30 August 2014

Penetrasi PKB di Kantong Katolik NTT

Atribut kampanye caleg PKB di pelosok Flores, NTT.
Sejak pemilihan umum (pemilu) 1955 sudah banyak berdiri partai Islam. Gesekan antara islamis dan nasionalis ini begitu hebatnya sehingga Presiden Soekarno membubarkan konstituante pada 5 Juli 1959. Perdebatan soal dasar negara sangat tajam saat itu. Ibarat air dan minyak, kubu islamis dan nasionalis sulit menyatu.

Selama 32 tahun Orde Baru kita kenal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai Islam. Visi misi, jargon kampanye, pernyataan-pernyataan politiknya pun sangat eksklusif. Karena itu, di NTT, khususnya Pulau Flores, yang mayoritas Katolik, PPP sangat ditakuti.

"Kalau PPP menang, Indonesia akan jadi negara Islam. Semua laki-laki akan disunat," begitu kata jurkam Golkar. Anak-anak SD dan SMP di NTT paling takut kalau diancam akan disunat burungnya! Mereka akan lari terbirit-birit meski cuma digertak main-main saja.

Maka, satu-satunya cara agar PPP tidak menang, Indonesia tetap Pancasila, Golkar harus menang. Maka, selama Orde Baru pemilu di kampung saya selalu dimenangkan Golkar 100%. Satu kecamatan yang punya 15 desa juga Golkar menang 100%. PDI tidak laku. PPP begitu ditakuti gara-gara retorika islamisnya yang sangat kuat waktu itu.

"Kalau PPP menang, semua pastor asing akan dipulangkan. Gereja-gereja dipersulit," begitu omongan jurkam di kampung saya. Warga percaya karena statement si jurkam didukung beberapa bukti dan indikasi.
Setelah Orde Baru runtuh 21 Mei 1998, muncullah 48 partai peserta pemilu. Partai Islamnya juga banyak. Retorika lawas ala Masyumi atau PPP Orba pun masih terdengar. Namun ada dua partai Islam yang tampil dengan wajah lain sama sekali: PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PAN (Partai Amanat Nasional).

Semua orang tahu PKB dan PAN itu partai berbasis Islam karena terkait erat dengan NU dan Muhammadiyah. Tapi orang-orang di kampung saya asyik-asyik aja dengan dua partai ini. Tidak ada kekhawatiran bahwa kalau PKB atau PAN menang, Indonesia jadi negara Islam, Pancasila dihapus, gereja-gereja dipersulit, semua laki-laki disunat, dan sejenisnya.

PKB yang paling fenomenal karena berhasil menembus desa-desa terpencil di NTT. Ujung tombaknya ya orang-orang kampung sendiri yang mayoritas beragama Katolik. Aktivis PKB yang beragama Islam malah sangat sedikit. Ketika saya mudik ke pelosok Lembata, NTT, sebelum kampanye pemilu legislatif, poster-poster caleg PKB justru paling banyak daripada Golkar dan PDI Perjuangan.

Di pintu-pintu rumah orang desa di pinggir pantau Laut Flores itu ditempel poster caleg-caleg PKB. Termasuk Anton Doni, mantan ketua PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), yang sangat terkenal di NTT. Banyak orang desa di NTT yang tidak tahu bahwa PKB itu sebenarnya partai Islam. Tapi mereka sangat tahu bahwa PKB itu punya kaitan erat dengan Gus Dur (almarhum), mantan presiden RI dan tokoh besar NU dan bangsa Indonesia.

Melihat kiprah PKB di Indonesia timur, khususnya NTT, saya tidak terkejut melihat perolehan suara partai pimpinan Cak Imin ini dalam pemilu 9 April 2014. Kalau tren ini bisa dipertahankan, PKB terus akan bertumbuh menjadi partai besar di negeri ini.

Sayangnya, di tubuh PKB di Indonesia barat, khususnya Jawa, masih banyak politisi dan jurkam yang masih menggunakan retorika islamis lawas ala Masyumi atau PPP di masa Orde Baru. Contohnya Rhoma Irama. Jurkam nasional PKB ini sering mengeluarkan statement yang kontra produktif dengan citra dan ideologi pluralisme ala PKB di NTT yang sangat pancasilais dan inklusif. Omongan Rhoma Irama lebih mirip politikus Masyumi pada era 1950an. Bang Haji ini rupanya tidak sadar bahwa motor penggerak PKB di Indonesia timur justru orang-orang nonmuslim.

Uang seribu triliun dan redenominasi



Setengah jam lalu saya baca Jawa Pos. Di halaman satu ada berita berjudul JOKOWI BUTUH SERIBU TRILIUN RUPIAH PER TAHUN. Uang sebanyak itu untuk mewujudkan janji-janji alias kecap kampanyenya beberapa waktu lalu.

Sambil nggowes di pagi buta, saya bayangkan angka seribu triliun. Berapa nol? Kalau juta 6 nol, miliar 9 nol, triliun 12 nol, maka seribu triliun mestinya 15 nol. Yakni 12 + 3 nol (seribu). Kalau ditulis angka jadinya Rp 1000.000.000.000.000.

Sejak dulu saya memang heran dengan sebutan Rp 1000 triliun ini. Namanya apa? Kalau seribu juta disebut miliar, seribu miliar disebut triliun... seribu triliun namanya apa? Saya tanya beberapa mantan redaktur senior tapi tak berjawab.

"Angkanya terlalu banyak. Tempo dulu kami tidak punya bayangan bahwa suatu ketika uang Indonesia jadi beranak pinak nolnya seperti ini. Dulu, sebelum tahun 1980, uang satu juta rupiah itu buanyaaak banget," kata Pak Huang. Dulu, mantan redaktur koran Tionghoa ini biasa bergelut dengan berita-berita investasi dengan duit segede gajah bengkak.

"Kalau angka di atasnya triliun namanya apa?" kejar saya. "Nggak tahulah. Anda bisa cari di kamus, barangkali ada," katanya.

Di kamus bahasa Indonesia belum ada? "Yah, tugasnya redaktur bahasa untuk menciptakan istilah baru yang masuk akal dan bisa diterima semua orang," katanya bijak.

Banyaknya nol dalam rupiah kita ini, menurut Huang, merupakan cermin dari inflasi yang tinggi. Nilai rupiah jadi begitu rendahnya dibandingkan tahun 70an. Uang seribu pada 1970an nilainya mungkin sudah mendekati satu juta sekarang.

"Makanya, dulu ada istilah jutawan untuk menyebut orang kaya. Sekarang semua orang Indonesia adalah jutawan. Upah minimum buruh pabrik saja rata-rata di atas Rp 2 juta," katanya. Horeee! Semua orang Indonesia ternyata jutawan. Wartawan lawas yang juga akupunkturis itu ketawa ngakak.

Daripada kita pusing mencari istilah untuk seribu triliun (15 nol), belum lagi sejuta triliun (18 nol), kata Huang Laoshi, lebih baik pemerintah segera mencoret 3 nol di mata uang rupiah. Redenominasi! Dengan begitu, uang satu juta jadi seribu, satu miliar jadi satu juta. Seribu jadi satu rupiah.

Sayang, momentum hari kemerdekaan 17 Agustus 2014 lalu tidak dimanfaatkan oleh pemerintah. Bukannya menerbitkan rupiah redenominasi, potong 3 nol, yang muncul adalah uang NKRI.

Jangan-jangan suatu ketika semua rakyat Indonesia jadi miliarder. Bukan karena kaya raya, tapi karena nilai uang sejuta melorot jadi satu miliar.

26 August 2014

Incheon Choir Perfek Nyanyikan Siksik Sibatumanikam



Tidak lama lagi akan ada pesta Asian Games di Incheon, Korea Selatan. Kota yang tidak begitu terkenal buat sebagian besar orang Indonesia. Tapi, bagi aktivis paduan suara, nama Incheon ini sangat harum karena kota ini punya kor atau paduan suara (choir) kelas dunia. Namanya Incheon City Chorale.

Incheon City Chorale ini sangat terkenal karena kualitas vokal dan penampilan penyanyinya. Sopran dan alto manis-manis dan kuning-kuning. Tidak ada yang gelap dan jelek. Itu yang saya perhatikan di YouTube. Cara menyanyinya oke, dengan blending yang sangat rapi. Kualitas rekaman di YouTube pun paling bagus dibandingkan kor-kor lain dari Asia. Apalagi Indonesia.

Paduan Suara Kota Incheon semakin terkenal justru setelah membawakan SIKSIK SIBATUMANIKAN, lagu tradisional dari Batak, Sumatera Utara. Orang yang pernah aktif di paduan suara (juga vocal group) sekolah, kampus, gereja, komunitas, atau instansi apa pun pasti kenal lagu ini. Lagu unik yang sering jadi pemanasan sebelum latihan utama.

Saya sendiri pernah membuat semacam aransemen ringan lagu Siksik Sibatumanikam dan Sigulempong (juga lagu Batak) untuk lomba vocal group antar-Mudika di Paroki Santo Yusuf Jember, Jawa Timur. Dikocok dengan aransemen gaya apa pun, lagu Siksik Batumanikam ini selalu enak. Apalagi kalau penyanyi-penyanyinya memang berkualitas di atas rata-rata.

Saya juga sering melihat paduan suara di Jawa Timur membawakan Siksik Sibatumanikam dalam berbagai lomba, festival, atau konser. Siksik memang lagu favorit di Indonesia. Di YouTube jauh lebih banyak lagi paduan suara yang membawakan Siksik. Termasuk beberapa paduan suara dari luar Indonesia macam Incheon City Chorale, Korea Selatan, ini.

Begitu mendengar dan melihat penampilan awak kor asal Incheon, wuih... benar-benar beda. Luar biasa! Baru kali ini saya mendengar dan melihat paduan suara yang membawakan lagu Siksik Sibatumanikam dengan kualitas tingkat tinggi. Jauh lebih baik daripada kor-kor Indonesia. Jauh lebih baik dengan paduan suara asal Tapanuli alias Batak sendiri.

Dipimpin dirigen Prof Yoon Hakwon, Incheon City Choir, Korea Selatan, ini membawakan Siksik Sibatumanikam yang aransemennya ditulis Pontas Purba, seniman musik asli Batak yang tinggal di Jakarta. Aransemennya Pontas Purba ini memang sangat laris di Indonesia. Dan pasti makin laris, dicari hampir semua paduan suara, setelah melihat Incheon Choir di YouTube.

Formatnya a capella dengan menonjolkan tiga solis: sopran, alto, dan tenor. Namanya juga a capella, penyanyi-penyanyi lain di sopran, alto, tenor, bas (SATB) bergantian membuat bunyi-bunyian ala instrumental. Musik mulut! Tapi tetap ada homofoninya di mana SATB menyanyi bareng ala paduan suara konvensional.

Rapi, enak, tidak ruwet, rancak! Itulah kesan saya pada aransemen Siksik Sibatumanikam yang digubah Pontas Purba. Di Youtube ada beberapa aransemen Siksik Sibatumanikam yang dibuat terlalu ruwet, dengan harapan lebih canggih dan bagus, tapi hasilnya malah jelek. Nah, Bang Pontas ini membuat ramuan paduan suara SATB alias mixed choir untuk Siksik Sibatumanikam dengan takaran yang pas. Ibarat membuat kopi, dosis bubuk, gula, susu, air... sangat pas.

Awalnya, saya mengira hanya saya yang kagum dengan Incheon City Chorale yang ciamik soro. Belakangan saya tahu bahwa Pontas Purba pun terkejut melihat komposisi garapannya dibawakan dengan sangat bagus oleh kor dari Korea Selatan.

Pontas Purba menulis komentar begini:

"I'm the choir arranger of this song. Bravo! Di antara sangat banyak paduan suara yang menyanyikan lagu ini, menurut saya, paduan suara Korea ini (Incheon) paling rapi dan bersih. Koreografinya memang kurang pas dengan tortor Batak. Tapi, lumayanlah usaha mereka untuk menirukan tortor. Horas!!!"

Siksik sibatumanikam 
diparjoged sormadigottam
dinamanginani 
sibambangkar jula-jula 
sibambangkar jula-jula

25 August 2014

Suka hari Senin karena Dahlan Iskan

Sebagian orang membenci hari Senin. I hate monday, begitu ungkapan terkenal. Maklum, sudah enak-enak libur dua hari (ada yang cuma sehari), pesiar, santai, harus kerja lagi. Ngantor lagi. Kembali ke roda rutinitas yang terkadang mekanis.

Syukurlah, di Surabaya, setiap Senin tulisan Pak Dahlan Iskan selalu muncul di halaman 1 setiap Senin. Catatan khas big boss Jawa Pos yang menjabat menteri BUMN ini dikenal sebagai MF: Hanufacturing Hope. Meskipun jadi pejabat mulai dirut PLN, kemudian menteri BUMN, Pak Dahlan tak pernah berhenti menulis catatan atau laporan jurnalistik yang sangat khas.

Sejak SMA saya sudah terbius oleh tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Tulisannya asyik, renyah, bernas, ada guyon maton dan semacam humor kering, serta bikin orang ketagihan. Pembaca Jawa Pos di Jawa Timur, yang sudah ketagihan catatan Dahlan Iskan, biasanya menunggu-nunggu dengan penuh harap tulisan terbaru Dahlan Iskan.

"Saya sering hanya membaca tulisannya Pak Dahlan thok. Berita-berita atau artikel lain di koran saya lewatkan saja," kata Pak Bambang Sujiyono (almarhum), seniman Surabaya yang juga pernah memimpin beberapa media cetak, kepada saya suatu ketika.

Saya pun sependapat dengan Pak Bambang. Pak Bambang yang lain di Sidoarjo, juga sudah almarhum, juga seniman, Pak Bambang Haryadjie, pun sejak dulu memuji-muji kualitas tulisan Dahlan Iskan.

"Belum ada wartawan di Jatim yang tulisannya selevel dengan Dahlan. Ada empat lima wartawan tapi hanya mendekati saja," kata Pak Bambang Haryadjie. Almarhum ini pelukis terkenal dan pernah jadi koresponden Jawa Pos pada era Kembang Jepun 167. Saat Jawa Pos masih koran kecil yang belum punya pengaruh.

Pak Toto, juga seniman dan bekas wartawan, juga bilang begitu. Pak Huda yang pengusaha, bikin banyak buku, juga punya penilaian yang sama. Bahkan pengurus kelenteng, warga Tionghoa di Surabaya, pun sama. "Saya selalu menunggu tulisan Pak Dahlan. Ciamik soro," kata Bu Yuli, pengurus kelenteng terkenal.

Begitulah. Maka, saya pun selalu menunggu datangnya hari Senin. Pagi-pagi buta saat bersepeda saya langsung membeli koran Jawa Pos yang masih hangat. Si penjual masih cari uang kembaian, saya sudah sibuk melahap kolom Dahlan Iskan di bagian paling atas. Wow, benar kata beberapa pengusaha Tionghoa itu: ciamik soro! Makin dibaca makin ketagihan!

Gara-gara Pak Dahlan Iskan yang tetap rajin menulis kolom, meskipun sibuk dengan setumpuk agenda sebagai menteri BUMN, kini Senin menjadi hari yang sangat menyenangkan. Istilah "I hate Monday" sudah tidak tepat lagi. Yang benar: I love Monday... karena Dahlan Iskan!

23 August 2014

Kamus John M Echols-Hassan Shadily dan Penetrasi American English

Ada fenomena menarik akhir-akhir ini di Surabaya. Di setiap traffic light banyak pedagang asongan menjual peta dan kamus bahasa Inggris-Indonesia yang sangat terkenal itu. Kamus dwibahasa karya John M Echols dan Hassan Shadily. Saya kira semua orang Indonesia yang pernah sekolah sampai SMA hafal betul kamus terbitan PT Gramedia, Jakarta, itu.

Yah, buku 660 halaman yang ditebitkan pertama kali pada 1975 itu tercatat sebagai buku paling laris di Indonesia. Semua pelajar, mahasiswa, karyawan, siapa saja butuh kamus. Dan itulah kamus Inggris-Indonesia terlengkap dan paling bagus di Indonesia. Dan paling mudah ditemukan di mana saja.

Karena paling laris itulah, kamus Echols-Shadily paling banyak dibajak di Indonesia. Yang dijual di pinggir jalan di Surabaya itu jelas bajakan. Tapi, berkat teknologi komputer dan penjilidan yang bagus, kamus bajakan ini pun cukup bagus kondisinya. Tulisannya jelas, mudah dibaca, tidak cepat rusak.

Harganya? Si PKL di perempatan Ngagel awalnya ngotot Rp 25000.

"Sepuluh ribu aja Mas," kata saya.

"Wah, aku dapat berapa?"

Akhirnya, saya membeli kamus lama yang awet zaman itu dengan Rp 20000. Kalau mau sebetulnya dengan Rp 15000 pun dapat. Tapi saya pikir-pikir, kualitas kamus Echols-Shadily luar biasa. Apalagi buku asli di Gramedia pasti di atas Rp 100 ribu. Kamus saya yang asli kebetulan hilang setelah dipinjam orang. Pakai kamus online kok kurang mantap.

Memperjualbelikan kamus bajakan seperti ini jelas dilarang undang-undang. Cornel University yang punya copyright dan Gramedia jelas marah. Tapi mau bagaimana lagi? Ini Indonesia yang wilayahnya abu-abu. Buku-buku bajakan malah dirayakan sebagai terobosan untuk warga yang ekonominya pas-pasan. Soal buku bajakan dan asli akan dibahas di kesempatan lain.

Sejak dulu saya melihat bahwa kamus Inggris-Indonesia John M Echols dan Hassan Shadily ini sangat fenomenal. Puluhan juta orang Indonesia sedikit banyak sudah terbantu ketika kesulitan dengan kata-kata atau frase bahasa Inggris. Padahal, kamus ini merujuk ke American English atau bahasa Inggris yang dipakai di USA. Bukan British English.

John M Echols dan Hassan Shadily menulis di kata pengantar kamusnya:

"An English-Indonesian Dictionary is a comprehensive listing attemps to embody a high percentage of the most common words and phrases in American English...."

Nah, inilah yang sering kali kurang disadari kita, orang Indonesia, yang selama bertahun-tahun menggunakan kamus ini. Sementara di sisi lain, pelajaran bahasa Inggris di Indonesia yang saya alami dulu, sejak SMP sampai universitas, menggunakan sistem British English. Kurikulum English berkiblat ke British, sedangkan kamus dwibahasa yang dipakai (hampir) semua pelajar/mahasiswa adalah American English.

Bedanya beda-beda tipis tapi tetap saja kurang pas. Tapi mana ada kamus lain yang lebih lengkap dari Echols-Shadily?

Teman saya, Andre Su, sering protes karena beberapa koran di Surabaya menulis nama lembaganya dengan Indonesia Tionghoa Culture Center. "Yang benar itu CENTRE, bukan CENTER. Tolong dikoreksi," ujar guru bahasa Mandarin terkenal di Surabaya itu.

"Begini Laoshi. Wartawan-wartawan di Surabaya (Indonesia umumnya) itu kiblatnya ke Amerika. Rujukannya kamus Hassan Shadily-John Echols. Di situ pakai CENTER, bukan CENTRE. Lagian, komputer-komputer di sini juga biasanya otomatis 'mengoreksi' CENTRE menjadi CENTER," kata saya sedikit berkhotbah.

"Tidak bisa. Yang benar itu CENTRE. Saya sudah konsultasi ke orang bule dari Inggris," katanya ngotot. Nggak ketemu. Yang jelas, di kamus tidak ada kata CENTRE. Lema yang ada di halaman 104 adalah CENTER. Kata CENTER inilah yang kemudian dianggap paling tepat oleh orang sebagian besar orang Indonesia yang memang berkiblat ke John M Echols dan Hassan Shadily.

Selain CENTRE, masih banyak kata-kata populer lain yang beda tulisan yang sering muncul di media massa. Istilah sepak bola bahkan lebih banyak menggunakan SOCCER di koran dan televisi ketimbang FOOTBALL. Belum lagi istilah-istilah musik dan film yang hampir semuanya merujuk ke Amerika Serikat.

Maka, saya kadang-kadang berpikir, mengapa pelajaran bahasa Inggris formal dan informal di Indonesia tidak diarahkan saja ke American English yang jauh lebih populer? Mengapa masih terus berkiblat ke British English, sementara setiap hari kita digempur oleh American English? Dan gempuran American English itu justru paling efektif dilakukan John M Echols dan Hassan Shadily lewat kamus Inggris Indonesia sejak 1975.

22 August 2014

Tantowi Yahya ngotot membela Prabowo-Hatta



Orang seperti Tantowi Yahya seharusnya lebih rileks dalam berpolitik. Bisa lebih jernih melihat dan membaca pilihan rakyat dalam pemilihan presiden 9 Juli 2014 lalu. Meskipun harus mendukung Prabowo Subianto, karena Tantowi orang Golkar, dia harus realistis dan sangat rasional.

Sebab, bagaimanapun juga Tantowi Yahya itu sejatinya orang hiburan yang cuma nyasar ke politik. Dia pembawa acara, presenter top, pembuat kuis, EO, produser, penemu bakat-bakat baru, bahkan penyanyi pop country yang punya banyak penggemar. Bukan orang yang sejak awal terjun ke politik.

Di wilayah Indonesia Timur, Tantowi Yahya ini sangat terkenal karena lagu-lagu pop Manado-nya yang booming. Orang NTT, Maluku, Sulawesi, Papua.. kalau naik kapal laut selalu dihibur lagu-lagu hit si Tantowi Yahya macam Balada Pelaut, Pigi Jo Deng Dia, atau Pulang Jo. Lagu-lagu pop daerah yang tadinya biasa-biasa saja jadi dahsyat setelah dibawakan Tantowi Yahya dengan irama country.

Bahkan, di kampung saya di pelosok NTT, tepatnya Lembata, setiap kali ada pengumuman di desa selalu diawali dengan lagu Pigi Jo Deng Dia. Begitu mendengar intro Pigi Jo Deng Dia, oh pasti ada pengumuman penting di desa. Saya awalnya ketawa sendiri mendengar kebiasaan baru di kampung yang unik ini.

Karena itu, saya agak terkejut melihat sikap Tantowi Yahya yang ngotot luar biasa dalam membela Prabowo-Hatta. Bahkan, semalam dia jadi juru bicara Koalisi Merah Putih mengecam putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh gugatan Prabowo-Hatta. Tantowi bilang putusan MK tidak adil dan mengabaikan substansi yang disampaikan tim Prabowo-Hatta.

Substansi apa lagi? Substansi atau butir-butir pelanggaran yang didalilkan tim Prabowo itu tidak bisa dibuktikan di MK. Tuduhan pelanggaran terstuktur, sistematis, masif tidak terbukti. Bahkan saksi-saksinya kubu Tantowi Yahya dkk jadi bahan tertawaan di ruang sidang karena kurang menguasai persoalan.

Aneh, Tantowi Yahya yang seniman serbabisa, penyanyi favorit warga Indonesia Timur, itu berubah menjadi politikus yang sangat fanatik membela Prabowo Subianto yang sudah jelas-jelas kalah. Bahkan, lebih fanatik ketimbang kader Partai Gerindra sendiri yang bisa menerima kenyataan bahwa perolehan suara Prabowo lebih sedikit dari Joko Widodo.

"Sudah saya perkirakan sejak awal bahwa Prabowo sulit menang. Kami sudah kerja keras tapi sulit melawan kehendak mayoritas pemilih," kata seorang pengurus Gerindra di Jawa Timur.
Politik itu tidak boleh ngotot membabi buta. Harus rasional, pakai perhitungan, fair play. Begitu pesan tokoh Gerindra di Jawa Timur itu.

Makanya, saya sangat heran seorang Tantowi Yahya yang orang Golkar, pemain baru atau mualaf di dunia politik, kok bisa sangat fanatik membela Prabowo? Kok bukan Fadli Zon yang jadi juru bicara menanggapi putusan MK? Kalau Fadli fanatik sama Prabowo wajar karena sudah jadi sahabat Prabowo jauh sebelum Gerindra didirikan. Masih lebih bisa diterima kalau Tantowi Yahya maju tak gentar membela ketua umumnya, Aburizal Bakrie.

Kalau politikus-politikus asli macam Idrus Marham, Fahri Hamzah, atau Suryadharma Ali ngotot membela Prabowo-Hatta sangat masuk akal. Sebab, DNA mereka memang politisi. Sejak mahasiswa, bahkan SD, sudah belajar dan digembleng jadi politisi. Kalau tidak jadi politisi, mereka toh tak akan bisa menyanyi ala Tantowi, jadi MC, presenter, aktor dsb.

Yah, mungkin inilah episode baru yang hendak diperlihatkan Tantowi Yahya ketika menggeluti dunia politik. Dia harus total, habis-habisan, fanatik membela calon presiden pilihannya, meskipun banyak politisi senior Golkar sendiri macam Agung Laksono, bahkan Jusuf Kalla, lebih condong ke Jokowi. Jusuf Kalla, mantan ketua umum Golkar lho, bahkan jadi wakil presiden terpilih mendampingi Jokowi.

Kengototan Tantowi Yahya ini sekali lagi memperkuat tesis lama bahwa para mualaf itu cenderung lebih fanatik daripada orang-orang yang secara turun-temurun memeluk keyakinan tertentu. Mualaf di sini tak hanya di ranah agama tapi juga politik.

by hurek

21 August 2014

Babysitter manis dan pelajaran ASU



Tiga hari lalu saya cangkrukan di warung kopi samping perumahan elite di Surabaya. Ada tiga gadis pribumi manis-manis, lebih cakep ketimbang Cinta Laura, masing-masing membawa anak asuhnya. Bocah-bocah cilik itu jelas keturunan Tionghoa.

Saya asyik membaca koran pagi sambil mendengar obrolan dan guyonan pengunjung warkop. Ada mas-mas yang rupanya naksir salah satu PRT tapi rupanya cintanya ditolak. Beda usianya kejauhan. Ketiga PRT itu kemudian berbagi cerita lucu tentang kelakuan anak-anak majikan yang Tionghoa itu.

Budaya rasan-rasan memang sangat populer di Jawa. Karena itu, warkop menjadi salah satu tempat yang bagus buat PRT untuk ngerasani majikan. Kebiasaan sang majikan berjalan kaki bersama anjing hiasnya jadi bahan olok-olok yang memicu tawa renyah.

"Bosku itu lebih sayang ASU ketimbang anaknya. Anaknya sendiri jarang diperhatikan," kata salah satu PRT alias babysitter.
"Kan sudah ada pembantu. Kita-kita ini kan dibayar untuk mengurusi anaknya. Majikan cukup ngurus kerjaan dan asu. Hehehe," timpal yang lain.

Lalu, pembicaraan mulai fokus ke soal anjing. Makanan anjing yang lebih mahal daripada makanan manusia. Jenis-jenis anjing. Hingga hobi majikan yang hampir tiap hari jalan bersama anjingnya.

Saya pun terkejut ketika seorang PRT mulai ngerjain anak bosnya. Maksudnya sih guyon, bercanda, tapi kata-katanya enggak enak didengar. Tidak cocok dengan kode etik PRT yang harus berperan sebagai ibu dan pendidik anak asuhnya.

Kepada si bocah cilik Tionghoa yang belum lancar bicara itu, si babysitter bilang begini. "Papamu itu A.. A.. A...," katanya disambut ucapan yang tak jelas si anak. PRT yang dua tertawa ngakak karena sangat paham dua huruf sisanya.

"Papamu itu A.. A.. A...," si PRT kembali mengajari anak asuhnya pelajaran wicara tingkat dasar.

"ASUUUU...," teriak seorang satpam setengah berteriak.

Pengunjung warung kontan tertawa terbahak-bahak. Saya tidak sampai hati ikut tertawa karena guyonan para PRT itu benar-benar tidak pantas diucapkan. Apalagi oleh orang yang dibayar oleh sang majikan, disediakan fasilitas di rumah, untuk mendidik anaknya. Rupanya guyonan asu-asuan ini sudah sangat biasa di arena cangkrukan itu.

Akhirnya, saya pun termenung sendiri sambil baca koran dan mendengar komentar tiga babysitter cantik itu. Namanya juga babysitter atau PRT atau apa pun sebutannya, tidak mungkin bisa menggantikan kasih sayang ibu kandung. Sekasar-kasarnya ibu, dia tak mungkin menyebut suaminya asu (anjing). Kecuali yang sedang konflik parah dan sedang dalam proses perceraian!

Sulit dibayangkan informasi dini yang tersimpan di memori si anak jika sejak kecil sudah diberi input kata-kata negatif dari sang pembantu. Jangan-jangan ketika besar nanti, si anak ikut menyumpahi ayahnya karena terlalu sibuk dengan anjing dan kurang memperhatikan dirinya.

Yah, mau bagaimana lagi? Wong papa mama semuanya bekerja, sibuk cari uang. Anak balita akhirnya diasuh oleh si babysitter yang selain tak punya kasih sayang, juga membawa virus rasisisme dalam dirinya.

Hikmah: Berbahagialah ibu-ibu yang menyusui, mengasuh, dan mendidik anaknya sendiri!

20 August 2014

MUI Dipatuhi, PGI/KWI Diabaikan

Gereja Mormon yang megah di Ngagel, Surabaya. Penginjilan door to door pakai sepeda pancal. 


Bijak Bestari, pembaca setia blog ini, menulis begini:

"... Memang serba salah menjadi pemerintah. Mau menertibkan sekte-sekte baru, dituduh tidak mengayomi kebebasan beragama. Mau membiarkan mereka tumbuh, yang mayoritas baik Islam maupun Kristen, resah. Faktanya ialah, Syiah, Ahmadiyah sudah ada sejak dahulu kala di Indonesia, jadi seharusnya mereka dibiarkan. Mengapa sekarang ada penolakan yang lantang dan keras, itu karena infiltrasi aliran-aliran Sunni garis keras dari Tanah Arab.

"Kebalikannya di agama Kristen, sekte-sekte baru yang Bethany/Mawar Sharon, Mormon, Saksi Yehuwah, itu impor dari Amerika, dengan semangat penginjilan yang juga militan. Bahkan di Amerika pun, gereja-gereja Haleluyah masih suka menghujat Mormon, contohnya dalam pilpres 2012 lalu, di mana Mitt Romney sempat ditolak oleh golongan Kristen konservatif krn dia Mormon.

"Saya kira dibiarkan bebas 100% tidak baik, tidak diperbolehkan juga tidak baik. Harus ada jalan tengahnya, yang seharusnya dipikirkan oleh orang-orang cerdas di Indonesia."

Demikianlah. Kebebasan yang luar biasa setelah reformasi 1998 juga merambah ke wilayah agama. Bahkan, tren ini sudah terlihat sejak awal 80an ketika muncul fenomena revivalisme atau kebangkitan agama. Hampir semua agama di Indonesia terkena revivalisme.

Tentu saja mayoritas orang Indonesia, yang konservatif, penganut ajaran mainstream, dibuat resah dengan munculnya aliran-aliran baru yang kelihatan mirip tapi tak sama. Katanya Kristen kok puji-pujiannya pakai musik rock, menghentak-hentak, suasana kebaktian ala pub atau diskotek. Mirip konser musik pop atau rock saja.

Diam-diam, pemerintah RI mengeluarkan surat keputusan untuk mengakui aliran-aliran dari USA macam Saksi Yehuwa dan Mormonisme. Dengar-dengar Scientology pun dipersilakan buka cabang di Indonesia.

"Aneh, sekte-sekte Kristen sempalan kok malah disahkan oleh pemerintah Republik Indonesia," kata sejumlah aktivis gereja Katolik dan Protestan di Surabaya dan Sidoarjo dalam berbagai kesempatan.

Hari berganti, bulan berlalu, tahun pun lewat. Tiba-tiba kita terkejut melihat bangunan Gereja Mormon yang megah di tengah kota Surabaya. Juga ada Balai Kerajaan alias gereja milik Saksi Yehuwa di jalan utama Surabaya.

"Aneh banget, gereja-gereja sempalan yang umatnya sedikit kok gampang banget dapat izin mendirikan gereja. Sementara kita yang gereja lama, sudah ada sejak zaman Belanda, malah tidak dikasih izin," kata seorang aktivis gereja dari kota kecil di Jawa Timur.

Teman ini tidak asal bicara. Umat nasrani di sana sudah 20an tahun memproses izin pembangunan gereja tapi sulitnya bukan main. Kok pemerintah Indonesia malah mendahulukan aliran gereja yang melarang jemaatnya menghormati bendera merah putih?

Bahkan, orang-orang Gereja Kristen Jawi Wetan alias GKJW yang jadi cikal bakal kekristenan di Jawa Timur, yang sampai sekarang setia memelihara bahasa dan budaya Jawa dalam kebaktiannya, pun kesulitan mendapat izin membangunan gereja. Justru di tanah asal usulnya sendiri. Sementara Gereja Mormon dan Saksi Yehuwa yang oleh PGI dan KWI dinilai kontroversial, sempalan, menyimpang dari dogmatika Kristen, malah punya gereja yang megah di lokasi strategis pula.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai wakil resmi umat Kristen Protestan dan Katolik sebetulnya sudah lama mengadu ke pemerintah. Baik lisan maupun tertulis. Meminta pemerintah agar tidak mengizinkan sekte-sekte yang dianggap menyempal dari kekristenan mainstream.

Tapi, atas nama kebebasan beragama, human rights, pemerintah Indonesia mengabaikan masukan PGI dan KWI. Pemerintah menunjuk pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kebebasan semua penduduk untuk memeluk agama yang diyakini.

Bebas sebebas-bebasnya? Bebas tanpa batas? Tanpa proteksi terhadap gereja-gereja lama yang mainstream? Rupanya begitulah sikap pemerintah. Gereja-gereja lama pun sering terkesan sebagai peminta-minta izin mendirikan bangunan gereja yang memang dibutuhkan karena ada pertumbuhan jemaat.

Sikap pemerintah Indonesia yang cuek dengan PGI/KWI ini sangat kontras jika yang komplain itu MUI: Majelis Ulama Indonesia. Begitu ada sedikit gejala penyimpangan ajaran Islam dari komunitas atau kelompok tertentu, MUI langsung bikin surat pengaduan ke pemerintah daerah dan pusat. Tidak sampai satu minggu langsung direspons. Polisi turun tangan menangkap si penyebar aliran sesat itu.

Kemudian diproses hukum, masukan ke penjara. Gubernur dan bupati/wali kota bikin peraturan khusus untuk membersihkan aliran sesat yang menyimpang dari akidah Islam yang tulen.

Begitu kerasnya gerakan anti aliran sesat di kalangan muslim, sampai-sampai aliran yang sudah ada sejak Hindia Belanda macam Syiah, juga Ahmadiyah, pun dianggap perlu "disamakan persepsinya", begitu istilah Suryadharma Ali ketika masih menjabat menteri agama untuk tidak menggunakan istilah  "aliran sesat".

Sebelum persepsi disamakan, 200an umat Syiah di pengungsian Taman, Sidoarjo, tidak bisa dipulangkan ke kampung halamannya di Sampang, Madura. Pemkab Sampang bersama MUI setempat sudah lama membuat semacam perjanjian untuk tidak memberi ruang kepada penganut "aliran sesat" di bumi Sampang.

Memang tidak gampang menyelesaikan persoalan agama dan aliran-aliran yang begitu banyak itu. Saya setuju dengan Bijak Bestari: harus ada jalan tengah! Konstitusi kita menjamin kebebasan beragama tapi kalau terlalu liberal jelas sangat berbahaya. Dan bikin resah jutaan umat lawas.

Apalagi, memberikan fasilitas dan kemudahan kepada gereja-gereja aliran baru, yang dianggap sempalan, dan malah mempersulit pembangunan gereja-gereja lama yang sudah ikut berkontribusi bagi bangsa ini jelas bukan kebijakan yang bijak bestari.