28 October 2014

Revolusi Batik Presiden Jokowi

Sejak kampanye Joko Widodo berkali-kali bicara soal revolusi mental. Maksudnya? Perlu pembahasan yang panjang lebar karena masalah mental ini memang abstrak. Rakyat kecil tahunya hal-hal konkret seperti harga sembako murah, berobat tidak perlu bayar, biaya sekolah anak murah, bahkan gratis.

Saking abstraknya, revolusi mental ini mulai dilupakan orang. Rakyat mulai ngeh dengan gebrakan Jokowi saat membacakan nama-nama menteri kabinet kerja Ahad petang. Semua calon menteri pakai baju putih, bawahan hitam. Presiden dan wapres pun begitu.

Pemandangan yang sangat biasa, merakyat, mirip mahasiswa baru yang sedang ospek. Semua pakai baju putih karena memang hampir semua orang memilikinya. Begitu pula celana hitam. Dus, tidak perlu beli jas atau meminjam setelan jas dari teman atau tetangga.

Revolusi busana pejabat benar-benar kentara saat para menteri dilantik kemarin, 27 Oktober 2014. Semua pakai batik. Jokowi-JK pakai batik. Baju yang sudah jadi dress code wajib setiap Jumat di semua kantor pemerintah dan swasta dalam dua tahun terakhir.

Dari dulu kita sudah mendengar banyak wacana tentang baju batik, gaya hidup sederhana, tapi berakar pada budaya bangsa. Jokowi tak banyak bicara tapi langsung kasih contoh. Benar-benar revolusi mental di bidang busana pejabat.

Di awal kemerdekaan, ketika republik masih serba kekurangan, Presiden Soekarno dan menteri-menterinya pakai setelan jas. Para pejabat pada era 1950an dan 1960an, seperti kita lihat di buku-buku, juga selalu pakai setelan jas di acara-acara resmi. Presiden Soeharto sejak kabinet ampera hingga kabinet pembangunan terakhir jelang lengser pun pakai setelan jas yang dianggap busana formal, resmi.

Apalagi Presiden SBY yang dikenal paling teliti menjaga penampilan. Busananya jas, kata-kata dan bahasa tubuhnya sangat formal.

Syukurlah, kali ini kita ditakdirkan untuk punya Presiden Jokowi yang lain dari lain. Tak punya retorika yang hebat ala SBY, apalagi Bung Karno, Jokowi justru langsung menggebrak dengan dress code baju batik dan kemeja putih bawahan hitam. Inilah revolusi mental yang konkret. Mengamalkan butir ketiga Trisakti: berkepribadian di bidang budaya!

Mudah-mudahan Presiden Jokowi tidak diinterpelasi koalisi merah putih di DPR karena membongkar kebiasaan lama yang sudah berakar sejak 1945 itu!


Sent from my BlackBerry

Tantangan Menteri Saleh Husin dari NTT



Ada satu orang NTT (Nusa Tenggara Timur) di kabinet kerja Jokowi-JK. Namanya Saleh Husin, menteri perindustrian. Sebagai orang NTT, saya senang karena provinsi kecil yang dianggap terbelakang ini punya wakil di pemerintahan.

Sayang, posisinya di perindustrian kayaknya kurang tepat. Presiden Jokowi sepertinya kesulitan menemukan posisi yang pas untuk politikus Hanura ini. Saleh Husin tak punya rekam jejak yang kuat di dunia industri. Lha, kok dipasang di situ?

Kalau memang harus orag Hanura, mengapa Pak Wiranto tidak menyodorkan nama-nama lain yang cocok di industri dan perdagangan? Tapi, begitulah, menyusun kabinet yang harus kompromi, sarat kepentingan, tarik-menarik, memang tidak gampang. Maka, Saleh Husin pun masuk dengan segala kontroversi, khususnya dari pelaku industri.


Saleh Husin yang politisi tulen kayaknya lebih cocok di posisi menteri desa dan pembangunan daerah tertinggal. Sebab, Saleh ini berasal dari Pulau Rote, pulau terluar paling selatan Indonesia, dekat Australia. Satu pulau dengan Obbie Messakh, pencipta lagu pop lawas yang pernah sangat terkenal di industri musik.

Dari Kupang ke Pulau Rote, butuh waktu 2-3 jam dengan kapal laut. Itu pun jadwalnya tidak jelas. Ombaknya pun cukup besar. Karena itu, Rote-Ndao dan Sabu-Raijua sering dianggap sebagai pulau terpencil di NTT meskipun dulu masuk Kabupaten Kupang. Jarang mendapat perhatian pemerintah. Infrastrukturnya payah. Karena itu, setelah reformasi, dibuatlah dua kabupaten baru: Kabupaten Rote-Ndao dan Kabupaten Sabu-Raijua.

Di balik posisinya yang terpencil, Pulau Rote punya daya tarik paling besar di NTT. Mengapa? Gadis-gadisnya dianggap paling cantik di NTT, rambut lurus, kulitnya tidak gelap. Betapa senangnya laki-laki Flores jika bisa mempersunting nona manis dari Pulau Rote. Tapi harga yang harus dibayar terlalu besar: belisnya yang mahal dan... harus ikut agama si nona: jadi Protestan! Sangat sulit melobi si nona ikut Katolik.

Nah, Saleh Husin ini memang politisi yang gigih. Gencar banget sosialisasi untuk mengambil hati pemilih di NTT bagian selatan yang mayoritas kristiani. Pak Saleh beragama Islam. Kerja keras, ngotot, pasang baliho paling banyak, bikin turnamen sepak bola antarkampung... membuat dia lolos terus ke Senayan. Dan jadi orang penting di Partai Hanura.

Pengangkatan Saleh Husin sebagai menteri perindustrian ini mengingatkan saya pada Dr Sonny Keraf yang ditunjuk Presiden Megawati Soekarnoputra sebagai menteri lingkungan hidup. Sonny Keraf berasal dari Pulau Lembata, juga pulau kecil yang lumayan terpencil di NTT. Begitu diumumkan Pak Sonny paling banyak diserang karena dianggap tidak punya rekam jejak di bidang lingkungan hidup.

"Kok dosen filsafat jadi menteri lingkungan hidup? Aneh!" begitu kecaman saat itu.

Tapi, dalam perjalanan waktu, kritikan mereda seiring kinerja Sonny Keraf yang tidak jelek-jelek amat. Sonny bisa belajar cepat, memahami kementerian yang dipimpinnya, dan bisa membuat kebijakan yang strategis di bidang lingkungan hidup. Termasuk tegas pada perusahaan-perusahaan yang dianggap merusak lingkungan.

Sinisme terhadap Menteri Saleh Husin pun harus dijawab dengan kerja, kerja, kerja, kerja.

Suroan di Kelenteng Cokro Surabaya

Perayaan tahun baru Jawa, 1 Suro, di kelenteng? Itulah yang terjadi di Kelenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya, Sabtu 25 Oktober 2014. Tradisi Suroan ini, yang sejatinya perayaan tahun baru Islam, bahkan sudah lama diadakan di kelenteng yang didirikan pada 1919 itu.

Layaknya masyarakat Jawa yang benar-benar njawani, kejawen, warga Tionghoa di kelenteng ini menyiapkan tumpeng lengkap. Kalau tidak salah, kemarin ada sekitar 50-60 tumpeng yang ditatakan di halaman kelenteng. Nama-nama pemilik tumpeng kemudian dibacakan agar didoakan secara khusus oleh Kiai Abdul Wahab, seorang modin atau ulama Islam asal Surabaya.

Tepat pukul 12.00 ritual Suroan ala Kelenteng Cokro dimulai. Umat duduk lesehan di halaman, dekat tumpeng, mengikuti doa yang dipimpin Kiai Wahab. Luar biasa! Bayangkan, rohaniwan muslim diminta memimpin doa bersama yang diikuti jemaat kelenteng yang sudah pasti bukan Islam.

"Ini kan tahun baru Islam. Jadi, lebih cocok yang mimpin doa ulama Islam. Kita lebih menekankan kebersamaan dan pelestarian tradisi budaya Jawa," kata Ibu Juliani Pudjiastuti, pengurus Kelenteng Hong San Ko Tee.

Sementara itu, Suhu Gunawan, rohaniwan Tridharma, duduk berdampingan dengan Kiai Wahab. Suhu Tionghoa-Surabaya ini sibuk mengurus perapian dan memercikan air suci (airnya sih aqua botolan) kepada jemaat. Ada juga biksu asal Thailand yang duduk meditasi di halaman.

Kiai Wahab memimpin doa dalam bahasa Jawa halus, dicampur Arab dan Indonesia. Isinya sangat universal: memohon kebijaksanaan untuk Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla serta kesejateraan dan kemakmuran untuk warga Indonesia. Khususnya umat Kelenteng Hong San Ko Tee. Khususnya lagi umat yang mnyumbang tumpeng suroan tadi.

Upacara berangsung selama 40-an menit. Tumpeng-tumpeng itu kemudian dibawa pulang oleh si empunya untuk bancakan tetangganya di rumah. Sebagian tumpeng dinikmati ramai-ramai di halaman kelenteng. Enak banget nasi kuning siang itu!

Saya pun mengajak sang biksu asal Thailand itu untuk makan siang bersama. Menikmati tumpeng khas Jawa di hari pertama bulan Suro atawa Muharram. Sang biksu langsung menjawab dengan bahasa Inggris, "No, no, no... thanks!"

Lho, kenapa? Nasinya enak banget?

"Kalau yang memberkati itu Sang Buddha, saya mau makan. Tapi makanan itu kan yang berkati dewa-dewa Tionghoa," ujarnya seraya tersenyum.

Hehehe... Saya hanya bisa tertawa kecil. Geli sekaligus sangat memahami prinsip dan keyakinan sang biksu.

22 October 2014

Guruh dan Titiek main HP

Ada foto menarik di Jawa Pos halaman dua edisi Rabu 22 Oktober 2014. Dua anak mantan presiden yang sama-sama anggota DPR RI berada di ruang sidang paripurna. Begitu dekat jarak antara Guruh Soekarnoputra dan Titik Soeharto itu.

Tapi tak ada percakapan di antara mereka. Guruh dan Titik sama-sama sibuk memelototi HP masing-masing. "Titik dan Guruh berbincang di sela rapat paripurna DPR yang membahas penetapan anggota kelengkapan DPR kemarin," tulis caption Jawa Pos.

Hehehe.... Berbincang apa? Pembuat caption itu rupanya kurang teliti memperhatikan foto yang dijepret Mustafa Ramli. Atau, mungkin ingin meledek kebiasaan lama anggota dewan yang dalam 10 tahun ini sangat doyan main ponsel di sidang-sidang resmi.

Yang pasti, foto Guruh dan Titik main ponsel, juga seorang anggota dewan di samping Guruh, sekali lagi menggembarkan revolusi digital yang telah mengubah pergaulan antarmanusia. HP, tablet, BB, atau apa pun namanya, telah menjadi bagian dari hidup manusia hari ini. Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh!

Katakanlah Guruh sedang chatting dengan X di Pondok Indah. Dua jam kemudian, saat bertemu muka, bisa dipastikan tak ada omong-omong di antara mereka. Karena si Guruh dan si X akan chatting dengan teman yang jauh lagi.

Guruh, adik kandung Megawati Soekarnoputri, pentolan PDIP, bukannya memanfaatkan waktu luang itu untuk omong-omong santai dengan Titik, petinggi Golkar, putri Pak Harto, sekadar lobi atawa mencairkan suasana. Ngobrol untuk meluluhkan kebekukan koalisi Prabowo yang masih ingin menguasai semua komisi dan alat kelengkapan DPR lainnya.

Jangan lupa, Mas Guruh, Mbak Titik itu mantan istri Prabowo Subianto, calon presiden sekaligus orang nomor satu di koalisi oposisi alias koalisi merah putih. Meskipun sudah bercerai, hubungan Titik dengan Prabowo sebetulnya masih cukup harmonis. Sebab, mantan pasutri ini punya seorang putra yang menjadi tanggung jawab bersama.

Kalau saja Titik dilobi, kemudian menghubungi Pak Prabowo, rasanya PDIP tidak akan kalah telak 5-0 atau 8-0 seperti sekarang. Sayang, politikus dan seniman sekaliber Guruh Soekarnoputra malah lebih asyik main HP. Yah, pantas aja kalau koalisi pimpinan PDIP itu kalah melulu.


Sent from my BlackBerry

21 October 2014

Kwik Kian Gie kok begitu?

Sudah sangat lama saya tidak membaca analisis ekonomi Kwik Kian Gie. Sebab memang tulisan Pak Kwik tidak muncul di koran-koran utama seperti Jawa Pos, Kompas, atau Tempo. Mungkin Pak Kwik sibuk mengurusi sekolah, kampus, atau perusahaannya sehingga tidak sempat menulis?

Eh, secara tak sengaja saya menyaksikan Kwik Kian Gie muncul di tvOne saat saya mampir ke sebuah kafe. Acara ILC yang dipandu Karni Ilyas. Pak Kwik dikasih kesempatan bicara cukup lama.

"Kok gini ya omongan Pak Kwik? Tidak seperti Pak Kwik yang analisis ekonomi politiknya saya baca bertahun-tahun. Bahkan bukunya saya beli," kata saya dalam hati.

Bukan apa-apa. Omongan Kwik Kian Gie di forum ILC itu kata orang Jawa: sengak! Gak enak didengar. Begitu berbeda dengan suara mayoritas rakyat Indonesia dan kalangan penggiat demokrasi.

Kwik Kian Gie masih mengaku kader PDI Perjuangan tapi kritiknya terhadap PDIP, Jokowi, Megawati sangat keras. Lebih keras daripada partai-partai yang jelas musuh ideologis PDIP. Jokowi yang sudah dilantik jadi presiden pun disikat habis-habisan.

Seakan-akan semua omongan dan kebijakan Jokowi itu salah, gak ada yang benar. Yang benar itu ya Kwik Kian Gie itu. Karni Ilyas sang moderator pun seakan memberi angin kepada Kwik untuk menumpahkan semua unek-uneknya yang panas terhadap Jokowi. "Kok jadi gini Kwik Kian Gie yang dulu teman seiring barisan oposisi Orde Baru?" saya membatin.

Pemikiran Kwik Kian Gie soal BBM pun rasanya lain sendiri. Sejak dulu dia menafikan argumentasi pemerintah tentang besaran subsidi. Andai saja cara berpikir Kwik ini dipakai, pemerintah tak perlu pusing dengan subsidi yang membengkak. Argumentasi Kwik ini selalu dipakai pihak oposisi yang menolak beleid kenaikan harga BBM.

Posisi Kwik Kian Gie sebelum dan sesudah reformasi rupanya sudah jauh berbeda. Kalau dulu dia jadi bahan bakar barisan pro demokrasi untuk melawan hegemoni Orde Baru, kini Kwik cenderung berseberangan dengan arus demokrasi. Misalnya, Kwik getol membela pemilihan kepala daerah secara tidak langsung.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa analis-analisis ekonomi politik Kwik Kian Gie tidak lagi muncul di media-media utama. Kecuali tvOne pimpinan Karni Ilyas yang sangat gigih membela koalisi Prabowo Subianto.


Sent from my BlackBerry

Pidato Jokowi, Bung Karno, dan SBY

Pidato pertama Presiden Joko Widodo beberapa menit setelah resmi jadi presiden ketujuh sangat menarik. Kita langsung diingatkan pada retorika Bung Karno, presiden pertama yang memang orator hebat sepanjang sejarah Indonesia. Di bagian pembukaan, Jokowi langsung mengutip tiga butir konsep Bung Karno tentang Trisakti.

Sangat terasa bahwa Jokowi berusaha menghidupkan kembali konsepsi Bung Karno tentang kemandirian politik, ekonomi, berkepribadian di bidang kebudayaan. Jokowi juga memakai istilah CAKRAWARTI, yang dulu sangat sering dipakai Bung Karno dalam pidato-pidatonya.

Jokowi bukan politikus yang pandai bicara. "Tidak bisa bicara dengan banyak kalimat dan kalimat panjang," kata Dr Fachri Ali, pengamat politik. Selalu ada jeda di beberapa kalimatnya, seperti mikir kata apa yang harus dipakai untuk menyelesaikan kalimatnya.

Tapi, bagi saya, pidato Jokowi baik di depan MPR maupun di depan ribuan orang di Monas, Jakarta, 20 Oktober 2014, sama-sama menariknya. Sama-sama genuine mencerminkan kepribadian seorang presiden yang tumbuh dari bawah. Jokowi tidak membacakan pidato, yang ditulis orang, kayak Presiden Soeharto, yang sangat menjemukan itu.

Gaya pidato Jokowi, meskipun tertulis dan dibacakan, tetaplah lisan. Spontanitasnya terasa. Mirip Bung Karno yang suka mengulang beberapa kata atau frase untuk penekanan. Bekerja bekerja dan bekerja! Gaya retorika lisan inilah yang membuat pidato Bung Karno dan Gus Dur selalu ditunggu-tunggu masyarakat.

Jokowi yang kayaknya mencontek gaya idolanya, Bung Karno, pun bakal memberi warna tersendiri selama lima tahun masa kepresidenannya. Kata-katanya sederhana, membumi, tidak pakai bahasa yang ndakik-ndakik ala makalah dosen, tidak pakai kutipan frase bahasa Inggris yang sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Gaya bahasa Presiden Jokowi ini berbanding terbalik dengan Presiden SBY. Kemarin sore SBY berpidato, lisan, untuk menyambut Jokowi di Istana Negara. Kehebatan SBY adalah mampu berbahasa akademis-tertulis ala makalah ilmiah meskipun bicara lisan informal. Kalimat-kalimat SBY sangat runut dan lancar. Kayak otomatis!

Tapi, justru karena mirip membacakan makalah ilmiah, meskipun SBY sebetulnya tidak bermaksud begitu, sambutan-sambutannya menjadi kurang enak diikuti. Sebaliknya, sangat bagus untuk artikel opini di surat kabar atau majalah. Begitu bagusnya susunan kalimat SBY, meskipun lisan, redaktur tidak perlu mengedit lagi kalau ingin dimuat di koran.

Sebaliknya, pidato Jokowi yang sangat lisan kurang begitu cocok untuk makalah atau artikel koran. Si redaktur perlu mengedit, bahkan harus membuang banyak bumbu penyedap seperti nama-nama begitu banyak profesi yang disebut Jokowi. Begitu pula pengulangan kalimat yang bisa dua sampai empat kali.

Sebagai pembaca transkripsi pidato-pidato Bung Karno (tadi baru baca pidato berjudul Tetap Terbanglah Rajawali, 17 Agustus 1955), saya mengucapkan selamat datang kembali retorika segar ala sang proklamator. Meski hanya membaca transkripsinya, saya bisa membayangkan betapa bergeloranya semangat Bung Karno. Dan betapa antusiasnya jutaan orang Indonesia yang menyimak pidato baik langsung maupun lewat radio.

Seperti Bung Karno, Jokowi ini tipe solidarity maker yang punya pesona di depan ribuan khalayak. "Seribu dewa dari kayangan tak dapat menghancurkan kemerdekaan sesuatu bangsa jikalau bangsa itu hatinya telah berkobar-kobar dengan api kemerdekaan!" kata Bung Karno 59 tahun lalu.

Selamat bertugas Presiden Jokowi!
Sent from my BlackBerry

17 October 2014

Mbah Sam fotografer Tionghoa Sidoarjo

Mbah Sam yang mracang di depan kantor Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, ternyata fotografer kawakan. Melihat penampilannya, pria 74 tahun ini sama saja dengan kakek-kakek biasa. Tapi, begitu diajak bicara, wow, pengetahuannya tentang masa lalu, khususnya Sidoarjo tempo doeloe sangat luas.

"Saya punya foto-foto lama, khususnya yang mengambil objek di Kecamatan Taman," kata Mbah Sam kepada saya Jumat siang (17 Oktober 2014).

Maklum, pada 1960an hingga 1990an belum ada kamera digital. Kamera analog juga langka dan mahal. Karena itu, hanya orang-orang beruang saja yang hobi jeprat sana sini tanpa mengharapkan dapat uang. "Saya spesialis human interest. Kalau ada peristiwa-peristiwa penting, saya usahakan motret," kata pria Mbah Sam seraya tersenyum.

Saya pun curiga kakek yang pakai nama Arab ini keturunan Tionghoa. "Maaf, nama Tionghoa panjenengan siapa?"

"Lee Tjin Sam. Teman-teman di sekolah Tionghoa dulu biasa panggil saya Tjin Sam. Sekarang saya disapa orang-orang di sini Mbah Sam," kata sang fotografer yang kini harus duduk di kursi roda karena kecelakaan lalu lintas itu.

Dugaan saya memang tepat. Mbah Sam kemudian meminta saya melihat beberapa foto lawas hasil jepretannya. Ada makam Tionghoa yang dibongkar untuk perumahan. Toko-toko Tionghoa di jalan protokol. Hingga sekolah Tionghoa. "Sekolah kami tutup setelah peristiwa 30 September 1965," katanya.

Lokasi sekolah Tionghoa tingkat sekolah dasar itu sekarang jadi SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Beberapa rumah berarsitektur Tionghoa masih ada. Hanya saja kusam karena tidak terawat.

Yah, dulu Sepanjang yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya ini punya banyak warga Tionghoa. Setelah tragedi politik berdarah itu, menyingkir ke Surabaya. Tapi masih lumayan warga Tionghoa yang tinggal dan menyatu dengan penduduk lokal. Termasuk Pak Bingky Irawan, tokoh agama Khonghucu di Indonesia.

Kelentengnya dulu di mana? "Ya, satu kompleks dengan sekolah Tionghoa itu. Orang Tionghoa yang mau sembahyang selalu datang ke situ," tutur Mbah Sam.

Sempat diubah fungsi jadi tempat pertemuan warga Tionghoa, kelenteng itu kemudian tutup. Tak ada bekasnya lagi. Sudah diratakan untuk bangunan sekolah Muhammadiyah itu. "Peristiwa tahun 1960an itu mengubah begitu banyak hal di Taman ini. Kondisi sekarang sudah sangat berbeda," katanya.

Ngobrol dengan orang tua yang kaya pengalaman dan wawasan ini memang asyik nian. Saya jadi betah berlama-lama di kios sederhananya yang berdebu. Apalagi Mbah Sam ini suka guyon dan blak-blakan.

"Dulu saya ini petualang. Tapi, alhamdulillah, sekarang sudah taubat nasuha. Saya ingin mengakhiri perjalanan panjang ini dengan baik. Insya Allah," kata Mbah Sam.

Saya begitu kagum dengan memori di kepala Mbah Sam yang luar biasa. Dia ingat persis tahun-tahun kapan peristiwa di dalam fotonya itu terjadi. Seperti kapan makam Tionghoa dibongkar. Kapan Gubernur Sunandar meresmikan perumahan khusus untuk tunawisma di dekat kantor Polsek Taman sekarang.

"Perumahan tunawisma itu nggak ada lagi karena dijual penghuninya. Kemudian ditempati banyak orang baru sehingga jadi kampung padat," katanya.

Wow, ternyata dulu negara menyediakan perumahan khusus untuk gelandangan dan pengemis. Bukan hanya sekadar razia, menangkap, tapi tidak kasih solusi. Itu semua direkam Mbah Sam lewat kamera analognya.

Kamsia Mbah Sam!

Sekolah Tionghoa di Sepanjang, Taman, Sidoarjo, tinggal kenangan. (foto: Lee Tjin Sam).

Lagu rohani Batak yang berkesan

Ho do rajakku sipalua i
sahat tu surgo au
binaenni mudarmi

Ho do rajakku
naung manobus au
dang be mabiar au
tu hamatean i.


Seorang laki-laki 30an tahun bersenandung di sebuah warung kopi di Bungurasih, Sidoarjo. Aneh juga, pikir saya. Di lingkungan macam ini ada lagu rohani lawas yang melodinya sangat saya kenal: Hodo Rajaku!

"Di sini memang banyak orang Batak. Mereka punya gereja sendiri di ruko itu," kata Bu Kartika, pengurus sekolah Minggu yang juga bermarkas di ruko dekat Terminal Purabaya.

Oh, pantas saja kalau lagu pop rohani Batak itu disenandung abang asal Batak di warkop. Setiap Minggu ramai sekali. Selepas kebaktian, beberapa jemaat menghabiskan waktu di warkop. Ngobrol, lepas kangen, tertawa... dan minum tuak, eh bir bintang. Satu botol Rp 35 ribu.

Asyik juga.

Dulu, ketika masih SMP di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, saya sering banget mendengar lagu rohani Batak itu diputar Kak Marta di sebelah rumah. Kebetulan rumah itu punya salon besar. Maka lagu-lagunya menyebar ke mana-mana. Lagu Kaulah Rajaku, versi Indonesianya, pun semacam jadi lagu kami di tanah Nagi.

Kalau tidak salah ingat, yang diputar Kak Marta itu versinya Julius Sitanggang. Ada juga versi Victor Hutabarat. Di bagian refren, anak-anak secara spontan menyanyi bersama-sama:

"Kaulah rajaku, Kau penebusku
Damailah hidupku oleh kasih-Mu..."

Melodi lagu ini, bagi saya dan teman-teman di Flores saat itu, indah luar biasa. Ada semacam klimaks di refren saat kita bersama dengan suara yang makin tinggi dan keras bersama-sama memuji Sang Raja.

Belakangan setelah pindah ke Jawa Timur, baru saya tahu bahwa lagu itu aslinya pop rohani Batak. Ciptaan Dakka Hutagalung, salah satu komposer hebat yang sangat fenomenal di kalangan warga Tapanuli. Belakangan, setelah ada YouTube, saya akhirnya sadar bahwa lagu ini memang sangat-sangat terkenal di kalangan umat kristiani dari Sumatera Utara.

Karena itu, tidak heran di siang yang terik itu ada seorang lelaki bersenandung lagu ini. Sambil main kartu.


Sent from my BlackBerry

16 October 2014

Rumah tua di Balongbendo Sidoarjo



Sejak zaman Belanda wilayah Kabupaten Sidoarjo yang sekarang merupakan daerah pertanian yang luar biasa. Pemerintah Hindia Belanda bahkan membangun sekitar 16 pabrik gula. Saat ini tinggal 4 yang beroperasi. Selain tebu, komoditas tembakau dan padi juga jadi andalan warga Sidoarjo.

Tidak heran di Sidoarjo ini banyak rumah-rumah tua, luas, tinggi, unik, arsitektur kolonial, di berbagai kawasan. Salah satunya di Kecamatan Balongbendo. Dulu ada Pabrik Gula Balongbendo yang sangat terkenal. Pabrik tua ini kemudian tutup, diganti pabrik tekstil Ratatex (Rahman Tamin Textile) yang pernah sangat terkenal. Kemudian tutup juga.

Salah satu kawasan menarik di Kecamatan Balongbendo adalah Desa Penambangan. Kampung pinggir Sungai Brantas yang dekat Kabupaten Gresik dan Kabupaten Mojokerto. Konon Penambangan ini tempo doeloe jadi sentra ekonomi di kawasan barat Jenggolo (nama Sidoarjo pada era Hindia Belanda). Kita masih bisa melihat beberapa bangunan lama berarsitektur Tionghoa di kampung itu.

Yang paling menarik adalah rumah tua di RT 11 RW 3 Desa Penambangan. Bangunan rumahnya sangat besar dengan halaman yang jembar. Pasti rumah saudagar kaya tempo doeloe. Sebab, di kompleks itu ada gudang tembakau dan tempat selep atau penggilingan padi. Sampai tahun 1980an selep itu bisa dikatakan paling besar di Sidoarjo.

"Saya generasi keempat yang tinggal di sini," kata Taufik Hidayat. Pak Taufik ini cicit dari almarhum Haji Abdul Wahab, saudagar kaya di Balongbendo.

Taufik bercerita, mbah buyutnya itu membeli rumah lawas ini dari pedagang Tionghoa yang terjerat utang. Mbah Wahab melihat lokasi rumah yang strategis, dekat sungai, jalur transportasi utama pada masa lalu. Di dekat rumah ada dermaga untuk bongkar muat hasil bumi, khususnya tembakau.

Sepeninggal Mbah Wahab, kakek Taufik meneruskan bisnis besar itu. Hingga perekonomian berubah setelah kemerdekaan. Pabrik Gula Balongbendo tutup. Usaha tembakau pun tak lagi seksi. Namun, bangunan tua itu masih terawat sampai sekarang. Termasuk musala di samping rumah yang biasa dipakai untuk pengajian.

Masjid kecil itu tidak akan dibongkar, sesuai pesan mbah-mbah yang mewariskan rumah itu. Meski Taufik sekeluarga beragama kristiani. "Wasiat almarhum selalu kami pegang teguh. Dan kami berusaha sebisa mungkin merawat rumah ini," kata putra Semaun Mukti ini.

Biaya perawatan bangunan tua ini memang tidak murah. Untuk mengganti genting saja, kata Taufik, biayanya hampir sama dengan membangun sebuah rumah sederhana. Karena beban yang berat ini, bekas gudang tembakau dan penggilingan padi tampaknya dibiarkan mangkrak. Hanya rumah induk yang sangat terawat.

Belakangan banyak anak muda, pelajar, mahasiswa, atau komunitas pencinta sejarah mampir untuk melihat (dan mengagumi) rumah tua. Wow, betapa nyamannya tinggal di rumah mewah ala Hindia Belanda itu. Taufik mengaku welcome dan senang dengan aspirasi warga Kota Delta. "Ada juga pasangan calon pengantin yang foto prewedding," katanya.

Sayang, tradisi jual beli makanan rakyat di halaman rumah ini tidak ada lagi. Acara-acara kesenian yang mengundang ratusan warga pun tak lagi diadakan. Akibatnya, Taufik dan istri kesepian tinggal di rumah peninggalan sang kakek buyut itu. Apalagi anak semata wayangnya kuliah di Surabaya.

Orang Tionghoa yang bukan pedagang

Orang Tionghoa di Indonesia identik dengan pedagang. Mulai pedagang kelontong hingga bos yang punya banyak pabrik. Karena itu, ketika melihat Ahok jadi gubernur Jakarta, dengan gayanya yang blak-blakan dan unik, mayoritas orang Indonesia terkejut. Yang terkejut ini bukan hanya pribumi tapi juga Tionghoa sendiri.

Dua hari lalu saya didatangi mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya. Olivia namanya, tinggal di Taman, Sidoarjo. Di otak saya, ayah si Olivia ini pasti pedagang atau pebisnis. "Papamu bisnis apa?" tanya saya. 

Pertanyaan standar ketika kita bertemu warga keturunan Tionghoa. Kalau ketemu pribumi, pertanyaan kita: Anda kerja di mana? Di bagian apa?

"Papaku pendeta," kata Olivia mantap. Oh, Tuhan, saya kena batunya. Termakan oleh stereotipe, generalisasi, yang memang ada di alam bawah sadar saya. Memang sangat jarang, bahkan baru kali ini, pertanyaan standar "papamu bisnis apa" dijawab pendeta. 

Saya tahu banyak sekali pendeta Tionghoa, khususnya di gereja-gereja aliran pentakosta dan karismatik, di Jawa Timur. Tapi mendengar langsung ucapan seorang Tionghoa, anak pendeta, baru kali ini. "Wah, papamu benar-benar melaksanakan sabda kitab suci. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran...."

Olivia tertawa kecil. Lalu, obrolan kembali ke topik utama. Tak lagi bahas masalah pribadi, Tionghoa, pendeta, kristiani, dan sebagainya. Olivia cuma ingin wawancara tentang sistem kerja di newsroom sebuah surat kabar untuk tugas kuliahnya.

Diam-diam, setelah Oliv pulang, saya merenung sendiri. Pasti tidak gampang bagi orang Tionghoa yang memilih jalan hidup sebagai pendeta. Profesi yang sangat jauh dari template di kalangan masyarakat Tionghoa di tanah air. 

Bagaimana bisa membiayai anak istri? Beli rumah pakai apa? Masa depannya? Bukankah lebih enak punya banyak uang? Dan itu hanya bisa lewat perdagangan dan bisnis?

"Orang Tionghoa yang jadi seniman atau rohaniwan itu harus nekat. Harus tahan kritik dari lingkungan keluarga," kata Lim Keng, almarhum, pelukis terkenal di Surabaya. 

Lim Keng dulu jadi bahan gunjingan keluarga, teman, dan orang-orang Tionghoa karena nekat memilih jalan kesenian. Bahkan, istri dan dua anaknya pun menyingkir ke kota lain karena memilih jalan dagang. Tapi Lim Keng merasa bahagia dan bertahan dengan dunia seni lukis sampai ajal menjemput.


BBM jadi ujian berat Jokowi

Masa bulan madu dengan Joko Widodo tak akan bisa lama. Setelah dilantik jadi presiden, 20 Oktober 2014, presiden yang tidak disukai koalisi Prabowo di parlemen ini langsung berhadapan dengan persoalan bahan bakar minyak (BBM). Harganya dinaikkan atau tidak? Kapan dinaikkan? Negosiasi dengan parlemen bagaimana?

Sudah lama Presiden SBY ditekan agar segera menaikkan harga BBM. Alasannya macam-macamlah. Tapi, bisa ditebak, SBY memilih bermain aman. Bola panas itu diserahkan kepada Jokowi.

Sudah bisa dipastikan, koalisi Prabowo akan menolak rencana kenaikan harga BBM. Fadli Zon dari Gerindra berkali-kali meminta pemerintah kreatif. Masih banyak cara lain untuk mengatasi masalah APBN. Opsi menaikkan BBM bukan satu-satunya. Kalau harga BBM naik, semua rakyat akan susah. Harga-harga pasti naik lebih dulu. Sementara penghasilan masyarakat tetap saja, kecuali anggota parlemen di Senayan.

Siapa pun presidennya, pilihan menaikkan harga BBM di Indonesia sangat tidak populer. Dia akan dimaki-maki rakyat karena dianggap tidak peduli wong cilik. Partai-partai yang punya kader di DPR RI  juga memanfaatkan isu BBM ini untuk mengambil hati rakyat. Karena itu, PDI Perjuangan biasanya getol menolak kebijakan pemerintahan SBY menaikkan harga BBM. Oposisi ya memang begitu.

Setelah jadi partai pemerintah, giliran PDI Perjuangan yang akan berjuang keras agar harga BBM dinaikkan. Sebaliknya, Demokrat yang kini d luar pemerintahan tentu memilih posisi yang sama dengan PDI Perjuangan selama 10 tahun terakhir. Akal sehat ekonomi, ancaman jebolnya APBN, dikesampingkan sesuai dengan posisi politik sebuah partai .

Kalau mau fair, sebetulnya sebagian besar rakyat Indonesia sudah sadar bahwa subsidi BBM yang berkepanjangan sangat berbahaya bagi perekonomian bangsa. Apalagi, katanya, yang paling banyak menikmati subsidi itu justru orang-orang kaya yang punya mobil satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Termasuk mobil-mobil mewah.

Orang sudah kaya-raya kok disubsidi? Sementara rakyat miskin yang tidak punya mobil dan sepeda motor hanya disubsidi tiga bulan lewat uang balsem (bantuan langsung sementara) yang cuma Rp 150 ribu per bulan. Di manakah keadilan sosial itu?

Maka, rakyat Indonesia sebenarnya setuju saja kalau semua mobil yang beredar di Indonesia wajib minum BBM tanpa subsidi. Para pemilik mobil pasti membeli bensin seharga Rp 10 ribu per liter. Wong beli mobil aja bisa, masa beli bensin gak bisa? Hanya kendaraan umum berhak mendapat BBM subsidi sehingga ongkos transportasi tidak mahal. Dibuat semurah mungkin agar rakyat ramai-ramai berpindah ke bus kota, angkot, dan sebagainya.

Persoalannya adalah ini: sepeda motor! Mayoritas rakyat Indonesia itu ekonominya tanggung. Medioker. Tidak kaya, sehingga tidak bisa membeli mobil, tapi juga bukan masuk kategori penerima balsem tadi. Kalau bensin dinaikkan jadi Rp 8.000 atau Rp 9.000, maka bisa dipastikan para pemilik motor yang jumlahnya puluhan juta ini turun kelas ke warga balsem. Dan itu akan menimbulkan gejolak yang luar biasa.

Jalan tengahnya: pemerintah mencabut subsidi untuk mobil pribadi, biarlah mereka membeli bensin Rp 9500 atau Rp 10 ribu, tapi sepeda motor tetap menikmati subsidi. Naikkan saja bensin subsidi dari Rp 6500 ke Rp 7000. Harga bensin subsidi untuk kendaraan umum tetap, bahkan kalau perlu diturunkan.

Skema jalan tengah inilah yang gagal diwujudkan Presiden SBY selama 10 tahun pemerintahannya. Menteri-menteri dan para pemikir yang mendampingi SBY tidak mampu menemukan skema jalan tengah itu tadi. Opsi termudah ya menaikkan harga BBM secara pukul rata. Ya, jelas saja rakyat kelas motor tadi unjuk rasa di mana-mana.

Sedekat-dekatnya hubungan emosional Jokowi dengan wong cilik, rakyat kecil, jika harus membeli bensin seharga Rp 9000 untuk minum motornya, mereka akan marah! Sebab, penghasilan bulanan pekerja di Jawa Timur yang rata-rata Rp 2 juta (itu pun banyak pengusaha yang belum mampu bayar Rp 1,5 juta) tidak akan cukup untuk hidup untuk satu bulan.

Mudah-mudahan saja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla bisa menemukan solusi terbaik untuk mayoritas rakyat Indonesia. Kalau tidak, rakyat banyak akan bergabung dengan koalisi Prabowo yang mengklaim bisa menyelesaikan problem kronis ekonomi Indonesia tanpa harus menaikkan harga BBM.

Semoga Jokowi lulus dari ujian berat BBM ini!

8 Mahasiswa Sidoarjo Kuliah di Taiwan




Pekan lalu, delapan alumnus SMA Wachid Hasyim, Taman, diberangkatkan ke Taiwan. Mereka akan melanjutkan studi di Shoufu University, perguruan tinggi di Taiwan yang banyak menerima mahasiswa internasional.

"Adik-adik dari Sidoarjo ini mendapat sambutan yang hangat di Taiwan," ujar Andre Su, pengurus ITC Centre, Surabaya.

Belajar di negara dengan adat istiadat, bahasa, dan sistem pendidikan yang berbeda jelas tidak mudah. Karena itu, Andre mengaku mempersiapkan anak-anak Ngelom, Taman, ini selama hampir enam bulan. Mulai dari pengenalan budaya, sistem kuliah, hingga bahasa Mandarin. "Syukurlah, ternyata mereka sudah dapat pelajaran bahasa Mandarin di sekolahnya," kata pria yang juga alumnus sebuah universitas di Taiwan itu.

Hanya saja, Andre mengingatkan bahwa bahasa Mandarin yang diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa Timur masih sangat elementer. Itu pun belum sempurna karena tidak ada penutur asli. Karena itu, delapan siswa SMA Wachid Hasyim ini mengikuti kelas intensif untuk mendalami bahasa nasional Tiongkok itu. "Saya nilai mereka sudah bisa berkomunikasi meskipun masih terbatas pada hal-hal sederhana," katanya.

Seperti mahasiswa-mahasiswa sebelumnya yang dikirim Indonesia Tionghoa Culture Centre, pria yang juga dikenal dengan nama Andrean Sugianto ini sangat optimistis anak-anak muda asal Taman ini bakal sukses dalam kuliah mereka. Adapun kendala bahasa, menurut dia, biasanya hanya dirasakan pada bulan-bulan pertama.

"Di kampus Shoufu University itu kuliahnya dalam dua bahasa. Awalnya pakai bahasa Inggris, kemudian pelan-pelan mahasiswa asing dibiasakan untuk kuliah dalam bahasa Mandarin," ucapnya.

Sembari mengikuti perkuliahan sesuai jurusan masing-masing, Andre menjelaskan, para mahasiswa asing juga digembleng dalam kelas khusus bahasa Mandarin. Mereka juga dikondisikan untuk berada di lingkungan yang sepenuhnya berbahasa Mandarin. "Itu yang membuat para mahasiswa Indonesia rata-rata bisa menyelesaikan kuliah di Taiwan dengan baik."

Sistem kuliah di Taiwan juga menggunakan satuan kredit semester (SKS) seperti di Indonesia. Hanya saja, beban kuliah jauh lebih berat karena para mahasiswa harus mengerjakan banyak tugas. Khusus mahasiswa asing harus mengikuti kelas khusus Mandarin pula. "Tapi biasanya empat tahun sudah selesai S1. Kalau molor sampai enam tahun, ya, DO," katanya.

Sebagai penerima beasiswa, menurut pria asal Gorontalo ini, delapan mahasiswa baru asal Taman ini hanya membayar 50 persen biaya pendidikan. Mereka juga mendapat fasilitas lain yang tidak dinikmati mahasiswa-mahasiswa nonbeasiswa. "Kalau ditotal, anak-anak Sidoarjo itu hanya membayar Rp 7 juta setahun. Jauh lebih murah ketimbang kuliah di Eropa atau Amerika," katanya.

10 October 2014

Indonesia U-19 mengecewakan

Sejak dibantai di Brunei Darussalam, saya kehilangan kepercayaan pada tim nasional Indonesia U-19. Saya melihat timnas yang dilatih Indra Sjafri ini punya banyak sekali kelemahan dan celah yang bisa dimanfaatkan lawan. Sebagian besar penggemar bola pun pesimistis Evan Dimas dkk bisa tampil bagus di Myanmar.
Indra boleh saja berdalih penampilan sangat buruk timnas U19 di Brunei hanya sekadar uji coba. Bukan timnas sesungguhnya. Penampilan timnas yang sesungguhnya itu di Yangon.

Sayang, klaim Indra yang juga membawa timnas beruji coba lawan Barcelona B dan Real Madrid B beberapa waktu lalu itu tidak terbukti di lapangan. Beberapa menit lalu timnas U19 jadi bulan-bulanan Uzbekistan. Kalah 3-1.

Skor 3-1 sih tidak begitu mencolok. Beda dengan 5-0, 7-1 atau 8-0. Tapi, melihat penampilan anak-anak Garuda Jaya di Stadion Yangon tadi (10 Oktober 2014), saya hanya bisa ngelus dada. Nyaris tidak ada yang bisa kita banggakan. Nyaris tidak ada manuver-manuver pemain yang ciamik seperti saat tampil gemilang di Sidoarjo dan Jakarta tahun lalu.

Evan Dimas gagal jadi playmaker. Umpan-umpan salah melulu. Lini tengah macet. Main kasar yang tidak perlu sehingga dihukum sepakan penalti. Membiarkan penyerang Uzbekistan bebas sehingga terjadi gol pertama. Dan masih banyak kelemahan lagi.

Semua kelemahan ini juga kita lihat saat uji coba di Brunei Darussalam. Lha, sama Brunei saja kalah, apalagi lawan Uzbekistan yang level bolanya di atas Asia Tenggara?

Inilah saatnya untuk menghentikan euforia berlebihan terhadap Garuda Jaya. Bahwa timnas Indonesia memang perlu banyak berbenah kalau ingin berbicara lebih jauh di level Asia. Gak usah mimpi dulu deh main di Piala Dunia jika masih kalah sama Brunei Darussalam.

09 October 2014

Fenomena Gereja tanpa gereja

Orang Kristen biasa membedakan gereja (g huruf kecil) dan Gereja (G kapital). Bangunan atau rumah ibadah itulah gereja. Sementara persekutuan umat atau jemaat disebut Gereja. Kita boleh tidak punya gereja asalkan tetap ada Gereja. Akan sangat ideal kalau sebuah Gereja punya gereja. Tapi, kalaupun tidak punya gereja, yang penting ada Gereja. Banyak bangunan gereja di Eropa mangkrak, jadi museum atau kafe, karena Gereja-nya bubar. 

Bagaimana kalau gereja sulit dibangun karena ditolak warga atau pemerintah daerah (yang antigereja)? Gampang. Sewa aula, gedung pertemuan, restoran, ruko, atau apa saja yang memungkinkan. Kebaktian di bawah pohon atau tepi pantai pun bisa. Yang penting Gereja sebagai Ecclesia masih ada. Bukankah para murid dulu pun merintis Gereja meskipun tidak punya gereja?

Karena itu, tidak heran di kota-kota besar macam Surabaya ini banyak sekali Gereja yang tidak punya gereja! Ada teman saya yang aliran karismatik dalam setahun pindah-pindah tujuh kali. Dari hotel A, kemudian hotel B, ballroom X, gedung WTC, dan sebagainya. Saking seringnya pindah-pindah tempat, Gereja-Gereja macam ini biasanya tidak punya semangat untuk bikin gereja.

"Susah dapat izin," kata seorang pendeta. "Toh, kami bisa nyewa ruangan di pusat perbelanjaan atau hotel," kata yang lain lagi.

Orang NTT, khususnya Flores, yang mayoritas Katolik, pasti sangat heran dengan fenomena Gereja tanpa gereja di Jawa yang sudah berlangsung sejak 1980an itu. Bagi orang Flores, sebuah Gereja harus punya gereja. Sebuah Gereja tanpa gereja tidak afdal. Lebih mirip doa lingkungan, sembahyang rosario keliling, atau syukuran di rumah jemaat. Begitu antara lain omongan guru agama Katolik saya di SMPK San Pankratio, Larantuka, Flores Timur, dulu.

Karena itu, bagi orang Flores, yang belum pernah merantau ke Jawa atau daerah-daerah yang kistennya minoritas, mengadakan misa atau kebaktian di hotel, ruko, restoran, garasi, rumah, gudang... dianggap tidak sah. Misa atau ibadat sabda tanpa imam harus di gereja. Paling tidak di kapel. Jangan salah, kapel di NTT umumnya lebih besar daripada gereja beneran di Jawa.

"Gereja itu harus punya tabernakel. Gereja itu bangunan khusus yang diniatkan untuk Tuhan. Kalau hotel kan bisa dipakai untuk apa saja," kata Pak Goris dari Ende yang memang Katolik puritan.

Dia juga menolak kebiasaan orang-orang karismatik Katolik di Surabaya atau Jakarta yang suka mengadakan misa di hotel atau gedung yang bukan gereja. Kebiasaan gerakan karismatik ini dianggap tidak cocok dengan ajaran Katolik. "Kecuali Anda di suatu daerah yang memang tidak ada gerejanya. Lha, kalau ada gereja lalu bikin misa di hotel atau convention hall, ya jelas aneh," kata Pak Goris.

Ucapan orang Katolik totok ini mengingatkan saya pada situasi di Sampang. Sampang adalah satu-satunya dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur yang tidak punya gereja. Pemerintah daerah, bupati, pejabat, dan beberapa tokohnya bangga karena di Kabupaten Sampang tidak ada tempat ibadah agama di luar Islam.

Lantas, apakah di Sampang memang tidak ada orang Katolik? Protestan, Pentakosta, Karismatik, Buddha, atau mungkin Hindu? Pasti ada lah. Orang Tionghoa ada di sana sejak dulu. Dan pasti ada yang nonmuslim. Pasti ada juga warga pendatang yang kristiani.

"Kami dari dulu misa pindah-pindah rumah," ujar seorang ibu Katolik, Tionghoa, pengurus Stasi Sampang, kepada saya. Belakangan umat Katolik rutin mengadakan perayaan ekaristi mingguan di sebuah gudang tua yang kondisinya kurang layak untuk ibadah. Yah, namanya saja gudang, tua pula!

Stasi Sampang ini masuk Paroki Pamekasan, kabupaten tetangganya. Bangunan Gereja Katolik di Pamekasan justru sangat megah di kawasan alun-alun nan strategis. Misa mingguan di Sampang dilayani romo ordo Karmelit (OCarm) dari Paroki Pamekasan. Sebab, Pulau Madura ini masuk Keuskupan Malang meskipun lebih dekat dengan Keuskupan Surabaya. Pembagian wilayah keuskupan di Indonesia sejak zaman Belanda memang belum diubah sampai sekarang.

Nah, Sampang ini contoh nyata Gereja tanpa gereja di Jawa Timur. Umat Katolik, kata ibu Tionghoa pengurus stasi itu, sekitar 200 orang. Aktif misa setiap Minggu, begitu juga punya kegiatan liturgis lainnya layaknya Gereja-Gereja normal meski belum diizinkan oleh pemerintah untuk membangun gereja sendiri.

"Umat Katolik di Sampang ini sangat rajin," kata mama itu.

Gereja sistem gerilya alias bawah tanah seperti di Sampang ini jelas tidak sesuai dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Seandainya umat kristiani di Sampang terlalu sedikit untuk punya gereja, pemda mestinya punya solusi. Misalnya, memfasilitasi pembangunan sebuah gereja oikumene yang bisa dipakai semua denominasi Gereja di Kabupaten Sampang secara bergiliran.

Misalnya, Katolik dapat jatah kebaktian sesi pertama. Sesi kedua untuk Protestan (GKJW, GPIB, GKI). Sesi ketiga untuk aliran Pentakosta. Seksi keempat Karismatik. Gereja Advent sudah pasti dapat jatah kebaktian hari Sabtu karena ajarannya memang menolak kebaktian hari Minggu. 

SBY kecewakan korban lumpur

Masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kurang dua minggu lagi. Sayang, beliau tidak cukup serius untuk menyelesaikan pembayaran ganti rugi untuk ribuan korban yang paling terdampak lumpur lapindo di Sidoarjo. Padahal korban lumpur ini sudah menanti selama delapan tahun.

Sebetulnya Lapindo Brantas Inc yang harus membayar ganti rugi untuk korban lumpur di peta terdampak versi Perpres 14/2007. Peta ini memang diminta Lapindo untuk melokalisir tanggung jawabnya. Lapindo tidak akan mau membayar ganti rugi di luar peta itu. Ditekan Lapindo, negara pun menyerah. Presiden SBY datang ke Sidoarjo, ngantor beberapa hari di Lanudal Juanda, kemudian keluarlah peraturan presiden itu.

Presiden SBY memberikan batas waktu lima tahun kepada Lapindo untuk menuntaskan ganti rugi. Lapindo setuju! Eh, hingga deadline habis, 2012, Lapindo masih punya tanggungan sekitar Rp 800 miliar. Duit inilah yang diminta warga untuk ditalangi dulu oleh negara alias APBN. Biarlah negara yang berurusan dengan Lapindo.

Sampai sekarang warga yang paling awal terkena dampak lumpur masih memblokade tanggul. Tujuannya untuk menekan pemerintah agar segera membayar dana talangan yang jadi kewajiban Lapindo tadi. Tiga pekan lalu pemerintah pusat akhirnya setuju menalangi. "Tapi saat ini pemerintah tidak punya uang. Tidak dianggarkan di APBN," kata Menko Perekonomian Chairul Tanjung.

Pernyataan yang makin membuat korban lumpur geram. Pak Bakri, warga Porong, tak habis pikir dengan ketidaktegasan pemerintah. Uang Rp 800 miliar sebetulnya sangat kecil untuk negara. Biaya perayaan Hari TNI di Surabaya saja sekitar Rp 20 miliar. Cuma buat pamer senjata, show of force, atraksi pesawat militer, dan selesai.

Nah, saat Hari TNI di Surabaya ini otomatis Presiden SBY mampir ke Sidoarjo. Turun di Lanudal Juanda yang masuk wilayah Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Warga korban lumpur berharap ada semacam dialog terakhir dengan kepala negara sebelum lengser. Sekadar curhat dan minta kepastian talangan negara.

"Tapi Pak SBY seperti sudah melupakan kami. Beliau tidak punya ketegasan," kata seorang korban lumpur asal Renokenongo.

Kini, warga hanya bisa berharap kepada Jokowi yang akan dilantik pada 20 Oktober 2014 (kalau tidak dijegal koalisi Prabowo di parlemen). Akhir Mei lalu Jokowi datang menemui korban lumpur di Porong. Jokowi prihatin karena ternyata "negara tidak hadir" untuk membantu korban lumpur jilid satu itu. Jokowi pun mau menandatangani kontrak politik di depan ribuan korban lumpur.

Melihat gelagat dan ketulusannya selama ini, insyallah, Jokowi mampu menghadirkan negara di Porong dan tempat-tempat lain di Indonesia. Kecuali dijegal Koalisi Merah Putih.

Koalisi tentu ingin Jokowi gagal, cepat lengser, agar bosnya koalisi, Prabowo, bisa segera naik jadi presiden. Lewat sidang umum MPR kayak zaman Orde Baru dulu.