21 January 2017

Mencicipi kue keranjang Tante Tok di Sidoarjo

Sincia atau tahun baru Imlek sudah dekat. Kesempatan untuk mencicipi nian gao atau kue keranjang. Ke mana ya? Pilihannya tidak banyak. Sebab orang Tionghoa di Surabaya atau Sidoarjo sekarang tidak punya waktu untuk mengukus dodol cina itu.

"Cukup membeli di toko-toko. Ngapain capek-capek masak kue keranjang?" Begitu omongan klise Tionghoa Surabaya yang makmur. Orang kota mah sudah lama meninggalkan dapur.. kecuali pedagang makanan.

Syukurlah, saya punya beberapa kenalan Tionghoa yang masih melestarikan budaya leluhurnya. Kemarin saya mampir ke rumahnya Tante Tok di pecinan Sidoarjo. Agenda tahunan jelang sincia. Ibu yang Buddhis plus jemaat kelenteng ini memang salah satu dari sedikit ahli masak nian gao original.

"Resepnya langsung dari papa saya asal Hokkian," katanya dengan logat Jawa kental. 

Tante Tok dibantu tiga asisten, salah satunya Jawa, kerja keras di dapur. Hari itu menghabiskan 20 kg ketan. Bukan ketan lokal tapi impor Thailand. Ketan hasil pertanian di Jawa Timur sulit menghasilkan kue keranjang yang pas. Malah tidak jadi.

Saya perhatikan, dari dulu, Tok Swie Giok ini memasak kue keranjang dengan cinta yang besar. Ini membuat semangatnya selalu tinggi di usia kepala tujuh. Dari subuh sampai 23.00. Dia mulai masak sejak akhir Desember.

"Tiap tahun makin banyak yang pesan gara-gara kamu," ujar Tante Tok sambil tertawa.

Kok bisa? "Kamu yang memasukkan ke internet. Orang jadi tahu kalau saya bikin kue keranjang," ujarnya. 

Oh ya... cerita kue keranjang buatan Tante Tok memang saya muat di blog ini sejak beberapa tahun silam. Tante Tok pun kebanjiran pesanan... meskipun dari dulu pelanggannya sudah banyak. 

Maka, saya diminta mencicipi nian gao buatan kota udang Sidoarjo ini. "Wuenaak... maknyusss," kata saya. Gimana tidak enak (manis), kue khas Tiongkok ini pakai banyak gula. 

Selamat bikin kue keranjang! Semoga Tante Tok selalu hoki di tahun ayam!

Wisata Ngadem di Pacet Mojokerto

Orang Surabaya dari dulu senang ngadem di pegunungan. Mulai dari Trawas, Tretes, Pacet, Batu, Malang. Malang Batu sudah terlalu kota, kaya polusi, macet di beberapa titik. Apalagi dulu jalur Porong macet parah karena lumpur Lapindo. 

Tretes bagus tapi padat banget di depan Hotel Surya. Jalan yang sudah sempit ditempati PKL di kanan kiri. Gak asyik.

Makelar-makelar vila di Tretes juga main hantam kromo aja. Dikira semua laki-laki yang pesiar ke Tretes itu cari cewek nakal atau tukang pijat. Imejnya Tretes memang kurang elok. 

Trawas lebih aman dan asyik. Tapi vila-vila makin banyak. Ada hotel, tempat retret atau rekoleksi gereja, bahkan bukit doa. Umat Katolik di Surabaya yang punya kegiatan besar dan masal biasanya ke Sasana Krida milik Keuskupan Surabaya di Desa Jatijejer Trawas.

Saya sendiri penggemar wisata ngadem di Jolotundo, Desa Seloliman Kecamatan Trawas. Ada petirtaan suci, puluhan situs candi, dan pusat pendidikan lingkungan hidup alias PPLH. Di sini kita bisa belajar bercakap English karena selalu ada rombongan bule.

Kawasan Pacet juga jadi pilihan untuk mendinginkan badan dan otak. Sudah lima tahun saya tidak ke Pacet. Dinginnya sama dengan Tretes dan Trawas. Suasananya masih lebih desa dengan sawah yang luas. Tanaman hijau jadi pemandangan yang asyik.

Beda dengan Tretes yang nyaris tanpa spasi karena vila-vila berdempetan. Pun tidak ada makelar-makelar macam di Tretes.

 Tapi saya lihat pekan lalu Pacet ini juga pelan-pelan mengadah ke Trawas. Banyak tanah dibangun vila. "Sebagian besar sudah dikapling," ujar tukang kembang yang punya lapak jagung bakar di atas kolam air panas. 

Mungkin tidak sampai 10 tahun lagu sawah yang luas itu sudah berubah jadi vila merah - warna khas vila-vila di Pacet. Jualan kamar atau penginapan rupanya lebih asyik dan untung ketimbang jadi petani. 

Yang bikin ganjal di hati itu retribusi di tempat wisata air panas terlalu mahal. Masuk pintu bayar Rp 15 ribu. Masuk kolam renang + kolam air panas bayar lagi Rp 10 ribu. Belok ke air terjun bayar lagi. Dan seterusnya. 

"Makanya jarang ada penduduk sini yang rekreasi ke air panas," kata mas penjual jagung bakar yang asli Desa Padusan Kecamatan Pacet. 

Geli melihat spanduk MARRY CRISTMAS

Lima tahun lebih saya tidak mampir ke permandian air panas di Pacet Mojokerto. Maka kesempatan piknik bersama teman-teman sekantor saya manfaatkan untuk menengok tempat rekreasi keluarga itu.

Aha... masih ada spanduk selamat Natal dan Tahun Baru di dekat pintu gerbang utama. Ditulis pakai bahasa Inggris. MARRY CRISTMAS....

Matur nuwun. Di tengah fatwa haram mengucapkan selamat natal baik lisan maupun tulisan, ternyata pengelola tempat rekreasi terkenal itu masih kasih kita selamat. 

Sayang, ejaan atau penulisan dua kata English itu tidak tepat. Seharusnya MERRY CHRISTMAS... Bukan seperti di spanduk itu. 

Tapi tidak apa-apa lah. Semangat untuk berbahasa global dari pengelola tempat wisata air panas di Pacet layak dipuji. Semoga tahun depan tidak salah ketik ya! Mengapa harus pakai bahasa Inggris? Bahasa Indonesia atau bahasa Jawa justru lebih aman! 

Lah, wong nasrani di Jawa itu aslinya lebih suka sembahyang misa pakai bahasa Jawa. 

Lukas 2 : 13
Dumadakan banjur ana balatantra swarga kang akeh banget cacahe, kang mbarengi malaekat mau sarta padha memuji marang Gusti Allah, sabdane:


"Kamulyakna Gusti Allah kang ana ing ngaluhur lan tentrem-rahayu anaa ing bumi, ing antarane manungsa kang dadi renaning panggalihe."

20 January 2017

Dagang musik yang mati suri

Tulisan Yockie Suryo Prayogo di status FB-nya singkat tapi menghentak. Komposer kawakan, eks personel Godbless, ini bilang jangan dagang musik kalau ingin cepat kaya.

Sudah lama JSOP (inisial populer Yockie) mengeluhkan industri musik pop yang karut marut. Bisnis kaset CD VCD dsb sudah lama mati suri. Banyak perusahaan rekaman bangkrut dimakan Youtube dan aplikasi musik di internet. Lagu-lagu bisa diunduh gratis tististis.

Hari gini kita bisa mendengaf musik apa saja, kapan saja, di mana saja. Siapa pun bisa mengakses musik di internet. Sayang, komposer, penyanyi, musisi, pekerja di studio rekamanan tak dapat apa-apa dari Youtube.

"Penghasilan musisi jadi tidak menentu. Tiap hari cuma menunggu job," kata musisi lain yang juga pernah kondang.

Maka tidak heran kalau banyak musisi yang pindah ke jalur politik. Sebut saja Pasha Ungu jadi wakil wali kota. Ahmad Dhani jadi politisi. Kini pentolan band Dewa itu lagi kampanye untuk jadi wakil wali kota. Deddy Dores juga pernah mencalonkan diri jadi wali kota... sebelum meninggal.

Industri musik memang berubah drastis, revolusioner, di era digital, media sosial, internet. Pemain-pemain lama bertumbangan. Saya dengan beberapa juragan kaset era 80an dan 90an stroke di rumah.

"Kita harus menghadapi kenyataan ini," ujar putra mantan juragan kelas kakap yang dulu banyak mencetak penyanyi-penyanyi top.

Industri musik gaya lama memang mati. Dagang musik tak lagi menghasilkan. Dagang lombok saat ini pasti jauh lebih menghasilkan ketimbang jualan lagu-lagu pop. Lah, wong sudah ada di Youtube semua. Beda dengan lombok yang cuma ada gambarnya di internet.

Mungkin ini zaman transisi dari bisnis musik gaya lama ke gaya baru. Perusahaan rekaman boleh saja bangkrut tapi musik pop niscaya selalu ada dari masa ke masa. Dengan cara yang baru sesuai zamannya. Kerupuk lama yang melempem pasti diganti kerupuk baru yang hangat dan gurih.

PMKRI vs FPI buat apa?



Tidak banyak orang yang kenal PMKRI: Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Bahkan umat kristiani, yang bukan aktivis gereja, pun kurang tahu. Sebab PMKRI merupakan kelompok kategorial yang dominan bergerak di luar paroki. Beda dengan Legio Maria, OMK (dulu mudika), misdinar, Santa Ana, dsb.

Nah, belakangan ini nama PMKRI muncul di media massa gara-gara melaporkan Rizieq, ketua FPI, ke polisi. Angelo, ketua PMKRI asal Flores itu, tersinggung dengan ceramah Rizieq yang membahas kelahiran Yesus. "Bidannya siapa?" ujar Rizieq.

Sebetulnya Angelo dan anak-anak PMKRI tidak perlu tersinggung. Ucapan Rizieq itu mah sudah jamak kita dengar. Karena ajaran agama memang berbeda-beda. Rizieq menggunakan doktrin agamanya untuk menilai agama orang lain.

Mungkin Angelo yang kampung asalnya mayoritas Katolik belum pernah dengar ceramah-ceramah macam ini. Begitu juga anak-anak Flores lain yang aktif di PMKRI. Makanya, saya sempat bicara dengan Stanley ketua PMKRI Surabaya, yang juga asli Flores, untuk tidak ikut-ikutan ngurusin FPI dan Rizieq.

"Sudahlah, omongan Rizieq itu tidak usah digubris. Energi kalian habis kalau meladeni FPI. Lebih baik kalian fokus pada tiga benang merah PMKRI," ujar saya sedikit menggurui.

Jelek-jelek begini, saya juga mantan PMKRI sehingga paham tiga benang merah, pro ecclesia et patria, religium omniarium.. hingga himne PMKRI Bhayangkara Gereja dan Nusa. Bahkan mungkin saya yang (dulu) paling menguasai himne yang memang punya kesulitan tinggi itu.

Saya minta Stanley dkk di PMKRI Surabaya fokus pada agenda yang sudah dibuat. Termasuk menggairahkan kembali mahasiswa. Kaderisasi anggota yang makin sulit. Hingga gerakan mahasiswa pascareformasi yang makin kompleks. "Terlalu kecil kalau PMKRI ngurusin FPI," kataku.

Rupanya aksi PMKRI melaporkan Rizieq ke polisi menjadi inspirasi bagi orang atau kelompok lain untuk melakukan hal serupa. Kalau tidak salah sudah ada lima atau enam laporan. Termasuk laporan dari Sukmawati karena Rizieq dianggap menghina Pancasila.

Ada juga laporan dari hansip tua karena korpsnya dinistakan. Makin ramai aja! Lumayan, Rizieq dan anak buahnya jadi lebih sering datang ke kantor polisi. Waktu untuk unjuk rasa dan razia tempat-tempat yang dianggap maksiat tentu jadi berkurang.

Kembali ke PMKRI. Kemarin saya baca di internet, Angelo dkk mengadakan seminar di margasiswa PMKRI pusat di Menteng Jakarta. Ini bagus karena cocok dengan salah satu benang merah. Kajian-kajian sosial politik ekonomi budaya agama dsb jauh lebih produktif ketimbang debat kusir dengan FPI.

Apologi itu tidak ada gunanya.

Imlek dirayakan, Natal dimusuhi

Seperti dugaan saya, suasana menjelang tahun baru Imlek, 28 Januari 2017, tenang-tenang aja. Aksesoris lampion dan aneka hiasan berwarna merah terlihat di pusat perbelanjaan. Baju-baju Tionghoa juga dijual (dan dibeli) di mana-mana.

Ini jauh berbeda dengan bulan Desember jelang Natal. Setiap tahun MUI bikin fatwa yang ada kaitan dengan natalan. Termasuk menggaungkan lagi fatwa lama tentang haram hukumnya mengucapkan selamat Natal.

Saya belum pernah dengar ada fatwa haram selamat tahun baru Imlek.. gongxi facai dsb. Juga larangan menggunakan pakaian menyerupai orang Tionghoa yang merayakan tahun barunya.

FPI pun masih sibuk mengawal kasus Ahok di Jakarta. Apalagi ketuanya dilapor oleh sejumlah pihak karena dianggap menista Pancasila dsb.

Hem... suasana di Indonesia memang sudah berubah. Kalau dulu segala sesuatu yang berbau Tionghoa dilarang, kini dirayakan secara bebas. Sebagian besar mahasiswa yang dikirim Andre Su ke Tiongkok dan Taiwan justru kebanyakan santri-santri.

"Carilah ilmu hingga ke negeri China," ujar Andre, teman saya yang Buddhis, ketika memperkenalkan pendidikan Tiongkok di sekolah-sekolah muslim di seluruh Indonesia.

Begitulah. Ketika budaya Tionghoa makin diapresiasi, bahkan kalangan Matakin dengan tegas menganggap tahun baru Imlek sebagai hari raya agama Konghucu, Natal dan Tahun Baru justru makin dimusuhi di negeri ini. Jadi bahan perdebatan panas di media massa dan media sosial.

Mungkin suatu ketika Natal dan Tahun Baru dilarang di negeri ini. Itu kalau FPI atau HTI dan sejenisnya yang menang pemilu.

19 January 2017

Terima Kasih Blackberry! Sayonara...

Blackberry (BBM) sudah kedaluwarsa. Ibarat wanita tua yang sudah tak dilirik kaum adam. Maka ponsel khusus BBM yang dulu harus antre untuk membeli dipensiunkan. Disimpan buat kenang-kenangan. Siapa tahu suatu saag jadi barang antik yang mahal.

Ponsel BBM saya resmi pensiun pada Desember 2016. Ini karena operator seluler langganan lawas itu tidak lagi melayani BBM. Apa boleh buat, saya harus mengistirahatkan ponsel hitam antik itu.

Grup-grup BBM sebelumnya sudah lama tutup. Grup untuk kerjaan di kantor pun tutup karena dianggap tidak efektif. Pakai WA aja. Soalnya BBM itu boros data, kata teman yang paham IT.

Bagi saya, ponsel khusus Blackberry ini punya arti yang khusus. Lewat HP itulah saya mulai belajar mengetik pakai dua jempol. Awalnya lambat tapi makin lama makin cepat. Makin mendekati kecepatan mengetik di laptop atau komputer biasa.

Sejak itulah saya mulai keasyikan dengan Blackberry dan mulai meninggalkan laptop. Laptop benar-benar jarang dipakai. Tapi untuk pekerjaan yang rumit dan makan waktu memang harus pakai laptop atau desktop (komputer biasa).

Teknologi ponsel rupanya berganti begitu cepat. Smartphone dan tablet berbasis android yang kita pakai sekarang pun sudah bukan lagi gadis remaja SMA tapi sudah lulus kuliah S1 dan S2. Di bawahnya sudah muncul gadis-gadis belasan tahun yang centil dan menggoda.

Lama-lama kita capek sendiri memburu gadis-gadis muda... eh HP anyar, yang fiturnya makin canggih dan buanyaak. Berbahagialah orang-orang di pelosok yang tak terjangkau sinyal seluler! Bisa hidup ayem tentrem terganggu rayuan produsen HP anyar.

Pidato menteri dibatasi 7 menit

Presiden Jokowi bikin kebijakan yang bagus untuk urusan pidato. Ia membatasi pidato menteri paling lama 7 menit. Tentu pejabat-pejabat lain juga perlu menyesuaikan. Ini bukan sekadar imbauan tapi ada semacam surat keputusan resminya.

Saya yang kurang suka pidato-pidato-pidato panjang (kecuali Bung Karno dan Gus Dur) sangat setuju gebrakan kecil Jokowi ini. Sebab banyak sekali pidato atau sambutan atau pengarahan dsb yang tidak berisi. Cuma omongan basa-basi aja.

Yang justru enak dikutip itu ketika sang pejabat bicara spontan. Tidak membaca teks yang biasanya disusun orang lain. Isinya klise, banyak jargon, tidak konkret. Sulit dijadikan berita. Makanya wartawan-wartawan biasanya tidak puas. Harus wawancara lagi agar pernyataan si pejabat lebih nendang.

Pidato di Indonesia sering bertele-tele karena salam dan pembukaannya terlalu panjang. Bagian isi malah tidak jelas. Data dan informasinya sangat kurang. Beda dengan pidato Bung Karno yang ditulis sendiri dan dirancang layaknya materi kuliah umum. Tapi ya tetap saja membosankan kalau sang proklamator ini berpidato pada 2017.

Sebelum ada kebijakan pidato maksimal 7 menit dari Presiden Jokowi, sebetulnya sudah ada menteri yang pidato-pidatonya selalu singkat dan enak. Siapakah dia? Dahlan Iskan.

Ketika masih jadi menteri BUMN, Pak Dahlan bahkan sering pidato singkat sesingkat-singkatnya. Mungkin tidak sampai 3 menit. Salam dan doa-doa pembukaannya pun tidak lama.

Suatu ketika Pak Dahlan yang menteri BUMN dan Menteri Pendidikan M Nuh membuka sebuah acara di Surabaya. Setelah sambutan ketua panitia, giliran Menteri Nuh pidato. Cukup panjang dan detail. Bicara tentang kualitas manusia dsb dsb.

Lalu giliran Pak Dahlan. Setelah assalamualaikum dsb, menteri BUMN ini berkata, "Pidato saya sama persis dengan Pak Nuh. Apa yang ingin saya sampaikan sudah disampaikan oleh Pak Nuh. Maka sekian saja pidato saya. Assalamualaikum...."

Ribuan masyarakat di Taman Surya bertepuk tangan dan tertawa riuh. Bukan main Pak Dahlan! Selalu punya ide dan action yang tidak terduga.

Kunjungan PM Jepang yang dingin

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe baru saja berkunjung ke Indonesia. Tak ada berita besar di media massa. Bahkan banyak koran yang tidak memuat berita atau foto lawatan orang penting dari negeri sakura itu.

Media kita lebih suka membahas harga lombok yang naik selangit. Atau kasus Ahok. Aksi-aksi FPI. Atau penangkap pelaku judi kelas teri di kampung-kampung. Jepang sudah tak penting?

Yang pasti, suasananya berbeda jauh dengan era 70an dan 80an yang masih alergi Jepang. Khususnya investasinya yang gila-gilaan. Bahkan sempat ada peristiwa Malari 74 ketika ribuan mahasiswa memprotes kunjungan PM Jepang. 

Disambut meriah atau tidak, PM Abe dan rombongan pasti senang bukan main melihat jalanan di Indonesia yang penuh dengan mobil dan motor made in Japan. Honda Yamaha Suzuki Toyota Daihatsu Nissan....

Mungkin PM Abe tak menyangka kendaraan buatan Jepang ternyata jauh lebih banyak ketimbang di negara asalnya. Saking berlimpahnya produksi, saat ini uang muka motor hampir tidak ada alias nol. Bisa dibayangkan 20 tahun lagi jalanan di tanah air seperti apa kalau kepemilikan kendaraan pribadi dibebaskan sebebas-bebasnya seperti sekarang.

Indonesia punya hubungan sejarah yang pahit dengan Belanda dan Jepang. Setelah merdeka, kita praktis memutus ikatan dengan negara bekas penjajah itu. Hubungan dengan Jepang tinggal urusan dagang semata. Dengan Belanda hampir tidak ada kecuali segelintir indo-indo yang merasa punya hubungan darah.

Beda banget dengan Malaysia misalnya yang memberi penghormatan istimewa kepada perdana menteri atau ratu atau pangeran Inggris yang berkunjung. Di Indonesia, kunjungan kepala negara/pemerintahan Jepang dan Belanda tak beda dengan Timor Leste atau Kamboja atau Filipina. 

18 January 2017

John Seme penyanyi top NTT



Tidak banyak penyanyi asal NTT yang mencuat di belantika musik pop nasional. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Dulu ada Obbie Messakh dan Ingrid Fernandez. Sekarang? Sepertinya tidak ada. Atau mungkin saya yang ketinggalan informasi tentang industri musik. 

Belum lama ini saya kebetulan mendengar suara JOHN SEME di ruang tunggu Bandara Juanda. Suaranya khas, melankolis, merdu dan bersih. Sedikit mirip Obbie Messakh yang sama-sama asli Rote, pulau kecil paling selatan NTT. Keduanya juga sama-sama pintar bikin lagu-lagu manis melankolis.

Bedanya, kalau Obbie ada suara sengau dan sedikit fals, John Seme ini merdu banget. Cocok dengan selera musik orang NTT yang memang suka lagu-lagu slow dan manis. 

Nah, lagu Langit Masih Biru John Seme mengingatkan saya pada bumi NTT, tempat kelahiran saya. "Enak sekali Bung," ujar seorang laki-laki menjawab pertanyaan saya mengapa dia begitu menikmati John Seme.

Padahal lagu LANGIT MASIH BIRU ini dirilis JK Records Jakarta pada 1993. Sudah lama sekali. Tapi masih disimpan di HP dan dinikmati sambil menunggu pesawat ke Kupang yang delayed cukup lama. "Orang kita memang cocok dengan lagu-lagu Obbie Messakh, Pance, John Seme," kata bung Thomas. 

Dia heran mengapa lagu-lagu koplo sangat digandrungi di Jawa, khususnya Jatim. Padahal musiknya kurang harmonis dan lebih memojokkan goyang erotis. "Beda selera Bung. Sebaliknya orang Jawa juga heran mengapa hari gini Bung masih putar John Seme. Hehe..," kata saya.

John Seme boleh dikata tidak dikenal di Jawa meskipun kaset-kasetnya dirilis JK Records yang waktu itu masih ngetop. Tapi di NTT bung John ini penyanyi top yang awet sampai sekarang. Selain pop manis, dia bikin rekaman lagu rohani  (gospel) dan lagu-lagu daerah NTT, khususnya Rote.

John Seme sempat kolaborasi dengan Obbie Messakh dan Deddy Dores, sesama penyanyi dan komposer sealiran. Ini juga sangat digemari orang NTT karena liriknya pakai bahasa Melayu Kupang. 

Syukurlah, di era internet ini rekaman-rekaman lama John Seme tersimpan di Youtube. Maka saya pun bisa menikmati lagu pop lawas itu. Sambil nyeruput kopi pahit sedikit gula!

LANGIT MASIH BIRU
Vokal: John Seme

Jangan buang air gula 
kalau memang kau tak suka 
Jangan buang air mata 
Hanya karena putus cinta 

Laut masih biru 
Langit masih tinggi 
Masih ada aku
Yang ada di sini

Janganlah kau simpan suka
Kenangan boleh kau simpan
Jangan lagi kau sesalkan
Cintamu yang kini hilang
Laut masih biru....

Jangan biarkan 
Yang lalu biarlah berlalu 
Jangan biarkan
Duka hatimu
Kini ku datang 
membawa cinta untukmu

Cintaku bukan cinta palsu
Cintaku hanyalah untukmu 

17 January 2017

Cabai rawit jadi isu politik

Cabai rawit jadi isu panas di Indonesia sekarang ini. Gara-gara cabai (lebih lazim ditulis CABE), ada mahasiswa yang meminta Jokowi dilengserkan karena dianggap tidak mampu mengendalikan harga cabai dan kebutuhan lainnnya.

Saya sendiri tidak suka cabai. Sambal yang pedas membuat perut saya mules. Karena itu, saya sih cuek aja ketika cabai (bahasa Lamaholot: SILI atau chili) melonjak tajam. Setiap hari ada berita di televisi, internet, radio, surat kabar tentang harga cabai yang di atas Rp 100 ribu.

Wow... mahal banget si cabai!

Solusinya apa? Tentu menggerojok cabai ke pasar. Tapi cabai bukan beras atau gula yang bisa disimpan berbulan-berbulan-bulan di gudang. Orang Indonesia, khususnya Jawa, membutuhkan cabai segar. Beda dengan sebagian orang NTT yang lebih suka cabai tepung kering.

Impor cabai juga belum tentu menjawab persoalan cabai. Menanam cabai pun butuh waktu lama. Sementara setiap menit orang butuh cabai untuk sambal atau bumbu masak.

Saya punya pengalaman pahit menanam cabai rawit dan cabai lain ketika mahasiswa. Sekaligus praktek lapangan budidaya pertanian. Harga cabai saat itu memang lagi bagus-bagusnya. Di atas kertas bisa dapat untung 200 persen.

Apa yang terjadi? Rupanya dalam waktu bersamaan banyak orang punya pikiran serupa: menyewa tanah untuk menanam cabai. Maka hasilnya sudah bisa ditebak. Panen sangat melimpah sehingga harga cabai hancur berantakan.

Boro-boro untung, balik modal saja tidak. Utang pun sulit dibayar. "Cabai itu memang pedes," kata teman saya Mas Budi yang modalnya paling banyak.

Sejak itu saya malas bicara cabai rawit, cabai hijau dsb. Selera makan cabai makin hilang meskipun saya hidup di tengah masyarakat yang doyan sambal pedes.

Di televisi, beberapa menit lalu, ada pengamat yang meminta masyarakat ramai-ramai menanam cabai. Kalau cuma menanam di lahan samping rumah yang sempit sih gak masalah. Tapi kalau menyewa sawah yang agak luas kayak saya dan teman-teman dulu ya... monggo mawon.

16 January 2017

Di radio warga marah dan ngamuk

Beda banget isi siaran radio sekarang dan dulu. Apalagi bagi kita yang sejak kecil aktif mendengarkan radio-radio swasta di kota. Sekarang ini radio-radio berlomba menyiarkan komentar dan pendapat masyarakat yang kritis, tajam, emosional. Kata-kata saru pun sering on air tanpa sensor.

Dulu saya tinggal di tengah Kota Malang. Ada tiga stasiun radio terkenal yang biasa saya datangi: Senaputra, TT 77, dan Immanuel. Ketiga radio Ngalam ini punya segmen pendengar berbeda. Corak musik, gaya penyiar, sound berbeda. Tapi semuanya sama-sama menyajikan hiburan yang memanjakan telinga. 

Radio Senaputra terkenal karena bung Ovan Tobing sangat piawai mengawal program musik rock, metal. Saat itu tidak ada internet. Majalah pun terbatas. Maka Senaputra jadi rujukan utama musik rock di Malang dan sekitarnya. 

Radio TT 77 lain dari lain. Musiknya dominan jazz dan blues. Lagu pop Indonesia pun cenderung ngejes macam Dian Permana Putra, Ermy Kullit, Karimata, Krakatau... Jangan harap ada lagu pop manis ala Dian Piesesha, Betharia Sonata, atau Tommy J Pisa diputar di radio yang berlokasi di samping sekolahan Santu Yusuf ini.

Radio Immanuel lebih ringan dan ngepop. Lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Nike Ardilla, Nicky Astria dan sejenisnya punya tempat besar di Immanuel. Tiap akhir pekan ada tangga lagu pop macam ini. Betharia Sonata, Vina Panduwinata, sering jadi favorit. Tak lupa kirim lagu kirim salam....

Mendengar radio-radio lokal sambil membaca buku.. asyik banget. Apalagi sering ada lawakan ala Kartolo, Wono Kairun, hingga guyonan BOM di Radio KDS 8. Kita dibikin ketawa sendiri. 

Pagi ini saya putar beberapa radio di Surabaya. Isinya sebagian besar kritik masyarakat tentang apa saja. Saat menulis catatan ini Pak F lagi bahas jalan raya Surabaya-Gresik. 'Tiap hari saya menderita saat lewat di sana,' katanya. 

Ada lagi warga Taman Pinang Sidoarjo yang marah-marah karena perumahannya sering dipadati pedagang kaki lima. Dia heran pemerintah daerah cenderung membiarkan ratusan PKL berjualan di situ. 

Ada pula pengendara mobil yang melapor kemacetan di Aloha Gedangan. Banjir di beberapa kawasan. Tak ketinggalan bicara tentang unjuk rasa FPI, kasus Ahok, lombok mahal, dsb. 

Alunan musik yang membelai telinga makin jarang terdengar. Musik tidak lagi jadi menu utama tapi selingan. Yang dijual justru traffic report dan laporan para pendengar. Untunglah, sekarang ada Youtube yang menyediakan jutaan lagu.

Mungkin iklim demokrasi membuat rakyat berlomba-lomba mengkritik pemerintah, marah, maki-maki siapa saja. Beda dengan zaman Orde Baru yang tidak demokratis. Rakyat takut mengkritik penguasa, tidak berani membahas jalan rusak, banjir dsb. Rakyat dulu lebih suka menikmati musik, ludruk, atau sandiwara radio Mak Lampir atau Saur Sepuh.

Dulu ada lagu yang sangat ngetop:

''Di radio... aku dengar
lagu kesayanganmu
Kututupi telingaku
Dengan dua tanganku...''

Gelandangan tidur pulas di emperan

Setiap malam pria 40an tahun ini tidur di emperan bekas showroom Nissan di Sidoarjo. Nyenyak banget. Pagi tadi saya coba bangunkan... gak mempan.

Semalam hujan deras. Cuaca jauh lebih sejuk dari biasanya. Ini membuat orang itu makin menikmati tidurnya. 'Saya suka blusukan ke mana-mana,' ujar lelaki yang tidak mau menyebutkan namanya itu.

Dia bilang bisa tidur di mana saja. Emperan bangunan kosong cukup banyak. Peseban alun-alun luas dan bersih. Bisa hi-wifi pula. Kadang tidur di masjid. 'Saya cuma cari ketenangan. Di rumah saya justru tidak bisa tidur,' katanya.

Kita yang 'normal' sering merasa aneh melihat Pak X yang menggelandang ini. Mengapa tidak tidur di rumah? Kalau tidak punya gubuk, di Sidoarjo ada liponsos untuk menampung para tunawisma, pengemis dsb?

Orang ini pernah dicokok satpol PP dan dimasukkan ke liponsos. Tapi dasar pengelana, dia kembali ke jalanan. Tidur malam di emperan bekas showroom yang belum laku itu.

Malam sebelumnya, saya menikmati malam di sebuah vila mewah di kawasan Pacet Mojokerto. Udara sejuk, bersih, dengan sawah-sawah hijau di sekelilingnya. Sayang, malam itu saya sangat sulit tidur. Bagun pagi, jalan kaki ke permandian air panas, rasanya badan gak enak blass...

Begitulah. Ternyata vila bagus, hotel berbintang yang mahal... tak menjamin lelapnya tidur.

Rekor tidur siang lelap saya yang panjang, pukul 13.00 sampai 19.00, justru terjadi di sebuah gubuk bambu sederhana di kawasan Jolotundo Trawas. Ah... namanya aja wong kampung!

15 January 2017

Kata ABSEN yang salah kaprah

''Sudah absen belum?''

''Kalau gak absen, uang makannya dipotong lho!''

''X gak pernah absen. Makanya uang makannya gak ada!''

Begitu kata-kata yang hampir tiap hari kita dengar di lingkungan buruh, karyawan, PNS, bahkan anggota parlemen di pusat dan daerah. Begitu masuk kantor harus memasukkan sidik jari ke kotak elektronik kecil itu.

''Wartawan-wartawan dulu tidak pernah mengisi buku daftar hadir dan sejenisnya. Yang penting kita bikin berita banyak dan bagus. Percuma Anda rajin ngisi daftar hadir kalau beritamu cuma satu atau dua dan jelek semua,'' kata wartawan senior Peter Rohi.

Era Peter Rohi yang berjaya pada 70an dan 80an sudah lama berlalu. Reporter-reporter sekarang tidak bisa bebas blusukan kayak jurnalis lawas. Bung Peter yang bikin banyak koran itu sering meninggalkan newsroom berminggu-minggu. ''Tapi beta selalu setor berita HL halaman depan. Beta tidak akan setor berita yang ecek-ecek,'' ujar bung asal Pulau Sabu NTT itu.

Berita ecek-ecek itu kayak apa? Bung Peter tertawa kecil lalu menunjuk beberapa berita di koran lokal. Seperti bupati meresmikan projek A, senam bersama ibu-ibu, komunitas anggrek, judi togel dsb. ''Siapa yang baca berita ecek-ecek? Itu yang bikin koran tidak laku.''

Lalu? ''Bikinlah berita-berita investigasi. Investigative reporting. Ungkap kasus-kasus besar yang merugikan rakyat kecil. Kongkalikong pejabat dan pengusaha. Indepth reporting... Kalau cuma ecek-ecek ya cukup baca media sosial atau online,'' ujar Peter Rohi dengan gaya meledak-ledak.

Eitt... sudah melantur jauh.

Saya sebetulnya hanya ingin membahas kata ABSEN yang sering salah kaprah. Termasuk di kalangan karyawan yang semuanya lulusan strata satu. Di KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), seperti aslinya dalam English, ABSEN artinya tidak hadir. Mangkir.

Dulu di SD saya ingat tiga macam absen di kampung: SIA = sakit, izin, alpa. Sakit dan izin biasanya ada pemberitahuan kepada guru kelas. Alpa berarti tidak masuk tanpa menyampaikan alasan.

Lah.. kok ABSEN yang artinya tidak hadir jadi terbalik-balik di Indonesia? ABSEN dianggap sinonim dengan hadir. Dus, rajin absen artinya rajin mengisi daftar hadir elektronik atau buku tulis biasa. Hehe...

Namanya juga salah kaprah, kekeliruan mengartikan ABSEN ini sudah sangat meluas di masyarakat. Orang asing dipastikan bingung begitu mengetahui ABSEN ternyata sangat jauh maknanya dari bahasa Inggris.

Syukurlah, KBBI tidak ikut arus salah kaprah di masyarakat. KBBI mengartikan ABSEN dengan tidak masuk atau tidak hadir. ABSENSI ketidakhadiran. Sidang IN ABSENTIA sidang tanpa kehadiran terdakwa.