20 September 2018

Majalah TIME yang fenomenal

Sampai kapan media cetak bertahan? Di era digital ini? Ketika informasi bisa diperoleh dengan mudah di HP? Ketika siapa saja bisa jadi pewarta di media sosial? Dengan bumbu hoaks dan fake news?

Sudah terlalu sering koran-koran dan majalah diramalkan mati. Tapi selalu meleset. Media cetak masih bertahan di era digital meski skala bisnisnya mengecil. Orang masih merasa perlu baca koran meskipun sudah sempat baca info sekilas di medsos atau online.

Kabar dari Amerika Serikat ini menggembirakan. Majalah Time baru dibeli pasutri Marc dan Lynne Benioff. Nilainya USD 190 juta atau sekitar Rp 2,75 triliun. Angka yang tidak kecil ketika sebagian orang nyinyir menyebut bisnis media cetak sudah telanjur senja. Bisnis masa lalu.

Mereka membeli majalah tua ini, terbit 1923, tentu dengan pertimbangan yang dalam. Time adalah ikon majalah berita yang khas. Kualitas reportase, analisis, hingga tampilannya sudah sangat teruji dari masa ke masa.

Berita-berita di Time dikemas layaknya prosa. Model ini yang kemudian diadaptasi oleh Tempo dan beberapa majalah berita di Indonesia.

"Di tengah serbuan hoaks, fake news, orang seyogianya bersandar kepada integritas yang dijunjung tinggi jurnalisme. Dalilnya yang pokok ialah fakta itu suci," tulis pengamat media Saur Hutabarat.

Kualitas dan standar jurnalisme yang tinggi memang harta Time yang luar biasa. Itu yang membuat majalah cetak itu masih punya nilai tinggi di era disrupsi massal ini.

Fenomena majalah Time ini kiranya bisa menjadi bahan refleksi bagi segenap awak media cetak di Indonesia. Ketika badai digital makin merasuk ke berbagai sisi kehidupan.

Koran Tionghoa Masih Bertahan

Dua koran berbahasa Tionghoa terbitan Surabaya ternyata masih ada. Guoji Ribao dan Qiandao Ribao. Dua surat kabar harian ini mulai terbit pada awal reformasi. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan penggunaan bahasa Tionghoa alias Mandarin di ruang publik.

Saya mengenal beberapa wartawan koran Tionghoa di Surabaya ini. Ada yang lulusan sekolah Tionghoa zaman dulu. Ada reporter suku Jawa yang tidak bisa bahasa Tionghoa. Ada pula nona-nona manis dan langsing yang khusus didatangkan dari Tiongkok.

"Untuk membantu mengedit berita-berita," kata salah seorang wartawan sepuh. "Tapi anak-anak muda ini sangat manja. Ke mana-mana harus diantar sopir. Kayak bos aja," katanya. Bapak ini biasa naik motor lawas keliling Surabaya.

"Saya nulis berita pakai bahasa Indonesia. Nanti ada orang yang menerjemahkan ke bahasa Mandarin," kata teman saya Aprilia yang pernah merangkap kerja di dua koran Tionghoa itu. Wanita berjilbab ini memang ulet. Tulisannya banyak banget.

Pagi ini saya mampir di lapak koran di Tambaksumur, Kecamatan Waru, perbatasan Sidoarjo dan Surabaya. Wow.. ternyata dua koran Mandarin dipajang di depan. Saya cuma lihat fotonya karena buta huruf Tionghoa.

Koran Tionghoa ini apa laku?

"Pelanggannya lumayan lah. Dari dulu mereka setia berlangganan. Beda dengan langganan koran-koran biasa (berbahasa Indonesia) yang cenderung berkurang. Orang Tionghoa ini sangat loyal sama korannya," kata Bu Eni yang punya kios koran.

Wow... luar biasa. Ketika banyak media cetak terkena badai online, sepi pelanggan dan pembeli eceran, koran Tionghoa justru masih bertahan. Mereka pandai menjaga loyalitas pelanggan.

"Soalnya banyak kegiatan masyarakat Tionghoa yang dimuat besar-besar di Guoji dan Qiandao. Di koran-koran lain kan susah," ujar Liem Ouyen, tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya.

Saya perhatikan isi dua koran Tionghoa ini sebagian besar parade foto. Berita kerasnya sangat minim. Ada juga cerita bersambung, puisi, dan cerpen. "Biasanya orang-orang lama suka membaca cerita untuk hiburan," kata Yan Shi.

Sastrawan Tionghoa ini punya rubrik tetap di Qiandao Ribao alias Harian Nusantara. Setiap hari mamanya Soe Tjen ini menulis puisi atau cerpen dengan tulisan tangan. Kemudian dikirim ke redaksi koran milik kumpulan pengusaha Tionghoa Surabaya itu.

"Membaca koran (kertas) itu rasanya beda dengan membaca di komputer atau HP," katanya.

Hemmm...

17 September 2018

Dondik AS Ingin Angkat Persida

Persida Sidoarjo sempat dilanda krisis saat mengarungi kompetisi Liga 3 Jalur Nasional 2018. Tim berjuluk Laskar Jenggolo ini hanya mengoleksi dua poin dari lima pertandingan. Persida pun anteng di posisi juru kunci pada putaran pertama.

Melihat kondisi tim yang terpuruk, manajemen tim berjuluk Laskar Jenggolo ini kemudian melakukan langkah darurat. Yakni menunjuk Dondik Agung Subroto. Pria yang juga politisi itu diminta mengangkat Persida ke posisi yang lebih terhormat.

"Sebelum saya masuk nilai Persida hanya dua. Nah, saya masuk di dua pertandingan sekarang nilai Persida delapan. Dua kemenangan berturut-turut," ujar Dondik AS.

Tiga poin terakhir diraih saat menjamu PSBI Blitar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu 16 September 2018. Anak-anak asuh pelatih Ashari ini mendominasi sejak awal laga. PSBI Blitar yang didukung ratusan suporter hanya mengandalkan serangan balik. Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Persida.

Kini, Persida tinggal menyisakan satun laga away melawan Persekap Pasuruan. Meskipun bermain di kandang lawan, Dondik tetap menargetkan tiga poin. "Pertandingan melawan Persekap Pasuruan kita wajib menang. Artinya, kita dapat nilai 11 dan lolos ke babak play off. Saya yakin Persida bakal masuk di Liga 2," tegas Dondik.

Berbeda dengan lima laga awal, dia menilai motivasi arek-arek Laskar Jenggolo dalam tiga pertandingan terakhir meningkat drastis. Mereka bermain lebih gairah dan semangat. Skill dan teknik permainan mereka pun tidak kalah dibandingkan Persekap dan Persekam Metro FC. Buktinya, Persida mampu mengalahkan Persekam dengan skor 2-1 di Gelora Delta Sidoarjo. Padahal Persekam Metro asal Kabupaten Malang itu didukung pemain-pemain berpengalaman.

"Anak-anak punya motivasi yang tinggi untuk membawa nama Sidoarjo di pentas nasional," tegasnya. "Doakan saya yang diberi amanah menjadi manajer Persida di tiga pertandingan ini bisa sukses. Insya Allah, saya akan bawa Persida melewati masa krisis ini."

Mengapa Persida jeblok di laga awal? Kurang persiapan?

"Perkara kurang persiapan bukan suatu alasan. Yang jadi masalah adalah materi pemain yang kurang jam bertanding. Motivasi pemain juga masih kurang," kata Dondik.

Saatnya Deltras ke Liga 2

Sidoarjo belum lama ini sukses jadi tuan rumah Piala AFF U16 dan U19. Anak-anak muda timnas Indonesia juara U16 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Timnas U19 dapat perunggu alias peringkat ketiga.

Sidoarjo memang layak jadi tuan rumah. Stadion Gelora Delta berkapasitas 35 ribu penonton memang memenuhi syarat AFF dan PSSI. Begitu juga Stadion Jenggolo yang dari dulu jadi tempat berlatih tim nasional. Belum lagi lapangan milik TNI AL di Juanda atau Arhanudse Gedangan.

Sidoarjo juga ketempatan Bandara Juanda di Sedati. Terminal Purabaya yang bagus itu juga di Sidoarjo. Hotel-hotel cukup banyak. Kalau kurang ya bisa menginap di Surabaya. Perjalanan hanya 40 menit... kalau tidak macet.

Sayang banget kalau stadion yang bagus itu nganggur. Sebab sampai sekarang Sidoarjo tidak punya tim Liga 1. Deltras sudah lama degradasi dari kompetisi yang dulu bernama Indonesia Super League itu.

Persida juga terseok-seok di Liga 2 musim lalu. Kemudian melorot ke Liga 3. Sekarang malah mau degradasi lagi ke Liga 4. Kompetisi Liga 3 itu kelas amatir alias perserikatan. Sering disebut pertandingan antarkampung alias tarkam. ''Tarkam kok main di Gelora Delta? Stadion itu kan kelasnya Liga 1?'' ujar teman dari Surabaya rada ngenyek.

Betul juga. Sidoarjo memang selayaknya punya klub Liga 1. Yang asli Darjo. Dan itu berarti Deltras dan/atau Persida. Setidaknya di Liga 2 lah. Sebab kompetisi Liga 2 lebih berbobot dan bisa dinikmati. Musim lalu Persebaya main di Liga 2. Gelora Bung Tomo Surabaya selalu penuh.

Gelora Delta Sidoarjo pernah dijadikan kandang Bhayangkara FC. Tapi sepi penonton. Meskipun sudah dikerahkan polisi karena klub itu milik Mabes Polri. Padahal Bhayangkara punya banyak pemain nasional. Jadi juara musim lalu.

"Kami hanya mau mendukung tim asli Sidoarjo," kata suporter asal Krian. Pendukung klub-klub memang tidak mudah berpindah ke lain hati. Mereka jauh lebih loyal ketimbang orang pacaran.

Maka, sekarang hanya Deltras yang bisa diharapkan. Untuk promosi ke Liga 2. Tapi perjalanan masih sangat panjang. Deltras yang dilatih Adi Putra Setiawan sudah lolos ke Liga 3 Zona Jawa. Berdasar undian minggu lalu, Deltras Sidoarjo bakal berhadapan dengan Lamongan FC. Musuh lama musim lalu.

Di atas kertas mestinya Deltras yang lolos. Tapi nama besar dan stadion bagus saja tidak cukup. Buktinya, Deltras hanya peringkat 4 Jatim. Siapa sangka Persiga Trenggalek yang jadi juara Liga 3 Jatim? Mengalahkan Persekabpas Pasuruan di Bangil, kandang Persekabpas?

Jangan pernah remehkan lawan! Itulah pesan saya kepada anak-anak Deltras. Tidak gampang promosi kalau sudah degradasi. Apalagi di Liga 3. Sebab kasta terbawah ini hanya menggunakan pemain-pemain U23. Plus tiga pemain overage. Kekuatan jadi merata karena sama-sama belum mapan.

Semoga saja Setiawan mampu mengantar The Lobster ke kasta yang lebih tinggi. Pelatih asal Buduran ini pernah sukses membawa tim anak Sidoarjo menjuara turnamen sepak bola usia dini alias grassroot internasional.

Hanya dengan begitu kita, masyarakat Sidoarjo, bisa menikmati aksi pemain-pemain berkualitas di Stadion Gelora Delta. Bukan tim-tim amatiran Liga 3 yang tidak pernah bermain malam hari karena tidak ada stadion di kotanya.

Persida Sidoarjo di ujung tanduk

Bagaikan telur di ujung tanduk. Itulah nasib Persida Sidoarjo. Klub lawas ini terancam degradasi ke kasta terendah sepak bola nasional. Musim lalu terlempar dari Liga 2 ke Liga 3 musim 2018.

Persiapan yang kurang membuat arek-arek Persida babak belur. Padahal lawan-lawannya di grup 6 macam Persekap Pasuruan, Persekam Metro Malang, Persepam Pamekasan, PSBI Blitar juga bukan tim yang bagus banget. Cuma Persida kekurangan pemain-pemain berpengalaman.

Minggu 16 September 2018, Persida menjamu PSBI Blitar di Gelora Delta Sidoarjo. Stadion bagus yang baru saja jadi venue turnamen Piala AFF U16 dan U19. Tiketnya Rp 25 ribu. Sayang, penontonnya sedikit. Persida bahkan tidak punya suporter. PSBI Blitar seakan bermain di rumah sendiri, home game, karena didukung banyak suporter. Mereka menyanyi sepanjang pertandingan.

Wow... permainan Persida Sidoarjo ternyata tidak seburuk bayangan saya. Meskipun tenggelam di zona degradasi, anak-anak asuh pelatih Azhari ini bermain lepas, penuh semangat. Ini membuat Blitar kewalahan. Lebih banyak bertahan. Persida bikin gol cepat dari titik penalti.

Keasyikan menyerang membuat Persida kecolongan juga. Blitar bikin gol penyeimbang. Arek Darjo makin panas meskipun teriakan suporter Blitar makin keras. Gocekan pemain lincah Persida di sayap kiri, masuk ke tengah, umpan... bikin pertahanan Blitar jadi terbuka. Gooool! Skor 2-0 sampai selesai.

Masih banyak peluang yang gagal jadi gol. Sebab anak-anak Darjo terlalu bernafsu menendang dari posisi yang kurang ideal. Serangan balik Blitar pun makin lemah. Kondisi fisik pemain yang masih muda-muda ini ternyata belum bisa untuk tetap kenceng selama 90 menit.

Sayang... Persida baru bisa bangkit di dua laga terakhir. Minggu lalu juga menang 2-1 atas Persekam Metro FC. Tim asal Kabupaten Malang ini pun sudah pasti lolos bersama Persekap Pasuruan. Dua tim ini mewakili grup 6 ke Liga 3 putaran nasional. Dus, Persida harus berjuang agar tidak degradasi lagi.

Dari 7 pertandingan yang sudah dimainkan, Persida hanya menang 2 kali dan seri 2 kali. Poin 8. Tinggal satu laga tandang ke Pasuruan. Wajib menang agar tetap bertahan di Liga 3 musim depan.

Melihat penampilan arek-arek Persida kemarin rasanya ada peluang dapat tiga poin melawan Persekap. Sebab tim lawas ini sudah mengunci kuota dua besar grup 6. Sebaliknya, Persida dipastikan akan bermain all out pada laga terakhirnya.

''Mudah-mudahan hasilnya positif,'' kata Yohdar Balahmar pengurus Askab PSSI Sidoarjo yang juga tokoh Persida.

14 September 2018

Wartawan jadi sopir taksi

Lama tak jumpa Daniel Lukas Rorong. Kawan lama yang mantan wartawan beberapa media cetak. Juga aktivis beberapa organisasi di Surabaya.

Eh, pagi ini Daniel nampang di halaman depan koran Surya. Sedang digunduli rambutnya. Syukuran karena gugatannya dikabulkan Mahkamah Agung. "Saya perjuangkan teman-teman driver online di seluruh Indonesia," katanya.

Oh... Daniel rupanya sudah lama jadi sopir taksi online. Juga tidak jadi caleg seperti mamanya yang pejuang hak asasi di bekas kompleks di Surabaya Utara itu. Dia memang suka mencari tantangan di mana saja.

"Capek kalau tiap hari kerja rutin. Apalagi harus konflik dengan pimpinan," katanya.

Saat menjadi wartawan di tabloid rohani terkenal di Surabaya, Daniel mengaku sering beda pendapat dengan bosnya. Ide-idenya sering ditolak. Padahal menurut dia bagus untuk mengembangkan perusahaan.

"Saya merasa kurang dihargai. Makanya saya cabut," katanya.

Beberapa bulan kemudian media cetak itu tutup. Bangkrut. Daniel sudah enggan membahas persoalan yang dihadapi media lamanya itu. "Sudah saya duga. Situasinya memang gak kondusif," katanya.

Sejak itu saya tak pernah bertemu Daniel. Dia juga tak lagi mengirim siaran pers atau pernyataan-pernyataan untuk dimuat di media. Saya duga Daniel jadi politisi. Mengingat keluarganya dulu pentolan Partai Damai Sejahtera. Dia juga dekat dengan partai-partai nasionalis macam PDI Perjuangan.

Eh, ternyata... Daniel jadi sopir taksi. Bahasa kerennya, driver online. Pilihan hidup yang lebih prospektif karena media-media cetak rohani sudah bertumbangan di Surabaya.

Rupanya naluri aktivis dan reporter yang kritis tidak hilang dari Daniel. Saat jadi sopir taksi, eh driver, pun pria yang tinggal dekat Morokrembangan itu tetap kritis. Dia menggugat 23 pasal dalam permendagri nomor 108 tahun 2017. Peraturan itu dianggap menyusahkan para sopir taksi untuk cari makan.

Puji Tuhan, gugatan Daniel bersama Herry dan Rahmat dikabulkan Mahkamah Agung.

"Perjuangan masih panjang. Masih banyak yang perlu dibenahi di bidang pertaksian," katanya.

Rupanya Daniel yang dulu saya kira pendeta itu makin mantap jadi sopir taksi. Dus, tidak perlu debat panas dengan atasan dan bisa bekerja kapan saja. Juga bisa libur kapan saja.

Selamat berjuang!

09 September 2018

Tak ada puisi dan cerpen di koran

Sita, mahasiswi asal Prambon, semalam bertanya. Mengapa koran-koran sekarang jarang yang muat puisi atau cerpen. Di Surabaya tinggal Jawa Pos yang punya halaman sastra. Itu pun cuma cerpen.

Minggu ini, 9 September 2018, tidak ada puisi di Ruang Putih halaman 4. Yang ada cuma cerpen Kabut Asap karya Sam Edy Yuswanto dari Kebumen. Cerpennya asyik dinikmati.

"Tolong dijelaskan mengapa rubrik sastra menghilang?" Begitu permintaan gadis yang suka menulis puisi itu.

Saya pun menjelaskan secara singkat. Enteng-entengan saja. Intinya, penggemar sastra di koran sangat minim. Justru yang disukai adalah berita-berita kriminalitas. Pencurian, perampokan, judi, narkoba, pencabulan dsb. Para sastrawan pun jarang membeli koran. Apalagi berlangganan.

"Sampean biasa membaca koran apa?"

Hehe... Sita ternyata cuma baca sesekali di perpustakaan kampusnya di Surabaya.

"Lah, anda saja tidak baca koran, khususnya sastra, bagaimana dengan masyarakat umum yang memang tidak akrab dengan sastra?"

"Tapi disayangkan sekali. Padahal sastra bisa mengangkat aspirasi pemuda," tulis Sita.

Bulan lalu juga ada protes dari Amalia. Guru dan penggiat puisi di Sidoarjo ini minta agar koran-koran menghidupkan lagi rubrik sastra. Sebab sastra itu penting bagi masyarakat.

Bukankah sudah ada internet? Media sosial? Anda kan bisa menulis apa saja di medsos? Puisi, cerpen, esai, kolom, atau sekadar curhat pendek? Mengapa harus dimuat di surat kabar cetak? Yang terbitnya seminggu sekali? Itu pun ruangannya terbatas?

"Beda Pak... nulis di medsos sama koran atau majalah. Ada kepuasan tersendiri, katanya. Kalau di medsos tidak ada saringan. Siapa saja bisa nulis. Kalau di media massa mainstream kan ada seleksi dari redaktur dsb. Lebih puas kalau nulis di koran," katanya.

Ya ya ya... rupanya anak muda belum 20 tahun ini masih membutuhkan sastra di koran. Media cetak masih punya wibawa di era digital ini. Sayang, mayoritas pembaca koran justru kurang suka puisi atau cerpen. Hasil semua survei menunjukkan bahwa rubrik sastra atau fiksi ternyata paling rendah tingkat keterbacaannya.

Bahkan, karyawan media massa cetak sendiri pun jarang baca puisi atau cerpen. Artikel opini pun sudah jarang dibaca. "Sekarang sudah terlalu banyak opini di medsos, kata seorang wartawan. Buat apa baca artikel opini yang isinya gak beda jauh dengan di medsos?" ujar karyawan koran.

Tapi saya tetap mendorong Sita dan Amalia untuk terus menulis puisi dan cerpen. Pasti ada gunanya meskipun tidak dimuat di koran cetak. "Sastra tidak akan pernah mati selama masih ada masyarakat, kata Mustakim," kepala Balai Bahasa Jatim di Sidoarjo.