20 December 2014

Selamat Natal Itu Tidak Penting



Seminggu terakhir begitu banyak debat soal halal haram mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen. Ramai sekali di Facebook seorang pengacara lokal yang saya ikuti. Debat seru. Pro kontra, kutip ayat, fatwa MUI tahun 1981, dan sebagainya. 

Saya sempat terpancing mengikuti debat lawas yang tidak produktif itu. "Isu lama, 33 tahun lalu, tapi dulang-ulang setiap tahun pada bulan Desember. Kita harga saja orang yang pro dan kontra karena keyakinan orang memang berbeda," kata saya.

Isu selamat Natal ini tidak laku di Indonesia Timur. Orang-orang di wilayah NTT, khususnya Pulau Timor dan Pulau Flores, yang mayoritas nasrani, sejak dulu tidak terpancing dengan isu ini. Hidup jalan terus dengan segala kesulitannya. Kalau Natal ya ke gereja, misa malam Natal dan pagi hari, kumpul-kumpul sebentar, ngopi, makan bersama sekadarnya... selesai. Besoknya berangkat ke kebun atau laut untuk cari ikan.

Orang-orang sederhana di kampung saya bahkan tidak pernah tahu bahwa sejak 1980-an ada fatwa MUI yang melarang umat muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang Nasrani. Tidak jelas apakah ada fatwa juga tentang hari raya Nyepi, Waisak, Imlek, dan sebagainya. Kalaupun tahu ada fatwa itu, ya, orang-orang kampung itu akan biasa-biasa saja. "Gak ngaruh," kata orang kota.

Di Jawa, yang masyarakatnya jauh lebih maju dan modern, masalah fatwa larangan selamat Natal juga tidak lagi berpengaruh. Orang Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, Baptis, dsb) sudah kebal dengan isu rutin di akhir tahun itu. Gak ngurus! Yang penting, perayaan ekaristi atau kebaktian Natal berlangsung dengan damai, aman, lancar. Tidak diganggu teroris seperti peristiwa bom Natal tahun 2000 dulu.

Saya masih ingat benar kasus teror bom di banyak gereja tahun 2000 itu. Seorang sahabat kita, anggota Banser, bernama Riyanto meninggal di halaman Gereja Katolik Mojokerto ketika sedang mengamankan paket mencurigakan. Paket itu ternyata bom yang meledak. Almarhum Riyanto, anggota Banser, yang sudah pasti Islam, meninggal ketika ikut menjaga keamanan di seputar Gereja Katolik Mojokerto saat misa malam Natal. 

Waktu itu kami, rombongan umat Katolik dari Surabaya, bersama Bapak Uskup Hadiwikarta (sekarang almarhum) dan beberapa romo berkunjung ke rumah duka keluarga almarhum Riyanto. Sungguh, Riyanto ini seorang pahlawan bagi kami! Dia meninggal ketika mengamankan umat Katolik yang akan mengikuti misa malam Natal. Riyanto tewas gara-gara ulah teroris.

Peristiwa tragis yang menimpa Riyanto ini semakin menyadarkan kita bahwa manusia-manusia Indonesia pada dasarnya sangat toleran dan moderat. Riyanto dan sahabat-sahabat Banser, yang selalu berpartisipasi menjaga keamanan saat misa Natal di Jawa Timur, membuktikan bahwa mereka sudah bergerak jauh menembus sekat-sekat primordial. Orang boleh beda agama, agamamu ya agamamu, agamaku agamaku, tapi bukan halangan untuk bersahabat dan bekerja sama.

Maka, setiap kali ada debat panjang soal fatwa larangan mengucapkan selamat Natal, saya selalu teringat almarhum Riyanto di Mojokerto. "Sia-sia kalau waktu kita habis untuk berdebat soal haram halalnya mengucapkan selamat Natal," kata teman saya, mantan aktivis mahasiswa Islam di Jawa Timur.

Betul Bung!

Daripada capek berdebat soal ini, lebih baik kita menekan KPK agar menangkap lebih banyak koruptor. Mendesak pemerintah agar menenggelamkan lebih banyak lagi kapal-kapal pencuri ikan. Memaksa pemerintah membuat jalan-jalan di pelosok NTT yang sejak zaman Belanda sampai sekarang tidak pernah diaspal. Menciptakan banyak lapangan kerja agar manusia-manusia Indonesia tidak jadi babu dan kuli di luar negeri.

Preeet! 

Revolusi Mental ala Jokowi Sudah Gagal

"Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!"

Revolusi mental yang digemborkan Presiden Jokowi rupanya tidak jalan. Khususnya merevolusi mental aparat yang korup dan sudah nyaman hidup bertahun-tahun sebagai beking bisnis haram. Makan uang yang tidak halal. Delapan anam!

Saya baca di koran, Jumat (19/12/2014), Presiden Jokowi marah-marah karena sekitar 7.000 kapal asing pencuri ikan masih berkeliaran di Indonesia. Berpesta curi ikan tiap hari tanpa diapa-apakan. Negara maritim ini dijadikan bancakan maling-maling asing yang punya kapal besar dan canggih.

Jokowi bilang begini: "Masak, dari ribuan kapal (pencuri ikan) baru tiga yang ditenggelamkan. Harusnya lebih. Saya masih menunggu penenggelaman kapal yang lain."

Hehehe... Rupanya Jokowi baru tahu kalau mafia ikan itu sudah begitu mencengkram Indonesia. Kapal-kapal maling itu bisa berkeliaran tentu karena dibekingi oleh petugas-petugas negara yang mengurusi perikanan dan kelautan. Termasuk tentara yang mengurusi laut, polisi air, hingga pemerintah daerah. 

Dari ribuan kapal, hanya TIGA yang ditenggelamkan. Itu pun kapal-kapal kecil yang sangat sederhana. Bukan kapal-kapal besar yang canggih, yang punya pabrik di dalamnya, yang punya teknologi tinggi. Seharusnya bukan hanya tiga kapal, tapi seribu kapal. Atau 2.000 kapal maling yang ditenggelamkan. Minus manusia-manusia di dalam kapal itu.

Mengapa revolusi mental di kalangan aparat sangat sulit dilakukan? Bahkan hil yang mustahal di Indonesia? Pagi ini saya membaca kitab suci, Alkitab Bahasa Jawa, ketemu omongan Nabi Yohanes (Yahya): "Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!"

Kata-kata disampaikan Yohanes untuk menjawab pertanyaan para prajurit (tentara) yang datang kepadanya. Apa yang harus kami lakukan agar diterima di Kerajaan Tuhan? "Aja padha meres, ngrampas... Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!"

Hehehe.... Saya ketawa sendiri karena ingat omongan Jokowi soal kapal asing yang tidak ditenggelamkan tentara di laut. Di zaman Yohanes Pemandi, tak lama sebelum Yesus lahir, tentara-tentara di Palestina ternyata suka memeras dan merampas harta rakyat. Padahal, mereka ditugasi untuk melindungi dan melayani rakyat.

Karena itu, tentara-tentara diminta "cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!" Cukup tidak cukup, hiduplah dengan gaji resmimu! Jangan jadi beking untuk menambah penghasilan secara haram. Jadilah tentara yang membela rakyat. Yang berbakti 100 persen kepada bangsa dan negara.

Bagaimana kalau gaji resmi tentara tidak cukup untuk hidup? Bolehkah merampas, memeras, jadi beking bisnis haram, melindungi kapal-kapal maling ikan? Di kitab suci tidak dibahas soal gaji yang tidak cukup. "Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!" Titik!

Maka, kalau ada tentara, polisi, atau aparat negara yang tidak bisa hidup dari gajinya ya tidak ada pilihan, selain cabut. Jadi pengusaha ikan atau rakyat biasa. Sebab, sejak awal jadi tentara ketentuan gajinya, tunjangannya, uang lauk pauk... sudah begitu. Tidak ada klausul boleh menjadi beking bisnis haram. Mungkin di era Nabi Yohanes dulu gaji tentara sudah cukup untuk hidup.

Revolusi mental yang digemborkan Presiden Jokowi itu sejatinya sama dengan seruan Yohanes Pemandi di kitab suci. Sasaran seruannya juga sama: aparat negara, petugas pajak, tentara! Pesannya pun sama: makanlah dari gajimu. Jangan makan uang haram!

Tapi bisakah aparat hanya mengandalkan gaji resminya? Mbulet maneh. Hil yang mustahil. Sulit dibayangkan orang yang setiap bulan dapat setoran Rp 20 juta, Rp 50 juta, atau Rp 100 juta sebulan bisa hidup dengan gaji resmi yang cuma Rp 5 juta. Buat anak, istri, dan sebagainya. 

Kecuali aparat-aparat itu mau hidup sederhana, bahkan sangat sederhana, seperti Yohanes Pemandi. Makanan secukupnya, minum madu hutan sekadarnya, tidak menikmati hiburan di kafe, makan enak di hotel, dan gaya hidup hedonistis lainnya. Mengikuti gaya hidup sederhana yang diajarkan kitab suci pancen ora gampang.

Semoga makin banyak kapal maling yang ditenggelamkan. Satu hari lima kapal aja sudah bagus. Merdeka!!! 

19 December 2014

Keroncong Larasati JTV yang Segar



Musik keroncong dan musik tradisional Indonesia tidak pernah masuk televisi swasta kita. Aneh, pengelola televisi-televisi kita lebih suka menayangkan gosip artis, siaran langsung pernikahan artis yang hedonistis, bahkan menyiarkan persalinan artis. Berjam-jam. Indonesia, khususnya TV-TV swasta, memang mendewa-dewakan artis dan... rating.

"Agamanya televisi kita ya rating," kata Mas Totok, pentolan orkes keroncong di Sidoarjo. Kalau agamanya uang dan rating, maka jangan harap ada siaran keroncong di televisi. Sebab, keroncong tidak menghasilkan rating dan uang.

Syukurlah, TVRI masih aktif menyiarkan Gebyar Keroncong. Itu pun pada jam-jam mati, ketika sebagian besar orang sudah tidur pulas, pada pukul 23.00 atau 00.00 WIB. Teman-teman kita di zona waktu tengah dan timur (Maluku, Papua) benar-benar sudah bermimpi pada jam itu. Masih lumayanlah, ketimbang tidak ada siaran keroncong sama sekali.

Karena sering berkumpul dengan para musisi senior orkes keroncong, saya lumayan menguasai lagu-lagu langgam/keroncong lama. Macam Irama Malam, Rindu Malam, Dewi Murni, Dinda Bestari. Tapi juga mendengar keluhan-keluhan mereka melihat keroncong makin tergusur di Indonesia. Di negara yang dulu menganggap keroncong sebagai musik khas Indonesia, hasil modifikasi dan akulturasi dengan musik Barat.

Syukurlah, belakangan ini saya ikut sumringah melihat program acara di JTV Surabaya: Larasati. Program musik keroncong yang dikemas dengan sangat bagus dari hotel bintang lima. Pemain-pemain musiknya pun muda-muda, sebagian mahasiswa, sebagian baru wisuda. Usia mereka di bawah 25 tahun. Luar biasa!

Saya semula terkejut karena Larasati ini disiarkan pada prime time. Wow, manajemen JTV tentu tahu bahwa acara keroncong yang dibawakan para mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu bakal dapat tempat di hati permirsa. Penyayi-penyanyinya pun cakep, manis, dan masih sangat muda. Belum ada personel orkes keroncong modern ini yang menikah.

"Kami ingin menggairahka kembali keroncong di Jawa Timur. Sayang kalau musik ini tenggelam," ujar Sigit Aji Syafi'i, pimpinan Orkes Keroncong (OK) Kurmunadi, kepada saya.

Nama orkesnya memang Kurmunadi, programnya di JTV bernama Larasati. Banyak permirsa dan warga Surabaya/Sidoarjo yang mengira orkes ini bernama OK Larasati. "Larasati itu nama program dari JTV," kata mahasiswa Unesa asal Trenggalek yang baru lulus itu.

Orkes keroncong ini awalnya dibentuk untuk iseng-seng belaka. Sigit dan kawan-kawan cuma main musik bersama, mencoba mengembangkan teori selama kuliah di jurusan seni musik, FBS Unesa, di Lidah Wetan, Surabaya. "Ketimbang ilmunya cuma untuk dapat nilai, kami bikinlah orkes keroncong," tutur Sigit yang selalu menyisipkan bahasa Jawa halus ini. Rupanya, sebagai orang kulonan, dia tidak enak kalau bicara ngoko atau bahasa Indonesia dengan orang yang baru dikenal seperti saya.

Akhirnya, OK Kurmunadi terbentuk dengan personel delapan orang. Semuanya mahasiswa dan alumni musik Unesa. Penyanyinya dua orang: Diana dan Icha. "Kalau Aulina, Keke, Riri, dan Rischa itu additional singer. Mereka sering diminta kalau ada event-event tertentu," ujar Mas Sigit yang kakeknya pemain keroncong di Trenggalek.

Agar orkes ini beda dengan orkes-orkes keroncong konvensional, Sigit dan teman-teman sepakat merombak aransemen standar. Keroncong yang selama ini didominasi rhythm dikurangi. Akor-akornya diperkaya. Aransemen musik pun selalu ditulis. Sigitlah yang mengaransemen lagu-lagu keroncong lama dan lagu-lagu pop baru yang dikeroncongkan oleh OK Kurmunadi.

"Lama-lama saya ndak kuat bikin aransemen 10 lagu untuk Larasati JTV. Makanya, saya bagi tugas kepada teman-teman untuk bikin aransemen. Kebetulan semua pemain kami bisa bikin aransemen dan menulis partitur," tutur Sigit.

Namanya juga mahasiswa jurusan musik, penampilan OK Kurmunadi di JTV pun terlihat akademis dan segar. Semua pemusik baca partitur kayak konser musik klasik, sementara penyanyi-penyanyinya segar, muda, modis, enak dipandang. Suasana kafe di halaman hotel bintang lima yang keren semakin mengangkat derajat musik keroncong.

Menurut Sigit, acara musik keroncong di JTV ini dikemas sedemikian rupa agar bisa merangkul anak-anak muda di bawah 20 tahun yang tidak pernah mendengar musik keroncong. Karena itu, setiap minggu mereka memainkan lagu-lagu yang tengah hits. Misalnya, Sandiwara Cinta, Selimut Tetangga, atau Sakitnya Tuh di Sini. Tapi tetap ada 1-3 lagu-lagu keroncong lama macam Bengawan Solo atau Bunga Anggrek agar tidak kehilangan roh keroncong asli.

"Kami hanya mengembangkan kekayaan musik yang sudah diolah para senior kita tempo doeloe dengan gaya baru. Tapi sentuhan keroncong harus tetap ada," kata Sigit.

Rupanya, kerja keras nan kreatif dari Sigit dan kawan-kawan mulai menunjukkan hasil. Program Larasati di JTV makin dapat tempat meskipun pada saat bersamaan televisi-televisi Jakarta menanyangkan artis-artis pop papan atas. Dan lihatlah di Youtube, rekaman acara Larasati JTV ternyata ditonton ribuan orang.

Selamat untuk Mas Sigit dan kawan-kawan! Paling tidak sudah bisa memperpanjang napas dan detak jantung musik keroncong di Indonesia.

17 December 2014

Gak, Ndak, Nggak, ENGGAK, Ora, Mboten

Bahasa menunjukkan bangsa. Kita bisa menebak jitu asal daerah seseorang di Jawa Timur dengan sangat mudah. Perhatikan kata negasi dalam ujarannya. Kata TIDAK hampir tidak pernah dipakai dalam obrolan orang Jawa sehari-hari meskipun dia sedang berbahasa Indonesia. Kata TIDAK hanya dipakai di buku-buku atau tulisan resmi.

Kata TIDAK dianggap terlalu formal. Kaku. Kurang cocok untuk obrolan ringan sehari-hari. Bahkan, guru-guru dan dosen pun jarang pakai TIDAK di kelas. Nah, bahasa Jawa punya beberapa versi untuk menggantikan TIDAK. Sangat khas untuk 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

1. GAK

Kalau Anda mendengar kata GAK, bisa dipastikan yang ngomong itu orang Surabaya, Sidoarjo, Gresik, atau Malang. Aku gak gelem! Aku tidak mau!  

2. NDAK

Sangat khas untuk warga Jawa Timur di kawasan barat alias kulonan. Orang-orang dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, dan sekitarnya selalu pakai NDAK. Biarpun sudah tinggal di Surabaya atau Sidoarjo 20 tahun, NDAK-nya ini ndak bisa hilang. Permisi, Bapak ada di rumah? "Ndak ada," kata pembantu asal Kediri.

3. NGGAK

Kata negasi ini sangat umum digunakan orang Jawa Timur, kecuali orang Surabaya/Sidoarjo/Gresik yang lebih suka GAK. Orang Surabaya lebih hemat huruf: NG-nya dihilangkan, cukup 3 huruf saja: GAK.

4. ENGGAK

Satu-satunya kata negasi bahasa Jawa yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tambahan huruf E ini sangat penting agar memenuhi kaidah bahasa Indonesia. NGGAK tidak berterima karena diawali tiga konsonan. 

Karena itu, media-media yang standar bahasa Indonesianya tinggi seperti majalah TEMPO atau KOMPAS selalu menggunakan kata ENGGAK untuk kutipan langsung seseorang. Sebaliknya, media-media lain cenderung menggunakan kata NGGAK (tanpa E di depan). Bahkan, wartawan-wartawan di Surabaya biasanya menulis petikan langsung narasumber sesuai dengan asal daerah si wartawan itu. 

Misalnya, wartawan X dari Kediri selalu menulis NDAK, padahal narasumber yang bicara itu orang Surabaya yang pakai GAK. Saya tentu lebih setuju ENGGAK karena sudah lama masuk kamus baku bahasa Indonesia. Kata NDAK, NGGAK, dan GAK itu di luar kamus.

5. ORA

Sangat jelas kata ini kulonan alias dari kawasan barat. Khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta. Orang-orang dengan kultur mataraman ini selalu pakai ORA dalam ujaran maupun tulisan. Mangan ORA mangan waton kumpul. Kata ORA ini dianggap standar Jawa sehingga tidak bisa ditukar menjadi "mangan nggak mangan waton kumpul".

Majalah berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat dan Joyo Boyo pun menggunakan kata ORA untuk negasi. Kita sulit menemukan kata GAK, NDAK, NGGAK, atau ENGGAK di majalah bahasa Jawa. Sebab, ORA ini yang diterima sebagai standar bahasa Jawa ngaka (baca: ngoko) yang dipakai dalam obrolan sehari-hari.

Kata negasi ORA pun dipakai dalam kitab suci (Alkitab) berbahasa Jawa. Saya kutip Ayub 15:1. Tentang nasihat Elifas kepada Ayub yang baru saja kehilangan segala yang dia miliki.

"Ayub, kandhamu kuwi ngawur, ORA ana gunane. ORA ana wong wicaksana sing wangsulane kaya mengkono. ORA bakal ngelone anake dhewe nganggo tembung sing ORA ana tegese."

Karena Surabaya tidak mengenal ORA, anak-anak sekolah di Surabaya (dan Sidoarjo) sangat kesulitan menyerap pelajaran bahasa Jawa di sekolah. Sebab, pelajaran bahasa Jawa di Jatim ternyata menggunakan standar Jawa Tengah atau Jatim bagian barat. Ini pula yang menyebabkan program bahasa Jawa setiap hari Jumat di Surabaya sejak dulu gagal total.

Anak-anak Surabaya tidak paham "Mangan ORA mangan waton kumpul". yang dipahami adalah "Mangan GAK mangan pokoke kumpul".

6. MBOTEN

Sama dengan ORA, tapi kelasnya lebih tinggi. Masuk kelas krama (baca: kromo). Lagi-lagi, anak Surabaya yang setiap hari bicara Suroboyoan merasa asing. "Iku bosone ketoprak," kata anak Surabaya. 

Kenangan Natal di Dusun Kecil

Revolusi internet, khususnya Youtube, mengubah banyak sekali kebiasaan kita. Termasuk kebiasaan orang-orang Kristen (lawas) memburu kaset-kaset dan CD lagu-lagu Natal setiap akhir November atau awal Desember. Lagu-lagunya sih dari dulu sama saja. Tapi aransemen, penyanyi, dan kemasannya beda.

Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir membeli kaset Natal. Mungkin kaset/CD Mariah Carey. Gaya menyanyi si Mariah ini unik sekali. Lagu-lagu Natal yang sederhana itu dibuat keriting dan rumit. Melodi asli atau istilah paduan suaranya cantus firmus (CF) sering tenggelam. Tapi asyik!

Setelah itu sebagian besar toko kaset/CD di Surabaya tutup. Termasuk Aquarius, toko kaset yang dulu paling terkenal, di dekat Gereja Katedral Surabaya itu. Hilangnya toko kaset/CD, kita punya mainan baru yang jauh lebih dahsyat: Youtube. Cukup mengetik Christmas atau Natal, kita langsung menemukan ribuan, bahkan jutaan lagu/musik Natal yang ciamik soro.

Kehadiran Youtube juga sekaligus menyadarkan kita, khususnya saya, betapa sedikitnya referensi kita tentang musik. Mulai jazz, pop, blues, rock, dan sebagainya. Dulu, sebelum ada Youtube, kita merasa tahu banyak lagu-lagu Natal dari masa ke masa. 

Eh, setelah ada Youtube, sadarlah saya bahwa referensi orang Indonesia itu sebetulnya masih jauh di bawah 1%. Terlalu banyak musik bagus dari Amerika, Eropa, dan ratusan negara lain yang tadinya kita tidak tahu akhirnya jadi tahu. Youtube juga menunjukkan kepada kita secara detail betapa banyaknya lagu-lagu Indonesia yang ternyata jiplakan dari Barat sana. Saya juga jadi sadar, berkat Youtube, bahwa orang Barat itu ternyata membuat album Natal versi apa pun dengan sangat serius. Tidak asal jadi.

Lantas, apa perlunya memburu CD/VCD Natal di Indonesia? Cukup nyalakan komputer, masuk ke Youtube, dan silakan dinikmati sampai puas. Batasannya cuma pulsa. Habis pulsa, isi lagi, dengar lagi. 

Pagi ini, saya coba-coba mengetes kehebatan Youtube. Saya ketik: Kenangan Natal di Dusun Kecil. Lagu Natal lama yang dibawakan Charles Hutagalung. Lagu berirama country ini begitu populer di kawasan Indonesia Timur sejak 1980-an sampai sekarang. Popularitasnya tidak kalah dengan Malam Kudus, Adeste Fideles, Jingle Bells, dan sejenisnya. Wow... Youtube ternyata punya koleksi ratusan video lagu pop Natal lawas ini. 

Saya pun menikmati suara mendiang Charles Hutagalung yang khas. Ada suara bocah Liza Tansil (kalau tidak salah), ada puisi sederhana. Dulu, ketika saya bocah di dusun kecil di pinggir pantai Laut Flores, NTT, para perantau sering memutar lagu ini keras-keras. Anak-anak kampung asyik menguping dan menghafal lagu ini. Liriknya sangat menyentuh orang-orang NTT yang sebagian besar merantau ke Malaysia atau Jawa.

Jauh di dusun yang kecil, di situ rumahku
Lama sudah kutinggalkan, aku rindu
Tahun tahun tlah berlalu, menambah rinduku
Nantikan kedatanganku dusunku

Kuingin mengulang lagi
Kenangan masa kecilku
Kenangan hari natal yang bahagia
Kunyalakan lilin lilin
Kunyalakan lenteraku
Kenangan natal di dusun yang kecil


Saya pun senyum sendiri membaca komentar di bawah video Charles Hutagalung itu. Kok seperti mewakili pendapat saya juga? Hehehe...

Yulia Agustine: "Dengar lagu ini.. selalu teringat saat Natal di kampungku,, 23 tahun tak pernah pulang Natal bersama keluarga... oh sangat rindu,,, suasana Natal di kampung....... hmmm kapan yaaa."

Novian Cliff: "Aku inget banget waktu kecil papaku suka setel lagu ini ketika natal telah akan datang... sungguh kenangan yang indah.. thanks papa walau kau telah tiada."


MANS LANGODAY: "TERINGAT AKAN NATAL DIMASA KECIL DI LEWOLEBA, BERSAMA KEDUA ORANGTUA,ADIK-ADIK DAN SAHABATKU."

Juita Tobi: "Hampir 10 tahun tak pernah merayakan Natal bersama orang Tua, rindu kampung halaman ku ..! Tuhan Lindungilah mereka semua kiranya kami akan berkumpul kembali untuk menyambut Hari Kelahiran-MU."

14 December 2014

Pura Dalem Segara Madura di Kompleks Kelenteng

Saat menyeruput kelapa muda di kaki Jembatan Suramadu, wilayah Bangkalan, Madura, tadi malam, saya teringat Kosala Mahinda. Beliau pemilik sekaligus pengurus Kelenteng Kwan Im Kiong di Pamekasan, Madura, yang terkenal itu. Melihat udeng dan kaos ala Bali, saya juga ingat pura.

Saya pun menelepon Pak Kosala. Bertanya tentang peresmian pura, tempat ibadah umat Hindu, di dalam kompleks kelenteng di pinggir pantai Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, itu. Saya sudah beberapa kali mampir ke kompleks kelenteng yang belakangan ditambah dengan pura itu. Namun, waktu itu belum ada upacara Ngentek Linggih, sehingga belum dianggap sah sebagai pura menurut ajaran agama Hindu.

Kapan upacara Ngenteg Linggih, Pak Kosala? "Wah, sudah lama, tanggal 14 Oktober 2013. Kayaknya Anda ketinggalan informasi nih. Soalnya, sudah lama nggak datang meliput kegiatan kelenteng kami. Hehehe...," ujar Pak Kosala dengan aksen khas Madura Tionghoa nan ramah.

Wow, saya memang ketinggalan informasi. Luput dari peristiwa penting ini. Padahal, dulu saya pernah bikin tulisan berseri di koran tentang keberadaan pura di kompleks Kelenteng Kwan Im Kiong alias Vihara Avalokitesvara, Pamekasan. Pak Kosala mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pendiri tempat ibadah untuk LIMA agama sekaligus di sebuah kompleks. Selain tiga rumpun agama Tionghoa alias Tridharma (Tao, Konghucu, Buddha) plus masjid dan pura. Sangat fenomenal memang!

Upacara Ngenteg Linggih itu diikuti sekitar 200 umat Hindu di seluruh Pulau Madura dan Bali. Dengan upacara itu, maka status pura di dalam kompleks kelenteng itu sama dengan pura-pura lain di tanah air. Nama resminya pun menjadi Pura Dalem Segara Madura.

"Saya cuma menyediakan tempat untuk saudara-saudari kita yang beragama Hindu di Madura. Sebab, di Pulau Madura cuma ada satu pura ini," kata Kosala, insinyur lulusan Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Cikal bakal pura sebetulnya sudah dimulai sejak 1985. Waktu itu I Made Sastra, Kapolwil Madura, ingin ada satu tempat ibadah umat Hindu di Pulau Madura. Tapi, tahu sendirilah, bikin tempat ibadah nonmuslim, apalagi pura, di pulau santri macam Madura itu, meminjam istilah Asmuni, ibarat hil yang mustahal. Prosesnya panjang, ribet, harus memenuhi 50 butir persyaratan, yang (hampir) mustahal dipenuhi umat Hindu yang cuma segelintir.

Maka, Pak Kapolwil meminta bantuan Pak Mahinda, orang tuanya Pak Kosala. Langsung setuju! Tanpa syarat macam-macam. Lalu, disediakan lahan di dalam kompleks kelenteng. Hanya saja, belum ada upacara resmi yang disebut Ngenteg Linggih itu. "Urusan ritual dan sebagainya, saya serahkan sepenuhnya kepada umat Hindu. Belum lama ini ada perayaan hari jadi pertama Pura Dalem Segara Madura," kata Pak Kosala.

Di ujung pembicaraan, karena pulsa makin tipis, saya ajukan pertanyaan berbau guyonan, tapi rada serius. "Tempat ibadah Hindu sudah, Buddha, Islam, Konghucu, Tao sudah. Lalu, kapan dibangun tempat ibadah Nasrani, gereja kecil alias kapel? Bukankah Pak Kosala alumni Petra? Istrinya Pak Kosala bahkan beragama Katolik? Sebagian besar teman-teman Kosala juga Nasrani? Sebagian pengunjung kelenteng pun warga Tionghoa yang kristiani?" tanya saya.

"Hahaha... Ide bagus itu! Kita lihat sajalah perkembangannya. Kalau nanti dibangun gereja kecil, saya harus dapat Muri lagi! Hahaha...," jawab Pak Kosala sembari tertawa lepas.

Menurut Pak Kosala, di Madura, khususnya Pamekasan dan Sumenep, orang nasraninya cukup banyak. Gereja Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik... mudah ditemui. Sekolah-sekolah Katolik pun ada sejak zaman dulu. Jadi, umat kristiani tidak kesulitan beribadah. Gereja Katolik Pamekasan bahkan menempati lahan yang cukup luas, megah, di kawasan alun-alun.

"Lha, kalau umat Hindu ini benar-benar tidak punya pura di seluruh Pulau Madura. Jadi, umat Hindu yang perlu difasilitasi," kata pria yang juga pengusaha terkenal di Pamekasan itu.

Nah, bukankah masjid dan musala jauh lebih banyak lagi di Madura? Bahkan di tiap RT/RW ada musala atau masjid? Mengapa dibangun juga di kompleks kelenteng?

Jawabannya begini. Kata Pak Kosala, umat Islam itu harus salat lima waktu secara on time. Banyak sekali pengantar rombongan alias sopir, pekerja, atau pengunjung tempat wisata ini (Kelenteng Kwan Im Kiong memang tempat wisata terkenal) yang butuh istirahat. Bahkan, bermalam beberapa hari. Mereka perlu dibuatkan masjid kecil agar bisa beribadah dengan tenang.

"Kalau istri saya atau anak saya mau misa, ya, cukup ke gereja di Pamekasan. Nggak perlu bikin gereja di sinilah," katanya bercanda.

Bethul, bethul, bethul!!! Kamsia Pak Kosala!

Wakil Rakyat Malah Khianati Rakyat

Omongan Benny Kabur Harman, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, pagi ini dibahas di Jawa Pos. Benny mengatakan foto Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla cukup dipasang di pohon saja. Tidak perlu dipasang di gedung parlemen di Senayan. Omongan ngawur ala wong embongan ini kemudian dibahas secara renyah oleh AS Laksana, kolumnis terkenal itu.

Mas Laksana menulis: "Benny Kabur bisa mengusulkan dibentuknya undang-undang untuk memajang foto presiden dan wakil presiden di tiap batang pohon di tepi jalan-jalan raya di seluruh Indonesia."

Guyon maton ala orang Jawa ini kedengarannya lucu, menggelitik, tapi nyelekit. Tapi, bagi anggota dewan yang rai gedhek, biasanya dianggap sepi. Kabur begitu saja bagaikan angin lalu. Hanya orang bijak yang paham sentilan halus ala pujangga Jawa ini. Benny Kabur yang asli Manggarai, Flores Barat, NTT, kayaknya nggak akan mempan membaca sentilan di Jawa Pos itu. Apalagi kelihatannya dia memilih jadi martir pembela Koalisi Merah Putih (KMP) yang waton suloyo itu. 

Sebagai rakyat biasa, yang kebetulan berasal dari NTT, sakit rasanya membaca dan mendengar wakil rakyat macam Benny Kabur Harman ini. Mengapa? Dr Benny Kabur itu anggota DPR RI yang mewakili daerah pemilihan NTT bagian utara alias Pulau Flores dan Lembata. Omongan Benny jelas tidak mewakili suara rakyat di dapil NTT utara yang dia wakili. Suara Benny bisa dianggap suara KMP atau mewakili dirinya sendiri.

Benny Kabur yang notabene doktor hukum tata negara rupanya lupa bahwa mayoritas rakyat NTT, termasuk di dapil utara, memilih Jokowi-JK pada pilpres 9 Juli 2014. Dus, meskipun dia Demokrat, ikut KMP, mestinya bisa membaca suara rakyat di daerah pemilihannya. Katanya anggota DPR itu wakil rakyat. 

Kok suaranya bertentangan dengan rakyat (mayoritas) di dapilnya? Kok mati-mati melontarkan statement yang nadanya sangat membenci presiden dan wapres? Bagaimana bisa sistem politik Indonesia bisa berjalan seperti ini? Rakyat memilih Jokowi, sementara wakil rakyatnya tak bosan-bosannya menyerang Jokowi? Syukur-syukur, gagal, capek, dan cepat jatuh. Agar presidennya KMP, Prabowo, naik. Dus, peluang Benny Kabur jadi menteri sangat terbuka.

Selain Benny Kabur, anggota DPR RI dari dapil NTT yang perlu disorot adalah Setya Novanto. Setya bahkan dipercaya KMP menjadi ketua DPR RI. Orang nomor satu di parlemen. Masalahnya sama saja: rakyat NTT di dapil selatan, dapilnya Setya Novanto, juga mayoritas memilihi Jokowi-JK saat pilpres lalu. Tapi sepak terjang Setya bertentangan dengan suara mayoritas rakyat NTT. 

Setya Novanto berperan sebagai salah satu agen politik KMP, yang tak bosan-bosannya menggoyang Jokowi-JK. Lantas, substansi wakil rakyat itu dikemanakan? Apakah anggota parlemen hanya sekadar petugas partai? Petugas KMP? Petugas untuk mengegolkan kepentingan politik sesaat?

Rasanya sistem politik di Indonesia yang berlaku saat ini makin mengerikan. Makin jauh dari semangat demokrasi. Slogan "suara rakyat suara Golkar", partainya Setya Novanto, makin jauh panggang dari api. Rakyat NTT (mayoritas) menginginkan kepemimpinan Jokowi-JK yang menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia, khususnya membangun infrastruktur dasar di NTT, sementara Setya Novanto dan Benny Kabur setiap hari cuma main politicking. Tak pernah bicara tentang kepentingan rakyat NTT.

Saat ini isu penjualan manusia, skandal pengerahan TKI di NTT, yang diduga melibatkan oknum aparat, sedang ramai di media massa. Fokus perhatian media massa ke NTT, provinsi paling miskin alias Nusa Tetap Tertinggal. Eh, wakil rakyatnya malah sibuk meminta agar foto presiden dan wakil presiden cukup dipasang di pohon di halaman gedung parlemen. Kalau wakil rakyatnya begini terus, ya, NTT akan tetap jadi NTT: Nasib Tidak Tentu!

13 December 2014

Kangen Catatan Dahlan Iskan

Setelah lengser dari kursi menteri BUMN, Dahlan Iskan jarang menulis. Catatan-catatannya yang enak, gurih, dan inspiratif sudah lama vakum di Jawa Pos dan berbagai media online, yang juga mengutip Jawa Pos. Tulisan terakhir Pak Bos, sapaan akrab Dahlan Iskan di lingkungan Jawa Pos Group, tentang drama menjelang penentuan nama-nama menteri kabinet kerja pada 27 Oktober 2014 lalu.

Setelah itu, jutaan penggemar tulisan Dahlan Iskan terus menunggu dengan sabar. Kapankah catatan ringan ala sang dewa feature itu muncul lagi di surat kabar? Sejumlah blog klipingan tulisan Dahlan Iskan, yang dibuat penggemar Pak Bos, pun lengang. Ibarat rumah yang ditinggal penghuni. Entah kapan sang penghuni itu pulang.

Ada memang catatan-catatan yang dibuat "murid Dahlan Iskan" di internet. Gaya, pilihan kata, model kalimat pendek, bumbu guyon... sengaja dibuat sama. Tapi tetap saja kualitasnya KW2. Catatan Dahlan Iskan yang orisinal tak tergantikan.

"Saya kangen lho sama tulisan Pak Dahlan Iskan. Kayaknya sudah lama banget beliau gak nulis di Jawa Pos. Mestinya kan beliau punya waktu lebih banyak untuk menulis setelah tidak jadi menteri," ujar beberapa seniman yang rajin membaca catatan Dahlan Iskan, jauh sebelum putra Magetan ini jadi direktur PLN, kemudian menteri BUMN.

"Sabar saja. Pak Dahlan itu jurnalis sejati, penulis kawakan. Beliau selalu bisa menulis bagus kapan saja, di mana saja," saya menjawab. Bahkan, baru sehabis menjalani operasi transplantasi liver di Tianjin, Tiongkok, pun Pak Dahlan menulis catatan tentang ganti hati yang fenomenal itu.

Dus, sulit dibayangkan kalau Pak Dahlan Iskan tidak lagi menulis feature-feature inspiratif untuk pembaca Jawa Pos di tanah air. Mungkin saja timing-nya belum memungkinkan untuk beliau menulis kolom rutin Manufacturing Hope yang terbit setiap Senin pagi di Jawa Pos.

Ternyata bukan hanya penggemar dari Jawa Timur yang kangen catatan Dahlan Iskan. Ali Kusno dari Kalimantan bahkan secara terbuka menulis artikel di Jawa Pos, 12 Desember 2014, yang nadanya sama. Meminta Pak Dahlan segera menulis catatan-catatan lagi. 

"Penulis dan masyarakat akan selalu merindu Dahlan Iskan, hadir dalam untaian tulisan. Merindu feature Dahlan Iskan yang free dari menteri. Semoga Dahlan Iskan terus melahirkan feature-feature baru, seperti moto lamanya: Kerja, Kerja, Kerja," tulis Ali Kusno, yang juga seorang penulis dan penggemar bahasa.

Ali Kusno bahkan menguraikan 9 ciri khas tulisan Dahlan Iskan yang membuatnya sebagai penulis feature terbaik di Indonesia. Sembilan poin ini perlu diperhatikan penulis, khususnya wartawan, agar feature-nya selalu dirundukan ala catatan Dahlan Iskan.

1. Judul yang menarik. 

2. Optimalisasi teras (lead) yang sempurna. Lead yang menarik menjadi daya pikat awal seseorang membaca tulisan. Berhenti membaca atau meneruskan. Dahlan mampu memikat pembaca dengan teras yang sempurna.

3. Humor. Feature Dahlan segar dengan selingan humor. Contoh: "Angin bertiup sejuk. Bulan yang mendekati purnama tampak menor di langit bersih. Seperti baru keluar dari salon."

4. Penggunaan kalimat pendek. Dahlan menghindari kalimat panjang melelahkan. "Garbarata? Yes! Inilah untuk kali pertama penumpang kapal dilewatkan garbarata. Seperti naik pesawat saja. Tidak lagi lewat tangga di dinding kapal yang bergoyang-goyang itu. Yes! Pelindo III memulainya! Sejarah!"

5. Deskripsi yang gamblang. Pembaca ikut merasakan petualangan Dahlan dalam feature-nya. "Seusai rapat, senja sudah lewat. Saya langsung menuju pantai terindah di kawasan Mandalika, di belakang Novotel: Pantai Kuta. Saya duduk di atas pasir putih menghadap laut selatan."

6. Gaya narasi seperti orang berkisah. Bertutur secara naratif dapat diibaratkan seperti orang berkisah. "Setelah meninjau Bandara Baru Sepinggan, Balikpapan, saya berkesimpulan: sudah siap diresmikan kapan saja Presiden SBY menghendaki. Terminal bandara itu sangat membanggakan. Besarnya dua kali lipat dari bandara baru Surabaya."

7. Feature-feature Dahlan kaya akan sentuhan gaya bahasa. Gaya bahasa bagi Dahlan ibarat dandanan bagi tulisan. Tulisan menjadi cantik nan menarik. "Anggaran untuk pesantren, PAUD, dan sekolah swasta. APBN bidang pendidikan itu besarnya seperti gajah bengkak."

8. Tidak terikat kaidah kebahasaan. Dahlan tidak ingin dibatasi aturan-aturan dalam menuangkan gagasan. Dahlan memiliki karakter feature yang mendobrak aturan kebahasaan. 

9. Menutup dengan klimaks atau antiklimaks. Penutup feature yang bagus mampu memberikan kesan yang mendalam. 

"Ricky terdiam sejenak. Kepalanya menunduk. Wajahnya menatap ke bumi. Sesaat kemudian baru dia berucap. 'Saya akan tetap di Indonesia. Seadanya,' jawab Ricky. 'Saya akan meneruskan semua ini semampu saya.'" 

10 December 2014

Jokowi, Namo Buddhaya, dan Om Swastiastu

Saat kampanya pemilihan presiden lalu, Juni 2014, capres Prabowo Subianto tak hanya mengucapkan assalamualaikum... dan salam sejahtera. Prabowo sengaja merangkul semua golongan dengan menambahkan beberapa salam khas agama minoritas: Syalom (populer di lingkungan nasrani, khususnya aliran Karismatik dan Pentakosta), Om Swastiastu (Hindu, khususnya di Bali), dan Namo Buddhaya (Buddha).

Capres Joko Widodo saat kampanye hanya menyampaikan salam yang standar saja: Assalamualaikum..., salam sejahtera, dan selamat malam. Namun, ketika menyampaikan pidato pertama di sidang MPR, dalam kapasitas sebagai presiden Republik Indonesia yang baru dilantik, Presiden Jokowi mengucapkan beberapa jenis salam sekaligus. Hanya salam khasnya umat Khonghucu yang tidak diucapkan. Mungkin belum tahu.

Kelihatannya sepele urusan salam ini. Namun, setelah saya blusukan ke beberapa umat dan tokoh Buddha di Sidoarjo dan Surabaya, sambutannya luar biasa menggembirakan. Inilah pertama kali seorang presiden Indonesia menyampaikan Namo Buddhaya dalam pidato resminya.

"Syukurlah, akhirnya salamnya umat Buddha, Namo Buddhaya, disampaikan oleh seorang presiden Indonesia yang beragama Islam. Bangga luar biasa," kata Tante Tok, warga Tionghoa Sidoarjo, yang juga aktivis umat Buddha di kota petis itu.

Pak Nugroho, pimpinan umat Buddha di Kabupaten Sidoarjo, juga sangat mengapresasi salam tulus yang disampaikan Presiden Jokowi. Betapa bangganya umat Buddha, kaum minoritas, disapa dengan Namo Buddhaya. Meskipun hanya salam, basa-basi atau sopan santun pergaulan, bagi teman-teman buddhis, kepala negara secara terbuka merangkul dan menyapa mereka sebagai bagian dari republik ini.

"Orang yang tadinya belum tahu Namo Buddhaya akhirnya cari tahu salamnya agama sih? Dari situ eksistensi umat Buddha semakin diakui oleh negara," kata teman saya yang beragama Buddha. Presiden Jokowi dinilai seorang pluralis, menjunjung semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Berbeda dengan Islam yang mayoritas dan Kristen/Katolik yang tak bisa lepas dari kedatangan bangsa Eropa ke nusantara, perjuangan para pemimpin Buddha untuk diterima sebagai agama resmi di Indonesia tidak mudah. Aneh juga karena Buddha pernah jadi agama resmi Kerajaan Sriwijaya. Zaman Kerajaan Majapahit pun Buddha tumbuh subur meskipun kerajaannya Hindu.

"Tahun 1960-an almarhum Bhikkhu Ashin Jinarakkhita bersama sejumlah pemimpin Buddha di Indonesia berjuang keras agar agama Buddha diakui sebagai agama resmi. Bhikkhu Ashin menjelaskan dengan gamblang konsep ketuhanan, teologi, doktrin, kitab suci, dan sebagainya," kata Romo Suyono, rohaniwan Buddha di Surabaya yang juga murid almarhum Bhikkhu Ashin. 

Pemerintah akhirnya menerima Buddha sebagai salah satu dari  6 agama resmi di Indonesia pada 1960-an. Sejak itulah Bhikkhu Ashin mempopulerkan salam Namo Buddhaya di lingkungan umat Buddha di Indonesia. Hanya saja, karena umat Buddha itu minoritas, sebagian besar orang Indonesia tidak pernah mendengar salam itu. Apalagi, di lingkungan Buddha sendiri pun terdapat banyak aliran. Dan tidak semuanya pakai salam Namo Buddhaya.

Kalau Om Swastiastu saya kira sudah sangat populer. Berbeda dengan umat Buddha yang diaspora, umat Hindu di Indonesia punya satu pulau yang sangat terkenal: Bali. Bahkan, kata orang, Bali justru lebih populer di luar negeri daripada Indonesia. "Bali itu apa dekat Indonesia?" begitu guyonan yang sering kita dengar.

Orang Bali juga tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dan, di situlah salam khas Om Swastiastu bergema di mana-mana. Tapi di lingkungan sendiri saja. Hanya pejabat-pejabat di Bali yang mengucapkan salam ini. 

Baru tahun ini, saat kampanye, capres Prabowo selalu mengucapkan Om Swastiastu tanpa Namo Buddhaya. (Belakangan dalam kampanye terakhir ditambah Namo Buddhaya). Presiden Jokowi saat pidato pertamanya mengucapkan salam Om Swastiastu ini dengan lantang. 

Sekitar 1,5 bulan kemudian, saya baru tahu bahwa salam Om Swastiastu yang disampaikan Presiden Jokowi di sidang MPR itu mendapat apresiasi yang luas dari umat Hindu, khususnya di Bali. Ada iklan setengah halaman di majalah TEMPO edisi 7 Desember 2014 dari Gusti Wedakarna, anggota DPD dari Provinsi Bali, yang juga tokoh masyarakat pulau dewata.

Berikut kutipan pernyataan Gusti Wedakarna di iklan tersebut: 

"Atas nama umat Siwa Buddha (Hindu) Indonesia, saya ucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi karena sudah mengucapkan salam Om Swastiastu di pelantikan presiden lalu. Dan banyak kutipan beliau yang diambil dari bahasa Sansekerta Hindu seperti Jalesveva Jaya Mahe, Cakrawarti Samudra, Trisakti.... Itu semua menunjukkan beliau pro terhadap minoritas di Indonesia." 

09 December 2014

Mengapa Napi China Cenderung Masuk Kristen?

Akhir pekan lalu, saya diajak mengikuti kebaktian Natal bersama (sebetulnya sih persiapan menyambut Natal) di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Medaeng, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Salah satu rutan alias penjara terbesar di Indonesia Timur yang menampung para tahanan yang menunggu proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya. Setelah divonis, biasanya para warga binaan ini (sebutan resmi tahanan atau narapidana) dipindahkan ke Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo.

Seperti biasa, suasana sangat meriah. Gereja Efesus di dalam kompleks rutan itu tak mampu lagi menampung warga binaan yang nasrani (Katolik, Protestan, Pentakosta, Baptis, dll) sehingga dibuatlah tenda di lapangan. Pertambahan jemaat kristiani ini justru sangat menyedihkan. Ini menunjukkan makin banyak orang Kristen yang terjerat berbagai kasus kejahatan. Lebih prihatin lagi banyak di antara mereka terlibat kasus narkoba. Bahkan, bandar-bandar narkoba kelas kakap itu banyak yang kristiani. 

Kali ini, yang menarik perhatian saya adalah Zheng Qiuyun alias Lisa asal Tiongkok. Gadis ini juga terjerat narkoba jenis sabu-sabu. Dia mendapat kiriman paket dari orang tak dikenal. Saat menerima kiriman sabu itu, dia dicokok. Lisa ini sering diberitakan karena ulahnya di kepolisian dan kejaksaan. Sebab, dia merasa tidak pernah terlibat narkoba.

"Saya datang ke Surabaya untuk bisnis LED," kata nona asal Provinsi Fujian ini.

Nah, saat Natalan di Rutan Medaeng ini Lisa tampak sumringah. Rupanya dia sudah bisa mengontrol emosi dan siap membuktikan di PN Surabaya bahwa dirinya tidak bersalah. "Lisa ini anak Tuhan yang penuh sukacita. Kasih Tuhan begitu besar untuk dia," kata Tante Lanny, pendamping rohani dari Pelita Kasih, sekaligus penerjemah bahasa Mandarin selama Lisa menghadapi proses hukum di Surabaya.

"Oh, Lisa beragama Kristen?" tanya saya basa-basi dan pura-pura. 

Ya, jelas saja, kalau bukan Kristen tentu tidak ikut ramai-ramai natalan bersama warga binaan lain yang memang semuanya nasrani.

"Lisa ini Kristennya sudah dari Tiongkok sana," kata Tante Lanny. 

"Tapi, setelah di sini (dalam penjara), saya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Saya makin sering berdoa, baca Alkitab, ikut kebaktian, dan sebagainya. Banyak kegiatan rohani di Medaeng sini," Lisa menambahkan dengan bahasa Cungkuo yang diterjemahkan tante sahabat warga binaan itu.

Lisa alias Zheng Qiuyun, 37 tahun, ini termasuk pengecualian. Dia sudah Kristen sejak dari kampung halamannya di Fuzhou sana. Selama ini tahanan asal Tiongkok, hampir semuanya penyelundup narkoba, tidak punya agama. Sebagai negara komunis, masyarakat Tiongkok memang tidak diwajibkan beragama. Karena itu, persentase orang yang tak beragama (tak sama dengan ateis!) jauh lebih banyak ketimbang yang beragama.

Ajaibnya, semua tahanan asal Tiongkok yang pernah saya temui di Rutan Medaeng ini semuanya beragama Kristen. Yang beragama Buddha atau Khonghucu, agama yang lebih dekat dengan sosiokultural Tionghoa, malah tidak ada. Apalagi yang beragama Islam. Kok bisa begitu? 

"Itulah kuasa Tuhan. Roh Kudus selalu bekerja dalam penjara," kata Tante Lanny dengan retorika evangelis kawakan.

"Hehehe.... Kata-katanya Tante Lanny persis kayak pendeta senior," ujar saya menggoda.

"Oh, saya bukan pendeta. Tapi Tuhan bisa pakai siapa saja untuk memenangkan jiwa-jiwa. Puji Tuhan," kata tante yang sering jadi tempat curhat narapidana kelas kakap yang nasrani itu.

Bagi orang beriman, apalagi evangelis macam Tante Lanny, pilihan agama napi-napi Tiongkok ini karena kuasa Tuhan, roh kudus bekerja, atau dijamah sentuhan kasih Yesus. Tapi bisa juga karena alasan yang sangat pragmatis. Di penjara-penjara di Jawa Timur banyak sekali yayasan, ministry, atau gereja-gereja yang rutin mengunjungi warga binaan. Selalu ada orang yang fasih Mandarin macam Tante Lanny ini.

Maka, rombongan dari gereja-gereja atau yayasan bisa dengan mudah berkomunikasi dengan tahanan asal Cungkuo. Tak hanya komunikasi, hubungan dengan para tahanan ini biasanya menjadi sangat akrab layaknya keluarga sendiri. Beberapa waktu lalu ada tahanan asal Tiongkok, wanita, yang melahirkan di Rutan Medaeng. Bayinya pun dititipkan kepada Tante Lanny untuk diurus.

Kasih Tuhan pun tersalur melalui orang-orang seperti Tante Lanny yang jumlahnya cukup banyak. Mereka kemudian mengikuti kegiatan warga binaan kristiani di gereja dan sebagainya. Lalu, biasanya dibawakan Alkitab berbahasa Mandarin untuk dipelajari. Plus makanan dan jajanan yang banyak.

"Warga binaan yang nasrani ini memang paling diperhatikan sesama nasrani dari luar. Beda dengan warga binaan yang bukan nasrani," ujar Ahmad, warga binaan yang bukan nasrani.

Apakah setelah lepas dari penjara, para eks napi Tiongkok ini masih tetap Kristen? 

"Wah, kalau itu sih urusan yang bersangkutan. Tugas kita hanya mendampingi selama di dalam (rutan). Kalau sudah di luar ya urusan sendiri-sendiri," kata Lanny seraya tersenyum. "Mau jadi komunis lagi di negaranya ya silakan," tambahnya.

Orang Tionghoa, khususnya asal Tiongkok, Taiwan, atau Hongkong, memang punya keluwesan yang luar biasa dalam soal agama. Berdasar pengalaman, napi-napi yang masuk Kristen di dalam penjara ini setelah jadi orang bebas pindah agama lagi. Mengikuti agama sang pacar. "Saya sekarang Islam, ikut agamanya Mr Chen. Dulu saya ikut Kristen, sekarang nggak perlu lagi," kata Nona Yeyen yang pernah dipelihara seorang pengusaha lokal.

Namanya juga wanita peliharaan, asmaranya tidak bisa bertahan lama. Lalu si nona Shanghai itu digandeng lagi bos lain yang beragama Katolik. "Kamu sekarang ikut Katolik?" tanya saya.

"Ya, saya ikut agama pacar saya yang baru," katanya enteng.

Begitulah. Di Indonesia, nona manis ini baru mengenal dan menganut agama dari sebelumnya tidak punya agama. Bukan satu agama, tapi beberapa agama sesuai kepentingan bisnis, ekonomi, dan asmara. Setelah tak lagi punya kepentingan, agama-agama itu pun lenyap. 

Petugas administrasi kependudukan akan kesulitan menulis agamanya di KTP karena agamanya bisa berubah-ubah setiap saat. Hari ini Kristen, enam bulan lagi bisa beragama X, kemudian ganti Y, kemudian Z, dan seterusnya. Sementara orang Indonesia asli cenderung menganggap bahwa agama itu warisan dari orang tua yang dipeluk dan diyakini seumur hidup. 

"Si Yeyen itu wanita nakal. Sekarang sudah nggak punya agama," kata mantan 'suami' yang pernah mengislamkan si nona Cungkuo. "Biar saja dia masuk neraka!"

Syukurlah, sampeyan akhirnya taubat dan sadar! Hehehe....