perencanaan," harapnya.

Bekerja sebagai komisioner KPU Sidoarjo, dari anggota biasa hingga dipercaya menjadi ketua, bagi Zainal adalah amanah sekaligus kehormatan. Maklum, di seluruh kabupaten hanya ada lima komisioner. Ketika ada pemilihan umum, entah pileg, pilpres, atau pilkada, KPU menjadi jujukan banyak pihak yang berkepentingan.

"KPU ini kalau saat pemilu benar-benar dibutuhkan orang. Tapi setelah pemilu seperti dilupakan orang," kata Zainal dengan guyonan khasnya.

Bisa jadi benar. Saat ini kantor KPU Sidoarjo di pinggir jalan raya Cemengkalang itu sepi. Hampir tak ada pengunjung atau tamu. Halaman parkir pun lengang. Sebaliknya, saat pileg dan pilpres lalu, mobil dan sepeda motor terlihat meluber hingga ke jalan raya.

"Yah, disyukuri sajalah! Anggap saja istirahat sebelum kerja keras menjelang pilkada nanti," kata saya.

"Oh, jangan dikira KPU sekarang nganggur (tapi tetap dibayar)! Sekarang ini justru kami selalu dapat kerjaan dari KPU pusat. Ada-ada saja tugas yang harus dibayar," tegasnya.

Zainal juga mengaku mulai aktif melakukan sosialisasi pilkada lewat RSPK, radio milik Pemkab Sidoarjo. Dia juga lagi merancang media center di kantor KPU. "Sekarang ini media center yang ada tidak aktif. Saya ingin hidupkan lagi," ucapnya.

Cukup lama saya lepas kangen dengan Mas Zainal yang dulu biasa makan dan ngopi bareng di warung hijau dekat KPU. Warung itu, yang putri pemiliknya cantik nian, sudah tak ada lagi. Obrolan seputar pilkada melebar ke mana-mana. Hingga datanglah tamu dari bagian humas pemkab Sidoarjo. Obrolan malah makin seru tapi tetap santai.

Kopi pahit pesanan Mas Zainal ternyata tak mampu menahan kantukku. Saya pun pamit ke Pasar Seni untuk istirahat sejenak di kompleks ruko yang jadi jujukan seniman lukis itu. Capek deh!

22 January 2015

Apresiasi Paduan Suara Barok di PMS

Mungkin baru kali ini Pertemuan Musik Surabaya (PMS) diisi dengan bedah paduan suara atau kor (choir). Kor barok. Slamet Abdul Sjukur, komponis yang juga pendiri PMS, menghadirkan Gracioso Sonora Choir dari Malang. Paduan suara pimpinan Budi Susanto Yohanes, dirigen, dan arranger terkemuka ini dinilai paling mumpuni membawakan komposisi-komposisi barok.

Kor yang dibentuk Mas Budi pada 1999 ini sudah memenangi berbagai penghargaan di dalam dan luar negeri. Mas Slamet ingin Mas Budi tak hanya memberi penjelasan teoretis, tapi kasih contoh kor gaya barok itu seperti apa. Ini jarang ada di Surabaya, bahkan Indonesia. Ikut kuliah musik bersama sambil nonton konser plus diskusi. Kor dan dirigennya pun kaliber dunia.

Selama ini Mas Slamet Abdul Sjukur yang belum lama ini dirayakan ulang tahun ke-79 oleh para pengagumnya di Surabaya dianggap lebih suka musik yang bukan nyanyi-nyanyi. Suara manusia diolah sedemikian rupa menjadi bunyi-bunyian yang unik. Mas Slamet bahkan pernah mengumpulkan orang-orang bersuara sengai (bindeng) untuk dilatih dalam sebuah paduan suara.

Ide nyeleneh khas Mas Slamet itu gagal terwujud. "Saya kesulitan menemukan orang bindeng yang mau ikut latihan paduan suara. Ada beberapa yang sempat saya latih tapi mereka ketawa sendiri mendengar suara temannya yang bindeng," cerita Mas Slamet suatu ketika.

Hobi Slamet Abdul Sjukur yang doyan membongkar kemapanan ini tak berarti dia antipaduan suara konvensional yang taat pakem itu. Dalam sebuah tulisannya, Mas Slamet menceritakan sistem pendidikan musik di Hungaria yang dirancang "untuk membentuk manusia yang cerdas dan beradab".

"Penekanannya pada pendidikan paduan suara," tulis Mas Slamet di buku Virus Setan.

Mengapa paduan suara? Untuk bernyanyi, kita harus bernapas yang betul. Bernapas lebih terarah. Paru-paru, sel-sel darah, sistem hormon, jaringan saraf yang berpangkal di otak bisa bekerja dengan baik. Mas Slamet melanjutkan:

"Bernyanyi dalam paduan suara membuat kita merasakan perlunya kebersamaan. Tidak ada yang ingin lebih menonjol dari yang lain. Semua untuk semua. Kebersamaan juga membuat percaya diri dan melupakan egosentris yang berlebihan."

Musik, khususnya paduan suara, membuat pendengaran kita bersikap lateral (menyebar). Tidak satu arah (linear). Kalau dalam sebuah rapat orang-orang bicara bergantian agar setiap gagasan dapat ditangkap dengan jelas. Di dalam sebuah orkes, instrumen-instrumennya berbunyi bersamaan dan telinga kita tetap bisa mencernanya.

"Pendengaran lateral seperti ini juga berpengaruh dalam cara berpikir," kata Mas Slamet.

Maka, jangan sekali-sekali meremehkan paduan suara. Ikut paduan suara itu ternyata punya manfaat begitu banyak. Itulah sebabnya, para pelajar SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi seyogianya diwajibkan ikut paduan suara. Seperti di Hungaria itu.

Teater kampung di Lembata kian surut

Sebelum tahun 2000, sandiwara atau teater atau drama sangat populer di pelosok Nusatenggara Timur, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Anak-anak desa yang sekolah di kota biasanya mengisi liburan dengan main sandiwara. Di tengah adegan, biasanya diisi dengan menyanyi vocal group, tarian, atau lawakan sederhana.

Waktu itu belum ada televisi. Ada memang beberapa televisi tapi tak ada gambar karena pemancar tidak ada. Maka orang-orang desa sangat antusias menyaksikan teater amatiran khas remaja itu. Saya masih ingat, gereja di Atawatung penuh sesak oleh warga dua desa (Atawatung dan Mawa) yang menonton sandiwara. Judulnya: Cinta dan Pengkhianatan.

Sandiwara keliling ala pelajar di NTT ini mirip ludruk tobong di Jawa Timur. Pentasnya keliling beberapa desa atau kampung. Karena itu, momen liburan panjang selalu ditunggu orang-orang desa di kampung saya. Ceritanya apa? Siapa yang jadi pelakon utama? (Kata pelakon lebih populer ketimbang pemeran atau pemain atau bintan atau aktror/aktris. Yah, namanya aja orang desa.)

Sayang, masuknya listrik PLN ke desa-desa, yang disusul televisi + parabola, membuat rakyat sederhana di kampung-kampung tak lagi haus hiburan. Bisa menonton sinetron, konser musik, film, berita, dan program apa saja di TV. Kalau mau bisa 24 jam nonstop. Akibatnya, kebiasaan main sandiwara pun perlahan-lahan menghilang.

Saat berlibur di kampung halaman selama beberapa tahun terakhir, saya jarang mendengar para pelajar main sandiwara. Mereka bahkan tidak tahu kalau abang-abang atau om-omnya dulu selalu membawa sandiwara ke kampung saat berlibur. Bahkan, Gereja Atawatung yang dulu paling sering jadi panggung teater kampung pun tak ada lagi.

Syukurlah, di Desa Bungamuda tradisi pelajar main sandiwara alias teater ini masih ada. Bahkan sudah jadi semacam agenda tetap setiap malam tahun baru. Orang-orang kampung ramai-ramai berkumpul di namang (semacam alun-alun) untuk menonton sandiwara di panggung terbuka.

Yang menarik, cerita yang dimainkan anak-anak muda Bungamuda ini tidak lagi soal percintaan, perjuangan, atau naskah-naskah lama yang ditulis orang lain. Mereka bikin skenario sendiri berdasar isu aktual di kampung. Maka, tahun lalu sandiwaranya tentang kepala desa di negeri antah berantah yang tidak aspiratif. Sindirannya sangat tajam.

Warga tertawa-tawa menyaksikan ulah pak kades yang konyol di atas panggung. Sandiwara jadi ajang katarsis, pelepas unek-unek, karena selama ini rakyat kecil sulit mengkritik pemimpinnya secara langsung. Teater tentang bak penampung air hujan ini pun lekas menjadi buah bibir di seluruh kecamatan.

Malam tahun baru kemarin, anak-anak Bungamuda mementaskan drama tentang kebiasaan buruk menenggak minuman keras. Ini juga sangat relevan karena diangkat dari kisah nyata di kampung. Remaja yang doyan mabuk bikin ulah di kampung kecil itu.

Teater yang sederhana ini pun jadi buah bibir masyarakat setempat. Ini juga menunjukkan bahwa teater atau sandiwara sebetulnya masih mendapat tempat di hati masyarakat desa-desa di Kabupaten Lembata. Sayang, tradisi yang baik ini sudah hilang di banyak desa.

Mengapa orang-orang desa di Flores dan Lembata sangat suka nonton sandiwara? Selain karena kurang hiburan, menurut saya, tidak lepas dari jasa Bung Karno. Ketika diasingkan di Ende, Flores, 1934-38, Bung Karno mendirikan Toneel Kelimutu. Sebuah kelompok teater amatir yang rajin pentas di salah satu gereja katolik di Ende. Bung Karno sendiri yang menulis naskah-naskah sandiwaranya.

Kita bisa membaca di buku-buku betapa warga Ende, Flores umumnya, saat itu begitu gandrung menonton sandiwara alias tonil. Kebiasaan ini kemudian diteruskan sekolah seminari, yang kemudian diadopsi sekolah-sekolah umum di Pulau Flores dan sekitarnya. Anak-anak kampung yang bersekolah di kota kemudian memanfaatkan seni peran ini untuk menghibur warga saat liburan. Sekaligus menyentil sejumlah kebijakan penguasa yang dianggap melenceng.

20 January 2015

Selamat Jalan Romo Yoseph Reko Boleng




Sekitar seribu umat Katolik dari Sidoarjo, Surabaya, dan sejumlah kota di Jawa Timur Senin, 19 Januari 2015, mengantar jenazah Romo Yoseph Reko Boleng ke tempat pemakaman khusus para romo di Puhsarang, Kediri. Sebelumnya digelar misa requiem yang dipimpin Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono.

Tak hanya Uskup Sutikno, puluhan romo dan suster tampak khusyuk mengikuti misa khusus untuk mendoakan Romo Reko Boleng, 60. Satu per satu jemaat diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir di depan jenazah mendiang Romo Reko yang ditempatkan di depan altar Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata, Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo.

Mendiang pastor berdarah campuran Flores-Jawa ini memang bertugas sebagai romo di Paroki Sidoarjo. "Saya tidak menyangka kalau Romo Reko meninggalkan kita secepat ini.
Jumat malam (16/1) beliau terlihat sehat, biasa saja, tidak ada keluhan apa pun," ujar Romo Justisianto, kepala Paroki St Maria Annuntiata Sidoarjo.

Sabtu pagi, 17 Januari 2015, menurut Romo Jus, sapaan akrab Romo Justisianto, Romo Reko tidak terlihat sarapan dan melakukan aktivitas seperti biasa. Dia mengira sang romo punya kesibukan di luar dan lupa memberi pesan baik lewat nota maupun SMS. Ketika kiriman jus buah datang, seorang koster (pembantu di pastoran) mengetuk kamar Romo Eko. Tak ada jawaban. Siang hari, sang koster kembali mengetuk pintu. Juga tak ada jawaban.

Penasaran dengan situasi yang tak lazim, koster itu mencoba mengintip ke dalam kamar. Betapa terkejutnya dia melihat tubuh Romo Reko sudah terbujur kaku. "Pak Koster turun memberi tahu saya kalau Romo Reko sudah nggak ada," tuturnya.

Dibanding sejumlah pastor lain, menurut Romo Jus, selama ini Romo Reko dikenal paling sehat dan bugar. Tak pernah ada riwayat penyakit berat atau keluhan apa pun. "Tapi ternyata Romo Reko yang lebih dahulu dipanggil Tuhan pada usia 60 tahun. Sementara beberapa romo sepuh yang kita sangka dapat antrean di depan malah masih segar bugar," kata Romo
Jus.

Romo Jus mengaku tak pernah mengira rekan kerjanya itu terkena serangan jantung mendadak. Begitu mendadaknya sehingga tak ada seorang pun di pastoran yang tahu. Diduga kuat, Romo Reko sudah meninggal dunia lebih dari 10 jam sebelum jenazahnya diketahui oleh koster gereja.

"Inilah misteri kematian itu. Kacamata manusia selalu berbeda dengan kacamata Tuhan. Tuhan punya rencana sendiri. Ia memanggil kita kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya," kata Romo Jus.

Tak ada firasat atau pesan khusus sebelum Romo Reko menghadap Sang Pencipta. Namun, romo yang murah senyum ini pernah meminta keluarganya untuk tidak memikirkan dirinya. "Sebab, sudah ada yang ngurus," kata Romo Jus menirukan kata-kata Romo Reko.

Benar saja. Mendengar kabar kematian Romo Reko Boleng, umat Katolik terus berdatangan untuk memberi penghormatan serta mengurus berbagai keperluan hingga pemakaman di kompleks Gua Maria Lourdes, Puhsarang, Kediri.

Selamat jalan Romo Reko! Resquescat in pace!

19 January 2015

Merpati merintis, SusiAir dan TransNusa menikmati

Setiap kali melihat Bandara Gewayantanah di Larantuka dan Bandara Wunopito di Lembata, Nusatenggara Timur, saya selalu ingat Merpati. MNA: Merpati Nusantara Airline nama lengkap maskapai plat merah itu. Maskapai yang terus merugi sehingga tak lagi terbang di udara Indonesia.

Dulu, tahun 1980an, Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin getol membuka banyak lapangan terbang (lapter) perintis di seluruh Indonesia. NTT sebagai provinsi kepulauan kebagian lapter-lapter itu. Termasuk di Larantuka dan Lewoleba itu. Selain Bandara Eltari di Kupang, 13 bandara di NTT itu memang berstatus lapangan terbang perintis.

Namanya juga perintis, kondisi Gewayantanah dan Wunopito dulu benar-benar memprihatinkan. Rumput-rumput liar begitu tinggi. Seperti padang rumput untuk beternak kambing atau sapi. Kantornya juga sangat jelek. Belum ada penerbangan berjadwal.

Tapi, syukurlah, sesekali pesawat Merpati mendarat di lapter yang penuh rumput itu. Tentu saja pesawat baling-baling macam TO dan sejenisnya. Sebab pesawat macam ini tidak butuh landasan pacu yang panjang. Merpati benar-benar berjasa memperkenalkan moda transportasi udara kepada warga NTT yang masih terbelakang itu.

Sepanjang masa Orde Baru, Merpati bisa hidup karena kebijakan pemerintah yang membatasi maskapai penerbangan hanya lima biji: Merpati, Garuda, Bouraq, Mandala, dan Sempati. Merpati dapat misi khusus melayani penerbangan perintis seperti ke NTT. Syukurlah, saya pernah sekali merasakan penerbangan Merpati yang penuh goncangan sebelum tahun 2000.

Setelah Orde Baru jatuh, kebijakan pemerintah pun berubah. Bisnis penerbangan dibuka selebar-lebarnya. Merpati yang tidak punya pengalaman bersaing di pasar bebas kelimpungan. Garuda juga goyang, sebelum kini bangkit lagi sebagai maskapai plat merah yang berhasil. Bouraq tutup. Sempati lebih dulu gulung tikar. Mandala sempat berjaya tapi akhirnya kolaps juga.

Praktis, maskapai-maskapai yang bermain bisnis di udara merupakan pemain-pemain baru. Kecuali Garuda. Lantas, bagaimana nasib bandara-bandara kecil yang dirintis dengan susah payah oleh Merpati sejak 1980an itu? Nah, rupanya pemain-pemain baru ini jauh lebih jeli, cerdas, dan efisien dalam melihat pasar.

Bandara-bandara di NTT memang kecil, landasan pacu kurang dari 2 kilometer. Tapi bisa dimanfaatkan untuk pesawat-pesawat berukuran kecil dan sedang. Maka berdirilah TransNusa, maskapai milik pengusaha asal Alor, NTT. Dia memanfaatkan belasan lapangan terbang perintis yang dibuat pemerintah-pemerintah daerah dan dirintis Merpati itu.

Merpati sendiri sudah sempoyongan karena mismanajemen. Rugi terus! "Padahal, tiketnya jauh lebih mahal daripada TransNusa dan SusiAir. Aneh, yang jual mahal malah bangkrut, sementara yang jual murah malah untung terus," kata beberapa orang Lembata yang tinggal di dekat Bandara Wunopito.

Masuknya TransNusa membuat dunia penerbangan di NTT sangat bergairah. 14 bandara kecil di NTT tiap hari ada penerbangan. Ada yang sekali sehari, dua kali, ada yang tiga kali. Dulu di era Merpati, penerbangan sekali seminggu saja sudah dianggap luar biasa. Dan, yang penting, tiketnya pun lebih terjangkau ketimbang Merpati di era monopoli.

Sukses TransNusa segera menarik pemain-pemain lain ke NTT. SusiAir yang tadinya bermain di Papua dan Maluku masuk juga ke NTT. Ada juga Wings Air dan beberapa maskapai lagi yang mengandalkan pesawat-pesawat kecil.

Kompetisi di antara airlines ini jelas menguntungkan konsumen. Si maskapai tak bisa lagi seenaknya mematok tarif yang mahal. Maskapai yang dulu pasang tarif Rp 900 ribu rute Lembata-Kupang kini jual tiket Rp 600 ribu. Sebab, saingannya muncul dengan tiket Rp 650 ribu.

Sayang, Merpati Nusantara Airlines tidak ikut menikmati kue penerbangan di NTT, juga wilayah lain di Indonesia timur, yang makin gurih itu. Capek-capek merintis dari NOL, bahkan minus, tapi tak bisa memetik hasilnya. Tapi, yang pasti, jasa baik Merpati sebagai maskapai penerbangan perintis akan tetap dicatat dalam sejarah. (*)

18 January 2015

Siaran eksekusi mati sambil senyum

Sejak pesawat AirAsia dinyatakan hilang, 28 Desember 2014, televisi-televisi nasional berlomba bikin siaran langsung. Berjam-jam. Tiap hari. Lama-lama kita bosan karena durasinya terlalu panjang dan analisis pengamat cuma diulang-ulang saja. Kalaupun suatu ketika ada tragedi serupa, analisisnya pun akan sama. Pengamatnya juga mungkin sama aja.

Tapi breaking news AirAsia QZ 8501 ini punya nilai human interest yang tinggi. Kita bisa lihat kerja keras penyelam, basarnas, hingga para dokter yang mengidentifikasi korban di RS Bhayangkara Surabaya. Kita jadi akrab dengan istilah black box, ante mortem, post mortem, DVI, LCC, dan sebagainya. Banyak ilmu yang kita serap setelah menyaksikan liputan AirAsia selama hampir tiga minggu ini.

Setelah AirAsia tidak lagi menarik, masyarakat mulai bosan, beberapa televisi swasta gantian membuat siaran langsung eksekusi mati. Human interest-nya jelas tinggi. Tapi bagi sebagian masyarakat, seperti saya, siaran langsung eksekusi mati ini sangat mengerikan. Apalagi si presenter menghitung mundur 4 jam lagi 6 terpidana akan ditembak mati.

Tim tvOne bahkan tampak begitu semangat blusukan ke lapangan tembak di Nusakambangan yang katanya akan dipakai untuk menembak narapidana kasus narkoba itu. Kemudian kamera menyorot Danish, terpidana yang mati-matian menolak dibawa ke Nusakambangan karena tidak mau ditembak mati. Dia ingin dihukum seumur hidup saja.

Ya, semua orang akan mati! Tapi kematian yang sudah ditentukan jadwalnya, tempatnya, caranya... pasti sangat menakutkan. Mengerikan! Tapi sang presenter televisi terlihat senyam-senyum melihat ulah bandar narkoba asal Afrika yang tidak siap mental untuk ditembak mati oleh tim Brimob itu. Dua komentator yang mendampingi presenter pun beberapa kali tersenyum.

Saya sendiri ikut petisi menolak eksekusi mati Fabianus Tibo dkk beberapa tahun lalu. Sejak itu saya konsisten menentang eksekusi mati di Indonesia. Tapi saya menghargai sikap pemerintah Indonesia, dan sebagian besar warga Indonesia, yang sangat mendukung hukuman mati. Dengan seribu satu alasan.

Saya yakin banyak orang Indonesia yang juga menolak hukuman mati. Termasuk Komnas HAM dan banyak LSM. Termasuk sebagian agamawan. Karena itu, eksekusi mati ini sebetulnya masih kontroversial di Indonesia. Dan, saya yakin banyak negara yang tidak senang melihat Indonesia masih menerapkan pidana mati.

Karena itu, televisi-televisi atau media massa seharusnya punya tenggang rasa. Empati. Mau mencoba berbela rasa dengan keluarga terpidana dan masyarakat yang menentang hukuman mati. Bukan malah membuat siaran langsung eksekusi mati sambil guyon atau bercanda layaknya siaran langsung resepsi pernikahan artis atau event hiburan.

Saya tidak tahu bagaimana televisi-televisi di Eropa atau Amerika membuat liputan eksekusi mati. Tapi rasa-rasanya tidak ada siaran langsung berjam-jam, mulai persiapan, wawancara keluarga, mengikuti ambulans yang membawa peti mati, lapangan tembak, hingga jenazah diserahkan kepada keluarga korban.

Yang saya ingat, ketika Sadam Husein, mantan penguasa Irak, dieksekusi, tidak ada siaran langsung di televisi barat. Apalagi laporan menit per menit, komentar hakim agung, dsb. Warga dunia baru terkejut mendengar berita bahwa Sadam Husein sudah dieksekusi. Gambar yang beredar pun hanya rekaman foto/video amatir yang mungkin dibocorkan orang dalam.

Indonesia memang beda!

17 January 2015

Wong sing nampa akeh ora turah

Sudah lama saya tidak membaca Alkitab yang dari buku. Biasanya saya cuma menengok bacaan kitab suci di internet yang akan dibahas saat misa hari Minggu. Yang pakai versi bahasa Inggris sederhana.

Kok pagi ini tiba-tiba saya ingin sekali baca Alkitab. Kebetulan ada kitab suci bahasa Jawa yang nganggur sangat lama. Saya buka secara acak. Ketemu ayat ini: "Wong sing nampa akeh ora turah. Wong sing nampa sethithik ora kurang" (2 Korintus 8:15).

Saya tertegun lama. Di otak saya langsung terbayang rekening gendut. Isinya miliaran rupiah. Mungkin triliunan. Duit yang luar biasa banyaknya. Dan itu milik aparat keamanan yang gaji resminya sekitar Rp 10 juta atau paling banyak Rp 25 juta. Gaji resminya sedikit, kok penghasilannya miliaran rupiah? Dari mana uang itu? Kayak hujan duit dari langit aja!

Tak lama kemudian memori saya menghadirkan unjuk rasa ratusan guru honorer di Sidoarjo belum lama ini. Para guru ini minta agar penghasilannya dinaikkan. Kalau bisa sih disamakan dengan UMK buruh yang Rp 2,2 juta sebulan. Asal tahu saja, guru-guru tidak tetap di Kabupaten Sidoarjo ini dibayar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan. Tak ada yang dibayar Rp 2 juta.

Kok bisa guru-guru tidak tetap ini bisa hidup dengan gaji segitu! Punya istri, anak, cicil ini itu dan sebagainya. Sementara yang gajinya Rp 10 juta, Rp 20 juta, bahkan Rp 50 juta sebulan masih kurang. Masih terus dipasok uang puluhan juta, ratusan juta, secara rutin. Ajaib memang hidup ini.

Wong sing nampa akeh, ora turah!
Wong sing nampa sethithik, ora kurang!

Saya kemudian membuka Kitab Pangentasan (Keluaran) yang dirujuk perikop 2 Korintus 8 ini. Cerita tentang Tuhan memberikan roti dari surga dan burung gemak (puyuh) kepada bangsa Israel yang sedang eksodus dari Mesir. Mereka takut mati kelaparan. Yahwe bersabda:

"Aku bakal nekakake pangan kaya udan saka ing langit kanggo kowe kabeh. Saben dina kowe kudu padha nglumpukake pangan kuwi sacukupe kanggo sedina." (Keluaran 16:4).

Luar biasa! Makanan berlimpah dicurahkan seperti hujan dari langit. Tapi, namanya juga manusia, apalagi bangsa Israel yang memang ndablek, ada saja yang khawatir kaliren alias kelaparan. Orang berlomba mengumpukan manna dan puyuh sebanyak-banyak. Seakan-akan kapasitas perut manusia itu tak terbatas.

"Wong sing nampa akeh, ora turah!
Wong sing nampa sethithik, ora kurang!"

Betapa dalamnya petikan ayat kitab suci ini. Betapa Tuhan sejak awal sudah mengingatkan manusia agar tidak tamak, serakah, penuh nafsu untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, bahkan dengan jalan korupsi, jualan narkoba, jualan PSK, dan aneka tindak kejahatan lainnya.

Berkah dalem!

16 January 2015

Jokowi... oh Jokowi...

Siapa menabur angin akan menuai badai! Jokowi, presiden kita yang gebrakannya sangat meyakinkan di awal masa jabatan, bikin keputusan yang aneh bin ajaib bin konyol. Mencalonkan Komjen Budi Gunawan sebagai kapolri.

Jokowi rupanya lupa kalau menabur angin itu bakal dapat badai. Dia lupa AirAsia baru saja celaka gara-gara ditelan badai. Dia lupa bahwa rakyat terus mengawasi gerak-geriknya. Dia lupa salah satu program prioritasny: memberantas korupsi!

Jokowi lupa bahwa pada Oktober 2014 Komjen Budi Gunawan sudah dapat rapor merah dari KPK dan PPTAK. Isinya sangat gamblang: Budi tak layak dijadikan menteri karena rapornya merah! Ada rekening gendut. Transaksi mencurigakan.

Eh, kok bisa-bisanya dicalonkan jadi kapolri. Opo tumon! Kepriye?

Bukankah kompolnas yang menyodorkan nama-nama calon ke presiden? Bukankah semuanya layak dipilih? Bukankah kompolnas sudah menyatakan rekening gendut itu tidak bermasalah?

Pak Presiden, rakyat Indonesia tidak bodoh bin goblok! Rakyat tahu betul kualitas investigasi KPK dan PPTAK serta kompolnas + kepolisian di sisi lain. Rakyat sangat percaya investigasi KPK, Bung! Maka mengabaikan putusan KPK yang menetapkan BG sebagai tersangka sama saja dengan bunuh diri.

Betapa konyol kalau seorang tersangka, apalagi kasus korupsi, malah dijadikan kapolri! Dan kekonyolan itu akibat kenekatan Jokowi yang ngotot mengusulkan nama BG. Akibatnya jadi runyam dan kacau seperti sekarang.

Badai makin dahsyat karena ternyata DPR RI kompak mendukung usulan Presiden Jokowi. Aneh bin ajaib, koalisi merah putih yang selama ini cenderung oposan dan menjegal Jokowi dengan semangat menyetujui Budi Gunawan sebagai kapolri. Mereka tak lagi menghiraukan status tersangka, rekening gendut, dan penolakan sebagian besar rakyat Indonesia.

Jangan senang dulu Jokowi! Dewan, khususnya koalisi merah putih, tentu punya hitung-hitungan sendiri. Dengan menerima bola panas BG yang dilempar Jokowi, maka presiden dipaksa untuk segera melantik BG. Dan ujung-ujungnya Jokowi akan dimaki-maki rakyat. Martabat dan popularitas Jokowi langsung ambrol. Itulah bola muntah yang disambar KMP di parlemen dengan senang hati.
Suka tidak suka, Jokowi merupakan presiden yang sangat diberkati. Begitu teman saya yang kristen karismatik. Harga minyak dunia turun dratis. Sehingga di era Jokowi kita bisa membeli bensin dengan harga terjangkau... tanpa subsidi. Inilah sejarah baru di Indonesia. Mulai menikmati bensin/premium tanpa subsidi.

Sayang, berkat dari Yang Mahakuasa itu tidak dimaksimalkan Jokowi untuk membangun sistem hukum yang lebih baik. Jokowi malah menyodorkan BG sebagai kapolri. Padahal sebelumnya Jokowi mencoret BG sebagai salah satu calon menteri kabinet kerja.

Jokowi... Oh, Jokowi! Anda sudah menabur angin dan sekarang badai sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur!